Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU?

Cak Lontong: Saya Suporter NU Terus, Masa Pindah ke MU?


Pelawak Cak Lontong menguraikan pengalamannya bersinggungsn dengan tradisi, tokoh, dan warga NU. Menurut dia, orang NU itu santai, tidak ribet, dan bisa mengurusi dirinya sendiri. Dan tentu saja sangat kental dengan nuansa budaya.

Hal itu dikemukakannya beberapa saat sebelum tampil di peringatan Hari Lahir NU ke-91 di halaman gedung PBNU, Jakarta, 31 Januari lalu, sembari memilih batik NU yang cocok untuk dikenakannya.

Berikut wawancara lengkap Cak Lontong dengan Abdullah Alawi dari NU Online:

Sejak kapan Anda mengenal NU?

Saya dari dulu suporter NU memang, mulai zaman kuliah.

Maksudnya suporter itu bagaimana?

Oh iya, saya kan Gusdurian. Zaman Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PBNU 1984-1999) lawan siapa dulu, Abu Hasan, zaman Orde Baru itu, zaman itu kan lagi rame-ramenya Gus Dur sama Orde Baru, penggemar Gus Dur, mulai itu. Tahun berapa itu?

Tahun 1994, Muktamar Cipasung

Iya, betul, saya manut sampeyan. Sampeyan lebih tahu.

Pada 1994 Anda berpihak ke Gus Dur, cara pandang Anda waktu itu bagaimana?

Sebenarnya kan tahun 1994 itu saya mahasiswa. Pada tahun 1994 itu tidak ada mahasiswa yang berpihak pada pemerintah. Kalau berpihak, berarti bukan mahasiswa, itu cari gelar. Kalau mahasiswa, tidak ada tahun segitu yang senang Orde Baru, tak ada. Nah, Abu Hasan kan produknya Orde Baru. Dulu kan melihatnya begitu.

Yang menarik dari Gus Dur itu apa?

Secara kulturnya adalah orang Jawa, Jawa Timur, kulturnya tidak jauh-jauh. Terus humornya juga, selera humornya luar biasa. Gus Dur itu lawaknya universal sebenarnya.

Sebelumnya 1994 sama sekali tidak mengenal NU?

Bukan sama sekali, saya kan kenal Gus Ipul (H Syaifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur), sudah lama, rektor saya Pak Nuh, orang NU, dulu kuliah.

Oh ya, tadi Anda bilang sebagai supporter NU. Akan sampai kapan menjadi supporter NU?

Ya terus dong. Masa mau pindah ke MU.

Supporter dalam bentuk apa?

Apa ya, kalau orang merasa cocok, karena saya juga, satu, saya kan orang Jawa.

Masa kecil tidak pernah dengar NU?

Udah. Dulu saya punya topi banyak tak bordir, topiku dulu tak bordir NU kalau zaman SMA, kuliah topiku masih bordiran NU. Kecil di kampung tahlilan ikut, dzikir wida. Tetangga saya dulu modin.

Kesan bersinggungan dengan orang-orang NU bagaimana?

Nyantai, nyantai tidak ribet. Terus budayanya itu kental. Misalnya acara gini kan harlah NU, ulang tahun, nyantai aja peringatannya, walaupun Nahdliyin pada datang rame, tidak perlu nyari gedung harus penuh. Enak, ya nyantai. Menurut saya, orang NU itu bisa mengurus dirinya sendiri, tidak ngerepoti. Kalau ada acara, yang datang tak mau ngerepoti tuan rumahnya.

Ada kritik untuk NU?

Wah, kalau itu saya tidak perlu.

Ke anak-anak Cak Lontong pernah memperkenalkan NU?

Oh anak saya tahu NU. Anak saya yang SMA dan SMP tahu NU. NU tahu. Walaupun tak jadi pengurus, tapi follower, tahu.

Sumber : nu.or.id
Sepotong Kisah Perjalanan Gus Dur Bersama Kakeknya, Mbah Bisri Syansuri

Sepotong Kisah Perjalanan Gus Dur Bersama Kakeknya, Mbah Bisri Syansuri


Saya teringat dulu—kira-kira tahun 2006 atau 2007, saya lupa—ketika dengan semangatnya seorang teman mengajak saya untuk menonton acara Ngaji Bareng Gus Dur yang disiarkan oleh sebuah televisi lokal Jawa Timur langsung dari Masjid Sunan Ampel Surabaya. Teman saya ini pecinta berat Gus Dur, dan karena tahu bahwa saya juga mengidolakan sang tokoh bangsa itu maka dengan semangatnya ia memanggil saya.

Dalam acara itu Gus Dur menyampaikan beberapa pokok materi tentang agama, masalah kebangsaan, dan kenegaraan. Ini bisa dipandang salah satu cara Gus Dur untuk mendidik masayarakat dalam kedewasaan berpolitik.

Di akhir acara dibukalah kesempatan bagi yang mau bertanya. Ada sekirtar 4 sampai 5 penanya. Pertanyaan mereka bervariasi, ada yang bertanya tentang peningkatan taraf hidup petani, sikap sebagai seorang warga negara bahkan sampai pada masalah mengapa Gus Dur bekerja sama dengan Israel. Semua itu dijawab dengan jelas oleh Gus Dur. Beberapa hal penting diuraikan secara panjang lebar sehingga memakan waktu hampir separuh waktu tanya jawab.

Namun di sini saya tidak ingin menjelaskan semua pertanyaan dan jawaban itu sedetail-detailnya. Saya hanya akan membahas satu bagian dari wacana Gus Dur yang disampaikan waktu itu dan saya rasa cukup menarik.

Ketika menyampaikan masalah tentang bagaimana kita bersikap terhadap pemimpin, Gus Dur mengatakan bahwa bagaimanapun seorang pemimpin yang dipilih oleh rakyat itu haruslah dihormati. Bahkan ketika dianggap salah pun tetap harus dihormati sebagai seorang pemimpin rakyat.

Adalah menarik membahas cerita Gus Dur ketika itu di masa sekarang. Karena beberapa waktu terakhir ini publik diramaikan dengan masalah memilih pemimpin yang baik.

Diceritakan bahwa Gus Dur pernah diajak kakek yang sekaligus diaggap guru yang sangat berpengaruh baginya, yakni KH Bisri Syansuri untuk berkunjung (silaturrahim) kepada seorang kepala desa. Gus Dur kaget karena kepala desa yang dimaksud ternyata beragama Nasrani. Kemudian Gus Dur memberanikan dirinya untuk bertanya: “mengapakah sang guru harus mengunjungi kepala desa itu, padahal dia non-Muslim?”

Kemudian jawaban sang guru pun disampaikannya, bahwa meskipun non-Muslim tapi kita harus tetap menghormatinya. Kemudian Gus Dur lalu menyimpulkan di depan para jamaah bahwa bagaimanapun seorang pemimpin harus dihormati.

Namun demikian, saya memiliki dua kesimpulan lain di samping hal itu. Pertama: bahwa kasus kepemimpinan non-Muslim di Indonesia (yang mayoritas Islam) adalah sudah lama terjadi. Kedua bahwa para ulama terdahulu tidak mempersoalkan pemimpin non-Muslim, dan hal inilah yang teramat penting untuk kita pelajari saat ini.

Adalah bisa dibayangkan, bagaimana seorang KH Bisri Syansuri yang merupakan orang yang teguh memegang fiqih (jurisprudensi Islam) yang ketat-ketat, tapi tak mempersoalkan kepemimpinan non-Muslim di desanya. Seorang ulama besar murid dari ulama besar pula baik dari Indonesia sendiri maupun Timur Tengah. (Ahmad Nur Kholis)

Sumber : nu.or.id
Kisah Sang Zuhud Gus Dur Kirim Wesel ke Rakyat Jelata

Kisah Sang Zuhud Gus Dur Kirim Wesel ke Rakyat Jelata


Dulu, ketika Gus Dur masih memimpin NU, Surahman, tetangga desa saya, pernah bekerja membantu beliau di PBNU. Saban hari menunggu kantor PBNU, sekaligus membersihkan kamar di mana Gus Dur duduk berkantor. Sebelumnya, dia sempat beberapa tahun membantu di rumah Kiai Fuad Amin (alm), pengasuh pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, mertua saya, sambil mengaji. Lalu Kiyai Fuad menugaskannya di PBNU.

Surahman pernah bercerita kepada saya mengenai pengalamannya bekerja di PBNU dan menemani dan melayani Gus Dur. Katanya, setiap hari Gus Dur menerima banyak sekali surat dari warga dan umatnya di daerah-daerah. Ada pengurus NU, Kiai, santri, petani, nelayan, tukang kebun, pedagang kelontong, dan lain-lain.

Surat-surat itu dibacanya satu per satu. Kebanyakan isinya adalah permohonan bantuan dana untuk keperluan yang beragam, baik untuk fasilitas organisasi, pembangunan masjid, mushalla, madrasah, pesantren atau untuk diri sendiri dan keluarganya yang sedang kekurangan biaya hidup.

Gus Dur membacanya satu persatu dengan teliti. Ia lalu mengambil kartu pos wesel yang sengaja disiapkan dan ditaruh di laci meja kerjanya. Kemudian ia menulis dengan tangannya sendiri. Di dalamnya ia menuliskan angka rupiah tertentu dan berbeda-beda.

Gus Dur mengambil honor-honor yang diperolehnya dari tulisan yang dimuat atau dari seminar yang dihadirinya, lalu dibagi menurut pertimbangannya sendiri. Gus Dur lalu memanggil Surahman dan memintanya membawa pos-pos wesel itu ke kantor Pos dan mengirimkannya ke alamatnya masing-masing. Bersama dengan kartu-kartu pos wesel itu Gus Dur juga menyerahkan uangnya.

Saat itu tidak ada orang lain di situ, kecuali dirinya (Surahman). Pengurus PBNU yang lain tak pernah tahu soal yang satu ini. Jika kemudian ada yang tahu, maka pastilah dari mulut Surahman sendiri, tidak yang lain. Bukan sekali saja Surahman diminta mengerjakan tugas pribadi tersebut, dan dia tidak tahu Gus Dur masih punya uang lagi atau tidak, sesudah itu.

Adik saya, sekaligus keponakan Gus Dur; Nanik Zahiro, juga bercerita kepada saya. Dia pernah kuliah di Institute Ilmu Al Qur’an (IIQ), Jakarta, awal tahun 90-an, dengan biaya dari Gus Dur. Setiap bulan, dia datang ke PBNU untuk bertemu pamannya itu, mengambil uang indekos dan biaya kuliahnya. Suatu hari dia pernah kehabisan uang, karena uang dari Gus Dur digunakan untuk keperluan lain yang tidak terduga.

Dia sebenarnya sudah minta kiriman dari ayahnya di Tambak Beras, Jombang, tetapi belum juga tiba. Dia datang ke Gus Dur di kantor PBNU untuk meminta bantuan tambahan, mendadak dan mendesak. Tetapi ketika itu Gus Dur sedang tak punya uang. Namun beliau tak menolaknya. Ia mengatakan: “Tunggu sebentar ya, Nan. Saya akan pergi dulu sebentar.”

Gus Dur pergi ke tempat sebuah seminar yang hari itu kebetulan harus dihadirinya. Tidak lama, sesudah itu beliau kembali ke kantor. Keponakannya masih menunggu di situ. Lalu menyerahkan amplop honor seminar yang masih tertutup rapat itu kepadanya. “Ambil seperlunya saja ya?” katanya. Nanik menerimanya dengan senang.

Kemudian dia membuka amplop itu di hadapan pamannya itu. Sesudah menghitung isi amplop tersebut, dia bilang bahwa keperluannya adalah seluruh isi amplop itu. Gus Dur diam saja. “Ya sudah, enggak apa-apa.” [dutaislam.com/ab]

Sumber :dutaislam.com
[Video] KH Hasyim Muzadi Menafsirkan Pemikiran Gus Dur yang Sulit Dipahami Ulama Lain

[Video] KH Hasyim Muzadi Menafsirkan Pemikiran Gus Dur yang Sulit Dipahami Ulama Lain


Pemikiran Gus Dur Dalam Pandangan KH. A. Hasyim Muzadi

1. Pertama kali saya ketemu Gus Dur tahun 1979 di Muktamar NU Semarang ( Muktamar NU ke 26) dan ketika itu Gus Dur belum masuk di pengurus NU sedangkan saya sudah mewakili utusan NU Cabang Malang. Didalam muktamar ke 26 Itu Gus Dur diangkat menjadi wakil katib PBNU. Setelah pertemuan di Semarang sangat sering Gus Dur ke Jawa Timur, karena memang Jawa timur adalah pusat potensi NU dan sering juga menginap di Malang karena Gus Dur mengajar Islamologi di Yayasan Kristen GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) yang berlokasi di Sukun Kota Malang. Saya mendampingi dan mengikuti Gus Dur selama 20 tahun penuh mulai tahun 1979-1999 ketika Gus Dur menjadi Presiden Republik Indonesia. Setelah menjadi Presiden RI Gus Dur Fokus memimpin PKB dan saya menjadi Ketua Umum PBNU di Muktamar Lirboyo (Muktamar NU ke 30). Dalam waktu 20 tahun saya mengikuti betul jalan pikiran Gus Dur baik masalah ke-Nu-an, Keislaman Indonesia, Keislaman Global dan situasi politik Internasional.

2. Menurut pandangan Saya di dalam membawakan islam baik di indonesia maupun di dunia, Gus Dur lebih mengetengahkan pendekatan filosofi religius, etika religi, kemanusiaan (Humanity) dan budaya. Sedikit saja Gus Dur menggunakan ilmu fiqih sebagai bagian dari syariat, karena yang diketengahkan bukan legal syariatnya tetapi hikmatutasyri’nya dan maqoshiduttasyri’nya. Dalam pendekatan etika religi Gus Dur sangat egaliter menempatkan manusia dalam posisi yang setara, terlepas dari agama yang dipeluknya. Sehingga hubungan etis ini menjadi sangat cair antara Gus Dur yang muslim dan non muslim bahkan yang atheis sekalipun. Dalam hal pendekatan kemanusiaan Gus Dur sangat mementingkan martabat dan kebutuhan asasi dari manusia itu sendiri, sebagai bentuk dari kasih sayang Allah kepada seluruh mahluknya. Dalam hal ini kemanusiaan diletakkan pada rahmaniah Allah sedangkan rahimiah Allah dikhususkan untuk kaum muslimin di Akherat. Sedangkan pandangan Gus Dur terhadap budaya dapat dikatakan sebagai wujud kongkrit dari filosofi, etika dan kemanusiaan itu sendiri.

3. Dari pola pemikiran dan pandangan keagamaan/keislaman seperti ini, pastilah akan membuat mayoritas umat islam di indonesia menjadi kaget dan terheran-heran. Karena mainstream umat islam di indonesia bertumpu kepada masalah tauhid dan masalah fiqih yang hitam putih. Apalagi buat mayoritas umat islam indonesia yang suka bertengkar di bidang furu’ akan semakin sulit memahami pola pikiran Gus Dur.
Ditambah lagi semenjak tahun 2002 (pasca reformasi) banyak aliran keras yang tidak hanya bertikai sesama islam tetapi merembet kepada saling membid’ahkan dan saling mengkafirkan. Dalam fenomena ini akan semakin jauh jarak pandangannya. Tidak heran kalau kemudian secara parsial ada umat islam yang mengatakan bahwa Gus Dur sesat karena memang berbeda cara pandangnya. Gus Dur tidak pernah merasa keberatan apa-apa untuk dikatakan sesat, karena Gus Dur sangat mengetahui hal tesebut berangkat dari pemikiran legal formal yang hitam putih. Tetap saja Gus Dur bersilaturahmi kepada semua pihak bahkan tokoh tokoh yang tidak setuju pndptnya, karena menurut gus dur sendiri kelompok yang tidak setuju merupakan sesuatu yang logis saja sebagai akibat dari sistem pemikiran.

4. Posisi saya selama 20 tahun bersama-sama dan mendampingi beliau bertindak sebagai penjelas dari pikiran dan ucapan ucapan gusdur yang sulit difahami oleh masyarakat awam misalnya : Tentang Assalamu ‘alaikum diganti dengan selamat pagi, Gus Dur mengajar di lembaga pendidikan Kristen, Menganggap semua agama sama saja serta toleransi budaya yang sangat tinggi dan sebagainya. Pada umumnya warga nahdliyin mulai mengerti sekalipun kadang optimal dan kadang tidak optimal. Tetapi tetap saja masyarakat NU mencintai Gus Dur bukan semata karena pemikirannya tapi karena cucu hadratusyeikh KH. Hasyim Asy’ari dan putra sulung dari KH. Wahid Hasyim . Hal ini tentu berbeda dengan orang yang berpendapat sama tetapi bukan trah Tebuireng.

5. Gus Dur sejak waktu yang lama sudah bercita-cita menjadi presiden RI dan Gus Dur yakin kalau itu akan terjadi. Oleh karenanya di dalam diri Gus Dur ada dua hal yang bisa dibedakan sekalipun tidak bisa dipisahkan yakni :
Pertama, Pemikiran keagamaan dan universalitasnya
Kedua, Strategi politis untuk mencapai jenjang presiden.
Untuk pemikiran sudah saya sampaikan di atas, dan untuk strategi menjadi presiden haruslah mempunyai dukungan dari kaum nasionalis indonesia . secara global diperlukan kedekatan ke dunai katolik (Vatikan) dan beberapa tokoh yang dekat kekuatan Israel misalnya : dengan masuk ke Yayasan Simon Peres dan sebagainya. Hal-hal yang strategis ini saya tidak ingin mencampuri Gus Dur terlalu dalam karena bisa mengganggu tujuan dan saya pun tidak pernah menjelaskannya kepada masyarakat nahdliyin.

6. Gus Dur telah berjasa besar kepada Nahdlatul Ulama, utamanya di bidang perluasan wawasan sehingga dalam 4 tahun menjabat sebagai wakil katib PBNU, Gus Dur mempersiapkan khittah 1926 yang kemudian berhasil digolkan di Muktamar situbondo tahun 1984. Khittah 1926 berisi :
a. Penyambungan wawasan keagamaan dan wawasan kebangsaaan. Hal ini diperlukan agar maqosidutasyri’ yang diperjuangkan NU dapat dimasukkan dalam mengisi negara melalui bahasa nasional.
b. Pemisahan NU dari partai politik (ketika itu PPP), agar posisi NU murni pada civil society tidak terkooptasi dengan pemikiran politis yang berpijak kepada untung rugi, kekuasaan dan politisasi. Sehingga NU dapat secara murni berbicara tentang kebatilan dan kebenaran serta kemaslahatan umat tanpa memandang golongan-golongan politik.
c. Penetapan pancasila sebagai asas perjuangan negara dan akidah Ahlusunnah wal jama’ah (annahdliyah) sebagai landasan keagamaan.
d. Menggalang persaudaraan muslimin seluruh dunia utamanya yang berfaham Ahlussunnah wal jamaah.
e. Bergerak di bidang pengembangan sosial (Mabadi Khairo ummah) baik di bidang pendidikan, pesantren, ekonomi, budaya, serta politik kebangsaan bukan politik kepartaian.

7. Ide-ide strategis dari Gus Dur ini tidak gampang diterima oleh mainstream warga nahdliyin pada waktu itu yang masih mempertetangkan antara islam dan pancasila. Sekalipun sudah dijelaskan bahwa strategi itu sangat perlu untuk Nahdlatul Ulama tetap saja para ulama meminta justifikasi legal formal didalam quran dan hadits serta siroh nabawiah. Terjadilah perdebatan sengit antar ulama NU dalam Munas Alim Ulama setahun sebelum muktamar 1984. Akhirnya adalah KH. Ahmad Siddiq yang menjembatani pemikiran strategis ini dengan pendekatan legal formal, utamanya dengan mengambil makna dari piagam madinah. Ternyata di piagam madinah tidak menyebut istilah Negara Islam tetapi kesepakatan (referendum penduduk madinah). Yang terpenting dari isi piagam tersebut adalah pengisian bentuk negara dengan prinsip ajaran agama islam. Misalnya : Persaudaran di kalangan kaum muslimin, penegakan hukum secara adil, hubungan lintas agama, pemerataan ekonomi, memegang amanat dalam berpolitik, dan kepribadian islam dalam kebudayaan. Akhirnya disetujui konsep khittah itu tahun 1984. Sebagai penanggung jawab dunia dan ukhro terhadap semua keputusan muktamar ke 27 di Pondok Pesantren Sukorejo Situbondo adalah KH. As’ad Syamsul Arifin (yang sekarang ini telah menjadi pahlawan nasional).



Sumber : muslimoderat.net


Gaji Hasil Kerja Gus Dur Habis Disedekahkan

Gaji Hasil Kerja Gus Dur Habis Disedekahkan


Dulu, ketika Gus Dur masih memimpin NU, Surahman, tetangga desa saya, pernah bekerja membantu beliau di PBNU. Saban hari menunggu kantor PBNU, sekaligus membersihkan kamar di mana Gus Dur duduk berkantor. Sebelumnya, dia sempat beberapa tahun membantu di rumah Kiai Fuad Amin (alm), pengasuh pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, mertua saya, sambil mengaji. Lalu Kiyai Fuad menugaskannya di PBNU.

Surahman pernah bercerita kepada saya mengenai pengalamannya bekerja di PBNU dan menemani dan melayani Gus Dur. Katanya, setiap hari Gus Dur menerima banyak sekali surat dari warga dan umatnya di daerah-daerah. Ada pengurus NU, Kiai, santri, petani, nelayan, tukang kebun, pedagang kelontong, dan lain-lain. Surat-surat itu dibacanya satu per satu. Kebanyakan isinya adalah permohonan bantuan dana untuk keperluan yang beragam, baik untuk fasilitas organisasi, pembangunan masjid, mushalla, madrasah, pesantren atau untuk diri sendiri dan keluarganya yang sedang kekurangan biaya hidup.
Gus Dur membacanya satu persatu dengan teliti. Ia lalu mengambil kartu pos wesel yang sengaja disiapkan dan ditaruh di laci meja kerjanya. Kemudian ia menulis dengan tangannya sendiri. Di dalamnya ia menuliskan angka rupiah tertentu dan berbeda-beda.

Gus Dur mengambil honor-honor yang diperolehnya dari tulisan yang dimuat atau dari seminar yang dihadirinya, lalu dibagi menurut pertimbangannya sendiri. Gus Dur lalu memanggil Surahman dan memintanya membawa pos-pos wesel itu ke kantor Pos dan mengirimkannya ke alamatnya masing-masing. Bersama dengan kartu-kartu pos wesel itu Gus Dur juga menyerahkan uangnya.
Saat itu tidak ada orang lain di situ, kecuali dirinya (Surahman). Pengurus PBNU yang lain tak pernah tahu soal yang satu ini. Jika kemudian ada yang tahu, maka pastilah dari mulut Surahman sendiri, tidak yang lain. Bukan sekali saja Surahman diminta mengerjakan tugas pribadi tersebut, dan dia tidak tahu Gus Dur masih punya uang lagi atau tidak, sesudah itu.

Adik saya, sekaligus keponakan Gus Dur; Nanik Zahiro, juga bercerita kepada saya. Dia pernah kuliah di Institute Ilmu Al Qur’an (IIQ), Jakarta, awal tahun 90-an, dengan biaya dari Gus Dur. Setiap bulan, dia datang ke PBNU untuk bertemu pamannya itu, mengambil uang indekos dan biaya kuliahnya. Suatu hari dia pernah kehabisan uang, karena uang dari Gus Dur digunakan untuk keperluan lain yang tidak terduga. Dia sebenarnya sudah minta kiriman dari ayahnya di Tambak Beras, Jombang, tetapi belum juga tiba. Dia datang ke Gus Dur di kantor PBNU untuk meminta bantuan tambahan, mendadak dan mendesak. Tetapi ketika itu Gus Dur sedang tak punya uang. Namun beliau tak menolaknya. Ia mengatakan: “Tunggu sebentar ya, Nan. Saya akan pergi dulu sebentar.”

Gus Dur pergi ke tempat sebuah seminar yang hari itu kebetulan harus dihadirinya. Tidak lama, sesudah itu beliau kembali ke kantor. Keponakannya masih menunggu di situ. Lalu menyerahkan amplop honor seminar yang masih tertutup rapat itu kepadanya. “Ambil seperlunya saja ya?” katanya. Nanik menerimanya dengan senang. Kemudian dia membuka amplop itu di hadapan pamannya itu. Sesudah menghitung isi amplop tersebut, dia bilang bahwa keperluannya adalah seluruh isi amplop itu. Gus Dur diam saja. “Ya sudah, enggak apa-apa.”

(Ditulis Oleh KH. Husein Muhammad, 18 Desember 2014)

Sumber : muslimoderat.net
Perbedaan NU-nya Gus Dur dan NU-nya KH Hasyim Muzadi

Perbedaan NU-nya Gus Dur dan NU-nya KH Hasyim Muzadi


Masih teringat "joke" Almarhun KH Hasyim Muzadi waktu mengisi ceramah Haul Almagfurlah Mbah Kiai Wahab Hasbullah Jombang.

Suatu ketika Kholifah Sayyidina Ali Bin Abi Tholib ditanya oleh Tabi'in menganai keruwetan peta politik di Makkah mengenai perebutan kekuasaan.

Wahai Ali, mengapa pada Zaman Baginda Nabi Muhammad para sahabat (masyarakat) tidaklah "seruwet" masyarakat sekarang yang Engkau pimpin.

Dengan sabar Sayyidina Ali menjawab, "Iya, zaman Baginda Nabi Muhammad, masyarakat yang dipimpin beliau adalah orang orang seperti saya, dan ketika sekarang yang saya memimpin. masyarakatnya ganti seperti kalian".

Hal itu juga pernah ditanyakan oleh warga NU kepada saya (almarhum Pak Hasyim), "yai. kenapa Zaman Gus Dur, NU diombang-ambingkan pemerintah, NU tidak seruwet sekarang?"

Almarhum KH Hasyim pun menjawab, "dulu yang dipimpin Gus Dur adalah orang seperti saya dan sekarang ketika saya yang memimpin NU, orang yang saya pimpin ruwet seperti kamu".

Semoga sentilan di atas bisa menggugah kesadaran kita yang dininabobokan oleh ego dan kepentingan sesaat. Terimakasih atas ilmunya, kiai. Al Fatihah. [dutaislam.com/ab]

Keterangan:
Cerita diatas dituturkan oleh MA Husain Umar

Sumber :muslimoderat.net
Gus Dur soal Jejeran Mobil Mewah Anggota DPR

Gus Dur soal Jejeran Mobil Mewah Anggota DPR


KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur selalu berhasil menyegarkan suasana yang kaku menjadi cair dengan humor khasnya yang mencerdaskan.

Tak heran setiap memberikan ceramah di berbagai tempat, masyarakat selalu penasaran dengan banyolan barunya selain memetik banyak hikmah dari ceramahnya itu.

Pertama kali melontarkan anekdotnya terkait tingkah laku Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang menurutnya seperti anak TK, masyarakat mengamini sembari tertawa geli.

Namun  belakangan, Gus Dur meningkatkan level penilaiannya terhadap mereka yang menyatakan bahwa Anggota DPR bukan lagi seperti anak TK, tetapi ‘meningkat’ seperti anak-anak Playgroup seiring makin parahnya tingkah mereka.

Penilaian terhadap tingkah pola Anggota DPR tidak berhenti sampai di situ. Gus Dur juga memberikan anekdot segar ketika memperhatikan banyak mobil mewah Anggota DPR yang setiap hari berjejer di dalam maupun di luar gedung.

“Persis seperti show room mobil-mobil mewah. Mobil jenis apapun dengan harga fantastis ada di sana,” kata Gus Dur dengan tawa khasnya.

(Fathoni Ahmad)

Sumber : nu.or.id
Sepeda Motor Pak Pendeta Disunat

Sepeda Motor Pak Pendeta Disunat


Seorang kiai bertetangga dengan pendeta. Kiai memiliki mobil, sementara pendeta memiliki sepeda motor. Suatu hari, ketika hujan, pendeta meminjam mobil kiai. Karena hujan, mobil penuh kotoran. Maka pak pendeta menyuci dulu mobil sebelum dikembalikan.

Beberapa hari kemudian, kiai mendapatkan undangan ceramah ke satu rumah penduduk di gang sempit, tidak dapat diakses dengan mobil. Kiai meminjam motor pendeta. Setelah pulang, sebelum mengembalikan motor, kiai mengambil gergaji besi dan menggergaji knalpot motor.

Pendeta heran bertanya, “Diapakan motor saya?” Dengan enteng kiai menjawab, "Anda kemarin telah membaptis mobil saya sebelum Anda mengembalikannya. Jadi sekarang saya menyunat motor Anda."

(Dikutip dari buku kumpulan humor Gus berbahasa Jerman berjudul Lachen mit Gus Dur: Islamicher Humor Aus Indonesien. Menurut penyunting buku, Arndt Graf dan Johanna Pangestian-Harahap, cerita Gus Dur di atas itu lucu. Red; Anam)

Sumber :nu.or.id
Walau Dicaci "Buta Mata Buta Hati" Gus Dur tetap Bela Minoritas

Walau Dicaci "Buta Mata Buta Hati" Gus Dur tetap Bela Minoritas


Ada yang menarik dari konferensi tahunan ketujuh yang diadakan oleh Globalization for the Common Good, From the Middle East to Asia Facific: Arc of Conflict or Dialogue of Cultures and Religions, 30 Juni – 3 Juli 2008, di Melbourne, Australia. Para peserta dan pembicara yang berasal dari universitas-universitas terkemuka pelbagai Negara ini hampir selalu menyebut nama mantan presiden Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sebagai contoh ideal pemuka agama tradisional yang begitu gigih memperjuangkan semangat toleransi dan perdamaian.

Prof. Muddathir Abdel-Rahim (International Institute of Islamic Thought and Civilization, Malaysia) menunjuk Gus Dur sebagai sosok yang berhasil membalik prasangka banyak kalangan tentang wajah Islam yang cenderung dipersepsi tidak ramah terhadap isu-isu toleransi dan perdamaian. Prof.
Abdullah Saeed (The University of Melbourne) juga mengakui posisi penting Gus Dur dalam upaya kontekstualisasi nilai-nilai universal al-Qur’an. Dr. Natalie Mobini Kesheh (Australian Baha’i Community) mengatakan bahwa satu-satunya pemimpin Islam dunia yang begitu akomodatif terhadap komunitas Baha’i adalah Gus Dur. Prof. James Haire (Charles Stuart University, New South Wales) berkali-kali memberi pujian kepada Gus Dur yang ia nilai paling gigih dalam memberi perlindungan terhadap kelompok minoritas. Sementara Dr. Larry Marshal (La Trobe University, Australia) menyebut Gus Dur sebagai pemikir cemerlang yang memiliki pandangan luas. Marshal bahkan sangsi Indonesia bisa melahirkan pemikir-aktivis seperti Gus Dur dalam jangka waktu seratus tahun ke depan. Apresiasi dan pujian dari masyarakat intelektual dunia ini bukan sekali ini saja. Gus Dur kerapkali menerima sejumlah penghargaan dari banyak lembaga internasional yang bersimpati terhadap perjuangannya selama ini.

Apresiasi semacam itu justru agak berbeda dengan situasi mutakhir di Indonesia. Setelah tersingkir dari jabatan struktural Nahdlatul Ulama (NU), diganti oleh bekas loyalisnya, Hasyim Muzadi, kini Gus Dur harus menghadapi tekanan politik dari kemenakannya, Muhaimin Iskandar, di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Musuh-musuh ideologisnya bahkan secara terang-terangan berani memperolok-olok mantan presiden ini di depan publik. Pada sebuah acara talk show di sebuah stasiun televisi, Rizieq Shihab menyebut Gus Dur “buta mata, buta hati.” Olok-olok dan penghinaan ini kemudian diikuti oleh pengikut-pengikut H Rizieq di pelbagai daerah yang tanpa sungkan membawa poster olok-olok tersebut ke jalan-jalan.

Gus Dur tidak hanya menuai tantangan dari musuh-musuh politik dan ideologisnya. Madina, sebuah majalah yang dikenal moderat dan kerapkali menampilkan gagasan-gagasan pembaruan Islam, tidak menyebut namanya dalam daftar 25 tokoh Islam damai di Indonesia. Gus Dur tersingkir dari nama-nama beken seperti Abdullah Gymnastiar, Arifin Ilham, atau Helfy Tiana Rosa. Bahkan di kalangan kelompok moderat Indonesia sekalipun, Gus Dur tak jarang terabaikan.

Meski begitu, apa yang terjadi pada konferensi Melbourne dan forum-forum internasional lain bukan sekedar apresiasi dan pujian, melainkan harapan. Gus Dur dianggap sebagai harapan bagi masa depan perdamaian di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya. Melalui aktivitas pembelaan terhadap kelompok pinggiran, Gus Dur telah memberi bukti bahwa Islam juga punya semangat toleransi dan perdamaian, bahkan dalam bentuk yang paling tradisional sekalipun.

Posisi Gus Dur sebagai politisi dan pejuang HAM sekaligus adalah sesuatu yang memang langka. Dan kemampuannya melakukan pembedaan secara jernih mengenai posisinya itu adalah sesuatu yang mengagumkan. Perjuangannya untuk tetap membela hak-hak minoritas tak pernah surut kendati tampak tidak menguntungkan secara politik. Ketika kebanyakan politisi angkat tangan dan bungkam terhadap kasus minoritas Ahmadiyah, Gus Dur justru tampil di garda depan sebagai pembela hak-haknya. Bagi Gus Dur, adalah hak pengikut Ahmadiyah untuk hidup sebagaimana rakyat Indonesia pada umumnya. Jaminannya adalah Konstitusi. Perkataan Gus Dur dalam sebuah konferensi pers mungkin akan sulit dilupakan para pejuang HAM dan demokrasi: “Selama saya masih hidup, saya akan tetap membela keberadaan Jemaat Ahmadiyah, karena itu sesuai dengan amanat Konstitusi.” Bagi Gus Dur, hak hidup semua orang dengan latar belakang primordial apapun adalah harga mati.

Barangkali memang Gus Dur tidak sedang berada pada waktu dan tempat yang tepat. Aktivitas dan pemikirannya terlalu jauh meninggalkan zamannya. Hanya masyarakat maju dan tercerahkan yang bisa mengapresiasi perjuangannya. Ketika Gus Dur berjibaku dengan isu-isu perdamaian bagi negeri tercinta, antusiasme masyarakat Indonesia terhadap gagasan-gagasannya justru melemah. Dalam pelbagai survey opini publik, suara Gus Dur malah anjlok ke titik terendah. Jika di dalam negeri Gus Dur dicaci dan direndahkan, untuk masyarakat internasional pecinta perdamaian, Gus Dur adalah pemimpin.

Sumber : muslimoderat.net


Gus Dur Aja Enggak Pakai Jilbab

Gus Dur Aja Enggak Pakai Jilbab


Seorang mahasiswi di sebuah kampus ingin mengikuti sebuah acara di gedung PBNU. Namun, ia bingung informasi acara itu datang mendadak. Pasalnya ia tak berjilbab. Untuk pulang ke rumahnya dulu, terlalu jauh dan macet. Sementara temannya tak ada yang bisa meminjamkan.

“Gedung PBNU tempat mangkalnya para kiai. Perempuan tak berjilbab, pasti diusir,” begitu pikirnya.

Ia kemudian bercerita kepada temannya yang pernah membicarakan NU satu dua kali, seorang teman yang konon baru pertama kali menangisi kepergian orang meninggal, yaitu KH Abdurrahman Wahid.

“Datang saja! Urusan begitu selesai di PBNU,” kata temannya itu.

“Aku tak membawa jilbab. Aku takut dilarang masuk dan diusir, tapi aku ingin tahu acaranya,” keluhnya.

“Datang aja! Dulu Gus Dur saja tak memakai jilbab ke PBNU. Sekarang ketua umumnya juga tak memakai jilbab. Kiai-kiai itu tak memakai jilbab,” jawab temannya dengan santai. (Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
Ini yang Bikin Gus Dur dan Kiai Hasyim Tertawa

Ini yang Bikin Gus Dur dan Kiai Hasyim Tertawa


Gus Dur dan Kiai Hasyim Muzadi sama-sama pernah menjadi Ketua Umum PBNU dan pernah berbeda pendapat. Ketika keduanya bertemu, tampak begitu kakunya. Padahal dua tokoh tersebut merupakan produsen anekdot atau banyolan yang sangat mumpuni.

Untuk menyegarkan suasana, Pak Syairozi (saat itu Ketua LP Maarif NU Jatim) menyampaikan cerita di hadapan keduanya tentang "pujian" sebelum shalat subuh yang dilantunkan di langgarnya KH Imron Chamzah (Sidoarjo) dengan agak khas.

Biasanya, di langgar atau di masjid yang dikelola orang NU, sebelum shalat subuh selalu dibacakan "pujian" yang lafadznya "La ilaha illa anta, ya hayyu ya qoyyum". Tapi di langgarnya Kiai Imron, lain. "Pujian"-nya berbunyi "La ilaha illa “ente”, ya hayyu ya qoyyum".

Mendengar cerita Pak Syairozi tersebut, Gus Dur dan Kiai Hasyim Muzadi terpingkal-pingkal.

Secara spontan Gus Dur berucap sambil terkekeh, "Wah ternyata di sana warga NU sangat akrab dengan Tuhan. Buktinya Tuhan dipanggil 'ente'." (Muhammad Nuh)

Sumber : nu.or.id
Kisah Unik Gus Dur Menulis Pengatar Buku “Mati Ketawa Cara Rusia”

Kisah Unik Gus Dur Menulis Pengatar Buku “Mati Ketawa Cara Rusia”


Suatu hari, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) datang ke Grafiti Press, tempat Ismed Natsir bekerja sebagai editor. Dia tanya, "Med, ada yang bisa saya bantu, ada perlu untuk pendaftaran anak sekolah".

"Ada Gus, membuat pengantar untuk buku."

Gus Dur pun setuju. Ia duduk membuka-buka dan membaca draft buku. Tak terlalu lama—hanya selintasan membaca. Lalu ia minta mesin tik, dan mulailah ia menulis, tanpa tip-ex tanpa ada satu pun kalimat yang dia perbaiki. Dalam waktu tak sampai satu dua jam, pengantar redaksi untuk buku pun selesai.

Sembari dia mengetik, Ismed mengurus pembayaran. Selesai, ia pun pamit dengan mengantongi honor untuk biaya sekolah salah satu dari 4 anaknya yang akan masuk SMA.

Sore hari menjelang pulang, Ismed baru sempat membaca pengantar itu, dan ia terperangah. Pengantar redaksi yang luar biasa keren, segar, dan jenaka. Itulah pengantar "Mati Ketawa Cara Rusia".

Cerita ini disampaikan Lies Marcoes, istri Ismed Natsir yang juga aktivis hak asasi manusia. Kisah yang diunggah di akun Fecebook pribadinya pada 9 Maret 2014 itu menunjukkan setidaknya dua hal. Pertama, canggihnya Gus Dur soal membaca sebuah karya, lalu menuangkan analisanya dalam tulisan dalam tempo yang singkat.

Kedua, tentang kesederhanaannya. Gus Dur yang di kemudian hari dipercaya sebagai presiden keempat RI bukanlah orang yang kaya raya. Sebagai cucu tokoh besar dan putra pejabat negara, ia tetap menjalani hidup dalam kebersahajaan dan mandiri: mengandalkan pontensi dan kerja kerasnya sendiri. (Mahbib)

Berikut adalah kata pengatar buku "Mati Ketawa Cara Rusia" itu yang kami ambil dari Gusdurian.net.


Pengantar Buku "Mati Ketawa Cara Rusia"

Oleh Abdurrahman Wahid

Presiden Gonzales dari sebuah “republik pisang” di Amerika Latin sangat tidak populer. Pada suatu hari ia bertamasya keliling ibu kota, dengan berkendaraan kuda. Ketika akan menyeberang sebuah jembatan, kuda yang dinaikinya terkejut melihat derasnya arus sungai di bawah jembatan itu. Presiden Gonzales terjatuh dari kudanya ke dalam sungai itu, dan dihanyutkan arus deras tanpa dapat ditolong oleh para pengawalnya. Namun, setelah hanyut sangat jauh, ia ditolong oleh seorang pengail ikan yang pekerjannya setiap hari mengail di tempat itu. Dengan rasa terima kasih sangat besar, ia menyatakan kepada pengail miskin itu siapa dirinya, dan betapa besarnya jasa pengail itu kepada negara, dengan menolong dirinya. Ditanyakannya kepada pengail tersebut, apa hadiah yang diinginkannya sebagal imbalan atas jasa sedemikian besar itu. Dengan kelugasan orang kecil, pengail itu menjawab: “Satu saja, Paduka. Tolong jangan ceritakan kepada siapa pun bahwa sayalah yang menolong Paduka.”

Lelucon di atas memiliki unsur-unsur ‘humor yang mengena’. Unsur surprise terdapat pada akhir cerita, karena jawaban pengail itu benar-benar di luar dugaan. Juga ada unsur sindiran halus, yang mengajukan kritik atas hal-hal yang salah dalam kehidupan, tetapi tanpa rasa kemarahan atau kepahitan hati. Keduanya merupakan kondisi psikologis terlalu intens dan emosional, sehingga kehilangan obyektivitas sikap terhadap hal yang dikritik itu sendiri. Tidak lupa tertangkap dalam cerita di atas, rasionalitas yang merupakan tali pengikat seluruh cerita. Terakhir, situasi yang ditampilkan, yaitu akal orang kecil untuk menggunakan kearifan mereka sendiri, tertangkap dengan jelas.

Buku kumpulan lelucon tentang Rusia ini menampilkan cukup banyak lelucon yang memiliki kelengkapan unsur-unsur seperti lelucon di atas. Memang tidak seluruh lelucon yang ada di dalam buku kumpulan ini baik, tetapi jumlah yang benar-benar baik sudah lebih dari cukup untuk menikmatinya sebagai kumpulan lelucon. Kenyataan ini timbul dari kenyataan tingginya rasa humor orang Rusia. Rasa humor itu juga terlihat dalam cerita berikut. Lenin meninggal tahun 1924, dan Stalin menggantikannya sebagai penguasa Rusia. Mayat Lenin, yang disemayamkan di mausoleum di Kremlin, pada suatu hari dicoba untuk dihidupkan lagi oleh para dokter. Mereka berhasil dengan percobaan itu, dan mayat Lenin dengan sempoyongan meninggalkan mausoleum, menuju ke kantor Politbiro Partai Komunis. Dimintanya semua koran yang terbit sejak kematiannya, dikuncinya dirinya di kamar kerjanya, untuk menyimak ulang perkembangan Rusia sejak ditinggalkannya selama tiga tahun itu. Ia tidak mau diganggu, hanya meminta makanan diletakkan di muka pintu ruang itu. Selama tiga hari makanan masih diambilnya, dan piring bekas makanan masih dikeluarkannya dari dalam ruang. Setelah itu tidak ada piring kotor dikeluarkan, dan makanan yang disediakan tidak diambil. Setelah beberapa hari hal itu berlangsung, diputuskan untuk mendobrak pintu ruang itu, dan melihat apa yang terjadi, karena dikhawatirkan terjadi sesuatu atas dirinya. Ternyata, Lenin tidak berada di sana. Harian-harian lama yang dimintanya berceceran memenuhi lantai, dan di meja ditinggalkannya secarik kertas, berisikan pesan tertulis berikut: REVOLUSI TELAH GAGAL. SAYA AKAN KEMBALI KE JENEWA UNTUK MEMPERSIAPKAN REVOLUSI LAGI.

Rasa humor dari sebuah masyarakat mencerminkan daya tahannya yang tinggi di hadapan semua kepahitan dan kesengsaraan. Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain. Kepahitan akibat kesengsaraan, diimbangi oleh pengetahuan nyata akan keharusan menerima kesengsaraan
tanpa patahnya semangat untuk hidup. Dengan demikian humor adalah sublimasi dari kearifan sebuah masyarakat.

Mengapakah kemampuan menertawakan diri sendiri menjadi demikian menentukan? Karena orang harus mengenal diri sendiri, sebelum mampu melihat yang aneh-aneh dalam perilaku diri sendiri itu. Lelucon berikut menunjukkan hal itu dengan nyata. Dua orang Irlandia berbincang tentang tanda apa yang ingin mereka pasang di kubur masing-rnasing setelah mati kelak. Kata Mulligan, ia ingin kuburnya nanti disiram wiski, pertanda kegemarannya yang memuncak kepada minuman keras. Dimintanya agar sang teman mau melakukan hal itu, kalau Mulligan mati lebih dahulu. Jawab temannya, “Aku bersedia, tetapi kau tidak keberatan bukan kalau wiskinya kulewatkan ginjalku dahulu?”

Watak kegemaran akan minuman keras memang sudah menjadi “ merk dagang” beberapa bangsa, termasuk bangsa Irlandia. Watak bangsa Yahudi adalah kekikiran. Citra ini memang tidak fair bagi orang Irlandia atau orang Yahudi, tetapi memang demikianlah yang sudah menjadi anggapan umum di seluruh dunia. Kisah berikut menunjukkan kekikiran orang Yahudi. Seorang Yahudi membuat minuman keras untuk dinikmati sendiri. Ketika temannya melihat hasil karya itu, dimintanya contoh sedikit, untuk dianalisa di laboratorium. Temyata, minuman itu mengandung bahaya, dapat membuat mata buta dan hanya dapat diatasi dengan operasi. Ketika disampaikan hal itu kepada si Yahudi itu, ditanyakannya berapa biaya pengobatan mata itu nantinya. Sewaktu diberi tahu biayanya dua puluh lima ribu rupiah, dijawabnya, “Biarlah kunikmati minuman itu, karena biaya membuatnya tiga puluh lima ribu rupiah. Kalau operasi juga, sudah menghemat sepuluh ribu rupiah.”

Bangsa lain yang terkenal kikir adalah orang Skot dan kepulauan Inggris. Suatu hari, seorang ibu mencari-cari orang yang menolong anaknya yang hampir tenggelam di danau sehari sebelumnya. Ketika sampai ke si penolong, orang itu menjawab agar tidak usah terlalu dipikirkan, karena sudah kewajiban manusia untuk menolong sesamanya. Jawab ibu tersebut, “Ya, tetapi topinya hilang sewaktu Anda menolong anak saya kemarin. Siapa yang harus bertanggung jawab atas kehilangan itu?”

Dari kemampuan mengenal kekurangan diri sendiri itu, lalu muncul pengertian juga akan keadaan orang lain. Seorang Skot pergi ke Laut Galilea di Israel. Oleh pemandu wisata ditawarkan untuk membawanya menyeberang dengan perahu, mengikuti garis lintas Yesus dahulu berjalan kaki di atas air. Ketika ditanyakannya biaya penyeberangan dengan perahu itu, sang pemandu wisata itu menjawab sepuluh dolar Amerika Serikat.

Gerutu orang Skot itu dalam hatinya, “Pantas Yesus memilih berjalan di atas air, biaya penyeberangannya dengan perahu semahal itu!”

Dalam episode itu tergambar rasa pengertian akan nasib sesama orang yang sering ditipu oleh para pemandu wisata. Apalagi kalau sama-sama liciknya, tentu akan lebih dalam rasa saling pengertian itu. Rasa itu dapat juga timbul bagi masyarakat sendiri, yang sering kalah di hadapan bangsa-bangsa lain. Kejadian berikut menggambarkan rasa ketidakberdayaan itu dengan tepat. Seorang sopir pada tahun enam puluhan membawa seorang turis Amerika berkeliling Jakarta. Di depan Toserba Sarinah, sang turis bertanya, berapa lama diperlukan waktu untuk mendirikan bangunan itu. Sopir itu menjawab empat tahun. Sang turis menyatakan hal itu terlalu lama dan memakan waktu, karena di Amerika Serikat hanya dua tahun. Sesampai di jalan lingkar di depan Hotel Indonesia, turis itu menanyakan berapa lama waktu mendirikan hotel tersebut. Sopir itu memendekkan waktunya dan menjawab dua tahun. Sang turis menyatakan di Amerika hanya diperlukan setahun. Ketika sampai di dekat kompleks stadion Senayan, turis itu menanyakan hal yang sama. Sopir taksi itu menjawab, tanpa memperlihatkan rasa bersalah sedikit pun, “Entahlah, Tuan, kemarin stadion itu belum ada di sini!”

Rasa pengertian itu juga muncul dari ketidakberdayaan menghadapi kenyataan. Seorang turis Amerika menyombongkan luasnya daratan negerinya, dengan menyatakan bahwa dari pantai barat di San Francisco ke New York di pantai timur, orang harus naik kereta api tiga hari lamanya. Seorang Malaysia yang mendengar itu rupanya salah mengerti dan menjawab, “Di negeri saya kereta api juga suka rusak berhari-hari seperti di negeri Anda.” Ketidakberdayaan orang Malaysia menghadapi sistem perkeretaapian di negerinya itu, rupanya, diproyeksikan kepada kenyataan lain di negeri orang. Seperti halnya anak kecil kita yang bertemu anak orang kulit putih di salah satu pasar. Anak Melayu itu berkata kepada ayahnya, “Pak, itu anak kecil-kecil kok sudah bisa berbahasa Inggris?” Bahwa hanya orang Melayu dewasa saja yang mampu berbahasa Inggris, diproyeksikan kepada anak orang asing itu oleh si anak Melayu.

Namun, humor juga mencatat hal-hal lucu ketika manusia berusaha menjadi makhluk komunikatif kepada orang lain. Seorang turis Arab mendapat tempat di meja makan yang sama sewaktu sarapan di sebuah hotel di Paris. Orang Prancis yang merasa harus menggalakkan pariwisata di negerinya itu menganggukkan kepala dan mengucapkan selamat pagi kepada turis asing itu, dengan mengatakan, “Bonjour, Monsieur.” Turis Arab itu mengira ditanya namanya, dan menjawab “Ana Abbas Hasan.” Dan mereka pun lalu bersarapan tanpa berucap apa pun. Pada siang harinya, hal yang sama terjadi ketika mereka akan makan siang. Namun, setelah menjawab dengan jawaban yang sama, turis Arab itu merasa ada sesuatu yang tidak beres. Masakan ada orang bertanya nama dua kali? Setelah makan siang, ia lalu pergi ke toko buku dan melihat pada kamus Prancis-Arab. Ternyata, ucapan “Bonjour” adalah salam bahagia untuk orang lain. Sewaktu mencari padanan jawabannya dalam bahasa Prancis, ia tidak menemukan kamus Arab-Prancis. Ia memutuskan untuk mendahului mengucapkan “Bonjour, Monsieur” ketika makan malamnya. Sewaktu hal itu dilakukannya malam harinya, ia terkejut setengah mati. Mengapa? Karena si orang Prancis meniawab dalam bahasa Arab, “Ana Abbas Hasan.” Sama-sama ingin komunikatif, tetapi tetap saja tidak komunikatif.

Humor juga merekam akibat perbuatan manusia dalam hidupnya, termasuk akibat atas dirinya sendiri. Seorang wartawan melihat seorang tua di pegunungan kuat sekali meneguk minuman keras. Ditanyakan apakah itu kegemarannya yang utama, orang tua itu menjawab, “Ya, saya minum paling sedikit dua botol vodka tiap hari, dan main cewek di mana-mana.” Sang wartawan kagum, bahwa orang tua renta dengan muka begitu keriput dan rambut begitu putih masih kuat melakukan hal itu. ”Berapa umur Bapak sekarang?” tanyanya dengan hormat. Orang itu menjawab, “Tiga puluh dua tahun.”

Humor merupakan senjata ampuh untuk memelihara kewarasan orientasi hidup sebuah masyarakat, dengan itu warga masyarakat dapat menjaga jarak dari keadaan yang dinilai tidak benar. Salah satu di antaranya adalah sikap penuh pretensi, yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan. Kecenderungan manusia untuk memperlihatkan kebodohan jika bersikap pretensius dapat dilihat pada lelucon Rusia yang tidak ada dalam buku ini. Ketika radio transistor dipakai umum di negeri-negeri Barat, seorang turis tampak membawa sebuah di suatu tempat di Moskow. Seorang Rusia mendekatinya bertanya, “Di sini juga banyak barang seperti Anda bawa ini. Apa namanya?” Pretensi selalu menampakkan wajah ketololan, apalagi kalau dilakukan dengan cara tolol pula.

Terkadang humor tentang sikap pretensius mengambil bentuk lelucon yang mengajukan kritik tajam. Bagi orang Malaysia yang jengkel dengan perusahaan penerbangan nasionalnya MAS bukan kependekan Malaysian Air System melainkan ‘Mana Ada System?’ Untuk orang Filipina, PAL bukanlah Philippine Air Lines, melainkan Plane Always Late. Dan GARUDA apakah kepanjangannya? Bagi sementara orang, ia adalah Good And Reliable, Under Dutch Administration (Bagus dan tepat, kalau diurus orang Belanda). Yang paling fatal adalah singkatan Penerbangan Mesir di zaman Nasser dahulu, UAA. Bagi kebanyakan orang, ia tidak berarti United Arab Airways, melainkan Use Another Airways (Gunakan Penerbangan Lain). Kritik lucu diarahkan kepada pretensi perusahaan- perusahaan penerbangan yang menampangkan ketepatan waktu dan baiknya pelayanan dalam iklan-iklan mereka, padahal dalam kenyataan tidakiah demikian. Seperti juga orang jengkel melihat perilaku pihak kepolisian, yang menggambarkan pasukan Sabhara sebagai elite yang penuh tanggung jawab, melayani masyarakat tanpa pandang bulu dan dengan cara yang adil. Karena kenyataannya banyak berbeda, ada orang yang memperpanjang istilah tersebut, hingga menjadi ‘Sabbharaha?’ Artinya dalam bahasa daerah Sunda: berapa? Rupanya, sudah diketahui orang ‘modus operandi’nya

Pretensi yang paling banyak terdapat adalah justru di bidang politik, karenanya tidak heran kalau kehidupan politik yang paling banyak dijadikan sasaran humor, seperti terlihat dalam buku ini. Kata seorang humoris terkenal di Amerika “Saya berhati-hati sekarang, tidak banyak menyatakan lelucon. Yang sudah-sudah kalau saya kemukakan sejumlah lelucon polilik kepada Presiden Reagan, ia akan mengangkat mereka pada jabatan penting dalam pemerintahan.”

Salah satu sasaran empuk adalah sifat egoistis para politisi. Lelucon berikut menggambarkan hal itu. Dalam perebutan calon presiden Amerika Serikat dan pihak Partai Demokrat, dalam tahun 1960, ada tiga orang calon kuat, yaitu Adlai Stevenson, Hubert Humphrey, dan Lyndon Johnson. Menurut kisah ini, ketiga mereka bertemu dalam sebuah pesta. Stevenson berkata kepada yang dua itu, “Saya tadi malam mimpi diberkati Tuhan. Rupanya, sayalah yang akan memenangkan pencalonan partai kita.” Humphrey menjawab, “Aneh, saya juga bermimpi yang sama, sehingga kans kita tampaknya sama.” Yang terhebat adalah Lyndon Johnson, yang mengatakan, “Lho, bagaimana mungkin? Saya kok tidak merasa memberkati kalian?” Lelucon yang menunjukkan besamya ego Lyndon Johnson sudah tentu diceritakan saingan terberat mereka, yang kemudian memenangkan jabatan kepresidenan, yaitu Mendiang John Fitzgerald Kennedy.

Tetapi untuk tidak terlalu menjatuhkan martabat kaum politisi, ada baiknya dikemukakan lelucon tentang kegoblokan orang dan profesi lain. Seorang pelatih bola marah karena anak asuhannya tidak naik tingkat di fakultas. Ia menyatakan dengan suara keras kepada dekan fakultas tersebut, “Kamu pilih kasih, anak sepintar dia sampai tidak naik tingkat. Kamu sentimen kepada olah raga bola.” Sang dekan menjawab, “Dia tolol sekali. Bagaimana mungkin ada mahasiswa menjawab tiga kali tiga ada sepuluh?” Sang pelatih memuncak marahnya, dengan suara semakin lantang ia berteriak, “Babi kamu, kelebihan dua angka saja sudah dijatuhkan!” Rupanya, ia mengira tiga kali tiga sama dengan delapan!

Kata pengantar ini ditutup dengan jaminan bahwa para pembaca pasti puas dengan lelucon-lelucon dari dan tentang Rusia yang ada dalam buku ini. Memang tidak sama standarnya, dan ada yang menjengkelkan tetapi kekurangan yang ada akan tertutup oleh mutiara-mutiara begitu banyak yang terserak dalam buku ini. Kalau tidak puas, tentu tidak mungkin buku ini dikembalikan kepada penerbit, dengan ganti rugi. Itu tidak lucu sama sekali. Masih lebih lucu kalau para pembaca meloakkan saja buku ini, agar tidak tertawa seorang diri karena orang lain tidak mampu membacanya, karena tidak mampu membelinya dengan harga asli. Diloakkan boleh, tetapi jangan dipinjamkan. Mengapa? Karena banyak peminjam sudah tahu peribahasa ampuh berikut: orang yang meminjamkan buku adalah orang bodoh, tetapi mengembalikan buku pinjaman adalah perbuatan orang gila.

Sumber : nu.or.id
close
Banner iklan disini