Gus Dur Buta? Masih Bisa Baca Kok Tanpa Kacamata

Gus Dur Buta? Masih Bisa Baca Kok Tanpa Kacamata



Sempat beredar rekaman di Youtube seseorang menghujat Gus Dur sebagai orang yang buta mata dan buta hati. Mengenai hal ini, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Ma`hadul Ilmi al Syari (MIS), pesantren tertua di Sarang, Rembang, Gus Rosikh, punya cerita unik tentang masih aktifnya penglihatan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di masa tuanya.

Dua tahun setelah Gus Dur dilengserkan dari jabatan presiden, Gus Rosikh bersama kakaknya, Gus Muhammad sowan kepada cucu Hadratussyekh Hasyim Asy’ari itu di rumah Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Keduanya mewakili Pondok Pesantren MIS menyampaikan surat undangan dan meminta Gus Dur memberi mauidoh hasanah acara Pondok.

Dengan diantar ajudan Gus Dur, Zastrow al Ngatawi, keduanya bertemu Gus Dur dan menyampaikan maksud kedatangan mereka. Sebuah amplop berisi satu lembar kertas HVS ukuran kwarto berkop surat pondok diberikan.

Gus Dur langsung membuka amplop tersebut dan memegang lembaran suratnya. Disaksikan sendiri oleh Gus Rosikh dan Gus Muhammad, Gus Dur membuka mata kirinya yang selama ini seolah-olah terpejam, termasuk di sejumlah foto yang beredar. Seperti diketahui, penyakit stroke yang diderita Gus Dur sempat berdampak pada penglihatannya.

Dilihat dengan jelas oleh rombongan Pesantren MIS Sarang tersebut, Gus Dur membaca surat itu dengan mata langsung, tanpa kacamata.

"Kami lihat sendiri, Gus Dur membaca dengan matanya langsung. Surat  dari saya didekatkan di muka beliau dan dibaca dengan seksama. Jadi Gus Dur itu tidak buta,” kata Gus Rosikh di rumahnya, di kompleks Pesantren MIS Sarang, Rabu (24/5) malam.

Masih dengan memegang surat tersebut, tutur Gus Rosikh, Gus Dur bertanya dalam bahasa Jawa. "Tanggal iki aku iso teko. Jam piro acarane? (di tanggal ini aku bisa datang. Jam berapa acaranya~red)," tanya Gus Dur.

"Bakda isya, Kiai. Mulai jam 20.00," jawab Gus Roskih.

Selanjutnya Gus Dur pun bercerita kalau ia pernah tiga kali mengaji pasan (mengaji di bulan puasa) di Pesantren MIS Sarang. Gus Dur mengatakannya dengan berseloroh:

"Aku tau mondok ning Sarang telung tahun. Yokuwi telung posonan (aku pernah mondok di Sarang tiga tahun. Yakni tiga kali puasa)," ucap Gus Dur sambil tertawa, lantas disambut ngakak dua tamunya. (Ichwan/Mahbib)

Sumber : nu.or.id
Karomah Foto Gus Dur di Pedalaman Papua

Karomah Foto Gus Dur di Pedalaman Papua


Berawal dari saya sebagai penjual ayam,..

Banyak masyarakat pendatang maupun asli Papua sebagai langganan..

Namun mereka masih belum dikatakan sempurna dalam menyembelih secara syar'i..

Dari situlah awalnya, saya berikan sedikit demi sedikit arahan...

 Alhamdulillah banyak yang meniru....

Benar sekali, di sini muslim sangat minoritas...

Banyak sebenarnya kelompok Islam, namun berhaluan keras. Sehingga masayarakat asli merasa terusik.

 Makanya ketika awal pembangunan PPMQ, mereka mengira bahwa kami sama halnya dengan mereka..

Alhamdulillah lama kelamaan mereka tahu dan bahkan mau belajar Alquran,..

Saya tidak punya ilmu Alquran sebaik sahabat2ku di group ini, hanya alif ba'ta'..

Namun semua kami lakukan dengan ikhlas, sesuai nasehat romo Kiai Yusuf Masyhar...

Awal berdirinya PPMQ AL QALAM, semua menolak, bahkan dari pihak lintas gereja menolak keras,... 😭..(maaf saya ngetik ini sambil menangis karena ingat waktu itu)...

Dari Majelis Rakyat Papua juga menolak. Kami dikepung, dengan berbagai macam sajam, tombak, panah, parang dll....

Mereka hendak mengusir kami,...

Mereka masuk ke pondok, ke ruang utama, di saat itulah mereka melihat logo NU, foto Gus Dur, Kalender Tebuireng dan MQ, foto mbah hasyim dll.

Ketika itu, sontak kepala suku besar berteriak. "Berhenti, kau punya pesantren ada hubungan apa dg Tebuireng dan foto-foto ini?"

Saya diam tidak menjawab...

Karena memang kondisi saat itu mencekam.

Akhirnya mereka meletakkan senjata semua. Duduk dengan hormat mengikuti kepala suku besarnya.

 Mereka berteriak "Gus Dur... Gus Dur,.. Kita punya orang tua,... NU kita punya Saudara..."

Lalu mereka berkata langsung ke saya, "Pak ustadz, mulai detik ini kami yang menjaga pesantren ini, kami yg jaga..."

Lalu mereka berteriak bersama-sama tanda mendukung.

Alhamdulillah sampai detik ini pesantren kita berdiri...
Dengan dukungan mereka juga...

Sahabatku semua, ini kisah nyata yang kami alami di Papua Barat... Banyak yang belum saya ceritakan.

 InsyaAllah lain waktu...

Doa, berkah, serta ridho guru-guru kita di pondok sangatlah penting...

Sekali lagi, berpeganglah pada Alquran dan berdakwalah dengan akhlak yang sejuk.....

Ustadz DARTO SYAIFUDIN,
Alumni Madrasatul Qur'an Tebuireng th 2000.
Pengasuh PP MADRASATUL QURAN   AL QOLAM Papua Barat

Sumber : muslimoderat.net
Maju dan Mundur Gus Dur

Maju dan Mundur Gus Dur


Sejarah mencatat, Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur tidak terbukti tersangkut kasus hukum yang menjadi alasan pelengserannya.

Dengan kata lain, pelengseran bersifat politis. Maka, kala itu gelombang protes begitu deras dari jutaan pendukung Gus Dur.

Saat itu, ada seorang santri yang bertanya tentang perasaan Gus Dur terkait dengan proses lengsernya dari kursi kepresidenan.

“Kekuasaan itu milik Allah,” jawab Gus Dur dengan tidak lupa sebagai kiai, dia mengutip panjang Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 26-27.

Dengan heran si santri bertanya mengenai sikap Gus Dur yang sulit disuruh mundur, malah memilih ‘berantem’ dengan DPR.

Dengan mantap Gus Dur menjawab, “Sudah tahu untuk berjalan maju pun saya dituntun, eh...malah disuruh mundur.”

(Fathoni Ahmad)

Sumber : nu.or.id
Gus Dur Sang Ksatria Sejati, Menghadapi Polisi Tanpa Rombongan dan Tidak Mangkir

Gus Dur Sang Ksatria Sejati, Menghadapi Polisi Tanpa Rombongan dan Tidak Mangkir


 Gus Dur, AM Fatwa, Buya Hamka dll. pernah diperiksa, ditahan bahkan ada yang dipenjara. Tapi beliau-beliau itu tak pernah mangkir dan tidak pernah mengerahkan ummat Islam atau mengatasnamakan umat Islam, tidak pernah merasa di dzholimi, tidak pernah merasa di diskriminasi, menarik-narik umat Islam dalam kasus hukum mereka bahkan menolak gerakan yang mau membela dengan pressure massa. Semua kasus hukum dihadapi sendiri secara pribadi tanpa melibatkan massa.

  ;
Beliau-beliau tak mau memanfaatkan ketokohannya untuk menarik massa terlibat dalam kasusnya. Kok beda dengan yang sekarang ya, baru dipanggil polisi aja semua umat Islam ditarik-tarik untuk terlibat seperti terlihat dalam orasi, aksi massa, meme, status dan spanduk-spanduk yang provokatif, seolah semuaulama dan Islam terancam?
Dulu saat Gus Dur masih hidup sepak terjangnya selalu menjadi pusat perhatian massa. Meskipun banyak yang memusuhi tapi para pembelanya jauh lebih banyak. Ribuan bahkan jutaan badan siap mengorbankan diri untuk Gus Dur.

Puncaknya adalah saat Gus Dur hendak dilengserkan. Banser, Pasukan Berani Mati dan massa yang berjumlah sangat besar tanpa dikomando siap mati untuk Gus Dur jika jadi dilengserkan. Namun, dengan sangat gentle Gus Dur tak mau memanfaatkan ketokohannya untuk menarik massa. Sebaliknya bahkan ratusan ribu massa yang sudah berkumpul siap mati untuknya dicegah untuk terlibat. Sehingga tak ada satu tetes pun darah yang harus dikorbankan.
Tanpa berpretensi membandingkan, hanya sekadar bahan refleksi, kira-kira mana yang lebih arif dan bijak?

Sumber : muslimoderat.net
Dua Orang Tionghoa dan Jimat NU

Dua Orang Tionghoa dan Jimat NU


Seorang pria berwajah Tionghoa berdiri di hadapan lukisan Jimat NU karya Nabila Dewi Gayatri pada pameran tunggal bertajuk Sang Kekasih di Grand Sahid Jaya. Beberapa menit ia menatap lukisan tiga serangkai mulai dari kakek hingga cucu itu. Kemudian ia mengabadikan dirinya dengan lukisan itu dengan ponsel kamera dengan cara swafoto.

Ia mengaku tertarik kepada lukisan Jimat NU yang memuat wajah Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu.

Lebih khusus, ia mengaku tertarik kepada KH Wahid Hasyim dia adalah kiai yang berpikir dan bertindak mengedepankan persatuan bangsa dengan menyetujui menghilangkan 7 kata pada Piagam Jakarta: “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Meski ada khusus lukisan KH Wahid Hasyim, menurut pria yang tak mau menyebutkan namanya itu, pada Jimat NU, ada Hadratussyekh dan Gus Dur. Kakek dan cucu menjadi pelengkap pada lukisan itu.

Pada Sabtu, (13/5) seorang berwajah tionghoa berbeda, dengan tato di tangan kanannya, tertarik pada lukisan Gus Dur. Lukisan itu berukuran paling besar dari yang lain. Ia dipajang di bagian muka dari sudut pandang pengunjung bila masuk dari pintu depan.

Lukisan itu menurut pria yang mengaku tinggal di Kemang, Jakarta, menampilkan rona Gus Dur yang tersenyum renyah, dengan latar belakang merah-putih. Ia suka lukisan itu.

Pameran lukisan wajah-wajah kiai bertajuk “Sang Kekasih” di Grand Sahid Jaya, Jakarta berakhir hari ini, Ahad (14/5). Pameran yang memajang 50 lukisan kiai-kiai Nusantara itu, dibuka Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. (Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
Gus Dur selalu Berbuat Adil, walau kepada Musuh-musuhnya

Gus Dur selalu Berbuat Adil, walau kepada Musuh-musuhnya

Gus Dur adalah salah satu tokoh pencetus perubahan di Indonesia. Selain dikenal sebagai mantan Presiden RI ke-4, suami Sinta Nuriya Dewi ini juga sering disebut sebagai bapak pluralisme. Konsistensinya berjuang demi kemanusiaan seringkali membuat banyak orang ‘geleng-geleng’ kepala. Pasalnya, banyak sekali sepak terjangnya di anggap sebagai sesuatu yang kontroversial.

Namun, tahukan Anda jika dibalik sikap tersebut Gus Dur  memiliki prinsip yang dipegang betul olehnya,Ya, prinsip tersebut adalah ‘Jangan sampai ke-tidak sukaanmu terhadap seseorang membuat dirimu berlaku tidak adil terhadapnya’. Tentu, ‘adil’ ini sangat mudah untuk di ucapkan, digembor-gemborkan, bahkan sebagai salah satu tema dakwah sebagaimana sekarang banyak ‘dai-dai online’ mensyiarkan adil di berbagai media sosial. Seperti, instagram, facebook, twitter dan masih banyak lainnya. Dengan dibumbui kata-kata sastra yang manis lengkap dengan ‘micin’ penggurih sehingga kata adil ‘laku’ keras sebagai salah satu ‘jualannya’. Namun pertanyaannya, mampu kah kita konsisten terhadap apa yang sering kita ucapkan? Atau kata adil hanya sekedar ‘abang-abang lambe’?
Gus Dur benar-benar memberikan keteladanan ‘adil’ pada kita dengan perbuatan. Seperti kasus PKI misalnya. Semua orang tahu bahwa menjadi korban tentu menjadi sesuatu yang pahit, warga Nahdlatul Ulama yang saat itu menjadi korban atau bahkan menurut prespektif lain bisa jadi pelaku. Tetapi terlepas perdebatan NU jadi pelaku atau korban, harus di akui memang NU juga pernah  ‘membalas’ semua perlakuan tidak ber-kemanusiaan tersebut.

Tetapi terhadap sesuatu yang di anggap ‘musuh’ apakah kita masih bisa berbuat adil. Dalam acara ‘Secangkir Kopi Bersama Gus Dur’ yang disiarkan langsung oleh TVRI, Selasa 15 Maret 2000 silam, Gus Dur secara terbuka meminta maaf dan mengusulkan pencabutan TAP MPRS XXV/1966. Ditemani Franz Magnis Suseno, Noorca, dan Effendy Choirie, Gus Dur menjelaskan latar belakang kenapa Peristiwa 65 perlu dibuka.
Menurut Koordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) Aan Anshori saat menjadi pemateri di forum gubuktulis bertajuk ‘Peristiwa 65, Belajar dari Gus Dur’, pihaknya mengungkapkan pasca secara terbuka Gus Dur meminta maaf dan usulannya untuk mencabut TAP MPRS XXV/1966 di TVRI, atmosfir politik memanas. Penolakan datang dari berbagai elemen masyarakat. MUI bereaksi keras mengecam. Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi, tidak sepakat dengan ide Gus Dur. Kecaman juga datang dari hampir seluruh kekuatan politik di Senayan. Pramoedya, kawannya yang juga Korban 65 pun tak kalah sinis atas pemaafan itu. Dia mengritik pedas Gus Dur.

Namun, apa yang dilakukan Gus Dur? Seperti biasa, Gus Dur malah ‘cuek bebek’. Bahkan, cucu dari Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari ini malah menepati janjinya, mengunjungi rumah Pram di kawasan Utan Kayu. Gus dur yang ditemani Inayah putri bungsunya, ditemui Pram dan Maemunah, istrinya. Sikap ksatria dari pesantren, tidak anti kritik, membalas orang yang mencibirnya dengan silaturrahim. Ingat loh ya, tahun 2000 itu Gus Dur masih jadi presiden. Jadi pada saat itu, seorang presiden datang ke rumah masyarakat yang sudah mencibirnya habis-habisan. Tentu tidak ada ‘deal-deal’ tertentu, sebagaimana seseorang bertandang ke rumahnya pemimpin partai politik.

  ;
Itu lah kenapa penulis bahkan banyak orang meyakini bahwa Gus Dur tidak pernah mengurangi sikap konsistennya dalam keadaan apapun, dia tidak hanya pandai dalam beretorika, tetapi mampu menyelaraskan antara laku dan pikiran. Motivasi Gus Dur sangat jelas; keadilan dan kemanusiaan. Hal ini tentu sebagai salah satu bentuk solidaritas terhadap nasib korban, yang sampai sekarang masih mengalami tekanan-tekanan dan kehilangan segala-galanya. Selain juga ada tujuan lain misalnya, mendinginkan suasana, yang implikasinya agar anak-anak muda NU dan PKI di masa-masa selanjutnya, merasa tidak punya dendam sehingga tidak ada lagi konflik yang berkepanjangan.
Cerita lain adalah, karena sikap kritisnya dan sering berlawanan kepada rezim orde baru, tidak bisa dipungkiri Gus Dur adalah salah satu ‘target’ Soeharto pada saat itu.

Muktamar NU ke-29 yang digelar pada 1-5 Desember 1994 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat bisa dibilang Muktamar paling menegangkan dan terpanas dalam sejarah NU. Mengapa? Pada saat itu, NU dan sosok Gus Dur dengan segala keberaniannya ‘melawan’ pemerintah, dipandang oleh Soeharto sebagai ancaman yang paling membahayakan. Tak pelak, hal ini membuat Soeharto dengan kekuasaannya, ingin memutus kewenangan Gus Dur di PBNU yang sejak tahun 1984 dipimpinnya. Slah satu cara yang ditempuh Soeharto adalah menumbangkan Gus Dur di Muktamar Cipasung. Presiden Soeharto melakukan berbagai intervensi dengan mendukung secara penuh salah satu calon Ketua Umum PBNU untuk melawan Gus Dur sebagai incumbent. Apa scenario yang dijalankan pada saat itu?
Ya, Soeharto memunculkan penantang dari internal NU sendiri yang pastinya anti-Gus Dur yakni Abu Hasan. Bahkan sang paman Gus Dur, KH Yusuf Hasyim, juga ikut terbawa menentang keponakannya itu. Oposisi Gus Dur inilah yang melakukan sejumlah agitasi dengan slogan ABG (Asl Jangan Gus Dur). Mereka mengemukakan kritik ‘pedas’ terhadap Gus Dur, yakni manajemen NU di bawah kepemimpinan Gus Dur dinilai lemah dan otokratik. Bahkan, menurut mereka, langkah Gus Dur ‘berseberangan’ dengan pemerintah di anggap bukan hanya menyimpang dari khittah NU, tetapi juga bertentangan dengan kepentingan NU sendiri. Itulah berbagai isu yang mereka buat untuk mengambil hati muktamirin.

Gelaran muktamar itu juga terkungkung penjagaan militer, terlebih Presiden Soeharto sendiri, Panglima TNI Jenderal Faisal Tandjung, serta para menteri rezim orde baru turut hadir di forum tersebut. Tidak hanya personel militer dan sejumlah intel yang menyebar di seantero lokasi muktamar, kendaraan lapis baja juga ikut mengelilingi arena Muktamar Cipasung. Meskipun intervensi begitu kuat, namun Gus Dur akhirnya tetap memenangkan ‘pertarungan’. Beberapa tahun setelahnya ternyata apa yang dilakukan Gus Dur? Dia tiap lebaran idul fitri selalu berkunjung ke rumah Soeharto. Dengan segala kebijaksanaan dan kerendahan hatinya, Gus Dur selalu menemui dulu orang yang sudah berusaha ‘membunuhnya’ itu. Lebih-lebih tatkala tampil di salah satu acara televisi nasional, Gus Dur ditanya presenter, kenapa kok Gus Dur masih saja mau berkunjung kepada orang yang sudah berniat tidak baik kepada Anda? “Lah wong itu bukan keinginan Pak Soeharto sendiri kok, hanya urusan politik, sudah itu saja,” jawab Gus Dur sambil tertawa.
Terakhir, contoh yang bisa saya berikan, seperti yang kita ketahui, Gus Dur sering berseberangan sikap dengan Ketua FPI ‘Kang’ Habib Riziez Syihab. Tetapi tatkala Mas Habib Rizieq ini di tangkap oleh polisi karena beberapa kasus beberapa tahun silam, Gus Dur malah dengan meyakinkan bahwa tindakan Habib Rizieq memprotes polisi atas penangkapannhya secara tidak langsung menunjukan ketundukan beliau pada UUD 1945. Dengan demikian, beliau menjaga dirinya dari tindakan apapun yang tidak sesuai dengan hukum. Boleh jadi Habib melanggar hukum, tetapi justru hukum itulah yang melindunginya dari tindakan apapun oleh negara atas dirinya, begitulah kira-kira pembelaan Gus Dur terhadap Habib Rizieq. Meskipun sering berseberangan pendapat, tetapi Gus Dur tidak segan untuk membelanya jika sesuai dengan hukum, demi prinsip keadilan dan kemanusiaan yang dia anut.
Gus Dur selalu menghormati siapapun dengan tulus, walaupun berbeda pandangan. Sekalipun itu kiai kampung, Gus Dur tetap tawadhu'. Guru Bangsa itu juga rela dicacimaki, yang penting umat dan bangsa selamat.

Menurut seorang ulama tasawuf KH Lukman Hakim, Gus Dur memandang bangsa ini sebagai keluarga besar. Apa artinya membangun keluarga bangsa jika saling melukai dan berdarah?

Gus Dur mampu memilah dengan mudah mana yang besar dan mana yang kecil, mana yang umum mana yang khusus, mana yang Allah dan mana yang makhluk.

Muhammad Faishol; @PecintaGusDur dari Gasek Malang, yang mudah-mudahan di akhirat nanti diakui  sebagai santrinya. Amin

Sumber : muslimoderat.net
Naga Hijau yang Mengepung Gus Dur

Naga Hijau yang Mengepung Gus Dur


Kisah kelam berupa pembantaian Guru Ngaji yang terjadi di beberapa kawasan di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, menjadi catatan dalam historiografi pesantren. Kerusuhan awalnya, terjadi di basis massa NU di Situbondo dan Tasikmalaya. Menjelang transisi kekuasaan Soeharto, situasi politik memanas dan ekonomi tidak stabil. Pada waktu itu, presiden Soeharto sedang gencar mengokohkan kekuasaannya, dengan dukungan militer.

Situasi memanas di ujung timur Pulau Jawa dan di kawasan selatan Jawa Barat. Pada 10 Oktober 1996, rakyat Situbondo bergerak karena tidak puas dengan Saleh yang hanya dituntut lima tahun penjara. Saleh dianggap menghina Islam, dan terlebih menyakiti hati dan menyinggung warga Situbondo. Akibatnya parah, 56 gedung terbakar (24 di antaranya gereja) dan beberapa korban meninggal.

Sementara di Tasikmalaya Jawa Barat, kerusuhan meletus pada 26 Desember, yang berawal dari aksi pemukulan polisi terhadap KH. Mahmud Farid. Kiai Mahmud merupakan guru ngaji di sebuah pesantren. Dari kerusuhan ini, tercatat 70 bangunan rusak serta 107 kendaraan terbakar dan empat korban meninggal dunia (D&R, Edisi 970125).

Mengapa ada istilah operasi Naga Hijau? Dalam catatan Hamid Basyaib (2000: 42), Gus Dur mengungkap, operasi-operasi yang dilancarkan untuk menyulut kerusuhan-kerusuhan tersebut, dinamakan operasi Naga Hijau. Dalam konteks politik Indonesia, hijau dapat bermakna TNI dan Islam. Bahkan, dalam konteks Operasi Naga Hijau, istilah ini merujuk pada pandangan pihak militer terhadap kelompok Islam yang dianggap 'ekstrem'. Karena ekstrem, maka perlu dikikis dengan operasi khusus. Inilah gagasan kontroversi yang dilontarkan Gus Dur, yang membuat heboh media nasional.

Dari lontaran Gus Dur, bola isu bergulir cepat. Pihak militer merasa tersinggung. Bahkan, beberapa pimpinan organisasi Islam semisal ICMI, juga merasa tidak enak dengan isu spekulasi yang dilontarkan Gus Dur. Bahkan, di beberapa daerah, Gus Dur sempat menyebut dalang Operasi Naga Hijau dengan sebutan 'ES'. Kontan saja, media memuat  berita yang menyebut inisial ES dengan menebak-nebak tokoh yang tepat.

Beberapa wartawan menyebut Edi Sudrajat, sedangkan yang lain menulis Eddy Sudjana. Ternyata, ini politik bahasa yang dimainkan Gus Dur untuk mengacaukan opini, dengan menghantam psikologi lawan politiknya. Gus Dur menggunakan media dan jaringan wartawan untuk melontakrkan gagasan-gagasan yang membuat medan pertarungan bergeser, dari pembantaian fisik menuju perdebatan gagasan.

Kemudian, Gus Dur memberikan klarifikasi yang tidak terduga. Bahwa, ES yang dianggap Gus Dur sebagai dalang Operasi Hijau bukanlah Edi Sudrajat, maupun Eggy Sujana, namun Eyang Soeharto. Jurus-jurus Gus Dur sengaja mengacaukan medan persilatan politik.

Gus Dur dikepung Naga Hijau ketika berusaha mempertahankan independensi Nahdlatul Ulama. Pada Mukmatar Cipasung tahun 1994, Gus Dur seolah terjepit dalam kepungan politik Soeharto. Presiden Soeharto datang ke arena muktamar dengan pengawalan ketat militer. Sebagai 'lawan' penguasa Orde Baru, Gus Dur diintai oleh kaki tangan presiden, yang berusaha merebut NU dari kendali kiai.

Dalam upacara pembukaan Muktamar, Gus Dur duduk di belakang, jauh dari panggung utama dan tempat duduk VIP. Padahal, Gus Dur menjadi Ketua Umum Tanfidziyah NU. Beberapa peserta muktamar juga dikawal langsung oleh aparat militer, yang mendapat tugas khusus untuk mengawasi pengurus-pengurus NU dari daerah, baik pada level cabang maupun provinsi. Tujuannya, agar para pengurus NU memilih Abu Hasan yang dijagokan Soeharto, daripada Gus Dur yang dianggap sebagai musuh pemerintah.

Imam Aziz, mengisahkan dalam buku Belajar dari Kiai Sahal (hal.100-101), betapa Gus Dur dan Kiai Sahal sangat dekat dalam pemikiran, namun sering berseberangan dalam prinsip memahami fenomena. Gus Dur memainkan jurus cepat yang membuat musuh bingung untuk mengejar maupun menghindar. Tidak jarang, Gus Dur juga menggunakan jurus mabuk, yang membuat bingung musuh-musuhnya. Sementara, Kiai Sahal lebih hati-hati dalam bersikap dan menentukan pilihan politiknya.

Mengenai Naga Hijau, Djohan Efendi memberikan kesaksian tentang kerusuhan yang terjadi di Situbondo. Pada waktu kerusuhan meletus, Djohan Efendi terjun langsung ke lokasi untuk memahami apa yang terjadi. Djohan tidak percaya dengan laporan media maupun kasak-kusuk yang ada di lingkaran pekerja informasi maupun elite politik. Djohan memilih menyerap informasi langsung ke masyarakat.

Ketika mengunjungi Situbondo, Djohan mendatangi Romo Beny yang menemani warganya ketika kerusuhan meletus. Djohan juga mengunjungi Gereja Romo Beny yang hanya tinggal atap, terbakar ketika terjadi kerusuhan. Dalam temuan Djohan Efendy, apa yang terjadi di Situbondo bukan dilakukan oleh warga, namun dari pihak luar (Sang Pelintas Batas, hal. 162).

Majalah D&R edisi No. 017, 12 Desember 1998, juga mencatat keterlibatan empat oknum anggota ABRI. Sayangnya pihak ABRI membantah keterlibatan empat oknum tersebut. Melalui siaran pers pada 10 Oktober 1998 bantahan itu dilakukan. Padahal Kepala Direktorat Reserse Polda Jawa Timur telah memberi keterangan kepada pers pada 9 Oktober 1998 tentang penangkapan empat oknum ABRI.

Intinya, Operasi Naga Hijau menjadi memori buruk bagi warga pesantren dan Nahdlatul Ulama. Munculnya Ninja-ninja yang membantai guru ngaji, merupakan peristiwa kelam yang dikenang oleh sebagian besar warga nahdliyyin. Istilah Naga Hijau sampai saat ini, masih sangat sensitif, karena terkait dengan pembantaian besar-besaran. Di tengah situasi demikian, kita teringat Gus Dur, bagaimana memainkan isu politik dan kekerasan dengan cara-cara strategis untuk menyelesaikan masalah, bukan memperkeruh suasana. []

Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Sumber : nu.or.id
Pengebom Dapat Bidadari di Surga?

Pengebom Dapat Bidadari di Surga?


Istilah ‘pengantin’ lekat dengan seseorang yang mengajukan diri melakukan bom bunuh diri. Iming-iming mati syahid dan mendapat bidadari surga turut menjadi sugesti tindakan terornya.

Alkisah, Gus Dur ditanya oleh seorang wartawan terkait maraknya ‘pengantin’ bom bunuh diri ini. Sebab dalam pandangan masyarakat umum, bagaimana bisa dikatakan syahid dan mendapat bidadari surga jika manusia tak berdosa ikut menjadi korban.

“Gus, menurut Anda, betulkah para pengebom itu mati syahid dan bertemu bidadari di surga?” tanya seorang wartawan.

“Memangnya sudah ada yang membuktikan?” tanya balik Gus Dur.

“Tentu saja belum kan, ulama maupun teroris itu kan belum pernah ke surga,” sergah Gus Dur lagi.

“Lalu, apakah benar mereka tergolong mati syahid, Gus?” wartawan lain menimpali.

“Mereka itu yang jelas bukan mati syahid, tetapi mati sakit. Kalau pun mereka masuk surga, mereka akan menyesal bertemu bidadari," jawabnya.

"Kenapa Gus?"

"Karena kepalanya masih tertinggal di dunia dan ditahan oleh polisi,” seloroh Gus Dur.

“Geeerrrrr.....”

(Fathoni Ahmad)

Cerita ini disarikan dari buku “The Wisdom of Gus Dur: Butir-butir Kearifan Sang Waskita”, (Imania, 2014).

Sumber : nu.or.id
Kala Gus Dur Beri Gelar ‘KH’ Sastrawan Ahmad Tohari

Kala Gus Dur Beri Gelar ‘KH’ Sastrawan Ahmad Tohari


Pada tahun 1988, sastrawan Ahmad Tohari (AT) berada di Tanah Suci Mekkah bersama Gus Dur, Cak Nur, juga Prof Quraish Shihab. Bersama-sama mereka menunaikan ibadah haji. Di Masjidil Haram, usai melaksanakan Thawaf Wada', Gus Dur mendekati Pak AT, dan terjadilah percakapan.

"Ehmm, ehmm, Sampeyan sekarang sudah bergelar 'KH' ya, Kang?" Tutur Gus Dur, sambil mengulum senyum.

"Ah, bisa saja Sampeyan ini, Gus," timpal AT.

"Eh, Sampeyan jangan Ge-eR dulu!"

"Kenapa, Gus?"

"Gelar 'KH' buat Sampeyan itu bukan 'Kiai Haji', tapi 'Kang Haji'," seloroh Gus Dur, yang kemudian dilanjut tawa keduanya. (Wahyu Noerhadi)

*Kisah di atas diceritakan langsung oleh Pak AT ketika beliau sedang di Jakarta, sebelum menghadiri undangan dari Sekretaris Negara pada Selasa (3/05/2017).

Sumber : nu.or.id
Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan


Minggu yang lalu saya pulang ke kampung halaman, Tabalong, yang berada sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin. Dalam perjalanan dari Banjarmasin, kami singgah di sebuah warung makan di kota Kandangan. Seperti umumnya warung dan rumah orang Banjar di kawasan ini, dinding warung ini dipenuhi poster foto-foto ulama.

Di antara puluhan poster foto itu, ada foto Tuan Guru H. Zainie Ghanie atau biasa dipanggil dengan sebutan "Guru Sekumpul" duduk  bersila berhadapan dengan KH Abdurrahman Wahid, atau akrab disebut Gus Dur. Jika Guru Sekumpul mengenakan baju koko putih dan serban putih, maka Gus Dur mengenakan kemeja batik oranye dan peci hitam. Tangan kanan Guru Sekumpul berada di bahu Gus Dur. Jelas keduanya terlihat akrab dan dekat.

Pemasangan poster foto ulama adalah salah satu wujud penghormatan terhadap para ulama. Pemasangan poster Guru Sakumpul dan Gus Dur, menunjukkan penghormatan pemilik restoran pada sosok ulama tersebut. Dan sudah barang tentu ia berharap orang-orang, para pengunjung restorannya juga menghormati mereka berdua.

Catatan Kenangan

Poster foto itu mengingatkan saya pada kenangan sekitar seperempat abad yang lalu. Ketika itu Gus Dur datang ke Salatiga untuk menjadi pembicara dalam Konferensi Agama-Agama (KAA) yang digelar oleh PGI. Rupanya sehabis kegiatan itu Gus Dur berniat untuk mengunjungi puterinya, Alissa, mahasiswi Fakultas Psikologi UGM yang kala itu sedang KKN di Magelang. Gus Dur minta kepada kami, teman-teman di Yogya, untuk ditemani. Kebetulan saya waktu itu yang mendapat pesan panitia sedang tidak ada kegiatan. Jadilah saya yang menemani beliau.

Di dalam mobil Toyota Kijang milik panitia seperti biasa pula Gus Dur berbincang akrab. Bercerita tentang situasi politik, bertanya tentang perkembangan buku dan dunia intelektual dan tentu saja diselingi humor yang segar. Kadang suara Gus Dur lenyap karena tertidur, terdengar suara dengkur, tapi hanya sebentar, lalu kemudian terbangun lagi untuk melanjutkan perbincangan.

Tiba-tiba saja Gus Dur bertanya, siapa di Kalimantan Selatan sosok ulama yang sekarang sangat dihormati. Dengan spontan, saya menjawab "Tuan Guru H. Zainie Ghanie". Saya ceritakan bagaimana pengajian rutin yang diasuh beliau di sebuah kawasan kampung senantiasa dihadiri ribuan masyarakat dan bagaimana kampung itu, ‘Sekumpul’, kemudian dinisbahkan kepada beliau. Jadilah julukan akrabnya ‘Guru Sekumpul’. Nisbat seseorang pada nama sebuah kampung jelas menunjukkan kelas ketokohannya. Dalam sejarah Islam di Kalimantan, ini disandang misal oleh ‘Guru Kelampayan’, gelar kultural-keagamaan bagi Syekh Muhammad Arsyad, yang membuka dan mengembangkan pengajaran Islam di kampung Dalam Pagar, di daerah Kelampayan pada abad 18. Sanad guru-murid Tuan Guru Sekumpul sendiri terhubung sampai Guru Kelampayan ini.  
Gus Dur menyimak dan mendengarkan informasi yang saya sampaikan tersebut. Sembari diselingi beberapa pertanyaan mengenai detail yang tampaknya ingin beliau ketahui lebih lanjut.

Perbincangan itu mungkin berlangsung sekitar bulan April 1994. Langit politik Indonesia sedang kemarau karena protes dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan Soeharto mulai bertumbuh dan menjamur luas. Dalam iklim yang panas itu, NU juga mengalami efek panas yang luar biasa karena Gus Dur –yang notabene Ketua Umum PBNU-- merupakan sumbu penting suara-suara protes tersebut.

Pak Harto konon sangat marah kepada Gus Dur. Beberapa kali Gus Dur hendak mengajukan sowan untuk melaporkan rencana pelaksanaan muktamar sekaligus meminta kepada Pak Harto untuk membuka, selalu ditolak.

Kala itu Pak Harto sudah tidak ingin Gus Dur jadi ketua umum lagi. Karena ITU, ‘perintah alus’-nya –suatu istilah era kolonial yang menunjukkan ketidakinginan pemerintah kepada suatu figur duduk dalam sebuah organisasi--  melalui aparat militer dan birokrasi berbagai cara dilakukan untuk menjegal Gus Dur. Bahkan ketika menabuh gong untuk membuka muktamar, Pak Harto sama sekali tidak menyapa dan hanya membelakangi Gus Dur. "Dinengke" dan "ra dianggap", istilah Jawanya, suatu simbol politik khas Jawa yang sangat keras.

Muktamar terpanas dalam Sejarah NU, dan politik masyarakat sipil Indonesia di ujung Orde Baru itu berlangsung dengan keras dan berakhir dramatis dengan terpilihnya kembali Gus Dur sebagai ketua PBNU. Gus Dur hanya memenangkan 3 suara dengan pesaingnya, sosok yang sama sekali tak dikenal, Hasan Syazili.

Tapi poinnya bukan itu. Pada Muktamar NU 1994 itu, saya –yang merupakan peserta ‘romli’ (rombongan liar) bertemu dengan senior Dr. Humaidi Abdussami, dosen IAIN (sekarang UIN) Antasari, Banjarmasin, yang datang sebagai peserta muktamar dari NU Kalimantan Selatan. Ia bercerita bahwa sebenarnya Guru Sekumpul ingin datang ke Muktamar ini. Dalam pengajian minggu sebelumnya beliau bilang minggu ini pengajian libur karena ingin menghadiri muktamar atas undangan Gus Dur. Sayang sekali, lanjut Humaidi, pada hari "H' muktamar, Guru Sekumpul sakit, sehingga beliau batal hadir.

Saya tidak tahu apakah waktu ngobrol di mobil dan bertanya tentang ulama di Kalimantan Selatan beberapa bulan sebelumnya itu Gus Dur memang belum tahu dan tidak pernah mendengar nama Guru Sekumpul. Apakah beliau hanya ingin menguji pengetahuan saya saja? Atau hanya sekadar untuk mengonfirmasi dan mencocokkan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya mengenai Guru Sekumpul. Entahlah. Yang jelas, seperti cerita Dr. Humaidi Abdussami di atas, Guru Sekumpul berniat datang ke muktamar atas undangan Gus Dur, meski kemudian batal karena berhalangan.

Terlepas dari ketidakdatangan beliau, di dalam kepengurusan NU kemudian nama Guru Sekumpul dengan nama resmi KH Zaini Abdul Ghani, tercantum sebagai salah satu dari 9 anggota mustasyar PBNU perode 1994-1999. Mustasyar artinya penasehat. Mustasyar atau Dewan Penasehat ini berada di strata paling tinggi dalam struktur kepengurusan NU.  Mustasyar memang dari segi praktik lebih merupakan daftar nama. Tidak ada tugas organisasi yang harus diemban. Tetapi dari segi makna, mustasyar menunjukkan pengakuan tinggi organisasi ini pada sosok ulama sebagai garda pengawal organisasi ini. Ulama merupakan simbol organisasi ini.

Nama Guru sekumpul sebagai mustasyar itu bermakna lebih penting lagi mengingat setelah muktamar itu, NU terseret konflik antara kubu Gus Dur dan Abu Hasan yang kemudian membuat “NU Tandingan”. Kebetulan NU Kalimantan Selatan berada di kubu yang berseberangan dengan Gus Dur. Namun penentangan terhadap Gus Dur dari Kalimantan Selatan ini tidak begitu keras karena ada nama Guru Sekumpul dalam barisan Mustasyar, meski Guru Sekumpul sendiri tidak turut campur sama sekali. (Kelak sebelum Abu Hasan dan Gus Dur meninggal, keduanya bertemu, islah, dan saling memaafkan. Perbedaan pandangan politik adalah satu hal, persaudaraan adalah hal lain.)

Ketika tahun 2012 saya turut diajak menjadi salah seorang tim penulis dan penyunting Eksiklopedi NU, saya mengusulkan dan memasukkan nama Guru Sekumpul sebagai lema. Usulan ini diterima bulat dan jadilah sosok Guru Sekumpul terpampang sebagai salah satu lema dalam ensiklopedi tersebut.

Menjadi NU sendiri tidak mesti memiliki kartu anggota atau menjadi pengurus. Demikian dengan Guru sekumpul. Dari segi ajaran yang diajarkan dan dikembangkan beliau adalah NU sejati. Pengaruh dan sumbangannya pun amatlah besar kepada ‘masyarakat NU’, bukan hanya di Kalimantan Selatan, tapi di lima penjuru Kalimantan, bahkan keluar Kalimantan. Karena itu apakah namanya masuk dalam jajaran pengurus NU atau tidak, tidaklah penting bagi beliau. Demikian juga, andai tak dicantumkan dalam ensiklopedi, itu sama sekali tak mengurangi kebesaran namanya, seperti juga pencantuman itu tak menambah kebesaran namanya. Yang merasa berkepentingan dan untung tentu NU sendiri karena pencantuman itu memiliki makna simbolik yang dalam dan luas.

Presiden Gus Dur dan Kampanye

Tahun 1999. Politik Indonesia mengalami perubahan yang cepat dan dramatis seusai Pak Harto dimakzulkan. Tak dinyana, Gus Dur diangkat menjadi presiden, lewat suatu kemelut politik yang rumit.

Gus Dur adalah penggemar silaturahmi. Ia bersilaturahmi ke mana dan ke siapa saja. Menjadi presiden tak menghalanginya untuk terus melanjutkan hobi silaturahminya tersebut. Tentu saja ulama selalu ada dalam daftar kunjungan silaturahmi Gus Dur. Dan di antara ulama itu tersebutlah nama Guru Sekumpul.

Pada hari Jum'at, 26 Mei tahun 2000 Gus Dur bersilaturahmi ke Martapura mengunjungi Guru Sekumpul dan berziarah ke makan Maulana Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Dalam pertemuan itu, Gus Dur menghadiahi Guru Sekumpul satu pak rokok bermerek Istana Presiden. Gus Dur tahu kalau Guru Sekumpul suka merokok. Menurut cerita, Guru Sekumpul menerimanya, tertawa sangat senang dan berterima kasih. Seorang penulis, Muqarramah Sulaiman Kurdi, menggambarkan pertemuan keduanya “tampak sangat akrab dan penuh canda tawa. Keduanya seperti sahabat lama yang baru bisa berjumpa kembali pada saat itu.”

Menurut catatan, itu adalah pertemuan pertama Gus Dur dan Guru Sekumpul. Tapi dari arsip foto yang beredar luas, di mana Gus Dur maupun Guru Sekumpul mengenakan pakaian yang berbeda, setidaknya Gus Dur lebih dari sekali bertemu dan bersilaturahmi ke tempat Guru Sekumpul. Bisa jadi sebelum dan sesudah 26 Mei 2000 di atas sudah pernah. Namun karena kunjungan di 26 Mei 2000 ini merupakan kunjungan tidak resmi Gus Dur sebagai presiden, maka inilah yang dicatat sebagai yang pertama dan diliput secara luas.

Dalam hal ini, patut saya ulang cerita yang kembali saya kutip dari Dr. Humaidy Abdussami tentang Guru Sekumpul dan Gus Dur ini. Sudah umum diketahui bahwa setelah reformasi, Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Tentu saja pendirian ini tidak menyenangkan partai-partai lama, karena menggerus pendukung mereka, terutama dalam hal ini Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang di Kalimantan Selatan, notebene juga berbasis pada masyarakat NU.

Pada kampanye Pemilu 1999, kontestasi antara  PKB dan PPP pun tak bisa dihindari. Tak terkecuali di Kalimantan Selatan. Dalam kampanye inilah muncul ejekan yang tidak semestinya kepada Gus Dur sebagai pendiri dan Ketua Umum PKB. Fisik Gus Dur yang tak bisa melihat dan buta pun menjadi sasaran ejekan.

Guru Sekumpul rupanya mendengar hal itu. Dalam sebuah pengajian, akhirnya beliau mengatakan yang kira-kira dalam bahasa Banjar kurang lebih demikian: “Aku mandangarlah ada bubuhannya manyambati Gus Dur tu picak. Aku baritahu buhan ikam, jangan diulang lagi, Gus Dur itu ulama. Anak ulama. Dan cucu ulama. Kalo katulahan kaina.” (Aku mendengar banyak orang mengejek Gus Dur picek. Aku kasih tahu kalian, jangan dilakukan lagi, Gus Dur itu seorang ulama. Anak seorang ulama, cucu seorang ulama. Bisa kuwalat kalian nanti.) Demikian kira-kira cerita Humaidy Abdussami, dengan paraprase yang saya buat kembali. Dan peringatan Guru Sekumpul itu bergema seperti guntur. Sejak itu tak ada lagi ejeken demikian terhadap Gus Dur.

Cerita ini menunjukkan betapa Guru Sekumpul sangat menghargai ulama di satu pihak, dan menganggap Gus Dur sebagai salah seorang ulama yang patut dihargai juga. Yang kedua, Guru Sekumpul secara tidak langsung mengingatkan bahwa berbeda boleh saja, Karena itulah Guru Sekumpul tidak memerintahkan memilih salah satunya.  Tetapi yang diingatkan beliau adalah tetap menjaga sopan santun dan akhlak serta persaudaraan.

Guru Sekumpul dan Gus Dur: Dua Wali Awal Abad 21

Baik Guru Sekumpul maupun Gus Dur adalah ulama. Namun keduanya tampil sebagai ulama dalam pola dan lapangan pengabdian yang berbeda, meski dasar ajaran yang dikemukakan pada dasarnya sama.

Guru Sekumpul adalah ulama par excellent. Beliau menempuh pendidikan dalam lingkungan keagamaan tradisional yang ketat, hampir tanpa persentuhan sedikit pun dengan pendidikan modern. Lalu pada masanya kemudian beliau dipercaya oleh guru-guru beliau untuk memberikan pengajian sendiri. Mula-mula di kampung Keraton. Namun karena pengajiannya makin membesar, dan kampung Keraton tak bisa menampung lagi, beliau pindah ke sebuah kawasan yang relatif masih sepi: Sekumpul.

Pengajian-pengajian Guru Sekumpul berisi pengajaran-pengajaran tasawuf, baik tasawuf akhlaqi maupun falsafi. Selain itu, beliau juga menggelar pembacaan shalawat Simtut Durar, yang dua dekade kemudian populer di sekujur Jawa melalui pengasuhan Habib Syekh yang bersuara empuk.

Guru Sekumpul memberikan pengajaran dengan menggunakan kitab dan orang-orang –juga dengan memegang kitab yang dibacakan-- duduk menyimak pembacaan dan penjelasan kitab tersebut. Cara mengajarnya sangat komunikatif sekali dan mudah dipahami. Sesekali beliau menyelipkan humor yang segar. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Banjar dengan diselingi Bahasa Indonesia.  

Guru Sekumpul tak pernah mengenal yang namanya diskusi, seminar, workshop dan sejenisnya. Beliau tak pernah ikut pelatihan organisasi apapun. Beliau juga bukan orang politik, meski demikian, pengaruh politiknya sangat besar sekali, khususnya di kawasan Kalimantan. Karena itu taklah aneh jika hampir seluruh pimpinan politik di kawasan tersebut menyempatkan untuk mengunjungi beliau dan setiap calon pimpinan daerah berusaha mengejar restu beliau.

Berbeda dengan itu, Gus Dur tumbuh sebagai ulama dengan kombinasi pendidikan keagamaan tradisional dan pendidikan modern. Ia menulis esai-esai dan mengulas berbagai perkara mulai agama hingga sepakbola di media-media. Ia menjelajahi berbagai profesi dari pekerja LSM, dosen, penulis, konsultan, politisi dan lain-lain. Ia juga bertemu dengan banyak kalangan yang berwarna-warni dan beragama dari agama, etnis, bangsa, budaya, profesi dan banyak lagi lainnya. Artinya sebagai ulama, Gus Dur adalah ulama dengan banyak wajah dan dengan gelanggang yang sangat luas.

Gus Dur memandang tinggi Guru Sekumpul dan karena itu meminta beliau untuk masuk ke jajaran mustasyar, dewan penasihat, himpunan sembilan ulama yang layak memberikan nasihat. Sebaliknya Guru Sekumpul sendiri memandang Gus Dur sebagai ulama.

Lantas di manakah ‘perjumpaan’ antara keduanya? Perjumpaan keduanya terletak pada konsistensi untuk memperkenalkan Islam sebagai agama tauhid dengan nilai-nilai yang universal: kasih sayang, perdamaian, pembebasan. Islam sebagai yang berserah diri dan pasrah.

Guru Sekumpul tak pernah terlibat dalam dialog-dialog antaragama, tetapi pengajaran-pengajaran beliau mengandung dimensi pengembangan jiwa pribadi maupun umat secara mendalam. Seorang teman Katolik pernah bercerita bahwa ia pernah mendengar beberapa kali rekaman pengajian Guru Sekumpul dan ia mengaku sangat apresiatif. Pengajaran-pengajaran beliau penuh dengan nilai-nilai positif, pembangunan karakter jiwa, optimisme, dan kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat. Dan yang penting lagi, menurutnya, tidak ada sama sekali, nada-nada permusuhan dengan kalangan lain.

Bergerak di wilayah lain dan dengan strategi yang berbeda, Gus Dur memperkenalkan Islam yang ramah, bukan yang marah. Tak lelah dan tak kenal henti ia meyakinkan bahwa Islam agama yang penuh penghormatan pada martabat kemanusiaan, toleran, dan adil.

Sebuah tulisan dari Muqarramah Sulaiman Kurdi di Gusdurian.net dengan baik mengulas perjumpaan Islam yang diajarkan Guru Sekumpul dan 9 nilai yang dikembangkan Gus Dur selama ini. Dalam bahasa yang singkat, keduanya mengajarkan ‘Islam yang basah’, mengutip Frithjof Schuon, bukan ‘Islam yang kering’, yang hanya memperkenalkan aspek-aspek permukaan dan parsial dari Islam. Tak heran kalau keduanya sangat mendalam pengaruhnya di kalangan pengikutnya masing-masing. Dan tidak aneh juga jika seseorang bisa menjadi pengikut Guru Sekumpul sekaligus penyuka Gus Dur seperti tercermin dalam sosok pemilik restoran yang dikutip di pembuka tulisan di atas.

Saya bersyukur pernah berguru kepada kedua ulama ini secara langsung. Pada masa pendidikan di pesantren dulu, saya cukup sering mengikuti pengajian Guru Sekumpul. Waktu itu, beliau masih menyelenggarakan majlis di Kampung Keraton dan belum lagi pindah ke daerah Sekumpul. Dari Pesantren Alfalah kami naik angkot ke kota Martapura sehabis Asar, mengikuti salat magrib jamaah dan kemudian dilanjut dengan pengajian kitab beliau, di antaranya kitab Ihya ‘ulumiddin dan Risalah Mu’awanah. Sementara pada masa mahasiswa, saya sering sekali bertemu Gus Dur, bahkan sempat berbincang-bincang berdua secara lebih dekat.

Beberapa tahun lalu, ketika ziarah ke makam para wali, baik di Kalimantan maupun di Jawa, saya pernah terpikir bahwa mereka yang disebut wali dan makamnya dikeramatkan dan diziarahi orang banyak tak henti-henti, adalah tokoh-tokoh masa lalu. Sekarang dan akan datang tak akan pernah ada lagi sosok-sosok demikian.

Ternyata anggapan saya itu keliru. Ketika Tuan Guru Haji Zainie Ghani atau Guru Sekumpul wafat tahun 10 Agustus 2005, lautan manusia melepaskan kepergian beliau. Setelah itu makam beliau di Sekumpul yang sangat bersih dan tertata rapi tiap hari selalu diziarahi banyak orang. Dan haul tahunan Guru Sekumpul juga dihadiri ratusan ribu umat Islam.

Tak berbeda jauh dengan Guru Sekumpul, ketika Gus Dur wafat 30 Desember tahun 2009, ribuan orang juga turut melepasnya. Lalu setelah itu makamnya di Tebu Ireng kini menjadi situs ziarah yang tak pernah habis. Sedemikian besarnya, tak aneh jika K. H. Maimun Zubair dari Sarang, pernah mengemukakan kecemburuannya dan bertanya kepada Gus Mus, apa gerangan amalan rutin Gus Dur sehingga pemakamannya dihadiri ratusan ribu orang dan makamnya tak pernah sepi penziarah. Uniknya penziarah Gus Dur bukan hanya umat Islam, sebagian juga datang dari kalangan lain.

Baik Tuan Guru Sekumpul dan Gus Dur adalah wali Indonesia abad 21.  

Sumber : nu.or.id
Indahnya Perbedaan Pendapat Para Kyai NU, tidak ada Tuduhan Liberal

Indahnya Perbedaan Pendapat Para Kyai NU, tidak ada Tuduhan Liberal


Pada tahun 1928 terbit majalah Suara Nu, pada nomor perdana majalah anyar itu dimuat tulisan Syekh Hasyim Asy’ari mengenai hukum menabuh beduk sebagai sarana memanggil jamaah sholat di masjid dan surau. Syekh Hasyim Asy’ari menyebut bahwa menabuh beduk untuk sarana memanggil sholat itu ada dalilnya, hal ini diqiyaskan pada penggunaan alat musik duf. Dalam tulisan yang sama, Syekh Hasyim juga menyinggung hukum menabuh kentongan. Berbeda dengan beduk, menurutnya, menabuh kentongan untuk memanggil jamaah sholat tidak ada dalilnya, dan untuk itu beliau memutuskan tidak boleh menabuhnya.

Pada bulan berikutnya, pada nomor kedua majalah yang sama, giliran Syekh Faqih Maskumambang menulis. Kali ini majalah Suara NU memuat tulisan Syekh Faqih Maskumambang, tulisan yang menanggapi tulisan Syekh Hasyim Asy’ari yang dimuat pada nomor sebelumnya, soal tidak bolehnya menabuh kentongan. Menurut Syekh Faqih Maskumambang menabuh kentongan yang ditujukan untuk memanggil Sholat hukumnya diperbolehkan, dengan men-qiyaskan kebolehannya pada kebolehan menggunakan beduk untuk memanggil sholat.

Syekh Faqih Maskumambang kala itu menjabat sebagai wakil Rais Akbar Nahdlatul Ulama, atau wakil dari Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari yang berkedudukan sebagai Rais Akbar Nahdlatul Ulama. Keduanya menjadi rujukan bagi murid-muridnya dan bagi warga nahdliyyin pada umumnya.
Setelah dua tulisan itu beredar luas, Syekh Hasyim Asy’ari memanggil semua muridnya untuk mendengar pembacaaan dua tulisan yang membahas hukum menabuh kentongan tersebut. Kedua tulisan yang bertolak belakang itu dibacakan di depan santri-santri, setelah dibacakan, Syekh Hasyim kemudian menyampaikan keputusannya; bahwa kedua dalil kebolehan dan pelarangan menabuh kentongan sama kuatnya. Sehingga sebab itu, Syekh Hasyim mempersilahkan siapa saja untuk menggunakan kentongan atau tidak menggunakan kentongan. Namun, Syekh Hasyim Asy’ari meminta kepada muridnya, supaya di masjidnya tidak ada yang menabuh kentongan.

Tidak lama setelah polemik boleh tidaknya memukul kentongan itu ramai dibicarakan, Syekh Hasyim Asy’ari berencana berkunjung ke pesantren yang dipimpin Syekh Faqih Maskumambang di Gresik. Mengetahui kabar Syekh Hasyim hendak datang berkunjung ke Gresik, Syekh Faqih Maskumambang cepat-cepat mengutus seratus muridnya untuk mendatangi desa-desa di Gresik dan sekitarnya, guna memberi himbauan kepada pengurus-pengurus masjid dan musholla; bahwa nanti selama Syekh Hasyim Asy’ari berkunjung ke Gresik, semua masjid diminta untuk menurunkan kentongan atau sedikitnya tidak menabuh kentongan pada menjelang waktu sholat.

- Cerita mengenai etika mengusung pendapat di atas disampaikan oleh almarhum Gus Dur pada satu kesempatan di Situbondo, di hadapan Syekh Ahmad Shofyan dan Kiai Cholil As’ad Syamsul Arifin, dengan sedikit penyesuaian tentu saja.

Sumber : muslimoderat.net
Kesan Cak Lontong Bergaul dengan Orang NU

Kesan Cak Lontong Bergaul dengan Orang NU


Pelawak Cak Lontong mengaku lahir dalam tradisi NU. Pada masa kecilnya, dia kerap mengikuti tahlilan yang diadakan tetangganya. Bahkan ia juga pernah mengikuti tradisi zikir wida. Pada masa SMA dia juga pernah membordir topinnya dengan logo NU.

“Dulu saya punya topi banyak tak bordir. Topiku dulu tak bordir NU kalau zaman SMA. Kuliah topiku masih bordiran NU. Kecil di kampung tahlilan ikut, dzikir wida,” ungkapnya sebelum tampil di peringatan Harlah NU ke-91 di gedung PBNU, Jakarta, pada Selasa (31/1).

Ia mengaku kerasan ketika bergaul dengan orang-orang NU. Menurutnya, orang NU itu santai dan tidak ribet dan sarat dengan nuansa kebudayaan.

“Nyantai, tidak ribet. Terus budayanya itu kental. Misalnya acara gini kan harlah NU, ulang tahun, nyantai aja peringatannya, walaupun Nahdliyin pada datang rame, tidak perlu nyari gedung harus penuh. Enak, ya nyantai,” jelas pria bernama asli Lies Hartono.

Ia berpendapat, orang NU itu bisa mengurusi dirinya sendiri sehingga tidak merepotkan. Contohnya, jika datang pada suatu acara, orang NU tidak mau merepotkan tuan rumahnya.

Ia menyebutkan contoh persinggungan dengan orang NU tersebut dengan Ketua PBNU H Syaifullah Yusuf (Wakil Gubernur Jawa Timur) juga Ketua PBNU M. Nuh yang pernah menjadi rektor di kampus Cak Lontong, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Ia juga mengaku salah seorang yang menyukai KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada tahun 1994, ketika ia mahasiswa, ada Muktamar NU di Cipasung. Ia waktu itu pada posisi mendukung Gus Dur yang dijegal menjadi Ketua Umum PBNU melalui Abu Hasan.

Ketika ditanya apakah ia memperkenalkan NU kepada anak-anaknya, menurutnya tidak. Namun mereka, anak-anaknya itu, tahu tentang NU.

“Walaupun tak jadi pengurus, tapi follower, tahu,” katanya. (Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
Cuti ala Gus Dur

Cuti ala Gus Dur


Cuti merupakan jadual libur yang diambil oleh pegawai pada waktu tertentu, tak terkecuali bagi seorang Presiden.

Namun demikian lain menurut Gus Dur. Baginya, seorang Presiden tidak ada waktu untuk meliburkan diri. Lalu bagaimana untuk mengatasi rasa lelah dan capek?

Cerita terkait ini berawal dari usulan cuti. Gus Dur ditanya tentang persoalan cuti seorang Presiden RI.

“Gus, menurut Anda, bagaimana tentang cuti ini?” tanya seorang wartawan kepadanya.

“Cuti? Waah, urusan negara teramat penting untuk ditinggal cuti oleh presidennya hanya karena lelah bekerja,” jawab Gus Dur tegas.

“Lalu bagaimana untuk mengatasi lelah bagi seorang Presiden kalau tidak ada cuti, Gus?” wartawan lain menimpali.

“Kalau lelah, ya tidur saja tidak usah cuti segala,” jawab Gus Dur enteng.

Gus Dur kembali berseloroh, “Begini, waktu saya jadi Presiden, saya tidak pernah cuti. Kalau lelah ya tidur meski lagi sidang kabinet”.

Tawa orang-orang yang sedang mengelilinginya pun pecah, “Geeerrr....”.

(Fathoni Ahmad)

Sumber : nu.or.id
Angkatan Udara Tak Bisa Terbang

Angkatan Udara Tak Bisa Terbang


Predikat Humoris begitu melekat kepada Presiden Indonesia ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau yang kita kenal dengan Gus Dur. Pasca wafatnya, kekayaan humor Gus Dur sudah berserakan di buku, internet, dan juga pada orang-orang yang pernah dekat denganya, termasuk Prio Sambadha yang pernah jadi Staf istana kepresidenan.

Pada acara kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (1/4/2017) ini menghadirkan Prio Sambadha yang menjadi salah satu pembicaranya.

Di sela-sela pemaparannya, Prio berbagi humor tentang angkatan laut yang tidak bisa berenang. Angkatan laut yang dipanggil dengan pak Rum itu sebelumnya bercerita kepada Prio bahwa dirinya yang tidak bisa berenang.

Pada satu waktu yang santai, kata Prio, orang-orang berkumpul, ada Yenni Wahid, Gus Dur, Pak Rum, dan Prio sendiri. Prio melihat bahwa ini adalah momentum yang tepat untuk menceritakan kepada Gus Dur dengan dengan nada mengompori.

“Gus, ini loh Pak Rum, masa Angkatan Laut ga bisa berenang,” ungkap Prio kepada Gus Dur.

Mendengar Prio cerita ke Gus Dur, muka Pak Rum pucat.

Gus Dur sendiri yang mendengar cerita Prio tidak langsung menanggapinya, melainkan diam.  Sesaat kemudian, Gus Dur baru merespon, tapi sangat singkat.

“Gitu ya,” kata Gus Dur.

“Iya, Gus. Masa Kolonel ga bisa berenang, jadi ajudan Presiden lagi,” kembali Prio mengompori.

Kali ini Gus Dur menanggapi cukup panjang, tapi ternyata tanggapannya sama sekali tak terpikirkan Prio.

“Ya ga pa-pa, itu dari angkatan udara juga ga bisa terbang,” seloroh Gus Dur.

(Husni Sahal)

Sumber : nu.or.id
close
Banner iklan disini