Kisah Nyata PKI tak Berani Geledah Rumah yang Terdapat Logo NU

Kisah Nyata PKI tak Berani Geledah Rumah yang Terdapat Logo NU


Pada hari ini, setiap tanggal 30 september, memori saya selalu ingat kembali pada masa kanak-kanak saat masih duduk di kelas 3 SD (Taman Siswa di Malang). Saya hidup bersama orang tua dan dua adik. Ketika itu Bapak masih aktif sebagai anggota ABRI dan bertugas di Kodam Brawijaya V Malang.

Dalam benak, ada kenangan hitam yang selalu mengusiku, peristiwa yang terjadi sekitar pertengahan Agustus 1965 menjelang Gestapu - Gerakan September Tiga Puluh (G-30-S/PKI).

Kami hidup di sebuah dusun, namanya Glintung, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, di sebuah gang kalau tidak salah namanya gang Meriah. Setiap memperingati hari kemerdekaan RI memang di kelurahan diacarakan besar-besaran. Pergelaran tari dan nyanyian menjadi perhatian masyarakat sekitar. Tari dan nyanyian yang selalu dimunculkan antara lain “Jer-genjer” serta drama perjuangan perlawanan kaum tani.

Lagu ini sangat populer, dari anak sampai kakek nenek dan fasih melantunkannya. Lirik lagu ini mudah dihafal dan akrab irama nyanyiannya. Sampai sekarangpun saya masih mengingatnya.
Namun sekitar akhir Agustus atau awal September 1965, di gang Meriah terjadi keributan, di mata saya tampak sejumlah orang (yang kemudian diketahui kelompok PKI) menggeladah setiap rumah, mulai dari timur, sampai ujung barat, sedang posisi rumah kami di sebelah barat. Entah apa yang digeledah, namun yang tampak penghuni rumah dipaksa keluar dan sesekali terdengar bunyi tembakan.

Pada saat giliran rumah kami, cuma ibu yang menghadapi mereka, sedang kami diititipkan di rumah depan (yang sudah digeledah) yang kebetulan dari keluarga orang Madura. Namun tampak beberapa saat sekelompok orang dari PKI itu tidak melakukan penggeladahan, bahkan cepat-cepat keluar dan kembali ke arah timur.

Sedang Bapak saat itu tidak ada di tempat, karena sedang melaksanakan tugas perlawanan terhadap gerombolan PKI di wilayah Malang Selatan. Beberapa hari kemudian, sekembali Bapak pulang dari tugas, ibu menceritakan semua peristiwa tersebut. Bapak tampak geram, kemudian menceritakan bahwa sikap PKI tidak menggeledah rumah karena di dinding emper rumah terpampang poster dan logo Nahdhatul Ulama (NU). Sama seperti yang terjadi pada warga asal Madura di depan rumah.

Kisah ini diperjelas oleh Bapak ketika kami memasuki usia remaja di rumah tinggal Sumenep. Pasca Gestapu (G30S/PKI) sekitar pertengahan Oktober 1965, kami pulang (pindah) ke kampung halaman, sementara Bapak masih tetap di Malang sambil menunggu masa pensiunnya satu tahun kemudian.

Bapak memang kerap bercerita kisah-kisah saat berperang, mulai sekitar Madiun, Bandung, Makasar saat menumpas kelompok Kahar Musakar sampai bertugas di Colombo. Kisah tentang saat terjadi penggeledahan PKI tersebut, Bapak menjelaskan bahwa pada saat tengah malam sepulang dari tugas beliau mencabut papan nama milik PKI yang yang terbuat dari kayu yang terpampang di pinggir jalan raya, lalu dipotong-potong kemudian dibakar. Dan itulah yang menjadi kemarahan PKI.

Memang pada saat menjelang 30 September 1965 suasana Malang cukup membara. Dan saya sempat menyaksikan ketika diajak ibu ke warung di jalan raya,para prajurit tentara tampak siap tempur. Di sejumlah ruas jalan juga tampak kubu pertahanan dari tumpukan pasir dalam karung goni berjejeran. Dan tepat hari H G30S/PKI, benar-benar suasana langit terasa riuh oleh suara tembakan, dentingan peluru yang sempat singgah ke genteng membuat para warga tidak berani keluar rumah.

Setelah suasana tembakan agak reda, sekitar sore hari, saya sempat keluar rumah dan berkeinginan bermain ke arah barat, yang biasa saya dan teman seusia suka bermain. Yakni sebuah tanah lapang, yang juga tempat anak-anak bermain sepak bola.

Tapi kenyataannya jadi beda, yang tampak hanya orang-orang (mayat-mayat) bergelimpangan dan ketika itu saya tidak paham dari mana mayat itu datang. Tapi menurut cerita Bapak, tempat tersebut memang dijadikan penempatan sementara mayat-mayat korban pemberontakan baik dari pejuang maupun anggota PKI.

GANYANG PKI

******
(Kisah nyata ini, saya persembahkan untuk Bapak kami, Moch. Syakwar, prajurit tentara yang sampai akhir tugasnya berpangkat kopral yang kini bersemayam di Taman Makam Pahlawan. “Nak, kamu tidak perlu berjuang di medan perang, musuh-musuh negara akan selalu berada di depanmu”, begitu pesan ketika saya berkeinginan menjadi tentara dulu)

Sumber : muslimoderat.net
Doa Manjur Kiai Akyas Buntet Saat Menumpas PKI

Doa Manjur Kiai Akyas Buntet Saat Menumpas PKI


Polemik peristiwa Gerakan 30 September tak kunjung berakhir. Beberapa pihak mengklaim dirinya tidak bersalah. Bersamaan dengan itu, mereka juga saling tuduh institusi anu yang salah. Simpang siur informasi ini membuat masyarakat bingung.

Tulisan ini tidak akan mengupas perihal konflik siapa yang paling bertanggung jawab, atau siapa yang salah dalam peristiwa tragis tersebut. Penulis teringat saat mengaji pada K.H. Tb. Ahmad Rifqi Chowas. Beliau berkisah mengenai peristiwa tersebut dalam konteks Buntet Pesantren.

Pada malam yang begitu mencekam di beberapa daerah tersebut, sosok ulama kharismatik Buntet Pesantren K.H. Akyas Abdul Jamil keluar dari ndalemnya. Muqoddam Tarekat Tijaniyyah itu tengadah langsung ke langit tanpa terhalang apapun sembari melafalkan doa ala Nabi Nuh as.

رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْاَرْضِ مِنَ الْفِيْكَائِيِّيْنَ دَيَّارًا

Ya Tuhanku, jangalah Engkau biarkan di antara orang PKI itu tinggal di atas bumi

Dalam doa Nabi Nuh, kata al-pekaiyyina asalnya al-kafirina, orang-orang kafir. Kiai yang dikenal ahli hadis itu mengganti diksi orang-orang kafir itu dengan orang-orang PKI. Seketika, doa yang dipanjatkan Kiai Akyas itu terkabulkan.

Sumber : muslimoderat.net
Sekeping Kisah Humor Bersama KH Hasyim Muzadi dan Gus Dur

Sekeping Kisah Humor Bersama KH Hasyim Muzadi dan Gus Dur


Oleh: Prof. Mahfud MD*

"Ya, mengenang Kyai Hasyim adalah mengenang humor-humor yang tidak menyakiti tapi masuk ke substansi." (Prof. Mahfud MD, 2017)
Saya pribadi mengenang Kiai Hasyim sebagai kawan yang selalu ceria dan menyenangkan. Pembawaannya tenang dan tampak tidak pernah gelisah.
Saya tidak pernah melihat Kiai Hasyim marah atau berbicara dengan nada tinggi. Cara bicaranya lembut, tidak menggelegar, dan bahkan lebih banyak melucu.
Almarhum memang mempunyai kesamaan dengan Gus Dur. Yakni, sangat suka berhumor ria. Dulu saya selalu menikmati humor berkelas jika Kiai Hasyim ngobrol dengan Gus Dur.
Tetapi, humor dua tokoh NU itu sama sekali tidak sarkastis. Tidak menyakiti siapa pun meskipun subjek dan objek humornya jelas.

Gus Dur maupun Kiai Hasyim bisa melontarkan humor-humor yang sangat kocak di kursi ruang tamu dengan jumlah orang terbatas maupun di podium saat berpidato di depan ribuan orang.
Kiai Hasyim itulah yang mengatakan bahwa di NU itu ada tradisi menyelesaikan masalah dengan gergeran (tertawa riuh) daripada dengan gegeran (ribut-ribut).
Sebagai tokoh NU yang ditempa melalui Gerakan Pemuda Ansor, Kiai Hasyim sering menjadikan Ansor dan NU sebagai materi humornya. Suatu kali dia berpidato bahwa kita harus bersyukur karena sekarang ini anak-anak Ansor sudah maju dan modern. Banyak yang mempunyai dua handphone dengan casing yang bagus-bagus. "Tapi, ya begitu, mereka tidak pernah menelepon dengan HP-nya karena tidak kuat membeli pulsa. Bolak-balik hanya missed call biar ditelepon balik,’’ katanya.

Kiai Hasyim juga mengatakan, kita harus bersyukur karena sekarang ini sudah banyak anak NU yang bisa bersekolah atau mondok ke Makkah dan Madinah. "Tapi sayangnya, setelah pulang, mereka tidak mendirikan pondok pesantren, melainkan perusahaan travel umrah. Tidak menjadi ulama, melainkan cukup menjadi guide haji dan umrah,’’ katanya.
Cerita lucu lainnya adalah ketika pada suatu hari Gus Dur ada acara di Malang dan dijemput Barisan Serbaguna Ansor (Banser) dengan seragam yang gagah dan komandannya mengendalikan anak buahnya dengan "handy talky" (HT).

Terjadi hal yang lucu ketika Gus Dur tiba dan sang komandan Banser memberi komando kepada anak buahnya. "Assalamualaikum, roger, roger. Kiai Abdurrahman Saleh sudah mendarat di lapangan terbang Abdurrahman Wahid. Semuanya siap? Ganti,’’ ujar sang komandan Banser.
Sambil terkekeh, Kiai Hasyim bilang bahwa Banser itu lucu, lugu, dan ndheso.

Semua orang dihalau oleh Banser agar tidak bersalaman dengan Gus Dur, tapi Banser sendiri saling berebut untuk menyalami bahkan berfoto-foto dengan Gus Dur sehingga perjalanan malah lebih terhambat.
Anak-anak Banser biasanya bertepuk riuh dan senang digoda seperti itu oleh Kiai Hasyim. Maklum, Kiai Hasyim dibesarkan dan pernah lama ikut memimpin Ansor. Namun, harus dicatat, dengan kesukaannya pada humor itu, tak berati Kiai Hasyim hanya suka berseloroh.
Humor-humornya selalu bernas, memuat atau mengantar ke pesan-pesan yang serius, terutama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pesan Kiai Hasyim selalu serius, tetapi disampaikan dengan santai sehingga sering disebut pesan "sersan" (serius tapi santai).

Almarhum selalu berpesan agar Islam benar-benar menjadi rahmatan lil alamin. Islam harus ramah dan menjaga kekukuhan ikatan kebangsaan (nasionalisme) Indonesia tanpa boleh memaksa-maksa atau bersikap tidak toleran terhadap kelompok-kelompok lain.
Pada diri Kiai Hasyim ada integrasi ide antara keindonesiaan dan keislaman. Pada diri Kiai Hasyim juga ada contoh bagaimana menjadi warga negara yang mencintai kebersatuan dalam keberagaman bangsa Indonesia dan mengamalkan ajaran Islam sebagai prinsip penuntun hidup sebagai muslim.
Itulah sersannya KH Hasyim Muzadi. Selamat jalan, Cak. Sampaikan salam rindu saya kepada Gus Dur di alam sana. Allahumma ighfir li-Hasyim Muzadi. []

*Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)

--Sumber Tulisan: JPNN & Madaniy.com (Jum'at, 17 Maret 2017)
--Foto: Dokumentasi saat Prof. Mahfud MD bersama KH. Hasyim Muzadi, Prof. Alwi Shihab, Gus Dur dan KH. Abdullah Faqih tahun 2002.

Sumber : muslimoderat.net
Gus Dur: Hingga 2030, Indonesia akan Mengalami Gonjang Ganjing

Gus Dur: Hingga 2030, Indonesia akan Mengalami Gonjang Ganjing


Tulisan KH Maman Imanul Haq Tentang Gus Dur

 Delapan tahun saya dekat dengan Gus Dur. Saya punya rekaman 95 menit dengan Gus Dur, dan itu tidak dimiliki oleh yang lain. Saat itu tiba-tiba Gus Dur minta dibawakan tim media saya. Gus Dur hanya memakai celana pendek sambil tiduran di ruang tamu minta direkam. “Pak sudah siap,” kata saya.

“Ya sudah,” jawab Gus Dur.
“Mohon Bapak pakai sarung,” protesku karena tak pantaslah Gus Dur sebagai narasumber hanya memakai celana pendek.
Kata Gus Dur, “Lhoh, kan sumber utamanya Anda. Anda yang harus rapih. Saya hanya mendampingi.”
Akhirnya saya minta Mas Munif, menantunya Mbah Abdul Jalil Mustaqim, untuk mengambilkan sarung. Lalu sarung itu diberikan ke Gus Dur dan hanya ditutupkan di atas celana. 90 menit tiba-tiba Gus Dur cerita soal kuliah dan belajar beliau.

Gus Dur itu sosok pendendam yang baik. Dulu pernah saya di pesawat bersama Gus Dur, saya ijin, “Mohon maaf, Nurcholis Majid mau ke rumah saya di Jatiwangi.”
“Iya, dia mau jadi presiden. Tapi nggak mungkin,” jawab Gus Dur.
“Tapi Cak Nur bilang Pak,” kata saya. “Apa sih yang salah dengan saya? Gus Dur itu baca satu ayat dua ayat, tapi terkenal dan diaku jadi wali. Tapi saya padahal sudah menyebutkan ayat, surat, tafsir dan referensinya masih saja disalahpahami.” Kata Cak Nur yang saya tirukan.

Gus Dur hanya diam, sama sekali tidak bertanya kepada saya. Hingga kemudian saat Gus Dur bertemu saya di kediaman Tuan Guru Turmudzi Lombok NTB, beliau tiba-tiba ceramah dengan membaca 10 ayat yang panjang-panjang sekaligus menyebutkan ayat serta suratnya. Juga tiba-tiba Gus Dur membaca qasidah-qasidah dan puisi-puisi lama (berbahasa Arab) yang sangat panjang, beserta keterangannya lengkap. Waktu itu saya tidak tahu ada apa dengan Gus Dur yang tiba-tiba seperti itu.

Pas waktu pulang, saat di pesawat Gus Dur tiba-tiba memegang tangan saya dan berkata, “Anda dengerin ceramah saya di Lombok?”
“Dengar Pak!” jawabku.
“Catat, saya lebih hebat dari Cak Nur!”

Waktu itulah saya baru sadar saat di pesawat sebelumnya beliau hanya diam ternyata karena tidak terima dengan perkataan Nurcholis Majid yang saya sampaikan ke beliau. Gus Dur benar-benar sosok pendendam yang baik.

Saya belajar dari Gus Dur juga bahwa jadi manusia itu sangat berat. Saya teringat dan waktu itu saya baru sadar, ternyata shalatnya Gus Dur itu setelah wudhu kemudian duduk menghadap kiblat. Beliau juga mendawamkan wirid Ratibul Haddad menjelang akhir hayatnya.

Saya juga teringat saat Gus Dur dicium tangannya oleh Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa. Waktu itu saya dan Gus Dur sedang di bandara. Tiba-tiba Habib Mundzir al-Musawa yang hendak dakwah ke Papua menghampiri dan menciumi tangan Gus Dur seraya bersimpuh di hadapan Gus Dur. Lalu saya tanya, “Ada apa Bib?”
“Kalau wali ya Gus Dur, Kang Maman.” Jawab Habib Mundzir.
Tiba-tiba Gus Dur bertanya kepada saya, “Itu siapa?”
“Habib Mundzir, Pak,” jawab saya.
“Kalau ingin tahu wali yang muda ya Habib Mundzir. Tapi usianya tidak panjang,” kata Gus Dur kemudian.
Gus Dur sudah menyebut Habib Mundzir al-Musawa akan meninggal dunia dalam usia yang sangat muda.

Gus Dur terkadang kalau marah itu menarik. Tiba-tiba saya disuruh bacain surat kabar, ada beberapa kiai yang menolak Gus Dur. Kemudian Gus Dur berkata, “Apa salah saya yah Kang Maman? Padahal saya tidak pernah berbuat salah kepada kiai-kiai itu.”
Dalam masalah uang, saya pernah ceramah bareng Gus Dur. Waktu itu Gus Dur dapat amplop 50 juta, saya 5 juta. Ternyata punya saya yang 5 juta itu pun diminta Gus Dur,“Sini yang 5 juta Kang Maman!”

Lalu tiba-tiba oleh Gus Dur uang itu dibagi-bagi ke dalam beberapa bagian, dan dimasukkan ke dalam amplop. Gus Dur kemudian meminta saya untuk menuliskan satu persatu nama-nama kiai di amplop itu sesuai yang diucapkan Gus Dur; kiai anu dari Kalimantan, kiai anu dari Sulawesi, kiai anu dari perbatasan Sulawesi, dst.

Jadi Gus Dur tidak pernah punya dompet dan uang pun kadang-kadang selalu habis untuk dibagi-bagikan. Makanya sampai sekarang makam yang paling ramai dikunjungi orang Indonesia adalah makamnya Gus Dur. Gus Dur itu manusia, yang mampu memanusiakan manusia.
“Kenapa sewaktu Muktamar di Solo saya diusir pakai anjing?” Gerutu Gus Dur tidak terima.
Tapi saat turun ke bawah di Bandara Adi Sucipto, ada wartawan yang bertanya, “Gus, itu ada beberapa kiai yang menolak Anda.”
Cara bertahan Gus Dur menarik. Gus Dur tiba-tiba tersenyum dan menjawab, “Ah kata siapa? itu yang bilang paling tukang becak pakai sorban.”

Gus Dur mengijazahkan kepada saya di detik-detik terakhirnya, tanggal 7 Desember 2009, Ayat Kursi. Di kalimat “Wala Ya-uduhu dst...” dibaca 7 kali. Saya tanya, “Untuk apa Pak?”
“Untuk penjagaan saja. Indonesia akan mengalami masa-masa sulit, gonjang-ganjing, sampai tahun 2030-an.” Jawab Gus Dur.

*Disampaikan oleh KH. Maman Imanul Haq, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka dan Ketua Umum LDNU Pusat dalam Pengajian Akbar dan Khataman Al-Quran Reuni IKABU (Ikatan Alumni Bahrul Ulum Tambakberas se-Jabodetabek).

Sumber : muslimoderat.net


Cara Jitu Gus Dur Taklukan Lawan HinggaTidak Berdaya

Cara Jitu Gus Dur Taklukan Lawan HinggaTidak Berdaya


Oleh: Rijal Mumazziq Z

Kelompok Katolik binaan Pater Beek banyak bertebaran di berbagai lini vital: dari organisasi think tank Orde Baru hingga militer. CSIS disebut sebagai kantong terkuat, sedangkan di struktur militer jaringan binaan Beek terpusat di tangan LB. Moerdani. CSIS tersambung kuat dengan Pak Harto karena di dalamnya ada Ali Moertopo dan Benny Moerdani. Matarantainya adalah Beek>CSIS>Benny>Ali>Pak Harto.

Yang paling cemerlang adalah langkah Gus Dur. Dalam strategi perang, menaklukkan musuh dengan menjadikannya sahabat adalah pencapaian paling cerdas dan strategis. Taktik lain Gus Dur "mengetahui kekuatan lawan bukan dari desas-desus, melainkan langsung masuk ke sarangnya."

Gus Dur menaklukkan jenderal paling ditakuti, Leonardus Benny Moerdani. Bukan dengan melawannya secara frontal, tapi menggandeng tangannya, menggiringnya masuk ke pesantren-pesantren, sambil menjelaskan, "Ini lho kaum muslimin Indonesia itu, damai. Bukan yang mau memberontak pakai label DI/TII maupun yang terlibat dalam kasus Woyla, Komji, dll."

Jenderal katolik itu dipertemukan dengan Kiai As'ad Syamsul Arifin dan Kiai Mahrus Ali Lirboyo, dua pejuang 45. Kita tahu, jenderal model Benny itu agak sungkan kalau berhadapan dengan eksponen 45. Di hadapan Benny, Kiai Mahrus Ali ceplas-ceplos berkata: "Pak Jenderal, kami ini jangan disuruh KB. InsyaAllah keturunan kami ini baik-baik. Maling dan penjahat itu saja yang disuruh KB." Kiai Mahrus terkekeh. Benny manggut-manggut.

Gus Dur satu langkah berhasil merangkul Jenderal Benny, hingga Pak Harto mulai cemas. Bayangkan, di pertengahan 1980-an itu Ketua Umum PBNU dengan jutaan pengikut luntang lantung mesra dengan Panglima Angkatan Bersenjata. Apa jadinya jika dua kekuatan hijau ini bersatu? Tak berselang lama, Pak Harto mulai mempreteli kekuatan Benny dengan memberhentikannya sebagai Pangab medio 1987.

Strategi menaklukkan lawan dengan cara merangkul dan menjadikannya sahabat ini saya kira yang membuat Gus Dur punya informasi unlimited dari sumber A1. Dari mulut Benny, tampaknya, Gus Dur banyak memperoleh info soal jaringan katolik, peta kekuatan internal militer dan kompetisi jenderal hijau vs merah putih. Soal tragedi pembantaian guru ngaji di Banyuwangi, 1998-1999, Gus Dur dengan lantang menyebutnya sebagai operasi Nagahijau. Kemungkinan besar infonya datang dari Benny atau jaringannya.

Karena telah mengetahui jerohan militer melalui Benny, maka ketika Gus Dur menjadi presiden beliau dengan taktis mendorong supremasi sipil dengan mengembalikan militer ke barak dan merealisasi tahap pemisahan TNI dan Polri. Di era presiden Gus Dur pula, beliau berusaha menghentikan kompetisi jenderal merah putih vs jenderal hijau dengan mengangkat jenderal bersih dan netral bernama Agus Wirahadikusumah sebagai Pangkostrad, meski akhirnya jenderal ini meninggal di Makkah, menyusuh kematian Jaksa Agung bersih bernama Baharuddin Lopa di kota yang sama.

Bagaimana langkah Gus Dur bermain di badan intelijen? Pertama merombak tatanannya dan namanya, kedua, menyingkirkan pengaruh intelijen didikan dan titipan Orde Baru serta menempatkan Brigjend Arie J. Kumaat, sosok yang lumayan bersih, sebagai pimpinan lembaga intelijen yang baru.
Hanya Polri yang ruwet ditata. Silahkan cek riyawat bagaimana alotnya Gus Dur merombak pucuk pimpinan Polri hingga dimainkan oleh DPR sebagai dayatawar politik dengan pion bernama S. Bimantara.

Strategi menaklukkan lawan dengan cara menjadikannya sahabat sebelumnya juga dilakukan Gus Dur dengan membawa Mbak Tutut keliling Jawa, 1996-an. Ini langkah taktis memomong anak untuk menaklukkan hati bapak. Pak Harto yang pada Muktamar Cipasung, 1994, ingin menyingkirkan Gus Dur dan menjinakkan NU tapi gagal kemudian mulai melunak dan mau menerima kepengurusan PBNU di bawah kepemimpinan Gus Dur.

Yang luar biasa, di saat yang lain mencaci maki Pak Harto manakala ia jatuh, dan semua penjilatnya menjauhinya, Gus Dur lah yang menemani hari-hari pilu tersebut. Gus Dur bukan menghibur, Gus Dur hanya berusaha menegakkan kepercayaan diri Pak Harto sebagai manusia Jawa, manusia Indonesia.

Lalu bagaimana dengan strategi "mengetahui kekuatan lawan bukan dari desas-desus, melainkan langsung masuk ke sarangnya." Coba, silahkan lihat keterlibatan Gus Dur sebagai anggota Shimon Peres Institute, Israel. Anggota lembaga ini banyak: dari cendekiawan, anggota Knesset (parlemen Israel), jenderal, hingga mereka yang punya jaringan di AIPAC (itu lhooo, komite lobi Zionis di AS).

Lha, dalam hal ini, saya malah membayangkan Gus Dur masuk ke benteng musuh dengan santai, disambut jabat tangan lawan, dan dengan santai Gus Dur sibuk memetakan kekuatan lawan sambil menyeruput kopi. Kabarnya, saat berkunjung ke Israel, Gus Dur ditemui Ehud Barak, PM Israel. Jagal rakyat Palestina selain Ariel Sharon dan Ben Netanyahu itu bertanya, "Bagaimana cara ampuh menghentikan perlawanan rakyat Palestina.
Tuan punya saran?"

"Gampang, Tuan Barak. Kembalikan kemerdekaan mereka. Selesai sudah!" jawab Gus Dur santai. [dutaislam.com/ed/pin]

Sumber : dutaislam.com
Saat Dilantik Jadi Presiden, Isi Dompet  Gus Dur Hanya Rp 10.000

Saat Dilantik Jadi Presiden, Isi Dompet Gus Dur Hanya Rp 10.000


Presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ternyata hanya membawa uang Rp 10.000 saat memasuki Istana Kepresidenan setelah dilantik menjadi presiden pada Oktober 1999. Gus Dur juga sama sekali tidak mempersiapkan diri menjadi presiden.

Hal tersebut disampaikan mantan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Bondan Gunawan, dalam haul KH Abdurrahman Wahid dengan tema "Gus Dur Sebagai Aktivis" yang diselenggarakan MMD Initiative di Jakarta, Rabu (11/1) malam.
Menurut Bondan, anggapan sejumlah pihak bahwa Gus Dur sejak lama menyiapkan diri sebagai presiden adalah keliru.

“Banyak orang selalu ngomong bahwa Gus Dur menyiapkan diri sebagai presiden. Gus Dur menyerahkan segala berkas untuk jadi anggota MPR itu jam 12 malam, surat keterangan kelakuan baik jam 4 pagi. Jadi kalau ada orang ngomong Gus Dur ingin jadi presiden, itu keliru,” kata Bondan.

Pada kesempatan itu, Bondan juga mengungkapkan bahwa Gus Dur hanya membawa uang Rp 10.000 ketika masuk Istana Kepresidenan. “Mungkin bapak-ibu enggak percaya, Gus Dur masuk Istana, uang yang ada di dompet Gus Dur itu hanya Rp 10.000, mungkin presiden termelarat di dunia,” ungkapnya.

Lebih jauh dikatakan, Gus Dur merupakan tokoh yang tak ada duanya. “Betapa beliau punya visi ke depan tanpa harus berbelit-belit,” ucapnya.
Pada kesempatan yang sama, peneliti CSIS, J Kristiadi mengatakan pikiran-pikiran Gus Dur sangat relevan dan mendalam. “Salah satu bukunya mengatakan kenapa Gus Dur sangat tidak setuju Islamisasi negara, karena itu artinya menyekulerkan Islam. Ini sangat dalam artinya,” kata Kristiadi.

Dia menyatakan Gus Dur mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, kesetaraan, demokrasi dan sebagainya. “Bagi saya sekarang bagaimana mengembalikan kepercayaan kepada struktur kekuasaan yang bagi Gus Dur penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan, demokrasi, itu saja,” ujarnya.[beritasatu.com]

Sumber : muslimoderat.net
Gus Dur: Politik itu Seni Tipu-tipu

Gus Dur: Politik itu Seni Tipu-tipu


POLITIK ITU SENI. ADA SENIMAN HEBAT, ADA SENIMAN CÊKÈTHÈR
Ini sudah pernah saya tulis di Terong Gosong duluuu sekali. Saat ini kayaknya ada momentum yang sesuai, tapi rasanya malas mendukiri timbunan terong gosong yang sudah menggunung gitu. Enakan saya tulis ulang saja.

Otto Eduard Leopold, Pangeran Bismarck, Bangsawan dari Lauenburg, belakangan terkenal sebagai Otto von Bismarck, seorang negarawan Prussia (Jerman lama), mengatakan bahwa politik adalah seni tentang apa yang mungkin (dicapai), "Politics is the art of the possible".

Suatu hari kondisi kesehatan Gus Dur anjlog. Dokter-dokter ribut hendak membawanya ke rumah sakit, tapi beliau ngotot nggak mau. Dibujuk, dirayu, digrênjik-grênjik, beliau malah tambah keras menolak. Sampai kemudian fisiknya sendiri yang menyerah dan beliau pun pingsan. Barulah orang-orang bisa menggotongnya kedalam ambulan untuk dilarikan ke rumah sakit.

Setelah beberapa hari, kondisi kesehatan beliau berhasil dipulihkan. Dokter bilang, beliau sudah boleh pulang. Tapi saat orang-orang hendak berkemas, Gus Dur melarang.

"Aku mau di sini saja!" katanya.
Nyai Sholihah Yusuf, sepupu beliau yang adalah ibundanya Saifullah Yusuf, jadi bingung,
"Yak apa sé, Dik? Sampeyan kemaren sakit nggak mau dibawa ke rumah sakit. Sekarang di rumah sakit sudah sembuh, malah nggak mau pulang".
"Wingi iko aku loro api-api waras. Saiki aku waras api-api loro", kemaren dulu itu aku sakit pura-pura sehat, sekarang aku sehat pura-pura sakit.
Sebelum itu, di Istana Negara, dalam satu pertemuan empat mata dengan Ketua Umum Partai Golkar --waktu itu, Akbar Tanjung-- Presiden Abdurrahman Wahid berkata,
"Politics is the art of deception", politik itu seni tipu-tipu.

Sumber : muslimoderat.net
Manusia dan Ingatan Panjang Unta

Manusia dan Ingatan Panjang Unta


Sore itu Gus Dur terlihat bercengerama dengan beberapa tamu penting yang menemuinya di kediamannya di Ciganjur Jakarta Selatan.

Meskipun tamu yang menemuinya adalah orang penting, Gus Dur tidak pernah membedakan secara pelayanan. Semua tamu dari berbagai latar belakang ditemui dan dijamunya secara terhormat.

Tidak lupa, Gus Dur selalu membumbui setiap obrolannya dengan menyajikan humor-humor segar untuk mencairkan suasana menjadi lebih akrab dan hangat.

Pada kesempatan tersebut Gus Dur bercerita tentang hewan unta. Hewan yang banyak hidup di tanah Arab ini menurut Gus Dur termasuk hewan yang panjang ingatan tapi mempunyai sikap pendendam.

“Panjang ingatan unta bisa sampai berapa lama Gus?” tanya salah seorang tamu polos.

“Bisa sampai 10 tahun,” jawab Gus Dur.

“Luar biasa hewan ini. Mungkin pengaruh panjangnya perjalanan yang mereka sering lakukan di gurun,” tukas tamu lain menanggapi.

“Bisa jadi,” Gus Dur diplomatis.

Gus Dur melanjutkan ceritanya, bila ada seseorang yang memukul unta itu, maka dia akan membalasnya pada kesempatan lain.

“Walaupun kejadiannya sudah 10 tahun,” sambung Gus Dur.

“Jadi kalau ada manusia yang tidak mau akur dan pendendam setelah 10 tahun berkonflik, maka ia bukan manusia, tapi unta,” seloroh Gus Dur disambut gerrr tawa para tamunya. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Kyai Amin Cirebon Tak Mempan Dibom Belanda

Kyai Amin Cirebon Tak Mempan Dibom Belanda


 Kiai NU lain yang juga dikenal memiliki karomah adalah Kiai Amin bin Irsyad atau lebih akrab dikenal sebagai Kiai Amin Sepuh. Lahir pada hari Jumat, 24 Dzulhijjah 1300 H, bertepatan dengan tahun 1879 M, di Mijahan Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. Konon Kiai Amin termasuk ahlul bait, dari silsilah Syech Syarif Hidayatullah.

Selain belajar ilmu agama, beliau juga belajar ilmu kanuragan dari bapaknya sendiri, Kiai Irsyad yang wafat di Mekkah. Kemudian, setelah dirasa cukup menguasai dasar-dasar ilmu agama dan ilmu kanuragan dari sang ayah, beliau dipindahkan ke pesantren Sukasari, Plered, Cirebon di bawah asuhan Kiai Nasuha.

Setelah itu dia pindah ke pesantren di Jatisari di bawah bimbingan Kiai Hasan. Kemudian belajar ke Pesantren Kaliwungu Kendal, ke Pesantren Mangkang Semarang, ke Pesantren Bangkalan Madura di bawah asuhan Kiai Cholil. Di Bangkalan dia di bawah bimbingan Kiai Hasyim Asyari, yang mana pada waktu itu Kiai Hasyim masih tahassus (menyimak dan menggali pemikiran) kepada Kiai Cholil. .
Ketika Kiai Hasyim pulang dan mengajar ke Tebuireng, Kiai Amin pun ikut bertahassus ke sana. Selanjutnya Kiai Amin belajar ke Mekkah. Berikutnya Kiai Amin menimba ilmu kepada Kiai Ismail bin Nawawi di Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon. Setelah menyelesaikan tahassus, kemudian dinikahkan dengan keponakan Kiai Ismail. sepeninggal Kiai Ismail, Kiai Amin lalu meneruskan mengajar di pesantren. Pada masa penjajahan, pesantren selalu menjadi basis perlawanan.

Selain dikenal sebagai ulama, Kiai Amin juga dikenal sebagai pendekar yang menguasai ilmu bela diri dan kanuragan. Ada kisah di kalagan warga Ciwaringin, dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Kiai Amin dan ulama lain di Cirebon ikut mengirim laskar ke Surabaya. Bahkan Kiai Amin sendiri ikut berangkat serta turut mengusahakan pendanaan untuk biaya keberangkatan. .
Kiai Amin ini bagi warga Nahdliyin sangat legendaris. Konon dalam perang di Surabaya itu dia tidak mempan senjata maupun peluru saat bertempur. Bahkan, dia juga dikabarkan tidak mati meskipun dilempari bom sebanyak 8 kali.

Sumber : muslimoderat.net
Kisah Kyai Muslim Rifa'i Imampuro (Mbah Lim)  Dibentak Sunan Kudus

Kisah Kyai Muslim Rifa'i Imampuro (Mbah Lim) Dibentak Sunan Kudus


Kisah Kyai Muslim Rifa'i Imampuro (Mbah Lim) Dibentak Sunan Kudus

Menjelang Muktamar NU ke-28, 1989, Mbah Lim (Kyai Muslim Riva’i Imampuro) rahimahullah mementingkan berkeliling Nusantara untuk berziarah kepada para wali, baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup, untuk bertawassul dan beristighotsah, merengek kepada mereka agar memohonkan kepada Allah perlindungan dan pertolongan bagi Bangsa Indonesia dan Nahdlatul Ulama.

Begitu masuk Kudus, Mbah Lim langsung menghadiahkan Fatihah kepada Syaikh Ja’far Shodiq, Sang Sunan. Terus-menerus ia menjaga sikap ta’dhim, lebih-lebih ketika mulai mendekati pesarean.
Tepat saat kakinya melangkahi pintu makam, Mbah Lim mendadak terperanjat hingga jatuh terduduk. Wajahnya pucat-pasi, kelihatan ketakutan sekali! Lalu sambil merunduk-runduk berjalan mundur menjauh, tidak jadi sowan Kanjeng Sunan.

Santri pendhereknya pun terheran-heran, “Ada apa, Mbah?” Mbah Lim masih gemetaran, “Aku dimarahi…” Dan ia pun bercerita, betapa saat melangkahi pintu tadi, tiba-tiba sebuah suara membentaknya keras sekali, “Ngapain kesini?!! Kau kira aku nggak ikut mikir dari kemaren-kemaren?!!!”
 _______
Catatan tentang sumber cerita:
Dari Kudus itu Mbah Lim langsung menuju Rembang dan di rumah Gus Mus bertemu dengan Gus Dur yang datang dari arah lain. Saya mendengar mereka membicarakan pengalaman Mbah Lim ini.

Sumber : muslimoderat.net
Kyai Lirboyo : TNI Jangan Hanya Perintahkan Nonton Film PKI , Tapi Juga Film Sang Kiai

Kyai Lirboyo : TNI Jangan Hanya Perintahkan Nonton Film PKI , Tapi Juga Film Sang Kiai


Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, KH Abdul Muid mengatakan pemutaran film Penumpasan Pengkhianatan G30 S PKI telah terlaksana di berbagai daerah. Namun, Kyai Muid berharap Tentara Nasional Indonesia juga mewajibkan nonton bareng film Sang Kiai. “Putar Sang Kiai juga dong,” kata Kyai Muid, Selasa 26 September 2017.

Sang Kiai yang dirilis pada 2013  mengangkat kisah seorang pejuang kemerdekaan sekaligus  pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asyari. Film ini dibintangi oleh Ikranagara, Christine Hakim, Agus Kuncoro dam Adipati Dolken.


Menurut dia pemutaran film-film bertema perjuangan penting untuk membangkitkan kembali rasa nasionalisme dan patriotisme. Karena itu  Sang Kiai, menurut Kyai Muid, layak untuk digaungkan kembali sebagai refleksi perjuangan pesantren di era kemerdekaan. Masyarakat, terutama warga nahdliyin, perlu mengingat perjuangan pendahulu mereka untuk menumbuhkan rasa percaya diri. “Pesantren sekarang harus lebih maju," ujar dia.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Kediri Kyai Abu Bakar Abdul Djalil tak mempersoalkan pemutaran Sang Kiai. Dia menilai Sang Kiai layak untuk membangkitkan kembali semangat nasionalisme warga Kediri. “Tidak masalah, bagus itu,” katanya.

Dalam sejarah penumpasan PKI,  Pesantren Lirboyo boleh dibilang berada di garda  depan dengan dukungan TNI. Ketua Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (Gasmi) yang juga pengasuh Pondok Lirboyo, Zainal Abidin, menuturkan salah satu pengasuh pondok, almarhum Kiai Mahrus Aly, ikut berperan dalam pengiriman 97 santri pilihan untuk turut melawan pasukan sekutu di Surabaya.

Peristiwa itu dikenal dengan perang 10 November dan menjadi hari pahlawan yang diperingati hingga sekarang. Kiai Mahrus Aly juga tercatat sebagai inisiator berdirinya Kodam V/ Brawijaya serta terlibat dalam penumpasan PKI di wilayah Kediri Raya.[tempo.co/ed]

Sumber : muslimoderat.net
Inilah Ninja Pembantai Guru Ngaji NU Berdasar Temuan Tim Investigasi PWNU Jatim Tahun 1998

Inilah Ninja Pembantai Guru Ngaji NU Berdasar Temuan Tim Investigasi PWNU Jatim Tahun 1998


Tim Investigasi NU mengancam akan mengungkap hasil temuannya tentang pembunuhan massal di Jawa Timur di Mahkamah Internasional. Siapa saja yang terlibat konspirasi pembantaian itu?
KESABARAN selalu ada batasnya, tak terkecuali bagi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur. Batas waktu yang mereka tetapkan, akhir November lalu, tentang pengungkapan kasus pembantaian di Banyuwangi telah dilewati pemerintah.

Maka, Choirul Anam, Ketua Tim Investigasi NU, pun mengancam: “Jika tidak ada tindak lanjut, Pengurus Besar NU akan meneruskan kasus ini ke Mahkamah Internasional atau Amnesti Internasional.” Seperti Anda tahu, kedua lembaga internasional itu dikenal luas sangat memperhatikan soal-soal pelanggaran hak asasi manusia di negara mana saja.

Tim Investigasi NU telah bekerja berbulan-bulan untuk mengungkap konspirasi pembantaian berkedok isu dukun santet itu. Data dan fakta yang berhasil dikumpulkan bisa membuat bulu kuduk Anda berdiri, misalnya soal jumlah korban tewas yang sedikitnya 253 orang. Mereka dibantai di desadesa di tujuh kabupaten di Jawa Timur: Banyuwangi, Jember, Situbondo, Bondowoso, Pasuruan, Pamekasan, dan Sampang. Korban tewas terbanyak tentu saja di Banyuwangi: 148 orang.

Ada yang mati digantung atau dijerat, dibakar bersama rumahnya, dipukuli atau dibacok, dan yang paling banyak adalah dianiaya massa (lihat tabel III). Sebagian besar adalah kaum nahdliyin sendiri, di antaranya pengurus ranting NU, pengurus masjid, atau guru pelajaran mengaji.

Temuan penting lain adalah soal keterlibatan sejumlah pejabat setempat dalam pembunuhan berantai tersebut. Yang disebut-sebut dalam laporan Tim Investigasi NU itu antara lain tiga pejabat Banyuwangi: Bupati T. Purnomo Sidik, Komandan Komando Distrik Militer Letnan Kolonel Subiraharjo. dan Kepala Kepolisian Resor Letnan Kolonel Edy Moerdiono.

Salah satu bukti kuat yang ditemukan adalah kopi radiogram Pak Bupati yang ditujukan kepada para kepala desa, lewat camat-camat di wilayahnya, tertanggal 10 Februari 1998, bernomor 300/70/439.0131/ 1998. Instruksinya: mendata orang-orang yang diduga berpraktik sebagai dukun santet.

Tapi, menurut pengakuan Bupati Purnomo Sidik, radiogram itu dikeluarkannya 16 September 1998, saat ramai-ramainya pembantaian “dukun santet”. Tujuannya, kata Sidik, menyelamatkan para dukun santet itu dari amukan massa. Hasilnya, 118 orang tercatat dalam daftar dukun santet. Nah, dari jumlah itu, yang jadi korban amukan massa hanya delapan orang, itu pun karena tak mengindahkan anjuran aparat keamanan.

Tapi, bagi Tim Investigasi NU, daftar-yang entah mengapa jatuh ke tangan khala yak umum–itu justru merupakan pemicu gelombang pembantaian. Sebab, ada yang menafsirkan catatan itu sebagai “daftar target” pembunuhan. Yang jelas, “Setelah (data dan foto) itu beredar di masyarakat, korban baru bertambah banyak,” kata sumber D&R di NU Cabang Banyuwangi. Kebetulan atau tidak, hampir 70 persen korban pernbunuhan cocok dengan nama-nama yang ada di daftar tadi.
Fluktuasi jumlah korban juga baru melonjak selama Juli, Agustus, dan September: seratus orang lebih. Korbannya tak lagi sekadar orang-orang yang diduga berpraktik sebagai dukun santet, tapi juga sejumlah ulama setempat. Anehnya, para pelakunya juga bukan penduduk setempat, melainkan orang-orang berpakaian ala ninja yang heroperasi dengan rapi dan sistematis.

* Provokator Dimotori Preman
Kemunculan “pasukan ninja itu sempat disaksikan sejumlah saksi mata yang bercerita kepada Tim Investigasi NU. Bersamaan dengan itu, pola-pola pembantaian juga berubah drastis.
Dulu, putusan untuk mengeksekusi seorang dukun santet memerlukan waktu lama karena harus dimintakan knfirmasi dulu kepada warga setempat: apakah orang yang disasar itu memang mempraktikkan ilmu santet atau tidak. Jika yang mengiyakan hanya sepuluh orang, eksekusi tak jadi berlangsung. Namun, kalau sekitar 50 warga membenarkan, barulah eksekusi direncanakan. Biasanya, warga lalu keturunan untuk membayar algojo atau eksekusi dilakukan beramai-ramai.
Tapi, sejak Juli, dalam setiap aksi pembantaian muncul kelompok provakator yang tak dikenali warga setempat. Belakangan, Tim Investigasi NU berhasil mengidentifikasi para provokator itu, yang dimotori gerombolan preman dan bromocorah. Salah seorang yang pernah dituding Choirul Anam adalah Agus Indriawan, preman yang sehari-harinya berprofesi sebagai calo pengujian kendaraan bermotor di Kantor Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Banyuwangi.

Konon, Agus inilah yang bertugas merekrut para algojo–yang berasal tidak hanya dari Banyuwangi, tapi juga Surabaya dan sekitarnya. Kepada anak buahnya, Agus selalu menegaskan agar tak usah khawatir soal sepak-terjang mereka karena dijamin oleh seorang beking yang berdinas di Kesatuan Intelijen Pengamanan Politik Kepolisian Resor Banyuwangi.

Laporan Tim Investigasi NU menyebutkan rekrutmen komplotan Agus dilakukan secara terencana dan rahasia. Di Banyuwangi, misalnya, order pembunuhan diberikan seorang pengendara motor dalam sebuah amplop tertutup. Di dalam amplop sudah tertulis nama dan alamat lengkap calon korban, lengkap dengan uang senilai Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Di Jember, untuk memudahkan para algojo itu melaksanakan tugasnya, komplotan itu memberikan rambu khusus di sekitar rumah calon korban. Bila ada tanda panah merah, sang korban harus dibunuh.

Benar begitu? D&R yang berkali-kali mencari Agus tak berhasil menemuinya. Sejumlah calo di Kantor DLLAJ Banyuwangi yang ditanyai D&R soal keberadaan Agus juga tutup mulut.
Yang pasti, soal keterlibatan aparat polisi juga pernah diungkapkan Camat Purwoharjo, Banyuwangi, kepada tabloid Petisi terbitan Surabaya. Menurut Pak Camat Santoso, pada 11 Februari 1998 ada pertemuan kepala-kepala desa di wilayahnya dengan Wakil Kepala Kepolisian Sektor Purwoharjo. Pada pertemuan yang tanpa persetujuan camat tersebut, pejabat kepolisian itu meminta para kepala desa mendata tukang santet dan dukun pengobatan tradisional di daerahnya. Alasannya: untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan karena saat itu sudah terjadi peristiwa aksi massa yang mengadili dukun santet.

Ketika Pak Camat menanyakan soal instruksi pendataan itu, wakil kepala kepolisian sektor itu mengatakan semua itu perintah atasannya.

Siapa atasan yang dimaksud, tak jelas benar. Namun, Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur, Mayor Jenderal Mohamad Dayat, buru-buru membantah keterlibatan aparatnya. Ia juga menegaskan belum ada bukti-buki ada muatan politis di balik pembunuhan massal di Banyuwangi dan kabupaten lain. Jadi, semua kasus pembunuhan itu dinyatakan sebagai kasus kriminal murni.

* Cuma Menjerat Teri
Itu pula yang terlihat dari sidang-sidang di Pengadilan Negeri Banyuwangi, yang mengadili para terdakwa pembunuh dukun santet. Sampai saat ini, baru delapan terdakwa-tercakup dalam tiga berkas–yang dimeja hijaukan. Selain itu, ada enam berita acara pemeriksaan lagi yang sudah diselesaikan kejaksaan. Sisanya, 43 berita acara pemeriksaan lagi, sedang dalam proses penyusunan. Total jenderal terdakwa yang akan dimeja hijaukan berjumlah 173 orang.

Tapi, itulah, seperti telah diduga banyak orang, perkara ini diarahkan menjadi kasus kriminal biasa. Itu jelas terlihat dari sembilan berita acara pemeriksaan yang sudah diselesaikan jaksa: enam menyangkut delik pembunuhan dan tiga yang lain mengenai penggunaan senjata tajam.
Para terdakwanya juga cuma orang-orang awam yang bisa jadi sekadar ikut-ikutan atau malah tak tahu apa-apa. Contohnya Sulhadi, warga Desa Parijatah Wetan, Kecamatan Srono. Suatu hari, pertengahan September lalu, sopir truk itu dicegat ratusan orang ketika akan mengambil gabah. Ia dipaksa mengantarkan massa yang memburu seorang dukun santet di desa tetangga. Untuk jasa mengantar massa itu, Sulhadi diberi uang Rp 15 ribu.

Sebulan kemudian, Sulhadi dicokok polisi di rumahnya. Lalu, ia diperiksa sebagai tersangka pembunuhan. Truknya juga disita sebagai barang bukti. Anehnya, kata Sulhadi, “Orang-orang yang menumpang truk saya tak satu pun yang ditangkap sampai sekarang.”
Jaksa juga tak memilah atau mengategorisasi para terdakwa. Padahal, saat pemeriksaan polisi, pemilahan itu sempat diungkapkan. Misalnya, ada yang dikategorikan sebagai penggalang dana, aktor intelektual, dan penggerak lapangan.

Sementara ini, semua terdakwa dijerat dengan pasal-pasal kriminal. Kaderi dan kawan-kawan, misalnya, ditembak dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. Dalam dakwaan jaksa tak satu pun kalimat atau bukb yang menyebut-nyebut keberadaan pasukan ninja yang diyakini banyak orang sebagai dalang dan penggerak aksi pembunuhan berantai di Banyuwangi dan sekitarnya.

Padahal, seperti dikatakan Choirul Anam, pasukan ninja itu memang benar ada. Buktinya, Tim Investigasi NU Jawa Timur berhasil menangkap basah tujuh anggota pasukan ninja itu. Dari mereka berhasil dikorek informasi penting mengenai aksi-aksi pembantaian yang terjadi di Banyuwangi, Jember, dan Probolinggo. Malah, ada yang menyebutkan siapa yang membayar dan menggerakkan aksi pembantaian yang menewaskan ratusan nyawa di wilayah itu.

Dalam persidangan pun, sebenarnya, sempat diungkap keterlibatan aparat pemerintah. Misalnya, Misadi dan Kacong–terdakwa dalam kasus percobaan pembunuhan Mateha, 80 tahun, warga Desa Banjarsari, Kecamatan Glagah–mengaku diperintah Lurah Banjarsari, Ir. Adiyat. Rencana pembunuhan tersebut juga sudah sepengetahuan petugas Komando Rayon Militer Glagah bernama Slamet. Tapi, entah mengapa, pengakuan itu tidak ditindaklanjuti dengan memanggil Pak Kepala Desa dal petugas komando rayon
militer tadi.

Bukti-bukti itu diperkuat sejumlah peralatan operasi, seperti pedang bermata naga, topeng, dan pakaian hitam-hitam yang ditemukan Tim Invesbgasi NU. Lalu, peralatan operasi itu dipotret bersama pemiliknya. Hanya, Anam belum mau mengungkap data-data tersebut, termasuk kepada aparat keamanan. “Kami baru mau menyerahkannya kalau ada jaminan perkara ini aknn diusut dengan sungguh-sungguh,” kata Anam tegas.

Selain temuan di atas, Pos Komando Kewaspadaan NU Jawa Timur juga terus mencatat laporan masyarakat tentang pasukan ninja. Pekan lalu, misalnya, ada sekitar delapan laporan yang masuk: dua dari Gresik, lima dari Surabaya, dan satu dari Sidoarjo.

Salah satu laporan menyebutkan warga Rungkut, Surabaya, menangkap seorang yang mencurigakan pada dini hari, 29 Oktober lalu. Orang tak dikenal itu turun dari taksi dan langsung memasuki teras rumah seorang warga setempat. Karena gerak-geriknya mencurigakan, penduduk yang sedang ronda malam langsung meringkusnya, lantas dibawa ke Kantor Pengurus Wilayah NU Jawa Timur.

Di sana, orang itu diinterogasi. Beberapa jam kemudian diketahui orang misterius itu anggota Garnisun Surabaya berpangkat sersan. Alasan kedatangannya ke Rungkut adalah untuk menagih utang. Tapi, setelah dicek ke Garnisun Surabaya, sang sersan disebutkan sedang stres. Tak lama kemudian, sersan itu dijemput komandannya. Dan, sepertijuga banyak kasus serupa lain, perkara sersan garnisun itu pun menjadi tak jelas.

Sikap aparat keamanan seperti itulah yang membuat para pengurus NU Jawa Timur kesal. “Gombal (kalau) masalah itu (dikatakan) selesai,” kata Anam. Maksudnya, pengungkapan kasus pembantaian itu hanya menjerat “teri”-nya, sedangkan “kakap”-nya masih bebas berkeliaran.

Padahal, kalau saja polisi mau, sebenarnya tak susah menuntaskan perkara berdarah itu. “Tak usah dengan data, analisis saja bisa,” tutur Kiai Hasyim Muzadi, Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur.
Soalnya, niat mengungkap perkara hingga tuntas itulah yang tampaknya tak dipunyai aparat keamanan. Karena itu, ada baiknya Tim Investigasi NU membuka lebar-lebar data dan fakta yang ditemukannya agar semuanya menjadi jelas dan terang. Lalu, biarlah publik yang menilai kebenarannya.

Imran Hasibuan Laporan Suma Atmaja (Banyuwangi) dan Abdul Manan (Surabaya)

Sumber: Majalah D&R, Edisi 981212-017/Hal. 47 Rubrik Hukum Tahun 1998

Sumber : muslimoderat.net
Tanpa Minta Perhatian Publik, Inilah Jihad Nyata NU di Tolikara dan Rohingya

Tanpa Minta Perhatian Publik, Inilah Jihad Nyata NU di Tolikara dan Rohingya


Oleh Rijal Mumazziq Z

 Ketika Masjid di Tolikara, Papua, dibakar, pada Idul Fitri 2015, sebagian umat Islam marah. Sebagian kecil meneriakkan jihad. Suaranya lantang, intimidatif. Saya menyangka, saudara-saudara kita ini berangkat beneran ke Tolikara. Tapi, ya seperti biasanya, hanya "akan berjihad" sebagaimana "akan" dan "akan" yang sudah sejak dulu disuarakan saat demo.

Lalu Banser yang saat itu dihujat karena enggak bersuara, dan disindir karena aktivitasnya "menjaga gereja" diam-diam berangkat dengan 23 personel menjelang Idul Adha, 2015 silam. Sebelum berangkat, mereka mengikuti pembacaan manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Maulid Simtudduror di rumah Nusron Wahid, Ketum GP Ansor saat itu.

Setelah acara usai, rombongan ini berziarah ke makam Habib Husein bin Abu Bakar bin Abdillah Luar Batang. Tanpa disengaja, di lokasi ini mereka bertemu Habib Lutfi bin Yahya, Rais Aam Jamiyyah Ahlit Thariqah al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah. Mereka pun minta restu kepada ulama nasionalis ini.

Utusan PBNU ini tiba di Bandara Sentani, lalu berangkat ke lokasi dengan didampingi Banser setempat. Lalu tim menuju Bandara Wamena yang dilanjutkan perjalanan darat ke Tolikara.

Di lokasi, sebagaimana laporan AULA November 2015, mereka disambut Muspida setempat dan imam Masjid Tolikara, Kiai Ali Mashar. Persiapan shalat Idul Adha segera dilakukan di masjid Koramil. Para pemuda GIDI (Gereja Injili di Indonesia) yang ditengarai beberapa minggu sebelumnya terlibat pembakaran masjid, mereka malah mendekat dan ikut membantu Banser menjaga keberlangsungan Idul Adha.

Singkat kata, dengan pendekatan yang baik, metode penyelesaian masalah tanpa menimbulkan masalah, kasus Tolikara tidak membesar menjadi kerusuhan suku dan agama. Jika ini terjadi, dampaknya mengerikan: pialang senjata yang menawarkan solusi praktis, calo pemekaran wilayah, permainan isu Papua Merdeka melalui OPM, dan internasionalisasi Papua. Kalau Papua lepas, bukan tidak mungkin jika provinsi lain dikipas-kipasi untuk melepaskan diri dari NKRI.

Kini, soal Rohingya, PBNU memberangkatkan delegasi ke Bangladesh. Keberangkatan Tim Delegasi Nahdlatul Ulama untuk Rohingya dilaksanakan atas bantuan seluruh komponen NU melalui NU Peduli Rohingya. Mereka berangkat dari bandara Sukarno-Hatta Sabtu kemarin. Di negara itu mereka bergabung dengan AKIM (Aliansi Kemanusiaan Indonesia Untuk Myanmar).

Delegasi NU yang dikirim ke Bangladesh dibagi menjadi tiga tim. Pertama, tim advance yang bertugas mengecek keadaan yang ada di lapangan. Kedua, tim medis yang bertugas untuk memberikan pengobatan kepada pengungsi. Dan terakhir, tim relief yang bertindak mempersiapkan dan menyalurkan bantuan

Permasalahan Rohingya memang pelik. Terkait dengan pemicunya: agama, sentimen etnis, hingga konspirasi penguasaan Sumberdaya Alam, peristiwa terusirnya etnis Rohingya memang menjadi keprihatinan kita. Dan, ketika ikut andil membantu mereka, sebagai umat Islam maupun bangsa Indonesia, tentu harus dilakukan dengan cara yang tepat.

Kalaupun mau berjihad, oke, silakan berangkat. Tapi kemampuan personel, kemampuan survival, penguasan medan, taktik, pola komunikasi, serta hirarki kemiliteran serta komando lapangan, juga harus dikuasai dengan baik. Jika tidak, itu namanya setor nyawa dengan konyol dan menyediakan diri sebagai sasaran tembak gratisan bagi serdadu Myanmar. Kalau hanya koar-koar jihad, semua juga bisa. Tapi menyelesaikan masalah dengan baik, tidak semua bisa.

Di sinilah perlu pikiran jangka panjang, strategi yang baik serta pemanfaatan jaringan yang dimiliki. Kalau anda benci Jokowi, itu urusan anda. Tapi langkah menteri luar negeri kabinet Jokowi, Retno Marsudi, yang mewakili RI pantas diacungi jempol. Dia dengan lincah melakukan lobi tingkat tinggi: bertemu Aung San Suukyi dan menyodorkan tawaran formula 4+1 untuk menyelesaikan masalah Rohingya, lalu menjumpai Syaikh Hasina, PM Bangladesh, sekaligus juga mengomunikasikan jalur laut-darat-udara bagi akses bantuan Indonesia via Bangladesh. Tak hanya itu, mantan Sekjend PBB, Kofi Annan, juga mempercayakan komunikasi internasionalnya melalui Retno Marsudi. Termasuk pula Antonio Guterez, sekjend PBB saat ini.

Langkah Pemerintah RI sampai hari ini pantas diacungi jempol. Sebab, selain bantuan diplomasi, RI juga mengirimkan bantuan bagi pengungsi melalui darat dan udara. Setidaknya, ikhtiar pemerintah harus diacungi jempol, bukan malah dinyinyiri sebagai "pencitraan".

Untuk saat ini, mencari seorang jagoan itu mudah, tapi mencari juru damai, bukan perkara enteng, sebab berjihad dengan mengobarkan peperangan (qital) itu sangat mudah, tapi berjihad mewujudkan perdamaian itu sangat sulit.

Wallahu A'lam Bisshawab


Penulis adalah dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Sumber : muslimoderat.net
Quraish Shihab: PKI Sudah tak ada, tapi....

Quraish Shihab: PKI Sudah tak ada, tapi....


Cendekiawan Muslim, Quraish Shihab menyebut jika Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah seorang setan yang keberadaannya ada di mana-mana. Hal itu disampaikan dia saat menghadiri acara hari lahir Jendral (Purn) Awaluddin Djamin yang ke-90 di hotel The Dharmawangsa, Jakarta Selatan.

"Sekarang saya tidak menduga mereka punya kekuatan ya, pasti di mana-mana ada sih, setan di mana-mana ada, tapi apakah itu sedemikian besar, sedemikian ini saya juga tidak. Bangsa Indonesia sudah cukup dewasa untuk mengenal," kata Shihab di hotel The Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Selasa (26/9).

Menurutnya, saat ini PKI hadir atau kembali lagi tidak menggunakan tenaga atau senjata, tapi melainkan hanya dengan cara menyebarkan paham-paham PKI terhadap masyarakat luas saja.

"Sebagai kekuatan saya kira tidak, tapi kalau ada orang yang menganut paham itu sekarang, di mana-mana bisa ada di Amerika pun ada," ujarnya.

Mantan Menteri Agama itu menegaskan, jika PKI itu bukan merupakan suatu partai. Dia pun memastikan bahwa partai PKI itu tidak ada, karena memang partai tersebut terlarang dan memang sudah dilarang oleh pemerintah Indonesia.

"Partai jelas tidak ada, partai terlarang, partai terlarang tidak mungkin ada ya kan. Jadi kalau ada orang-orang yang menganut paham itu, ada orang yang dendam ya pasti ada dong," tegasnya.

Shihab pun tidak ingin jika masyarakat Indonesia harus menghabiskan tenaganya untuk menghadapi 'hantu' PKI. Namun masyarakat tetap harus waspada, meskipun adanya ancaman dari PKI yang dianggapnya tidak terlalu serius.

"Tapi apa mereka punya kekuatan, apakah kita harus menghabiskan energi kita untuk menghadapi itu, saya kira tidak harus, tapi kita harus tetap waspada. Bukan ancaman yang serius lah," tandasnya. [ded/merdeka.com]

Sumber : muslimoderat.net
Langkah Cerdik Gusdur Mempreteli Kekuatan Soeharto, Dengan Strategi Sun Tzu

Langkah Cerdik Gusdur Mempreteli Kekuatan Soeharto, Dengan Strategi Sun Tzu


Pak Harto itu cerdik, pandai memanfaatkan momentum untuk mengamankan kekuasaannya. Saat butuh pasukan gerak cepat yang taktis menumpas PKI, ia merangkul RPKAD (Kopassus) dan mengelus-elus Sarwo Edhie Wibowo. Lagipula, Sarwo Edhie ini kader tulen Jenderal Ahmad Yani, selain masih satu daerah dengan jenderal itu. Tepatnya, Pak Harto memanfaatkan singa yang dipenuhi amarah untuk memburu gerombolan serigala. Hanya saja popularitas mertua SBY yang melejit di mata mahasiswa dan rakyat yang membuat Pak Harto cemburu, lalu menyingkirkan Sarwo dengan menempatkannya sebagai Pangdam Bukit Barisan kemudian Pangdam Cenderawasih. Tak ada matahari kembar, demikian taktik Pak Harto.

Kodam V Brawijaya, Kodam Diponegoro, Kodam Jaya, RPKAD dan Kostrad sudah ada di bawah kendali totalnya. Hanya saja masih ada Kodam Siliwangi yang dianggap masih "Soekarnois" karena Jenderal Ibrahim Adjie masih di sana. Ibrahim Adjie, yang berhasil mencegah pembantaian besar-besaran terhadap PKI di Jawa Barat, diganti dengan Mayjend HR Dharsono. Dharsono yang ternyata loyal dan hormat terhadap Jenderal Nasution ini kemudian disingkirkan dengan cara dijadikan duta besar di Thailand.

Penyingkiran juga menimpa Pangkostrad Kemal Idris. Idris yang menjadi suksesor Umar Wirahadikusumah ini didutabesarkan di Yugoslavia. Maklum, otak Idris yang idealis ditambah dengan lidahnya yang ceplas-ceplos membuat Pak Harto risih. Idris pula yang kemudian bergabung di Petisi 50 bersama purnawirawan lain yang gerah terhadap polah tingkah Pak Harto saat mulai melenceng.

Sukses menyingkirkan Sarwo Edhie, Adji, Dharsono, dan Kemal Idris (ada pula Hario Kecik, jenderal Sukarnois yang memilih menjadi eksil), Pak Harto merangkul kader kesayangannya yang lain, LB Moerdani.

Ini anggota parakomando yang brilian saat Operasi Mandala dan tugas tempur saat konfrontasi di Malaysia. Benny direkut bersamaan dengan Ali Moertopo dan Sudomo. Pendelegasian tugas dilaksanakan ketiganya dengan senang hati. Ini three musketeers penyangga kekuasaan Pak Harto sejak 1970-an hingga (pertengahan) 1980-an. Adapula Sujono Humardani (mertua Fauzi Bowo) yang lebih lihai bermain di balik layar.

Setelah Ali Moertopo meninggal (jelang pertengahan 1980-an), pijakan kaki kekuasan Orba mulai rapuh. Apalagi setelah peristiwa Tanjung Priok, Gus Dur bermanuver mengacaukan konfigurasi kekuatan Orba dengan mengajak LB Moerdani, jenderal Katolik itu, keluar masuk pesantren. Ini langkah edan! LB Moedani, yang dianggap bertanggungjawab atas peristiwa Tanjung Priok, oleh Gus Dur, malah diperkenalkan kepada para kiai. Gus Dur, Ketua Umum PBNU, berusaha menunjukkan bahwa santri bisa dilibatkan dalam proses kenegaraan. Lagipula, militer yang masih kokoh perlu dilunakkan dengan pendekatan ala santri. Gus Dur dan Benny Moerdani, saya kira, saling memanfaatkan posisi masing-masing di era pertengahan 1980-an. "Bila belum bisa mengalahkan musuh, rangkul dia!" Ini tampaknya doktrin strategi Sun Tzu yang diterapkan Gus Dur sejak menjadi Ketua PBNU, 1984 hingga 1999, khususnya manakala bermain-main dengan militer.

Lagipula, akhir 1984 itu, NU juga baru menyetujui asas tunggal Pancasila. Pro kontra kedatangan LB Moerdani tak hanya terjadi di kalangan umat Islam sendiri yang masih panas pasca peristiwa Tanjung Priok, melainkan di internal NU juga heboh.

Melihat manuver kasat mata ini, Pak Harto khawatir akan adanya matahari selain dirinya. Lihatlah, Panglima ABRI yang terlihat rukun dengan Ketua PBNU. Apa jadinya bila kekuatan ini bersatu saling kait merobohkan kekuasaan? Puncaknya, Jenderal LB Moerdani, kader kesayangannya itu, diberhentikan sebagai Pangab ABRI. Pijakan kaki Pak Harto semakin rapuh. Gus Dur (ikut) mempreteli kekuasaan Pak Harto dengan halus. Akhirnya, Pak Harto merangkul elemen jenderal "hijau" (tak lagi jenderal 'merah putih'), dalam struktur ABRI demi mengamankan kekuasaannya.

Gus Dur lihai karena ia berani bermain di tempat paling berbahaya, sebagaimana doktrin Sun Tzu, "Tempat bersembunyi yang paling aman adalah di tempat yang berbahaya". Para kiai, yang masih trauma dengan militer semenjak Pemilu 1971, mulai diakrabkan kembali dengan tentara oleh Gus Dur. Melalui gaya yang khas dan penuh humor, beberapa kiai menyindir dan mengkritik kebijakan Pak Harto. KH. Mahrus Ali, Lirboyo, misalnya, saat menemui Jenderal LB Moerdani yang berkunjung di ndalemnya, beliau dengan nada berkelakar menyindir kebijakan KB.
"Jenderal, para kiai jangan disuruh ikut KB, karena keturunan kiai itu, InsyaAllah, baik-baik. Nah, maling-maling itu saja yang disuruh KB!"

***

WAllahu A'lam Bisshowab

Penulis : Rijal Mumazziq (Direktur Penerbit Imtiyaz)

Sumber : muslimoderat.net
Gus Mus Kecil dan Makrifatnya Mbah Marzuki Lirboyo

Gus Mus Kecil dan Makrifatnya Mbah Marzuki Lirboyo


Ada satu pengalaman menakjubkan saat KH Musthofa Bisri (Gus Mus) Rembang masih nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo. Pada saat itu pengasuhnya adalah KH. Marzuqi Dahlan. Inilah penuturan beliau:

"Waktu itu saya dan kawan-kawan sedang berkumpul merencanakan akan ‘ngambil’ tebu. Sebab saya dengar sebentar lagi tebu akan ditebang. Untuk itu bersama kawan-kawan, saya berencana mencuri beberapa lonjor tebu. Kami waktu itu telah bersiap-siap untuk menjalankan aksi.

Kebetulan, lokasi kamar Mars yang saya tempati itu dekat dengan ndalemnya (kediaman) Mbah Yai Marzuqi. Saya berjalan paling depan. Dan ketika saya lewat depan ndalem, tiba-tiba saya dipanggil oleh Mbah Yai Marzuqi: “Gus, Gus, mriki”, kata beliau yang dengan siapa saja selalu memakai bahasa Jawa kromo, meskipun kepada santrinya yang masih anak kecil.

Saya pada waktu itu baru saja lulus SR (Sekolah Rakyat, setara SD). Ternyata beliau benar-benar memanggil saya: “Mriki-mriki, Gus!” (Kesini Gus).

Panggilan beliau tentu membuat saya kaget, sebab bebarengan sekali dengan kegiatan saya yang akan ‘nyolong’ tebu bersama kawan-kawan. Saya lantas mendekat, lalu ditanya begini: “Gus, sampean doyan tebu?”

Kontan saja saya kaget bukan main. Saya keringetan pada waktu itu. Pertanyaan ini membuat saya terdiam dan takut. Saking takutnya, saya tidak bisa bergerak sama sekali. Sebab, sebelumnya saya tidak menyangka tiba-tiba beliau kok bertanya seperti itu. “Nanyanya kok pas sekali”, gumam saya dalam hati.

Beliau lalu menyuruh saya menunggu. Sebentar kemudian beliau keluar dari ndalemnya dengan memanggul seonggok lonjor tebu. Beliau bilang: “Niki sampean kula pilihaken sing apik-apik Gus.” (Ini untuk Anda saya pilihkan yang bagus-bagus Gus).

Setelah tebu itu diberikan kepada saya, beliau berkata: “Niki dipun bagi kalih rencang-rencang lintune nggih?” (Ini dibagi pada teman-teman yang lain ya?).

Setelah menyaksikan peristiwa itu, akhirnya saya dan kawan-kawan tidak jadi mencuri tebu. Saya jadi bertanya-tanya, kira-kira siapa ya orang yang telah membocorkan rencana itu? Padahal saat itu beliau kan tidak tahu rencana saya dan kawan-kawan.” Wallahu a’lam bish shawab. [dutaislam.com/gg]

Sumber : dutaislam.com
[Gus Mus] Amplop Abu-abu

[Gus Mus] Amplop Abu-abu


Kejadian ini mula-mula aku anggap biasa, tapi setelah berulang sampai lima-enam kali, aku jadi kepikiran. Sudah lima-enam kali kejadian itu, jadi sudah cukup alasan untuk tidak menganggapnya sesuatu yang kebetulan.Di bulan-bulan tertentu, sebagai mubalig, aku harus keliling ke daerah-daerah, memenuhi permintaan mengisi pengajian.
Bulan Muharram memberi pengajian dalam rangka memperingati Tahun Baru Hijriah. Bulan Mulud, Rabi’ul Awal, dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bulan Rajab, dalam rangka Israk Mikraj. Bulan Sya’ban,dalam rangka Haflah Akhir Sanah atau Ruwahan. Bulan Ramadan, dalamrangka Nuzulul Qur’an. Bulan Syawal dalam rangka Halal –bi-Halal.

Belum lagi pengajian-pengajian dalam rangka Walimah Perkawinan, Khitanan, dan lain sebagainya. Capek juga.

Kadang-kadang ingin sekali aku menghentikan kegiatan yang menguras energi ini. Bayangkan, seringkali aku harus menempuh jarak ratusan kilometer dan tidak jarang lokasi pengajian sulit ditempuh dengan kendaraan roda empat, hanya untuk berbicara sekitar satu jam. Kemudian setiap kali pulang larut malam, galibnya menjelang Subuh baru sampai rumah.

Tentu saja tak pernah ada yang menyambut kedatanganku, anak-isteri masih tidur.Kalau pengajian-pengajian itu jelas pengaruhnya pada jamaah sih tidak masalah. Ini tidak.

Pengajian-pengajian yang begitu intens dan begitu tinggi volumenya itu sepertinya hanya masuk kuping kanan dan langsungkeluar lagi dari kuping kiri.Tak membekas.

Buktinya mereka yang bakhil ya tetap bakhil, yang hatinya kejam ya tetap kejam, yang suka berkelahi dengan saudaranya ya masih tetap berkelahi, yang bebal terhadap penderitaan sesama juga tidak kunjung menjadi peka, yang suka menang-menanganya tidak insaf.

Pendek kata, seolah-olah tidak ada korelasi antara pengajian dengan mental mereka yang diberi pengajian. Kadang-kadang aku berpikir, apakah masyarakat kita ini suka pengajian hanya seperti hobi saja. Kelangenan.

Mungkin juga karena mubalig sering mengemukakan besarnya pahala mendatangi pengajian tanpa lebih jauh menjelaskan makna “menghadiri pengajian” itu.

Jadi, orang menghadiri pengajian “sekedar” cari pahala. Yang penting hadirnya, tak perduli hadir terus tidur, melamun, ngobrol sendiri, atau hanya menikmati kelucuan dan “keberanian” mubalignya.

Kok tidak ada ya yang mensurveikejadian ini, misalnya meneliti sejauh mana pengaruh ceramah agama terhadap perilaku masyarakat yang menerima ceramah, pengaruh positifnya apa, negatifnya apa, dan sejauh mana peranannya dalam memperbaiki mental masyarakat? Tapi baiklah.

Biarkan aku bercerita saja tentang penglamanku.

Mula-mula kejadian yang kualami aku anggap biasa. Tapi setelah berulang sampai lima-enam kali, aku jadi kepikiran. Biasanya setiap selesai memberi pengajian selalu saja aku harus melayani beberapa jama’ah yang ingin bersalaman denganku.

Pada saat seperti itu, sehabis memberi pengajian di satu desa, ada seseorang yang memberi salam tempel, bersalaman sambil menyelipkan amplop berisi ke tanganku.

Pertama aku tidak memperhatikan, bahkan aku anggap orang itu salah satu dari panitia. Setelah terjadi lagi di daerah lain yang jauh dari desa pertama, aku mulai memperhatikan wajah orang yang memberi salam temple itu.

Pada kali-kali lain setelah itu, di tempat-tempat yang berbeda dan berjauhan, kulihat memang yang memberi salam tempel orangnya yaitu-itu juga.

Orang yang selalu memakai baju hitam-hitam. Wajahnya yangbersih dan senyumnya yang misterius itu kemudian terus membayang.

Dia selalu hanya mengucapkan salam, tersenyum misterius, dan bersalaman sambil menyelipkan amplop. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Amplopnya selalu sama. Buatan sendiri dan berwarna abu-abu. Jenis warna kertas yang aku kira jarang ada di desa-sesa.Aku tak habis pikir, bagaimana orang itu bisa selalu ada dalam pengajian yang tempatnya berjauhan.

Aku bukanlah mubalig kondang yang setiap tampil di pengajian diberitakan pers. Bagaimana orang itu bisa hadir ketika aku mengisi pengajian di sebuah dusun terpencil di Jawa Timur dan hadir pula di pengajian yang dilaksanakan di sebuah desa di ujung barat Jawa Barat, lalu hadir pula ketika di luar Jawa?

Darimana dia mendapat informasi?

Atau dia selalu membuntutiku?

Tidak mungkin. Musykil sekali.

Setiap kali aku mendapat “amplop”, dari mana atau dari siapa saja, aku tidak pernah membukanya. Langsung aku berikan isteriku.

Aku tak ingin hatiku terpengaruh oleh isinya yang mungkin berbeda-beda satu dengan yang lain, lalu tumbuh penilaian berbeda terhadap pihak –pihak yang memberi amplop.

Apalagi jika kemudian membuatku senang dan selalu mengharap menerima amplop. Na’udzu billah. Namun setelah enam kali berjumpa dengan lelaki berpakaian hitam-hitam itu, tiba-tiba aku ingin sekali mengetahui isi amplop-amplopnya yang diselipkannya di tanganku setiap usai pengajian-pengajian itu.

“Bu, kau masih menyimpan amplop-amplop yang kuberikan kepadamu?” aku bertanya kepada isteriku.

“Sebagian masih” jawab isteriku, “sebagian sudah saya pakai mengamplopi sumbangan-sumbangan yang kita berikan kepada orang.”

“Coba kau bawa kemari semua!”

Isteriku memandangiku agak heran, tapi dia beranjak juga mengambil amplop-amplop bekas yang ia simpan rapi di lemari pakaiannya.

“Banyak juga,” pikirku sambil menerima segepok amplop yang disodorkan isteriku.

Isteriku memandangiku penuh tanda tanya saat aku mengacak-acak amplop-amplop itu seperti mencari sesuatu.

“Ini dia!” kataku, membuat isteriku tambah heran.

Aku menemukan amplop-amplop persegi empat berwarna abu-abu yang kucari, lima buah jumlahnya.

“Lho, yang seperti ini Cuma ini, Bu? Hanya lima?”

“Ya nggak tahu,” sahut isteriku.

“Memangya ada berapa? Setahuku ya cuma itu.

Aku tidak mengusutnya lebih lanjut, mungkin justru aku yang lupa menghitung pertemuanku dengan lelaki misterius itu, lima atau enam kali. Aku memperhatikan dengan cermat lima amplop abu-abu itu.

Ternyata di semua amplop itu terdapat tulisan berhuruf Arab kecil-kecil, singkat-singkat, dan masing-masing ada tertera tanggalnya.

“Ada apa, Pak?” Tanya isteriku tertarik sambil duduk di sampingku.

Aku tak menghiraukan pertanyaannya. Aku mencoba mengurutkan tanggal-tanggaldi lima amplop itu.

Kemudian membaca apa yang tertulisdi masing-masing amplop secara berurutan sesuai tanggalnya. Aku kaget. Semuanya justru nasihat untukku sebagai mubalig yang biasa mensihati orang.

Aku pun menyesal mengapa amplop-amplop itu tidak aku buka pada waktunya.Amplop pertama kubaca:

“ ‘Ud’uu ilaa sabiili Rabbika bilhikmati walmau’izhatil hasanah (Ajaklah orang ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat yang baik). Genuk, Semarang, 8 Juli 2001.

”Amplop kedua: “Sebelum Anda menasihati orang banyak, sudahkah Anda menasihati diri Anda sendiri? Cilegon, 11 Juli 2001.

”Amplop ketiga: “Amar makruf dan nahi munkar seharusnya disampaikan dengan cara yang makruf juga. Beji, Tuban, 10 September 2001.

”Amplop keempat: “Yasirruu walaa tu’assiruu! (Berikan yang mudah-mudah dan jangan mempersulit!). Duduk, Gresik, 4 Januari 2002.

Dan amplop kelima: “Ya ayyuhalladziinaaamanu lima taquuluuna malaa taf’aluun! (Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang kau sendiri tidak melakukannya?.Besar sekali kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan sesuatu yang kau sendiri tidak melakukannya!).Batanghari, Lampung Timur, 29 April 2002.

”Aku mencoba mengingat-ingat apa saja yang pernah aku ceramahkan di tempat-tempat di mana aku menerima amplop-amplop itu.

Ternyata aku tidak bisa mengingatnya. Bahkan aku tidak ingat apa saja yang aku bicarakan pada kesempatan-kesempatan lainnya.

Ternyata aku lupa semua yang pernah aku katakan sendiri.

Ah.Siapapun orang itu—atau jangan-jangan malaikat—aku merasa berutang budi. Sebagai mubalig, pekerjaanku hanya memberi nasihat.

Jadi memang jarang sekali aku mendengarkan nasihat.

Aku sungguh bersyukur ada yang menasihatiku dengan cara begitu, sehingga sebagai mubalig, aku tidak perlu kehilangan muka.

Aku jadi mengharap mudah-mudahan bisa bertemu lagi dengan lelaki berpakaian hitam-hitam dan berwajah bersih itu di pengajian-pengajian mendatang.

“Kau masih ingat isi dari amplop-amplop ini?” tanyaku pada isteriku yang masih seperti bingung memperhatikanku.

“Siapa yang tidak ingat isi amplop-amplop itu?
Kalau yang lain mungkin aku lupa. Tapi amplop-amplop warna abu-abu itu aku tidak bisa lupa. Soalnya semua isinya sama, selalu dua ratus ribu rupiah.

Malah semuanya masih saya simpan.”“Masih kau simpan?” kataku kaget campur gembira.

“Jadi semuanya masih utuh? Berarti semuanya ada satu juta rupiah?”

“Ya, masih utuh. Wong aku tidak pernah mengutik-utik uang itu. Rasanya sayang, uangnya masih baru semua, seperti baru dicetak. Aku simpan di bawah pakaian-pakaianku di lemari,” ujar isteriku sambil beranjak ke kamarnya, mau mengambil uang yang disimpannya.

Aku menunggu tak sabar. Tak lama kemudian tiba-tiba,

“Paaak!” Terdengar suara isteriku berteriak histeris.

“Lihat kemari, Pak!”

Aku terburu-buru menghambur menyusulnya ke kamar.

Masya Allah.

Kulihat lemari pakaian isteriku terbuka dan dari dalamnya berhamburan uang-uang baru seratus ribuan, seolah-olah isi lemari itu memang hanya uang saja. Isteriku terpaku dengan mata terbelalak seperti kena sihir, melihat lembaran-lembaran uang yang terus mengucur dari lemarinya.

Dalam takjubku, aku sendiri masih melihat sebuah amplop abu-abu ikut melayang di antara lembaran-lembaran uang itu. Aku segera menangkapnya

Nah, ini dia yang satu lagi. Jadi benar hitunganku, enam kali aku bertemu lelaki itu. Ini amplop keenam.Tanpa mempedulikan istriku yang masih bengong memandangi lembaran-lembaran uang yang berterbangan, aku amati amplop itu seperti mengamati amplop-amplop lainnya tadi.

Dan ternyata di sini juga terdapat tulisan Arab kecil-kecil.

Isinya, “Wamal Hayaatud Dun-ya illa mataa’ul ghurur! (Kehidupan duniawi itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan!). Arafah, 9 Dzulhijjah 1418.

”Tidak seperti amplop-amplop lainnya, yang satu ini juga ada tertera namadan tanda tangan, “Hamba Allah, Khidir!”

Tahun 1418 aku memang naik haji, tapi aku tidak ingat pernah bertemu lelaki berpakaian hitam-hitam dan berwajah jernih itu.

Rasanya di Arafah semua orang berpakaian putih-putih.

SubhanAllah!

*)Penulis : KH.A.Musthofa Bisri
*)sumber : Buku “Lukisan Kaligrafi”

Sumber : muslimoderat.net
Ketika Mbah Hamid Pasuruan Dirasani Habib Jafar alkaff

Ketika Mbah Hamid Pasuruan Dirasani Habib Jafar alkaff


Suatu ketika, zaman dulu waktu itu mbah Yai Hamid Pasuruan masih hidup. Habib Ja’far melakukan kebiasaannya, yakni “jalan2” dan menginap di rumah yg jelek (di daerah pasuruan).

Setelah di silahkan tuan rumah. Beliau mendapati salah satu penghuni rumah yg akan melahirkan.
Dinanti satu jam, dua jam lebih ternyata sang bayi belum mau keluar juga.
Akhirnya Bu Bidan memvonis: "Kandungan ini harus di operasi!!".
Seketika seluruh penghuni rumah sedih bukan kepalang.

"Duh gusti,, uang dari mana lagi. Lawong untuk makan saja susah", keluh salah satu penghuni rumah.
Lalu Habib Ja’far berkata: "ini daerah pasuruan kan? (Iya: jawab mereka), Kalau memang mbah Yai Hamid benar2 wali. Maka sebentar lagi dia pasti akan datang di daerah yg merupakan kekuasaannya!!".
Tidak butuh lama, tiba2 dari arah depan pintu ada orang yg mengucapkan salam: "Assalamu’alaikum..." Semuanya bergegas menyambut.
Dan ternyata, Mbah Yai Hamid sudah ada di depan pintu sambil membawa bungkusan plastik berisi air putih!!!. Setelah bersalaman dan berangkulan dengan habib Ja’far. Beliau berkata: "Ini Yek pesanan njenengan. Langsung diminumkan saja, Insya Allah sembuh".
Lalu beliau langsung pamit.
Air putih itu langsung diminumkan ke ibu hamil itu. Dan seketika, dengan lancarnya sang jabang bayi keluar. Dan tidak jadi operasi...
------------------------------------------
Diceritakan oleh Habib Umar Muthohhar yg menemani Habib Ja'far "jalan2" saat itu.
اللهم انفعنا بعلومهما فى الدارين... آمين يا مجيب السائلين

Sumber : muslimoderat.net
Rahasia di Balik Bermusuhannya Kiai As’ad dari Gus Dur

Rahasia di Balik Bermusuhannya Kiai As’ad dari Gus Dur


“Ibarat imam shalat, Gus Dur sudah batal kentut. Karena itu tak perlu lagi bermakmum kepadanya.” Beginilah salah satu ungkapan sikap KHR As’ad Syamsul Arifin, sebagaimana dikutip media nasional beberapa hari pasca Muktamar NU ke-28 di Krapyak, 26 tahun lalu.<> Konon, KHR As’ad kecewa besar pada lima tahun kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU. Gus Dur dianggap kebablasan. Pemikiran dan tindak-tanduk liberalnya diniliai sudah keluar dari rel Aswaja.

Dari berita yang dimuat di koran, pemikiran dan tindak-tanduk liberal yang dialamatkan pada Gus Dur antara lain terkait keikutsertaannya sebagai juri Festival Film Indonesia. KHR As’ad bahkan menyebut Gus Dur kiai ketoprak lantaran aksinya ini. Lalu terkait wacana Gus Dur mengubah salam “assalamu’alaikum” menjadi“selamat pagi”, dan beberapa kontroversi lain yang mengiringi perjalanan kepemimpinan Gus Dur.

Puncak ketidakcocokan Ketua Ahlul Halli wal Aqdi pada Muktamar NU ke-27 ini terjadi pada hari terakhir Muktamar Krapyak, Rabu siang, 29 Nopember 1989. Di hadapan media di arena Muktamar yang telah aklamasi memilih kembali Gus Dur sebagai Ketua Umum Tanfidziyah, pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo ini, lantang menyatakan diri mufaraqah (memisahkan diri).

Ketidakcocokan KHR As’ad dengan Gus Dur sebenarnya sudah lama. Keputusan mufaraqah bisa dibilang lebih merupakan kulminasi dari perselisihan panjang antarkeduanya. Perselisihan awal setidaknya sudah dimulai ketika pleno pertama PBNU hasil Muktamar Situbondo, di Pesantren Tebuireng, Jombang pada Januari 1985. Keputusan pleno menyatakan bahwa yang berhak mewakili NU keluar adalah Rais ‘Aam KH Ahmad Shiddiq, dan Ketua Umum Tanfidziyah KH Abdurrahman Wahid. Keputusan ini dinilai membatasi gerak dan langkah ulama sepuh lain, terutama KHR As'ad yang sebelumnya dikenal dekat dengan Presiden Soeharto dan menteri-menterinya.

Beberapa kontroversi Gus Dur lainnya sepanjang 1984-1989 semisal; keterlibatan Gus Dur menjadi ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), kesediaan membuka Malam Puisi Yesus Kristus, dan kecenderungan membela Syi'ah, juga turut menjadi pemicu kerenggangan komunikasi antara KHR As’ad beserta kiai-kiai sepuh lain dengan Gus Dur. Hal ini berujung peristiwa ‘gugatan’ pada Gus Dur di Pesantren Darut-Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, pada Maret 1989.

Sebuah fakta politik menarik, menyusul mufaraqah KHR As’ad, Gus Dur justru makin gencar melawan Orde Baru. Gus Dur makin aktif mendukung para aktivis melawan pemerintah. Menjelang pemilu 1992, di tengah kuatnya kekuasaan Soeharto, Gus Dur bahkan berani terang-terangan menolak penguasa negeri 32 tahun itu untuk dipilih kembali. Gus Dur terus menyerang Pak Harto hingga lengser ke prabon pada 1998.

Banyak literatur menyebut, KHR As’ad Syamsul Arifin adalah sosok wali quthub. Kesaksian KH Mujib Ridwan misalnya, menyebut jika KHR As’ad pernah menangis tersedu-sedu lantaran ‘kedoknya’ terbuka, usai dibacakan sebuah surat Al-Qur’an. KH Mujib Ridwan adalah putra KH Ridwan Abdullah, pencipta lambang NU, yang lebih 20 tahun mengabdi pada KH As’ad Syamsul Arifin. Di luar kharisma keulamaannya, KHR As’ad adalah seorang guru dan pengamal 17 jenis tarekat. Meskipun demikian beliau tidak pernah memaklumkan diri sebagai seorang mursyid tarekat di depan umum. KHR As’ad juga mendalami ilmu kanuragan yang membuat banyak bajingan bertekuk lutut kepadanya.

Konon, kewalian KHR As’ad inilah yang melatarbelakangi beberapa tindakannya sehingga tidak mudah dimengerti khalayak awam. Satu di antaranya menyangkut kerenggangan KHR As’ad dan Gus Dur. Kala itu tentu saja tak sedikit Nahdliyin di akar rumput yang kebingungan. Meski tak sampai menciptakan kubu-kubu yang saling berseberangan, konflik panjang dua tokoh beda generasi ini memunculkan pertanyaan di banyak pihak. Tak terkecuali rombongan Kepala Sekolah SLTP dan SLTA Ma’arif Kotamadya Surabaya. Suatu hari, pada 15 April 1987, mereka serombongan sowan ke ndalem KHR As’ad di kompleks Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.
Sesampai di ndalem, rombongan diterima langsung oleh KHR As’ad yang kala itu didampingi KH Mudjib Ridwan. Rombongan pun mendapat penjelasan langsung bahwa beliau mufaraqah dengan Gus Dur karena Gus Dur kiai ketoprak. Dengan menjadi juri FFI di Bali, Gus Dur dinilai sudah tidak sesuai dengan kakeknya KH Hasyim Asy’ari, dan penjelasan lain-lain seterusnya sebagaimana yang sudah beredar di media massa.

Dari Situbondo, rombongan meneruskan silaturahim berikutnya ke Jember ke ndalem KH Ahmad Shiddiq. Di hadapan Rais ‘Aam PBNU ini, disampaikanlah panjang lebar kebingungan-kebingungan mereka mengenai hubungan KHR As’ad dengan Gus Dur.

Dan beginilah dawuh KH Ahmad Shiddiq. “Kulo, dan sampean-sampean semua—seraya menunjuk satu persatu rombongan yang hadir—bukan levelnya. Bukan kelasnya menilai Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin.” Demikianlah yang pada intinya, Nahdliyin yang belum masuk levelnya, tidak pantas menilai sikapmufaraqah KHR As’ad dengan Gus Dur. Keduanya memiliki maqom (tingkatan spiritual) yang tinggi di atas kebanyakan.

Menyikapi friksi di tingkatan elit NU yang kian membingungkan ini, suatu ketika beberapa anggota Dewan Khas IPSNU Pagar Nusa dipimpin H. Suharbillah memutuskan sowan ke KH Khotib Umar, Pengasuh Pesantren Raudhatul Ulum Sumberwiringin, Sukowono, Jember. IPSNU Pagar Nusa kebetulan saat itu baru saja dideklarasikan. KH Khotib Umar adalah salah seorang ulama pejuang yang wara’ yang sangat disegani di kalangan Nahdliyin.

Kepada para pendekar Pencak Silat NU ini, KH Khotib Umar bertutur bahwa suatu waktu beliau menghadap pada KHR As’ad Syamsul Arifin bermaksud meminta penjelasan mengenai masalah dengan Gus Dur. Dan KHR As’ad dawuh bahwa memusuhi Gus Dur merupakan strategi menghadapi rezim Orde Baru. Supaya Gus Dur tidak dihabisi maka beliau memusuhi Gus Dur. Untuk menyelamatkan beliau. “Saya dengan Gus Dur hanya berbeda dalam siyasi, politik! Mufaraqah bukan berarti benci Gus Dur. Malah saya sangat mengasihi Gus Dur. Saya khawatir kalau Gus Dur di penjara oleh penguasa—karena sikap kritisnya­—lalu siapa yang akan membela? Demikian dawuh sang wali quthub.

Alfatihah...

Sumber : santrionline.net
Gus Mus: Sufi iku kudu ngopi

Gus Mus: Sufi iku kudu ngopi

Sudah lima belas jam saya menunggu Gus Mus di kediamannya di Leteh, Rembang, Jawa Tengah. Datang pukul tiga dinihari, saya disambut seorang santri Pesantren Raudlatut Thalibin dan dibikinkan secangkir kopi tubruk. Tak lama setelah salat Subuh berjamaah, saya minta izin meluruskan punggung. Pagi setelah bangun tidur sejenak, saya kembali ke ruang tamu. Sudah ada Gus Wahyu Salvana, suami putri Gus Mus: Ning Raabiatul Bisyriyah Sybt.

Secangkir kopi yang masih mengepul uap sudah terhidang. Saya, yang kali ini sowan kepada Gus Mus, Plt Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang bernama lengkap KH A. Mustafa Bisri, tanpa bikin janji memang harus mengambil risiko: menunggu. Saya tahu Gus Mus sedang di Bekasi, tapi saya tetap saja berangkat dari Jakarta ke Semarang, lalu lanjut ke Rembang setelah ziarah ke makam Sunan Kudus — kemudian ke Tuban.

Dalam berniat, saya memiliki pilihan: menetapi niat atau membatalkan niat. Saya mengajukan pilihan itu kepada Agus “Picus” Affianto, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang menemani saya dari Semarang. “Saya pilih menetapi niat, Gus,” serunya. Picus dan seorang santri saya dari Pekalongan memang terlihat letih menunggu, namun kami mengisi jam demi jam dengan mengobrol. Ba’da Maghrib, Gus Mus akhirnya rawuh.


Saya tidak yakin, dan memang tidak terlalu berharap lagi, Gus Mus akan menemui kami. Bersalaman dengan Beliau yang baru turun dari mobil saja sudah sangat melegakan, tak perlu lagi saya berharap lebih. Apalagi, Beliau pasti sangat capek setelah serangkaian perjalanan panjang. “Orang-orang itu salah menilai saya. Dikiranya saya ini makin lama makin muda. Makin tua kok malah makin sibuk karena semakin banyak undangan,” kata Gus Mus.

Seluruh rambutnya sudah berwarna perak. Berpakaian dan bersarung putih, pun kopiah putih dan surban sewarna yang diselempangkan ke leher, Gus Mus gagah dan sangat berwibawa. Suara Beliau yang parau dan berat makin menciutkan nyali saya untuk memohon waktu bertemu. Namun, tak disangka, Gus Mus masih berkenan duduk di antara kami. Satu pertanyaan Gus Mus kepada saya, ”Lha mana kopinya? Sudah ngopi apa belum?”
Belum lagi saya menjawab, Gus Mus sudah menyahut, ”Sufi iku kudu ngopi!” Sejurus kemudian, Beliau memanggil seorang santri dan meminta dibikinkan kopi. Secangkir kecil kopi menemani kami bercengkerama beberapa saat. Meski sudah tidak merokok, Gus Mus membiarkan saya menghisap batang tembakau. Ucapan Beliau bahwa Sufi itu harus ngopi segera mengingatkan saya pada sosok Khalid, penggembala kambing di Kaffa, Abyssinia, abad 9 M.

Kini, Abbyssinia bernama Ethiopia. Waktu itu, kambing yang digembalakan Khalid sontak berlari-lari kencang seperti kelebihan tenaga setelah ia mengunyah beberapa lembar daun dan serumpun buah kemerahan yang mirip buah cherry. Di kemudian hari, Khalid menjadi tahu bahwa ternyata itu daun dan biji kopi. Biji-biji kopi ditumbuk dan direbus dengan air, jadilah minuman. Menghangatkan tubuh, menambah energi, pun membuat mata kuat melek.

Berkat jasa seekor kambing gembalaan, kaum Sufi pun menemukan kopi yang menemani mereka untuk tetap terjaga sepanjang malam dalam zikir dan pikir. Qiyamu ‘l-Lail, atau terjaga dan berjaga di malam hari dengan mendirikan salat, baca Al Qur’an, berzikir dan merenung sangat terbantu oleh Qahwa, sebutan lain untuk kopi. Dikembangkan oleh Sufi Ali bin Omar dari Yaman menjadi obat aneka penyakit, kopi terus menyebar ke seluruh dunia dengan banyak kisah.

Penyebaran kopi menorehkan riwayat panjang, mulai dari penanaman massal, penyebaran agama Islam, penjajahan, perbudakan, penyelundupan, hingga sejumlah eksekusi mati. Kini, mutiara-mutiara hitam itu tersedia dalam ragam pilihan di kedai-kedai kopi. Arabica dan Robusta disajikan dalam deret menu, dari kelas berat sampai kelas bulu. Dari one shot espresso sampai kopi saset. Dari kopi dingin di gelas kurus tinggi sampai kopi panas di cangkir mungil.

Bisa berbeda harga hanya gara-gara berbeda nama. Kopi hitam yang di warung cuma Rp 2.000 bisa dibandrol Rp 20 ribu di coffee shop lantaran dilabeli dengan sebutan black coffee. Saya penggila kopi, tapi tidak terlalu gila. Sehari maksimal cuma enam atau tujuh cangkir kopi. Tidak berpengaruh juga jika saya menyesap secangkir kopi sebelum tidur. Hanya saja, sebal juga jika tiap nongkrong atau begadang, selalu kopi yang disajikan untuk saya.

Di alun-alun Tuban seusai ziarah ke makam Sunan Bonang, kopi lagi yang dipesankan Picus untuk saya. Mampir ke toko waralaba dalam perjalanan ke Lamongan untuk berziarah ke makam Sunan Drajat, saya dibelikan sekaleng kopi dingin. Di Gresik, sambil istirahat setelah turun dari mendaki anak-anak tangga ke makam Sunan Giri, lagi-lagi kopi yang Allah kirimkan kepada saya. Ternyata, sungguh benar penuturan Gus Mus di Leteh: “Sufi iku kudu ngopi.”

Secangkir kopi bisa sampai ke hadapan saya sesungguhnya suatu keajaiban luarbiasa. Kopi itu memiliki sejarah teramat panjang sejak dikenal Suku Galla di Afrika Timur pada 1000 tahun Sebelum Masehi (SM). Sebelum tiba di atas meja saya, secangkir kopi itu masih berupa biji-biji yang dipanen dari kebun-kebun kopi. Ribuan, bahkan jutaan manusia, bekerja mengerahkan jiwa raga, membanting tulang, memeras keringat, demi secangkir kopi saya ini.

Kopi bukan lagi minuman para sufi saja, tapi minuman bagi siapa pun, terutama yang memang berhasrat memfungsikan lidah bagian belakang untuk menyesap rasa pahit. Di cerpen berjudul “Mawar Hitam”, saya menulis, ”Aku secangkir kopi saja. Tanpa gula. Aku tak terlalu suka pemanis untuk hal-hal yang memang dikodratkan pahit.” Ah, andai boleh beribadah ditemani secangkir kopi di samping sajadah, saya mungkin akan lebih sering i’tikaf di masjid.

Sumber : muslimoderat.net


Heboh! Video Ditanya Tentang Kebangkitan Komunis, Gus Dur: PKI Aja Ditakuti

Heboh! Video Ditanya Tentang Kebangkitan Komunis, Gus Dur: PKI Aja Ditakuti

Peristiwa yang terjadi pada 30 September 1965 yang dikenal Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (PKI) atau G30S PKI kembali hangat diperbincangkan oleh publik tanah air pada akhir-akhir ini.

Peristiwa kelam yang terjadi hampir 52 tahun silam ini selalu hangat dibahas jelang peringatannya pada September. Tak hanya di dunia nyata, dunia maya pun akhir-akhir dihebohkan topik PKI.
Hampir setiap tahun bangsa Indonesia membahas peristiwa yang menewaskan para Jenderal ini.

Bahkan seorang mantan Jenderal TNI mengungkap PKI kini sudah memiliki 15 juta pengikut. Jika ditambah anak cucu sekitar 60 juta orang PKI di Indonesia.
Padahal akibat peristiwa ini ada ratusan ribu rakyat Indonesia bahkan ada yang menyebut jutaan warga Indonesia tewas dibunuh. Mereka dituding sebagai antek PKI.
Kendati hampir semua pelaku sejarah G30S PKI telah meninggal dunia. Namun, sepertinya tahun 1965 akan jadi tahun terpanjang yang tak pernah habis dibahas.

Simpang siur terkait sejarah peristiwa G30S seolah hangat untuk selalu diperbincangkan. Mulai dari kudeta PKI, rekayasa Soeharto hingga keterlibatan asing.
Puluhan tahun telah berlalu, PKI sudah ditetapkan MPR sebagai partai terlarang. Artinya siapapun yang berupaya membangkitkan ajaran komunis ini bisa dihukum oleh negara.
Namun tuding menuding dan saling mempersalahkan terkait peristiwa tersebut  terus terjadi. Kecurigaan dan saling fitnah sebagai pengikut PKI masih terjadi hingga saat ini.

Bahkan, Presiden Jokowi seolah menjadi sasaran utama yang dituding sebagai antek PKI.
Tak hanya itu, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pun dituduh berisi kader PKI. Terakhir beberapa hari silam terjadi penyerangan terhadap kantor YLBHI yang dituding membela PKI.
Tak hanya Jokowi, almarhum Presiden ke-4 Indonesia, mendiang Abdurahman Wahid alias Gus Dur pernah dituding PKI karena mencoba melakukan rekonsiliasi antar bangsa.

Gus Dur tahu betul luka lama para korban peristiwa G30S PKI dan sesudahnya tak diobati lebih dari 30 tahun masa pemerintahan orde baru. Bahkan pemerintahan Soeharto memproduksi Film Pengkhianatan G30S yang menambah kebencian terhadap anak cucu PKI.
Gus Dur bahkan mencabut Tap MPR nomor 25 MPRS 1966 tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia. Ia dituding membela PKI. Namun Gus Dur tak mau pusing. Niatnya untuk mempersatukan kembali bangsa ini.

Belakang beredar kembali video YouTube, saat Gus Dur diwawancara dalam Kick Andy, edisi 15 Nov 2007. Menurutnya TAP MPR tersebut bertentangan dengan Undang-undang dasar. Dia tak peduli dituding membela PKI.
"Yang terpenting, mengucilkan PKI itu bukan tugas negara," kata Gus Dur
Katanya, negara tak bisa mengurus segala hal termasuk pemisahan agama dari negara
Dia mempertanyakan konsep pemisahan agama dari negara. Jika negara harus mengurus segala hal. "Padahal yang menentang PKI khan hanya beberapa orang aja," katanya.

Dia yakin benar dalam mencabut TAP MPR karena berdasarkan undang-undang dasar. "(Undang-undang dasar) ya melindungi semua. Itu hasil daripada tujuh abad lamanya kita berpancasila tanpa nama yaitu yang dinamakan Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi satu tujuan," terangnya
Gus Dus tak khawatir jika PKI akan bangkit kembali. "Kenapa takut, PKI aja ditakuti," kata Gus Dur disambut tawa para penonton [tribunnews.com]


Sumber : muslimoderat.net
Kepiawaian Gus Dur Menyetir NU yang Nyaris Dibubarkan Orde Baru

Kepiawaian Gus Dur Menyetir NU yang Nyaris Dibubarkan Orde Baru


 Jika ada orang non-NU membenci NU dengan cara meng-character assasination Gus Dur, saya bisa maklum, karena memang dari sononya mereka anti NU yang secara otomatis ya anti Gus Dur. Namun yang saya tidak habis pikir itu ada orang NU benci Gus Dur. "Ketemu pirang perkoro" kok bisa-bisanya ada orang NU benci Gus Dur.

Jika kita amati Gus Dur itu begitu sederhana, bersahaja dan zuhud. Dari cara berpakaian saja cukup sederhana, batik yang murah, celana biasa dan tidak punya dompet. Kopyahnya pun pakai kopyah/peci model pesantren (bludru hitam) dan kadang kopyah model Gorontalo. Cukup sederhana khan. Jarang beliau pakai jubah dan sorban apalagi berjenggot, kesana kemari padahal tingkat keilmuan dan keintelektualannya sangat-sangat mumpuni.

Sekali lagi saya tak habis pikir. Ada orang NU, alumni pesantren NU lagi, kok bisa-bisanya sampai benci Gus Dur. Ada yang menuduh Gus Dur liberal lah, Gus Dur Syiah lah dan sebagainya. Biasanya orang NU yang benci Gus Dur itu tingkat keilmuannya cuma "FIKIH ANSICH" (berorientasi hanya pendekatan fikih, pendekatan hukum, ingat pendekatan hukum itu kaku) dan kurang piknik.

Lihat jasa Gus Dur terhadap NU, terbukti "sempurna". Hal ini bisa dilihat dengan jelas bagaimana Gus Dur membawa NU "berakrobat" menghadapi gencetan Orde Baru. Bagaimana Gus Dur membawa NU dengan kepiawaiannya dan kecerdasannya membawa NU yang nyaris dibubarkan Orde Baru. Ketika itu NU digebuk kiri kanan, atas bawah, depan belakang, namun dengan izin Allah SWT, karamah wali, doa ulama serta kepiwaian Gus Dur maka NU selamat dari masa kritis dimasa Orba.

Seperti inilah (Gus Dur) ulama yang sebenarnya. Ulama yang berpandangan luas, sikap yang multi talenta dan ilmu yang mendalam. Ulama sejati itu tidak hanya pakar agama saja, apalagi cuma fikih. Jika semua didekati dengan pendekatan fikih (fiqh ansich) maka pola pikir dan perilaku cenderung kaku. Untuk itu perlu dibarengi denga ilmu tasawuf, tsaqafah, peradaban, sejarah, politik, humanisme, sosiologi antropologi dan sebagainya. Gus Dur melahap semua itu. Jika ulama cuma bisanya fikih saja maka bisa dipastikan akan salah paham dengan Gus Dur. Ini menunjukkan bahwa ilmunya belum mampu mencerna langkah Gus Dur. Kiai saja ada yang salah paham terhadap Gus Dur, apalagi cuma santri.

Keberhasilan menyelamatkan NU dari Orde baru yang nyaris dihabisi adalah diantara jasa Gus Dur terhadap NU tak tak mungkin bisa dilupakan. Oknum warga NU yang benci Gus Dur, bisakah membawa NU selamat dari Orde Baru, kok selalu koar-koar hanya dirinyalah sebagai NU yang benar, NU lurus, NU nya KH Hasyim Asyari. Sepertinya dia lupa bahwa Gus Dur itu cucunya KH Hasyim Asyari. Tentu cucunya lebih berhak secara ilmu dan nasab dibanding yang lain.

Jika ada santri NU yang benci Gus Dur, apalagi ilmunya cuma diperoleh dari satu pesantren, dan ditambah kuliah S1, S2, S3 dan tidak pernah aktif atau bergaul dengan pemikiran kontemporer dunia, maka dia seharusnya malu dengan prestasi Gus Dur, diantara (sekelumit) prestasi Gus Dur:
1. Cucu Hadratus Syaikh Hasyim Asyarie, Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Ketua Majlis Syura Masyumi
2. Putra KH Wahid Hasyim, (diantara) Perumus Pancasila (dasar negara), Menteri Agama tahun 1949, Ketua I Masyumi
3. Keturunan Raden Patah, Raja Kerajaan Islam Demak
4. Keturunan Jaka Tingkir
5. Keturunan Sunan Giri
6. Pesantren Tebuireng, Jombang (Guru)
7. Pesantren Tambakberas, Jombang (Guru)
8. Pesantren Denanyar, Jombang (Guru)
9. Pesantren Krapyak, Yogyakarta (Santri)
10. Pesantren Tegalrejo, Magelang (Santri))
11. Universitas Al-Azhar, Mesir (Mahasiswa)
12. Universitas Bagdad, Irak (Mahasiswa)
13. Universitas Thammasat, Bangkok, Thailand (Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum)
14. Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (Doktor Kehormatan)
15. Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Perancis (Doktor 16. Kehormatan bidang Ilmu Hukum, Politik, Ilmu Ekonomi, Manajemen, dan Ilmu Humaniora)
17. Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand (Doktor Kehormatan)
18. Universitas Twente, Belanda (Doktor Kehormatan)
19. Universitas Jawaharlal Nehru, India (Doktor Kehormatan)
20. Universitas Soka Gakkai, Tokyo, Jepang (Doktor Kehormatan)
21. Universitas Netanya, Israel (Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan)
22. Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan (Doktor Kehormatan bidang Hukum)
23. Universitas Sun Moon, Seoul, Korea Selatan (Doktor Kehormatan)
24. Presiden Republik Indonesia1999-2001
25. Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat RI1989-1993
26. Ketua Majelis Ulama Indonesia1987-1992
27. Ketua PBNU1984-2000
28. Katib PBNU1980-1984
29. Universitas Hasyim Ashari, Jombang (Dekan dan Dosen Fakultas Ushuludin)
30. Universitas Darul Ulum, Jombang (Rektor dan Dosen)
31. Anugrah Mpu Peradah, DPP Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia, Jakarta (Penghargaan)
32. The Culture of Peace Distinguished Award 2003, International Culture of Peace Project Religions for Peace, Trento, Italia (Penghargaan)
33. Global Tolerance Award, Friends of the United Nations, New York, Amerika Serikat (Penghargaan)
34. World Peace Prize Award, World Peace Prize Awarding Council (WPPAC), Seoul, Korea Selatan (Penghargaan)
35. Dare to Fail Award , Billi PS Lim, penulis buku paling laris “Dare to Fail”, Kuala Lumpur, Malaysia (Penghargaan)
36. Pin Emas NU, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta (Penghargaan)
37. Gelar Kanjeng Pangeran Aryo (KPA), Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII, Surakarta (Penghargaan)
38. Public Service Award, Universitas Columbia , New York , Amerika Serikat (Penghargaan)
39. Ambassador of Peace, International and Interreligious Federation for World peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat (Penghargaan)
40. Paul Harris Fellow, The Rotary Foundation of Rotary International (Penghargaan)
41. Man of The Year, Majalah REM (Penghargaan)
42. Magsaysay Award, Manila, Filipina (Penghargaan)
43. Islamic Missionary Award, Pemerintah Mesir (Penghargaan)
44. Tokoh 1990, Majalah Editor (Penghargaan)
45. Non Violence Peace Movement, Seoul, Korea Selatan (Presiden)
46. International Strategic Dialogue Center, Universitas Netanya, Israel
47. Dewan Internasional bersama Mikhail Gorbachev, Ehud Barak and Carl Bildt (Anggota)
48. International Islamic Christian Organization for Reconciliation and Reconstruction (IICORR), London, Inggris (Presiden Kehormatan)
49. International and Interreligious Federation for World Peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat (Anggota Dewan Penasehat Internasional)
50. Association of Muslim Community Leaders (AMCL), New York, Amerika Serikat (presiden)
51. Shimon Perez Center for Peace, Tel Aviv, Israel (Pendiri dan Anggota)
52. World Conference on Religion and Peace (WCRP), New York, Amerika Serikat (Presiden)
53. International Dialogue Project for Area Study and Law, Den Haag, Belanda (Penasehat)
54. The Aga Khan Award for Islamic Architecture (Anggota dan Dewan Juri)
55. Partai Kebangkitan Bangsa (Pendiri dan Ketua Dewan Syura)
56. The WAHID Institute, Indonesia (Pendiri)

Alasan apalagi, yang menyebabkan kalian benci Gus Dur, wahai (oknum) ulama/warga NU?
Jika kalian sudah mampu menyamai atau mengungguli prestasi Gus Dur di atas maka kalian boleh melawan Gus Dur.

Semua elemen NU besatulah, jangan sampai kalian diadu oleh kelompok garis keras yang memang dari sononya benci NU/Gus Dur. Mereka tidak mampu melawan NU secara face to face sehingga dengan cara "membrain washing" oknum ulama/warga NU untuk melawan NU yang "asli", PBNU dan kepengurusan NU dibawahnya.
(hanyalah sebuah kritik untuk "oknum" warga NU yang masih benci Gus Dur)
(WP) MWC NU Semin

Sumber : muslimoderat.net
close
Banner iklan disini