Mengharukan, Jokowi Cium Tangan Veteran Kiai NU pada Peringatan HUT TNI


Patut dicontoh, Presiden Jokowi mencium tangan Veteran yang juga Ulama NU pada peringatan Hari lahir TNI 5 Oktober 2017.

Beliau adalah KH. Sholeh Qosim anggota Laskar Sabilillah Pimpinan KH. Masykur yang turut berperang pada pertempuran 10 November 1945.

Dikutip dari Siaga Indonesia KH.Sholeh Qosim nama beliau. Seorang kiai berusia 86 tahun (semoga Allah memanjangkan umur beliau dengan keberkahan), pengasuh Ponpes Bahauddin-Sepanjang-Sidoarjo. Rambut beliau tlah memutih seluruhnya, membungkuk tubuh beliau sembari memegang tongkat, namun tutur kata dan gesturnya masih begitu lugas.


Ya, Kiai Sholeh Qosim adalah salah-satu dari semakin sedikitnya ulama sepuh pejuang NKRI. Masih membayang kesedihan atas mangkatnya kiai pejuang mendiang KH.Muchith Muzadi beberapa waktu lalu, namun tatkala bisa memandang Kiai Sholeh yang masih sehat, rasanya batin ini bisa tersenyum kembali. “Beruntung banget bisa bertemu dengan beliau kiai sepuh, veteran perang kemerdekaan yang ‘alim luas ilmunya”, bisik dalam hati saya sendiri bersyukur. Kisah Laskar Sabilillah dan Barisan Hizbullah “Yaa lal wathon, yaa lal wathon hubbul wathon minal iiman walaa takun minal hirman inhadlu ‘alal wathon Indonesia biladi anta ‘unwanul fakhoma kullu mayya’tika yauma thomihayyalqo himama”. Masih begitu hafal Kiai Sholeh Qosim menyanyikan mars itu. Mars yang membangkitkan semangat juang pasukan Barisan Hizbullah dan Laskar Sabilillah di jaman revolusi kemerdekaan. Yup, masa muda beliau dahulu adalah bagian dari kerasnya perjuangan laskar Sabilillah.

Semangat beliau waktu itu dikobarkan oleh paman-pamannya yang sudah bergabung dalam Barisan Hizbullah. Tak bisa dipungkiri, Barisan Hizbullah dan Laskar Sabilillah adalah milisi santri yang begitu hebat. Sangat ditakuti Belanda dan Jepang karena keberaniannya. Keberanian yang dilambari dengan hasil tirakat dibawah bimbingan para ulama auliya. Dalam taushiyahnya di acara peringatan Harlah NU ke-93 di Surabaya, Kiai Sholeh menceritakan, ulama-ulama pesantren pada jaman itu adalah manusia-manusia luar biasa dalam soal ke’aliman dan karomahnya. Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah, Syaikhona Kholil, dan banyak lagi ulama yang beliau sebut adalah sosok dengan maqom derajat yang tinggi. 

“Para kiai pesantren berinisiatif mendirikan NU dan berkiprah besar untuk kemerdekaan RI. Mereka adalah min auliyaa-illah, kesayangan Allah. Jika ada yang macam-macam dengan NU dan Indonesia, Gusti Allah tentu tidak akan membiarkannya”, tegas Kiai Sholeh, Wakil Rois Syuriah PWNU Jatim. Ingatan beliau dan intonasi-aksentuasi suara beliau yang begitu bernas melafalkan ayat Qur-an, hadits Rosulillah, atsar para Sahabat, dan qoul ulama salaf, tentang arti pentingnya berjuang untuk agama dan negara, membuat saya berdecak kagum mengingat usia beliau yang sudah sangat sepuh. Hingga berkata diri saya sendiri, “Apa yang sudah saya sumbangkan untuk kemaslahatan agama dan bangsa ini? Ternyata saya hanyalah benalu bagi agama dan bangsa saya ini”. Malu sangat rasanya. Tawadhu Dalam Sikap, Tekun Dalam Riyadhoh, Teguh Dalam Mujahadah Mendengar cerita Kiai Sholeh Qosim tentang ulama jaman dahulu kala, setidaknya memaksa benak saya menyimpulkan keteladanan akan tiga hal, tawadhu dalam sikap, tekun dalam ibadah dan riyadhoh, serta teguh dalam memperjuangkan hal yang benar menurut Allah, Rasulullah dan para ulama.

Pertama, Tawadhu Dalam Sikap. Bersikap rendah hati adalah salah satu prilaku kesatria yang tinggi tingkatannya. Kesombongan hanya akan menjerumuskan kaum santri ke lembah yang nista dalam hidup di dunia dan akhirat. Sebuah mahfuzhot yang sangat populer di kalangan Nahdliyin : “laa tahtaqir man duunaka falikulli syai-in maziyah”, jangan hanya dijadikan pemanis lisan ketika berinteraksi dengan masyarakat pada umumnya. Sikap meremehkan orang lain bukanlah sikap yang menjadi fitrah bagi kaum Nahdliyin. Kedua, Tekun Dalam Riyadhoh. Sementara tekun dalam hal ibadah dan riyadhoh adalah sebuah keniscayaan bagi seorang mukmin. Teringat akan sebuah maqolah : “i’mal lii akhiirotika ka-annaka tamuutu ghodaa”. Dalam soal ukhrowi dan ibadah mahdhoh karena ridho Allah, hendaknya ditumbuhkan sikap rakus dan merasa kurang dalam tiap amalan-amalannya, karena ajal senantiasa mengintai kita. Para ulama mengajarkan hal itu kepada santri-santrinya untuk membiasakan riyadhoh dalam melatih jiwa dan meraih ridho Allah. Cerminan itu ada dalam pri-hidup kiai-kiai khos akan pentingnya munajat melibatkan Allah dalam tiap keputusan menjalani kehidupan. Ketiga, Teguh Dalam Mujahadah. “Man saaro ‘alad darbi washoola”. Berketetapan teguh dalam mengamalkan kebajikan, akan menghantarkan kepada tujuan yang baik pula. Para sesepuh, alias founding father bangsa Indonesia dan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Nusantara waktu lampau, telah mencontohkan itu semua. Pengajaran keteladanan itu jelas mengalahkan kalimat-kalimat sakti para Inspirator dan Motivator jaman sekarang. Teladan dari tetua, yaitu para auliya dan ulama kuno, hendaknya mengilhami kita banyak-banyak soal keikhlasan berjuang di jalan Allah. Tidakkah kita menyadari, nikmatnya beragama dan berbangsa yang sekarang kita rasakan, adalah buah dari keberhasilan mujahadah mereka di waktu lampau?

Walhal, perjumpaan dengan Al ‘Arif Billah Romo KH. Sholeh Qosim membawa kesan yang mendalam bagi saya. Makin cinta Gusti Allah dan Kanjeng Nabi, makin cinta. Ulama, makin cinta jam’iyah NU, dan makin cinta Indonesia.[mm]

Sumber : muslimoderat.net
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Mengharukan, Jokowi Cium Tangan Veteran Kiai NU pada Peringatan HUT TNI"

Post a Comment

close
Banner iklan disini