Alissa Wahid: Gus Dur Lebih Senang Ditertawakan daripada Dipuji

Alissa Wahid: Gus Dur Lebih Senang Ditertawakan daripada Dipuji


Putri sulung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Alissa Wahid mengatakan bahwa Gus Dur lebih senang ditertawakan daripada dipuja-puja.

"Kita di sini bukan untuk memuji-muji Gus Dur. Beliau lebih senang ditertawakan dari pada dipuji-puji," ungkap Alissa saat memberikan sambutan keluarga pada malam puncak Haul ke-8 Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, Kamis (28/12) malam.

Alissa mengajak segenap pihak untuk meneladani sifat-sifat sederhana dari ayah kandungnya itu. Termasuk zuhud dari kekuasaan.

"Semoga kita bisa meneladani zuhudnya (Gus Dur, red) dari kekuasaan dan materi. Semoga kita bisa meneladani humornya untuk menertawakan dirinya sendiri," jelas perempuan yang mempunyai nama asli Alissa Qotrunnada Munawaroh ini.

Di dekat maqbaroh Almaghfurullah KH Hasyim Asy'ari, KH Wahid Hasyim, KH Abdurrahman Wahid itu, Alissa juga mengajak untuk mencontoh Gus Dur yang selalu melantunkan Syi'ir I'tirof gubahan Abu Nawas untuk selalu mengingat kesalahan dan kekurangan sebagai makhluk yang kecil.

"Semoga kita bisa meneladani almaghfurullah sebagai makhluk yang penuh dosa sehingga beliau setiap hari selalu melantunkan syi'ir untuk mendapatkan ampunan," pintanya denga lugas.

Terakhir, Alissa mengingatkan bahwa inspirasi Gus Dur akan selalu ada bersama kita. "Yang tertinggal dari pemkaman adalah jasad. Tapi sosoknya akan pulang bersama peziarah dan penuh inspirasi," tandasnya.

Selain membacakan puisi 'Celurit Emas', di penghujung sambutannya, ia mengajak seluruh hadirin untuk menyanyikan syi'ir i'tirof untuk mengenang Gus Dur.

Hadir pada acara tersebut, trio menteri kabinet Gus Dur, Khofifah Indar Parawansa, Mahfud MD, dan Rizal Ramli. (Rif'atuz Zuhro/Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Ini Alasan Gus Dur Masuk Gereja

Ini Alasan Gus Dur Masuk Gereja


Gus Dur semasa hidupnya penuh dengan kontroversi. Semua pasti tahu Gus Dur pernah masuk geraja dan bahkan memberikan sambutan di Gereja. Beberpa kiai di Jawa Timur marah besar dan menuduh Gus Dur sesat dan murtad.

Namun hal itu, tidak bagi KH Marzuki Mustamar. Dalam memperingati Haul Sewindu Gus Dur yang digelar di Musholla PWNU Jatim (30/12) ini, Kiai Marzuki mengatakan Gus Dur sendiri yang menceritakan alasan kenapa Gus Dur masuk Gereja.

"Niatku ke Gereja itu, merawat umat yang tercecer. Seperti cleaning servis, satpam, juru masak di Gereja, mereka itu semuanya beragama Islam," tegas Kiai Marzuki.

Mereka itulah yang harus dirawat. Kalau imannya mereka rusak siapa yang akan bertanggung jawab, maka dari itu Gus Dur masuk Gereja dan memberikan penguatan keimanan mereka yang sedang bekerja di gereja.

Selain itu, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim ini mengatakan Gus Dur mengupdate ajaran sang kakek, yaitu Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari. Ajaran Kiai Hasyim adalah memperkuat dan membangun ukhuwah islamiyah, wathoniyah dan ukhuwah basyariyah.

"Ajaran itu dikemas oleh Gus Dur menjadi Keislaman, Keindonesiaan dan Kemanusiaan," kata mantan Ketua PCNU Kabupaten Malang ini.

Ketiganya ini harus seimbang. Kalau hanya memperkuat Keislaman saja, mereka bisa jadi imannya kuat tapi negaranya tidak aman. Seperti di Timur Tengah. Banyak imam yang lahir di timur tengah, tapi hingga kini negeranya tidak aman sehingga mereka susah untuk melakukan ibadah kepada Allah.

Menurut Kiai Pengasuh Ponpes Sabilul Rosyad Malang ini, agama dan negara sama-sama penting. agama adalah pendosi, negaralah yang menjaganya. "Maka dari itu, NU yang selalu menjaga keduanya. Setiap kali NU mengadakan acara seperti tahlil, itu sudah memenuhi unsur Keislaman, Keindonesiaan dan Kemanusiaan," pungkasnya. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Sumber :nu.or.id
Sewindu Kepergian Gus Dur dan Pemilu 2019

Sewindu Kepergian Gus Dur dan Pemilu 2019


Oleh: Zaimuddin Ahya

Tak terasa sudah sewindu Gus Dur meninggalkan kita. Bertepatan dengan sewindu wafatnya Gus Dur, satu tahun lagi kita akan memasuki tahun politik: Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Dan bagi beberapa daerah beberapa bulan lagi akan memilih pemimpin daerahnya. Lalu apa hubungannya, sewindu kepergian Gus Dur, pemilihan kepala daerah dan Pemilu 2019?

Memilih pemimpin, baik skala lokal, regional ataupun nasional, adalah hajat bangsa yang bertujuan mengupayakan kesejahteraan bersama dengan memilih wakil rakyat terbaik. Namun, pada prosesnya tak jarang terjadi percikan-percikan yang kadang memunculkan gesekan di masyarakat. Gesekan-gesekan tersebut sebenarnya tak masalah,  selagi terjadi pada tingkat yang wajar dan sehat. Dalam arti tidak berlanjut dan mendorong kepada perpecahan.

Kalau kita melihat perkembangan terakhir seperti yang terjadi pada pemilihan kepala daerah belum lama ini,  tampaknya gesekan yang terjadi sudah di luar batas kewajaran,  dan—dugaan penulis, semoga tidak benar—berpotensi menuju kepada perpecahan. Misalnya sampai ada masyarakat yang memasang spanduk di depan masjid bertuliskan Tidak akan menyalati (Shalat Jenazah) pemilih calon tertentu.

Penulis dan beberapa teman pernah mendiskusikan hal di atas, dan khawatir jika gesekan-gesekan semacam itu merembet dan terjadi daerah lain saat menunaikan hajat bersama: memilih pemimpin. Apalagi jika hal itu terjadi pada Pemilu tahun 2019 yang meilbatkan seluruh warga Negara Indonesia.

Kekhawatiran ini beralasan, mengingat sekarangg kita sedang memasuki era informasi, bahkan lagi pada tahap ke genit-genit-nya. Begitu banyak perdebatan yang terjadi di media sosial, yang justru berujung kepada saling menghina satu sama lain, adalah salah satu contonhya.

Belajar dari Gus Dur
Supaya hal-hal di atas tidak terjadi atau merembet ke daerah lain, tentu para politisi harus berperan aktif dalam menjaga kesatuan bangsa, menghindarkan perang saudara, karena gesekan-gesekan di atas sedikit banyak terjadi lantaran pilihan politik yang berbeda.

Di sinilah relevan kita kembali melihat bagaimana sepak terjang Gus Dur dalam perpolitikan Indonesia. Gus Dur adalah salah satu contoh tokoh yang merelakan jabatannya demi menghindarkan perang saudara. Sikap Gus Dur yang lebih menghindarkan perang saudara daripada mempertahankan jabatan, tampak jelas pada saat Gus Dur dilengserkan dari kursi Presiden.

Sebenarnya bisa saja Gus Dur mempertahankan jabatan itu. Para simpatisan Gus Dur yang miliitan sudah siap membela Gus Dur. Namun, Gus Dur memilih mundur, karena tak ingin bangsa saling perang antarsesama saudara,  apalagi dengan alasan membela dirinya. Ada kata-kata Gus Dur yang populer dalam konteks ini, “Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian.”

Sikap seperti itulah yang patut dilanjutkan oleh para politisi generasi sekarang, atau istilahnya politisi zaman now. Jangan sampai niat baik untuk memimpin Indonesia, justru tak mengindahkan atau tak peduli dengan gesekan-gesekan yang terjadi di masyarakat. Atau dalam bahasa kasarnya,  jangan sampai keinginan untuk memangku sebuah jabatan, membuat seseorang meghalalkan segala cara, termasuk menimbulkan perpecahan di tingkat bawah.

Popularitas Palsu
Menyambut satu tahun sebelum masuk tahun politik,  atau mungkin beberapa bulan bagi daerah atau provinsi yang akan memilih pemimpin, banyak terlihat para politisi yang popularitasnya berangsur naik. Apakah naiknya popularitas karena diupayakan oleh para politisi itu sendiri,  atau alami dari penilaian masyarakat,  tak jadi soal.

Upaya meningkatkan popularitas bagi para calon pemimpin masa depan, bukanlah hal yang buruk. Bagaimanapun masyarakat akan memilih tokoh-tokoh yang dikenalnya. Namun, jika popularitas yang melambung tinggi tak diikuti dengan aksi nyata, atau jika popularitas hanya berhenti pada popularitas itu sendiri, dan tidak dijadikan sebagai kendaraan menyuarakan hak-hak rakyat, maka ini namanya pseudo populer, atau popularitas palsu.

Terkait popularitas palsu ini,  lagi-lagi relevan kita melihat apa yang telah dilakukan Gus Dur di masa silam. Gus Dur pada akhir tahun 1998, melakukan upaya pencegahan bangsa dari perpecahan. Waktu itu, setelah reformasi, banyak terjadi kekacauan di berbagai daerah, lantaran banyak pengikut Pak Harto (panggilan akrab mantan Presiden Soeharto),  tak puas dengan perlakuan berbagai pihak kepada Pak Harto.

Gus Dur menilai jika hal tersebut tidak disikapi secara hati-hati, berpotensi menggiring bagsa ini kepada perpecahan dan perang saudara. Gus Dur menemui Mantan Presiden Soeharto, Wiranto, dan BJ Habibi (waktu itu menjabat sebagai Presiden, menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri). Menurut Gus Dur, kekacauan yang terjadi akan reda jika tiga tokoh ini bersepakat menyudahi.

Langkah Gus Dur ini dinilai tidak populer. Namun, Gus Dur menjawab, ia tak peduli dengan popularitas. Dia tidak tega melihat bangsa ini hancur. (Majalah Tempo edisi 28 Desember 1998)

Memenuhi Panggilan Kejujuran
Langkah Gus Dur yang tidak tinggal diam saat melihat bangsanya terancam perang saudara, dan bahkan berani mengambil langkah yang tak populer ini,  patut untuk direnungkan kita bersama generasi sekarang, khususnya para politisi yang sebentar lagi akan berikhtiar memimpin bangsa ini.

Langkah Gus Dur mengingatkan penulis kepada kata-kata seorang penulis, Day Milovich tentang panggilan kejujuran . Menurutnya, biarpun seseorang jujur dan tidak pernah tersangkut tindak pidana atau perdata, belum tentu punya panggilan kejujuran. Baginya, jika seseorang diam saat ada situasi kacau, maka orang tersebut tidak menerima panggijan kejujuran, dan tidak termasuk orang jujur.

Jika kita mengaku sebagai penerus Gus Dur, jujur saja tidaklah cukup. Kita harus memenuhi penggilan kejujuran yang telah dicontohkan oleh Gus Dur. Bukan malah memanfaatkan kekacauan untuk kepentingan atau merealisasikan ambisi pribadi. Memenuhi panggilan kejujuran ini sepertinya tidak gampang. Kata Gus Dur di berbagai akhir tulisannya, 'Banyak hal yang mudah dalam konsep, tapi sulit dalam praktik.'

Sumber :nu.or.id
Hujan Pun Segan dengan Mbah Hamid (Adik Mbah Wahab Chasbullah)

Hujan Pun Segan dengan Mbah Hamid (Adik Mbah Wahab Chasbullah)


Mbah Yai Hamid (adik pendiri NU; KH Wahab Chasbulloh) adalah putra mbah Chasbulloh Said Tambak Beras yang wafat tahun 1956 M.

Dalam tutur tinular yang beredar, sepulang belajar dari Makkah, hidup beliau hanya ngglutek (fokus dan tinggal) di pondok untuk ngajar para santri atau ngaji di kampung kampung sekitar Tambakberas saja.

Jadi, bisa dikata, mbah Hamid yang mbengkoni (menunggui) pondok dengan dibantu mbah Yai Fattah, sedang mbah Wahab Chasbulloh bertugas untuk dakwah memperkenalkan NU keluar kota dan propinsi. Kalau pulang saja mbah Wahab ngajar santri.

Karamah uniknya, kalau terjadi mendung di musim hujan, biasanya mbah Hamid akan keluar rumah ngawasi tukang yang sedang membuat bata merah (mbah Hamid berdagang bata merah), Ketika mbah Hamid keluar rumah, maka biasanya mendung tidak jadi menurunkan hujan.

Jadilah orang orang kampung Tambak Beras makmum Yai Hamid dalam membuat bata. Artinya, sekalipun musim hujan, kalau mbah Hamid masih membuat bata merah, maka masyarakat akan ikut buat bata karena tidak kawatir hujan.Kyai Wahab Chasbullah, Tokoh dan Diplomat Internasional

Suatu saat, KH. Wachid Hasyim pergi ke Tambakberas untuk sowan ke mbah Wahab Chasbulloh. Setelah bertemu mbah Wahab, Yai Wachid minta ditakwilkan mimpinya yang berupa kejebur atau kecemplung sumur.

Tahu Yai Wachid minta takwil mimpi, maka mbah Wahab menyuruh Yai Wachid untuk menemui adiknya, yakni mbah Hamid. Ketika Yai Wachid bertemu mbah Hamid dan bercerita tentang mimpinya, maka mbah Hamid hanya menangis.

Setelah Yai Wachid pulang, mbah Wahab bertanya, “Lapo mbok tangisi? (kenapa kamu menangisi Yai Wachid).

Jawab mbah Hamid, “Gus Wachid niku cepet drajatnya, tapi geh cepat pejahnya.” (Yai Wachid itu derajatnya cepat naik, tapi juga cepat wafatnya).

Terbukti KH. Wachid Hasyim masih muda sudah jadi menteri agama, dan masih muda pula wafatnya. (riwayat dari KH. Irfan Sholeh Tambakberas pada 16-8-2016).

Karamah unik lainnya beliau tidak bisa di foto. Beberapa santri dan Kiai memberi kesaksian tentang hal itu.

Mbah Hamid wafat pada 8 ramadhan. Setelah sahur, beliau terhuyung terus berbaring dan minta diambilkan Quran. Setelah quran di tangan mbah Hamid, beliau menutupi wajahnya dengan quran, dan innalillahi wainna ilayhi rajiun. Untuk mbah Hamid, alfatihah.. [dutaislam.com/gg]

Sumber :dutaislam.com
Cara Mbah Umar Solo Tepis Hoaks ketika Diisukan Bid’ahkan Bedug

Cara Mbah Umar Solo Tepis Hoaks ketika Diisukan Bid’ahkan Bedug


Pada tahun 1978, atau sekitar tahun itu, beredar kabar bohong alias hoax di Solo bahwa Mbah Kiai Ahmad Umar bin Abdul Mannan membid’ahkan penggunaan bedug di masjid. Isu itu juga menyatakan bagi yang tidak percaya dipersilakan datang ke Pondok Pesantren Al-Muyyad Mangkuyudan guna membuktikan kebenarannya.

Di Masjid Al-Muayyad memang sejak awal didirikan tidak ada bedug. Yang ada hanyalah sebuah kenthongan untuk menandakan waktu shalat fardhu telah tiba atau iqamah segera dilakukan. Hal ini berbeda dengan di Masjid Tegalsari Surakarta sebagai masjid jami’ dan Masjid Agung Surakarta yang selain terdapat kenthongan juga ada bedug. Ketiadaan bedug di Mangkuyudan telah dijadikan dalil oleh penyebar hoax bahwa Mbah Kiai Umar tidak kersa bedug dengan alasan bid’ah.

Mendengar isu itu Mbah Kiai Umar tidak mengundang wartawan untuk konferensi pers, atau melakukan press release ke berbagai media, atau pula melakukan sumpah di depan publik untuk melakukan penyangkalan. Hal yang segera dilakukan Mbah Kiai Umar adalah melakukan tindakan nyata dengan membeli sebuah bedug berukuran cukup besar untuk ditempatkan di masjid.

Sejak itu setiap hari suara bedug terdengar menggelegar dari mana-mana di sekitar Pondok Pesantren Al-Muayyad yang dulu lebih dikenal dengan nama Pondok Mangkuyudan. Keberadaan bedug beserta suaranya yang cukup keras itu merupakan jawaban empiris dari Mbah Kiai Umar atas hoax yang menimpa beliau.

Dengan jawaban empiris berupa bedug di masjid tersebut Mbah Kiai Umar berharap masyarakat bisa kritis menyikapi hoax atau isu bid’ah dengan cara meragukan dan bukan langsung mempercayainya untuk kemudian membuktikan hal yang sebenarnya guna memperoleh kebenaran yang meyakinan bahwa Mbah Kiai Umar tidak membid’ahkan bedug.

Cara Mbah Kiai Umar merespon hoax seperti itu sejalan dengan metode keraguan (syak minhaji) yang diperkenalkan oleh Imam al-Ghazali sebagaimana dapat ditemukan dalam risalah beliau berjudul al-Munqidz min ad-Dhalal (Pembebas dari Kesesatan) yang ditulisnya pada sekitar tahun 1097.

Metode keraguan Imam Ghazali pada intinya merekomendasikan agar kita bersikap ragu atau tidak membenarkan atau meyakini begitu saja apa yang ada dalam pikiran seperti anggapan-anggapan, dugaan-dugaan, atau bahkan apa yang telah ditangkap oleh indera seperti mendengar suatu berita atau melihat sesuatu, sebelum melakukan pembuktian. Tentu saja metode ini berkaitan dengan hal-hal di luar masalah keimanan.

Bagaimanapun, meragukan adalah sikap tengah-tengah atau moderat. Ia berada di antara dua sikap yang saling bertolak belakang, yakni antara percaya dan mengingkarinya. Karena posisinya di tengah, maka tidak sulit untuk beralih ke posisi mempercayai atau mengingkari setelah ada dalil-dalil atau bukti-bukti yang valid.

Sumber : nu.or.id
Gus Sholah Ungkap 3 Warisan Gus Dur untuk Bangsa Indonesia

Gus Sholah Ungkap 3 Warisan Gus Dur untuk Bangsa Indonesia


Siapa yang tidak kenal Gus Dur? Popularitasnya lintas agama, lintas generasi dan lintas zaman. Meski jasadnya telah wafat, Gus Dur mewariskan nilai-nilai luhur dalam berkehidupan berbangsa, bernegara dan beragama.

Seperti yang diutarakan oleh adik kandung Gus Dur, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) bahwa ada tiga hal yang diwariskan oleh Gus Dur untuk bangsa ini.

"Pertama, demokrasi. Demokrasi yang dicita-citakan Gus Dur merupakan demokrasi substansial, tidak prosedural apalagi transaksional seperti sekarang," beber Gus Sholah dalam acara Haul ke-8 Gus Dur di Pesantren Tebuireng Jombang, Kamis (28/12) malam.

Kedua, lanjut Gus Sholah adalah pluralisme, pluralisme yang tidak bisa dipisahkan dengan toleransi.

"Nilai pluralisme di dalamnya ada toleransi. Ada Bhinneka Tunggal Ika, yang mengusulkan ini adalah Moh. Yamin yang disetujui oleh Bung Karno yg kemudian disetujui oleh BPUPKI," jelas salah satu Tokoh NU ini.

"Toleransi kita pasif. Gus Dur toleransinya aktif yang ikut menyumbangkan pikiran dan tindakan untuk memecahkan masalah," imbuh kiai pegiat literasi ini.

Ketiga adalah nilai kemanusiaan, Gus Sholah mengisahkan Gus Dur pernah diminta untuk menjadi saksi pernikahan umat Konghucu.

"Gus Dur (pernah diminta, red) menjadi saksi di dalam sidang pengadilan pernikahan orang Konghucu yang tidak boleh menikah dengan cara orang Konghucu, kemudian Gus Dur mengusulkan bahwa orang Konghucu diizinkan menikah dengan cara Konghucu. Dan hakim memutuskan untuk menyetujui orang Konghucu menikah dengan cara Konghucu," jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa agama-agama yang ada di Indonesia itu usianya jauh lebih tua dari pada Indonesia itu sendiri.

"Indonesia tidak bisa melarang agama-agama itu," pungkasnya. (Rif'atuz Zuhro/Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Mahfud MD Sembunyikan Nama Tokoh yang Tawarkan Negara Islam kepada Gus Dur Jelang Lengser

Mahfud MD Sembunyikan Nama Tokoh yang Tawarkan Negara Islam kepada Gus Dur Jelang Lengser


Peringatan Haul ke-8 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Tebuireng, Jombang Kamis (28/12) malam, di halaman Pondok Pesantren Tebuireng mengungkap sejumlah kisah haru hingga kemelut politik yang demikian panas. Tepatnya saat Gus Dur hendak lengser menjadi presiden RI.

Mahfud MD, salah satu yang didapuk sebagai pembicara kesaksian Gus Dur saat itu mengungkapkan, ada peristiwa yang saat ini masih belum banyak diketahui khalayak. Ia bercerita, ada sejumlah tokoh Islam yang juga ikut prihatin akan kondisi politik yang kian panas saat Gus Dur hendak lengser.

Mereka menawarkan solusi agar Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia diubah menjadi Negara Islam sehingga berbagai tokoh dan umat Islam dapat mengepung Jakarta dan bisa menyelamatkan Gus Dur. Mereka juga memastikan dalam satu atau dua hari Gus Dur akan selamat dari cekaman politik tersebut, dan Gus Dur pun tetap di posisi menjadi presiden.

"Usulnya begini, nanti tolong sampaikan ke presiden. Presiden jangan mengeluarkan dekrit membubarkan DPR dan MPR, tapi presiden supaya membuat dekrit Indonesia ini menjadi Negara Islam, ganti Pancasila menjadi Negara Islam," katanya menirukan salah satu tokoh yang saat itu ditelpon Mahfud MD menanyakan solusinya.

Usul tersebut kemudian langsung disampaikan kepada Gus Dur yang semula antara Gus Dur dan dirinya tidak pernah tanya terkait solusi atau usul apa yang ingin disampaikan mereka. Namun, cucu KH Hasyim Asy'ari, Pendiri NU itu menolak dengan tegas tawaran solusi dari tokoh tersebut. Menurutnya, usul tersebut sama halnya dengan mengkhianati Republik Indonesia ini.

"Kemudian saya sampaikan kepada Gus Dur. Lagi-lagi Gus Dur marah. 'Saya lebih baik jatuh dari kedudukan presiden daripada mengkhianati republik ini,’" ujar Mahfud MD menirukan ucapan Gus Dur saat itu.

Mahfud MD masih enggan menyebut nama-nama tokoh yang menawarkan solusi tersebut. Ia hanya mengungkapkan ada tujuh tokoh pada saat itu yang mengajukan solusi kepada Gus Dur melalui dirinya.

"Saya ditelpon oleh tokoh-tokoh Islam. Ada tujuh tokoh saat itu. tapi saya tidak mau sebut namanya, ingin bertemu dengan Gus Dur. Mungkin 30 tahun lagi saya tulis," tutur Mahfud.

"Itulah Gus Dur, orangnya punya prinsip, tapi terkadang disampaikan dengan lucu, tapi juga terkadang marah-marah betul," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Sumber :nu.or.id
Uang 20 Ribu Gagalkan Pelengseran Gus Dur

Uang 20 Ribu Gagalkan Pelengseran Gus Dur


Ada kisah menarik ketika gejolak perpolitikan di tanah air memanas untuk melengserkan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dari kursi presiden. Salah seorang 'nyletuk' Gus Dur kurang shodaqoh karena tidak sempat dan jadwalnya padat.

Mendengar hal itu, Khofifah Indar Parawansah yang berada bersama Gus Dur lalu bergegas mengumpulkan uang 20 ribuan untuk dibagikan kepada orang-orang yang kurang mampu dalam kurun waktu 2 bulan.

"Kenapa Gus Dur bala'nya banyak?" tanya Khofifah, yang saat itu tengah cemas.

"Shodaqoh lidaf'il bala'. Saya berharap dengan shodaqoh itu tidak hanya bisa menyelamatkan Gus Dur saja, tapi menyelamatkan bangsa ini," bebernya ketika memberikan sambutan di acara Haul Gus Dur ke-8 di Pesantren Tebuireng Jombang, Kamis (28/12).

Meskipun sebetulnya, dalam persoalan itu, tidak sedikitpun Gus Dur merasa cemas bahwa akan diturunkan dari jabatannya, justru yang cemas dan khawatir adalah sahabat-sahabat Gus Dur.

Tidak sendirian, Khofifah yang pernah menjabat sebagai Mentri Pemberdayaan Perempuan era Gus Dur itu juga didampingi tokoh-tokoh loyalis Gus Dur lainnya seperti Mahfud MD dan Rizal Ramli, yang pada kesempatan malam itu juga turut hadir memberikan sambutan.

Dalam penuturannya, Khofifah yang sejak muda mendampingi Gus Dur, mengaku banyak belajar kebangsaan dan kenegaraan dari gurunya itu.

"Ketika Gus Dur di Amerika, Gus Dur mengatakan, di negeri saya, saya melindungi minoritas. Tolong di negeri anda, anda melindungi minoritas," ungkap Khofifah yang saat ini menjabat Mentri Sosial di Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo.

Sisi lain, banyak yang tidak mengetahui prestasi Gus Dur ketika menjabat sebagai Presiden RI selama 21 bulan selain keberhasilan Gus Dur merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa.

"Betapa dalam kurun waktu 21 bulan menjadi presiden. Seorang Gus Dur mempunyai prestasi yang gemilang di bidang ekonomi, dan lain-lain," imbuh Ketua PP Muslimat NU ini.

Ada proses timbal balik, lanjutnya, tidak semua orang nutut (tidak sampai) dengan pikiran KH Abdurrahman Wahid.

"Kehati-hatian Gus Dur menempatkan (kader NU, red) di pos-pos strategis," jelas mantan politisi PKB itu.

Ia juga meyakinkan bahwa warga Nahdliyin  mempunyai potensi untuk mengisi pos-pos strategis negara.

"Hari ini kita butuh de facto, bahwa di lingkungan NU sudah memenuhi kebutuhan bagaimana (pos-pos, red) kemerdekaan ini kita isi," tambahnya jelas.

Cerita lain dari kesederhanaan Gus Dur, lanjut Khofifah adalah  ketika Gus Dur menjadi presiden dan beliau memilih di wisma negara.

"Salah satu yang mendampingi untuk merumuskan kabinet-kabinet salah satunya adalah saya. Saya termasuk yang mendapatkan tugas untuk menelpon menteri-menteri," tutur mantan Ketua BKKBN ini.

Oleh sebab itu, dari pada disebut sebagai sahabat Gus Dur, Khofifah lebih senang disebut sebagai santri dari KH Abdurrahman Wahid.

"Jika saya disuruh sambutan atas nama persaksian sahabat Gus Dur, sebetulnya saya lebih tepat adalah santrinya Gus Dur, bahkan santri yang belum lulus," ujarnya.

Di akhir sambutannya, ia mengajak segenap khalayak untuk bersama-sama berharap dan berdoa masuk syurga bersama para alim ulama.

"Di samping kita ada maqbarohnya KH Hasyim Asy'ari, KH Wahid Hasyim. Jikalau pada saatnya KH Hasyim Asy'ari beserta dzuriyahnya masuk surga. Semoga kita ikut berbondong-bondong masuk surganya Allah. Meskipun Gus Dur jasadnya telah wafat, namun pikiran-pikiran Gus Dur tetap bersama kita," pungkasnya. (Rif'atuz Zuhro/Zunus Muhammad)

Sumber : nu.or.id
Ternyata, Gus Dur Punya Jimat untuk Memperlancar Persalinan

Ternyata, Gus Dur Punya Jimat untuk Memperlancar Persalinan


Di balik sikap KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dikenal sederhana, memiliki keilmuan yang dalam, suka memperjuangkan kaum lemah dan seterusnya. Ternyata ia juga mempercayai kekuatan mistis, kekuatan yang datangnya dari Allah melalui benda-benda mati.

Cucu Khadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU ini pernah memiliki jimat yang berfungsi mempermudah kaum hawa yang hendak melahirkan. Jimat itu berupa jarek yang harus dipakai ibu-ibu saat proses persalinan.

Perihal ini diungkapkan Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa saat didapuk menjadi pembicara sebagai kesaksian Gus Dur di haulnya ke-8, Kamis (28/12) malam. Khofifah yang saat itu sedang hamil diperintahkan Gus Dur untuk memberitahukan dirinya saat sudah mau melahirkan.

"Mbak, nanti kalau dekat dekat melahirkan, kasih tahu ibunya anak-anak (istri Gus Dur), saya itu punya jarek yang kalau melahirkan kemudian pakai jarek itu, itu akan membantu memperlancar kelahiran," ujarnya menirukan Gus Dur di halaman Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Saat sudah hamil tua, Ketua PP Muslimat NU ini kemudian pinjam jareknya Gus Dur kepada istrinya. Benar saja apa yang pernah dikatakan Gus Dur sebelumnya, proses persalinan dirinya diberikan kemudahan saat memakai jarek tersebut.

"Dan itu betul (mempermudah proses persalinan). Saya pada waktu itu pinjam ke Bu Sinta," beber salah satu mantan kabinet kerja Gus Dur ini.

Gus Dur pun yang saat itu menjabat sebagai presiden lantas menceritakan perihal jimatnya itu pada Hari Keluarga Nasional. Termasuk pembuktian saat dipakai Khofifah waktu hendak melahirkan.

Karena ini yang menyampaikan presiden, yang namanya Kepala Kepala BKKBN saat it, sehari itu saya bisa dapat 100 telpon atau SMS. Namun saya tidak tahu jarek itu sekarang ada dimana," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Zunus)

Sumber : nu.or.id
Penuh Hikmah, KH Tubagus Muhammad Falak Sempat Dikira Dukun

Penuh Hikmah, KH Tubagus Muhammad Falak Sempat Dikira Dukun


Di antara kelebihan para ulama pendahulu adalah karomah atau keistimewaan selain ilmu agama yang mumpuni. Bahkan, para ulama pesantren juga mempunyai bekal ilmu kanuragan atau kesaktian bela diri dan tenaga dalam. Ilmu agama, dipadu dengan keistimewaan dan kanuragan yang tinggi menjadi pendamping setia dalam menghadapi setiap ancaman dalam berdakwah.

Sejarah mencatat, para kiai Nahdlatul Ulama (NU) mendapat rintangan yang tidak mudah ketika berdakwah dengan mendirikan pesantren di sebuah wilayah yang merupakan ‘zona merah’. Sebut saja Hadratussyekh Hasyim Asy’ari saat mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang yang mendapat gangguan dari orang-orang jahat yang tidak suka dengan keberadaan dakwah pesantren kala itu. Namun dengan bekal ilmu hikmah dan kanuragan yang cukup, Kiai Hasyim Asy’ari tidak hanya mampu menaklukkan para bandit, tetapi menyadarkan mereka untuk ikut dan belajar di pesantren.

Begitu juga dengan KH Tubagus Muhammad Falak. Kiai kelahiran 1842 di Kampung Sabi, Pandeglang, Banten yang merupakan teman seperjuangan Kiai Hasyim Asy’ari ini juga mendapat rintangan serupa ketika ingin mendirikan sebuah Pesantren Al-Falak di daerah Pagentongan, Desa Gunung Batu, Kecamatan Ciomas, sekitar 9 kilometer dari pusat Kota Bogor, Jawa Barat.

Kiai yang juga perintis NU di wilayah Bogor ini mendapat tantangan tidak mudah ketika mendapati sebuah masyarakat yang percaya akan dukun dan penuh dengan mistifikasi. Sehingga putra KH Tubagus Abbas yang mempunyai ketersambungan nasab kepada Sultan Maulana Hasanuddin, Raja Banten putra Sunan Gunung Jati ini harus terlebih dahulu menghadapi dukun-dukun tangguh dan kuat di kampung tersebut.

Pertarungan dengan dukun di sini bukan dalam hal fisik, tetapi lebih kepada penguatan akidah dan nilai-nilai Islam. Kiai Tubagus Muhammad Falak dengan ilmu hikmah dan karomahnya mampu membuat masyarakat di Pagentongan percaya bahwa Allah-lah Yang Maha Kuasa dan Penolong sehingga mereka tidak lagi percaya kepada dukun, kembali kepada ajaran ulama yang tersambung ilmunya hingga Nabi Muhammad.

Setelah para dukun dikalahkan, sasaran berikutnya adalah para jawara – penjahat jagoan kampung – yang seringkali mengganggu kehidupan penduduk, terutama di malam hari dan di tempat-tempat terpencil. Sehingga Kiai Tubagus Muhammad Falak yang paham dan menguasai ilmu tenaga dalam (kanuragan) mengajarkan wirid syaman kepada beberapa santrinya. (Choirul Anam, 2010)

Wirid syaman merupakan doa-doa yang berasal dari ajaran Syekh Syaman disertai jurus dan gerakan-gerakan berkeliling dan maju, dilakukan oleh laki-laki. Dengan wirid ini, para santri mempercayai seperti mendapat tambahan kekuatan jasmani dan keberanian untuk menghadapi lawan dan pergulatan. Bekal ilmu kanuragan berbasis spiritualitas ini yang kemudian membuat para santri mampu mematahkan gangguan dari para ‘jawara’ tersebut.

Masyarakat merasa tertolong dengan adanya bantuan dari kiai yang merupakan seorang mursyid (guru besar) Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ini. Dengan demikian, tumbuhlah pengakuan masyarakat terhadap kelebihan Kiai Muhammad Falak. Bahkan dalam pandangan awam, Kiai Muhammad Falak tidak hanya dikenal sebagai ulama terkemuka dan sakti, tetapi juga sempat dianggap sebagai dukun keramat yang memiliki banyak ilmu hikmah.

Padahal, kesaktian kiai yang wafat pada 1972 di usia 130 tahun di Pagentongan ini diperoleh dari memahami ilmu tenaga dalam yang disertai dengan sejumlah wirid dan doa sebagai wujud kepasrahan manusia terhadap kekuatan Allah Yang Mahadahsyat. Dengan perjuangan untuk masyarakatnya itu, Kiai Muhammad Falak ditetapkan oleh masyarakat sebagai seorang pemimpin kharismatik yang kehadirannya banyak menolong masyarakat sekitar.

Karena itu, seiring dengan berjalannya waktu, banyak santri dan masyarakat berbondong-bondong ingin belajar ilmu agama kepada Kiai Tubagus Muhammad Falak di Pesantren Al-Falak Pagentongan. Itulah titik awal pesantren yang didirikan pada 1907 itu menjadi pesantren yang masyhur dan terus bergerak maju. (Fathoni Ahmad)
Penuh Hikmah, KH Tubagus Muhammad Falak Sempat Dikira DukunAlmaghfurlah KH Tubagus Muhammad Falak.
Di antara kelebihan para ulama pendahulu adalah karomah atau keistimewaan selain ilmu agama yang mumpuni. Bahkan, para ulama pesantren juga mempunyai bekal ilmu kanuragan atau kesaktian bela diri dan tenaga dalam. Ilmu agama, dipadu dengan keistimewaan dan kanuragan yang tinggi menjadi pendamping setia dalam menghadapi setiap ancaman dalam berdakwah.

Sejarah mencatat, para kiai Nahdlatul Ulama (NU) mendapat rintangan yang tidak mudah ketika berdakwah dengan mendirikan pesantren di sebuah wilayah yang merupakan ‘zona merah’. Sebut saja Hadratussyekh Hasyim Asy’ari saat mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang yang mendapat gangguan dari orang-orang jahat yang tidak suka dengan keberadaan dakwah pesantren kala itu. Namun dengan bekal ilmu hikmah dan kanuragan yang cukup, Kiai Hasyim Asy’ari tidak hanya mampu menaklukkan para bandit, tetapi menyadarkan mereka untuk ikut dan belajar di pesantren.

Begitu juga dengan KH Tubagus Muhammad Falak. Kiai kelahiran 1842 di Kampung Sabi, Pandeglang, Banten yang merupakan teman seperjuangan Kiai Hasyim Asy’ari ini juga mendapat rintangan serupa ketika ingin mendirikan sebuah Pesantren Al-Falak di daerah Pagentongan, Desa Gunung Batu, Kecamatan Ciomas, sekitar 9 kilometer dari pusat Kota Bogor, Jawa Barat.

Kiai yang juga perintis NU di wilayah Bogor ini mendapat tantangan tidak mudah ketika mendapati sebuah masyarakat yang percaya akan dukun dan penuh dengan mistifikasi. Sehingga putra KH Tubagus Abbas yang mempunyai ketersambungan nasab kepada Sultan Maulana Hasanuddin, Raja Banten putra Sunan Gunung Jati ini harus terlebih dahulu menghadapi dukun-dukun tangguh dan kuat di kampung tersebut.

Pertarungan dengan dukun di sini bukan dalam hal fisik, tetapi lebih kepada penguatan akidah dan nilai-nilai Islam. Kiai Tubagus Muhammad Falak dengan ilmu hikmah dan karomahnya mampu membuat masyarakat di Pagentongan percaya bahwa Allah-lah Yang Maha Kuasa dan Penolong sehingga mereka tidak lagi percaya kepada dukun, kembali kepada ajaran ulama yang tersambung ilmunya hingga Nabi Muhammad.

Setelah para dukun dikalahkan, sasaran berikutnya adalah para jawara – penjahat jagoan kampung – yang seringkali mengganggu kehidupan penduduk, terutama di malam hari dan di tempat-tempat terpencil. Sehingga Kiai Tubagus Muhammad Falak yang paham dan menguasai ilmu tenaga dalam (kanuragan) mengajarkan wirid syaman kepada beberapa santrinya. (Choirul Anam, 2010)

Wirid syaman merupakan doa-doa yang berasal dari ajaran Syekh Syaman disertai jurus dan gerakan-gerakan berkeliling dan maju, dilakukan oleh laki-laki. Dengan wirid ini, para santri mempercayai seperti mendapat tambahan kekuatan jasmani dan keberanian untuk menghadapi lawan dan pergulatan. Bekal ilmu kanuragan berbasis spiritualitas ini yang kemudian membuat para santri mampu mematahkan gangguan dari para ‘jawara’ tersebut.

Masyarakat merasa tertolong dengan adanya bantuan dari kiai yang merupakan seorang mursyid (guru besar) Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ini. Dengan demikian, tumbuhlah pengakuan masyarakat terhadap kelebihan Kiai Muhammad Falak. Bahkan dalam pandangan awam, Kiai Muhammad Falak tidak hanya dikenal sebagai ulama terkemuka dan sakti, tetapi juga sempat dianggap sebagai dukun keramat yang memiliki banyak ilmu hikmah.

Padahal, kesaktian kiai yang wafat pada 1972 di usia 130 tahun di Pagentongan ini diperoleh dari memahami ilmu tenaga dalam yang disertai dengan sejumlah wirid dan doa sebagai wujud kepasrahan manusia terhadap kekuatan Allah Yang Mahadahsyat. Dengan perjuangan untuk masyarakatnya itu, Kiai Muhammad Falak ditetapkan oleh masyarakat sebagai seorang pemimpin kharismatik yang kehadirannya banyak menolong masyarakat sekitar.

Karena itu, seiring dengan berjalannya waktu, banyak santri dan masyarakat berbondong-bondong ingin belajar ilmu agama kepada Kiai Tubagus Muhammad Falak di Pesantren Al-Falak Pagentongan. Itulah titik awal pesantren yang didirikan pada 1907 itu menjadi pesantren yang masyhur dan terus bergerak maju. (Fathoni Ahmad)

Sumber :nu.or.id
Gus Dur dan Seorang Kiai Syuriyah

Gus Dur dan Seorang Kiai Syuriyah


Oleh Nur Khalik Ridwan

Dalam cerita ke-5 saya menceritakan kisah Kiai Gunung di bagian timur Pulau Jawa. Pada cerita ke-6 kali ini saya bercerita tentang mereka yang mengalami ro’yu filmanâm, dari luar Jawa. Cerita dari luar Jawa dari cerita-cerita yang saya tulis tentang mereka yang mengalami ro’yu filmanâm ini, adalah cerita kedua, setelah yang pertama soal Gus Dur dan Dzikir surat al-Fatihah, yang berasal dari pulau luar Jawa bagian barat. Dan, kini dari luar Jawa, yang bagian wilayah baratnya pernah dikoyak oleh kekerasan etnis.

Saya mengenalnya waktu mahasiswa, sebagai seorang yang selalu ikut bersama para demonstran; dan ikut bersama kampanye PKB pertama di Bantul, dengan knalpot motor blombongannya, bersama laskarnya Cak Kowi. Cintanya kepada Gus Dur, dimulai bersama sahabat-sahabat yang ikut pergerakan; dan kemudian membeli buku-buku dan mengoleksi tulisan-tulisan Gus Dur, dan berdiskusi; kemudian di daerahnya ikut mengembangkan pemikiran Gus Dur dan berkhidmah di NU. Bahkan, kami satu angkatan dalam pengkaderan, dan bersama-sama di Parangtiritis pernah mengalami linglung dengan parade puisi kepada ombak-ombak yang berdebur tak berkesudahan.

Lama sekali tidak bertemu, 10-an tahun lebih. Dan, upaya untuk menemuinya, harus melewati pulau dengan pesawat, mobil, dan akhirnya speedboat. Itu pertemuan pertama, setelah 10-an tahun tidak bertemu, terdapat keharuan, diikat oleh satu kesamaan perjuangan hubbul waton minal iman, dan berkhidmah di lingkungan Nahdlatul Ulama. Dan, ketika pertemuan itu terjadi, sahabat kami ini, sudah duduk di jajaran Kiai Syuriyah di Jam'iyah NU wilayah; dan saya waktu itu masih di PP RMI NU.

Pada pertemuan pertama ini, kami mendiskusikan banyak hal tentang penetrasi gerakan Islam takfiri, lalu ketika sudah larut, mulai bercerita tentang Gus Dur. Kami bertukar pengalaman masing-masing, dan saya banyak mendengarkan. Kiai Syuriyah ini, sampailah pada kondisi menceritakan mimpinya tentang Gus Dur, dari sederet kerinduannya kepada Gus Dur. Mimpi ini sampai empat kali.

Mimpi pertama diceritakan begini:

“Ada seorang budayawan nasional terkenal yang tergopoh-gopoh menemuiku. Lalu serentetan intruksi dikucurkan bertubi-tubi tanpa sedetikpun kesempatan bagiku untuk sekedar bertanya. Komunikasinya monolog dan instruktif, seolah-olah kami telah saling kenal akrab satu sama lain selama ini. Anehnya, aku sendiri dalam mimpi itu tidak mempersoalkan itu. Jauh dalam sanubariku sudah ada sejenis pemahaman bahwa hal ini memang akan terjadi. Entah kenapa.”

Aku pun bertanya, setelah itu, budayawan itu kenapa, dan Kiai Syuriyah itu menjawab, bahwa Budayawan itu menginstruksikan begini dalam mimpinya:

“Sebentar lagi Gus Dur datang dengan rombongannya. Ndak usah repot-repot, yang penting ada nyamilan dan teles-telesan. Sembarang, kopi atau wedang jahe yang penting hangat-hangat panas…”

Setelah ada instruksi dari seorang budayawan nasional terkenal itu, katanya: “Aku ndomblong sebentar dan sesaat kemudian langsung ngacir sipat kuping menuju dapur. Semua penghuni rumah aku komando untuk cancut taliwondo mempersiapkan ubo rampe dan segala sesuatu yang diperlukan. Otomatis seisi rumah riuh dan mendadak kami telah menjadi panitia tiban, atas rawuhya Gus Dur, yang konon katanya tidak lama lagi.”

Kiai Suriyah meneruskan ceritanya begini: “Beberapa tokoh dan kyai kampung aku hubungi, jaringan anak muda, Pak Camat dan Pak Kades dengan seluruh perangkatnya tidak ketinggalan aku kabari, hingga beberapa waktu kemudian semuanya berjubel tidak rapi di dalam dan di luar rumahku. Saat itu aku merasa tidak dalam kapasitas untuk menyusun atau mengatur siapa yang boleh di dalam dan siapa yang harus di luar. Kesadaran diri menuntunku ke dapur, ikut sibuk mengurus jamuan bagi para tamu.”

“Ketika aku di dapur, sekonyong-konyong suasana berubah. Ada riuh gremengan seperti suara lebah kemudian menjadi lantunan shalawat yang nyendal jantungku. “Itu pasti Gus Dur,” gumamku. Semua pekerjaanku di dapur terhenti secara reflek. Nampan yang berisi minuman aku telantarkan begitu saja dan langsung lari ke depan. “Allohumma sholli 'alâ Sayyidinâ Muhammad”, aku teriak sekeras-kerasnya di tengah-tengah jubelan orang banyak. Tapi tak satupun suara keluar dari bibirku.”

“Di gawangan pintu pemisah antara ruang dalam dan ruang tamu aku terhenti. Sosok Gus Dur tampak jelas memasuki pelataran rumahku. Lututku menggigil, air mataku mengalir, seolah-olah belahan matahari baru saja dicelupkan ke dalam aliran darahku. Ada 9 orang yang menyertai Gus Dur. Satu di antaranya aku kenal betul sebagai budayawan nasional yang pernah aku baca puisi-puisinya. Tiga yang lain berbusana Kyai. Aku tidak mengenalnya, tapi hatiku merasa tidak asing dengan beliau bertiga. Selebihnya aku sama sekali tidak kenal, hanya saja 2 di antaranya berperawakan khas ala timur tengah.”

Karena ceritanya panjang, saya hanya mendengarkan, sementara tangan mengarahkan rokok ke mulutnya, lalu berkata lagi:

“Dikelilingi para tokoh lokal dan dipandu seorang budayawan nasional terkenal, para hadirin membentuk melodi obrolan yang sakral sekaligus gayeng. Aku tidak sepenuhnya mendengar apa yang mereka bicarakan kecuali tentang kode-kode tertentu yang lamat-lamat sempat aku curi dengar. Berkali-kali bapakku, memberi isyarat melalui mata dan tangannya agar aku terus melayani mereka. Tak ayal, aku harus mondar mandir ke depan ke belakang demi kelancaran suguhan, tanpa sempat menikmati dinamika komunikasi yang tengah berlangsung. Sesekali, sebagai cantrik aku menyempatkan diri mencucup tangan-tangan mereka pada saat menyuguhkan minuman. Ada kedamaian tersendiri yang menyusup ke dalam jantung. Pancuran-pancuran terbuka, sungai-sungai mengalir dan kesadaranku seperti dipenuhi nuansa laut yang tremendous dan agung.”

Kiai Syuriyah ini, mengakhiri ceritanya: “Aku masih meneteskan airmata ketika tiba-tiba majelis itu selesai. Semua orang berebut untuk salaman. Aku sendiri terjepit di antara banyak ketiak manusia dan kehilangan peluang bersalaman. Menyadari pagar betis manusia yang tidak mungkin aku tembus, maka jalur alternatif melalui pintu samping menjadi sasaranku berikutnya. Dan, Alhamdulillah, di pelataran rumahku akhirnya aku bisa menyalami Gus Dur, mencium tangan dan memeluk dengkulnya.”

Gus Dur berkata: “Ini siapa?” Beliau bertanya dan seketika lidahku tercekat. Aku tak mampu menyebutkan namaku sendiri.

Kiai Syuriyah menjawab: “Kulo santri Njenengan, Gus..”, dengan lirih.

Gus Dur terkekeh dengan tawanya yang khas dan berkata: “Hehehehehe… Ya seperti inilah orang Indonesia yang membumi…,” sambil semua orang yang hadir tersenyum dan memandangku utuh-utuh.”

Mimpi itu katanya terjadi menjelang shubuh. Dan ketika Gus Dur terkekeh dan bilang begitu, Kiai Syuriyah ini masih termangu mengiringi kepergian Gus Dur. Sejurus kemudian sayup-sayup adzan shubuh menyusup dalam kesadarannya.

Kata Kiai Syuriyah ini: “Seketika aku terbangun dan langsung sujud syukur. Seluruh emosi dan rindu berkumpul dalam lelehan airmata yang menggenang di lantai kamarku, hingga sawal-bantal yang basah kuyup tak sempat lagi aku rapikan.” Kyai Syuriyah ini pun merintih-rintih mengingat Gus Dur yang baru saja pergi.

Kiai yang masih terpaku dengan mimpinya itu, dikagetkan oleh pelukan halus sang istri dari belakang dan menepuk pundaknya, sambil berkata: “Ada apa ini, Abah?”

"Aku diam tak mampu menjawab, dan tak kuasa untuk bercerita. Hanya napas dan airmataku saja yang bicara. Istriku mengurut-urut punggungku hingga akhirnya aku mampu duduk dan bercerita.”

Lalu, kiai syuriyah pun berkata kepada istrinya: “Gus Dur barusan dari sini…”

Istri Sang Kyai menjawab: “Haa... milo? Kapan? Allôhumma sholli 'alâ Sayyidinâ Muhammad…” Istri Sang Kiai terperanjat, tak bisa menutupi kekagetannya.

“Barusan, dalam mimpiku…” Kemudian dengan terbata-bata Kyai Syuriyah menceritakan kronologinya. Istrinya khusyu’ mendengar sambil sesekali mengusap airmata. Jari-jarinya tak henti mengurut tanganku.

Istri Sang Kiai kemudian berucap: “Alhamdulillah.. mugo-mugo barokah, Abah...” Sang Istri Ialu memeluknya merasakan ombak yang masih berdebur di tepi laut dalam jantung Sang Kyai.

Lalu berkata lagi: “Ya sudah, sekarang kita sholat shubuh dulu, terus nanti kita kirim Fâtihah untuk Gus Dur…”

Aku kemudian menyela Kiai Syuriyah, di tengah malam yang terus larut itu: “Mimpi selanjutnya bagaimana kiai?”

Kiai Syuriyah menyadari keadaan malam yang larut, akhirnya merangkum mimpi-mimpi selanjutnya, katanya: “Mimpi yang kedua Gus Dur datang dan aku diberi wirid disuruh membaca Bismillah dan Surat al-Fatihah. Mimpi ketiga, bertemu Gus Dur dalam ruang Sholawatan bersama. Dan yang keempat, diperlihatkan/diajari untuk ikut merawat Nusantara dengan Gus Dur sebagai sumber inspirasi, dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat…”

Aku kemudian bertanya: “Wirid Fatihahnya berapa kali?”

Kiai Syuriyah menjawab: “Wirid ini kemudian saya konsultasikan kepada tokoh JATMAN, dan dipertegas agar membaca, 41 surat al-Fatihah, Bismillah 333 x; dan sholawat sebanyak-banyaknya, dengan tanpa melupakan istighfar.

Mimpi Kiai Syuriyah ini memberikan pelajaran, bahwa dalam rangka ikut merawat peradaban Nusantara ini, sebagaimana yang diajarkan Gus Dur melalui mimpi kepada Kiai Syuriyah ini, para santri harus membekali diri dengan wirid-wirid yang diistiqomahi; mengirim Fatihah kepada para guru; menghidupkan sholawatan dan terlibat dalam kegiatan sholawatan; dan tanpa melupakan terus menerus melakukan aktivitas keseharian untuk memberikan manfaat kepada orang lain, dan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mempertinggi mutu martabat agama dan manusia di Nusantara ini.

Wirid-wirid itu akan berbuah dua arah: untuk menempa diri agar matang secara pribadi, sehingga artikulasi-artikulasi publik yang dilakukan sebagai bagian dari pengabdian seseorang, tidak didasarkan pada keserakahan nafsu: akan membuahkan keikhlasan. Peradaban Nusantara ini memperlukan paku-paku kultural santri di lokal masing-masing daerah dari para mukhlisin; pada saat yang sama mengetahui teori-teori sosial dan kitab kuning sekaligus.

Aspek kedua, peradaban itu juga mengandung di dalamnya aspek batin, di mana wirid-wirid dan doa-doa itu akan ikut memperkuat jalinan peradaban Nusantara yang bermartabat dari sudut batin peradaban Nusantara dan mereka yang diamanahi oleh Alloh untuk menjaganya di alam batin.

Hal ini, mengingatkan pada pelajaran tasawuf bahwa Nusantara ini, tanah dengan segala bentuk percampuran unsurnya; air dengan segala bentuk unsur dan coraknya; pohon dengan segala jenisnya; hewan dengan segala bentuknya; dan angin dengan segala bentukanya di Nusantara ini, terdiri dari yang fisik dan batin; demikian juga penghuni-penghuninya.

Dengan demikian, tatanan peradaban Nusantara itu juga akan bermartabat manakala juga disentuh dari sudut tatanan batin ini. Maka, kalau seseorang santri istiqomah dzikir yang berguna untuk tazkiyatun nafs bagi dirinya, juga ada baiknya memasukkan dalam dzikirnya itu doa-doa, untuk bangsa Nusantara dan penghuninya ini agar dirahmati Allah, dengan berbagai bentuk bahasa masing-masing: jangan sampai ditinggal misalnya “Allôhumaslih lana umurona, wa umûrol muslimîn, wa Indonesianâ”; dan kalau dia seorang NU ditambah “wa jam'iyatana, wa warhamna jami'ân”.

Jadi, kesadaran bagi mereka yang ingin ikut merawat dan terlibat dalam membangun peradaban Nusantara agar menjadi lebih bermartabat, bagi seorang santri, juga harus diimbangi dengan kesadaran adanya level batin Nusantara. Ditambah dengan kesadaran dalam doa-doa mereka untuk kebaikan negeri ini. Wallahu a’lam.

Sumber :nu.or.id
Cerita Gus Dur tentang Paus Nyetir Mobil

Cerita Gus Dur tentang Paus Nyetir Mobil


KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, selain dikenal sebagai sosok ulama, pemikir, penulis, humanis, negarawan, dll, juga dikenal dengan joke atau humornya yang cerdas dan tinggi. Hal itu terbukti dari deretan buku-buku tentang Gus Dur, banyak juga yang mengungkap sisi joke beliau.

Ketika mengisi Orasi Ilmiah dalam rangka Peresmian Kampus Universitas Yudharta, Pasuruan dan Kolokium (seminar) Ulama se-Indonesia di Pondok Pesantren Ngalah, Purwosari, Pasuruan, Senin, 23 Mei 2005 silam, di depan para ulama dan tokoh lintas agama, ia menyampaikan joke-jokenya.

Salah satu joke yang dibawakan oleh mantan Ketua Umum PBNU ini adalah tentang Sri Paus, pemimpin Gereja Katolik dunia.

“Karena di hadapan Romo, saya tidak tahan, terpaksa, menceritakan yang belakangan ini, sebagai penutup,” ungkap Gus Dur mengawali ceritanya. Semua hadirin menyimak dengan seksama. Kemudian Presiden Republik Indonesia ke-4 ini pun bercerita.

Beberapa bulan sebelum wafatnya, Sri Paus datang ke New York di Amerika Serikat. Sore-sore, dia naik mobil dipinggir kota, kan sepi.

Dia bilang kepada sopir: “Pir, Anda berhenti. Anda pindah ke belakang, saya ingin belajar nyetir”.

Umurnya sudah 84 tahun, jalan saja (susahnya) setengah mati, (malah) nyetir! Dua menit masuk selokan. Polisi (kemudian) datang, wiu-wiu-wiu. Diurusi semuanya, beres. Ya ndak kecelakaan, orang pelan saja. Polisi itu menelepon kepada komandannya:

“Ndan, saya ini lagi ngurusi orang penting kecelakaan.”

“Siapa? Presiden?”

“Bukan?”

“Wakil Presiden?”

“Bukan!”

“Menteri?”

“Bukan!”

“Senator?”

“Bukan!”

“Gubernur?”

“Bukan!”

“Wali Kota?”

“Bukan!”

“Lha, siapa?”

“Ndak tahu. Sopirnya saja, Paus!”

Hahaha! Hadirin pun dibuat terbahak-bahak.

“Yang diurusi malah sopir yang dibelakang!” imbuh Gus Dur.

“Lha (cerita) ini, saya ndak tahan: dihadapan pastur terpaksa saya cerita,” pungkas Gus Dur mengakhiri cerita. (Ahmad Naufa)

Sumber :nu.or.id
Gus Dur: Akan Tiba Saatnya Orang yang Tidak Pernah Belajar di Pesantren Dianggap Alim

Gus Dur: Akan Tiba Saatnya Orang yang Tidak Pernah Belajar di Pesantren Dianggap Alim


Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) KH Maman Imanul Haq menceritakan, suatu ketika KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah mengatakan bahwa akan tiba saatnya orang yang tidak pernah belajar di pesantren tetapi mereka dianggap sebagai orang yang alim dan dijadikan rujukan serta panutan.

“Maka muncul lah survei (tentang) siapa kiai yang paling berpengaruh. Yang keluar A (misalnya yang tidak pernah nyantri),” kata Kiai Maman pada acara bedah buku Tambak Beras: Menelisik Sejarah, Memetik Uswah di UIN Jakarta, Selasa (19/12/2017).

Padahal, imbuh Kang Maman, ada banyak kiai yang belajar agama Islam bertahun-bertahun di pesantren. Mereka pasti ahli dalam agama, namun karena tidak ada di Youtube mereka dianggap tidak ada.

“Quraish Shihab, Mustofa Bisri, Mbah Maimoen Zubair, yang bertahun-tahun belajar agama dianggap tidak ada,” lanjut Pengasuh Pesatren Al Mizan itu.

Lebih lanjut, ia mendorong kepada para santri untuk menulis kiainya sehingga kiprah dan peran guru-gurunya tersebut bisa diketahui khalayak umum.

“Dimanapun kita berada, kita harus memulai menulis kiai kita,” tegasnya.

Di era media sosial seperti saat ini, siapa saja bisa dengan mudah dipanggil ustadz. Cukup dengan pandai berceramah, maka akan dipanggil ustadz meskipun ilmunya tidak seberapa jika dibandingkan dengan kiai-kiai yang ada di pesantren. [dutaislam.com/muchlishon rochmat/gg]

Sumber :nu.or.id
Antara Mbah Manab Lirboyo dan Mbah Abbas Buntet

Antara Mbah Manab Lirboyo dan Mbah Abbas Buntet


KH Abdullah Abbas dan KH Abdul Karim (Mbah Manab) adalah tokoh besar dalam sejarah Nahdlatul Ulama. Kiai Abbas terkenal tak hanya sebagai kiai yang alim tapi juga ‘jadug’ alias ahli kanuragan asal Buntet, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Sebagai salah satu murid utama Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, Kiai Abbas bahkan mendapatkan kepercayaan sepenuhnya untuk menjadi panglima perang bersejarah bangsa Indonesia di Surabaya, 10 November 1945. Pertempuran yang sedianya dimulai pada satu hari sebelumnya, namun oleh Mbah Hasyim diundur sampai menunggu kedatangan sang macan dari Cirebon, Kiai Abbas Buntet.

Mbah Abbas tercatat sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah besar bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan melawan penjajah pada 10 November yang hingga kini diperingati sebagai hari pahlawan.

Beda Mbah Abbas, beda Mbah Manab Lirboyo. Bila Mbah Abbas dikenal secara luas namanya di hampir seluruh penjuru Indonesia, Mbah Manab lebih cenderung mastur (tertutupi). Mbah Manab adalah sosok kiai di balik layar, beliau hampir tidak pernah diberitakan secara luas di khalayak. Peran beliau lebih banyak terlihat mengasuh para santri di dalam pesantren. Namun kecintaannya kepada tanah air tidak diragukan lagi. Terbukti dalam masa-masa menghadapi para penjajah, para santri Lirboyo asuhan beliau juga banyak yang diutus untuk terlibat perang melawan tentara sekutu.

Mbah Manab yang sekarang lebih dikenal dengan nama KH Abdul Karim adalah ulama yang ‘alim ‘allamah (cendekia yang sangat alim). Beliau menguasai ilmu-ilmu agama dalam berbagai macam fan. Di antara ilmu-ilmu agama yang beliau kuasai, yang paling tampak dari beliau adalah kepiawannya di bidang ilmu nahwu dan sharaf (gramatika Arab).

Kepakaran Mbah Manab di bidang nahwu dan sharaf diakui oleh para ulama besar di bumi Nusantara, termasuk oleh KH Kholil Bangkalan dan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Bahkan, ayahanda mendiang Gus Dur yang juga dikenal sebagai pahlawan nasional, KH Abdul Wahid Hasyim juga berguru kepada Mbah Manab untuk mengaji kitab Alfiyyah Ibnu Malik, sebuah karya besar Imam Ibnu Malik tentang gramatika Arab yang tidak asing lagi di kalangan para santri. Menurut riwayat dari cicitnya Mbah Manab, yaitu KH Ibrahim Ahmad Hafizh, Mbah Wahid Hasyim belajar Alfiyyah kepada Mbah Manab hanya ditempuh dalam waktu satu minggu.

Banyak kiai-kiai pada waktu itu merekomendasikan para santri yang berniat mengaji ilmu gramatika Arab agar belajar langsung kepada Mbah Manab. Kepakaran Mbah Manab di bidang nahwu dan sharaf sudah tampak sejak beliau mesantren di Bangkalan dan Tebuireng.

Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari misalnya, beliau merekomendasikan KH Abbas Buntet untuk ‘sorogan’ mengaji kitab kepada Mbah Manab di Pesantren Lirboyo. Saran dan petunjuk Mbah Hasyim tersebut sangat dirasakan manfaatnya oleh Mbah Abbas. Kiai Abbas merasa ‘marem’ (puas) belajar membaca kitab di bawah bimbingan Mbah Manab. Banyak pelajaran dan ilmu berharga yang didapat Mbah Abbas saat mengaji kepada Mbah Manab. Kiai Abbas digemleng oleh Mbah Manab di pesantren Lirboyo hingga menjadi kiai yang alim.

Selepas pulang dari pesantren Lirboyo, kiai Abbas kembali ke tanah kelahirannya di Cirebon untuk berkiprah di masyarakat. Kiai Abbas di tanah kelahirannya banyak merekomendasikan anak-anak muda di Cirebon untuk mesantren di Lirboyo Kediri. Sejak saat itu, santri-santri asal Cirebon mulai banyak berdatangan di Lirboyo. Hingga kini Pesantren Lirboyo menjadi salah satu pesantren terbesar di Nusantara dengan jumlah santri dan alumni yang menyebar di mana-mana. Dan di antara ribuan santri di Lirboyo, banyak santri yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Hal tersebut tidak lepas dari peran Kiai Abbas mengenalkan sosok kiainya, Mbah Manab kepada wali santri di Cirebon.

Riwayat tentang Mbah Hasyim yang menyarankan Mbah Abbas mesantren di Lirboyo juga didapatkan penulis dari cicitnya Mbah Manab, KH Ibrahim Ahmad Hafizh.

Demikianlah hubungan antara Kiai Manab dan Kiai Abbas, hubungan antara santri dan kiai yang berjasa besar melahirkan generasi ulama dan tokoh perjuangan yang bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara. Ketokohan Kiai Abbas Buntet yang begitu terkenal, tidak lepas dari gemblengan sang kiai ‘mastur’, KH Abdul Karim Lirboyo. Benar kata para ulama, “Kam min masyhurin bibarakatil mastur (banyak tokoh yang terkenal berkat sentuhan sosok di balik layar).”

Untuk kedua guru dan masyayikh kita, KH Abdul Karim dan KH Abdullah Abbas, mari kita hadiahkan bacaan surat al-Fatihah... (M. Mubasysyarum Bih)

Sumber : nu.or.id
Gus Dur dan Mimpi Kiai Gunung

Gus Dur dan Mimpi Kiai Gunung


Oleh Nur Khalik Ridwan

Dalam cerita sebelumnya, saya berjalan ke arah barat, bertemu Kang Tabib. Pada cerita kali ini, adalah perjalanan ke arah timur, menemui seorang kiai, yang saya sebut sebagai Kiai Gunung. Dulu kami bersama-sama, ketika meneliti untuk terbitnya buku Ilusi Negara Islam. Bedanya, saya di Yogyakarta; dan Kiai Gunung tinggal di Jakarta. Awalnya saya menduga dia masih di Jakarta, karena pernah suatu ketika bertemu di kantor PBNU, di Kramat; dan berdiskusi agak lama. Baru tahu belakangan, ternyata Kiai Gunung ini tinggal dan pulang ke kampung halaman.

Pertemuan dengan Kiai Gunung, seperti reuni karena lama sudah tidak bertemu. Subhanalloh, tempatnya jauh lebih di pinggiran dari pada tempat kami di Banyuwangi yang sudah terpencil itu. Saya penasaran ihwal kepulangan Kiai Gunung ke kampung halaman. Dan ketika saya sampai di rumahnya, lalu dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol santai di beranda depan rumahnya di pesantren yang diasuhnya itu, yang muridnya sekitar 100-an lebih.

Setelah menyampaikan salam dan kata-kata pembuka, saya memulai: “Kiai, kalau kita tinggal di gunung seperti ini, sepertinya organisasi yang ada di Jakarta, kalau kita memandangnya dari sini, sama sekali tidak relevan ya. Antara persoalan-persoalan di Jakarta dengan apa yang terjadi di sini; tentang masalah-masalah dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat di sini dan agenda-agenda yang dirumuskan di Jakarta.”

Kyai Gunung hanya menimpali dengan tertawa, sambil menunggu kopi dan rokok, sesuatu hidangan yang sudah agak lama tidak saya jamah itu. Belum lagi Kiai Gunung berkata saya pun bertanya lagi:

“Kok bisa kembali ke kampung halaman Kyai, pasti ada kisahnya ini?”

Sebelum Kiai Gunung sempat menjawab pula, saya menambah lagi: “Bagaimana dulu ceritanya Sampean dengan Gus Dur, di Jakarta setelah Ilusi Negara Islam?”

Kiai Gunung pun mulai bercerita, dia pernah diminta untuk menulis yang didiktekan Gus Dur, untuk mempromosikan Islam di Eropa. Tulisan itu kira-kira berkaitan dengan Apa yang Bisa diberikan Eropa terhadap Islam; akan tetapi ketika tulisan ini belum selesai secara keseluruhan, Gus Dur sudah sering sakit, dan kemudian dipanggil Alloh. Tulisan itu sekarang masih ada di filenya.

Kiai Gunung juga bercerita bahwa dulu pernah dimarahi Gus Dur, ketika itu dia sedang bersama kru film, di mana Gus Dur dijadikan sebagai penjelas untuk sebuah artikulasi-artikulasi penting keislaman dalam film itu. Gara-garanya, karena janji bertemu pada hari tertentu tidak ditepati, atau terjadi salah tanggal dan harinya, sehingga telat 1 hari dari janji yang semestinya.

Gus Dur kala itu mengatakan: “Kalau jadi orang harus menepati janji, kalau sudah berjanji.”

Kiai Gunung hanya terdiam, mengingat yang salah saat itu sebenarnya adalah yang mengatur jadwal, tetapi karena dia yang menghadap, maka dia pun terdiam. Kyai Gunung mencari cara agar mencair, dengan cara memberi kabar kepada Gus Dur bahwa, dia memiliki buku baru berbahasa Inggris yang baru saja terbit, dan isinya bagus. Seketika Gus Dur, meminta kepadanya apa gambaran isi buku itu, dan kemudian dijelaskan oleh Kyai Gunung. Langsung Gus Dur meminta buku itu dan kemudian dijanjikan untuk diberikan nanti.

Pembicaraan yang panjang, saya potong, dan saya kemudian bertanya kepada Kiai Gunung: “Bagaimana ihwalnya bisa tinggal di kampung lagi Kiai?”

Kiai Gunung kemudian menjelaskan: “Sebenarnya saya memulai pertama-tama melewati tahap, sesekali di Jakarta dan selama bebarapa minggu di rumah, dan begitu sampai saya kemudian benar-benar pulang, seperti sekarang ini. Dan, barulah saya menyadari saya sesekali ketika di Jakarta saat itu, pernah bermimpi, yaitu suatu ketika saya melihat dan bersama Gus Dur di sebuah gunung dan melihat rumah di gunung itu.”

Gus Dur mengatakan: “Tempat ini adalah tempat yang sunyi.”

Kiai Gunung mengatakan bahwa saat mimpi itu, dia tidak bisa menafsirkan apa-apa. Akan tetapi baru dia memahami setelah tidak lama kemudian, katanya: “Ayah saya dipanggil oleh Alloh, dan saya harus pulang ke kampung, dan akhirnya seperti sekarang ini. Saat saya belum pulang, jumlah santri di pesantren ini, dulunya hanya tinggal sekitar 40-an, dan sekarang sudah mulai ada sekitar 100-an. Barulah saya menyadari tentang mimpi itu ketika saya pulang kampung, dan harus siap hidup dalam kesunyian.”

“Bagaimana rasanya Kiai sebagai orang yang pernah di Jakarta dan kemudian tinggal di tempat sunyi seperti ini, seperti dikatakan Gus Dur tadi?”

Kiai Gunung mengatakan: “Pada awalnya berat, mencari keselarasan kehidupan di desa, terutama bagi anak-anak yang sudah biasa sekolah di Jakarta. Akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu, semua harus diresapi dan bisa diambil hikmahnya.”

Tentang Gus Dur, Kiai Gunung juga menceritakan, bahwa dia dulu mondok di Madura. Dia bercerita bahwa ada satu guru di antara guru-guru di pondok, yang amalannya di antaranya adalah membaca ayat kursi 1000 kali setiap hari. Guru ini, seorang yang sederhana, mendidik di pondok, dan rumahnya sering didatangi orang untuk dimintai doa. Dalam kehidupannya sederhana; kalau mendapatkan rizki dia mengambil seperlunya saja, dan sebagian besarnya, uangnya diberikan untuk kemajuan pondok dan diinfakkan kepada orang.

Tentang Guru ini, di kemudian hari saya mendapat cerita lagi dari orang lain selain Kyai Gunung ini, bahwa di hari dimana Guru ini meninggal, di lemarinya hanya tersisa 2 baju dan dua celana. Anak-anaknya pun tidak tahu, dan baru tahu ketika dibuka lemari, pasca wafatnya sang guru, ternyata sang ayah hanya memiliki 2 celana dan 2 baju. Cerita lain tentang guru ini, dari kawan ini, Guru ini apabila ada pertunjukan-pertunjukan tertentu dan ada maksiatnya; dia berupaya datang dan hanya duduk tanpa orang lain banyak tahu. Dan ketika Guru ini duduk, mereka yang mentas di panggung lari tunggang langgang. Kata kawan saya itu, yang lari itu merasa bumi sedang goyang dan terasa dirinya mau ditelan bumi.

Berkaitan dengan guru itu pula, Kyai Gunung juga bercerita, bahwa Guru ini pernah bercerita, suatu ketika mimpi Gus Dur. Dalam mimpi itu, yang terjadi sebelum tahun 1998, Gus Dur hanya berbicara pendek: “Nanti aku dibantu ya. Setelah itu hilang.” Mimpi yang penuh teka-teki itu, akhirnya memperoleh penjelasan, setelah turunnya presiden Soeharto pada Mei 1998. Bersamaan dengan itu dilakukan reformasi, dan didirikanlah partai-partai baru. Gus Dur pun ikut mendirikan partai. Guru yang kita bicarakan ini, akhirnya ikut membantu partai yang didirikan Gus Dur ini, di daerahnya.

Lalu saya menyela: “Bagaimana kabarnya membangun pesantren ini, bisa meningkat dari sekitar 40-an sampai seperti sekarang, Kiai?”

Kiai Gunung bercerita: “Pertama-tama, saya menghadapi problem, karena setelah saya tinggal di pesantren ini, beberapa murid pesantren ada yang terkena makhluk halus. Jadilah saya harus kembali menginstall ilmu-ilmu hikmah, yang dulu pernah saya pelajari di pondok; dan lama saya tidak tekuni. Semua cara pengobatan telah dilakukan, dan tidak berhasil, termasuk ketika dibacakan ayat kursi, dan ayat-ayat yang berhawa panas: satu hari hilang, besuknya datang lagi, dan begitu seterusnya. Akhirnya, saya bermunajat dan bertirakat, dan memperoleh jalan bahwa semua itu akhirnya hilang dengan dzikir kalimat-kalimat sederhana, yaitu syahadat, istighfar, hauqolah, dan sholawat. Di antara itu, dzikir syahadat ternyata banyak manfaatnya dan sangat mujarab, yaitu dzikir dengan kalimat “Asyahadu an lâ ilâha illallôh wa asyhadu anna Muhammadar Rosûlullôh”, yang diulang-ulang. Kemudian setelah kasus itu, pelan-pelan kami mulai mengembangkan pesantren dengan sabar.”

Kiai Gunung tiba-tiba ingat juga, bahwa ketika dalam masa dia kadang di Jakarta dan kadang di desa. Pada saat itu Gus Dur sudah wafat. Pada saat ketika Kiai Gunung telah pulang haji, dia bercerita pernah lagi mimpi bertemu Gus Dur.

“Kali ini yang kedua, apa Kiai, yang dikatakan Gus Dur,” saya menyela.

Kiai Gunung menjelaskan: “Saya bermimpi dan melihat Gus Dur datang ke tempat kami, dan dia kemudian berkata: “Aku sakit kenapa kamu tidak menjengukku....” Setelah Gus Dur mengatakan begitu, saya kemudian terbangun, dan merenung. Saya mawas diri, saya simpulkan, saya belum melakukan tahlilan ketika Gus Dur meninggal, dan saat itu adalah waktu dengan meninggalnya Gus Dur belum ada seminggu. Akhirnya besuknya saya mengadakan tahlilan untuk mendoakan Gus Dur, para pendiri NU, dan kaum muslimin-muslimat.”

Ketika kami sedang ngobrol ini, kami menunggu kawan yang sedang ingin berkunjung ke pesantren ini pula. Akan tetapi karena masih lama datangnya, kami dengan Kiai Gunung memutuskan berkunjung dan bersilaturahmi kepada seorang Kiai yang memiliki sanad wirid dari Mbah Abdul Hamid Pasuruan, dengan wirid pendek “Hasbunallôh wani’mal Wakîl”, dengan pengamalan siang 450 kali dan malam 900 kali. Kiai ini memperoleh dari KH Hasan Abdillah Glenmor Banyuwangi, dari Mbah Abdul Hamid Pasuruan; dan kemudian wasilah ke atas adalah Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, Imam Ali Karromallohu wajhah, dan kemudian wasilah kepada Kanjeng Nabi Muhammad.

Hikmah dari cerita Kiai Gunung ini, pertama bahwa hidup ini, Allahlah yang Mengatur dan Berkuasa. Meskipun sepertinya lama tinggal di Jakarta, Kiai Gunung akhirnya oleh Allah dibawa juga untuk dikembalikan ke desa. Kesadaran bahwa Allah mengatur segalanya, kadang-kadang ditampakkan kepada seseorang melalui bimbingan seorang guru yang dicintai Allah, misalnya melewati mimpi, dengan tanda-tanda simbol; dan perbuatan-perbuatan Allah yang tidak bisa dicegah oleh seseorang yang akhirnya, membawanya pada kondisi yang mengubah dari keadaan semula, seperti yang dialami Kiai Gunung, dengan ditinggal oleh ayahnya untuk menghadap Allah.

Kedua, santri dan kesantrian adalah jatidiri, bukan hanya simbol, dan santri yang mengerti tentang jatidirinya adalah santri yang senantiasa tidak melupakan ilmu-ilmu hikmah dan dzikir-dzikir untuk dijadikan wasilah mendekatkan diri kepada Allah; dan dijadikan sebagai silahul mu’min dalam menghadapi berbagai rintangan.

Bahwa ilmu-ilmu baru, penting dipelajari, tidaklah dibantah, akan tetapi bagi sebagian orang santri, ditampakkanlah melalui perbuatan-perbuatan Allah kepadanya itu, bahwa ilmu-ilmu baru itu, tidak seluruhnya berguna di akhirnya; dan seorang santri perlu bisa memilah antara ilmu-ilmu baru di dalam level kerjanya, dan ilmu-ilmu santri sendiri sebagai dasarnya. Ilmu-ilmu hikmah dan dzikir kepada Alloh, adalah melekat sebagai ilmu santri yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang santri, seperti dilakukan Kyai Gunung ini, yang kemudian menginstall ulang ilmu-ilmu hikmahnya.

Ketiga, kesabaran dalam sebuah perjalanan dan pergulatan hidup sangat penting. Sebab dengan kesabaran itu, seorang santri akan ditempa agar menjadi tahan uji. Dalam kesabaran itu selalu ada ujian, akan tetapi seorang santri harus selalu ingat bahwa setiap ujian akan selalu berlalu, dan tidak pernah langgeng. Maka tirakat dan bermunajat adalah mutlak diperlukan bagi seorang santri.

Kiai Gunung memberikan contoh bagaimana, ujian dalam membangun pesantren, ditinggal ayahnya, dan diingatkan Gus Dur melalui mimpi, menghendaki adanya laku kesabaran itu; dan pada saat yang sama usaha dengan penuh munajat dan taqorrub kepada Alloh harus dilakukan. Jalan terjal pun pada akhirnya akan dibukakan menjadi terang dan mudah. Wallahu a’lam.

Sumber : nu.or.id
Gus Dur dan Kang Tabib di Pemakaman Giren Tegal

Gus Dur dan Kang Tabib di Pemakaman Giren Tegal


Oleh Nur Kholik Ridwan

Saat itu saya sedang dalam sebuah perjalanan ke sebuah kota, dengan tujuan untuk bertemu dengan kawan lama. Namanya saya sebut Kang Tabib. Setelah berbasa-basi ala kadarnya, saya bercerita kepada Kang Tabib, mampir dulu di Cirebon. Di Cirebon bertemu dengan salah satu guru Gusdurian, sahabat Marzuki Wahid; dan sempat bertemu dengan KH Mustofa Aqil Siroj, yang biasa dipanggil Kang Mu. Ketika bertemu Kang Mu, begitu teman-teman Cirebon memanggilnya, mengajarkan makna dan sejarah NU yang 32 tahun mau dibunuh rezim Orba, tetapi tetap hidup; karena adanya pilar-pilar kultural dan para kiai yang berdoa terus menerus.

Kang Tabib bertanya: “Ada yang bisa dibagi ceritanya Kang, dari Cirebon selain itu?”

Saya diam sesaat, tetapi kemudian menceritakan, “Ketika mau ziarah ke beberapa pemakaman di Cirebon, saya ditemani Kang Cilik, yang membawaku ke pemakaman keramat Sayyid Abdurrahman di Cirebon. Setelah itu kami berdiskusi di rumah Kang Cilik yang sederhana, dan di akhir pertemuan Kang Cilik memberi nasihat dengan tiga hal. Nasihatnya, yang saya ingat, hidup ini harus didasari dengan sumur, kapur, dan mbako. Tiga ilmu itu diperoleh dari gurunya: sumur, artinya harus punya ilmu yang bisa ditimba untuk kepentingan dunia dan akhirat, dan diamalkan untuk dirinya sendiri, sebelum akhirnya bisa ditimba orang; kafur, ingat kepada yang Maha Ghofur, selalu memohon ampun atas berbagai kesalahan dengan istighfar kepada Alloh, agar; kesalahan-kesalahan seperti kapur yang ditulis di papan bisa terhapus; dan mbako (bahan utama untuk nglinting rokok), artinya adalah baqo’ adalah melanggengkan dzikir, dan orang yang nglinting mbako, kalau langgeng dzikirnya, bisa menemukan dan memperoleh anugerah Alloh.”

Kang Tabib menambahkan, “Apa masih ada lagi?”

Saya mengingat-ingat dan menjelaskan, “Setelah itu, Kang Cilik menyebutkan bahwa untuk memperoleh dan menemukan berkah anugerah Alloh itu, orang itu harus sanggup berjalan mengarungi hidup dengan tiga hal pula, dan harus sanggup menjalaninya, yaitu: usus watu, galih kangkung, dan petarangan angin. Tiga hal itu dimaknai begini: usus watu, dalam kondisi apa pun, kesedihan, kesengsaraan, usus kita ini harus seperti watu, tahan uji, dan dari situ akan melahirkan kelembutan hati, kesabaran dan dinamis; Galih Kangkung, adalah perumpamaan di mana pohon kangkung itu tidak ada galihnya, agar punya keyakinan yang kuat kepada Alloh, yaqin, di tengah kehidupan yang bisa mengombang-ambingkan, dan yaqin itu adalah galih yang menjadi sandaran setiap orang mukmin.”

Saya melanjutkan, “Tentang petarangan angin, menurut Kang Cilik, adalah simbol untuk menunjukkan bahwa di tengah kehidupan kita harus senantiasa bisa melahirkan manfaat dengan prinsip yang kuat (ibarat burung bertelur lewat sebuah petarangan), meskipun terlihat kecil. Petarangan angin itu ibarat kita membuat petarangan dalam amal-amal yang kita lakukan, yang sejatinya kita ini berada di atas angin, dan angin adalah nafs kita dalam seluruh perjalanan. Maka kita harus bisa menjadikan petarangan itu berbuah dan menetas, hanya dengan keyakinan yang kuat kepada Allah. Sebab tanpa itu, angin selalu menggoyang petarangan itu, dan memusnahkan amal-amal itu.”

“Apa masih ada lagi?”

“Ketika berkunjung ke seorang guru ahli mudawamah Dalail Khoirot yang memperoleh melalui jalur al-Mujiz dari Jekulo, shohibul Mujiz yang terkenal itu. Kami bersilaturahmi dan mendengarakan hikmah-hikmahnya. Salah satunya, jangan pernah melupakan sholawat. Menurutnya, Dalail Khoirot itu initinya sholawat dan doa.”

Kang Tabib, adalah salah seorang di antara sahabat kami yang menekuni dunia pengobatan alternatif, tatkala sebagaian besar sahabat-sahabat kami menjadi dosen,PNS dan terjun di politik praktis. Kang Tabib, ketika masih di kampus dulu adalah salah satu pemimpin demo, dan ketika orasi selalu berapi-api menggugah rekan-rekannya. Meski selalu tampil demo, ketika sering berkunjung ke rumah kami dan berdiskusi, saya tahu dia ini sering tirakat dan berpuasa. Saya sendiri baru tahu kalau dia menekuni dunia pengobatan ini, sebagaimana sebagian guru Nahdliyin di Patianrowo Jawa Timur.

“Bagaimana Kang, dari seorang pendemo berapi-api bisa berubah menekuni dunia seperti ini,” kataku.

“Nasib aja kang.” jawabnya.

“Gus Dur kan tidak menekuni pengobatan, ha ha ha,” aku menyindir sambil lalu.

“Lha iya, tapi kan juga tidak seperti itu cara memahami Gus Dur.”

“Maksudnya?”

“Begini-begini ini juga ada berkahnya Gus Dur, lho? Baru nyadar, Gus Dur itu meluas lho Kang?”

“Ok.Ok. Ok. Bagaimana ceritanya.”

Kang Tabib menjelaskan, “Dalam semua pergulatan, saya diantarkan untuk menekuni jalan seperti ini. Saya sangat merindukan Guru Kita ini, Gus Dur. Tapi jarak kami jauh dan tidak ada kemampuan untuk ke Jombang. Dan saya hanya bisa sampai di Giren, Tegal. Di makam Syaikh Armia dan guru-guru ternama di Tegal, para auliya’ yang di makamkan di Giren. Di Giren ini saya tirakat, ingin bertemu Gus Dur, melalui wasilah para guru di Giren Tegal. Untuk mengobati rindu dan air mata yang selalu membasahi ini.”

Di Giren ini, memang ada makam terkenal yang selalu dijadikan tempat berziarah. Salah satu tokoh yang di makamkan di Tegal, adalah Mbah Giri, yang diyakini mendirikan desa Giren; ada Habib Muhammad bin Thohir al-Haddad, Syaikh Armia bin KH Kurdi bin Mbah Ki Ageng Suropono, dan lain-lain. Di Makam Giren ini, sering dijadikan tempat tirakat oleh sebagian orang, dan tampaknya sahabat saya ini, Kang Tabib, salah satu di antaranya.

Ceritanya dilanjutkan, “Saya di Giren ingin bertemu Gus Dur, dan al-Alhamdulillah. Saya pada malam-malam yang larut, melihat Gus Dur di tengah-tengah tirakat itu dan kemudian melihatku, dan memeluk; dengan tatapan supaya saya ini bersabar dalam menjalani hidup, karena hidup di tengah kota memang berat. Dan kemudian setelah itu, setelah Gus Dur pergi, sang juru kunci menghampiri saya dan bertanya.”

“Mas, tadi siapa itu?” kata sang juru kunci.

Dengan agak malu, saya berkata: “Apa ya pak?”

“Yang tadi seperti ada yang menemui.”

“Tanpa bisa berkata, malah saya jadi meleleh air mata, mengingat Gus Dur, yang membuat juru kunci terheran-heran.”

Kang Tabib lalu berkata kepada saya: “Setelah dipeluk Gus Dur itu, saya merasa bersemangat, untuk menjalani apa saja hidup ini dengan mengalir, termasuk bersabar dalam menekuni jalan pengobatan alternatif ini.”

Banyak hal kemudian kami berbicara tentang dunia pengobatan alternatif, sampai pada Mujarrobat Dairobi dan khazanah-khazanah hikmah lain, dari Banyuwangi, dan lain-lain. Dalam hal itu, Kang Tabib mengemukakan perlunya kaum Nahdliyin mengambil peran secara lebih serius. Sebab dengan mengambil contoh, tradisi gurah, yang ditemukan di Giriloyo Imogiri, Yogyakarta; dan juga pengobatan lain, tetapi dalam produksi herbal justru banyak diproduksi orang-orang berjenggot, dengan pendanaan kapital yang kuat.

Kang Tabib, merasa bahwa Gus Dur meluas, termasuk di dalamnya juga harus ada yang menekuni pengobatan alternatif. Menjamurnya pil-pil herbal yang dilakukan orang-orang berjenggot tebal, harus ada yang menekuni di jalur pengobatan alternatif ini. Jangan sampai ditinggal.

Hikmah yang bisa diambil dari kisah Kang Tabib ini, seorang guru yang bintang-bintangnya telah tersohor di langit dan meluas di bumi, dia tidak akan meninggalkan murid-muridnya, ketika-muridnya sangat rindu. Murid dan guru akan terhubung secara spiritual. Sebab ada hadits dari Sayyidah Aisyah menyebutkan: Al-Arwâh junûdun mujannadah famâ ta`ârofa minhâ i’talafa wamâ tanâkaro minhâ ikhtalafa. Artinya: “Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya), maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda akan saling tercerai berai” (Shohîh al-Bukhôrî, No. 3336).

Dari hadits itu dapat dipahami, bahwa ruh seorang murid yang selalu mencintai dengan merindukan gurunya, dengan sungguh-sungguh dan tetesan air mata, akan saling mengenal, dan bisa bertemu, dan menjadi sarana Allah mengijabahi hajat seorang murid. Lebih-lebih bila guru itu termasuk orang sholih dan dikasihi Allah. Arti penting pertemuan secara spiritual seperti ini, dalam satu menit saja, dapat mengubah keseluruhan hidup dari seorang murid; menghapus pengetahuan yang sebelumnya; dan menambah energi kesabaran dan upaya terus menerus dalam pengetahuan yang baru.

Hikmah kedua, adalah di antara tradisi yanhg perlu dilanjutkan dan tidak boleh dialpakan adalah pengobatan alternatif di kalangan anak-anak muda pesantren. Harus ada yang menekuni sebagian di dunia ini, dan menyongsongnya agar menjadi lebih baik dan terkoordinir. Sebab wilayah ini sudah didesak oleh orang-orang berjenggot tebal.

Hal ini juga untuk meneruskan tradisi apa yang dilakukan Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy'ari di Jombang, yang juga menekuni dunai pengobatan, seperti diceritakan cucu Ki Dalang Sakiban, dalam buku Sang Guru Sejati. Mereka yang sudah tidak melirik dan memperhatikan bidang ini dan telah sukses, perlu juga punya perhatian terhadap dunia di bidang ini, sebab medan ini juga menjadi medan jihad yang tidak ringan untuk mempribumikan Islam. Wallahu a’lam.

Sumber : nu.or.id
Kisah Kiai Hasyim Menguras WC Demi Cincin Nyai Kholil

Kisah Kiai Hasyim Menguras WC Demi Cincin Nyai Kholil


Siapa yang tidak kenal Hadratusy Syeikh Hasyim Asyari, terlebih kalau ia bagian dari nahdliyyin. Beliau adalah pendiri Nahdlatul Ulama yaitu sebuah organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Beliau merupakan putra dari pasangan Kyai Asyari dan Halimah, Ayahnya Kyai Asyari merupakan seorang pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang.

Hasyim Asyari dilahirkan pada tanggal 10 April 1875 di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur dan tutup usia pada tanggal 25 Juli 1947 yang kemudian dikebumikan di Tebu Ireng, Jombang. Dari ayah dan ibunya, KH. Hasyim Asyari mendapat pendidikan dan nilai-nilai dasar Islam yang kokoh.

Sebagai seorang yang alim, al-Allamah, sikap dan tingkah laku KH. Hasyim Asyari mencerminkan seorang yang berilmu dan dekat dengan agama. Diantara sikap beliau dari sekian kemuliaan akhlaknya- yang patut untuk diteladani dan dijadikan contoh adalah sikap beliau yang tawadhu dan hormat kepada guru-guru beliau. 

Salahuddin Wahid (Cucu Hadratussyaikh Hasyim Asyari) dalam kata pengantar untuk bukunya Zuhairi Misrawi tentang Hadratussyaikh Hasyim Asyari (2013: xix) menceritakan, suatu hari Syaikhona KH. Cholil Bangkalan mengalami kesedihan yang amat sangat sehingga tidak dapat disembunyikan di wajah beliau.

Hasyim Asyari yang waktu itu menjadi santri beliau bertanya apa gerangan masalah yang membuat beliau begitu sedih. Ternyata cincin Nyai Cholil yang amat beliau senangi jatuh ke dalam WC.

Hasyim tidak ragu-ragu untuk menghilangkan kesedihan gurunya. Hasyim membersihkan septic-tank supaya dapat menemukan cincin itu. Ternyata usaha beliau tidak sia-sia dan dapat menemukan cincin Nyai Cholil.

Kisah ini mengajarkan kepada kita, yang pasti pernah berstatus sebagai murid atau santri untuk hendaknya memuliakan guru, memuliakan guru berarti memuliakan ilmu, memuliakan ilmu bermakna memuliakan Sang Sumber Ilmu, Allah SWT.

Jika guru sudah  ikhlas, guru sudah ridha, dengan doa guru kita minta doakan apalagi jika kita tahu guru tersebut sebagai orang yang dekat dengan Allah SWT. Berjalan tidak mendahului guru, berjalan tidak dengan membelakangi guru, mencium tangan guru dan tindakan memuliakan guru lainnya bisa menjadi sebab Allah SWT mudahkan  kita untuk menerima dan menyerap ilmu yang diberikannya.

Diceritakan pula saat Hasyim Asyari sudah menjadi ulama yang dikenal dan berpengaruh, pada setiap bulan Ramadhan banyak kiai dari pesantren lain mengaji terutama ilmu hadits kepada KH. Hasyim Asyari di Pesantren Tebuireng. Ternyata di antara mereka terdapat beberapa kiai yang menjadi pengasuh pesantren tempat KH. Hasyim Asyari pernah menimba ilmu. 

Melihat hal itu, KH. Hasyim Asyari merasa keberatan jika kemudian mereka menjadi muridnya KH. Hasyim Asyari. Tetapi para kiai itu tetap berkeras untuk mengaji kepada KH. Hasyim Asyari. Karena KH. Hasyim Asyari juga tidak bisa membatasi dan menghalangi siapapun untuk belajar agama maka disepakati antara keduanya, KH. Hasyim Asyari tidak mau dipanggil kiai oleh para kiai sepuh itu tadi. Ketentuan berikutnya adalah para kiai sepuh itu tidak perlu bersusah payah memasak dan mencuci baji karena akan dilayani oleh para pengurus Pesantren Tebuireng.

Suatu malam, salah seorang dari kiai sepuh itu terbangun dan melihat ada seseorang sedang  mengumpulkan baju-baju kotor milik para kiai sepuh. Sekilas tampak orang tersebut mirip KH. Hasyim Asyari. Karena penasaran maka kiai sepuh itu mengikuti orang tersebut. Ternyata orang tersebut mencuci baju para kiai sepuh dan setelah didekati ternyata orang itu adalah KH. Hasyim Asyari sendiri. 

Ketawadl'uan KH. Hasyim Asyari sebagaimana kisah di atas, hendaknya menjadi motivasi kita bahwa kadang kita merasa hebat dengan ilmu yang kita miliki, pejabat merasa hebat dengan jabatannya, hartawan merasa hebat dengan kekayaannya.

Kisah ini menunjukkan bahwa hormat pada orang lain sebagai bentuk takzim tidak akan membuat derajat seseorang akan jatuh tetapi akan sebaliknya dapat mengangkat ia pada maqam yang lebih tinggi lagi. Ini artinya juga, mengajarkan kepada kita bahwa kita hebat karena ada orang lain, baik sebagai perantara langsung maupun tidak langsung, keberadaan kita ada karena adanya orang lain. [dutaislam.com/Sholihin HZ/pin]

Sumber: dutaislam.com
Khofifah Kenang Tanda Kewalian Gus Dur Saat Daftar Calon Presiden

Khofifah Kenang Tanda Kewalian Gus Dur Saat Daftar Calon Presiden


Peringatan wafatnya Presiden Indonesia ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur kembali digelar di kediaman keluarga di Jalan Warung Sila, Ciganjur, Jakarta Selatan pada Jumat malam, 22 Desember 2017. Dalam momen peringatan tahun ke-8 tersebut, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa blak-blakan seputar detik-detik pencalonan Gus Dur sebagai presiden pada 1999.

Menurut Khofifah, peristiwa-peristiwa menjelang Gus Dur menjadi presiden bisa disebut sebagai salah satu bukti kewaliannya. Sebab, Gus Dur baru menyatakan ingin menjadi presiden 6 jam sebelum pendaftaran ditutup. "Namun langkahnya justru berjalan dengan mulus," kata dia pada Jumat malam.

Saat sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat 19 Oktober 1999 yang menolak laporan pertanggungjawaban Presiden BJ. Habibie, jam sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB. Satu jam kemudian, Gus Dur menghubungi Khofifah, yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Fraksi MPR Partai Kebangkitan Bangsa, dan mengatakan ingin maju sebagai calon presiden.

Waktu yang sempit itu membuat Khofifah kebingungan untuk memenuhi sejumlah syarat administrasi yang harus diserahkan ke Sekretaris Jenderal MPR. Di antaranya adalah Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), surat dari pengadilan bahwa Gus Dur tidak sedang dipidana, dan surat dari Pengadilan Tata Usaha bahwa Gus Dur tidak pailit.

Kian dikejar waktu, akhirnya surat-surat tersebut dibuat dan ditandatangani sendiri oleh Gus Dur. "Saya KH. Abdurrahman Wahid, alamat Ciganjur, menyatakan dengan sebenarnya bahwa saya berkelakuan baik. Ditandatangani sendiri," kata Khofifah disambut tawa ribuan hadirin. "Jadi pada dasarnya pencalonan Gus Dur itu beliau sendiri yang tanda tangan."

Surat-surat tersebut lalu dibawa Khofifah untuk diserahkan kepada panitia pada 20 Oktober 1999 pukul 06.30 WIB. Sidang MPR dibuka tiga jam kemudian dan menugaskan Sekretaris Jenderal MPR untuk memverifikasi data-data dan persyaratan calon presiden.

Tak disangka, Sekretaris Jenderal MPR justru mengumumkan bahwa seluruh persyaratan Gus Dur lengkap. "Jadi hari itu kalau ada orang yang paling sport jantung di dunia, ya yang sekarang berdiri di sini. Karena saya tahu persis bahwa itu surat-surat ditandatangani sendiri oleh Gus Dur," ujarnya.

Menurut Khofifah, mungkin itu adalah salah satu tanda kewalian yang dimiliki Gus Dur sebagai seorang ulama. "Jadi kalau mau tanya kewalian Gus Dur, ya pada saat pendaftaran itu," kata dia.

Keberuntungan Gus Dur berlanjut saat ia memilih Megawati Soekarnoputri untuk menjadi wakil presiden. Lagi-lagi Khofifah dibuat kesulitan melengkapi persyaratan administrasi untuk mengusulkan Megawati menjadi wakil presiden.

Sebab, saat itu tidak ada satupun pengurus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang mau memberikan berkas-berkas persyaratan tersebut. Alasannya, PDIP tidak menyiapkan Megawati sebagai wakil presiden. Berkas yang ada hanyalah saat Mega maju sebagai calon presiden.

Khofifah akhirnya memutuskan tidak membawa berkas-berkas kelengkapan Megawati saat mendaftarkannya ke panitia. Saat ditanyakan oleh petugas, Khofifah hanya menjawab bahwa Megawati telah dinyatakan lolos saat maju sebagai calon presiden, sehingga berkas itu tidak dibutuhkan lagi. "Hari itu ternyata, panitia pendaftaran calon wakil presiden itu bisa menerima alasan saya," kata dia.

Sumber : tempo.co
Cerita Gus Mus Saat Kuliah Bersama Gus Dur di Mesir

Cerita Gus Mus Saat Kuliah Bersama Gus Dur di Mesir


 Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, mengatakan banyak orang yang salah kaprah dan menilai Presiden Indonesia keempat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tidak lulus kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia mengatakan, pada dasarnya saat di Mesir, Gus Dur memang tidak berkuliah.

Dalam peringatan sewindu wafatnya Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, pada Jumat, 22 Desember 2017, Gus Mus mengenang masa pertemuannya dengan Gus Dur. Ia bercerita bahwa Gus Dur lebih dulu mendapatkan beasiswa untuk belajar di Al-Azhar. Namun ternyata, semenjak tiba di sana, Gus Dur tidak pernah berkuliah hingga tiba kedatangan Gus Mus.

Uniknya, saat Gus Mus datang, Gus Dur menanyakan jurusan yang ia ambil. Setelah dijelaskan, Gus Dur malah memutuskan ikut mengambil jurusan tersebut. "Ya udah, aku ikut," ucap Gus Mus menirukan jawaban sahabatnya saat itu.

Lalu, Gus Dur merasa tidak suka setelah ia melihat daftar mata kuliah yang akan dipelajarinya. Menurut dia, semuanya itu sudah pernah ia pelajari di bangku pesantren. "Jadi dia enggak kuliah. Dia lalu kirim surat lamaran (kerja) ke Bagdad, Irak, dan diterima," ujar Gus Mus.

Meski begitu, menurut Gus Mus, sahabatnya itu adalah orang yang berwawasan luas. Ia sangat hobi membaca. Bahkan, jika Gus Mus membicarakan tentang apa pun, Gus Dur selalu mengetahuinya.

"Saya cerita tenang bintang film ini, dia sudah tahu. Saya bicara tentang pemain bola ini, dia sudah tahu. Ulama ini, dia sudah tahu. Dia ngertian karena dia banyak jalan," tutur Gus Mus.

Gus Dur wafat di usia 69 tahun pada 30 Desember 2009. Ia sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo akibat komplikasi penyakit yang dideritanya.

Gus Dur merupakan salah satu tokoh organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Ia merupakan cucu pendiri NU, Hasyim Asy'ari, dan anak Menteri Agama era Presiden Sukarno, Wahid Hasyim.


Sumber :tempo.co
Gus Mus Beberkan Tips Jadi Orang Baik ala Gus Dur

Gus Mus Beberkan Tips Jadi Orang Baik ala Gus Dur


Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) membeberkan tips menjadi orang baik ala Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Menurut dia, seseorang akan menjadi baik jika ia sering mengingat mati.

Saat Gus Dur menjadi pejabat, kata Gus Mus, dia akan berhati-hati dalam bersikap karena mengingat mati. Salah satu cara agar tetap ingat dengan kematian, Gus Dur kerap melakukan ziarah kubur.


"Gus Dur satu-satunya presiden sing sobo kuburan. 'Sarkub' atau sarjana kuburan," kata Gus Mus dalam sambutannya di acara peringatan sewindu wafatnya Gus Dur di Ciganjur, Jakarta, Jumat, 22 Desember 2017.


Menurut Gus Mus, pernah seseorang bertanya ke Gus Dur kenapa rajin ziarah kubur. Gus Dur menjawab karena para penghuni kuburan dipenuhi dengan orang yang baik. "Enggak ada yang saling fitnah, saling ghibah, dan mengingatkan ke akhirat," ucapnya.

Karena itu, Gus Mus mengajak masyarakat untuk banyak-banyak mengingat mati sehingga semasa hidupnya akan berbuat baik demi bekalnya di akhirat nanti. "Ingat mati penting. Ada orang sombong karena lupa dia akan mati. Kalau pejabat ingat akan lengser dia pasti akan baik," tuturnya.

Gus Dur wafat di usia 69 tahun pada 30 Desember 2009. Ia sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo akibat komplikasi penyakit yang dideritanya.

Selama hidupnya Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang humoris. Selain itu ia lantang menyuarakan semangat pluralisme dalam berhubungan sosial. Gus Dur dikenal pula karena kerap membela kaum minoritas.

Sumber :tempo.co
Mimpi Gus Dur Nyuci

Mimpi Gus Dur Nyuci


Masih penuturan dari Kalimantan, oleh Ibnu Sami, senior kami yang aktif di LK3, dan dosen di Banjarmasin. Begini ceritanya yang diunggah di Facebook-nya:

Ini teman akrabku lagi, sama-sama denganku sebagai dosen Fakultas Tarbiyah UIN Antasari, Banjarmasin, tapi sekarang ia Ketua Jurusan Perpustakaan. Ia salah seorang Pengurus Muhammadiyah Kota Banjarmasin, tapi ia mengambil tarekat Naqsyabandiyah.

Bisa dikatakan organisasinya ikut kaum muda, amaliyahnya ikut kaum tua. Aku dan dia tergabung dalam komunitas pengajian sebagian dosen Fakultas Tarbiyah One Week One Juz yang mengkhatamkan Al-Qur'an dua minggu sekali secara Muqaddam dan 30 minggu sekali secara Tadarrus.

Pada suatu waktu di kantornya, dia cerita kepadaku bahwa dia pernah bermimpi Gus Dur. Dia mengisahkan terjadi mimpinya itu sekitar tahun 1998 sebelum Gus Dur terpilih sebagai Presiden.

Ia melihat dalam mimpinya Gus Dur hanya memakai sarung dan kaos oblong sedang sibuk mencuci pakaian yang begitu menumpuk dan banyak, tapi tak terlihat Gus Dur merasa lelah bahkan justru terkesan dari ekspresi wajah beliau riang gembira.

Cukup aneh seorang pengurus Muhammadiyah ditemui oleh Gus Dur yang tokoh bahkan seorang darah biru NU. Sebelumnya ia tak berani untuk menafsirkan mimpinya itu dengan serius hanya dianggapnya suatu mimpi belaka yang takkan pernah nyata.

Namun kemudian ketika Gus Dur naik terpilih sebagai Presiden, meskipun hanya terasa sekejap belaka, cuma sekitar lebih dua setengah tahun, ia teringat mimpinya itu dan ternyata bermakna.

Ia menta'birkan mimpi itu sebagai suatu isyarat bahwa Gus Dur berkuasa hanya untuk merperbaiki keadaan dan keberadaan negara yang sudah sangat rusak warisan rezim Soeharto yang diktator dan otoriter untuk kembali menjadi rumah rakyat yang ramah dan sentosa.

Gus Dur walaupun berkuasa sangat singkat, tapi membuat negara kembali kuat dan bangsa menjadi terhormat dan bermartabat.

Sebenarnya, Presiden-Presiden berikutnya beruntung karena lapangan jalur menuju kekuasaan yang tadinya kotor, kini sudah relatif dibersihkan oleh Gus Dur dengan semangat kebangsaan yang luhur dan rasa kemanusiaan yang jujur, hingga Presiden berikutnya dimudahkan hanya tinggal melanjutkan saja.

Begitu temanku bermimpi dan coba menta'birkannya sendiri, aku hanya manggut-manggut saja mengiyakannya. Wallahu a'lam. (Nur Khalik Ridwan)

Sumber :nu.or.id
close
Banner iklan disini