Apakah Sama Tabaruk Kepada Nabi dan Kiai?

Apakah Sama Tabaruk Kepada Nabi dan Kiai?


Bertabaruk kepada Rasulullah SAW sudah sangat jelas tuntunanya dalam hadits. Bahkan beberapa sahabat telah mencontohkan berbagai cara untuk bertabaruk kepada Rasulullah SAW.

Ada beberapa hadits yang menjelaskan sifat dan macam-macam tabaruk sahabat kepada Rasul SAW. Ada sahabat yang bertabaruk dengan tubuh Rasul sebagaimana yang dilakukan oleh Aisyah (HR Bukhari-Muslim), rambut Rasul sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Thalhah (HR Muslim), liur Rasul sebagaimana dilakukan Asma binti Abu Bakar (HR Bukhari-Muslim), keringat Rasul sebagaimana yang dilakukan Ummu Salim dan hal itu diafirmasi kebenarannya oleh Rasul (HR Muslim), bahkan barang-barang yang pernah disentuh Rasul pun dijadikan tabaruk oleh sahabat, salah satunya adalah minuman (HR Bukhari dalam Kitab Al-Asyribah).

Tetapi, bolehkah kita menggunakan cara tabaruk yang dilakukan para sahabat kepada Rasulullah SAW dengan tabaruk kita kepada para kiai dan guru-guru kita? Apakah bisa disamakan antara bertabaruk dengan Rasulullah SAW dan bertabaruk (ngalap berkah) dengan orang saleh zaman sekarang seperti kiai? Mengingat derajat antara kiai dan Nabi sangat berbeda jauh.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits di atas merupakan dalil kebolehan untuk tabarruk dengan bekas orang saleh. Tentunya kiai juga merupakan orang saleh. Sah-sah saja kita untuk bertabaruk kepada para kiai sebagaimana para sahabat bertabaruk kepada Rasulullah SAW.

Bahkan Ibnu Hibban dalam Sahih-nya membuat dua bab khusus yang menjelaskan kebolehan bertabaruk dengan orang saleh dan ahli ilmu. Dua bab itu adalah

ذِكْرُ مَا يُسْتَحَبُّ لِلْمَرْءِ التَّبَرُّكُ بِالصَّالِحِينَ، وَأَشْبَاهِهِمْ

Artinya, “Bab menjelaskan kesunahan bagi seseorang untuk bertabaruk dengan orang saleh dan orang yang serupa dengan orang saleh.”

ذِكْرُ إِبَاحَةِ التَّبَرُّكِ بِوَضُوءٍ الصَّالِحِينَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ إِذَا كَانُوا مُتَّبِعِينَ لَسُنَنِ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya, “Bab menjelaskan tentang kebolehan bertabaruk dengan wudhunya orang saleh yang merupakan bagian dari ahli ilmu jika mereka mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah.”

Dari dua bab di atas, Ibnu Hibban ingin menyebutkan bahwa bertabaruk seperti yang dilakukan oleh para sahabat kepada Rasul itu boleh dilakukan oleh orang lain kepada orang yang saleh asalkan orang tersebut menjalankan sunah-sunah Rasulullah SAW.

Ibnu Hibban dalam bab pertama yang saya sebutkan menjelaskan sebuah hadits tentang anjuran Rasul untuk bertabaruk kepada orang yang lebih tua.

الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ

Artinya, “Keberkahan itu terdapat pada orang-orang yang lebih tua (lebih berilmu) dari kalian.”

Hadits di atas dinyatakan sahih oleh Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak alas Sahihain-nya dan menyatakan bahwa hadits di atas sahih sesuai dengan syarat Bukhari.

Makna lebih tua dalam hadits di atas bukan cukup lebih tua secara umur akan tetapi lebih ahli secara ilmu. Jika ada anak kecil yang lebih berilmu dan mumpuni, maka anak kecil tersebut juga termasuk akabir dalam hadits di atas. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al-Minawi dalam kitab Faidhul Qadir-nya.

Dalam prespektif Ibnu Hibban ini, tentu seorang kiai yang setiap harinya mengajarkan agama dan ilmu-ilmu keislaman kepada para santrinya bisa dikategorikan sebagai orang saleh yang mengikuti sunah Rasul. Dan bukan haram, bidah, bahkan musyrik untuk ngalap barakah kepadanya.

Memang beberapa ulama mengatakan bahwa tabaruk yang dilakukan sahabat kepada Rasul itu tidak bisa disamakan dengan bertabaruk kepada orang saleh lain selain Rasul. Pendapat ulama ini bertujuan untuk berhati-hati agar tidak terjadi perbuatan syirik dan ghuluw (perbuatan kelewat batas). Jika tidak terjadi demikian ketika bertabaruk kepada orang saleh yang lain seperti kiai, maka hal itu tentu diperbolehkan. Wallahu a’lam. (M Alvin Nur Choironi)

Sumber : nu.or.id
Gara-gara Amalan Ini, Bilal Masuk Surga

Gara-gara Amalan Ini, Bilal Masuk Surga


Usai shalat subuh, Bilal bin Rabah ditanya oleh Rasulullah SAW, ““Wahai Bilal, apa amalan yang paling sering kamu lakukan? Sebab aku mendengar suara langkah kakimu di surga.”

“Aku tidak melakukan amalan apapun melainkan aku membiasakan shalat sunah setelah berwudhu baik siang ataupun malam,” jawab Bilal.

Dialog Bilal dan Rasulullah ini banyak disebutkan dan diceritakan dalam kitab hadits. Di antara perawi yang meriwayatkan kisah ini adalah Al-Bukhari, Ishaq bin Rahaweh, dan lain-lain.

Amalan yang dilakukan sahabat yang dikenal dengan keindahan suaranya itu sekilas terlihat sederhana dan mudah dilakukan. Ia hanya membiasakan diri untuk shalat sunah setelah berwudhu. Meskipun terlihat sederhana, penekanannya sebenarnya tidak bergantung pada bentuk amalannya, tetapi keistiqamahan Bilal dalam melakukan amalan tersebut.

Amalan apapun yang dilakukan dengan istiqamah dan konsisten, selama ikhlas dan hanya mengharapkan ridha Allah, akan dibalas oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, sepanjang hidup Rasulullah sangat jarang membebani sahabat dengan malan yang berat dan susah. Beliau meminta sahabatnya melakukan amalan sesuai dengan kemampuannya dan dilakukan secara konsisten.

Aisyah pernah ditanya oleh sahabat tentang amalan yang disukai Rasul, beliau menjawab,

كان أحب العمل إليه الدائم

Artinya, “Amalan yang paling disukainya adalah amalan yang dilakukan terus-menerus.”

Amalan yang disukai Nabi SAW adalah amalan yang dilakukan terus-menerus meskipun kecil dan ringan. Melakukan ibadah secara konsisten tidaklah mudah dan butuh usaha keras untuk mewujudkannya. Saking pentingnya istiqamah dalam ibadah, para ulama mengingatkan, “Jadilah kalian pencari istiqamah, bukan pencari karamah.” Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)

Sumber : nu.or.id
Kisah Nabi Khidir dan Keberkahan Ibadah Tujuh Turunan

Kisah Nabi Khidir dan Keberkahan Ibadah Tujuh Turunan


Kisah tentang Nabi Musa ‘alaihissalam yang berkeinginan untuk belajar kepada Nabi Khidir ‘alaihissalam begitu sering disampaikan oleh para guru, ustadz dan kiai di berbagai forum kajian ilmu. Dikisahkan, dalam sebuah perjalanan Nabi Musa sampai tiga kali mempertanyakan perbuatan Nabi Khidir yang dinilainya melanggar syariat Allah. Pada akhir perjalanannya, Nabi Khidir menjelaskan perihal perbuatannya tersebut.
Salah satu perbuatan yang dipertanyakan tersebut adalah mana kala Nabi Khidir membangun sebuah rumah yang hampir roboh di sebuah desa. Nabi Musa mengusulkan kepada Nabi Khidir untuk meminta upah kepada penduduk desa atas kesediaannya menegakkan kembali dinding rumah yang hampir roboh itu. Padahal sebelumnya ketika kedua nabi itu memasuki desa tersebut dan meminta makanan kepada penduduknya mereka menolak memberi makanan tersebut.

Dalam hal ini Nabi Khidir menjelaskan sebagaimana direkam oleh Al-Qur’an dalam Surat al-Kahfi ayat 82:
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا
“Adapun tembok rumah yang hampir roboh itu adalah milik dua anak yatim di desa itu di mana di bawahnya terdapat simpanan harta bagi keduanya. Orang tua kedua anak itu adalah orang yang saleh. Maka Tuhanmu berkehendak keduanya mencapai dewasa dan akan mengeluarkan harta simpananya.”

Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur’anul ‘Adhim menjelaskan bahwa kedua anak yatim itu dijaga sebab kesalehan orang tuanya dan tidak disebutkan kesalehan kedua anak itu. Antara kedua anak yatim dan orang tua yang saleh itu ada selisih tujuh generasi leluhur. Jadi yang dimaksud “orang tua yang saleh” pada ayat tersebut adalah kakek pada generasi urutan ketujuh dari anak yatim tersebut, bukan orang tua yang melahirkan keduanya.
Ayat tersebut juga menunjukkan bahwa seorang yang saleh akan dijaga keturunannya dan keberkahan ibadahnya akan meliputi mereka di dunia dan akhirat. Dengan syafaatnya di akherat kelak keturunannya akan diangkat derajatnya di surga hingga derajat tertinggi sehingga bisa menjadi kebanggaan bagi orang yang saleh tersebut.

Dalam hal ini Tajudin Naufal dalam Hadiqatul Auliya’-nya mengatakan, bila ketakwaan kakek yang ketujuh saja dapat memberikan kemanfaatan bagi keturunannya yang ke tujuh, lalu bagaimana pendapat kita dengan ketakwaan orang tua kandung? Tak dapat disangkal, pohon yang baik pasti berbuah baik. Orang yang memakannya tak akan berhenti dan tetap kekal kebaikannya dengan ijin Allah Ta’ala.
Dari inilah banyak para ulama yang menganjurkan kepada para orang tua untuk terus giat dan istiqamah dalam beribadah. Karena keberkahan ibadah itu tidak hanya akan dinikmati oleh diri sendiri tapi juga oleh anak-anak keturunannya baik di dunia maupun di akherat kelak. (Yazid Muttaqin)

Sumber : muslimoderat.net
Tips Agar Mata Hati Terbuka dari Syaikhina Maimoen Zubair

Tips Agar Mata Hati Terbuka dari Syaikhina Maimoen Zubair


KH. Thoifur Ali Wafa Al Madury dalam kitabnya, Habailus Syawarid, bercerita bahwa pernah dalam satu kesempatan berkumpul bersama KH. Maimun Zubair (Mbah Mun) di Makkah Al Mukarromah ketika menunaikan ibadah haji. Beliau diberi ijazah oleh Mbah Mun:

"Kalau ingin ke-futuh (terbuka mata hatinya), maka bacalah Surat Al Kahfi di pagi hari Jum'at dengan tartil dan penuh penghayatan. Lalu selesai membaca, minumlah air zamzam, kemudian berdo'alah dan ber-tawassul-lah dengan Surat Al Kahfi dan Para Nabi - Rosul yang disebut di dalam Surat itu serta dengan Jaahi (pangkat) Sayyidina Muhammad SAW."

-Habailus Syawarid, hal. 102-
(Riwayat Ust. Ahmad Atho')

Semoga KH. Maimoen Zubair senantiasa diberikan kesehatan, panjang umur dan keselamatan fiddunya wal akhiroh, serta keberkahannya untuk kita sekalian fiddunya wal akhiroh...aamiin...al Faatihah

Sumber : muslimoderat.net
KH Anwar Zahid Mengungkap Rahasia Gus Dur Memiliki Karomah

KH Anwar Zahid Mengungkap Rahasia Gus Dur Memiliki Karomah


Dai kondang KH Anwar Zahid tak asing lagi di pendengaran kaum Muslimin Indonesia. Sang Kiyai bukan hanya berdakwah hampir di seluruh Nusantara, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan kebaikan di luar negeri, seperti Hongkong, Korea, Malaysia, dan negara lainnya.

Kiyai Anwar Zahid memiliki ciri khas dalam berdakwah. Dai yang lahir dan besar dalam kultur Nahdhatul Ulama (NU) ini kerap membumbui petuah-petuah bernasnya dengan candaan bermutu, namun tetap mengundang tawa kaum Muslimin.

Lantaran kekhasan itu pula, dakwah ala Kiyai Anwar mudah diterima di berbagai lapisan masyarakat. Namanya melambung bersama dengan ketulusan yang menyertai.

Dalam sebuah kesempatan dakwah di Gresik, Jawa Timur, Kiyai Anwar Zahid menyampaikan suatu hal yang belum banyak diketahui publik tentang karomah yang dimiliki mantan Presiden Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid yang masyhur dengan panggilan Gus Dur.

Menurut Kiyai Anwar, karomah inilah yang menjadi alasan diziarahinya makam Gus Dur oleh ribuan umat Islam setiap harinya.

"Ada yang tahu karomah Kiyai Haji Abdurrahman Wahid?" tanya Kiyai Anwar kepada para jama'ah.

"Tiap hari, makam beliau diziarahi oleh ribuan kaum Muslimin. Sedangkan makam kita kelak, belum tahu akan diziarahi oleh siapa." lanjut sang kiyai.

"Bahkan, anak-anak kita belum tentu mau menziarahi makam kita jika semasa hidup, kita tidak menjadi orang tua yang benar," katanya menyampaikan perenungan.

Kiyai Anwar kemudian melanjutkan, "Gus Dur itu ibadah ritualnya sama dengan kita. Shalatnya sama. Ngajinya sama. Tapi, apa yang membuat makamnya diziarahi oleh ribuan kaum Muslimin setiap hari?"

Ketika jamaah terdiam khusyuk menyimak, Kiyai Anwar Zahid membeberkan rahasianya.

"Karena Gus Dur, semasa hidupnya diabdikan untuk mengurusi umat. Ngurusi umat melalui Nahdhatul Ulama." terang sang Kiyai.

Sibuk mengurusi umat itulah yang menjadikan Gus Dur dikunjungi ribuan umat Islam setiap hari, meski jasadnya berkalang tanah.[]

Sumber : muslimoderat.net
Tiga Hal yang Harus Dilakukan Sesama Orang Beriman Menurut Gus Mus

Tiga Hal yang Harus Dilakukan Sesama Orang Beriman Menurut Gus Mus


Bangsa Indonesia berdasar atas Ketuhanan Yang Esa seperti tertuang dalam dasar negara Pancasila. Hal itu menunjukkan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang beriman sesuai ajaran agamanya masing-masing.

Terkait dengan orang-orang beriman ini, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menekankan bahwa sudah sepatutnya seorang hamba yang beriman saling menghormati satu sama lain meski berbeda agama dan keyakinan.

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini mengungkapkan tiga hal yang harus dilakukan sesama hamba beriman agar tercipta persatuan, kesatuan, dan suasana damai dalam kehidupan berbangsa.

“Sesama hamba beriman, kita mesti saling mengingatkan, saling memaafkan, dan saling mendoakan,” ujar Gus Mus yang diungkapkan melalui akun twitter pribadinya, @gusmusgusmu, Jumat (21/7).

Di tengah problematika agama, ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang tak henti mendera bangsa ini, lewat pesan tersebut Gus Mus ingin mengajak seluruh masyarakat beriman di negeri ini untuk bahu-membahu menciptakan kondisi yang lebih baik di segala lini kehidupan.

Ungkapan tersebut juga Gus Mus sampaikan di tengah ironi masyarakat beriman di Indonesia yang justru kerap menumbuhsuburkan praktik-praktik kekerasan, kebencian, dan intoleransi atas nama agama.

Seperti biasanya, taushiyah singkat Gus Mus yang diberi tajuk #TweetJumat tersebut mendapat ribuan respon dari para pengikut (follower)-nya di twitter yang kini berjumlah 1.107.719 follower.

Beragam tanggapan atau balasan pun meluncur di akunnya, baik berupa doa, harapan, dan pesan balik yang ditujukan kepada Rais Aam PBNU 2014-2015 ini. Hingga berita ini ditulis, #TweetJumat Gus Mus tersebut mendapat 1302 suka, 1201 retweet, dan 70 balasan (reply). (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Berdzikir dalam Agama Menurut Gus Mus

Berdzikir dalam Agama Menurut Gus Mus


Al-Qur’an menyebutkan bahwa dzikir kepada Allah SWT dapat menentramkan hati setiap manusia. Apalagi jika mengingat hiruk-pikuk kehidupan zaman sekarang, dzikir mempunyai peran penting dalam mengisi kehidupan lahir dan batin, baik dilakukan secara sendiri maupun jamaah.

Untuk mengisi kehidupan jasmani dan rohani manusia menuju ke hadirat Allah, dzikir menurut Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) merupakan perbuatan sangat terpuji dalam agama.

“Banyak berdzikir sangat dipujikan dalam agama dan tidak terlalu sulit melakukannya,” ujar Gus Mus seperti dikutip NU Online dari akun twitter miliknya, Jumat (28/7).

Dalam cuitan bertajuk #TweetJumat tersebut, Gus Mus mengajak kepada masyarakat untuk merenungkan intensitas dzikir kita kepada Allah.

“Nah, sebagai orang beragama, seberapa banyakkah kita sempat berdzikir?” tutur Gus Mus memberi pesan bahwa dzikir sesungguhnya tidaklah sulit dilakukan, tetapi justru tidak sedikit orang yang melalaikan.

Seperti biasa, sebelum menuliskan tweet Jumatnya, Gus Mus menyapa follower-nya dengan menyampaikan salam dan doa. Bagi Gus Mus, Jumat merupakan hari baik untuk memulainya dengan sapa dan doa kebaikan.

“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi. Semoga Allah memberkahi Jumat kita dan menjernihkan hati dan pikiran kita,” ucap Gus Mus. Cuitan ini mendapat 2.574 suka, 1.868 retweet, dan 373 balasan (reply) sampai berita ini ditulis.

Begitu juga dengan Tweet Jumat Gus Mus yang mendapat ribuan respon dari para follower-nya yaitu 1.189 suka, 1.040 retweet, dan 51 balasan. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Habib Kwitang: Jangan Hina Gus Dur, Seluruh Wali di Bumi Kenal Gus Dur

Habib Kwitang: Jangan Hina Gus Dur, Seluruh Wali di Bumi Kenal Gus Dur


Pada suatu ketika Habibana Al-Walid Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri Tebet memanggil muridnya yang paling senior yaitu KH. Fakhrur I. dan Habib Idrus J. mengenai hal penghinaan yang dilakukan kedua muballigh itu kepada Gus Dur yang pada saat itu telah menjadi Presiden RI ke-4.

Menurut penuturan Ustadz Anto yang ketika itu hadir di pengajian hari Senin pagi itu Al-Walid bertanya kepada jama'ah yang hadir, "Aina Rozi wa Idrus bin Alwi...?"

Dan keduanya yang hadir mengaji sama menyahut, "Maujud ya habib."


Lalu Habibana berkata, "Ente berdua jangan pulang ya, ana ada perlu."


"Ya Rozi ya Ye' Idrus, ente berdua kalau jadi muballigh gak usah kata-kata kotor sama orang, apalagi sama cucunya KH. Hasyim Asy'ari itu. Ente tahu yang namanya Gus Dur itu siapa? Biar ente faham ya... seluruh Auliya'illah min Masyariqil Ardhi ilaa Maghoribiha, kenal dengan Gus Dur dan ente ini siapa berani mencela - mencela dia. Dan ana sangat malu kalau ada murid atau orang yg pernah belajar sama ana menghina Gus Dur dan juga menghina lainnya. Kalau ente belum bisa jadi seperti Gus Dur, diam lebih baik. Kalau sudah bisa jadi seperti Gus Dur, ngomong dah sana sampe berbusa-berbusa."

Maka sejak mendapat teguran dari Al Walid itulah, KH. Fakhr i.dan Habib Idrus bungkam kalau pas bicara masalah Gus Dur.

Diperoleh keterangan ternyata Gus Dur adalah murid langsung dari Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi Kwitang. Gus Dur waktu kecil diajak ayahnya, KH. Abdul Wahid Hasyim. Dan di Jakarta beliau sempat mengkhatamkan 9 kitab di hadapan Habib Ali Al Habsyi.

Sewaktu masih menjabat presiden, Gus Dur pernah hadir di Majelis Ta'lim Kwitang. Beliau datang ba'da shubuh tanpa pengawalan ketat dan Gus Dur duduk ikut pembacaan Asmaul Husna sampai selesai.

"Aduh Pak Presiden, kalau kesini kasih kabar dong," kata Habib Abdurrahman bin Muhammad Al Habsyi.

"Mending begini bib, kalo kasih kabar ya nanti kasihan jama'ah bisa jadi repot," jawab Gus Dur.

Dan setahun sebelum Gus Dur wafat, beliau mau ziarah di waktu Maulid di Kwitang, lalu Habib Abdurrahman Al Habsyi berkata, "Kalau ada yang tahu Gus Dur kemari, cepat kabarin ana ya."

Tapi dari pihak Gus Dur tidak ada kabarnya dan Yenni Wahid waktu dihubungi tidak menjawab. Dan ternyata Gus Dur nyarkub di jam 11 malam dan itu menurut penuturan pengurus Masjid Ar-Riyadh. Begitulah Gus Dur, beliau orangnya tidak mau merepotkan orang lain.


Kedekatan Gus Dur dengan Habib Ali
Perlu di ketahui bahwa tatkala organisasi NU akan masuk ke Batavia/Jakarta,para Ulama NU terlebih dulu meminta restu AlHabib Ali bin Abdurrahman AlHabsyi Kwitang,lalu Habib Ali meminta kepada KH Ahmad Marzuki bin Mirshod muara untuk melihat perkembangan NU bilkhusus didaerah Jombang,untuk melihat NU secara lebih dekat.

Setelah sekembalinya KH Ahmad Marzuki bin Mirshod beliau khabarakan kepada Habib Ali tentang Organisasi NU yang dudirikan oleh Para Ulama Ahlussunah Waljamaah,lalu Habib Ali memerintahkan segenab murid muridnya untuk membantu Perjuangan NU dan terjun langsung dalam organisasi tersebut

Diantara para Ulama Betawi yang merupakan Murid dari Unwanul Falah yang terjun didalamnya adalah
● KH Naim ( ayah KH Abdul Hay Naim )
● KH Thohir Rohili
● KH Ahmad Mursidi
● KH Ali Sibro Malisi

Dan para Ulama lainnya serta seluruh Murid dan Putra dari KH Ahmad Marzuki pun turut serta.
KH Hasyim Asyari bila datang ke Betawi menyempatkan diri untuk datang dan hadir di Pengajian Hari Minggu paginya Habib Ali di Kwitang,dan KH Hasyim Asyari mengingatkan kepada para putranya bila ke Betawi untuk menemui dan meminta Nasehat serta Doa Dari Habib Ali dimana sama kita ketahui dikala KH Wahid Hasyim ditunjuk sebagai mentri oleh Bung Karno hubungan KH Hasyim dilanjutkan oleh Sang Putra dengan seringnya bersilaturrahmi ke pada Habib Ali,bahkan sang Cucu Abdurrahman Wahid/Gus Dur mengaji dan membaca Kitab didepan Habib Ali,sebagaimana langsung dikatakan oleh GusDur sendiri bahwa beliau mengkhatamkan beberapa kitab kecil dihadapan Habib Ali,
  " saya ini waktu kecil dibawa ayah saya menemui Habib Ali Kwitang,saya tanya kepada ayah saya ....... siapa Beliau,apa sama dengan Mbah yang ada dikampung
Lalu ayah saya bilang ....... beliau adalah Habib Ali AlHabsyi cucunya Kanjeng Nabi SAW,yang merupakan Ulama Besarnya Tanah Betawi dan menjadi Guru Besar Ulama untuk orang Betawi,ndengar begitu ya saya bilang sama ayah saya dan meminta idzin untuk ngambil Barakah dari beliau dan ingin membaca Kitab ........ Ya Walaupun itu kitabnya kitab kecil ( maksudnya tidak tebal ) yang penting mbaca depan Habib
Ya Alhamdulillah biar begini saya ini sudah Khatam buanyak Kitab walau kitabnya itu ndak besar dihadapan seorang Ulama besar dari keluarganya Rosululloh SAW "
 
  ( di sampaikan di acara Maulid Nabi SAW Th 1990an di daerah Comal )

Belum lagi tatkala PBNU dibawah kepemimpinan KH Idcham khalid,terasa makin erat Hubungan Para Habaib dan Ulama NU di Betawi ini,sampai sampai Habib Ali menganggab KH Idham Khalid adalah anaknya sendiri,beberapa kali Habi Ali mengahdiri acara acara NU baik rapat Akbar dan Musyawarah Nasional yang diadakan di Betawi,bahkan rombongan para Kiai dari Jawa bila NU mengadakan acara di Betawi selalu akan menyempatkan Hadir di Majlisnya Habib Ali di Kwitang,sebagaimana pernah di pimpin oleh KH Wahab Hasbulloh didampingi oleh KH Bagir Marzuqi

Begitu indahnya Hubungan NU dan Habaib dijakarta sudah ada sejak dulu dan KH Abdurrahman Wahid dikala beliau menjadi Presiden beliau menyempatkan untuk mengambil keberkaha dan berziarah ke Makam Habib Ali AlHabsyi di Kwitang yang merupakan Guru beliau juga karna dimasa kecilnya pernah membaca Kitab dihadapan Langsung Habib Ali

Ke indahan yang sudah ada jangan di rusak oleh orang orang yang tidak mengerti akan Sejarah
Dan Presiden Suekarno di acara Hut Kemerdekaan RI tahun 1966 di Gelora BungKarno di Senayan menyatakan
" Bangsa yang baik adalah Bangsa yang tidak melupakan Sejarah,Jangan Sekali kali melupakan Sejarah "[mm]

Sumber : muslimoderat.net
Ketika Gus Dur Ditanya soal Konsep Negara Islam

Ketika Gus Dur Ditanya soal Konsep Negara Islam


Di era 1970-an hingga 1980-an, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terus mengalirkan banyak gagasan tentang Islam dan kebangsaan, Islam dan budaya, Islam dan demokrasi, serta memasyhurkan gagasan pribumisasi Islam dan pesantren sebagai sub-kultur.

Tulisan-tulisan Gus Dur tentang tema-tema substantif itu menghiasi sejumlah media cetak, baik koran maupun majalah. Hingga suatu ketika Gus Dur diundang oleh Arief Budiman untuk menjadi pembicara utama di sebuah forum ilmiah.

Dalam forum yang didampingi Matori Abdul Djalil tersebut, Gus Dur menguraikan satu per satu konsep negara yang pernah ada dalam sejarah. Presiden ke-4 RI ini juga menyampaikan kelebihan serta mengkritik kekurangan masing-masing konsep tersebut.

Tibalah saatnya ketika Gus Dur menyampaikan kesimpulan, mana sesungguhnya konsep negara yang baik menurut Islam. Namun ternyata, hadirin yang berisi para pakar dan akademisi dibikin bingung karena Gus Dur dinilai kurang clear dalam menjelaskan konsep negara, yaitu negara Islam.

Gus Dur sama sekali tidak menyinggung perihal konsep negara Islam. Hal ini membuat Matori deg-degan khawatir Gus Dur diberondong pertanyaan oleh para pakar yang hadir.

Apa yang dikhawatirkan Matori betul terjadi. Sebab salah satu hadirin bertanya kepada Gus Dur, lantas apa yang dimaksud dengan konsep negara Islam?

Semua kolega Gus Dur termasuk Gus Mus yang hadir dalam forum tersebut dibawa penasaran dengan menunggu jawaban cucu Pendiri NU, Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari itu.

Ternyata dengan santainya Gus Dur menjawab, “itu yang belum aku rumuskan,” seloroh Gus Dur diplomatis. Sontak seluruh hadirin yang memadati forum ilmiah tersebut dibuat ngakak dan terpingkal-pingkal oleh jawaban Gus Dur.

Sejatinya Gus Dur ingin mengatakan bahwa konsep negara Islam tidak pernah ada. Islam hanya menawarkan nilai-nilai luhurnya untuk mengisi setiap sendi perpolitikan, perekonomian, kebudayaan, seni, dan lain-lain. “Islam tidak pernah dikerek menjadi bendera,” kata Gus Dur dalam sebuah tulisannya. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
KH Maimoen Zubair: Islam yang Besar itu Hanya Arab dan Jawa

KH Maimoen Zubair: Islam yang Besar itu Hanya Arab dan Jawa


Oleh-oleh sowan Kiai Miftah Zainuri (Permata Zain Alharamain) Gresik ke ndalem Simbah Maimun Zubair Sarang Rembang, Senin 21 November 2016:

1.      “Islam iku sing gedhe mung Islam Arab karo Islam Jowo. Arab iku menang mergo ono Kanjeng Nabi, Lha Islam jowo iku Islam Wali.” (Islam itu yang besar hanya Islam Arab dan Islam Jawa. Arab menang karena ada Baginda Nabi Saw. Lha Islam Jawa itu Islam Wali).

2.      “Kanjeng Nabi iku gowo sing kepenak-kepenak, yen ning Jowo ono sego pecel, sego uduk lan sakpitunggale, lha ning Arab iku ono sego bukhari, sego kebuli, sego khuzni. Nak durung mangan iku ya berarti durung mangan enak.” (Baginda Nabi Saw. itu membawa yang enak-enak, kalau di Jawa ada nasi pecel, uduk, dlsb., sedangkan di Arab ada nasi bukhari, kebuli, khuzni. Kalau belum makan itu berarti belum makan enak).


3.      “Islam Arab iku kepenak, mergo Islam langsung Kanjeng Nabi, uripe mulyo. Lha Islam Jowo iku Islam wali, wali iku senengane tirakat. Mulakno santri-santri ya podo poso dalail, ngrowot, lan tirakat liya-liyane, mergo ndereake poro ulama, muridipun wali, auliya warosatul anbiya.” (Islam Arab itu enak, karena Islam langsung dari Baginda Nabi Saw., hidupnya mulia. Lha Islam Jawa itu Islamnya para wali, wali itu sukanya riyadhah. Makanya para santri itu melakukan puasa dalail, ngrowot dan riyadhah-riyadhah lainnya, karena mengikuti para ulama murid dari para wali (auliya) waratsatul anbiya’).

Sumber : muslimoderat.net
Entengnya Gus Dur saat Hadapi Kelompok Sparatis di Papua

Entengnya Gus Dur saat Hadapi Kelompok Sparatis di Papua


Ada anggapan bahwa apa yang dilakukan oleh KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid adalah sesuatu yang jauh ke depan. Tidak semua orang bisa menangkap apa maksud dan tujuan daripada yang dilakukan Gus Dur.

Oleh sebab itu, tidak sedikit yang menilai bahwa apa yang dilakukan Gus Dur itu nyeleneh dan bahkan tidak masuk akal manusia pada umumnya.

Tentang kenyelenehan Gus Dur, Manuel Kaisiepo memiliki cerita akan hal itu. Menteri Negara Percepatan Kawasan Timur Indonesia era Presiden Megawati itu menceritakan, ketika Kongres Rakyat Papua akan diselenggarakan, maka Gus Dur menyetujui kongres tersebut dilaksanakan.

“Ketika kongres itu mau diadakan, semua orang protes. Itu separatis. Tetapi presiden (Gus Dur) menyetujui kongres itu diadakan,” ungkap Manuel di Graha Gus Dur, Jakarta, Rabu (26/7).

Bahkan, alumnus Universitas Nasional itu mengungkapkan bahwa Gus Dur juga akan membantu terselenggaranya acara kongres tersebut, yaitu dengan memberikan bantuan pendanaan.

“Ini langkah-langkah nyeleneh Gus Dur,” tegasnya.

Saat Gus Dur menemui kelompok separatis tersebut, jelas Manuel, banyak orang yang protes dan mengira bahwa Gus Dur menyetujui mereka. “Itu saudara-saudara saya yang ada di sana,” kata Manuel menirukan Gus Dur ketika menjawab tuduhan-tuduhan tersebut.

Hal ini dilakukan Gus Dur untuk membangun kepercayaan masyarakat Papua kepada pemerintah.

Lebih lanjut, Manuel mengaku takjub dengan Gus Dur karena Gus Dur adalah presiden yang pertama kali menyampaikan permintaan maaf dan mengaku salah --atas apa yang dilakukan pemerintah sebelumnya-- kepada masyarakat Papua.

“Ini sangat luar biasa untuk seorang presiden mau minta maaf. Secara terbuka menyatakan pemerintah bersalah di masa lalu dan kami akan memperbaiki kesalahan itu,” ungkapnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Sumber : nu.or.id
KH Maimoen Zubair: Di Jawa Banyak Kiai, Karena Banyak Keturunan Rasulullah yang tak Bernasab

KH Maimoen Zubair: Di Jawa Banyak Kiai, Karena Banyak Keturunan Rasulullah yang tak Bernasab


Haul & Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien 2017 Jumat (05/05) kemarin, dihadiri oleh KH. Maimun Zubair, kiai sepuh pengasuh Ponpes Al-Anwar, Sarang Rembang Jawa Tengah. Beliau hadir untuk memberikan siraman rohani bagi para hadirin. selain juga beliau datang sebagai alumni. Berikut beberapa kutipan maqolah beliau di acara malam hari itu:

“Kadang wong Islam iku dirubah gak kroso, kabeh katut opo zamane.”
Terkadang, orang Islam dirubah tidak merasa. Mereka semua terhanyut oleh aliran zaman.

“Elek apik seko Allah, sing ngatur yo Allah.”
Semua kebaikan itu datang dari Allah. Yang mengatur semuanya adalah Allah.

“Wong sing tawakkal menyang Allah tenan, Allah sing nyukupi.”
Manusia yang tawakkal, berpasrah diri kepada Allah dengan sungguh-sungguh, Allah lah yang nanti akan mencukupi keadaannya.

“Wong sing slamet iku wong sing netepi tindakane kanjeng Nabi, lan sohabat-sohabate.”
Manusia yang selamat, adalah mereka yang teguh menjalankan apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

“Jowo okeh kiaine mergo katah turunane kanjeng Nabi sing ora nasab.”

Di Jawa ada banyak kiai, karena banyak keturunan Nabi saw. yang tidak bernasab.

“Allah ndamel kedhidupan wong Islam saben tahun berubah. Jenenge mujadid. Ngurip-ngurip madzhab salaf, tapi jangan sampai bertentangan dengan zaman sekarang.”

Allah merubah kehidupan orang Islam setiap tahunnya. Itulah yang dinamakan mujaddid (pembaruan). Seorang muslim harus menghidupkan madzhab salaf (kuno), tapi jangan sampai bertentangan dengan zaman sekarang.]lirboyo.net[

Sumber : muslimoderat.net
Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari

Sejumlah Kiat Sukses Meraih Ilmu Menurut Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari


Mencari ilmu wajib bagi setiap muslim dan muslimat sejak lahir hingga keliang lahat. Ilmu yang wajib diketahui pertama adalah tentang ilmu Keesaan Allah yaitu tauhid.

"Orang beribadah tapi tidak punya ilmu maka lebih baik dari pada orang tidur tapi berilmu," kata KH Fahrurozi, Wakil Sekretaris PWNU Jatim, di mimbar Jumat Masjid Al-Akbar Surbaya, pekan lalu.

Seorang yang mencari ilmu tentu ada etika yang harus dilakukan agar mendapatkan ilmu yang manfaat. Kiai Fahrurozi menguraikan tentang adab mencari ilmu menurut Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy'ari, Pendiri NU.

Pertama, bagi para santri atau pelajar hendaknya kalian menyucikan hati dari dengki, sombong dan bohong, sebelum memulai belajar. Karena hati tempat cahaya yang diberikan oleh Allah.

Imam Syafi'i mengatakan kepada gurunya Imam Malik. Aku mengadu kepada guruku Imam Baqi. Bahwa aku sulit menghafalkan. Lalu gurunya memberi petunjukan agar aku meninggalkan maksiat.

"Ilmu itu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yg hati kotor," kata Kiai Fahrurrozi.

Kedua, memperbaiki niat. Mencari ilmu hendaknya semata-mata ingin Ridho Allah dan ingin mengamalkan ilmu. Hadis Ibnu Majah mengatakan barang siapa mencari ilmu dengan tujuan dia menyombongkan diri, agar dia bisa dikenal. Kata Rasulullah orang seperti ini akan masuk neraka.

Ketiga, Mencarilah ilmu di waktu muda, karena waktu muda adalah waktu yang istimewa. seorang anak adam nanti akan ditanya umurmu dihabiskan di mana dan masa muda mu dihabiskan di mana. Tapi mencari ilmu tidak ada batasan, tidak ada kata terlambat. Banyak ulama yang belajar di masa tua.

Keempat, Bersikap hidup sederhana, tidak ada kata berfoya-foya. Imam Syafi'i mengatakan tidak akan sukse orang yang mencari ilmu dengan gaya hidup glamor. Contohnya Imam Syafii saat mencari ilmu hidup sederhana, sering kali menahan lapar. Maka darinya ekonomi bukan menjadi alasan untuk tidak menuntut ilmu.

Kelima, membagi waktunya. Keenam bagi para pencari ilmu kurangi makan dan minum. Kalau terlalu banyak makan akan sulit konsentrasi. Ketujuh, Melatih diri dengan menjauhi barang yang subhat.

Itulah sikap wirai. Agar tidak jatuh. Pastikan makanan yang halal. Makanan itu akan menjadi darah dan menjadi daging. Kedelapan, jangan banyak tidur. "Kalau usia  kita 63 tahun dan tidur 8 jam maka usia kita 20 tahun untuk tidur," pungkasnya. (Rof Maulana/Fathoni)

Sumber : nu.or.id
3 Habaib ini Disebut Gus Dur Sebagai Paku Bumi-nya Jakarta

3 Habaib ini Disebut Gus Dur Sebagai Paku Bumi-nya Jakarta


Pernah berkata, Almarhum Birrahmatil Hayyil Qayyum, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat berpidato di PP. al-Fachriyah, sekitar tahun 1994: “Di Jakarta ini, sebagai Pakunya ada tiga. Mereka itu auliya’ minal aqthab wasshalihin (para wali Allah, termasuk pemimpinnya para wali dan orang-orang shaleh). Bersyukur kepada Allah adanya mereka di kota ini, terasa aman dan jauhnya segala marabahaya di kota ini. Semua Allah hindarkan berkat adanya mereka. Tiga mereka itu adalah:

1. Al-Habib Husein bin Abubakar Alaydrus Luar Batang, dengan kekeramatannya yang luar biasa.
2. Al-Habib Utsman bin Yahya Mufti Betawi, dengan kitab-kitabnya.
3. Al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang, dengan dakwahnya.

Di masa mereka, hidup saja orang-orang bahagia di dekatnya. Beruntunglah kalian ahli Jakarta.”

Di kesempatan lain, saat Gus Dur menghadiri acara haul ketiga almaghfurlah KH. Ilyas bin H. Kenan, pendiri Pesantren Yayasan Pendidikan Islam al-Kenaniyah Jl. Pulo Nangka Barat II Kayu Putih Jakarta Timur mengatakan: “Mari kita bacakan al-Fatihah kepada para almarhum yang menjadi ‘pelindung’ kota Jakarta. Yaitu Pangeran Jayakarta (Habib Ahmad), Habib Abdul Halim Marunda, Habib Husein Alaydrus Luar Batang, seorang habib yang sempat berdomisili di Kebon Jeruk dan Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang.”

Gus Dur menambahkan: “Ada satu hal yang paling penting. Kita boleh-boleh saja berbeda cara, berbeda pendapat, berbeda jalan, tapi perasaan kita tetap sama. Ini penting sekali. Saya terus terang saja ikut tahlil di sini, kira-kira 30 persen bacaan tahlilnya saya tidak tahu. Karena di Jawa Timur tidak begitu.”

Dan banyak yang tidak tahu, ternyata Gus Dur pernah mengaji lagsung epada Habib Ali Kwitang. Sebagaimana yang didengar langsung oleh Ustadz Antoe Djibril dari Gus Dur sewaktu di daerah Comal. Beliau bilang begini: “Saya ini biar begini pernah merasakan baca kitab di hadapan seorang ulama kaliber dunia, yaitu Habib Ali Kwitang. Walaupun itu ya cuma kitab tipis tetapi tabaruk bermuwajahahnya yang tiada duanya.”

Habib Alwi Alatas mengatakan: “Tidak ada sosok kiai yang cinta terhadap habaib seperti Gus Dur. Jadi tirulah Gus Dur, maqamnya diangkat sebab cinta beliau kepada habaib.”

Disadur dari Tulisan Sya’roni As-Samfuriy

Sumber : muslimoderat.net
Ketika Habib Alwi Membela Kyai Jawa di Hadapan Habaib hadramaut

Ketika Habib Alwi Membela Kyai Jawa di Hadapan Habaib hadramaut


Adalah seorang ulama habaib ebrnama Habib Alwi bin Segaf Assegaf Kebonagung, Pasuruan.

Beliau adalah ulama waliyullah asal Hadlramawt (wafat 17 Sya’ban 1336 H/28 Mei 1918) dan guru Habib Jakfar bin Syaikhon Assegaf Pasuruan.

Suatu kali beliau kedatangan tamu-tamu habaib dari Hadramaut.Tamu-tamu itu berkata dengan nada meremehkan, “Apa orang Jawa itu!? ilmunya gak diakui!”

Mendengar perkataan tamu-tamunya, Habib Alwi tidak terima. Lantas beliau memanggil Kiai Ilyas yang waktu itu bekerja memotong kayu Dengan gergaji di tangannya, Kiai Ilyas datang menghadap beliau. Kiai Ilyas hanyalah kiai kampung, wong ndeso, sehari-harinya jadi tukang kayu.

Kemudian Habib Alwi menyuruhnya membaca sebuah kitab untuk memperlihatkan pada tamu-tamunya itu akan kesaktian ilmunya Kiai-kiai Jawa -- melalui wakilnya yg hanya kiai ndeso!

"Ayo baca kitab ini dan artikan!” kata Habib Alwi.Maka Kiai Ilyas membaca dan menjelaskan isi kitab itu tepat dan lancar. Melihat ‘pertunjukkan” itu, tamu-tamu dari Hadramaut akhirnya mengakui kejeniusan kiai ulama jawa. Sekadar diketahui, kiai Ilyas adalah cucu dari Kiai Hasan Sanusi (Mbah Slaga) Pasuruan...

Sumber : muslimoderat.net
Lima Jurus Imam al-Ghazali agar Terhindar dari Ujub

Lima Jurus Imam al-Ghazali agar Terhindar dari Ujub


Dalam kitab Bidâyatul Hidâyah, Imam al-Ghazali menyebut ujub sebagai penyakit kronis (ad-dâul 'idlâl). Kepada diri sendiri, pengidap penyakit ini merasa mulia dan dan besar diri, sementara kepada orang lain ada kecenderungan untuk meremehkan dan merendahkan.

Biasanya buah dari sikap ini, kata al-Ghazali, adalah obral keakuan: gemar mengatakan aku begini, aku begitu. Seperti yang Iblis la'natullah katakan ketika menolak perintah Allah untuk hormat kepada Nabi Adam, "aku lebih baik dari Adam. Kau ciptakan aku dari api sementara Kau ciptakan dia dari tanah" (QS al-A'raf:12).

Dalam majelis-majelis, pengidap penyakit ujub juga suka meninggikan diri sendiri, serta ingin selalu menonjol dan terdepan. Saat bercakap-cakap atau berdialog umumnya orang seperti ini tak mau kalah dan dibantah.

Dalam kitab yang sama Imam al-Ghazali menerangkan takabbur dan ujub dengan definisi yang mirip. Katanya, orang yang takabur (mutakabbir) gusar ketika menerima nasihat tapi kasar saat memberi nasihat. Siapa saja yang menganggap dirinya lebih baik dari hamba Allah yang lain, itulah mutakabbir. Lantas bagaimana agar bisa keluar dari jeratan ini? Imam al-Ghazali memberikan tips dengan mengembalikannya pada manajemen pikiran.

بل ينبغي لك أن تعلم أن الخير من هو خير عند الله في دار الآخرة، وذلك غيب، وهو موقوف على الخاتمة؛ فاعتقادك في نفسك أنك خير من غيرك جهل محض، بل ينبغي ألا تنظر إلى أحد إلا وترى أنه خير منك، وأن الفضل له على نفسك

"Ketahuilah bahwa kebaikan adalah kebaikan menurut Allah di akhirat kelak. Itu perkara ghaib (tidak diketahui) dan karenanya menunggu peristiwa kematian. Keyakinan bahwa dirimu lebih baik dari selainmu adalah kebodohan belaka. Sepatutnya kau tidak memandang orang lain kecuali dengan pandangan bahwa ia lebih baik ketimbang dirimu dan memiliki keutamaan di atas dirimu."

Ujub dan takabur adalah tentang dua entitas antara diri sendiri dan orang lain. Yang ditekankan adalah bagaimana yang pertama menata pikiran agar terhindar dari perasaan lebih istimewa dari yang kedua. Secara praktis, kiat-kiat yang ditawarkan Imam al-Ghazali adalah sebagai berikut:

Pertama, bila yang disebut orang lain itu anak kecil maka sadarlah bahwa ia belum pernah bermaksiat kepada Allah, sementara dirimu yang lebih tua sebaliknya. Tak diragukan lagi, anak kecil itu lebih baik dari dirimu.

Kedua, bila orang lain itu lebih tua, beranggapanlah bahwa ia beribadah kepada Allah lebih dulu ketimbang dirimu, sehingga tentu orang tersebut lebih baik dari dirimu.

Ketiga, bila orang lain itu berilmu, beranggapanlah bahwa ia telah menerima anugerah yang tidak engkau peroleh, menjangkau apa yang belum kau capai, mengetahui apa yang tidak engkau ketahui. Jika sudah begini, bagiamana mungkin kau sepadan dengan dirinya, apalagi lebih unggul?

Keempat, bila orang lain itu bodoh, beranggapanlah bahwa kalaupun bermaksiat orang bodoh berbuat atas dasar kebodohannya, sementara dirimu berbuat maksiat justru dengan bekal ilmu. Ini yang menjadi alasan atau dasar (hujjah) pada pengadilan di akhirat kelak.

Kelima, bila orang lain itu kafir, beranggapanlah bahwa kondisi akhir hayat seseorang tidak ada yang tahu. Bisa jadi orang kafir itu di kemudian hari masuk Islam lalu meninggal dunia dengan amalan terbaik (husnul khâtimah). Jika demikian, ia keluar dari dosa-dosa masa lalu sebagaimana keluarnya sehelai rambut dari adonan roti, mudah sekali. Sementara dirimu? Bisa jadi Allah sesatkan dirimu di ujung kehidupan, berubah haluan menjadi kafir, lalu menutup usiamu dengan amal terburuk (sûul khâtimah). Dengan demikian, muslim dan kafir sekarang masih sangat mungkin berbalik nasib di kemudian hari. Dirimu yang kini muslim mungkin di kemudian hari masuk kelompok orang yang jauh dari Allah dan dia yang sekarang kafir mungkin di kemudian hari masuk golongan orang yang dekat dengan Allah.

Tampak sekali Imam al-Ghazali hendak menutup peluang timbulnya ujub dan takabur dengan menunjukkan kemungkinan-kemungkinan terburuk dalam diri manusia. Seolah beliau ingin mengatakan bahwa sepatutnya seseorang menghabiskan energinya untuk introspeksi (muhâsabah) kepada diri sendiri ketimbang sibuk menghakimi kualitas diri orang lain. Sebab, hakim sejati hanyalah Allah dan keputusan final yang hakiki hanya ada di akhirat, bukan di dunia ini. Wallâhu a‘lam. (Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Nasihat Maulana al-Habib Muhammad Luthfi ibn Yahya Tentang Anak Shalih

Nasihat Maulana al-Habib Muhammad Luthfi ibn Yahya Tentang Anak Shalih


Bagaimana kita bisa mempunyai anak shalih yang mendo'akan kedua orang tuanya kalau orang tuanya ingkar, benci, tidak pernah meminta do'a dan tidak pernah mendekat guna mendengarkan nasihat (ngaji) dari seorang Ulama dan orang Shalih?

Ayah Imam al-Ghazali itu bukan Ulama, akan tetapi beliau hurmat, mencintai dan mau mendengarkan nasihat Ulama. Meskipun penghasilannya tidak seberapa beliau menyisihkan untuk membeli manisan yang dihadiahkan kepada Ulama, seraya memohon kepada Allah agar dianugerahi anak shalih seperti Ulama yang dia kagumi.

Berkah itu semua lahirlah sosok 'Aalim Zaahid Waari' yang terkenal didunia Islam, yaitu al Imam al 'Aalim al 'Allamah Hujjatul Islam Abi Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali Shahibul Kitab "Ihya' Ulumiddin".

Sama persis dengan kisah Mbah Musthofa (Ayah Simbah Bishri Rembang/Kakek Gus Mus), Mbah Sinto & Mbah Harun (Orang Tua dari Kyai Umar Harun Sarang, Kyai Khalil Harun Kasingan Rembang).

اللّهمّ ارزقنا الإخلاص والإستقامة وحبّ الله وحبّ من أحبّه

Amin....... [dutaislam.com/gg]

Sumber : dutaislam.com
Kudeta Gus Dur

Kudeta Gus Dur


Oleh Rijal Mumazziq Z

Saat terjadi kudeta Mesir, aktivis Ikhwanul Muslimin turun jalan. Mohamed Morsi, presiden dari kubu mereka, didongkel jenderalnya sendiri, Abdul Fatah al-Sisi. Mereka melawan. Tentara memberangus gerakan politik islamis ini. Para pemimpin IM tak mau menyerah, mereka menyuarakan perlawanan. Banyak aktivis menjadi martir.

Di Turki, Recep Tayyip Erdogan nyaris didongkel. Pelakunya? Faksi kecil militer. Dari tempat liburannya, sang presiden menyuarakan perlawanan. Pendukungnya bergerak. Arus bawah menguat. Kudeta akhirnya gagal.

Di Indonesia, 2001, Gus Dur versus parlemen. Dengan halus dan piawai, para politisi mempreteli kekuasaan Gus Dur. Mega dan Amien Rais melakukan manuver politik yang biasa disebut sebagai kudeta halus. Sebagian politisi NU menyuarakan perlawanan, sebagian kecil bahkan  membentuk front "perjuangan". Mereka siap mempertahankan Gus Dur di kursi kekuasaan dengan taruhan nyawanya. Pamswakarsa, milisi sipil tak bersenjata api yang disokong militer dan (kabarnya) didanai politisi, mulai terlibat bentrok dengan pendukung Gus Dur, setelah dua tahun sebelumnya baku hantam dengan mahasiswa.

Suara perlawanan terus dikumandangkan. Basis-basis Nahdliyin menggelegak, dibangkitkan dengan narasi terdzolimi. Di tengah kondisi yang memanas ini, bagaimana reaksi Gus Dur sebagai RI-1 yang didukung jutaan massanya? Apakah dia menggelorakan perlawanan dengan menggerakkan pendukungnya? Tidak.

Dengan berkaos dan bercelana pendek, di teras istana negara, ia menyapa para pendukungnya yang sudah siap mati untuknya. Ini penampilannya yang paling eksentrik. Presiden yang menanggalkan simbol kebesarannya dengan hanya mengenakan baju rakyat: kaos dan celana pendek. Bisa saja Gus Dur menggunakan pakaian kebesarannya dan simbol-simbol tertentu untuk menyentuh aspek sentimentil-emosional pendukungnya. Tapi tidak, dia tidak melakukannya. Dengan tertatih-tatih, Gus Dur mengangkat tangan, melambaikan telapak, dan meminta pendukungnya pulang. Pulang? Ya, pulang. Tak ada orasi perlawanan, tak ada narasi sebagai pihak yang dizalimi, juga tak ada glorifikasi jabatan melalui penggunaan jargon-jargon agama.

Para pendukungnya, yang datang dari berbagai daerah, menangis. Bukan karena melihat Gus Dur sebagai pihak yang dizalimi, tapi tangis haru melihat upaya sang tokoh menghindari bentrok sesama anak negeri. Bukankah ini cara Gus Dur mengimplementasikan Ukhuwah Wathaniyah alias persaudaraan tanah air? Elegan, bukan?

"Tak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian," kata Gus Dur suatu ketika. Karena sejak awal sudah memandang sebuah jabatan sebagai sesuatu yang tidak istimewa, maka Gus Dur pun tak lantas melakukan glorifikasi dan mistifikasi atas sebuah jabatan.

Tak percaya? Silahkan cermati komentar Gus Dur di sebuah perbincangan ini, "Saya jadi presiden itu cuma modal dengkul. Itupun dengkulnya Amien Rais."

Rijal Mumazziq Z adalah penulis buku Revitalisasi Humanisme Religius dan Kebangsaan KH. A. Wahid Hasyim

Sumber : nu.or.id
Ucapan Gus Dur yang Terbukti Benar Meski Dianggap Gila

Ucapan Gus Dur yang Terbukti Benar Meski Dianggap Gila


Almarhum Nurcholis Madjid (Cak Nur) sambil bercanda pernah berkata, “hal yang misterius dan hanya Tuhan yang tahu, selain jodoh, maut, dan rezeki, adalah Gus Dur”.

Gus Dur -allah yarham,- memang begitu misterius, hingga sikap, ucapan dan kebijakan beliau sering disalahpahami orang lain, bahkan oleh sebagian warga nahdhiyin (NU) sendiri. Apalagi musuh-musuh beliau yang menilai bahwa ucapan dan sikap beliau tidak masuk akal, bahkan mereka “men-cap” beliau sebagai orang gila.

Namun belakangan, terlebih setelah Gus Dur wafat, sikap dan ucapan beliau yang dianggap tidak masuk akal, ternyata terbukti banyak benarnya.

Seperti yang diceritakan para tokoh Vatikan, saat Gus Dur menjabat sebagai ketua PBNU, beliau mengunjungi Vatikan. Dan sambil guyon Gus Dur berkata bahwa beliau akan datang lagi ke Vatikan tapi tidak sebagai ketua PBNU tapi sebagai seorang Presiden.

Ucapan Gus Dur hanya dianggap candaan oleh para tokoh Vatikan. Dan ternyata pada kunjungan selanjutnya tokoh Vatikan terkaget-kaget karena Gus Dur memang datang sebagai seorang Presiden. Itulah mengapa beliau dijuluki “santo” oleh para tokoh Vatikan.

Saat Gus Dur diminta pertanggung jawaban oleh DPR, dengan gagah berani beliau datang ke gedung bundar dan menghadapi anggota DPR. Di hadapan mereka semua, dengan lantang Gus Dur mengatakan bahwa DPR seperti Taman Kanak-kanak.

Saat itu, banyak anggota DPR yang tersinggung dan menuding Gus Dur gila. Tapi pada kenyataan yang kita lihat saat ini, ternyata apa yang dikatakan Gus Dur, benar-benar terbukti. Anggota DPR senang ketika jalan-jalan dan tidur ketika sidang, senang rebutan proyek, dan punya pernah ada kasus meminta-minta dari "papa minta saham, mama minta s0ftex dan sekarang, si papa malah ada yang minta kasur, dan seterusnya.

Pak Sutarman adalah ajudan Gus Dur, dan Gus Dur pernah berkata pada Pak Sutarman, “nanti Pak Tarman akan jadi Kapolda Metro, setelah itu Pak Tarman akan menjadi Kapolri”. Pada saat itu, Pak Sutarman hanya tertawa karena mengganggap hal itu tidak akan terjadi, bahkan bermimpi menjadi Kapolri pun belum pernah. Dan tepat pada tanggal 23 Oktober 2013, Pak Sutarman ternyata resmi dilantik menjadi Kapolri oleh Presiden SBY.

Pada 8 Januari 2006, Gus Dur pernah mampir ke rumah dinas walikota Solo untuk bertemu dengan beberapa tokoh agama. Saat itu Bung Joko baru 6 bulan menjabat walikota. Dan pada hari itu Gus Dur berkata, “siapapun yang dikehendaki rakyat, termasuk Pak Jokowi ini, kalau dia jadi walikota yang bagus, kelak juga bisa jadi presiden.” Bung Joko hanya senyam-senyum pada waktu itu.

Di pagi hari, Gus Dur meminta Kang Said (KH. Said Aqil Siradj) untuk menyediakan air putih dan roti tawar untuk sarapan. Lalu Gus Dur meminta Kang Said untuk membacakan kitab Ihya’ Ulumuddin. 

Baru dibacakan dua paragraf, Gus Dur sudah mendengkur. Lima menit kemudian beliau terbangun dan berkata pada Kang Said, “sampean akan menjadi ketua PBNU di atas usia 55 tahun”. 

Pada Muktamar NU ke 30, Kang Said di usia 46 tahun mencalonkan diri menjadi ketua PBNU bersaing dengan KH. Hasyim Muzadi. Dan yang terpilih pada saat itu adalah KH. Hasyim. Selanjutnya, pada muktamar NU ke-32, Kang Said mencalonkan diri lagi menjadi ketua PBNU. Saat itulah beliau terpilih, tepat di usia 56 tahun.

Setelah gagal menjadi gubernur Bangka Belitung, Koh Ahok bertemu Gus Dur dan Gus Dur berkata, “kamu akan menjadi gubernur”. Benar juga, Ahok akhirnya jadi gubernur, tapi bukan di Bangka Belitung. 

Guru Besar UGM Profesor Suhardi, pernah menjadi Dirjen di Departemen Kehutanan di era Gus Dur. Di ruang ICCU, berapa hari sebelum wafatnya, Gus Dur berkata kepada sang profesor, "Pak Hardi saya titip bangsa ini. Tolong ikut dikawal Pansus Century di DPR. Besok Kamis saya akan pulang ke Tebuireng dengan diantar banyak orang. Saya sudah ditunggu ayah saya di sana," kata Gus Dur. Beliua meninggal tepat sesuai perkataan. 

Masih banyak lagi kisah misterius tentang Gus Dur. Yang membuat tertawa adalah perkataan Gus Dur yang pernah diucapkan kepada Fidel Castro, “saya menjadi presiden dipilih oleh orang-orang gila". Sekarang kita saksikan sendiri bagaimana perilaku mereka yang memilih Gus Dur pada masa itu. [dutaislam.com/ ab]

Sumber : dutaislam.com
Komentar Gus Dur Soal Pembubaran HTI

Komentar Gus Dur Soal Pembubaran HTI


 (Sebuah Wawancara Imajiner)

"Assalamu Alaikum Gus"
"Waalaikumus Salam"
"Gimana kabarnya Gus..?"
"Baik"
"Gus Dur sudah dengar belum kalau HTI resmi dibubarkan?"
"Lho, lha memang dulu itu belum..?!"
"Dulu itu baru proses pembubaran Gus"
"Ah kamu ini kasih info gak valid. Dari dulu sudah saya bilang, jangan cuma dibubarin, ditenggelemin aja sekalian..!"

"Tapi banyak yang bela HTI lho Gus, termasuk para pengacara"
"Yusril toh..!"
"Kok Gus Dur tahu"
"Kok tahu, kok tahu.. Lha ada Zastrow al Ngatawi yg ngasih tahu ke saya.."

"Pendapat Gus Dur sendiri gimana tentang  Yusril"
"Ya biarin aja. Namanya pengacara, orang cari makan. Gitu aja kok repot"
"Yusril bilang, katanya Perppu bisa digunakan juga untuk membubarkan NU"
"Ya itu omongan ngacau..!"
"Ngacau gimana maksud Gus Dur?'
"Lha mau mbubarin NU aja kok pakai Perppu. Lha bacakan aja Allahumma Shalli Alaaa Muhammad, nanti orang-orang NU pada bubar, sambil nyangking berkat.."
(Khel..Khel..Khel..Gus Dur tertawa, dan saya pun juga tertawa).

"Amin Rais juga menolak Perppu pembubaran Gus.."
"Amin kek, Aples kek. Gak usah diurusin. Jokowi harus jalan terus. Jokowi jangan ngurusi orang-orang pikun"
"Yang dimaksud pikun siapa Gus?"
"Sudah gak usah nanya macem-macem. Kamu nyebut Amin pilek saya jadi kambuh. Ha.ha.huasciiiinnn.."
(Gus Dur bersin-bersin)

"Tapi kalau Pak Syafii Maarif mendukung pembubaran HTI Gus"

"Ya jelas. Pak Syafii itu, walaupun orang Muhamadiyah, tapi jiwanya NU. Lha namanya aja ada maarif-nya, dan maarif itu kan lembaga pendidikan milik NU. Gitu lho..!"

"Sekarang soal ajaran HTI Gus. Mereka bilang cinta Pancasila, cinta NKRI, lha pendapat Gus Dur gimana"
"HTI bohong begitu kan sudah biasa. Mlintir kata-kata. Lha jelas yang diperjuangkan adalah khilafah gitu kok. Lalu nyebut Pancasila thoghut, nasionalisme dan demokrasi itu sistem kufur. Lha ini kan pikiran sableng..!

"Serius begitu Gus..!"
"Lha kamu ini dikasih tahu orang tua malah mbantah. Baca itu kitab al ahkam as Sulthaniyyah, baca itu tafsir Al khulafa', baca itu Tarikh At Thabari"
"Saya gak bisa baca kitab gundul Gus"
"Malu-maluin aja. Jadi santri NU gak bisa baca kitab gundul. Kayak Felix Siauw aja, orangnya gundul tapi takut sama kitab gundul. Istimbath hukum kok pakai terjemahan..!"

"Terus Gus..!"
"Ya itu, di dalam Islam yang penting substansinya. Jangan terjebak pada botol. Botol aqua tapi isinya madu, daripada botolnya dari botol emas tapi isinya khamr. Lha HTI, ISIS, itu kan lebih mementingkan botol daripada isi. Apalagi dalam konteks Indonesia plural, harus dicari botol yang bisa diterima semua pihak. Islam dan agama-agama lain, memberikan dasar nilai dalam penyelenggaraan negara"

"Lalu Gus.."
"Lha ormas seperti HTI, ISIS, itu kan sukanya bikin telinga orang merah. Yang tidak sesuai dianggap thoghut, kafir. Nah ini kan kacau. Ya mereka itu saya sebut Neo Khawarij. Khawarij kan bilang, La Hukma Illallah, lalu mengkafirkan dan membunuh Sayidina Ali. Ali sendiri pernah bilang begini, "Demi Allah, mereka tidak akan pernah mati. Mereka selalu hidup dalam sulbi-sulbi kaum laki-laki dan rahim-rahim kaum perempuan. Tapi begitu muncul pemimpin di antara mereka, akan segera terpotong, sehingga mereka hidup seperti para penyamun"

"Lantas Gus"
"Jadi kalau merujuk dawuhe Sayidina Ali, ya wajar kalau di mana-mana HTI ditolak, semua negara timur tengah menolak. Karena jalan yg dipakai pasti kudeta. Lha kalau HTI sekarang baru tingkat agitasi kepada rakyat. Nanti kalau sudah besar, ya berontak mereka itu. Kasus di berbagai negara Arab kan begitu. Jadi saya setuju kalau dibubarkan. Ibarat memadankan api sebelum api itu membakar seisi rumah"

"Kemudian gimana Gus"
"Sudah, sudah.., kamu ini wartawan dari tadi tanyanya cuma "terus Gus, lalu Gus, lantas Gus, kemudian Gus..Biar nanti saya tulis makalah aja..!"
"Njih, njih Gus..."
(Tanpa terasa satu jam lebih saya wawancara dg Gus Dur. Akhirnya saya pun minta pamit)

Buat Gus Dur, Lahul Fatihah.. [dutaislam.com/gg]

Sumber : dutaislam.com
Kiai Nggathilut dan Kiai Lèlès

Kiai Nggathilut dan Kiai Lèlès


Oleh Yahya Cholil Staquf

Lèlès (vokal e dibaca seperti pada "Menteng") artinya memunguti apa-apa yang tercecer untuk diambil manfaatnya atau dirawat.

Nggathilut artinya kenyamanan yang diperoleh tanpa susah-payah.

Saya ini kiai nggathilut. Begitu ayah saya meninggal, orang langsung mengkiaikan saya tanpa fit and proper test. Gus Dur mencomot dan menggelandang saya ke Jakarta hanya karena saya ini keponakan temannya dan teman keponakannya. Kemudian hanya karena reputasi saya sebagai mantannya Gus Dur (mantan jubir, mantan ini dan mantan itu) pemimpin NU memasukkan saya dalam jajaran kepengurusan begitu saja.

Saya menikmati kedudukan, otoritas, previlege dan pengaruh publik secara instan tanpa ikhtiar, bahkan tanpa terlebih dahulu berusaha menjadi pintar ataupun terampil. Saya pun tak perlu mencari-cari pengikut, karena dimana-mana ada saja orang yang siap menjadi pengikut saya, atas nama Gus Dur, NU atau status kekiaian saya. Bikinlah panggung dan biarkan saya naik keatasnya. Begitu sound system dihidupkan, orang-orang siap menyimak apa saja yang saya omong-kosongkan. Yang begitu itu, apa namanya kalau bukan Nggathilut?

Tapi ada kiai seperti almarhum Mbah Sungeb di Kragan. Beliau telah menginvestasikan seluruh masa muda lunas-tuntas tanpa sisa untuk ngaji dan tirakat. Seandainya beliau mau, bisa saja beliau menyuwuk atau mengikuk madu dengan hasil produk yang pasti jauh lebih berkualitas ketimbang yang sekarang ini diperdagangkan. Seandainya beliau mau membuka kitab di rumahnya sendiri dan membacanya dengan mengeraskan suara walaupun tanpa panggung dan tanpa sound system, pasti orang-orang yang ngebet pada ilmu akan berduyun-duyun datang bersimpuh dibawah dulinya.

Tapi Mbah Sungeb memilih keluyuran di lokalisasi pelacuran di pinggiran Rembang. Nongkrong berjam-jam di warung-warung mesum. Bergaul dengan orang-orang yang tidak tahu dan tidak perduli dengan keluhuran maqomnya.

Mbah Sungeb memilih mendatangi orang-orang yang tak akan mau mendatangi ataupun mendengarkan kiai mana pun dan kiai mana pun akan merasa tak pantas mendatangi mereka karena kehinaan maqom mereka. Orang-orang yang tersingkir dari terangnya sinar lampu-lampu, dari leganya jalan lapang, dari harumnya taman-taman.

Mbah Sungeb memilih melèlès sampah-sampah untuk siapa tahu bisa didaur-ulang menjadi sesuatu yang lebih berharga.

Kenyataannya, komplek pelacuran itu bubar tak lama sesudah Mbah Sungeb wafat. Saya beriman bahwa secara ruhaniyah Mbah Sungeb punya andil atas kebubaran itu.

Untuk menjadi kiai nggathilut nyaris tak perlu investasi maupun usaha. Tinggal nangkring saja. Untuk menjadi kiai lèlès yang sukses, dituntut keteguhan jiwa dan mental wiraswasta yang dhukdhèng.

"Kiai Muhammad Ainun Najib", begitu saya menyebut namanya ditengah walimah pengantin sepupu saya, Bisri Mustova bin Mustofa Bisri dan Ines, isterinya.

Dan saya katakan dihadapan hadirin bahwa, "Entah Cak Nun itu kiai beneran atau tidak, dia sudah biasa ngelakoni pekerjaannya kiai".

Saya memang dari dulu mengkategorikan Cak Nun sebagi kiai lèlès. Dan dia mungkin punya ambisi dan vitalitas bisnis yang lebih besar dari Mbah Sungeb. Itu sebabnya Cak Nun mau melakukan sofistikasi gaya, metode dan teknologi dalam usaha lèlèsnya.

Terkait dengan kontroversi yang dibikin Cak Nun terhadap NU dan Ansor belakangan ini, saya menduga dia cuma sedang mencoba melèlès HTI dan kalangan Islam gagap lainnya.

Penulis adalah Katib Aam PBNU

Sumber : nu.or.id
Kagetnya Pemerintah Arab Saudi saat Membongkar Makam Syekh Nawawi

Kagetnya Pemerintah Arab Saudi saat Membongkar Makam Syekh Nawawi


Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya. Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota.

Lubang kubur yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti. Kebijakan ini dijalankan tanpa pandang bulu. Siapapun dia, pejabat atau orang biasa, saudagar kaya atau orang miskin, sama terkena kebijakan tersebut.

Inilah yang juga menimpa makam Syaikh Nawawi Al-Bantani. Setelah kuburnya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburnya.

Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya. Yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet atau tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur.

Bahkan kain putih kafan penutup jasad beliau tidak sobek dan tidak lapuk sedikit pun.Terang saja kejadian ini mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan.

Langkah strategis lalu diambil. Pemerintah Arab Saudi melarang membongkar makam Syekh Nawawi Al-Bantani. Jasad beliau lalu dikuburkan kembali seperti sediakala. Hingga sekarang makam beliau tetap berada di Ma'la, Mekkah.

Syekh Nawawi Al-Jawi Al-Bantani (1813-1898)

Nama lengkapnya ialah Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin Arabi al-Jawi al-Bantani. Ia dilahirkan di Tanara, serang, Banten, pada tahun 1230 H/1813 M. Ayahnya seorang tokoh agama yang sangat disegani. Ia masih punya hubungan nasab dengan Maulana Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati (Cirebon).

Pada usia 15 tahun, Nawawi muda pergi belajar ke Tanah Suci Mekkah, karena saat itu Indonesia –yang namanya masih Hindia Belanda- dijajah oleh Belanda, yang membatasi kegiatan pendidikan di Nusantara. Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke Indonesia untuk menyalurkan ilmunya kepada masyarakat.

Tak lama ia mengajar, hanya tiga tahun, karena kondisi Nusantara masih sama, di bawah penjajahan oleh Belanda, yang membuat ia tidak bebas bergiat. Ia pun kembali ke Makkah dan mengamalkan ilmunya di sana, terutama kepada orang Indonesia yang belajar di sana.

Banyak sumber menyatakan Syekh Nawawi wafat di Makkah dan dimakamkan di Ma’la pada 1314 H/1897 M, namun menurut Al-A’lam dan Mu’jam Mu’allim, dua kitab yang membahas tokoh dan guru yang berpengaruh di dunia Islam, ia wafat pada 1316 H/1898 M.

Peran strategis bagi dunia dan Indonesia

Syekh Nawawi Al-Bantani adalah satu dari tiga ulama Indonesia yang mengajar di Masjid Al-Haram di Makkah Al-Mukarramah pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dua yang lain ialah muridnya, Ahmad Khatib Minangkabau dan Syekh Mahfudz Termas. Ini menunjukkan bahwa keilmuannya sangat diakui tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di semenanjung Arab.

Syekh Nawawi sendiri menjadi pengajar di Masjid al-Haram sampai akhir hayatnya yaitu sampai 1898, lalu dilanjutkan oleh kedua muridnya itu. Wajar, jika ia dimakamkan berdekatan dengan makam istri Nabi Muhammad, Khadijah ra di Ma’la.

Syekh Nawawi Al-Bantani mendapatkan gelar Sayyidu Ulama’ al-Hijaz yang berarti Sesepuh Ulama Hijaz atau Guru dari Ulama Hijaz atau Akar dari Ulama Hijaz. Yang menarik dari gelar di atas adalah beliau tidak hanya mendapatkan gelar Sayyidu ‘Ulama al-Indonesi sehingga bermakna, bahwa kealiman beliau diakui di semenanjung Arabia, apalagi di tanah airnya sendiri.

Selain itu, beliau juga mendapat gelar al-imam wa al-fahm al-mudaqqiq yang berarti Tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam. Snouck Hourgronje member gelar “Doktor Teologi”.

(Red: Fathoni)

Sumber : nu.or.id
KH Husein Ilyas Mojokerto, Kiai Penuh Karomah yang dekat Keluarga Gus Dur

KH Husein Ilyas Mojokerto, Kiai Penuh Karomah yang dekat Keluarga Gus Dur


Siapa yang tak terharu hingga keluar air mata melihat keindahan akhlak ulama kita KH Husain Ilyas saat mencium tangan Mbah Maimun Zubair.
KH Husein Ilyas adalah kiai sepuh yang sangat disegani dan dihormati di Jawa Timur. Di pondoknya yang sederhana di Karangnongko, Mojokerto, hampir setiap hari banyak orang yang datang mulai silaturrahmi sampai meminta doa dan restu. Menurutnya, siapa saja boleh datang ke pondoknya. Biar itu orang biasa, pejabat, tokoh agama, dan lain sebagainya, ia akan menerimanya dengan tangan terbuka.

Menjelang pilkada, caleg, dan pilpres, biasanya pondoknya selalu ramai didatangi orang-orang yang ingin minta restu, petunjuk, atau sekedar silaturahim. Tetapi beliau menolak jika dimintai dukungan. Beliau menyadari, beliau adalah panutan masyarakat terutama warga NU, jika beliau mendukung ini itu, beliau kasihan masyarakat yang kebingungan nantinya.

Mbah Yai Khusein adalah Rais Syuriah NU Cabang Kab. Mojokerto sejak 2003 hingga sekarang. Ada cerita dibalik pemilihannya sebagai rais syuriah, sebetulnya KH Husein Ilyas enggan dicalonkan dan memilih pulang ke pondok pesantren Nurul Hikmah yang diasuhnya. Prinsip beliau, jangankan memegang jabatan tertinggi, jadi ranting saja tidak mau, ada tanggung jawab besar yang diemban pemangku jabatan tersebut.

Namun para pendukungnya berhasil meyakinkan KH Husein bila kehadirannya sangat dibutuhkan NU. Beliau menyadari, NU didirikan para ulama dan banyak yang menghendaki agar KH. Husein dicalonkan, akhirnya beliau pun menjadi rais syuriah NU cabang Kab. Mojokerto.

Silsilah

Menurut keterangan yang dihimpun, beliau adalah keturunan Ronggowarsito. Berikut silsilah beliau :
RONGGOWARSITO –> NUR FATAH –> NUR IBRAHIM –> SYEH YASIN SURAKARTA –> NUR NGALIMAN/ SENOPATI SUROYUDO –> MUSYIAH –> KH. ILYAS –> KH. HUSEIN ILYAS (MOJOKERTO)

Karomah

Mbah Yai Khusen pernah bercerita bagaimana sengsaranya dulu ketika zaman Jepang. Ketika itu, tentara Jepang memberlakukan jam malam, mereka melarang rakyat Indonesia untuk keluar rumah menjelang sore hari. Hukumannya dibunuh di depan umum bila kedapatan keluar rumah di sore dan malam hari, karena dianggap pemberontak.

Pernah suatu ketika ada yang mencari tahu, apa sebenarnya yang dilakukan tentara Jepang di sore dan malam hari itu. Ternyata tentara Jepang tersebut di waktu sore itu mengangkuti hasil tanam rakyat untuk dibawa ke negara mereka. Memang di waktu itu diberlakukan peraturan semacam tanam paksa untuk kebutuhan logistik Perang Asia Timur Raya. Hasil panen yang dihasilkan oleh rakyat, sebagian besar diangkut Jepang sedangkan rakyat diberi bagian sedikit sekali. Proses memanen juga harus dalam pengawasan tentara Jepang, jika ketahuan memanen sendiri, maka akan dihukum mati.
Pada suatu waktu, ada seorang petani yang nekat memanen hasil tanam sendiri tanpa pengawasan tentara Jepang. Sayang usaha nekat petani tersebut ketahuan oleh tentara Jepang, sehingga petani itu ditembak oleh tentara Jepang. Anak petani tersebut akhirnya melapor kejadian tersebut pada Mbah Yai Khusen yang waktu itu masih muda.

Mendapat laporan tersebut, Mbah Yai Khusen pun akhirnya mengajak teman-temannya ke sawah untuk memanen padi menjelang Maghrib. Ketika sedang memanen, Mbah Yai Khusen didatangi beberapa tentara Jepang yang sedang berjaga dengan membawa anjing. Melihat Mbah Yai Khusen, anjing tentara Jepang tersebut malah beringsut mundur, lari menjauhi Mbah Yai. Sehingga sebagian tentara Jepang itu malah kerepotan mengejar anjingnya yang lari. Sementara tentara Jepang yang lain, menodongkan senjata pada Mbah Yai Khusen dan teman-temannya. Tiba-tiba senjata yang ditodongkan ke arah Mbah Yai itu meleleh seperti dipanaskan. Tentara-tentara itu pun kaget dan ikut-ikutan lari terbirit-birit.

Mbah Yai Khusen selalu berprinsip bahwa menjadi manusia itu tidak boleh takut pada siapapun dan apapun, kecuali hanya takut pada Allah SWT. Karena manusia itu kholifatuLlah, sebagai kholifah Allah itu sudah seharusnya tidak boleh takut apapun selain takut pada Allah.

Lalu diceritakan pula, ketika Mbah Yai masih muda, kalau beliau sedang puasa selalu menyendiri di hutan atau di manapun pokoknya jauh dari keramaian agar tidak diketahui orang dan ditanyai macam-macam. Suatu ketika beliau dalam uzlahnya itu tertidur di suatu hutan, lalu tiba-tiba dibangunkan Gus Zuli (Romo Yai Djazuli Utsman). Mbah Yai Khusen terkejut ketika terbangun banyak teman-temannya dan Gus Zuli di sekelilingnya. Teman-teman beliau bilang kalau Mbah Yai Khusen sudah hilang berminggu-minggu, padahal beliau merasa hanya tidur beberapa menit.

Anehnya, teman-teman Mbah Yai Khusen tidak melihat beliau tertidur di tempat tersebut, hanya Gus Zuli yang tahu, sebab itulah yang membangunkan Mbah yai Khusen adalah Gus Zuli. Lalu Mbah Yai Khusen bercerita pada Gus Zuli tentang tentang mimpi ketika tertidur tadi. Dalam mimpi Mbah Yai Khusen bermimpi bahwa suatu saat ada kiai besar yang akan lahir di tempat ini dan tempat ini akan ramai setelah kiai besar terbut wafat. Gus Zuli hanya menjawab, benar. Tempat tersebut sekarang adalah makam dari ulama muassis Dzikrul Ghofiliin, KH. Hamim Jazuli atau Gus Miek.

Selain itu, Mbah Yai Khusen hingga kini selalu dimintai doa dan gemblengan kekebalan bagi anggota Banser ketika akan melaksanakan tugas. Berbagai cabang Banser dari seluruh daerah selalu meminta gemblengan kebal senjata pada Mbah Yai Khusen. Gemblengan itu melalui ritual doa dan rajah menggunakan alat tulis yang dituliskan pada punggung masing-masing anggota Banser.

Kedekatan Dengan Gus Dur

Mbah Yai Khusen selalu bersemangat kalau bercerita tentang Gus Dur. Menurutnya, Gus Dur adalah pribadi yang luar biasa.

Beliau sering didatangi Gus Dur selama presiden RI ke-4 itu masih hidup, hingga ada kejadian lucu. Gus Dur kalau sowan menemui Mbah Yai, tanpa pengawalan dan tahu-tahu sudah ada di halaman rumah beliau. Begitu Gus Dur pulang, baru polisi-polisi datang menemui Mbah Yai, agar melapor jika akan ada pejabat atau tamu penting. Mbah yai hanya beralasan, Bagaimana mau lapor, wong pejabatnya datangnya tidak memberitahu. Dan itu kejadian berulang kali.

Hingga kini, anak-anak Gus Dur dan berbagai tokoh NU selalu mengikuti langkah Gus Dur untuk selalu meminta nasehat Mbah Yai Khusen dalam mengambil keputusan-keputusan penting. Hal ini menandakan kealiman dan bijaksananya seorang KH. Khusein Ilyas dalam ngemong masyarakat yang sangat patut menjadi perhatian kita, setiap tutur dan nasehatnya adalah oase yang dibutuhkan masyarakat yang hidup di zaman sekarang. Semoga beliau selalu diberi panjang umur yang barokah oleh Allah SWT, sehingga tetap menjadi obor ditengah zaman yang semakin gelap. Amin.

Lahu Al-Faatihah.

Sumber : muslimoderat.net
Gus Makshum Pagar Nusa, Rambut Gondrongnya Tidak Mempan Dipotong dan Mengeluarkan Api

Gus Makshum Pagar Nusa, Rambut Gondrongnya Tidak Mempan Dipotong dan Mengeluarkan Api


Menurut kakandanya, Nyai Karomah, Gus Maksum memelihara rambut beliau itu sejak masih belajar silat pada masa remajanya dulu, perihal rambutnya yang tak bisa dipotong juga dibenarkan oleh keluarganya, rambutnya bisa dipotong jika beliau telah mengijinkannya. Gus Maksum biasanya akan bilang “Saya rela rambut saya dipotong.”

Rambut Gondrong Gus Maksum bukan untuk tampang saja atau sekedar bergaya. Akan tetapi rambut gondrong Gus Maksum atas ijazah dari salah satu Guru beliau yaitu Habib Baharun Mrican, sehingga selain rambut beliau tidak mempan dipotong juga bisa mempercikan api jika beliau sedang marah, oleh karenanya beliau juga banyak dijuluki "si Rambut Api."
Namun perihal kehebatan Rambutnya, Beliau selalu mengatakan “Semua itu hanyalah pertolongan dari Allah SWT, tidak ada yang istimewa dari rambut saya.”

Menjalani Riyadlah sejak kecil

Lelaku batin sudah dijalaninya sejak kecil seperti ngrowot (latihan rohani dengan tidak makan makanan tertentu) sejak usia 14 tahun. Selain ngrowot, Gus Maksum juga riyadlah hanya makan kunyit dan nasi ketan.

Selain itu beliau juga sangat tekun mengamalkan wiridan wiridan, semua bentuk wiridan yang di izajahkan gurunya diamalkannya, bahkan kalau kadung wiridan bisa sampai dua hari baru selesai.
Berkat ketekunan dan keuletannya dalam dunia silat ditopang riadloh yang kuat dan tak kenal lelah Gus Maksum berhasil menciptakan ilmu silat dan kanuragan yang sempurna (perfect) hingga menjadikan beliau seorang pendekar sejati pilih tanding. Keberanian dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar bukanlah kemampuan yang dimiliki beliau semata, lebih dari itu, ia selalu bertawakal dengan menyerahkan sepenuhnya segala urusan kepada Alloh SWT.
Beliau selalu mengajarkan pada santrinya,janganlah takut kepada siapapun kecuali Allah,dan harus selalu menyadari bahwa semua daya kekuatan semata hanyalah pertolongan Allah. Hal ini menyimpulkan rasa tawakal selalu beliau pegang hingga ahir hayatnya.

Silat adalah Bagian hidupnya
Kegemaran beliau akan ilmu silat dimilikinya sejak kecil dan dikembangkannya ketika beliau remaja, sejak remaja sampai usia senja beliau mencurahkan sebagian besar hidupnya untuk silat, beliau menyelami dan mendalami dunia silat secara total, namun dibalik kecintaannya terhadap silat beliau sering menekankan pada para santrinya bahwa silat bukanlah segala-segalanya, kewajiban seperti shalat, mengaji, sekolah, puasa adalah sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan.
Sebagaimana yang sering diwejangkan oleh beliau bahwa semua ilmu hakikatnya adalah ilmu Allah,hingga apapun jenisnya harus dikuasai secara proposional. Ngaji oke, sekolah iya, silat juga nggak masalah. Demikian beberapa hobi Gus Maksum, selain itu Gus maksum sangat Hobi memelihara Hewan dan berkebun.

Sumber : muslimoderat.net
Belajar Memakai Sepatu di Balik Kursi Presiden Gus Dur

Belajar Memakai Sepatu di Balik Kursi Presiden Gus Dur


Tidak ada yang meragukan kecerdasan dan level pengabdian KH Abdurrahman Wahid (1940-2009) kepada agama, bangsa, dan negara untuk menjadi seorang pemimpin. Potensi besar menjadi pemimpin ini dilihat secara serius oleh sahabatnya, Fahmi Djafar Saifuddin (1942-2002). Bukan hanya pada level organisasi Islam terbesar di dunia seperti Nahdlatul Ulama (NU), tetapi juga menjadi seorang pemimpin negara, Presiden.

Meskipun serius ‘mengarsiteki’ Gus Dur menjadi pemimpin bangsa, Fahmi D. Saifuddin justru terlebih dahulu mendorong Gus Dur agar terbiasa memakai sepatu. Karena walau kemana pun dan dalam kegiatan apapun, Gus Dur kerap memakai sandal. Hal yang menurutnya cukup mengganjal dalam pikiran Fahmi, padahal Gus Dur sendiri merasa nyaman memakai sandal meski dirinya kala itu telah menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Selain salah seorang arsitek Khittah NU 1926 tahun 1984 di Situbondo, Ketua PBNU, dan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) dengan rentetan penghargaan, Fahmi D. Saifuddin adalah salah seorang sahabat dekat Gus Dur. Dia sudah lama memperhatikan, meneliti, dan memahami karakter, pemikiran, dan sepak terjang putra sulung KH Abdul Wahid Hasyim bin KH Muhammad Hasyim Asy’ari ini.

Riwayat tersebut dikisahkan oleh salah seorang sahabat Gus Dur, KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus. Baik Gus Dur, Gus Mus, dan Fahmi D. Saifuddin merupakan tokoh-tokoh yang mengarsiteki Khittah NU. Menurut Fahmi yang diceritakan oleh Gus Mus, Gus Dur perlu diantarkan menjadi pemimpin masa depan bangsa dan negara ini.

Untuk tujuan besar itu, Fahmi membujuk setengah mendesak agar Gus Dur menerima ajakan Presiden Soeharto masuk Golkar dan menjadi anggota MPR. Itu terjadi pada tahun 1987, tiga tahun setelah Gus Dur terpilih menjadi Ketua Umum PBNU hasil Muktamar ke-27 NU di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, Jawa Timur.

Gus Dur menolak dan ingin tetap menjadi kritikus Orde Baru sebagai pemimpin gerakan rakyat. Gus Dur menjawab Fahmi, “Aku emoh, wis kono takon Gus Mus wae, nek (Gus Mus) setuju, aku manut” (aku nggak mau, sudah sana tanya Gus Mus aja, kalau (Gus Mus) setuju, saya nurut). (KH Husein Muhammad, Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, Noura Books, 2015).

Fahmi lalu menemui Gus Mus. Dia mengatakan kepada kiai yang saat ini mengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang ini bahwa jika Gus Dur menjadi anggota MPR, dia akan bisa memengaruhi pemikiran orang-orang di sana (MPR) sekaligus bisa berdiskusi dengan Soeharto. Namun Gus Mus sendiri mengakui sulit, meski bagi orang secerdas Gus Dur.

Singkatnya, Gus Mus tidak setuju Gus Dur menjadi anggota MPR. Namun rupanya Fahmi tak putus harapan. Dia terus membujuk Gus Dur. Menurut Gus Mus, tujuan Fahmi sebenarnya tidak seserius itu. Dia hanya ingin agar Gus Dur nantinya sering memakai sepatu ke mana-mana, tidak pakai sandal terus. Di balik keinginan sederhana itu, tersimpan impian dan rencana besar dr. Fahmi agar Gus Dur mempersiapkan diri menjadi pemimpin bangsa yang besar.

Impian Fahmi sang arsitek itu berhasil. Gus Dur menjadi Presiden keempat RI pada tahun 1999. Banyak orang NU yang tidak mengira betapa hebatnya Fahmi D. Saifuddin, putra KH Saifuddin Zuhri dan kakak kandung Lukman Hakim Saifuddin ini. Kedua nama terakhir adalah adalah Menteri Agama Republik Indonesia periode 1962-1967 dan Menteri Agama periode 2014 hingga sekarang.

Menurut Gus Mus, Fahmi D. Saifuddin merupakan seorang NU tulen. Bukan hanya 100 persen, tetapi 1000 persen. Dialah yang merencanakan jauh-jauh hari dan memimpikan Gus Dur jadi Presiden RI dengan mengajarinya memakai sepatu. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Meluruskan Fatwa Zakir Naik yang Menyalahkan Tahlilan dan Yasinan

Meluruskan Fatwa Zakir Naik yang Menyalahkan Tahlilan dan Yasinan


Dalam video youtube dibawah ini Zakir Naik dan ustad Wahabi lainnya mengatakan Tahlilan adalah Bid'ah, juga dalam video dibawah ini menyalahkan Buya Yahya yang telah mengkritiknya, simak video berikut:


Untuk membantah kedua wahabi diatas, berikut kajiannya:

Sebelum kita berani mengatakan bahwa tahlilan dan yasinan adalah bid’ah,ada baiknya terlebih dahulu kita mengetahui/mencari tahu devinisi Bid’ah menurut para ‘ulama, kemudian kita mencari tahu devinisi tahlilan dan yasinan,setelah kita tahu devinisi keduanya baru kita menyimpulkan apakh tahlilan dan yasinan termasuk bid’ah dholalah,atau sunnah.?

DEVINISI BID’AH
Imam Syafi’i rahimahullah,seorang ‘ulama besar pendiri madzhab syaafi’iyyah,mendefinisikan, bid’ah sbb,
ما أحدث يخالف كتابا أو سنة اأو أثرا أو اجماعا, فهذه البدعة الضلالة. وما أحدث من الخير, لا خلاف فيه لواحد من هذه الأصول, فهذه محدثة غير مذمومة.
“ Bid’ah adalah apa-apa yang diadakan yang menyelisihi kitab Allah dan sunah-NYA, atsar, atau ijma’ maka inilah bid’ah yang sesat. Adapun perkara baik yang diadakan, yang tidak menyelisihi salah satu pun prinsip-prinsip ini maka tidaklah termasuk perkara baru yang tercela.”



Imam Ibnu Rojab rahimahullah dalam kitabnya yang berjudul “ Jami’ul Ulum wal Hikam “ mengatakan bahwa bid’ah adalah,
ما أُحْدِثَ ممَّا لا أصل له في الشريعة يدلُّ عليه ، فأمَّا ما كان له أصلٌ مِنَ الشَّرع يدلُّ عليه ، فليس ببدعةٍ شرعاً ، وإنْ كان بدعةً لغةً ،

“ Bid’ah adalah apa saja yang dibuat tanpa landasan syari’at. Jika punya landasan hukum dalam syari’at, maka bukan bid’ah secara syari’at, walaupun termasuk bid’ah dalam tinjauan bahasa.”

Dalam definisi bid’ah yang dikemukakan oleh para ulama’ di atas, bukankah bisa difahami bahwa perkara baru atau perkara yang tidak ada contohnya dari Rasulullah SAW itu dibagi dua yaitu perkara baru yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam syare’at dan perkara baru yang ada dasarnya dalam syare’at. Ibnu Rojab menegaskan bahwa perkara baru yang ada dasarnya dalam syare’at, itu tidak bisa dikatakan bid’ah secara syare’at walaupun sebenarnya ia termasuk bid’ah secara bahasa, dan jika suatu amalan dianggap bid’ah secara bahasa,tapi tidak secara syare’at,maka amalan tersebut boleh dilakukan,selagi tidak ada nash yang nyata nyata melarangnya.

Setelah kita tahu devinisi bid’ah menurut para ‘ulama,sekarang mari kita lihat devinisi tahlilan dan yasinan.

DEFINISI TAHLILAN DAN YASINAN
Kata Tahlilan berasal dari bahasa Arab tahliil (تَهْلِيْلٌ) dari akar kata:
هَلَّلَ – يُهَلِّلُ – تَهْلِيْلا
yang berarti mengucapkan kalimat: لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ . Kata tahlil dengan pengertian ini telah muncul dan ada di masa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabda beliau:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى .رواه مسلم
“ Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan TAHLIL itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat Dluha.” (Hadits riwayat: Muslim).

sedangkan yasinan adalah acara membaca surat yasin yang biasanya juga dirangkai dengan tahlilan. Di kalangan masyarakat Indonesia istilah tahlilan dan yasinan populer digunakan untuk menyebut sebuah acara dzikir bersama, doa bersama, atau majlis dzikir. Singkatnya, acara tahlilan, dzikir bersama, majlis dzikir, atau doa bersama adalah ungkapan yang berbeda untuk menyebut suatu kegiatan yang sama, yaitu: kegiatan individual atau berkelompok untuk berdzikir kepada Allah SWT, Pada hakikatnya tahlilan/yasinan adalah bagian dari dzikir kepada Allah SWT


2. Dalil-dalil tentang dzikir bersama

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ مُعَاوِيَةُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ: مَا أَجْلَسَكُمْ ؟. قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا. قَالَ: آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟ قَالُوا: وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ. قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ . رواه أحمد و مسلم و الترمذي و النسائي

“ Dari Abu Sa'id al-Khudriy radliallahu 'anhu, Mu'awiyah berkata: Sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam pernah keluar menuju halaqah (perkumpulan) para sahabatnya, beliau bertanya: "Kenapa kalian duduk di sini?". Mereka menjawab: "Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah dan memujiNya sebagaimana Islam mengajarkan kami, dan atas anugerah Allah dengan Islam untuk kami". Nabi bertanya kemudian: "Demi Allah, kalian tidak duduk kecuali hanya untuk ini?". Jawab mereka: "Demi Allah, kami tidak duduk kecuali hanya untuk ini". Nabi bersabda: "Sesungguhnya aku tidak mempunyai prasangka buruk terhadap kalian, tetapi malaikat Jibril datang kepadaku dan memberi kabar bahwasanya Allah 'Azza wa Jalla membanggakan tindakan kalian kepada para malaikat". (Hadits riwayat: Ahmad, Muslim, At-Tirmidziy dan An-Nasa`iy).

Jika kita perhatikan hadits ini, dzikir bersama yang dilakukan para sahabat tidak hanya sekedar direstui oleh Nabi Muhammad SAW, tetapi Nabi juga memujinya, karena pada saat yang sama Malaikat Jibril memberi kabar bahwa Allah 'Azza wa Jalla membanggakan kreatifitas dzikir bersama yang dilakukan para sahabat ini kepada para malaikat.

Sekarang marilah kita perhatikan hadits berikut ini

عَنِ الْأَغَرِّ أَبِي مُسْلِمٍ أَنَّهُ قَالَ أَشْهَدُ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ. رواه مسلم

"Dari Al-Agharr Abu Muslim, sesungguhnya ia berkata: Aku bersaksi bahwasanya Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudzriy bersaksi, bahwa sesungguhnya Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Tidak duduk suatu kaum dengan berdzikir bersama-sama kepada Allah 'Azza   wa Jalla, kecuali para malaikat mengerumuni mereka, rahmat Allah mengalir memenuhi mereka, ketenteraman diturunkan kepada mereka, dan Allah menyebut mereka dalam golongan orang yang ada disisiNya". (Hadits riwayat Muslim)
dan masih banyak lagi hadts hadits shohih yang menjelaskan tentang ke utamaan dzikir berjama’ah.

3. DASAR - DASAR BACAAN YANG ADA DALAM ACARA YASINAN DAN TAHLILAN

Seluruh bacaan dan dzikir yang kita baca dalam yasinan dan tahlilan semua mengandung ke utamaan – ke utamaan,dan Rosululloh SAW sendiri menyuruh  kita untuk membacanya.

Bacaan-bacaan yang selalu dibaca dalam acara tahlilan yaitu:

1. Membaca Surat Al-Fatihah.

Dalil mengenai  keutaman Surat Al Fatihah:

Sabda Rosululloh SAW.
Artinya: "Dari Abu Sa`id Al-Mu'alla radliallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda kepadaku: "Maukah aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Al-Qur'an, sebelum engkau keluar dari masjid?". Maka Rasulullah memegang tanganku. Dan ketika kami hendak keluar, aku bertanya: "Wahai Rasulullah! Engkau berkata bahwa engkau akan mengajarkanku surat yang paling agung dalam Al-Qur'an". Beliau menjawab: "Al-Hamdu Lillahi Rabbil-Alamiin (Surat Al-Fatihah), ia adalah tujuh surat yang diulang-ulang (dibaca pada setiap sholat), ia adalah Al-Qur'an yang agung yang diberikan kepadaku".
(Hadits riwayat: Al-Bukhari).

2. Membaca Surat Yasin.

Dalil mengenai keutamaan Surat Yasin.
Sabda Rosuululloh SAW
“Artinya”Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu., ia berkata: "Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa membaca surat Yasin di malam hari, maka paginya ia mendapat pengampunan, dan barangsiapa membaca surat Hamim yang didalamnya diterangkan masalah Ad-Dukhaan (Surat Ad-Dukhaan), maka paginya ia mendapat mengampunan". (Hadits riwayat: Abu Ya'la). Sanadnya baik. (Lihat tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir Surat Yaasiin)

Rosululloh SAW juga bersabda,
Artinya“ Dari Ma'qil bin Yasaar radliallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Bacalah Surat Yaasiin atas orang mati kalian" (Hadits riwayat: Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Sabda Rosululloh SAW,
Artinya“ Dari Ma'qil bin Yasaar radliallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: Surat Al-Baqarah adalah puncak Al-Qur'an, 80 malaikat menyertai diturunkannya setiap ayat dari surat ini. Dan Ayat laa ilaaha illaa Huwa Al-Hayyu Al-Qayyuumu (Ayat Kursi) dikeluarkan lewat bawah 'Arsy, kemudian dimasukkan ke dalam bagian Surat Al-Baqarah. Dan Surat Yaasiin adalah jantung Al-Qur'an, seseorang tidak membacanya untuk mengharapkan Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa dan Hari Akhir (Hari Kiamat), kecuali ia diampuni dosa-dosanya. Dan bacalah Surat Yaasiin pada orang-orang mati kalian".
(Hadits riwayat: Ahmad)

3. Membaca Surat Al-Ikhlash.

Dalil mengenai keutamaan Surat Al-Ikhlash.
Rosululloh SAW bersabda,
Artinya“ Dari Abu Said Al-Khudriy radliallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya: "Apakah kalian tidak mampu membaca sepertiga Al-Qur'an dalam semalam?". Maka mereka merasa berat dan berkata: "Siapakah di antara kami yang mampu melakukan itu, wahai Rasulullah?". Jawab beliau: "Ayat Allahu Al-Waahid Ash-Shamad (Surat Al-Ikhlash maksudnya), adalah sepertiga Al-Qur'an"
(Hadits riwayat: Al-Bukhari).

Imam Ahmad meriwayatkan:

Artinya“ Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam mendengar seseorang membaca Qul huwaAllahu Ahad (Surat Al-Ikhlash). Maka beliau bersabda: "Pasti". Mereka (para sahabat) bertanya: "Wahai Rasulullah, apa yang pasti?". Jawab beliau: "Ia pasti masuk surga".
(Hadits riwayat: Ahmad).


4. Membaca Surat Al-Falaq
5. Membaca Surat An-Naas

Dalil keutamaan Surat Al-Falaq dan An-Naas.

Artinya“ Dari Aisyah radliallahu 'anhaa, "bahwasanya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bila merasa sakit beliau membaca sendiri Al-Mu`awwidzaat (Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq dan Surat An-Naas), kemudian meniupkannya. Dan apabila rasa sakitnya bertambah aku yang membacanya kemudian aku usapkan ke tangannya mengharap keberkahan dari surat-surat tersebut".
(Hadits riwayat: Al-Bukhari).

6. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 1 sampai 5
7. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 163
8. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 255 (Ayat Kursi)
9. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 284 sampai akhir Surat.

Dalil keutamaan ayat-ayat tersebut:

Artinya"Dari Abdullah bin Mas'ud radliallahu 'anhu, ia berkata: "Barangsiapa membaca 10 ayat dari Surat Al-Baqarah pada suatu malam, maka setan tidak masuk rumah itu pada malam itu sampai pagi, Yaitu 4 ayat pembukaan dari Surat Al-Baqarah, Ayat Kursi dan 2 ayat sesudahnya, dan 3 ayat terakhir yang dimulai lillahi maa fis-samaawaati..)" (Hadits riwayat: Ibnu Majah).

10. Membaca Istighfar ,

Dalil keutamaan membaca istighfar:

Allah SWT berfirman:
 "Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat". (QS. Huud: 3)

Sabda Rosululoh SAW.
“ Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu : Aku mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Demi Allah! Sungguh aku beristighfar (memohon ampun) dan bertaubat kepadaNya lebih dari 70 kali dalam sehari". (Hadits riwayat: Al-Bukhari).

Sbda Rosululloh SAW.
“ Dari Al-Aghar bin Yasaar Al-Muzani radliallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertaubat kepadaNya seratus kali dalam sehari". (Hadits riwayat: Muslim).

11. Membaca Tahlil : لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ
12. Membaca Takbir : اَللهُ أَكْبَرُ
13. Membaca Tasbih : سُبْحَانَ اللهِ
14. Membaca Tahmid : الْحَمْدُ للهِ

Dalil mengenai keutamaan membaca tahlil, takbir dan tasbih:
Sabda Rosululloh SAW.
Artinya“ Dari Jabir bin Abdullah radliallahu 'anhumaa, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik Dzikir adalah ucapan Laa ilaaha illa-Llah, dan sebaik-baik doa adalah ucapan Al-Hamdi li-Llah". (Hadits riwayat: At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Sabda Rosululloh SAW.
Artinya“ Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Ada dua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan kebaikan dan disukai oleh Allah Yang Maha Rahman, yaitu Subhaana-Llahi wa bihamdihi, Subhaana-Llahi Al-'Adzim".( Hadits riwayat: Al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah).
Sabda Rosululloh.

Artinya“ Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan tahlil itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar makruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat Dluha.” (Hadits riwayat: Muslim).

Sumber : muslimoderat.net
close
Banner iklan disini