Kisah Gus Kelik Wafat Saat Kewaliannya Diketahui Khalayak

Kisah Gus Kelik Wafat Saat Kewaliannya Diketahui Khalayak


Kabar duka menyebar ke seluruh penjuru negeri ketika KH. Agus Rifqi Ali bin KH. Ali Maksum bin KH. Maksum (Lasem) Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta, wafat. Gus Kelik, sapaan akrabnya meninggal dunia pada Selasa (2/8/2016), pukul 22.10. Innalillahi wa inna ilahi rajiun.

Dalam pandangan saya, Gus Kelik adalah termasuk golongan para wali Allah. Hal ini terbukti sejak lahir, ia telah memperlihatkan keanehan yang tidak dilakukan kebanyakan kalangan, bahkan cenderung dianggap sebagai di luar nalar.

Seingat saya, KH. R. Hafidz Abdul Qodir bercerita bahwa Mbah Ali Maksum pernah meminta doa kepada  KH. Abdul Hamid Pasuruan untuk Gus Kelik agar bisa hidup layaknya orang normal. Ternyata Mbah Hamid justru memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak harus diambil pusing. “Tidak apa-apa, tambah aku yang jaluk (minta) doa neng Gus Rifqi,” kata Mbah hamid kala itu.

Semenjak itulah KH. Ali  Maksum sayang kepada Gus Kelik, bahkan sampai berwasiat kepada keluarga “Jaga Rifqi, insya Allah masuk surga alias dialah yang merawatnya.”

Penulis pernah dipanggil Gus Kelik ketika hendak membeli rokok di Kopontren Al-Munawwir. Dengan mendekat, ia berkata: “Kang, ada uang seribu rupiah?” Saya jawab ada.  Dan hampir setiap santri di Krapyak  pernah dimintai uang yang nominalnya berbeda.

Dalam keseharian, Gus Kelik memiliki kebiasaan mencari kardus di toko sekitar pesantren. Ia juga menyewakan alat katering.  Anehnya, setiap tahun hasil dari usahanya ini digunakan memberangkatkan jamaah ziarah Wali Songo. Santri yang ikut diminta membayar semampunya, bahkan tidak sedikit yang gratis.

Keanehan yang tidak lumrah terhadap Gus Kelik, ketika kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Gur) di Pondok Krapyak. Kala itu Gus Dur tidak mau duduk kecuali berdampingan dengan Gus Kelik. Tidak hanya itu, justru Gus Dur lah yang mencium tangannya.

Gus Kelik dikatakan wali karena setelah menikah, ternyata memiliki pengetahuan dan pemahaman  kitab kuning yang mumpuni. Ia juga bisa mengaji kitab dan memimpin shalawat. Padahal, semenjak kecil sampai dewasa tidak pernah menyentuh kitab apa pun.

“Nasib” para wali Allah apabila telah diketahui keunggulan dan kelebihannya justru berakibat usia yang singkat. Sehingga ketika sebagian kalangan sudah melihat derajat atau maqam kewalian yang dimiliki, ajal akhirnya menjemput yang bersangkutan. Termasuk dalam hal ini adalah sosok Gus Kelik.
Ia wafat di RS Panembahan Senopati Bantul  dalam usia 58 Tahun. Selamat jalan dan menemui Rabb-mu, dan kami mengiringi dengan untaian doa.

Catatan dari Ifdlolul Maghfur, santri Pesantren Madrasah Hufadz Krapyak  (1999-2008) dan Pengurus PW LTN NU Jatim.
(Halaqoh.net/Abdul Wahab)

Sumber : santrionline.net
Mereka Mengaku "Pembela Ulama" tapi Mencaci Maki Mufassir Hebat Habib Quraish Shihab

Mereka Mengaku "Pembela Ulama" tapi Mencaci Maki Mufassir Hebat Habib Quraish Shihab


SAYA sering bertanya-tanya tentang pihak tertentu yang mengaku pembela ulama, yang menyatakan diri siap mati demi membela ulama, tapi di sisi lain tega mencaci maki Prof. Dr. Quraish Shihab. Baru-baru ini ada yg menyeru untuk memboikot khotbah Ied beliau di mesjid Istiqlal.

Saya beruntung mengenal keluarga besar beliau, ayah ibu dan saudara-saudara beliau sejak di Makassar. Ayah, ibu, kakek dan nenek saya dekat dengan keluarga beliau, ayah dan ibu beliau. Di Jakarta saya mengikuti pengajian beliau sejak 30 an tahun y.l. Sampai sekarang pun saya berusaha menyempatkan diri utk hadir di majlis beliau.

Beliau adalah seorang tokoh langka di negeri ini. Salah satu lulusan Al Azhar terbaik di bidang tafsir, mantan rektor IAIN, Ketua MUI, Menteri Agama, Dubes Indonesia utk Mesir. Penulis buku yg sangat produktif. Beliau sangat rendah hati dan ramah dalam pergaulan. Tidak pernah membedakan diri dalam pergaulan. Seorang guru yang sangat adil dalam menyampaikan pendapat dari berbagai mazhab. Terbuka dalam menyikapi beragam pemahaman dan mazhab. Menerima kebenaran dari mana pun.

Sangat jarang, atau bahkan mungkin tidak ada, ulama yang sealim, setekun, seproduktif, dan serendah-hati beliau dan pernah memegang berbagai jabatan keilmuan dan birokrasi di Indonesia.
Seluruh hidup beliau diabdikan untuk mengkaji Quran dan menuliskannya dalam berpuluh judul buku dan berjilid tafsir.

Buku-buku beliau yang Best Seller antara lain: Membumikan Al-Quran, Wawasan Al-Quran, Mungkinkah Sunni Syiah bergandengan tangan? dan Lentera Hati.
Buku tafsir yang beliau tulis adalah Tafsir Al-Misbah. Ini adalah karya utama beliau. Karya ini terdiri dari 14 jilid yang menampung pembahasan utuh 30 juz Al-Quran Al-Karim. Karya ini layak jadi kebanggaan Muslim Indonesia.

Karya-Karya M. Quraish Shihab

Pertama: Karya-karya Tafsir

1. Tafsir Mawdhû’î (tematik)
Tafsir al-Qur’an yang disusun berdasarkan tema-tema tertentu. Berikut karya-karya M. Quraish Shihab yang merupakan tafsir tematik atau menggunakan pendekatan tafsir tematik:
Wawasan al-Qur’an (Mizan, 1996)
Secercah Cahaya Ilahi (Mizan, 2000)
Menyingkap Tabir Ilahi: al-Asmâ’ al-Husnâ dalam Perspektif al-Qur’an (Lentera Hati, 1998)
Yang Tersembunyi: Jin, Malaikat, Iblis, Setan (Lentera Hati, 1999)
Jilbab: Pakaian Wanita Muslimah, Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer (Lentera Hati, 2004)
Perempuan [Dari Cinta Sampai Seks, Dari Nikah Mut’ah sampai Nikah Sunnah, Dari Bias Lama sampai Bias Baru] (Lentera Hati, 2004)
Pengantin al-Qur’an (Lentera Hati, 2007)

2. Tafsir Tahlîlî
Tafsir al-Qur’an yang disusun berdasarkan urutan ayat ataupun surah dalam mushaf al-Qur’an dan mencakup berbagai masalah yang berkenaan dengannya. Karya M. Quraish Shihab yang termasuk dalam kategori ini sebagai berikut:
Mahkota Tuntunan Ilahi: Tafsir Surah al-Fâtihah (Untagma, 1988)
Tafsir al-Qur’an al-Karim: Tafsir atas Surah-surah Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu (Pustaka Hidayah, 1997)
Tafsir al-Mishbah (Lentera Hati, 2000)
Perjalanan Menuju Keabadian: Kematian, Surga, dan Ayat-Ayat Tahlil (Lentera Hati, 2001)
Menjemput Maut: Bekal Perjalanan Menuju Allah swt. (Lentera Hati, 2002)

3. Tafsir Ijmali (global)
Sebuah penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an dengan cara mengemukakan makna ayat secara garis besar, dengan mengikuti urutan surah-surah dalam al-Qur’an sebagaimana metode Tahlîlî. Karya M. Quraish Shihab yang menjelaskan intisari kandungan ayat-ayat al-Qur’an ini yaitu:
Al-Lubâb: Makna, Tujuan, dan Pelajaran dari Surah-Surah al-Qur’an (Lentera Hati, 2012)

4. Terjemah al-Qur’an. Berawal dari ketidakpuasan M. Quraish Shihab terhadap terjemahan al-Qur’an yang banyak beredar selama ini, karya ini lahir. Banyak ulama menegaskan bahwa al-Qur’an tidak dapat diterjemahkan dalam arti dialihbahasakan, karena tak ada bahasa di dunia yang cukup kaya untuk merangkum seluruh makna yang dikandungnya. Oleh karenanya, karya beliau ini diberi judul:

Al-Qur’an dan Maknanya (Lentera Hati, 2010)
Kedua: Maqâlât Tafsîriyyah (Artikel-artikel Tafsir):
Membumikan al-Qur’an (Mizan, 1992)
Lentera Hati (Mizan, 1994)
Menabur Pesan Ilahi: Al-Qur’an dan Dinamika Kehidupan Masyarakat (Lentera Hati, 2006)
Membumikan al-Qur’an Jilid 2 (Lentera Hati, 2011)
Ketiga: Ulumul Qur’an dan Metodologi Tafsir
Tafsir al-Manar: Keistimewaan dan Kelemahannya* (IAIN Alauddin, 1984)
Studi Kritis Tafsir Al-Manar, Karya Muhammad Abduh dan M. Rasyid Ridha (*diterbitkan kembali oleh Pustaka Hidayah Bandung, 1994)
Rasionalitas al-Qur’an: Studi Kritis atas Tafsir al-Manar (*diterbitkan kembali oleh Lentera Hati, 2005)

Filsafat Hukum Islam (Departemen Agama, 1987)
Mukjizat al-Qur’an (Mizan, 1996)
Kaidah Tafsir (Lentera Hati, 2013)
Keempat: Tsaqâfah Islâmiyah (Wawasan Keislaman)
Haji Bersama M. Quraish Shihab (Mizan, 1998)
Dia Di Mana-Mana (Lentera Hati, 2004)
Wawasan al-Qur’an tentang Zikir dan Doa (Lentera Hati, 2006)
Logika Agama: Kedudukan Wahyu dan Batas-Batas Akal dalam Islam (Lentera Hati, 2005)
Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Kajian atas Konsep Ajaran dan Pemikiran (Lentera Hati, 2007)

Yang Ringan Jenaka (Lentera Hati, 2007)
Yang Sarat dan yang Bijak (Lentera Hati, 2007)
M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui (Lentera Hati, 2008)
Ayat-Ayat Fitna: Sekelumit Keadaban Islam di Tengah Purbasangka (Lentera Hati dan Pusat Studi al-Qur’an, 2008)

Berbisnis dengan Allah (Lentera Hati, 2008)
Doa Harian bersama M. Quraish Shihab (Lentera Hati, 2009)
M. Quraish Shihab Menjawab 101 Soal Perempuan yang Patut Anda Ketahui (Lentera Hati, 2010)
Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan al-Qur’an dan Hadits-Hadits Shahih (Lentera Hati, 2011)

Doa Asmaul Husna: Doa yang Disukai Allah (Lentera Hati, 2011)
Haji dan Umrah Bersama M. Quraish Shihab (Lentera Hati, 2012)
Kematian adalah Nikmat (Lentera Hati, 2013)
M. Quraish Shihab Menjawab pertanyaan Anak tentang Islam (Lentera Hati, 2014)
Birrul Walidain (Lentera Hati, 2014)

(http://quraishshihab.com/work/)

Beliau bahkan mendirikan sebuah pusat studi bernama Pusat Studi Quran.
Dengan dedikasinya yang begitu besar pada Islam, khususnya studi Al-Quran, beliau disebut sebagai salah satu dari 500 muslim paling berpengaruh di dunia sepanjang 2012 - 2015 menurut The Royal Islamic Strategic Centre yang berpusat di Amman, Yordania.

Dengan kedalaman ilmu agama (khususnya tafsir) yang beliau miliki, beliau layak menyandang gelar kiai besar atau ulama besar. Tapi yang terjadi justru beliau tidak mau menambah kata kiai di depan namanya. Beliau juga bahkan tidak mau dipanggil kiai atau ustadz. "Panggil saja, Pak," kata beliau suatu hari di acara rekaman acara Ramadhan di sebuah studio televisi swasta. Jadilah mahasiswa dan murid-muridnya memanggilnya "Pak Quraish" saja.

Selain itu, Pak Quraish tidak pernah menggunakan gelar 'habib' di depan namanya. Padahal berdasarkan nasab yang dimilikinya, tentu saja beliau adalah seorang sayyid. Sebutan sayyid yg kemudian berubah menjadi istilah habib. Di daerah asal kami sulsel, kami biasa menggunakan kata 'habib' hanya untuk memanggil kakek, dan kata 'hababa' utk nenek. Beliau hanya membolehkan cucu-cucunya saja untuk memanggil beliau dgn panggilan habib.

Penutup

Pertanyaannya, kepada para pencaci yg hanya mampu memungut krikil dari lautan karya Pak Quraish itu sebetulnya sedang membela siapa? Mereka berdiri di pihak yang mana? Apa definisi mereka tentang ulama?

Sumber : muslimoderat.net
Merokok Menghidupkanmu, Tidak Membunuhmu

Merokok Menghidupkanmu, Tidak Membunuhmu

KH. Mahrus Ali (Lirboyo-Kediri) dan As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki (Mekkah), saat kunjungan beliau ke Pondok Pesantren Lirboyo-Kediri tahun 1981 M

KH Mahrus Aly Lirboyo pernah bersama mobilnya jatuh dan tenggelam di tengah Bengawan Solo, Tuban. Bingung rombongan yang dibelakangnya, termasuk Bupati Gresik ketika itu. Bagaimana nasib beliau?

Akhirnya (mereka) berinisiatif mendatangkan derek dari Surabaya. Padahal perjalanan derek menuju lokasi memakan waktu beberapa jam. Setelah derek sampai, ditariklah mobil yang tenggelam keatas. Sampai di atas, pintu mobil dibuka: Mbah Mahrus malah sedang merokok! Ternyata merokok menghidupkanmu, tidak membunuhmu! (canda KH Chalwani Berjan, Shohibul hikayat).

Sedikit saja, tidak ada air yang masuk ke mobil Mbah Mahrus, semuanya segar bugar. Sampai-sampai, di muat di Jawa Pos & Surabaya Pos : “Ada Kyai Anti Air”. Itulah karomah Mbah Mahrus Lirboyo, luar biasa !!. Al-Fatihah...

Sumber : muslimoderat.net

Meluruskan Fitnah-Fitnah yang Ditujukan Kepada Habib Quraish Shihab

Meluruskan Fitnah-Fitnah yang Ditujukan Kepada Habib Quraish Shihab


Iqra! Bacalah! Demikian pesan wahyu ilahiyyah yang pertama kali turun pada Nabi Muhamamad shallallahu alaihi wassalam. Pesan ini juga merupakan tuntunan bagi umat akhir zaman untuk menyikapi hal-hal yang belum terang benderang kebenarannya.

Kita diperintahkan untuk membaca terlebih dahulu, mengamati, mencermati, merenungi, memahami, baru kemudian mendengar, kemudian memutuskan, bersikap, dan terakhir barulah mengucapkan.
Ucapan itu pun harus proporsional, terukur dan terarah, sehingga tutur kata kita tak "laghaa" (omong kosong), apalagi sampai terjebak pada ghibah dan fitnah yang sangat membahayakan. Nauzubillah.
Tulisan saya kali ini, “Menakar Fitnah Atas Quraish Shihab” semata saya tuliskan atas dasar pemahaman dan penilaian obyektif atas sosok seorang Quraish Shihab. Saya menggumi sosok mufasir sekaligus pemikir hebat ini berdasarkan dari berkenalan dengan karya-karya beliau semenjak 15 tahun yang lalu.

Saya perlu meluruskan tentang tudingan terhadap Quraish Shihab yang dirasa kurang tepat dan tidak berdasar hanya lantaran “ketidaktepatan redaksional” yang beliau sampaikan tentang hadits Rasulullah bahwa “Seseorang Tidak Masuk Surga, Melainkan dengan rahmat Allah”, agar kita bisa mendudukkan persoalan tersebut secara proporsional dan adil.
Terlepas dari berbagai kelebihan dan kekurangan Quraish Shihab sebagai manusia biasa, bagaimana pun dalam hal menilai pemikiran seseorang kita harus berdasarkan pengamatan dan pendalaman ilmu pengetahuan, bukan atas dasar prasangka, apalagi hanya sekedar ikut-ikutan.
“Janganlah disebabkan kebencianmu, pada satu kaum membuatmu bersikap tidak adil!” Demikian pesan al-Qur’an.

Ada baiknya sebelum kita mengkaji pemikiran seorang Quraish Shihab kita kenali terlebih dahulu sosoknya lebih dekat.

Nama lengkapnya Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA, anak dari Prof. Abdurrahman Shihab. Beliau seorang Guru Besar Tafsir di IAIN Alauddin Makassar. Beliau lahir di Rappang Sidrap, Sulawesi Selatan, 16 Februari 1944, dari keluarga keturunan Habaib bermarga Syihab; yang masih merupakan keluarga besar Ahlu Bait Rasulullah Saw.

Berbekal pengetahuan, pemahaman dan pengalaman agama yang ditanamkan kedua orangtuanya, Quraish Shihab mengawali pengembaraannya dalam menuntut ilmu.
Bagaimana soal pendidikannya?

Pendidikan dasarnya diselesaikan di Makassar dan dilanjutkan pada jenjang menengahnya di kota Malang, Jawa Timur sambil nyantri di Pesantren Dar Hadits al-Fiqhiyyah, namun sebelum menyelesaikan studinya pada jenjang tersebut, pada tahun 1958 bertepatan pada usia 14 tahun, ia berangkat ke Cairo Mesir untuk melanjutkan studi di al-Azhar Cairo Mesir. Disana ia diterima di kelas dua Idadi (setingkat SLTP).

Pada tahun 1967, ia berhasil meraih gelar Lc (S-1) pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Hadits dari Universitas al-Azhar. Kemudian ia melanjutkan jejang Magister pada Fakultas yang sama, dan pada tahun 1969 ia berhasil meraih gelar MA untuk spesialisasi bidang Tafsir al-Qur’an dengan Thesis berjudul ”Al-I’jaz al-Tasryri’I li al-Qur’an al-Karim”.

Sekembalinya ke Ujung Pandang ketika itu, Quraish Shihab dipercayakan untuk menjabat Wakil Rektor bidang Akademis dan Kemahasiswaan pada IAIN Alauddin. Selain itu, beliau diserahi jabatan-jabatan lain, di dalam maupun luar kampus. Selama disana beliau juga aktif melakukan berbagai kegiatan penelitian ilmiah.

Pada tahun 1980, Quraish Shihab, kembali melanjutkan pendidikan Strata (S-3) di Universitas al-Azhar dengan judul desertasi “Nazhm ad-Durâr li al-Biqâi; Tahqiq wa Dirâsah” dan berhasil meraih gelar Doktor dalam ilmu-ilmu al-Qur’an.

Prestasinya luar biasa, nilai akhir program doktoral dengan nilai Yudisium “Summa Cum Laude” dengan penghargaan tingkat I “Mumtaz Ma’a Martabat al-Syaraf al-Ula”; sebuah peringkat paling prestise di Universitas paling berpengaruh di dunia Islam itu serta peringkat paling tinggi yang pernah dicapai oleh seorang putra bangsa.

Perlu diketahui, bahwa lulusan doktor dari Universitas al-Azhar bukanlah semudah yang dibayangkan. Syarat masu untuk bisa menyelesaikan program doktor ketika itu, haruslah mampu menghapalkan al-Qur’an secara sempurna. Lebih-lebih dengan pencapaian yang sungguh sangat luar biasa itu kita harus mengakui bahwa beliau adalah tokoh cendekiawan muslim yang patut dibanggakan bangsa ini.

Apa saja karya Ilmiah Quraish Shihab?
Muhammad Quraish Shihab sejak kecil telah mempelajari al-Qur’an, bahkan telah menghapalnya di luar kepala. Ketertarikan beliau terhadap al-Qur’an sudah mulai tampak terlihat semenjak masih di pondok Pesantren Malang Jawa Timur.
Sejak itu, beliau telah aktif mengkaji al-Qur’an selama puluhan tahun, bahkan ia berusaha meneruskan metode yang diperkenalkan oleh ayahnya; Abdurrahman Shihab; sebagai seorang ulama besar di zamannya.

Kemampuannya yang mumpuni dalam pemahaman al-Qur’an menempatkan beliau pada posisi sebagai sebagai seorang Mufassir al-Qur’an Kontemporer yang kini telah dikenal, baik di dalam maupun luar negeri. Beliau juga aktif dalam karier karya tulis ilmiah, baik di dunia kampus maupun di media massa.

Tercatat tidak kurang 60 buah buku dan ratusan artikel di surat kabar, majalah, jurnal yang tersebar di koran, majalah dan media massa lainnya. Beliau juga aktif menulis, isu-isu mutakhir yang terjadi di Indonesia. Dengan adanya karya-karya tulis yang ia publikasikan, pada tahun 2009 beliau menerima penghargaan Islamic Book Fair (IBF) Award; sebagai Tokoh Perbukuan Islam 2009.
Diantaranya karya-karya beliau: (1) Tafsir al-Misbah (15 Volume) (2) Membumikan al-Qur’an (3) Wawasan al-Qur’an (4) Menabur Pesan Ilahi (6) Tafsir al-Qur’an al-Kariem (7) Mahkota Tuntunan Ilahi (8) Filsafah Hukum Islam (9) Tafsir al-Manar; Keistimewaan dan Kelemahannya (10) Hidangan Ilahi (11) Panduan Puasa Bersama Quraish Shihab (12) M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman (13) Lentera Hati Kisah dan Hikmah Kehidupan (14) Kaidah-Kaida Tafsir (15) Mempelai al-Qur’an. Dll.

Karyanya yang paling populer adalah Tafsir al-Mishbah yang merupakan sebuah karya luar biasa yang pernah ada, karena pemikiran tafsirnya yang unik menggabungkan 3 metode penafsiran sekaligus, yaitu Manhaj Tahlili (metode analisa) sekaligus Manhaj Muqarin (metode komparasi), Manhaj Maudhu’i (metode tematik) melalui pendekatan linguistik yang mendalam, kompherehensif, dan menunjukkan pemahaman mendalam si penulisnya terhadap isi kandungan al-Qur’an itu sendiri.
Dari biografi diatas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sosok seorang Quraish Shihab bukanlah orang sembarangan tentunya.

Apakah Nabi Tidak Ada Jaminan Masuk Surga?
Polemik yang berkembang muncul bermula dari ucapan Pak Quraish Shihab pada kajian rutian tafsir al-Mishbah di Metro TV. Ketika beliau menjelaskan sebuah hadits tentang “Seseorang Tidaklah Masuk Surga, Melainkan dengan Rahmat Allah.”
Lebih lengkapnya saya akan paparkan redaksi haditsnya di sini.
Rasulullah saw bersabda:
سددوا وقاربوا وأبشروا؛ لا یدخل أحداً الجنة عمله، قالوا: ولا أنت یا رسول الله؟ قال: ولا أنا، إلا أن یغتمدنی الله بمغفرة ورحمة (رواه البخاری)
“Perbaiki, dekatkan, dan beritakan kegembiraan, tidaklah seseorang masuk surga dengan amalnya. (Para sahabat bertanya) “Demikian pula engkau wahai Rasulullah (tidak masuk dengan amalmu)?” beliau menjawab, “Ya tidak pula aku masuk surga dengan amalku, melainkan aku pun diliputi oleh keampunan dan rahmat Allah.” [HR. Bukhari No. 6467]
Hadits ini merupakan hadits yang menempati derajat shahih yang tinggi dan tidak diragukan keshahihannya. Hadits ini bukan hadits tentang akidah, melainkan hadits yang mengandung pesan dan motivasi untuk giat beramal kebaikan. Hadits ini pula dimasukkan oleh Imam Bukhari pada bab “al-Mudawamah 'ala al-'amal" atau "Motivasi agar Konsisten Beramal”.
Hadits ini bukan sebagai sebuah penafian bahwa Rasulullah tidak memperoleh jaminan surga. Hadits ini mengandung pesan bahwa amal kebaikan bukanlah satu-satunya penjamin surga, sebab surga dan kemampuan beramal itu juga tak terlepas dari rahmat Allah Swt.
Seharusnya bersyukur atas rahmat Allah itu lebih diutamakan daripada menonjolkan kemampuan diri sendiri yang sejatinya tak berdaya berbuat apa-apa, kecuali atas pertolongan dan bantuan Allah Swt.
Hadits tersebut diatas pada dasarnya adalah motivasi untuk beramal lebih giat lagi. Demikian pesan yang dikandungnya:

“Bersungguh-sungguh beramal kebaikan. Setelah itu, janganlah memandang amal kebaikan itu sebagai usahamu sendiri. Pandanglah nikmat Allah yang Mahabesar dan tak terhingga itu. Sehingga hatimu menjadi ikhlas. Sekiranya kamu dimasukkan ke dalam surga, itu pun tak terlepas dari rahmat Allah. Jadi masuknya surgamu, bukan dari amalmu, melainkan dari rahmat Tuhan-mu!”
Hadits yang menyatakan bahwa amal seseorang tidaklah menjamin surga, melainkan dengan rahmat Allah, hal ini dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Jabir ra yang terdapat ada Kitab Mustadrak Imam al-Hakim pada nomor hadits 356 Juz 5. Demikian kisahnya:
Dikisahkan pada masa Bani Israel, ada seorang abid ahli ibadah yang beribadah lebih dari 500 tahun. Di sebuah pulau, Allah karuniakan rezeki berupa buah delima dan air segar yang memancar, sehingga dia tidak perlu bersusah payah untuk bekerja. Dia pun meminta meninggal dalam keadaan sujud. Kemudian, Allah memerintahkan malaikat untuk memasukkan sang abid ke dalam surga dengan rahmat-Nya. “Masukkan hambaku ini dengan rahmat-Ku!”
Alih-alih bersyukur, si abid malah protes. Dia meminta Tuhan memasukkan dirinya dengan amal kebaikannya selama di dunia. Allah pun menyuruh malaikat menimbang amalnya dengan satu nikmat sebiji mata saja.

Tak ayal, ibadah 500 tahun itu belum mampu mengungguli nikmat karunia sebiji mata saja. Hingga Allah perintahkan untuk memasukkannya ke dalam neraka. Pasalnya amal kebaikannya tidak seberapa. Akhirnya, sang abid meminta ampun dan meminta kembali dimasukkan ke dalam surga dengan rahmat Allah.

Lah, jika amal kebaikan tidak menjamin seseorang masuk surga, lantas apa perlunya kita beramal?
Perlu dipahami bahwa surga itu adalah nikmat terbesar yang Allah sediakan pada orang-orang beriman yang melakukan amal shaleh dengan penuh keikhlasan. Kemampuan beramal shaleh pun juga merupakan karunia serta anugerah dari Allah. Dengan demikian, surga bukan semata diperoleh dari kekuatan seseorang beramal shaleh, sebab semuanya tak terlepas dari nikmat Allah.
Sekali lagi, harus dipahami bahwa ungkapan Rasulullah, “Demikian aku pun tidak masuk surga, melainkan dengan rahmat Allah, bukan pula semata amal kebaikan yang ada pada diriku, merupakan sebuah ungkapan balaghah yang sangat tinggi dan memukau sekaligus keluhuran akhlak si penuturnya.

Pesan ini sekaligus pengajaran kepada umat nabi akhir zaman agar mengharapkan rahmat Allah yang memiliki surga seharusnyalah lebih diutamakan dari surga itu sendiri. Mengharap kasih sayang si pemberi, lebih baik daripada dari pemberian itu sendiri.
Taruhlah Anda bekerja mengharapkan gaji, boleh jadi selesai Anda bekerja Anda akan mendapatkan hak Anda. Namun, jika Anda bekerja untuk memperoleh hati orang yang memberi Anda gaji, bisa jadi Anda bukan saja memperoleh gaji, bahkan lebih dari itu, Anda dapat memperoleh kedudukan yang lebih tinggi, fasilitas yang lebih banyak, bahkan gaji yang terus meningkat.
Amal ibadah hanyalah wasilah atau jalan mendekatkan seorang hamba pada rahmat Allah yang Mahaluas itu. Jika amal ibadah hanya dipahami sebatas interaksi transaksional, maka apa bedanya dengan membeli surga dengan ibadah? Bagaimana mungkin kita mampu membeli kenikmatan surga dengan amal kebaikan, sedangkan kemampuan itu juga tak terlepas dari nikmat yang Allah karuniakan pada kita?

Oleh karena itulah, ungkapan redaksional Rasulullah pun sangat sastrawi dan diplomatis. “Aku pun tidak masuk dengan amalku, melainkan atas dasar rahmat dan kasih sayang Allah padaku!” Demikian ungkapan ini tidaklah muncul melainkan dari seseorang nabi yang penuh dengan ketawadhuan serta kerendahan diri.

Bagaimana mungkin Rasulullah tidak memperoleh jaminan surga, sedangkan Allah ciptakan surga, lantaran kecintaan Allah yang sedemikian besar pada kekasih-Nya itu?
Bahkan dalam banyak hadits disebutkan bahwa Rasulullah adalah orang yang pertama kali memasuki surga sebelum para nabi dan rasul lainnya. Dan umatnya pun diberikan prioritas memasuki surga lebih dahulu, ketimbang umat-umat para nabi yang lain. Jangankan Rasulullah, umatnya saja diberikan jaminan surga. “Kalian semua pasti masuk surga, melainkan mereka yang enggan!”
Namun ungkapan redaksi hadits diatas akan berbeda kesannya bila terjadi tahrif (upaya penyimpangan) atau dipahami secara sepotong-sepotong. Bukan lagi sekedar memunculkan konotasi negatif, bila dipahami secara parsial tak akan menutup kemungkinan akan berpotensi memunculkan salah kaprah, bahkan menimbulkan fitnah dan polemik tak berkesudahan.
Kasus inilah yang menimpa tudingan fitnah terhadap Prof. Quraish Shihab yang memaparkan hadits yang sama. Namun, statement itu terpotong atau memang sengaja dipotong untuk kepentingan tertentu demi mendeskreditkan seorang ulama. Saya hanya berprasangka baik bahwa apa yang beliau maksudkan baik apa adanya. Boleh jadi hanya redaksinya yang kurang tepat atau memang tidak berusaha dipahami secara tepat.

Taruhlah seorang raja berkata, “Saya tidak izinkan seorang pun memasuki istana!” Ungkapan ini adalah ungkapan universal, termasuk sang raja tersebut. Namun, bila ada pengecualian, maka ada yang diperbolehkan. Misalnya, “Saya tidak izinkan seorang pun memasuki istana, melainkan orang yang saya undang saja.” Maka pengeculian disana merupakan satu kekhususan bagi undangan saja.
Oleh karena itulah, dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah “Al-Istisna” yang berarti pengecualian, bukan bermakna penafian. Dengan demikian redaksi haditsnya “Saya tidak masuk surga dengan amal kebaikan, melainkan dengan rahmat Allah!” Harus dipahami bahwa amal kebaikan itulah adalah salah satu jalan menggapai rahmat itu.

Namun, jika kemudian dikatakan, “Rasulullah sama sekali tidak memperoleh jaminan surga, tentu hal tersebut akan keliru dan berimplikasi pemahaman yang lepas dari konteks kandungan pesan di hadits tersebut diatas.”

Apakah Quraish Shihab Seorang Syiah?
Jika kita membaca sejarah para tokoh ulama besar, kita akan mendapati bahwa banyak para ulama yang mendapatkan tantangan dakwah berupa kecaman, hinaan, bahkan fitnahan. Tudingan sebagai seorang penganut syiah, misalnya, pernah menimpa Imam Mujtahid Mutlaq al-Imam as-Syafie di tengah gejolak politik ketika itu.

Rafidhi atau Rafidhah merupakan kelompok syiah ekstrim yang ditenggarai sebagai satu kelompok yang mengancam kekhalifahan kaum Abbasyiah. Imam Syafie tertuduh sebagai seorang syiah, hanya lantaran bergaul dengan orang-orang Thalibin yang sangat mengagumi sosok Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Khalifah Harun al-Rasyid pun hampir saja menjatuhi beliau hukuman berat terhadap beliau.
Pada sebuah syairnya, beliau membantah tuduhan keji itu. “Sekiranya disebabkan kecintaanku yang sangat besar terhadap ahli bait nabi, aku dikatakan seorang rafidhi, maka saksikanlah akulah seorang rafidhi.”

Sama halnya tuduhan sebagai seorang pengikut Syiah terhadap Prof. Quraish Shihab ditenggarai dari terbitnya buku beliau “Sunni-Syiah; Bergandengan Tangan! Mungkinkah?”
Bagi sebagian orang boleh jadi dengan terbitnya pemikiran komparatif antara konsep ajaran dan pemikiran Sunni-Syiah adalah salah satu bukti kecenderungan pembelaan seorang sosok Quraish Shihab terhadap konsep pemikiran Syiah.

Padahal jika kita mampu melihat lebih objektif lagi -paling tidak membaca terlebih dahulu buku tersebut, sebelum memvonis dan terjebak pada tampilan cover dan judul- kita akan mendapati gambaran bahwa konsep pemikiran tersebut tak lebih dari sekedar kajian ilmiah yang mendudukkan sebuah persoalan konflik ideologis dalam tinjauan dan pendekatan akademis.
Menyamakan konsep Sunni-Syiah hal yang mustahil, layaknya menyatukan air dan minyak, namun mencari titik persamaannya juga sebagai sebuah pemahaman pada tataran fiqhiyyah, juga bukan sesuatu yang dilarang, apalagi tercela.

Upaya-upaya pendekatan yang ditawarkan oleh kelompok Sunni terhadap kelompok Syiah dalam rangka mengakhiri konflik berkepanjangan, khususnya di beberapa negara Timur Tengah yang bersinggungan langsung, seperti Irak-Iran dipandang sebagai salah satu solusi diplomatis-akademis yang diharapkan tidak semakin memperuncing gesekan konflik antara kedua kelompok tersebut.
Quraish Shihab; sebagai seorang tokoh Sunni yang moderat barangkali melakukan hal sama yang juga pernah dilakukan oleh guru beliau: Syekh Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud; seorang Grand Syekh al-Azhar yang berhaluan Ahlu Sunnah wal Jamaah yang dikenal sebagai Imam al-Ghzali abad XX (w.1978) yang juga melakukan upaya pendekatan dengan kelompok Syiah dengan karya-karya beliau.

Pendekatan ini bukan berarti mengaminkan konsep pemikiran mereka, namun mereka berupaya untuk membangun hubungan harmonis agar dapat menimalisir gesekan dan benturan peradaban yang sangat berpotensi pada konflik kemanusiaan atas nama agama yang tak berkesudahan.
Memang pendekatan ini kurang populer di tengah kalangan para ulama klasik, lebih-lebih di kalangan orang awam yang sangat fanatik dan ekstrimis yang bisa-bisa akan membabi buta menuding kesongkokolan mereka terhadap kelompok syiah itu.

Terlepas bahwa ada saja kritikan di sana sini, bahkan konsep yang sangat kontradiktif yang tidak bisa diterima begitu saja. Apalagi dampaknya yang bisa terkesan ada pembenaran terhadap konsep yang selama ini dianggap berseberangan dengan konsep pemahaman Sunni, paling tidak karya semacam itu masih tetap diperlukan dalam membangun sebuah dialog peradaban antar mazhab dan pemikiran dalam Islam.

Sependek pembacaan saya terhadap karya tafsir Quraish Shihab; Tafsir al-Misbah dan karya lainnya, saya tidak pernah menemukan konsep pemikiran syiah di dalamnya. Jika beliau seorang berpaham Syiah, tentu tidak akan bisa disembunyikan dalam konsep pemikirannya atau kecenderungan corak penafsirannya.

Ya, memang beliau banyak mengutip pendapat At-Thabathaiy yang ditenggarai seorang mufasir yang berpaham ajaran syiah, namun sepanjang penjelasan yang bersifat umum saja dan hanya sekedar perbandingan komparatif dengan alur konsep metode ilmiah serta sudut pandang kritis saja, saya pikir sah-sah saja dalam dunia dunia ilmiah.
Menjadi sangat tidak adil sekiranya seorang mufassir sebagai seorang ilmuwan tidak boleh sama sekali mengutip pendapat atau terlarang membandingkan pemikiran dengan orang yang dianggap berseberangan dengan paham atau mazhabnya. Bukankah Islam melarang umat ini untuk bersikap taqlid buta?

Bukankah telah menjadi sebuah tradisi para ulama-ulama dahulu, bahkan ada diantara kalangan para sahabat yang bertanya pada ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terkait satu atau dua ayat al-Qur’an yang menyangkut sejarah misalnya; tak lebih dari sebagai perbandingan saja.
Oleh karena itulah, tak dapat dipungkiri pada kitab-kitab klasik seperti sebut saja Ibnu Katsir terdapat kisah-kisah Israeiliyat; disebabkan periwayatan dari Ka’ab al-Akhbar; seorang ahli kitab yang memeluk Islam. Hal tersebut bukan tercela, apalagi ada tudingan si mufasir telah menjadi Yahudi atau Nasrani; hanya lantaran ada perbandingan pendapat dari kalangan para pemuka ahli Kitab, bukan?

Demikian pula, kutipan pendapat dari At-Thabathaiy; seorang pengarang tafsir al-Mizan itu, banyak menawarkan pemikiran yang modern dan daya kritis terhadap pemahaman tafsir klasik. Hal inilah yang mungkin sangat menarik bagi Prof. Quraish Shihab untuk menampilkan pendapatnya dalam rangka perbandingan pendapat sesuai dengan metode yang beliau kembangkan pada tafsir al-Misbah, yaitu motede penafsiran muqaranah/komparatif.
Apakah selain pendapat at-Thabathaiy juga ada pendapat ulama mufasir sunni? Tentu saja jauh lebih banyak. Namun, orang yang sudah terlanjur kadung dengan tuduhan yang tidak obyektif hanya melihat yang sedikit, menafikan kebenaran dibaliknya. Atau jangan-jangan penudingnya tidak pernah sama sekali membaca karyanya?!! Boleh jadi!

Quraish Shihab Tidak Mewajibkan Jilbab?
Sampai saat ini saya hanya baru "Mendengar Katanya" Bapak Prof. Quraish Shihab tidak mewajibkan jilbab.

Tapi sayangnya, hingga sampai saat ini pula saya belum pernah membaca satu potong kalimat pun dari sekian banyak karya beliau yang menunjukkan hal tentang tuduhan itu atau ada satu kajian khusus beliau dalam bentuk ceramah yang membahas ketidakwajiban jilbab.
Jika memang ada bukti kebenaran itu, mohon diberitahukan kepada saya sumbernya. Jujur, saya tidak berani membenarkan atau menyalahkan tanpa saya sendiri pernah tahu kebenaran itu.
Memang harus dipahami terlebih dahulu defenisi "Jilbab" dalam pengertian bahasa syari'i dan "Jilbab" dalam bahasa "Adat" bahasa Indonesia.
"Jalabib" atau bentuk jamak dari Jilbab dalam bahasa Syar'i menutup seluruh tubuh, kecuali mata. Lebih tepatnya, hijab atau cadar.

Sedangkan "Jilbab" dalam pemahaman adat bahasa Indonesia cuma sebatas sepotong kain yang menutup kepala hingga dada. Diperbolehkan membuka wajah dan telapak tangan. Lebih tepatnya kita sebut dgn istilah lain adalah kerudung.

Nah, pengertian Jilbab secara syarie masih dalam perbedaan pendapat para ulama ttg batasan. Apakah wajib mengenakan jilbab berupa hijab atau khumar atau tidak?
Namun dalam pengertian menutup aurat kepala hingga dada yg merupakan batasan aurat wajib para ulama tentu tidak berbeda pendapat ttg kewajibannya.

Jadi "Jilbab" yang katanya tidak wajjb menurut Pak Habib Quraish Shihab itu harus kita dudukkan kembali apakah beliau membicarakan "Jalabib" dalam konteks hijab/cadar secara syarie ataukah Jilbab dlm konteks kerudung?

Saya yakin pendapat beliau tidak pernah menyimpang, karena secara keilmuan telah beliau bangun secara sistematis dengan pondasi yang kukuh dan valid. Nanti kita baca lagi tafsir al-Misbah tentang kewajiban perintah Jilbab pada para istri nabi dalam konteks hijab agar tak terlalu panjang pembahasannya.

Jika Pak Quraish tidak mewajibkan jilbab/kerudung atas dirinya itu saya sepakat. Saya pun demikian, tidak wajib jilbab itu bagi saya, karena kami kaum lelaki tidak wajib berjilbab hehe..

Menakar Fatwa Quraish Shihab
Kelebihan seseorang tidak akan menafikan kekurangannya. Seseorang yang pandai di satu bidang, boleh jadi bodoh pada bidang yang lain. Seseorang yang mengetahui satu bidang secara mendetail, bisa jadi tidak mengetahui segala sesuatu secara meluas.

Demikan pula, saya melihat Pak Quraish Shihab adalah seorang mufasir, tentu beliau bukan seorang fuqaha di bidang fiqih atau seorang teolog. Barangkali beliau memiliki sudut pandang berbeda pemahaman dengan para fuqaha dalam beberapa fatwa berdasarkan ijtihad beliau. Hal itu sah-sah saja, karena beliau memiliki kemampuan berijtihad.

Seorang mujtahid yang telah mumpuni berijtihad akan memperoleh dua kali pahala jika ijtihadnya benar dan akan tetap memperoleh satu kali pahala jika ijtihadnya keliru. Demikian dinyatakan oleh hadits nabi serta kaidah yang sudah sangat populer di kalangan para ahli ushul fiqh. Tentu kelayakan berijtihad ini harus memenuhi berbagai macam persyarat keilmuan dan kriteria yang tidak mudah dan gampang bagi orang awam.

Tinggal lagi, bagi orang awam memiliki pilihan-pilihan untuk mengikuti yang mana sesuai dengan jumhur mayoritas ulama di bidangnya.

Terakhir, tugas kita adalah berusaha meletakkan para ulama pada porsi dan keahliaan mereka masing-masing. Iya, kita harus tetap bersikap kritis. Namun, tanpa harus meninggalkan sikap tata krama, adab, dan kesopan-santunan kepada para ulama. Lebih-lebih lagi, tanpa pengetahuan ikut-ikutan memojokkan, menghina hingga memfitnah para ulama itu tentu bukan sikap seorang muslim sejati.
Lebih-lebih lagi, pada zaman serba-fitnah ini, tentu kita harus lebih banyak membaca ketimbang mendengar isu-isu yang masih belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Jika fitnah itu menyangkut para ulama lebih mengerikan lagi dampaknya.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad bin Hanbal, “Takutilah fitnah terhadap ulama, sesungguhnya daging mereka beracun!”

Ulama memang bukanlah manusia suci, mereka manusia biasa seperti kita, mereka terkadang lupa, salah, keliru, bahkan cacat. Namun dibandingkan kita orang-orang awam, tentu saja harus diakui bahwa Allah telah memilih mereka sebagai ahli ilm yang terdapat banyak nash al-Qur’an dan Hadits Allah memuliakan ilmu serta ahli ilmu. Soal nanti beban tanggung jawab amanah ilmu tersebut akan menjadi urusan setiap orang dihadapan Allah Swt.

Wallahu ‘alam.

Sumber : muslimoderat.net


Habib Quraish Shihab, Sang Pengubah Dunia

Habib Quraish Shihab, Sang Pengubah Dunia


Rambutnya sudah menipis dan sebagian besar juga telah memutih. Ia terlihat berbeda dengan sosok yang kerap muncul di televisi, yang biasa mengenakan baju koko dan peci. Pagi itu, Muhammad Quraish Shihab, 68 tahun, mengenakan  batik cokelat dan celana panjang kain hitam. Jalannya tertatih. Ia juga batuk-batuk. Tapi sedikit pun tak terdengar keluhan darinya. Ia mengaku masih kuat mengajar dan memberi taujih.

"Selagi mampu, menyampaikan kebenaran ke umat adalah wajib," ujarnya kepada Tempo yang menyertainya nyaris seharian, Jumat, sekitar dua pekan lalu.

Di bulan Ramadan, undangan ceramah datang nyaris setiap hari. Terkadang, sejak subuh, Quraish sudah keluar rumah untuk ceramah. Praktis, tak ada waktu luang baginya.

Kesibukannya berdakwah dengan lisan mengurangi produktivitas dakwah dengan penanya. Quraish telah menulis sekitar 30 judul buku, termasuk Tafsir al-Misbah yang terdiri dari 15 volume dan dia kerjakan dalam empat tahun. Saat ini ia baru saja selesai menulis buku yangbelum diberi judul, yang berisi tentang filosofi umrah dan haji. Hobi menulisnya terpaksa dipendam karena kesibukan ceramah.

Selain soal jadwal ceramah yang padat, ia memang tidak bisa menulis tanpa teh hitam di mejanya. Kebiasaan itu mulai dilakukannya sejak masih kuliah di Universitas Al-Azhar, Mesir. Ia menulis minimal delapan jam sehari, dimulai sehabis shalat subuh. "Tehnya saya buat sendiri loh," katanya.

***

Pukul 09.30 WIB
Rumah Quraish Shihab di Cilandak Timur, Jakarta Selatan

Tak sampai lima menit menunggu, Quraish muncul dari dalam rumahnya.  Ruang tamu beratap tinggi itu tampak elegan, dengan satu set meja kursi warna emas. Yang juga cukup mencolok di ruangan ini adalah foto keluarga yang terpajang di dinding.  Foto berbingkai ukuran 1x1 meter itu, kata Quraish, dibuat sekitar tiga tahun lalu. Di foto itu ada dia, istri, beserta semua anak dan cucunya. Quraish memiliki lima anak. Empat perempuan dan satu pria. Semua nama putrinya diawali huruf N, yakni Najla, Najwa, Naswa, dan Nahla. "Yang putra, saya beri nama Ahmad," katanya.

Kenapa N? Menurut Quraish, karena Tuhan bersumpah di Al-Quran tentang budi pekerti Nabi Muhammmad dengan huruf N. "Nuun, wal qolami wa maa yasthuruun," katanya. N, demi pena dan segala sesuatu yang dituliskannya. Di dalam kosa kata Arab, ia menambahkan,  N juga melambangkan hal positif. Misalnya Naswa yang berarti kegembiraan.

Ia berprinsip, dalam mendidik anak, yang penting adalah keteladanan.  Quraish tidak mau memaksakan kehendak. Sebagai orangtua ia hanya memberi rambu agama. Termasuk dalam hal berpakaian. Dari semua putrinya, yang memakai jilbab hanya Najla. Yang penting, pakaian itu harus terhormat.

Ia menganggap ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang pakaian wanita mengandung aneka interpretasi. Sedangkan hadist yang merupakan rujukan untuk pembahasan tentang batas aurat, juga terdapat ketidaksepakatan. Ada yang bilang aurat itu seluruh badan kecuali mata. Ada yang bilang juga seluruh badan, kecuali wajah dan telapak tangan. Ada yang berpendapat, yang penting muslimah itu memakai pakaian terhormat. Kesimpulannya, ketetapan hukum tentang batas yang ditoleransi dari aurat wanita bersifat zhanniy yakni dugaan. "Silakan pilih, maunya yang mana."

Di tengah obrolan, putri keduanya, Najwa, datang. Pembawa acara di Metro TV itu langsung meraih tangan Quraish, yang dipanggilnya Abi, dan menciumnya.

Setiap pagi anak-anaknya selalu menyalaminya, dan juga mencium pipi atau kening. Kalau tidak sempat, anaknya pamit lewat telepon. Kebiasaan ini tidak sulit, karena tempat tinggal anak-anaknya tidak jauh. "Ke sini cuma jalan kaki," kata Najwa.

Kedekatan tersebut bahkan berdampak hingga urusan makanan. Sebulan terakhir, ada seorang koki yang setiap hari memasak dan mengirimkan makanan ke rumah masing-masing anggota keluarga Shihab. Soal menu, setiap anak bebas mengusulkan. Quraish berharap, dengan metode ini,  hubungan antar keluarganya terus lekat. "Ketimbang beli makan di luar yang belum tentu sehat," ujar Quraish.

***

11.00
Menerima tamu dari UIN Syarif Hidayatullah

Empat orang dari Social Trust Fund Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta datang bertamu. Mereka hendak meminta arahan dari Quraish tentang yayasan dana sosial masyarakat yang baru akan dibentuk itu. Di yayasan ini, Quraish duduk di Dewan Pembina.

Quraish menyukai moto yayasan ini, yakni "Berderma untuk Mengubah Dunia". Entah kebetulan atau bukan, itulah yang dikatakan cucunya yang berusia 10 tahun, Nislah, ketika ditanya tentang dirinya. Suatu kali, dengan bercanda, kolega Quarish bertanya kepada Nislah. "Kenal sama Quraish Shihab?" Nislah menjawab, "Kenal". Kolega itu bertanya lagi, "Apa kerja Quraish Shihab?" Sang cucu menjawab, "Ia mengubah dunia.”

Sejak aktif mengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pertengahan 1990-an, nama Quraish terus meroket. Selain duduk sebagai rektor di kampus itu selama dua periode, pria kelahiran Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan ini juga aktif di organisasi ke-Islaman. Ia aktif di Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia . Ia juga menjadi Dewan Redaksi Studia Islamika: Indonesian journal for Islamic Studies, Ulumul Qur'an, Mimbar Ulama, dan Refleksi Jurnal Kajian Agama dan Filsafat.

Kepiawaiannya menjawab pelbagai persoalan umat membuatnya dipercaya menduduki kursi Menteri Agama, meski hanya berlangsung selama dua bulan pada 1998 karena kemudian Soeharto lengser. Setahun kemudian, ia diangkat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Mesir.

Ia juga sempat menjadi menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia sebelum reformasi.  Yang monumental kala itu adalah masalah pendirian Bank Muammalat, bank Islam pertama di Indonesia. Menurutnya keberadaan bank Islam itu atas upaya gigih dari MUI. "Kami yang meyakinkan pemerintah," tutur doktor di bidang tafsir Universitas Al-Azhar ini.

***

14.00
Kantor Yayasan Anakku, Perguruan Al-Izhar, Pondok Labu, Jakarta Selatan

Selepas shalat Jumat, Quraish dijemput mobil Suzuki APV. Ia menuju Yayasan Anakku Perguruan Al-Izhar untuk rapat.

Saat Quraish akan menaiki tangga, seorang koleganya melarang. "Lewat lift saja prof," katanya.  Rupanya para koleganya telah tahu soal cidera punggungnya. Quraish  mengalami cidera punggung saat ia menjadi Duta Besar Indonesia untuk Mesir pada 1999. Kala itu punggungnya "tercetit" karena mengangkat koper di bandara.

Untuk mengatasi masalah tersebut, ia menjalani terapi berenang. Jika ia malas berenang, maka rasa nyeri akan muncul kembali.  "Saya sering berenang di rumah. Seminggu sekali saja," tuturnya.

Sesuai rapat, Quraish kembali ke rumah. Ia dengan gampang menyambar tawaran ikut mobil operasional Tempo. Padahal di rumahnya berjajar empat mobil, di antaranya Toyota Vellfire dan Mercedes Benz E Class.

Menteri Agama di akhir rezim Soeharto ini memiliki kemewahan itu, tapi tak pernah menyimpan di hatinya. Quraish terkejut ketika ditelpon Soeharto untuk diminta menjadi Menteri Agama. Ia tidak pernah bermimpi menjadi menteri. Telepon itu tidak lebih dari lima menit.

Sebagai pribadi, ia menilai, Soeharto seorang yang sangat Jawa. Itu dilihat dari cara makannya. Menurut Quraish, makanan yang dikonsumsi Soeharto sederhana dan tidak berlebihan. "Kalau satu meja dengan Pak Harto itu, dia akan sodorkan makanan duluan ke tamunya. Dia yang ambilkan. Tidak semua orang tahu itu," ujarnya.

Sebenarnya, ia mulai akrab dengan Soeharto sejak Siti Hartinah alias Tien Soeharto meninggal pada April 1996. Hampir setiap malam, setelah memberi ceramah di rumahnya, ia menemui sang presiden. Pada malam ke-40 hari Tien Soeharto meninggal, Quraish dipercaya memberi tausiyah.

***

17.30
Gedung Bursa Efek Indonesia

Setelah shalat Ashar, Quraish mengisi tausiyah di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI)  di acara buka bersama Bank Ekspor Impor Indonesia.

Dalam memberi tausiyah ada syarat tak tertulis dari Quraish. Ia tidak mau mengenakan baju pinjaman, apalagi dari sponsor. Kalaupun iya, Quraish akan meminta baju itu sebagai hak milik.

Prinsip itu dipegang benar Quraish sejak kecil. Ia dididik sang ayah, Abdurrahman Shihab, sang guru besar tafsir, untuk jangan pernah meminjam barang orang lain. Dalam persepsinya, meminjam itu tidak mencerminkan apa adanya. "Anda ingin tampak lebih baik dari diri Anda yang sebenarnya. Kenapa mau kelihatan kaya padahal Anda tidak kaya," kata Quraish yang juga mengajarkan prinsip ini ke anak cucunya.

Mengakhiri acara, ia berpamitan pada tuan rumah. Saatnya pula berpamitan dengan kami yang menyertainya seharian. “Terimakasih," katanya pelan.

HERU TRIYONO

Sumber : muslimoderat.net
Jika Tiap Kafir Dihabisi, Yang Islam Hanya Nabi

Jika Tiap Kafir Dihabisi, Yang Islam Hanya Nabi


Pria berpakaian gamis dan bersorban itu maju ke depan mewakili rombongan. "Meski di luar topik pembahasan, mumpung di sini ada Gus Mus, saya mau tanya apa betul Gus Mus dekat dengan Gus Dur?" ucapnya mengawali pertanyaan.

"Ya kata orang-orang sih begitu," jawab Gus Mus ringan.

"Kebetulan nih, tolong sampaikan kepada Gus Dur, kita ini yang di bawah capek-capek mau menghabisi orang-orang Nasrani, eeh dia malah datang ke Natalan."

"Nanti dulu, nanti dulu, kenapa kalian mau menghabisi orang-orang Nasrani itu?" ucap Gus Mus memberi tanggapan.

"Lho, Anda itu bagaimana? Mereka itu kan kafir!" ucap tegas pria bersorban.

"Jadi kalau kafir harus dihabisi?" jawab Gus Mus dengan pertanyaan.

"Iya dong! Yang kafir harus dihabisi!" tegasnya semakin meyakinkan.

"Wah, untung Kanjeng Nabi-nya bukan Anda. Kalau saja yang jadi Nabi Muhammad itu Anda, kita ini masih kafir semua. Dulu, yang Islam cuma Kanjeng Nabi saja. Kalau ada kafir, habisi! Ada kafir, habisi! Ya tinggal Nabi saja. Dan untung Wali Songo-nya tidak seperti Anda. Kalau seperti Anda, kita ini masih Hindu-Budha semua," pungkas Gus Mus memberi jawaban dalam salah satu forum kyai di Kebumen.

Sumber : muslimoderat.net
Abah Anom: Gus Dur Ditalqin Langsung Oleh Syekh Abdul Qadir Jilany

Abah Anom: Gus Dur Ditalqin Langsung Oleh Syekh Abdul Qadir Jilany


Dikisahkan dalam sebuah lawatan ke Baghdad, Irak, Gus Dur yang memiliki kegemaran berkunjung ke makam-makam ulama dan waliyullah, juga berkunjung ke makam Syekh Abdul Qadir Al-Jailani q.s. Dalam keadaan antara sadar dan tertidur, Gus Dur didatangi Syekh Abdul Qadir Al-Jailani q.s. dan Tuan Syekh mentalqin Gus Dur. Dalam tarekat, talqin bukan sekedar pembelajaran dzikir, tetapi juga merupakan pengakuan seseorang sebagai murid tarekat dari tarekat yang dianut pentalqin.

Dengan demikian, pada talqin dzikir yang dilakukan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani q.s. Gus Dur telah resmi menjadi pengikut tarekatnya.

Setelah kembali ke Indonesia, Gus Dur berkesempatan untuk silaturrahim ke Syekh Shohibul Wafa Tajul Arifin q.s. yang akrab dipanggil Abah Anom, Mursyid Tarekat Qadiriyiah Naqsyabandiyah (TQN) Suryalaya.

Gus Dur minta untuk ditalqin oleh Abah Anom, tetapi Abah Anom mengatakan bahwa Gus Dur tidak perlu ditalqin lagi karena sudah ditalqin oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani q.s. Cerita ini populer di kalangan murid TQN Suryalaya, baik yang langsung menyaksikan peristiwa ini ataupun tidak.
Demikianlah Gus Dur, sosok yang telah mengetahui bahwa seorang muslim haruslah bertarekat, menempuh suluk dengan berguru kepada guru-guru rohani, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Terlebih bagi seseorang yang mempunyai posisi penting dan diamanahkan untuk memimpin umat dan bangsa ini seperti dirinya.

Gus Dur sudah sampai pada maqam yang membuktikan bahwa orang-orang shalih, para syuhada, para kekasih Allah, mereka tidak mati; yang mati hanya jasadnya, tetapi ruhnya tetap hidup. Hanya kepada orang-orang yang memiliki akhlak dan kecintaan kepada para kekasih Allah inilah, mereka dapat saling berkomunikasi dan memberikan ilmu, bimbingan dan nasehat. Maka inilah yang harusnya ditiru oleh umat Islam, khususnya para pemimpinnya.

Sumber : muslimoderat.net
Gus Mus: Kalau Tidak Moderat Bukan Islam!

Gus Mus: Kalau Tidak Moderat Bukan Islam!


"Kita sekarang mengukur sesuatu pakai diri sendiri bukan pakai (alat) ukuran" kata Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus.

Kalimat itu ia lontarkan dalam sebuah wawancara program Mata Najwa yang tayang pada Rabu (21/6/2017) kemarin.

Dalam acara yang bertemakan Cerita Dua Sahabat ini, Gus Mus hadir bersama sahabatnya, Quraish Shihab, yang tak lain adalah ayahanda Najwa Shihab.

Sama-sama Punya Nama Belakang Shihab, Najwa Ditanya Masih Sekeluarga dengan Habib Rizieq?
Acara bincang-bincang ini pun seketika menjadi sorotan publik.

Memang kehadiran kedua bintang tamu ini membuat acara Mata Najwa menjadi momen langka.

Di Hadapan Gus Mus, Ayahanda Najwa Shihab Beberkan Sosok Kafir Sebenarnya
Mungkin karena presenter dan narasumber adalah anak dan ayah.

Atau mungkin karena memang kehadiran Gus Mus dan Quraish Shihab, dua tokoh Islam yang fenomenal.

Video yang menayangkan rekaman acara tersebut juga diunggah di laman YouTube oleh Metro Tv, channel yang menayangkan program Mata Najwa.

8 Potret Transformasi Najwa Shihab, Jangan Kaget Lihat Foto saat Masih Remajanya!
Melansir dari percakapan dalam video itu, Najwa Sihab sebagai tuan rumah melempar sebuah pertanyaan mengenai Islam moderat kepada dua bintang tamunya.

"Sekarang problemnya, semua orang merasa di tengah. Yang di kanan merasa moderat. Yang di kiri juga merasa moderat. Sesungguhnya yang moderat di tengah itu siapa dan yang bagaimana?" tanya Najwa.

Pertanyaan itu dijawab oleh Gus Mus melalui sebuah filosofi mengukur kedalaman air.
"Mengukur seberapa dalam air kali, jangan pakai tubuh. Karena kalau pakai tubuh, kalau kita jangkung, kita akan mengatakan ini dangkal sekali. Kalau kita cebol, ini dalam sekali," tutur Gus Mus.

"Lalu pakai apa? Pakai ukuran. (misal) 80 senti. Sudah selesai, nggak ada pertentangan," lanjutnya.
Menurut pria kelahiran Rembang ini, saat ini banyak orang mengukur sesuatu menggunakan dirinya sendiri.

"Kita sekarang mengukur sesuatu dengan diri sendiri tidak pakai (alat) ukuran. Katanya Quran yang dijadikan ukuran, tapi tidak mau perbedaan," kata Gus Mus.
Tampak dalam video tersebut, seluruh isi studio menyimak penjelasan dengan saksama, tak terkecuali Najwa.

Gus Mus kemudian menambahkan bahwa Islam sejatinya memang moderat.
"Kalau melihat Quran, melihat pemimpin Islam, moderat itulah Islam. Jadi bukan Islam moderat, Islam itu memang moderat. Jangan kemudian ada Islam apa lagi. Islam itu moderat."
"Kalau tidak moderat tidak Islam," tegasnya.

Pernyataan yang tegas ini sontak disambut tepuk tangan penonton di studio.
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin ini mengatakan, ketika seseorang terlalu membenci maka akan condong ke salah satu sisi.

Sama halnya jika terlalu menyukai.

Maka, kata Gus Mus, adil akan tegak berada di tengah dan tidak memihak apapun.
"Jangan sekali-kali kebencianmu pada suatu kaum, membuatmu tidak adil," kata Gus Mus mengutip sebuah ayat Al Quran.

Kehadiran sepasang sahabat ini dalam Mata Najwa terus menerus mengundang pertanyaan terkait isu yang tengah panas di masyarakat.

Episode Mata Najwa kali pun menjadi berbincangan masyarakat.

Wajar saja jika videonya telah disaksikan sebanyak 7,2 ribu sejak diunggah pada Rabu kemarin.
Waraganet pun tak lupa meninggalkan komentar di laman unggahan ini.

Ira Krisnawaty: love gus mus so much .... bijaksana dan sederhana bahasannya

Yuliati ningrum: Keeereeen ALHAMDULILLAAH ambil positifnya...

mohamad djaelani: Beliau berdua merupakan ulama yang mumpuni, baik dari segi keilmuan maupun kealimannya. Semoga bisa menjadi pembelajaran, instropeksi dan mawas diri bagi kita semua, khususnya yang menanamkan dirinya ustadz/ustadzah

Simak video lengkapnya di bawah ini!



Sumber : tribunnews.com
Kisah Pilu Nabi Muhammad dan Yatim Terlantar di Hari Raya Idul Fitri

Kisah Pilu Nabi Muhammad dan Yatim Terlantar di Hari Raya Idul Fitri


Di suatu hari raya Rasulullah SAW keluar rumah untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Sementara anak-anak kecil tengah bermain riang gembira di jalanan. Tetapi tampak seorang anak kecil duduk menjauh berseberangan dengan mereka. Dengan pakaian sangat sederhana dan tampak murung, ia menangis tersedu.

Melihat fenomena ini Rasulullah SAW segera menghampiri anak tersebut. “Nak, mengapa kau menangis? Kau tidak bermain bersama mereka?” Rasulullah membuka percakapan.

Anak kecil yang tidak mengenali bahwa orang dewasa di hadapannya adalah Rasulullah SAW menjawab, “Paman, ayahku telah wafat. Ia mengikuti Rasulullah SAW dalam menghadapi musuh di sebuah pertempuran. Tetapi ia gugur dalam medan perang tersebut.”

Rasulullah SAW terus mengikuti cerita anak yang murung tersebut. Sambil meraba ke mana ujung cerita, Rasulullah SAW mendengarkan dengan seksama rangkaian peristiwa dan nasib malang yang menimpa anak tersebut.

“Ibuku menikah lagi. Ia memakan warisanku, peninggalan ayah. Sedangkan suaminya mengusirku dari rumahku sendiri. Kini aku tak memiliki apapun. Makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Aku bukan siapa-siapa. Tetapi hari ini, aku melihat teman-teman sebayaku merayakan hari raya bersama ayah mereka. Dan perasaanku dikuasai oleh nasib kehampaan tanpa ayah. Untuk itulah aku menangis.”

Mendengar penuturan ini, batin Rasulullah SAW runtuh. Ternyata ada anak-anak yatim dari sahabat yang gugur membela agama dan Rasulnya di medan perang mengalami nasib malang begini.

Rasulullah SAW segera menguasai diri. Rasul yang duduk berhadapan dengan anak ini segera menggenggam lengannya.

“Nak, dengarkan baik-baik. Apakah kau sudi bila aku menjadi ayah, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai paman, Hasan dan Husein sebagai saudara, dan Fatimah sebagai saudarimu?” tanya Rasulullah.

Mendengar tawaran itu, anak ini mengerti seketika bahwa orang dewasa di hadapannya tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW.

“Kenapa tak sudi ya Rasulullah?” jawab anak ini dengan senyum terbuka.

Rasulullah SAW kemudian membawa anak angkatnya pulang ke rumah. Di sana anak ini diberikan pakaian terbaik. Ia dipersilakan makan hingga kenyang. Penampilannya diperhatikan lalu diberikan wangi-wangian.

Setelah beres semuanya, ia pun keluar dari rumah Rasulullah dengan senyum dan wajah bahagia. Melihat perubahan drastis pada anak ini, para sahabatnya bertanya. “Sebelum ini kau menangis. Tetapi kini kau tampak sangat gembira?”

“Benar sahabatku. Tadinya aku lapar, tetapi lihatlah, sekarang tidak lagi. Aku sudah kenyang. Dulunya aku memang tidak berpakaian, tetapi kini lihatlah. Sekarang aku mengenakan pakaian bagus. Dulu memang aku ini yatim, tetapi sekarang aku memiliki keluarga yang sangat perhatian. Rasulullah SAW ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudaraku, Ali pamanku, dan Fatimah adalah saudariku. Apakah aku tidak bahagia?”

Mendengar sahabatnya, mereka tampak menginginkan nasib serupa. “Aduh, cobalah ayah kita juga gugur pada peperangan itu sehingga kita juga diangkat sebagai anak oleh Rasulullah SAW.”
***
Waktu terus berjalan. Usia semakin bertambah. Kebahagiaan anak ini pun lenyap ketika selang beberapa tahun setelah itu Rasulullah SAW meninggal dunia. Meratapi kepergian ayah angkat paling mulia ini, ia keluar rumah seraya menaburkan debu di atas kepalanya.

“Celaka, sungguh celaka. Kini aku kembali terasing. Aku bukan siapa-siapa lagi. Aku kini menjadi yatim. Sepi,” katanya terisak.

Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq yang menyaksikan anak ini segera memeluknya. Sayyidina Abu Bakar kemudian mengambil alih pengasuhannya… Wallahu a‘lam.
***
Kisah ini dikutip dari Durratun Nashihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir Al-Khubawi, tanpa tahun, Surabaya, Syirkah Ahmad bin Saad bin Nabhan wa Auladuh, halaman 264-265. (Alhafiz K)

Sumber : nu.or.id
Quraish Shihab: Agama Tak Larang Kita Berbeda. Tapi Ini yang Dilarang

Quraish Shihab: Agama Tak Larang Kita Berbeda. Tapi Ini yang Dilarang


Hari ini Minggu (25/6/2017) umat Muslim dan Muslimat di seluruh dunia umumnya dan Indonesia khususnya merayakan Lebaran Idul Fitri 1438 H/2017. Kementerian Agama RI dan Pengurus Masjid Istiqal memberi kepercayaan kepada Profesor Quraish Shihab sebagai khatib (pengkotbah) dalam salat Ied di Masjid Istiqal Jakarta Pusat.

"Kita bersama sebagai umat Islam dan sebagai bangsa, kendati mazhab, agama atau pandangan politik kita berbeda. Karena kita semua ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita semua satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air dan kita semua telah sepakat Berbhineka Tunggal Ika, dan menyadari bahwa Islam, bahkan agama-agama lainnya, tidak melarang kita berkelompok dan berbeda. Yang dilarang adalah berkelompok dan berselisih," demikian Quraish Shihab mengawali Khatib yang dibawakan dalam salat Ied Lebaran Idul Fitri 1438 H di Masjid Agung Istiqal, Jakarta Pusat, Minggu (25/6/2017) pagi.

Dalam khatib tersebut Quraish mengambil dua pesan penting untuk disampaikan.
Pertama, karena manusia diciptakan dari tanah, tak heran jika cinta tanah air merupakan fithrah yakni naluri manusia. Bagian kedua adalah kesadaran tentang kesamaan dan kebersamaan merupakan salah satu sebab Muslim diwajibkan berzakat.

"Dengan takbir dan tahmid, kita melepas Ramadan yang insya Allah telah menempah hati, mengasuh jiwa serta mengasah nalar kita. Dengan takbir dan tahmid, kita melepas bulan suci dengan hati yang harus penuh harap, dengan jiwa kuat penuh optimisme, betapa pun beratnya tantangan dan sulitnya situasi. Ini karena kita menyadari bahwa Allah Maha Besar," kata Quraish Shihab di hadapan ribuan jemah di Masjid Agung Istiqal.

Bahwasanya, semua kecil dan ringan selama kita bersama dengan Allah. Kita bersama sebagai umat Islam dan sebagai bangsa, kendati mazhab, agama atau pandangan politik kita berbeda. Karena kita semua ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita semua satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air dan kita semua telah sepakat ber-Bhineka Tunggal Ika, dan menyadari bahwa Islam, bahkan agama-agama lainnya, tidak melarang kita berkelompok dan berbeda. Yang dilarang-Nya adalah berkelompok dan berselisih.

"Artinya, janganlah menjadi serupa dengan orang-orang yang berkelompok-kelompok dan berselisih dalam tujuan, setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan. Mereka itulah yang mendapatkan siksa yang pedih," ujarnya mengutip Ayat Suci Q.S. Ali ‘Imran ayat 105.

Keragaman dan perbedaan adalah keniscayaan yang dikehendaki Allah untuk seluruh makhluk, termasuk manusia.

Jadi, seandainya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikannya satu umat saja, tetapi (tidak demikian kehendak-Nya). Itu untuk menguji kamu menyangkut apa yang dianugerahkan-Nya kepada kamu. Karena itu berlomba-lombalah dalam kebajikan (Q.S. Al-Maidah ayat 48).

"Saudara, kini kita beridul fitri. Kata fithri atau fithrah berarti 'asal kejadian', bawaan sejak lahir. Ia adalah naluri. fitri juga berarti suci, karena kita dilahirkan dalam keadaan suci bebas dari dosa. Fithrah juga berarti 'agama' karena keberagamaan mengantar manusia mempertahankan kesuciannya. Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama (Islam) dalam keadaan lurus," urai Prof. Quraish Shihab.

Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atasnya. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. Ar-Rum ayat 30).

"Dengan beridul fitri, kita harus sadar bahwa asal kejadian kita adalah tanah: Allah Yang membuat sebaik-baiknya segala sesuatu yang Dia ciptakan dan Dia telah memulai penciptaan manusia dari tanah," paparnya mengutip Q.S. AsSajadah ayat 7.

Tokoh cendikiawan Muslim Indonesia itu pun kembali menekankan, bahwa, kita semua lahir, hidup dan akan kembali dikebumikan ke tanah. Dari bumi Kami menciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu untuk dikuburkan dan darinya Kami akan membangkitkan kamu pada kali yang lain. (Q.S. Thaha ayat 55), ulasnya.

"Kesadaran bahwa, asal kejadian manusia dari tanah, harus mampu mengantar manusia memahami jati dirinya. Tanah berbeda dengan api yang merupakan asal kejadian iblis. Sifat tanah stabil, tidak bergejolak seperti api. Tanah menumbuhkan, tidak membakar. Tanah dibutuhkan oleh manusia, binatang dan tumbuhan, tapi api tidak dibutuhkan oleh binatang, tidak juga oleh tumbuhan. Jika demikian, maka manusia mestinya stabil dan konsisten, tidak bergejolak, serta selalu memberi manfaat dan menjadi andalan yang dibutuhkan oleh selainnya,"papar pria kelahiran Sulawesi Selatan 16 Frebuari 1944 itu.

Lanjut Mantan Agama pada Kabinet Pembangunan VII (1998) itu, bahwa, bumi di mana tanah berada, beredar dan stabil. Allah menancapkan gunung-gunung di perut bumi agar penghuni bumi tidak oleng – begitu firman-Nya dalam Q.S. An-Nahl ayat 15. Peredaran bumi pun mengelilingi matahari sedemikian konsisten! Kehidupan manusia di dunia ini pun terus beredar, berputar, sekali naik dan sekali turun, sekali senang di kali lain susah, ujarnya menyentuh lubuk hati ribuan jemaah saat hadir dalam Salat Ied di Masjid Istiqal,Jakarta Pusat.

"JIka tidak tertancap dalam hati manusia pasak yang berfungsi seperti fungsinya gunung pada bumi, maka hidup manusia akan oleng, kacau berantakan. Pasak yang harus ditancapkan ke lubuk hati itu adalah keyakinan tentang Ketuhanan Yang Maha Esa. Itulah salah satu sebab mengapa idul fitri disambut dengan takbir," ujar nya mengingatkan.

Bahwa, kesadaran akan kehadiran dan keesaan Tuhan adalah inti keberagamaan. Itulah fithrah atau fitri manusia yang atas dasarnya Allah menciptakan manusia (Q.S. Ar-Rum ayat 30).

Sumber : netralnews.com
Puisi Gus Mus: Selamat Idul Fitri

Puisi Gus Mus: Selamat Idul Fitri


selamat idul fitri, bumi
maafkan kami
selama ini
tidak semena-mena
kami memerkosamu

selamat idul fitri, langit
maafkan kami
selama ini
tidak henti-hentinya
kami mengelabukanmu

selamat idul fitri, mentari                                                                    
maafkan kami
selama ini
tidak bosan-bosan
kami mengaburkanmu

selamat idul fitri, laut
maafkan kami
selama ini
tidak segan-segan
kami mengeruhkanmu

selamat idul fitri, burung-burung
maafkan kami
selama ini
tidak putus-putus
kami membrangusmu

selamat idul fitri, tetumbuhan
maafkan kami
selama ini
tidak puas-puas
kami menebasmu

selamat idul fitri, para pemimpin
maafkan kami
selama ini
tidak habis-habis
kami membiarkanmu

selamat idul fitri, rakyat
maafkan kami
selama ini
tidak  sudah-sudah
kami mempergunakanmu.


Sumber : nu.or.id
Quraish Shihab: Umat Islam dan Umat Beragama Lain Memiliki Hak dan Kewajiban Bernegara yang Sama

Quraish Shihab: Umat Islam dan Umat Beragama Lain Memiliki Hak dan Kewajiban Bernegara yang Sama


Ulama, Quraish Shihab menyampaikan khotbahnya usai pelaksanaan Shalat Ied 1438 H di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Minggu (25/6/2017).

Dalam khotbahnya ia menjelaskan mengenai agama Islam dalam bingkai kesatuan berbangsa.
Ia menekankan bahwa baik umat Islam maupun umat beragama lainnya memiliki kewajiban dan hak bernegara yang sama.

Bahkan menurutnya hal itu berlaku juga pada pemerintahan yang dijalankan Nabi Muhammad SAW.
"Sejak zaman Nabi Muhammad SAW beliau memperkenalkan istilah Lahum Ma Lanaa Wa 'Alaihim Maa' Alaina. Mereka yang tidak seagama dengan kita memiliki hak kewargaan yang sama dengan kaum muslimin dan mereka memiliki kewajiban yang sama pula," kata Quaish Shihab.

Quraish Shihab mengutip pernyataan Guru Besar Universitas Al-Azhar, Prof Dr Ahmad At-Thayyib yang menyebut tidak ada istilah mayoritas dan minoritas dalam hal kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hal itu dikarenakan semua unsur yang berbeda-beda di dalamnya telah lebur ke dalam kebangsaan yang sama serta memiliki hak yang sama dalam kewarganegaraan.

"Kesadaran akan persatuan dan kesatuan itu lah yang mengharuskan kita duduk bersama melakukan musyawarah demi kemaslahatan. Itunlah makna dari Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksaan dalam Permusyawaratan Perwakilan," terangnya.

Sumber : tribunnews.com
Pemerintah Tetapkan Idul Fitri Jatuh pada 25 Juni 2017

Pemerintah Tetapkan Idul Fitri Jatuh pada 25 Juni 2017


Pemerintah melalui Kementerian Agama selesai menggelar sidang Isbat. Hasilnya diputuskan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 H jatuh pada tanggal 25 Juni 2017.

"Atas dasar laporan tersebut seluruh peserta sidang isbat sepakat bahwa malam ini telah memasuki 1 Syawal 1438 H," ujar Menag Lukman Hakim Saifuddin di kantor Kemenag, Jl MH Thamrin, Jakpus, Sabtu (24/6/2016).

"Dan demikian mulai besok pagi kita bersama melaksanakan salat Id, salat Idul Fitri sebagaimana ketentuan. Dan dengan demikian kita telah berhasil menyepakati sekaligus menetapkan bahwa mulai malam ini kita telah memasuki 1 Syawal 1438 H," jelasnya.

Menag menyatakan setidaknya ada 6 petugas yang menyatakan telah melihat hilal. Empat di antaranya berada di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sedangkan 2 lainnya berada di Gresik, Jawa Timur.

Rangkaian sidang isbat diawali pemaparan Tim Badan Hisab Rukyat Kemenag, terkait posisi hilal secara astronomis pada 29 Ramadan 1438H/2017. Kemudian acara berlanjut ke sidang utama setelah salat Maghrib.

Proses penentuan awal Syawal ini menggunakan metode hisab dan rukyat dalam penentuan awal bulan Hijriyah. Hal itu sebagaimana diatur di dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Sejumlah perwakilan ormas turut hadir dalam sidang Isbat ini di antaranya perwakilan dari Muhammadiyah dan PBNU. Tokoh yang datang seperti Ketum MUI KH Maruf Amin, Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, Ketua Komisi VIII DPR Ali Taher, Ustaz Zaitun Rasmin, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Endang Mintarja dan lainnya.
(gbr/rna)

Sumber : detik.com
Kisah Tiga Santri Mudik dari Kendal Naik Sepeda Onthel Ratusan Kilometer ke Cirebon

Kisah Tiga Santri Mudik dari Kendal Naik Sepeda Onthel Ratusan Kilometer ke Cirebon


Dengan naik sepeda onthel, tiga santri dari Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pulang mengunjungi sanak keluarganya di Cirebon dan Tegal.

Umedi (23), Faiq (23), dan Fadlurohman (23), terus mengayuh pedal sepedanya menyusuri ratusan kilometer  Jalan Nasional Pantura dari Kaliwungu, Kendal, menuju kampung halamannya di Tegal dan Cirebon.

Tim Merapah Trans-Jawa Kompas.com dan Otomania.com bertemu ketiganya di jalur Comal, Kabupaten Pemalang, Jumat siang (23/6/2017).

Ketiganya bertolak dari Asrama Pendidikan Islam Kaliwungu, sejak Kamis malam (22/6/2017), pukul 21.30 WIB. Dengan kata lain mereka telah menempuh perjalanan 93 kilometer selama 15 jam.
"Istirahatnya tadi pukul 08.00 sampai 09.30 WIB pagi, tidur sebentar di mushola. Setelah itu jalan lagi," terang Umedi.

Portrait foto santri, Rohman saat bersama sepedanya di daerah Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Jumat (23/6/2017). Beragam cara dilakukan para pemudik untuk bisa kembali ke kampung halaman, salah satunya dengan menggunakan sepeda.(KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG) ()
Ketiganya mengaku telah bersiap dengan segala rintangan yang diprediksi akan terjadi. Walaupun begitu, mereka hanya menyediakan persiapan seadanya.

Berbekal sepedah ontel tua yang mereka beli dengan tabungan uang saku di pondok pesantren, kunci-kunci, dan bekal makan seadanya, mereka yakin bertemu keluarga sebelum Idul Fitri tiba.

"Ini bawa kunci 12 kunci 10, pompa ban dikasih bengkel, obat pijet, kue-kue, ada juga yang bawa minuman satu dus buat keluarga dirumah. Kalau pakaian kita yang penting jaket, sarung tangan, masker aja," jelas Fadlurohman, yang memiliki tujuan terjauh, ke Cirebon.

Fadlurohman memprediksi, bisa sampai kampung halamannya pada Sabtu malam (24/6/2017), atau saat malam takbiran berlangsung.

Ia memang tak memiliki target pasti harus sampai kapan, tetapi tetap berproses sambil menikmati perjalanan. Sedangkan dua rekannya memprediksi sampai di Tegal Jumat malam ini.

Kenikmatan mudik bersepeda

Saat ditanya soal kenikmatan apa yang ingin diperoleh dengan mudik menggunakan sepeda, ketiganya sepakat ingin suasana baru. Tahun ini merupakan pertamakalinya mereka menelusuri jalur pantura dengan sepeda.


"Mau mencari suasana baru, lebih seru, jadi tahu jalan, nambah kenalan, walaupun capek. Cepat pegel tapi dinikmatin aja pelan-pelan," ujarnya.

Untuk menghilangkan pegal, mereka banyak beristirahat, melakukan peregangan bahkan saling memijat satu sama lain.

"Awalnya iseng guyon (bercanda), tapi malah jadi tantangan dan pengen kita penuhi. Jadi lebih terasa perjuangannya ketemu orang tua," terang Fadlulrohman menjelaskan awal mula kenekatannya.

Meski mereka menikmatinya, bukan berarti perjalanannya tanpa hambatan. Dini hari mereka harus melewati tanjakan Batang yang curam, lalu menuju Alas Roban dengan mendorong sepedanya.
Selain itu ban bocor dan robek pun kerap menjadi momok bagi mereka. Ditambah bengkel sepeda yang tutup menjelang Lebaran.

"Sempat putus asa pas ban robek terus meledak di Pekalongan, sempet nyetopin mobil bak buat tumpangan. Tapi akhirnya ketemu juga bengkel di pelosok-pelosok gang," cerita Faiq. (Kompas.com)

Sumber : tribunnews.com

Definisi "Kafir" Menurut Habib Quraish Shihab

Definisi "Kafir" Menurut Habib Quraish Shihab


Penjelasan Prof. DR. Quraish Shihab tentang makna "kafir" saat ditanya anaknya Najwa Shihab di acara Mata Najwa.

Najwa : Belakangan ini kata kafir itu ringan sekali diucapkan, orang gampang sekali mengkafirkan, siapa sebenarnya orang "kafir" itu?

Quraish : Kafir bisa berarti yang mengingkari agama, kafir juga bisa berarti munafik, kafir itu pada dasarnya bisa berarti menutup, kalau anda menutup kebenaran berarti anda kafir.

Tetapi karena secara umum orang memahami kafir itu keluar dari Islam, maka datang larangan Nabi "Jangan mengkafirkan orang!"

Najwa : Nabi melarang?

Quraish : Nabi melarang, "Siapa yg mengkafirkan orang, padahal orang itu tidak kafir maka tuduhan itu kembali kepadanya", dia dinilai Tuhan kafir

Beberapa waktu lalu beliau juga pernah menegaskan bahwa "kafir" itu tak hanya untuk non-muslim.
Menurut beliau, siapa saja yang melakukan sesuatu yang jauh dari kebenaran, kalau dia itu seorang muslim, dia juga bisa disebut kafir. Lebih lanjut beliau mengatakan siapapun bila berada di jalan yang benar, berani melawan kemungkaran, ikutilah dia dan bantu dia.

“Jangan bertanya apa agamanya, apa sukunya, siapa bapaknya atau sampai menuding seseorang kafir. Sesungguhnya Tuhan berhak mengutus siapa pun untuk kebaikan di bumi ini,”

Dishare dari FP ala_NU

Sumber : muslimoderat.net
Habib Luthfi: Bertemu Nabi Muhammad Lebih Mudah daripada Bertemu Para Wali

Habib Luthfi: Bertemu Nabi Muhammad Lebih Mudah daripada Bertemu Para Wali


Ada seorang tamu yang bertanya kepada Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, “Habib saya minta diceritakan kisah Rasulullah Saw walaupun sedikit saja”. Maulana Habib Luthfi terdiam.
Kemudian tamu bertanya kembali, Apakah perasaan rindu kepada Rasulullah Saw nyata atau halusinasi? Maulana Habib Luthfi menjawab, perasaan itu nyata, itu hubungan antara Rasulullah saw dengan umatnya. Bukan halusinasi.
Kemudian sambil terisak menahan tangis, bertanya kepada Habib Luthfi bin Yahya, Apakah Rasulullah saw tahu dinamika dan detail kehidupan yang dijalani oleh umatnya?
Maulana Habib Luthfi bin Yahya menjawab : “Kalau tidak tahu dunia ini akan hancur. Rasulullah saw dengan ijin Allah menjaga kehidupan umat manusia, menjaga bumi ini. Jangankan Nabi saw, para walipun tahu. Oleh sebab itu para wali senantiasa memohon kepada Allah untuk menghindarkan musibah dari manusia dan memberikan segala kebaikan bagi kehidupan manusia di bumi”.

Maulana Habib Luthfi bin Yahya melanjutkan, “karena kasih sayang Nabi kepada umatnya, umat mudah sekali bertemu dengan Rasulullah saw (melalui mimpi maupun secara langsung). Bahkan, lebih mudah bertemu Nabi saw daripada bertemu para wali, wakil-wakil Nabi di bumi ini”.
Kemudian Maulana Habib Luthfi bin Yahya membaca beberapa bagian dari kitab Sa’adat darain, yang disusun oleh Syeikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani.
“Diantara manfaat terbesar membaca Shalawat kepada Nabi Saw adalah dapat melihat Nabi saw dalam mimpi. Dan akan terus meningkat kualitas mimpinya seiring semakin banyaknya shalawat yang dibaca, sampai bisa melihat Nabi saw dalam keadaan terjaga.

Nabi saw bersabda, “ " ﻣﻦ ﺭﺍﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﻘﺪ ﺭﺃﻧﻲ ﺣﻘﺎ
“Siapa saja yang melihatku dalam mimpi, maka ia telah melihatku secara nyata (hak)”. Jika ingin bertemu Nabi Saw maka hidupkanlah waktumu dengan memperbanyak shalawat. Dalam ada beberapa hadis lain tentang mimpi bertemu Nabi, yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, diantaranya hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar:
ﻣﻦ ﺭﺃﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﻘﺪ ﺭﺃﻧﻰ ﻓﺄﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻻ ﻳﺘﻤﺜﻞ ﺑﻲ
“Siapa saja yang melihatku dalam mimpi, maka ia telah melihatku secara nyata, karena sesungguhnya syaithan tidak dapat menyerupaiku”.
Dalam hadis lain riwayat Abu Hurairah,
ﻣﻦ ﺭﺍﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﻘﺪ ﺭﺃﻧﻰ ﻓﺎﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻻﻳﺘﺼﻮﺭ ﺃﻭ ﻗﺎﻝ ﻻ ﻳﺘﺸﺒﻪ ﺑﻲ .

“Siapa saja yang melihatku dalam mimpi, maka ia telah melihatku secara nyata, karena sesungguhnya syaithan tidak dapat menyerupaiku”.
Hadis ketiga diriwayatkan oleh Thariq bin Asyim RA, Rasulullah saw bersabda,
ﻣﻦ ﺭﺃﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﻘﺪ ﺭﺃﻧﻰ
Dalam hadis lain disebutkan, ﻣﻦ ﺭﺃﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﺴﻴﺮﺍﻧﻰ ﻓﻰ ﺍﻟﻴﻘﻈﺔ ﻭﻻ ﻳﺘﻤﺜﻞ ﺑﻲ
“Siapa saja yang melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga, dan Syaithan tidak dapat menyerupaiku.
Menurut ulama, hadis ini berlaku secara umum, baik dahulu ketika Rasulullah saw masih hidup, maupun saat ini, ketika Rasulullah saw sudah wafat. Lalu apakah ini berlaku bagi mukmin ahli maksiat yang bermimpi melihat Nabi Saw? Menurut ulama, berlaku secara umum baik yang bermimpi orang yang taat maupun mukmin yang tidak taat. Mukmin yang tidak taat yang bermimpi bertemu Nabi saw menjadi pertanda ia akan mendapatkan petunjuk untuk melakukan ketaatan. Nabi saw bersabda, “kalian yang akan dimasukan kedalam surga, akan diberi taufiq untuk beramal baik, meskipun hanya tinggal selangkah lagi ke neraka.
Hadis-hadis ini menjadi kabar baik dari Nabi saw untuk umatnya diakhir zaman.

Sebagaimana disampaikan Nabi saw, diakhir zaman kelak ada umatnya yang secara suka cita mengeluarkan sedekah, dan beramal kebaikan dengan harapan bisa bertemu Nabi saw. Nah, hadis-hadis tadi menjadi pelipur lara bagi umat yang ingin melihat Nabi. Dan Nabi menyatakan, bahwa mereka yang melihat Nabi dalam mimpi, akan berjumpa dengan Nabi dalam keadaan terjaga.
Dikisahkan suatu ketika, Ibn Abbas bermimpi bertemu Nabi, Ibn Abbas ingat sabda Nabi tentang orang yang melihat Nabi dalam mimpi. Kemudian Ibn Abbas menceritakan mimpinya kepada Shafiyah istri Nabi saw. Shafiyah memberikan jubah dan cermin yang pernah digunakan Nabi saw. Pada saat Ibn Abbas bercermin, yang Nampak dalam cermin adalah wajah Nabi saw, bukan wajahnya”.
Habib Luthfi menambahkan, melihat Nabi secara langsung bisa dengan dua kondisi, bisa dengan yaqdztan, bisa dengan thariq kasyf.

Melihat Nabi dengan thariq kasyf, terjadi seketika, seperti saat berhadapan dengan orang lain, saudara, guru, atau orang lainnya, tiba-tiba yang tampak dari wajah orang lain itu adalah wajah mulia Nabi saw. Seperti kasus, Ibn Abbas bercermin dengan cermin Nabi saw, akan tetapi yang tampak dalam cermin bukan wajah ibn Abbas melainkan wajah mulia Nabi Muhammad saw.
Terakhir Maulana Habib Luthfi mengatakan, untuk menjaga hubungan dengan Nabi saw adalah dengan memperbanyak shalawat kepada Nabi. Dan shalawat adalah tali silaturahim kita kepada Rasulullah saw. (ala_nu).

Sumber : muslimoderat.net
Gus Mus: Kalau Ada yang Merasa Benar Sendiri, Saya Tertawa

Gus Mus: Kalau Ada yang Merasa Benar Sendiri, Saya Tertawa


KH Ahmad Mustofa Bisri, yang biasa disapaGus Mus, mengkritisi mereka yang membawa agama ke panggung politik.

Hal itu disampaikannya saat tampil pada acara Mata Najwa, bersamaQuraish Shihab, yang ditayangkan Metro TV, Rabu (21/6/2017) malam.

Gus Mus menjawab pertanyaan presenter Najwa Shihab soal agama dan politik.
Najwa menanyakan pernyataan Gus Mus dalam akun Twitter-nya yang pernah menyinggung pihak-pihak yang menyeret agama dalam urusan politik, khususnya Pilkada.

"Ya kan itu keterlaluan. Pilkada itu apa sih? Anda berkali-kali katakan "Allahu Akbar". Anda kira Allah itu seberapa besar? Apa sama dengan Masjid Akbar di Surabaya itu? Apa sama dengan rapat akbar, pengajian akbar? Anda buka Youtube, klik kata kunci 'bumi', Anda akan tahu besarnya bumi ini. Dan seberapa besarnya alam ciptaan-Nya ini. Bumi itu kecil sekali," kata Gus Mus.

"Saya ibaratkan (bumi) biji kacang hijau. Di mana DKI dalam kacang hijau itu? Di mana TPS-TPS dalam kacang hijau itu? Kalau kita katakan "Allahu Akbar", dan kita belum bisa mengecilkan diri kita sendiri, kita belum menghayati "Allahu Akbar", kecuali untuk demo saja," lanjut dia.

Ia mengingatkan, tak seharusnya ada kesombongan dan kelompok yang merasa benar sendiri.
"Jadi kalau ada orang yang sombong, petentang-petenteng, merasa benar sendiri, saya ketawa. Biji kacang hijau kok petentang-petenteng," kata Gus Mus.
Sementara itu, Qurais Shihab mengingatkan, hendaknya manusia bersikap rendah hati saat berhadapan dengan siapapun.

"Orang yang lebih rendah dari Anda, bisa jadi punya pengetahuan yangAanda tidak tahu. Profesor, banyak hal yang dia tidak tahu. Boleh jadi, pembantu, sopir, lebih pandai dari dia. Kita diciptakan dari tanah, supaya kita rendah hati. Iblis dari api, sehingga dia merasa tinggi hati. Tanah walau diinjak-injak, tapi menumbuhkan tumbuhan. Manusia begitu, semakin rendah hati, semakin terbuka hatinya untuk menerima kebenaran, memancarkan cahaya," kata Quraish Shihab.

Meneladani Rasul
Gus Mus juga mengatakan, Muslim yang menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai panutannya, pasti akan menjadi seorang yang toleran.
Ia menyampaikan hal itu menjawab pertanyaan Najwa mengenai bagaimana seharusnya hidup bersama di tengah perbedaan.

"Kalau orang Islam, mengikuti Kanjeng Nabi, Rasulullah SAW, pemimpin agungnya, dia akan toleran," kata Gus Mus.
Ia mengingatkan, agar setiap individu terus meningkatkan pengetahuannya dan tak pernah berhenti belajar.

"Kalau tidak ngerti, mencari tahu, itu lebih baik. Maka saya selalu mengatakan, mbok belajar terus, jangan berhenti belajar. Kalau membela keyakinan, ya belajar soal keyakinan Anda. Kenal enggak sama pembawa keyakinan ini? Kenal sama Rasulullah enggak? Kenal Rasulullah ya melalui ilmu. Nabi itu bersabda, selama orang itu masih belajar, orang itu pandai. Ketika orang itu berhenti belajar karena merasa pandai, mulailah dia menjadi bodoh," papar Gus Mus.

Quraish Shihab berpendapat, kehidupan tak mungkin tanpa perbedaan. Akan tetapi, perbedaan itu seharusnya ada titik temu. Tidak ada yang merasa paling benar.

"Kanjeng Nabi itu seringkali membenarkan dua atau lebih pendapat yang berbeda-beda, semua benar. Karena kita tidak bisa hidup tanpa perbedaan. Agama mengatakan, cari titik temu. Kita sebagai bangsa sudah ada titik temunya. Dulu, ada yang mau negara ini sekuler, ada yang mau negara agama. Kita punya titik temu, Pancasila," ujar Quraish Shihab.

Keduanya juga mengingatkan, agar syiar agama disampaikan dengan cara yang teduh, sehingga mereka yang menerimanya akan mendapatkan hidayah.
"Dakwah itu kan mengajak, mengajak itu bernuansa merayu, membujuk," kata Gus Mus.[kompas.com]

Sumber : muslimoderat.net
Tutup Ramadhan dengan Berdoa

Tutup Ramadhan dengan Berdoa


Oleh KH A Mustof Bisri

Siang demi siang dan  malam demi malam Ramadhan telah kita lalui. Kehidupan yang lain daripada yang lain telah kita jalani di bulan yang kita sebut bulan suci ini. Kita berdoa semoga kita mampu menyerap kesucian bulan ini. Mampu tidak hanya memaknai tapi sekaligus menghayati  puasa kita. Sehingga nilai tambahnya tidak hanya berupa ganjaran di akhirat, namun dapat merupakan peningkatan pribadi kita sebagai hamba-hamba mukmin yang tahu bersyukur.

Kita berdoa semoga Ramadhan kali ini benar-benar  berhasil mendidik kita menjadi manusia yang lain, manusia yang tidak hanya menyadari kekhalifahannya, tapi sekaligus kehambaannya. Manusia yang saleh di hadapan Allah dan saleh di hadapan sesama manusia.

Kita berdoa dan berdoa,  karena agaknya memang hanya –berdoa-- itulah andalan kita selama ini. Apalagi bila mengingat sekian Ramadhan lepas begitu saja tanpa terlihat bekasnya pada pribadi kemusliman kita.  Muslim yang paling baik menurut  Pemimpin Agung kaum muslimin dan yang paling tahu tentang keIslaman, Nabi Muhammad SAW, ialah “Man salimal muslimuun min lisaanihi wayadihi.” Orang yang selalu menjaga agar lisan dan tangannya  tidak melukai sesama. Jadi bukan orang yang berkobar-kobar membela Islam dengan keganasan lisan dan tangannya.

Kita berdoa; karena sekian Ramadhan terlewati begitu saja tanpa berhasil mendidik kita untuk menjadi manusia yang benar-benar jujur. Pendidikan jujur yang diberikan oleh puasa setiap Ramadhan, ternyata hanya berlaku –kalau pun berlaku— pada puasa pada bulan suci itu. Sebagaimana pendidikan rendah hati  dan kedermawanan  yang hanya terserap –kalau pun terserap--  tak seberapa dan sementara.  Kesombongan sebagai kaum yang merasa paling selamat, paling benar,  dan paling mulia di sisi Allah, masih sangat kental terasa; meski kebanyakan kita tidak merasa. Kedermawan kita juga masih sarat termuati pamrih tersembunyi.

Kita berdoa; karena agaknya kita tidak mampu percaya bahwa puasa Ramadhan telah kita jalani sebagaimana mestinya. Apalagi sikap kita terhadap puasa Ramadhan terkesan masih terpaksa dan di bawah sadar minta dihargai. Himbauan “menghormati Ramadhan” apa maksudnya,  kalau tidak si penghimbau ingin dibantu berpuasa atau ingin dihargai? Apakah Ramadhan butuh dihormati? Bukankah Ramadhan sejak awal sudah terhormat? Seolah-olah karena kita sudah mau berpuasa, mau mengekang nafsu dan syahwat, mau mengubah kehidupan yang sangat duniawi  menjadi kehidupan ruhani, maka kita harus dihargai dan minta imbalan.

Kita berdoa; karena kita belum bisa yakin bahwa  puasa kita telah berhasil menyeimbangkan diri kita sebagai manusia daging dan ruh, manusia dunia-akherat.  Apalagi sehari-hari di bulan suci ini, di samping tidak makan  tidak minum di siang hari dan ramai-ramai taraweh, acara-acara duniawi  yang bersifat daging rupanya tidak mau  begitu saja diabaikan.  Bahkan kepentingan-kepentingan  daging begitu lihai menyusup ke dalam  ‘amalan-amalan  ibadah’, seperti  menyusupnya  kepentingan-kepentingan politisnya  politisi  dalam agitasi kerakyatan dan keagamannya.  Ramainya tadarus bersaing dengan hiruk-pikuknya  acara badutan  tv yang sering kali tak jelas maksud dan tujuannya.

Untunglah masih ada doa. Maka marilah  kita berdoa semoga puasa dan amal ibadah kita diterima oleh Allah. Semoga kesalahan-kesalahan dan kekuarangan-kekurangan kita diampuniNya.  Semoga puasa Ramadhan kali ini benar-benar berhasil mendidik kita menjadi manusia yang seimbang: manusia yang hamba dan khalifah Allah; manusia yang daging dan ruh; manusia yang menyembah Tuhan dan mengasihi sesama hambaNya; manusia dunia-akherat. Amin.

Penulis kini adalah Mustasyar PBNU. Tulisan ini pernah dimuat di harian Suara Merdeka 8 September 2010

Sumber : nu.or.id
Klarifikasi Putri-putri Gus Dur atas Kutipan Tuhan Tidak Perlu Dibela

Klarifikasi Putri-putri Gus Dur atas Kutipan Tuhan Tidak Perlu Dibela


Sejumlah kisah tentang Abdurrahman Wahid, Presiden ke-4 RI yang akrab disapa dengan panggilan Gus Dur mengemuka dalam program talkshow Rosi bertema #WarisanGusDur.
Talk show yang ditayangkan Kompas TV, Kamis (22/6/2017) malam meramaikan lini masa Twitter.
Kata kunci #WarisanGusDur menjadi salah satu trending topic Twitter di Indonesia.
Ratusan warganet berinteraksi dalam acara bincang-bincang yang dipandu wartawan senior Rosiana Silalahi.

(- Gus Mus: Kalau Tidak Moderat Bukan Islam!)

Acara tersebut menghadirkan bintang tamu keluarga almarhum Gus Dur
Sinta Nuriyah istri almarhum Gus Dur hadir dalam acara tersebut ditemani empat putrinya, Alissa Qotrunnada Munawaroh (Alissa Wahid), Zannuba Arifah Chafsoh yang populer dengan panggilan Yenny Wahid, Annita Hayatunnufus dan Inayah Wulandari.

Sejumlah kenangan atas sikap dan pandangan Gus Dur dikemukakan oleh istri almarhum dan empat putri Gus Dur.

Dalam kesempatan itu, pemandu acara mengklarifikasi sejumlah pernyataan Gus Dur yang kerap dijadikan bahan debat dan kontroversi.

Salah satunya Tuhan Tidak Perlu Dibela.

Menurut Yenny Wahid ada kalimat yang terpotong dalam pernyataan Gus Dur itu.

"Sebetulnya ini kalimatnya dipotong, ada lanjutannya. Tuhan tidak perlu dibela, yang perlu dibela mahkluk Tuhan yang diperlakukan semena-mena oleh mahkluk lainnya," kata Yenny Wahid.

Sementara Annita Hayatunnufus menambahkan kalimat lain yang kurang dari kata-kata Gus Dur yang banyak dikutip orang itu kemudian disalahartikan.

"Tengahnya ada yang hilang lagi. Tuhan tidak perlu dibela karena Tuhan Maha Segalanya. Yang perlu dibela mahkluk Tuhan," kata Annita Hayatunnufus.
"Justru kita (manusia) yang perlu dibela," kata Yenny Wahid.

(Video YouTube Viral! 7 Ramalan Gus Dur, 6 Terbukti, 1 Belum soal Ahok Jadi Presiden)

Gitu Aja Kok Repot

Kata-kata Gitu Aja Kok Repot menurut salah seorang putri Gus Dur juga kerap disalahartikan.
Inayah Wahid menyodorkan kalimat itu saat pembawa acara mendiskusikan tema kutipan Gus Dur yang disalahartikan.

"Banyak orang menganggap itu cara Gus Dur untuk menyepelekan segala sesuatu, jadi gampang, diremehkan

Menurut Inayah, bagi Gus Dur, aturan sudah jelas. Nilai-nilai kemanusiaan, aturan dalam Al Quran
"Sudah jelas. Tinggal itu saja diikuti. Kalau kita ikutin pakem itu, ngapain repot-repot," kata Inayah
Yenny Wahid menambahkan kalimat Gitu Aja Kok Repot mengandung pesan yang dalam.

"Ada filosofi dalam sekali, Gus Dur mengambil dari kaidah fikih yassiru wala tu 'assir. Gampangin deh, jangan dipersulit kalau melihat suatu masalah," kata Yenny putri kedua Gus Dur.

Budayawan Al Zastrouwi yang dikenal sebagai Asisten Pribadi Gus Dur juga hadir dalam talk show.

Al Zastrouwi menambahkan bagi para pembenci Gus Dur segala yang diucapkan bisa disalahartikan.

"Bukan hanya satu, dua pernyataan. Siapa pun yang membenci Gus Dur, tidak suka Gus Dur, akan selalu menyalahartikan meskipun itu benar," kata Al Zastrouwi.

Sumber : tribunnews.com
close
Banner iklan disini