Gus Mus, Ulama Khos Penyejuk Bangsa


Saya pikir sosok seperti Gusmus bisa dijadikan tolok ukur. Jika ada persoalan besar di negara ini, lihat bagaimana reaksi Gusmus. Apa komentarnya. Soal Ahok misalnya, Gusmus jelas mengkritik perangainya. Tapi Gusmus juga membelanya ketika orang-orang anarkis ingin menggantungnya. Kritik boleh, tapiGus Mus, Ulama Khos Penyejuk Bangsa berlebihan jangan. Inilah islam dengan khasais Nusantara itu. Bukan islam labil yang suka ngamukan dan menang-menangan.Gusmus, Gusku....


Saya ingat betul ketika baru lulus pesantren, saya melihat Gusmus sebagai kyai kemayu. Kyai kok nyambi jadi penyair. Padahal, syair, puisi, dengan tema bebas, dalam pemahaman saya ketika itu, hanya cocok untuk orang urakan. Chairil jadi penyair, cocok. Rendra jadi penyair, pas.
Kyai ya mikir agama. Sudah selesai.
Sumatera Barat memang mengubah cara pandang saya dengan sangat radikal. Saya jadi sangat kritis dan hobi berdebat. Saya kehilangan unggah-ungguh, kesopanan ala Jawa. Semua orang saya kritik, tak terkecuali Gusdur, Gusmus, juga kyai-kyai lain. Bacaan ayat kurang fasih, saya persoalkan. Pemaknaan kitab kurang fokus, saya permasalahkan. Ceramah kurang enak, saya cemooh. Setiap waktu saya menggerutu.
Intinya, apapun yang tidak cocok dengan saya adalah salah. Idola saya waku itu Habib Rizieq Shihab.

Bertahun kemudian, saya mulai menyadari, apa yang saya alami itu adalah penyakit waham kebesaran. Dengan ilmu tak seberapa saya berani meledek Gusdur, Gusmus, dan ulama-ulama sepuh yang luas keilmuannya. Saya mulai menyelami pikiran-pikiran mereka, tujuan-tujuan perbuatan mereka. Saya juga mulai memahami peta politik keagamaan. Bahaya yang mengintai di balik radikalisme agama. Terutama agenda Wahabi.
Di situlah saya menyesal, ketika menyadari tokoh sebesar Gusdur sudah tak bisa saya temui. Yang ketika masih hidup justru saya anggap menyimpang. Saya cemooh. Saya liberal-liberalkan. Sesudah wafat, baru benderang teka-teki yang dulu serba aneh itu. Kesaksian-kesaksian muncul ke permukaan. Baru jelas tujuan-tujuan kenylenehannya.
Tapi selain Gusdur, masih ada Gusmus. Jika Gusdur terkenal nyleneh dan sulit ditebak, Gusmus ini relatif bisa dipahami. Meskipun selalu ada cerita-cerita luar biasa yang tak bisa disebutkan sekarang. Gusmus lebih mudah dimengerti.

Dulu ketika penyair Soetardji galau dengan tatonya, Gusmus enteng menjawab, "Tardji, lanjutkan solatmu. Tuhan tidak ada waktu untuk ngurusi tatomu itu."
Soetardji, yang dalam puisinya seolah telah sampai kepada pemahaman hakiki tentang Tuhan, ternyata harus meraba dirinya kembali. Maka pantaslah, dalam pengakuan Rendra, Gusmus adalah sedikit dari penyair Indonesia yang benar-benar memuisi. Penyair salon ada di mana-mana.
Ketika tiga orang pencemooh Gusmus sowan ke Rembang, terlihat kelasnya. Tidak ada arogansi sedikitpun. Serba nguwongke (memanusiakan). Mestinya ulama itu ya mengayomi. Tidak ngamukan. Seneng humor dan menenteramkan. Beda tentunya dengan ulama wannabe. Pakai jubah ke mana-mana biar terlihat keulamaannya. Boro-boro mau pakai batik, ideologi negara saja mau digugat.

Saya tidak punya persoalan pribadi Dengan Rizieq Shihab, Yusuf Mansur, Aa Gym, Arifin Ilham, atau ulama manapun. Jika ada kritik, itu karena ketidak-cocokan dengan perbuatan dan sikap mereka. Ulama dalam pemahaman saya bukan hanya orang yang tahu ilmu secara tekstual. Bukan mereka yang berada di puncak menara gading dan serba menunjuk. Ulama mestinya hadir bersama umat. Mendamaikan bukan memprovokasi.
Islam mayoritas di Indonesia, tanpa provokasipun sudah menang-menangan. Apalagi jika dikompori oleh orang dengan sebutan habib, kyai anu, ustadz itu.
Ada banyak teladan dari para ulama sungguhan. Bukan ustadz-ustadzan televisi itu. Gusdur bapak pluralisme, Buya Syafii yang hidup sederhana. Gusmiek yang keluar-masuk diskotek demi memberikan pencerahan, Gus Nuril yang ceramah di gereja-gereja. Dan masih banyak lagi contoh. Islam bukan agama menang-menangan, meskipun islam sering dipolitisasi sejak lama. Islam yang bengis itu adalah islam yang disalah-pahami.

Saya pikir sosok seperti Gusmus bisa dijadikan tolok ukur. Jika ada persoalan besar di negara ini, lihat bagaimana reaksi Gusmus. Apa komentarnya. Soal Ahok misalnya, Gusmus jelas mengkritik perangainya. Tapi Gusmus juga membelanya ketika orang-orang anarkis ingin menggantungnya. Kritik boleh, tapi berlebihan jangan. Inilah islam dengan khasais Nusantara itu. Bukan islam labil yang suka ngamukan dan menang-menangan.

Gusmus, Gusku....

Sumber : muslimoderat.net
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Gus Mus, Ulama Khos Penyejuk Bangsa"

Post a Comment

close
Banner iklan disini