Heboh! Video Ditanya Tentang Kebangkitan Komunis, Gus Dur: PKI Aja Ditakuti

Heboh! Video Ditanya Tentang Kebangkitan Komunis, Gus Dur: PKI Aja Ditakuti

Peristiwa yang terjadi pada 30 September 1965 yang dikenal Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (PKI) atau G30S PKI kembali hangat diperbincangkan oleh publik tanah air pada akhir-akhir ini.

Peristiwa kelam yang terjadi hampir 52 tahun silam ini selalu hangat dibahas jelang peringatannya pada September. Tak hanya di dunia nyata, dunia maya pun akhir-akhir dihebohkan topik PKI.
Hampir setiap tahun bangsa Indonesia membahas peristiwa yang menewaskan para Jenderal ini.

Bahkan seorang mantan Jenderal TNI mengungkap PKI kini sudah memiliki 15 juta pengikut. Jika ditambah anak cucu sekitar 60 juta orang PKI di Indonesia.
Padahal akibat peristiwa ini ada ratusan ribu rakyat Indonesia bahkan ada yang menyebut jutaan warga Indonesia tewas dibunuh. Mereka dituding sebagai antek PKI.
Kendati hampir semua pelaku sejarah G30S PKI telah meninggal dunia. Namun, sepertinya tahun 1965 akan jadi tahun terpanjang yang tak pernah habis dibahas.

Simpang siur terkait sejarah peristiwa G30S seolah hangat untuk selalu diperbincangkan. Mulai dari kudeta PKI, rekayasa Soeharto hingga keterlibatan asing.
Puluhan tahun telah berlalu, PKI sudah ditetapkan MPR sebagai partai terlarang. Artinya siapapun yang berupaya membangkitkan ajaran komunis ini bisa dihukum oleh negara.
Namun tuding menuding dan saling mempersalahkan terkait peristiwa tersebut  terus terjadi. Kecurigaan dan saling fitnah sebagai pengikut PKI masih terjadi hingga saat ini.

Bahkan, Presiden Jokowi seolah menjadi sasaran utama yang dituding sebagai antek PKI.
Tak hanya itu, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pun dituduh berisi kader PKI. Terakhir beberapa hari silam terjadi penyerangan terhadap kantor YLBHI yang dituding membela PKI.
Tak hanya Jokowi, almarhum Presiden ke-4 Indonesia, mendiang Abdurahman Wahid alias Gus Dur pernah dituding PKI karena mencoba melakukan rekonsiliasi antar bangsa.

Gus Dur tahu betul luka lama para korban peristiwa G30S PKI dan sesudahnya tak diobati lebih dari 30 tahun masa pemerintahan orde baru. Bahkan pemerintahan Soeharto memproduksi Film Pengkhianatan G30S yang menambah kebencian terhadap anak cucu PKI.
Gus Dur bahkan mencabut Tap MPR nomor 25 MPRS 1966 tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia. Ia dituding membela PKI. Namun Gus Dur tak mau pusing. Niatnya untuk mempersatukan kembali bangsa ini.

Belakang beredar kembali video YouTube, saat Gus Dur diwawancara dalam Kick Andy, edisi 15 Nov 2007. Menurutnya TAP MPR tersebut bertentangan dengan Undang-undang dasar. Dia tak peduli dituding membela PKI.
"Yang terpenting, mengucilkan PKI itu bukan tugas negara," kata Gus Dur
Katanya, negara tak bisa mengurus segala hal termasuk pemisahan agama dari negara
Dia mempertanyakan konsep pemisahan agama dari negara. Jika negara harus mengurus segala hal. "Padahal yang menentang PKI khan hanya beberapa orang aja," katanya.

Dia yakin benar dalam mencabut TAP MPR karena berdasarkan undang-undang dasar. "(Undang-undang dasar) ya melindungi semua. Itu hasil daripada tujuh abad lamanya kita berpancasila tanpa nama yaitu yang dinamakan Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi satu tujuan," terangnya
Gus Dus tak khawatir jika PKI akan bangkit kembali. "Kenapa takut, PKI aja ditakuti," kata Gus Dur disambut tawa para penonton [tribunnews.com]


Sumber : muslimoderat.net
Kepiawaian Gus Dur Menyetir NU yang Nyaris Dibubarkan Orde Baru

Kepiawaian Gus Dur Menyetir NU yang Nyaris Dibubarkan Orde Baru


 Jika ada orang non-NU membenci NU dengan cara meng-character assasination Gus Dur, saya bisa maklum, karena memang dari sononya mereka anti NU yang secara otomatis ya anti Gus Dur. Namun yang saya tidak habis pikir itu ada orang NU benci Gus Dur. "Ketemu pirang perkoro" kok bisa-bisanya ada orang NU benci Gus Dur.

Jika kita amati Gus Dur itu begitu sederhana, bersahaja dan zuhud. Dari cara berpakaian saja cukup sederhana, batik yang murah, celana biasa dan tidak punya dompet. Kopyahnya pun pakai kopyah/peci model pesantren (bludru hitam) dan kadang kopyah model Gorontalo. Cukup sederhana khan. Jarang beliau pakai jubah dan sorban apalagi berjenggot, kesana kemari padahal tingkat keilmuan dan keintelektualannya sangat-sangat mumpuni.

Sekali lagi saya tak habis pikir. Ada orang NU, alumni pesantren NU lagi, kok bisa-bisanya sampai benci Gus Dur. Ada yang menuduh Gus Dur liberal lah, Gus Dur Syiah lah dan sebagainya. Biasanya orang NU yang benci Gus Dur itu tingkat keilmuannya cuma "FIKIH ANSICH" (berorientasi hanya pendekatan fikih, pendekatan hukum, ingat pendekatan hukum itu kaku) dan kurang piknik.

Lihat jasa Gus Dur terhadap NU, terbukti "sempurna". Hal ini bisa dilihat dengan jelas bagaimana Gus Dur membawa NU "berakrobat" menghadapi gencetan Orde Baru. Bagaimana Gus Dur membawa NU dengan kepiawaiannya dan kecerdasannya membawa NU yang nyaris dibubarkan Orde Baru. Ketika itu NU digebuk kiri kanan, atas bawah, depan belakang, namun dengan izin Allah SWT, karamah wali, doa ulama serta kepiwaian Gus Dur maka NU selamat dari masa kritis dimasa Orba.

Seperti inilah (Gus Dur) ulama yang sebenarnya. Ulama yang berpandangan luas, sikap yang multi talenta dan ilmu yang mendalam. Ulama sejati itu tidak hanya pakar agama saja, apalagi cuma fikih. Jika semua didekati dengan pendekatan fikih (fiqh ansich) maka pola pikir dan perilaku cenderung kaku. Untuk itu perlu dibarengi denga ilmu tasawuf, tsaqafah, peradaban, sejarah, politik, humanisme, sosiologi antropologi dan sebagainya. Gus Dur melahap semua itu. Jika ulama cuma bisanya fikih saja maka bisa dipastikan akan salah paham dengan Gus Dur. Ini menunjukkan bahwa ilmunya belum mampu mencerna langkah Gus Dur. Kiai saja ada yang salah paham terhadap Gus Dur, apalagi cuma santri.

Keberhasilan menyelamatkan NU dari Orde baru yang nyaris dihabisi adalah diantara jasa Gus Dur terhadap NU tak tak mungkin bisa dilupakan. Oknum warga NU yang benci Gus Dur, bisakah membawa NU selamat dari Orde Baru, kok selalu koar-koar hanya dirinyalah sebagai NU yang benar, NU lurus, NU nya KH Hasyim Asyari. Sepertinya dia lupa bahwa Gus Dur itu cucunya KH Hasyim Asyari. Tentu cucunya lebih berhak secara ilmu dan nasab dibanding yang lain.

Jika ada santri NU yang benci Gus Dur, apalagi ilmunya cuma diperoleh dari satu pesantren, dan ditambah kuliah S1, S2, S3 dan tidak pernah aktif atau bergaul dengan pemikiran kontemporer dunia, maka dia seharusnya malu dengan prestasi Gus Dur, diantara (sekelumit) prestasi Gus Dur:
1. Cucu Hadratus Syaikh Hasyim Asyarie, Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Ketua Majlis Syura Masyumi
2. Putra KH Wahid Hasyim, (diantara) Perumus Pancasila (dasar negara), Menteri Agama tahun 1949, Ketua I Masyumi
3. Keturunan Raden Patah, Raja Kerajaan Islam Demak
4. Keturunan Jaka Tingkir
5. Keturunan Sunan Giri
6. Pesantren Tebuireng, Jombang (Guru)
7. Pesantren Tambakberas, Jombang (Guru)
8. Pesantren Denanyar, Jombang (Guru)
9. Pesantren Krapyak, Yogyakarta (Santri)
10. Pesantren Tegalrejo, Magelang (Santri))
11. Universitas Al-Azhar, Mesir (Mahasiswa)
12. Universitas Bagdad, Irak (Mahasiswa)
13. Universitas Thammasat, Bangkok, Thailand (Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum)
14. Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (Doktor Kehormatan)
15. Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Perancis (Doktor 16. Kehormatan bidang Ilmu Hukum, Politik, Ilmu Ekonomi, Manajemen, dan Ilmu Humaniora)
17. Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand (Doktor Kehormatan)
18. Universitas Twente, Belanda (Doktor Kehormatan)
19. Universitas Jawaharlal Nehru, India (Doktor Kehormatan)
20. Universitas Soka Gakkai, Tokyo, Jepang (Doktor Kehormatan)
21. Universitas Netanya, Israel (Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan)
22. Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan (Doktor Kehormatan bidang Hukum)
23. Universitas Sun Moon, Seoul, Korea Selatan (Doktor Kehormatan)
24. Presiden Republik Indonesia1999-2001
25. Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat RI1989-1993
26. Ketua Majelis Ulama Indonesia1987-1992
27. Ketua PBNU1984-2000
28. Katib PBNU1980-1984
29. Universitas Hasyim Ashari, Jombang (Dekan dan Dosen Fakultas Ushuludin)
30. Universitas Darul Ulum, Jombang (Rektor dan Dosen)
31. Anugrah Mpu Peradah, DPP Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia, Jakarta (Penghargaan)
32. The Culture of Peace Distinguished Award 2003, International Culture of Peace Project Religions for Peace, Trento, Italia (Penghargaan)
33. Global Tolerance Award, Friends of the United Nations, New York, Amerika Serikat (Penghargaan)
34. World Peace Prize Award, World Peace Prize Awarding Council (WPPAC), Seoul, Korea Selatan (Penghargaan)
35. Dare to Fail Award , Billi PS Lim, penulis buku paling laris “Dare to Fail”, Kuala Lumpur, Malaysia (Penghargaan)
36. Pin Emas NU, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta (Penghargaan)
37. Gelar Kanjeng Pangeran Aryo (KPA), Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII, Surakarta (Penghargaan)
38. Public Service Award, Universitas Columbia , New York , Amerika Serikat (Penghargaan)
39. Ambassador of Peace, International and Interreligious Federation for World peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat (Penghargaan)
40. Paul Harris Fellow, The Rotary Foundation of Rotary International (Penghargaan)
41. Man of The Year, Majalah REM (Penghargaan)
42. Magsaysay Award, Manila, Filipina (Penghargaan)
43. Islamic Missionary Award, Pemerintah Mesir (Penghargaan)
44. Tokoh 1990, Majalah Editor (Penghargaan)
45. Non Violence Peace Movement, Seoul, Korea Selatan (Presiden)
46. International Strategic Dialogue Center, Universitas Netanya, Israel
47. Dewan Internasional bersama Mikhail Gorbachev, Ehud Barak and Carl Bildt (Anggota)
48. International Islamic Christian Organization for Reconciliation and Reconstruction (IICORR), London, Inggris (Presiden Kehormatan)
49. International and Interreligious Federation for World Peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat (Anggota Dewan Penasehat Internasional)
50. Association of Muslim Community Leaders (AMCL), New York, Amerika Serikat (presiden)
51. Shimon Perez Center for Peace, Tel Aviv, Israel (Pendiri dan Anggota)
52. World Conference on Religion and Peace (WCRP), New York, Amerika Serikat (Presiden)
53. International Dialogue Project for Area Study and Law, Den Haag, Belanda (Penasehat)
54. The Aga Khan Award for Islamic Architecture (Anggota dan Dewan Juri)
55. Partai Kebangkitan Bangsa (Pendiri dan Ketua Dewan Syura)
56. The WAHID Institute, Indonesia (Pendiri)

Alasan apalagi, yang menyebabkan kalian benci Gus Dur, wahai (oknum) ulama/warga NU?
Jika kalian sudah mampu menyamai atau mengungguli prestasi Gus Dur di atas maka kalian boleh melawan Gus Dur.

Semua elemen NU besatulah, jangan sampai kalian diadu oleh kelompok garis keras yang memang dari sononya benci NU/Gus Dur. Mereka tidak mampu melawan NU secara face to face sehingga dengan cara "membrain washing" oknum ulama/warga NU untuk melawan NU yang "asli", PBNU dan kepengurusan NU dibawahnya.
(hanyalah sebuah kritik untuk "oknum" warga NU yang masih benci Gus Dur)
(WP) MWC NU Semin

Sumber : muslimoderat.net
Tanpa Pembunuhan, Para Kyai NU ini Mengislamkan Kampung PKI

Tanpa Pembunuhan, Para Kyai NU ini Mengislamkan Kampung PKI


Tahun 1959, KH. Muslim Rifai Imampuro alias Mbah Liem menetap di sebuah kampung ‘abangan’ di daerah Klaten. Selama bertahun-tahun, ia adalah satu-satunya orang di desa itu yang melaksanakan shalat. Maklum, mayoritas penduduk adalah orang awam, sebagian besar simpatisan PKI yang suka menyaksikan pertunjukan drama parodikal dan wayang tentang “kematian Tuhan”.

Yang ia lakukan tidak menentang drama tradisional yang menghina agama tersebut, melainkan mendirikan masjid sederhana. Anak-anak kecil ia ajari Islam. Target antaranya ialah menyiapkan anak-anak itu menjadi generasi Islam masa depan. Sedangkan target utamanya adalah melunakkan hati orangtua mereka dan membuat kampung itu menjadi desa santri.
Maka, tatkala pembantaian kaum komunis terjadi, ia pasang badan melindungi penduduk desa sembari mengatakan dengan lantang di hadapan pasukan pembunuh: “Lho, siapa yang nanti akan shalat di masjidku jika kalian membunuh mereka?”
Setelah berhasil melindungi penduduk desa dari pembantaian massal, Mbah Liem masih harus menghadapi gempuran kekuatan hitam dari alam lain. Alhamdulillah, dengan riyadlohnya, Mbah Liem berhasil menetralisir kekuatan negatif tersebut.
Kisah tersebut saya nukil dari “Urban Sufism”, yang ditulis oleh Martin Van Bruinessen dkk., (hal. 184).
Cara Mbah Liem melindungi umatnya dengan cara yang khas saya kira juga saya dengan yang dilakukan Mbah Kakung saya. Kiai Syafawi, mbah kakung saya, kabarnya, menjadi target bunuh PKI. Bahkan, pusat aktivitas Gerwani lokasinya tidak jauh dari pesantren yang dirintis kakek saya.
Ketika tentara datang ke desa “melakukan pembersihan” di akhir 1966, ibu ibu yang pernah terlibat dalam kegiatan Gerwani merapat ketakutan dan meminta perlindungan ke kakek. Oleh mbah putri saya, ibu ibu ini langsung diminta memakai kerudung (meminjam santriwati) dan diminta mengaku sebagai anggota Muslimat NU agar lolos dari target tangkap TNI AD. Para pemuda dan pengurus PNI juga merapat ke simbah kakung karena khawatir ditangkap karena disangka PKI. Aksi penyelamatan ini kemudian memiliki efek: anak-anak dari perempuan yang disangka Gerwani dan PKI dipondokkan di pesantren simbah. Pakde saya, Pak Matrai, yang pernah aktif di Hizbullah kemudian berdinas di TNI AD bahkan pernah menyebutkan nama-nama mata-mata KNIL di desa kami sekaligus membisikkan nama-nama eks “Anggota Pe-Ka-I” yang anak-anaknya dipondokkan di pesantren simbah.
Selain Mbah Liem dan Kiai Syafawi, kiai pesantren lain juga banyak yang melakukan hal yang sama. Melakukan “penyelamatan” dengan caranya masing-masing. Mereka sadar betul, kalaupun orangtua bersalah, menghukum dan menstigma anaknya bukan tindakan tepat.

####
Mesin skrining Orde Baru sangat kejam. Litsus bergerak mencari anggota PKI maupun yang terlibat kegiatan PKI, sebagaimana Gestapo-nya Nazi mencari jejak-jejak Yahudi untuk dimusnahkan, sebagaimana polisi rahasia Stalin mencari pengikut Trotski untuk dieksekusi. Di era Orde Baru, Sukarnois dan simpatisan PNI juga ikut digulung, sengaja maupun tidak, berdasarkan data maupun hanya berdasarkan asumsi dan fitnah belaka. Sedangkan stigma “anak Pe-Ka-I” dengan kejam menempel kepada siapapun yang ayah, pakde, paklik, bude, kakak, atau siapapun kerabat yang digilas mesin politik Orba. Stigma sosial-kultural ini sangat menyiksa dan menghambat perkembangan psikis dan karier sebagian dari mereka yang dituduh “anak Pe-Ka-I”. Stigma ini telah mengharamkan mereka menjadi birokrat, tentara, hingga politisi.

Dari sekian banyak anak yang terstigma, tersebutlah Okky Asokawati. AKBP Anwas Tanuamijaya, ayah Okky, adalah perwira polisi yang didakwa terlibat G-30S/PKI. Okky masih balita saat ayahnya dipenjara. Ketika masih SD hingga SMA dia kerap dirisak karena status ayahnya. Tapi dia tetap berusaha tegar dan bisa melepaskan masalah tersebut dengan cara fokus pengembangan dirinya pada aspek modelling. Kelak, dia dikenal sebagai model papan atas dan pasca reformasi dia menjadi anggota DPR dari Fraksi PPP, hingga saat ini.

Okky memang tidak sefrontal gaya Ribka Tjiptaning Proletariati, sesama anggota dewan (dari PDI-P), yang dengan berani memilih judul bukunya, “Aku Bangga Jadi Anak PKI”. Namun, kalau boleh dipertautkan, keduanya berjuang melawan stigma masa lalu.

Keduanya masih kecil saat peristiwa G30-S/PKI terjadi, sebagaimana Prabowo Subianto masih menjelang akil balig saat ayahnya didakwa terlibat PRRI/Permesta, sebagaimana pula saat Danu Muhammad Hasan, ayah Hilmi Aminuddin (eks Majelis Syuro PKS), ditengarai sebagai Panglima DI/TII, maupun Andi Muzakkar alias Andi Cakka dan Aziz Qahar Muzakkar berhasil menjadi pejabat di Luwu dan anggota DPD RI meskipun keduanya adalah putra Kahar Muzakkar.
Mereka adalah anak-anak yang belum memahami sepenuhnya peristiwa yang menimpa ayahnya, dan belum mengerti stigma sebagai “anak pemberontak” saat ayahnya terlibat dalam peristiwa dan intrik politik yang membuat keluarganya terstigma negatif.

Mereka bertahan dan bangkit dengan caranya masing-masing sembari tetap berusaha menjadi warga negara yang baik dan tidak mengulang “kesalahan” ayahnya.

Wallahu A’lam Bisshawab

Dishare dari  Rijal Mumazziq Z, aktivis muda NU Surabaya

Sumber : muslimoderat.net
Ketika Ada Orang Bertamu Minta Nomor Togel Kepada Kiai Hamid Pasuruan

Ketika Ada Orang Bertamu Minta Nomor Togel Kepada Kiai Hamid Pasuruan


Suatu ketika ada seseorang meminta nomer togel ke Kiai Hamid. Oleh Kiai Hamid diberi dengan syarat jika dapat togel maka uangnya harus dibawa kehadapan Kiai Hamid. Maka orang tersebut benar-benar memasang nomer pemberian Kiai Hamid dan menang.

Saran ditaati uang dibawa kehadapan Kiai Hamid. Oleh kiai uang tersebut dimasukan ke dalam bejana dan disuruh melihat apa isinya. Terlihat isinya darah dan belatung. Kiai Hamid berkata “tegakah saudara memberi makan anak istri saudara dengan darah dan belatung?” Orang tersebut menangis dan bertobat.

Setiap pergi ke manapun Kiai Hamid selalu didatangi oleh umat, yang berduyun duyun meminta doa padanya. Bahkan ketika naik haji ke Makkah pun banyak orang tak dikenal dari berbagai bangsa yang datang dan berebut mencium tangannya. darimana orang tau tentang derajat Kiai Hamid? Mengapa orang selalu datang memuliakannya? Konon inilah keistimewaan beliau, beliau derajatnya ditinggikan oleh Allah SWT.

Pada saat Orde Baru, ada orang ingin mengajak Kiai Hamid masuk partai pemerintah. Kiai Hamid menyambut ajakan itu dengan ramah dan menjamu tamunya dari kalangan birokrat. Ketika surat persetujuan masuk partai pemerintah itu disodorkan bersama pulpennya, Kiai Hamid menerimanya dan menandatanganinya.

Anehnya pulpen tak bisa keluar tinta, diganti polpen lain tetap tak mau keluar tinta. Akhirnya Kiai Hamid berkata: “Bukan saya yang gak mau tanda tangan, tapi bolpointnya gak mau”. Itulah Kiai Hamid dia menolak dengan cara yang halus dan tetap menghormati siapa saja yang bertamu kerumahnya. [dutaislam.com/gg]

Sumber : dutaislam.com
Humor Gus Dur: Hadiah menyelamatkan diktator

Humor Gus Dur: Hadiah menyelamatkan diktator


Bukan Gus Dur kalau tak punya kisah lucu. Nah, kali ini Gus Dur bercerita tentang seorang presiden dan diktator di Amerika Selatan. Karena kekejaman dan keserakahannya, sang diktator dibenci oleh seluruh rakyat.

Suatu hari sang diktator sedang naik kuda mengelilingi ibu kota. Di jembatan, tiba-tiba kuda itu terkejut melihat air sungai yang sangat deras. Si diktator pun jatuh ke sungai dan terseret arus deras.

Kepalanya timbul tenggelam di tengah sungai. Dia beruntung, seorang pengail ikan yang melihat melemparkan tali dan menyelamatkan hidupnya.

Dengan rasa terima kasih sangat besar, sang diktator itu menyatakan kepada pengail miskin siapa dirinya, dan betapa besarnya jasa pengail itu kepada negara, dengan menolong dirinya.

"Jasamu sangat besar. Hadiah apa gerangan yang kau minta karena telah menyelamatkan diriku? Emas, permata, jabatan, wanita?" tanya si diktator.

Dengan kelugasan orang kecil, pengail itu menjawab: "Satu saja, Paduka. Tolong jangan ceritakan kepada siapa pun bahwa sayalah yang menolong Paduka." [ian]

Sumber : merdeka.com
Banser Blitar Mendukung Pemutaran Film G 30 S PKI, Asal...

Banser Blitar Mendukung Pemutaran Film G 30 S PKI, Asal...


Ketua Barisan Serba Guna (Banser) Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama Blitar, Jawa Timur, Imron Rosadi mendukung rencana pemutaran film Penumpasan Pengkhinatan  G 30S PKI  oleh TNI Angkatan Darat. Menurut Imron  pemutaran film G 30 S PKI berdampak positif untuk mewaspadai timbulnya paham komunisme. "Asalkan dilakukan tulus tanpa maksud tertentu, seperti untuk membranding sesuatu," kata Imron, Senin, 18 September 2017.

Menurut dia paham komunis  tak mudah dipadamkan. Dia melihat masih ada upaya  untuk memprovokasi dan mengagitasi anak muda menghidupkan kembali komunisme. Sehingga kewaspadaan terhadap bangkitnya komunisme perlu digaungkan kembali, yang salah satunya  melalui pemutaran film G 30S PKI.

Imron berujar penumpasan kekuatan PKI di Blitar selatan pada 1968 melalui Operasi Trisula selain oleh Angkatan Darat juga melibatkan Banser. "Anggota Banser diseragami hansip semua untuk menumpas PKI," katanya.

Sebelumnya, TNI AD menginstruksikan seluruh prajuritnya untuk menggelar nonton bareng film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI. Kepala Pusat Penerangan TNI Brigadir Jenderal Wuryanto membenarkan instruksi tersebut.
"Tanggal 30 September merupakan momen yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Saat ini banyak sekali upaya pemutarbalikan fakta sejarah peristiwa 30 September 1965," kata Wuryanto.

Wuryanto berpendapat pemutaran film tersebut penting untuk mengajak generasi muda membaca sejarah. Ia menilai, sejak era reformasi sejarah, Pancasila, dan budi pekerti kurang diajarkan di bangku sekolah. Dia juga menyebutkan sejumlah alasan lain yang mendasari lembaganya perlu mengajak masyarakat menonton film Penghianatan G 30 S PKI.

Sumber : tempo.co
Barang Siapa yang Meninggal, Diperutnya ada Sisa Kopi, dia Tak akan Ditanya Malaikat

Barang Siapa yang Meninggal, Diperutnya ada Sisa Kopi, dia Tak akan Ditanya Malaikat


Sambi ngopi kersane padang. :


“Barang siapa yang mati, diperutnya ada sisa-sisa kopi,
ia tidak akan ditanya oleh malaikat”.

Dalam salah satu pengajiannya Habib Umar al-Muthohar disuguhi kopi.

 Tidak menunggu lama, kopi pun diseruput Habib Umar.
“Sruput…” suara srutupan kopi didengar para jama’ah yang hadir.
“Saya sengaja dekatkan dengan mikrofon, biar sampean kepingin“,
kata Habib Umar disambut tawa oleh hadirin.
“Saya suka kopi itu karena kopi adalah minuman kesukaan para Wali,
kesukaan orang-orang shalih”.
Sangking senengnya dengan kopi, lanjut Habib Umar, ada Wali yang mengatakan :
“Barang siapa yang mati, diperutnya ada sisa-sisa kopi,
ia tidak akan ditanya oleh malaikat”.
:v :v :v
“Loh kandani kok..Kalau zaman sekarang ungkapan ini dikandakno yo rame..
[kalo jaman sekarang ungkapan seperti itu bisa bikin rame]
mosok perkoro kopi tekan..,” jelasnya.
“Dowo… dowo…..,[panjang urusannya]” tambahnya.
Habib Umar menjelaskan, ungkapan ini perlu dilihat, ketika wali itu berkata demikian,
kondisinya itu bagaimana?
“Pada waktu itu kopi adalah minuman favorit orang-orang ahli dzikir,
agar dzikir malam kuat lama minum kopi, shalat tahajud biar kuat lama minum kopi,
munajat, baca Qur’an kuat sampai subuh, minum kopi,” jelas Habib Umar.
Maka dari itu, lanjut Habib Umar,
“kalau ada orang mati, diperutnya ada sisa-sisa kopi, berarti dia ahli dzikir.
Ngono lho Doel...”

“Lha kalau sekarang gimana bib?
Kalau sekarang ya wa Allahu A’lam..
wong keplek yo ngombe kopi...,[orang lagi judi juga minum kopi]”
:v :v :v
“Lalu yang diikuti siapa? Tirulah orang-orang shalih,
alhamdulillah…
alhamdulillah…
shollu alannabiy…,”

Sumber : muslimoderat.net
Karomah Kiai NU Blitar, Menginsyafkan dan Memuallafkan Kawanan PKI

Karomah Kiai NU Blitar, Menginsyafkan dan Memuallafkan Kawanan PKI


Pada awalnya, kekondangan Kiai Yasin Yusuf sebagai muballigh hanya di daerah Blitar. Pada saat itu, PKI masih berkuasa di tempat beliau mengajar dan berdakwah.

Suatu hari ada empat orang pemuda yang dikabarkan telah bersiap membunuh Kiai Yasin. Mereka berada di tempat persembunyian dan akan memanah saat Kiai menyampaikan ceramah. Kiai Yasin berpesan kepada Ibrohim, seorang pendamping setianya untuk selalu bertawakal dan sabar atas segala yang akan terjadi. Ketika Kiai Yasin sedang menyampaikan ceramahnya di tengah-tengah warga NU, Ibrohim melihat keempat pemuda tadi menarik busur panah yang lancip dan beracun itu tepat mengarah kepada sang kiai. Begitu takutnya beliau apabila busur panah itu akan lepas dan mengenai Kiai Yasin, tapi apalah daya dia yang teringat pesan Kiai. Ibrohim hanya mampu berdoa untuk keselamatan teman sekaligus gurunya itu.

Tiba-tiba, keanehan pun terjadi. Meski telah lama menarik busur panahnya, namun keempat orang itu tidak ada satupun yang dapat melepaskannya. Tapi tidak juga ada yang membatalkan sasaran anak panahnya. Mereka tetap saja menarik anak panahnya masing-masing dengan kuat-kuat tapi posisi mereka berdiri mematung tak bergerak. Sampai pada akhirnya Kiai Yasin turun panggung dan mendekati mereka. Setelah disentuh oleh Kiai, barulah mereka tersadar, ketakutan dan minta maaf. Di depan Kiai Yasin mereka mengaku sebagai anggota PKI yang bertugas membunuh Kiai Yasin.

Mereka langsung bertobat dan mengucapkan kalimat syahadat di depan Kiai Yasin dan para jamaah. Sejak itu mereka aktif di Gerakan Pemuda Ansor dan rajin menjaga keselamatan para kiai NU.
Banyak kisah misteri yang menyelimuti perjalanan Kiai Yasin sebagai seorang muballighkondang ini. Salah satunya, menurut sebuah cerita, apabila mikrophon yang digunakan untuk ceramah terkena sabotase orang sehingga rusak, biasanya beliau langsung melepaskan sepatunya untuk digunakan sebagai ganti mikrophon. Dan, ternyata dapat berfungsi dengan baik, seperti mikrophon sungguhan: dengan suara yang nyaring dan menggema sebagaimana mikrophon pada umumnya.

Dalam satu kisah lain disebutkan, ketika nyawa Kiai Yasin diancam orang, ia tidak pernah melakukan perlawanan secara fisik. Namun anehnya, pengancam itu malah seringkali mematung. Semua gerakannya terkunci. Tidak dapat bergerak, tapi tetap dalam kondisi sadar. Kuncian itu baru bisa lepas kalau sudah disentuh oleh Kiai Yasin.

Sumber : muslimoderat.net
[Gus Dur] Harimau Berdoa Sebelum Makan

[Gus Dur] Harimau Berdoa Sebelum Makan


 Gus Dur bercanda dengan para pastor di Semarang. Ada seorang pastor yang punya hobi aneh, berburu binatang buas, kata Gus Dur. Setiap hari Minggu, selesai misa ia pergi ke hutan.

Ketika ia melihat seekor harimau langsung saja ia menarik pelatuk senapan dan ia pun menembak. "Dor, dor, dor!"
Ternyata tembakannya meleset. Dan.. Harimau balik mengejar. Sang pastor yang langsung berlari terbirit-birit.
Namun sialnya, di depan sang pastor berhadapan dengan da jurang yang sangat dalam. Ia harus berhenti. Ia pasrah, berlutut. Harimau mendekatinya perlahan, siap menerkam.
Jantung sang pastor berdegub semakin kencang. Ia mengatupkan tangannya, berdoa dan menutup mata.
Ia berdoa lama sekali. Sang pastor terheran-heran karena ternyata ia masih hidup. Ia menoleh ke samping. Dilihatnya harimau itu terdiam di sampingnya sambil mengatupkan kedua kaki depannya, seperti sedang berdoa.
Sang pastor bertanya kepada harimau, "Kenapa, kamu kok tidak menerkam saya, malah ikut-ikutan berdoa?"
"Ya saya sedang berdoa. Berdoa sebelum makan!" kata harimau.

Sumber : muslimoderat.net
Peringati HUT TNI ke 72, Jendral Gatot Ziarah ke Makam Sukarno dan Gus Dur

Peringati HUT TNI ke 72, Jendral Gatot Ziarah ke Makam Sukarno dan Gus Dur


Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo kembali mengajak seluruh jajaran TNI untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan dengan mengembangkan tradisi ziarah. Sejak tahun kemarin, Jenderal Gatot menggelar kegiatan ziarah tersebut dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI, yang kali ini memasuki tahun ke-72.

Didampingi seluruh Panglima Komando Utama (Pangkotama), Gatot berziarah ke makam Ir. Soekarno di Kelurahan Bendogerit, Blitar, dan KH. Abdurrahman Wahid di Pesantren Tebuireng, Jombang, Senin (18/9/2017). "Kami mentradisikan ziarah ke makam para mantan Presiden Republik Indonesia yang merupakan Panglima Tertinggi TNI dan juga Jenderal Soedirman," kata pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah ini.

Ziarah tersebut, menurut Gatot, dimaksudkan untuk mengingatkan para prajurit agar mencontoh jiwa juang yang diwariskan oleh para pahlawan. "Kita juga berdoa agar beliau semua menjadi pahlawan dan syuhada," tegasnya.

Saat ditemui wartawan di Pesantren Tebuireng, Gatot mengingatkan bahwa selain makam Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), di tempat itu juga ada makam KH. Hasyim Asy'ari yang sangat berjasa kepada Republik Indonesia. "Saat mendapatkan informasi bahwa sekutu akan mendarat di Surabaya, Pak Dirman melapor kepada Bung Karno dan meminta solusi kepada Kiai Hasyim. Kiai Hasyim tidak langsung menjawab, tapi beliau salat istikharah dulu. Lalu ditetapkanlah fatwa (Resolusi) Jihad", ulas mantan Pangkostrad ini.

Saat itu, Gatot menambahkan, semua alumni Pesantren Tebuireng yang sudah menyebar di berbagai daerah dan berjumlah sekitar 20 ribuan orang, datang lagi dan berkumpul untuk bersama-sama melakukan perlawanan terhadap sekutu. Perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Kiai Abbas dari Buntet, Jawa Barat, atas perintah Kiai Hasyim, berlangsung pada 10 November 1945 dan dikenal sebagai Hari Pahlawan. "Seharusnya serangan dilakukan pada 9 November. Tapi Kiai Hasyim meminta semuanya menunggu kedatangan Singa dari Jawa Barat (julukan untuk Kiai Abbas)," tutur pria kelahiran 1960 ini.

Pria yang juga pernah menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini mengingatkan bahwa jasa kaum santri dan kiai dalam perjuangan kemerdekaan sangatlah besar. "Sebagai Panglima TNI, saya ingatkan, yang membunuh Jenderal Mallaby bukan TNI. Yang membunuh (Mallaby) itu santri. Yang menurunkan bendera (Belanda) di Hotel Orange juga santri, bukan TNI," tegasnya.

Karena itu, menurut Gatot, tema HUT ke-72 TNI kali ini adalah "Bersama Rakyat, TNI Kuat". "Karena memang sejarahnya seperti itu," pungkasnya.

Dalam kunjungan ziarah tersebut, Gatot juga didampingi oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Wakil Bupati Jombang Mundjidah Wahab. Kehadiran Panglima TNI dan seluruh jajaran Pangkotama disambut oleh Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng KH. Abdul Hakim Mahfudz dan Ketua Majelis Keluarga Tebuireng KH. Mohammad Hasyim Karim. Tampak hadir juga adik kandung Gus Dur Hj. Lily Wahid dan seluruh keluarga besar Pesantren Tebuireng. [dutaislam.com/dayat/gg]

Sumber : dutaislam.com
Inilah Rahasia Rasulullah Jarang Sakit

Inilah Rahasia Rasulullah Jarang Sakit


Beberapa cara hidup sehat yang Beliau amalkan adalah :

1. SELALU BANGUN SEBELUM SUBUH
2. AKTIF MENJAGA KEBERSIHAN
3. TIDAK PERNAH MAKAN BERLEBIHAN
Sabda Rasulullah saw :: "Kami adalah satu kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan)."
(Muttafaq Alaih)
4. GEMAR BERJALAN KAKI
Rasulullah berjalan kaki ke masjid, pasar, medan jihad dan mengunjungi rumah sahabat
5. TIDAK PEMARAH
Nasihat Rasulullah 'jangan marah' diulangi sampai tiga kali. Ini menunjukkan hakikat kesehatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasad, tetapi lebih kepada kebersihan jiwa.
6. OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASA
Sikap optimis memberikan efek emosional yang mendalam bagi kelapangan jiwa selain harus banyakkan sabar, istiqamah, bekerja keras serta tawakal kepada Allah
7. TIDAK PERNAH IRI HATI
Untuk menjaga stabilitas hati dan kesehatan jiwa, kita harus menjauhi dari sifat iri hati
8. PEMAAF
Pemaaf adalah sifat yang sangat dituntut untuk mendapatkan ketentraman hati & jiwa

Semoga bermanfaat

Sumber : muslimoderat.net
Cara Kai Umar Mangkuyudan Tanggapi Bayi yang Rewel

Cara Kai Umar Mangkuyudan Tanggapi Bayi yang Rewel


Suatu ketika ada salah satu cucu Kiai Umar bin Abdul Mannan asal Mangkuyudan, Solo, yang sangat rewel. Bahkan, setiap hari orang tuanya harus begadang hingga dini hari karena ulah sang bayi yang selalu menangis tersedu. Penyebabnya pun tak diketahui dengan jelas dan berbagai cara yang telah dilakukan orang tua dalam rangka menenangkan sang buah hati, juga tak menuai hasil sama sekali.

Merasa tak tahan terhadap sikap sang anak, orang tua tersebut berinisiatif untuk sowan kepada Kiai Umar agar disuwuk, didoakan supaya sang bayi mendapat ketenangan. Ia kemudian matur kepada kiai, "Mbah niki pripun,putra kula kok rewel sanget (Mbah ini bagaimana, kok anak saya rewel sekali)?”

Mendengar aduan orang tua sang bayi, Kiai Umar malah tersenyum dan menimang-nimang bayi tersebut. Kemudian ia berkata, "Iki ora nangis iki, bayi iki lagi nderes, lagi ngaji. Ayo sing banter ngajine, ayo sing kenteng nderese! (Bayi ini (hakikatnya) tidak sedang menangis, bayi ini sedang mendaras Al-Qur’an. Ayo yang keras ngajinya, ayo yang kuat tadarusnya!),” kata Kiai Umar seraya mengelus-elus sang bayi.

Mendengar hal tersebut, kedua orang tua tersebut hanya bisa mengamini saja. Berharap apa yang dikatakan kiai pengasuh Pesantren Al Muayad Mangkuyudan Solo ini menjadi doa yang terkabul di kemudian harinya.

Dan ternyata benar. Seiring berjalannya waktu. Sang bayi tumbuh menjadi pribadi yang cinta akan Al-Qur’an. Hal itu terbukti dengan berhasilnya ia mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an 30 juz, di usianya yang masih belasan tahun.

Dari kisah tersebut dapat diambil hikmah bahwa dalam menanggapi kenakalan buah hati—atau segala sesuatu yang timbul darinya yang tak mengenakkan hati—sebaikanya ditanggapi dengan kata-kata yang positif. Jangan malah mengelurkan kata-kata kotor atau mengumpat sang anak, yang bisa jadi itu malah menjadi doa buruk yang terkabulkan. Na'udzubillah. (Ulin Nuha Karim)

Sumber : nu.or.id
Kenapa Habib Luthfi bin Yahya Fanatik Kepada NU? ini Jawabannya

Kenapa Habib Luthfi bin Yahya Fanatik Kepada NU? ini Jawabannya


Oleh: Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya
Dulu saya sering duduk di rumahnya Kyai Abdul Fattah, untuk mengaji. Di situ ada seorang wali, namanya Kyai Irfan Kertijayan. Kyai Irfan adalah sosok yang nampak hapal keseluruhan kitab Ihya Ulumiddin, karena kecintaannya yang mendalam pada kitab tersebut. Setiap kali ketemu saya beliau pasti memandangi dan lalu menangis. Di situ ada Kyai Abdul Fattah dan Kyai Abdul Adzim.

Lama-kelamaan akhirnya beliau bertanya, “Bib, saya mau bertanya. Cara dan gaya berpakaian Anda kok sukanya sarung putih, baju dan kopyah putih, persis guru saya.”
“Siapa Kyai?” jawabku.
“Habib Hasyim bin Umar,” Jawab Kyai Irfan.
Saya mau ngaku cucunya tapi kok masih seperti ini, belum menjadi orang yang baik, batinku dalam hati. Mau mengingkari/berbohong tapi kenyataannya memang benar saya adalah cucunya Habib Hasyim. Akhirnya Kyai Abdul Adzim dan Kyai Abdul Fattah yang menjawab, “Lha beliau itu cucunya.”
Lalu Kyai Irfan merangkul dan menciumiku sembari menangis hebat saking gembiranya. Kemudian beliau berkata, “Mumpung saya masih hidup, saya mau cerita Bib. Tolong ditulis.”
“Cerita apa Kyai?” jawabku.

“Begini,” kata Kyai Irfan mengawali ceritanya. Mbah Kyai Hasyim Asy’ari setelah beristikharah, bertanya kepada Kyai Kholil Bangkalan, bermula dengan mendirikan Nahdlatut Tujjar dan Nahdlah-nahdlah yang lainnya, beliau merasa kebingungan. Hingga akhirnya beliau ke Mekkah untuk beristikharah di Masjidil Haram. Di sana kemudian beliau mendapat penjelasan dari Kyai Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Ahmad Nahrawi, ulama Jawa yang sangat alim. Kitab-kitab di Mekkah kalau belum di-tahqiq atau ditandatangani oleh Kyai Ahmad Nahrawi maka kitab tersebut tidak akan berani dicetak. Itu pada masa Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti Mekkah pada waktu itu.

Syaikh Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Ahmad Nahrawi dawuh kepada Kyai Hasyim Asy’ari, “Kamu pulang saja. Ini alamat/pertanda NU bisa berdiri hanya dengan dua orang. Pertama Habib Hasyim bin Umar Bin Yahya Pekalongan, dan kedua Kyai Ahmad Kholil Bangkalan (Madura).”

Maka Kyai Hasyim Asy’ari pun segera bergegas untuk pamit pulang kembali ke Indonesia. Beliau bersama Kyai Asnawi Kudus, Kyai Yasin dan kyai-kyai lainnya langsung menuju ke Simbang Pekalongan untuk bertemu Kyai Muhammad Amir dengan diantar oleh Kyai Irfan dan kemudian langsung diajak bersama menuju kediaman Habib Hasyim bin Umar.

Baru saja sampai di kediaman, Habib Hasyim langsung berkata, “Saya ridha. Segeralah buatkan wadah Ahlussunnah wal Jama’ah. Ya Kyai Hasyim, dirikan, namanya sesuai dengan apa yang diangan-angankan olehmu, Nahdlatul Ulama. Tapi tolong, namaku jangan ditulis.” Jawaban terakhir ini karena wujud ketawadhuan Habib Hasyim.

Kemudian Kyai Hasyim Asy’ari meminta balagh (penyampaian ilmu) kepada Habib Hasyim, “Bib, saya ikut ngaji bab hadits di sini. Sebab Panjenengan punya sanad-sanad yang luar biasa.” Makanya Kyai Hasyim Asy’ari tiap Kamis Wage pasti di Pekalongan bersama Hamengkubuwono ke sembelian yang waktu itu bernama Darojatun, mengaji bersama. Jadi Sultan Hamengkubowono IX itu bukan orang bodoh, beliau orang yang alim dan ahli thariqah.

Setelah dari Pekalongan Kyai Hasyim Asy’ari menuju ke Bangkalan Madura untuk bertemu Kyai Ahmad Kholil Bangkalan. Namun baru saja Kyai Hasyim Asy’ari tiba di halaman depan rumah Kyai Kholil sudah mencegatnya seraya dawuh, “Keputusanku sama seperti Habib Hasyim!” Lha ini dua orang kok bisa kontak-kontakan padahal Pekalongan-Madura dan waktu itu belum ada handphone. Inilah hebatnya.

Akhirnya berdirilah Nahdlatul Ulama. Dan Muktamar NU ke-5 ditempatkan di Pekalongan sebab hormat kepada Habib Hasyim bin Umar. Jadi jika dikatakan Habib Luthfi kenceng (fanatik) kepada NU, karena merasa punya tanggungjawab kepada Nahdlatul Ulama dan semua habaib. Dan ternyata cerita ini disaksikan bukan hanya oleh Kyai Irfan, tapi juga oleh Habib Abdullah Faqih Alattas, ulama yang sangat ahli ilmu fiqih.

Maka dari itu Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas dengan Habib Hasyim Bin Yahya tidak bisa terpisahkan. Kalau ada tamu ke Habib Hasyim, pasti disuruh sowan (menghadap) dulu kepada yang lebih sepuh yakni Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas. Dan jika tamu tersebut sampai ke Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib maka akan ditanya, “Kamu suka atau tidak kepada adikku Habib Hasyim bin Umar?” dengan maksud agar sowannya ke Habib Hasyim saja. Itulah ulama memberikan contoh kepada kita tidak perlunya saling berebut dan sikut, tapi selalu kompak dan rukun.

Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas wafat tahun 1347 Hijriyah bulan Rajab tanggal 14, dan haulnya dilaksanakan tanggal 14 Sya’ban. Tiga tahun setelahnya, tahun 1350 Hijriyah, Habib Hasyim bin Umar Bin Yahya wafat. Setahun kemudian (1351 H) adalah wafatnya Habib Abdullah bin Muhsin Alattas Bogor. Waktu itu banyak para ulama besar seperti Mbah Kyai Adam Krapyak dan Kyai Ubaidah, merupakan para wali Allah dan samudera keilmuan.

Sumber : muslimoderat.net
Biografi Gus Dur dan Nama Aslinya Sebelum Abdurrahman Wahid

Biografi Gus Dur dan Nama Aslinya Sebelum Abdurrahman Wahid


Siapa yang tak kenal Gus Dur? Hampir semua orang mengenalnya. Tak hanya di orang Indonesia. Bahkan tokoh-tokoh penting di dunia tahu betul sosok kiai tokoh sekaligus guru bangsa putra organisasi Nahdlatul Ulama (NU) Wahid Hasyim tersebut.

Nama Gus Dur dikenal karena kedudukannya sebagai putra Wahid Hasyim. Bagi orang Jawa panggilan “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati “abang” atau “mas”. Kata “Dur” diambil dari nama lengkapnya yaitu Abdurrahman Wahid.

Sebelumnya bernama Abdurrahman Wahid, Gus Dur bernama lengkap Abdurrahman “Addakhil”. Secara leksikal, “Addakhil” berarti “Sang Penakluk”, sebuah nama yang diambil abahnya, mbah Wahid Hasyim, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol.

Belakangan kata “Addakhil” tidak cukup dikenal dan diganti nama “Wahid”, menjadi Abdurrahman Wahid.  Dari sana kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Inilah nama Guru Bangsa yang mungkin belum banyak dikenal masyarakat luas.

Gus Dur putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan “darah biru”. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang.

Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang menjadi Rais ‘Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia.

Pada tahun 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda telah berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama pertama, sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Dengan demikian suasana baru telah dimasukinya. Tamu-tamu, yang terdiri dari para tokoh-dengan berbagai bidang profesi-yang sebelumnya telah dijumpai di rumah kakeknya, terus berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama.

Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid. Secara tidak langsung, Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya.

Sejak masa kanak-kanak, ibunya telah ditandai berbagai isyarat bahwa Gus Dur akan mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab terhadap NU. Pada bulan April 1953, Gus Dur pergi bersama ayahnya mengendarai mobil ke daerah Jawa Barat untuk meresmikan madrasah baru. Di suatu tempat di sepanjang pegunungan antara Cimahi dan Bandung, mobilnya mengalami kecelakaan. Gus Dur bisa diselamatkan, akan tetapi ayahnya meninggal. Kematian ayahnya membawa pengaruh tersendiri dalam kehidupannya.

Dalam kesehariannya, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu ia juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku yang agak serius. Karya-karya yang dibaca oleh Gus Dur tidak hanya cerita-cerita, utamanya cerita silat dan fiksi, akan tetapi wacana tentang filsafat dan dokumen-dokumen manca negara tidak luput dari perhatianya.

Di samping membaca, tokoh satu ini senang pula bermain bola, catur dan musik. Dengan demikian, tidak heran jika Gus Dur pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika ia berada di Mesir.

Pengalaman Pendidikan
Pertama kali belajar, Gus Dur kecil belajar pada sang kakek, K.H. Hasyim Asy’ari. Saat serumah dengan kakeknya, ia diajari mengaji dan membaca al-Qur’an. Dalam usia lima tahun ia telah lancar membaca al-Qur’an. Pada saat sang ayah pindah ke Jakarta, di samping belajar formal di sekolah, Gus Dur masuk juga mengikuti les privat Bahasa Belanda.

Guru lesnya bernama Willem Buhl, seorang Jerman yang telah masuk Islam, yang mengganti namanya dengan Iskandar. Untuk menambah pelajaran Bahasa Belanda tersebut, Buhl selalu menyajikan musik klasik yang biasa dinikmati oleh orang dewasa. Inilah pertama kali persentuhan Gu Dur dengan dunia Barat dan dari sini pula Gus Dur mulai tertarik dan mencintai musik klasik.

Menjelang kelulusannya di Sekolah Dasar, Gus Dur memenangkan lomba karya tulis (mengarang) se-wilayah kota Jakarta dan menerima hadiah dari pemerintah. Pengalaman ini menjelaskan bahwa Gus Dur telah mampu menuangkan gagasan/ide-idenya dalam sebuah tulisan. Karenanya wajar jika pada masa kemudian tulisan-tulisan Gus Dur menghiasai berbagai media massa.

Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Gus Dur dikirim orang tuanya untuk belajar di Yogyakarta. Pada tahun 1953 ia masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di pesantren Krapyak. Sekolah ini meskipun dikelola oleh Gereja Katolik Roma, akan tetapi sepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Di sekolah ini pula pertama kali Gus Dur belajar Bahasa Inggris.

Karena merasa terkekang hidup dalam dunia pesantren, akhirnya ia minta pindah ke kota dan tinggal di rumah Haji Junaidi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah dan orang yang berpengaruh di SMEP. Kegiatan rutinnya, setelah shalat subuh mengaji pada K.H. Ma’sum Krapyak, siang hari sekolah di SMEP, dan pada malam hari ia ikut berdiskusi bersama dengan Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya.

Ketika menjadi siswa sekolah lanjutan pertama tersebut, hobi membacanya semakin mendapatkan tempat. Gus Dur, misalnya, didorong oleh gurunya untuk menguasai Bahasa Inggris, sehingga dalam waktu satu-dua tahun Gus Dur menghabiskan beberapa buku dalam bahasa Inggris.

Di antara buku-buku yang pernah dibacanya adalah karya Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner. Di samping itu, ia juga membaca sampai tuntas beberapa karya Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y. Gasset, dan beberapa karya penulis Rusia, seperti: Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov. Gus Dur juga melahap habis beberapa karya Wiill Durant yang berjudul ‘The Story of Civilazation’. Selain belajar dengan membaca buku-buku berbahasa Inggris, untuk meningkatan kemampuan bahasa Ingrisnya sekaligus untuk menggali informasi, Gus Dur aktif mendengarkan siaran lewat radio Voice of America dan BBC London.

Ketika mengetahui bahwa Gus Dur pandai dalam bahasa Inggis, Pak Sumatri-seorang guru SMEP yang juga anggota Partai Komunis-memberi buku karya Lenin ‘What is To Be Done’ . Pada saat yang sama, anak yang memasuki masuki masa remaja ini telah mengenal Das Kapital-nya Karl Marx, filsafat Plato,Thales, dan sebagainya. Dari paparan ini tergambar dengan jelas kekayaan informasi dan keluasan wawasan Gus Dur.

Setamat dari SMEP Gus Dur melanjutkan belajarnya di Pesantren Tegarejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini diasuh oleh K.H. Chudhari, sosok kyai yang humanis, saleh dan guru dicintai. Kyai Chudhari inilah yang memperkenalkan Gus Dur dengan ritus-ritus sufi dan menanamkan praktek-praktek ritual mistik. Di bawah bimbingan kyai ini pula, Gus Dur mulai mengadakan ziarah ke kuburan-kuburan keramat para wali di Jawa. Pada saat masuk ke pesantren ini, Gus Dur membawa seluruh koleksi buku-bukunya, yang membuat santri-santri lain terheran-heran. Pada saat ini pula Gus Dur telah mampu menunjukkan kemampuannya dalam berhumor dan berbicara.

Dalam kaitan dengan yang terakhir ini ada sebuah kisah menarik yang patut diungkap dalam paparan ini adalah pada acara imtihan-pesta akbar yang diselenggarakan sebelum puasa pada saat perpisahan santri yang selesai menamatkan belajar-dengan menyediakan makanan dan minuman dan mendatangkan semua hiburan rakyat, seperti: Gamelan, tarian tradisional, kuda lumping, jathilan, dan sebagainya. Jelas, hiburan-hiburan seperti tersebut di atas sangat tabu bagi dunia pesantren pada umumnya. Akan tetapi itu ada dan terjadi di Pesantren Tegalrejo.

Setelah menghabiskan dua tahun di pesantren Tegalrejo, Gus Dur pindah kembali ke Jombang, dan tinggal di Pesantren Tambak Beras. Saat itu usianya mendekati 20 tahun, sehingga di pesantren milik pamannya, K.H. Abdul Fatah, ia menjadi seorang ustadz, dan menjadi ketua keamanan. Pada usia 22 tahun, Gus Dur berangkat ke tanah suci, untuk menunaikan ibadah haji, yang kemudian diteruskan ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar. Pertama kali sampai di Mesir, ia merasa kecewa karena tidak dapat langsung masuk dalam Universitas al-Azhar, akan tetapi harus masuk Aliyah (semacam sekolah persiapan). Di sekolah ia merasa bosan, karena harus mengulang mata pelajaran yang telah ditempuhnya di Indonesia. Untuk menghilangkan kebosanan, Gus Dur sering mengunjungi perpustakaan dan pusat layanan informasi Amerika (USIS) dan toko-toko buku dimana ia dapat memperoleh buku-buku yang dikehendaki.

Terdapat kondisi yang menguntungkan saat Gus Dur berada di Mesir, di bawah pemerintahan Presiden Gamal Abdul Nasr, seorang nasioonalis yang dinamis, Kairo menjadi era keemasan kaum intelektual. Kebebasan untuk mengeluarkkan pendapat mendapat perlindungan yang cukup. Pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Irak, sebuah negara modern yang memiliki peradaban Islam yang cukup maju. Di Irak ia masuk dalam Departement of Religion di Universitas Bagdad samapi tahun 1970.

Selama di Baghdad Gus Dur mempunyai pengalaman hidup yang berbeda dengan di Mesir. Di kota seribu satu malam ini Gus Dur mendapatkan rangsangan intelektual yang tidak didapatkan di Mesir. Pada waktu yang sama ia kembali bersentuhan dengan buku-buku besar karya sarjana orientalis Barat. Ia kembali menekuni hobinya secara intensif dengan membaca hampir semua buku yang ada di Universitas.

Di luar dunia kampus, Gus Dur rajin mengunjungi makam-makam keramat para wali, termasuk makam Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pendiri jamaah tarekat Qadiriyah. Ia juga menggeluti ajaran Imam Junaid al-Baghdadi, seorang pendiri aliran tasawuf yang diikuti oleh jamaah NU. Di sinilah Gus Dur menemukan sumber spiritualitasnya. Kodisi politik yang terjadi di Irak, ikut mempengaruhi perkembangan pemikiran politik Gus Dur pada saat itu. Kekagumannya pada kekuatan nasionalisme Arab, khususnya kepada Saddam Husain sebagai salah satu tokohnya, menjadi luntur ketika syekh yang dikenalnya, Azis Badri tewas terbunuh.

Selepas belajar di Baghdad Gus Dur bermaksud melanjutkan studinya ke Eropa. Akan tetapi persyaratan yang ketat, utamanya dalam bahasa-misalnya untuk masuk dalam kajian klasik di Kohln, harus menguasai bahasa Hebraw, Yunani atau Latin dengan baik di samping bahasa Jerman-tidak dapat dipenuhinya, akhirnya yang dilakukan adalah melakukan kunjungan dan menjadi pelajar keliling, dari satu universitas ke universitas lainnya.

Pada akhirnya ia menetap di Belanda selama enam bulan dan mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Eropa. Untuk biaya hidup dirantau, dua kali sebulan ia pergi ke pelabuhan untuk bekerja sebagai pembersih kapal tanker. Gus Dur juga sempat pergi ke McGill University di Kanada untuk mempelajari kajian-lkajian keislaman secara mendalam. Namun, akhirnya ia kembali ke Indoneisa setelah terilhami berita-berita yang menarik sekitar perkembangan dunia pesantren. Perjalanan keliling studi Gus Dur berakhir pada tahun 1971, ketika ia kembali ke Jawa dan mulai memasuki kehidupan barunya, yang sekaligus sebagai perjalanan awal kariernya.

Meski demikian, semangat belajar Gus Dur tidak surut. Buktinya pada tahun 1979 Gus Dur ditawari untuk belajar ke sebuah universitas di Australia guna mendapatkkan gelar doktor. Akan tetapi maksud yang baik itu tidak dapat dipenuhi, sebab semua promotor tidak sanggup, dan menggangap bahwa Gus Dur tidak membutuhkan gelar tersebut. Memang dalam kenyataannya beberapa disertasi calon doktor dari Australia justru dikirimkan kepada Gus Dur untuk dikoreksi, dibimbing yang kemudian dipertahankan di hadapan sidang akademik.

Perjalanan Karir
Sepulang dari pegembaraanya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, tokoh muda ini bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian ia menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Ia kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis.

Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak. Djohan Efendi, seorang intelektual terkemuka pada masanya, menilai bahwa Gus Dur adalah seorang pencerna, mencerna semua pemikiran yang dibacanya, kemudian diserap menjadi pemikirannya tersendiri. Sehingga tidak heran jika tulisan-tulisannya jarang menggunakan foot note.

Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.

Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula ia merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin.

Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap ‘menyimpang’-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Ia juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987.

Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-’aqdi yang diketuai K.H. As’ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4.

Meskipun sudah menjadi presiden, ke-nyleneh-an Gus Dur tidak hilang, bahkan semakin diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Dahulu, mungkin hanya masyarakat tertentu, khususnya kalangan nahdliyin yang merasakan kontroversi gagasannya. Sekarang seluruh bangsa Indonesia ikut memikirkan kontroversi gagasan yang dilontarkan oleh K.H. Abdurrahman Wahid.

Catatan perjalanan karier Gus Dur yang patut dituangkan dalam pembahasan ini adalah menjadi ketua Forum Demokrasi untuk masa bakti 1991-1999, dengan sejumlah anggota yang terdiri dari berbagai kalangan, khususnya kalangan nasionalis dan non muslim. Anehnya lagi, Gus Dur menolak masuk dalam organisasi ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Tidak hanya menolak bahkan menuduh organisai kaum ‘elit Islam’ tersebut dengan organisasi sektarian.

Dari paparan tersebut di atas memberikan gambaran betapa kompleks dan rumitnya perjalanan Gus Dur dalam meniti kehidupannya, bertemu dengan berbagai macam orang yang hidup dengan latar belakang ideologi, budaya, kepentingan, strata sosial dan pemikiran yang berbeda. Dari segi pemahaman keagamaan dan ideologi, Gus Dur melintasi jalan hidup yang lebih kompleks, mulai dari yang tradisional, ideologis, fundamentalis, sampai moderrnis dan sekuler.

Dari segi kultural, Gus Dur mengalami hidup di tengah budaya Timur yang santun, tertutup, penuh basa-basi, sampai denga budaya Barat yang terbuka, modern dan liberal. Demikian juga persentuhannya dengan para pemikir, mulai dari yang konservatif, ortodoks sampai yang liberal dan radikal semua dialami.

Pemikiran Gus Dur mengenai agama diperoleh dari dunia pesantren. Lembaga inilah yang membentuk karakter keagamaan yang penuh etik, formal, dan struktural. Sementara pengembaraannya ke Timur Tengah telah mempertemukan Gus Dur dengan berbagai corak pemikirann Agama, dari yang konservatif, simbolik-fundamentalis sampai yang liberal-radikal.

Dalam bidang kemanusiaan, pikiran-pikiran Gus Dur banyak dipengaruhi oleh para pemikir Barat dengan filsafat humanismenya. Secara rasa maupun praktek prilaku yang humanis, pengaruh para kyai yang mendidik dan membimbingnya mempunyai andil besar dalam membentuk pemikiran Gus Dur. Kisah tentang Kyai Fatah dari Tambak Beras, KH. Ali Ma’shum dari Krapyak dan Kyai Chudhori dari Tegalrejo telah membuat pribadi Gus Dur menjadi orang yang sangat peka pada sentuhan-sentuhan kemanusiaan.

Dari segi kultural, Gus Dur melintasi tiga model lapisan budaya. Pertama, Gus Dur bersentuhan dengan kultur dunia pesantren yang sangat hierarkis, tertutup, dan penuh dengan etika yang serba formal; kedua, dunia Timur yang terbuka dan keras; dan ketiga, budaya Barat yang liberal, rasioal dan sekuler. Kesemuanya tampak masuk dalam pribadi dan membetuk sinergi.

Hampir tidak ada yang secara dominan berpengaruh membentuk pribadi Gus Dur. Sampai sekarang masing-masing melakukan dialog dalam diri Gus Dur. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur selalu kelihatan dinamis dan suliit dipahami. Kebebasannya dalam berpikir dan luasnya cakrawala pemikiran yang dimilikinya melampaui batas-batas tradisionalisme yang dipegangi komunitasnya sendiri.

Penghargaan
• Tokoh 1990, Majalah Editor, tahun 1990
• Ramon Magsaysay Award for Community Leadership, Ramon Magsaysay Award Foundation, Philipina, tahun 1991
• Islamic Missionary Award from the Government of Egypt, tahun 1991
• Penghargaan Bina Ekatama, PKBI, tahun 1994
• Man Of The Year 1998, Majalah berita independent (REM), tahun 1998
• Honorary Degree in Public Administration and Policy Issues from the University of Twente, tahun 2000
• Gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, tahun 2000
• Doctor Honoris Causa dalam bidang Philosophy In Law dari Universitas Thammasat Thaprachan Bangkok, Thailand, Mei 2000
• Doctor Honoris Causa dari Universitas Paris I (Panthéon-Sorbonne) pada bidang ilmu hukum dan politik, ilmu ekonomi dan manajemen, dan ilmu humaniora, tahun 2000
• Penghargaan Kepemimpinan Global (The Global Leadership Award) dari Columbia University, September 2000
• Doctor Honoris Causa dari Asian Institute of Technology, Thailand, tahun 2000
• Ambassador for Peace, salah satu badan PBB, tahun 2001
• Doctor Honoris Causa dari Universitas Sokka, Jepang, tahun 2002
• Doctor Honoris Causa bidang hukum dari Konkuk University, Seoul Korea Selatan, 21 Maret 2003.

Tantang Gus Abdurrahman Wahid
Nama:
Abdurrahman Wahid

Lahir:
Denanyar, Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940.

Orang Tua:
Wahid Hasyim (ayah), Solechah (ibu).

Istri :
Sinta Nuriyah

Anak-anak :
Alisa Qotrunada Zannuba Arifah Anisa Hayatunufus Inayah Wulandari

Pendidikan :• Pesantren Tambak Beras, Jombang (1959-1963)
• Departemen Studi Islam dan Arab Tingkat Tinggi, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1964-1966)
• Fakultas Surat-surat Universitas Bagdad (1966-1970)

Karir• Pengajar Pesantren Pengajar dan Dekan Universitas Hasyim Ashari Fakultas Ushuludin (sebuah cabang teologi menyangkut hukum dan filosofi)
• Ketua Balai Seni Jakarta (1983-1985)
• Penemu Pesantren Ciganjur (1984-sekarang)
• Ketua Umum Nahdatul Ulama (1984-1999)
• Ketua Forum Demokrasi (1990)
• Ketua Konferensi Agama dan Perdamaian Sedunia (1994)
• Anggota MPR (1999)
• Presiden Republik Indonesia (20 Oktober 1999-24 Juli 2001)

Penghargaan• Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina atas usahanya mengembangkan hubungan antar-agama di Indonesia (1993)
• Penghargaan Dakwah Islam dari pemerintah Mesir (1991) [dutaislam.com/pin]

Sumber : dutaislam.com
Oleh-oleh Haji dari Mbah Maimoen Zubair: Dunia Terbalik

Oleh-oleh Haji dari Mbah Maimoen Zubair: Dunia Terbalik

Oleh Kang Dawam

Waktu di Makkah Mbah Maimoen ketemu dengan pengurus haji pusat, beliau memberi saran:

"Uang dana haji gak usah diinvestasikan, dan mestinya gak usah memberi subsidi pada jamaah haji, wong nek haji mesti sugih maka mestinya gak berhak menerima subsidi kerono haji iku:

لمن استطاع إليه سبيلا

Seng berhak nompo subsidi mestinya wong faqir miskin..."

(Biaya haji seandainya tanpa subsidi bisa mencapai 50-60 juta, namun dengan subsidi hanya 37 juta).

"Uang subsidi itu diambilkan dari bunga simpanan dari jamaah haji yang sudah bertahun-tahun..., mestinya Riba iku ora marahi berkah,

يمحق الله الربا

tapi nek wes zaman akhir alamate qiyamat, riba malah iso berkahi kanggo jamaah haji...

"إذا وسّد الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة.

[dutaislam.com/gg]

Sumber : dutaislam.com
Ketika Habib Luthfi Ditanya: Keistimewaan Ziarah Walisongo Apa?

Ketika Habib Luthfi Ditanya: Keistimewaan Ziarah Walisongo Apa?


Saya pernah ditanya: “Bib, keistimewaannya ziarah walisongo apa?”, saya jawab: “Isin!” Jawaban saya masih dikejar: “Lho, bukannya istimewanya ada pada berkah”. “Bukan. Terlalu tinggi itu buat saya.” tandas saya.

Anda lihat, Sunan Ampel misalnya, sudah berapa ratus orang yang berdzikir di makam beliau tiap hari? Makam Sunan Kalijaga, berapa ratus orang yang sudah menyebut nama Allah di sana tiap malam? Sunan Muria, sudah berapa ribu orang yang membaca Qur'an dan membaca shalawat di sana (Muria)?

Saya sendiri saja masih susah mengajak anak-anak sehabis maghrib untuk berkumpul dan memperkenalkan ajdad (leluhur), berdoa, berdzikir, dan membaca Quran. Bagaimana bisa seramai di makam para auliya` Allah Walisongo? Padahal mereka sudah wafat ratusan tahun yang lalu, dan saya masih hidup.

Berziarah, selain melahirkan budaya malu seperti tadi, seharusnya berfungsi memperkenalkan siapa yang ada di makam tersebut kepada anak-anak kita. Seharusnya bukan Walisongo saja, tapi perkenalkan juga siapa Kiai Sentot Prawirodirjo, siapa Kiai Diponegoro, siapa Jenderal Sudirman, karena kita semakin lupa dengan para pahlawan negeri ini. Lihatlah bendera kita, merah putih, ia berdiri tegak bukan secara gratis! Ada darah dan nyawa para pahlawan yang harus dibayar untuk “membeli” bendera itu. Coba kita kenalkan para pahwalan itu setiap habis maghrib.

Ibarat kita sudah merdeka ini, seperti ada hidangan di meja di depan kita dan kita tinggal melahapnya saja. Tapi bukannya melahap, eh malah sibuk ribut sendiri, saling sikut, mau diadu domba. Makam Sunan Ampel saja, yang sudah wafat ratusan lalu, masih sanggup mempersatukan masyarakat sekarang yang masih hidup.

Pintu makam selalu dibuka, semua orang dapat menziarahi, apapun warna kulitnya, apapun partainya, dan di kanan-kiri banyak orang berjualan, pendapatan mereka bertambah, ada pekerjaan yang dapat menyambung hidup mereka. Muka kita mau ditaruh dimana, wong orang yang sudah mati saja masih bisa begini, tapi kita yang masih hidup tidak bisa apa-apa? (RA) [dutaislam.com/gg]

Sumber : dutaislam.com
Ini Cara Kiai Turaihan Kudus Lewati Anak Tangga Masjid

Ini Cara Kiai Turaihan Kudus Lewati Anak Tangga Masjid


Bagaimana gerak derap langkah kaki Anda ketika melewati anak tangga masjid? Mungkin Anda akan melangkahkan salah satu kaki Anda ke anak tangga pertama. Kemudian disusul langkah kaki selanjutnya dengan posisi menginjak anak tangga kedua.

Hal itu lumrah dan umum dilakukan. Tetapi, berbeda dengan Kiai Turaihan Kudus. Kiai yang terkenal akan sifat ihtiyath, kehati-hatian dalam segala hal ini, sangat memperhatikan sekali langkah kakinya ketika memasuki area masjid. Di mana pun ia berada.

"Mbah Kiai Turaihan Kudus itu kalau melewati anak tangga masjid, ketika masuk, maka ia langkahkan kaki kanannya menuju anak tangga yang pertama, kemudian ia melangkahkan kaki kirinya dengan menyejajarkan kaki kiri di anak tangga yang pertama," tutur KH Muhammad Shofi Al-Mubarok, Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo Grobogan di sela sela pengajian kitab bersama para santri.

Ya, betapa kehati-hatian Kiai Turaihan Kudus tercermin dalam penuturan tersebut. Jadi ia tidak serta merta hanya mengawali langkah kakinya menapaki anak tangga dengan kaki kanan di awalnya saja. Melainkan dalam setiap derap kakinya meniti anak tangga itu, selalu dia awali dengan kaki kanan dan kemudian ia akhiri dengan menyejajarkan kaki kirinya di anak tangga yang telah dipijak kaki kanan.

Sang kiai begitu sabarnya meniti anak tangga satu per satu dengan kaki kanan sebagai awalan dan ditutup dengan kaki kiri. Begitu seterusnya hingga ia mencapai atas, puncak dari anak tangga tersebut.

Dan lebih hebatnya lagi, kiai asal kudus tersebut tidak hanya melakukan ritual tersebut saat memasuki masjid. Melainkan ia juga mengulangi cara tersebut ketika pulang dengan metode yang berkebalikan. Dalam artian, langkah pertama kaki kiri, kemudian turun ke anak tangga yang sama dengan menutupnya menggunakan kaki kanan. Subhanallah.

Betapa Kiai Turaihan begitu memiliki perhatian yang sangat mendalam. Hingga hal terkecil seperti melangkahkan kaki ke masjid pun, sangat ia perhatikan. Lalu, bagaimana dengan kita, meski kita tahu bahwa hal tersebut sunah. Sudahkah kita mengamalkannya? Wallahu a'lam. (Ulin Nuha Karim)

Sumber : nu.or.id
Gus Dur Ditanya Presiden Korsel, Kenapa Mau Membela Minoritas?

Gus Dur Ditanya Presiden Korsel, Kenapa Mau Membela Minoritas?


Jaringan Gusdurian Indonesia menyelenggarakan diskusi tentang Hak Asasi Manusia dan Kekerasan  wilayah ASEAN di Griya Gus Dur, Jakarta Pusat, Kamis (14/9).

Koordinator Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Wahid dalam pengantarnya menjelaskan alasannya mengangkat isu yang dijadikan untuk bahan diskusi tersebut.

Menurutnya, isu yang diambil pada diskusi kali ini sudah menjadi perhatiannya karena Jaringan Gusdurian memahami bahwa sumber inspirasinya adalah teladan perjuangan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Salah satu teladan perjuangan Gus Dur, katanya, nilai keadilan, kemanusiaan, dan pembebasan dari segala bentuk penindasan.

"Termasuk di antaranya adalah penindasan terhadap kelompok-kelompok minoritas tidak hanya di Indonesia tetapi juga di negara-negara lain," katanya.

Ia mengatakan, Gus Dur merupakan sosok yang sangat aktif terlibat dalam pembelaan pada minoritas di banyak negara. Alissa pun mencontohkan saat Gus Dur ditanya presiden Korea Selatan tentang pembelaannya terhadap kelompok minoritas.

"Anda kan ulama ya, dari agama mayoritas di Indonesia, kenapa sih kok sibuk mengurusi kelompok minoritas," kata Alissa menirukan presiden Korea Selatan waktu itu.

Dilempar pertanyaan seperti itu, Gus Dur, menurut Alissa, menjawab dengan sederhana, yakni karena kemanusiaan. "Saya mengingat bahwa di tempat-tempat lain, kaum Muslim itu minoritas dan mereka juga akan dilemahkan sama seperti kaum minoritas di Indonesia," kata Alissa menirukan jawaban Gus Dur.

Hal tersebut, menurutnya, semangat yang terus diemban jaringan Gusdurian dan kami terus bekerja untuk merawat perjuangan atau warisan Gus Dur.

"Nah, salah satunya adalah apa yang terjadi di Rohingya," katanya.

Pada acara tersebut hadir sebagai pembicara Ketua Tim Pencari Fakta PBB untuk Myanmar Marzuki Darusman, Direktur Amnesty International-Indonesia Usman Hamid Usman Hamid, dosen Universitas Atmajaya Dina Wisnu, dan Direktur Burma Human Right Network Kyaw Win. (Husni Sahal/Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Terungkap! Kenapa Harlah Gus Dur Diperingati Dua Kali dalam Setahun

Terungkap! Kenapa Harlah Gus Dur Diperingati Dua Kali dalam Setahun



Tanggal 7 September lalu, Harlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diperingati untuk kedua kalinya di tahun 2017. Peringatan hari lahir Gus Dur selalu menjadi perbincangan menarik di media sosial, terutama Twitter.

Jika dalam peringatan Harlah pertamanya pada 4 Agustus warganet (netizen) mengangkat tagar #HarlahGusDur, maka pada 7 September warganet menulisnya dengan tagar #UltahGusDur.

Masyarakat kerap dibikin bertanya-tanya terkait misteri tanggal lahir Gus Dur yang diperingati dua kali dalam setahun tersebut.

"#UltahGusDur hari ini? Iya. 7 Sept, hari ulang tahun yang asli. 4 Agt, hari ulang tahun yang legal," ujar putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid dalam akun twitternya pada 7 September 2017 lalu seolah berusaha menjawab apa yang menjadi pertanyaan di benak para netizen.

Perihal misteri tanggal lahir ini, ceritanya ketika itu Gus Dur ternyata tidak tahu persis tanggal berapa sebenarnya dia dilahirkan.

Berawal dari sewaktu kecil saat dia mendaftarkan diri sebagai siswa di sebuah sekolah dasar di Jakarta, Gus Dur ditanya, “Namamu siapa Nak?”

“Abdurrahman,” jawab Gus Dur.

“Tempat dan Tanggal Lahir?”

“Jombang.....,” saut Gus Dur terdiam beberapa saat.

“Tanggal empat, bulan delapan, tahun 1940,” lanjut Gus Dur agak ragu sebab dia menghitung terlebih dahulu bulan kelahirannya.

Gus Dur hanya hafal bulan Komariahnya (hijriah), namun lupa hitungan Syamsiahnya (masehi).

Ternyata, yang Gus Dur maksud, dia lahir bulan Sya’ban, bulan kedelapan dalam hitungan hijriah. Tetapi gurunya menganggap Gus Dur lahir bulan Agustus.

Maka sejak saat itu, Gus Dur dianggap lahir pada tanggal 4 Agustus 1940. Padahal sebenarnya dia lahir pada 4 Sya’ban 1359 H atau 7 September 1940. Namun seperti yang dikatakan Alissa Wahid, dua-duanya asli dan legal. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Kalian Menyebutnya ‘Si Buta’ Tapi Kalian Tak Berhati Mulia Sepertinya

Kalian Menyebutnya ‘Si Buta’ Tapi Kalian Tak Berhati Mulia Sepertinya


Anda boleh sepakat atau tidak dengan sosok Gus Dur yang fenomenal. Tapi yang jelas bagi saya, Gus Dur adalah bapak bangsa yang  langka, unik, dan dikagumi oleh banyak kalangan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Gus Dur juga memang dikenal sebagai sosok yang kontroversial (bagi kaum bumi datar) lantaran pemikiran-pemikirannya. Oleh sebab itu, banyak yang bilang membicarakan Gus Dur , itu seperti tidak ada habisnya.
Tujuh puluh tujuh tahun silam, pasangan Wahid Hasyim dan Solichah dikaruniai seorang anak pertamanya di Jombang, Jawa Timur.


Anak lelaki ini tentunnya menjadi kebanggaan keluarga, siapa sangka jika kelak menjadi orang besar di Indonesia dan bahkan memimpin negeri ini. Dia lah cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hasyim Asy’ari yang dinamai Abdurrahman Wahid atau yang kemudian hari dikenal dengan Gus Dur.
Apa saja yang menjadi pembicaraannya selalu menjadi berita bagi kalangan awak media, Gus Dur sosok yang unik dan humanis. Bahkan banyak kisah-kisah menarik yang terkadang tak terpikirkan oleh kita malah jadi sebuah kisah unik dari seorang sosok kebanggan kita ini.

Enam belas tahun lalu, tepatnya Jumat, 4 Agustus 2000, Gus Dur yang waktu itu masih menjabat sebagai presiden RI ke-4 menerima ucapan selamat ulang tahun dari kerabat dan kawan-kawannya di Istana Bogor, Jawa Barat.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, hari ulang tahun Gus Dur memang selalu diperingati pada tanggal itu. Padahal, sebenarnya tanggal lahir Gus Dur salah, bukan 4 Agustus 1940.

Lalu kenapa tanggal lahir Gus Dur bisa salah?Nah, mungkin Greg Barton bisa jadi rujukan kali ini sebab ia adalah penulis Biografi Abdurrahman Wahid. Ternyata sebenarnya presiden ke-4 RI itu dilahirkan pada hari keempat bulan kedelapan. Namun tanggal lahir Gus Dur itu berdasar pada kalender Islam, yakni bulan kedelapan maksudnya adalah Sya’ban.

Dengan demikian, Gus Dur sebenarnya dilahirkan pada 4 Sya’ban 1359 Hijriyah, yang sebenarnya dalam kalender Masehi tepat pada Sabtu, 7 September 1940. Gus Dur dilahirkan di rumah kakek dari pihak ibunya, Kiai Bisri Syansuri, pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Tak pastinya tanggal lahir Gus Dur ini karena buku doa yang berisi tanggal lahirnya hilang saat perang. Gus Dur juga pernah  ambil pusing soal waktu pasti dia lahir.
Bercerita tentang Gus Dur memang tak ada habisnya, saya jadi teringat dengan  tulisan Mahfud MD dalam salah satu bab di buku berjudul ‘Setahun Bersama Gus Dur’.

“Kalau ingin membuat Gus Dur marah, berilah dia informasi bahwa ada orang lemah yang diperlakukan sewenang-wenang. Jika mendengar ada orang kecil atau rakyat jelata diperlakukan secara tidak adil, biasanya Gus Dur langsung marah dan bereaksi sangat keras,” Tulis, Mahfud MD.
Sebagian besar perjalanan hidup Abdurrahman Wahid, atau akrab disapa Gus Dur, dihabiskan untuk memperjuangkan hak-hak rakyat. Menurut Mahfud, Gus Dur memiliki perasaan yang sangat peka jika mendengar seseorang diperlakukan secara tidak adil.

Memilih Baharuddin Loppa sosok penegak hukum yang fenomenal, mendandakan Gus Dur dalam memilih pejabat, yang pertama-tama dijadikan ukuran adalah informasi tentang kejujuran atau rekam jejaknya. Kemudian kepekaan dan keberpihakannya terhadap rakyat kecil. Nah, tak heran juga jika Gus Dur bongkar pasang kabinet.

Kisah mantan Kapolda Metro Jaya Mulyana Sulaiman bisa menjadi salah contoh bagaimana Gus Dur mempertahankan orang yang dipandangnya baik. Menurut Mahfud, ketika masa jabatan Mulyana sebagai Kapolda Metro Jaya berakhir, Gus Dur ingin agar masa jabatan Kapolda tersebut diperpanjang.

Gus Dur juga kita kenal sebagai pembela kelompok minoritas, ia tak ingin ada diskriminasi sebab bagi Gus Dur “mencintai Tuhan itu dengan cara mencintai ciptaannya” lihat saja bagaimana marahnya Gus Dur ketika segerombolan massa membubarkan aksi di Monas, bahkan beliau berkata “organisasi bajingan”.

Walaupun sering dihina oleh kaum bumi datar, Gus Dur tetaplah Gus Dur ia tak bakal membenci orang lain, ia sosok yang sederhana berhati mulia. Gus tak pernah pergi ia hanya pulang dan pemikiran-pemikirannya tetap hidup dalam benak kita. Matanya boleh terpejam dan dihina oleh mereka tapi hatinya jauh lebih mullia dari mereka.
Mungkin Gus Dur memang buta matanya, tapi tidak dengan hatinya. Gus Dur selalu ada dengan orang-orang tertindas tanpa memilah berdasarkan latar belakang agama. Doa kami selalu menyertaimu Gus.

Sumber : muslimoderat.net
Pesan Gus Dur bagi yang Ingin Menjadi Ahlul Quran

Pesan Gus Dur bagi yang Ingin Menjadi Ahlul Quran


Kalau ngaji Qur'an itu yang sungguh-sungguh, Sebab Qur'an itu kalau tidak syafaat ya laknat, Pilihannya cuma dua itu.

Qur'an itu hurufnya ada empat ( ق ر ا ن)
Yang pertama Qaf (ق)
sifatnya qalqalah artinya guncang.

Setiap orang yg menempuh jalan untuk menjadi ahlul Quran akan di uji Gusti Allah dengan cobaan-cobaan yang menggonjang ganjingkan hidupnya.

Kedua Ra (ر)
sifatnya takrir artinya mengulang-ulang.
Meskipun cobaan yang mendera jalanmu kelak akan mengguncang hidupmu, sekali-kali jangan kau pernah berhenti nduk ,karena Quran itu harus selalu dibaca berulang-ulang meskipun sudah khatam. DERES! Kalau tidak, SERED!

Ketiga Hamzah (ء)
sifatnya syiddah berarti kuat.
Maksudnya, kamu harus benar-benar kuat menjaga Quranmu dengan membaca dan membacanya lagi dan lagi meskipun hidupmu digonjang ganjingkan masalah yang tak sudah sudah, Sapa ngrumat keramut, sapa ngremeh keremet.

Dan yang terakhir Nun (ن)
sifatnya idzlaq artinya ringan.
InsyaAllah kalau kamu kuat dan Sabar atas segala cobaan yang mengguncang jiwa raga, sembari mengistiqomahkan ngajimu denagn terus menerus nderes Quranmu, hidup matimu akan ringan, seringan mulutmu saat mengucapkan nun.

Mauidzoh Hasanah KH. ABDURRAHMAN WAHID dalam rangka Haul Simbah KH. MUHAMMAD BIN SHOFWAN ke 6
20 Dzulhijjah 1417 H / 28 April 1997

Sumber : muslimoderat.net
[Nyata] Kiai Ini Dapat Salam dari Kanjeng Nabi

[Nyata] Kiai Ini Dapat Salam dari Kanjeng Nabi

Foto ini adalah foto Mbah Ali Mas'ud Al Majdzub Pagerwojo (salah satu diantara alumni pondok wali Siwalan Panji Buduran).
Oleh Danny Ma'shoum

Salah seorang waliyulloh yang terkenal keramat, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan-Madura, suatu kali menunaikan ibadah haji. Beberapa saat ketika beliau singgah di Madinah hendak berziaroh kemakam Rosululloh di Ar-Roudhoh, beliau berjumpa dengan Nabi SAW. Ketika itu beliau terlihat mesra sekali bercengkrama dengan Nabi, hingga sebelum berpisah, Nabi mengatakan kepada Syaikhona Kholil Bangkalan bahwasannya kalau Syaikhona kembali ketanah air supaya menyampaikan salamnya Nabi kepada Khozin dari Buduran-Sidoarjo.

Begitulah, selepas kapal yang ditumpangi Kiai Kholil sandar di pelabuhan Kota Surabaya (sekarang Tanjung Perak), beliau tidak langsung menuju Bangkalan-Madura, akan tetapi langsung menuju Buduran-Sidoarjo mencari orang yang bernama Khozin sebagaimana yang disarankan Nabi SAW kepadanya.

Begitu sampai di Buduran, beliau menanyai beberapa orang yang dijumpainya, menanyakan rumah Khozin. Setiap jawaban yang beliau peroleh berfariasi, mulai Khozin tukang cukur rambut, tukang sepatu sampai profesi yang disebutkan, dan semuanya tidak cocok dengan sosok yang beliau bayangkan. Hingga suatu saat kemudian di pagi hari beliau bertemu dengan bapak tua berpakaian kaos oblong, dengan memakai sarung yang agak dicincingnya sedang menyapu halaman sebuah rumah yang mirip sebuah pesantren dengan beberapa gothaan (bilik-bilik bambu para santri), Kiai Kholil lalu menghampiri bapak tersebut yang tengah sibuk dengan aktifitasnya tersebut. Setelah mengucapkan salam dan dijawab oleh bapak tersebut, beliau bertanya;

"Pak, dimanakah rumah Khozin ?"

"Kalau nama Khozin, banyak disini ". Jawab orang tersebut.

"Tapi kalau Kiai hendak mencari Khozin yang dimaksud Rosululloh sewaktu sampean di Madinah, ya saya ini Khozin yang beliau maksud ". Lanjut bapak tersebut.

Syaikhona Kholil tersentak kaget setelah mendengar jawaban spontan tersebut. Serta merta beliau menjatuhkan koper perbekalan yang dibawanya dan mencium tangan bapak tersebut berulang kali.

Ya, itulah Kiai Khozin Khoiruddin pengasuh pondok Siwalan Panji Buduran sekaligus perintis tradisi khotaman Tafsir Jalalain, yang diera Kiai Ya'kub Hamdani terkenal sebagai pondoknya para wali. Hadrotussyaikh Kiai Hasyim Asy'ari adalah alumni ponpes ini, dimana beliau sempat diambil menantu oleh Kiai Ya'qub dengan mempersunting puterinya yang bernama Khodijah, dari perkawinan beliau lahir seorang putra bernama Abdulloh. Tapi sayang keduanya (Nyai Khodijah dan Abdulloh putranya) wafat di Makkah pada tahun 1930.

Di pondok ini gothaan Kiai Hasyim ketika masih nyantri sampai sekarang diabadikan, dan diantara alumni yang lain adalah seperti Mbah Hamid Abdulloh Pasuruan, Kyai As'ad Syamsul Arifin Situbondo, Mbah Ud Pagerwojo, Mbah Jaelani Tulangan. Konon menurut penuturan cucunya kepada saya, disuatu musim kemarau waktu itu banyak para petani yang kehausan karena sumur di sawah maupun rumah kering kerontang, ditengah kehausan itu tiba-tiba mereka melihat Mbah Jaelani melayang-layang di udara sambil membawa timba-timba berisi air beserta pikulannya.

Ada juga wali kendil (kakak beradik yang meninggal ketika masih menjadi santri). Si adik ahli mutholaah kitab sedangkan si kakak ahli tirakat, hingga pada suatu hari kakaknya marah melihat adiknya menanak nasi karena tidak menghormati kakaknya yang sedang berpuasa. Ditendangnya kendil buat menanak nasi itu hingga pecah berantakan. Melihat itu si adik diam sambil mengambil serpihan-serpihan kendil yang pecah berantakan itu ditempelkannya lagi potongan serpihan itu dengan ludahnya hingga kembali utuh seperti sedia kala.

Hingga ketika keduanya meninggal, makam adiknya tidak mau berjejer berdampingan dengan kakaknya, setiap hari makam adiknya bergeser maju bahkan konon sampai menembus pagar batas makam, dan pada akhirnya oleh Kiai Ya'kub makam santrinya itu diperingatkan agar cukup sampai disitu saja. Hingga sampai sekarang makam keduanya yang awalnya berjejer sudah tidak lagi seperti pertama kali dimakamkan, makam adiknya lebih maju kedepan melewati batas nisan kakaknya. Dan Kiai Kholil Bangkalan sendiri termasuk alumni Siwalan Panji.

Pondok Siwalan Panji ini berdiri sekitar tahun 1787 oleh Kiai Hamdani. Menurut Gus Rokhim (alm) pemangku pondok Khamdaniyah yang juga generasi ke tujuh dari Mbah Khamdani, ketika tanah Siwalan Panji masih berupa tanah rawa, Mbah Hamdani meminta kepada Allah agar tanah rawah ini diangkat kepermukaan untuk dijadikan sebagai kawasan syiar Islam waktu itu.

“Ketika itu Mbah Hamdani meminta pertolongan kepada Allah, tidak berselang lama, tanah yang sebelumnya rawa, tiba-tiba terangkat dan menjadi daratan”. Tidak hanya itu, pada awal awal pengerjaan pondok, kayu bangunan pondok yang didatangkan dari cepu melalui jalur laut tiba-tiba pecah dan terserak dan berpencar. Namun karena pertolongan Allah, kayu-kayu yang semula berpencar ini, bergerak sendiri melalui sungai menuju sungai di seberang kawasan pondok.

“Ada satu kayu yang tersangkut di kawasan Kediri, dan sekarang disebut menjadi kayu cagak Panji,” cerita Gus Rokhim.

Dijuluki pondoknya para wali karena setiap tahun alumni yang keluar beberapa di antaranya sudah mempunyai karomah-karomah luar biasa ketika masih menjadi santri.

Konon dari beberapa riwayat yang saya kumpulkan, dipondok Panji atau Siwalan Panji inilah kitab Tafsir Jalalain pertama kalinya dibaca secara klasikal pada tahun 1789 M. Sistem penddikin ala madrosah Diniyyah juga sudah ada pada waktu itu, hanya saja formatnya tidak seperti sekarang yang tersusun sistematis dan terencana.

Semenjak itu Syaikhona Kholil selalu mewanti wanti agar santri beliau yang boyong agar tabarrukan dulu di pondok Panji yang diasuh Kiai Khozin ketika itu, sebagai bentuk ketakdzhiman Syaikhona Kholil kepada Kiai Khozin.

Mungkin inilah salah satu alasan mengapa sampai sekarang pondok Panji, terutama pondok Al Khozini banyak dipenuhi santri dari Madura, sebagai bentuk ketakdzhiman mereka pada dawuh Syaikhona Kholil Bangkalan. Wallohu a'lamu bis showab. [dutaisalm.com/gg]

Sumber: dutaislam.com
Abuya Dimyati, Ulama Banten yang Dikenal Waro' dan Istiqomah Baca Quran Selama 40 Tahun

Abuya Dimyati, Ulama Banten yang Dikenal Waro' dan Istiqomah Baca Quran Selama 40 Tahun


Betapa ruginya orang Indonesia jika tidak mengenal ulama satu ini. Kisah hidupnya bisa jadi teladan umat muslim dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam menjalani hidup atau pengabdian di bidang ilmu agama.

Orang-orang memanggilnya mbah Dim. Beliau bernama lengkap Abuya Dimyati bin Syaikh Muhammad Amin dari Banten. Beliau lahir sekitar tahun 1925 dari pasangan dari H.Amin dan Hj.Ruqayah. Tepatnya di Kabupaten Pandeglang.

Mbah Dim merupakan tokoh kharismatik dunia kepesantrenan, penganjur ajaran Ahlusunah Wal Jama’ah dari pondok pesantren, Cidahu, Pandeglang, Banten. Beliau sangat konsen terhadap akhirat, bersahaja, selalu menjauhi keduniawian, wirangi (hati-hati dalam bicara, konsisten dalam perkataan dan perbuatan).

Dalam kehidupan sehari-hari beliau ahli sodakoh, puasa, makan  ala kadarnya seperti dicontohkan Kanjeng Nabi Muhammad, humanis, dan penuh kasih sesama umat manusia. Kegiatan kesehariannya hanya mulang ngaji (mengajar ilmu), salat serta menjalankan kesunatan lainnya.

Sejak kecil Abuya Dimyathi sudah dikenal cerdas dan sholih. Beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren lain.  Mulai dari Pesantren Cadasari, kadupeseng Pandeglang, ke Plamunan hingga ke Pleret Cirebon. Mbah Dim dikenal gurunya dari para guru dan kiainya para kiai. Tak berlebihan kalau disebut sebagai tipe ulama Khas al-Khas. Di Banten, beliau dijuluki pakunya daerah selain sebagai pakunya negara Indonesia .

Di balik kemasyhuran nama beliau, beliau terkenal sangat sederhana dan bersahaja. Jika melihat wajah beliau terasa ‘adem’ dan tenteram bagi orang yang melihatnya.

Mbah Dim juga dikenal sebagai ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama. Beliau bukan saja mengajarkan ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan tasawuf. Beliau penganut  Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’, istiqamah, zuhud, dan ikhlas. 

Mbah Dim juga seorang qurra’ dengan lidah fasih. Wiridan al-Qur’an istiqamah lebih dari 40 tahun. Kalau shalat tarawih di bulan puasa, tidak turun untuk sahur kecuali setelah mengkhatamkan al-Qur’an dalam shalat. Karena beragam keilmuannya itu, tidak salah jika kemudian kita mengategorikan Abuya sebagai Ulama multidimensi.

Mbah Dim menempuh jalan spiritual yang unik. Beliau secara tegas menyeru: “Thariqah aing mah ngaji!” (Jalan saya adalah ngaji). Sebab, tinggi rendahnya derajat keualamaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memberi penghargaan terhadap ilmu. Beliau sangat percaya sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Mujadilah ayat 11bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. 

Pentingnya mengaji dan belajar kerap diingatkan Mbah Dim. “Jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain atau karena umur” demikian kata beliau. Pesan ini sering diulang-ulang. Ngaji menjadi wajib ain bagi putra-putrinya. Bahkan, ngaji tidak akan dimulai, fasal-fasal tidak akan dibuka, kecuali semua putra-putrinya hadir di dalam majlis. Itulah keteladanan Mbah Dim dan putra-putrinya. 

Mbah Dim berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa seperti Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. 

Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantany. Para kiai sepuh tersebut menurut mbah Dim memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna. Setelah mbah Dim berguru kepada para kiai tak lama kemudian para kiai sepuh wafat. 

Mbah Dim tak hanya alim ilmu setelah mengenyam di sejumlah pondok. Ketika di pondokpun belau sudah diminta ngajar. Misalnya di di Watucongol, Mbah Dim sudah diminta Mbah Dalhar. 

Kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Terbukti mulai masih mondok di Watucongol sampai di tempat lainya, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. 

Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’ dan mendapat laqob ‘Sulthon Aulia’. Mbah Dim memang wira’i dan dan tidak suka dengan kesenangan dunia (topo dunyo). Pada tiap Pondok disinggahi beliau selalu ada peningkatan santri mengaji.

Mbah Dim wafat 3 Oktober 2003 M/07 Sya’ban 1424 H di usia 78 tahun.[ dutaislam.com/ed/pin ]

Sumber : dutaislam.com
Gubuk Reot Ini Hasilkan Pembaca Kitab Kuning Handal Hanya Dalam Tempo 8 Bulan

Gubuk Reot Ini Hasilkan Pembaca Kitab Kuning Handal Hanya Dalam Tempo 8 Bulan


Kyai Amin Fauzan Badri menemukan metode singkat belajar ilmu alat. Dalam tempo 8 - 20 bulan, santri dijamin sanggup membaca kitab ‘gundul’ secara lancar lengkap dengan ma’na dan gramatikanya. Sayangnya, fasilitas pesantrennya kurang memadai. Masih berupa gubug reot.

Muhammad Amir Hasan membuka Kitab Fathul Qarib. Kitab karya Abu Abdillah Muhammad bin Qosim al-Ghazzi tanpa harakat dan terjemah itu dibacanya dengan lancar. Bocah berusia 12 tahun tersebut bahkan mampu membaca makna, menjabarkan i’rab (perubahan harakat di akhir kalimat), dan melafalkan maraji’-nya.

“Saya baru 9 bulan di pondok ini,” tutur lulusan Madrasah Ibtidaiyah di pulau Karimun Jawa itu saat ditemui di Pesantren kyai Amin Grobogan beberapa waktu lalu.

Padahal umumnya, seorang santri butuh waktu minimal tiga tahun untuk bisa membaca dan memaknai kitab ‘gundul’. Itu pun harus ditempa ngaji ilmu ‘alat (gramatika bahasa Arab) saban hari.
Lain lagi Ahmad Badawi. Bocah asal Pati, Jawa Tengah itu usianya setahun lebih muda dari Muhammad Amir Hasan. Andai melanjutkan sekolah formal, ia menginjak kelas 6 Ibtidaiyah (MI). Tetapi 8 bulan terakhir, ia memilih mondok. Meski belum genap setahun nyantri, ketika diminta membaca kitab Fathul Qarib lengkap dengan maknanya, Badawi juga mampu membaca kitab tersebut dengan lancar.

Muhammad Amir Hasan dan Ahmad Badawi tidak nyantri di pondok modern. Ia mengaji di pesantren salaf dengan fasilitas yang jauh dari kata sederhana. Pondok yang berdiri di pelosok Kabupaten Grobogan, tepatnya di Desa Brakas Kecamatan Klambu Jawa Tengah itu bukan bangunan permanen yang disusun dari semen dan bata. Bangunannya sangat memprihatinkan karena beralas papan kayu, dan berdindingkan anyaman bambu (Jawa = gedhek).

Di gubug itu, hanya ada dua kamar untuk tidur 25 santri. Untuk santri sebanyak itu, hanya ada 1 kamar mandi yang lagi-lagi jauh dari kata layak. “Di sini anak santri itu keluar masuk, menyesuaikan dengan metode. Begitu dia sudah khatam, biasanya terus pulang,” tutur Kyai Amin Fauzan Badri, pengasuh pesantren tersebut mengawali ceritanya.


Di samping itu, juga banyak orang tua yang tidak tega menaruh anaknya di pesantren ini, mereka tidak tega dengan fasilitas yang dimiliki. Satu-satunya alasan yang membuat banyak orang tua tega menitipkan anaknya, menurut Kyai Amin, adalah kemampuan anak bisa membaca kitab kuning dalam tempo singkat.

Namun siapa sangka, dari gubuk reot inilah lahir anak-anak yang mahir membaca kitab kuning secara cepat. Kyai Amin bercerita, metode cepat baca kitab kuning ini dibuat karena pengalaman masa lalunya saat masih di pesantren, yakni sulitnya membaca kitab kuning. “Semua teman saya di pesantren dulu itu hafal kitab Alfiah, karena itu menjadi syarat kenaikan kelas.Tapi hanya sedikit yang mampu membaca dan menguasai kandungan kitab kuning dengan baik,” tuturnya
Atas pengalaman itulah, kala pulang dari pesantren, ia lalu mulai merumuskan metode yang kemudian diberi nama Al-Ikhtishor.

“Saya berfikir, bahwa membaca kitab itu mestinya mudah, karena susunan dalam bahasa arab itu hanya berupa Jumlah Ismiyah dan Jumlah Fi’liyah. Jika dua jumlah ini dikuasai, semua akan jadi mudah,” terangnya.

Baru setelah dipelajari pokoknya, susunannya berupa jumlah ismiyah atau fi’liyah, dipelajari pelengkapnya, yaitu jar-majrur, fi’il-fail, maf’ul bih, maf’ul muthlaq, dharaf, na’at wa man’ut, isim munsharif, ghairu munshorif, isim isyarah, dan lain-lainnya.

Kyai Amin menjelaskan, kitab yang dikarangnya hanya terdiri dari dua kitab pokok dan satu kitab maraji' (referensi). Kitab pertama menjelaskan cara membuat Jumlah Ismiyah. Sedangkan kitab kedua menjelaskan cara membuat Jumlah Fi’liyah.

Menurutnya, untuk mengaji dua kitab Al-Ikhtishor cukup diselesaikan dalam tempo 2 bulan atau 52 kali pertemuan. 1 bulan pertama mengaji Jumlah Ismiyah, dan bulan kedua mengaji Jumlah Fi’liyah. Proses belajarnya menurut kyai Amin cukup 1 jam dalam sehari.
“Santri setiap hari cukup belajar metode Al-Ikhtishor ini satu jam saja, karena syarat untuk mempelajari metode ini adalah tidak boleh lupa antara pelajaran pertama sampai terakhir. Pasalnya, setiap bab dalam Al-Ikhtishor ini berkaitan satu sama lain. Sehingga dalam dua kitab itu merupakan satu mata rantai yang tidak terputus. Kalau santri lupa soal bab sebelumnya, itu menutup jalan untuk bisa pada bab selanjutnya,” ujar Kyai Amin
“Karena antara satu bab dengan bab lainnya saling kait mengait, maka santri cukup belajar satu jam saja, agar dia tidak lupa dengan pelajaran-pelajaran sebelumnya,” tambahnya.
Kyai Amin menuturkan, proses pengajaran Al-Ikhtishor dilakukan saban pagi secara privat, 4 mata antara dirinya dengan santri. Satu per satu santri mengaji dengannya.
“Di sini tidak ada masa pengajian bersama-sama dimulai. Kalau hari ini ada santri datang, berarti besok pagi dia mulai belajar. Jadi antara satu santri dengan santri lainnya, mulainya beda dan khatamnya juga beda,” tutunya.

Lalu untuk menguatkan ingatan santri, setiap ba’da Ashar digelar setoran hafalan, dan pada malam harinya santri diwajibkan muthala’ah yang dipimpin santri senior. “Setiap satu bahasan dikaji tiga kali dalam satu hari,” terangnya.

Soal muthala’ah yang dipimpin santri senior, menurut Kyai Amin, cara ini ditempuh untuk menyiapkan santri senior agar bisa mengajar Al-Ikhtishor. “Nanti manfaatnya dia ngajar Al-Ikhtishor sudah bisa,” terangnya.
Selain Al-Ikhtishor Jumlah Ismiyah dan Fi’liyah, Kyai Amin juga menulis kitab kecil sebagai rujukan (maraji’) bagi dua kitab sebelumnya. Kitab berukuran kecil itu menukil dari sejumlah kitab Alfiah dan sharaf.

Jika sukses meng-khatamkan Al-Ikhtishor, santri sudah siap mengaji kitab kuning. Dalam praktik tersebut dibagi menjadi tiga tahapan, pemula, menengah, dan tinggi. Masing-masing tahapan ditempuh selama 3 hingga 6 bulan. Pada tahap pemula, mengaji kitab Fathul Qarib. Tahap menengah kitab Tahrir dan tahap tinggi, mengaji kitab Nihayatuz Zayn.

Artinya, seorang santri dijamin mahir membaca kitab kuning dalam tempo 20 bulan. Yakni 2 bulan mengaji Al-Ikhtishor, dan 18 bulan mengaji tiga kitab. Hasilnya boleh diuji. Muhammad Amir Hasan dan Ahmad Badawi misalnya, belum genap setahun nyantri, ia sudah lancar membaca kitab Fathul Qarib. Sayangnya, fasilitas pesantren masih jauh dari kata layak. Sehari-hari di gubug reot pun dilakoni dua santri itu, “tidak betah juga harus dipaksa betah,” tutur Ahmad Badawi.
Namun begitu, kyai Amin selalu berpesan kepada para santrinya selama belajar di pesantren. “Agar bisa cepat membaca kitab kuning, kita harus ingat tiga hal: harus teliti kata perkata; harus bisa menalar susunan kalimat secara logis; dan harus menguasai gramatika (kaidah) secara matang,” pesannya.


Kyai Amin yang kelahiran Keling Kelet Jepara Jawa Tengah pada 7 Desember 1975 ini bercerita, dua kitab Al-Ikhtishor itu mulai ditulis sejak tahun 2005, saat masih menetap di desa kelahirannya.
Saat mulai menyusun kitab ini sebenarnya, tidak semua kaidah gramatika Bahasa Arab dikuasainya dengan baik. Karenanya, begitu selesai ditulis, segera dibawanya ke gurunya di Mathaliul Falah di Kajen Margoyoso Pati untuk di-tashih.

Setelah di-tashih, guru kyai Amin di Mathaliul Falah berpesan agar tulisan yang sudah dikoreksinya tidak dibuka di tempat. “Jangan dibuka di sini ya, dibuka nanti saja di rumah,” pesannya.
Sesampai di rumah, tulisan itu kemudian dibuka. Dan ternyata, semua disilang memakai bolpoin merah, tanda salah semua.

“Saya buka halaman per halaman, semua berisi silang merah. Saya takut, minder dan menyerah dengan semua kesalahan itu. Dalam benak saya bergumam, saya tidak berani meneruskan tulisan ini,” kenangnya.

“Tapi di halaman akhir tulisan itu, ada tulisan tangan guru saya tadi, man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil,” tambahnya.
Membaca tulisan tangan gurunya, kiai Amin yang sudah takut, tiba-tiba muncul keberanian untuk meneruskan kembali menulis dan memperbaiki semua kesalahan yang sudah diberi tanda merah oleh gurunya.

“Saya terus berusaha memperbaiki semua kesalahan itu. Dan selang beberapa lama, setelah saya perbaiki, saya tashihkan lagi ke guru saya, dan alhamdulillah lulus, tidak ada coretan,” kenangnya.
Dari pengalaman itu kyai Amin yakin, bahwa kunci keberhasilan seseorang terletak pada niat dan kemauan kerasnya. “Jika kita memiliki A dan kemudian mengamalkannya, pasti Allah akan memberikan kemampuan kepada kita untuk mengerti B. Jika kita memiliki B dan kemudian mengamalkannya, pasti Allah akan memberikan kemampuan kepada kita untuk mengerti C, begitu seterusnya,” tambahnya penuh optimis.

Karena itu, kyai Amin berpesan kepada semua santrinya dan mereka yang ingin bisa membaca kitab kuning agar memiliki niat yang bulat dan belajar dengan semangat.
“Syarat untuk belajar bisa membaca kitab kuning di sini ini cuma dua, yaitu bisa membaca tulisan Arab dan tulisan latin (Indonesia),” pungkasnya. [ ]

Sumber : muslimoderat.net
close
Banner iklan disini