Strategi Sepakbola dan Politik Gus Dur, Apa Hubungannya?

Strategi Sepakbola dan Politik Gus Dur, Apa Hubungannya?


 Ada beberapa hal yang akan terlintas di kepala saat mendengar nama Gus Dur. Pertama tentang humor-humornya yang tak bisa lepas dari kesehariannya, bahkan setelah menjabat sebagai presiden. Kedua tentang ia yang sering mendobrak hal-hal formal dan dengan bebas mengemukakan pikirannya, walau bernada kontroversial. Ketiga adalah kesetiaannya dalam membela pluralisme dan keberpihakannya pada kaum minoritas. Sementara yang keempat, adalah obsesinya akan sepak bola.

Ya, dikatakan obsesi karena ia memang memiliki ketertarikan dan keterikatan kuat dengan sepak bola. Dan ini lah yang membedakannya dengan presiden-presiden RI lainnya. Berbicara tentang sepak bola dan kaitannya dengan presiden Indonesia sendiri maka umumnya akan berbicara mengenai bagaimana sepak bola digunakan sebagai alat politik. Atau, seminimal-minimalnya, bagaimana sepak bola di jalankan di era mereka.

Contohlah Bung Karno. Di era kepemimpinannya, timnas Indonesia mencapai prestasi terbaiknya dengan rentetan hasil memuaskan di akhir periode 1950-an (menahan imbang Uni Soviet, meraih perunggu di Asian Games 1958, dan lain sebagainya). Tapi, tentu saja ini tak bisa dipisahkan konteks bagaimana ia menggunakan sepak bola sebagai suatu alat politik, atau alat membangkitkan nasionalisme. Atau, misalnya lagi, Presiden SBY. Mengaitkan kata SBY dan sepak bola maka akan terbersit ingatan tentang kekisruhan PSSI yang tak kunjung usai dan tentang belasan kongres yang tidak jelas juntrungannya. Di sinilah Gus Dur tampil berbeda.

Berbicara tentang Gus Dur dan sepak bola bukan mengingat apa yang telah ia lakukan untuk sepak bola (Indonesia), tapi mengenai seorang individu yang benar-benar gemar sepak bola sebagai suatu permainan. Kegemaran ini yang mendorongnya untuk mengoleksi sekoper guntingan-guntingan artikel tentang permainan si kulit bundar. Kegemaran yang membuatnya rajin menulis analisis pertandingan di harian Kompas dan majalah Tempo. Kegemaran yang membuatnya tetap mengikuti jalannya pertandingan, walau hanya lewat suara, setelah kehilangan penglihatan.

Pendeknya, kegemaran dan obsesi yang sama yang membikin jutaan suporter sepak bola Indonesia tetap datang ke stadion meski dengan kondisi kompetisi yang carut marut.

Buku dan Sepakbola
Kegemaran Gus Dus akan sepak bola sendiri sudah ada dari kecil. Bahkan, dengan menyepak dan mengolah bola di halaman belakang rumahnya di Jakarta lah Gus Dur jadi lebih akrab dengan ayahnya, Wahid Hasyim. Menurutnya, sebagaimana diceritakan Greg Barton dalam buku “Biografi Gus Dur”, ayahnya adalah tipikal ayah-ayah lainnya dari suku Jawa yang menjaga jarak dengan anaknya. Tapi saat bermain bola di pekarangan lah Gus Dur merasa bahwa Wahid Hasyim senang ditemani oleh putra sulungnya itu.

Namun kegemaran ini tak lama berubah jadi candu. Beranjak remaja, ada dua hobi Gus Dur yang seakan tak bisa dipisahkan dari dirinya: melahap buku dan menonton pertandingan sepak bola. Bahkan, karena hobinya ini lah Gus Dur pernah tak naik kelas. Saat berada di kelas satu Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP), Gus Dur terpaksa mengulang kelas satu karena gagal ujian. Pasalnya Gus Dur sendiri terlampau sering menonton pertandingan sepak bola sehingga tak punya cukup waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah.

Karena gagal naik kelas ini, ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Jombang untuk bersekolah di pesantren. Di tempat ini lah hobinya mulai berubah. Jika di masa kecil Gus Dur masih sering bermain dan menikmati perannya sebagai penyerang, beranjak dewasa Gus Dur mulai jadi penonton dan pengamat pertandingan. Hanya sesekali saja ia menjejakkan kaki di lapangan hijau. Itu pun sekedar mengbal ala pesantren.

Pada 1960, Gus Dur kemudian melanjutkan studinya ke Mesir, tepatnya di kampus Al-Alzhar. Di sini sepak bola lagi-lagi seakan jadi “pelariannya” dari proses belajar formalnya. Kala itu, karena satu kesalahan administrasi, pihak kampus tak menerima dokumen/sertifikasi yang menyatakan bahwa Gus Dur memiliki kemampuan dasar berbahasa Arab. Padahal saat itu Gus Dur menguasai ilmu tentang yurisprudensi Islam, teologi, dan berbagai ilmu terkait lainnya, yang pasti membutuhkan kemampuan berbahasa Arab advance untuk mempelajarinya. Karena ketiadaan dokumen ini Gus dur pun lalu dipaksa untuk mengambil satu mata kuliah dasar tentang bahasa Arab, bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa negara lainnya.

Gus Dur yang memang nyeleneh dan sedikit berjiwa liar ini lalu menunjukkan reaksinya dengan jarang masuk kelas. Apalagi saat itu kota Kairo menyuguhkan puluhan pertandingan sepak bola setiap bulannya. Jadilah ia lebih sering keluar masuk stadion, perpustakaan (karena tak bisa dipisahkan dari buku), dan bioskop yang menyajikan film-film Perancis.

Sepakbola dan Analisa
Di era 1980-an, keterlibatan Gus Dur dengan sepak bola semakin mendalam. Ia semakin sering mengamati perkembangan taktik, formasi, maupun kondisi persepakbolaan suatu negara. Di era internet, informasi tentang sepak bola dengan mudahnya didapatkan dengan sekali klik. Tapi Gus Dur dahulu harus memperolehnya dengan jalan yang lebih susah. Di sela-sela kesibukannya mempelajari ilmu agama, Gus Dur pun mengoleksi data dan narasi tentang sepak bola dari puluhan majalah dan koran yang ia baca.

Misalnya saja putaran final Piala Eropa 1992. Menurut pengakuannya dalam wawancara dengan Majalah Tiara, ada kurang lebih 800 halaman koran dan majalah yang ia gunting dan kliping selama kompetisi ini berlangsung. Untuk penggemar sepak bola, yang dengan mudahnya membuka halaman elektronik di layar komputer, saja jumlah ini terhitung masif. Apalagi untuk ukuran era 90-an yang notabene masih sulit untuk mencari majalah dan koran khusus sepak bola. Tak heran kemampuan analisa Gus Dur semakin tajam dan tak seperti orang pada umumnya.

Kemampuan analisa ini sempat ia tunjukkan pada Piala Dunia 1994. Di saat orang-orang kebanyakan menjagokan Kolombia untuk melangkah jauh karena hasil impresif di penyisihan, Gus Dur berkata lain. “Masih belum (untuk Kolombia). Kompaknya pun masih kalah jauh dengan Belanda atau Italia. Belum cukup tarafnya,” ujarnya lagi dalam percakapannya dengan Majalah Tiara. Lebih jauh lagi, Gus Dur memprediksi bahwa Brazil, Italia, Argentina, Belanda, dan Jerman akan tetap melangkah ke perempat final 1994. Dan benar saja. Dari kelima negara tersebut, hanya Argentina yang tak mampu lolos dari babak 16 besar.

Dengan kecermatannya menganalisa ini tak heran pula Gus Dur sering didaulat untuk menulis kolom sepak bola atau sekedar jadi komentator di televisi. Terhitung ratusan artikel pernah ia tulis tentang sepak bola. Baik saat mengulas Piala Eropa 1988, 1992 hingga 1996. Atau saat membahas World Cup 1982, 1986, 1990, 1994, hingga 1998.

Untuk kompetisi sepak bola Indonesia sendiri, Gus Dur termasuk sering memberikan kritik dan pada PSSI. “Orang bilang sepakbola itu 75 persen di luar lapangan, dan 25 persen lainnya merupakan puncak dari usaha dari luar lapangan itu. Apakah proporsi semacam itu yang tidak tejadi?” tanyanya di era-era awal peleburan Galatama dan kompetisi Perserikatan. “Pemain juga penting. Tapi lebih dulu pengurusnya dan ujungnya pada pelatih. Pada manajer,” tambahnya lagi.

Pelatih Kabinet Persatuan Nasional
Setelah puas melakukan analisa pada puluhan pertandingan, tahapan “bersepakbola” selanjutnya dalam diri Gus Dur tentu hadir saat ia menjadi presiden. Bagaimana ia menggunakan berbagai filosofi sepak bola dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang kepala negara. Memang, tugas seorang presiden sendiri ada kemiripannya dengan seorang pelatih. Misalnya saja dalam memilih “pemain” yang tepat untuk kabinetnya.

Di awal-awal tahun 2000-an, Gus Dur menunjukkan hal ini dengan kebijakan re-shuffle kabinetnya yang terkenal. Di awal masa kepemimpinannya, Gus Dur sendiri memang lebih memilih untuk menomorsatukan “kompromi” dan “balas budi” dalam memasang susunan awal kabinetnya. Bahkan, saking kuatnya tarik-ulur antara berbagai pihak, draft starting line-up Kabinet Persatuan Nasional pernah berganti hingga 11 kali.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Gus Dur sendiri menunjukkan keinginan untuk menempatkan orang-orang kepercayaannya di lingkungan istana. Misalnya saja di lingkungan sekretariat negara. Ke dalam lembaga ini ia membawa lima nama yang memang dikenal dekat dengannya. Sementara itu, beberapa menteri seperti Laksamana Sukardi, Yusuf Kalla, Hamzah Has, Ali Rahman, atau Wiranto ia ganti dengan orang lain.

Dalam dunia sepak bola sendiri hal ini lumrah terjadi. Pelatih baru tentu akan mewarisi pemain lama dari klub. Namun, dengan visi dan filosofinya sang pelatih akan mencari pemain-pemain yang sesuai dengan diinginkannya. Pelatih yang menggunakan 4-2-3-1 tentu akan mencari dua orang gelandang untuk dobel pivot-nya, sementara si penganut 3-5-2 akan merekrut dua orang wingback. Pun dengan meletakkan orang-orang kepercayaan dalam tim. Lihatlah bagaimana Jose Mourinho menggunakan Xabi Alonso sebagai penyambung lidahnya di lapangan. Pendeknya, apa-apa yang dilakukan Gus Dur ini sedikit banyak mirip dengan apa yang dilakukan pelatih pada timnya.

Berbalas Surat Dengan Romo Sindhunata
Seorang presiden yang menjawab kritikan melalui konfrensi pers akan terdengar biasa-biasa saja. Tapi seorang presiden yang membalas pertanyaan melalui tulisan di koran dengan nuansa sepakbola, tentu hanya Gus Dur seorang.

Ini lah yang terjadi saat dua orang pecinta sepakbola dengan pisau analisis yang tajamnya berbalas kata tentang taktik dan strategi politik seorang presiden. Khususnya tentang keputusan Gus Dur dalam menyusun kesebelasan kabinetnya.

Sindhunata sendiri sebenarnya dua kali mengirimkan surat terbuka untuk Gus Dur. Dalam kolomnya yang pertama (“Sepak Bola Ala Gus Dur”), Sindhunata menitipkan pesannya pada Gus Dur akan kabinetnya.

Bahwa Gus Dur bolehlah mengambil rumus dari Sepp Herberger, yaitu mencari “pemain” yang betul-betul bisa, sesuai dengan bidangnya. Jangan lagi mengulang kesalahan lama, yang memasang menteri bukan karena kebisaannya, tapi karena relasi, status, dan penjatahan kursi. Dan bahwa keberhasilan suatu tim ditentukan oleh tiga hal: kebisaan, kedekatan, dan keberuntungan.

Namun, di kolom keduanya “Catenaccio Politik Gus Dur” (16/12/2000), Sindhunata dengan lugas memberikan masukan pada Gus Dur. Melihat tidak adanya “umpan terobosan” yang dilakukan Gus Dur dalam menyelesaikan permasalahan penegakkan demokrasi di Indonesia, Sindhunata berpendapat bahwa sistem bertahan (catenaccio) saja sulit untuk dikembangkan di Indonesia dalam perkembangan terakhir ini. Sindhunata juga berujar bahwa pemerintah dengan sadar haruslah menegakkan demokrasi secara menyeluruh, dan untuk itu sistem bertahan saja tidaklah cukup. Haruslah digunakan sistem menyerang.

Bisa jadi karena kritik yang disampaikan dengan bahasa sepak bola ini lah Gus Dur tergoda untuk memberikan jawaban secara langsung. Tanpa tedeng aling-aling, dan tetap menggunakan istilah-istilah sepak bola yang fasih ia gunakan. Mirip dengan seorang pelatih yang menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan dalam konfrensi pers seusai pertandingan.

Dalam kolomnya, Gus Dur mengatakan bahwa catenaccio hanya digunakan untuk menghadapi kasus Pansus (bulog) saja. Dan untuk keseluruhan perkembangan di Indonesia dibutuhkan tidak hanya satu strategi saja.

“Jadi, dengan demikian, menjadi jelas bagi kita bahwa strategi total football harus diterapkan secara kreatif dalam kehidupan kita sebagai bangsa. Dalam satu hal, kita menggunakan strategi catenaccio, sedang dalam hal lain strategi hit and run (ala Inggris). Bahkan, kadang kita menggunakan strategi total football dan siapa tahu kita juga memeragakan bola Samba kesebelasan Brasil,” tulisnya pada 18 Desember 2000 dalam kolom yang berjudul “Catenaccio Hanya Alat Belaka”.

Menanggapi surat Gus Dur ini, Sindhunata menuliskan ("Total Football Bersama Gus Dur", terbit 20 Desember 2000) bahwa dari tulisannya jelas terlihat Gus Dur memiliki konsep untuk pemerintahannya, walau belum kurang mewujud menjadi nyata. Dan ini lah yang jadi pertanyaan lanjutan Sindhunata.

“Adakah Gus Dur mengalami seperti Cruyff? Ia ingin memainkan total football yang bertempo tinggi dan terbuka bagi pemerintahannya, tetapi "kesebelasannya" tak mampu memainkannya, karena pemainnya hanya dari kelas rata-rata,” tulis Sindhunata. Pertanyaan yang senada dengan apa yang telah ia sampaikan dalam surat pertamanya.

Sayangnya balasan kedua dari Gus Dur tak pernah datang. Enam bulan kemudian, para pemain Gus Dur perlahan memberontak dan tak mau lagi mengikuti strategi politiknya.

Dalam dunia sepak bola itu hanya berarti satu hal: pelatih yang kehilangan kendali di ruang ganti sudah tak mungkin memimpin tim lagi. Pada 23 Juli 2001, Gus Dur pun mengakhiri kariernya sebagai pelatih “Kabinet Persatuan Nasional”. Selamat Ulang Tahun, Pak Dur. [dutaislam.com/gg].

Sumber : dutaislam.com
Omong Kosong Haji

Omong Kosong Haji


Shalat itu boleh dikata masih masuk akal. Gerakan-gerakannya jelas-jelas menggambarkan sikap menyembah dan memuja. Belum lagi bacaan-bacaannya. Tapi haji?

Thawaf itu ya cuma lenggang-kangkung mengelilingi sebuah kubus. Tak ada rukun lainnya. Tak ada mantera atau doa apa pun yang diharuskan. Engkau bisa thawaf sambil ngerumpi soal Jokowi tanpa menciderai keabsahannya. Wira-wiri Shafa-Marwah pergi-pulang? Apalagi! Malah tak ada syarat bersuci. Dan wukuf? Kongkow di sebuah padang gersang. Boleh sambil tidur atau pun pingsan. Sesudah itu apa? Melempari tembok dengan kerikil! Apa yang masuk akal dari semua itu?

Dulu, pada masa ketika Jumrah masih tiang yang ramping dan orang-orang harus berebut mengincarnya, ada seorang jemaah haji yang sampai frustrasi. Sedang konsentrasi mengincar, tangannya kesenggol hingga kerikilnya jatuh. Ia ulangi lagi, kesenggol lagi jatuh lagi. Ia ulangi, begitu lagi. Terus sampai entah berapa kali. Hingga di puncak kaku-hati, ia pun menjerit,

“Yaa Allaah Gustiiiii!!! Ini ngibadah cap apaaaa!!!”

Tapi tak bisa dijelaskan bukan berarti tak ada penjelasan. Engkau hanya tak tahu. Atau tak menemukan kata-kata untuknya. Nyatanya, jika kau sungguh percaya, ada sejenis rasa yang merembes dan mengendap ke dalam jiwamu saat kau melaksanakan laku haji itu. Rasa yang terus menyertaimu hingga kapan saja. Menghangati jiwamu dengan rindu. Dan mimpi abadi pengen balik lagi.

Saya sempat menduga, panggilan haji itu layaknya sebuah tantangan. Sejauh mana engkau percaya, hingga patuh disuruh apa saja. Bahkan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bagi akal netral tak lebih dari omomg-kosong belaka.

Kalau kau tanya alasan untuk percaya, alasannya adalah bukti. Sejak pertama kali kesana, nyaris dua puluh tahuan yang lalu, semua hal duniawi yang saya minta dalam doa-doa saya di Tanah Suci sudah diijabahi. Tuntas. Tanpa sisa. Mulai dari isteri cantik sampai perubahan politik. Dituruti tanpa kecuali. Sekarang kalau akan kesana lagi, saya harus memikirkan permintaan yang baru.

Maka tak ada yang mengherankan kalau seorang seperti Simbah Kyai Maimun Zubair entah sejak kapan beristiqomah berangkat haji setiap tahunnya. Keterbatasan quota ONH tak pernah menghalangi beliau. Apa pun jalan yang mungkin, beliau tak ragu menempuhnya. Visa jenis apa pun beliau mau. Tak ada visa haji, visa ziarah pun boleh. Bahkan pernah beliau harus berangkat dengan visa tenaga kerja musiman. Yakni yang khusus untuk dipekerjakan selama musim haji saja.

Demikianlah. Syahdan, di gawang imigrasi Madinah, masalah datang. Petugas imigrasi tak percaya orang setua itu datang sebagai tenaga kerja. Ya logis to. Lha wong usia beliau sudah mendekati 90 tahun.

Mbah Maimun jelas tak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dicecarkan saat interogasi. Kalau beliau terang-terangan bicara bahasa Arab dengan fasih dan lancar sekali, itu hanya berarti mementokkan kecurigaan petugas imigrasi. Maka beliau menyabarkan diri bertawakkal walau tertahan berjam-jam. Sampai kemudian seorang santri Sayyid Muhammad bin ‘Alawy Al Maliki, yang memang bertugas menjemput, menjadi terlalu cemas karena kalamaan menunggu. Lalu menerobos ke kantor imigrasi untuk mencari tahu. Dan cecaran pertanyaan petugas pun beralih kepadanya,

“Apa benar dia ini tenaga kerja?”

“Iya!”

“Masa?”

“Saumpritt!”

“Setua ini?”

“Memangnya nggak boleh?”

“Kerja dimana coba?”

“Di rumah makan.”

“Orang setua ini mau disuruh kerja bagian apa?”

“Bagian icip-icip!”

Entah percaya betulan atau hanya karena kasihan atau karena karamah Mbah Maimun sendiri, petugas imigrasi akhirnya meloloskan beliau dengan status buruh rumah makan bagian mencicipi masakan. [dutaislam.com/gg]

Sumber : dutaislam.com
Ini Cerita Romo Franz Magnis Suseno Soal Humor Gus Dur

Ini Cerita Romo Franz Magnis Suseno Soal Humor Gus Dur


Romo Franz Magnis-Suseno dikenal sangat dekat dengan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur). Karena kedekatannya, banyak cerita humor yang bisa dikisahkan untuk mengenang kebersamaan bersama tokoh pluralisme ini.

Salah satu humor yang masih melekat bagi tokoh agama ini adalah soal tiga orang yang sedang antri di depan pintu surga. Ketiga orang itu, satu orang pendeta, satu orang kiai dan satu orang yang berpakaian compang-camping.

Saat pendeta dan kiai sedang khusyu' dan tawaduk menunggu antrian masuk sorga, tiba-tiba datang lelaki berpakaian compang-camping dan langsung menyibak antrian dan ternyata dipersilahkan oleh malaikat untuk memasuki pintu sorga. Melihat itu, sang kiai dan pendeta bertanya heran kepada malaikat,

"Siapa dia? Kenapa orang seperti itu bisa seenaknya masuk sorga dan mendahului kami?" kisah Romo Magnis dalam Bahasa Inggris dihadapan rombongan pastor lintas Negara yang berkunjung ke Pesantren Tebuireng, Rabu (9/8).

Mendapat pertanyaan itu, malaikat menjawab, "Dia itu sopir bis jurusan Jakarta. Dia berhak masuk sorga lebih dulu, “ jawabnya enteng.

Jawaban malaikat ini tentu semakin membuat heran pendeta dan kyai yang sudah lama antri didepan pintu surga. mungkin karena mereka merasa lebih berhak masuk lebih dulu.

” Amalan apa yang bisa membuat dia berhak lebih dulu dari kami,” ujar mereka kembali bertanya.

Malaikat kemudian menjawab enteng.

“Karena dia saat duduk di belakang kemudi, semua penumpang terjaga dan berdoa dengan khusyu' (karena sopir ngebut). Sementara kalian, saat kalian berkhotbah di mimbar, umat kalian justru mengantuk dan tertidur lelap," tutur Romo Magniz yang langsung disambut tawa para pastor. (Muslim Abdurrahman).

Sumber : nu.or.id
Saat Gus Dur Ditanya Kisah Nabi Ibrahim Versi Islam dan Yahudi

Saat Gus Dur Ditanya Kisah Nabi Ibrahim Versi Islam dan Yahudi


Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim ketika bermimpi diperintahkan menyembelih anaknya oleh Allah SWT menjadi pelajaran berharga bagi umat manusia, khususnya Islam.

Dari rentetan sejarah Nabi Ibrahim, lahirlah syariat berhaji dan hari raya kurban (Idul Adha).

Namun, salah satu kisah Nabi Ibrahim dalam menyembelih anaknya tersebut muncul perbedaan di kalangan kaum Yahudi.

Jika menurut agama Islam yang disembelih adalah Ismail, maka menurut versi Yahudi yang disembelih adalah Ishak.

Suatu ketika KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ditanya versi mana yang benar dari kisah tersebut.

“Gus, dari kedua versi tersebut, kira-kira mana yang benar?” tanya seorang sahabat kepada Gus Dur saat ngobrol santai di sebuah tempat.

“Baik Ismail maupun Ishak, dua-duanya tidak jadi disembelih, jadi buat apa diributkan,” jawab Gus Dur dengan gaya dan tawa khasnya. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Asal Jangan Gus Dur yang Datang

Asal Jangan Gus Dur yang Datang


Di daerah Bali, Gus Dur pernah diancam cekal (cegah tangkal) oleh petugas Polres setempat. Ia tidak diperkenankan ceramah. Untung petugas polisi Bali saat itu tidak mengenal wajah Gus Dur. Mungkin karena TV masih menjadi barang mewah saat itu. Atau bisa jadi polisi tersebut jarang baca koran.

Suatu ketika, mahasiswa di Bali yang tergabung sebuah organisasi ekstra kampus mengundang Gus Dur dalam sebuah diskusi tentang perilaku politik orde baru. Karena judul diskusinya terlampau keren dan pastinya mengkritik pemerintahan orde baru, polisi ketar-ketir. Maklum mereka khawatir akan dapat teguran dari pusat, yaitu Soeharto.

Saat mahasiswa yang mengurus perijinan tersebut, mereka sudah bersiap kemungkinan terburuk, yaitu dilarang. Namun, di luar dugaan, mereka justru dapat ijin dan prosesnya pun terbilang mudah. Namun saat mahasiswa ini akan berpamitan, mereka diajak ngobrol sama polisi tersebut.

“Jadi yang diundang itu KH. Abdurrahman wahid, ya?” tanya polisi tersebut.

“Betul, pak,” jawab mahasiswa tersebut sambil ketar-ketir.

“Begini adik-adik, pada dasarnya kami acc saja. Asal anda sendiri konsisten dengan surat ijin ini. Jangan sampai ada Gus Dur di pertemuan ini. Intinya begitulah,” kontan saja, mahasiswa tersebut terkejut sambil mencoba menahan diri tidak ketawa.

Lucunya, sampai acara berlangsung, perwira polisi tersebut masih belum paham bahwa Gus Dur adalah nama lain dari KH. Abdurrahman Wahid. Kocaknya lagi, selesai acara perwira polisi tersebut menyalami Gus Dur sambil berkata, “terima kasih atas kehadiran Pak Abdurrahman, terus terang pak, kami sebelumnya sempat deg-degan, khawatir yang diundang panitia itu Gus Dur, yang repot ya kami-kami ini, pak,” kata perwira tersebut dengan lugu.

Bagaimana reaksi Gus Dur? Gus Dur hanya manggut-manggut sambil berharap tida ada satupun orang yang ada disitu memanggilnya Gus Dur. Hahahaha....[dutaislam.com/ ed]

Sumber : dutaislam.com
Santri NU Kok Ikut Kyai, Tidak Ikuti Al-Quran dan hadits?

Santri NU Kok Ikut Kyai, Tidak Ikuti Al-Quran dan hadits?


Kalo ada yang bilang santri NU tidak mengikuti Al Quran Sunnah tapi malah ikuti kiainya

Biarkan saja
Kalo ada yang bilang santri NU tidak memahami agama dari sumber utama
Biarkan saja
Kalo dibilang santri NU taklid buta
Biarkan saja

Kalo santri NU dibilang tidak logis
Biarkan saja
Kalo mereka bilang islamnya mereka sumbernya langsung dari quran hadits
Biarkan saja
Kalo mereka teriak untuk kembali hanya pada alquran dan hadits
Biarkan saja
Kalo mereka mengklaim islamnya yang paling benar
Biarkan saja
Santri NU itu harus banyak bersabar
Santri NU itu tidak boleh memusuhi
Santri NU itu tidak usah mengaku paling benar
Santri NU itu harus bisa mengayomi
Tidak usah gumun kalo mereka bilang mereka yang paling nyunah
Tidak usah heran kalo mereka klaim ajaran mereka yang paling sesuai dengan ajaran al quran
Sebagai santri kita cukup nurut sama kiai kita saja
Kiai-kiai yang tidak diragukan lagi keilmuannya
Kiai-kiai yang sanad keilmuannya tidak terputus sampai ke Nabi Muhammad SAW
Kiai-kiai yang memahami makna tersirat dan tersurat ayat
Kiai-kiai yang selalu tawadhu'
Santri NU cukup nurut sama kiainya saja
Tidak usah keminter alquran hadits cuma modal terjemahan
Santri NU cukup nurut sama kiainya saja
Tidak usah ikut-ikutan jualan tiket surga yang didiskon gede-gedean
Santri NU cukup nurut sama kiainya saja
Tidak usah ikut-ikutan nuduh saudaranya munafik, kafir, sesat dll cuma karena beda pemahaman
Santri itu harus berlapang dada
Santri itu harus luas pemikirannya
Santri itu harus luas penghormatannya
Santri itu harus punya kerendahan hati
Karena santri cuma nurut sama kiai
Kiai yang maqomnya sudah melampaui sifat-sifat di atas

Fastnu - Nahdliyin Universitas Telkom

Sumber : muslimoderat.net
Jika Pagi Sudah Shalat Ied, Siangnya Tidak Wajib Shalat Jumat?

Jika Pagi Sudah Shalat Ied, Siangnya Tidak Wajib Shalat Jumat?


Menjelang datangnya hari raya Idul Adha di tahun 1438 H atau 2017 M yang Insyaallah bertepatan dengan hari jumat, banyak beredar asumsi di tengah masyarakat, bahwa dengan melaksanakan shalat id maka gugurlah kewajiban melaksanakan shalat Jum’at. Masih menurut asumsi, hal ini merujuk pada hadits:
اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَوْمٍ وَاحِد، فَصَلَّى الْعِيدَ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدْ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ، فَمَنْ أَحَبّ أَنْ يَشْهَدَ مَعَنَا الْجُمُعَةَ، فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْصَرِفَ، فَلْيَفْعَلْ. (رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالْحَاكِمُ وَقَالَ: صَحِيحُ الْإِسْنَادِ)
“Telah berkumpul dua hari raya di masa Nabi Saw dalam sehari. Lalu Nabi Saw shalat Id di permulaan siang dan bersabda: “Wahai manusia, sungguh ini hari yang telah berkumpul pada kalian di dalamnya dua hari raya, maka barangsiapa yang suka untuk hadir shalat Jum’at bersama kami lakukanlah, dan barangsiapa yang suka untuk pulang lakukanlah. (HR. Abu Dawud dan al-Hakim yan berkata: “Shahih sanadnya.”)
Pertanyaannya, benarkah asumsi seperti itu? Bagaimanakah prespektif ulama dalam menanggapinya?
Mazhab Syafi’i

Menjawab pertanyaan di atas, Imam al-Mawardi dalam karyanya al-Hawi al-Kabir (II/1140) menyatakan:

Mayoritas Fuqaha’ memaparkan kewajiban shalat Jumat tidak gugur bagi penduduk setempat (tempat dilaksanakannya shalat Jum’at), dan karena ibadah shalat Jum’at adalah wajib sedangkan shalat Id adalah sunnah, maka sunnah tidak bisa menggugurkan wajib. Sedangkan untuk penduduk pinggiran kota yang berat dan sulit bagi mereka untuk datang ibadah shalat Jumat karena jarak masjid jauh dari tempat tinggalnya—sebagaimana terjadi pada penduduk pinggiran Madinah di masa Nabi Saw dan Sahabat—, maka mereka dibolehkan memilih untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at atau  meninggalkanya. Sebagaimana atsar Sayyidina Utsman bin Affan:

وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّهُ خَطَبَ يَوْمَ عِيْدٍ، فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيْهِ عِيْدَانِ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمْعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِي فَلْيَنْتَظِرْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ. (رواه البخاري)
Dari Utsman bin Affan Ra, bahwasanya ia berkhutbah di hari raya, ia berkata: “Wahai manusia, sungguh ini adalah hari yang di dalamnya berkumpul bagimu dua hari raya, maka barangsiapa dari penduduk pingiran Madinah yang suka menunggu shalat Jum’at hendaklah menunggu; dan barangsiapa yang suka pulang maka izinkan.” (HR. al-Bukhari)
Pendapat inilah yang menjadi pendapat madzhab Syafi’i dan mayoritas ulama sebagimana dituturkan Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh (II/543).

Namun demikian, bagi penduduk yang dekat dengan masjid seperti kebanyakan masyarakat di Indonesia, masih tetap wajib mendatangi shalat Jum’at dan tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Karena, jarak masjid dengan rumahnya tidak jauh dan tidak ada kesulitan baginya untuk mendatangi shalat Jum’at.
Mazhab Hanbali

Berbeda dengan pendapat mayoritas ulama, menurut mazhab Hanbali kewajiban shalat Jum’at dianggap gugur, sebagaimana ketika terjadi uzur Jum’at seperti sakit dan lainnya yang dapat menggugurkan kewajiban shalat Jumat. Hal ini karena mengacu pada beberapa hadits di antaranya adalah hadits Zaid bin Arqam dan Abu Hurairah.
Sikap Terbaik

Melihat fakta perbedaan pendapat antarmazhab ini, sikap terbaik yang pantas diambil adalah khuruj ‘anil khilaf, yaitu keluar dari perbedaan pendapat ulama dengan tetap melaksanakan shalat Jum’at sebagaimana biasa.
Referensi:

Al-Hawi al-Kabir (II/1140):
فَصْلٌ: إِذَا كَانَ الْعِيدُ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ حكم صلاة الجمعة فَعَلَى أَهْلِ الْمِصْرِ أَنْ يُصَلُّوا الْجُمْعَةَ. وَلَا يَجُوزُ لَهُمْ تَرْكُهَا كَمَا قَالَ بِهِ أَكْثَرُ أَصْحَابِنَا وَالْفُقَهَاءُ كَافَّةً. وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَابْنُ الزُّبَيْرِ قَدْ سَقَطَ عَنْهُمْ فَرْضُ الْجُمْعَةِ. وَهَذَا غَيْرُ صَحِيحٍ لِعُمُومِ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْجُمُعَةُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، وَلِأَنَّ الْعِيدَ سُنَّةٌ وَالْجُمْعَةَ فَرْضٌ، وَلَا يَجُوزُ تَرْكُ الْفَرْضِ بِالسُّنَّةِ. فَأَمَّا أَهْلُ السَّوَادِ فَفِي سُقُوطِ الْجُمْعَةِ عَنْهُمْ وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا وَاجِبَةٌ عَلَيْهِمْ كَأَهْلِ الْمِصْرِ. وَالْوَجْهُ الثَّانِي: وَهُوَ نَصُّ الشَّافِعِيِّ أَنَّهَا سَقَطَتْ عَنْهُمْ، لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ أَنَّهُ قَالَ لِأَهْلِ الْعَوَالِي: فِي مِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَنْ يَنْصَرِفَ فَلَيَنْصَرِفْ فَإِنَّا مُجَمِّعُونَ.
وَالْفَرْقُ بَيْنَ أَهْلِ الْمِصْرِ وَالسَّوَادِ: أَنَّ أَهْلَ السَّوَادِ إِذَا انْصَرَفُوا بَعْدَ صَلَاةِ الْعِيدِ شَقَّ عَلَيْهِمُ الْعَوْدُ، لِبُعْدِ دَارِهِمْ وَلَا يَشُقُّ عَلَى أَهْلِ الْمِصْرِ لِقُرْبِ دَارِهِمْ .
Pasal: Ketika hari raya jatuh pada hari Jum’at maka hukum shalat Jum’at bagi penduduk setempat tetap wajib melaksanakannya dan tidak boleh bagi mereka meninggalkannya, sebagaimana pendapat mayoritas Ashab kami dan seluruh Fuqaha. Sementara Ibn Abbas dan Ibn Zubair berpendapat gugurlah kewajiban shalat Jumat dari mereka. Ini pendapat yang tidak benar berdasarkan keumuman sabda Nabi Saw: “Shalat Jum’at wajib bagi setiap muslim”, dan karena shalat Id adalah sunnah dan shalat Jum’at adalah wajib, sementara tidak boleh meninggalkan wajib karena sunnah. Adapun
penduduk pinggiran maka tentang gugurnya kewajiban jum’at bagi mereka ada dua pendapat: pertama, shalat Jum’at tetap wajib bagi mereka sebagaimana penduduk setempat. Kedua dan ini adalah nash Imam as-Syafi’i, shalat Jum’at gugur bagi mereka berdasarkan riwayat dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda kepada penduduk pinggiran Madinah: “Pada semisal hari ini sungguh berkumpul di harimu ini dua hari raya, maka barangsiapa ingin pulang silahkan pulang. Sungguh kami tetap melaksanakan shalat Jumat.

Adapun perbedaan antara penduduk kota dan pinggiran (as-sawad): penduduk as sawadjika pulang setelah shalat Id maka berat bagi mereka kembali ke masjid, karena jauhnya rumah mereka; sedangkan penduduk kota tidak berat karena dekat.
Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh (II/543):

سُقُوْطُ الْجُمْعَةِ عَمَّنْ حَضَرَ الْعِيْدَ إِلَّا الْإِمَامَ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ:
 قَالَ الْحَنَابِلَةُ: كَمَا تَسْقُطُ الْجُمْعَةُ عَنْ ذَوِي الْأَعْذَارِ أَوِ الْأَشْغَالِ كَمَرِيْضٍ وَنَحْوِهِ، تَسْقُطُ عَمَّنْ حَضَرَ الْعِيْدَ مَعَ الْإِمَامِ إِنِ اتَّفَقَ عِيْدٌ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ إِسْقَاطَ حُضُوْرٍ، لَا إِسْقَاطَ وُجُوْبٍ، إِلَّا الْإِمَامَ، فَإِنَّهَا لَا تَسْقُطُ عَنْهُ، إِلَّا أَنْ لَايَجْتَمِعَ لَهُ مَنْ يُصَلِّيَ بِهِ الْجُمُعَةَ، وَيَصِحُّ أَنْ يَؤُمَّ فِيْهَا، وَالْأَفْضَلُ حُضُوْرُهَا خُرُوْجاً مِنَ الْخِلَافِ.
وَدَلِيْلُهُمْ: حَدِيْثُ زَيْدٍ بْنِ أَرْقَمَ: مَنْ شَاءَ أَنْ يُجَمِّعَ فَلْيُجَمِّعْ وَحَدِيْثُ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيْدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجَمِّعُوْنَ، وَلِأَنَّ الْجُمُعَةِ إِنَّمَا زَادَتْ عَنِ الظُّهْرِ بِالْخُطْبَةِ، وَقَدْ حَصَلَ سِمَاعُهَا فِي الْعِيْدِ، فَأَجْزَأَهُ عَنْ سِمَاعِهَا ثَانِياً، وَلِأَنَّ وَقْتَهَا وَاحِدٌ، فَسَقَطَتْ إِحْدَاهُمَا بِالْأُخْرَى كَالْجُمُعَةِ مَعَ الظُّهْرِ.

Gugurnya shalat Jum’at bagi orang yang hadir shalat Id selain Imam menurut Hanabilah.
Ulama Hanabilah berpendapat: Sebagaimana gugur kewajiban shalat Jum’at bagi orang -orang yang uzur atau memiliki kesibukan, seperti orang sakit dan semisalnya, maka gugur pula bagi orang yang hadir shalat Id bersama imam jika hari raya bertepatan di hari Jumat. Gugur dari sisi kehadirannya, bukan gugur kewajibannya, kecuali imam. Karena shalat jum’at tidak gugur dari Imam kecuali jika tidak ada orang yang berkumpul untuk shalat Jum’at bersamanya, dan sah baginya mengimami shalat Jumat. Yang paling utama adalah hadir shalat Jum’at karena keluar dari khilaf.

Adapun dalil ulama Hanabilah adalah: hadits Zaid bin Arqam: “Barangsiapa yang berkenan shalat Jum’at hendaknya melaksanakanya”, dan hadits Abu Hurairah dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Telah bekumpul di harimu ini dua hari raya. Barangsiapa yang berkenan pulang, maka cukup baginya shalat Id dari shalat Jum’at, dan sungguh kami tetap melaksanakan shalat Jum’at.” Selain itu, juga karena shalat Jum’at melebihi shalat Zuhur dengan khotbahnya, dan khotbahnya telah terlaksana mendengarkan khotbah shalat Id. Karenanya ini telah mencukupinya dari mendengar khotbah kedua kalinya (khotbah Jum’at), dan juga karena waktunya satu, maka gugurlah salah satunya seperti shalat Jum’at an Zuhur.

Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh (II/543):
وَقَالَ الْجُمْهُوْرُ (بَقِيَّةُ الْمَذَاهِبِ): تَجِبُ الْجُمُعَةُ لِعُمُوْمِ الْآيَةِ الآمِرَةِ بِهَا، وَالْأَخْبَاِر الدَّالَةِ عَلَى وُجُوْبِهَا؛ وَلِأَنَّهُمَا صَلَاتَانِ وَاجِبَتَانِ، فَلَمْ تَسْقُطْ إِحْدَاهُمَا بِالْأُخْرَى، كَالظُّهْرِ مَعَ الْعِيْدِ.
Mayoritas Ulama (seluruh mazhab selain Hanabilah) berpendapat: wajib shalat Jum’at karena (a) keumuman ayat yang memerintahkannya, (b) hadits-hadits yang menunjukan kewajibannya dan karena (c) keduanya adalah shalat yang wajib maka tidak gugur salah satunya sebab yang lain sebagaimana shalat dhuhur dan ied.
___________________
Disahre dari Ahmad Muntaha AM via aswajamuda.com

Sumber : muslimoderat.net
Banyak yang Ngaku Ulama, Inilah 4 Ciri-Ciri Ulama yang sebenarnya

Banyak yang Ngaku Ulama, Inilah 4 Ciri-Ciri Ulama yang sebenarnya


Makna Ulama yang sesungguhnya adalah mereka yang memandang umat manusia ini dengan pandangan penuh kasih sayang(Gusmus)

Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata-kata yg mengalami pergeseran makna. Baik pergeseran makna meluas ataupun menyempit. Misalnya kata "madrasah" dulu dimaknai "sekolah", sekarang berubah menjadi "sekolah islam". Kata "guru" dulu punya makna "orang yg mengajari sesuatu" sekarang berubah makna menjadi "pengajar di sekolah". Ulama itu punya ciri-ciri sebagai berikut:

1. Menguasai berbagai bidang Ilmu agama seperti Nahwu, Sharof, Balaghah, Fiqh, Ushul Fiqh dll.

2. Tawadhu' atau rendah hati, tidak teriak-teriak mengatakan bahwa dia adalah ulama, bahkan selalu merasa tidak layak disebut sebagai ulama.

3. Bisa dipercaya, tidak membuat dan menyebarkan berita hoax atau fitnah.

4. Ceramah dan khotbahnya selalu menyejukkan bagi siapa saja yg mendengarnya.


Ciri-ciri di atas bisa kita temukan pada sosok ulama seperti pada gambar diatas. Mbah Kholil Bangkalan, Hadratus syekh Hasyim Asy'ary, gus Mus, gus Dur, kyai Hamid dan lain2.
Di dunia dan akherat kami ikut para ulama kami. wallahu A'lam bissowab

Sumber : muslimoderat.com
Sandal Mbah Hamid Pasuruan

Sandal Mbah Hamid Pasuruan


 Keluar dari Masjid pagi itu, sandal yang akan di pake berangkat haji Allah yarham Romo Yai Hamid, raib.

"Ada apa Yai?" Tanya seorang jamaah melihat Yai Hamid celinguk'an.
"Sandalku ilang" jawab beliau.

Seorang jamaah lain datang sambil menghaturkan sandalnya agar di pake Yai Hamid.
"Alhamdulillah?" Ucap Yai Hamid.

"Ambil sandalmu di makkah ya." kata Yai Hamid  tersenyum sambil lalu.

Waktu pulang, si empunya sandal mikir, bingung dengan ucapan Yai Hamid. Belum lama nyampe rumah. Datang seorang tamu minta tolong di carikan rumah yang di jual.

Belum ada 10 menit tamu pulang, datang tetangga sebelah sambat butuh uang dan berencana menjual rumahnya.

"Oh kebetulan barusan ada orang cari rumah," jawab dia.

Dan akhirnya si empunya sandal tadi mendapatkan komisi penjualan rumah tetangganya lumayan besar dan cukup buat daftar haji hari itu juga.

Ketika menunaikan haji, waktu umroh, tiba tiba ada orang memanggilnya yang ternyata adalah Kyai Hamid.

"Ini lho sandal sampean aku kembalikan?" Ucap Yai Hamid sambil tersenyum. [dutaislam.com/ed]

Sumber : dutaislam.com
KH Anwar Manshur Lirboyo: Putro Sampean Gelem Mondok niku Pitulunge Allah Engkang Ageng

KH Anwar Manshur Lirboyo: Putro Sampean Gelem Mondok niku Pitulunge Allah Engkang Ageng

"Sampean kagungan putro gelem mondok niku masyallah, niku pitulung ageng. pitulunge Allah engkang ageng, mergo gelem ngaji niku berarti dikersak ne apik dining Allah...mergo tengere wong apik niku gelem ngaji

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
Seng cedek kyai cedek pondok gak gelem ngaji, seng adoh2 malah podo teko. mergo Allah ta'ala diobahno atine gelem budal ngaji"

KH. M. Anwar Manshur..


Foto Pengasuh Ponpes Lirboyo
Dari sebelah kanan Almaghfurllah KH. Idris Marzuqi, KH. Anwar Manshur, KH. Maftuh bastul birri..

Sumber : muslimoderat.net
Prinsip-prinsip NU Kini Diadopsi Arab Saudi

Prinsip-prinsip NU Kini Diadopsi Arab Saudi


Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abugabriel mengatakan, saat ini bukan saatnya lagi mempertentangkan prinsip-prinsip NU dengan Salafi di Saudi. Karena, kondisi saat ini sudah berbeda dengan sebelum. Menurut dia, saat ini, idiom-idiom yang merupakan prinsip NU telah digunakan di negara tersebut.

Ia menyebutkan dalam kesepakatan bersama, ketika pemimpin Arab Saudi Raja Salman ke Indonesia kedua negara menyepakati untuk menebarkan Islam yang tawasuth (moderat) dan menebarkan Islam yang (i’tidal). Dua istulah tersebut merupakan prinsip yang dirumuskan kiai NU.

“Dan yang kedua, semacam lembaga antiteror Saudi adalah i’tidal, sudah NU, kan? Itu adalah idiom-idiom NU,” katanya pada Silaturahim warga NU Sedunia di Mahbas Jin, Makkah, Arab Saudi, Selasa (29/8) yang digelar Pengurus Cabang Istimewa NU Arab Saudi.

Agus menambahkan, ketika Raja Salman datang ke Indonesia, kedua negara juga sepakat menandatangani MoU perang terhadap terorisme.

“Inilah perkembangan baru di Saudi,” lanjutnya sebagaimana disaksikan live streaming melalui media sosial Facebook seorang yang hadir pada kegiatan itu.

Pada kesempatan itu, ia juga mengucapkan selamat datang kepada para jemaah haji asal Indonesia. Ia meminta agar mereka mendoakan Kedutaan Indonesia untuk Arab Saudi agar menjadi pelayan yang baik para jamaah haji.

Silaturahim warga NU itu dihadiri KH Maemoen Zubair, KH Salahuddin Wahid, KH Agoes Ali Masyhuri. Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan diskusi panel. Tampil sebagai narasumber, antara lain: Katib ‘Aam PBNU KH Yahya C. Tsaquf dan Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad. (Abdullah Alawi/nu online)

Sumber : nu.or.id
Cerita Kesaktian Bendera dan Stiker NU

Cerita Kesaktian Bendera dan Stiker NU


Bendera Nahdlatul Ulama (NU) terpancang di pagar besi  bercat putih yang agak memudar di sebuah rumah, di kawasan Legoso, Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Rumah yang didominasi warna krem berlantai marmer dengan halaman kecil ini adalah sekretariat Ikatan Keluarga Mahasiswa Raudhatul Ulum (Ikamaru) wilayah Jakarta dan Sekitarnya. Ikamaru adalah organisasi yang mewadahi para santri alumni pesantren itu, yang menempuh studi di kampus-kampus yang tersebar di seluruh Jabodetabek.

Pada Ahad (27/8) sore hingga malam, putra dan putri Ikamaru bersama pegiat lain berkumpul di sekretariatnya mengikuti acara Pungkasan Wulan Nyarung dengan agenda Khotmil Qur’an bi al ndhor dan bincang santai bertema “Semua (Ber)korban pada Waktunya”. Kegiatan ini rutin diadakan setiap Ahad akhir bulan oleh Nyarung.id, sebuah website yang menjadi saluran para santri dalam merawat tradisi pesantren.

Mengenai keberadaan bendera NU di sekretariat Ikamaru itu sudah ada sejak pertama kali mereka mengontrak rumah di jalan Lurah Disah No.27 Legoso, Tangsel itu. Hal ini tak lepas dari kultur para santri Ponpes Raudlatul Ulum yang lekat dengan tradisi NU. Tradisi tersebut terus mereka hidupkan hingga saat merantau dan bertahan hidup di Ibukota. Di antaranya, setiap Kamis sore atau malam Jumat, mulai pukul 16.00, mereka rutin menggelar acara pembacaan Yasin dan Tahlil, dilanjutkan dengan pembacaan salawat dan kitab Albarzanji hingga berakhir sekitar pukul 22.00.

Tak hanya itu, mereka juga rutin menggelar pengajian kitab-kitab kuning, seperti Ta’limul Muta’alim, Bidayatul Hidayah, Kifayatul Akhyar, Tafsir Yasin dan lain-lain setiap malam Sabtu dan Ahad. Hingga saat ini, pengajian tersebut dipandu oleh Ustadz Purnomo, alumnus Raudlatul Ulum yang juga magister di Institut Ilmu al-Quran, Ciputat. Kegiatan itu diikuti oleh seluruh anggota Ikamaru dari seluruh Jabodetabek.

Masih terkait dengan logo NU di Ikamaru, Slamet Widodo, salah satu lulusan UIN Jakarta yang juga anggota Ikamaru, menceritakannya. Menurut dia, atribut NU, baik bendera maupun sekadar stiker, seakan wajib terpasang di sekretariat, terutama sejak peristiwa beberapa waktu lalu, sekitar Oktober 2015.

“Karena bendera dan stiker NU itu “sakti”. Kita terhindar dari kecurigaan tetangga,” katanya.

Kala itu, lanjutnya, anak-anak Ikamaru baru pindah tempat sekretariat di kawasan Cirendeu, Tangerang Selatan. Seperti biasa, tiap malam Jumat mereka menggelar pembacan Yasin dan Tahlil dilanjutkan dengan al-Barzanji lengkap dengan iringan hadroh.

Sehari setelahnya, Slamet Widodo yang hendak membeli sesuatu di warung samping sekretariat mendapat teguran atau tepatnya dicurigai sebagai kelompok teroris. Karena memang masa itu tengah merebak isu seputar kelompok radikal seperti ISIS dan sebagainya.

“Waktu saya ke warung samping, saya dipanggil sama Pak RT. Saya ditanya, ‘Mas (orang yang tinggal di rumah kontrakan) ini kelompok apa? Bukan teroris, kan?’ Saya kaget dan saya jawab, ‘bukan Pak. Kami anak-anak NU’. Soalnya kalau saya jawab Raudlatul Ulum nanti dia malah tambah nggak tahu,” ujar Widodo.

Setelah saya jawab kita dari NU, lanjut Widodo, pak RT langsung paham. Dia bilang, ‘oh NU. Maaf sebelumnya, kita kan nggak tahu. Soalnya sekarang lagi rame teroris. Kalau NU mah kita paham,’ kata Pak RT.

Gara-gara itu, Widodo langsung mencari stiker logo NU, kemudian menempelnya di kaca jendela depan sekretariatnya. Setelah kejadian itu, RT dan warga setempat pun merasa tenang. Mereka bahkan selalu mengundang anak-anak Ikamaru ketika warga atau RT setempat menggelar yasinan, tahlilan atau tasyakuran. (MSW/Abdullah Alawi/NU Online)

Sumber : nu.or.id
[Kisah Nyata] Hewan Buas Tak Mau Memakan Daging Keturunan Rasulullah

[Kisah Nyata] Hewan Buas Tak Mau Memakan Daging Keturunan Rasulullah


Alkisah, di masa Daulah Abbasiyah, tepatnya ketika Khalifah Al Mutawakkil menjabat sebagai kepala negara, seorang wanita bernama Zainab, mengaku-ngaku bahwa dirinya adalah cucu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia menyebut dirinya adalah putri dari pasangan; Ali bin Abi Thalib dan Fathimah radhiyallahu ‘anhuma.

Bagaimana mungkin ia masih hidup ketika itu? Berarti ia hidup selama dua ratus tahun lebih, karena rentang masa antara zaman nubuwah dan Daulah Abbasiyah, berkisar dua abad lamanya.

Meskipun pengakuannya ini tidak masuk akal, tetapi di tengah masyarakat, Zainab merupakan orang yang cukup berpengaruh. Ia memiliki banyak pengikut. Bahkan ia mampu mengeksploitasi harta pengikutnya. Maka Khalifah Al Mutawakkil pun mengeluarkan perintah untuk mengundangnya ke istana.

“Kamu ini seorang gadis dan Rasulullah telah wafat ratusan tahun yang lalu. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? ” khalifah mencecar Zainab.

Kemudian Zainab berkata, “Sesungguhnya Rasulullah megusap kepalaku dan berdoa kepada Allah untuk mengembalikan masa mudaku setiap empat puluh tahun sekali.”

Masih belum yakin dengan jawaban yang tidak masuk akal ini, Khalifah Al Mutawakkil mengumpulkam masyayikh (para tetua) keturunan Ali bin Abi Thalib, putra-putra Al-‘Abbas, segenap warga Quraisy, dan memberitahu mereka perkara Zainab yang sangat kontroversial. Dan kemudian mereka pun menyebutkan sebuah riwayat bahwa Zainab telah wafat.

“Apa yang kamu katakan untuk menjawab pernyataan mereka?” khalifah kembali bertanya penuh selidik kepada Zainab.

“Itu riwayat palsu dan keji. Karena sesungguhnya, privasiku terjaga dari pengetahuan orang-orang. Bahkan mereka tidak tahu tentang kehidupan dan kematianku.” Zainab mematahkan tuduhan itu dengan penuh percaya diri.

Kemudian Khalifah bertanya kepada jama’ah yang dia kumpulkan, “Adakah kalian memiliki bukti yang dapat mengungkap tipu daya wanita ini selain riwayat yang kalian sampaikan?” Sayangnya mereka menjawab, “Tidak.”

Namun beberapa saat kemudian, sebagian mereka menawarkan satu solusi untuk memecahkan masalah ini dengan mendatangkan Ali bin Muhammad bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, yang mempunyai laqob (nama panggilan) “Al-Haadi.”

Setelah disampaikan kepadanya apa yang sedang terjadi, Al Hadi pun menegaskan bahwa Zainab putri Ali sudah lama meninggal dengan menyebutkan tahun, bulan, dan hari kematiannya. Tetapi bukan jawaban seperti ini yang diinginkan Sang khalifah. Beliau bahkan berjanji tidak akan melepaskan Zainab sebelum membungkamnya dengan hujjah yang kuat.

“Jika benar dia adalah anak Fathimah”, akhirnya Ali Al Hadi kembali bersuara, berusaha mengungkap tipu daya Zainab dengan mengajukan sebuah tantangan, “Sesungguhnya jasad keturunan Fathimah tidak akan dimangsa oleh hewan-hewan buas. Maka datangkanlah hewan buas kepadanya. Dan lemparkan ia di tengah kerumunan hewan buas itu.”

“Tidak!” teriak Zainab yang raut wajahnya tetiba berubah ketakutan. “Ini hanyalah cara agar dia bisa membunuhku! Kenapa tidak kamu saja yang melakukannya.” katanya berusaha membela diri.

Dengan tenang, Ali Al Hadi berkata, “Ya. Aku berani membuktikannya.” Dan beberapa saat kemudian, ia dimasukkan ke dalam sebuah kandang. Perlahan-lahan, enam ekor singa yang ada di dalam kandang itu, mendekati Ali satu per satu. Dengan lembut, tangan Ali membelai kepala singa-singa yang mendekatinya. Binatang-binatang buas itu, di hadapan Ali Al Hadi, menjadi jinak dan penurut.

Begitu melihat Ali keluar dari kandang dengan selamat, dan dilihatnya dengan mata kepala sendiri sebuah pemandangan yang langka, Zainab pun hanya terdiam seribu bahasa. Dan, akhirnya, ia akui kebohongan yang selama ini ia desuskan, tipu daya yang selama ini dia mainkan. Masyarakat yang mengetahui kejadian ini, menjulukinya dengan sebutan, “Zainab Al Kadzaabah.”

Referensi: Al Mafakhir karya An Naisaburi. Lisan Al Mizan karya Ibnu Hajar Al ‘Asqallani. Dan Muruj Adz Dzahab karya Al Mas’udi.

Share status M Ilham Maulana dari Penggali Hikmah: Muhammad Faishal Fadhli a.k.a Ichang Stranger.

Alfaqir juga pernah mendengar kisah ini dari KH. Mas Gholib bin Zahid bin Ibrahim bin Gholib Basyaiban, Sidoresmo - Surabaya.

Sumber : muslimoderat.net
[Gresik Memanas] Milisi Cingkrang ala Teroris Tantang Warga Sumengko yang Amaliyahnya Dibid'ahkan

[Gresik Memanas] Milisi Cingkrang ala Teroris Tantang Warga Sumengko yang Amaliyahnya Dibid'ahkan


Sekelompok pasukan cingkrang yang diduga dibon dari Pasuruan dan Malang datang ke Desa Sumengko, Wringinanom, Gresik pada Ahad (27/08/2017). Mereka mendatangi desa tersebut karena ada konflik berbasis aqidah antara warga lokal dengan pendatang yang mempunyai ajaran takfiri; suka membid'ahkan amaliyah ahlussunnah wal jamaah.

"Ada yang kenal dengan wajah jamaah radikal ini? Mereka adalah pasukan cingkrang dibon dari Pasuruan dan Malang". Begitu bunyi broadcast yang diterima Dutaislam.com dari sahabat Ansor Gresik dengan lampiran foto di atas.

Sebetulnya, kasus tersebut sudah terjadi sejak tahun 2012 dan telah terlaksana beberapa pertemuan mediasi yang difasilitasi oleh Muspika. Berikut ini adalah foto rembug membahas solusi sebelum pasukan milisi cingkrang didatangkan dari luar daerah:

Satat rembug warga menolak jamaah radikal Basuki Rahmat laknatullah alaih
Karena mengingkari kesepakatan, warga geram atas ulah kelompok radikal cingkrang itu dan menuntut pembubaran atas keberadaan mereka. Tapi yang terjadi malah mereka mendatangkan pasukan milisi. Nantang-nantang pakai nunjuk satu jari (telunjuk, bukan tengah) ke atas ala-ala teroris begituh.

"Sejak tiga bulan terakhir, mereka beraktifitas kembali. Makanya warga sekitar merasa dikhianati dengan kesepakatan yang telah dibuat. Dengan jalan persuasif dialog sudah tidak bisa, maka kemarin itu tanggal 27/08/17 warga minta untuk ditutup segala bentuk kegiatan mereka," kata ketua GP Ansor Gresik Agus Juned kepada Dutaislam.com, Senin (28/08/2017) malam.

Penolakan masyarakat Desa Sumengko atas keberadaan jama'ah radikal pimpinan Ustadz Basuki Rahmat itu berjalan lancar dan tertib. Sikap anggota Ansor, Banser, Pagar Nusa dan IKS tetap sabar mengawal tim mediasi yang dipimpin oleh Muspika Wringinanom dan Kesbangpolinmas Gresik, meskipun sempat dipanasi-panasi.

"Nah ternyata mereka sudah mendatangkan milisi radikal itu, yang seragam mereka sudah tidak asing lagi dengan kelompok-kelompok radikal," tambah Agus.

Sebelumnya, Sabtu (26/08/2017), PAC Ansor setempat telah mengeluarkan instruksi kepada semua pengurus sampai pada tingkatan ranting untuk mengawal advokasi pada warga Desa Sumengko Wringinanom agar tetap berjalan tanpa provokasi sebelah. [dutaislam.com/gg]

Sumber : dutaislam.com
[Kronologi] Masjid Hambal Bogor Ditolak Ribuan Pejuang Aswaja Karena Jadi Sarang Wahabi

[Kronologi] Masjid Hambal Bogor Ditolak Ribuan Pejuang Aswaja Karena Jadi Sarang Wahabi


Sudah sembilan bulan lamanya, terhitung mulai Desember 2016 pasca dilakukannya mediasi oleh walikota Bogor Bima Arya antara Jamaah Mesjid Ahmad Bin Hanbal dengan warga setempat.

Masjid yang berlokasi di Jalan Pandu Raya Kelurahan Tanah Baru Kecamatan Bogor ini, berdiri pada tahun 2001 berdasarkan IMB nomor 654.8/SK.151-Diskim-tahun 2001 berdekatan dengan Mesjid warga kurang lebih radius 70 meter.

Kemudian, diputuskan untuk direnovasi total karena kebutuhan ruang yang lebih luas, sehingga masjid yang ada sebelumnya dibongkar total. Selama proses pengurusan IMB, disinyalir terdapat kejanggalan.

Pertama, secara teknis, proses pengurusan izin ini tidak memenuhi persetujuan warga asli setempat. Dari total keseluruhan 7 Rukun Tetangga yang ada, hanya sebagian kecil warga 1 RT yang memberikan izin, yaitu warga pendatang. Selebihnya menolak.

Kedua, ditinjau dari sisi pendekatan Al-Qur’an, sebagaimana kita ketahui dalam surat Al-Baqoroh 114 yang berkaitan dengan surat Attaubah 107, disana dijelaskan:

"Dan (diantara orang orang munafik itu), ada orang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudhorotan (pada orang orang mukmin) untuk kekafiran dan memecah belah antara orang orang mukmin".

Imam Al-Qurtuby dalam tafsirnya mengatakan, "Tidak diperkenankan merobohkan mesjid dan tidak diperbolehkan menjual mesjid, dan tidak boleh mengosongkan mesjid walaupun bangunannya rusak, dan tidak boleh melarang pembangunan mesjid. Terkecuali pihak pengelola dan pengurus mesjid bertujuan untuk pemecah belahan umat (konflik)".

Setiap mesjid yang didirikan atas dasar kemudhorotan, riya, atau syum’ah maka termasuk dalam kategori Masjid Dhiror (Tafsir Al-Qurtuby 8/162). Dalam catatan sejarah pernah terjadi pada zaman Nabi, Mesjid Dhiror dibakar dan dirobohkan bangunannya oleh sahabat Malik Bin Duhsyum atas perintah Rasulullah SAW.

Masjid Mengancam Kedaulatan
Pertanyaan Kritis selanjutnya adalah, apa yang dimaksud dengan pendirian mesjid atas dasar kemadhorotan? Inilah yang menjadi titik krusial lahirnya desakan warga setempat agar di cabutnya IMB mesjid Ahmad Bin Hanbal.

Apa titik krusial dimaksud? Pertama, isi ceramah dan kajian yang dilakukan oleh Yazid Jawas yang notabene Imam besar mesjid, disinyalir telah keluar koridor yang semestinya. Ada banyak bukti rekaman video ceramah Yazid Jawas yang sangat tendensius dan memicu perpecahan umat.

Beberapa diantaranya adalah yang bersangkutan mengatakan kalau ziarah kubur, sholawatan, tahlilan, tawassul dan acara haul sebagai kegiatan bid’ah, musyrik dan sesat.

Kedua, dalam buku berjudul “Mulia dengan Manhaj Salaf” yang ditulis oleh Yazid Jawas, dikatakan kalau ada 27 golongan atau 27 fiqrah (golongan) yang dianggap sesat. Dari kedua puluh tujuh golongan tersebut, antara lain :

Pertama, Yazid menganggap sesat Asy'ariyyah (yang didirikan oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ary 260 -331 H) yang mayoritas diikuti ajarannya oleh umat muslim sedunia, termasuk ahli tafsir Al Imam Al Qurtuby, ahli fiqih Al Imam Nawawi dan Master Hadits Al Hafidz Asqolani.

Kedua, Yazid menganggap sesat golongan Maturidiyyah (yang didirikan imam Abu Mansyur Al Maturidy 238H – 333 H). Ketiga, Yazid Menganggap sesat golongan Tasawwuf (yang dipimpin oleh Al Imam Junaidi Albaghdady 221 - 297 H)

Selain dari ketiga golongan tersebut diatas, selebihnya yang dianggap sesat oleh Yazid adalah:

1. Kelompok KHAWARU
2. Kelompok SYI’AH / RAFIDHAH
3. QADARIYYAH
4. JAHMIYYAH
5. JABARIYYAH
6. MURJI’AH
7. MU’TAZILAH
8. MUSYABBIHAH
9. FALASIFAH (Filsafat)
10. KARAMIYYAH
11. JAMA’AH TABLIG
12. IKHWANUL MUSLIMIN (IM)
13. SURURIYYAH
14. HIZBUT TAHRIR (HT)
15. ISLAM JAMA’AH / LEMKAR / LDII
16. JAMA’AH ATUL MUSLIMIN
17. NII (Negara Islam Indonesia)
18. ISA BUGIS
19. INKARUS SUNNAH
20. AHMADIYYAH
21. LEMBAGA KERASULAN
22. AL-BAABIYYAH / BAHAIYYAH
23. JAMA’AH ARQOM
24. JARINGAN ISLAM LIBERAL

Dengan uraian tersebut diatas, Yazid selain telah gegabah dan terang terangan menyamakan keduapuluh tujuh golongan tesebut dan mengkalim golongan sesat, dirinya juga telah mengancam kedaulatan umat. Ini sangat berbahaya bagi keutuhan Bangsa yang selama ini kita rawat dengan baik.

Sebagai penutup dari uraian diatas, titik fokus masyarakat atas status masjid Ahmad Bin Hanbal bukanlah semata karena menolak dibangunnya mesjid. Akan tetapi, warga merasa terganggu dan khawatir jika ajaran Yazid Jawas ini tumbuh berkembang di Kota Bogor yang meyoritas ahlussunnah waljamaah. Penulis mengistilahkan “Ada sesuatu yang tidak terlihat dibalik yang terlihat”. Begitu. [dutaislam.com/ab]

Sumber : dutaislam.com
Bantahan kepada anti Madzhab yang Mengatakan Ikut Rasulullah Apa Ikut Imam Syafii?

Bantahan kepada anti Madzhab yang Mengatakan Ikut Rasulullah Apa Ikut Imam Syafii?


Diantara ciri khas Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah mengikuti pola bermadzhab dalam amaliah sehari-hari terhadap salah satu madzhab fiqih yang empat, yaitu madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Bahkan menurut al-Imam Syah Waliyullah al-Dahlawi (1110-1176 H/1699-1762 M), pola bermadzhab terhadap suatu madzhab tertentu secara penuh telah dilakukan oleh mayoritas kaum Muslimin sejak generasi salaf yang saleh, yaitu sejak abad ketiga Hijriah. Karenanya, sulit kita temukan nama seorang ulama besar yang hidup sejak abad ketiga hingga saat ini yang tidak mengikuti salah satu madzhab fiqih yang ada.

Belakangan setelah lahirnya gerakan Wahhabi di Najd Saudi Arabia, lahir pula gerakan anti madzhab yang mengajak kaum Muslimin agar menanggalkan baju bermadzhab dan kembali kepada “ajaran al-Qur’an dan Sunnah”. Karena menurut mereka, para imam madzhab sendiri seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam al-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, lebih mendahulukan hadits shahih daripada hasil ijtihad. Bukankah semua Imam madzhab pernah menyatakan, “idza shahha al-hadits fahuwa madzhabi (apabila suatu hadits itu shahih, maka itulah madzhabku)”.

Sudah barang tentu ajakan menanggalkan pola bermadzhab dan kembali kepada al-Qur’an dan Hadits adalah ajakan beracun, karena secara tidak langsung ajakan tersebut beranggapan bahwa para imam madzhab dan para ulama yang bermadzhab telah keluar dari al-Qur’an dan hadits. Anggapan semacam ini jelas tidak benar, karena semua madzhab fiqih yang ada berangkatnya dari ijtihad para imam mujtahid, sang pendiri madzhab. Sedangkan ijtihad mereka jelas dibangun di atas pondasi al-Qur’an dan Sunnah. Seorang ulama baru dibolehkan berijtihad, apabila telah memenuhi persyaratan sebagai mujtahid, yang antara lain menguasai kandungan al-Qur’an dan Sunnah sebagai landasan ijtihadnya.

Kita juga sering mendengar pernyataan kalangan anti madzhab yang mengatakan, “mengapa Anda mengikuti Imam al-Syafi’i, kok tidak mengikuti Rasulullah saw saja”, atau “siapa yang lebih alim, Rasulullah saw atau Imam al-Syafi’i”? Tentu saja pertanyaan tersebut sangat tidak ilmiah, dan menjadi bukti bahwa kalangan anti madzhab memang tidak mengetahui al-Qur’an dan ilmu ushul fiqih.

Ketika seseorang itu mengikuti Imam al-Syafi’i, hal itu bukan berarti dia meninggalkan Rasulullah saw. Karena bagaimanapun Imam al-Syafi’i itu bukan saingan Rasulullah saw atau menggantikan posisi beliau. Para ulama yang mengikuti madzhab al-Syafi’i seperti Imam al-Bukhari, al-Hakim, al-Daraquthni, al-Baihaqi, al-Nawawi, Ibn Hajar dan lain-lain, berkeyakinan bahwa Imam al-Syafi’i lebih mengerti dari pada mereka terhadap makna-makna al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw secara menyeluruh. Ketika mereka mengikuti al-Syafi’i, bukan berarti meninggalkan al-Qur’an dan Sunnah. Akan tetapi mengikuti al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman orang yang lebih memahami, yaitu Imam al-Syafi’i.

Hal tersebut dapat dianalogikan dengan ketika para ulama mengikuti perintah al-Qur’an tentang hukum potong tangan bagi para pencuri. Dalam al-Qur’an tidak dijelaskan, sampai di mana batasan tangan pencuri yang harus dipotong? Apakah sampai lengan, sikut atau bahu? Ternyata Rasulullah saw menjelaskan sampai pergelangan tangan. Hal ini ketika kita menerapkan hukum potong tangan dari bagian pergelangan tangan, bukan berarti kita mengikuti Rasulullah saw dengan meninggalkan al-Qur’an. Akan tetapi kita mengikuti al-Qur’an sesuai dengan penjelasan Rasulullah saw yang memang diberi tugas oleh Allah SWT sebagai mubayyin, penjelas isi-isi al-Qur’an. (QS. al-Nahl : 44 dan 64).

Al-Qur’an al-Karim sendiri mengajarkan kita untuk taqlid dan bermadzhab kepada ulama. “Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

Dalam ayat di atas, Allah SWT memerintahkan orang yang tidak tahu agar bertanya kepada para ulama. Allah SWT tidak memerintahnya agar membolak-balik terjemahan al-Qur’an atau kitab-kitab hadits sebagaimana yang dilakukan golongan anti madzhab.

Sumber : muslimoderat.net
KH Hasan Genggong: Yang Menolong NU Beruntung Dunia Akhirat

KH Hasan Genggong: Yang Menolong NU Beruntung Dunia Akhirat


Sebagai ormas Islam yang didirikan oleh para ulama besar pada zamannya, Nahdlatul Ulama (NU) adalah medium dakwah Islam ahlus sunnah wal jamaah yang senyatanya memang mendapatkan doa, dukungan dan ridla para hamba Allah yang dikenal shalih, memiliki kebeningan hati dan kealiman luar biasa.

Beberapa pesan berikut ini adalah dawuh masyayikh (para sesepuh) NU yang secara pribadi sudah muttafaqun alaih (disepakati) sebagai wali Allah serta zuhud lahir batin. Beliau-beliau inilah yang tegas menyatakan kalau NU adalah salah satu thariqah para ulama untuk menegakkan Islam ahlus sunnah wal jamaah di dunia. Bagian dari wasilah (media) mencapai ridla Allah.

Jaminan yang diberikan pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, kepada tiap-tiap anak negeri ini yang mau mengurus NU adalah surga. Mbah Hasyim mengatakan, "siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku, saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya".

Adakah jaminan lain selain surga bagi mereka yang saat meninggal husnul khatimah? Tentu jawabannya tidak. Pesan ini sejalan pula dengan dawuh KH Hasan Genggong.

Dalam sebuah kesempatan KH Hasan Genggong pernah menyatakan bahwa berjuang ikhlas di NU akan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Insyaallah.

"من اعان نهضةالعلماء، فقد سعد فى الدنيا والأخرة"

"Barang siapa yang menolong NU, maka hidup beruntung di dunia dan di akhirat".

Karena itulah, KH Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta sampai berpesan kepada para generasi penerus perjuangan NU agar terus berjihad bersama NU. Berikut dawuh lengkap Mbah Maksum dalam bahasa Arab yang didapatkan Dutaislam.com dari salah satu santri beliau.

من وصايا المكرم العالم الشيخ محمد على معصوم كرافياك رحمه الله وأفاض لنا من بركاته وعلومه ونفحاته وانواره

Salah satu pesan al-Mukarram Syeikh Muhammad Ali Maksum Krapyak Jogja -rahimahullah, adalah sebagai berikut:

١. العلم والتعلم بنهضة العلماء
Pertama, warga nahdliyyin mesti mempelajari apa dan bagaimana NU.

٢. العمل بنهضة العلماء
Kedua, yaitu setelah mempelajari juga dianjurkan untuk diamalkan dan diajarkan (al-amalu bi nahdlatil ulama).

٣. الجهاد بنهضة العلماء
Ketiga, berjihad sesuai dengan ruh Nahdlatul Ulama yang tercermin dalam Rahmatal lil alamin (Al-Jihadu bi nahdlatil ulama)

٤. الصبر بنهضة العلماء
Keempat, ketika kita berjuang harus sabar dengan kemasan Nahdlatul Ulama (al-shabru bi nahdlotil ulama)

٥. الثقة بنهضة العلماء
Kelima, setelah semuanya dilakukan kita harus memiliki keyakinan terhadap perjuangan NU (al-tqqah bi nahdlotil ulama)

Jika masih ragu, dawuh KH Ridwan Abdullah bisa dijadikan pedoman. Beliau selalu mengingatkan kepada kader NU agar tetap dalam keyakinan berjuang dan berdakwah, "Jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah, kalau sampai tidak makan, komplainlah aku jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati maka tagihlah ke batu nisanku," begitu tegas kiai Ridwan semasa hidupnya. [dutaislam.com/ ab]

Sumber : dutaislam.com
Setelah Menghina Gus Dur, Mundzir Situmorang "Mewek" dan Minta Maaf

Setelah Menghina Gus Dur, Mundzir Situmorang "Mewek" dan Minta Maaf


Kader Muhammadiyah bernama Mundzir Situmorang, yang beberapa waktu lalu video nya viral karena menghina Gus Dur, akhirnya meminta maaf kepada publik pada sesi tabayun bersama di aula Aula Kantor Kelurahan Jakasempurna Jln. K.H. Noer Ali No. 1 Kel Jakasampurna, Kec. Bekasi Barat Kota Bekasi, Ahad, 27 Agustus 2017, sekitar pukul 20.00 WIB.

Sejak dimuat Dutaislam.com pada 24 Agustus 2017, laporan video terkait kalimat penghinaan Mundzir Situmorang sudah dibaca lebih dari 22 ribu kali, dan trending topic di urutan pertama sejak seminggu terakhir.

Empat hari viral, Mundzir meminta maaf. Di hadapan 200 orang yang hadir di Aula Kantor Kelurahan Jakasempurna, ia mengakui bahwa ucapannya yang menghina Gus Dur sebagai wali setan adalah karena emosi sesaat. Emosi karena apa, tidak ada penjelasan lebih lanjut. Mundzir menyatakan, kalimat itu keluar saat dia mengisi acara di Masjid As-Salam pada tahun 2015.

"Saya mengakui bahwa yang beredar di Youtube adalah pernyataan saya, di sini saya akan membuat pernyataan maaf secara tertulis dan disaksikan yang hadir di sini," kata Mundzir, Ahad (27/08/2017).

Dia juga mengaku sangat lepas kontrol luar biasa saat mengucapkan kata nista tersebut kepada orang yang sudah meninggal dan merupakan mantan presiden Republik Indonesia. "Saya lepas ngomong yang luar biasa lepas kontrol, makanya saya mohon maaf di kesempatan ini dan saya sangat menghormati Kiai Ma'ruf Amin," ujarnya.

Mundzir Situmorang menulis permintaan maaf dihadapan ratusan hadirin
Di atas materai, Mundzir kemudian membuat surat pernyataan tertulis permintaan maaf, yang isinya, antara lain:

1.Saya mengakui bahwa sekitar tahun 2015 di masjid Assalam telah mengucapkan "Bahwa Gus Dur adalah Wali Setan".

2.Saya menarik dengan sadar ucapan tersebut di atas dan menyampaikan permohonan maaf kepada: a). Keluarga besar almarhum Gus Dur, b). Keluarga besar NU. c). Keluarga besar GP Ansor dan Banser.

3.Tidak mengulangi lagi seperti ucapan di atas.

4.Akan menyampaikan permohonan maaf secara visual dan diunggah ke media sosial.

5.Bersilaturahmi menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada keluarga Gus Dur selambat-lambatnya 10 hari setelah surat pernyataan ini saya buat.

6.Demikian surat pernyataan saya dengan sadar tanpa tekanan dari pihak manapun, dan apabila dikemudian hari saya mengilangi hal tersebut siap mempertanggung jawabkan secara hukum yang berlaku di NKRI.

Pernyataan tertulis itu disaksikan oleh Forkompinda Kota Bekasi, aparat keamanan perwakilan dari Polres Metro Bekasi, Polsek Kota dan Koramil 01/Kranji. Sebagai penanggungjawab adalah Camat Bekasi Barat, H. Muhamad Bunyamin.

Dutaislam.com akan selalu melaporkan siapapun yang menghina kiai, menghujat NU dan anti NKRI. Siap-siap mewek di hadapan polisi atau Banser jika sudah viral. [dutaislam.com/ab]

Sumber :dutaislam.com


Waktu Paling Baik Sembelih Hewan Kurban

Waktu Paling Baik Sembelih Hewan Kurban


Bila Idul Fitri identik dengan zakat fitrah, maka Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan kurban. Kedua hari besar tersebut, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, sebenarnya momentum untuk berbagi dengan sesama manusia.

Sebab itu, pada hari raya Idul Fitri kita diwajibkan membayar zakat sebelum Shalat Id dilangsungkan, dan pada hari Idul Adha dianjurkan bagi orang yang mampu menyembelih hewan kurban dan membagikan dagingnya kepada orang lain.

Ulama berbeda pendapat terkait awal waktu dan batas waktu penyembelihan hewan kurban, serta kebolehan menyembelih hewan kurban di malam hari. Akan tetapi, menurut Syeikh Wahbah Az-Zuhaily, seluruh ulama sepakat bahwa waktu paling baik menyembelih hewan kurban ialah hari pertama setelah Shalat ‘Id sampai sebelum tergelincir matahari atau sebelum masuk waktu shalat Zuhur.

Syeikh Wahbah Az-Zuhaily dalam Fiqhul Islami wa Adillatuhu mengatakan.

للفقهاء خلافات جزئية في أول وقت التضحية وآخره، وفي كراهية التضحية في ليالي العيد. لكنهم اتفقوا على أن أفضل وقت التضحية هو اليوم الأول قبل زوال الشمس؛ لأنه هو السنة

Artinya, “Ada perbedaan pendapat ulama fikih terkait awal dan akhir waktu penyembelihan hewan kurban, serta kemakruhan menyembelih di malah hari. Tetapi, mereka seluruhnya sepakat bahwa waktu utama menyembelih kurban ialah hari pertama sebelum tergelincir matahari, karena hal itu sunah.”

Kesunahan waktu penyembelihan ini didasarkan pada hadits riwayat Al-Bara’ bin ‘Azib bahwa Rasulullah SAW berkata.

إن أول مانبدأ به يومنا هذا: أن نصلي، ثم نرجع، فننحر، فمن فعل ذلك، فقد أصاب سنتنا، ومن ذبح قبل ذلك، فإنما هو لحم قدمه لأهله، ليس من النُسُك في شيء

Artinya, “Sungguh yang pertama kali kami lakukan pada hari ini ialah shalat, kemudian kami pulang dan setelah itu menyembelih hewan kurban. Siapa yang melakukan hal demikian (menyembelih setelah shalat), maka dia telah memperolah sunah kami. Tetapi siapa yang menyembelih sebelum itu, maka penyembelihannya itu sebatas menyembelih untuk keluarganya sendiri dan tidak dianggap ibadah kurban,” (HR Al-Bukhari).

Kendati waktu penyembelihan kurban ada empat hari, dimulai dari tanggal 10 sampai 13 Dzulhijah, tetapi lebih baiknya penyembelihan hewan kurban dimulai pada hari pertama sebelum tergelincir matahari agar memperoleh kesunahan.

Tetapi perlu diingat, seluruh ulama sepakat bahwa tidak boleh menyembelih hewan kurban sebelum Shalat Id dilaksanakan. Bagi siapa yang menyembelih pada waktu itu, maka penyembelihan itu tidak dianggap ibadah kurban. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)

Sumber :nu.or.id
Meluruskan Ulama Wahabi yang Menghukumi Bid'ah Gelar Haji

Meluruskan Ulama Wahabi yang Menghukumi Bid'ah Gelar Haji


Syekh Albani menghukumi bidah panggilan Haji bagi orang yang sudah melakukan ibadah haji. Pernyataan ini jelas tidak menunjukkan sikap Salaf, karena di masa imam-imam dahulu panggilan Haji ini sudah diperbolehkan bagi yang sudah melakukan haji:

ﻗﺎﻝ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ: " ﻭﻻ ﻳﻘﻮﻟﻦ ﺃﺣﺪﻛﻢ: ﺇﻧﻲ ﺣﺎﺝ ﻓﺈﻥ اﻟﺤﺎﺝ ﻫﻮ اﻟﻤﺤﺮﻡ " ﻣﺮﺳﻞ ﻭﻫﻮ ﻣﻮﻗﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ
Abdullah Ibnu Mas'ud berkata: Janganlah diantara kalian mengatakan "Saya adalah haji. Sebab haji adalah orang yang ihram" riwayat Mursal dan mauquf pada Abdullah Ibnu Mas'ud (Sunan Al-Baihaqi)

Imam Nawawi berkata:
ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻤﻦ ﺣﺞ ﺣﺎﺝ ﺑﻌﺪ ﺗﺤﻠﻠﻪ ﻭﻟﻮ ﺑﻌﺪ ﺳﻨﻴﻦ ﻭﺑﻌﺪ ﻭﻓﺎﺗﻪ ﺃﻳﻀﺎ ﻭﻻ ﻛﺮاﻫﺔ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ
Boleh bagi orang yang sudah melakukan ibadah haji dipanggil "Haji". Meski setelah beberapa tahun dan sesudah wafatnya. Tidak ada kemakruhan dalam masalah ini (Al-Majmu' 8/281)
Tahu kenapa imam Nawawi membolehkan? Sebab sebelum masa beliau gelar Haji sudah dikenal, khususnya pada ayahanda beliau sendiri:
ﻭﻓﻴﻬﺎ (٦٨٢) ﻛﺎﻧﺖ ﻭﻓﺎﺓ: اﻟﺤﺎﺝ ﺷﺮﻑ اﻟﺪﻳﻦ اﺑﻦ ﻣﺮﻯ، ﻭاﻟﺪ اﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻴﻲ اﻟﺪﻳﻦ اﻟﻨﻮﻭﻱ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ.
Pada tahun 682 wafat Haji Syarofuddin, ayahnya Syekh Muhyiddin An-Nawawi rahimahullah (Ibnu Katsir, Al Hidayah wan Nihayah 13/363)
Dulu bukan bidah, kok sekarang disebut bidah?

Dishare dari yai Ma'ruf Khozin Anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim

Sumber : muslimoderat.net
Biar gak Tertipu lagi, ini 25 Travel Haji dan Umrah Ini Sudah Dicabut Izinnya

Biar gak Tertipu lagi, ini 25 Travel Haji dan Umrah Ini Sudah Dicabut Izinnya


Terkait mencuatnya kasus First Travel, masyarakat pastinya memiliki rasa kuatir untuk menggunakan travel haji dan umrah. Rasa kuatir ataupun takut tertipu sangat wajar dirasakan. Oleh karena itu, sebelum menggunakan travel haji dan umrah tertentu, pastikan travel tersebut masih berizin Kementrian Agama.

Perlu diketahui, Kementerian Agama telah mencabut izin puluhan perusahaan travel haji dan umrah di Indonesia selama 2015-2017 ini. Semua total sampai saat ini ada 25 travel haji dan umrah yang telah dicabut izinnya oleh Kemenag.

“Ada 25 perusahaan travel dicabut izinnya,” Kepala Subdit Pembinaan Umroh dan Haji Kementerian Agama Arfi Hatim, Kamis, 24 Agustus 2017.
Sedangkan, dari perusahaan travel umrah yang telah diberikan izin dari Kementerian Agama jumlahnya bervariasi setiap tahunnya mulai dari tahun 2014 hingga tahun 2017 sekarang.
“Tahun 2014 sebanyak 106 (travel yang diberikan izin), tahun 2015 moratorium, tahun 2016 sebanyak 155, dan tahun 2017 sebanyak 127,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bagian Humas Kementerian Agama, Rosidin Karidi menambahkan, prosedur pencabutan terhadap perusahaan travel dan umrah itu ada tiga tahap diantaranya adalah diakibatkan:

Gagal berangkat ke Arab Saudi
Melanggar massa berlaku visa
Terancam keamanan jemaah misalnya di Arab Saudi.

Berikut daftar 25 perusahaan travel haji dan umrah di Indonesia yang telah dicabut izinnya:
PT. Mediaterrnia Travel, Jakarta Selatan
PT. Mustaqbal Lima, Kota Cirebon
PT. Ronalditya Jakarta Selatan
PT. Kopindo Wisata Jakarta Selatan
Catur Daya Utama, Batam
PT. Huli Saqdah Jakarta Pusat
PT.  Maccadina, Jakarta Pusat
PT. Gema Arofah, Jakarta Selatan
PT. Wisata Pesona Nugraha, Jakarta Pusat
PT. Assyurtaniah Cipta Prima, Jakarta Selatan
PT. Maulana, Jakarta Timur
PT. Timur Sarana Tour dan Travel, Bandung
PT. Diva Sakinah Sulawesi Selatan
PT. Hikmah Sakti Perdana Jakarta Timur
PT. Faliyatika Cholis Utama, Jembatan Suramadu
PT. Sandhora Wahana Wisata, Jakarta Selatan
PT. Nurmadania Nusha Wisata, Bandung
PT. Dian Parmita Sekata, Jakarta Utara
PT. Al Maha Tour dan Travel, Jakarta Timur
PT. Assyifa Mandiri Wisata, Sumatera Barat
PT. Hodhod Azza Amira Wisata, Jakarta Selatan
PT. Raudah Kharisma Wisata, Jakarta Timur
PT. Habab Al Hannaya Tourst, Jakarta Timur
PT. Erni Pancarati, Medan
PT. First Anugerah Karya Wisata atau First Travel

Sumber : muslimoderat.net
Kisah Pengalaman Anak Pendeta Wukuf di Arafah

Kisah Pengalaman Anak Pendeta Wukuf di Arafah


Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya bersabda:

عَرَفَةَ مَنْ جَاءَ لَيْلَةَ جَمْعٍ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَقَدْ أَدْرَكَ الْحَجَّ الْحَجُّ

Artinya: “Haji itu adalah Arafah (wukuf di Arafah) maka barang siapa yang datang sebelum shalat Subuh dari malam jama’ (malam Mudzdalifah yang mengumpulkan semua jamaah haji di sana) maka sempurnalah hajinya...” (HR Tirmizi, al-Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Maksud penggalan hadits tersebut adalah bahwa wukuf di Padang Arafah sedemikian penting melebihi pentingnya rukun-rukun haji lainnya, seperti thawaf mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram, sa’i dari Shafa ke Marwah, dan sebagainya. Seseorang tidak bisa disebut telah melaksanakan ibadah haji jika tidak melaksanakan wukuf ini. Maka mereka yang sakit pun harus datang ke Arafah untuk wukuf meski harus ditandu.

Selain itu, wukuf di Arafah merupakan pertemuan manusia terbesar di dunia yang berlangsung setiap tahun karena pada hari itu seluruh jamaah haji dari seluruh penjuru dunia berkonsentrasi di Arafah. Di Padang Arafah inilah mereka bertemu dan berdoa memohon ridha dan ampunan Allah SWT. Mereka bersimpuh di hadapan Allah dengan harapan-harapan yang sama meskipun mereka berbeda dalam warna kulit, ras, suku, dan bahasa. Di padang Arafah ini pula mereka berbaur menjadi satu dalam kebesaran Allah SWT.

Maka sejatinya esensi dari ibadah haji adalah kesamaan derajat diantara manusia yang disimbolkan dalam pakaian ihram yang tak terjahit. Sedangkan warna putih dari baju ihram itu sendiri menggambarkan kesucian mereka di hadapan Allah SWT. Oleh karena esensi ibadah haji adalah persamaan derajat, maka tidak mengherankan pengalaman spiritual ibadah haji bisa mengubah cara pandang seseorang. Sebagai contoh adalah Malcolm X yang semula sangat rasis kemudian berubah menjadi anti-rasis setelah mendapat pengalaman berharga dari wukuf di Padang Arafah.

Pengalaman tersebut meyakinkan Malcolm X bahwa semua orang adalah sama. Artinya setiap orang adalah setara. Mereka harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain meskipun mungkin mereka berbeda dalam hal-hal duniawi, seperti status sosial, warna kulit, budaya, asal usul keturuan dan sebagainya. Hal yang membedakan diantara mereka hanyalah ketakwaan masing-masing kepada Allah SWT. Orang-orang yang telah melaksanakan ibadah haji diharapkan memiliki kesadaran tinggi akan makna kesetaraan ini. Tidak sebaiknya mereka justru lupa akan makna baju ihram yang pernah dipakainya.

Siapakah Malcolm X?

Malcolm X adalah seorang kulit hitam Amerika, anak seorang pendeta Kristen Baptis, yang kemudian memeluk Islam setelah bergabung dengan sebuah organisasi bernama The Nation of Islam. Ini terjadi setelah ia banyak berdiskusi dan membaca buku-buku Islam di balik jeruji besi. Ia dijebloskan ke penjara karena kasus perampokan yang dilakukannya pada tahun 1946 ketika berusia 20 tahun.

Di dalam penjara, ia sangat tertarik terhadap konsep-konsep ajaran Islam. Ia hidup di zaman rasisme Amerika yang berlangsung dari abad 17 hingga tahun 1964 dimana pada waktu itu orang-orang kulit hitam dilarang berbaur dengan orang-orang kulit putih. Mereka diperlakukan secara diskriminatif baik secara sosial, politik, budaya maupun ekonomi.

Sekeluarnya dari penjara pada tahun 1952, ia terus mendalami Islam dan tetap bergabung dengan The Nation of Islam. Organisasi ini terutama beranggotakan orang-orang Afro-Amerika Muslim yang berjuang untuk melepaskan diri dari Amerika Serikat dan berdiri sendiri sebagai negara yang terpisah. Di dalam organisasi ini ia terpilih menjadi juru bicara dan sering memberikan ceramah atau pidato dalam berbagai forum termasuk dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955.

Pengalaman Wukuf di Arafah

Pada tahun 1964, Malcolm X menunaikan ibadah haji di Makkah dan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga sewaktu menjalankan wukuf di Arafah. Malcolm X adalah orang yang sangat benci kepada orang-orang kulit putih sebagai reaksi keras atas sikap diskriminatif mereka terhadap orang-orang kulit hitam. Namun, ia terbengong-bengong di Makkah ketika mendapati banyak orang yang sedang menunaikan ibadah haji ternyata berkulit putih, berambut pirang dan bermata biru.

Kenyataan tersebut sangat mengejutkan dirinya sebab di Amerika hal seperti ini tidak ia jumpai. Hal yang ia ketahui sebelum keberangkatnnya ke Tanah Suci adalah bahwa Islam itu bukan agama untuk orang-orang kulit putih, tetapi untuk mereka yang berkulit hitam seperti dirinya dan orang-orang berkulit warna seperti orang-orang Asia.

Puncak kebingungan Malcolm X yang kemudian memberinya pencerahan adalah ketika berwukuf di Padang Arafah di mana ia makan sepiring dengan orang-orang kulit putih. Ia minum dengan gelas yang sama dengan orang-orang kulit putih. Ia istirahat dan tidur sebantal dengan orang-orang kulit putih. Ia sholat berjamaah dengan orang-orang kulit putih. Ia berdoa bersama orang-orang kulit putih.

Orang-orang kulit putih yang ia jumpai sedang beribadah haji itu adalah orang-orang paling putih diantara yang putih. Mereka bermata paling biru diantara yang bermata biru. Mereka berrambut paling pirang diatara yang berambut pirang. Namun mereka semua beragama Islam.

Di sinilah di Padang Arafah Malcolm X menyadari bahwa apa yang ia pahami tentang Islam sebagaimana yang diajarkan di dalam The Nation of Islam belum atau tidak sesuai dengan Surat Al Hujurat ayat 13 sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan besuku-suku agar kalian saling mengenal.

Kata لتعارفوا dalam ayat di atas artinya “supaya saling mengenal”. Kata تعارفوا itu sendiri berasal dari akar kata عرف yang artinya mengenal. Disinilah ada hubungan yang jelas mengapa padang tempat wukuf itu disebut Padang Arafah, yakni karena di padang ini umat Islam seluruh dunia berkumpul menjadi satu pada hari dan tanggal yang sama untuk saling mengenal dengan cara berinteraksi satu sama lain.

Puncak wukuf di Arafah adalah khutbah wukuf. Dalam setiap khutbah wukuf, selalu diperdengarkan khutbah Rasulullah SAW yang pernah beliau sampaikan pada saat melaksanakan Haji Wada` sekitar tahun 10 Hijriyah. Diantara isi khutbah Rasulullah adalah sebagai berikut:

"Wahai manusia, Tuhanmu hanyalah satu dan asalmu juga satu. Kamu semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Keturunan, warna kulit, dan kebangsaan, tidak menyebabkan seseorang lebih baik dari yang lain. Orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling takwa. Orang Arab tidak lebih mulia dari yang bukan Arab, sebaliknya orang bukan Arab tidak lebih mulia dari orang Arab. Begitu pula orang berkulit terang dengan orang berkulit hitam; dan sebaliknya orang berkulit hitam dengan orang berkulit terang, kecuali karena takwanya kepada Allah.”

Isi khutbah Rasulullah SAW di atas menyadarkan Malcolm X bahwa Islam yang dia pahami dalam The Nation of Islam belum sesuai dengan Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Islam ternyata adalah agama universal untuk seluruh bangsa tanpa memandang warna kulit. Maka sekembalinya Malcolm X ke Amerika Serikat dan berganti nama menjadi El-Hajj Malik El-Shabazz, ia menyatakan keluar dari organisasi itu dan mengikuti paham Islam Sunni.

Dikenang sebagai Tokoh Perdamaian

Keluarnya Malcolm X dari The Nation of Islam ternyata justru menaikkan reputasinya sebagai tokoh yang menyerukan persaudaraan diantara sesama manusia tanpa rasisme. Ketokohannya hampir menyaingi popularitas Presiden John F. Kennedey pada waktu itu. Ia tampil sebagai tokoh yang bisa diterima banyak kalangan termasuk mereka yang berkulit putih. Di kemudian hari ia mendapat pengakuan dari pemerintah Amerika Serikat sebagai tokoh perdamaian setelah berakhirnya politik rasisme di negara itu.

Nama Malcolm X pun diabadikan menjadi nama sebuah jalan di kota New York setelah ia tewas tertembus peluru pada tanggal 21 Pebrauri 1965 ketika sedang berpidato. Penembakan itu dilakukan oleh sebuah konspirasi politik yang tidak menginginkan reputasinya terus menanjak menyaingi tokoh-tokoh lainnya di Amerika Serikat, termasuk tokoh-tokoh dalam The Nation of Islam sendiri. Tokoh muda Muslim ini wafat dalam usia 39 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Sumber : nu.or.id
6 Alasan Gus Dur Layak Jadi Panutan Anak Muda Dalam Hargai Perbedaan

6 Alasan Gus Dur Layak Jadi Panutan Anak Muda Dalam Hargai Perbedaan


“Gitu saja kok repot"
Begitu mendengar sepenggal kalimat di atas kebanyakan dari kita mungkin akan langsung teringat oleh salah satu tokoh politikus terkenal bernama Gus Dur. Ya, pria yang memiliki nama lengkap Abdurrahman Wahid tersebut memang terkenal dengan celetukan-celetukannya yang kritis dan ceplas-ceplos.

Gus Dur semasa hidupnya juga diketahui sebagai cendikiawan yang tidak hanya pintar secara intelektual, tapi juga begitu menghargai perbedaan, terutama masalah suku, ras, dan agama. Pria kelahiran Jombang itu bahkan memiliki gelar sebagai Bapak Pluralisme Indonesia karena keberaniannya membela hak-hak kaum minoritas yang tertindas.
Karena sikap heroiknya itulah maka tak mengherankan bila meski telah wafat selama enam tahun lalu, hingga sekarang pesona Gus Dur seolah tidak pernah pudar. Berikut ini kami akan mengulas beberapa kehebatan pria berkaca mata itu yang membuatnya layak menjadi tokoh idola, termasuk kamu kalangan anak muda.

1. Gus Dur dikenal sebagai salah satu cendekiawan Islam yang memiliki pengetahuan luas. Sejak kecil beliau gemar membaca buku dari berbagai aliran, mulai dari buku filsafat Plato hingga Karl Marx.

Kecerdasan dan kepintaran Gus Dur adalah salah satu ciri khas yang tidak bisa dilepaskan dari dirinya. Selain karena pendidikannya, kepintaran Gus Dur juga didukung oleh kegemarannya membaca buku. Sejak kecil dia sangat menyukai buku-buku filsafat karangan pemikir hebat seperti Plato, Andre Malraux, hingga Karl Marx. Maka dari itu tak mengherankan jika Gus Dur dikenal sebagai orang yang memiliki kemampuan berpikir luar biasa.
Ketika membaca sebuah buku Gus Dur tidak akan menelan bulat-bulat isi buku tersebut. Sebaliknya, ia hanya mengambil intisari dan hal-hal positif dalam buku itu dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena hobi membacanya pula Gus Dur mampu memahami segala permasalahan yang kompleks.

2. Meski berasal dari keluarga berada, Gus Dur tidak menjadi sosok yang besar kepala. Buktinya ia pernah berprofesi sebagai penjual kacang dan es untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Keluarga besar Gus Dur bisa dibilang merupakan salah satu keluarga terpandang di masa lampau. Kakeknya K.H Hasyim Asyari adalah pendiri Nahdlatul Ulama yang sekaligus memiliki beberapa pesantren besar. Maka dari itu meski bukan termasuk golongan orang kaya, Gus Dur masuk dalam kategori keluarga berada. Akan tetapi walau keluarganya memiliki cukup uang, Gus Dur tidak tumbuh menjadi anak yang suka bertindak seenaknya. Ia cukup tekun menjalani pendidikannya hingga saat kuliah berhasil meraih beasiswa Kementerian Agama untuk belajar Studi Islam.
Sepulangnya ke tanah air Gus Dur bekerja sebagai jurnalis di beberapa surat kabar dan majalah. Sayang meski waktu itu karirnya terbilang cukup cemerlang ternyata gaji wartawan tidak cukup membiayai anak dan istrinya Karena itulah selain menjadi kuli tinta, Gus Dur juga mengambil pekerjaan sebagai penjual kacang dan es. Gus Dur yang notabene memiliki keluarga besar yang bisa saja membantunya memilih untuk berjuang sendiri.

3. Walau lahir dan besar di lingkungan Islam yang kental dengan nilai-nilai agama, Gus Dur dinilai sebagai pribadi plural yang berani membela hak-hak orang yang memiliki kepercayaan berbeda darinya.

Kalau selama ini ada stigma bahwa cendekiawan Islam cenderung lebih membela hak orang-orang dari golongannya, hal tersebut tidak nampak pada pribadi seorang Gus Dur. Ia bahkan dengan berani “pasang badan” untuk membela siapa saja yang tertindas. Tentu bagi sebagian orang masih segar dalam ingatan bagaimana saat tragedi 1998, Gus Dur dengan berani menjamin keselamatan Kaum Tionghoa yang saat itu mengalami kekerasan karena dituduh sebagai biang keladi krisis ekonomi .
 "Indonesia bukan negara agama tapi negara beragama. Ada 6 agama yang diakui Indonesia, jadi tolong hargai 5 agama lainnya." – Gus Dur

Seluruh warga Tionghoa yang pergi ke luar negeri dipanggil kembali dan diyakinkan akan keselamatannya. Selain itu beliau juga menganjurkan pada masyakarat dari suku, ras, dan agama lainnya untuk menerima teman-teman dari Tionghoa untuk menjadi keluarga dan berhenti memusuhi mereka. Puncak dari keberanian Gus Dur membela hak kaum minoritas adalah saat dia menjadikan Hari Raya Imlek sebagai hari libur nasional. Tujuan dari keputusan ini adalah guna mengajak segenap rakyat Indonesia untuk mau menghargai perbedaan yang ada. Meski sempat dikecam oleh banyak orang naamun Gus Dur sama sekali tidak membatalkan keputusan tersebut.

4. Tidak hanya menghargai berbagai perbedaan agama saja, Gus Dur juga anti kekerasan dengan atas nama agama. Ia selalu mengatakan bahwa “Tuhan tidak perlu dibela”.

Konsistensi Gus Dur dalam melindungi kesetaraan hak-hak beragama terlihat dalam ketegasannya ketika menyikapi tindakan kekerasan dalam agama. Selain selalu menyerukan usaha perdamaian, ia juga senantiasa mengingatkan orang lain untuk tidak melakukan kekerasan apalagi dalam konteks agama. Menurutnya kita tidak perlu menyakiti sesama manusia dengan dalil membela Tuhan. Bagi kiai nyentrik ini, Tuhan sudah memiliki segalanya dan kita manusia tidak perlu repot membelanya.
Gus Dur justru lebih suka menyarankan untuk membela hak-hak manusia yang diperlakukan tidak adil. Dia selalu mengajak seluruh lapisan masyarakat berbuat kebaikan dari hari ke hari. Daripada berdakwah dengan mulut, Gus Dur memilih untuk berdakwah dengan tindakan. Ia yakin bahwa kekaguman terhadap Islam justru bisa dibentuk dengan tindakan, bukan omongan.

5. Tindakan nyata adalah bentuk kontribusi paling berharga sebagai manusia. Bagi Gus Dur berbuat baiklah saja. Karena bila kamu sudah berguna, tidak peduli apapun agamamu maka orang lain pasti menghargainya.

"Tidak penting apapun agama dan sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan pernah tanya apa agamamu." - Gus Dur
Di sepanjang hidupnya Gus Dur tidak pernah bosan-bosannya mengajak manusia untuk selalu melakukan tindakan nyata. Menghargai perbedaan, menolong orang lain, serta berhenti melakukan diskriminasi adalah buah pemikiran Gus Dur yang selalu terkenang hingga saat ini. Baginya bila seseorang sudah berbuat baik maka label agama, ras,dan suku sudah tidak penting lagi.
Karena itu daripada hanya banyak bicara Gus Dur justru selalu menekankan kepada semua orang untuk memberi melalui kontribusi real. Apa yang bisa kamu berikan, berikanlah. Apa yang dapat dilakukan, lakukanlah. Baik itu dalam bentuk pikiran, tenaga, dana, dan lain sebagainya yang penting tindakannya ada. Jika kamu sudah mampu melakukan hal ini, maka orang lain tidak akan melihat agama, ras, dan suku. Mereka akan melihat apa yang kamu berikan.

6. Hingga akhir hayatnya Gus Dur tetap jadi pribadi yang sederhana dan bersahaja. Walau banyak pemikiran besar lahir darinya, ia tidak pernah merasa lebih hebat dari manusia lainnya.

Hasil pemikiran Gus Dur yang selalu sukses membuat banyak orang kagum tidak menjadikannya sosok yang besar kepala. Hingga akhir hayatnya dia selalu tampil sebagai seorang pemimpian yang rendah hati dan mengayomi. Meski telah memiliki uang yang banyak beliau masih hobi menggunakan batik sederhana dan apa adanya.
Banyak juga pemimpin dunia yang mengidolakan Gus Dur dan kagum dengan kecerdasannya. Namun lagi-lagi, Gus Dur tetaplah sosok yang sederhana dan menganggap kepintarannya bukanlah segalanya. Ia bahkan juga enggan dianggap lebih pintar dari orang lain. Hal inilah yang membuat Gus Dur diidolakan oleh banyak orang. Kecerdasannya hingga tidak membuat ia jadi orang yang jumawa.

Visi dan misi hidup Gus Dur yang selalu mengedepankan perdamaian dan anti kekerasan tersebutlah yang membuatnya layak jadi idola termasuk juga kaum muda. Berbuat baik tanpa memandang perbedaan agama, ras, dan suku. Indonesia kini butuh orang-orang yang mampu bertindak nyata bukan hanya bicara.

Sumber : muslimoderat.net
close
Banner iklan disini