Cerita Aktivis Walk Out dari Sidang Jumat karena Cinta Gus Dur


Dalam aktivitas berorganisasi, mahasiswa diajarkan manajemen organisasi hingga teknik sidang. Hal ini penting untuk kemajuan organisasi apalagi para aktivis sering melakukan berbagai jenis sidang. Di antaranya diajarkan cara menyampaikan interupsi.

Bahasa dan gestur interupsi seperti mengacungkan tangan dengan menyampaikan ucapan point of  order, point of information, point of clarrification, dan poin of personal privilege, serta walk out menjadi kode wajib dalam persidangan.

Suatu ketika ada seorang aktivis mahasiswa yang sedang mendengarkan khutbah Jumat. Mahsiswa tersebut sangat mencintai dan mengagumi Gus Dur sebagai seorang kiai, ulama, pemimpin, pemikir, penggerak, dan guru bangsa.

Namun, dia sedikit kaget ketika sang khotib shalat jumat menjelek-jelekkan Gus Dur dalam khutbahnya. Bagi dia, khutbah sidang jumat tidak boleh menjelek-jelekkan seseorang atau kelompok orang sehingga ia pun tak segan menyampaikan interupsi kepada khotib.

Aktivis yang memang paham betul tentang syarat khutbah itu tidak terima mendengar ceramah sang khotib yang terus-terusan menjelek-jelekkan nama Gus Dur, sang idola.

Dia pun lalu berdiri dan mengacungkan tangan, "Pak khotib, interupsi, point of order!" Khotib pun lalu tercengang melihat aksi seorang jamaah jumat yang terlihat masih muda itu.

"Pak Khotib, interupsi point of order!" ucapnya mengulangi. "Ada apa?" jawab khotib.

"Khutbah bapak menjelek-jelekan Gus Dur, itu tidak boleh pak, saya Walk Out!" Lalu dia pun pergi dan mencari masjid lain. (Bakti Alkasefi/Fathoni)

Sumber : nu.or.id
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Cerita Aktivis Walk Out dari Sidang Jumat karena Cinta Gus Dur"

Post a Comment

close
Banner iklan disini