Mbah Moen Menggaji Santri Hanya Senilai Ini. Apa Maksudnya?


Sebagaimana adiknya sang kakak dulu juga sebagai pengurus bagian pengairan Pondok Pesantren Al-Anwar. Oleh Mbah Moen dia ditugaskan berkhidmah nasyrul Ilmi di Papua.

Hari itu sang kakak sowan Mbah Moen seraya memohon ijin untuk membawa sang adik ke Papua. Namun Mbah Moen belum memberi ijin untuk saat itu. Beliau minta agar sang adik tetap di Al-Anwar setahun lagi.

"Cung, sak durunge awakmu lungo aku jaluk kenang-kenangan. Kanggo aku, cung. Dudu kanggo pondok. Awakmu ben eling aku," dawuh beliau.

"Aku yo urung tau weruh Papua. Besok awakmu tak terno," dawuhnya.
"Enggih," jawab sang adik.
"Awakmu gaweyo embung kanggo kenang-kenangan."
"Enggih."

Sebagai santri dia sangat semangat mengerjakan perintah gurunya. Tekad berkhidmah kepada guru begitu kuat. Ditambah lagi janji Mbah Moen untuk mengantarnya ke Papua menjadikannya lebih bersemangat.

Ternyata Mbah Moen punya kemauan lain. "Cung. Kowe nyambut gawe tak bayar. Sedino 20.000," kata Mbah Moen.

Dawuh ini sangat aneh. Dia bekerja sama sekali tidak mengharapkan gaji. Berkhidmah kepada gurulah yang menjadi tujuan. Tapi kali ini Mbah Moen malah menggajinya.

Pekerjaan demi pekerjaan dia laksanakan. Mbah Moen pun menggajinya sesuai dengan apa yang beliau katakan. Entah berapa kali dia sudah menerima gaji. Sampai2 di hati sang santri ada rasa tomak terhadap gaji yang dijanjikan Mbah Moen. Hingga suatu ketika saat sudah waktunya dia menerima gaji Mbah Moen manggilnya.

"Cung. Iki amplop dibukaki. Etung isine," dawuh Mbah Moen seraya menyerahkan sejumlah amplop kepada sang santri.
"Enggih," jawabnya.

Dalam hati dia girang. Saat tiba waktu menerima gaji dia dipanggil untuk membuka amplop uang. Tomak gaji pun semakin tinggi.

"Wis, Cung?" tanya Mbah Moen.
"Sampun."
"Piro?"
"1.750.000, Yai."

Uang pun dibawa masuk ke kamar. Sebentar kemudian beliau keluar lagi. Beliau mengeluarkan 3 lembar uang kertas merah ratusan lalu diberikan kepada sang santri. Bukan ratusan ribu tapi ratusan rupiah. Bahkan uangnya sudah sangat kumal. Santri pun menerimanya.

"Kue gelo?" tanya Mbah Moen sambil gujeng.
"Boten, Yai," jawab santri juga dengan senyuman.

Aneh bukan? Uang dibawa ke kamar, padahal Mbah Moen tidak biasa memakai uang amplop dari tamu untuk kebutuhan pribadi. Saat santri begitu ikhlas ingin berkhidmah malah oleh Mbah Moen digaji. Saat santri kepingin menerima gaji malah diberi uang ratusan rupiah lusuh 3 lembar.

Itulah salah satu cara Mbah Moen mendidik santri. Keikhlasan terlalu gampang luntur saat dihadapkan dengan duniawi. Bahkan seringkali duniawi yang meruntuhkan itu tak seberapa.

"Adalah tidak salah apabila kita menerima sesuatu setelah melalukan kebaikan. Namun semestinya apa yang kita terima tidak melunturkan keikhlasan."

Tidak gampang, dan butuh kegigihan berlatih untuk bisa melakukannya.
Mengapa tujuan kepada Allah bisa begitu mudah sirna? Bukankah Dia menjanjikan balasan jauh lebih besar?

Saat Mbah Moen melihat penyakit toma mulai meracuni hati sang santri, dengan cepat beliau mengembalikan kepada tujuan mulia, yaitu keikhlasan berkhidmah. Pendidikan semacam ini hanya mampu dilakukan oleh orang yang mempunyai mata hati yang kuat. Begitu beruntung kamu wahai anak muda. Mendapatkan didikan luar biasa dari sang guru sejati. [dutaislam.com/ed]

Sumber :dutaislam.com

0 Response to "Mbah Moen Menggaji Santri Hanya Senilai Ini. Apa Maksudnya?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close
loading...