Kepada Mufassir Ini, Mbah Hamid: "Kowe (Iseh) 'Alim Aku"

Kepada Mufassir Ini, Mbah Hamid: "Kowe (Iseh) 'Alim Aku"


Disebutkan dalam kitab Jami'us shoghir sebuah hadits Nabi Muhammad ﷺ, yakni: Wali Abdal ditengah-tengah ku ada 30 laki-laki, berhati Ibrohim dan setiap satu diantara mereka wafat maka Allah SWT memberi gantinya, wafat 3 orang wali abdal maka akan diganti 3 orang wali abdal lagi, untuk melengkapi 30 wali abdal yang berhati Nabi Ibrahim.

Suatu saat ada ulama, yang 'alim, beliau mengarang kitab tafsir berbahasa arab, hanya sampai surat al-Kahfi. Pada suatu ketika beliau bertemu dengan KH. Abdul Hamid Pasuruan, Kiai Hamid melontarkan kata-kata spesifik tentang wali-wali tertentu. Kiai Hamid dawuh kepada beliau: "Kowe (iseh) 'alim aku" (dibanding kamu, masih 'alim saya).

Kalau Nabi Ibrahim ingin mendoakan untuk ayah (atau pamannya dalam satu riwayat), tapi dilarang oleh Allah SWT setelah ayahnya dipastikan musyrik.  Kyai Hamid dawuh: Nabi Ibrahim hanya ingin menepati janjinya "إلا عن موعدة وعدها إياه". Janji yang berupa "Aku akan mintakan ampun bagimu kepada Rabbku." (Q.S. Maryam 47).

Samudra ilmu Kiai Hamid sangat dalam, luas tak bertepi. Nabi Ibrahim disebut 69 x dalam al Qur'an, Ibrahim memiliki arti abun rohim - ayah yang penyayang (kitab tahqiq kalimatil qur'an).

Maka seorang Wali Abdal adalah seorang wali yang memposisikan kasih sayang yang paling utama, Kholifah yang menjadi wali maka dia penuh kasih sayang, Bupati yang menjadi wali maka dia penuh kasih sayang.

Diantara ciri-ciri seorang Wali Abdal yang berhati Ibrahim adalah :

1. ما كان ابراهم يهوديا و لا نصرانيا ولكن كان حنيفا مسلما
Nabi Ibrahim bukan yahudi dan juga bukan nasrani, beliau condong pada sifat-sifat yang mulia, luhur, teguh dan taat pada aturan Allah SWT.

Sayyidina Umar bin Khottob (dalam sunanul kubro lil baihaqi) ketika datang di Palestina, beliau dipersilahkan untuk masuk ke dalam gereja untuk jamuan makan, lalu beliau berkata: "kami tidak bisa masuk meskipun hanya untuk makan, disitu ada gambar-gambar yang tidak sesuai dengan syari'at) ajaran kami. Inilah tanda Wali Abdal. Kita memang tidak boleh mengganggu nasrani/yahudi, tidak diperkenankan menganiaya mereka, merusak tempat ibadah mereka, tapi menyampur adukkan ajaran juga tidak diperbolehkan.

2. و إبراهيم اللذي وفى
Nabi Ibrahim tidak pernah ingkar janji.

Kita semua semestinya menerapkan hal ini, yakni menepati janji. Siapapun orangnya, apakah itu pejabat, ulama atau ustadz juga semestinya menepati janji.

Dalam kitab an Nawadir - al Qolyubi dikisahkan: Ada segerombolan perampok setelah melakukan aksinya, rombongan perampok ini mampir ke salah satu pesantren milik seorang ulama, begitu masuk rumah sang kiai, mereka mengucapkan salam; "assalaamualaikum kiai, kami ini rombongan pejuang/mujahidin fi sabilillah". Mendengar pengakuan perampok sebagai mujahidin fii sabilillah maka mereka diterima dengan baik oleh kiai, diberi jamuan makan layaknya pejuang, disediakan fasilitas, tempat tidur.

Kiai ini mempunyai seorang putra yang lumpuh, maka sang kiai berdo'a, "yaa Allah dengan wasilah para pejuang ini, tolong berikan kesembuhan kepada anak kami". Bahkan sisa air minum segerombolan perampok tersebut diambil semua(tabarrukan), dibawa dan diberikan pada putranya, lalu dioleskan kepada tubuhnya, dan ternyata berbekal kemantaban hati dan berprasangka baik sang kiai bertawassul kepada perampok hingga putranya menjadi sembuh.

Keesokan malamnya segerombolan perampok datang dan bermalam lagi di rumah kiai, begitu melihat putra sang kiai yang sudah berdiri, para perampok kaget, mereka bertanya; "kiai dari mana anda mendapatkan obat untuk putra anda ini?

Sang kiai menjawab; "kami mengumpulkan sisa air anda semua kemaren dan kami ber-tabarruk dengan air itu, akhirnya sembuh lah putra kami. Seketika para perampok menangis, dan sekaligus meminta maaf kepada kiai, "wahai kiai kami ini bukan pejuang, kami murni perampok, cuman karena husnudzon kiai lah Allah mengabulkan doa kiai.

Maka pandang lah seseorang dengan pandangan yang terbaik, insyaallah akan diberi kelebihan oleh Allah SWT. "Jangan sekali-sekali seorang ustadz punya kemantaban seraya menyatakan bahwa muridnya bodoh, para guru/ustadz harus mantab kalau muridnya jadi anak sholih dan 'alim.

3. امة اى اماما قانة اي مطيعا لله
Beliau menghiasi dirinya dengan 'nilai-nilai' ibadah, Kiai Hamid tidak pernah putus dari ibadah, baik yaqodhotan (terjaga) atau manaman (tidur fisik) beliau ibadah terus menerus.

Apakah ada orang ibadah tapi tak bernilai? Ada. Bahkan ada dzikir yang hanya untuk berstrategi.
Al jahit (mu'tazilah) menulis kitab "al hayawan" mengisahkan sebuah anekdot; "ada seorang ustadz yang akan berceramah di sebuah masjid, sang ustadz ini kebanyakan makan buncis, sehingga dia menjadi sering keluar angin (kentut). Setelah imam selesai berjamaah, lalu sang ustadz maju kedepan untuk berpidato menghadap jamaah, sedang imam sholat yang sudah tua berada tepat dibelakangnya. Kondisi masjidnya tertutup tirai. Karena kebanyakan makan buncis, sang ustadz saat ditengah ceramahnya merasa ingin keluar angin (kentut), padahal dibelakanngnya pas terdapat imam jamaah. Karena bingung bagaimana kentutnya supaya tak tedengar,  maka sang ustadz mengajak para jamaah berteriak bersama mengucap 'laa ilaa ha illah', saat itulah dia kentut, dilanjutkannya lagi ceramah, tiba-tiba terasa mau kentut lagi maka dia mengulangi cara yang sama. Sampai pada kesekian kalinya imam jamaah tidak kuat menahan emosi. Saat ustadz mau mengajak dzikir, imam seketoka berdiri dan berkata ; "jangan mau, bisa-bisa mati saya". Ini lah contoh dzikir untuk strategi (ibadah yang tak bernilai).

KH. Abdul hamid itu seseorang yang 'alim syari'ah sekaligus wali, tak sekedar wali. Seorang wali abdal karomahnya beda-beda, ada ulama/wali ikhlas tapi teruji seperti kisah Imam Bukhori RA, Imam Bukhori pernah menaiki sebuah kapal, lalu ada seorang lelaki yang iseng ingin kenalan dengan beliau, Imam Bukhori merasa senang hatinya saat bertemu dengan seseorang yang ingin berkenalan, taaruf dengan ulama. 

Saking senangnya Imam Bukhori, beliau menjamu lelaki tersebut. Akhirnya beliau bercerita; "pak.. kami alhamdulillah memiliki bekal 1000 dinar (kepingan emas) barangkali bapak mau membeli sesuatu bisa pakai uang ini, kami lebih dari cukup kalau sekedar untuk makan dan kebutuhan lainnya.

Setelah jeda waktu lelaki itu teriak menangis, lalu dihampiri oleh pihak keamanan dan ditanya; "ada apa pak? Ia menjawab ; "uang kami hilang isinya 1000 dinar, berarti ada orang dikapal ini yang mengambil uang kami. Maka petugas menggeledah semua penumpang kapal, umtuk mencari uang 1000 dinar, termasuk Imam Bukhori.

Imam bukhori lalu berkata; "masyaallah ini ujian, kalau kami ditangkap bawa uang 1000 dinar maka nama kami yang tidak baik, kami ulama, diamanahi oleh Allah SWT berupa ilmu, sebagai pemimpin ulama, kalau kami diketahui membawa 1000 dinar maka kami dituduh sebagai pencuri. 

Akhirnya uang 1000 dinar tersebut dibuang ke laut, begitu Imam Bukhori digeledah maka tidak ditemukan uang 1000 dinar itu. Selesai penggeledahan, lelaki itu datang kembali kepada Imam Bukhori dan bertamya ; "kamu sudah digeledah?" Sudah, uangnya saya buang" jawab Imam Bukhori.

Maka seseorang bercerita kalau mempunyai uang itu bahaya, walaupun niatnya baik, itu beresiko. Lha orang sekarang kredit saja diceritakan.

Wali abdal itu "وقورا" / tenang, "صدوقا" / jujur, "مهيبا" / wibawa, "صموتا" / pendiam. Maka dalam teori Wali Abdal ada beberapa catatan Imam Muhyiddin Ibn arobi; "Wali Abdal itu berganti-ganti hatinya, kadang berjiwa Nabi Ibrahim yakni pengasih/penyayang, kadang berjiwa Nabi Musa (keras), kadang berjiwa Nabi Adam.

Karena para Nabi sifat walayahnya itu, diberikan kepada auliya, maka ketika seorang Wali jika diberikan karomah bisa menghidupukan orang mati maka dia diberikan karomah lewat jalur Nabi Isa as, jika seorang Wali diberikan karomah bisa menguasai teknologi maka dia diberikan karomah lewat jalur Nabi Daud as, seorang Wali jika diberikan karomah bisa mengetahui semua nama-nama, maka dia diberikan karomah lewat jalur Nabi Adam, seorang Wali jika diberikan karomah bisa berbicara dengan hewan maka dia diberikan karomah lewat jalur Nabi Sulaiman as.

Kita walau belum belum sampai sana (Wali Abdal), paling tidak kita cinta kepada mereka. Ada yang tanya, wali dan wartawan itu pinter mana? Wartawan dapat berita itu sangat cepat.

Disebutkan dalam kitab Ihya'  bahwa Imam ghozali pernah ditanya : "kenapa negara islam yang dijajah oleh orang kafir, walinya kok tidak pernah menampilkan diri ?

Imam Ghozali menjawab: "Peraturan Wali itu berbeda, Wali ada yang disebut dengan "dairotul walayah" (zona walayah), misalkan ada seorang Wali dari Pasuruan ingin mengeluarkan karomahnya di wilayah lain, maka dia harus izin terlebih dahulu ke wali daerah tersebut, ada juga yang disebut "khirqotul walayah" (baju kewaliyan), ada yang disebut dengan "qobdul walayah" (dijabut), pagi jadi wali malam nya tidak.

Wali dapat haqiqoh itu diatur oleh Allah SWT. Adabul haqiqoh. Jangankan untuk perang, ada seorang wali yang mempunyai doa untuk perpanjangan waktu dunia, ada seorang wali jika berdo'a minta kiamat ditunda bakal ditunda. ( يمحو الله ما يشاء ويثبت)

Ada seseorang wali yang dimintai doa oleh seseorang tetapi tidak dikabulkan oleh Allah SWT, karena yang meminta didoakan belum memenuhi syarat untuk diijabah. Misalkan, tidak pernah sholat minta didoakan agar bisa cepat berangkat haji. Maka wali akan mendoakan untuk yang lain.

Wali abdal kita harus tiru yang kita bisa, baik itu memenuhi janji, akhlaqnya, atau ibadahnya. Imam Ghozali mempunyai kitab yang diberi judul "Sulwatil 'Arifin": dikisahkan didalamnya; "ada seorang majusi kalau anaknya makan di siang hari pas di bulan romadhon, maka seketika dipukul anaknya. Sekarang ada orang mengatakan jangan memaksa orang untuk berpuasa, ini kan tidak cocok.

Ulama yang berjumpa KH. Abdul Hamid tadi mempunyai sholawat, tapi sholawat ini tidak bisa diartikan, bahkan ulama itu saya tanya langsung apakah tahu artinya? Beliau menjawab tidak tahu. Waktu di Tebuireng, beliau mimpi bertemu seseorang dan memberikan sholawat yang berbunyi "Allahumma solli alal khodiri almuhmali ba'du"

Ketika beliau bicara tentang Kiai Hamid; "Kiai Hamid itu kewaliannya semenjak anak-anak, umpama nabi itu punya irhas (tanda-tanda jadi nabi). Yai hamid itu mujabub da'wah.

Kiai Manshur Lasem (Abah Gus Qoyyum) pernah sakit yang sudah lama dan tak kunjung sembuh, sampai akhirnya Kiai Hamid memerintah Kiai Manshur dengan ayat al Qur'an :

إن الله يأمركم ان تذبحوا بقرة
Lalu beliau menyemebelih seekor sapi dan (bi idznillah) beliau sembuh.

Ada seorang ulama yang doanya diijabah oleh Allah SWT tapi dibatasi. Imam Ibnu Jauzi mengisahkan; "Ada seorang wali yang dijatah oleh Allah dikabul doanya hanya 3x saja. Ulama ini memiliki istir yang jelek, sang istri tahu jika suaminya dijatah oleh Allah SWT ijabah 3x doa, lalu sang istri berkata : 'bah tolong doakan saya biar menjadi cantik, maka kyai ini memenuhi permintaan sang istri, selesai didoakan istrinya langsung berubah menjadi cantik. Doa yang tersisa tunggal 2. 

Setelah istri menjadi cantik, malah dia cinta kepada orang lain, maka sang ulama menjadi, akhirnya beliau berdo'a kembali, 'yaa Allah kami kecewa, kesal, jatah doa kami yang kedua tolong jadikan wajah istri kami seperti anjing, spontan langsung istrinya berubah menjadi anjing. Tersisa 1 doa. Istrinya menangis, anak-anaknya juga menangis, sang istri meminta maaf, dan memohon agar wajahnya kembali seperti semula, walaupun jelek, akhirnya suami berdoa untuk yang terakhir kalinya; "Yaa aallah kembalikan istri kami seperti semula. Tidak cantik tapi tidak cinta kepada orang lain. (Zaadul masiir fi ilmit tafsir)

Kiai Abdul Hamid, itu mujabud dakwahnya sewaktu-waktu, tak terbatas, banyak bahasa isyarah sulit dicerna tapi tidak mengada-ada. Beliau maksyuf (dibukakan mata batinnya oleh Allah SWT), bahrul haqiqoh (lautan hakikat) bahrus syari'ah (lautan syari'ah), masyhud (disaksikan orang banyak) diakui ulama'.

Ibnu Qoyyim mengisahkan dalam kitab "Ighotsatul Lahwan": Ada sebuah gereja, didalamnya ada patung perempuan, yang dari payudaranya keluar air susu, sehingga banyak orang yang datang berziaroh, akhirnya para peziarah memberi uang kepada juru kunci, jadilah juru kunci kaya raya, beberapa waktu kemudian diketahui ternyata air susu yang keluar itu berasal dari pipa yang dihubungkan ke dapur belakang, akhirnya dia tertangkap dan dihukum mati. Ini contoh bukan wali tapi gaya wali. Ada wali melayani pasang susuk, ini kan nggak pantes.

Wali itu ketaatannya ditunjukkan namun tanpa dibarengi penyakit hati. Syekh Abdul Qodir al Jailani, awal-awal diberikan karomah berupa tashorrufan (wali diberi karomah dengan perubahan alam, misal pasir jadi gula pasir, kalau butuh makan, tangannya digenggamkan, dan hati merenung membayangkan apel, keluar lah apel). 

Syekh Abdul Qodir al Jailani 25 tahun karomah kewaliannya adalah tashorrufan, namun beliau tidak suka. Akhirnya beliau i'tidzar/mohon kepada Allah; "yaa Allah saya kok begini, pasir jadi gula pasir, kenpa kami punya karomah seperti ini,  kami khawatir tidak beradab kepada engkau yaa Allah, semestinya ini pasir kok menjadi gula pasir. Kami ingin biasa saja, pada akhirnya tashorrufan nya diambil sama Allah, atas permintaan beliau.

Kiai Hamid didepan ulama beliau tunjukkan ahli ilmu nya, didepan orang awam beliau tunjukkan akhlaknya, bersuci dari hadats, sopan, didepan ahli kitab beliau tunjukkan keahliannya dalam kitab, dan seterusnya.

Adab berinteraksi dengan penguasa. Seorang ulama harus membatasi diri dengan penguasa. Menjaga kewibawaan ilmunya. Syekh Abdul Qodir al Jailani pernah tidur di dalam istana, akhirnya selama tidur itu beliau mimpi keluar sperma berkali-kali, dan mandi berkali-kali.

Imam Sya'roni, mengisahkan dalam kitabnya Mizanul Kubro, ada seorang ulama yang bernama Muhammad bin Zain, beliau seorang yang ahli bertemu Nabi Muhammad ﷺ, bukan hanya bermimpi, jika beliau berziarah kepada Nabi Muhammad ﷺ, beliau mengucap salam kepada Nabi dan langsung dijawab oleh Nabi ﷺ, semua orang yang disana bisa mendengar dengan jelas. 

Suatu ketika ada orang yang meminta tolong kepadanya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya yang berkaitan dengan penguasa, masuk lah beliau di kantor pemerintahan, otomatis beliau dijamu dan menikmati beberapa fasilitas pemerintahan, setelah selesai permasalahnya, lalu beliau pulang ke rumah, dan semenjak itu lah beliau tidak bisa lagi berjumpa dengan Nabi ﷺ,  sulit mimpi bertemu Nabi, sampai akhirmya diingatkan langsung oleh Nabi ﷺ ; "kamu sudah tidak bisa lagi bertemu aku, karena kamu menikmati primadani di istana".

Imam Jalaluddin Assuyuti mempunyai sebuah surat untuk pemerintah yang isinya balasan surat ketika beliau dimintai tolong oleh pihak pemerintah agar datang ke istana untuk menyelesaikan sebuah masalah. Beliau membalas surat itu dengan penjelasan; "Maaf kami ini ulama, ahli hadits, takhrij hadits kami langsung dengan Nabi Muhammad ﷺ, kalau kami masuk istana maka kami tidak bisa lagi mentakhrij hadits secara langsung kepada Nabi Muhmmad ﷺ .

Sayyid Qutub pernah sakit, namun beliau tidak memiliki uang sama sekali untuk berobat. Tiba-tiba datang seorang tamu dengan membawa uang 1 koper yang diantar oleh diplomat, semua uang tersebut dihadiahkan kepada beliau. Tetapi beliau menolak, karena menjaga kewibawaan ulama.

,صحف ابراهيم و موسى
Lembaran-lembaran ajaran Nabi Ibrohim dan Nabi Musa, diantaranya; Imam al alusi dalam kitabnya Ruuhul ma'ani menyebutkan diantara isi suhufi Ibrohim;

- على العاقل ان يكون بصيرا لزمانه مقبلا على شأنه حافظا للسانع
Orang yang cerdas dia bisa membaca dan melihat zamannya, mana yang berbahaya dan mana yang tidak, selalu menengok apa kewajibannya, displin atas urusannya, dan menjaga lisannya. [dutaislam.com/gg]

Sumber :dutaislam.com
Gus Mus Kecil dan Makrifatnya Mbah Marzuki Lirboyo

Gus Mus Kecil dan Makrifatnya Mbah Marzuki Lirboyo


Ada satu pengalaman menakjubkan saat KH Musthofa Bisri (Gus Mus) Rembang masih nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo. Pada saat itu pengasuhnya adalah KH. Marzuqi Dahlan. Inilah penuturan beliau:

"Waktu itu saya dan kawan-kawan sedang berkumpul merencanakan akan ‘ngambil’ tebu. Sebab saya dengar sebentar lagi tebu akan ditebang. Untuk itu bersama kawan-kawan, saya berencana mencuri beberapa lonjor tebu. Kami waktu itu telah bersiap-siap untuk menjalankan aksi.

Kebetulan, lokasi kamar Mars yang saya tempati itu dekat dengan ndalemnya (kediaman) Mbah Yai Marzuqi. Saya berjalan paling depan. Dan ketika saya lewat depan ndalem, tiba-tiba saya dipanggil oleh Mbah Yai Marzuqi: “Gus, Gus, mriki”, kata beliau yang dengan siapa saja selalu memakai bahasa Jawa kromo, meskipun kepada santrinya yang masih anak kecil.

Saya pada waktu itu baru saja lulus SR (Sekolah Rakyat, setara SD). Ternyata beliau benar-benar memanggil saya: “Mriki-mriki, Gus!” (Kesini Gus).

Panggilan beliau tentu membuat saya kaget, sebab bebarengan sekali dengan kegiatan saya yang akan ‘nyolong’ tebu bersama kawan-kawan. Saya lantas mendekat, lalu ditanya begini: “Gus, sampean doyan tebu?”

Kontan saja saya kaget bukan main. Saya keringetan pada waktu itu. Pertanyaan ini membuat saya terdiam dan takut. Saking takutnya, saya tidak bisa bergerak sama sekali. Sebab, sebelumnya saya tidak menyangka tiba-tiba beliau kok bertanya seperti itu. “Nanyanya kok pas sekali”, gumam saya dalam hati.

Beliau lalu menyuruh saya menunggu. Sebentar kemudian beliau keluar dari ndalemnya dengan memanggul seonggok lonjor tebu. Beliau bilang: “Niki sampean kula pilihaken sing apik-apik Gus.” (Ini untuk Anda saya pilihkan yang bagus-bagus Gus).

Setelah tebu itu diberikan kepada saya, beliau berkata: “Niki dipun bagi kalih rencang-rencang lintune nggih?” (Ini dibagi pada teman-teman yang lain ya?).

Setelah menyaksikan peristiwa itu, akhirnya saya dan kawan-kawan tidak jadi mencuri tebu. Saya jadi bertanya-tanya, kira-kira siapa ya orang yang telah membocorkan rencana itu? Padahal saat itu beliau kan tidak tahu rencana saya dan kawan-kawan.” Wallahu a’lam bish shawab. [dutaislam.com/gg]

Sumber :dutaislam.com
[Kerja dan Doa] Hujan Turun Begitu KH Nawawi Banten Doa Jawa di Depan Ka'bah

[Kerja dan Doa] Hujan Turun Begitu KH Nawawi Banten Doa Jawa di Depan Ka'bah


Kita semua sepakat menginginkfan keberuntungan dunia dan akhirat. Secara lahir kita bekerja, usaha. Bekerja harus, maka Allah berfirman: harrik yadaka ungzil ‘alaikar rizqa (gerakkan tanganmu, kamu Ku beri rizki).

Anda tidak boleh mengharap rizki dari Allah jika tidak bernah “menggerakkan tangan” untuk bekerja. Jangan hanya menerima pemberian orang lain (krido lumahing asto) –mohon maaf-  itu  namanya tidak muruah (pendremisan).

Semua para nabi bekerja. Nabi Adam dan istrinya Hawa, bertani. Nabi Nuh seorang tukang: kayu bisa, bangunan bisa, pandai besi bisa. Kalau sekarang, Nabi Nuh seperti alumni SMK. Nabi Sulaiman pandai merangkai janur, ahli dekorasi. Bahkan Nabi Sulaiman penyayang binatang-binatang. Nabi Sulaiman juga mampu menguasai arah mata angin. Maka Allah berfirman dalam Al-Quran: “Wa li Sulaimana rieh”. Nabi Sulaiman menguasai [mengerti] cuaca: besok hujan, besok reda, besok banjir, besok surut, besok pasang, besong angin ke utara, besok ke selatan. Barangkali kalau sekarang beliau adalah pakar metreologi dan geofisika.

Sedangkan secara batin adalah ibadah dan berdoa. Apabila bisa, sekian banyak doa semua dihafalkan. Bila tidak bisa, semampunya. Jika terpaksa tidak bisa bahasa Arab, memakai bahasa Jawa tidak apa-apa.

Romo KH. Idris Marzuki, Lirboyo, pernah dawuh kepada saya:

“Koe ki nek nompo dungo-dungo Jowo seko kiai sing mantep. Kae kiai-kiai ora ngarang dewe. Kiai-kiai kae nompo dungo-dungo Jowo seko wali-wali jaman mbiyen. Wali ora ngarang dewe kok. Wali nompo ijazah dungo Jowo seko Nabi Khidlir. Nabi Khidlir yen ketemu wali Jowo ngijazaji dungo nganggo boso Jowo. Ketemu wali Meduro nganggo boso Meduro.”

“[Kamu jika mendapat doa-doa Jawa dari kiai yang mantap, jangan ragu. Kiai-kiai itu tidak mengarang sendiri. Mereka mendapat doa Jawa dari wali-wali jaman dahulu. Wali itu mendapat ijazah doa dari Nabi Khidlir. Nabi Khidlir jika bertemu wali Jawa memberi ijazah doa memakai bahasa Jawa. Jika bertemu wali Madura menggunakan bahasa Madura]”

Maka, saya sering berdoa dengan doa Jawa. Saya mendapat doa Jawa dari Romo KH. Achmad Abdul Haq dan KH. Dalhar Watucongol Magelang. Doa Jawa yang membuat tekun bekerja dan kelapangan rizki.

“Allāāhumma ubat-ubet, biso nyandang biso ngliwet. Allāāhumma ubat-ubet, mugo-mugo pinaringan slamet. Allāāhumma kitra-kitri, sugih bebek sugih meri. Allāāhumma kitra-kitri, sugih sapi sugih pari.”

Almarhum KH. Nawawi Banten pernah diminta untuk berdoa di Makkah dan tetap menggunakan bahasa Jawa. Padahal beliau ahli bahasa Arab. Hasil karyanya diatas 40 kitab, semuanya berbahasa Arab. Kejadiannya, suatu ketika di Tanah Arab lama sekali tidak turun hujan. Ulama-ulama Makkah dan Madinah didatangkan untuk berdoa minta hujan di depan ka’bah. Selesai berdoa, malah semakin panas, sampai beberapa bulan. Sang raja teringat, ada seorang ulama yang belum diajak berdoa. Setelah dicari, ketemu. Orangnya pendek, kecil dan hitam. Mungkin kalau melamar perawan jama sekarang langsung ditolak. Kenapa? Karena bukan tipe idola, walaupun mungkin bisa masuk facebook.

Kemudian, ulama asal dusun Tanara, Tirtayasa, Banten tersebut dipanggil oleh sang raja agar supaya berdoa kepada Allah di depan ka’bah: meminta hujan.

Anehnya, meski KH. Nawawi Banten mampu berbahasa Arab dengan fasih, di depan ka’bah, berdoa meminta hujan dengan memakai bahasa Jawa. Para ulama Makkah dan Madinah berdiri di belakangnya menyadongkan tangan sambil berkata “amin”.

Mbah Nawawi berdoa: “Ya Allah, sampun dangun mboten jawah, nyuwun jawah.”

Seketika hujan datang. Yang berdoa berbahasa Arab dengan fasihnya tidak mujarab, sedangkan dengan bahasa Jawa malah justeru ampuh. Maka, jika anda mendengan orang berdoa dengan fasih menggunakan bahasa Arab, jangan minder karena belum tentu mujarab. Jadi, berdoa memakai bahasa Jawa, boleh-boleh saja, asalkan diluar shalat. Kalau berdoa di dalam shalat, wajib berbahasa Arab.
Itu tadi doa yang menyangkut dengan pekerjaan. Saya punya doa yang terkait dengan keamanan. Berbahasa Jawa:

“Bismillāhirrahmānirrahīm. Kun Fayakun, rinekso dhening Allah, jinogo dhening moloekat papat, pinayungan dhening poro nabi, Lailāhaillallāh Muhammadur Rasūlullah.”

Jadi, secara lahir bekerja, secara batin berdoa. Bahkan, untuk strata yang lebih rendah – mohon maaf – jika Arab tidak bisa, Jawa tidak bisa, boleh tidak berdoa, asalkan mau berdzikir yang banyak. Karena dzikir itu sama dengan berdoa.

Allah berfirman: man saghalahu dzikri ‘an mas alati, a’thaituhu qabla an yas alani. [Barangsiapa terlena berzdikir kepadaKu sampai tidak sempat meminta apa-apa, niscaya Kuberi dia apa-apa, sebelum dia meminta apa-apa.[dutaislam.com/pin]

Sumber : dutaislam.com
Kisah Umar yang Membuat Para Orang Tua Menangis

Kisah Umar yang Membuat Para Orang Tua Menangis


Minggu lalu saya kembali Jum’atan di Graha CIMB Niaga Jalan Sudirman setelah lama sekali nggak sholat Jum’at di situ. Sehabis meeting dengan salah satu calon investor di lantai 27, saya buru-buru turun ke masjid karena takut terlambat.

Dan bener aja sampai di masjid adzan sudah berkumandang. Karena terlambat saya jadi tidak tau siapa nama Khotibnya saat itu. Sambil mendengarkan khotbah saya melihat Sang Khotib dari layar lebar yg di pasang di luar ruangan utama masjid.

Khotibnya masih muda, tampan, berjenggot namun penampilannya bersih. Dari wajahnya saya melihat aura kecerdasan, tutur katanya lembut namun tegas. Dari penampilannya yang menarik tersebut, saya jadi penasaran, apa kira-kira isi khotbahnya.

Ternyata betul dugaan saya!
Isi ceramah dan cara menyampaikannya membuat jamaah larut dalam keharuan. Banyak yang mengucurkan air mata (termasuk saya), bahkan ada yang sampai tersedu sedan.

Weleh-weleh, sampai segitunya ya. Lalu apa sih isi ceramahnya? Dengan gaya yang menarik Sang Khotib menceritakan “true story”.

Seorang anak berumur 10 th namanya Umar. Dia anak pengusaha sukses yang kaya raya. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta. Tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal. Tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah, wong uangnya berlimpah.

Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang, agar anaknya kelak menjadi orang yang sukses mengikuti jejaknya.

Suatu hari isterinya kasih tau kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar.

“Waduuuh saya sibuk ma, kamu aja deh yang datang.” begitu ucap si ayah kepada isterinya.

Bagi dia acara beginian sangat nggak penting, dibanding urusan bisnis besarnya. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam, sebab sudah kesekian kalinya si ayah nggak pernah mau datang ke acara anaknya. Dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya, sedang anak-anak yang lain selalu didampingi ayahnya.

Nah karena diancam isterinya, akhirnya si ayah mau hadir meski agak ogah-ogahan. Father’s day adalah acara yg dikemas khusus dimana anak-anak saling unjuk kemampuan di depan ayah-ayahnya.

Karena ayah si Umar ogah-ogahan, maka dia memilih duduk di paling belakang, sementara para ayah yang lain (terutama yang muda-muda) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak-anaknya yang akan tampil di panggung.

Satu persatu anak-anak menampilkan bakat dan kebolehannya masing-masing. Ada yang menyanyi, menari, membaca puisi, pantomim. Ada pula yang pamerkan lukisannya, dll. Semua mendapat applause yang gegap gempita dari ayah-ayah mereka.

Tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya..
“Miss, bolehkah saya panggil pak Arief.” tanya si Umar kepada gurunya. Pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu.

”Oh boleh..” begitu jawab gurunya.
Dan pak Ariefpun dipanggil ke panggung.“Pak Arief, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)” begitu Umar minta kepada guru ngajinya.

”Tentu saja boleh nak..” jawab pak Arief.
“Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yang salah.”

Lalu si Umar mulai melantunkan QS An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (hapalan) dengan lantunan irama yang persis seperti bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram).

Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yang mendayu-dayu, termasuk ayah si Umar yang duduk dibelakang.

”Stop, kamu telah selesai membaca ayat 1 s/d 5 dengan sempurna. Sekarang coba kamu baca ayat 9..” begitu kata pak Arief yg tiba-tiba memotong bacaan Umar.

Lalu Umarpun membaca ayat 9.
”Stop, coba sekarang baca ayat 21..lalu ayat 33..” setelah usai Umar membacanya…lalu kata pak Arief, "Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)”.

Si Umarpun membaca ayat ke 40 tersebut sampai selesai."
“Subhanallah…kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak,” begitu teriak pak Arief sambil mengucurkan air matanya.

Para hadirin yang muslimpun tak kuasa menahan airmatanya. Lalu pak Arief bertanya kepada Umar, ”Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman-temanmu unjuk kebolehan yang lain?” begitu tanya pak Arief penasaran.

Begini pak guru, waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak, Bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah SAW, ”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab, "Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim).

“Pak guru, saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akherat kelak, sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya..”

Semua orang terkesiap dan tidak bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 th tersebut…

Ditengah suasana hening tersebut..tiba-tiba terdengan teriakan “Allahu Akbar!” dari seseorang yang lari dari belakang menuju ke panggung.

Ternyata dia ayah si Umar, yang dengan ter-gopoh-gopoh langsung menubruk sang anak, bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya.

”Ampuun nak.. maafkan ayah yang selama ini tidak pernah memperhatikanmu, tidak pernah mendidikmu dengan ilmu agama, apalagi mengajarimu mengaji.” ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya.

”Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia nak, ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akherat kelak. Ayah maluuu nak" ujar sang ayah sambil nangis ter-sedu-sedu.

Subhanallah... Sampai di sini, saya melihat di layar Sang Khotib mengusap air matanya yang mulai jatuh. Semua jama’ahpun terpana, dan juga mulai meneteskan airmatanya, termasuk saya.

Diantara jama’ahpun bahkan ada yang tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya, luar biasa haru. Entah apa yang ada dibenak jama’ah yang menangis itu. Mungkin ada yang merasa berdosa karena menelantarkan anaknya, mungkin merasa bersalah karena lalai mengajarkan agama kepada anaknya, mungkin menyesal karena tidak mengajari anaknya mengaji, atau merasa berdosa karena malas membaca Al-Qur’an yang hanya tergeletak di rak bukunya.

Dan semua, dengan alasan sibuk urusan dunia. Saya sendiri menangis karena merasa lalai dengan urusan akherat, dan lebih sibuk dengan urusan dunia, padahal saya tau kalau kehidupan akherat jauh lebih baik dan kekal dari pada kehidupan dunia yang remeh temeh, senda gurau dan sangat singkat ini, seperti firman Allah SWT dalam Q.S. Al-An'Am ayat 32:

”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?

Astagfirullah... Innallaaha ghofururrohim, hamba mohon ampunan kepada Allah yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Wallahu ‘alam bishshawab. [dutaislam.com/gg]

Sumber :dutaislam.com
Kiai Hamid Pasuruan Menangis Karena Malu Kelebihannya Diketahui

Kiai Hamid Pasuruan Menangis Karena Malu Kelebihannya Diketahui


Suatu ketika, Mbah Hamid memondokkan putranya (Gus Nu'man) di Pesantren Darul Hadis Malang yang diasuh oleh ulama besar pakar Hadis Prof. Dr. Habib Abdulloh Bilfaqih.

Namanya juga anak muda, pasti ada nakalnya. Begitu juga dengan Nu'man, Nampaknya kenakalannya terdengar sampai ke telinga Habib. Lalu Nu'man dipanggil oleh sang pengasuh. Dia diberi pengarahan dan nasehat-nasehat agar tidak nakal lagi. Ia dinasehati, tapi tidak sampai di ta'zir.

Satu dua kali, dia dipanggil, namun tetap saja belum ada perubahan. Akhirnya untuk yang ketiga kali panggilan, dia dihukum langsung oleh pengasuh. Nu'man dipukul berkali-kali dengan penjalin (bambu kuning yang masih muda).

Hingga pada suatu malam al Habib Abdullah ditegur abahnya, Al Qutb al Habib Abdul Qodir Bilfaqih, lewat sebuah mimpi. Abahnya berkata, "nak koen ndak wero tah, ana'e sopo seng koen tandangi iku? Iku putrone Kiai Hamid, kyai seng dadi wali abdal, opo koen gak wedi kualat/ Nak, kamu tidak tahu, anak siapa yang kamu pukuli itu? Itu adalah anak Kiai Hamid, kiai yang menjadi wali abdal, apa kamu tidak takut kualat?".

Beberapa hari kemudian, Habib Abdullah juga mimpi bertemu Kiai Hamid sedang menuju pintu surga, dan sang Habib tersebut berusaha menggapai kiai Hamid, tapi tidak bisa. Mimpi yang sama terulang beberapa hari.

Setelah mendapat teguran dari sang ayahanda, dan bermimpi bertemu Kiai Hamid, beliau merasa sangat bersalah kepada Kiai Hamid. Lalu beliau mendatangi kediaman Kiai Hamid untuk meminta maaf atas perilakunya terhadap sang anak, Gus Nukman.

Kebetulan waktu itu bertepatan hari Ahad, dimana pengajian umum rutinan di ndalem Kiai Hamid sedang diadakan. Begitu Kiai Hamid melihat kedatangan Al Habib, beliau menyongsong dan mempersilakan Habib Abdullah untuk memimpin pengajian rutin tersebut.

Tak dinyana, dalam pengajiannya, Sang Habib justru menceritakan apa yang beliau perbuat kepada Gus Nu'man dan mimpi-mimpinya itu kepada para jamaah pengajian yang jumlahnya puluhan ribu.

Mendengar apa yang dituturkan oleh Sang Habib, tanpa terasa air mata Mbah Hamid mengalir deras, Menurut sumber, Kiai Hamid tidak pernah menangis sampai parah seperti itu sebelumnya. Beliau malu kalau kelebihannya diceritakan di muka umum. Ya Allah kariim. [dutaislam.com/ ab]

Sumber : dutaislam.com
Mbah Abdul Karim Lirboyo Pasrah Bongkokan Pada Ajaran Mbah Kholil Bangkalan

Mbah Abdul Karim Lirboyo Pasrah Bongkokan Pada Ajaran Mbah Kholil Bangkalan


Suatu hari Mbah Abdul Karim muda bekerja memanen padi di sawah milik warga kampung sekitar Pesantren. Dari sana beliau mendapatkan upah berupa beberapa ikat padi yang bakal digunakannya untuk biaya hidup di Pesantren.

Namun, sesampai di kediaman sang guru (Mbah Kholil), justru Mbah Kholil meminta padi muridnya itu untuk diberikan kepada ayam-ayam Mbah Kholil. Karena ini dawuh sang guru, Mbah Abdul Karim langsung menyerahkan padinya. Ia didawuhi Mbah Kholil untuk selama mondok cukup memakan daun pace (mengkudu). Mbah Abdul Karim pun melaksanakan dawuh Mbah Kholil dengan makan hanya menggunakan daun pace.

Demikian di antara kisah mondoknya Mbah Abdul Karim, sehingga akhirnya beliau diijinkan sang guru untuk boyong, karena semua ilmu Mbah Kholil telah diwariskan kepadanya. Sesampai di kampung halaman, Mbah Abdul Karim mulai merintis Majlis Ta’lim, hingga akhirnya berdirilah Pondok Pesantren Lirboyo. Mbah Abdul Karim mengajarkan ilmu yang ia timba dari kedalaman samudera ilmu Mbah Kholil.

Satu hal yang unik, setiap membacakan (mengajar) kitab di depan para santri, ketika beliau bertemu dengan ruju’ (tempat kembalinya maksud dari sebuah kata), beliau tidak pernah menyebutkan ruju’nya secara gamblang. Beliau menyebutkan dengan ‘iku mau’, atau ‘mengkono mau’ (yang tadi atau “sebagaimana tadi”).

Tentu ini membingungkan bagi para santri baru. Hingga pernah suatu ketika pada saat pengajian bulan Ramadhan, atau dikenal dengan istilah ‘posonan’, seorang santri dari luar daerah mengikuti pengajian Mbah Abdul Karim. Karena setiap mengajar kitab, Mbah Abdul Karim jarang menjelaskan ruju’annya, santri baru ini ‘nggerundel’; “Ini bagaimana, katanya seorang kiai ‘alim, kok setiap ada ruju’an tidak pernah dijelaskan?”, gumamnya dalam hati.

Dengan izin Allah, Mbah Abdul Karim ‘perso’ (mengetahui) perihal keluhan sang santri ini. Di tengah suasana mengaji, Mbah Abdul Karim dhawuh; “Laa ya’rifu al dhomir illa al dhomir, fa man lam ya’rif al dhomir fa laisa lahu al dhomir” (tidak akan pernah mengetahui makna dhomir kecuali hati (dhomir), maka apabila seseorang tidak mengetahui dhomir, itu artinya dia tidak punya hati).

Lalu beliau menjelaskan kepada para santri, bahwa demikianlah (dengan tidak menjelaskan ruju’nya dhomir) pengajian yang diajarkan oleh gurunya, Mbah Kholil. Sehingga ketika mengajar kepada santrinya, Mbah Abdul Karim tidak berani mengubah apa yang diajarkan sang guru kepadanya. [dutaislam.com/gg]

Sumber : dutaislam.com
Pemerintah Arab Saudi Gandeng NU Kembangkan Islam Moderat

Pemerintah Arab Saudi Gandeng NU Kembangkan Islam Moderat


Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj bersama Duta Besar (Dubes) Kerajaan Arab Saudi, Usamah bin Muhammad mengadakan pertemuan, Selasa (14/11) di rumah Dinas Kedubes Arab Saudi Jakarta.

Komitmen Kerajaan Arab Saudi untuk mengembangkan Islam moderat ditindaklanjuti oleh Usamah dengan menggandeng Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam pertemuan tersebut, Kiai Said menyampaikan komitmen Kerajaan Arab Saudi dalam mengembangkan Islam moderat dapat dimulai dengan menghormati dan memberikan jaminan Kebebasan bermadzhab kepada seluruh umat Islam dunia yang melaksanakan haji dan umrah di tanah haram.

Kepada Kiai Said, Usamah bin Muhammad menyampaikan komitmen Kerajaan Arab Saud dalam mengembangkan Islam moderat.

"Yang lalu biarlah berlalu. Mari kita bekerja sama mengembangkan Islam moderat," kata Usamah.
Sementara itu, Kiai Said mengatakan kepada Dubes Arab Saudi bahwa dirinya tidak mempersoalkan Pemerintah Arab Saudi.

“Yang saya tentang selama ini Wahabi alumni Arab Saudi yang mensyirik-syirikkan, mengkafir kafirkan, membid'ah-bid'ahkan muslim Indonesia," tegas Kiai Said.

Salah seorang Ketua PBNU H Muhammad Sulton Fatoni mengatakan, Kira-kira tujuh tahun lalu Kiai Said Aqil Siroj memulai bersikap tegas dan kukuh menentang dan melawan keras Wahabi di Indonesia. Selama itu pula PBNU menutup komunikasi dengan Kedubes Saudi Arabia. Hal itu bermula dari peristiwa tokoh utama Wahabi berkata dan bersikap sombong dan congkak terhadap beberapa kiai saat acara resmi. Kiai Said Aqil tentu sangat geram dan marah namun masih bisa menahan diri.

Kini ada indikator situasi di Saudi Arabia membaik. PBNU pun kembali membuka komunikasi dengan Kedubes Saudi Arabia yg saat ini bertekad mengembangkan Islam moderat. Kepada Kiai Said Aqil, Dubes Saudi Arabia, Usamah bin Muhammad menyampaikan komitmen Kerajaan Saudi Arabia dlm mengembangkan Islam moderat. "Yang lalu biarlah berlalu. Mari kita bekerjasama mengembangkan Islam moderat." Kata Usamah.

KH Said Aqil Siroj mengatakan kepada Dubes Arab Saudi, "Saya tidak mempersoalkan Pemerintah Saudi Arabia, yang saya tentang selama ini Wahabi alumni Saudi Arabia yang mensyirik syirikkan, mengkafir kafirkan, membid'ah bid'ahkan muslim Indonesia."
Allahumma Sholli a'la Sayyidina Muhammad wa ala alihi washobihi wasalim

Sumber :nu.or.id
Sayyid Alawi, Imam Masjidil Haram Hafidz Qur’an setelah Makan Ludah Gurunya

Sayyid Alawi, Imam Masjidil Haram Hafidz Qur’an setelah Makan Ludah Gurunya


Sayyid Alawi, salah satu dari Pilar pengajar masjidil haram pernah bercerita tentang dirinya. “Aku menghafal Al Qur'an di tangan guruku As-Syekh Hassan As-Sunari.”

Syekh Hasan adalah Ahlul Qur'an, tidak pernah meninggalkan sedikitpun dari waktunya, kecuali selalu membaca Al Qur'an. Bahkan sampai dari lekatnya Al Qur'an didadanya, beliau tidak pernah mengkosongkan diri dari Al Qur'an,, kecuali Saat di kamar mandi. Konon beliau kalau di kamar mandi,, beliau selalu menggigit lidahnya sampai sampai lidahnya berlobang terkena gigitan. Agar tidak sampai membaca Al Qur'an di kamar mandi.

Konon beliau tegas dalam mendidik murid muridnya. Termasuknya Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki. Saat itu Sayyid Alawi berumur antara 7/8 tahun, sudah menghafal Al Qur'an (adat ulama arab) di tangan As-Syekh Hasan As-Sunari.

Pernah pada suatu hari tidak bisa masuk karena sakit, sehingga beberapa hari absen. Ketika beliau masuk langsung diperintahkan untuk mengulangi murojaah hafalan. Tapi karena tidak siap, beliau salah dalam membaca.

Begitu terlihat tidak bisa membaca, langsung As-Syekh Hasan As-Sunari memukul wajahnya. Akhirnya hidungnya, wajahnya berdarah, beliau menangis pulang.

Begitu pulang dalam keadaan menangis dan berdarah, ibunya (As-Sayyidah Aisyah Kurdiyah) marah besar pingin melabrak Syekh Hasan (andaikan saja beliau lelaki). Dan saat itu tepat As-Sayyid Abbas tidak ada di rumah. Dan ketika As-Sayyid Abbas datang, sang ibu langsung lapor pada ayahnya dan meminta agar As-Sayyid Abbas melabrak malam ini juga.

Tapi Sayyid Abbas mendengar cerita itu dengan tanpa emosi dan berkata:

طيب،، بكرة،، طيب بكرة. ماهو في يوم بكرة ..؟؟

Oya. Besok. Besok, bukan kah esok masih ada?

Keesokan harinya Sayyid Abbas mengajak Sayyid Alawi kerumah As-Syekh Hasan. Pada saat itu As-Syekh Hasan sedang membaca Al Qur’an, mushaf ada diatas dua pahanya.

Begitu terlihat yang datang adalah Sayyid Abbas, langsung As-Syekh gemetar takut (konon As-Sayid Abbas saat itu menjabat sebagai Qodhi, dan sering menjadi delegasi keluar negeri. Disamping orang 'Allamah, kaya, badan tegap dan di segani).

Sayyid Abbas mengucap salam dan masuk dengan hormat dan langsung duduk dibawah kursi sang syekh. Lalu beliau menyuruh duduk Sayyid Alawi.

اجلس أمام شيخك يا ولدي.

Setelah Sayyid Alawi duduk. Sayyid Abbas berkata:

قبل رجلي شيخك.

Cium kaki Syekh mu.

Lalu kakinya sang syekh dicium, lama sekali, membuat sang Syekh as-Sunari bergetar menangis. Setelah itu sang syekh berkata:

قم يا علوي..!! وافتح فمك
ففتح السيد علوي فمه،، وبصق الشيخ فم السيد...
وقال : والله منذ ذا الحين،، اللى فى قلبي في قلبك.

Buka mulut mu nak!. Setelah itu, beliau Meludahi mulut Sayyid Alawi dan berkata: Mulai sekarang, apa yang ada didalam hatiku ada didalam hatimu.

Sejak dari peristiwa itu, Sayyid Alawi bisa langsung hafal, dan umur  9 sudah hafal, kemudian beliau dijadikan salah satu dari imam masjid haram.

Hikmah:
1.Kesadaran orang tua pada usaha guru yang berusaha mengangkat derajat anaknya. Maka usaha apapun yang dilakukan sang guru tidak mungkin lepas untuk mashlahat anaknya. Maka jangan sampai tidak terima dengan perlakuannya.

2.Tawadhu' dari orang tua kepada Murobbi. Jangan sampai masih memandang pada pangkatnya. Hendaknya orang tua bertawadu' pada guru anaknya.

3.Kesabaran murid akan membawa keberhasilan.

Demikian, semoga kita bisa mengambil hikmah. [dutaislam.com/zawiyyahmahabbah/pin]

Sumber : dutaislam.com
Gus Dur dan Kesaktiannya Membelokkan Arah Uang

Gus Dur dan Kesaktiannya Membelokkan Arah Uang



Banyak orang yang sudah memahami kesederhanaan Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam menjalani kehidupan meskipun posisinya saat itu menjabat orang nomor satu di Indonesia.

Bahkan dalam berbagai kesempatan, Alissa dan Yenny Wahid sering mendapati Gus Dur tidak mempunyai uang, isi dompetnya pun kosong. Hal ini kerap membuat putri-putrinya sedih meningat posisi dan status seorang Gus Dur.

Ada sebuah cerita nyata ketika Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengisahkan pengalaman Gus Dur yang sering tidak mempunyai uang.

“Memang, Gus Dur sering tidak mempunyai uang, tetapi dia mampu membelokkan arah uang,” kata Gus Yahya disambut tawa peserta Munas dan Konbes NU di Pesantren Darul Qur'an Bengkel, Labuapi, Lombok Barat, NTB pada Sidang Komisi Rekomendasi, Jumat (24/11/2017).

Gus Yahya ingin menyampaikan bahwa kata-kata adalah senjata ampuh bagi Gus Dur untuk mengubah tatanan kehidupan sosial dan ekonomi menjadi lebih baik dan maslahat bagi umat.

Tentunya hal itu sejurus dengan perilaku Gus Dur yang selalu menempatkan kepentingan bersama untuk mewujudkan harmonisasi kehidupan berbangsa dan bernegara. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Jika Belum Kuat Dicaci, Berarti Hamba Amatiran

Jika Belum Kuat Dicaci, Berarti Hamba Amatiran


Di pondok pesantren Stand Up Comedy adalah hal yang biasa berlaku. Disamping mereka Muthola'ah juga wirid yang begitu banyak, mereka selingi dengan canda tawa atau guyon yang sangat heboh. Mulai dari mengerjai anak-anak baru sampai anak yang biasanya terlihat ganteng amat.

Berbagai hal unik dipesantren mengajarkan kepada kita, bahwa hidup jangan lemah hanya dicaci. Dipuji tidak tinggi hati, dicaci tidak menaruh dengki. Karena pada hakikatnya cacian itu adalah sebuah cambuk untuk menampar kita agar jauh lebih maju, dan menjadi lebih hebat. Dari berbagai dunia yang saya geluti, dunia pesantren adalah dunia paling unik, dunia paling greget, dan dunia paling baik untuk menimba ilmu dan menempa diri.

Didunia pesantren, biasanya yang gak kuat gojlokan akan mudah keluar atau biasa disebut dengan boyong. Memang kadang gojlokan yang terlalu malah membawa mudhorot, semisal berantem saling tidak sapa hingga berujung balas dendam di luar pondok. Dunia pesantren memang dunia yang beragam, karena umumnya dipesantren santri-santri dari berbagai macam wilayah dari sabang sampai merauke dan sangat lengkap dari yang berwatak lemah lembut sampai yang berwatak kasar.

Dipesantren kami, An Nur 2 Bululawang Malang, jumlah santrinya 6000 dengan berbagai macam warna maka santri dituntut pinter-pinteran nggowo awak  begitu kata Kiai-kiai sepuh. Guru kami Qutbu Hadza Zaman As Syekh Habib Umar bin Hafidz memberikan wejangan;

فيمن يسبكم فيمن يتكلم عليكم ، كيف تتعامل معهم كيف ترحمونهم وهم احق برحمة

Bagaimana engkau menyikapai orang yang mencacimu, orang yang merendahkanmu, padahal mereka adalah orang yang paling berhak engkau kasih dan sayangi. SubhanaAllah......

Maka tidak jarang anak-anak pesantren yang bisa membawa diri, mereka justru menjadi orang-orang besar dimasyarakatnya.  Baginya adalah; dipuji tidak tinggi hati, dicaci tidak menaruh dengki. Oleh Karenanya jangan pernah kapok Mondok tandanya kapok Mondok adalah tidak memondok-kan anaknya di pesantren. Begitu dawuh Allohu Yarham Romo Kiai Faqih Langitan.

Semoga anak-anak kita diberikan ilmu yang manfaat. Dan terlebih kita bisa menyikapi hidup dengan sewajarnya.  Ora Usah Nggumunan dawuh Kiai Mustofa Bisri Rembang Jawa Tengah. [dutaislam.com/gg]

Ahmad Zain Bad, An Nur II Bululawang Malang.

Sumber : dutaislam.com
Nabi Nuh Terus Menyesal setelah Mengatakan "Anjing ini Jelek"

Nabi Nuh Terus Menyesal setelah Mengatakan "Anjing ini Jelek"


ratapilah dirimu wahai orang melarat # kelak kau pun mati meski selama Nuh kau hidup

 Itulah sepenggal syair tentang terbatasnya umur, sepanjang umur Nabi Nuh pun.
Siapa yang tak kenal Nabi Nuh? Hal yang banyak dikisahkan tentang beliau adalah perihal usianya yang panjang, 950 tahun, dan dakwahnya yang tak kenal lelah. Siapa pula yang tak tahu tentang banjir bandang yang merata di berbagai daratan di muka bumi sehingga memusnahkan lebih dari separuh populasi makhluk hidup pada saat itu. Beliau mendapat mandat suci sebagai rasul pada saat beliau berusia 250 tahun, dan hidup selama 200 tahun setelah surutnya air bah.

Namun tidak banyak yang tahu bahwa, konon, nama asli beliau bukanlah ‘Nuh’, melainkan Abdul Ghoffar, ada pula yang menyebutkan bahwa nama beliau Yasykur. Sedangkan ‘Nuh’ hanyalah julukan bagi beliau, artinya orang yang meratap.

Nah, di sini kita akan mencoba memetik satu atau dua tangkai hikmah dari sebab mengapa beliau dijuluki dengan nama ‘Nuh’. Sehingga kita bisa melahap buah kebijaksanaan ini, kemudian menanam biji-bijinya, agar kebun hati kita rimbun dengan kerindangan hikmah yang menyejukkan.

~

Suatu ketika, dalam satu perjalanan, Abdul Ghoffar berpapasan dengan seekor anjing lusuh bermata empat dan begitu mengerikan. Melihat hal aneh dan jarang beliau temui ini, beliau bergumam;

“Wah, anjing ini begitu jelek.”

Sepertinya si anjing mendengar gumaman beliau, dia terus memandangi manusia di hadapannya itu dengan tatapan sinis. Sejurus kemudian, saat beliau hendak berlalu, tanpa diduga, si anjing menyeru;

“Hai Abdul Ghoffar! Siapa yang kau cela tadi? Ukirannya ataukah Pengukirnya??!”

Sang Nabi terkejut mendengar hardikan itu. Tanpa menunggu jawaban, si anjing melanjutkan;

“Jika yang kau cela adalah ukirannya, yakni aku, maka ketahuilah bahwa aku tak pernah meminta untuk diciptakan menjadi anjing seperti ini! Dan jika yang kau cela adalah Sang Pengukir, maka ketahuilah bahwa Dia melakukan apa yang Ia kehendaki dan tidak satu cela pun Ia punyai, ingat itu!”

Belum sempat Abdul Ghoffar berkata-kata, si anjing berlalu begitu saja, meninggalkan beliau yang masih terbelalak dan merenungkan setiap butir kata-katanya.

Beliau terus menerus memikirkan kata-kata si anjing, semakin lama semakin beliau pahami maknanya. Tetes demi tetes air mata membasahi pipinya, beliau menyesal dan meratapi kekeliruan ucapan dan anggapannya. Sejak itu, karena banyaknya meratapi kesalahan (Naaha – Yanuuhu), beliau dijuluki orang-orang sekitarnya dengan sebutan ‘Nuh’, sang peratap.

~

Jika direnungkan, memang benar teguran si anjing. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita pahami dari dialog menakjubkan ini.

Pertama, tidak ada yang jelek hakikidalam setiap ciptaan-Nya, semua mengandung hikmah, semua memiliki peran di dalam kewujudannya masing-masing di alam raya ini. Anggapan jelek atau buruk hanyalah hasil penangkapan indera dan penilaian akal yang berdasarkan pada pengalaman serta sudut pandang kita yang sempit. Sehingga bisa menggelincirkan kita untuk menjelek-jelekkan ciptaan-Nya. Adakah ciptaan Sang Pencipta yang benar-benar jelek pada hakikatnya? Ataukah kita yang belum mampu memahami makna di balik semua yang kita pandang dan dengar?

Jika yang kita hina adalah Penciptanya, yakni Allah Ta’ala, maka sesakti apa kita sehingga berani mencela Dia yang seratus persen berkuasa terhadap lahir batin kita? Mau kemana kita mengungsi jika Dia usir dari alam-Nya ini? Tidak ada ruang maupun waktu yang tidak bernaung di bawah kekuasaan dan pengaturan-Nya.

Jika yang kita jelek-jelekkan ciptaannya, misalnya anjing tadi, bukankah ia tercipta sedemikian itu bukan karena kehendak maupun permintaannya sendiri? Begitu pula dengan ciptaan-ciptaan-Nya yang sering kita anggap buruk yang lain. Toh tidak ada gunanya menghina suatu hal atau keadaan, sejelek apapun hal itu, semenyebalkan bagaimanapun suatu keadaan.

Bahkan Syaithan sekalipun, kita diwanti-wanti untuk waspada dan berlindung dari makarnya, bukan untuk dihina dan dijelek-jelekkan. Itupun yang kita hindari bukanlah zat Syaithan atau berbagai macam zat keburukan lain, melainkan tingkah laku dan pengaruh sifat buruklah yang kita hindari, bukan zatnya.

Jika kita tidak berhati-hati, justru bisa tumbuh bibit-bibit takabbur di dalam diri kita, padahal hal ini pulalah yang dahulu menggelincirkan Iblis dari posisi para malaikat yang mulia. Memang benar manusia disebutkan sebagai ‘Ahsanu Taqwim’, bentuk ciptaan yang terbaik, namun ingatkah kita bahwa ada berjuta kemungkinan pula bahwa sesosok manusia bisa terlena menjadi ‘Asfalu Saafiliin’, serendah-rendahnya para pecundang?

Dan bukankah gelar ‘Ahsanu Taqwim’ ini lebih cenderung mengesankan tanggung jawab yang kita emban selaku pemangku bentuk ciptaan yang terbaik, baik dari segi fisik maupun psikis? Bukan untuk diumbar secara ‘gumede’ sehingga memperlakukan makhluk lain secara sewenang-wenang.

~

Kedua, setiap manusia memiliki tingkatan spiritual yang berbeda-beda, tergantung kualitas jiwanya. Pengalaman batin orang semacam kita tentu berbeda dengan ketajaman jiwa para wali, apalagi para nabi dan rasul. Sama sekali tidak sama.

Suatu hal yang kita anggap sepele, kesalahan kecil, atau bahkan sama sekali bukan kesalahan di dalam pandangan kita, bisa jadi justru menimbulkan penyesalan yang dalam bagipara ‘arifin. Sebagaimana penyesalan dan taubat Nabi Adam setelah menikmati Buah Khuldi yang menyebabkan beliau turun ke bumi, padahal beliau memang sudah direncanakanakan menjadi khalifah di muka bumi jauh-jauh hari sebelum beliau diciptakan.

Atau taubat serta pengakuan dzalim Nabi Yunus ketika terperangkap dalam kelamnya perut ikan di kedalaman samudera, beliau beranggapan bahwa kepergian beliau meninggalkan kaumnya merupakan suatu bentuk keputusasaan yang perlu disesali dan ditaubati, padahal kita semua tahu bahwa beliau sudah berdakwah dengan gigih dan kaumnya memang keras kepala. Begitu pula dengan ratapan Nabi Nuh terhadap hinaan remeh beliau terhadap si anjing dalam kisah di atas.

Sebaliknya, masalah dan kesempitan hidup yang menurut kita begitu berat dan tak bisa ditanggung, sehingga menggelincirkan kita kepada kedurhakaan-kedurhakaan individual maupun sosial, justru men jadi batu asah bagi jiwa-jiwa para wali. Menjadi medan uji bagi spiritualitas manusia-manusia unggul yang mengantarkan mereka menuju derajat yang begitu tinggi dan begitu dekat di hadirat-Nya. Sehingga kita banyak mengenal para rasul dan nabi melalui kisah-kisah ketabahan dan kegigihan perjuangan hidupnya dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda.

Problem yang dihadapi pun beraneka rupa, mulai dari masalah kesehatan, penghidupan, skandal, fitnah, pembunuhan, pemerintahan, peperangan, keluarga, dan sebagainya. Mereka inilah yang akan menjadi hujjah bagi Allah di akhirat, ketika kita menjadikan segala masalah-masalah hidup kita sebagai alasan yang menghalangi pengabdian kita kepada-Nya.

Juga sebagai ibarat bagi kita bahwa perjalanan hidup ini tak lepas dari perjuangan dan keprihatinan, sehingga kita selangkah dua langkah berupaya meneladani sensitivitas jiwa para teladan ini. Karena sepandai apapun akal menganalisa, memprediksi dan merancang langkah hidup, tetap saja kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi esok, sehingga teladan dari para utusan adalah referensi terbaik bagi hidup kita.

Di akhir hayatnya, ketika disapa dengan salam oleh Malaikat Maut, Nabi Nuh menyahut,

“Siapa Engkau? Mengapa salammu begitu menggetarkan hatiku?”

“Aku Malaikat Maut. Mengapa kau mengeluh begitu saat kujemput? Tidakkah kau sudah kenyang hidup di dunia wahai manusia yang terpanjang umurnya?” jawab Sang Pencabut Nyawa.

 “Sesungguhnya aku mengenal kehidupan ini sebagai suatu tempat dengan dua pintu, aku masuk melalui satu pintu dan keluar dari pintu lain yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.” ujar Sang Nabi.

~

Betapa indah ibarat yang Allah tunjukkan kepada kita. Betapa sejuk tetes-tetes pemahaman yang Ia ajarkan kepada kita melalui para utusan dan kekasih-Nya, serta melalui lembaran-lembaran buku yang terhampar luas ini; segenap kejadian di semesta raya.

Setidaknya dahan-dahan hikmah ini bisa menaungi kita dari teriknya kegelisahan-kegelisahan hidup dan menyegarkan kembali hati yang hampir membusuk. Dengan tidak mencaci atau menghina apapun, dalam kondisi bagaimanapun.

“Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah; 269)

Syaikh Ihsan Al-Jampesi, Sirojut Tholibin, 2/409
Tuwel, 10/02/2013/AkhirMulud/1434

Sumber :muslimoderat.net
Ketika Driver Taksi Online Bertanya: Mbah Maimun Zubair Alirannya Apa?

Ketika Driver Taksi Online Bertanya: Mbah Maimun Zubair Alirannya Apa?


Pagi tadi saya menggunakan jasa Grabcar dari Hotel untuk mengantar ke Stasiun Tawang. Kaget juga karena pengemudinya ternyata seorang perempuan. 15 menit menunggu, mobil pun datang. Isteri saya mengambil posisi duduk di depan mengingat drivernya adalah perempuan.
Sebelum ke stasiun, atas permintaan istri, saya dan keluarga pun berputar haluan ke tempat oleh-oleh. Tiba di Pandanaran, isteri saya pun turun dan saya beserta anak-anak menunggu di dalam mobil.

Tiba-tiba, ibu driver Grab ini membuka obrolan.
Ibu Driver: " bapak dan keluarga dari mana?"
Saya pun menjawab, " oh dari Rembang bu."
Dia pun menimpali lagi: " asli dari Rembang ya pak?"
Saya: " oh bukan bu, saya dari Jakarta."

Serasa ingin tahu, Ibu driver ini bertanya lagi: " oh wisata ya pak di sana."
Saya: " ouh, ndak, saya ziarah ke guru saya, Mbah Kiai Maimun Zubair."
Mendengar nama Mbah Kiai, Ibu driver ini seperti kaget.

Dia : " bapak bisa bertemu Mbah Maimun?"
Saya pun heran mendengar nada bertanya ibu itu: " iya bu, memangnya kenapa?"
Dia: " kata orang, beliau susah ditemui."
Saya: " masak iya bu?"
Dia: " iya pak. Katanya kalau orang yang niatnya gak baik, susah menjumpai Mbah Maimun."
Saya: " wah kalau itu saya gak tahu ya bu. Tapi alhamdu lillah, dua kali saya silaturahim ke tempat beliau selalu diterima."

Dia: " oh, iya pak. Ngomong-ngomong Mbah Maimun itu Islamnya aliran apa ya?"
Saya: " Lho, memangnya di Islam itu ada aliran?"
Dia: " iya pak, kayak NU, Muhammadiyyah, Persis, Syiah. Nah, Mbah Maimun itu apa ya alirannya."
Saya: " Mbah Maimun itu ngikuti Rasulullah bu."

Memperhatikan gaya dia bertanya, saya pun langsung tebak beliau, " ibu ngaji salafi ya?" Dia pun tampak kaget dengan pertanyaan saya. Lalu dia jawab:
"iya pak. Kok bapak tahu?"
Saya: " kelihatan bu". Jawab saya sambil tertawa kecil.

Dia : " iya pak, meskipun saya ngaji salafi tapi ada beberapa aturan salafi yang saya terjang."
Saya: " Lho, memangnya ada aturan di pengajian salafi?"
Dia: " iya pak. Salah satunya larangan bawa mobil ini. Para ustadz salafi sudah peringatkan kalau perempuan haram membawa kendaraan."
Saya: " Lha, terus kenapa ibu terjang?"
Dia: " yah, habis kalau saya gak bawa grab begini, saya mau makan apa pak? Wong sekarang cari kerja itu susah."

Dia pun akhirnya menceritakan statusnya yang janda dan pengalaman bisnisnya yang selalu rugi. Sampai pada satu point, dia mengatakan:

"Para ustadz itu terkadang ngomongnya menggampangkan. 'Minta saja sama Allah pasti dikasih rejeki' padahal uang kan gak turun dari langit. Minta rejeki juga ada usahanya."

Saya pun menimpali : " iya bu. Para ulama salaf dulu juga gak kaku-kaku amat. Mereka itu orang yang moderat cara berpikirnya walaupun juga berhati-hati."

Ibu Driver: " saya itu ngaji salafi juga belum total banget pak."

Saya: " maksudnya belum total bagaimana bu?"

Dia: " itu pak, masih nonton tv dan bawa mobil ini. Kan ada itu pak ustad yang haramkan nonton TV bahkan mengharamkan nonton Rodja TV sekalipun."

Saya; " oh gitu ya bu?"

Tiba-tiba, dia mengalihkan pembicaraan tentang Prof. Quraish Shihab. Tuduhan Syiah dan sesat kepada orang alim itu meluncur tanpa kendali dari mulutnya. Sambil memperlihatkan video Prof. Quraish yang berbicara tentang Rasulullah tidak masuk surga, dia pun meminta opini saya. Ia juga bertanya kepada saya tentang Prof. Quraish dan puterinya yang tidak berjilbab.

Mendengar celotehan seperti itu, saya katakan:

"Maaf bu, saya tidak kenal Prof. Quraish Shihab dan beliau pun tidak kenal saya. Kalau saya berkomentar tentang beliau itu artinya saya sok tahu. Kalau saya ikut menceritakan kehidupan pribadi beliau dan keluarganya, itu namanya ghibah. Bukankah ghibah diharamkan di dalam Al-Qur'an?"
Dia pun terdiam tidak melanjutkan obrolan. Sementara itu anak sulung dan anak kedua saya terlihat menahan tawa menyaksikan obrolan tidak seimbang di dalam Grabcar itu.

Sebelum mengakhiri obrolan, saya katakan kepadanya, "semoga Allah memasukkan suami ibu ke dalam surga karena keshalehan yang ibu tunjukkan."

Dari mulutnya terdengar suara amin yang diiringi tangis kecil, sambil berucap, "terima kasih ya pak". [dutaislam.com/gg].

Sumber :dutaislam.com
Kisah Kehebatan Soekarno di Negeri Arab

Kisah Kehebatan Soekarno di Negeri Arab


Tidak ada yang memungkiri bahwa Soekarno adalah seorang pemimpin dan pemikir. Sebagai seorang pemimpin, Soekarno telah mampu menggerakkan jutaan masyarakat Indonesia pada saat itu untuk melawan penjajah dan membangun Indonesia yang merdeka. Soekarno juga adalah seorang pemikir.

Banyak gagasan-gagasan besar dan konsep-konsep dalam bernegara yang dicetuskan oleh Soekarno. Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, pemikiran-pemikiran soal revolusi, dan lainnya. Maka dari itu, banyak pemimpin dunia, termasuk Negara-negara Arab, yang kagum kepada Soekarno.

Kitab Al Audah ila Iktisyafi Tsauratina (Kitab Pemikiran Revolusi Presiden Soekarno) adalah salah satu pemikiran-pemikiran Soekarno dikaji dan dijadikan rujukan bagi masyarakat Arab. Kitab ini diterbitkan di Kairo pada 1959, dua tahun setelah diadakannya Konferensi Asia-Afrika di Bandung.

Pada saat ini, pemimpin terkuat di Negara-negara Timur Tengah adalah Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser. Ia didaulat sebagai pemimpin revolusi dunai Arab. Presiden Mesri tersebut sangat menghormati dan menjadikan Soekarno sebagai guru revolusinya. 

“Abdel Nasser menyatakan diri bahwa saya (Gamal Abdel Nasser) adalah murid ideologinya Soekarno,” Kata Direktur Islam Nusantara Center (INC) A Ginanjar Sya’ban.

Kitab Al Audah di atas adalah kumpulan pidato Soekarno yang disusun menjadi satu dan dibahasa Arabkan. Kitab tersebut diterbitkan atas perintah daripada Gamal Abdel Nasser.

Presiden Soekarno juga pernah diundang oleh Gamal Abdel Nasser untuk menyampaikan pidato dihadapan ribuan masyarakat Mesir di Aleksandria dalam rangka peringatan tiga tahun revolusi Mesir. Ribuan masyarakat Mesir berduyun-duyun dan meneriakkan nama Ahmad Soekarno manakala dia naik mobil bak terbuka dengan Gamal Abdel Nasser.

“Ahmad Soekarno, Pemimpin terkuat dan terbesar dari Timur Asia,” kata Ginanjar menirukan teriakan masyarakat Mesir.

Ketenaran nama Soekarno di negara-negara padang pasir tidak perlu diragukan lagi. Tidak sedikit nama jalan dan tempat di Negara-negara Arab tersebut yang menggunakan nama Ahmad Soekarno. Nama Ahmad Soekarno juga terukir di Ismailiyah, salah satu kota pelabuhan kecil di Mesir.

“Ada super market di sana, super market Ahmad Soekarno. Di Kota Kairo ada jalan namanya Ahmad Soekarno” cerita alumni Universitas Al Azhar Mesir itu.

Selain di Mesir, nama Soekarno juga dijadikan nama jalan di Maroko dan Pakistan. Di Rusia, nama Soekarno menjadi nama sebuah masjid. Sedangkan di Kuba, nama Soekarno diabadikan menjadi nama perangko.

Soekarno adalah eksportir ideologi. Istilah-istilah dan konsep revolusi yang dicetuskan oleh sang putera fajar tersebut dialih bahasakan menjadi Arab. Seperti Al Mabadi’ Al Khomsah (Pancasila), A Wihdah fi tanawwu’i (Bhinneka Tunggal Ika), Al Wathoniyah wa Diniyah wa Syuyu’iyah (Nasakom), Al Bayan Al Siyasi An Wihdah Al Isytirakiyyah wa Dimuqratiyyah (Manipol Usdek). Ideologi-ideologi tersebut dipelajari dan menjadi inspirasi masyarakat Arab. (Muchlishon Rochmat)

Sumber : nu.or.id
Maulid Disebut Bid'ah, 11 Komentar Ulama Ini Bisa Dijadikan Sanggahan

Maulid Disebut Bid'ah, 11 Komentar Ulama Ini Bisa Dijadikan Sanggahan


Di dalam kitab An-Ni’matul Kubra ‘alal ‘Alami fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami (909-974 H. / 1503-1566 M.) diterangkan tentang mengenai keutamaan-keutamaan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.  Penjelasan berdasarkan ungkapan para sahabat juga ulama-ulama Islam yang lahir kemudian.

Berikut ini 11 keutamaan maulid nabi tersebut:

1. Sayyiina Abu Bakar RA. berkata:

من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم كان رفيقي في الجنة

Barangsiapa membelanjakan satu  dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka ia akan menjadi temanku di surga.

2. Berkata Sayyidina Umar RA.

من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد أحيا الإسلام

“Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, maka sesungguhnya ia telah menghidupkan Islam.”

3. Berkata Sayyidina Utsman RA:

من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم فكأنما شهد غزوة بدر وحنين

“Barangsiapa membelanjakan satu dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka seakan-akan ia ikut-serta menyaksikan perang Badar dan Hunain.”

4. Sayyidina Ali RA. berkata:

من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم وكان سببا لقراءته لا يخرج من الدنيا إلا بالإيمان ويدخل الجنة بغير حساب

“Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, dan ia menjadi sebab dilaksanakannya pembacaan maulid Nabi, maka tidaklah ia keluar dari dunia melainkan dengan keimanan dan akan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.”

5. Imam Hasan Bashri RA. berkata:

وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا فأنفقته على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم

“Aku senang sekali seandainya aku memiliki emas sebesar gunung Uhud, maka aku akan membelanjakannya untuk kepentingan memperingati maulid Nabi SAW.”

6. Imam Junaed al-Baghdadi, semoga Allah membersihkan sir (rahasia)-nya, berkata:

من حضر مولد النبي صلى الله عليه وسلم وعظم قدره فقد فاز بالإيمان

“Barangsiapa menghadiri peringatan Maulid Nabi SAW dan mengagungkan derajat beliau, maka sesungguhnya ia akan memperoleh kebahagian dengan penuh keimanan.”

7. Imam Ma’ruf al-Karkhi, semoga Allah membersihkan sir (rahasia)-nya:

من هيأ طعاما لأجل قراءة مولد النبي صلى الله عليه و سلم و جمع اخوانا و أوقد سراجا و لبس جديدا و تبخر و تعطر تعظيما لمولد النبي صلى الله عليه و سلم حشره الله يوم القيامة مع الفرقة الأولى من النبيين و كان فى أعلى عليين

“Barangsiapa menyediakan makanan untuk pembacaan Maulid Nabi SAW, mengumpulkan saudara-saudaranya, menyalakan lampu, memakai pakaian yang baru, memasang harum-haruman dan memakai wangi-wangian karena mengagungkan kelahiran Nabi SAW, niscaya Allah akan mengumpulkannya pada hari kiamat bersama golongan orang-orang yang pertama di kalangan para nabi dan dia akan ditempatkan di syurga yang paling atas (‘Illiyyin).”

8. Imam Fakhruddin ar-Razi berkata:

: ما من شخص قرأ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على ملح أو بر أو شيئ أخر من المأكولات الا ظهرت فيه البركة و فى كل شيئ وصل اليه من ذلك المأكول فانه يضطرب و لا يستقر حتى يغفر الله لأكله وان قرئ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على ماء فمن شرب من ذلك الماء دخل قلبه ألف نور و رحمة و خرج منه ألف غل و علة و لا يموت ذلك القلب يوم تموت القلوب . و من قرأ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على دراهم مسكوكة فضة كانت أو ذهبا و خلط تلك الدراهم بغيرها و قعت فيها البركة و لا يفتقر صاحبها و لا تفرغ يده ببركة النبي صلى الله عليه و سلم

“Tidaklah seseorang yang membaca maulid Nabi saw. ke atas garam atau gandum atau makanan yang lain, melainkan akan tampak keberkatan padanya, dan setiap sesuatu yang sampai kepadanya (dimasuki) dari makanan tersebut, maka akan bergoncang dan tidak akan tetap sehingga Allah akan mengampuni orang yang memakannya"

"Dan sekirannya dibacakan maulid Nabi SAW.  ke atas air, maka orang yang meminum seteguk dari air tersebut akan masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, akan keluar daripadanya seribu sifat dengki dan penyakit dan tidak akan mati hati tersebut pada hari dimatikannya hati-hati itu"

"Dan barangsiapa yang membaca maulid Nabi saw. pada suatu dirham yang ditempa dengan perak atau emas dan dicampurkan dirham tersebut dengan yang lainnya, maka akan jatuh ke atas dirham tersebut keberkahan dan pemiliknya tidak akan fakir serta tidak akan kosong tangannya dengan keberkahan Nabi saw."

9. Imam Syafi’i, semoga Allah merahmatinya, berkata:

من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصادقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم

“Barangsiapa mengumpulkan saudara-saudaranya untuk mengadakan Maulid Nabi, kemudian menyediakan makanan dan tempat serta melakukan kebaikan untuk mereka, dan dia menjadi sebab atas dibacakannya Maulid Nabi SAW, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama golongan shiddiqin (orang-orang yang benar), syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan shalihin (orang-orang yang shaleh) dan dia akan dimasukkan ke dalam surga-surga Na’im.”

10. Imam Sirri Saqathi, semoga Allah membersihkan sir (bathin)-nya:

من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع الا لمحبة النبي صلى الله عليه و سلم . وقد قال صلى الله عليه و سلم : من أحبني كان معي فى الجنة

“Barangsiapa pergi ke suatu tempat yang dibacakan di dalamnya maulid Nabi saw, maka sesungguhnya ia telah pergi ke sebuah taman dari taman-taman syurga, karena tidaklah ia menuju ke tempat-tempat tersebut melainkan karena cintanya kepada Nabi saw. Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di dalam syurga.”

11. Imam Jalaluddin as-Suyuthi berkata:

مامن بيت أو مسجد أو محلة قرئ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا حفت الملائكة ذلك البيت أو المسجد أو المحلة وصلت الملائكة على أهل ذلك المكان وعمهم الله تعالى بالرحمة والرضوان
.
وأما المطوفون بالنور يعنى جبريل و ميكائيل و اسرافيل و عزرائيل عليهم الصلاة و السلام فانهم يصلون على من كان سببا لقراءة النبي صلى الله عليه و سلم. و قال أيضا: ما من مسلم قرأ فى بيته مولد النبي صلى الله عليه و سلم الا رفع الله سبحانه و تعالى القحط والوباء والحرق والغرق والأفات والبليات والبغض والحسد وعين السوء واللصوص من أهل ذلك البيت فاذا مات هون الله عليه جواب منكر ونكير ويكون فى مقعد صدق عند مليك مقتدر. فمن أراد تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم يكفيه هذا القدر. ومن لم يكن عنده تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم لو ملأت له الدنيا فى مدحه لم يحرك قلبه فى المحبة له صلى الله عليه وسلم.

“Tidak ada rumah atau masjid atau tempat yang di dalamnya dibacakan maulid Nabi SAW melainkan malaikat akan mengelilingi rumah atau masjid atau tempat itu, mereka akan memintakan ampunan untuk penghuni tempat itu, dan Allah akan melimpahkan rahmat dan keridhaan-Nya kepada mereka.”

"Adapun para malaikat yang dikelilingi dengan cahaya adalah malaikat Jibril, Mika’il, Israfil, dan Izra’il as. Karena, sesungguhnya mereka memintakan ampunan kepada Allah swt untuk mereka yang menjadi sebab dibacakannya pembacaan maulid Nabi saw. Dan, dia berkata pula: Tidak ada seorang muslimpun yang dibacakan di dalam rumahnya pembacaan maulid Nabi saw melainkan Allah swt menghilangkan kelaparan, wabah penyakit, kebakaran, tenggelam, bencana, malapetaka, kebencian, hasud, keburukan makhluk, dan pencuri dari penghuni rumah itu. Dan, apabila ia meninggal, maka Allah akan memudahkan jawabannya dari pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir dan dia akan berada di tempat duduknya yang benar di sisi penguasa yang berkuasa. Dan, barangsiapa ingin mengagungkan maulid Nabi saw, maka Allah akan mencukupkan derajat ini kepadanya. Dan, barangsiapa di sisinya tidak ada pengagungan terhadap maulid Nabi saw, seandainya penuh baginya dunia di dalam memuji kepadanya, maka Allah tidak akan menggerakkan hatinya di dalam kecintaannya terhadap Nabi SAW."

Jika ada kelompok yang masih bersikukuh menganggap bid'ah dan maulid Nabi dilarang untuk diperingati, 11 komentar para sahabat dan ulama diatas bisa jadi sanggahan. Karena senangnya kita akan lahirnya Nabi Muhammad, semoga kita mendapat berkah dan syafaat dari Nabi Muhammad SAW. [dutaislam.com/ed/pin]

Sumber: dutaislam.com
Ketika Khalifah Harun al-Rasyid Jenuh dengan Harta dan Tahta

Ketika Khalifah Harun al-Rasyid Jenuh dengan Harta dan Tahta


Adalah Khalifah Harun al-Rasyid seorang raja yang kekuasaannya sangat luas, meliputi berbagai negara. Ia dijuluki sebagai Amirul Mu’minin atau pemimpin bagi orang-orang mukmin. Sebagai seorang khalifah yang dihormati oleh seluruh dunia Islam pada masa itu, ia berusaha menjadi pemimpin yang baik, berwibawa dan mengayomi rakyatnya.

Kemajuan demi kemajuan terus diraih oleh negara yang dipimpinnya, sehingga masa keemasan dari daulat Abbasiyah yang dipimpinnya segera terwujud. Kemajuan dari berbagai bidang ilmu, pembangunan fisik dan mental, sarana jalan dan gedung-gedung bertingkat tumbuh dengan subur di tepi jalan-jalan protokol. Kemajuan kota Baghdad yang menjadi ibukota dari Daulat Abasiyah itu termasyhur ke berbagai negara, sehingga menimbulkan kekaguman yang luar biasa.

Meskipun demikian, sebagai seorang manusia biasa apalagi seorang muslim, Harun al-Rasyid sering melakukan perenungan tentang hakikat kehidupan. Ia sering merasakan kejenuhan dengan kekuasaan dan penghormatan terhadap dirinya. Pada suatu malam Khalifah memanggil pejabat kesayangannya bernama Fadhil al-Barmasid. Ia berkata padanya: “Bawalah aku pada seorang yang bisa menjelaskan siapa diriku yang sebenarnya. Hatiku mulai jenuh dan lelah karena kemewahan, tahta, penghormatan dan sanjungan orang lain.”

Al-Barmasid membawa khalifah ke rumah seorang ulama sufi bernama Sufyan al-Uyainah. Waktu rombongan tamu penting itu sampai ke rumah yang dituju, Sufyan merasa terkejut. Ia berkata: “Mengapa Amirul Mu’minin bersusah-susah datang kemari, padahal bila perlu tinggal memanggil saya datang ke istana, saya akan datang ke sana?”

”Bukan tipe ulama seperti itu yang kami cari,” jawab Amirul Mu’minin. “Ulama tipe penjilat seperti itu datang silih berganti ke istanaku setiap saat.” Selanjutnya Sofyan al-Uyainah mengatakan, “Kalau begitu maksudmu pergilah ke tempat Fudhail bin Iyadh.”

Al-Uyainah membacakan salah satu ayat Al-Qur’an yang dialamatkan kepada khalifahnya: “Apakah mereka yang berbuat keburukan itu mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu”  (Q.S. al-Jatsiyah: 20). Khalifah menanggapi ayat yang dibacakan Sufyan: “Sekiranya aku memerlukan nasihat yang baik, ayat itu cukup bagiku.” Rombongan khalifah kemudian pergi menuju rumah Fudhail bin Iyadh (W. 187 H).

Fudhail bin Iyadh adalah seorang sufi ‘allamah, perjalanan hidupnya amat tragis dan mengharukan. Ia pada mulanya seorang pemimpin perampok yang terus mengganggu ketentraman hidup di padang pasir dan mengusik para kafilah yang berlalu di daerah operasinya. Meskipun menjadi pemimpin para perampok, Fudhail sebenarnya adalah seorang pria yang berhati lembut, cerdas, kasih pada sesama. Ia tidak mau merampas harta milik kaum wanita atau anak-anak, juga tidak merampas harta milik seseorang sampai ludes, tetapi selalu disisakan untuk orang yang dirampasnya. Ia sewaktu-waktu berkhalwat, menyendiri untuk merenungi arti kehidupan yang dijalaninya.

Karena perjalan hidupnya yang tragis itu tidaklah mengherankan apabila perbuatan-perbuatan yang sangat berlawanan dilakukan olehnya. Perbuatan buruk dan perbuatan baik, tercela dan terpuji bercampur aduk dalam diri Fudhail, pemimpin perampok yang disegani itu. Ia berpakaian seperti layaknya seorang sufi, melakukan shalat dan puasa, dari yang wajib sampai yang sunnah.

Suatu saat kawanan perampok anak buah Fudhail menjegat dan merampas harta salah satu kafilah yang berlalu di daerahnya. Ketika kawanan perampok itu sedang makan-makan, berpesta menikmati hasil rampokannya, datang pada mereka seorang anggota kafilah yang dirampok itu dengan bertanya: “Siapa pemimpin kalian?”

Mereka menjawab: “Dia tidak ada di sini, ia berada di balik pohon di tepi sungai, sedang melaksanakan shalat.” “Tetapi sekarang bukan waktunya shalat,” tanya kafilah itu. “Ia melaksanakan shalat sunnah.”

Anggota kafilah itu bertanya lagi: “Mengapa ia tidak ikut makan bersamamu?” Dijawab oleh salah seorang di antara mereka: “Ia sedang berpuasa.” “Tetapi sekarang bukan bulan Ramadhan.” Dijawab lagi: “Ia sedang berpuasa sunnah.”

Dalam perjalanan hidupnya yang panjang terjadilah konversi yang dahsyat pada jiwa Fudhail putra Iyadh itu. Peristiwa konversi itu dimulai ketika ia sedang mencegat serombongan kafilah yang akan dirampoknya. Di antara anggota kafilah itu ada yang sedang berjalan sambil melantunkan ayat al-Qur’an dengan suara yang sangat merdu. Salah satu ayat yang dibacanya begitu mengena, menembus kalbu Fudhail, bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya: “Belum jugakah datang saatnya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (untuk mereka)...” (Q.S. al-Hadid, 57: 16).

Fudhail kemudian bertaubat dari segala dosa dan kesalahannya serta meninggalkan kehidupannya yang sangat kelabu dan kusam itu. Ia berkelana selama bertahun-tahun, berpindah dari satu daerah ke daerah lain, mencari orang-orang yang pernah dirampoknya untuk meminta maaf atas segala kesalahannya dan memohon keridhaannya. Ia menjalani kehidupan seperti ini dengan pengorbanan yang berat dan kesengsaraan yang tak terperikan, dalam rangka membersihkan dirinya dari noda dan dosa. Pimpinan perampok yang bertaubat itu juga meningkatkan segala amal dan ibadahnya, mempertajam kalbunya sehingga menjadi seorang sufi ‘allamah yang sangat terkenal pada masanya.

Katika Harun al-Rasyid dan rombongannya sampai ke rumah Fudhail ia meminta nasihat kepadanya tentang hakikat kehidupan. Fudhail memberikan nasihat yang sangat mendalam dan mengharukan, membuat mereka yang hadir berlinang air mata. Di antara nasihatnya, mengutip nasihat dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Fudhail berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, negara yang anda pimpin ini, ibarat satu keluarga besar. Para orang tua di antara rakyatmu adalah ayahmu. Kaum wanita adalah ibumu dan para remaja adalah anak-anakmu. Perlakukanlah mereka seperti ayahmu, ibumu, saudaramu dan anak-anakmu sendiri.”

Setelah selesai, Khalifah menghadiahkan kepadanya beberapa pundi uang dinar yang terbuat dari emas murni. “Ini adalah uang yang halal, warisan dari ibuku,” ujar Khalifah. Dengan tatapan mata yang tajam dan kharisma yang amat berwibawa, Fudhail menolak pemberian itu sambil berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, nasihat yang telah aku berikan tidak ada gunanya sama sekali, karena engkau memulai lagi dengan perbuatan dosa, melanjutkan ketidakadilan. Aku mengajakmu menuju keselamatan, tapi engkau menyeretku pada godaan duniawi.” Selanjutnya Fudhail menandaskan: “Kembalikan milikmu ini kepada mereka yang berhak, mengapa anda memberikan kepada orang yang tidak membutuhkannya.”

“Luar biasa orang ini,” kata Khalifah sambil beranjak meninggalkan rumah Fudhail. Dalam perjalanan kembali ke istana di Baghdad, Khalifah berkata: “Sebenarnya bukan aku yang menjadi raja, tetapi  Fudhail itulah raja yang sesungguhnya. Keangkuhannya begitu besar, kemewahan dunia amat rendah dalam pandangannya.” Tepat apa yang dikatakan Khalifah, “Raja yang sesungguhnya adalah mereka yang tidak terpukau oleh kemewahan duniawi. Mereka yang selalu tergiur oleh kemewahan dunia dan kelezatan sesaat yang menipu, bukanlah para raja. Mereka adalah budak-budak dunia.”


KH Zakky Mubarak, Rais Syuriyah PBNU

Sumber : nu.or.id
Ketahuilah, Ini 7 Ulama NU yang Telah Bergelar Pahlawan Nasional

Ketahuilah, Ini 7 Ulama NU yang Telah Bergelar Pahlawan Nasional


Ormas Islam terbesar Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) telah melahirkan para pejuang yang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Maka tak heran jika tokoh-tokohnya pantas pendapat gelar pahlawan nasional.

Meski para pahlawan dari NU dan pesantren terbilang banyak, namun hanya beberapa nama yang kemudian mendapat gelar Pahlawan Nasional. Berikut ini beberapa nama dengan riwayat sangat singkat tokoh-tokoh NU yang mendapat gelar pahlawan tersebut:

1. Hadratussyekh KH Hasyim Asyari Hadratussyekh KH Hasyim As’yari adalah tokoh utama dan pendiri dari Nahdatul Ulama. Ia merupakan satu-satunya penyandang gelar Rais Akbar NU hingga akhir hayatnya. Ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 17 November 1964 berkat jasanya yang berperan besar melawan penjajah. Salah satu di antara jasanya untuk negara ini adalah memutuskan NU untuk mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Tanggal tersebut kemudian dijadikan sebagai Hari Santri Nasional.

2. KH Abdul Wahid HasyimKH Abdul Wahid Hasyim adalah putra Hadratussyekh KH Hasyim As’yari dan ayah dari presiden keempat RI KH Abdurrahmann Wahid. Ia merupakan salah satu anggota Badan Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Ppanitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Di pondok pesantren Tebuireng ia mempelopori masuknya ilmu pengetahuan umum ke dunia pesantren. Ia  ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tanggal 17 November 1960.

3. KH Zainul Arifin KH Zainul Arifin, merupakan tokoh NU asal Sumatera Utara. Ia aktif di NU sejak muda. Di antara jasanya adalah pada pembentukan pasukan semi militer Hizbullah. Kemudian menjadi panglimanya. Ia pernah menjadi perdana menteri Indonesia, Ketua DPR-GR. Selain itu, beliau juga berjasa dalam menjadi anggota badan pekerja Komite Nasional Pusat. Pemerintah menetapkan dirinya sebagai pahlawan nasional pada 4 maret 1963.

4. KH Zainal Mustofa KH Zainal Mustofa merupakan tokoh NU dari Tasikmalaya, pernah menjadi salah seorang Wakil Rais Syuriyah. Ia salah seorang kiai yang secara terang-terangan melawan para penjajah Belanda. Ketika Belanda lengser dan diganti penjajag Jepang, KH Zainal Mustafa tetap menolak kehadiran mereka. Ia dan santrinya mengadakan perang dengan Jepang. Atas jasanya ia dianugerahi sebagai pahlawan nasional pada1972.

5. KH Idham ChalidIa pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua MPR dan Ketua DPR. Selain sebagai politikus, ia merupakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada tahun 1956-1984. Hingga saat ini ia merupakan ketum paling lama di ormas bentukan para kiai itu. Atas jasanya, ia ditetapkan sebagai pahlawan pada 8 November 2011. Kemudian pada 19 Desember 2016, Pemerintah mengabadikan beliau di pecahan uang kertas rupiah baru, pecahan Rp. 5.000,- .

6. KH Abdul Wahab ChasbullahKH Abdul Wahab Chasbullah merupakan Salah seorang pendiri NU. Sebelumnya, ia pendiri kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran), pendiri Madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Negeri), pendiri Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang). Sejak 1924, mengusulkan agar dibentuk perhimpunan ulama untuk melindungi kepentingan kaum tradisionalis. Usulannya terwujud dengan mendirikan NU pada 1926 bersama kiai-kiai lain. Ia juga salah seorang penggagas MIAI, pernah menjadi Rais ‘Aam PBNU. Kiai yang wafat pada 29 Desember 1971 itu mendapatkan gelar pahlawan pada 8 November 2014.

7. KH As’ad Syamsul Arifin KH As’ad Syamsul Arifin salah seorang kiai berperang melawan penjajah. Ia menjadi pemimpin para pejuang di Situbondo, Jember maupun Bondowoso, Jawa Timur. Di masa revolusi fisik, Kiai As'ad menjadi motor yang menggerakkan massa dalam pertempuran melawan penjajah pada 10 November 1945. Selepas kemerdekaan Kiai As'ad adalah penggerak ekonomi-sosial masyarakat. Ia menyerap aspirasi dari warga kemudian mendorong pemerintah daerah, menteri, maupun presiden guna mewujudkan pembangunan yang merata. Kiai As'ad juga berperan menjelaskan kedudukan Pancasila tidak akan mengganggu nilai-nilai keislaman. Atas jasa-jasanya, ia mendapat anugerah pahlawan pada 9 November 2016.


Itulah tujuh ulama NU yang saat ini sudah mendapat gelar pahlawan nasional [dutaislam.com/pin]

Sumber : dutaislam.com
Ketika Kiai Ma’shum Lasem Menangis di Buntet Pesantren

Ketika Kiai Ma’shum Lasem Menangis di Buntet Pesantren


Hari itu, para kiai, santri, dan masyarakat Buntet Pesantren telah bersiap menerima kedatangan tamu agung dari Rembang, Kiai Ma’sum Lasem.

Tiba di Buntet Pesantren, Kiai Ma’shum langsung disambut dengan shalawat yang dilantunkan oleh KH Fuad Hasyim, KH Busyrol Karim, dan dua qari internasional dari Buntet Pesantren, yakni KH Fuad Zen dan KH Jawahir Dahlan.

Lantunan merdu shalawat dari kitab al-Barzanji itu diiringi dengan tabuhan genjring oleh keempat kiai tersebut. Suara genjring yang berasal dari Palembang seketika membius Mbah Ma’shum.

Saat itu pula, Mbah Ma’shum menangis sembari ngendika (berucap), “Mboten. Mboten haram. Mboten haram (Tidak. Tidak haram. Tidak haram).”

Kiai Ma’shum konon pernah mengharamkan genjring karena beberapa hal. Tetapi, begitu melihat tabuhan genjring di Buntet, beliau langsung menarik pernyataannya.

Selain Mbah Ma’shum, beberapa ulama lain yang pernah datang ke Buntet Pesantren juga disambut dengan tabuhan genjring, seperti Musniduddunya Syaikh Yasin al-Fadani dan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hadis, Malang, al-Habib Abdullah Bafaqih. (Syakirnf/Kendi Setiawan)

Sumber : nu.or.id
Jarang Ziarah ke Makam Orang Tua? Kisah Ini Akan Membuat Anda Tercengang!

Jarang Ziarah ke Makam Orang Tua? Kisah Ini Akan Membuat Anda Tercengang!



Ini kisah persahabatan antara ‘Auf bin Malik al-Anshari dengan as-Sha’ab bin Jatstsamah al-Muhajiri. Saking akrabnya, keduanya saling bertutur, siapa yang meninggal duluan maka yang meninggal belakangan akan datang untuk menziarahi. Taqdirnya, as-Sha’ab bin Jatstsamah al-Muhajiri meninggal lebih dulu.

Berselang lama setelah kepergian ash-Sha’ab, ia hadir dalam mimpi Auf bin Malik. Kata ash-Sha’ab yang sudah meninggal, “Mengapa engkau terlambat?”

“Bukan kita yang menentukan segala sesuatu. Semuanya ada dalam Kekuasaan Allah Ta’ala. Jika Dia Menghendaki terlepas, maka terlepaslah. Dan jika Dia Menghendaki terbelenggu, maka terbelenggulah.” jawab ‘Auf bin Malik.

Kemudian, ‘Auf bin Malik bertanya kepada sahabatnya itu, “Apakah orang yang sudah meninggal dunia bisa merasakan kehadiran orang hidup yang menziarahinya?”

“Ya.” Jawab ash-Sha’ab, “Ini buktinya.” Ash-Sha’ab menunjukkan warna hitam di salah satu lututnya.

“Mengapa lututmu berwarna sehitam itu?” tanya ‘Auf bin Malik.

“Aku memiliki hutang sepuluh dinar kepada seorang Yahudi. Aku belum sempat membayar hutangku kepadanya.” tutur ash-Sha’ab.

“Apakah anakmu mengetahui hutangmu itu?” tanya ‘Auf bin Malik.

“Tidak ada yang mengetahuinya.” jawab ash-Sha’ab.

“Pergilah ke rumahku. Ambilkan uang yang aku simpan di dinding batu.” pungkas as-Sha’ab di dalam mimpi.

Tak lama setelah itu, ‘Auf bin Malik terbangun. Siang harinya, ia bergegas ke rumah sahabatnya itu, mencari dinding yang menggunakan batu, mengambil uang dan membayarkannya kepada si Yahudi. Jumlahnya persis sepuluh dinar.

Sesampainya ‘Auf bin Malik di rumah si Yahudi seraya membawa uang untuk melunasi hutang ash-Sha’ab, si Yahudi terbelalak. “Demi Zat yang mengutus Musa dengan kebenaran. Sungguh, tidak ada seorang pun yang mengetahui hal ini (kecuali aku dan ash-Sha’ab bin Jatstsamah).” ujar si Yahudi.

***

Kawan, apakah ada orang tua kita yang sudah meninggal dunia? Apakah ada sahabat dekat dalam iman yang sudah dipanggil Allah Ta’ala? Adakah guru, ustadz, kiyai, atau siapa pun-yang berjasa dalam hidup kita-yang lebih dulu menghadap Allah Ta’ala?

Jika sudah, seberapa sering kita mengunjunginya? Berapa kuantitas kita dalam menziarahinya? Jika tidak pernah apalagi anti-ziarah, kisah ini seharusnya menyadarkan Anda!

Wallahu a’lam.

Sumber :kisahikmah.com
Gus Dur Marah Saat Mengetahui Fakta Resolusi Jihad Sengaja Disembunyikan

Gus Dur Marah Saat Mengetahui Fakta Resolusi Jihad Sengaja Disembunyikan


Sebagaimana penjelasan Kiai Agus Sunyoto sebelumnya, ada usaha-usaha dari kalangan atas (orang berpendidikan tinggi hasil didikan Belanda) untuk menyembunyikan fakta sejarah bahwa fatwa dan resolusi jihad KH Hasyim Asy'ari pernah ada.

Awalnya tahun 1990, lanjut Kiai Agus,  waktu itu peringatan 45 tahun pertempuran 10 November. Dan dalam peringatan itu, yang menjadi pahlawan besar dalam pertempuran 10 November adalah golongan atas ini. "Orang terpelajar yang berpendidikan tinggi. Nama-nama mereka muncul. Saat itu tersebar di televisi, koran, majalah… memuat itu," beber Kiai Agus di gedung LBM Pondok Pesantren Lirboyo (03/11/2017).

Diceritakannya, Nyai Sholihah ibunya Gus Dur, waktu itu memanggil Gus Dur. Beliau Bertanya, “itu ceritanya 10 November… yang berjasa itu harusnya Kiai Hasyim Asy'ari dan para kiai. Kok bisa yang jadi pahlawan itu orang-orang sosialis?"

Dari situlah, kata Kiai Agus, Gus Dur diminta untuk klarifikasi. Lalu Gus Dur klarifikasi, menemui tokoh-tokoh tua (senior) di kalangan kelompok sosialis mengenai hari pahlawan 10 November. Ternyata jawabanya sederhana. Sambil ketawa-ketawa, mereka menjawab, "yang namanya sejarah dari dulu kan selalu berulang Gus.. bahwa sejarah sudah mencatat orang bodoh itu makanannya orang pintar. Yang berjasa orang bodoh yang jadi pahlawan orang pinter. Itu biasa.."

"Mendengar jawaban yang demikian, Gus Dur marah betul. Berarti mereka sampai tahun 90 masih nganggap NU bodoh," jelas Kiai Agus.

Untuk itulah, lanjutnya, tahun 91 Gus Dur melakukan kaderisasi besar-besaran anak muda NU. Anak-anak dilatih untuk mengenal analisis sosial (ansos) pertama kali. Teori-teori sosial diajarkan sama Gus Dur ke anak-anak. Filsafat, sejarah, geopolitik, geostrategi, apapun, diajarkan ke anak-anak supaya tidak lagi dianggap bodoh. Dan kemudian berkembang.

"Saya termasuk yang ikut pertama kali kaderisasi itu. karena itu agak faham," kata Kiai Agus. [dutaislam.com/gg]

Sumber : dutaislam.com

Merenungi 21 Dawuh Penting Habib Luthfi Soal Pancasila dan Nasionalisme

Merenungi 21 Dawuh Penting Habib Luthfi Soal Pancasila dan Nasionalisme


Banyak orang salah paham mengenai Pancasila dan Nasionalisme. Pancasila dan Nasionalisme dikira tak sesuai dengan Islam. Pemahaman ini kemudian melahirkan melahirkan sikap-sikap radikal seolah-olah Pancasila dan Nasionalisme adalah produk kafir dan negara Indonesia adalah negara thoghut.

Ironis memang ketika ada orang yang tak paham permasalahan dan tidak mengetahui betul esensi Islam dengan sesuka hati menuduh sana sini. Mereka merasa paling benar melampaui pandangan-pandangan ulama yang sudah lebih dulu belajar ilmu dan ngelotok bicara Islam dan esensinya bagi kehidupan manusia.

Soal Pancasila dan Nasionalisme, ulama sekaligus habib yang sudah tidak diragukan lagi keilmuannya, Habib Luthfi bin Yahya telah banyak menyinggungnya dalam berbagai kesempatan. Berikut 21 dawuh Habib Luthfi soal Nasionalisme dan Pancasila yang bisa menjadi renungan dan pelajaran: 

1. Bendera Merah Putih “Saya salut banyak bendera Merah-Putih. Tapi nanti tolong setelah selesai, jangan pernah ditumpuk atau dilempar di tanah. Kayunya silakan ditumpuk di tanah, kalau benderanya disampirkan di bahu baru ditata yang rapi. Sikap pada bendera itu bukan mengultuskan benda, melainkan bentuk penghormatan dan sikap cinta pada tanah air. Dalam Merah-Putih meski tidak ada tulisannya, tapi ada arti jati diri bangsa, itulah kehormatan bangsa. Kalau tidak kita sekalian yang menjaga, jangan salahkan orang lain kalau ada yang menghina. Jika bukan para warga Indonesia sendiri, siapa lagi yang menjaga dan menghormatinya?"

2. Cinta Tanah Air "Sikap cinta tanah air harus dibangun di semua lini. Pengucapan Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya tidak hanya saat kegiatan upacara resmi kenegaraan atau pemerintahan dan saat peringatan HUT RI 17 Agustus saja, namun harus dinyanyikan dalam setiap acara sosial dan keagamaan. Kalau hanya dikibarkan saat 17-an, bisa-bisa bangsa ini lupa pada negaranya sendiri. Ini penting sekali, kelihatannya enteng. Jangan main-main sama lagu kebangsaan. Timbulnya tidak ada rasa ‘handarbeni’ jadi penyebab merosotnya nasionalisme di kalangan anak muda."

3. Pancasila dan Agama "Dasar negara Indonesia yakni Pancasila dibuat memiliki keterkaitan dengan keagamaan. Makanya ada sila pertama, di belakang Pancasila ada kekuatan agama."

4. Pengaruh Cinta Tanah Air "Kecintaan terhadap tanah air akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Jika nasionalisme kita semakin melemah, jangan harap kita sebagai Muslim bisa menjawab tantangan umat dan tantangan bangsa."

5. Dalil Nasionalisme “Walau hanya sebutir pasir yang ada di atas tanah air ini akan kita jaga mati-matian. Kata siapa cinta tanah air atau nasionalisme tidak ada dalilnya? Nabi Saw. mengatakan, “Aku cinta Arab karena aku adalah bangsa Arab”. Ini contoh kongkrit kecintaan suatu bangsa pada tanah airnya. Cinta tanah air itu sebagai wujud syukur kepada Allah atas anugrah bumi pertiwi ini. Ulama adalah benteng ideologi, TNI-POLRI adalah benteng NKRI. Mari kita bersatu. Jangan goyahkan persatuan karena oknum kiai, TNI atau POLRI."

5. Pancasila Final “Salah satu pesan yang kita ingat dari peringatan Maulid Nabi adalah ajaran agar kita taat pada pemerintah. Bangsa lain fokus membangun kita masih memperdebatkan khilafiyah-khilafah. Pancasila sudah final. Boleh berdebat penafsirannya, tapi tidak boleh memperdebatkan butir-butirnya."

6. Menghormati Perbedaan “Muktamar NU di Situbondo sudah menegaskan Pancasila sebagai asas Negara dan Jam'iyah Thariqah menegaskan NKRI harga mati. Pendakwah dahulu begitu toleran menghormati perbedaan. Untuk itu Sunan Kudus enggan menyembelih sapi, karena menghormati tradisi non-Muslim. Bahkan bangunan Masjid Kudus mengakomodasi arsitektur non-Muslim yang berkembang pada waktu itu. Tidak anti dengan kebudayaan lokal. Simpatik."

7. Mengingat Merah Putih “Muslim itu harus seperti air laut, meskipun ratusan sungai mengalirkan air tawar, ia tetap asin dan tak pernah memaksa ikan di dalamnya menjadi asin. Ketika kita akan melakukan perbuatan tercela, ingat Merah-Putih, malu di dalamnya ada tumpah darah para pahlawan dan jati diri bangsa yang memiliki adat dan etika ketimuran."

8. Mengajarkan Kepada Anak "Ajak anak-anak kita ke makam para pahlawan. Anak-anak mengerti itu orang mati, tidak akan menyembahnya. Jelaskan, ini kopral 'ini' adalah pahlawan, makam itu adalah makamnya pahlawan tak dikenal. Kenalkan para pahlawan kepada anak-anak kita sejak dini agar mereka paham kemerdekaan ini bukan hadiah. Dan agar dalam diri anak-anak tumbuh kecintaan pada bangsa. Rasa cinta yang kuat pada bangsa ini lebih dahsyat dari nuklir sekalipun."

9. Bentuk Syukur “Bangga terhadap Indonesia bukan sombong, tapi rasa syukur pada Allah Swt. Hormat pada Merah Putih bukan syirik, tapi ungkapan rasa syukur pada Allah Swt. untuk memiliki Bangsa Indonesia.”

10. Malu Kepada Bendera “Bendera Merah Putih adalah harga diri Bangsa, kehormatan Bangsa. Jika kita mau bercermin kepada Bendera Merah Putih semestinya kita malu menjadi Bangsa. Koruptor tidak akan melakukan korupsi jika mau bercermin pada pendiri Bangsa, pada sang saka Merah Putih.”

11. Cinta NKRI Setiap Saat “Cinta NKRI tidak hanya dilaksanakan pada 17 Agustus saja, melainkan setiap hari Senin dan upacara kebangsaan yang lain. Cinta kepada Bangsa selalu ditanamkan melalui pengibaran sang saka Merah Putih. Kalau kita tidak cinta pada NKRI, untuk apa kita harus melakukan upacara bendera, hormat kepada sang saka Merah Putih?”

12. Banyak Darah Mengucur di Merah Putih “Betapa pentingnya cinta tanah air, salah satu contohnya dengan menghormati Bendera Merah Putih. Meskipun jahit atau bikin merah putih itu gampang, namun banyak darah yang mengucur, banyak pengorbanan yang penuh rasa sakit demi menurunkan bendera Belanda dan menggantinya dengan Bendera Merah Putih. Sehingga sebagai anak Indonesia kita harus mempunyai penghormatan yang luar biasa kepada Merah Putih, harus menyucinya dan merawatnya dengan penuh perasaan cinta.”

13. Cinta Bangsa Melebihi Partai “Kecintaan pada partai jangan melebihi mata kaki. Kecintaan pada bangsa dan negara sampai ke leher. Kecintaan pada agama melebihi ujung kepala.”

14. Hasil Perjuangan Kiai “Yang memperjuangkan Bangsa ini adalah para ulama, kiai dan pejuang Muslim yang tak sempat dianugerahi bintang gerilnya. Maka jika ada kelompok-kelompok yang hendak menggerogoti kesatuan Bangsa ini, mereka adalah orang-orang yang tidak tahu sejarah. Wajib hukumnya bagi kita untuk menjaga keutuhan Negara ini dari rongrongan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.”

15. Potensi Indonesia Besar “Semangat nasionalisme sekarang ini semakin menurun. Itu terlihat dari sikap dan perilaku para elit, termasuk juga masyarakatnya yang tidak pernah rukun. Selalu ribut dalam perbedaan, khilafiyah. Segala sesuatu selalu dipolitisir dan dihubung-hubungkan, yang akhirnya hanya saling menyalahkan. Hingga akhirnya, Indonesia hanya dijadikan lintasan saja oleh bangsa lain. Saya tidak ingin masalah khilafiyah ini dibesar-besarkan, yang ujung-ujungnya hanya menjadikan Indonesia negara yang selalu jadi tontonan. Padahal Indonesia dengan segala potensinya, mampu menjadi negara yang besar dan disegani bangsa-bangsa lain. Ini menjadi salah satu tugas umat Islam agar Indonesia bisa maju dan sejajar dengan negara-negara lain.”

16. Memasang Gambar Pahlawan “Umat Islam seharusnya memasang gambar-gambar para pahlawan, khususnya pahlwan Islam, seperti Pangeran Diponegoro, juga gambar-gambar para wali, termasuk pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari. Hal ini agar setiap warga yang melihat gambar itu selalu terkenang dengan semangat para pahlawan yang ada di gambar itu. Semangat untuk membela negara, semangat untuk memerdekakan negara, semangat kepahlawanannya. Bukan bermaksud syirik maupun menyekutukan Tuhan dengan gambar-gambar itu, tetapi semangat yang dimiliki para pahlawan itu untuk dikenang dan diamalkan di zaman sekarang ini. Bahwa mereka yang sudah meninggal itu, ternyata masih memberikan semangat untuk membangun negara. Mereka yang sudah syahid, tidak tinggal diam untuk bangsa dan generasi penerusnya.”

17. Pancasila Melindungi Pluralitas “Pancasila mampu melindungi pluralitas yang ada, dan menjadi ideologi negara, maka Pancasila akan memperkokoh pertahanan nasional dan memperkokoh NKRI. Sebab Pancasila akan dimiliki semua pihak. Bila Pancasila itu tumbuh pada diri setiap anak bangsa dengan diperkokoh atau di beck-up oleh agamanya, maka kekuatan, kesatuan dan persatuan semakin erat terjalin dan tidak akan mudah digoyahkan. Karena Pancasila menjadi sebab tumbuhnya nasionalisme dan bebas dari kepentingan politik atau tidak akan menjadi bemper kepentingan politik. Sehingga tumbuh mekar secara murni kecintaan kepada agama, tanah air dan bangsa. Dari itu akan menjadi cermin bagi bangsa lain.”

18. Wujud Syukur “Nasionalisme secara filosofis sudah dicontohkan oleh para leluhur, para pendahulu bangsa semenjak penajajahan seperti sedekah bumi, sedekah laut, ‘terlepas dari persoalan syirik/musyrik’, karena saya tidak tahu hati orang. Sedekah bumi dan sedekah laut itu adalah wujud syukur atas bumi dan laut yang dianugerahkan kepada Bangsa Indonesia. Sedekah bumi itu sebagai bentuk handar beni, perasaan yang bukan saja memiliki tapi juga mencintai.”

20.  Menghormati Pemimpin
“Siapapun yang menjadi pemimpin bangsa, harus dihormati dan ditaati. Jika rakyat menghormati pemimpinnya maka Bangsa dan Negara ini akan kuat. Sebaliknya jika rakyat terus menerus mengkritik, mendemo, dll., pemimpinnya, maka kapan pemerintah akan bisa fokus bekerja. Saya tidak melarang ‘kritik’, akan tetapi salurkan kritik dan aspirasi itu pada saluran yang sudah disediakan pemerintah.”

21. Pentingnya Sosialisasi Ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah “Aliran-aliran di luar Ahlussunnah yang meresahkan, mereka adalah kelompok Islam yang menolak Pancasila dan menganggap pemerintah tidak sah. Untuk mengatasi kelompok Islam seperti ini perlu ditekankan pentingnya sosialisasi ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Jangan sampai anak seorang tokoh NU, menjadi anggota Islam radikal.”

Demikian, 21 pandangan Habib Lutfhi bin Yahya mengenai Nasionalisme dan Pancasila. Semoga bisa menjadi pelajaran dan renungan bersama bagi kita selaku bangsa Indonesia. Kalau tidak ikut ulama, mau ikut siapa? [dutaislam.com/pin]

Sumber :dutaislam.com
close
Banner iklan disini