Langkah Cerdik Gusdur Mempreteli Kekuatan Soeharto, Dengan Strategi Sun Tzu


Pak Harto itu cerdik, pandai memanfaatkan momentum untuk mengamankan kekuasaannya. Saat butuh pasukan gerak cepat yang taktis menumpas PKI, ia merangkul RPKAD (Kopassus) dan mengelus-elus Sarwo Edhie Wibowo. Lagipula, Sarwo Edhie ini kader tulen Jenderal Ahmad Yani, selain masih satu daerah dengan jenderal itu. Tepatnya, Pak Harto memanfaatkan singa yang dipenuhi amarah untuk memburu gerombolan serigala. Hanya saja popularitas mertua SBY yang melejit di mata mahasiswa dan rakyat yang membuat Pak Harto cemburu, lalu menyingkirkan Sarwo dengan menempatkannya sebagai Pangdam Bukit Barisan kemudian Pangdam Cenderawasih. Tak ada matahari kembar, demikian taktik Pak Harto.

Kodam V Brawijaya, Kodam Diponegoro, Kodam Jaya, RPKAD dan Kostrad sudah ada di bawah kendali totalnya. Hanya saja masih ada Kodam Siliwangi yang dianggap masih "Soekarnois" karena Jenderal Ibrahim Adjie masih di sana. Ibrahim Adjie, yang berhasil mencegah pembantaian besar-besaran terhadap PKI di Jawa Barat, diganti dengan Mayjend HR Dharsono. Dharsono yang ternyata loyal dan hormat terhadap Jenderal Nasution ini kemudian disingkirkan dengan cara dijadikan duta besar di Thailand.

Penyingkiran juga menimpa Pangkostrad Kemal Idris. Idris yang menjadi suksesor Umar Wirahadikusumah ini didutabesarkan di Yugoslavia. Maklum, otak Idris yang idealis ditambah dengan lidahnya yang ceplas-ceplos membuat Pak Harto risih. Idris pula yang kemudian bergabung di Petisi 50 bersama purnawirawan lain yang gerah terhadap polah tingkah Pak Harto saat mulai melenceng.

Sukses menyingkirkan Sarwo Edhie, Adji, Dharsono, dan Kemal Idris (ada pula Hario Kecik, jenderal Sukarnois yang memilih menjadi eksil), Pak Harto merangkul kader kesayangannya yang lain, LB Moerdani.

Ini anggota parakomando yang brilian saat Operasi Mandala dan tugas tempur saat konfrontasi di Malaysia. Benny direkut bersamaan dengan Ali Moertopo dan Sudomo. Pendelegasian tugas dilaksanakan ketiganya dengan senang hati. Ini three musketeers penyangga kekuasaan Pak Harto sejak 1970-an hingga (pertengahan) 1980-an. Adapula Sujono Humardani (mertua Fauzi Bowo) yang lebih lihai bermain di balik layar.

Setelah Ali Moertopo meninggal (jelang pertengahan 1980-an), pijakan kaki kekuasan Orba mulai rapuh. Apalagi setelah peristiwa Tanjung Priok, Gus Dur bermanuver mengacaukan konfigurasi kekuatan Orba dengan mengajak LB Moerdani, jenderal Katolik itu, keluar masuk pesantren. Ini langkah edan! LB Moedani, yang dianggap bertanggungjawab atas peristiwa Tanjung Priok, oleh Gus Dur, malah diperkenalkan kepada para kiai. Gus Dur, Ketua Umum PBNU, berusaha menunjukkan bahwa santri bisa dilibatkan dalam proses kenegaraan. Lagipula, militer yang masih kokoh perlu dilunakkan dengan pendekatan ala santri. Gus Dur dan Benny Moerdani, saya kira, saling memanfaatkan posisi masing-masing di era pertengahan 1980-an. "Bila belum bisa mengalahkan musuh, rangkul dia!" Ini tampaknya doktrin strategi Sun Tzu yang diterapkan Gus Dur sejak menjadi Ketua PBNU, 1984 hingga 1999, khususnya manakala bermain-main dengan militer.

Lagipula, akhir 1984 itu, NU juga baru menyetujui asas tunggal Pancasila. Pro kontra kedatangan LB Moerdani tak hanya terjadi di kalangan umat Islam sendiri yang masih panas pasca peristiwa Tanjung Priok, melainkan di internal NU juga heboh.

Melihat manuver kasat mata ini, Pak Harto khawatir akan adanya matahari selain dirinya. Lihatlah, Panglima ABRI yang terlihat rukun dengan Ketua PBNU. Apa jadinya bila kekuatan ini bersatu saling kait merobohkan kekuasaan? Puncaknya, Jenderal LB Moerdani, kader kesayangannya itu, diberhentikan sebagai Pangab ABRI. Pijakan kaki Pak Harto semakin rapuh. Gus Dur (ikut) mempreteli kekuasaan Pak Harto dengan halus. Akhirnya, Pak Harto merangkul elemen jenderal "hijau" (tak lagi jenderal 'merah putih'), dalam struktur ABRI demi mengamankan kekuasaannya.

Gus Dur lihai karena ia berani bermain di tempat paling berbahaya, sebagaimana doktrin Sun Tzu, "Tempat bersembunyi yang paling aman adalah di tempat yang berbahaya". Para kiai, yang masih trauma dengan militer semenjak Pemilu 1971, mulai diakrabkan kembali dengan tentara oleh Gus Dur. Melalui gaya yang khas dan penuh humor, beberapa kiai menyindir dan mengkritik kebijakan Pak Harto. KH. Mahrus Ali, Lirboyo, misalnya, saat menemui Jenderal LB Moerdani yang berkunjung di ndalemnya, beliau dengan nada berkelakar menyindir kebijakan KB.
"Jenderal, para kiai jangan disuruh ikut KB, karena keturunan kiai itu, InsyaAllah, baik-baik. Nah, maling-maling itu saja yang disuruh KB!"

***

WAllahu A'lam Bisshowab

Penulis : Rijal Mumazziq (Direktur Penerbit Imtiyaz)

Sumber : muslimoderat.net
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Langkah Cerdik Gusdur Mempreteli Kekuatan Soeharto, Dengan Strategi Sun Tzu"

Post a Comment

close
Banner iklan disini