Nabi Nuh Terus Menyesal setelah Mengatakan "Anjing ini Jelek"

Nabi Nuh Terus Menyesal setelah Mengatakan "Anjing ini Jelek"


ratapilah dirimu wahai orang melarat # kelak kau pun mati meski selama Nuh kau hidup

 Itulah sepenggal syair tentang terbatasnya umur, sepanjang umur Nabi Nuh pun.
Siapa yang tak kenal Nabi Nuh? Hal yang banyak dikisahkan tentang beliau adalah perihal usianya yang panjang, 950 tahun, dan dakwahnya yang tak kenal lelah. Siapa pula yang tak tahu tentang banjir bandang yang merata di berbagai daratan di muka bumi sehingga memusnahkan lebih dari separuh populasi makhluk hidup pada saat itu. Beliau mendapat mandat suci sebagai rasul pada saat beliau berusia 250 tahun, dan hidup selama 200 tahun setelah surutnya air bah.

Namun tidak banyak yang tahu bahwa, konon, nama asli beliau bukanlah ‘Nuh’, melainkan Abdul Ghoffar, ada pula yang menyebutkan bahwa nama beliau Yasykur. Sedangkan ‘Nuh’ hanyalah julukan bagi beliau, artinya orang yang meratap.

Nah, di sini kita akan mencoba memetik satu atau dua tangkai hikmah dari sebab mengapa beliau dijuluki dengan nama ‘Nuh’. Sehingga kita bisa melahap buah kebijaksanaan ini, kemudian menanam biji-bijinya, agar kebun hati kita rimbun dengan kerindangan hikmah yang menyejukkan.

~

Suatu ketika, dalam satu perjalanan, Abdul Ghoffar berpapasan dengan seekor anjing lusuh bermata empat dan begitu mengerikan. Melihat hal aneh dan jarang beliau temui ini, beliau bergumam;

“Wah, anjing ini begitu jelek.”

Sepertinya si anjing mendengar gumaman beliau, dia terus memandangi manusia di hadapannya itu dengan tatapan sinis. Sejurus kemudian, saat beliau hendak berlalu, tanpa diduga, si anjing menyeru;

“Hai Abdul Ghoffar! Siapa yang kau cela tadi? Ukirannya ataukah Pengukirnya??!”

Sang Nabi terkejut mendengar hardikan itu. Tanpa menunggu jawaban, si anjing melanjutkan;

“Jika yang kau cela adalah ukirannya, yakni aku, maka ketahuilah bahwa aku tak pernah meminta untuk diciptakan menjadi anjing seperti ini! Dan jika yang kau cela adalah Sang Pengukir, maka ketahuilah bahwa Dia melakukan apa yang Ia kehendaki dan tidak satu cela pun Ia punyai, ingat itu!”

Belum sempat Abdul Ghoffar berkata-kata, si anjing berlalu begitu saja, meninggalkan beliau yang masih terbelalak dan merenungkan setiap butir kata-katanya.

Beliau terus menerus memikirkan kata-kata si anjing, semakin lama semakin beliau pahami maknanya. Tetes demi tetes air mata membasahi pipinya, beliau menyesal dan meratapi kekeliruan ucapan dan anggapannya. Sejak itu, karena banyaknya meratapi kesalahan (Naaha – Yanuuhu), beliau dijuluki orang-orang sekitarnya dengan sebutan ‘Nuh’, sang peratap.

~

Jika direnungkan, memang benar teguran si anjing. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita pahami dari dialog menakjubkan ini.

Pertama, tidak ada yang jelek hakikidalam setiap ciptaan-Nya, semua mengandung hikmah, semua memiliki peran di dalam kewujudannya masing-masing di alam raya ini. Anggapan jelek atau buruk hanyalah hasil penangkapan indera dan penilaian akal yang berdasarkan pada pengalaman serta sudut pandang kita yang sempit. Sehingga bisa menggelincirkan kita untuk menjelek-jelekkan ciptaan-Nya. Adakah ciptaan Sang Pencipta yang benar-benar jelek pada hakikatnya? Ataukah kita yang belum mampu memahami makna di balik semua yang kita pandang dan dengar?

Jika yang kita hina adalah Penciptanya, yakni Allah Ta’ala, maka sesakti apa kita sehingga berani mencela Dia yang seratus persen berkuasa terhadap lahir batin kita? Mau kemana kita mengungsi jika Dia usir dari alam-Nya ini? Tidak ada ruang maupun waktu yang tidak bernaung di bawah kekuasaan dan pengaturan-Nya.

Jika yang kita jelek-jelekkan ciptaannya, misalnya anjing tadi, bukankah ia tercipta sedemikian itu bukan karena kehendak maupun permintaannya sendiri? Begitu pula dengan ciptaan-ciptaan-Nya yang sering kita anggap buruk yang lain. Toh tidak ada gunanya menghina suatu hal atau keadaan, sejelek apapun hal itu, semenyebalkan bagaimanapun suatu keadaan.

Bahkan Syaithan sekalipun, kita diwanti-wanti untuk waspada dan berlindung dari makarnya, bukan untuk dihina dan dijelek-jelekkan. Itupun yang kita hindari bukanlah zat Syaithan atau berbagai macam zat keburukan lain, melainkan tingkah laku dan pengaruh sifat buruklah yang kita hindari, bukan zatnya.

Jika kita tidak berhati-hati, justru bisa tumbuh bibit-bibit takabbur di dalam diri kita, padahal hal ini pulalah yang dahulu menggelincirkan Iblis dari posisi para malaikat yang mulia. Memang benar manusia disebutkan sebagai ‘Ahsanu Taqwim’, bentuk ciptaan yang terbaik, namun ingatkah kita bahwa ada berjuta kemungkinan pula bahwa sesosok manusia bisa terlena menjadi ‘Asfalu Saafiliin’, serendah-rendahnya para pecundang?

Dan bukankah gelar ‘Ahsanu Taqwim’ ini lebih cenderung mengesankan tanggung jawab yang kita emban selaku pemangku bentuk ciptaan yang terbaik, baik dari segi fisik maupun psikis? Bukan untuk diumbar secara ‘gumede’ sehingga memperlakukan makhluk lain secara sewenang-wenang.

~

Kedua, setiap manusia memiliki tingkatan spiritual yang berbeda-beda, tergantung kualitas jiwanya. Pengalaman batin orang semacam kita tentu berbeda dengan ketajaman jiwa para wali, apalagi para nabi dan rasul. Sama sekali tidak sama.

Suatu hal yang kita anggap sepele, kesalahan kecil, atau bahkan sama sekali bukan kesalahan di dalam pandangan kita, bisa jadi justru menimbulkan penyesalan yang dalam bagipara ‘arifin. Sebagaimana penyesalan dan taubat Nabi Adam setelah menikmati Buah Khuldi yang menyebabkan beliau turun ke bumi, padahal beliau memang sudah direncanakanakan menjadi khalifah di muka bumi jauh-jauh hari sebelum beliau diciptakan.

Atau taubat serta pengakuan dzalim Nabi Yunus ketika terperangkap dalam kelamnya perut ikan di kedalaman samudera, beliau beranggapan bahwa kepergian beliau meninggalkan kaumnya merupakan suatu bentuk keputusasaan yang perlu disesali dan ditaubati, padahal kita semua tahu bahwa beliau sudah berdakwah dengan gigih dan kaumnya memang keras kepala. Begitu pula dengan ratapan Nabi Nuh terhadap hinaan remeh beliau terhadap si anjing dalam kisah di atas.

Sebaliknya, masalah dan kesempitan hidup yang menurut kita begitu berat dan tak bisa ditanggung, sehingga menggelincirkan kita kepada kedurhakaan-kedurhakaan individual maupun sosial, justru men jadi batu asah bagi jiwa-jiwa para wali. Menjadi medan uji bagi spiritualitas manusia-manusia unggul yang mengantarkan mereka menuju derajat yang begitu tinggi dan begitu dekat di hadirat-Nya. Sehingga kita banyak mengenal para rasul dan nabi melalui kisah-kisah ketabahan dan kegigihan perjuangan hidupnya dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda.

Problem yang dihadapi pun beraneka rupa, mulai dari masalah kesehatan, penghidupan, skandal, fitnah, pembunuhan, pemerintahan, peperangan, keluarga, dan sebagainya. Mereka inilah yang akan menjadi hujjah bagi Allah di akhirat, ketika kita menjadikan segala masalah-masalah hidup kita sebagai alasan yang menghalangi pengabdian kita kepada-Nya.

Juga sebagai ibarat bagi kita bahwa perjalanan hidup ini tak lepas dari perjuangan dan keprihatinan, sehingga kita selangkah dua langkah berupaya meneladani sensitivitas jiwa para teladan ini. Karena sepandai apapun akal menganalisa, memprediksi dan merancang langkah hidup, tetap saja kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi esok, sehingga teladan dari para utusan adalah referensi terbaik bagi hidup kita.

Di akhir hayatnya, ketika disapa dengan salam oleh Malaikat Maut, Nabi Nuh menyahut,

“Siapa Engkau? Mengapa salammu begitu menggetarkan hatiku?”

“Aku Malaikat Maut. Mengapa kau mengeluh begitu saat kujemput? Tidakkah kau sudah kenyang hidup di dunia wahai manusia yang terpanjang umurnya?” jawab Sang Pencabut Nyawa.

 “Sesungguhnya aku mengenal kehidupan ini sebagai suatu tempat dengan dua pintu, aku masuk melalui satu pintu dan keluar dari pintu lain yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.” ujar Sang Nabi.

~

Betapa indah ibarat yang Allah tunjukkan kepada kita. Betapa sejuk tetes-tetes pemahaman yang Ia ajarkan kepada kita melalui para utusan dan kekasih-Nya, serta melalui lembaran-lembaran buku yang terhampar luas ini; segenap kejadian di semesta raya.

Setidaknya dahan-dahan hikmah ini bisa menaungi kita dari teriknya kegelisahan-kegelisahan hidup dan menyegarkan kembali hati yang hampir membusuk. Dengan tidak mencaci atau menghina apapun, dalam kondisi bagaimanapun.

“Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah; 269)

Syaikh Ihsan Al-Jampesi, Sirojut Tholibin, 2/409
Tuwel, 10/02/2013/AkhirMulud/1434

Sumber :muslimoderat.net
Ketika Driver Taksi Online Bertanya: Mbah Maimun Zubair Alirannya Apa?

Ketika Driver Taksi Online Bertanya: Mbah Maimun Zubair Alirannya Apa?


Pagi tadi saya menggunakan jasa Grabcar dari Hotel untuk mengantar ke Stasiun Tawang. Kaget juga karena pengemudinya ternyata seorang perempuan. 15 menit menunggu, mobil pun datang. Isteri saya mengambil posisi duduk di depan mengingat drivernya adalah perempuan.
Sebelum ke stasiun, atas permintaan istri, saya dan keluarga pun berputar haluan ke tempat oleh-oleh. Tiba di Pandanaran, isteri saya pun turun dan saya beserta anak-anak menunggu di dalam mobil.

Tiba-tiba, ibu driver Grab ini membuka obrolan.
Ibu Driver: " bapak dan keluarga dari mana?"
Saya pun menjawab, " oh dari Rembang bu."
Dia pun menimpali lagi: " asli dari Rembang ya pak?"
Saya: " oh bukan bu, saya dari Jakarta."

Serasa ingin tahu, Ibu driver ini bertanya lagi: " oh wisata ya pak di sana."
Saya: " ouh, ndak, saya ziarah ke guru saya, Mbah Kiai Maimun Zubair."
Mendengar nama Mbah Kiai, Ibu driver ini seperti kaget.

Dia : " bapak bisa bertemu Mbah Maimun?"
Saya pun heran mendengar nada bertanya ibu itu: " iya bu, memangnya kenapa?"
Dia: " kata orang, beliau susah ditemui."
Saya: " masak iya bu?"
Dia: " iya pak. Katanya kalau orang yang niatnya gak baik, susah menjumpai Mbah Maimun."
Saya: " wah kalau itu saya gak tahu ya bu. Tapi alhamdu lillah, dua kali saya silaturahim ke tempat beliau selalu diterima."

Dia: " oh, iya pak. Ngomong-ngomong Mbah Maimun itu Islamnya aliran apa ya?"
Saya: " Lho, memangnya di Islam itu ada aliran?"
Dia: " iya pak, kayak NU, Muhammadiyyah, Persis, Syiah. Nah, Mbah Maimun itu apa ya alirannya."
Saya: " Mbah Maimun itu ngikuti Rasulullah bu."

Memperhatikan gaya dia bertanya, saya pun langsung tebak beliau, " ibu ngaji salafi ya?" Dia pun tampak kaget dengan pertanyaan saya. Lalu dia jawab:
"iya pak. Kok bapak tahu?"
Saya: " kelihatan bu". Jawab saya sambil tertawa kecil.

Dia : " iya pak, meskipun saya ngaji salafi tapi ada beberapa aturan salafi yang saya terjang."
Saya: " Lho, memangnya ada aturan di pengajian salafi?"
Dia: " iya pak. Salah satunya larangan bawa mobil ini. Para ustadz salafi sudah peringatkan kalau perempuan haram membawa kendaraan."
Saya: " Lha, terus kenapa ibu terjang?"
Dia: " yah, habis kalau saya gak bawa grab begini, saya mau makan apa pak? Wong sekarang cari kerja itu susah."

Dia pun akhirnya menceritakan statusnya yang janda dan pengalaman bisnisnya yang selalu rugi. Sampai pada satu point, dia mengatakan:

"Para ustadz itu terkadang ngomongnya menggampangkan. 'Minta saja sama Allah pasti dikasih rejeki' padahal uang kan gak turun dari langit. Minta rejeki juga ada usahanya."

Saya pun menimpali : " iya bu. Para ulama salaf dulu juga gak kaku-kaku amat. Mereka itu orang yang moderat cara berpikirnya walaupun juga berhati-hati."

Ibu Driver: " saya itu ngaji salafi juga belum total banget pak."

Saya: " maksudnya belum total bagaimana bu?"

Dia: " itu pak, masih nonton tv dan bawa mobil ini. Kan ada itu pak ustad yang haramkan nonton TV bahkan mengharamkan nonton Rodja TV sekalipun."

Saya; " oh gitu ya bu?"

Tiba-tiba, dia mengalihkan pembicaraan tentang Prof. Quraish Shihab. Tuduhan Syiah dan sesat kepada orang alim itu meluncur tanpa kendali dari mulutnya. Sambil memperlihatkan video Prof. Quraish yang berbicara tentang Rasulullah tidak masuk surga, dia pun meminta opini saya. Ia juga bertanya kepada saya tentang Prof. Quraish dan puterinya yang tidak berjilbab.

Mendengar celotehan seperti itu, saya katakan:

"Maaf bu, saya tidak kenal Prof. Quraish Shihab dan beliau pun tidak kenal saya. Kalau saya berkomentar tentang beliau itu artinya saya sok tahu. Kalau saya ikut menceritakan kehidupan pribadi beliau dan keluarganya, itu namanya ghibah. Bukankah ghibah diharamkan di dalam Al-Qur'an?"
Dia pun terdiam tidak melanjutkan obrolan. Sementara itu anak sulung dan anak kedua saya terlihat menahan tawa menyaksikan obrolan tidak seimbang di dalam Grabcar itu.

Sebelum mengakhiri obrolan, saya katakan kepadanya, "semoga Allah memasukkan suami ibu ke dalam surga karena keshalehan yang ibu tunjukkan."

Dari mulutnya terdengar suara amin yang diiringi tangis kecil, sambil berucap, "terima kasih ya pak". [dutaislam.com/gg].

Sumber :dutaislam.com
Kisah Kehebatan Soekarno di Negeri Arab

Kisah Kehebatan Soekarno di Negeri Arab


Tidak ada yang memungkiri bahwa Soekarno adalah seorang pemimpin dan pemikir. Sebagai seorang pemimpin, Soekarno telah mampu menggerakkan jutaan masyarakat Indonesia pada saat itu untuk melawan penjajah dan membangun Indonesia yang merdeka. Soekarno juga adalah seorang pemikir.

Banyak gagasan-gagasan besar dan konsep-konsep dalam bernegara yang dicetuskan oleh Soekarno. Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, pemikiran-pemikiran soal revolusi, dan lainnya. Maka dari itu, banyak pemimpin dunia, termasuk Negara-negara Arab, yang kagum kepada Soekarno.

Kitab Al Audah ila Iktisyafi Tsauratina (Kitab Pemikiran Revolusi Presiden Soekarno) adalah salah satu pemikiran-pemikiran Soekarno dikaji dan dijadikan rujukan bagi masyarakat Arab. Kitab ini diterbitkan di Kairo pada 1959, dua tahun setelah diadakannya Konferensi Asia-Afrika di Bandung.

Pada saat ini, pemimpin terkuat di Negara-negara Timur Tengah adalah Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser. Ia didaulat sebagai pemimpin revolusi dunai Arab. Presiden Mesri tersebut sangat menghormati dan menjadikan Soekarno sebagai guru revolusinya. 

“Abdel Nasser menyatakan diri bahwa saya (Gamal Abdel Nasser) adalah murid ideologinya Soekarno,” Kata Direktur Islam Nusantara Center (INC) A Ginanjar Sya’ban.

Kitab Al Audah di atas adalah kumpulan pidato Soekarno yang disusun menjadi satu dan dibahasa Arabkan. Kitab tersebut diterbitkan atas perintah daripada Gamal Abdel Nasser.

Presiden Soekarno juga pernah diundang oleh Gamal Abdel Nasser untuk menyampaikan pidato dihadapan ribuan masyarakat Mesir di Aleksandria dalam rangka peringatan tiga tahun revolusi Mesir. Ribuan masyarakat Mesir berduyun-duyun dan meneriakkan nama Ahmad Soekarno manakala dia naik mobil bak terbuka dengan Gamal Abdel Nasser.

“Ahmad Soekarno, Pemimpin terkuat dan terbesar dari Timur Asia,” kata Ginanjar menirukan teriakan masyarakat Mesir.

Ketenaran nama Soekarno di negara-negara padang pasir tidak perlu diragukan lagi. Tidak sedikit nama jalan dan tempat di Negara-negara Arab tersebut yang menggunakan nama Ahmad Soekarno. Nama Ahmad Soekarno juga terukir di Ismailiyah, salah satu kota pelabuhan kecil di Mesir.

“Ada super market di sana, super market Ahmad Soekarno. Di Kota Kairo ada jalan namanya Ahmad Soekarno” cerita alumni Universitas Al Azhar Mesir itu.

Selain di Mesir, nama Soekarno juga dijadikan nama jalan di Maroko dan Pakistan. Di Rusia, nama Soekarno menjadi nama sebuah masjid. Sedangkan di Kuba, nama Soekarno diabadikan menjadi nama perangko.

Soekarno adalah eksportir ideologi. Istilah-istilah dan konsep revolusi yang dicetuskan oleh sang putera fajar tersebut dialih bahasakan menjadi Arab. Seperti Al Mabadi’ Al Khomsah (Pancasila), A Wihdah fi tanawwu’i (Bhinneka Tunggal Ika), Al Wathoniyah wa Diniyah wa Syuyu’iyah (Nasakom), Al Bayan Al Siyasi An Wihdah Al Isytirakiyyah wa Dimuqratiyyah (Manipol Usdek). Ideologi-ideologi tersebut dipelajari dan menjadi inspirasi masyarakat Arab. (Muchlishon Rochmat)

Sumber : nu.or.id
Maulid Disebut Bid'ah, 11 Komentar Ulama Ini Bisa Dijadikan Sanggahan

Maulid Disebut Bid'ah, 11 Komentar Ulama Ini Bisa Dijadikan Sanggahan


Di dalam kitab An-Ni’matul Kubra ‘alal ‘Alami fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami (909-974 H. / 1503-1566 M.) diterangkan tentang mengenai keutamaan-keutamaan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.  Penjelasan berdasarkan ungkapan para sahabat juga ulama-ulama Islam yang lahir kemudian.

Berikut ini 11 keutamaan maulid nabi tersebut:

1. Sayyiina Abu Bakar RA. berkata:

من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم كان رفيقي في الجنة

Barangsiapa membelanjakan satu  dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka ia akan menjadi temanku di surga.

2. Berkata Sayyidina Umar RA.

من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد أحيا الإسلام

“Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, maka sesungguhnya ia telah menghidupkan Islam.”

3. Berkata Sayyidina Utsman RA:

من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم فكأنما شهد غزوة بدر وحنين

“Barangsiapa membelanjakan satu dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka seakan-akan ia ikut-serta menyaksikan perang Badar dan Hunain.”

4. Sayyidina Ali RA. berkata:

من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم وكان سببا لقراءته لا يخرج من الدنيا إلا بالإيمان ويدخل الجنة بغير حساب

“Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, dan ia menjadi sebab dilaksanakannya pembacaan maulid Nabi, maka tidaklah ia keluar dari dunia melainkan dengan keimanan dan akan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.”

5. Imam Hasan Bashri RA. berkata:

وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا فأنفقته على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم

“Aku senang sekali seandainya aku memiliki emas sebesar gunung Uhud, maka aku akan membelanjakannya untuk kepentingan memperingati maulid Nabi SAW.”

6. Imam Junaed al-Baghdadi, semoga Allah membersihkan sir (rahasia)-nya, berkata:

من حضر مولد النبي صلى الله عليه وسلم وعظم قدره فقد فاز بالإيمان

“Barangsiapa menghadiri peringatan Maulid Nabi SAW dan mengagungkan derajat beliau, maka sesungguhnya ia akan memperoleh kebahagian dengan penuh keimanan.”

7. Imam Ma’ruf al-Karkhi, semoga Allah membersihkan sir (rahasia)-nya:

من هيأ طعاما لأجل قراءة مولد النبي صلى الله عليه و سلم و جمع اخوانا و أوقد سراجا و لبس جديدا و تبخر و تعطر تعظيما لمولد النبي صلى الله عليه و سلم حشره الله يوم القيامة مع الفرقة الأولى من النبيين و كان فى أعلى عليين

“Barangsiapa menyediakan makanan untuk pembacaan Maulid Nabi SAW, mengumpulkan saudara-saudaranya, menyalakan lampu, memakai pakaian yang baru, memasang harum-haruman dan memakai wangi-wangian karena mengagungkan kelahiran Nabi SAW, niscaya Allah akan mengumpulkannya pada hari kiamat bersama golongan orang-orang yang pertama di kalangan para nabi dan dia akan ditempatkan di syurga yang paling atas (‘Illiyyin).”

8. Imam Fakhruddin ar-Razi berkata:

: ما من شخص قرأ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على ملح أو بر أو شيئ أخر من المأكولات الا ظهرت فيه البركة و فى كل شيئ وصل اليه من ذلك المأكول فانه يضطرب و لا يستقر حتى يغفر الله لأكله وان قرئ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على ماء فمن شرب من ذلك الماء دخل قلبه ألف نور و رحمة و خرج منه ألف غل و علة و لا يموت ذلك القلب يوم تموت القلوب . و من قرأ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على دراهم مسكوكة فضة كانت أو ذهبا و خلط تلك الدراهم بغيرها و قعت فيها البركة و لا يفتقر صاحبها و لا تفرغ يده ببركة النبي صلى الله عليه و سلم

“Tidaklah seseorang yang membaca maulid Nabi saw. ke atas garam atau gandum atau makanan yang lain, melainkan akan tampak keberkatan padanya, dan setiap sesuatu yang sampai kepadanya (dimasuki) dari makanan tersebut, maka akan bergoncang dan tidak akan tetap sehingga Allah akan mengampuni orang yang memakannya"

"Dan sekirannya dibacakan maulid Nabi SAW.  ke atas air, maka orang yang meminum seteguk dari air tersebut akan masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, akan keluar daripadanya seribu sifat dengki dan penyakit dan tidak akan mati hati tersebut pada hari dimatikannya hati-hati itu"

"Dan barangsiapa yang membaca maulid Nabi saw. pada suatu dirham yang ditempa dengan perak atau emas dan dicampurkan dirham tersebut dengan yang lainnya, maka akan jatuh ke atas dirham tersebut keberkahan dan pemiliknya tidak akan fakir serta tidak akan kosong tangannya dengan keberkahan Nabi saw."

9. Imam Syafi’i, semoga Allah merahmatinya, berkata:

من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصادقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم

“Barangsiapa mengumpulkan saudara-saudaranya untuk mengadakan Maulid Nabi, kemudian menyediakan makanan dan tempat serta melakukan kebaikan untuk mereka, dan dia menjadi sebab atas dibacakannya Maulid Nabi SAW, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama golongan shiddiqin (orang-orang yang benar), syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan shalihin (orang-orang yang shaleh) dan dia akan dimasukkan ke dalam surga-surga Na’im.”

10. Imam Sirri Saqathi, semoga Allah membersihkan sir (bathin)-nya:

من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع الا لمحبة النبي صلى الله عليه و سلم . وقد قال صلى الله عليه و سلم : من أحبني كان معي فى الجنة

“Barangsiapa pergi ke suatu tempat yang dibacakan di dalamnya maulid Nabi saw, maka sesungguhnya ia telah pergi ke sebuah taman dari taman-taman syurga, karena tidaklah ia menuju ke tempat-tempat tersebut melainkan karena cintanya kepada Nabi saw. Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di dalam syurga.”

11. Imam Jalaluddin as-Suyuthi berkata:

مامن بيت أو مسجد أو محلة قرئ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا حفت الملائكة ذلك البيت أو المسجد أو المحلة وصلت الملائكة على أهل ذلك المكان وعمهم الله تعالى بالرحمة والرضوان
.
وأما المطوفون بالنور يعنى جبريل و ميكائيل و اسرافيل و عزرائيل عليهم الصلاة و السلام فانهم يصلون على من كان سببا لقراءة النبي صلى الله عليه و سلم. و قال أيضا: ما من مسلم قرأ فى بيته مولد النبي صلى الله عليه و سلم الا رفع الله سبحانه و تعالى القحط والوباء والحرق والغرق والأفات والبليات والبغض والحسد وعين السوء واللصوص من أهل ذلك البيت فاذا مات هون الله عليه جواب منكر ونكير ويكون فى مقعد صدق عند مليك مقتدر. فمن أراد تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم يكفيه هذا القدر. ومن لم يكن عنده تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم لو ملأت له الدنيا فى مدحه لم يحرك قلبه فى المحبة له صلى الله عليه وسلم.

“Tidak ada rumah atau masjid atau tempat yang di dalamnya dibacakan maulid Nabi SAW melainkan malaikat akan mengelilingi rumah atau masjid atau tempat itu, mereka akan memintakan ampunan untuk penghuni tempat itu, dan Allah akan melimpahkan rahmat dan keridhaan-Nya kepada mereka.”

"Adapun para malaikat yang dikelilingi dengan cahaya adalah malaikat Jibril, Mika’il, Israfil, dan Izra’il as. Karena, sesungguhnya mereka memintakan ampunan kepada Allah swt untuk mereka yang menjadi sebab dibacakannya pembacaan maulid Nabi saw. Dan, dia berkata pula: Tidak ada seorang muslimpun yang dibacakan di dalam rumahnya pembacaan maulid Nabi saw melainkan Allah swt menghilangkan kelaparan, wabah penyakit, kebakaran, tenggelam, bencana, malapetaka, kebencian, hasud, keburukan makhluk, dan pencuri dari penghuni rumah itu. Dan, apabila ia meninggal, maka Allah akan memudahkan jawabannya dari pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir dan dia akan berada di tempat duduknya yang benar di sisi penguasa yang berkuasa. Dan, barangsiapa ingin mengagungkan maulid Nabi saw, maka Allah akan mencukupkan derajat ini kepadanya. Dan, barangsiapa di sisinya tidak ada pengagungan terhadap maulid Nabi saw, seandainya penuh baginya dunia di dalam memuji kepadanya, maka Allah tidak akan menggerakkan hatinya di dalam kecintaannya terhadap Nabi SAW."

Jika ada kelompok yang masih bersikukuh menganggap bid'ah dan maulid Nabi dilarang untuk diperingati, 11 komentar para sahabat dan ulama diatas bisa jadi sanggahan. Karena senangnya kita akan lahirnya Nabi Muhammad, semoga kita mendapat berkah dan syafaat dari Nabi Muhammad SAW. [dutaislam.com/ed/pin]

Sumber: dutaislam.com
Ketika Khalifah Harun al-Rasyid Jenuh dengan Harta dan Tahta

Ketika Khalifah Harun al-Rasyid Jenuh dengan Harta dan Tahta


Adalah Khalifah Harun al-Rasyid seorang raja yang kekuasaannya sangat luas, meliputi berbagai negara. Ia dijuluki sebagai Amirul Mu’minin atau pemimpin bagi orang-orang mukmin. Sebagai seorang khalifah yang dihormati oleh seluruh dunia Islam pada masa itu, ia berusaha menjadi pemimpin yang baik, berwibawa dan mengayomi rakyatnya.

Kemajuan demi kemajuan terus diraih oleh negara yang dipimpinnya, sehingga masa keemasan dari daulat Abbasiyah yang dipimpinnya segera terwujud. Kemajuan dari berbagai bidang ilmu, pembangunan fisik dan mental, sarana jalan dan gedung-gedung bertingkat tumbuh dengan subur di tepi jalan-jalan protokol. Kemajuan kota Baghdad yang menjadi ibukota dari Daulat Abasiyah itu termasyhur ke berbagai negara, sehingga menimbulkan kekaguman yang luar biasa.

Meskipun demikian, sebagai seorang manusia biasa apalagi seorang muslim, Harun al-Rasyid sering melakukan perenungan tentang hakikat kehidupan. Ia sering merasakan kejenuhan dengan kekuasaan dan penghormatan terhadap dirinya. Pada suatu malam Khalifah memanggil pejabat kesayangannya bernama Fadhil al-Barmasid. Ia berkata padanya: “Bawalah aku pada seorang yang bisa menjelaskan siapa diriku yang sebenarnya. Hatiku mulai jenuh dan lelah karena kemewahan, tahta, penghormatan dan sanjungan orang lain.”

Al-Barmasid membawa khalifah ke rumah seorang ulama sufi bernama Sufyan al-Uyainah. Waktu rombongan tamu penting itu sampai ke rumah yang dituju, Sufyan merasa terkejut. Ia berkata: “Mengapa Amirul Mu’minin bersusah-susah datang kemari, padahal bila perlu tinggal memanggil saya datang ke istana, saya akan datang ke sana?”

”Bukan tipe ulama seperti itu yang kami cari,” jawab Amirul Mu’minin. “Ulama tipe penjilat seperti itu datang silih berganti ke istanaku setiap saat.” Selanjutnya Sofyan al-Uyainah mengatakan, “Kalau begitu maksudmu pergilah ke tempat Fudhail bin Iyadh.”

Al-Uyainah membacakan salah satu ayat Al-Qur’an yang dialamatkan kepada khalifahnya: “Apakah mereka yang berbuat keburukan itu mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu”  (Q.S. al-Jatsiyah: 20). Khalifah menanggapi ayat yang dibacakan Sufyan: “Sekiranya aku memerlukan nasihat yang baik, ayat itu cukup bagiku.” Rombongan khalifah kemudian pergi menuju rumah Fudhail bin Iyadh (W. 187 H).

Fudhail bin Iyadh adalah seorang sufi ‘allamah, perjalanan hidupnya amat tragis dan mengharukan. Ia pada mulanya seorang pemimpin perampok yang terus mengganggu ketentraman hidup di padang pasir dan mengusik para kafilah yang berlalu di daerah operasinya. Meskipun menjadi pemimpin para perampok, Fudhail sebenarnya adalah seorang pria yang berhati lembut, cerdas, kasih pada sesama. Ia tidak mau merampas harta milik kaum wanita atau anak-anak, juga tidak merampas harta milik seseorang sampai ludes, tetapi selalu disisakan untuk orang yang dirampasnya. Ia sewaktu-waktu berkhalwat, menyendiri untuk merenungi arti kehidupan yang dijalaninya.

Karena perjalan hidupnya yang tragis itu tidaklah mengherankan apabila perbuatan-perbuatan yang sangat berlawanan dilakukan olehnya. Perbuatan buruk dan perbuatan baik, tercela dan terpuji bercampur aduk dalam diri Fudhail, pemimpin perampok yang disegani itu. Ia berpakaian seperti layaknya seorang sufi, melakukan shalat dan puasa, dari yang wajib sampai yang sunnah.

Suatu saat kawanan perampok anak buah Fudhail menjegat dan merampas harta salah satu kafilah yang berlalu di daerahnya. Ketika kawanan perampok itu sedang makan-makan, berpesta menikmati hasil rampokannya, datang pada mereka seorang anggota kafilah yang dirampok itu dengan bertanya: “Siapa pemimpin kalian?”

Mereka menjawab: “Dia tidak ada di sini, ia berada di balik pohon di tepi sungai, sedang melaksanakan shalat.” “Tetapi sekarang bukan waktunya shalat,” tanya kafilah itu. “Ia melaksanakan shalat sunnah.”

Anggota kafilah itu bertanya lagi: “Mengapa ia tidak ikut makan bersamamu?” Dijawab oleh salah seorang di antara mereka: “Ia sedang berpuasa.” “Tetapi sekarang bukan bulan Ramadhan.” Dijawab lagi: “Ia sedang berpuasa sunnah.”

Dalam perjalanan hidupnya yang panjang terjadilah konversi yang dahsyat pada jiwa Fudhail putra Iyadh itu. Peristiwa konversi itu dimulai ketika ia sedang mencegat serombongan kafilah yang akan dirampoknya. Di antara anggota kafilah itu ada yang sedang berjalan sambil melantunkan ayat al-Qur’an dengan suara yang sangat merdu. Salah satu ayat yang dibacanya begitu mengena, menembus kalbu Fudhail, bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya: “Belum jugakah datang saatnya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (untuk mereka)...” (Q.S. al-Hadid, 57: 16).

Fudhail kemudian bertaubat dari segala dosa dan kesalahannya serta meninggalkan kehidupannya yang sangat kelabu dan kusam itu. Ia berkelana selama bertahun-tahun, berpindah dari satu daerah ke daerah lain, mencari orang-orang yang pernah dirampoknya untuk meminta maaf atas segala kesalahannya dan memohon keridhaannya. Ia menjalani kehidupan seperti ini dengan pengorbanan yang berat dan kesengsaraan yang tak terperikan, dalam rangka membersihkan dirinya dari noda dan dosa. Pimpinan perampok yang bertaubat itu juga meningkatkan segala amal dan ibadahnya, mempertajam kalbunya sehingga menjadi seorang sufi ‘allamah yang sangat terkenal pada masanya.

Katika Harun al-Rasyid dan rombongannya sampai ke rumah Fudhail ia meminta nasihat kepadanya tentang hakikat kehidupan. Fudhail memberikan nasihat yang sangat mendalam dan mengharukan, membuat mereka yang hadir berlinang air mata. Di antara nasihatnya, mengutip nasihat dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Fudhail berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, negara yang anda pimpin ini, ibarat satu keluarga besar. Para orang tua di antara rakyatmu adalah ayahmu. Kaum wanita adalah ibumu dan para remaja adalah anak-anakmu. Perlakukanlah mereka seperti ayahmu, ibumu, saudaramu dan anak-anakmu sendiri.”

Setelah selesai, Khalifah menghadiahkan kepadanya beberapa pundi uang dinar yang terbuat dari emas murni. “Ini adalah uang yang halal, warisan dari ibuku,” ujar Khalifah. Dengan tatapan mata yang tajam dan kharisma yang amat berwibawa, Fudhail menolak pemberian itu sambil berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, nasihat yang telah aku berikan tidak ada gunanya sama sekali, karena engkau memulai lagi dengan perbuatan dosa, melanjutkan ketidakadilan. Aku mengajakmu menuju keselamatan, tapi engkau menyeretku pada godaan duniawi.” Selanjutnya Fudhail menandaskan: “Kembalikan milikmu ini kepada mereka yang berhak, mengapa anda memberikan kepada orang yang tidak membutuhkannya.”

“Luar biasa orang ini,” kata Khalifah sambil beranjak meninggalkan rumah Fudhail. Dalam perjalanan kembali ke istana di Baghdad, Khalifah berkata: “Sebenarnya bukan aku yang menjadi raja, tetapi  Fudhail itulah raja yang sesungguhnya. Keangkuhannya begitu besar, kemewahan dunia amat rendah dalam pandangannya.” Tepat apa yang dikatakan Khalifah, “Raja yang sesungguhnya adalah mereka yang tidak terpukau oleh kemewahan duniawi. Mereka yang selalu tergiur oleh kemewahan dunia dan kelezatan sesaat yang menipu, bukanlah para raja. Mereka adalah budak-budak dunia.”


KH Zakky Mubarak, Rais Syuriyah PBNU

Sumber : nu.or.id
Ketahuilah, Ini 7 Ulama NU yang Telah Bergelar Pahlawan Nasional

Ketahuilah, Ini 7 Ulama NU yang Telah Bergelar Pahlawan Nasional


Ormas Islam terbesar Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) telah melahirkan para pejuang yang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Maka tak heran jika tokoh-tokohnya pantas pendapat gelar pahlawan nasional.

Meski para pahlawan dari NU dan pesantren terbilang banyak, namun hanya beberapa nama yang kemudian mendapat gelar Pahlawan Nasional. Berikut ini beberapa nama dengan riwayat sangat singkat tokoh-tokoh NU yang mendapat gelar pahlawan tersebut:

1. Hadratussyekh KH Hasyim Asyari Hadratussyekh KH Hasyim As’yari adalah tokoh utama dan pendiri dari Nahdatul Ulama. Ia merupakan satu-satunya penyandang gelar Rais Akbar NU hingga akhir hayatnya. Ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 17 November 1964 berkat jasanya yang berperan besar melawan penjajah. Salah satu di antara jasanya untuk negara ini adalah memutuskan NU untuk mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Tanggal tersebut kemudian dijadikan sebagai Hari Santri Nasional.

2. KH Abdul Wahid HasyimKH Abdul Wahid Hasyim adalah putra Hadratussyekh KH Hasyim As’yari dan ayah dari presiden keempat RI KH Abdurrahmann Wahid. Ia merupakan salah satu anggota Badan Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Ppanitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Di pondok pesantren Tebuireng ia mempelopori masuknya ilmu pengetahuan umum ke dunia pesantren. Ia  ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tanggal 17 November 1960.

3. KH Zainul Arifin KH Zainul Arifin, merupakan tokoh NU asal Sumatera Utara. Ia aktif di NU sejak muda. Di antara jasanya adalah pada pembentukan pasukan semi militer Hizbullah. Kemudian menjadi panglimanya. Ia pernah menjadi perdana menteri Indonesia, Ketua DPR-GR. Selain itu, beliau juga berjasa dalam menjadi anggota badan pekerja Komite Nasional Pusat. Pemerintah menetapkan dirinya sebagai pahlawan nasional pada 4 maret 1963.

4. KH Zainal Mustofa KH Zainal Mustofa merupakan tokoh NU dari Tasikmalaya, pernah menjadi salah seorang Wakil Rais Syuriyah. Ia salah seorang kiai yang secara terang-terangan melawan para penjajah Belanda. Ketika Belanda lengser dan diganti penjajag Jepang, KH Zainal Mustafa tetap menolak kehadiran mereka. Ia dan santrinya mengadakan perang dengan Jepang. Atas jasanya ia dianugerahi sebagai pahlawan nasional pada1972.

5. KH Idham ChalidIa pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua MPR dan Ketua DPR. Selain sebagai politikus, ia merupakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada tahun 1956-1984. Hingga saat ini ia merupakan ketum paling lama di ormas bentukan para kiai itu. Atas jasanya, ia ditetapkan sebagai pahlawan pada 8 November 2011. Kemudian pada 19 Desember 2016, Pemerintah mengabadikan beliau di pecahan uang kertas rupiah baru, pecahan Rp. 5.000,- .

6. KH Abdul Wahab ChasbullahKH Abdul Wahab Chasbullah merupakan Salah seorang pendiri NU. Sebelumnya, ia pendiri kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran), pendiri Madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Negeri), pendiri Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang). Sejak 1924, mengusulkan agar dibentuk perhimpunan ulama untuk melindungi kepentingan kaum tradisionalis. Usulannya terwujud dengan mendirikan NU pada 1926 bersama kiai-kiai lain. Ia juga salah seorang penggagas MIAI, pernah menjadi Rais ‘Aam PBNU. Kiai yang wafat pada 29 Desember 1971 itu mendapatkan gelar pahlawan pada 8 November 2014.

7. KH As’ad Syamsul Arifin KH As’ad Syamsul Arifin salah seorang kiai berperang melawan penjajah. Ia menjadi pemimpin para pejuang di Situbondo, Jember maupun Bondowoso, Jawa Timur. Di masa revolusi fisik, Kiai As'ad menjadi motor yang menggerakkan massa dalam pertempuran melawan penjajah pada 10 November 1945. Selepas kemerdekaan Kiai As'ad adalah penggerak ekonomi-sosial masyarakat. Ia menyerap aspirasi dari warga kemudian mendorong pemerintah daerah, menteri, maupun presiden guna mewujudkan pembangunan yang merata. Kiai As'ad juga berperan menjelaskan kedudukan Pancasila tidak akan mengganggu nilai-nilai keislaman. Atas jasa-jasanya, ia mendapat anugerah pahlawan pada 9 November 2016.


Itulah tujuh ulama NU yang saat ini sudah mendapat gelar pahlawan nasional [dutaislam.com/pin]

Sumber : dutaislam.com
Ketika Kiai Ma’shum Lasem Menangis di Buntet Pesantren

Ketika Kiai Ma’shum Lasem Menangis di Buntet Pesantren


Hari itu, para kiai, santri, dan masyarakat Buntet Pesantren telah bersiap menerima kedatangan tamu agung dari Rembang, Kiai Ma’sum Lasem.

Tiba di Buntet Pesantren, Kiai Ma’shum langsung disambut dengan shalawat yang dilantunkan oleh KH Fuad Hasyim, KH Busyrol Karim, dan dua qari internasional dari Buntet Pesantren, yakni KH Fuad Zen dan KH Jawahir Dahlan.

Lantunan merdu shalawat dari kitab al-Barzanji itu diiringi dengan tabuhan genjring oleh keempat kiai tersebut. Suara genjring yang berasal dari Palembang seketika membius Mbah Ma’shum.

Saat itu pula, Mbah Ma’shum menangis sembari ngendika (berucap), “Mboten. Mboten haram. Mboten haram (Tidak. Tidak haram. Tidak haram).”

Kiai Ma’shum konon pernah mengharamkan genjring karena beberapa hal. Tetapi, begitu melihat tabuhan genjring di Buntet, beliau langsung menarik pernyataannya.

Selain Mbah Ma’shum, beberapa ulama lain yang pernah datang ke Buntet Pesantren juga disambut dengan tabuhan genjring, seperti Musniduddunya Syaikh Yasin al-Fadani dan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hadis, Malang, al-Habib Abdullah Bafaqih. (Syakirnf/Kendi Setiawan)

Sumber : nu.or.id
Jarang Ziarah ke Makam Orang Tua? Kisah Ini Akan Membuat Anda Tercengang!

Jarang Ziarah ke Makam Orang Tua? Kisah Ini Akan Membuat Anda Tercengang!



Ini kisah persahabatan antara ‘Auf bin Malik al-Anshari dengan as-Sha’ab bin Jatstsamah al-Muhajiri. Saking akrabnya, keduanya saling bertutur, siapa yang meninggal duluan maka yang meninggal belakangan akan datang untuk menziarahi. Taqdirnya, as-Sha’ab bin Jatstsamah al-Muhajiri meninggal lebih dulu.

Berselang lama setelah kepergian ash-Sha’ab, ia hadir dalam mimpi Auf bin Malik. Kata ash-Sha’ab yang sudah meninggal, “Mengapa engkau terlambat?”

“Bukan kita yang menentukan segala sesuatu. Semuanya ada dalam Kekuasaan Allah Ta’ala. Jika Dia Menghendaki terlepas, maka terlepaslah. Dan jika Dia Menghendaki terbelenggu, maka terbelenggulah.” jawab ‘Auf bin Malik.

Kemudian, ‘Auf bin Malik bertanya kepada sahabatnya itu, “Apakah orang yang sudah meninggal dunia bisa merasakan kehadiran orang hidup yang menziarahinya?”

“Ya.” Jawab ash-Sha’ab, “Ini buktinya.” Ash-Sha’ab menunjukkan warna hitam di salah satu lututnya.

“Mengapa lututmu berwarna sehitam itu?” tanya ‘Auf bin Malik.

“Aku memiliki hutang sepuluh dinar kepada seorang Yahudi. Aku belum sempat membayar hutangku kepadanya.” tutur ash-Sha’ab.

“Apakah anakmu mengetahui hutangmu itu?” tanya ‘Auf bin Malik.

“Tidak ada yang mengetahuinya.” jawab ash-Sha’ab.

“Pergilah ke rumahku. Ambilkan uang yang aku simpan di dinding batu.” pungkas as-Sha’ab di dalam mimpi.

Tak lama setelah itu, ‘Auf bin Malik terbangun. Siang harinya, ia bergegas ke rumah sahabatnya itu, mencari dinding yang menggunakan batu, mengambil uang dan membayarkannya kepada si Yahudi. Jumlahnya persis sepuluh dinar.

Sesampainya ‘Auf bin Malik di rumah si Yahudi seraya membawa uang untuk melunasi hutang ash-Sha’ab, si Yahudi terbelalak. “Demi Zat yang mengutus Musa dengan kebenaran. Sungguh, tidak ada seorang pun yang mengetahui hal ini (kecuali aku dan ash-Sha’ab bin Jatstsamah).” ujar si Yahudi.

***

Kawan, apakah ada orang tua kita yang sudah meninggal dunia? Apakah ada sahabat dekat dalam iman yang sudah dipanggil Allah Ta’ala? Adakah guru, ustadz, kiyai, atau siapa pun-yang berjasa dalam hidup kita-yang lebih dulu menghadap Allah Ta’ala?

Jika sudah, seberapa sering kita mengunjunginya? Berapa kuantitas kita dalam menziarahinya? Jika tidak pernah apalagi anti-ziarah, kisah ini seharusnya menyadarkan Anda!

Wallahu a’lam.

Sumber :kisahikmah.com
Gus Dur Marah Saat Mengetahui Fakta Resolusi Jihad Sengaja Disembunyikan

Gus Dur Marah Saat Mengetahui Fakta Resolusi Jihad Sengaja Disembunyikan


Sebagaimana penjelasan Kiai Agus Sunyoto sebelumnya, ada usaha-usaha dari kalangan atas (orang berpendidikan tinggi hasil didikan Belanda) untuk menyembunyikan fakta sejarah bahwa fatwa dan resolusi jihad KH Hasyim Asy'ari pernah ada.

Awalnya tahun 1990, lanjut Kiai Agus,  waktu itu peringatan 45 tahun pertempuran 10 November. Dan dalam peringatan itu, yang menjadi pahlawan besar dalam pertempuran 10 November adalah golongan atas ini. "Orang terpelajar yang berpendidikan tinggi. Nama-nama mereka muncul. Saat itu tersebar di televisi, koran, majalah… memuat itu," beber Kiai Agus di gedung LBM Pondok Pesantren Lirboyo (03/11/2017).

Diceritakannya, Nyai Sholihah ibunya Gus Dur, waktu itu memanggil Gus Dur. Beliau Bertanya, “itu ceritanya 10 November… yang berjasa itu harusnya Kiai Hasyim Asy'ari dan para kiai. Kok bisa yang jadi pahlawan itu orang-orang sosialis?"

Dari situlah, kata Kiai Agus, Gus Dur diminta untuk klarifikasi. Lalu Gus Dur klarifikasi, menemui tokoh-tokoh tua (senior) di kalangan kelompok sosialis mengenai hari pahlawan 10 November. Ternyata jawabanya sederhana. Sambil ketawa-ketawa, mereka menjawab, "yang namanya sejarah dari dulu kan selalu berulang Gus.. bahwa sejarah sudah mencatat orang bodoh itu makanannya orang pintar. Yang berjasa orang bodoh yang jadi pahlawan orang pinter. Itu biasa.."

"Mendengar jawaban yang demikian, Gus Dur marah betul. Berarti mereka sampai tahun 90 masih nganggap NU bodoh," jelas Kiai Agus.

Untuk itulah, lanjutnya, tahun 91 Gus Dur melakukan kaderisasi besar-besaran anak muda NU. Anak-anak dilatih untuk mengenal analisis sosial (ansos) pertama kali. Teori-teori sosial diajarkan sama Gus Dur ke anak-anak. Filsafat, sejarah, geopolitik, geostrategi, apapun, diajarkan ke anak-anak supaya tidak lagi dianggap bodoh. Dan kemudian berkembang.

"Saya termasuk yang ikut pertama kali kaderisasi itu. karena itu agak faham," kata Kiai Agus. [dutaislam.com/gg]

Sumber : dutaislam.com

Merenungi 21 Dawuh Penting Habib Luthfi Soal Pancasila dan Nasionalisme

Merenungi 21 Dawuh Penting Habib Luthfi Soal Pancasila dan Nasionalisme


Banyak orang salah paham mengenai Pancasila dan Nasionalisme. Pancasila dan Nasionalisme dikira tak sesuai dengan Islam. Pemahaman ini kemudian melahirkan melahirkan sikap-sikap radikal seolah-olah Pancasila dan Nasionalisme adalah produk kafir dan negara Indonesia adalah negara thoghut.

Ironis memang ketika ada orang yang tak paham permasalahan dan tidak mengetahui betul esensi Islam dengan sesuka hati menuduh sana sini. Mereka merasa paling benar melampaui pandangan-pandangan ulama yang sudah lebih dulu belajar ilmu dan ngelotok bicara Islam dan esensinya bagi kehidupan manusia.

Soal Pancasila dan Nasionalisme, ulama sekaligus habib yang sudah tidak diragukan lagi keilmuannya, Habib Luthfi bin Yahya telah banyak menyinggungnya dalam berbagai kesempatan. Berikut 21 dawuh Habib Luthfi soal Nasionalisme dan Pancasila yang bisa menjadi renungan dan pelajaran: 

1. Bendera Merah Putih “Saya salut banyak bendera Merah-Putih. Tapi nanti tolong setelah selesai, jangan pernah ditumpuk atau dilempar di tanah. Kayunya silakan ditumpuk di tanah, kalau benderanya disampirkan di bahu baru ditata yang rapi. Sikap pada bendera itu bukan mengultuskan benda, melainkan bentuk penghormatan dan sikap cinta pada tanah air. Dalam Merah-Putih meski tidak ada tulisannya, tapi ada arti jati diri bangsa, itulah kehormatan bangsa. Kalau tidak kita sekalian yang menjaga, jangan salahkan orang lain kalau ada yang menghina. Jika bukan para warga Indonesia sendiri, siapa lagi yang menjaga dan menghormatinya?"

2. Cinta Tanah Air "Sikap cinta tanah air harus dibangun di semua lini. Pengucapan Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya tidak hanya saat kegiatan upacara resmi kenegaraan atau pemerintahan dan saat peringatan HUT RI 17 Agustus saja, namun harus dinyanyikan dalam setiap acara sosial dan keagamaan. Kalau hanya dikibarkan saat 17-an, bisa-bisa bangsa ini lupa pada negaranya sendiri. Ini penting sekali, kelihatannya enteng. Jangan main-main sama lagu kebangsaan. Timbulnya tidak ada rasa ‘handarbeni’ jadi penyebab merosotnya nasionalisme di kalangan anak muda."

3. Pancasila dan Agama "Dasar negara Indonesia yakni Pancasila dibuat memiliki keterkaitan dengan keagamaan. Makanya ada sila pertama, di belakang Pancasila ada kekuatan agama."

4. Pengaruh Cinta Tanah Air "Kecintaan terhadap tanah air akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Jika nasionalisme kita semakin melemah, jangan harap kita sebagai Muslim bisa menjawab tantangan umat dan tantangan bangsa."

5. Dalil Nasionalisme “Walau hanya sebutir pasir yang ada di atas tanah air ini akan kita jaga mati-matian. Kata siapa cinta tanah air atau nasionalisme tidak ada dalilnya? Nabi Saw. mengatakan, “Aku cinta Arab karena aku adalah bangsa Arab”. Ini contoh kongkrit kecintaan suatu bangsa pada tanah airnya. Cinta tanah air itu sebagai wujud syukur kepada Allah atas anugrah bumi pertiwi ini. Ulama adalah benteng ideologi, TNI-POLRI adalah benteng NKRI. Mari kita bersatu. Jangan goyahkan persatuan karena oknum kiai, TNI atau POLRI."

5. Pancasila Final “Salah satu pesan yang kita ingat dari peringatan Maulid Nabi adalah ajaran agar kita taat pada pemerintah. Bangsa lain fokus membangun kita masih memperdebatkan khilafiyah-khilafah. Pancasila sudah final. Boleh berdebat penafsirannya, tapi tidak boleh memperdebatkan butir-butirnya."

6. Menghormati Perbedaan “Muktamar NU di Situbondo sudah menegaskan Pancasila sebagai asas Negara dan Jam'iyah Thariqah menegaskan NKRI harga mati. Pendakwah dahulu begitu toleran menghormati perbedaan. Untuk itu Sunan Kudus enggan menyembelih sapi, karena menghormati tradisi non-Muslim. Bahkan bangunan Masjid Kudus mengakomodasi arsitektur non-Muslim yang berkembang pada waktu itu. Tidak anti dengan kebudayaan lokal. Simpatik."

7. Mengingat Merah Putih “Muslim itu harus seperti air laut, meskipun ratusan sungai mengalirkan air tawar, ia tetap asin dan tak pernah memaksa ikan di dalamnya menjadi asin. Ketika kita akan melakukan perbuatan tercela, ingat Merah-Putih, malu di dalamnya ada tumpah darah para pahlawan dan jati diri bangsa yang memiliki adat dan etika ketimuran."

8. Mengajarkan Kepada Anak "Ajak anak-anak kita ke makam para pahlawan. Anak-anak mengerti itu orang mati, tidak akan menyembahnya. Jelaskan, ini kopral 'ini' adalah pahlawan, makam itu adalah makamnya pahlawan tak dikenal. Kenalkan para pahlawan kepada anak-anak kita sejak dini agar mereka paham kemerdekaan ini bukan hadiah. Dan agar dalam diri anak-anak tumbuh kecintaan pada bangsa. Rasa cinta yang kuat pada bangsa ini lebih dahsyat dari nuklir sekalipun."

9. Bentuk Syukur “Bangga terhadap Indonesia bukan sombong, tapi rasa syukur pada Allah Swt. Hormat pada Merah Putih bukan syirik, tapi ungkapan rasa syukur pada Allah Swt. untuk memiliki Bangsa Indonesia.”

10. Malu Kepada Bendera “Bendera Merah Putih adalah harga diri Bangsa, kehormatan Bangsa. Jika kita mau bercermin kepada Bendera Merah Putih semestinya kita malu menjadi Bangsa. Koruptor tidak akan melakukan korupsi jika mau bercermin pada pendiri Bangsa, pada sang saka Merah Putih.”

11. Cinta NKRI Setiap Saat “Cinta NKRI tidak hanya dilaksanakan pada 17 Agustus saja, melainkan setiap hari Senin dan upacara kebangsaan yang lain. Cinta kepada Bangsa selalu ditanamkan melalui pengibaran sang saka Merah Putih. Kalau kita tidak cinta pada NKRI, untuk apa kita harus melakukan upacara bendera, hormat kepada sang saka Merah Putih?”

12. Banyak Darah Mengucur di Merah Putih “Betapa pentingnya cinta tanah air, salah satu contohnya dengan menghormati Bendera Merah Putih. Meskipun jahit atau bikin merah putih itu gampang, namun banyak darah yang mengucur, banyak pengorbanan yang penuh rasa sakit demi menurunkan bendera Belanda dan menggantinya dengan Bendera Merah Putih. Sehingga sebagai anak Indonesia kita harus mempunyai penghormatan yang luar biasa kepada Merah Putih, harus menyucinya dan merawatnya dengan penuh perasaan cinta.”

13. Cinta Bangsa Melebihi Partai “Kecintaan pada partai jangan melebihi mata kaki. Kecintaan pada bangsa dan negara sampai ke leher. Kecintaan pada agama melebihi ujung kepala.”

14. Hasil Perjuangan Kiai “Yang memperjuangkan Bangsa ini adalah para ulama, kiai dan pejuang Muslim yang tak sempat dianugerahi bintang gerilnya. Maka jika ada kelompok-kelompok yang hendak menggerogoti kesatuan Bangsa ini, mereka adalah orang-orang yang tidak tahu sejarah. Wajib hukumnya bagi kita untuk menjaga keutuhan Negara ini dari rongrongan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.”

15. Potensi Indonesia Besar “Semangat nasionalisme sekarang ini semakin menurun. Itu terlihat dari sikap dan perilaku para elit, termasuk juga masyarakatnya yang tidak pernah rukun. Selalu ribut dalam perbedaan, khilafiyah. Segala sesuatu selalu dipolitisir dan dihubung-hubungkan, yang akhirnya hanya saling menyalahkan. Hingga akhirnya, Indonesia hanya dijadikan lintasan saja oleh bangsa lain. Saya tidak ingin masalah khilafiyah ini dibesar-besarkan, yang ujung-ujungnya hanya menjadikan Indonesia negara yang selalu jadi tontonan. Padahal Indonesia dengan segala potensinya, mampu menjadi negara yang besar dan disegani bangsa-bangsa lain. Ini menjadi salah satu tugas umat Islam agar Indonesia bisa maju dan sejajar dengan negara-negara lain.”

16. Memasang Gambar Pahlawan “Umat Islam seharusnya memasang gambar-gambar para pahlawan, khususnya pahlwan Islam, seperti Pangeran Diponegoro, juga gambar-gambar para wali, termasuk pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari. Hal ini agar setiap warga yang melihat gambar itu selalu terkenang dengan semangat para pahlawan yang ada di gambar itu. Semangat untuk membela negara, semangat untuk memerdekakan negara, semangat kepahlawanannya. Bukan bermaksud syirik maupun menyekutukan Tuhan dengan gambar-gambar itu, tetapi semangat yang dimiliki para pahlawan itu untuk dikenang dan diamalkan di zaman sekarang ini. Bahwa mereka yang sudah meninggal itu, ternyata masih memberikan semangat untuk membangun negara. Mereka yang sudah syahid, tidak tinggal diam untuk bangsa dan generasi penerusnya.”

17. Pancasila Melindungi Pluralitas “Pancasila mampu melindungi pluralitas yang ada, dan menjadi ideologi negara, maka Pancasila akan memperkokoh pertahanan nasional dan memperkokoh NKRI. Sebab Pancasila akan dimiliki semua pihak. Bila Pancasila itu tumbuh pada diri setiap anak bangsa dengan diperkokoh atau di beck-up oleh agamanya, maka kekuatan, kesatuan dan persatuan semakin erat terjalin dan tidak akan mudah digoyahkan. Karena Pancasila menjadi sebab tumbuhnya nasionalisme dan bebas dari kepentingan politik atau tidak akan menjadi bemper kepentingan politik. Sehingga tumbuh mekar secara murni kecintaan kepada agama, tanah air dan bangsa. Dari itu akan menjadi cermin bagi bangsa lain.”

18. Wujud Syukur “Nasionalisme secara filosofis sudah dicontohkan oleh para leluhur, para pendahulu bangsa semenjak penajajahan seperti sedekah bumi, sedekah laut, ‘terlepas dari persoalan syirik/musyrik’, karena saya tidak tahu hati orang. Sedekah bumi dan sedekah laut itu adalah wujud syukur atas bumi dan laut yang dianugerahkan kepada Bangsa Indonesia. Sedekah bumi itu sebagai bentuk handar beni, perasaan yang bukan saja memiliki tapi juga mencintai.”

20.  Menghormati Pemimpin
“Siapapun yang menjadi pemimpin bangsa, harus dihormati dan ditaati. Jika rakyat menghormati pemimpinnya maka Bangsa dan Negara ini akan kuat. Sebaliknya jika rakyat terus menerus mengkritik, mendemo, dll., pemimpinnya, maka kapan pemerintah akan bisa fokus bekerja. Saya tidak melarang ‘kritik’, akan tetapi salurkan kritik dan aspirasi itu pada saluran yang sudah disediakan pemerintah.”

21. Pentingnya Sosialisasi Ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah “Aliran-aliran di luar Ahlussunnah yang meresahkan, mereka adalah kelompok Islam yang menolak Pancasila dan menganggap pemerintah tidak sah. Untuk mengatasi kelompok Islam seperti ini perlu ditekankan pentingnya sosialisasi ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Jangan sampai anak seorang tokoh NU, menjadi anggota Islam radikal.”

Demikian, 21 pandangan Habib Lutfhi bin Yahya mengenai Nasionalisme dan Pancasila. Semoga bisa menjadi pelajaran dan renungan bersama bagi kita selaku bangsa Indonesia. Kalau tidak ikut ulama, mau ikut siapa? [dutaislam.com/pin]

Sumber :dutaislam.com
Rahasia Kemuliaan KH Maimoen Zubair yang Jarang Diketahui Publik

Rahasia Kemuliaan KH Maimoen Zubair yang Jarang Diketahui Publik


Nama besar Kiyai Haji Maimoen Zubair menggema di negeri mayoritas Muslim hingga manca negara. Ialah salah satu ulama kharismatik milik umat Islam yang masih dikarunia umur panjang dan berkah dari Allah Ta’ala hingga kini dan nanti. Semoga.

Meski belum sempat bertemu dengan sosok yang juga diberi amanah sebagai dewan syuro sebuah partai Islam, penulis senantiasa merasa haru dan menunduk saat melihat foto beliau di banyak laman maya atau nyata. Nasihatnya amat aplikatif. Bisa digunakan di berbagai konteks kehidupan dalam bermasyarakat.

Banyak hikmah dari sosok yang secara fisik terlihat tua dan sedikit daya ini. Ialah hikmah yang memancar dan benar-benar memberi semangat kepada siapa yang mau memanfaatkannya.

Kiyai Haji Maimoen Zubair, sebagaimana dikisahkan oleh Ustadz Salim A Fillah dalam laman resmi facebook-nya, merupakan sosok yang sangat tawadhu’. Rendah hati. Persis seperti padi yang semakin menunduk karena isinya penuh.

Kerendahhatian ini benar-benar diwariskan sangat sempurna kepada seluruh anak-anak beliau. Bukan sekadar kata. Tidak hanya kisah tanpa bukti.

Lantas, apa rahasianya? Rupanya, ada rahasia yang jarang diketahui oleh publik terkait hal ini.

“Syaikhana Maimoen Zubair yang kita kenal,” tutur Ustadz Salim A Fillah yang juga penulis Lapis-Lapis Keberkahan, “adalah yang memisah-misah uang di rumahnya. Yang berasal dari ilmu kembali ke ilmu. Yang datang melalui dakwah maka kembali ke dakwah. Yang dari siyasah (politik) hanya terguna untuk hajat siyasiyah.”

Lalu untuk keluarganya, beliau hanya memanfaatkan satu sumber yang benar-benar beliau usahakan sebagai nafkah. “Dan nafkah bagi keluarga benar-benar murni hanya diambilkan dari pendapatan petak sawahnya.” pungkas dai muda asal Kota Gudeg ini.

Dalam tulisan tersebut, Salim A Fillah juga menyampaikan beberapa nasihat mulia dari sang kiyai. Di antaranya adalah pentingnya mengajar mengaji dan bertawakkal kepada Allah Ta’ala.

Menurut beliau, mengajar mengaji jauh lebih penting dari membangun pondok pesantren. Bahkan, jika para santri memang membutuhkan menginap untuk menuntut ilmu di rumah kita, Allah Ta’ala pasti telah menyiapkan sarana sehingga memudahkan jalan keterwujudannya.

“Ya Allah, kami jauh dari amal wara’ seorang ayah seperti Syaikhana Maimoen Zubair. Tapi betapa kami berharap memiliki anak-anak shalih, pengkhidmah ilmu, dan pendekar dakwah. Andai bukan karena Engkaulah tempat kami berharap, niscaya putuslah segala asa. Tapi Ya Rabbana, kami memohon pada-Mu dan takkan kecewa siapapun yang sandarannya hanya Engkau.” tutup Salim A Fillah.

Semoga Allah Ta’ala kuatkan kita untuk meneladaninya. Aamiin.

Wallahu a’lam.

Sumber : kisahikmah.com
Didukung kiai maju Pilgub Jatim, Khofifah terkenang pesan Gus Dur

Didukung kiai maju Pilgub Jatim, Khofifah terkenang pesan Gus Dur


Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa, makin mantap melangkahkan kaki di Pilgub Jawa Timur. Apalagi setelah Pengasuh Pondok Pesantren Amantul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim, menyerukan pada warga Surabaya, masyarakat Jawa Timur untuk memilih Khofifah Indar Parawansa di Pemilihan Umum Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018.

Dukungan tanpa melihat latar belakang apapun, baik itu dari PDI Perjuangan, atau PKB ataupun dari partai lain, hukumnya fardhu ain.

"Tolong dicatat dengan baik, bapak dan ibu-ibu. Karena untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur adalah fardhu ain, sekarang ini ada sarananya yaitu menjadikan Bu Khofifah Indar Parawansa menjadi Gubernur Jawa Timur," kata Asep Saifuddin Chalim, dalam acara Istigasah yang digelar di tempatnya Jalan Siwalankerto, Minggu (5/11).

Dia menilai, sosok Khofifah sangat cocok memimpin Jawa Timur. Apa yang dikatakan Khofifah dinilai selalu jujur dan benar.

"Sekarang ini sudah terlihat jelas, terang benderang. Kalau Bu Khofifah menjadi memimpin Jawa Timur akan membawa keadilan dan kemakmuran," kata pria yang akrab dipanggil Kyai Usep.

Alasan lainnya, Khofifah sosok yang selalu lugas dan perkataannya mudah dimengerti serta memiliki gagasan juga berwawasan. Begitulah yang tercermin dalam pidatonya.

"Ini kan jelas, cerdas, Bu Khofifah itu pandai menyampaikan segala sesuatu yang bisa mampu mewujudkan adil dan makmur," ujarnya.

Dalam kesempatan yang, Khofifah yang hadir dalam Istigasah itu juga meminta restu pada kiai untuk dimudahkan langkahnya menuju Pilgub Jatim.

"Poro kyai nyuwon pangestu panjenengan, dalem poro sedanten warga muslimat nyuwon keiklasan panjenengan," kata Khofifah Indar Parawansa.

"Berjuang kembali, dan ingat pesan Gus Dur ternyata perjuangan itu butuh pengorbanan, dan insha allah pengorbanan itu besar pahalanya. Nyuwon pangestu nderek proses pencalonan Gubernur Jawa Timur yang dilaksanakan bulan Juni 2018 akan datang," kata Khofifah lagi. [lia]

Sumber : merdeka.com
Ademnya, Ketika 3 Ulama Ini Selfie Bareng, Apalagi Semua ya?

Ademnya, Ketika 3 Ulama Ini Selfie Bareng, Apalagi Semua ya?


Momen pernikahan putri Presiden Jokowi Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution Rabu (8/11) lalu menarik perhatian masyarakat. Banyak momen terekam, beredar dan menjadi perbincangan di media sosial.

Tak kalah menarik dan menjadi perhatian netizen, sebuah foto selfie tiga ulama sepuh yang wejangan-wejangannya selalu menyejukkan. Yakni, KH. Maemoen Zubair, Habib Luthfi Yahya, dan KH Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus.

Tiga ulama panutan itu selfie bareng dengan senyum tulus di sela-sela-sela acara pernikahan putri orang nomor satu di Indonesia. Foto itu beredar di medsos dan mendapat banyak pujian dan sanjungan. Ademnyaa..

Ada yang memuji kehadiran para ulama dipernikahan itu menambah adem suasana dan membawa keberkahan. Ada juga yang menyebut kekinian: 'ulama zaman now'. Meski tidak lagi muda, para ulama tetap mengikuti perkembangan zaman dengan momen selfie.

Foto tiga ulama yang viral itu mulanya diunggah akun Instagram @s.kakung alias Simbah Kakung Gus Mus. Dari foto itu memang terlihat bahwa Gus yang memegang kamera kemudian foto selfia bersma. Foto telah mendapat lebih dari 15 ribu like ratusan komentar.

"Bersyukurlah ditakdirkan menjadi orang beragama dan beriman. Beragamalah dengan gembira," tulis Gus Mus disertai emoticon senyum di unggahan foto tersebut.

Gus Mus memang seorang tokoh Nahdlatul Ulama yang kekinian. Dia aktif di media sosial, seperti Facebook, Twitter, hingga Instagram. Lewat akun Twitter-nya @gusmusgusmu rutin mencuitkan kata-kata atau ayat suci Al-Quran yang 'bikin adem'.

Adem banget ya, apalagi semua ulama begitu. Subhanallah! Damailah Indonesiaku.[dutaislam.com/pin]

Sumber :dutaislam.com
Rahasia Sujud Ketika Shalat, Mengagumkan!

Rahasia Sujud Ketika Shalat, Mengagumkan!


Sujud melibatkan 5 anggota badan yang bertumpu pada bumi yaitu: dahi, hidung, kedua telapak tangan, lutut dan kedua ujung jari kaki.

Sujud adalah konsep merendahkan diri, memuji Allah dan meminta segala macam permintaan kepada Allah. Ia sekaligus mengikis sifat sombong, riya', takabur, dan lain-lain.

Dibalik itu sujud ternyata memiliki manfaat yang besar khususnya dalam kesehatan. Dr Fidelma O'Leary, Phd Neuroscience dari St Edward'sUniversity menjadi mu'allaf karena mendapati fakta manfaat sujud bagi kesehatan yang cukup mengagumkan.

Dalam kajiannya ditemukan bahwa ada beberapa urat syaraf di dalam otak manusia yang tidak dimasuki darah dan urat ternyata baru bisa dimasuki darah ketika manusia bersujud.
Tetapi urat saraf ini hanya memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu. Yakni pada waktu-waktu sholat yang telah ditetapkan Islam (shubuh, dzuhur, 'ashar, maghrib, Isya').

Jadi, siapa yang tidak sholat maka urat ini tidak menerima darah sehingga otaknya tidak berfungsi secara normal. Salah satu indikasinya adalah timbul macam-macam gejala sosial di masyarakat. Itu sebabnya barangkali Al Quran mengatakan bahwa shalat dapat mencegah perbuatan yang mungkar.
Letak otak di atas jantung. Prof Hembing mengatakan, jantung hanya mampu membekalkan 20% darah ke otak manusia. Maka dibantu dengan sujud yang lebih lama agar menambah kekuatan aliran darah ke otak.

Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan Rasulullah bahwa kita dianjurkan agar sujud berlama-lama pada raka'at terakhir.

Selama ini manfaat sujud berlama-lama untuk menolak pening, migren, menyegarkan otak, menajamkan akal pikiran (peka), melegakan sistem pernapasan, membetulkan pundi peranakan yang jatuh, memperbaiki kedudukan bayi sungsang, dll.

Dan yang menakjubkan ternyata bentuk saraf yang ada dalam otak seperti orang yang bersujud. Silahkan diperhatikan dan direnungkan, betapa tuhan telah menunjukkan kekuasaannya dengan tanda-tanda. Dan hanya bisa diketahui oleh orang yang berpikir. [dutaislam.com/ed/pin]

Sumber :dutaislam.com
Dikira Pemabuk, Laki-laki Ini Mendapatkan Salam dari Rasulullah

Dikira Pemabuk, Laki-laki Ini Mendapatkan Salam dari Rasulullah


Dikisahkan oleh Ustadz Salim A Fillah dalam Rihlah Dakwah, Imam Abu Yazid al-Busthami bermimpi bertemu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Manusia paling mulia itu menyampaikan sebuah pesan agar Imam Abu Yazid al-Busthami menyampaikan salam ke seorang laki-laki. Sebut saja namanya Fulan.

Sang Imam bergegas. Sesampainya di lokasi dan menanyakan perihal si Fulan, orang-orang saling mengernyitkan dahi.

“Tuan tidak usah menemui dia. Kemuliaan Tuan tidak layak jika disandingkan dengan perangainya.” tukas orang-orang, hampir seluruhnya, sekampung itu.

Oleh karena keterangan tersebut, sang Imam memilih menuju masjid. Beliau menyibukkan diri untuk i’tikaf; mengisi waktu dengan shalat, dzikir, membaca al-Qur’an, dan ibadah-ibadah lainnya hingga tertidur.

Di dalam tidurnya, sang Imam kembali bermimpi bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Manusia teladan ini mengingatkan agar Imam Abu Yazid segera menemui si Fulan guna menyampaikan salam. Imam Abu Yazid pun terbangun.

Keesokan harinya, niat sang Imam urung dilakukan lantaran kembali mendapati komentar orang-orang terkait kepribadian si Fulan. Kata mereka, “Dia hanya menghabiskan waktu di kafe minuman keras. Tuan tidak layak mendatangi dan berkumpul dengannya.”

Imam Abu Yazid mundur. Lantas kembali menuju masjid hingga malam hari dan kembali tertidur.

Untuk ketiga kalinya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam kembali menemui Imam Abu Yazid. Kali ini, sang manusia teladan berkata dengan keras, “Jika esok salamku tidak kausampaikan, kau tidak akan bersamaku di akhirat.”

Sang Imam terperanjak. Keringatnya mengucur deras. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ketakutan.

Esoknya, sang Imam mengumpulkan keberanian agar malamnya bisa menemui si laki-laki. Seraya mengendap-endap, Abu Yazid mendatangi kafe tempat si Fulan ‘mangkal’. Saat baru masuk, nurani Abu Yazid berontak. Dia segera membalikkan badan.

“Hai, Abu Yazid!” seru sebuah suara, dari dalam kafe.

Rupanya, panggilan tersebut berasal dari si Fulan. Abu Yazid pun menghentikan langkahnya.

Si laki-laki mendatangi Imam Abu Yazid, lantas berkata, “Kamu membawa titipan untukku?”

“Iya,” jawab Abu Yazid, “salam dari Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wa sallam.”

“’Alaika wa ‘alaihis salam,” jawab si Fulan.

“Begini,” tutur si Fulan sembari menunjuk delapan orang di dalam kafe yang sedang mengonsumsi khamr, “kedatanganmu berarti tugasku sudah selesai. Mereka, awalnya berjumlah empat puluh. Sekarang tinggal delapan orang. Ini bagian untukmu.”

Si Fulan pun berlalu pergi. Amanah dakwah di kafe minuman keras telah diestafetkan kepada Imam Abu Yazid Rahimahullahu Ta’ala.

Meski kisah ini banyak dipertanyakan oleh beberapa kalangan kaum Muslimin terkait sanadnya, ada hikmah agung di baliknya. Banyak di antara kita yang lebih melihat tampilan luar, padahal di dalamnya terdapat kemuliaan.

Laki-laki tanpa nama ini, misalnya mendapatkan salam dari baginda Nabi. Padahal orang-orang mengenalnya sebagai tukang mabuk.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Sumber :kisahikmah.com
Tiga Pesan Rasulullah kepada Para Orang Tua Agar Anaknya Sukses

Tiga Pesan Rasulullah kepada Para Orang Tua Agar Anaknya Sukses


Dalam dunia pesantren, sudah sejatinya orang tua menitipkan anaknya (santri) kepada guru (kiai) untuk nantinya dididik dan dibimbing di lingkungan pesantren. Kewajiban mendidik anak sendiri, sebenarnya merupakan kewajiban orang tua untuk menunaikannya.

Hal itu sebagaimana disampaikan Nabi Muhammad SAW, bahwa kewajiban orang tua kepada anaknya adalah bagaimana mendidik anak-anak sebaik mungkin, antara lain dengan mendidik untuk menumbuhkan mahabbah (cinta) kepada Nabi, kepada keluarga Nabi, dan mencintai al-Quran.

Pertama, hubbu rasulillah. Yaitu kewajiban mendidik santri untuk cinta kepada Nabi Muhammad. Ini sulit dilakukan. Mengapa? Karena Rasulullah sudah wafat. Bagaimana bisa mahabbah kepada seseorang jikalau tidak pernah bertemu? Padahal, umumnya munculnya rasa mahabbah (cinta) itu karena sering bertemu. Pepatah jawa mengatakan, “witing tresna jalaran saking kulina”.

Namun guru harus memperhatikan (mendidik) santri agar dalam sanubarinya, muncul rasa mahabbah. Sebab, Rasulullah adalah pembawa risalah untuk umat manusia, yang diutus oleh Allah SWT. Bagaimana umat menerima syariat Islam jika tidak suka dengan Nabi?

Nah, ini yang harus diinternalisasikan kepada para santri, yaitu menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi. Agar apa yang diturunkan Allah kepada Nabi, melalui guru kemudian di-transfer kepada para santri.

Cara yang bisa diterapkan, yaitu dengan sering membaca shalawat, membaca sirah nabawi, membaca al-barzanji dan dziba’, maulid Nabi, dan lain sebagainya. Contoh kecil, ketika selesai membaca al-barzanji, bacakan juga artinya, supaya santri mengetahui maknanya dan paham apa yang dibaca, sehingga menimbulkan rasa cinta kepada Rasul.

Santri memang harus serbabisa, karena arti santri sendiri adalah (biSA dipiNTeRi). Jika sudah tahu, maka berkewajiban untuk menyampaikan, melalui media dakwah (khitabah). Dengan kata lain, sejatinya santri harus melatih dirinya untuk bisa menguasai apapun.

Kedua, hubbi ahlii baitihi. Yakni mencintai keluarga Rasulullah. Pengertian ahli bait (keluarga) ini ada dua, keluarga dekat dan keluarga jauh. Keluarga dekat adalah keluarga satu rumah seperti ibu, ayah, anak, kakek, nenek, menantu, dan mertua.

Sedang saudara jauh, yaitu semua umat islam adalah saudara. Maka kita diperintahkan untuk memupuk mahabbah kepada keluarga dekat maupun jauh. Tujuannya, agar bisa saling menyintai sesama umat Islam.

Sekarang ini, banyak terjadi perselisihan di antara umat Islam. Beda partai berseteru. Beda organisasi saling mencaci. Menebar kebecian sesama. Dan yang paling ekstrem, yaitu masalah mastna wa tsulasa wa ruba’ (poligami); suami istri saling membenci, padahal mestinya saling menyangi.

Ketiga, tilawatil Quran. Yaitu mengajari anak membaca (dan memahami kandungan) al-Quran. Kenapa al-Quran? Kenapa Rasulullah tidak menyuruh untuk mempelajari ilmu hukum, ilmu teknik, ilmu ekonomi, dan sebagainya? Karena semua ilmu ada di dalam al-Quran.

Pada hakikatnya, semua ilmu ada (terkandung) di dalam al-Quran, hanya saja banyak orang tidak memahaminya. Padahal ada cara untuk memahaminya: mula-mula membaca al-Quran dengan tarlil, memperhatikan tajwidnya, ghunnah, mad, dll, termasuk juga tata cara dan adab membaca al-Quran dan hormat kepada guru. Kemudian tingkatkan dengan memahami kandungan ayat dengan mempelajari ilmu fikih, tauhid, akhlak. Setelah itu tadabbur al-Quran.

Dengan tadabbur al-Quran, akan diketahui apa (makna) yang terkandung dalam al-Quran. Di mana inti dari semua itu adalah menjalankan perintah Allah SWT., baik itu sunnah atau wajib, dan menjauhi larangan Allah baik makruh atau haram. Ini yang disebut dengan takwa.

Ada pahala dari setiap ayat-ayat al-Quran yang kita baca. Setiap hurufnya berpahala 10 kebaikan. Padahal sehari minimal kita membaca surat al-Fatihah sebanyak 17 kali. Janji Allah SWT.,  ‘’Barang siapa yang mengajarkan al-Quran dan kemudian (murid) belajar dan mengajarkan al-Quran kembali, maka dijamin akan terbebas dari api neraka’’.

Sungguh betapa besar anugerah al-Quran ini. Mari kita semua selalu membaca, memahami, dan senantiasa melakukan tadabbur al-Quran, supaya senantiasa mendapatkan barakah dari al-Qur’an. Allahuma irhamna bil Quran. [dutaislam.com/gg]

Sumber : dutaislam.com
5 Pesan Ulama NU yang Perlu Jadi Renungan Warga Nahdliyin Masa Kini

5 Pesan Ulama NU yang Perlu Jadi Renungan Warga Nahdliyin Masa Kini


Warga Nahdliyin harus paham Nahdlatul Ulama (NU). Mengaku NU namun tidak paham hakikat NU yang sesungguhnya maka ke-NU-annya tidak sempurna. Bisa-bisa akan salah paham terhadap NU.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, sebagai ormas keagamaan yang berpegang pada Ahlussunah wal Jama’ah NU memilik empat pondasi pokok.

Yang paling simpel, warga Nahdliyin setidaknya mengikuti pesan-pesan ulama NU. Lima pesan ulama NU KH. Ali Maksum (Krapyak) patut kita renungkan dan kita ikuti sebagai warga Nahdliyin.

1. العلم والتعلم بنهضة العلماء
(Al-‘alimu Wat Ta’allum Bi Nahdhotil 'Ulama). Warga Nahdhiyyin mesti mempelajari apa dan bagaimana NU.

2. العمل بنهضة العلماء
(Al-amalu Bi Nahdhotil 'Ulama). Setelah mempelajari juga dianjurkan untuk diamalkan dan diajarkan.

3. الجهاد بنهضة العلماء
(Al-Jihadu bi Nahdhotil 'Ulama). Berjihad sesuai dengan ruh Nahdhotul "Ulama yang tercermin dalam Rohmatal lil alamin.

4. الصبر بنهضة العلماء
(Ash-Shabru Bi Nahdhotil 'Ulama). Ketika kita berjuang harus sabar dengan kemasan Nahdhotul Ulama

5. الثقة بنهضة العلماء
(Ats-Tsaqoh Bi Nahdhotil 'Ulama) Setelah semuanya dilakukan kita harus memiliki keyakinan terhadap perjuangan NU.

Pesan KH. Hasyim Asy’ari
“Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya”.

Pesan KH. Ridwan Abdulloh
“Jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah ! kalau sampai tidak makan, komplainlah aku jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati maka tagihlah kebatu nisanku”.

Pesan KH. Hasan Genggong:
“Barang siapa yang menolong NU, maka dia hidup beruntung di dunia dan di akhirat. Siapa yang memusuhi NU, dia akan hancur”

Itulah pesan-pesan ulama NU kepada warga Nahdliyin. Semoga kita menjadi warga Nahdlyin yang membawa kemaslahatan bagi umat. [dutaislam.com/ed/pin]

Sumber : dutaislam.com
Angon Wedus Dituduh Wedus

Angon Wedus Dituduh Wedus


Oleh Aswab Mahasin

Akhir-akhir ini, Indonesia seringkali dihebohkan oleh fenomena “kiro-kiro” (kira-kira). Sayangnya, fenomena “kiro-kiro” tersebut tidak diukur melalui proses benar/salah, sesuai/tidak, dan nyambung/tidak. Melainkan langsung jatuh vonis: Anda salah, Anda menyimpang, dan Anda keliru. Seringkali masyarakat kita terjebak dengan ‘nampak luar’ dan ‘nampak isu’. Pengandaiannya begini, orang angon wedus (gembala kambing) sering dituduh kalau dia wedus dan orang masuk kandang ayam sering dituduh kalau dia bagian dari ayam.

Masih kental diingatan kita, Gus Dur pernah membuka wacana kerja sama dagang dengan Israel. Namun, tidak sedikit masyarakat yang menuduh Gus Dur adalah antek Yahudi, antek zionis, dan antek-antek lainnya. Padahal yang Gus Dur lakukan adalah “angon wedus” dengan kata lain “angon Israel”.

Gus Dur dalam wacananya tidak begitu saja membuka kerja sama dengan Israel, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Israel itu sendiri, seperti: mempertimbangkan nasib rakyat Palestina dan dilibatkannya Indonesia dalam proses perdamaian di Timur Tengah (notabene Indonesia sebagai negara mayoritas muslim terbesar).

Gus Dur sebelumnya melakukan pertemuan dengan 16 Duta Besar Negara-negara Arab, termasuk Dubes Palestina saat itu Ribhi Y Awad. Kata Awad, “Gus Dur dan Indonesia tidak akan melakukan hubungan diplomatik dengan Israel sebelum bangsa Palestina mendapatkan kemerdekaan, dan Indonesia juga tidak akan membuka hubungan kerjasama dengan Israel, sebelum Israel melepas tawanan Palestina, dan sebelum Israel mengembalikan wilayah-wilayah Arab yang diduduki Israel”.

Jika kita lihat konteksnya, Gus Dur sedang mencoba ngangon Israel, bukan menjadi Israel. Namun, kebiasaan masayarakat kita setiap “angon” dikira “menjadi apa yang di-angon”. Ini yang dinamakan “angon wedus dituduh wedus” sama dengan “angon Israel dituduh Israel”. Padahal Gus Dur ngangonitu supaya wedus (baca: Israel) tidak liar, dan bisa dikendalikan secara sikap politiknya. Untuk mengendalikan sesuatu yang liar maka harus dibimbing, diarahkan, dan diikat emosionalnya, dengan cara ‘angon’.

Belum lama juga, kita ingat geger tentang Cak Nun perihal kedekatannya dengan orang-orang HTI. Bagi pemahaman saya sekarang, itu adalah pancingan yang dilakukan oleh Cak Nun, dengan lebih awal menembak NU dulu. Karena HTI paling tidak klop dengan NU. Ini adalah cara Cak Nun untuk berdialog hangat dengan HTI, dan memberikan pemahaman utuh tentang keindonesiaan kepada HTI.

Tepatlah sasaran Cak Nun, orang-orang HTI itu akhirnya soan ke kediaman Cak Nun (tanpa disangka dan tanpa diduga), dan meminta petuah kepada Cak Nun, dan di sinilah Cak Nun mencoba menggiring mereka kepada pemahaman utuh tentang khilafah dan keindonesiaan. Cak Nun mengatakan, pemahaman khilafah saya dengan khilafah Anda sebagai HTI berbeda. Namun, apa yang terjadi?

Cak Nun, mencoba masuk kandang ayam, dan beliau-pun dikira ayam oleh kebanyakan orang. Padahal niat Cak Nun, ingin membersihkan kandang ayam, memandikan ayam, dan menyemprot ayam agar terhidar dari bakteri-bakteri yang menyimpang. Tapi Cak Nun, dibredel habis-habisan, dengan mengatakan, “Cak Nun, ayam, Cak Nun, ayam, Cak Nun, ayam”.

Baru kemaren, medsos ‘geger berat’ masalah Banser yang dituding membubarkan pengajian Felix Siauw di Bangil, Pasuruan.Memang,Banser akhir-akhir ini getol menindaklanjuti orasi-orasi terselubung yang dilakukan orang-orang HTI. Namun, di Bangil ini gegernya gementus. Saya lihat banyak anggapan miring yang diarahkan kepada Banser. Dalam hal ini, kita harus mendudukkan pada pikiran yang jernih dan jiwa yang lapang. Jangan hanya gara-gara Felix sebagai objek, lantas Banser yang salah, tidak begitu.

Faktanya, Ansor/Banser ingin mencoba meminimalisir kemungkinan pencuri ikan di meja makan Indonesia ini. Banser tidak mau, pancasila sedikit demi sedikit digerogoti keutuhannya, NKRI dirongrong kesatuannya, dan Indonesia digantikan sistem pemerintahannya. Namun, tuduhan demi tuduhan itu datang kepada Banser, disangkanya banser melakukan perbuatan semena-mena terhadap suatu kelompok atau orang tertentu. Jelas, ini anggapan keliru. Banser melakukan itu, tanpa kekerasan, tanpa pentungan, dan tanpa ancaman. Karena itu, ini bukan pembubaran.

Banser mengajukan penawaran, agar seseorang itu menandatangani poin-poin tertentu yang diajukan, seperti: mengakui pancasila, tidak menyebarkan faham-faham negara Islam, dan menyatakan tidak ada sangkutpautnya dengan HTI. Namun, seseorang tersebut menolak dan memilih untuk pergi. Logikanya jelas tidak utuh kalau itu dinyatakan sebagai pembubaran, Banser ingin berdialog, berdamai, dan tidak mau ada keributan.

Banser ini sedang “angon” toleransi, sedang “angon” kesatuan, sedang “angon” pancasila, dan sedang “angon” Indonesia. Banser malah dituduh sebagai kepanjangan tangan penguasa, hanya berpihak kepada penguasa dan memuluskan kepentingan penguasa. Padahal aktifitas tersebut untuk kepentingan bersama—keuntuahan rumah kita, Indonesia Raya. Memang aneh, setiap berbicara pancasila maka dituduh bagian dari penguasa, dengan dalih—hanya penguasa yang boleh menafsirkan pancasila.

Namun, penjelasan seperti itu belum mampu meredam hiruk-pikuk di medsos yang kadung terperdaya oleh sumber-sumber berita menyudutkan. Dalam hal ini, saya hanya berharap Banser tetap istiqomah dan Banser bersabar atas tudingan ini-itu, meminjam istilah Gus Dur, “Nanti sejarah yang akan membuktikannya.”

Kita semua mengenal peribahasa, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, Di mana ranting dipatah, di situ air disauk, Masuk kandang kambing mengembek, masuk kandang kerbau menguak”. Peribahasa tersebut menyarankan agar kita selalu menyesuaikan dan mengikuti kebiasaan (cara hidup, cara pandang), dan adat istiadat di tempat kita berada.

Indonesia dengan berbagai intriknya bersepakat mengusung identitasnya Pancasila. Negara berdasar Pancasila bukan negara agama, tapi juga bukan negara sekuler, kata Prof. Dr. N. Drijakara tahun 1959. Bagaimana memahaminya? Bukan sekuler, karena negara mengakui dan memberi tempat buat religi. Bukan negara agama, karena tidak mendasarkan diri atas suatu agama tertentu.(Mahbub Djunaedi, Bukan Ini Bukan Itu, [Tempo, 15 Maret 1975])

Yang paling ruwet saat ini adalah dua kekuatan besar dibenturkan, di mana agama berbenturan dengan negara dan negara berbenturan dengan agama. Dan keduanya terkesan saling berlawanan. Ambil contoh pembubaran HTI, bagi sebagian orang menafsirkannya negara tidak berpihak kepada Islam. Namun, yang harus dipertanyakan ialah, kenapa hanya HTI yang dibubarkan?

Benturan itu terjadi tidak hanya dengan negara, namun dengan organisasi lainnya juga. Seharusnya HTI datang kepada pemerintah atau NU meminta bimbingan agar sesuai dengan misi dan visi pembangunan. Kalau HTI hanya ngambek di belakang, sampai kapanpun tidak akan ketemu titik pijaknya. Kita semua harus duduk bersama, dan HTI bertanya, saya salahnya dimana? Saya seharusnya bagaimana? Kalau HTI memang benar-benar ingin ikut andil dalam mencerdaskan dan membangun bangsa ini, HTI harus melakukan langkah-langkah yang cantik dan bijaksana.

Kita sebagai penonton, harus menghilangkan kebiasaan menduga-duga/mengira-ngira tuduhan-tuduhan yang belum tentu kebenarannya, lebih dulu harus dicek dan ditimang-timbang kesesuaiannya. Apalagi tuduhan-tuduhan yang mengarah pada perpecahan. Setiap ada yang “angon wedus” kita curigai, kalau semua kita curigai, lantas kita mau percaya kepada siapa dalam urusan dunia ini? Memang, kebenaran seringkali sepihak. Anehnya, ketika kita belajar tentang benar, itu untuk menyalahkan. Lantas, kalau semua disalahkan, siapa yang benar?

Sungguh, benar dan salah sudah tak terlihat di zaman medsos ini, apalagi zaman now, pemegang kuasa kebenaran tergantung bagaimana opini medsos yang berkembang, entah itu dituduh wedus atau dituduh ayam. Siapapun yang menentang kebenaran berita/informasi medsos maka ia akan dianggap salah dan siap-siap dihantam habis-habisan. Ketika kebenaran yang lebih valid datang, tidak akan diterima karena kebenaran yang sudah dianggap benar mendahului. Benar adagium yang menyatakan, “siapa yang menguasai media, ia menguasai dunia”.

Efeknya adalah kita lebih menikmati “kentut” kita sendiri, dan tidak mau menerima “kentut” orang lain. Artinya, manusia selalu mengira apa yang dilakukannya itu putih (suci), padahal apa yang kita lakukan punya dua kemungkinan aroma, harum dan busuk. Karena itu, baiknya kita sama-sama bercermin dan introspeksi diri kita masing-masing.Bukan hal yang buruk berjalan memperbaiki diri, dalam posisi apapun dan dipihak manapun.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Wa’ tashimu bi habli allaihi jami’an wa la tafarraqu” (Dan bepeganglah kalian kepada tali Allah (secara) keseluruhan dan janganlah bercerai-berai/terpisah belah) (QS. Ali Imran [3]: 103). Menurut Gus Dur, ayat ini menunjukan kepada kita, yang dilarang bukannya perbedaan pandangan melainkan bersikap terpecah-belah satu dari yang lainnya. Hal ini diperkuat sebuah ayat lain (QS. Al-Maidah [5]: 3), “ta’wanu ‘ala al-birri wa al-taqwa”.

Kata Gus Dur, di sinilah kita perlu membangun kembali “kesatuan umat”(ummatan wahidatan). Mudah diucapkan, tapi sulit diwujudkan bukan?

Penulis adalah Pembaca Setia NU Online.

Sumber : nu.or.id
Ketika Pengajiannya Dibubarkan, Gus Dur Ciptakan Istilah "Mauidloh Hasanah"

Ketika Pengajiannya Dibubarkan, Gus Dur Ciptakan Istilah "Mauidloh Hasanah"


Dishare dari Tulisan Cak Nun

Di masa Orba, kalau saya mau baca puisi di depan publik, harus minta izin minimal ke Polres, menyerahkan puisi-puisi yang akan saya baca untuk diperiksa dan ditentukan mana yang boleh dibaca dan mana yang tidak. Atau ada satu dua puisi boleh dibaca, kecuali kalimat-kalimat atau kata yang dicoret oleh Polisi.

Demikian juga acara-acara lain: seminar, simposium, pertunjukan musik, juga pengajian. Kepolisian mengawasi, mengizinkan atau melarang teks, kalimat, kata dan huruf. Kalau penampilnya tingkat nasional, pemeriksaan dilakukan oleh Polda, atau bahkan Mabes Polri. Kalau tingkat “bahaya”-nya ekstra, TNI diperbantukan untuk mengontrol.
Saya diminta berceramah bersama Gus Dur di Jember, dilarang. Tapi spanduk tetap tersebar di jalan raya dan berbagai wilayah Jember: “Selamat Datang di Jember KH Abdurahman Wahid dan Emha Ainun Nadjib”. Dan acara tetap berlangsung. Karena pihak yang berwajib agak lupa-lupa bahwa KH Abdurahman Wahid adalah Gus Dur, dan Emha Ainun Nadjib adalah Cak Nun.

Tidak mengherankan. Pasukan Banser sendiri ketika Presiden Gus Dur ke Malang, para Banser berkoordinasi di antara mereka: “Laporan, nDan. Presiden Abdul Rachman Saleh telah mendarat di Bandara Abdurrahman Wahid”. Kata memang terkadang selip di lidah dan bibir. Gus Dur mendapat jaminan dari pengusaha Madura: “Jangan kuwatir Gus, saya bikinkan gedung khusus untuk kantor PKB. Semua fasilitasnya lengkap, cuma Eternit-nya yang saya bingung pengadaannya…”. Maksudnya Internet.

Pada suatu hari Pesantren Tambakberas Jombang mengadakan seminar dengan pembicara Gus Dur, Prof Dr Nurcholish Madjid dan Bu Megawati. Mestinya dengan saya juga, cuma saya sedang puasa bicara di depan publik, jadi saya hadir saja sebagai pendengar. Karena di samping Bu Megawati pembicaranya adalah tokoh utama Islam, Gus Dur dan Cak Nur, maka acara ini bersuasana pengajian.
Ketika pembicara pertama, Cak Nurcholish Madjid di podium, di luar gedung tiba-tiba terdengar teriakan massal dan keras “Allahu Akbar” berulang-ulang. Saya lari keluar. Ternyata anak-anak kita PMII, Ansor dan Banser bereaksi dan bikin pagar betis untuk menghalangi dua rombongan, pasukan Kodim dan Polres Jombang, jangan sampai mendekat ke gedung seminar.

Saya loncat dan menyongsong Komandan tentara dan Polisi. Dengan merendahkan diri dan penuh sopan santun, saya ajak mereka ke bawah pohon di depan pintu masuk Pesantren dari jalan raya. “Supaya anak-anak ndak kemriyek Pak…”, sambil saya bisikkan pertanyaan: “Sampeyan diperintah untuk membubarkan acara Seminar ini ya?”. Komandan meng-iya-kan. Ada suratnya? Ada, katanya.
Lantas saya usul: “Sampeyan dan pasukan tolong tunggu di bawah pohon ini sebentaaaar saja. Komandan saya antar masuk seminar dan saya dampingi untuk membacakan Surat Pembubaran Acara. Yang penting Sampeyan laksanakan perintah sehingga beres dengan Pak Dandim”.
Demikianlah. Kami masuk ruang Seminar. Saya interupsi, mohon waktu beberapa menit. Kemudian Komandan saya ajak naik podium dan membacakan surat pembubaran. Semua terpana dan bingung. Saya ambil mikrofon: “Bapak-bapak saya mohon acara break beberapa menit. Perkenankan saya mengantar keluar Pak Komandan dan mencoba bicara kepada anak-anak kita di luar agar jangan marah-marah dulu”.

Kami keluar dan saya membisikkan itu kepada anak-anak muda yang progresif revolusioner itu agar tenang sebentar. Pokoknya lima sampai sepuluh menit tolong jangan lakukan apa-apa dulu. Kemudian saya antar Komandan kembali ke pasukannya dan saya bisikkan: “Tolong tunggu saya beberapa menit saja, saya harus kembali ke ruang seminar, mudah-mudahan tidak ada keributan. Yang penting Sampeyan sudah melaksanakan instruksi dengan baik…”
Saya kembali ke ruang Seminar yang gemeremang dan agak bingung suasananya. Saya naik podium. “Bapak-Bapak Ibu-Ibu, acara Seminar kita telah dibubarkan. Jadi marilah kita bikin acara yang baru…”
Saya menengok ke Gus Dur: “Gus, tolong kasih nama acara kita yang baru ini, apa ya?”. Gus Dur dengan kecerdasannya spontan menjawab: “Mauidloh Hasanah, Cak”. Setuju. Itulah hari lahirnya istilah ‘Mauidloh Hasanah’.
Saya umumkan: “Saudara-saudara marilah kita mulai acara Mauidloh Hasanah ini dengan bacaan Basmalah”. Semua membaca bismillahirrohmanirrohim. Kemudian saya teruskan: “Saya persilakan pembicara yang pertama, Bapak Nurcholish Madjid”.

Cak Nur naik dan meneruskan pembicaraannya yang tadi terpotong oleh pembubaran acara. Kemudian segera saya lari keluar menuju bawah pohon di mana saya berjanji untuk menemui Komandan kembali. Beliau dan pasukannya saya ajak mengobrol. “Sampeyan sudah bathi berapa, Ndan?”. Maksudnya sudah punya anak berapa. Mau tidak mau dia menjawab: “Dua Cak”. “Lanang? Wedok?”. “Alhamdulillah satu laki-laki, adiknya perempuan”. “Sekolah di mana?”. “Aslinya Sampeyan dari mana? Kalau Ibu? Sebelum tugas di Jombang dulu tugas di mana?”… Pokoknya saya taburi beliau dengan pertanyaan-pertanyaan persaudaraan, kemanusiaan dan kasih sayang.

Sumber : muslimoderat.net
Saat Guru Sufi Perintahkan Dua Muridnya Angkat Unta ke Atap

Saat Guru Sufi Perintahkan Dua Muridnya Angkat Unta ke Atap


Dalam kitab Tadzkirah al-Auliya’, Fariruddin Attar menceritakan kisah antara Abu Abdullah bin Khafif dengan dua muridnya. Diceritakan:

أنه كان له تلميذان، إسم أحدهما أحمد الكبير والآخر أحمد الصغير، وكان نظر الشيخ ومحبته إلي الصغير أكثر، والأصحاب غاروا لأجل أن الكبير كان ملازما لمجلس الشيخ مدة أكثر من الصغير، وكانت له رياضات ومجاهدات، فعلم الشيخ بغيرتهم وأراد امتحانهم، فقال يوما لأحمد الكبير: احمل البعير الذي برك علي خانقاه، واصعد به الي السطح، فقال: يا شيخ هل يمكن ذلك مع ثقل البعير وضعفي، قال الشيخ: فلا إذن، ثم التفت إلي الصغير وأمره بحمل البعير علي كتفه والصعود به إلي السطح، فقام وشد وسطه بمشد وذهب إلي البعير واجتهد في حمله غاية طاقته ووسعه، فقال الشيخ: اترك، فإن المقصود قد حصل، ثم قال للأصحاب البتة: أنا أعلم أن الإنسان لا يقدر علي حمل البعير، لكن الكبير قد دخل من باب الإعتراض ولإنكار ولم يقبل الأمر، والصغير شرع في الإمتثال واجتهد مقدار وسعه، وظاهر الحال دليل علي باطنه.

Imam Ibnu Khafif mempunyai dua murid. Satu dipanggil Ahmad al-Kabir (lebih tua) dan satunya lagi dipanggil Ahmad al-Shaghir (lebih muda). Imam Ibnu Khafif lebih mencintai Ahmad al-Shagir. Sahabat-sahabat Ahmad al-Kabir cemburu (iri), dengan alasan Ahmad al-Kabir lebih lama menjadi murid Imam Ibnu Khafif, menjalankan tugas-tugasnya dengan baik, banyak melakukan riyadlah dan mujahadah diri.

Imam Ibnu Khafif mengetahui kecemburuan mereka dan berencana melakukan pengujian. Suatu hari Imam Ibnu Khafif berkata kepada Ahmad al-Kabir, “Bawalah unta itu ke atap Khanqah (ribat sufi).”

Ahmad al-Kabir menjawab, “Wahai guru, bagaimana mungkin membawa unta seberat itu ke atap Khanqah dengan tenagaku yang lemah?”

“Jika begitu, kau tidak perlu melakukannya,” kata Imam Ibnu Khafif.

Kemudian Ibnu Khafif beralih kepada Ahmad al-Shaghir, memerintahkannya membawa unta dengan pundaknya naik ke atap Khanqah. Ahmad al-Shaghir bergegas berdiri, mengikat pinggangya dan menggulung lengan bajunya. Ia berlari menuju unta, berusaha mengangkatnya dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Melihat itu Imam Ibnu Khafif berkata, “Sudahlah, cukup. Tujuan dari perintahku telah menuai hasil.”

Lalu Ibnu Khafif berkata kepada sahabat-sahabat Ahmad al-Kabir:

“Aku sangat tahu bahwa manusia tidak akan mampu mengangkat unta. Tapi Ahmad al-Kabir telah masuk dari pintu keberatan dan penyangkalan, serta tidak menerima perintah yang kuberikan. Sedangkah Ahmad al-Shaghir, dengan sigap melaksanakan perintahku dan berusaha mengangkatnya sekuat tenaga. Apa yang ditampakkan zahirnya adalah tanda bagi keadaan batinnya.” (Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashiliy al-Wasthani al-Syafi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009,hlm 665).

****

Kisah di atas selain bercerita tentang ketakziman seorang murid yang mematuhi gurunya, pun merupakan gambaran besar tentang bagaimana seharusnya hubungan hamba dengan Tuhannya. Ketika berhubungan dengan Tuhan, seorang hamba tidak perlu menanyakan motif Tuhan dalam memberikan cobaan, memerintahkan sesuatu atau melarang sesuatu. Serahkan semuanya kepada Tuhan. Apalagi Tuhan dengan jelas mengatakan (hadits qudsi), “Anâ ‘inda dzanni ‘abdî bî—Aku tergantung persangkaan hambaKu kepadaKu.”Hadits qudsi tersebut memberi kita pengetahuan agar kita berhati-hati dalam mempertanyakan motif Tuhan. Jangan sampai kita menyangka yang tidak-tidak kepadaNya.

Di sisi lain, Allah berfirman (Q.S. al-Baqarah [2]: 286): “lâ yukallifu Allah nafsan illâ wus’aha—Allah tidak akan membebaniseseorang di luar kemampuannya.” Ayat ini memiliki makna yang sangat luas dan dalam. Agar tidak sampai berburuk sangka kepada Allah, kita harus mengetahui salah satu makna ayat tersebut. Salah satu maknanya adalah, ketika seseorang mendapatkan ujian dari Allah, artinya Allah telah percaya dengan kemampuan orang tersebut menyelesaikannya, karena Allah tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan hambaNya.Persoalannya terletak pada bagaimana kita menjaga kepercayaanNya itu.

Ahmad al-Shaghir, dalam hal ini, merupakan contoh yang baik. Ia melaksanakan perintah gurunya tanpa keraguan sedikit pun. Tidak peduli perintah itu masuk akal atau tidak. Dengan kecerdasannya, ia pasti tahu mengangkat unta sebesar itu ke atap Khanqah adalah tidak mungkin. Tapi, ketidak-mungkinan tidak mencegahnya untuk mematuhi perintah gurunya. Berbeda dengan Ahmad al-Kabir, pengetahuannya tentang ketidak-mungkinan itu mencegahnya untuk mematuhi perintah gurunya.

Hal ini tidak berbeda dengan Iblis yang merasa lebih tahu dari Allah. Perasaan lebih tahu itulah yang menghalanginya untuk mentaati perintah Allah ketika disuruh bersujud kepada Adam, selain merasa dirinya lebih mulia. Akan tetapi, jika diamati lebih dalam, dosa terbesar Iblis bukan kesombongan antarsesama makhluk (dirinya dengan Adam), melainkan dosa kesombongan mempertanyakan keputusan Allah yang menetapkan Adam lebih mulia darinya. Karena itu, ketika Iblis dinyatakan bersalah dan diusir dari surga, ia tidak berusaha memohon ampunan Allah, malah mengancam akan menyesatkan anak cucu Adam. Sementara Adam, ketika ia bersalah memakan buah khuldi, ia dan Hawa langsung memohon ampunan Allah dengan mengatakan (Q.S. al-A’raf [7]: 23):

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jikalau Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”

Oleh karena itu, kita harus meningkatkan kepatuhan kita kepada Allah, menyerahkan segalanya kepadaNya. Menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Kita tidak perlu mempertanyakan keputusan Tuhan. Sebab, banyak sekali hal yang tidak ada jawabannya di dunia ini, seperti kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita lahir, tapi kita bisa memilih bagaimana cara kita menyikapi dan mensyukurinya. Toh, kita sudah terlanjur ada. Berbuat kebaikan dan kebajikan merupakan manifestasi terbaik dari keberadaan kita. Bukankah Imam Husein bin Manshur al-Hallaj pernah mengatakan:

من عرف الحقيقة في التوحيد سقط عنه لما وكيف

“Orang yang telah mengetahui hakikat Tauhid, akan musnah darinya pertanyaan semacam ‘kenapa’ dan ‘bagaimana’.” (Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm al-Tashawwuf, Beirut: Darul Kutub, 2001, hlm 47).

Wallahu a’lam..

Sumber : nu.or.id
close
Banner iklan disini