Gus Dur dan 'Obatmu Sholat Wae'



Oleh Nur Khalik Ridwan

Saya menemui sahabat yang dulu saya sebut Kang Santri Marxis. Ini sahabat yang dulu ikut bersama arus besar generasi santri di perguruan tinggi, yang diperkenalkan ilmu-ilmu sosial oleh Gus Dur. Orang yang mengambil jalan ilmu-ilmu sosial ini berbeda-beda, seiring dengan sejarah, kondisi, dan lingkaran diskusi, lingkaran komunitas dan senior. Ada yang mengembangkan Islam, kebebasan dan demokrasi; ada yang mengembangkan Islam, Marxisme dan advokasi; ada yang mengembangkan gender dan Islam, dan lain-lain.

Saya melihatnya, Kang Santri Marxis, sudah berubah dari penampilannya yang dulu. Saya bertanya: “Ini perubahan, di permukaan apa di dasarnya?”

Kang Santri Marxis balik bertanya: “Beberapa hari kamu bersama aku, setelah lama tidak bertemu, dan kamu melihat aku begini, dan kamu masih tanya, ini perubahan mendasar apa permukaan?”

Kami saling memandang, dan tiba-tiba kami diam sesaat. Lalu, tertawa sendiri-sendiri. Saya kemudian mengatakan: “Dasar cetakan santri, kemanapun terbang, yang dibaca akhirnya Pancasila, al-Ghazali, dan Hikam.” Tawa pun berderai.

Kenapa bisa berubah? Saya tanya: “Apakah dulu kamu salah memahami Gus Dur; atau Gus Dur yang terlalu lebar membuka kran pengetahuan-pengetahuan ini kepada kita; atau kita sendiri yang salah, terlalu cepat silau dan kagetan; atau ada yang lain?”

Saya sengaja membuka front. Karena ini sahabat, kalau dulu saya kenal diskusi, saya selalu dibanting-banting argumentasinya, lalu saya disodori bukunya Mao; dan buku-buku lain. Saya tidak pernah melawan, sebagaimana saya tidak pernah membedakan satu senior dengan senior yang lain; dan selalu saya ambil hikmahnya saja. Saya selalu menyelaminya tapi berusaha tidak tenggelam kepada seorang senior sekalipun.

Mengetahui saya membuka front pertanyaan Kang Santri Marxis diam. “Ayo, kok diam. Dulu situ kan yang paling senang membanting-banting argumentasi saya.” Dia hanya mesam-mesem dan cengar-cengir. “Dulu kan kamu nggak begini.” Dia tetap mesam-mesem dan tersenyum.

Kang Santri Marxis, kemudian menjawab juga: “Setiap orang punya sejarah, setiap orang punya kesempatan menjadi lebih baik; setiap orang juga punya keinginan. Tapi hanya sedikit yang menyadari bahwa setiap manusia itu, dalam dirinya mengandung kelemahan; dari keseluruhan yang ada dalam dirinya, sepenuhnya adalah kelemahan. Yang disebut kekuatan itu semua, ketika disandarkan pada manusia. Yang kebanyakan kemudian menampak-nampakkan kecanggihan, kepintaran, bahkan tumpukan-tumpukan teori. Nah, itu termasuk aku.”

Saya timpali: “Sudah berubah tapi masih menjelaskan pakai filosofi. Makanya saya bertanya, ini perubahan permuakaan apa di dasarnya. Penjelasan filosofimu itu, masih meragukan bagi sebagian kawan.”

“Perubahan kan tidak perlu butuh pengakuan, sahabat,” kata Kang Santri Marxis.

“Iya, tapi perubahan memerlukan alasan mendasar, Kang. Bisakah bercerita sedikit saja.”

“Sahabat, kita hormati Gus Dur sebagai guru itu sudah jelas, sejelas-jelasnya. Akan tetapi bahwa kita sering berdiskusi dan menekuni ilmu-ilmu ini, ilmu-ilmu sosial ini, levelnya adalah alat untuk menganalisis; kadang sebagai strategi, dan lain-lain; kita kadang marah dikhianati akibat menerapkan ilmu-ilmu itu; dan banyak lagi yang membuat kita nyaris gundah. Saat itu kita mengikuti jalan dan memanfaatkan pintu untuk buku-buku ilmu-ilmu sosial, karena memang ini semangat zaman, menuntut itu; dan diperlukan. Nyaris kita tidak pernah membicarakan dasar-dasarnya. Ya soal dasar-dasar, karena kita melihat Gus Dur sebagai barang jadi. Lalu kita pritili sesuai dengan konsen kita sendiri. Padahal jauh sebelum Gus Dur memperkenalkan ilmu-ilmu sosial, dia telah menjalani tirakatan yang tak kurang-kurang; dia mengaji Hikam; dan lain-lain disiplin hati. Karena itu, Gus Dur sejatinya kita lihat juga, meski ngomong Hasaan hanafi, Marx, atau ngomong HAM, dia tetap bersama kyai-kyai, dengan guru-guru tarekat; dan kyai-kyai kampung. Lha kita, hanya sibuk dengan buku-buku itu, tanpa mengembangkan silaturahmi, tanpa mereguk dasarnya ini. Bahkan, generasi-generasi yang lebih yunior, ada yg berkecenderungan memusuhi semua orang. Gila kita ini. Dulu kita mengatakan ini kecanggihan. Tapi sekarang. Huwa. Ini. Yang kulit kita jadikan dasar; yang dasar kita jadikan kulit; yang strategi kita jadikaan substansi; dan yang subtansi kita pandang sambil lalu.”

Seketika saya terdiam. Saya melihat ini sebagai adanya perubahan yang mendasar. Akan tetapi saya diajak untuk berfikir bahwa orang berubah, hanya dengan memainkan logika, tentu tidak akan bertahan lama manakala ada kogika baru atau sains baru yang mengubahnya; dia akan bisa berubah lagi. Saya menemukan penjelasan dari Kang Santri Marxis, tetapi belum menemukan alasan kenapa dia berubah.

Saya kemudian katakan kepadanya: “Itu bukan alasanmu berubah. Itu penjelasan. Keduanya berbeda. Tapi bagaimana dengan kebingungan, apa jawabannya?”

Akhirnya kami menghisap rokok dalam-dalam. Ya. Saya menyaksikan Kang Santri Marxis pernah mengalami kebingungan karena membaca sejarah kritis-kritis, ketemunya orang-orang PSI, yang begitu tahu sendiri, orangnya hanya sedikit tapi bisa “mengakselerasi” banyak orang; birokrasi negara diisi kembali orang-orang lama, dan orang-orang senantiasi dan selalu harus bersesuaian dengan yang lama; kyai-kyai juga begitu, banyak yang larut dalam politik yang penuh intrik dan kotor, apalagi terjadi perpecahan, PKB, PKD, PKNU, dan lain-lain; mereka yang bergiat di toleransi juga tidak terlepas dari nalar proyek.

PRD isinya juga berantakan, sekarang saling jatuhkan satu sama lain. Ini sempat membuat Kang Santri Marxis kebingungan. Padahal saya melihatnya orangnya sederhana, tidak menyukai nalar-nalar proyek, dan jujur. Dia tidak lagi semangat untuk mengaitkan dengan simbol-simbol kesantrian pada saat kebingungan itu.

Kang santri kemudian menceritakan: “Ya awalnya dari kebingunan itu. Alhamdulillah-Alhamdulillah. Kita masih punya guru di tengah kebingungan itu. Dan kita memilih guru yang tidak salah. Setiap malam saya jarang tidur, hanya termenung memikirkan keadaan negri, keadaan Islam yang semakin rapuh, dan lain-lain; kita juga tidak bisa berbuat apa-apa; lama-lama saya kehilangan orientasi dan semangat. Dan ini membuat saya hampir putus asa. Di tengah-tengah situasi seperti ini, saya hanya ingat wajah Gus Dur, dan selalu muncul dalam pikiran dan angan-angan. Lalu, yang bisa aku lakukan hanya melelehkan air mata, menangis tanpa suara. Pada titik ekstrim, saya sudah tidak melirik ritual-ritual agama. Kosong. Tapi setiap malam saya tidur sangat larut malam, sambil merenung begitu. Lama-lama tidak kuat di fikiran.”

“Suatu ketika, di tengah seperti itu, Gus Dur datang 3 kali dalam satu waktu terus menerus 3 kali, antara saya akan tidur dan setengah sadar. Dia datang pertama, memakai peci hitam dan baju bathik, dan hanya memandangiku. Saya kaget, dan karena saya belum benar-benar tidur, saya bangun. Mata saya ucek-ucek. Lalu Gus Dur hilang. Pikirku, ah pikiran sedang kacau ini. Saya berusaha tidur lagi, mau tidur memejamkan mata, Gus Dur datang lagi, dan kali ini Gus Dur juga hanya diam, dan saya bangun lagi, karena saya belum benar-benar tidur terlelap. Dan ketika saya bangun, mata juga saya ucek-ucek. Ini ngigau lagi saya ini. Saya kembali tidur. Dan, ini yang ketiga, belum benar-benar tidur terlelap, setengah sadar, Gus Dur datang. Kali ini saya terdiam. Gus Dur bilang: “Obatmu sholat wae, sholat. sholat... sambil menjauh dan menjauh kemudian hilang.”

Dari situ, kemudian Kang santri sangat kaget, tetapi kemudian menangis, hanya bisa menangis, hanya menyebut nama Gus Dur, Gus Dur, dan Gus Dur dan kealpaan dirinya tentang sholat dan maksiat-maksiatnya. Beberapa saat, Kang Santri Marxis bangun dari ranjangnya, menghampiri anak-anak dan istrinya, dilihatnya dengan tatapan air mata yang basah itu. Lalu mulai tumbuh semangatnya, dia mengambil wudhu dan sholat di akhir malam dan munajat, suatu amalan santri yang lama ditinggalkannya.

Dari kejadian ini Kang Santri Marxis berubah total, mulai kembali menginstal ulang bangunan pengetahuannya sebagai seorang santri. Dari sholat itu dia dibawa kepada tarekat, kepada wirid, kepada pengajian, kepada maulid, kepada kelembutan, kepada hidup bersama orang-orang kampung yang riil, dan banyak lagi.

Cerita Kang Santri ini membawakan hikmah dua hal: pertama, kalau orang mengawali dengan mudawamah sholat penuh kesungguhan, keikhlasan, dam sentuhan hati, dan munajat, sholat itu akan menghantarkan seseorang untuk menemukan jalan yang lebih dalam, dalam pengertian rohani. Karena ini adalah dasarnya, yaitu sholat 5 waktu; kedua, memilih guru, jangan asal-asalan, karena guru yang ma’riafat akan membimbing murid-muridnya bahkan ketika murid-muridnya itu sedang ghoflah dan pernah maksiat.

Di akhir pertemuan kami, dia bertanya: “Lalu apa ini perubahan mendasar apa permukaan; dan apa itu yang kamu maksud alasan mendasar, bukan lagi penjelasan?” Saya pun tersenyum kecut, “Dasar cetakan santri,” kataku.

Kang Santri Marxis mengakhiri: “Dasar mantan santri lucu, memikirkan keadaan Islam agar menjadi baik, tetapi tidak meniru tirakat dan jalannya para guru, dan terbius oleh level permukaan kejadian yang ada. Emang siapa sampean. Mau mengubah segalanya, Sampean punya apa. Sudah tak punya apa-apa, lupa pula dengan yang Maha Mengubah. Dulu kita juga memahami Gus Dur terlalu kering.” Wallahu a’lam.

Sumber :nu.or.id

0 Response to "Gus Dur dan 'Obatmu Sholat Wae'"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close
loading...