Gus Dur dan Cinta Seorang Tabi’in


Oleh Muhammad Bakhru Thohir

“Walaupun Gus Dur selalu merayakan hari ulang tahunnya pada tanggal 4 Agustus, namun tampaknya teman-teman dan keluarganya yang menghadiri pesta perayaan hari ulang tahunnya di Istana Bogor pada hari Jum’at 4 Agustus 2000 tak sadar bahwa sebenarnya hari lahir Gus Dur bukanlah tanggal itu. Sebagaimana juga dengan banyak aspek dalam hidupnya dan juga pribadinya, ada banyak hal yang tidak seperti apa yang terlihat. Gus Dur memang dilahirkan pada hari keempat bulan kedelapan. Akan tetapi perlu diketahui bahwa tanggal itu adalah menurut kalender Islam, yakni bahwa Gus Dur dilahirkan pada bulan Sya’ban, bulan kedelapan dalam penanggalan Islam. Sebenarnya, tanggal 4 Sya’ban 1940 adalah tanggal 7 September. Gus Dur dilahirkan di Denanyar, dekat kota Jombang, Jawa Timur, di rumah pesantren milik kakek dari pihak ibunya, Kiai Bisri Syansuri.”

Ini adalah paragraf pertama dari buku The Authorized Biography of ABDURRAHMAN WAHID karya Greg Barton. Kok saat saya membaca paragraf pertama buku ini sudah tergambar bahwa sosok Gus Dur adalah seseorang yang tidak kedonyan. Berbeda sekali dengan kita, yang mana kita sering kali bukan hanya terpaut tapi masuk dan tak mau lepas dari perihal keduniawian. Saat ini status sosial amatlah dianggap penting, jumlah follower dan likers di media sosial menjadi barometer kita dianggap sebagai manusia atau tidak.

Dan menyoal ulang tahun, kita sangat berharap bahwa “semua orang tau tanggal ulang tahun kita dan semuanya mengirim doa, tak penting doa dalam gelap, dikirim saja doa itu melalui pesan, ucapan atau perayaan berupa kejutan padaku. Itu lebih penting dan ngena dari pada doa dalam gelap”. Berbeda sekali dengan Gus Dur.

Saya tidak pernah berkenalan dengan Gus Dur, karena sejak saya lahir sudah berada dalam lembaga Gus Dur. Gus Dur bagi saya sama halnya seperti Islam dan NU. Dalam tahapan hidup saya, tak pernah saya memilih untuk beribadah dan mengenal Tuhan melalui cara dan jalan apa. Karena sejak lahir saya ‘telah’ di dalam Islam, NU dan Gus Dur. Sejak kecil saya sudah melaksanakan ritual sholat, puasa dan zakat. Soal syahadat jangan ditanya, itu sudah masuk materi saat masih TK. Sholatku juga mengunakan usholli, kunut dan ada wirid setelahnya, persis seperti yang diucapkan Habib Syech dalam setiap acara solawatan “sholat usholli, kunut dan wirid adalah ibadahnya NU”.

Pun demikian dengan Gus Dur, saya tidak pernah melalui tahapan kenalan, karena seluruh isi rumah saya mengidolakannya. Bahkan Bapak pernah bilang “kalau dulu Gus Dur mengizinkan warga NU dari Jawa Timur dan Jawa Tengah menyerbu Jakarta saat Gus Dur dimakzulkan, saya akan ke Jakarta” ucap Bapak saat saya beranjak remaja. Cukup bisa diakui kan, kalau saya sudah terlahir di lingkunagn pendukung Gus Dur.

Mungkin jalan hidup saya kurang menarik menurut sebagian teman-teman, karena saya ber-Islam, ber-NU dan ber-Gus Dur secara diturunkan bukan memilih. Saya pun bersepakat dengan anda-anda semua yang mengangap hidup saya tak menarik. Setidaknya alasan utama kenapa saya menganggap hidup saya kurang menarik adalah terlalu homogennya lingkungan masa kecil saya. Saya hampir tak pernah mengenal orang dengan KTP selain Islam sebelum bergabung dengan Jaringan Gusdurian Malang –ini juga alasan kenapa saya bergabung dengan Gusdurian- bahkan saya jarang berinteraksi dengan orang selain NU, meskipun saya mengenal orang-orang selain NU, tapi saya tidak pernah punya urusan yang membuat saya harus berinteraksi. Dan untuk Gus Dur, desaku cukup minim nafas diskusi, meskipun saya tahu bahwa di desa ada perkumpulan pendukung Amin Rais, Megawati dan Akbar Tanjung, tapi para simpatisan ini tak pernah semeja untuk duduk berdiskusi bersama.

Saya bukanlah sahabat Gus Dur, alias yang pernah bertemu langsung dengan beliau. Saya adalah ‘tabi’in’ Gus Dur, karena saya hanya bertemu sabahat-sahabat beliau. Setidaknya sampai umurku yang sudah masuk 23 tahun saat ini, pernah mendengar kisah Gus Dur lansung dari putri sulung beliau Alissa Wahid dan sedikit membaca buku-buku tentang beliau yang ditulis para sahabat.

Kemudian, saya bertemu dengan pemikiran Gus Dur itu seperti saya bertemu dengan komunis. Untuk anak yang lahir di periode sebelum ‘98 hampir pasti menghirup ajaran bahwa komunis adalah sama dengan atheis, bahwa pemikiran ini masuk ketubuh tanpa di pilah –tepatnya tak bisa dipilah, sehingga harus dihirup- seperti okigen yang tak pernah kita memilih akan menghirup oksigen hasil fotosintesis dari pohon apa. Seperti itulah pemikiran Gus Dur yang diam-diam masuk dan menyusupi rongga-rongga otakku.

Dia masuk dan memberitahu bahwa Gus Dur adalah seorang yang humanis, pemberani dan pembela wong tertindas. Namun perbedaan antara pemikiran Gus Dur dan komunis adalah saat saya tumbuh dan sedikit-sedikit baca buku mulai berkesimpunan bahwa ‘O... komunis itu seperti ini toh, ternyata diartikan sempit hanya sebagai atheis itu karena ini toh dan untuk kepentingan ini toh, berbeda dengan pemikiran Gus Dur yang masuk ke otakku saat kecil, Gus Dur tak berbeda setelah saya baca-baca dan mendengar cerita-cerita tentang beliau. Gus Dur tetap seorang masterpiece jokedan berkepribadian simpel sekaligus kompleks.

Ini juga yang dikisahkan bapak Qurais Sihab saat peringatan 1000 hari wafatnya Gus Dur, beliau menjelaskan bahwa Gus Dur adalah orang yang simpel dalam satu sisi dan pada waktu yang sama adalah orang yang sangat rumit. Gus Dur juga orang yang sangat realistis sekaligus orang yang percaya supra natural, dan seterusnya dan seterusnya. Seperti itu cara Pak Qurais mengenang Gus Dur, dan kita tahu banyak sekali cara untuk mengenang dan meneladani beliau. Banyak kata serta perilaku beliau yang tiba-tiba sangat relevan saat ini meskipun dulu saat beliau masih ada sering disebut kontroversial.

Gus Dur sudah lebih dekat dengan tuhan sejak Desember 2009. Tanggal 4 bulan 8 ini banyak santri-santri beliau yang akan merayakan hari ulang tahun Gus Dur yang ke 77. Tapi mengenang dan hanya meratapi Gus Dur dengan sendu sedih ,menurutku, bukanlah ciri murid-murid Gus Dur.Ciri murid-murid Gus Dur adalah siapa yang mempersiapkan dirinya untuk menjadi pemimpin bangsa, seorang humanis dan pembela hak manusia yang tertindas selanjutnya.

Dan pada akhirnya. Gus, kapan pun engkau dilahirkan. Selamat ulang tahun Gus. Terimakasih telah menjadi guru di Negeri ini. Negeri ini berterimakasih atas segala pikiran sampai tindakanmu. Maafkan kami yang lamban memahami apa maksudmu dulu, sehingga cacian yang muncul dari mulut kami. Tugas kami saat ini adalah melanjutkan dan terus melestarikan pikiran serta perjuanganmu. Pinjami kami keberanian dan semangatmu agar kami tetap kuat menghadapi negeri yang sudah banyak melahirkan mafia ini gus. Gus kami rindu. Selamat ulang tahun.

Penulis adalah Gusdurian asal Malang, Jawa Timur.

Sumber : nu.or.id
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Gus Dur dan Cinta Seorang Tabi’in"

Post a Comment

close
Banner iklan disini