Amalan Shalawat Ahli Bait Nur dari Maula Habib Luthfi Bin Yahya dan Manfaatnya

Amalan Shalawat Ahli Bait Nur dari Maula Habib Luthfi Bin Yahya dan Manfaatnya


Berikut ini adalah bacaan shalawat Shalawat Ahli Bait-Nur dari Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّ الطَّاهِرِ حُجَّةُ اللهِ وَرَحْمَةٌ لِلْعَالَمِيْنَ وَنُوْرُ الْبَشِيْرِ الْمُبَشِّرِ لِأَهْلِ بَيْتِهِ بِمَا قَالَهُ الْعَظِيْمُ (إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا) (قُلْ لآ أَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى) اللَّهُمَّ اصْلِحْ بِهَا اْلإِمَامَ وَأَهْلَ الْبَيْتِ وَاْلأُمَّةَ وَالْمُحِبِّيْنَ لَهُمْ وَالرَّاعِيَّةَ وَالرَّعِيَّةَ وَيُأَلِّفُ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَادْفَعْ شَرَّ بَعْضِهِمْ عَنْ بَعْضٍ وَأَنْ تَكْفِيَنَا بِهَا وَإِيَّاهُمْ شَرَّ مِمَّا نَخَافُ وَنَحْذَرُ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Lafadz:‎
“Allahumma shalli ‘alaa nabiyyit Thaahir hujatullah wa rahmatan lil ‘alaamiin wa nuural basyiirul mubassyirul li ahli baytihi bimaa qaalaallahul-‘adzhiim (Innamaa yuriidullahu liyudz hiba ‘ankumul rijsa ahlil baiti wa yuthah-hirakum tathhiraan) (Qul laa ‘as alukum ‘alayhi ajran illal mawadata fil qurbaa) Allahumma aslih biha al-imaama wa ahlil bayti wal ummah wal muhibbina lahum war raa’iya war ra’iyyata wa yu-allifu baina quluubihim wadfa’ syarra ba’dhihim ‘an ba’dhin wa an takfiyanaa bihaa wa ‘iyyaahum syarra mimmaa nakhaafu wa nakhdzar wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam tasliiman katsiiraan‎.

Terjemahannya‎: 
Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi yang Suci sebagai hujjahnya Allah dan rahmat bagi seluruh alam semesta serta cahaya yang bersinar menerangi ahli baitnya seperti yang difirmankan Allah SWT (dalam al-Qur’an) “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.(QS Al-Ahzab:33) “Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap kerabat(ku).”(QS As-Syuura: 23). Semoga Allah memberi kedamaian kepada Imam, ahlil bait serta Umat dan para pencintanya,  dan pemimpin serta rakyat, dan Semoga Allah akan melembutkan dan menyatukan hati-hati mereka dan menjauhkan dari segala keburukan dan perselisihan serta sengketa di antara mereka, dan (semoga terlimpahkan shalawat) itu pula kepada seluruh keluarga dan sahabatnya serta limpahkan kesejahteraan yang banyak kepadanya.‎

Keterangan
Shalawat ini dari Mawlana al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, Pekalongan. Untuk disebarluaskan kepada umat muslimin agar Semoga Allah melimpahkan:

1. Semakin menambahkan kecintaannya kepada Rasulullah SAW serta kepada ahli bait-nya.

2. Menimbulkan kecintaan Rasulullah SAW dan para ahli baitnya serta awliya-Nya kepada si pembaca

3. Menjalin hubungan khusus dengan baginda Nabi SAW.

4. Terhidar dan diselamatkan dari segala malapetaka, bahaya dan bencana, perpecahan, perang serta pertikaian-perselisihan diantara sesama, golongan, kelompok maupun negara.

5. Dibaca sebanyak tiga kali setiap sehabis shalat Subuh dan Maghrib.

Semoga bermanfaat dan menambah kecintaan kepada Nabi Muhammad. Amin [dutaislam.com/ed/pin]

Sumber :dutaislam.com
Subhanallah, Jin Muslim Ini Akui Bahwa Gus Dur Waliyullah

Subhanallah, Jin Muslim Ini Akui Bahwa Gus Dur Waliyullah


Seorang jin muslim bernama Abdullah tiba-tiba memasuki salah satu jasad anggota Jam'iyah Ruqyah Aswaja (JRA) dan mengatakan bahwa cucu KH Hasyim Asy'ari yakni Gus Dur adalah seorang waliyullah.

"Masyaalloh,....kamu Jombang Jombang. Masyaalloh Kyai Hasyim Asy'ari....Kyai Hasyim Asy'ari... (Sambil mengisyarohkan jempol menunjukkan bahwa beliau senang)...Gus Dur...Gus Dur....Gus Dur adalah Waliyulloh... Masyaalloh...," kata jin Abdullah, sebagaimana ditulis Allama Alaudin di facebooknya, Sabtu (13/01/2018).

Alaudin, penulis status tersebut, menunjukkan video terkait pengakuan jin Abdullah. Dia bersumpah bahwa pengakuan jin Abdullah merupakan kisah nyata.

"Wallohi, ini adalah kisah nyata dan Asli bukan rekayasa, Alfaqir berani bersumpah bahwa jika video ini adalah rekayasa maka laknat Alloh atas diri Alfaqir," kata Alaudin.

Alaudin menceritakan, kisah ini berawal dari Rihlah dakwah JRA (Jam'iyyah Ruqyah Aswaja) alfaqir ke team Elang Merbabu (JRA Magelang). Singkat cerita, tiba-tiba ada Jin Muslim bernama Abdulloh yang tinggal di rumah salah satu praktisi JRA magelang masuk, ingin berkomunikasi dengannya.

Kemudian, ia mengambil hp mengabadikan pernyataan jin muslim tersebut, oleh sebab itu di video tersebut, dirinya bertanya "bagaimanakah Gus Dur ?".

Selain pernyataan jin Abdullah yang menyebut Gus Dur adalah waliyullah, jin Abdullah juga mengatakan bahwa orang yang menghina Gus Dur akan dihinakan oleh Allah.

"Wallohi Wallohi (Demi Alloh ... Demi Alloh ...) Orang yang menghinanya (Gus Dur) akan di hinakan Alloh...," kata jin Abdullah.

Untuk menyaksikan video pengakuan jin Abdullah, Anda bisa cek pada link berikut: https://web.facebook.com/allama.alauddin/videos/1698553200187462/ [dutaislam.com/gg]

Sumber :dutaislam.com
Sang Wali Bingung Mendengar Sapu, Sandal dan Lainnya Berdzikir Allah, Tapi Gus Dur Tertawa

Sang Wali Bingung Mendengar Sapu, Sandal dan Lainnya Berdzikir Allah, Tapi Gus Dur Tertawa


Wali Paidi tidak tahu apa yang dialaminya saat ini. Dia sering mendengar benda-benda yang berada di sekitarnya berdzikir. Mulai sapu lidi yang biasa dipergunakan, sandal para santri yang ditatanya, semuanya berdzikir.

Sampai suatu pagi, Wali Paidi dipanggil mbah romo kiai, dan seperti biasanya, beliau menemuinya di teras ndalem, didampingi kopi plus rokok kretek kesayangannya.

"Nak, apa yang kamu alami itu hal yang wajar saja, kamu jangan risau. Setiap orang yang belajar membersihkan hati dan mengajaknya untuk berdzikir setiap saat, maka akan mengalami seperti apa yang kamu alami sekarang ini. Bahkan mendengar lolongan anjing pun akan terdengar seperti suara orang yang berdzikir. Itu semua pantulan dari hatimu. Kamu pasti ingat dengan hadist yang menceritakan ketika Nabi mendengar kerikil yang dipegangnya itu, terdengar nyaring sedang berdzikir," kata mbah romo yai.

"Inggih, kiai".

"Besok kamu berangkatlah ke Malang, berziarahlah ke makam Habib Abdullah Bilfaqih dan ayahnya, Habib Abdul Qadir Bilfaqih. Tapi sebelum kamu duduk, bacalah salam ini," romo kiai menyerahkan secarik kertas kecil kepada Wali Paidi. Diterima dengan penuh takdzim, tanpa bertanya doa itu bid'ah, sesuai sunnah atau tidak. Pokoknya dia terima. Husnudzan paling utama.

"Bacalah!" perintah romo kiai.

"Salamullahi, ya saadah…..dan seterusnya," Wali Paidi langsung membacanya melagukan salam tersebut dalam syiir khas pesantren, yang biasa disebut Bahar Thowil dalam Ilmu Aridl (gubahan syiir Arab).

"Salam itu memang sudah umum, dan di setiap makam wali, banyak tergantung ucapan salam itu. Andai nanti ketika kamu sudah sampai di makam habib, dan habib tidak berada di makam, maka ketika habib mendengar ucapan salammu itu, insyaAllah habib akan kembali pulang ke makamnya dan menemui kamu," jelas romo kiai.

"Inggih kiai," sekali lagi Wali Paidi mengiyakan, tunduk, patuh.

"Kamu naik sepeda motor si Sofyan saja!" Sofyan adalah putra romo kiai.

Besoknya, Wali Paidi berangkat ke Malang, ke pemakaman umum Kasin. Romo kiai mengatakan kalau makam habib Abdullah dan Habib Abdul Qadir berada di pemakaman umum Kasin. Hanya itu petunjuk yang diberikan.

Sementara, Wali Paidi tidak tahu di mana daerah Kasin itu. Wali Paidi tidak berani bertanya lebih jelas pada romo kiai karena menjaga tata krama. Wali Paidi manut dan berusaha melaksanakan perintah romo kiai tanpa banyak bertanya dan protes.

Sesampainya di Malang, Wali Paidi langsung menuju alun-alun Kota Malang. Setelah memarkirkan sepeda, Wali Paidi clingak-clinguk mencari tukang parkir. Alhamdulillah, tidak lama kemudian ada tukang parkir yang menghampirinya.

Setelah mendapat penjelasan dari tukang parkir tersebut soal makam habib, Wali Paidi langsung berangkat ke daerah Kasin, sesuai petunjuk yang diterima. Kira-kira sepuluh menitan. Wali Paidi sudah berada di daerah Kasin.

"Sekarang tinggal mencari di mana letak pemakaman umum Kasin," bathin Wali Paidi.

Wali Paidi bertanya kepada orang-orang yang ditemuninya. Menurut keterangan, pemakaman umum Kasin ternyata ada dua. Biar jelas jawaban, ia menerangkan kalau berniat ziarah ke makam Habib Abdullah Bilfaqih dan abahnya, Habib Abdul Qadir Bilfaqih.

Setelah mendapat petunjuk yang jelas mengenai arah ke makam, Wali Paidi melanjutkan perjalanan. Namun Wali Paidi tetap tidak dapat menemukan makam tersebut. Ada saja orang yang menunjukkan arah yang salah meski letak makam sudah dekat sekali. Jadinya, ia muter-muter saja di wilayah Kasin hingga setengah jam lebih.

Akibatnya, Wali Paidi kecapaian. Dia menghentikan sepeda motornya di tepi jalan. Turun dari sepeda, sejurus kemudian Wali Paidi mengeluarkan rokok dan menyalakannya. Di tengah-tengah merokok itu, Wali Paidi mulai tawasulan, dalam hati, ia berdoa dan berucap begini,

"Mbah Habib Abdul Qadir, mbah Habib Abdullah, saya mau ke makam panjenengan, tolong tunjukkan di mana makam panjenengan".

Mantap betul, Wali Paidi mulai naik sepeda motornya dan melanjutkan perjalanan. Ia hanya mengikuti apa kata hatinya. Kira-kira baru berjalan 50 meter, Wali Paidi mencium bau harum semerbak,

"Alhamdulillah makam mbah habib sudah dekat," batinnya.

Wali Paidi mengikuti bau harum yang diciumnya itu, dan tidak begitu lama akhirnya Wali Paidi sudah berada di depan makam umum Kasin. Ia masuk makam, berputar dari gerbang samping. Tampak di tengah makam itu ada bangunan kecil yang atasnya ada kubah hijau. Di bawah kubah inilah makam Habib Abdul Qadir Bilfaqih dan putranya, Habib Abdullah Bilfaqih.

Ketika berada tepat di depan makam yang ada pagar stainlessnya, Wali Paidi membaca salam yang dicatatkan oleh romo kiainya tadi,

"Salaamullahi ya saadah minarrohmani yaghsyakum…."

Baru satu bait dibaca, hawa di sekitar Wali Paidi terasa sudah lain dari yang tadi. Saking terkejutnya, Wali Paidi sampai terdiam sebentar, lalu dia melanjutkan membaca syiir Salam itu sampai selesei. Ia menunduk penuh ta’dzim. Wali Paidi merasa ada dua sosok agung yang mengawasinya dari dalam.

Setelah selesai membaca syiir Salam, Wali Paidi beranjak ke dekat makam dan duduk, memulai membaca tahlil.

Baru saja Wali Paidi duduk, tiba-tiba ada suara bedug yang ditabuh, dum…..diiringi hawa yang menerpa tubuh Wali Paidi. Ketika hawa itu menerpa tubuhnya, seluruh tubuh Wali Paidi serentak berdzikir… Alah…Allah…Allah….

Wali Paidi membaca tahlil diiringi dengan suara bedug dum….Allah…Allah…Allah/ dum….Allah…Allah…Allah… ketika hawa itu menerpa Wali Paidi, serentak seluruh tubuhnya berdzikir……

****

Wali Paidi menyelesaikan pembacaan tahlilnya tepat adzan Maghrib berkumandang. Ia berjalan mundur ketika keluar dari makam dan langsung menaiki sepedanya mencari masjid terdekat. Wali Paidi mengikuti adzan yang didengarnya berniat shalat. Tapi semakin mendekat, suara adzannya justru kian menjauh. Akhirnya, Wali Paidi memutuskan untuk putar balik mencari masjid yang lain. Wali Paidi merasa masjid yang dituju tidak mau menerimanya.

Wali Paidi menyusuri jalan ke arah alun-alun Kota Malang. Dia berjalan pelan, bersiap kalau ada masjid yang dilaluinya berharap akan berhenti. Ketika Wali Paidi berada di depan rumah makan Cairo (resto menu Timur Tengah), hatinya menyuruh belok kiri.

Setelah berjalan 20 meteran, Wali Paidi melihat ada masjid di sebelah kiri jalan, masjid tersebut posisinya agak masuk ke dalam. Dia memasukkan sepedanya dan parkir di halaman masjid itu. Terlihat sebagian jamaah sudah keluar dari masjid karena sholat Maghrib sudah selesai.

Wali Paidi melangkah masuk mencari kamar kecil, lalu keluarlah seorang yang kulitnya agak hitam dan berambut agak gondrong dari dalam masjid, yang seakan menyambutnya, "melihat dari sarungnya yang ngelinting dan baju kokonya yang putih lusuh serta mangkak mburik, mungkin orang ini tukang becak," gumamnya.

Wali Paidi kaget (dia sering kegetan memang), ketika bertanya padanya di mana letak kamar kecil itu, wajah orang tersebut terlihat jelas mirip wajah Arab habaib. Sorot mata dan wajahnya sangat tajam.

Ke kamar kecil, kencing Wali Paidi mobat mabit tidak tenang. Dia merasa berdosa karena mengira habib tersebut sebagai adalah tukang becak yak nah. Habis dari kamar kecil, dia berniat meminta maaf kepadanya.

Anehnya, ketika Wali Paidi selesai berwudlu dan mau masuk ke masjid, habib yang dimaksud sudah tidak ada. Disusul ke parkiran, tidak ada, ke dalam masjid, juga tidak ada. Wali Paidi merasa menyesal karena gampang berburuk sangka kepada orang lain, gampang menilai seseorang dari tampilan luarnya saja.

Wali Paidi tidak tenang ketika melaksanakan sholat Maghrib. Dalam shalatnya, dia meminta kepada Allah untuk dipertemukan dengan habib tersebut. Mengakhiri sholat, mengucapkan salam, menoleh ke kiri, ajibnya, habib yang dicarinya sudah berdiri di samping. Ya Allah, ini siapa sebetulnya?

Wali Paidi berniat mendekat, mau mencium tangannya, tapi habib muda tersebut langsung lari ke luar masjid menuju jalan raya terus, hilang entah kemana.

"Subhanallah, ternyata di Kota Malang yang hiruk pikuk dunia ini masih ada kekasih Allah yang berseliweran, seharusnya aku tadi minta kepada Allah tidak hanya bertemu, tapi juga minta bisa diberi kesempatan untuk mencium tangannya," gumamnya.

Setelah berdzikir sebentar, datanglah seorang pemuda pengurus masjid mendekatinya sambil memberi secangkir teh jahe kepadanya, dan Wali Paidi melihat banyak habib-habib sepuh mulai berdatangan memasuki masjid. Rupanya, sehabis Maghrib di masjid ini, diadakan rutinan membaca Raatibul Haddad.

Wali Paidi berniat untuk keluar karena merasa tidak pantas mengikuti acara tersebut. Bagaimana tidak, yang datang semuanya berjubah, sedang dirinya bercelana jeans dan berkaos oblong hitam dengan gambar Gus Dur sedang tertawa lebar. Hahaha.

Ketika Wali Paidi berdiri, dia mendengar suara tanpa wujud yang berkata kepadanya (hatif), "kamu mau pergi ke mana, apakah kamu tidak malu menolak undangan Nabi Muhammad?"

Wali Paidi duduk kembali, mengurungkan niatnya untuk keluar masjid. Dia mengikuti pembacaan Raatibul Haddad sampai selesai. Wali Paidi merasa malu sekali kepada habib-habib sepuh yang hadir di majelis, terutama kepada Nabi Muhammad yang mengundangnya.

Lalu, siapa habib yang keluar dari masjid tadi? Wali Paidi masih bertanya-tanya? Jangan-jangan memang tukang becak betulan? Bersambung! [dutaislam.com/ab]

Sumber :dutaislam.com
Kewalian Mbah Ali Mas'ud, 8 Tahun Bisa Baca Kitab Gundul Hingga Mematikan Mesin Pesawat

Kewalian Mbah Ali Mas'ud, 8 Tahun Bisa Baca Kitab Gundul Hingga Mematikan Mesin Pesawat


Mbah Ali Ali Mas'ud wali majdub sejak kecil.  Alkisah suatu hari Jend. A.H Nasution diantar KH. Mahrus Ali Lirboyo sowan ke mbah Mas'ud. Sesampai disana diberi segelas air suwuk (air yang sudah didoakan oleh mbah Ud) sambil berucap:

“Ombehen lee, kowe ben selamet” (minumlah nak, kamu biar selamat).  Dan terbukti ketika meletus insiden G-30S PKI, Jend. A.H Nasution adalah satu-satunya target yang selamat.

Siapakah Sosok Waliyullah Mbah KH Ali Mas’ud? Beliau adalah seorang Waliyullah yang luar biasa,  hingga tak ada satupun ulama atau para wali di tanah jawa ini yang tak mengenal sosok beliau. Beliau dimakamkan di desa Pagerwojo Sidoarjo. Makamnya banyak yang menziarahinya dan ketika wafat belum dikaruniai keturunan.

Menurut kisahnya yang lain, Mbah Ud mendapat derajat kewalian itu sejak masih kecil. Mbah Ud sangat nakal dan banyak tingkah hingga membuat ayahnya sering marah kepadanya. Sang ayah konon orang yang ‘alim dan mengajar ngaji di rumahnya. Setiap ayahnya mengajar sering terganggu oleh suara-suara teriakan Gus Ud kecil itu, hingga sang ayah memarahinya bahkan memukulnya dengan kayu kecil.

Dari situlah sang ayah melihat keanehan pada diri sang putra tersebut. Suatu saat ayanhnya menegur beliau sambil membentah: "Kamu ini banyak tingkahnya, makanya gak bisa ngaji" Sosok kecil Gus Ud menimpali teguran ayahnya;”Ngajar ngajinya saya ganti ya?"

Ayahnya heran dengan ucapan anaknya yang baru berusia 8 tahunan itu. Gus Ud langsung mengambil kitab kuning ayahnya tersebut dan langsung membacanya, meskipun kitab itu gundul ( tidak ada harokatnya ) Gus Ud kecil itu lancar membacanya berikut menjelaskan semua keterangan kitab itu. Ayahnya terheran-heran. Sejak itulah sang ayah membiarkan saja apa yang dilakukan putranya itu.

Dalam kisah yang lain saat itu musim haji. Gus Ud berangkat haji sama-sama dengan KH Mas Zubeir bin Harits. Ketika para jama’ah haji mau diberangkatkan di dalam pesawat itu Gus Ud membaca marhabanan dengan suara keras dan tidak teratur sambil memukulkan sesuatu yang dipakai untuk musiknya.

Semua yang melihat tidak berani melarang, karena seluruh penumpang paham siapa itu Gus Ud. Hanya salah satu awak pesawat lelaki menegur Gus Ud dengan halus: "Maaf pak, pesawat mau berangkat ..tolong berhenti dulu," katanya.

Lalu Gus Ud berhenti mambaca marhabanan itu dengan hati yang dongkol. Lalu apa yang terjadi ? Sampai beberapa jam mesin pesawat itu tidak mau hidup.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan ternyata tidak ada masalah, tetapi tetep saja tidak bisa hidup mesinnya. Akhirnya salah satu jama’ah haji ada yang menegur salah satu awak pesawat tadi agar minta maaf pada gus ‘Ud karena telah menegurnya untuk diam. Anjurannya dituruti juga. ”Saya minta maaf ya pak atas kelancangan saya tadi, jika sekarang bapak mau baca marhabanan tadi , monggo." Gus Ud menjawab: ”iyo iyo“

Dengan rasa suka Gus Ud langsung membaca marhabanan seperti tadi dengan memukul – mukul sesuatu untuk menjadi musiknya. Dan mesin pesawat langsung bisa hidup dan berangkat ke saudi dengan selamat [dutaislam.com/pin]

Sumber :dutaislam.com
Luhut Minta Susi Tidak Tenggelamkan Kapal lagi, Ini Komentar Gus Mus

Luhut Minta Susi Tidak Tenggelamkan Kapal lagi, Ini Komentar Gus Mus


Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan tidak menginginkan adanya penenggelaman kapal lagi tahun ini. "Cukuplah itu," ujar Luhut saebagaimana dilansir Tempo.co, Senin (08/01/2018).

Menurutnya pemerintah akan berfokus pada peningkatan produksi. Hal tersebut bertujuan meningkatkan ekspor.

Mengetahui hal ini, Gus Mus melalui akun twitternya @gusmusgumu mengomentari berita tersebut sambil memention akun pribadi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti @susipudjiastuti.

"Menurutku, ibu @susipudjiastuti hanya menjaga dan membela kepentingan Indonesia dan nelayan/rakyat Indonesia. Semoga Alläh menjaga dan membela beliau," tulis Gus Mus, Selasa (09/01/2018).

Mengetahui komentar Gus Mus tersebut, Susi melalui akunnya itu membalas, "Terimakasih Gus Mus. Salam hormat".

Hingga berita ini ditulis (10/01/2017 pukul 06.29), komentar Gus Mus tersebut telah diretweet 3.180 orang dan mendapatkan 4.620 suka. Netizen pun kebanyakan merespon positif komentar Gus Mus tersebut. [dutaislam.com/gg]

Sumber :dutaislam.com
Abu Ibrohim Woyla, Wali Aceh yang Dihormati Gus Dur

Abu Ibrohim Woyla, Wali Aceh yang Dihormati Gus Dur


Sebagai tokoh yang dihormati dan dikagumi banyak orang, rumah Gus Dur tak pernah sepi dari kunjungan para tamu, baik dari warga NU, pejabat, politisi, wartawan dan sebagainya. Gus Dur menerima tamu-tamunya biasanya dengan pakaian non formal. Karena kondisi fisiknya yang sudah lemah, biasanya para tamu diajak mengobrol sambil tiduran di lantai.

Nuruddin Udien Hidayat, salah satu santri Gus Dur suatu ketika merasa terheran-heran ketika ada tamu, Gus Dur minta untuk digantikan pakaiannya dengan kain sarung dan peci, seperti ketika mau salat Idul Fitri. Seumur-umur ia belum pernah melihat Gus Dur seperti itu.

Rombongan tamu tersebut sampai ditahan-tahan agar tidak masuk rumah dahulu sampai Gus Dur dipinjami salah satu sarung milik santrinya agar bisa cepat berganti pakaian.

Tamu, yang diketahuinya ternyata dari Aceh tersebut, berpakaian sederhana, dekil, dan memakai celana seperti yang biasa dipakai oleh bakul dawet (penjual dawet). Tamu tersebut diantar oleh aktifis Aceh.

Perilaku Gus Dur dan tamunya juga aneh. Setelah keduanya bersalaman, Gus Dur pun duduk di karpet, demikian pula tamunya, tetapi tak ada obrolan di antara keduanya. Gus Dur seperti tertidur dalam posisi duduk, tamunya juga dalam posisi yang sama. Saling berhadap-hadapan. Mungkin mereka berdua tengah berbincang-bincang, tetapi yang berdialog adalah ruh mereka. Suasana menjadi sunyi yang berlangsung sekitar 15 menit.

Setelah sang tamu bangun, ia langsung pamit pulang, tak ada pembicaraan.
Udin, karena merasa penasaran, segera setelah tamu pergi bertanya kepada Gus Dur.
Udin: “Nggak biasanya Bapak menerima tamu seperti ini. Sangat istimewa, siapa dia, Pak?”
Gus Dur: “Itu Wali”
Udin: “Apa ada wali seperti itu selain beliau di Indonesia?”
Gus Dur: “Tidak ada, adanya di Sudan.”

Orang yang sangat dihormati Gus Dur tersebut ternyata adalah almarhum Tgk Ibrahim Woyla dari Woyla, Aceh Barat.

Abu Ibrahim Woyla adalah seorang ulama pengembara. Ulama ini dalam masyarakat Aceh lebih dikenal dengan Abu Ibrahim Keramat. Belum pernah terjadi dalam sejarah di Woyla (Aceh Barat) bila seseorang meninggal ribuan orang datang melayat (takziah) kecuali pada waktu wafatnya Abu Ibrahim Woyla.

Selama hampir 30 hari meninggalnya Abu Ibrahim Woyla masyarakat Aceh berduyun-duyun datang melayat ke kampung Pasi Aceh, Kecamatan Woyla Induk, Aceh Barat sebagai tempat peristirahatan terakhir Abu Ibrahim Woyla. Selama 30 hari itu ribuan orang setiap hari tak kunjung henti datang menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Abu Ibrahim Woyla, sehingga pihak keluarga menyediakan 400 kotak air aqua gelas dan tiga ekor lembu setiap hari dari sumbangan mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf untuk menjamu tamu yang datang silih berganti ke tempat wafatnya Abu Ibrahim Woyla. Begitulah pengaruh ke-ulama-an Abu Ibrahim Woyla dalam pandangan masyarakat Aceh, terutama di wilayah Aceh Barat dan Aceh Selatan.


Abu Ibrahim Woyla yang bernama lengkap Teungku -- kira-kira sama dengan ustadz/kiai -- Ibrahim bin Teungku Sulaiman bin Teungku Husen dilahirkan di kampung Pasi Aceh, Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barat pada tahun 1919 M. Menurut riwayat, pendidikan formal Abu Ibrahim Woyla hanya sempat menamatkan Sekolah Rakyat (SR), selebihnya menempuh pendidikan Dayah (Pesantren Salafiyah/Tradisional) selama hampir 25 tahun. Sehingga dalam sejarah masa hidupnya Abu Ibrahim Woyla pernah belajar 12 tahun pada Syeikh Mahmud seorang ulama asal Lhok Nga Aceh Besar yang kemudian mendirikan Dayah Bustanul Huda di Blang Pidie Aceh Barat. Di antara murid Syeikh Mahmud ini selain Abu Ibrahim Woyla juga Syeikh Muda Waly Al-Khalidy yang kemudian sebagai seorang ulama tareqat naqsyabandiyah tersohor di Aceh.

Konon Syeikh Muda Waly hanya sempat belajar pada Syeikh Mahmud sekitar 4 tahun, kemudian pindah ke Aceh Besar dan belajar pada Abu Haji Hasan Krueng Kale selama 2 tahun. Setelah itu Syeikh Muda Waly pindah ke Padang dan belajar pada Syeikh Jamil Jaho Padang Panjang. Dua tahun di Padang Syeikh Muda Waly melanjutkan pendidikan ke Mekkah atas kiriman Syeikh Jamil Jaho, setelah 2 tahun di Mekkah kemudian Syeikh Muda Waly kembali ke Blang Pidie dan melanjutkan mendirikan Pesantren Tradisional di Labuhan Haji Aceh Selatan. Saat itulah Abu Ibrahim Woyla sudah mengetahui bahwa Syeikh Muda Waly telah kembali dari Mekkah dan mendirikan Pesantren, maka Abu Ibrahim Woyla kembali belajar pada Syeikh Muda Waly untuk memperdalam ilmu tareqat Naqsyabandiyah. Namun sebelum itu Abu Ibrahim Woyla pernah belajar pada Abu Calang (Syeikh Muhammad Arsyad) dan Teungku Bilyatin (Suak) bersama rekan seangkatannya yaitu (alm) Abu Adnan Bakongan.

Setelah lebih kurang 2 tahun memperdalam ilmu tareqat pada Syeikh Muda Waly, Abu Ibrahim Woyla kembali ke kampung halamannya, tapi tak lama setelah itu Abu Ibrahim Woyla mulai mengembara yang dimana keluarga sendiri tidak mengetahui kemana Abu Ibrahim Woyla pergi mengembara. Menurut riwayat dari Teungku Nasruddin (menantu Abu Ibrahim Woyla) semasa hidupnya Abu Ibrahim Woyla pernah menghilang dari keluarga selama tiga kali, Pertama, Abu Ibrahim Woyla menghilangkan diri selama 2 bulan, Kedua, Abu Ibrahim Woyla menghilang selama 2 tahun dan Ketiga, Abu Ibrahim Woyla menghilangkan diri selama 4 tahun yang tidak diketahui kemana perginya.

Dalam kali terakhir inilah Abu Ibrahim Woyla kembali pada keluarganya di Pasi Aceh, pihak keluarga tidak habis pikir pada perubahan yang terjadi pada Abu Ibrahim Woyla. Rambut dan jenggotnya sudah demikian panjang tak ter-urus, pakaiannya sudah compang-camping dan kukunya panjang seadanya. Mungkin bisa kita bayangkan seseorang yang menghilang selama 4 tahun dan tak sempat untuk mengurus dirinya. Begitulah kondisi Abu Ibrahim Woyla ketika kembali ke tengah keluarganya setelah 4 tahun menghilang, maka wajar bila secara duniawiyah dalam kondisi seperti itu sebagian masyarakat Woyla menganggap Abu Ibrahim Woyla sudah tidak waras lagi.

Abu Ibrahim Woyla oleh banyak orang dikenal sebagai ulama yang pendiam dan ini sudah menjadi bawaannya sewaktu kecil hingga masa tua. Beliau hanya berkomunikasi bila ada hal yang perlu untuk disampaikan sehingga banyak orang yang tidak berani bertanya terhadap hal-hal yang terkesan aneh bila dikerjakan Abu Ibrahim Woyla. Sikap Abu Ibrahim Woyla seperti itu sangat dirasakan oleh keluarganya, namun karena mereka sudah tahu sifat dan pembawaannya demikian, keluarga hanya bisa pasrah terhadap pilihan jalan hidup yang ditempuh Abu Ibrahim Woyla yang terkadang sikap dan tindakannya tidak masuk akal. Tapi begitulah orang mengenal sosok Abu Ibrahim Woyla.

Tokoh ini merupakan orang yang sangat dihormati di Aceh. Masyarakat Aceh memanggilnya “Tgk Beurahim Wayla” dan percaya bahwa ia sering menunaikan salat Jum’at di Makkah dan kembali pada hari itu juga.

Menurut keterangan masyarakat di sana, dia bisa berjalan cepat dan lebih cepat daripada mobil. Dia jarang naik bus, tapi lebih senang berjalan kaki. Ia juga dipercaya bisa menghilang.

Ada orang yang menyebutnya sebagai “dewa tidur”, yang menghabiskan hari-harinya dengan tidur. Tgk.Ibrahim Woyla juga bisa mengetahui perilaku seseorang dan sering sekali orang yang menemui beliau dibacakan kesalahannya untuk diperbaiki.

Sebelum terjadinya tsunami, Abu Ibrahim pernah mengatakan ”air laut bakal naik sampai setinggi pohon kelapa", dan... terbukti tsunami. Posisi tidur Abu yang dianggap aneh (melengkung/ meukewien), ucapannya sedih melihat manusia banyak seperti hewan serta mengatakan dunia ini sudah semakin sempit dan masih banyak cerita gaib, menjadikan ulama kharismatik ini selalu dicari-cari hanya untuk dimintai berkahnya.

Tokoh kharismatik ini meninggal Juli 2009 lalu dalam usia 90 tahun di kediamannya di Desa Pasi Aceh Kecamatan Woyla Kabupaten Aceh Barat dan dikebumikan tak jauh dari rumahnya. Ribuan pelayat memberinya penghormatan terakhir. [dutaislam.com/gg]

Sumber :dutaislam.com
Wirid Kiai As’ad Menghadapi Penjajah Hingga Jepang Lari Tunggang Langgang

Wirid Kiai As’ad Menghadapi Penjajah Hingga Jepang Lari Tunggang Langgang


Ketika penjajah Jepang menguasai Indonesia para kiai melawan dengan berbagai cara termasuk dengan doa dan amalan-amalan. Salah satunya Pengasuh Pesantren Situbondo KHR. As’ad Syamsul Arifin.

Sebelum menggelorakan perang melawan Jepang Kiai As’ad membaca Ratibul Haddad sejak tengah malam hingga subuh. Hal ini sebagaimana pernah diceritakan cucunya KHR Ahmad Azaim Ibrahimy dalam ceramah agama pada peringatan Haul Majemuk pendiri dan pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo di Pesantren Al-Wathaniyah 43 Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara 2017 silam.

Suatu ketika Kiai As’ad memasuki wilayah Jember. Sepanjang malam beliau komat-kamit. Hingga penduduk setempat bertanya, ada apa gerangan, apakah yang dilafalkan beliau. Beliau lantas bercerita jika sedang wiridkan Ratibul Haddad. Menjelang subuh wiridan Kiai As’ad baru selesai.

Menurut Kiai Azaim, konon wirid tersebut diijazahkan oleh Syaikhona Cholil Bangkalan yang juga merupakan guru Hadratussyekh Hasyim Asy’ari Jombang. Karomah wirid tersebut dinilai luar biasa. Jepang lari tunggang langgang menghadapi pasukan mbah As’ad.[dutaislam.com/pin]

Sumber :dutaislam.com
Makna Rahmatan lil Alamin dalam Pandangan Gus Dur

Makna Rahmatan lil Alamin dalam Pandangan Gus Dur



KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur didaulat memberi Orasi Ilmiah pada Peresmian Kampus Universitas Yudharta, Pasuruan, Jawa Timur pada Senin, 23 Mei 2005 silam.

Dalam ceramah tersebut, di depan para hadirin yang terdiri dari para tokoh lintas agama dan khususnya para kiai, Presiden ke-4 RI itu menjelaskan makna Rahmatan lil Alamin dalam QS. Al-anbiya':107.

“Tadi kita dengarkan (lantunan) ayat al-Qur'an: ‘wama arsalka illa rahmatan lil alamin,” ungkap Gus Dur. “Di beberapa buah (kitab, ed.) Tafsir, rahmatan (di)situ bukan karunia, tetapi dibaca silaturrahim, persaudaraan,” lanjut Gus Dur.

Kemudian Gus Dur berharap, di tempat dan pertemuan itu terjadi Rahmatan lil Alamin. “Mudah-mudahan, di tempat inilah terjadi persaudaraan di antara sesama umat manusia,” tukas Gus Dur.

Beliau masih melanjutkan: “alamin di sini ay (berarti, ed) basyar, manusia. Bukan kok isinya alam semua, bukan. Tetapi manusia. Persaudaraan diantara sesama manusia. wama arsalka illa rahmatan lil ‘alamin,” terangnya.

“Di sinilah terletak arti daripada lakum dinukum waliyadin, bagi kalian agama kalian, bagiku agamaku (Al-Quran, ed.). Tiap orang berhak mengikuti cara masing-masing,” pungkas Gus Dur.

Dengan demikian, Nabi Muhammad SAW diutus untuk mengayomi seluruh umat manusia semuanya, tak peduli etnis, suku dan apa agamanya.

Islam harus menyejukkan dan menjadi pengayom bagi semuanya, seperti halnya Nabi Muhammad melibatkan semua suku atau klan untuk mengangkat hajar aswad, meski semua telah percaya kepadanya.

Atau ketika beliau menjadi pengayom bagi semua agama dan klan ketika menjadi pemimpin Negara Madinah.

Adapun batasanya, adalah agama masing-masing. Meski berbeda, tetap bisa bersama membangun bangsa. Paham pluralisme yang digagas beliau, adalah hubungan sosial-kemasyarakatan, kenegaraan, bahkan kemanusiaan, bukan soal akidah.

Tafsiran Gus Dur di atas yang mengutip dari kitab-kitab tafsir adalah landasan dalam berperilaku dan berbuat baik kepada siapa saja. Begitu kira-kira pesan ceramah sang guru bangsa. (Ahmad Naufa)

Sumber :nu.or.id
Tujuh Pesan Ibu pada Anak Lelakinya yang Mengharukan

Tujuh Pesan Ibu pada Anak Lelakinya yang Mengharukan


Demikian seorang ibu, kata-katanya selalu penuh dengan nasihat kepada anak-anaknya. Termasuk ketika anak lelakinya akan atau baru saja menikah. Seorang ibu akan berpesan kepada anaknya itu perihal hidup berumah tangga dan bagaimana memperlakukan istri.

Berikut tujuh pesan seorang ibu kepada anak lelakinya yang sedang atau baru menikah:

1. Ibu berkata, hargai istrimu sebagaimana engkau menghargai ibumu, sebab istrimu juga seorang ibu dari anak-anakmu.

2. Ibu berkata, jika marah boleh tidak memberi uang, boleh tidak berbicara dengan istrimu, tapi jangan bertengkar dengannya (membentaknya, memukulnya).

3. Ibu berkata, jantung rumah adalah seorang istri. Jika hati istrimu tidak bahagia maka seisi rumah akan tampak seperti neraka (tidak ada canda tawa, manja, perhatian). Maka sayangi istrimu agar dia bahagia dan engkau akan merasa seperti di surga.

4. Ibu berkata, besar atau kecil gajimu, seorang istri tetap ingin diperhatikan. Dengan begitu maka istrimu akan selalu menyambutmu pulang dengan kasih sayang.

5. Ibu berkata, 2 orang yang tinggal 1 atap (menikah) tidak perlu gengsi, bertingkah, siapa menang siapa kalah. Karena keduanya bukan untuk bertanding melainkan teman hidup selamanya.

6. Ibu berkata, diluar banyak wanita idaman melebihi istrimu. Namun mereka mencintaimu atas dasar apa yang kamu punya sekarang, bukan apa adanya dirimu. Saat kamu menemukan masa sulit, maka wanita tersebut akan meninggalkanmu dan punya pria idaman lain dibelakangmu.

7. Ibu berkata, banyak istri yang baik. Tapi di luar sana banyak pria yang ingin mempunyai istri yang baik dan mereka tidak mendapatkannya. Mereka akan menawarkan perlindungan terhadap istrimu. Maka jangan biarkan istrimu meninggalkan rumah karena kesedihan. Sebab ia akan sulit sekali untuk kembali.

Demikian pesan-pesan ibu kepada anak lelaki. Semoga bermanfaat dan membawa kebaikan dalam kehidupan berumah tangga. [dutaislam.com/ed/pin]

Sumber :dutaislam.com
Balajar Dari Gus Dur dan Kiai Hasyim, Lawan yang Berkawan

Balajar Dari Gus Dur dan Kiai Hasyim, Lawan yang Berkawan


Selasa malam di Hotel Sultan, Jakarta, lain dari biasanya. Sungguh istimewa. Malam pada awal November 2007 itu, hampir sebulan setelah Idul Fitri, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama berkumpul untuk bersilaturahmi, untuk bermaaf-maafan. Semua orang bersukacita.

Tapi ada yang lebih istimewa. Di depan para kiai dan pengurus organisasi Islam terbesar di Nusantara ini, juga kader-kader nahdliyin di kabinet dan gedung parlemen, Abdurrahman Wahid dan Ahmad Hasyim Muzadi berbalas lelucon. Gus Dur, sapaan bagi Abdurrahman, memimpin NU dari 1984 hingga 1998, sebelum digantikan oleh Kiai Hasyim.

Gus Dur mendapat giliran pertama naik podium. Presiden ke-4 RI, yang memang punya segudang cerita lucu, itu langsung melempar lelucon. Sebelum datang ke Hotel Sultan, Gus Dur bercerita, dia sempat bertemu dengan Soetardjo Soerjogoeritno, sesepuh PDI Perjuangan. Kepada Soetardjo, dia mengatakan akan datang ke acara halalbihalal NU di Hotel Sultan.

“Dia terheran-heran. ‘Lo, NU kok di hotel,’” Gus Dur mengutip komentar Mbah Tardjo, tokoh senior Partai Banteng itu biasa disapa. Kontan para kiai dan kader nahdliyin terbahak. Setelah tawa hadirin mereda, dia kembali melanjutkan cerita. Kali ini dia mengaku mengutip cerita dari Hasyim Muzadi.

Suatu hari, Gus Dur berkisah, Kiai Hasyim menerima seorang warga di dekat pesantrennya. Orang itu mengaku bingung dengan perbedaan rakaat dalam salat tarawih dan witir di sejumlah masjid. “Kata Kiai Hasyim, yang 23 rakaat boleh, yang 11 rakaat juga boleh. Yang tidak salat tarawih juga boleh,” Gus Dur mengutip Kiai Hasyim. Hadirin kembali tergelak.

Gus Dur itu tidak pernah menyerah. Dia tidak pernah mengeluh terhadap apa pun.”

Kiai Hasyim, yang mendapat giliran bicara berikutnya, segera menanggapi dagelan Gus Dur. “Cerita Gus Dur itu masih kurang. Ada lagi yang berdebat tentang puasa 29 hari atau 30 hari. Saya jawab keduanya boleh. Yang jadi masalah itu kalau geger-gegeran mengenai 29 atau 30 hari tapi dia sendiri nggak puasa,” kata Kiai Hasyim. Pada malam itu, hubungan yang pernah beku seolah-olah telah mencair. Segala silang selisih antara Kiai Hasyim dan Gus Dur seperti tak pernah ada.

Dulu mereka memang berkawan. Ketika Gus Dur duduk di pucuk pimpinan NU, Kiai Hasyim merupakan Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur, basis utama nahdliyin. Pada 1997 hingga pertengahan 1998, kala NU digoyang “Operasi Naga Hijau”, Gus Dur dan Kiai Hasyim satu suara. Dua kantong massa NU, Situbondo di Jawa Timur dan Tasikmalaya di Jawa Barat, digoyang kerusuhan.

Beberapa bulan kemudian, giliran Banyuwangi di ujung tenggara Jawa Timur membara gara-gara isu dukun santet. Ratusan orang yang dituduh dukun santet mati dibunuh orang-orang tak dikenal. Masalahnya, tak sedikit guru ngaji NU yang terserempet tudingan menjadi dukun santet ikut dibunuh orang-orang tak dikenal itu. Dari Banyuwangi, isu dukun santet ini merembet sampai ke Jember, Situbondo, Pasuruan, bahkan menyeberang ke Pulau Madura. Semua daerah itu adalah kantong warga nahdliyin.

Gus Dur dan Kiai Hasyim satu suara bahwa ada tangan-tangan penguasa yang menggerakkan “Naga Hijau” untuk menggoyang NU. Saat itu, hubungan Gus Dur dengan Istana di Jalan Medan Merdeka Utara dan Cendana memang jauh dari hangat. Bahkan kabarnya ada upaya terang-terangan Jakarta untuk mendongkel Gus Dur dari pimpinan NU lewat Muktamar di Cipasung, Tasikmalaya, pada 1994. Gus Dur “selamat”, bahkan menjadi Presiden RI, lima tahun kemudian.

Tapi umur Gus Dur di Istana hanya bertahan 21 bulan. Gus Dur dipaksa mundur lewat Sidang Istimewa MPR lantaran kasus Bulog dan dana hibah dari Sultan Brunei. Pekan-pekan menjelang lengsernya Gus Dur, suhu politik membubung tinggi. Massa NU di Jawa Timur mengancam, jika Gus Dur diturunkan, mereka akan menyerbu Jakarta. Sejumlah kantor Golkar di Jawa Timur gosong dibakar. Pohon-pohon ditebang dan dipasang melintang di jalan raya sepanjang Pasuruan hingga Banyuwangi.

“Jika Gus Dur disingkirkan secara konstitusional, saya kira tak akan ada perlawanan dari akar rumput…. Tapi kiai-kiai NU merasa Gus Dur sedang dipaksa turun dengan cara-cara yang tak adil. Karena itu, para kiai berpendapat mereka harus membela Presiden,” kata Kiai Hasyim, Ketua PBNU kala itu, dikutip Greg Barton dalam bukunya, Biografi Gus Dur.

Partai yang didirikan Gus Dur, Partai Kebangkitan Bangsa, bersama NU dan organisasi-organisasi di bawahnya bahu-membahu mencoba menghadang manuver Poros Tengah, koalisi partai yang digalang Amien Rais dan teman-temannya. Tapi kali ini, tak seperti di Cipasung tujuh tahun sebelumnya, mereka gagal “menyelamatkan” posisi Gus Dur. Pada 23 Juli 2001, Sidang Istimewa MPR memutuskan memakzulkan Gus Dur dan menggantinya dengan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.

* * *

Tak ada lawan yang abadi, demikian pula kawan. Tak lama setelah tergusur dari Istana, hubungan Gus Dur dengan Kiai Hasyim mulai menunjukkan gejala keretakan.

Pada awal 2002, Gus Dur menggulirkan isu Muktamar Luar Biasa NU. Tentu saja yang jadi sasaran tembak adalah Kiai Hasyim. Para kiai, kata Gus Dur dikutip Liputan6, tak puas terhadap kinerja Pengurus Besar NU yang dipimpin Hasyim. Dia menunjuk tiga ulama, Kiai Muhaiminan Gunardho dari Parakan, Kiai Abdurrahman Chudlori dari Magelang, dan Kiai Mas Subadar dari Pasuruan, yang mengaku kecewa terhadap Kiai Hasyim.

Hubungan Gus Dur dengan Kiai Hasyim makin panas setelah, dalam Musyawarah Kerja Nasional 2003 PKB, nama Hasyim juga disebut-sebut sebagai salah satu calon presiden yang akan diusung partai itu. Kiai Hasyim menanggapi dingin manuver Gus Dur. Menurut Hasyim, permintaan muktamar luar biasa harus memiliki alasan yang jelas dan disetujui oleh Dewan Syuriah NU.

Tanpa restu Dewan Syuriah, usul muktamar yang dipercepat ini tak bisa dilaksanakan. “Jadi buat apa dipermasalahkan,” kata Kiai Hasyim, kala itu, kepada Suara Merdeka. Dia berusaha meredam kabar perseteruan dengan Gus Dur. Hasyim juga tak yakin PKB berniat serius menyokongnya menjadi calon presiden. "Bila sekarang ada kesan saya berseteru, itu hanya kesan. Yang jelas, posisi saya berbeda dari beliau. Saya memimpin ormas NU, dan Gus Dur memimpin partai.”

Makin dekat dengan pemilihan presiden 2004, simpang jalan Gus Dur dan Kiai Hasyim makin terang. PKB jalan terus dengan Gus Dur sebagai calon Presiden RI. Kiai Hasyim belakangan dipinang Megawati menjadi pendampingnya lewat PDI Perjuangan. Pak Hasyim akan maju tanpa restu Gus Dur dan tanpa PKB. Dia sangat yakin “mesin” NU akan bekerja penuh menyokong Hasyim.

Lantaran faktor kesehatan, Gus Dur gagal ikut dalam pemilihan presiden 2004. Tapi Hasyim juga bukan satu-satunya warga nahdliyin yang berlaga. Adik Gus Dur, Salahuddin Wahid, ikut bertarung mendampingi calon presiden yang disokong Golkar, Wiranto. Keduanya sama-sama gagal menghadang laju pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla.

Pemilihan presiden usai, namun hubungan Gus Dur dan Kiai Hasyim tak lantas rekat kembali. Gus Dur berniat maju dalam Muktamar NU pada November 2004 di Boyolali, Jawa Tengah, melawan Hasyim memperebutkan kursi pimpinan PBNU. Menurut Gus Dur, Hasyim sudah terlibat politik praktis sehingga harus mundur dari NU.

Disokong oleh kiai-kiai sepuh NU, seperti Kiai Abdullah Abbas dan Kiai Muhaiminan, Gus Dur berusaha menghadang Hasyim. Suhu di arena Muktamar NU di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, mendidih. Tapi suara warga nahdliyin ternyata condong kepada Kiai Hasyim. Hasyim Muzadi terpilih kembali memimpin PBNU. Para kiai sepuh NU dan Gus Dur sempat mengancam akan keluar dari NU dan membuat organisasi tandingan. Untunglah, ancaman itu tak pernah jadi kenyataan.

Kendati tak jarang saling kritik, seperti saat halalbihalal di Hotel Sultan itu, hubungan Gus Dur dan Kiai Hasyim seperti tak ada soal. Ketika Gus Dur menikahkan putrinya, Anita Hayatunnufus Rahman, sepuluh tahun lalu, orang-orang yang sering dia kritik malah jadi saksi. Presiden Yudhoyono duduk di kursi saksi utama, sementara mantan lawan-lawan politiknya, seperti Kiai Hasyim dan Akbar Tandjung, turut menjadi saksi akad nikah di rumah Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Demikian pula saat Gus Dur sakit, Kiai Hasyim tetap datang membesuk. “Gus Dur itu tidak pernah menyerah. Dia tidak pernah mengeluh terhadap apa pun, termasuk terhadap sakit yang menderanya. Dia selalu menanggung semuanya sendiri,” kata Kiai Hasyim. Sekarang dua kawan yang pernah jadi lawan itu sama-sama telah tiada. Alfatihah. [dutaislam.com/pin]

Sumber :dutaislam.com
Ketika Kiai Azizi Bertanya Soal Wahabi, Jawaban Mbah Maimun di Luar Dugaan

Ketika Kiai Azizi Bertanya Soal Wahabi, Jawaban Mbah Maimun di Luar Dugaan


Peristiwa ini terjadi di sela-sela Seminar Nasional dan Bahsul Masail Islam Nusantara di Aula Rektorat Universitas Negeri Malang (UM), Malang, Jawa Timur, (13/02/2017) lau.  Dikisahkan oleh KH Azizi Abdullah dari Kediri berdasarkan pengalamannya ketika sowan kepada KH Maimun Zubair dalam sebuah kesempatan.

Kiai Azizi saat itu menanyakan hukum orang Wahabi yang dalam pengetahuannya adalah kafir karena telah mensyirik-syirikkan orang NU karena amaliahnya. Sontak Kiai Maimun marah-marah dengan cara pandang Kiai Azizi.

“Hei, Mas, sampean jangan ngawur. Wahabi itu bukan kafir, Mas, tapi berdosa. Lha, orang berdosa itu: yaghfiru liman yasyaa’ wa yu’addzibu man yasyaa’. Kalau Allah mengampuni, ya masuk surga, kalau tidak diampuni ya neraka,” ucap mbah Maimun, begitu ia akrab dipanggil.

Mbah Maimun melanjutkan, “Kalau kafir kan pasti masuk neraka. Sampean ini jangan main hukum kafir begitu saja, wong sampean saja belum pasti masuk surga. Ngapain ngurusi orang lain,” tambahnya lagi.

Kiai Maimun lantas mengimbau kepada warga NU agar tidak terlalu ikut campur dengan perkataan orang lain. Baginya, yang penting adalah menjaga akidah diri sendiri.

Mendengar jawaban Kiai Maimun tersebut, Kiai Azizi mengaku insaf dari asal menghukumi orang. “Saya pun tobat,” kata Kiai Azizi.

Jawaban Mbah Maimun patut kita renungkan agar tidak mudah mengkafirkan orang lain hanya karena tidak sepaham. Ia mengingatkan akan pentingnya membangun kesadaran diri untuk tidak main-main dengan menghukumi orang lain dengan kata “kafir” dan tidak pentingnya sibuk ngurusi orang lain.

Kita memang tidak pantas merasa paling benar, karena kita belum tentu masuk surga. Masuk surga atau tidak, bergantung pada ridha dan pengampunan Allah. [dutaislam.com/pin]

Sumber: dutaislam.com
Ketika Mbah Moen Bertanya Apa Amaliyah Gus Dur

Ketika Mbah Moen Bertanya Apa Amaliyah Gus Dur


Sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terkait sikap, gerakan, perilaku, gagasan, dan pemikiran tidak hanya menimbulkan banyak pertanyaan di benak orang awam, tetapi juga memunculkan banyak rasa penasaran di dalam pikiran para kiai, termasuk KH Maimoen Zubair Sarang, Rembang.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang ini pernah mengungkapkan rasa penasarannya terhadap Gus Dur dengan bertanya kepada sahabat dekatnya, Gus Mus (KH Ahmad Mustofa Bisri). Melihat sosok Gus Dur kala itu, Mbah Maimoen bertanya kenapa Gus Dur bisa seberani itu bahkan ketika harus berhadapan dengan rezim otoritarianisme orde baru.

Dalam sebuah forum pengajian, Mbah Moen, sapaannya, bertanya, “Kira-kira apa amaliah Gus Dur sehingga kok (bisa berani) seperti ini?”. Mendengara pertanyaan Mbah Moen, Gus Mus tidak kaget dan tidak heran. Karena pertanyaan ini sering mampir di telinganya dari berbagai elemen masyarakat.

Gus Mus kala itu menjawab spontan saja, “Orang-orang mencintai Gus Dur, karena Gus Dur mencintai orang-orang,” jawab Gus Mus.

Gus Mus juga mengungkapkan kepada Mbah Maimoen bahwa Gus Dur itu sosok yang cuek. Dia tidak peduli orang lain senang atau membencinya, mereka mencintai atau mencaci-maki. “Gus Dur tetap mencintai mereka,” tutur Gus Mus.

Lantas, Kiai Maimoen bertanya ke Gus Mus, “Kok sampean tahu, Gus?” Gus Mus menjawab, “Lah wong saya itu teman satu kamar dengan Gus Dur, kok.” (KH Husein Muhammad, Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, 2015). Gus Mus dan Gus Dur memang teman satu kamar ketika mereka sedang menempuh kuliah di Al-Azhar Kairo, Mesir.

Gus Mus menersukan kesaksiannya atas Gus Dur sambil mengatakan bahwa dirinya sangat paham dan mengerti pikiran-pikiran sahabatnya itu.

Gus Dur adalah satu-satunya orang Indonesia yang namanya masih terus didoakan banyak orang. Pikiran-pikirannya masih ditulis, didiskusikan, diseminarkan, dan dikagumi banyak orang hingga saat ini. (Fathoni)

Sumber :nu.or.id

Jawaban 'Kocak' Gus Dur saat Paspampres Kabari Pesawat Presiden Bakal Dihadang Massa

Jawaban 'Kocak' Gus Dur saat Paspampres Kabari Pesawat Presiden Bakal Dihadang Massa



Suatu malam, Panglima TNI Laksamana Widodo Adi Sutjipto mendatangi Istana Kepresidenan, Jakarta. Saat itu, Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sudah tertidur pulas.

Anggota Pasukan Pengamanan Presiden ( Paspampres), Chandra W Soekotjo, terpaksa membangunkan Gus Dur dari tidurnya.

"Saya masuk dan bangunkan Presiden, Panglima TNI mau laporan," kata Chandra menceritakan kisahnya kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Datang tengah malam dan sampai membangunkan Presiden Gus Dur, tentunya Panglima TNI membawa informasi yang sangat penting dan mendesak untuk segera dilaporkan.

Informasi itu terkait dengan kondisi keamanan di daerah yang akan didatangi Gus Dur pada keesokan harinya.

"Pak, ini besok tempat yang kita akan pergi ini, landasan akan diduduki. Pesawat tidak bisa mendarat," kata Panglima TNI kepada Gus Dur saat itu.

Chandra masih ingat betul apa jawaban Gus Dur waktu itu. Gus Dur dengan santainya menjawab, "Ndak apa-apa, nanti kan saya mendarat pasti minggir."

Panglima TNI masih tetap berusaha meyakinkan agar Gus Dur membatalkan kunjungannya.

Namun, Gus Dur tetap bersikeras.

"Ndak, mereka cuma mau bicara saja. Enggak masalah," kata Gus Dur meyakinkan.

Akhirnya, diputuskan Gus Dur tetap berangkat ke daerah itu.

Hanya saja, kali ini Paspampres melakukan pengamanan yang lebih ketat.

"Saya lihat Pak Presiden Abdurrahman Wahid ini beliau orang yang tidak memiliki pikiran negatif terhadap orang. Sementara kalau Paspampres harus berpikir yang terjelek. Tidak boleh ada peluang untuk risiko itu masuk," kata Chandra.

Paspampres pun langsung segera melakukan koordinasi dengan Kapolda dan Pangdam setempat.

Pengamanan diperketat untuk memastikan Gus Dur aman dari berbagai ancaman.

"Walau pun saya waktu itu sebagai pengawal ketar-ketir. Apa iya benar? Kalau mendarat kalau kita dikepung bagaimana?" kata Chandra.

Kepada Kompas.com, Chandra merahasiakan lokasi kunjungan Gus Dur itu. Ia juga enggan menyebut kelompok massa dari mana yang mencoba menghadang kedatangan Kepala Negara.

Setelah dilakukan koordinasi lebih jauh, unsur pengamanan di wilayah setempat pun berani memastikan tak akan ada kelompok yang menduduki bandara. Akhirnya, pada keesokan harinya, Gus Dur dan rombongan pun tetap berangkat.

"Selama unsur pengamanan wilayah sudah menyatakan oke, kami masuk. Kalau dikatakan tidak, ya, tidak masuk," kata Chandra.

Kunjungan Gus Dur di daerah itu pun berlangsung dengan aman dan lancar. Tak ada gangguan keamanan seperti yang semula diprediksi.

Sumber :tribunnews.com
Habib Lutfi bin Yahya dan Syaikh Muhammad Rajab Dieb Menangis

Habib Lutfi bin Yahya dan Syaikh Muhammad Rajab Dieb Menangis


Awalnya saya hanya sekilas melihat foto yang banyak dishare ini dimana Habib Luthfi bin Yahya sedang menangis memeluk seorang ulama pada Konferensi Internasional Bela Negara beberapa waktu yang lalu. Belakangan saya baru 'ngeh' ternyata ulama yang menangis bersama Habib Luthfi ini adalah ulama besar Suriah Syaikh Muhammad Rajab Dieb, putra dari Alm Syaikh Rajab Dieb yang wafat Juni lalu.

Siapa beliau? Masih teringat jelas sejak awal-awal konflik Suriah bagaimana media-media wahabi disini menebar propaganda busuk dan menyerukan boikot pada ayah beliau Syaikh Rajab Dieb karena beliau adalah ulama Ahlusunnah Suriah yang teguh membela tanah airnya dari invasi para teroris takfiri yang menginvasi negaranya.

Bukan hanya Syaikh Rajab Dieb yang dibusukkan namanya oleh media-media takfiri disini, tapi juga banyak ulama besar Aswaja Suriah lainnya seperti Syaikh Said Ramadan Al Buthi, putranya Syaikh Dr. Taufiq Al Buthi, Grand Mufti Suriah Syaikh Ahmad Badruddin Hassoun, Mufti Damaskus Syaikh M Adnan al Afyouni dll karena mereka menolak mendukung aksi pemberontakan mujahilin yang disokong USA, NATO dan Rezim-rezim teluk dengan segala fitnah sektariannya.

Saya menjadi semakin 'ngeh' ketika mengecek daftar nama ulama-ulama Suriah yang diundang oleh Jatman (Jam’iyyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah) yang dipimpin Habib Luthfi pada Konferensi tersebut, diantaranya Syaikh M Adnan Al-Afyouni, Syaikh Umar Muhammad Rajab Dieb, Syaikh Mahmud Syahadah dan Syaikh Muhammad Rajab Dieb Suriah. Mereka semua adalah ulama besar Aswaja Suriah yang tidak jarang dituduh Syi'ah oleh para takfiri karena keberpihakan mereka pada pemerintah dan tanah airnya untuk memerangi kelompok-kelompok teroris yang menghancurkan Suriah yang damai sejak ribuan tahun.

Yang jadi pertanyaan, mengapa Habib Luthfi tidak mengundang para ulama takfiri provokator teroris Suriah seperti Adnan Aroor, Ghayyats as suri atau Kurayyim Rajih?

Jawabannya jelas, waktu itu Konferensi Internasional Bela Negara, tempat berkumpulnya para ulama nasionalis & moderat yang menyerukan cinta tanah air dan bela negara, bukan para ulama radikal, provokator dan separatis.

Habib Luthfi memang jarang bicara langsung tentang Suriah, namun apa yang ditunjukkan beliau sudah sangat jelas. Karena beliau tahu persis Indonesia dan Suriah punya kesamaan penting, yaitu menjunjung Kebhinekaan dan pluralitas bangsa sejak ribuan tahun lamanya, dan ini yang coba dihancurkan gerombolan teroris takfiri dengan fitnah. [dutaislam.com/gg]

Sumber :dutaislam.com
Gus Dur dan Cerita Hizib Shofi

Gus Dur dan Cerita Hizib Shofi


Oleh Nur Khalik Ridwan

Di Jawa Tengah bagian barat, terdapat seorang Kiai. Saya menyebutnya, Kiai KUA, karena pekerjaan sehari harinya di Kantor Urusan Agama di sebuah kecamatan, dan sudah pensiun.

Kiai KUA berguru salah satunya kepada seorang kiai dari Buntet. Namanya Kiai Akyas. Kiai KUA, mengambil ilmu Kiai Akyas, salah satunya ijazah wirid Hizib Mubarok. Pengamalannya dibaca setiap ba'da maktubah atau setelah sholat 5 waktu. Ijazah diperoleh pada tahun 70-an.

Salah satu anak dari Kiai KUA, ikut mengamalkan Hizib Mubarok, atas dawuh dari ayahya itu. Namanya saya sebut Kang Saleh.

Kiai KUA yang sangat menghormati Gus Dur, pada suatu malam mengalami mimpi. Dia didatangi Gus Dur, dan berkata: "Aku telah memberi anakmu sebuah buku." Pada besuk paginya, Kiai KUA, memanggil anaknya dan meminta keterangan.

Kang Saleh, anak Kyai KUA, adalah seorang guru agama. Dia berdasarkan dawuh dari ayahnya, mengamalkan Hizib Mubarok dan mudawamah sholat tahajud. Suatu ketika setelah sholat tahajud ia mendengar suara yg sangat jelas dalam pendengaran batinnya, berbunyi: "Shodaqta". Lalu, setelah itu ada suara berbunyi "Kuat..!" Tidak lama setelah itu, Kang Saleh mendengar suara gemercik air masuk ke telinganya seraya memasukkan lafadz Hizib Shofi.

Setelah mendapat Hizib Shofi tersebut ia mendadak lupa dengan lafadz Hizib Mubarok yg sudah didawamkan selama 8 tahun. Pada peristiwa "masuknya" Hizib Shofi itu ia juga melihat salah seorang kiai ternama dari Cirebon.

Hizib Shofi, menurut Kang Saleh, sebagaimana suara yg terdengar saat itu berfungsi: 1. Untuk memohon kebaikan diri pribadi; 2. memohon kebaikan utk masyarakat luas; dan 3. memohon kebaikan utk bangsa dan negara Republik Indonesia.

Bersamaan dengan diterimanya Hizib Shofi, Kang Saleh juga diberi wirid untuk dimudawamahkan, yaitu:

١. لاحول ولا قوۃ الا بالله العلي العظيم ١۰۰ x
٢. سورۃ الفاتحۃ ١۰۰ x
٣. استغفرالله العظيم ١۰۰ x

Bersamaan dengan itu pula, Kang Saleh diminta agar selalu nderes Al-Qur'an dan mencatat ayat-ayat penting dalam buku catatan.

Cerita inilah yang diceritakan Kang Saleh kepada ayahnya. Dan, Kyai KUA, baru mengerti setelah Anaknya bercerita, dan yang dimaksud Gus Dur tentang "buku yang diberikan kepada anaknya" ternyata adalah serangkaian Hizib Shofi dan beberapa wirid di atas dan nderes Al-Qur'an. Saya memperoleh cerita itu dari sahabat kami, yang dekat dengan Kang Saleh. Lafazh dari Hizib Shofi itu adalah:

"وصلی الله علی سيدنا محمد وعلی اله وصحبه وبارك وسلم اجمعين,

ولاحول ولاقوۃ الابالله العلي العظيم,

سورۃ الفاتحۃ."

Cerita ini memberikan hikmah pengertian bahwa, ada sejenis laku wirid melalui jalan bimbingan Ruhani seperti ini. Dalam cerita sufi, hal seperti ini seperti cerita Syekh Uwaisy al-Qarni, yang tidak bertemu fisik dengan Kanjeng Nabi, tetapi memperoleh bimbingan dari Kanjeng Nabi.

Kisah seperti ini juga ada di dalam Kitab Ihya, ketika menceritakan tasbih dengan redaksi Subhanalloh al-'Aliyyid Dayyan, Subhanalloh asy-Syadidil Arkan, Subhana man Yadzhabu bilIai wa ya'ti bin Nahar, Subhana man la Yusghiluhu Sya'nun 'an Sya'nin, Subhanalloh al-Hannanil Mannan, Subhanalloh al-Musabbahi fi kulli makan, yang menurut Syaikh Ma'ruf al-Karkhi didengar dari sebagian wali Abdal, yang mendapatkan melalui pendengaran batin yang keras, setelah disiplin wirid dan sholat, di pinggir laut. Jadi ada di antara para ahli wirid itu yg menggunakan jalan seperti ini.

Hikmah kedua, seorang yang mudawamah terdapat amalan-amalan tertentu, dia bisa memperoleh warid, sesuatu yang datang kepadanya, berupa pengalaman-pengalaman spiritual. Melalui cerita ini, Gus Dur pun, memberi kabar kepada seorang ayah melalui mimpi, atas anugrah yang diperoleh anaknya. Wallahu a'lam.

Sumber :nu.or.id
Makna Rahmatan lil Alamin dalam Pandangan Gus Dur

Makna Rahmatan lil Alamin dalam Pandangan Gus Dur


KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur didaulat memberi Orasi Ilmiah pada Peresmian Kampus Universitas Yudharta, Pasuruan, Jawa Timur pada Senin, 23 Mei 2005 silam.

Dalam ceramah tersebut, di depan para hadirin yang terdiri dari para tokoh lintas agama dan khususnya para kiai, Presiden ke-4 RI itu menjelaskan makna Rahmatan lil Alamin dalam QS. Al-anbiya':107.

“Tadi kita dengarkan (lantunan) ayat al-Qur'an: ‘wama arsalka illa rahmatan lil alamin,” ungkap Gus Dur. “Di beberapa buah (kitab, ed.) Tafsir, rahmatan (di)situ bukan karunia, tetapi dibaca silaturrahim, persaudaraan,” lanjut Gus Dur.

Kemudian Gus Dur berharap, di tempat dan pertemuan itu terjadi Rahmatan lil Alamin. “Mudah-mudahan, di tempat inilah terjadi persaudaraan di antara sesama umat manusia,” tukas Gus Dur.

Beliau masih melanjutkan: “alamin di sini ay (berarti, ed) basyar, manusia. Bukan kok isinya alam semua, bukan. Tetapi manusia. Persaudaraan diantara sesama manusia. wama arsalka illa rahmatan lil ‘alamin,” terangnya.

“Di sinilah terletak arti daripada lakum dinukum waliyadin, bagi kalian agama kalian, bagiku agamaku (Al-Quran, ed.). Tiap orang berhak mengikuti cara masing-masing,” pungkas Gus Dur.

Dengan demikian, Nabi Muhammad SAW diutus untuk mengayomi seluruh umat manusia semuanya, tak peduli etnis, suku dan apa agamanya.

Islam harus menyejukkan dan menjadi pengayom bagi semuanya, seperti halnya Nabi Muhammad melibatkan semua suku atau klan untuk mengangkat hajar aswad, meski semua telah percaya kepadanya.

Atau ketika beliau menjadi pengayom bagi semua agama dan klan ketika menjadi pemimpin Negara Madinah.

Adapun batasanya, adalah agama masing-masing. Meski berbeda, tetap bisa bersama membangun bangsa. Paham pluralisme yang digagas beliau, adalah hubungan sosial-kemasyarakatan, kenegaraan, bahkan kemanusiaan, bukan soal akidah.

Tafsiran Gus Dur di atas yang mengutip dari kitab-kitab tafsir adalah landasan dalam berperilaku dan berbuat baik kepada siapa saja. Begitu kira-kira pesan ceramah sang guru bangsa. (Ahmad Naufa)

Sumber :nu.or.id
close
Banner iklan disini