Romo Magnis Tegaskan Gus Dur Tokoh Pelindung Umat Beragama

Romo Magnis Tegaskan Gus Dur Tokoh Pelindung Umat Beragama


Direktur Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya Romo Franz Magnis Suseno mengaku senang terhadap ajaran rahmatan lil alamin yang dibawa Nabi Muhammad di dalam agama Islam.

Menurutnya, agama memang semestinya menjadi rahmat, yakni sebagai dukungan terhadap yang baik, dan bukan membuat takut.

“Agama mesti punya healing power, jadi kekuatan untuk menyembuhkan luka-luka,” kata Romo Magnis saat mengisi kegiatan Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) Dawrah II yang diselenggarakan Lakpesdam PBNU di lantai 8, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (10/10).

Pria yang pernah dianugerahi Bintang Mahaputra Utama pada 13 Agustus 2015 oleh Presiden Jokowi ini mengharapkan semua orang yang beragama bisa menjalankan keagamaannya dengan aman dan terlindungi.

“Bukan hanya agama kita sendiri tetapi juga orang dari agama lain,” jelas pria berusia 81 tahun ini yang telah menulis banyak buku tentang Filsafat ini.

Pada acara yang bertemakan Fiqih Tawassuth dan Tasamuh dalam Membangun Perdamaian dan Indonesia Bebas Korupsi ini, Franz Magnis Suseno menyebut  KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai tokoh yang bisa mengayomi semua pemeluk agama.

“Itu tentu contoh yang mencolok dulu hebat itu Gus Dur. Semua lari ke Gus Dur karena merasa terlindung pada Gus Dur. dan Gus Dur itu mewujudkan rahmatan bagi kami semua sebetulnya,” terang pria kelahiran Eckersdorft, Jerman ini.

Acara yang dilaksanakan selama lima hari (9-13/10) ini diikuti pengurus syuriyah NU dari 7 provinsi dan sejumlah mahasiswi Unusia Jakarta. (Husni Sahal/Fathoni)

Sumber: nu.or.id
Ketika Universitas Soka Jepang Kembali ‘Menghadirkan’ Gus Dur

Ketika Universitas Soka Jepang Kembali ‘Menghadirkan’ Gus Dur


Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid didaulat memberikan kuliah umum di depan para mahasiswi akademi perempuan Universitas Soka, Tokyo, Jepang pada Rabu (25/10) lalu.

Universitas yang mempunyai komitmen kuat di bidang perdamaian dan kebudayaan ini mengundang istri mendiang Gus Dur untuk menyampaikan prinsip-prinsip perdamaian, khususnya dalam Islam.

Shinta Nuriyah didampingi putri sulung Alissa Wahid dan putri bungsunya Inayah Wahid dalam lawatan ke universitas yang didirikan oleh Daisaku Ikeda, teman baik Gus Dur dan pendiri Soka Gakkai.

Kepada NU Online, Alissa Wahid menerangkan poin-poin penting yang disampaikan ibundanya di depan sekitar 400 mahasiswi Universitas Sokka, di antaranya terkait prinsip-prinsip Islam dalam menjaga dan merawat perdamaian.

“Kedatangan ibu ke Universitas Sokka untuk menyampaikan kuliah umum di depan para mahasiswi akademi perempuan universitas tersebut,” jelas Alissa Wahid.

Yang diminta adalah, sambung Alissa, berbicara tentang Islam dan prinsip-prinsip perdamaian. Di mana dalam Islam prinsip-prinsip perdamaian itu sangat kuat.

“Yang ibu sampaikan adalah apa arti kata Islam dan bagaimana diejawantahkan, Islam rahmatan lil 'alamin dan bagaimana Islam hidup berdampingan dengan kelompok yang berbeda,” ujar Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian ini.

Menghadirkan Shinta Nuriyah bagi Universitas Soka merupakan upaya kembali menghadirkan sosok Gus Dur. Alissa menerangkan, dialog perdamaian dan kebudayaan global sudah lama dibangun Gus Dur dan Daisaku Ikeda.

Salah satu universitas terkemuka di Tokyo ini pernah menganugerahi Doktor Kehormatan kepada Gus Dur di bidang perdamaian dan kebudayaan. Daisaku Ikeda yang dikenal sebagai Sense di Jepang berusaha memberikan pelajaran penting bagi para generasi muda di Jepang untuk berkomitmen kuat dalam mewujudkan perdamaian dan mengembangkan kebudayaan.

Alissa juga menyampaikan, pada tahun 2012 lalu Gus Dur kembali mendapatkan penghargaan kehormatan dari Universitas Soka. Namun, karena Gus Dur sudah mangkat, pemberian penghargaan diterima oleh Shinta Nuriyah.

“Pada saat itu ibu menyampaikan sambutannya dan sekarang mereka juga memutuskan menghadirkan ibu untuk menyampaikan kuliah umum,” ucap Alissa.


Dalam memenuhi undangan tersebut, Shinta Nuriyah disambut beragam kehangatan. Mulai dari lantunan lagu khusus Sokka Gakai saat dirinya tiba di universitas tersebut hingga penampilan seni musik yang ditampilkan para aktivis perempuan International Women Center Universitas Soka.

“Yang menarik adalah ketika kami disambut permainan Koto (alat musik tradisional khas Jepang, red). Mereka memainkan nada dari lagu Bengawan Solo,” terang Alissa.

Menghadirkan sosok Gus Dur yang ada pada diri Shinta Nuriyah merupakan hal penting. Karena menurut Alissa, banyak orang di Jepang tidak mengenal bagaimana Islam merawat perdamaian. 

“Dan apa yang disampaikan ibun bagi mereka sangat membuka mata, mencerahkan, dan feedback-nya mereka jadi ingin tahu lebih mendalam tentang Islam,” tandasnya. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Tujuh (7) Mauidhoh Kyai Makhrus Ali Lirboyo

Tujuh (7) Mauidhoh Kyai Makhrus Ali Lirboyo


Tujuh (7) Mauidhoh Kyai Makhrus Ali Lirboyo

1. Orang berumah tangga kalau ingin sukses itu kuncinya menghormati istri.

2. Orang kalau Ingin hidup mulia hormati orang tua, khususnya ibu.

3. Ingat kalau kamu jadi pemimpin, Tolong hindari 2 masalah:
Pertama, jangan sampai kamu mata duitan.
Kedua, jangan sampai kamu tergoda perempuan. Kalau bisa bertahan dari dua hal ini insyaallah kamu bakal selamat.

4. Nabi Sulaiman itu sukses dalam 90 th dan Nabi Nuh sukses dalam waktu 900 th. Tetapi di dalam Al-Qur'an yang disebut ulul 'azmi adalah Nabi Nuh. Ini menunjukan perjuangan dilihat dari kesulitan, bukan dari jumlah murid.

5. Orang yang mempunyai ilmu sambil di riyadlohi dengan yang tidak di riyadlohi itu hasilnya beda. Riyadlohi yang paling utama adalah istiqomah.

6. Saya dulu waktu di pondok tidak pernah membayangkan akan jadi kyai, tidak pernah membayangkan akan menjadi orang kaya. Akhirnya menjadi orang mulia seperti ini saya takut. Jangan-jangan bagian saya ini saja, Diakhirat tidak dapat bagian apa-apa.

7. Ngajarlah Ngaji!!! Kalau nanti kamu tidak bisa makan, ketho'en kupingku.

Wallahu a'lam
Smg Allah Swt mudahkan hajat hajat kita berkat orang orang soleh aamiin

Sumber : muslimoderat.net
Pertemuan "Aneh" Gus Miek dengan Kiai Hamid Pasuruan

Pertemuan "Aneh" Gus Miek dengan Kiai Hamid Pasuruan


Gus Miek dalam usia 9 tahun sudah pernah ke pasuruan untuk mengunjungi KH. Hamid. Ini adalah sebuah pertemuan pertama yang sangat mengharukan. Saat itu Gus Miek talah beberapa hari tinggal di pondok KH. Hamid. Selama itu pula Gus Miek tidak pernah menjalankan shalat. Ia hanya tidur saja sepanjang hari.

Oleh KH. Hamid, Gus Miek kemudian dibangunkan dan dimarahi agar menjalankan shalat. Gus miek lalu bangun, tetapi bukan untuk menjalankan shalat melainkan membaca perjalanan hidup KH. Hamid dari awal hingga akhir, termasuk mengenal kelebihan dan kekurangannya. KH. Hamid pun terkejut, kemudian memeluk Gus Miek dengan berurai air mata. Sejak saat itu, KH. Hamid sangat menyayangi Gus Miek dan memerintahkan semua muridnya agar apa pun yang dilakukan Gus Miek dibiarkan saja, bahkan kalau bisa dilayani semua kebutuhannya.

Suatu ketika, rombongan keluarga KH. Ahmad Siddiq yang tengah khusyuk ziarah ke makam Sunan Ampel tergangu oleh datangnya rombongan Gus Miek yang terdiri dari berbagai latar belakang kehidupannya. Rombongan yang cukup banyak itu sedikit gaduh sehingga mengganggu rombongan yang lain, termasuk rombongan KH. Ahmad Siddiq. Melihat rombongan Gus Miek yang campur aduk dan gaduh itu KH. Ahmad Siddik menyingkir lalu melanjudkan perjalanan ke Pasuruan menemui KH. Hamid yang masih merupakan kerabatnya. KH. Ahmad Siddiq kemudian bercerita kepada KH. Hamid bahwa dirinya telah bertemu dengan Gus Miek dan rombongannya saat ziarah di makam Sunan Ampel.

Ya, Pak Kiai, begini, Gus Miek itu di atas saya,” jawab KH. Hamid setelah mendengar pengaduan KH. Ahmad Siddiq. “Ah, masak?” tanya KH. Ahamd Siddiq tidak percaya karena KH. Hamid sudah sangat termasyhur keluhurannya di kalangan ulama tanah Jawa.

Saya itu tugasnya ‘sowan’ kepada para kiai. Kalau Gus Miek itu tugasnya kepada bromocorah,” jawab KH. Hamid. KH. Ahmad Siddiq hanya diam saja mendengarkan dan penuh keraguan. Benar, Pak Kiai. Gus Miek itu tugasnya kepada para bromocorah, para pemabuk, pejudi, perempuan nakal, dan orang-orang awam. Dan, untuk tugas seperti itu saya tidak sanggup,” tegas KH. Hamid.

Setelah mendengar jawaban KH. Hamid, KH. Ahmad Siddiq dengan perasaan yang berkecamuk langsung berangkat ke Ploso menemui KH. Djazuli untuk mengadukan jawaban KH. Hamid tersebut.

Begini, Kiai Ahmad, saya dengan Gus Miek itu harus bagaimana?! Dulu, Kiai Watucongol juga menceritakan kehebatannya Gus Miek. Saya jadinya hanya bisa diam saja,” jawab KH. Djazuli.

Pada kasus lain diceritakan, KH. Ahmad Siddiq pernah mengadu kepada KH. Hamid tentang sepak terjang Gus Miek dan para pengikutnya karena kebetulan KH. Ahamad Siddik juga sering ke Tulungagung, di rumah mertuanya, sehingga ia sering melihat hal itu.Begini Pak Kiai, sampean kalau baik dengan saya, berarti juga harus baik dengan ‘sana’ karena ia kakakku. Sampean buka saja kitab ini halaman sekian,” jawab KH. Hamid. Akhirnya, KH. Ahmad Siddiq pulang dan membuka kitab yang telah sering dibacanya. KH. Ahmad Siddiq pun menjadi mengerti maksud dari kitab itu.

Setelah kekacauan akibat pemberontakan PKI mulai reda, Gus Miek dalam perkembangan dakwahnya mulai memasuki wilayah Pasuruan. Pertama kali masuk wilayah tersebut, Gus Miek menuju rumah KH. Hamid yang dikenal sebagai wali. Saat hendak naik mobil, dari Malang, Gus Miek mengirim bacaan Al-Fatehah kepada KH. Hamid. Selama dalam perjalanan, Gus Miek hanya diam saja sehingga para pengikutnya pun ikut diam membisu.

Tiba-tiba di pekarangn rumah KH. Hamid, Gus Miek tidak langsung bertemu, tatapi hanya mondar-mandir di jalan. Setelah beberapa lama, Gus Miek mengajak shalat di masjid, dan Gus Miek menjadi imam. Setelah salam, ada seorang laki-laki yang menyentuh pundak Amar Mujib dan bertanya.Maaf, orang itu apakah Kiai Hamim?”Amar mengangguk.“Gus, nanti tidur di sini ya? Nanti saya potongkan ayam, dan tidur dengan saya satu rumah,” kata lelaki itu yang ternyata adalah KH. Hamid.

KH. Hamid ternyata tidak mengenali Gus Miek yang duduk-duduk dan mondar-mandir di pekarangan karena penampilan Gus Miek sudah sangat jauh berbeda dengan saat ketika ia sering mengunjungi KH. Hamid belasan tahun silam. Saat itu, Gus Miek masih muda belia dengan pakaian lusuh dan rambut panjang. Pertemuan pertama Gus Miek dengan KH. Hamid adalah saat Gus Miek berusia sekitar 9 tahun.

Gus Miek lalu bertamu ke rumah KH. Hamid. Keduanya asyik berbincang tanpa memedulikan tamu-tamu yang lain. Puluhan tamu menunggu untuk bertemu KH. Hamid, tetapi tidak dipedulikan sampai akhirnya datang Kiai Dhofir. Mid, Hamid!” Kiai Dhofir memanggil. Gus Miek terlihat sangat marah, mukanya merah padam, matanya tajam menatap Kiai Dhofir. Gus Miek dengan tergesa-gesa pamit pulang. Dalam perjalanan, Gus Miek dengan nada emosi berkata: “Masya Allah, siapa tamu tadi, kok tidak punya tata karma!”Mungkin karena Kiai Hamid adalah kemenakannya,” Amar menanggapi emosi Gus Miek.Walaupun kemenakannya saya tidak terima. Kiai Hamid itu kiai dan juga termasuk wali.” Jawab Gus Miek masih dalam keadaan emosi.

Setelah emosinya mereda, Gus Miek berkata: “Mar, kata Kiai Hamid, wali di sini yang paling tinggi adalah Husein, orangnya hitam. Tetapi, wali Husein berkata bahwa wali yang paling tinggi di sini adalah Kiai Hamid.

Pada kesempatan yang lain, Gus Miek bersama ibnu Katsir Siroj dan Nototawar pergi ke Pasuruan untuk mencari Habib Ahmad as-Syakaf. Hari itu hari Ahad, mereka berangkat dari Tulungagung pagi-pagi. Hampir seharian berputar-putar di Pasuruan, belum juga bisa bertemu alamatnya. Sudah ditemukan Habib Muhamad, tetapi belum ditemukan yang bermarga as Syakat. Hingga diputuskan ”pokoknya yang aneh, khariqul ‘adah, dan yang jadzab!" Sayang, tetap tidak bertemu juga. Akhirnya, satu-satunya jalan adalah bertanya kepada KH. Hamid Pasuruan.

Begitu tiba di rumah KH. hamid, dia sudah menyambut di depan pintu. “Hamim, wal qur’anil hakim,” sapa KH. Hamid sambil memeluk Gus Miek dan membimbingnya masuk. Setelah di dalam rumah, KH. Hamid kemudian menyodorkan kain sarung Samarinda berwarna hijau kepada Gus Miek. Ini, Gus, saya beri sarung, silakan shalat dulu,” kata KH. Hamid. Gus Miek dan  kedua pengikutnya kemudian menuju ke masjid. Ketika saatnya mendirikan sholat, Gus Miek hilang dari pandangan. Dicari-cari tetap tidak ketemu.

Akhirnya, keduanya shalat, tetapi begitu mengucapkan salam, ternyata Gus Miek sudah duduk bersila di sebelah Katsir. Sehabis shalat, keduanya menemui KH. Hamid. Wah, Gus, sampean telat. Tadi malam, tepat malam Jum’at, saya khataman Riyadh as-Shalihin dan didatangi Kanjeng Nabi,” kata KH. Hamid. Gus Miek hanya tersenyum. KH. Hamid kemudian berdiri mengambil sesuatu di atas sebuah jam besar, lalu mengulurkan tangannya kepada Gus Miek dan kedua pengikutnya.

KH. Hamid menyuruh Gus Miek mengambil satu, demikian juga dengan yang lain, lalu kemudian memintanya kembali. Gus Miek, yang tadinya mengambil biji yang berada di tengah, ketika mengembalikan biji itu ke telapak tangan KH. Hamid berubah menjadi batu akik, sementara yan lain masih tetap berupa biji koro. Kemudian KH. Hamid mengembalikannya kepada masing-masing. Kepada Ibnu Katsir, KH. Hamid berpesan agar biji itu ditanam dan kelak bila sudah berbuah KH. Hamid akan datang berkunjung ke rumahnya.

Ketiganya lalu berpamitan dan segera mencari rumah Habib Muhamad as-Syakaf sebagaimana petunjuk KH. Hamid. Ternyata, rumahnya dekat sekali dengan rumah KH. Hamid. Tiba di rumah Habib Muhamad as-syakaf, orangnya tinggi besar dengan suara yang keras dan lantang. "Dari mana?” Tanya Habib Muhamad as-Syakaf. Mau minta doa shalawat,” jawab Gus Miek. Apa belum shalat, di dalam shalat kan banyak shalawat dan banyak doa,” jawab Habib Muhamad as-Syakaf. Habib Muhamad as-Syakaf kemudian berdiri dan menjalankan shalat. Akan tetapi, urut-urutan shalat yang dijalankan Habib Muhamad as-Syakaf sungguh kacau balau menurut tata aturan syari’at fiqih pada umumnya.

Usai shalat, Habib Muhamad as-Syakaf mengambil ceret berwarna keemasan dengan satu gelas besar dan tiga cangkir kecil. Habib Muhamad as-Syakaf menuangkan kopi jahe khas Arab, lalu memberikan yang paling besar kepada Gus Miek dn sisuruh menghabiskannya. Begitu Gus Miek meminum habis isi gelas besar itu, Habib Muhamad as-Syakaf kembali menuangkan secara penuh, kembali Gus Miek menghabiskan. Kejadian tersebut terus berulang sehingga kedua pengikut Gus Miek menjadi keheranan, bagaimana mungkin ceret sekecil itu mempunyai isi yang sedemikian banyak, dan betapa kasihan Gus Miek harus meminum minuman yang tidak enak di lidah dan di perut itu sedemikian banyak, meski seolah Gus Miek tidak merasakan apa-apa.

Setelah puas saling membuktikan kemampuannya, Habib Muhamad as-Syakaf menyuruh Gus Miek berdoa dan dia mengamininya. Di tengah perjalanan pulang, Ibnu Katsir Siroj memprotes Gus Miek mengenai peristiwa pemberian KH. Hamid. Seharusnya, menurut Ibnu Katsir, Gus Miek tidak mengambil biji yang tengah karena Gus Miek sudah sakti. Gus Miek menjelaskan, pada awalnya memang ingin mengambil yang pinggir, tetapi tiba-tiba ada suara “Khayrul umuri ausathuha,” (sebaik-baik perkara adalah yang tengah). Lalu, Ibnu Katsir meminta sarung Gus Miek, tetapi Gus Miek tidak memberikannya karena ia kenang-kenangan dari KH. Hamid Pasuruan.

Setelah tiba dan tinggal kembali di Mangunsari, semakin hari semakin banyak pengikut Gus Miek, baik pengikut Lailiyah maupun santri jalanan yang simpati kepada Gus Miek. Gus Miek hanya menyarankan kepada mereka untuk mengunjungi orang-orang saleh sehingga kesadaran mereka bisa muncul dengan sendirinya. Misalkan berkunjung ke KH. Hamid Pasuruan, Gus Miek meminta Maskur menyampaikan salamnya kepada KH. Hamid. KH. Hamid yang memhami maksud Gus Miek, menerima salam itu sambil terlihat marah (ia tampak habis memarahi rombongan yang masih berada di pelataran rumahnya).

Gus Miek siapa!” bentak KH. Hamid. Ploso, jawab Maskur. Gus Miek itu siapa, sembahyang atau tidak,” bentak KH. Hamid. Ya, tidak tahu,” jawab Maskur. Anak siapa sih Gus Miek itu, ya sudah kamu tidak salah, saya juga tidak salah, sampaikan salam saya kepada Gus Miek,” kata KH. Hamid. Maskur kemudian mencari Gus Miek ke Ploso, Mojoagung, Jember, Surabaya, Botoputih, tatapi tidak ketemu. Akhirnya, ia balik ke Setonogedong, Kediri. Setelah membaca surat Yasin, Gus Miek tiba-tiba muncul.

Pembicaraan KH. Hamid dengan Maskur beserta rombongannya tersebut juga disaksikan oleh seorang tamu yang meragukan shalat Gus Miek, ingin menemui KH. Hamid untuk menanyakan hal itu. Lho, itu yang kau tanyakan, itu kan Gus Miek, cepat minta maaf. Ayo, saya antarkan,” ajak KH. Hamid seperti gugup. KH. Hamid kemudian membukakan jendela. Lihat, itu siapa yang shalat,” kata KH. Hamid. Orang itu gemetar dan pucat karena melihat Gus miek tengah menjalankan shalat di pucuk pohon mangga, beralaskan daun-daun mangga. Sudah, cari Gus Miek dan minta maaf,” perintah KH. Hamid. Orang itu pun terus mencari Gus Miek dan baru bertemu Gus Miek setelah dua tahun kemudian. [dutaislam.com/gg]

Sumber : dutaislam.com
Inilah 37 Kepangkatan Waliyullah dari Qutub hingga Penutup

Inilah 37 Kepangkatan Waliyullah dari Qutub hingga Penutup


Allah SWT menurunkan para auliya di bumi ini dalam 1 abad berjumlah 124.000 orang yang mempunyai tugas masing-masing sesuai pangkat atau maqomnya. Mereka inilah yang menjaga keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam agar alam tetap lestari hingga waktunya tiba. Tugas para wali Allah tidak selesai hanya dengan wafatnya mereka.

Firman Allah dalam Surat Al-Imron ayat 169: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu ‘mati’ bahkan mereka itu ‘hidup’ di sisi Tuhannya dengan mendapat rezqi”.

Para wali Allah hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidupnya itu. Inilah pangkat para wali Allah:

1. Qutub Atau Ghauts (1 abad 1 orang)

2. Aimmah (1 abad 2 orang )

3. Autad (1 abad 4 orang di 4 penjuru mata angin)

4. Abdal (1 abad 7 orang tidak akan bertambah dan berkurang apabila ada wali Abdal yang wafat Allah menggantikannya dengan mengangkat wali Abdal yang lain (Abdal = Pengganti). Wali Abdal juga ada yang waliyah-nya)

5. Nuqoba’ (Naqib ) (1 abad 12 orang diwakilkan Allah masing-masing pada tiap-tiap bulan)

6. Nujaba’ (1 abad 8 Orang)

7. Hawariyyun (1 abad 1 orang) wali Hawariyyun diberi kelebihan oleh Allah dalam hal keberanian, pedang (jihad) di dalam menegakkan agama Islam di muka bumi.

8. Rojabiyyun (1 abad 40 orang yang tidak akan bertambah dan berkurang. Apabila ada salah satu wali Rojabiyyun yang meninggal Allah kembali mengangkat wali Rojabiyyun yang lain. Dan Allah mengangkatnya khusus pada bulan Rajab dari Awal bulan sampai akhir bulan. Oleh karena itu dinamakan Rojabiyyun.

9. Khotam (penutup wali) (1 alam dunia hanya 1 orang) yaitu Nabi Isa A.S ketika ia diturunkan kembali ke dunia menjelang kiamat. Kala itulah Allah mengangkatnya kelak menjadi wali khotam (Penutup). Tidak ada wali setelahnya.

10. Qolbu Adam A.S (1 abad 300 orang)

11. Qolbu Nuh A.S (1 abad 40 orang)

12. Qolbu Ibrohim A.S (1 abad 7 orang)

13. Qolbu Jibril A.S (1 abad 5 orang)

14. Qolbu Mikail A.S (1 abad 3 orang tidak kurang dan tidak lebih, Allah selalu mengangkat wali lainnya apabila ada salah satu dari wali Qolbu Mika'il yang wafat)

15. Qolbu Isrofil A.S (1 abad 1 orang)

16. Rijalul ‘Alamul Anfas (1 abad 313 orang )

17. Rijalul Ghoib (1 abad 10 orang tidak bertambah dan berkurang. Tiap-tiap wali Rijalul Ghoib ada yang wafat, seketika juga Allah mengangkat wali Rijalul Ghoib yang lain. Wali Rijalul Ghoib merupakan wali yang disembunyikan oleh Allah dari penglihatan makhluk-makhluk bumi dan langit. Tiap-tiap wali Rijalul Ghoib tidak dapat mengetahui wali Rijalul Ghoib yang lainnya. Ada wali dengan pangkat Rijalul Ghoib dari golongan jin mukmin. Semua wali Rijalul Ghoib tidak mengambil sesuatupun dari rizqi alam nyata ini. Mereka mengambil atau menggunakan rizqi dari alam ghaib.

18. Adz-Dzohirun (1 abad 18 orang)

19. Rijalul Quwwatul Ilahiyyah (1 abad 8 orang)

20. Khomsatur Rizal (1 abad 5 orang)

21. Rijalul Hanan ( 1 abad 15 orang)

22. Rijalul Haybati Wal Jalal ( 1 abad 4 orang)

23. Rijalul Fath (1 abad 24 orang) Allah mewakilkannya di tiap Sa’ah (Jam) wali Rijalul Fath tersebar di seluruh dunia. 2 orang di Yaman, 6 orang di negara Barat dan 4 orang di negara timur, dan sisanya di semua jihat (arah mata angin)

23. Rijalul Ma’arijil ‘Ula (1 abad 7 orang)

24. Rizalut Tahtil Asfal (1 abad 21 orang)

25. Rizalul Imdad (1 abad 3 orang)

26. Ilahiyyun Ruhamaniyyun (1 abad 3 orang). Pangkat ini menyerupai pangkatnya wali Abdal.

27. Rojulun Wahidun (1 abad 1 orang)

28. Rojulun Wahidun Markabun Mumtaz (1 abad 1 orang ). Wali dengan maqom Rojulun Wahidun Markab ini dilahirkan antara manusia dan golongan ruhanny (bukan murni manusia). Beliau tidak mengetahui siapa ayahnya dari golongan manusia. Wali dengan pangkat ini tubuhnya terdiri dari dua jenis yang berbeda. Pangkat wali ini ada juga yang menyebut "Rojulun Barzakh". Ibu dari wali pangkat ini dari golongan ruhanny Air. Innallah ala kulli syai'in qadir/ Sesungguhnya Allah SWT atas segala sesuatu berkuasa.

29. Syakhsun Ghorib (di dunia hanya ada 1 orang)

30. Saqit Arofrof Ibni Saqitil ‘Arsy (1 abad 1 orang)

31. Rijalul Ghina (1 abad 2 orang). Sesuai nama maqomnya (pangkatnya) wali ini sangat kaya, baik kaya ilmu agama, kaya ma’rifatnya kepada Allah maupun kaya harta yang ditasharrufkan di jalan Allah. Pangkat wali ini juga ada waliahnya (wanita).

31. Syakhsun Wahidun (1 abad 1 orang)

32. Rijalun Ainit Tahkimi waz Zawaid (1 abad 10 orang)

33. Budala’ (1 abad 12 orang ) Budala’ adalah Jama’ Sigoh Muntahal Jumu’ dari kata Abdal, tapi bukan pangkat wali abdal.

34. Rijalul Istiyaq (1 abad 5 orang)

35. Sittata Anfas (1 abad 6 orang) salah satu wali dari pangkat ini adalah Putra dari Raja Harun Ar-Royid yaitu Syeikh Al-’Alim Al-’Allamah Ahmad As-Sibty.

36. Rijalul Ma’ (1 abad 124 orang ). Wali dengan pangkat ini beribadahnya di dalam air. Diriwayatkan oleh Syeikh Abi Su’ud Ibni Syabil: "Pada suatu ketika aku berada di pinggir sungai Tikrit di Bagdad, dan aku termenung dan terbersit dalam hatiku “Apakah ada hamba-hamba Allah yang beribadah di sungai-sungai atau di lautan?”. Belum sampai perkataan hatiku tiba-tiba dari dalam sungai muncullah seseorang yang berkata “Akulah salah satu hamba Allah yang ditugaskan untuk beribadah di dalam Air”. Maka aku pun mengucapkan salam padanya. Lalu dia pun membalas salam. Tiba-tiba orang tersebut hilang dari pandanganku."

37. Dakhilul Hizab (1 abad 4 orang). Wali ini tidak dapat diketahui Kewaliannya oleh para wali yang lain sekalipun sekelas Qutbil Aqtob Seperti Syeikh Abdul Qodir Jailani karena wali ini ada di dalam Hijabnya Alloh. Namanya tidak tertera di Lauhil Mahfudz sebagai barisan para Aulia. Namun Nur Ilahiyyahnya dapat terlihat oleh para auliya' seperti diriwayatkan dalam kitab Nitajul Arwah bahwa suatu ketika Syeikh Abdul Qodir Jailani melaksanakan Thawaf di Baitullah, Makkah Mukarromah. Tiba-tiba Syeikh melihat seorang wanita dengan Nur Ilahiyyahnya yang begitu terang benderang sehingga Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani mukasyafah ke Lauhil Mahfudz. Dilihat di lauhil mahfudz, nama wanita ini tidak ada di barisan para wali-wali Allah. Lalu Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani bermunajat kepada Allah untuk mengetahui siapa wanita ini dan apa yang menjadi amalnya sehingga Nur Ilahiyyahnya terpancar begitu dahsyat. Kemudian Allah memerintahkan Malaikat Jibril A.S untuk memberitahukan kepada Syeikh bahwa wanita tersebut adalah seorang waliyyah dengan maqom/pangkat Dakhilul Hizab "Berada di dalam hijabnya Allah". Kisah ini mengisyaratkan kepada kita semua agar senantiasa berhusnudzon (berbaik sangka) kepada semua makhluq Allah.

Sumber : dutaislam.com
Kisah Lucu Santri Kiai Kholil Pakai Doa Aqiqah untuk Berkelahi

Kisah Lucu Santri Kiai Kholil Pakai Doa Aqiqah untuk Berkelahi


Doa yang benar saja belum tentu diterima, bagaimana jadinya jika jika doa dibaca salah? Kisah ini pernah terjadi pada salah seorang santri Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura, yang salah mengamalkan doa. Anehnya, doa tersebut malah manjur meskipun salah.

Alkisah, Kiai Kholil yang dikenal wali dan punya banyak karomah punya khodam dari salah satu santrinya. Si Khodam bertanggung jawab mengurus kitab-kitab beliau. Dia membawanya ketika sang kiai mengajar. Setelah itu membersihkannya dan meletakkan kembali ke tempat semula.

Suatu hari ketika si santri membersihkan kitab tidak sengaja melihat tulisan "DO'A AQEQET" (doa berkelahi) dalam tulisan Arab di salah satu halaman kitab.

"Wah! ini doa kesukaan saya," gumamnya dalam hati.

Si khodam segera menghafalkan doa yang hanya beberapa kalimat itu. Merasa sudah hafal, dia kembalikan kitab itu ke tempat semula.

Sampai pada suatu hari si khodam terlibat perselisihan dengan santri lain yang menjadi ketua pengurus pondok pesantren. Khodam yang tubuhnya kerempeng itu biasanya selalu mengalah. Tetapi kali ini dia ngeyel tidak mau mengalah. Dia menantang ketua pengurus pondok yang tubuhnya lebih besar dan kekar.

Kemudian khodam komat kamit membaca "doa aqeqet" yang sudah dihapalnya sambil menyingsingkan lengan bajunya.

"Maju kamu!" tantang ketua pengurus sambil mengenakan kopiahnya.

"Oh, jelas," kata khodam dengan posisi siap tempur.

Perkelahianpun dimulai. Santri-santri berdatangan menyaksikan tontonan gratis itu.

Sementara khodam terus mendesak mundur ketua pengurus. Sorak sorai bergemuruh. Ketua pengurus kaget dan terheran-heran dengan kekuatan serangan khodam yang sejak dulu dia remehkan.

Akhirnya, ketua pengurus pondok menyerah kalah. Padahal dia dikenal memiliki banyak ragam ilmu beladiri.

Kejadian itu lantas membuat si khodam terkenal. Pada hari-hari berikutnya, banyak santri yang menjajal kekuatan khodam. Setiap berkelahi khodam selalu menang.

Ketenaran si khodam akhirnya terdengar oleh Syaikhona Kholil. Khodam dipanggil oleh kiai.

"Khodam, kesini kamu!" panggil kiai.

"Baik kyai," jawab khodam dengan ta'dzim dan bergegas menghampiri.

"Saya dengar kamu selalu menang berkelahi," selidik Kiai Kholil penasaran.

"Barokahnya kitab Kyai," jawab khodam merendah.

"Mengapa begitu?" tanya kyai Kholil.

"Saya mendapatkan do'a berkelahi (akeket) dari kitab kyai," terang khodam.

"Coba saya mau lihat," kata kyai Kholil semakin ingin tau.

"Ini kyai," jawab khodam sambil menunjukkan halaman kitab.

Ternyata, halaman yang ditunjuk khodam bertuliskan: عقيقة .

Kitab di pondok pesantren memang kebanyakan bertulisan Arab tanpa haroqat atau tanda baca. Istilahnya Arab Gundul. Dan selain dalam bahasa Arab, biasanya huruf Arab tersebut diberi keterangan berupa tulisan Arab juga yang disebut Huruf Pegon.

Bedanya, meskipun sama-sama huruf Arab, huruf Pegon ini bukanlah bahasa Arab tapi merupakan bahasa daerah. Biasanya bahasa Jawa atau Madura.

Kata عقيقة yang seharusnya dibaca Aqiqah dalam bahasa Arab malah dibaca “Aqeqet” atau “Akeket” oleh si khodam yang berarti "Berkelahi" dalam bahasa Madura.

"Oh, ini do'a AQIQAH nak. Bukan AKEKET," kata Kyai Kholil.

Mendengar keterangan Kiai Kholil, khodam terkaget lalu tertunduk malu. Doa yang dia pakai untuk berkelahi ternyata doa untuk Aqiqah. Khodam salah baca. Tapi kok manjur? Itulah kekuatan doa yang diiringi keyakinan kuat di hati.

Syaikhona K.H. Mohammad Kholil memang seorang ulama besar di Nusantara. Beliau adalah guru dari dua Kyai pendiri Ormas Islam terbesar di tanah air yaitu K.H. Hasyim Asy'ari (Nahdlatul Ulama) dan K.H. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah). Beliau mempunyai pondok pesantren di Bangkalan, Madura. [dutaislam.com/ed/pin]

Sumber : dutaislam.com
Inilah 3 Kunci Politik Nabi

Inilah 3 Kunci Politik Nabi


Politik itu candu. Begitulah tema yang diangkat pada siaran langsung Shihab n Shihab pada Rabu (25/10) malam melalui akun Facebook, Youtube, dan Instagram Najwa Shihab.

Pendiri Pusat Studi Al-Quran, KH Quraish Shihab, menyampaikan tiga hal penting dalam perbincangan yang berlangsung selama 45 menit. Dalam berpolitik, Nabi berdasar pada musyawarah.

“Dalam berpolitik perlu ada musyawarah sehingga hasil permusyawaratan itulah yang dilaksanakan,” jelasnya.

Mantan Menteri Agama era Kabinet Pembangunan VII itu mencontohkan sebuah peristiwa saat Perang Uhud. Nabi meminta untuk tetap tinggal di kota. Tetapi mayoritas sahabat menghendaki keluar. Nabi pun mengikuti pendapat tersebut.

“Kesalahan yang terjadi akibat pendapat seseorang itu jauh lebih besar daripada kesalahan yang disepakati oleh banyak orang,” ia melanjutkan.

Selain itu, Nabi juga mendasari sikap-sikap politiknya pada kemaslahatan umum.

“Nabi dalam berpolitik selalu mencari apa yang menjadi kemaslahatan umum,” ujarnya.

Hal tersebut memungkinkan Nabi untuk mengorbankan kemaslahatan sebagian. “Sehingga bisa jadi mengorbankan kemasalahatan sebagian demi kemaslaahtan umum,” katanya.

Prinsip politik Nabi Muhammad SAW kedua adalah persatuan. Demi terwujudnya hal tersebut, Nabi sukarela berkorban secara lahiriah.

“Yang kedua, selalu mengarah kepada upaya mempersatukan apa yang terserak,” katanya.

Pakar tafsir Al-Quran itu mencontohkan pengorbanan Nabi pada Perjanjian Hudaibiyah.

“Kalau perlu berkorban secara lahiriah, itu kita lihat misalnya sewaktu Perjanjian Hudaibiyah,” ungkapnya.

Saat itu, Sayyidina Umar menolak dengan adanya penghapusan tujuh kata pada naskah perjanjian tersebut. Tetapi, Nabi menerimanya dengan lapang dada.

Hal ini, menurut Abi, panggilan Najwa kepada ayahnya, menjadi inspirasi para pejuang kemerdekaan Indonesia untuk menghapus tujuh kata pada sila pertama Pancasila.

“Ini bisa jadi yang menginspirasi tokoh-tokoh nasional kita yang menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta,” ujarnya.

“Itu tadi, kita mau cari kesepakatan bersama walaupun dengan mengalah atau Mundur selangkah demi mencapai tujuan yang lebih besar,” terang penulis Tafsir Al-Mishbah mengungkap alasannya.

“Jadi selalu mengutamakan kesatuan dan persatuan?” Nana meminta konfirmasi.

“Selalu mengutamakan kesatuan dan persatuan,” jawab KH Quraish Shihab.

Meskipun begitu, dalam melakukan tindakan-tindakan politik, kita tidak mesti harus persis mengikuti apa yang dilakukan oleh Nabi. “Kita jangan berkata itu (tindakan Nabi dalam berpolitik) harus diikuti karena situasi berbeda,” ungkapnya.

Pada siaran tersebut, Najwa Shihab juga menampilkan beberapa video kiriman rekan-rekannya yang berkiprah menjadi politikus; antara lain Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah, Wakil Ketua Komisi I Meutya Hafid; Gubernur Jambi Zumi Zola; Bupati Trenggalek Emil Dardak; Vokalis grup band Nidji Giring yang kini menjadi politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Mereka menyampaikan pendapat masing-masing mengenai tema yang diangkat dan alasan mereka terjun ke dunia politik. (Syakirnf/Kendi Setiawan)

Sumber : nu.or.id
10 Orang yang Jasadnya tidak Hancur di Dalam Kubur

10 Orang yang Jasadnya tidak Hancur di Dalam Kubur


FAEDAH: "10 ORANG INI TIDAK AKAN HANCUR JASADNYA DIDALAM KUBUR"

Berkata Sayyidii Ali Al Wana'i:" Telah datang didalam Khabar bahwa sesungguhnya 10 orang ini tidak akan hancur (rusak) jasadnya;
1. Para Nabi
2. Orang Alim
3. Orang yang mati syahid
4. Orang yang hafal Al-Qur'an (Hafidz Hafidzah)
5. Orang yang selalu mengumandangkan adzan shalat lima waktu
6. Imam/Pemimpin yang adil
7. Wanita yang meninggal ketika nifas (setelah melahirkan)
8. Orang yang terbunuh secara dzalim
9 & 10. Orang yang meninggal di malam Jum'at dan hari Jum'at".

Ulama lain juga mengatakan salah satu orang yang tidak akan hancur jasadnya di dalam kubur ialah pengganti Imam yang adil/wakilnya, orang yang jujur, orang yang mencintai karena Allah SWT, orang yang memperbanyak dzikir kepada Allah SWT, dan orang yang meninggal kena penyakit tha'un atau mati karena menjaga benteng Islam fii Sabilillah.

(Kitab Is'aad ar Rafiiq wa Bughyah As Shadiiq Syarah Sullam al Taufiiq, hal; 31 Lil Allaamah Al Habib Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad bin Hasyim Ba 'Alawi Rahimahullahu Ta'ala aamiin)...

Mudah-mudahan kita semua bisa masuk dalam golongan 10 orang diatas aamiin aamiin aamiin ya rabbal aalamiin bisirri asrari Al Fatihah....

Sumber : muslimoderat.net
Doa Abu Nawas Minta Jodoh Agar Dikabulkan

Doa Abu Nawas Minta Jodoh Agar Dikabulkan


Secerdas apapun Abu Nawas dia tetap manusia biasa. Kecerdasannya tak menjamin dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia membutuhkan kecerdasan lain di luar kemampuan dirinya. Kecerdasan itu adalah doa.

Kala masih bujang Abu Nawas ingin segera mendapatkan jodoh. Kemudian menikah dan hidup bersama jadi satu keluarga. Suatu ketika Abu Nawas sangat tergila-gila pada seorang wanita. Wanita yang disenanginya sungguh cantik, pintar serta termasuk wanita ahli ibadah. Abu Nawas ingin menjadikannya istri.

Karena cintanya begitu membara, dia lantas berdoa dengan khusyuk meminta kepada Allah SWT. Tejemahanan doanya dalam bahasa Indonesia kurang lebih sebagai berikut:

"Ya Allah, jika memang gadis itu baik untuk saya, dekatkanlah kepadaku. Tetapi jika memang menurutmu ia tidak baik buatku, tolong Ya Allah, sekali lagi tolong...pertimbangkan lagi ya Allah," ucap Abu Nawas sambil menyebut nama gadis itu dan terkesan memaksa kehendak Allah.

Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu. Selama berbulan-bulan ia pun menunggu tanda-tanda dikabulkan doanya.

Tiga bulan berlalu Abu Nawas merasa doanya tak dikabulkan. Dia kemudian introspeksi diri. ”Mungkin Allah tak mengabulkan doaku karena aku kurang pasrah atas pilihan jodohku," ucapnya dalam hati.

Kemudian Abu Nawas bermunajat lagi. Tapi kali ini dia ganti strategi. Doa kali ini tidak diembel-embeli spesifik pakai nama si gadis. Apalagi berani "maksa" kepada Allah seperti doa sebelumnya.

"Ya Allah berikanlah istri yang terbaik untukku," begitu bunyi doanya.
Berbulan-bulan dia terus memohon kepada Allah.  Namun Allah tak juga mendekatkan jodoh Abu Nawas, wanita yang menjadi punjaanya itu. Allah bahkan belum juga mempertemukan Abu Nawas dengan wanita yang mau diperistri. Lama-lama ia mulai khawatir juga.

Takut menjadi bujangan tua, Abu Nawas memutar otak. Dia mencari cara agar doanya cepat terkabul. Dia memang terkenal cerdas. Kali ini doanya sedikit "diplomatis" dengan Allah. Dia mengubah doanya. 

"Ya Allah, kini aku tidak minta lagi untuk diriku. Aku hanya minta wanita sebagai menantu Ibuku yang sudah tua dan sangat aku cintai Ya Allah. Sekali lagi bukan untukku Ya Tuhan. Maka, berikanlah ia menantu," begitu doa Abu Nawas.

Dasar Abu Nawas. Pakai bawa nama ibunya segala. Padahal permintaanya tetap saja untuk dirinya. Allah Maha Tahu, tidak perlu dipolitisir segala. 

Barangkali karena keikhlasan dan "keluguan" waliyullah Abu Nawas, Allah pun menjawab doanya. Allah menakdirkan wanita cantik dan salihah itu menjadi istri Abu Nawas. Abu Nawas bersyukur bisa mempersunting gadis pujaannya. Keluarganya pun berjalan mawaddah warahmah. [dutaislam.com/ed/pin]

Sumber : dutaislam.com
Diundang Maulid Tidak Hadir, Ini Jawaban Tak Terpikirkan dari Habib Luthfi

Diundang Maulid Tidak Hadir, Ini Jawaban Tak Terpikirkan dari Habib Luthfi


Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan pernah diundang oleh salah satu murid kesayangan di Jateng untuk hadir sebagai penceramah pada acara Maulid Nabi. Abah Luthfi menjawab insyaallah hadir. Sang murid tentu sangat bergembira atas kesediaan beliau.

Semua sudah disiapkan. Lazimnya, menghadirkan Habib Luthfi harus manut jadwal beliau. Atau, beliau yang menjadwalkan sendiri. Itu pun tidak ada jaminan pasti hadir. Dalam thariqah, hal itu adalah bagian dari sikap hormat murid kepada guru. Pun demikian, ketika tidak hadir, murid tidak layak menggerutu kepada guru.

Makanya, mengundang Abah Luthfi yang juga ketua Jamiyah Ahluth Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah (Jatman) tersebut, harus siap ikhlash lahir batin. Beliau datang, harus siap dan tetap berhati-hati. Tidak jadi hadir pun harus siap menata hati jangan sampai mengecewakan. Itulah adab dalam thariqah.

Jika jadwal acara diubah hingga berkali-kali, itu bukan tidak mungkin terjadi. Sebaliknya, beliau sering hadir tiba-tiba dalam sebuah acara tanpa konfirmasi dan tanpa pengawal. Sendirian. Saksi kejadian macam ini banyak. Karena itulah, acara yang dihadiri Habib Luthfi tidak pernah menggunakan wasilah Event Organizer (EO).

Nah, dalam cerita ini, jadwal maulid yang sudah disiapkan sang murid tersebut diubah hingga 3 kali (kalau tidak salah dengar). Dan, pas hari pelaksanaan, ternyata beliau tidak jadi hadir karena suatu urusan. Harapan kahadiran pun kandas.

Kejadian tersebut membuat sang murid akhirnya tidak pernah berjumpa dengan Abah Luthfi sebagaimana biasanya, entah kecewa atau karena faktor lain. Hingga suatu saat ada seorang kiai dari Semarang yang sowan ke Pekalongan dan Habib Luthfi bertanya kabar tentang sang murid kesayangan tersebut kepada sang kiai.

"Kamu tahu kan, dalam maulidan itu yang dihormati adalah Kanjeng Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam. Terus kalau pun aku datang di acara maulid itu, apa bisa aku dibandingkan dengan Kanjeng Nabi? Tidak bisa, sejauh tanpa kira bandingannya. Seakan-akan kalau aku datang di acara maulid, mereka membandingkan aku dengan Kanjeng Nabi," kata Abah Luthfi ke kiai dari Semarang tersebut.

Apa yang dikatakan Abah Luthfi tersebut disampaikan juga kepada sang murid kesayangan. Bagai disambar petir, sang murid langsung nangis terisak, tersedu-sedu mendengar pesan sang guru hingga sebegitu mendalam memaknai maulid Nabi. [dutaislam.com/ ab]

Sumber : dutaislam.com
Rahasia Allah Kirimkan Wali yang Nyeleneh, Untuk Menjaga Keseimbangan

Rahasia Allah Kirimkan Wali yang Nyeleneh, Untuk Menjaga Keseimbangan


Rahasia Alloh mengirimkan Wali Nyleneh (Jadzab) menurut Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya adalah:
Habib Ahmad bin Hasan al-Athas berkisah dalam sebuah kitab, bahwa semua habib terkemuka di Yaman saat ini pasti murid dari muridnya Habib Ahmad bin Hasan, termasuk Habib Umar bin Hafidz, Habib Abu Bakar al-Adni, Habib Salim asy-Syathiri.
Alkisah, ada seorang wali madjdzub (nyeleneh) yang mempunyai rental kendaraan (keledai) khusus perempuan. Anehnya setiap penumpang perempuannya sampai tujuan ia menciumnya.

Konon semua perempuan yang pernah diciumnya kelak tidak pernah berzina seumur hidupnya.
Singkat cerita ada seorang ulama (baca; wali syariat) yang mengingkarinya. Ia menarik wali majdzub ke masjid, menghajarnya habis-habisan.

Tiba-tiba ilmu wali syariat itu hilang. Keduanya lalu melapor pada Syaikh Ali al-Khawas. Syaikh Ali al-Khawas kemudian yang memintakan maaf pada wali majdzub, dan kembalilah ilmu sang wali syariat.
Jika Anda sangsi dengan kisah ini mari kita buka kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam al-Quran. Nabi Musa menghadapi kaum yang nakal, bayangkan saat Nabi Musa mandi pakaiannya mereka curi. Barangkali karena itu syariat Nabi Musa salah satu syariat paling tegas.

Anda tahu hukuman penyembah patung sapi Musa Samiri? Dihukum dengan saling membunuh satu sama lain. Ketegasan hukum Nabi Musa bisa dijumpai dalam Perjanjian Lama: 10 perintah Tuhan (10 of God's Commandment).
Allah mempertemukan Nabi Musa dengan Nabi Khidir. Selama kebersamaan keduanya, Nabi Khidir melanggar 3 dari 10 perintah Tuhan itu; membunuh anak kecil, merusak perahu dan meruntuhkan dinding milik orang lain (membangun dinding tanpa imbalan padahal sangat butuh, red.).
Melalui Khidir Allah memperlihatkan pada Nabi Musa bahwa ada dimensi lain dalam syariatNya selain hukum.

Al Habib Luthfi bin Yahya mengatakan, bahwa wali majdzub, Nabi Khidir, (selanjutnya kita mungkin bisa menyebut Gus Miek, Mbah Liem, Gus Dur, Habib Syekhon, Habib Ja'far, Ralilur dll. yang ada dalam setiap generasi) untuk menjaga keseimbangan agar syariat tidak berubah menjadi hukum yang rigid dan mengekang.

Ketika Islam diaplikasi hanya sebagai fikih, maka Allah mengutus wali-waliNya yang kadang nyeleneh untuk menjaga keseimbangan antara Islam dan Ihsan.

Sumber : muslimoderat.net
Iniah Kronologi Lengkap Tongkat Nabi Musa ditangan Kiai NU "KH Said Aqil Siradj"

Iniah Kronologi Lengkap Tongkat Nabi Musa ditangan Kiai NU "KH Said Aqil Siradj"


Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siradj menerima tongkat keramat milik Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, dalam acara Hari Santri Nasional, di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (22/10).

“Saya terima dengan rasa syukur dan bangga, tongkat Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Semoga tongkat ini membawa berkah, menjadi jimat Nusantara,” ujar KH Said Aqil Siradj.

Tongkat milik Pendiri Nahdlatul Ulama’ tersebut adalah pemberian Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH. Hasyim Asy’ari. Dalam hikayat ceramah Alm. KHR. As’ad Syamsul Arifin Situbondo, tongkat tersebut tongkat Nabi Musa yang diberikan Bah Kholil Bangkalan, melalui Kyai As’ad Syamsul Arifin, kepada Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari sebagai amanah, untuk mendirikan Nahdlatul Ulama’ pada era pra kemerdekaan tahun 1926.


Berikut Cerita Lengkapnya yang diranslit dari Pidato KH. As'ad Syamsul Arifin


(KH As’ad Syamsul Arifin adalah pelaku sejarah berdirinya NU, beliaulah yang menjadi media penghubung dari KH. Kholil Bangkalan yang memberi isyarat agar KH. Hasyim Asyari mendirikan Jam’iyah Ulama yang akhirnya bernama Nahdlatul Ulama. Pidato ini awalnya berbahasa Madura dan berikut adalah translit selengkapnya).

Assalamu’alaikum Wr. Wb. yang akan saya sampaikan pada Anda tidak bersifat nasehat atau pengarahan, tapi saya mau bercerita kepada Anda semua. ANDA suka mendengarkan cerita? (Hadirin menjawab: Ya).

Kalau suka saya mau bercerita. Begini saudara-saudara. Tentunya yang hadir ini kebanyakan warga NU, ya? Ya? (Hadirin menjawab: Ya).

Kalau ada selain warga NU tidak apa-apa ikut mendengarkan. Cuma yang saya sampaikan ini tentang NU, Nahdlatul Ulama. Karena saya ini orang NU, tidak boleh berubah-ubah, sudah NU. Jadi saya mau bercerita kepada anda mengapa ada NU?

Tentunya muballigh-muballigh yang lain menceritakan isinya kitab. Kalau saya tidak. Sekarang saya ingin bercerita tentang kenapa ada NU di Indonesia, apa sebabnya? Tolong didengarkan ya, terutama para pengurus, Pengurus Cabang, MWC, Ranting, kenapa ada NU di Indonesia.

Begini, umat Islam di Indonesia ini mulai kira-kira 700 tahun dari sekarang, kurang lebih, para auliya', pelopor-pelopor Rasulullah Saw. ini yang masuk ke Indonesia membawa syariat Islam menurut aliran salah satu empat madzhab, yang empat. Jadi, ulama, para auliya', para pelopor Rasulullah Saw. masuk ke Indonesia pertama kali yang dibawa adalah Islam. Menurut orang sekarang Islam Ahlussunah wal Jama’ah, syariat Islam dari Rasulullah Saw. yang beraliran salah satu empat madzhab khususnya madzhab Syafi'i. Ini yang terbesar yang ada di Indonesia.

Madzhab-madzhab yang lain juga ada. Ini termasuk Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Termasuk yang dibawa Walisongo, yang dibawa Sunan Ampel, termasuk Raden Asmoro ayahanda Sunan Ampel, termasuk Sunan Kalijogo, termasuk Sunan Gunung Jati. Semua ini adalah ulama-ulama pelopor yang masuk ke Indonesia, yang membawa syariat Islam Ahlussunah wal Jama’ah.

Kira-kira tahun 1920, waktu saya ada di Bangkalan (Madura), di pondok Kyai Kholil. Kira-kira tahun 1920, Kyai Muntaha Jengkebuan menantu Kyai Kholil, mengundang tamu para ulama dari seluruh Indonesia. Secara bersamaan tidak dengan berjanji datang bersama, sejumlah sekitar 66 ulama dari seluruh Indonesia.

Masing-masing ulama melaporkan: “Bagaimana Kyai Muntaha, tolong sampaikan kepada Kyai Kholil, saya tidak berani menyampaikannya. ini semua sudah berniat untuk sowan kepada Hadhratus Syaikh. Ini tidak ada yang berani kalau bukan Anda yang menyampaikannya.”

Kyai Muntaha berkata: “Apa keperluannya?”

“Begini, sekarang ini mulai ada kelompok-kelompok yang sangat tidak senang dengan ulama Salaf, tidak senang dengan kitab-kitab ulama Salaf. Yang diikuti hanya al-Quran dan Hadits saja. Yang lain tidak perlu diikuti. Bagaimana pendapat pelopor-pelopor Walisongo karena ini yang sudah berjalan di Indonesia. Sebab rupanya kelompok ini melalui kekuasaan pemerintah Jajahan, Hindia Belanda. Tolong disampaikan pada Kyai Kholil.”

Sebelum para tamu sampai ke kediaman Kyai Kholil dan masih berada di Jengkuban, Kyai Kholil menyuruh Kyai Nasib: “Nasib, ke sini! Bilang kepada Muntaha, di al-Quran sudah ada, sudah cukup:

يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴿٣٢﴾

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. at-Taubat ayat 32)

Jadi kalau sudah dikehendaki oleh Allah Ta'ala, maka kehendakNya yang akan terjadi, tidak akan gagal. Bilang ya kepada Muntaha.”

Jadi para tamu belum sowan sudah dijawab oleh Kyai (Kholil). Ini karomah saudara, belum datang sudah dijawab keperluannya. Jadi para ulama tidak menyampaikan apa-apa, Cuma bersalaman. “Saya puas sekarang” kata Kyai Muntaha. Jadi saya belum sowan, sudah dijawab hajat saya ini.

Tahun 1921-1922 ada musyawarah di Kawatan (Surabaya) di rumah Kyai Mas Alwi. Ulama-ulama berkumpul sebanyak 46, bukan 66. Tapi hanya seluruh Jawa, bermusyawarah termasuk Abah saya (KH. Syamsul Arifin), termasuk Kyai Sidogiri, termasuk Kyai Hasan almarhum, Genggong, membahas masalah ini.

Seperti apa, seperti apa? Dari Barat Kyai Asnawi Qudus, Ulama-ulama Jombang semua, Kyai Thohir. para Kyai berkata: “Tidak ada jadinya, tidak ada kesimpulan.” Sampai tahun 1923, kata Kyai satu: “Mendirikan Jamiyah (organisasi)”, kata yang lain: “Syarikat Islam ini saja diperkuat.” Kata yang lain: “Organisasi yang sudah ada saja.”

Belum ada NU. (Sementara) yang lain sudah merajalela. Tabarruk-tabarruk sudah tidak boleh. Orang minta berkah ke Ampel sudah tidak boleh. Minta syafaat ke nenek moyang sudah tidak boleh. Ini sudah tidak dikehendaki. Sudah ditolak semua oleh kelompok-kelompok tadi. Seperti apa bawaan ini.

Kemudian ada satu ulama yang matur (menghadap) sama Kyai: “Kyai, saya menemukan satu sejarah tulisan Sunan Ampel. Beliau menulis seperti ini (Kyai As'ad berkata: “Kalau tidak salah ini kertas tebal. Saya masih kanak-kanak. Belum dewasa hanya mendengarkan saja”): “Waktu saya (Sunan Ampel Raden Rahmatullah) mengaji ke paman saya di Madinah, saya pernah pernah bermimpi bertemu Rasulullah, seraya berkata kepada saya (Raden Rahmat): “Islam Ahlussunah wal Jama’ah ini bawa hijrah ke Indonesia. Karena di tempat kelahirannya ini sudah tidak mampu melaksanakan Syariat Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Bawa ke Indonesia.”

Jadi di Arab sudah tidak mampu melaksanakan syariat Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Pada zaman Maulana Ahmad, belum ada istilah Wahabi, belum ada istilah apa-apa. Ulama-ulama Indonesia ditugasi melakukan wasiat ini.

Kesimpulannya mari Istikharah. Jadi ulama berempat ini melakukannya. Ada yang ke Sunan Ampel. Ada yang ke Sunan Giri. Dan ke sunan-sunan yang lain. Paling tidak 40 hari. Ada 4 orang yang ditugasi ke Madinah.

Akhirnya, tahun 1923 semua berkumpul, sama-sama melaporkan. Hasil laporan ini tidak tahu siapa yang memegang. Apa Kyai Wahab, apa Kyai Bisri. Insya Allah ada laporan lengkapnya. Dulu saya pernah minta sama Gus Abdurrahman dan Gus Yusuf supaya dicari.

Sesudah tidak menemukan kesimpulan, tahun 1924, Kyai (Kholil) memanggil saya. Ya saya ini. Saya tidak bercerita orang lain. Saya sendiri. Saya dipanggil: “As'ad, ke sini kamu!”

Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh kyai, karena saya tidak bisa mengucapkan huruf Ra'. Saya ini pelat (cadal). “Arrahman Arrahim…”

Kyai marah: “Bagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!”

“Saya tidak sengaja Kyai. Saya ini pelat.”

Kyai kemudian keluar (Kyai Kholil melakukan sesuatu). Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekeramatan Kyai yang diberikan kepada saya.

Kedua, saya dipanggil lagi: “Mana yang cedal itu? Sudah sembuh cedalnya?”

“Sudah Kyai.”

“Ke sini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asy’ari Jombang. Tahu rumahnya?”

“Tahu.”

“Kok tahu? Pernah mondok di sana?”

“Tidak. Pernah sowan.”

“Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan.”

“Ya, kyai.”

“Kamu punya uang?”

“Tidak punya, kyai.”

“Ini.”

Saya diberikan uang Ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya.

Setelah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi: “Ke sini kamu! Ada ongkosnya?”

“Ada kyai.”

“Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan suka merokok?”

Saya dikasih lagi 1 Ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan. Masih ada sampai sekarang. Kyai keluar: “Ini (tongkat) kasihkan ya, (Kyai Kholil membaca QS. Thaha ayat 17-21):

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١﴾

“Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

Karena saya ini namanya masih muda. Masih gagah. Sekarang saja sudah keriput. Gagah pakai tongkat dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel: “Orang ini gila. Muda pegang tongkat.”

Ada yang lain bilang: “Ini wali.”

Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila, ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu, saya hanya disuruh Kyai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu.

Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Karena masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti. Rusak semua, yang menghina terlalu parah. Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kyai. Saya terus jalan.

Sampai di Tebuireng, (Kyai Hasyim bertanya): “Siapa ini?”

“Saya, Kyai.”

“Anak mana?”

“Dari Madura, Kyai.”

“Siapa namanya?”

“As'ad.”

“Anaknya siapa?”

“Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin.”

“Anaknya Maimunah kamu?”

“Ya, Kyai”

“Keponakanku kamu, Nak. Ada apa?”

“Begini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil) untuk mengantar tongkat.”

“Tongkat apa?”

“Ini, Kyai.”

“Sebentar, sebentar…”

Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas). “Bagaimana ceritanya?”

Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١﴾

“Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

"Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jam’iyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kyai Kholil kepada saya.”

Inilah rencana mendirikan Jam’iyah Ulama. Belum ada Nahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah mendengar kabar berdirinya Jam’iyah Ulama. Saya tidak mengerti.

Setelah itu saya mau pulang. “Mau pulang kamu?”

“Ya, Kyai.”

“Cukup uang sakunya?”

“Cukup, Kyai.”

“Saya cukup didoakan saja, Kyai.”

“Ya, mari. Haturkan sama Kyai, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jam’iyah Ulama akan diteruskan.”

Inilah asalnya Jam’iyatul Ulama.

Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil: “As'ad, ke sini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?”

“Tidak, Kyai.”

“Hasyim Asy'ari?”

“Ya, Kyai.”

“Di mana rumahnya.”

“Tebuireng.”

“Dari mana asalnya?”

“Dari Keras (Jombang). Putranya Kyai Asy’ari Keras.”

“Ya, benar. Di mana Keras?”

“Di baratnya Seblak.”

“Ya, kok tahu kamu?”

“Ya, Kyai.”

“Ini tasbih antarkan.”

“Ya, Kyai.”

Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.

Terus, pagi hari Kyai keluar dari Langgar: “Ke sini, makan dulu!”

“Tidak, Kyai. Sudah minum wedang dan jajan,”

“Dari mana kamu dapat?”

“Saya beli di jalan, Kyai”

“Jangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?”

“Ya, Kyai.”

Saya makan di jalan dimarahami. Santri kok menjual harga dirinya? Akhirnya saya ditanya: “Cukup itu?”

“Cukup, Kyai.”

“Tidak!”

Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi. Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya: “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.” Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir.

“Ini.”

Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya. “Kok leher?”

“Ya, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh.”

“Ya, kalau begitu.”

Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu: “Ini orang yang megang tongkat itu? Wah.. Hadza majnun.” Ada yang bilang "wali", ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kyai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena amanatnya Kyai. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya.

Ada yang narik: “Karcis! karcis!”

Saya tidak ditanya. Saya pikir ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas keramatnya Kyai. Jadi Auliya' itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin.

Saya lalu sampai di Tebuireng, Kyai (Hasyim) tanya: “Apa itu?”

“Saya mengantarkan tasbih.”

“Masya Allah, Masya Allah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?”

“Ini, Kyai.” (dengan menjulurkan leher).

“Lho?”

“Ini, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su'ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk Anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik Anda.”

Kemudian diambil oleh Kyai: “Apa kata Kyai?”

“Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.”

“Siapa yang berani pada NU akan hancur. Siapa yang berani pada ulama akan hancur.” Ini dawuhnya.

Pada tahun 1925, Kyai Kholil wafat tanggal 29 Ramadhan. Banyak orang berserakan. Akhirnya pada tahun 1926 bulan Rajab diresmikan Jam’iyatul Ulama. Ini sudah dibuat, organisasi sudah disusun. Termasuk yang menyusun adalah Kyai Dahlan dari Nganjuk, yang membuat anggaran dasar. Kemudian para ulama sidang lagi untuk mengutus kepada Gubernur Jenderal. Ya, seperti itulah yang dapat saya ceritakan.[mm]

Sumber : muslimoderat.net
KH Said Aqil Siradj Terima Tongkat "Keramat" Nabi Musa

KH Said Aqil Siradj Terima Tongkat "Keramat" Nabi Musa


Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siradj menerima tongkat keramat milik Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, dalam acara Hari Santri Nasional, di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (22/10).

“Saya terima dengan rasa syukur dan bangga, tongkat Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Semoga tongkat ini membawa berkah, menjadi jimat Nusantara,” ujar KH Said Aqil Siradj.

Tongkat milik Pendiri Nahdlatul Ulama’ tersebut adalah pemberian Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH. Hasyim Asy’ari. Dalam hikayat ceramah Alm. KHR. As’ad Syamsul Arifin Situbondo, tongkat tersebut tongkat Nabi Musa yang diberikan Bah Kholil Bangkalan, melalui Kyai As’ad Syamsul Arifin, kepada Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari sebagai amanah, untuk mendirikan Nahdlatul Ulama’ pada era pra kemerdekaan tahun 1926.

Pada Hari Santri ini, tongkat diberikan oleh budayawan sekaligus Ketua Lesbumi Agus Sunyoto. Kyai Said Aqil Siradj mengatakan tongkat itu nantinya akan diamankan di Kantor PBNU.

“Tongkat keramat ini akan ditaruh di Kantor PBNU jalan Keramat,” ucap Kyai Said.

Selain menerima tongkat pendiri NU, Kyai Said Aqil Siradj juga menerima sebuah pusaka kerajaan Majapahit. Bagi Ketum PBNU itu, pemberian pusaka Majapahit sebagai suatu penghargaan karena dari sejarah Gajahmada dan Majapahit lahirlah Nusantara. (Ozy/ivid)

Sumber : muslimoderat.net
Belajar dari Ulah Santri Gus Dur Saat Mencuri Ikan di Kolam Kiainya

Belajar dari Ulah Santri Gus Dur Saat Mencuri Ikan di Kolam Kiainya


Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tercatat 2,5 tahun mondok di Ponpes Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang. Tak ayal tempat itu ikut beperan dalam pembentukan karakternya. Di pesantren ini pula tempat kejadian Gus Dur mencuri ikan Pak kiai yang sangat terkenal itu. Apa yang bisa kita pelajari dari kejadian itu?

Semenjak kecil Gus Dur dikenal sebagai seorang kutu buku. Apapun dibacanya sehingga kadang pengetahuannya melampaui usianya. Tentunya itu berpadu dengan kecerdasannya sehingga dia sering mencari-cari dan menerapkan pengetahuan yang didapatnnya secara berani.

Gus Dur nyantri di Tegalrejo antara tahun 1956 hingga 1958, saat ini Ponpes API masih dipimpin oleh KH Chudlori. Pada tahun-tahun itulah peristiwa Gus Dur nyolong ikan terjadi. Cerita yang sudah sangat terkenal itu kami angkat kembali untuk menghangatkan peringatan Hari Santri Nasional tahun ini.

KH Yusuf Chudlori, putra KH Chudlori, menggambarkan tentang kecerdasan santri Gus Dur. "Ini ceritanya berkesan sekali, tentang kisah pencurian ikan yang dilakukan Gus Dur bersama teman-temannya sesama santri," kata Gus Yusuf, saat ditemui di kediamannya, Minggu (22/10/2017).

Berawal dari ajakan tiba-tiba dari Gus Dur suatu malam kepada 4 teman sekamarnya untuk makan ikan. Temannya sempat heran, lantaran ajakan tersebut terbilang aneh, selain karena waktu sudah malam, para santri juga sedang berada di dalam kompleks pesantren.

"Gus Dur kemudian meyakinkan teman-temannya. Mereka hanya perlu mengikutinya jika ingin makan ikan," ungkap Gus Yusuf.

Tak berapa lama, kelima santri itu kemudian keluar kamar. Dengan dikomandoi Gus Dur, mereka menuju kolam ikan milik KH Chudlori yang letaknya diantara ndalem (kediaman) kiai dan musala.

Teman-teman Gus Dur sempat protes dan tak mau menyanggupi ajakannya untuk menangkap ikan di kolam tersebut karena khawatir ketahuan. Namun bukan Gus Dur namanya jika tidak mampu meyakinkan teman-temannya itu. Gus Dur lalu berbagi peran. Dia bertugas mengawasi kondisi dan situasi sekitar, sementara 4 temannya menangkap ikan.

Tepat pukul 12 malam, KH Chudlori keluar dari kediaman hendak memimpin jamaah mujahadah di musala serta salat malam. Ketika sampai di dekat kolam, kiai mendengar suara riuh santri laki-laki, serta suara air.

"Ketika itu belum ada listrik sehingga tidak kelihatan. Akhirnya kiaia meneriaki menanyakan siapa yang ada di kolam," lanjut Gus Yus.

Saat kiai sudah sampai di dekat kolam, santri Gus Dur menjawab bahwa dirinya yang ada di tempat tersebut. Sementara empat temannya sudah lebih dulu lari bersembunyi.

Sang kiai kemudian bertanya, kenapa Gus Dur berada di kolam ikan. Apalagi ada satu ember ikan yang berada dekat dengan kakinya.

"Gus Dur kemudian menjawab bahwa ada beberapa santri berniat mencuri ikan, dan dia menggagalkan rencana tersebut. Adapun ikan-ikan yang ada di ember adalah barang buktinya," kata Gus Yusuf.

Di kolam ini Gus Dur mencuri ikan milik sang kiai. (Foto: Pertiwi/detikcom)
Mendengar jawaban tersebut, KH Chudlori lalu menyuruh Gus Dur memasak ikan-ikan itu di kamar bersama dengan teman-temannya. Sesampai di kamar, Gus Dur diprotes lantaran sebagai otak pencurian namun tidak mengaku dan justru mengkambinghitamkan teman-temannya.

"Gus Dur hanya menjawab, 'Kalian mau makan ikan tidak. Ini ikannya sudah ada, halal lagi karena diberikan oleh kai. Tadi itu kan proses, yang penting makan ikan halal'," terangnya.

Dari cerita tersebut, menurut Gus Yus, ada satu pelajaran yang dicontohkan oleh Gus Dur. Bahwa meskipun dalam proses harus mengakibatkan sedikit kegaduhan, namun yang penting adalah hasil akhir.

"Seperti yang terjadi di dunia politik. Dalam berpolitik itu ada prosesnya, meskipun gaduh, tapi yang penting hasil dan tujuannya untuk kemaslahatan serta kesejahteraan bersama," jelasnya. 
(mbr/mbr)

Sumber : detik.com
Misteri Kopyah Hitam Gus Miek

Misteri Kopyah Hitam Gus Miek


KH Hamim Thohari atau KH Hamim Jazuli dan lebih terkenal dengan nama GUS MIEK. Amiek adalah nama panggilan Beliau ketika kecil, karena saudara saudaranya sulit memanggil dengan nama Hamim. Dan bagi pengikut Beliau, orang orang pinggiran, yang biasa hidup di dunia malam memanggil Beliau dengan panggilan akrab PAPI.

Gus Miek terkenal dengan berbagai kenyelenehan dan karomahnya. Beliau berdakwa ditempat tempat maksiat. Beliau terjun langsung dan bergaul dengan para pelaku maksiat. Gus Miek adalah seorang Kiai kelana, karena aktivitas dakwahnya menyebabkan Beliau jarang pulang dan berkumpul dengan keluarganya.

Ketika keluar Gus Miek lebih sering berpakaian trendi, dari pada berpakaian layaknya seorang Kiai. Bercelana dan berkaca mata hitam adalah salah satu ciri Beliau.

Ketika Beliau keluar dan tanpa memakai peci atau kopyah, dapat dipastikan meski menghadiri kegiatan apapun pasti tanpa berkopyah. Tidak jarang pula Beliau hadir di dalam majelis sema'an yang Beliau dirikan tanpa berkopyah. Akan tetapi semua itu tidak memudarkan kharisma Beliau.

Suatu ketika Gus Miek tanpa berkopyah menghadiri majelis sema'an Al Qur'an JANTIKO MANTAB PURBOJATI, yang rutin diadakan di keraton Jogja. Beliau berpikir, lingkungan keraton cara berpikirnya lebih modern dari pada daerah lain, maka tidak akan menjadikan masalah. Dan ternyata pihak tuan rumah kurang berkenan, pihak keraton lebih suka kalau Gus Miek memakai kopyah.

Maka pihak keraton berusaha mencarikan kopyah untuk Gus Miek. Satu persatu kopyah dicoba tidak ada yang pas, hingga dipinjamkan ke sami'in yang hadir pun belum ada yang cocok. Kira kira 20 kopyah telah dicoba dan tidak ada satupun yang pas ataupun cocok, hingga tuan rumahpun akhirnya menyerah.

"Gus Miek niku ukurane kopyahe no 14, padahal umume kopyah niku paling besar no 10 sampai 11.
Niku saestu, Pak, Bu..mboten dibuat buat"

kutipan dhawuh KH Agus Tajuddin Heru Cokro, Sabtu Pon 2016 Kutisari Surabaya.

Sumber : muslimoderat.net
7 Nasehat Kiai Makhrus Lirboyo. Yang Terakhir Kiai Taruhan Potong Telinga

7 Nasehat Kiai Makhrus Lirboyo. Yang Terakhir Kiai Taruhan Potong Telinga


Para kiai selalu punya petuah-petuah yang dijadikan prinsip dalam menjalani kehidupan. Petuah-petuah itu biasanya seringkali disampaikan sehingga petuah-petuah melekat dan menjadi pegangan oleh juga oleh santri.

Demikian Syaikhona Kyai Makhrus Ali Lirboyo. Banyak petuah-petuah penting yang bisa kita jadikan prinsip. Petuah itu seperti tak kenal masa dan bisa dipakai sampai kapanpun. Setidaknya ada tujuh petuah Kiai Mahrus Ali yang diterima Dutaislam.com, yaitu:

1. Orang ingin sukses kuncinya menghormati istri.

2. Kalau ingin hidup mulia, hormati orangtua khususnya ibu.

3. Ingat! kalau jadi pemimpin, tolong hindari dua masalah. Pertama, jangan sampai mata duitan. Kedua, jangan tergoda perempuan. Kalau bisa bertahan dari dua hal ini insyaallah selamat.

4. Nabi Sulaiman itu sukses dalam 90 tahun. Nabi Nuh sukses dalam waktu 900 tahun. Tetapi dalam Al Quran yang disebut ulul 'azmi adalah Nabi Nuh. Ini menunjukkan perjuangan dilihat dari kesulitan, bukan dari jumlah murid. 

5. Orang yang mempunyai ilmu sambil di riyadlohi dengan yang punya ilmu tapi tidak di riyadlohi hasilnya berbeda. Riyadloh paling utama adalah istiqamah.

6. Saya dulu waktu di pondok tidak pernah membayangkan akan jadi kiai. Tidak pernah membayangkan akan menjadi orang kaya. Akhirnya menjadi orang mulia seperti ini saya takut. Jangan-jangan bagian saya ini saja, di akhirat tidak dapat bagian apa-apa.

7. Ngajarlah ngaji! Kalau ngajar ngaji nanti kamu tidak bisa makan, kethoken kupingku (potonglah telingaku, Red)

Demikian tujuh petuah Kiai Makhrus Ali Lirboyo. Semoga bermanfaat dan bisa dijadikan prinsip dalam kehidupan sehari-hari. Amin [dutaislam.com/ed/pin]

Sumber : dutaislam.com
Tiga Hal yang Harus Dilakukan Sesama Orang Beriman Menurut Gus Mus

Tiga Hal yang Harus Dilakukan Sesama Orang Beriman Menurut Gus Mus


Bangsa Indonesia berdasar atas Ketuhanan Yang Esa seperti tertuang dalam dasar negara Pancasila. Hal itu menunjukkan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang beriman sesuai ajaran agamanya masing-masing.

Terkait dengan orang-orang beriman ini, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menekankan bahwa sudah sepatutnya seorang hamba yang beriman saling menghormati satu sama lain meski berbeda agama dan keyakinan.

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini mengungkapkan tiga hal yang harus dilakukan sesama hamba beriman agar tercipta persatuan, kesatuan, dan suasana damai dalam kehidupan berbangsa.

“Sesama hamba beriman, kita mesti saling mengingatkan, saling memaafkan, dan saling mendoakan,” ujar Gus Mus yang diungkapkan melalui akun twitter pribadinya, @gusmusgusmu, Jumat (21/7).

Di tengah problematika agama, ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang tak henti mendera bangsa ini, lewat pesan tersebut Gus Mus ingin mengajak seluruh masyarakat beriman di negeri ini untuk bahu-membahu menciptakan kondisi yang lebih baik di segala lini kehidupan.

Ungkapan tersebut juga Gus Mus sampaikan di tengah ironi masyarakat beriman di Indonesia yang justru kerap menumbuhsuburkan praktik-praktik kekerasan, kebencian, dan intoleransi atas nama agama.

Seperti biasanya, taushiyah singkat Gus Mus yang diberi tajuk #TweetJumat tersebut mendapat ribuan respon dari para pengikut (follower)-nya di twitter yang kini berjumlah 1.107.719 follower.

Beragam tanggapan atau balasan pun meluncur di akunnya, baik berupa doa, harapan, dan pesan balik yang ditujukan kepada Rais Aam PBNU 2014-2015 ini. Hingga berita ini ditulis, #TweetJumat Gus Mus tersebut mendapat 1302 suka, 1201 retweet, dan 70 balasan (reply). (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Orang Baik Menurut Gus Mus

Orang Baik Menurut Gus Mus


Dalam pandangan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), kebaikan seseorang tidak terlepas ketika ia melakukan perbuatan baik kepada orang lain.

Dalam menyikapi perbuatan baik tersebut, Gus Mus menekankan dua hal, yakni tidak melupakan perbuatan baik orang lain kepadanya. Tetapi di sisi lain, ia mampu untuk tidak mengingat-ingat perbuatan baiknya kepada orang lain.

Hal itu ditekankan Gus Mus ketika memberikan taushiyah singkat rutinnya dalam tajuk #TweetJumat, (20/10) pada akun twitter miliknya, @gusmusgusmu.

“#TweetJumat: Orang baik ialah orang yang mengingat kebaikan orang kepadanya dan melupakan kebaikan sendiri kepada orang lain,” tulis Gus Mus.

Ribuan follower merespon cuitan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang kini memiliki pengikut sebanyak 1,39 juta tersebut.

“Alhamdulillah pagi2 dpt tausiyah..semoga kita selalu mendapat ridho nya Allah SWT..amin,” ucap akun @ghaniy_sakha terkesan atas taushiyah Gus Mus.

“Terima ksh tausiahnya Kyai,” ujar akun bernama Sri Yatmini (@sriytm) memberi kesan.

Sebagai seorang ulama panutan umat, teladan, doa, dan pemikiran Gus Mus juga selalu diharapkan untuk menuntun gerak bangsa dan para pemimpin untuk mengabdi pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Luar biasa yai, mhn do'anya selalu buat Bangsa Indonesia dan Pemimpin2 Bangsa smg berpikiran sama utk pengabdian terhadap NKRI...,” tulis akun atas nama Rakhmat Gunawan (@rgun12).

Hingga berita ini ditulis, tweet Gus Mus tersebut mendapat 2.257 suka, 2.232 retweet, dan 62 balasan (reply). (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Roel Mustafa Si Lelaki 1.000 Janda: Menafkahi Tidak Harus Menikahi

Roel Mustafa Si Lelaki 1.000 Janda: Menafkahi Tidak Harus Menikahi


Menafkahi tidak harus menikahi, itulah tagline yang diusung oleh Roel Mustafa (39), Si Lelaki 1.000 Janda. Mustafa menjadi 'pemburu' janda lansia untuk diberikan bantuan dan kasih sayang.
Sejak satu tahun terakhir, Mustafa mencari para janda tua bersama dengan teman-temannya di Sekolah Relawan. Mereka datang ke rumah-rumah janda untuk memberikan bantuan sembako dan mendengarkan curahan hati para perempuan yang tak lagi bersuami itu.

"Beriringan dengan kegiatan saya di Sekolah Relawan yang sering blusukan, alhamdulillah saya sering ketemu dhuafa-dhuafa janda yang memang yang harus dibantu. Janda-janda sudah sekitar 300 orang dan saya berpikir saya punya target, mudah-mudahan bisa nyantunin 1.000 janda," kata Mustafa saat berbincang dengan kumparan (kumparan.com) di basecamp Sekolah Relawan di kawasan Depok, Kamis (19/10/2017).

Janda-janda yang dibantu Mustafa tersebar di beberapa wilayah, mulai dari Depok, Lampung, Nganjuk, Surabaya, Semarang, Jakarta, Bogor, dan Bekasi.
Janda yang dibantu Mustafa bukan sembarang janda, rata-rata usianya sudah di atas 65 tahun. Para janda itu tidak butuh lipstik atau bedak, mereka hanya butuh sembako dan kasih sayang dari orang sekitar.
"Ketika kita dateng ke rumahnya, kita ajak becanda, kita ajak ngobrol, mereka bahagia, mereka senang," ucap pendiri Sekolah Relawan ini.

Menurut Mustafa, para janda itu rindu berbincang dengan anak-anak mereka. Namun kebanyakan dari anak mereka tidak peduli dengan orang tuanya. Kedatangan Mustafa begitu dirindukan oleh para janda karena memberikan kebahagian bagi mereka.

"Mereka rindu ngobrol sama anaknya, ngobrol seperti keluarga, itu kan nggak pernah mereka lakukan lagi. Mereka kita kasih sembako saja mereka mau, bahagia, senang banget," kata ayah satu anak ini.
Dari sekian banyak janda yang ditemui Mustafa, ada pengalaman yang membuat hatinya pilu. Dia melihat para janda harus banting tulang memulung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal tubuh renta mereka sudah tidak harusnya bekerja keras dari pagi hingga malam hanya untuk mencari sesuap nasi.
Biasanya Mustafa memberikan bantuan modal untuk mereka. Ada yang berjualan gorengan, mengemas kue lemper, berjualan nasi uduk hingga sate, sesuai dengan keahlian yang mereka miliki.
"Orang serenta mereka membuat saya sedih kalau lihat ada di jalanan. Akhinya saya dampingi, saya tanggungi, lama kelamaan ketika sudah kenal, baru kita modalin hingga akhirnya mereka berhenti memulung," ucap pengusaha restoran ini.
Lewat aksinya ini, Mustafa berharap akan semakin banyak janda tua yang dibantu, bukan hanya janda-janda muda yang diberi perhatian dan kasih sayang.

"Banyak lelaki-lelaki yang mapan, banyak pria-pria yang sudah punya uang berlebih, tetapi kadang-kadang suka, apa ya, menyimpan janda, janda muda. Saya pengin menginspirasi, kenapa enggak janda tua yang mereka simpan, nggak janda tua yang mereka kasih nafkah," katanya.
"Akhirnya saya tulislah "Lelaki 1.000 Janda" dengan tagline menafkahi tidak harus menikahi," imbuh Mustafa.

Aksi Mustafa juga didukung oleh istri tercinta. Bukan cemburu yang didapat, Mustafa justu semakin membuat keluarganya bangga.
"Istri nggak ada istilah cemburu, ya karena sudah terbiasa dan tahu bahwa tujuannya bukan syahwat, malah membuat istri saya mendukung," katanya.
Kini setiap bulan, Mustafa selalu berkeliling mendatangi para janda binaannya dan membagikan sembako. Bukan hanya itu, bila ada janda yang sakit, dia dan tim dengan sigap mengantarkan janda ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Sumber : muslimoderat.net
Kolor Perdamaian dan Kancut Penghormatan Gus Dur

Kolor Perdamaian dan Kancut Penghormatan Gus Dur


KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah membuat heboh karena keluar dari istana kepresidenan dengan menggunakan celana kolor pendek dan kaos oblong. Ia melambaikan tangannya dan disambut suara riuh simpatisannya. Kamera wartawan tak henti-hentinya mengabadikan momen tersebut.

Malam itu bisa dikatakan Gus Dur sudah bukan lagi Presiden Republik Indonesia. Setelah cukup lama “bersengketa” dengan MPR/DPR yang dipimpin Amien Rais, Gus Dur akhirnya dilengserkan secara paksa dari kursi kepresidenan melalui Sidang MPR-RI.

Malam itu juga Gus Dur menemui para pendukungnya di istana. Ia keluar dari dalam istana, muncul di beranda, dengan pakaian ala kadarnya. Gus Dur tampil dengan celana pendek. Tampilan itu, oleh sebagian kalangan, dianggap sebagai pemandangan yang kurang elok, tidak etis, dan tidak memperlihatkan wibawa seorang kepala negara.

Menanggapi itu, Gus Dur menjawab enteng saja.

“Lha, ya, itu supaya saya enggak dianggap sebagai presiden,” kata Gus Dur kepada Andy F. Noya pada wawancara khususnya di Kick Andy.

“Terus manfaatnya apa dengan tidak dianggap sebagai presiden?” tanya Andy.

“Orang jadi dingin hatinya, enggak jadi marah,” jawab Gus Dur santai.

Jauh sebelum Presiden Joko Widodo muncul sebagai sosok kepala negara yang tidak terlalu mementingkan protokoler, Gus Dur sudah lebih dulu melakukannya. Keluar dengan celana kolor saat dilengserkan hanyalah satu di antara beberapa sikapnya yang di luar kelaziman “resmi” seorang presiden.

Gus Dur seolah menunjukkan bahwa ada yang lebih penting daripada sekadar bungkus dan pakaian kenegaraan. Dengan celana kolor, orang-orang jadi teralihkan amarahnya. Sikap yang secara tidak langsung cukup efektif memadamkan api amarah para simpatisannya. Orang boleh menilai celana kolor hanyalah sebagai perilaku yang melecehkan institusi kepresidenan, tapi bagi Gus Dur, substansi di dalamnya lebih penting daripada sekadar menjaga harga diri sebuah atribusi.

Hal ini sudah tercermin sejak dulu. Paling tidak saat Gus Dur masih terdaftar sebagai mahasiswa Al-Azhar, Kairo. Kali ini saksinya adalah K.H. Syukri Zarkasyi, sosok yang saat ini merupakan pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor. Kisah yang juga pernah diceritakan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam esainya "Mati Ketawa Gaya Gus Dur" di bukunya Markesot Bertutur Lagi (kumpulan tulisan Cak Nun dalam kolom rutin mingguan Surabaya Post edisi 1980-an sampai 1990-an) 

Sebagai mahasiswa yang merantau di luar daerah yang sangat jauh, tentu saja akan terasa menyenangkan jika kedatangan tamu dari satu daerah, atau paling tidak dari satu negara. Tak terkecuali dengan Gus Dur, yang tinggal satu kos dengan KH. Musthofa Bisri (Gus Mus). Mereka mendapatkan kebetulan yang menyenangkan karena kedatangan tamu istimewa, Gus Syukri, yang memang sudah berteman dengan Gus Mus sebelum kenal dengan Gus Dur.

Jadi dalam kamar kos kala itu terdapat tiga gus dengan sanad mentereng. Cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama, putra dari kiai sekaligus pengarang banyak kitab terkemuka, K.H. Bisri Musthofa, dan putra dari K.H. Imam Zarkasy, salah satu dari tiga pendiri pondok yang nantinya akan jadi banyak rujukan pondok modern di Nusantara: Pondok Modern Darussalam Gontor.

Namun, baik Gus Mus maupun Gus Syukri, secara angkatan keduanya masih di bawah Gus Dur. Masih adik kelas. Jadi urutannya, Gus Dur paling senior, Gus Mus agak senior, dan Gus Syukri adalah junior. Selain soal senioritas, secara maqom pun Gus Dur sedikit di atas daripada dua gus lainnya. Untuk itulah Cak Nun, dalam ceritanya, menulis bahwa Gus Dur sedang melakukan “perploncoan” kepada Gus Syukri, mahasiswa baru Al-Azhar yang masih malu-malu kucing. Meskipun banyak cerita yang mengisahkan bahwa yang terjadi bukan perploncoan, tapi kesalahpahaman saja.

Sudah jadi adat, jika ada tamu datang, mau sesulit apapun kondisinya, sebisa mungkin tetap harus dijamu. Paling tidak dijamu dengan secangkir teh. Untuk itulah Gus Mus jadi kelihatan repot memanaskan air, menyiapkan gula, teh, dan—tentu saja—cangkir. Barangkali karena kondisi Kairo yang kering dan berdebu, cangkir yang akan digunakan begitu kotor. Gus Mus pun celingak-celinguk mencari sesuatu.

“Di mana lapnya tadi?” kata Gus Mus kepada Gus Dur.

Awalnya Gus Dur ikut mencari di sekitar dapur, tapi karena tidak ada, ia pun memilih mengambil lap baru di lemari. Berjalan menuju lemari lalu mengambil sesuatu dan melemparkannya begitu saja ke Gus Mus. Gus Syukri terkejut melihat lap yang dilemparkan Gus Dur tersebut. Bukan apa-apa, lap yang akan digunakan Gus Mus untuk membersihkan cangkirnya adalah sebuah celana dalam alias kancut.

Karena tinggal di kos-kosan yang kecil di Kairo, kamar, dapur, dan ruang belajar kos yang ditinggali Gus Dur jadi satu, sehingga aktivitas tuan rumah jelas akan bisa diketahui oleh tamu. Uniknya, Gus Mus pun santai saja dengan “lap” yang dilemparkan Gus Dur. Seolah memang itu adalah peristiwa biasa. Biasa bagi Gus Dur dan Gus Mus, tapi tidak dengan Gus Syukri. Wajahnya merah padam.

Begitu teh sudah siap, Gus Dur mempersilakan Gus Syukri.

“Monggo, silakan diminum. Seadanya, ya,” kata Gus Dur.

Gus Sukri tetap meminum teh yang sudah disajikan karena merasa tidak enak. Padahal dalam dadanya ada perasaan jijik. Tapi, rasa tidak enak kepada Gus Dur mengalahkan semuanya.

Melihat perubahan wajah Gus Syukri ini Gus Dur menyadari.

“Ada apa? Kok wajahmu enggak enak begitu? Tehnya enggak enak?” tanya Gus Dur tanya-tanya usil.

“Oh, enggak, Gus. Enggak apa-apa,” jawab Gus Syukri.

Gus Dur tersenyum hampir tertawa.

“Sini aku kasih tahu,” kata Gus Dur. “Kamu pasti merasa aneh ngelihat kancut dipakai buat bersihin cangkir minum tadi, ya?”

Gus Sukri cuma mengangguk sambil malu.

“Begini, lho. Saya pakai kancut itu sebenarnya justru menghormati dan mengistimewakan kamu,” kata Gus Dur.

“Kok bisa, Gus?” tanya Gus Syukri terkejut.

“Ya, karena cangkir untuk tamu itu harus dilap dengan kain paling bersih yang aku punya. Lha masalahnya di ruangan ini enggak ada lagi kain sebersih kancut tadi. Soalnya kancut tadi masih gres dari toko, jadi belum pernah dipakai sama sekali. Belum bisa disebut kancut juga, sih,” kata Gus Dur terkekeh yang langsung disambut tawa oleh Gus Syukri.

Bagi Gus Dur yang melihat sesuatu menurut fungsi daripada bentuk, kain yang bersih sebagai penghormatan, bisa dibaca sebagai penghinaan jika orang melihat hanya dari bentuk. Gus Syukri yang tidak tahu menahu tentu saja merasa bahwa apa yang dilakukan Gus Dur adalah bentuk penghinaan terhadap dirinya, akan tetapi ketika dijelaskan duduk perkaranya, kancut yang digunakan malah merupakan wujud penghormatan tertinggi untuknya.

Hal yang masih ditunjukkan Gus Dur saat keluar dari Istana Negara dengan celana kolor dan kaos oblong bertahun-tahun kemudian. Bahwa fungsi meredakan amarah para pendukungnya dan menjaga kondisi negara yang stabil jauh lebih penting dari “bentuk” pakaian yang dikenakan.

Dua peristiwa yang menunjukkan bahwa kancut pun bisa digunakan sebagai alat penghormatan dan kolor pun bisa menjadi simbol perdamaian. Tentu saja selama keduanya ada di tangan Gus Dur.

Sumber : tirto.id
[Gus Dur] Pribumisasi Islam

[Gus Dur] Pribumisasi Islam


Oleh KH Abdurrahman Wahid

--Islam, Budaya dan Pribumisasi
Agama (Islam) dan budaya mempunyai independensi masing-masing, tetapi keduanya mempunyai wilayah tumpang tindih. Bisa dibandingkan dengan independensi antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Orang tidak bisa berfilsafat tanpa ilmu pengetahuan, tetapi tidak bisa dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah filsafat. Di antara keduanya terjadi tumpang tindih dan sekaligus perbedaan-perbedaan.<>

Agama (Islam) bersumberkan wahyu dan memiliki norma-normanya sendiri. Karena bersifat normatif, maka ia cenderung menjadi permanen. Sedangkan budaya adalah buatan manusia, karenanya ia berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan cenderung untuk selalu berubah. Perbedaan ini tidak menghalangi kemungkinan manifestasi kehidupan beragama dalam bentuk budaya. Maka muncullah tari 'seudati', cara hidup santri, budaya menghormati kyai dan sebagainya, dengan wawasan budaya dari agama secara langsung diterima dan dilaksanakan oleh masyarakat tanpa mempersoalkan dalilnya. Umat Islam abangan yang menjauhi 'ma lima' (mabuk, berjudi, mencuri, berbuat amoral, mengisap ganja) belum tentu dengan alasan keagamaan tetapi sangat boleh jadi karena alasan-alasan budaya, misalnya ketaatan kepada kyai atau orang tua.

Tumpang tindih antara agama dan budaya akan terjadi terus-menerus sebagai suatu proses yang akan memperkaya kehidupan dan membuatnya tidak gersang. Kekayaan variasi budaya akan memungkinkan adanya persambungan antara berbagai kelompok atas dasar persamaan-persamaan, baik persamaan agama maupun budaya. Upaya rekonsiliasi antara budaya dan agama bukan karena kekhawatiran terjadinya ketegangan antara keduanya, sebab kalau manusia dibiarkan pada fitrah rasionalnya, ketegangan seperti itu akan reda dengan sendirinya.
Sebagai contoh adalah redanya semangat ulama dalam mempersoalkan rambut gondrong. Jika sebuah stadion sebaiknya mempunyai mushalla, meskipun kecil, bukan berarti untuk mencegah tabrakan antara shalat dengan sepak bola, akan tetapi karena pada kenyataannya pertandingan sepak bola hampir selalu diadakan ketika waktu shalat Asar masuk. Jadi akomodasi ini bukan dilakukan karena terpaksa akan tetapi adalah sesuatu yang timbul secara alami, menandai terjadinya proses pribumisasi.

Masjid Demak adalah sebuah contoh yang konkret dari upaya rekonsiliasi atau akomodasi itu. Ranggon atau atap yang berlapis pada masjid tersebut diambilkan dari konsep 'Meru' dari masa pra-Islam (Hindu-Budha) yang terdiri dari sembilan susun. Sunan Kalijaga memotongnya menjadi tiga susun saja, melambangkan tiga tahap keberagamaan seorang muslim, iman, islam dan ihsan. Pada mulanya orang baru beriman saja, kemudian ia melaksanakan islam ketika telah menyadari pentingnya syari'at. Barulah ia mamasuki tingkat yang lebih tinggi lagi (ihsan) dengan mendalami tasawuf, hakekat dan ma'rifat.

Pada tingkat ini mulai disadari bahwa keyakinan tauhid dan ketaatan kepada syari'at mesti berwujud kecintaan kepada sesama manusia. Mengasihi diri sendiri dengan melepaskan kecintaan kepada materi dan menggantinya dengan kecintaan kepada Allah adalah bentuk rasa kasih yang tertinggi. Pada tahap berikutnya, datanglah bentuk masjid ala Timur Tengah, dengan bentuk kubah dan segala ornamennya. Terjadilah kemudian proses arabisasi, meskipun pada mulanya bentuk masjid baru ini ditolak oleh Masjid Ngampel dan Pakojan. Bentuk kubah lambat laun menjadi sesuatu yang normatif dan harus. Sedangkan semangat pribumisasi menganggap kedua model ini sama saja.

Bahaya dari proses Arabisasi atau proses mengidentifikasikan diri dengan budaya Timur Tengah adalah tercabutnya kita dari akar budaya kita sendiri. Lebih dari itu, arabisasi belum tentu cocok dengan kebutuhan. Pribumisasi bukan upaya menghindarkan timbulnya perlawanan dari kekuatan-kekuatan budaya setempat, akan tetapi justru agar budaya ini tidak hilang. Inti pribumisasi Islam adalah kebutuhan, bukan untuk menghindari polarisasi antara agama dengan budaya, sebab polarisasi demikian memang tak terhindarkan.

Sebagai titik tolak dari upaya rekonsiliasi ini adalah meminta agar wahyu difahami dengan mempertimbangkan faktor-faktor kontekstual, termasuk kesadaran hukum dan rasa keadilannya. Dalam proses ini pembauran Islam dengan budaya tidak boleh terjadi, sebab berbaur berarti hilangnya sifat-sifat asli. Islam harus tetap pada sifat Islamnya. Al-Qur'an adalah harus tetap dalam bahasa Arab, terutama dalam shalat, sebab hal ini telah merupakan norma. Sedang terjemahan al-Qur'an hanyalah dimaksudkan untuk mempermudah pemahaman, bukan menggantikan al-Qur'an sendiri.

Pribumisasi Islam bukanlah 'jawanisasi' atau sinkretisme, sebab pribumisasi Islam hanya mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal di dalam merumuskan hukum-hukum agama, tanpa menambah hukum itu sendiri. Juga bukannya upaya meninggalkan norma demi budaya, tetapi agar norma-norma itu menampung kebutuhan-kebutuhan dari budaya dengan mempergunakan peluang yang disediakan oleh variasi pemahaman nash, dengan tetap memberikan peranan kepada Ushul Fiqh dan Qaidah Fiqh. Sedangkan sinkretisme adalah usaha memadukan teologia atau sistem kepercayaan lama tentang sekian banyak hal yang diyakini sebagai kekuatan gaib berikut dimensi eskatologisnya dengan Islam, yang lalu membuat bentuk panteisme. Sinkretisme hal ini bisa dicontohkan dengan kuil 1000 dewa di India, Iran dan Timur Tengah zaman dahulu. Setiap penjajah yang masuk menambahkan tuhan yang baru untuk disembah bersama-sama dengan tuhan-tuhan yang lama. Pada suatu tahap akhirnya manusia pun dipertuhan dan bahkan pula malaikat (seperti pada agama Kong Hu cu). Malaikat bisa didekati agar melakukan intervensi terhadap kekuasaan tuhan, sehingga ia pun lebih berkuasa dari tuhan sendiri.

Pribumisasi Islam adalah bagian dari sejarah Islam, baik di negeri asalnya maupun di negeri lain, termasuk Indonesia. Kedua sejarah ini membentuk sebuah sungai besar yang terus mengalir dan kemudian dimasuki lagi oleh kali cabangan sehingga sungai ini semakin membesar. Bergabungnya kali baru, berarti masuknya air baru yang menambah warna air yang telah ada. Bahkan pada tahap berikutnya, aliran sungai ini mungkin terkena 'limbah industri' yang sangat kotor. Tapi toh, tetap merupakan sungai yang sama dan air yang lama. Maksud dari perumpamaan ini adalah bahwa proses pergulatan dengan kenyataan sejarah tidaklah merubah Islam, melainkan hanya merubah manifestasi dari kehidupan agama Islam.

Sebagai contoh, pada mulanya ditetapkan haramnya berjabatan tangan antara laki-laki dan perempuan yang ajnabi. Ketentuan ini merupakan bagian dari keseluruhan perilaku atau akhlak orang Islam. Ketika ketentuan ini masuk ke Indonesia, masyarakatnya telah memiliki berbagai kebudayaan. Misalnya, adat Sunda mempunyai jabatan tangan 'ujung jari'. Setelah berjalan sekian abad, masuk pula budaya Barat dengan jabatan tangannya yang tegas dan tak pilih-pilih. Hasilnya di masyarakat Islam saat ini adalah  sebagian mereka, termasuk para birokrat dalam bidang agama dan para pemimpin organisasi, melakukan jabatan tangan dengan lawan jenis, sedang para Kyai yang hidup dengan fiqh secara tuntas tetap bertahan untuk tidak melakukannya.

Lalu apakah dengan demikian bisa disimpulkan bahwa Islam telah mengalami erosi di Indonesia? Jawabnya adalah 'tidak', sebab Islam sebagai sebuah totalitas tetap berjalan seperti sedia kala. Karena para pemeluknya tetap melakukan shalat, pergi ke masjid, membayar zakat, pergi ke madrasah dan sebagainya. Dengan kata lain, secara kultural kita melihat adanya perubahan pada partikel-partikel dan tidak pada aliran besarnya. Umat Islam tetap melihat berpacaran bebas model Barat sebagai tidak Islami dan berusaha agar anak-anak mereka tidak melakukannya.

Fiqh dan Adat

Di dalam Ilmu Ushul Fiqh dikenal kaidah al 'adah muhakkamah (adat istiadat bisa menjadi hukum). Di Indonesia telah lama terjadi bahwa pembagian waris antara suami-istri mendapatkan masukan berupa dua model yang berasal dari adat, yaitu adat perpantangan di Banjarmasin dan gono gini di Yogyakarta-Solo yang pada perkembangannya juga menyebar di Jawa Timur. Keduanya adalah respon masyarakat adat yang berada di luar lingkup pengaruh kyai terhadap ketentuan nash dengan pemahaman lama yang merupakan pegangan para kyai itu. Harta rumah tangga dianggap sebagai perolehan suami-istri secara bersama-sama, yang karenanya mesti dipisahkan dulu sebelum diwariskan, ketika salah satu suami/istri meninggal.

Separoh dari harta itulah yang dibagi kepada para ahli waris menurut hukum waris Islam, sedang separoh lainnya adalah milik dari suami/istri yang masih hidup. Teknik demikian adalah perubahan mendasar terhadap hukum waris, dan bentuk-bentuk penyesuaian seperti ini berjalan sementara para ulama merestuinya, walaupun (seraya) tidak menganggapnya sebagai cara pemecahan utama. Sebab pemecahan utama justru adalah yang seperti ditentukan oleh syara' secara apa adanya. Letak kemajuannya adalah bahwa penyesuaian-penyesuaian seperti ini bukan hanya tidak diharamkan tetapi bahkan dianggap sebagai adnal qaulaini (pendapat dengan mutu nomor dua) dan tidak dipersoalkan sebagai sesuatu yang mengganggu prinsip.

Dalam kaitannya dengan pernikahan misalnya, sebenarnya rukun bagi sahnya hubungan suami istri sangat sedikit, yaitu ijab, qabul, saksi dan wali. Sedang selebihnya diserahkan kepada adat, misalnya tentang pelaksanaan upacara peresmiannya. Di sini adat berperan sebagai penghubung pola-pola perilaku baru dengan tetap berpijak kepada aturah normatif dari agama. Pola hubungan agama dan adat seperti ini sehat sekali. Bahwa pakaian pengantin Jawa menampakkan bagian bahu mempelai wanita, orang Islam tidak memandang hal itu sama rusaknya dengan zina, durhaka kepada orang tua dan kejahatan-kejahatan berat lainnya. Kekurangan seperti itu umumnya bisa dimaklumi sebagai bagian dari adat, selama syarat-syarat keagamaan dari nikah dan pengaturan hubungan selanjutnya, seperti soal nafkah dan kewajiban-kewajiban rumah tangga; masih datur secara Islam Sedangkan manifestasi kulturalnya diserahkan kepada adat. Hal ini sudah berjalan beberapa abad dan memang selalu ada perubahan-perubahan tanpa banyak menimbulkan reaksi karena berjalan secara sendiri-sendiri, Pola hubungan ini ditampung dalam al 'adah muhakkamah, sehingga adat istiadat bisa disantuni tanpa mengurangi sahnya perkawinan.

Akan tetapi harus disadari bahwa penyesuaian ajaran Islam dengan kenyataan hidup hanya diperkenankan sepanjang menyangkut sisi budaya. Dalam soal wali nikah, ayah angkat tetap bukan wali nikah untuk anak angkatnya Ketentuan ini adalah norma agama, bukan kebiasaan. Ini jelas berbeda dengan cara penempatan siswa di sekolah-sekolah Timur Tengah. Di sana, siswa laki-laki dan perempuan tingkat SD, SMP dan SMA ditempatkan di ruangan terpisah dan baru boleh disatukan di tingkat perguruan tinggi. Keputusan ini didasarkan atas anggapan bahwa para remaja umumnya kurang memiliki pertimbangan dan sangat dipengaruhi nafsu. Kelemahan-kelemahan ini telah bisa diatasi oleh mereka yang telah mengalami kedewasaan dan kematangan, yaitu pada usia memasuki perguruan tinggi.
Cara ini bukanlah ketentuan agama, tapi logika agama, yaitu campuran hukum agama dan logika. Dari sini bisa muncul adat istiadat, dan adat pengaturan penempatan siswa seperti itu memang lalu mengeras di Timur Tengah. Sebaliknya di Indohesia, ulama melihat dari sudut Iain, yaitu bahwa tidak ada tempat yang lebih aman daripada sekolah, meskipun belum sama sekali memadai. Sehingga para ulama memperbolehkan dimasukinya sekolah, meskipun siswa dan siswi duduk dalam satu kelas (ko edukasi).

Mengembangkan Aplikasi Nash

Karena adanya prinsip-prinsip yang keras dari Hukum Islam, maka adat tidak bisa merubah nash itu sendiri melainkan hanya merubah atau mengembangkan aplikasinya saja, dan memang aplikasi itu akan berubah dengan sendirinya. Misalnya, Nabi tidak pernah menetapkan beras sebagai benda zakat, melainkan gandum. Lalu ulama yang mendefinisikan gandum sebagai qutul balad, makanan pokok. Dan karena definisi itulah, gandum berubah menjadi beras untuk Indonesia.

Kasus lain yang kontemporer dari pengembangan aplikasi nash ini adalah pemahaman ayaf al-Qur'an tentang bolehnya menikah dengan maksimal empat wanita dan kalau tidak bisa menegakkan keadilan, wajib hanya menikah dengan seorang wanita saja (Q.S. 4:3). Pada mulanya keadilan ini diukur dengan keseimbangan jatah giliran menginap dan nafkah. yang berarti hak menambah jumlah istri adalah mutlak di tangan suami. Akan tetapi sekarang sudah terasa perlunya mempertanyakan "mengapa begitu simplistiknya konsep keadilan itu, bagaikan Islam menghargai wanita hanya dengan ukuran-ukuran biologis. Semakin terdengar kebutuhan untuk mengembangkan pemahaman terhadap nash itu menjadi keadilan yang dirasakan oleh obyek dari tindakan poligini (permaduan) itu, di mana laki-laki dan wanita sama-sama didudukkan sebagai subyek hukum. Sebab pelaksanaan poligini saat ini selalu dirasakan oleh kaum wanita sebagai tidak adil, kecuali dalam keadaan yang ekstrim dan langka.
Dengan demikian, jika tadinya wanita hanya menjadi obyek pasif yang tidak ikut menentukan, sehingga secara umum dihukumi menerima permaduan, maka dengan tampilnya wanita sebagai subyek, secara umum mereka dihukun menolak. Dengan rumusan singkat, pemahaman nash itu menjadi "kawini' seorang wanita saja, dan perkawinan kedua dan seterusnya hanya bisa dilaksanakan jika ada keperluan yang bisa disetujui oleh istri". Dan inilah yang telah dirumuskan di dalam Undang-undang Perkawinan Indonesia No. 1 tahun 1974. Tampaklah dalam kasus ini, perubahan pemahaman menjadi sesuatu yang tak terelakkan, dengan melihat bahwa para ulama menerima penyantuman pemahaman seperti itu di dalam Undang-undang.

Masalahnya sekarang adalah bagaimana mempercepat pengembangan pemahaman nash seperti itu dan agar berjalan lebih sistematik lagi, dengan cakupan yang lebih luas dan argumentasi yang lebih matang. Kalau keinginan ini terlaksana, maka inilah yang dimaksudkan dengan pribumisasi Islam, yaitu pemahaman terhadap nash dikaitkan dengan masalah-masalah di negeri kita.

Sebuah kasus di Mesir pada tahun 1930-an, ketika Dewan Ulama Tertinggi al- Azhar memutuskan bahwa guna menghilangkan selisih yang banyak antara bagian ahli waris wanita dan pria akibat adanya ketentuan ‘’bagian laki-laki adalah dua kali lipat bagian wanita’’, maka digunakan apa yang dinamakan ‘washiyah wajibah’. Konsep washiyah wajibah (wasiat wajib) ini menganggap seakan-akan almarhum telah berwasiat. Jumlah maksimal wasiat yang diperkenankan (sepertiga dari harta peninggalan) diambil terlebih dahulu untuk dibagikan secara merata kepada ahli waris. Barulah sisanya, dua pertiga, dibagi menurut ketentuan nash, yaitu dua berbanding satu untuk laki-laki. Kenyataan bahwa modifikasi-modifikasi seperti itu ditolerir oleh para ulama dan sampai saat ini tetap berlaku menunjukkan vitalitas Islam, artinya adanya kelenturan yang tidak sampai meninggalkan pegangan dasar. Cara aplikasi semacam ini bisa banyak dilakukan dalam fiqh.

Sebagai contoh di dalam  sebuah musyawarah ulama terbatas muncul soal sterilisasi. Pertanyaan mendasar pun muncul tentang pemilik hak menciptakan anak, Tuhankah atau manusia Jawaban yang diberikan adalah bahwa hak menciptakan anak dan meniupkan ruh dalam rahim adalah milik Tuhan, sebagai tanda kekuasaan-Nya. Karena itu semua bentuk intervensi terhadap hak ini, yaitu dalam bentuk menghilangkan kemampuan seorang ibu untuk melahirkan, berarti melanggar wewenang Tuhan. Dengan demikian mafhum mukhalafah (implikasi kebalikannya) adalah diperbolehkanya pembatasan kelahiran dengan cara membuat sterilisasi yang tidak permanen. Dengan demikian pula, melaksanakan vasektomi yang oleh dokter dijamin akan bisa dipulihkan kembali, tanpa mempersoalkan prosentase jaminan itu, hukumnya diperbolehkan. Misalnya dengan pemakaian Cincin Jung yang bisa dilepas kembali. Kepada seoarang ulama sepuh diterangkan bahwa menurut kalangan medis, kemungkinan kepulihan itu baru sekiatar 30 persen.  Ulama itu menjawab bahwa asal pada prinsipnya bisa pulih, maka besar kecilnya kemungkinan itu tidak menjadi soal, terserah kepada kehendak Allah.

Sebuah hadis Nabi memerintahkan umat beliau agar memperbanyak pernikahan dan kelahiran, karena di hari kiamat beliau akan membanggakan mereka di hadapan Nabi-nabi yang lain. Pada mulanya, kata “banyak” dipahami sebagai jumlah, karena itu memang zaman penuh kesulitan dalam memelihara anak. Dengan tingginya angka kematian anak, maka ada kekhawatiran bahwa jumlah umat Islam akan dikalahkan oleh jumlah umat yang lain. Akan tetapi alasan demikian pada saat ini tidak bisa dipertahankan lagi, ketika penonjolan kuantitas sudah tidak dibutuhkan. Jumalah anak yang terlalu banyak justru akan menimbulkan bahaya, ketika kemampuan masyarakat untuk menampung mereka ternyata tidak memadahi. Maka terjadilah perubahan, ukuran-ukuran itu dititik beratkan pada kualitas. Perubahan pemahaman seperti ini membawa kepada rumusan pemahaman nash yang baru, "Kawinlah akan tetapi jangan terlalu banyak anak dan aturlah jumlah keluarga anda".

Konsekuensi lebih jauh dari perubahan pemahaman ini dapat menyangkut soal usia perkawinan. Perintah memperbanyak anak tentulah bermakna pula perintah untuk segera menikah. Apalagi ternyata ada hadis yang memerintahkan para pemuda untuk segera melangsungkan perkawinan agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan amoral. Akan tetapi tinjauan lalu dikembalikan kepada konteks semula, bahwa hadis itu disabdakan pada waktu tingkat kematian bayi sangat tinggi dan angka harapan hidup sangat rendah. Dengan kawin muda, maka kesempatan untuk membesarkan anak lebih lama.

Jadi hadis ini sesuai dengan tanggung jawab berkeluarga pada waktu itu. Situasi telah berubah.
Pada saat ini pemuda yang berusia 15 tahun tentu belum mampu memenuhi kebutuhan bagi sebuah perkawinan dan konsekuensi hukumnya. Situasi lapangan pekerjaan sudah tidak sesederhana dulu, karena saat ini untuk memasuki pasaran kerja memerlukan persyaratan yang kompleks. Dengan demikian, tuntutan kualitas sebagai hasil dari perubahan pemahaman nash menghendaki pula perubahan batas terendah usia perkawinan. Maka Undang-undang Perkawinan pun menetapkan umur 18 tahun untuk laki-laki dan 16 tahuh untuk wanita, sambil tidak menutup kemungkinan bahwa batas usia terendah ini bisa dinaikkan, menurut keperluan. Batas ini ternyata tidak ditentang ulama.

Sejumlah kaidah fiqh pun ikut terlibat. Dalam kasus tersebut jelas telah dipergunakan kaidah dar’ul mafasid muqaddam 'ala jalbil-mashalih (menutup kemungkinan bahaya harus didahulukan sebelum upaya memperoleh kemaslahatan). Memang lebih baik seorang pemuda segera menikah daripada terjerumus kepada perbuatan a-moral. Perkawinan akan membuat dirinya sadar tentang arti hidup. Akan tetapi perkawinan pada usia ini juga mengandung bahaya yang besar, karena penanggung jawab anak hasil perkawinan akan tidak jelas, di saat lingkup tanggung jawab keluarga modern akan semakin kecil. Misalnya tak ada lagi kepala suku atau kepala klan yang mengurusi soal-soal bersama. Bahaya inilah yang harus dicegah terlebih dahulu sebelum upaya menuju kebaikan, yaitu maslahat berkeluarga.

Lebih jauh lagi adalah dalil al-hajah tanzilu manzilah al-dlarurah (ke-butuhan setara dengan keadaan darurat), sedangkan dalil lain berbunyi adl-dlarurah tubihul-mahdhurah (keadaan darurat memungkinkan dihalalkannya dilarang). Dengan demikian, gabungan dari dua dalil ini akan membentuk kesimpulan bahwa hajah (keadaan membutuhkan) bisa menghalalkan yang haram; karena faktor kebutuhan setara dengan keadaan darurat. Musyawarah ulama terbatas tadi menyimpulkan adanya kebutuhan meningkatkan batas usia terendah bagi perkawinan, mencegah kelahiran dini dan secara makro mengatur keseimbangan antara penduduk dengan sumberdaya alam. Yang dibutuhkan bukanlah asal kelangsungan hidup masyarakaf terjamin tapi dengan mengorbankan banyak hal, termasuk soal pendidikan, ketika misalnya semua biaya dicurahkan untuk penyediaan lapangan kerja.

Dengan kata lain, ledakan penduduk menimbulkan hajah. Kalau demikian timbullah pertanyaan tentang wewenang merumuskan hajah tersebut ketika menyangkut soal-soal makro. Ternyata musyawarah terbatas tersebut memutuskan bahwa kebolehan sterilisasi yang bisa dipulihkan kembali bisa diputuskan oleh tim yang terdiri dari para ahli dari berbagai bidang: ahli demografi, ekonomi, fiqh, psikologi dan dokter medis. Rumusan ini jelaslah merupakan perubahan besar dalam konsep-konsep dasar fiqh. Hal-hal seperti ini harus disadari sebagai proses budaya menuju pengembangan implikasi atau konotasi hukum dan nash untuk membentuk hukum baru, suatu kebutuhan untuk menghadapi kemungkinan munculnya pertimbangan-pertimbangan terbaru yang tampak menggugat pemahaman lama.

Dalam soal bank misalnya, tidak kurang dari seorang alim semacam Dr Yusuf Al Qardlawi menempatkan bahwa larangan terhadap riba disebabkan oleh berlebihannya pengembalian hutang (adl'afan mudla'afah) dalam jumlah yang merugikan peminjam. Kerugian ini sampai menutup kemungkinan produktivitas akibat  beban bunga hutang, sebagaimana praktek rentenir. Adapun bunga bank (interest) yang dimaksudkan sebagai biaya administrasi dan sekedar untuk pengembalian modal kepada penanam uang bisa ditolerir selama tidak mengganggu produksi. Dengan kata lain, keuntungan yang diperkirakan dari pengusahaan uang pinjaman itu lebih besar daripada tingkat suku bunga yang harus dibayarkan, sehingga tidak ada unsur eksploitasi.

Pendekatan Sosio-Kultural

Ada sebuah soal yang sangat penting setelah pembicaraan seputar soal pemahaman nash di atas, yaitu pendekatan sosio-kultural. Sosial-budaya adalah perkembangan budaya dalam konteks kemasyarakatan. Saat ini masyarakat Indonesia sedang mengalami transisi dari masyarakat feodal/agraris menuju masyarakat modern. Perkembangan yang terjadi ternyata bersifat dualistik; di satu pihak telah tercapai modernitas, termasuk upaya menciptakan infra-struktur ekonomi, dan perilaku di segaia bidang telah lebih rasional, sampai terkadang dengan mengorbankan norma-norma agama, tetapi di pihak lain perilaku feodal masih dipergunakan sebagai alat untuk mencari akar ke masa lampau. Dalam situasi perkembangan dualistik menuju modernitas (keadaan sarwa-modern) ini, maka hukum Islam akan berfungsi dengan baik apabila ia dikaitkan dengan  perubahan pada struktur masyarakat itu sendiri.

Dengan demikian, sasaran perubahan itu bukanlah pada sistem pemerintahan atau sistem politik, akan tetapi pada sub-sub sistemnya. Misalnya, tanpa mempersoalkan 'sistem' ekonomi Indonesia yang tak jelas bentuknya ini, diambillah langkah-langkah untuk mencari model-model ideal dari pengorganisasian koperasi, suatu bentuk usaha yang ide dasarnya dipercayai bisa menjembatani  antara sistem kapitalis dan sistem sosialis. Misalnya dengan mencobakan bentuk-bentuk usaha bersama yang pada masa lalu sebenarnya-banyak dilakukan. Sementara itu, perubahan politik memang suatu keharusan, tetapi untuk keperluan itu sistem kepartaian yang ada—termasuk hadirnya fraksi ABRI—masih tetap bisa dipergunakan. Persoalannya kemudian bagaimana sub-sub sistem yang ada bisa menjadi demokratis, mandiri dan sebagainya. Misalnya mengusahakan kemandirian Golkar mesti dimulai dengan menyadari kenyataan bahwa ketidak mandirian itu terletak pada dominasi orang-orang birokrasi pemerintahan di dalamnya. Di sini pendekatan sosio-kultural mengambil peranan penting dalam merubah perilaku tanpa merubah bentuk-bentuk lahiriah Iembaga  pemerintahan itu sendiri.

Di antara contoh konkret yang bisa disebut adalah apa yang terjadi dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU). NU yang ada sekarang adalah NU tahun 1926 dengan perangkatnya: Tanfidziyah dan Syuriyah, bahkan lebih keras lagi dengan adanya sistem Mustasyar Akan tetapi sekaligus NU sekarang bukanlah NU yang dulu. Karena di dalam tubuhnya telah berkembang pemikiran-pemikiran makro, cakrawala pandang yang lebih luas, pemikiran yang jauh ke depan dan cara kerja yang lebih administrates. Perubahan-perubahan dalam kultur ini masih dalam konteks kelembagaannya semula. Karena terjadi perubahan pada segi budaya, maka berubah pulalah konteks masyarakatnya. Dengan demikian, untuk konteks Indonesia secara umum, tantangan umat Islam sebenarnya adalah bagaimana mengisi Pancasila. Negara Kesatuan RI dan sistem politiknya dengan wawasan Islam yang secara kultural bisa merubah wawasan hidup orang banyak dengan memperhatikan konteks kelembagaan masyarakat tadi.

Pendekatan sosio-kultural terkadang disalah pahami sebagai hanya bersudut pandang budaya atau politik saja, suatu pandangan yang menyesatkan. Pendekatan politik selalu mempersoalkan segi kelembagaan, Sedangkan pendekatan kultural berbicara tentang perilaku masyarakat dan usaha pencerahan. Kemudian persoalannya mengaitkan lembaga dengan perilaku masyarakat adalah  persoalan mempengaruhi perilaku lembaga. Di sinilah letak peranan dari pendekatan sosio-kultural. Sementara itu kalangan yang tampak menggebu-gebu dengan pendekatan struktural sering terjerumus dalam pembicaraan tentang perilaku budaya suatu lembaga, bukan bagaimana merombaknya. Apalagi perincian yang dikemukakan dalam rangka pendekatan struktural itu ternyata adalah cara-cara sosial budaya. Dus, sebenarnya telah terjadi kerancuan semantik.

Pendekatan sosio-kultural menyangkut kemampuan orang Islam untuk memahami masalah-masalah dasar yang dihadapi bangsa, dan bukan berusaha memaksakan agendanya sendiri. Kalau yang terakhir ini terjadi, maka yang berlangsung sebenarnya hanyalah proses pelarian (eskapisme). Umat Islam menuntut syarat-syarat yang terlalu idealistik untuk menjadi muslim yang baik. Lalu tidak diakuilah kemusliman orang yang tidak mampu memenuhi syarat-syarat itu, seperti orang-orang yang baru bisa melaksanakan ibadah haji dan zakat sementara belum mampu melaksanakan shalat dan puasa dengan baik. Kecenderungan  formalisasi ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat dan Islamisasi dalam bentuk manifestasi simbolik ini jelas tidak menguntungkan karena hanya akan menimbulkan kekeringan substitusi. Karena itu patut diusulkan agar terlebih dahulu Islam menekankan pembicaraan tentaing keadilan, demokrasi dan persamaan. Dengan demikian, peran umat Islam dalam kehidupan berbangsa ini akan lebih efektif dan perilaku mereka akan lebih demokratis.

Weltanschauung Islam

Ajaran Islam bisa dibedakan antara yang merupakan nilai dasar dan kerangka operasionalisasinya. Nilai dasar adalah nilai-nilai yang mendasari kehidupan masyarakat, yang intinya adalah (menurut Dr. Muhammad Abu Zahrah dan diperkuat oleh ahli-ahli lain) keadilan, persamaan dan demokrasi (syura). Prinsip operasionalisasi nilai-nilai dasar ini sudah dirumuskan dalam kaidah fiqh 'tasharruful imam 'ala ra 'iyyatihi manuthun bil mashlahah' (tindakan pemegang kekuasaan rakyat ditentukan oleh kemaslahatan dan kesejahteraan mereka). Dengan bahasa sekarang, harus dijunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, keadilan sosial dan persamaan di muka undang-undang. Jadi Weltanschauung Islam sudah jelas, yaitu bahwa Islam mengakomodasi kenyataan-kenyataan yang ada sepanjang membantu atau mendukung kemaslahatan rakyat. Prinsip ini harus mewarnai segala wujud, baik bentuk kelembagaan maupun produk  hukum.

Andaikan telah terjadi kesepakatan (sekurang-kurangnya oleh mayoritas) tentang Weltanschauung Islam, niscaya pekerjaan telah selesai. Sayangnya, kesepakatan ini belum pernah terjadi, sebab orang Islam baru pada tahap membuat komponen-komponen Weltanschauungs Islam sendiri. Proses yang terbalik ini menyebabkan kesalahan dalam penyusunan skala prioritas kepedulian. Pada ujungnya, muncullah keruwetan-keruwetan seperti dalam soal ada tidaknya negara Islam, masyarakat bersyariat ataupun masyarakat berhukum sekular, bahkan masih ditambah lagi dengan soal-soal kecil seperti apakah sebuah Undang- undang Pendidikan Nasional harus menyebutkan pendidikan agama dalam pasal-pasalnya ataukah tidak. Upaya sejumlah intelektual muslim, seperti Syaikh Muhammad Abu Zahrah, Syaikh Yusuf Qardlawi dan intelektual lainnya untuk menyusun prioritas yang benar, ternyata tidak mendapatkan sambutan, karena kaum muslimin sedang mengalami krisis identitas yang ditandai oleh kegairahan mempersoalkan manifestasi simbolik dari Islam. Identitas diri mesti tampil secara visual. Inilah yang mempakan sebab mengapa umat Islam sibuk dengan masalah-masalah semu atau hanya bersifat pinggiran (periferal).

Apa yang disebut dengan islamisasi pada umumnya barulah pada arabisasi budaya, yaitu semakin banyaknya dipakai terminologi Arab yang berasal dari nash. Sebutan 'saudara-saudara', 'kelompok' atau 'kolega' diganti dengan 'ikhwan'. Istilah 'sembahyang' yang telah berabad-abad dipakai di negeri ini yang sebenarnya telah berkonotasi Islam, walaupun kata itu sendiri berasal dari 'nyembah Sang Hyang', diganti dengan 'shalat', sambil berpendirian bahwa sembahyang bukanlah shalat. Dan 'langgar' pun dirubah menjadi 'mushalla'. Hal-hal yang bersifat 'embel-embel’ malahan menjadi perhatian pokok. Kecenderungan ini akan berlanjut terus selama proses identifikasi diri kaum muslimin belum terselesaikan dengan baik.

Di hadapan itu semua tampak ada semacam quasi weltanschauung (syibh nadha-riyyah ‘anil haryah), yang lalu menjadi ideologi semu. Misalnya munculnya ideologi tertentu. Padahal ujung dari ungkapan ‘Islam sebagai alternatif’ yang seakan merupakan manifestasi dari suatu ideologi tertentu. Padahal ujung dari ungkapan ini juga masih mempersilahkan masing-masing negara untuk menentukan corak ideologinya sendiri.

Dengan sikap  demikian, sebenarnya yang ditawarkan bukanlah alternatif, karena toh tetap berpendirian bahwa tidak ada alternatif yang universal. Terus terang satu-satunya penulis yang secara konsisten tetap mendambakan Islam sebagai alternatif adalah Abul A’la al Maududi. Semua ahli lain, bahkan Abul Hasan An Nadawi apalagi Sayyid Quthb, telah merubah pendirian mereka. Terlihat jelas pula bahwa jawaban-jawaban yang diberikan, baik oleh Khomeini maupun Ziaul-Haq, masih bersifat semu. Idealisme mereka begitu tinggi, sehingga tidak bisa mendarat dalam kehidupan; gagal menemukan prinsip-prinsip operasional dari nilai-nilai dasar kehidupan masyarakat. Seringakali percobaan-percobaan untuk keperluan itu berujung pada bentuk-bentuk kekuasaan Imam. Padahal prinsip-prinsip operasional itu semestinya senafas dengan yang telah disebutkan, yaitu ‘tasharruful-imam ‘ala raiyatih manuthun bil-mashlahah’, ‘laa dlarara wa laa dlirar’ (tidak dibenarkan terjadinya segala bentuk perbuatan yang merugikan)  dan sebagainya.

Selama problem krisis identitas kaum muslimin belum terpecahkan, maka langkah-langkah belum bisa diambil untuk membentuk Weltanschauung Islam.  Dan selama masih dalam keadaan demikian, yang ada barulah weltanschauung Islam yang semu dan baru pada tahap semangat keislaman saja atau sekadar slogan-slogan islami kosong. Jalan yang terbaik adalah melakukan upaya rekonstruksi hukum agama secara parsial sesuai dengan kebutuhan atau bersifat ad-hock sejalan dengan situasi ad-hock yang tengah berlangsung. Tentu saja tawaran ini datang dari cara pandang sarwa-fiqh. Fiqh adalah alat yang paling efektif untuk mengatur kultur umat Islam dan bisa dikatakan sebagai kunci kemajuan atau kemunduran mereka.

Tiga pilar dasar; keadilan, persamaan, dan demokrasi (weltanschauung) itu diejawantahkan kedalam sikap hidup yang mengutamakan Islam, kebangsaan dan kemanusiaan. Prinsip operasional ‘tasharruful imam ‘ala ra’iyyatihi manuthun bil-mashlahah’ dirinci dalam sub-sub prinsip hingga menjadi kerangka operasioanal dari Weltanschauung Islam tersebut. Di sinilah kultur Islam hendaknya diisikan.

Agenda Prioritas

Apa yang harus dikerjakan pertama kali adalah menciptakan kesadaran masyarakat tentang apa yang harus dilakukan oleh Islam. Dari sini kemudian tersedia lahan bagi masuknya pendekatan sosiokultural yang sifatnya mampu menampung kebutuhan-kebutuhan pengembangan dan perubahan. Tapi kerja ini tidak bisa begitu saja dilakukan. Dengan kata lain, betapapun pentingnya perubahan-perubahan formalistik hukum fiqh, ternyata masyarakat tidak menunggu rumusan-rumusan formal itu dalam menentukan apa yang hendak mereka lakukan. Jika demikian, seharusnya masyarakat dirangsang untuk tidak terlalu memikirkan manifestasi simbolik dari Islam dalam kehidupan, akan tetapi lebih mementingkan esensinya.

Hal ini berarti penciptaan Weltanschauung dengan pembinaan atau pembentukan tiga nilai dasar tadi, lalu mencari prinsip operasionalisasinya dan penjabaran prinsip itu ke dalam kerangka operasionalisasi, dan baru sesudah itu prioritas lainnya akan muncul dengan sendirinya. Inti persoalannya adalah membangun etika masyarakat yang baru. Hubungan yang lebih egaliter, kebebasan berpendapat dan ketundukan kepada hukum adalah inti keadilan, yang akan membentuk perilaku masyarakat secara berangsur-angsur menuju budaya baru. Prioritas ini dibarengi dengan prioritas transformasi budaya-budaya yang ada, seperti penertiban kehidupan koperasi dan budaya politik. Budaya politik orang Jawa yang pasif (menunggu dawuh dari atas) harus diubah menjadi budaya kreatif yang serba berinisiatif. Ini penting sekali, karena Pancasila sendiri masih dalam taraf mencari bentuk atau  masukan, untuk mengoperasionalkan nilai-nilai dasar bangsa. Di sini Islam bisa masuk tanpa perlu formalisasi, tetapi lebih dengan membawa Weltanschauung yang khas dari dirinya.

Tidak perlu ada kekhawatiran bahwa dengan kesediaan meninggalkan formalitas itu Islam akan larut dan kalah. Karena, meskipun nilai-nilai keadilan, persamaan dan demokrasi sebenarnya bukan hanya milik Islam tetapi juga adalah milik dari ke-manusiaan, tetapi wawasan, lingkup, watak, sasaran dan tujuannya tetap berbeda. Perbedaan ini segera bisa dikenali manakala rincian dan nilai-nilai dasar itu diungkap kembali dari perbendaharaan keilmuan Islam yang sangat kaya itu.

Dalam soal keadilan misalnya, Islam mengenal apa yang dinamakan al-kulliyyat al-khams (lima jaminan dasar); jaminan atas keselamatan fisik/pribadi, jaminan atas keselamatan keyakinan agama, jaminan atas kesucian keluarga, jaminan atas keselamatan hak milik dan jaminan atas keselamatan profesi. Di luar Islam tentu saja terdapat juga konsep tentang jaminan-jaminan dasar seperti ini, akan tetapi kuantitas dan kualitasnya pasti berbeda. Dalam bidang ekonomi akan terlihat perbedaan nyata antara Islam dengan Kristen. Seorang muslim yang baik dengan sendirinya adalah anti kapitalisme karena salah satu kewajiban yang harus ditunaikannya yaitu zakat pada hakekatnya memang bersifat anti-kapitalistik. Prinsip zakat adalah bahwa di dalam harta yang dimiliki seseorang, terdapat sebagian yang bukan miliknya sendiri. Terlepas dan soal besar dan kecilnya, tetapi zakat mengisyaratkan prinsip membersihkan harta dan anti penumpukan harta serta kebebasan individu yang berlebihan.

Begitu pun dalam bidang-bidang lain, Islam tetap memiliki kekhasannya. Bahwa ia bisa dikembangkan menjadi sistem alternatif adalah soal lain. Dengan  melihat kenyataan bahwa Islam tidak sistemik, maka agaknya kemungkinan Itu tak ada. Sebab Islam 'hanya' mengandung wawasan-wawasan yang bisa diterapkan pada sistem apa pun, kecuali sistem thaghut (tiranik), yaitu sistem yang bertentangan dengan unsur-unsur utama Weltanschauung Islam sendiri yaitu persamaan, keadilan dan demokrasi.

Jembatan Baru

Salah satu persoalan yang sangat perlu pemecahan adalah keterpisahan antara dua komponen dalam sistem keyakinan Islam yaitu keyakinan akan keimanan yang sangat pribadi, sebagaimana yang tercantum dalam Rukum Iman dan dimensi sosialnya sebagaimana tercantum dalam Rukun Islam. Pada dimensi individu ukuran keimanan bersifat sangat pribadi dan merupakan urusan seseorang dengan Allah sendiri (hablun minallah). Sedang pada dimensi sosialnya  syahadat yang tampak bersifat sangat pribadi itu ternyata berwawasan sosial, arena pengucapannya harus dilakukan di muka orang banyak, seperti dalam persaksian perkawinan. Apalagi tentang Rukun Islam yang lain. Shalat, apalagi berjamaah, berfungsi mencegah perbuatan keji dan munkar, yang berarti berorientasi menjaga ketertiban masyarakat. Sementara zakat telah jelas sebagai ibadah sosial, puasa adalah keprihatinan sosial dan ibadah haji adalah saat berkumpulnya kaum muslimin dari segala penjuru dengan berbaju ihram yang sama tanpa memandang pangkat dan kedudukan.

Persoalannya kini adalah bagaimana dimensi pribadi ini bisa diterjemahkan secara sosial. Karena di dalam Islam ternyata mungkin untuk menjadi mukmin yang baik dan sekaligus menjadi makhluk asosial dan sebaliknya bisa terbentuk pula sikap hidup yang begitu sosial tetapi tanpa keimanan. Usaha menjembatani kedua bentuk keberagamaan yang ekstrem ini adalah sebuah keharusan, sedangkan al-Qur'an telah memberikan petunjuknya (Q.S. 2:177). Ayat ini menerangkan bahwa struktur masyarakat yang adil harus ditandai dengan perhatian yang cukup terhadap kesejahteraan orang-orang yang menderita dan pengerahan dana untuk membela kaum lemah. Secara epistemologis, konsep ini belum pernah dirumuskan dan disepakati sebagai soal teologi, melainkan dianggap sebagai soal politik.

Dengan demikian yang masih diperlukan adalah, pengembangan akidah Islamiyyah yang mempunyai komponen rukun iman dan sekaligus rukun islam dalam bentuk yang terjembatani. Usaha menjembatani ini mempakan pekerjaan besar yang harus ditempuh melalui dialog dengan semua pihak. Apa yang ada tetap dipertahankan tetapi mesti ditambah dan diperjelas dengan wawasan-wawasan baru. Dengan kata lain semua kelompok masyarakat bertanggung jawab terhadap proses pribumisasi Islam dalam arti mengokohkan kembali akar budaya kita, dengan tetap berusaha menciptakan masyarakat yang taat beragama.

Sumber : muslimoderat.net
close
Banner iklan disini