Cerita Khofifah mendapat 'ijazah' Surat Al Kahfi dari Gus Dur


Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa dikenal dekat dengan almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Bahkan perempuan kelahiran Surabaya, Jawa Timur pada 19 Mei 1965 ini, pernah diberi 'ijazah' Surat Al Kahfi oleh presiden ke 4 RI tersebut.

Momentum ini diceritakan Khofifah usai menggelar buka bersama (bukber) dengan Muslimat NU di Kompleks Makam Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur di malam ke 25 Ramadan.

Di sela menjelang Salat Tarawih di Masjid Agung Sunan Ampel, Khofifah mengisinya dengan obrolan santai bersama salah satu putri pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Wahab Chasbullah, yaitu Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid.

Obrolan itu digelar di kediaman Rais Syuriah PCNU Surabaya, KH Mas Sulaiman yang sekalius pengelola kompleks Makam Sunan Ampel. Turut mendampingi, Ketua Tanfidyah PCNU Surabaya, H Ach Muhibbin Zuhri.

Awalnya sebagai pembuka obrolan, Khofifah menceritakan kenangan istimewa bersama suaminya, almarhum Indar Parawansa di Masjid Sunan Ampel. Puluhan tahun silam, tepat di tegel warna hijau di dalam masjid, Khofifah dan Indar Parawansa menyatakan ikrar suci di hadapan penghulu.

Tegel berukuran 3x3 meter tersebut merupakan tanda awal didirikannya Masjid Sunan Ampel. "Saya dulu akad nikahnya di sini. Tepatnya di tegel warna hijau di tengah masjid," cerita alumnus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini memulai obrolannya.

Ach Muhibbin Zuhri yang ikut mendengar cerita itu menyahut. "Iya mbak (Khofifah) saya ingat. Wong saya jadi pagar bagusnya, didandani pakai blangkon. Waktu itu resepsinya digelar di gedung dekat Siola. Bukan di Cak Durasimnya, tapi di Wisma Sahabat," kata Muhibbin.

Selanjutnya, Khofifah flashback. Mengingat-ingat kenangan istimewanya di wisata religi makam Sunan Ampel.

Menteri yang populer dengan pidato monumentalnya saat menjadi anggota MPR, karena dia satu-satunya politikus yang berani mengkritisi kecurangan Pemilu 1997 di Sidang Umum MPR Tahun 1998 ini, bercerita jauh ke masa remajanya: kisah saat masih SMP di sekolah Khodijah Surabaya sekitar Tahun 1979.

Saat itu, tiap hari Kamis malam Jumat legi (hitungan kalender Jawa), Khofifah muda selalu datang ke Makam Sunan Ampel sepulang sekolah. Bahkan, dia mengganti baju seragamnya dengan busana muslim, juga di sana.

"Dulu waktu masih SMP kelas dua, tiap Kamis malam Jumat manis (legi), pulang sekolah saya ke sini. Mengganti baju saja juga di sini. Pulang bada (usai) subuh. Itu sampai tamat SMA," kisahnya.

Karena terbiasa istiqomah dengan tawasul dan berzikir di depan Makam Sunan Ampel, alumnus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini tak pernah lupa menghadiahi Sunan Ampel dengan Surat Al Fatihah.

Kemudian saat aktif di Muslimat NU, Khofifah akrab dengan almarhum Gus Dur yang kala itu masih menjabat Ketua Umum PBNU. Khofifah kerap berdiskusi dengan Gus Dur di kantor PBNU.

"Sampai saya pernah diijazahi Surat Al Kahfi oleh beliau. Satu kali Al Fatihah untuk Kanjeng Nabi Muhammad, satu kali untuk Sunan Ampel. Baru setelah itu baca Surat Al Kahfi 11 kali," ucapnya.

Anehnya saat tawasul ke Sunan Ampel, Gus Dur melarang menyebut Sunan Ampel dengan nama Raden Rahmad. "Saya tidak boleh menyebut Raden Rahmat oleh beliau, tapi dengan Sunan Ampel," kata dia lagi.

Ditanya soal keistimewaan 'ijazah' dari Gus Dur tersebut, Khofifah mengaku untuk memudahkan tiap perjalanan yang ingin dituju. "Agar langkah demi langkah bisa dimudahkan oleh Allah," tutupnya. [cob]

Sumber : merdeka.com
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Cerita Khofifah mendapat 'ijazah' Surat Al Kahfi dari Gus Dur"

Post a Comment

close
Banner iklan disini