Mbah Bani, Santri Kiai Hasyim Berumur 128 Tahun yang Pernah Main Kelereng Bersama Kartini


Menemukan saksi sejarah masa lalu bukan perkara gampang karena pelakunya sudah banyak yang meninggal. Termasuk soal Kartini. Hasbani bin Towijoyo Diran bin Saridin, pria berumur 128 tahun sempat bercerita kepada Dutaislam.com tentang sejarah masa lalu soal Kartini.

Meski lahir pada tahun 1889 M (Ini hitungan redaksi. Tetangga menyebut usianya lebih dari 128 tahun), ingatan Mbah Bani,-panggilan akrab Hasbani,- masih tajam. Ia masih mampu menceritakan detail hidupnya meski pendengarannya sudah mulai terganggu. Santri kuno tersebut mengaku sebagai kakak kelas Kartini waktu Sekolah Rakyat (SR) di Mayong, Jepara.

"Kartini itu adik kelas saya di SR. Saya kelas 3, dia kelas 2," tutur Mbah Bani saat ditemui saat jagongan santai di rumah Kiai Abdul Halim al-Hafidz daerah Desa Dongos, Kedung, Jepara, Jumat (13/10/2017) sore.

Menurut Mbah Bani, Kartini itu anak Bupati Jepara yang mbandel karena berani menyusup ke sekolah yang tidak boleh menerima murid perempuan, "agar tidak ketahuan sebagai perempuan, dia sering ngajak saya main kelereng di halaman sekolah yang dulu lokasinya ada di depan kecamatan Mayong Jepara," ujarnya.

Zaman dulu, lanjut Mbah Bani, Belanda itu hanya membatasi 5-6 orang murid per kelas. Tapi Kartini bisa nembus jumlah tersebut sehingga bisa daftar jadi murid, "maklum, anaknnya bupati," ujar pria asli Purwogondo, Jepara tersebut, sambil ngopi dan rokokan. Di usia senja, Mbah Bani ingat betul waktu Jepang melatih tentara pribumi, yang menurutnya sangat kejam.

Kepada Dutaislam.com, Mbah Bani mengaku pernah sowan juga ke Kiai Khalil Bangkalan Madura. Pertama kali ia nyantri di usia PAUD (3 tahunan), di pondok pesantren asuhan Kiai Kirom, Getaspejaten, Kudus. "Almarhum guru saya Kiai Kirom adalah murid Mbah Sirojuddin yang terkenal keramat waktu itu," ujar Mbah Bani.

Selama 12 tahun nyantri di Kudus, ia melanjutkan ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur hingga puluhan tahun. Di Pesantren Miftahul Huda, Blokagung, Banyuwangi, Mbah Bani pernah nyantri selama 12 tahun juga dibawah asuhan ayahanda KH Muktar Syafa'at, pendiri pesantren modern Darussalam, Banyuwangi.

Setelah dari Banyuwangi, ia lanjut ngaji ke Kediri dibawah asuhan Kiai Mahrus, Lirboyo. Di Lirboyo ini, Mbah Bani juga menjadi santri hingga 11 tahun. Lalu nyantri lagi ke Pesantren Tebuireng Jombang dibawah asuhan KH Hasyim Asy'ari langsung, selama tujuh tahun. Pernah pula mondok ke Cirebon di pesantren Habib Umar bin Isma'il bin Yahya, Arjawinangun yang disebut Mbah Bani sebagai Habib Umar Kanuragan.

Kembali ke Jawa Tengah, Mbah Bani masih nyantri lagi di Kajen (Pati), mondok di pesantren Mbah Salam, ayahanda KH Abdullah Salam, paman KH Sahal Mahfudz. "Pulang ke Jepara, saya ngabdi puluhan tahun ke ndoro Ali (Habib Ali) Mayong yang wafat tahun 1982," imbuh Mbah Bani yang pernah mukim di Karimunjawa bertahun-tahun dan berhasil mendirikan sekolah, masjid dan musholla di sana. 

"Saya tidak punya anak, tapi sudah nikah berkali-kali. Teman seangkatan saya sudah tidak ada semua. Wadon kuwi membuat tenang jika terus mau ngaji," pungkas Mbah Bani yang nyantri selama 48 tahun itu.

Sumber : dutaislam.com

0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Mbah Bani, Santri Kiai Hasyim Berumur 128 Tahun yang Pernah Main Kelereng Bersama Kartini"

Post a Comment

close
Banner iklan disini