Alissa Wahid Ungkap Sumbu Spiritual Kehidupan Gus Dur

Alissa Wahid Ungkap Sumbu Spiritual Kehidupan Gus Dur


Mahasiswa Ciputat lintas organisasi menyelenggarakan Haul ke-7 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bertempat di Hall Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (29/12). Acara tersebut menghadirkan Alissa Wahid, Romo Sandyawan Sumardi, dan Priyo Sambadha.

Putri sulung Gus Dur Alissa Wahid menyampaikan satu di antara sembilan nilai utama Gus Dur yang dirumuskan oleh 100 orang sahabat dan muridnya. Di antaranya KH Ahmad Mustofa Bisri, Mohamad Sobary, dan Pendeta Phil Erari dari Papua.

Mengutip hasil diskusi itu, Alissa mengatakan bahwa nilai paling utama seorang KH Abdurrahman Wahid adalah keyakinan spiritualnya, yakni menegakkan Islam rahmatan lil alamin. Delapan nilai lainnya adalah turunan dari nilai utama tersebut.

“Menurut beliau-beliau itu, bukan menurut Alissa ini ya, sumbu kehidupannya adalah keyakinan spiritual beliau, bahwa tugasnya di dunia ini sebagai seorang muslim adalah menegakkan Islam rahmatan lil alamin,” katanya.

Sementara itu, Priyo Sambadha menyatakan, saat putra pertama KH Abdul Wahid Hasyim itu menjabat sebagai presiden, istana benar-benar milik rakyat.

Salah satu buktinya adalah saat Gus Dur mengadakan open house Idul Fitri untuk pertama kalinya sepanjang sejarah istana. Masyarakat dengan berbagai latar belakang dan berbagai macam penampilan dipersilakan bersalaman dengan presiden dan keluarganya tanpa terkecuali.

“Semua orang boleh masuk pokoknya. Tidak ada terkecuali. Pakaian seperti apa silakan masuk,” kata staf Presiden Abdurrahman Wahid itu.

Adapun Romo Sandyawan menyampaikan satu pesan Gus Dur untuknya pada saat dia bertemu dengan Gus Dur guna membicarakan peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli). Pesannya adalah tentang tujuan manusia itu diciptakan.

“Tujuan manusia diciptakan, yaitu untuk meluhur-muliakan Allah dan kemanusiaan, beserta alam semestanya,” ujarnya. Terakhir, Alissa Wahid berpesan kepada seluruh hadirin, “Gus Dur yang meneladankan, kita yang melanjutkan.”

Acara ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor III UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Yusron Rozak. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa hampir tidak ada satu kata yang dapat menggambarkan seorang Gus Dur. “Jika kita sebut beliau Bapak Humanisme, dia lebih luas dari itu,” ujarnya.

Saking luasnya pandangan dan gagasannya, Yusron Rozak menyatakan kata cukup terbatas untuk mendeskripsikan Gus Dur.

Acara dengan tagline “Om Toleran Om” itu juga menggalang 1000 tanda tangan sebagai bentuk kepedulian dan toleransi. Selain itu, acara tersebut juga menggalang dana untuk Gempa Aceh. Panitia menjual kaos dengan berbagai tulisan nasihat Sang Guru Bangsa itu. Panitia juga melelang lukisan Gus Dur yang akhirnya terjual dengan harga dua juta rupiah. (Syakir NF/Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Kisah Tukang Nasi Peroleh Berkah Gus Dur

Kisah Tukang Nasi Peroleh Berkah Gus Dur


Saat masih hidup mungkin bagi sebagian banyak orang belum bisa merasakan berkah Gus Dur, tapi ketika Gus Dur telah meninggal dunia tidak sedikit yang merasakan berkahnya, diantara orang tersebut adalah seorang penjual nasi yang ada di sekitar makam Gus Dur di Tebuireng.

Kisah ini disampaikan oleh KH Musyfiq Amrullah saat mengisi taushiyah Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan oleh Jamaah Jimat Subang di Desa Rancabango, Patokbeusi, Subang, Jawa Barat, Rabu (28/12) malam.

"Saya sama anak-anak santri sering ziarah Wali Songo, tahun kemarin saat di maqbaroh Gus Dur saya makan dulu sambil menunggu barangkali sebentar lagi jamaah yang ziarah bisa berkurang," ungkap Pengasuh Pesantren Attawazun Kalijati Subang itu.

Selesai makan, Kiai Musyfiq bertanya kepada penjual nasi yang tidak disebutkan namanya tersebut, mulanya ia hanya menanyakan waktu atau jam yang sepi dari para peziarah agar bisa disesuaikan dengan waktu yang tepat untuk menziarahi makam Gus Dur di tahun berikutnya.

"Penjual nasi itu bilang makam Gus Dur tidak pernah sepi, setiap hari kurang lebih ada 50 bus jamaah yang menziarahi ke makam Gus Dur," tambahnya.

Dikatakan Kiai Musyfiq, penjual nasi itu kemudian mengungkapkan bahwa sebelum berjualan nasi ia berprofesi sebagai petani, setelah Gus Dur wafat pada tahun 2009 yang lalu ia memutuskan untuk beralih profesi menjadi penjual nasi karena melihat setiap hari banyak sekali jamaah yang berziarah.

"Alhamdulillah penjual nasi itu kebagian berkahnya Gus Dur karena setiap hari warungnya tidak pernah sepi," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Sumber : nu.or.id
1000 Jalan Mencintai Gus Dur

1000 Jalan Mencintai Gus Dur


Oleh Nasukha

Suatu hari di awal tahun 2010, penulis pulang kampung di daerah Banyumas, Jawa tengah. Sesaat setelah sampai di rumah, penulis bertemu dengan tetangga yang kebetulan seorang yang aktif dalam jamaah pengajian ibu-ibu. Dengan agak serius, ibu itu berkata, ”Mas, kiamat sudah dekat ya, ko banyak orang alim yang meninggal?” Saya-pun berujar, ”Siapa yang meninggal”? Ibu itu menyebutkan salah seorang kyai lokal yang baru meninggal dan dengan tegas menyebut: Gus Dur.

Sementara itu, pada hari meninggalnya Gus Dur, penulis menyaksikan sendiri seorang pengasuh pesantren di Yogyakarta mengibarkan bendera setengah tiang di halaman masjid selama 7 hari. Entah karena pengaruh instruksi presiden atau tidak yang jelas ini memberikan kesan mendalam tentang penghormatan kiai tersebut kepada sosok Gus-Dur.

Dua peristiwa diatas tiba-tiba muncul dalam memori peringatan 7 tahun meninggalnya Sang Guru Bangsa itu. Ingatan itu beriringan dengan banyaknya orang, organisasi atau lembaga yang mencoba meneruskan cita-cita Gus Dur. Gagasan Gus Dur layaknya gagasan orang hebat lainnya terus dikaji, didiskusikan dan disebarluaskan di berbagai tempat. Namun seperti halnya Gus Dur yang multitalenta, beragam pula cara orang untuk mengenal dan meneruskan pemikirannya.  

Barangkali Gus Dur merupakan salah satu manusia di negeri ini yang dikenal memiliki banyak sisi. Selain sebagai Presiden Indonesia ke-4, Gus Dur adalah seorang ulama, kolumnis, politisi, aktivis dan pemikir Islam. Maka spektrum kehidupan kehidupannya dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Seseorang dapat menilainya sebagai cucu ulama besar yang menjadi ketua organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Ia juga bisa dilihat sebagai aktivis yang getol memperjuangkan HAM, pluralisme dan demokrasi. Selain itu, ia juga seorang tokoh politik dengan manuver dan komentar yang banyak dinantikan. Dalam hal ini, Gus Dur menjadi manusia super komplet yang membedakannya dengan banyak tokoh lain di negeri ini. Entah butuh puluhan atau ratusan tahun lagi, manusia seperti Gus Dur dapat lahir kembali.

Salah satu sisi Gus Dur yang sangat menonjol adalah kepemimpinannya di Nahdlatul Ulama. Hampir 14 tahun ia menjadi ketua di organisasi islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Selama itu, ia memiliki peran yang tak sedikit dalam lintas sejarah NU. Setidaknya ada 4 peran utama Gus Dur pada saat memimpin Nahdlatul Ulama. Pertama, Gus Dur bersama tokoh-tokoh muda NU pada tahun 1983 merumuskan formulasi kembali ke khitah.

Dengan gagasan NU, NU kembali menjadi kekuatan civil society yang disegani. Kedua, Gus Dur menjadi simbol perlawanan NU terhadap rezim orde baru yang otoriter. Hal ini pula yang membawa Gus Dur menjadi salah satu tokoh demokrasi. Ketiga, pemikiran dan gagasan Gus Dur yang mampu menginspirasi anak muda NU untuk tampil progresif  dan tranformatif. Keempat, memperkenalkan dunia NU dan pesantren ke khalayak umum.

Sekompleks apapun peran pribadi seorang Gus Dur, ia tetaplah orang pesantren yang memimpin NU. Sehingga mayoritas masyarakat NU pasti akan menempatkan Gus Dur pada posisi yang sangat dihormati, yaitu seorang kiai, ulama. Sebagai kiai, Gus Dur adalah seorang alim yang ditunggu wejangan dan nasihatnya.

Maka Gus Dur-pun banyak berkeliling ke pelosok-pelosok untuk memberikan ceramah. Pengajiannya di daerah-daerah selalu dihadiri banyak orang. Sebagai contoh, pada pertengahan tahun 2002, Gus Dur pernah berceramah di dekat rumah penulis. Saat itu ribuan orang hadir bahkan banyak anak-anak yang bolos sekolah demi bisa ikut pengajian.

Apalagi dalam diri Gus Dur mengalir darah biru kiai, sehingga posisi ini menempatkannya semakin dihormati oleh masyarakat NU. Tak mengherankan tak sedikit orang yang megakui Gus Dur sebagai wali, orang yang dikasihi Allah SWT. Tentu kita sudah sering mendengar tentang sebutan ‘Wali Gus Dur’ yang dipopulerkan banyak orang juga tentang makamnya yang terus diziarahi orang setiap waktu.

Hal ini menegaskan posisi Gus Dur yang berada dalam hati banyak masyarakat apalagi warga NU. Kedekatan ini dengan jelas dapat dilihat saat Gus Dur dipaksa turun sebagai Presiden  oleh MPR, maka banyak masyarakat yang “berani mati” untuk membela Gus Dur. Meskipun pada akhirnya Gus Dur sendiri yang menolak pembelaan terhadap dirinya tersebut. Ekspresi orang-orang ini tentu tak berlebihan mengingat kecintaan dan pernghormatan yang sedemikian tinggi kepadanya.

Dalam peringatan 1000 Hari wafatnya Gus Dur, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menyampaikan bahwa para penerus Gus Dur dapat meniru Gus Dur dari sudut yang dipahaminya. Gus  Dur bisa diteladani dari sikap kesederhanaanya, kecintaan terhadap ilmu atau tingkat kepercayaan dirinya yang sangat tinggi dalam menegakan kebenaran. Masing-masing berhak meneladani Gus Dur semampunya.

Demikian halnya cara orang mencintai Gus Dur. Sudah mafhum bagi kita banyak politikus yang membawa platform nilai-nilai Gus Dur dalam berpolitik. Terlepas dari idealisme, tentu ini bagian dari cara mencintai Gus Dur. Ada yang rajin mengkaji, menulis dan menyebarkan gagasan Gus Dur dalam berbagai isu. Tentu tujuannya merawat gagasan  tersebut agar tetap relevan sepanjang waktu.

Sejumlah seniman menunjukkan cinta kepada Gus Dur, dengan mengabadikannya dalam bentuk patung dan lukisan. Bahkan ada pula yang mengisahkannya dalam bentuk komik atau ada juga yang mengumpulkan kisah-kisah humor yang terkait dengan Gus Dur. Sementara itu, ribuan orang rajin meziarahi makamnya seraya berharap berkah dari kealimannya. Semua cara-cara tersebut adalah bentuk ekspresi kecintaan kepada Sang Guru Bangsa.

Sebagaimana ibu jamaah pengajian tadi yang mengaitkan meninggalnya Gus Dur dengan semakin dekatnya hari kiamat, maka banyak orang memiliki pandangan yang hampir sama, mengimaginasikan Gus Dur sebagai manusia ‘alim, khoriqul ‘adah dan luar biasa. Informasi yang penulis dapatkan,  beberapa pesantren di Cilacap-mungkin juga ditempat lain- memasukan nama Gus Dur dalam susunan tawassul saat acara tahlilan.

Hal-hal demikian juga merupakan contoh ekspresi kecintaan terhadap Gus Dur. Mereka barangkali tidak mengenal tentang ‘Pribumisasi Islam’. ‘Pesantren sebagai Subkultur’ dan elemen pemikiran Gus Dur lainnya, akan tetapi mereka mengaktualisasikan kecintaan kepada Gus Dur dengan caranya sendiri sesuai dengan pemahaman masing-masing.

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa kecintaan terhadap Gus Dur tidak hanya milik kelompok tertentu. Cinta kepadanya adalah cinta berbagai manusia dengan beragam warna yang merasa kehilangan setelah kepergiannya. Cinta itu diekspresikan dalam berbagai cara, dengan 1000 jalan. Lahul fatihah...

Sumber : nu.or.id
Putri Gus Dur Ingat Pesan Ayahnya Lihat Situasi Masyarakat Saat Ini

Putri Gus Dur Ingat Pesan Ayahnya Lihat Situasi Masyarakat Saat Ini


Putri bungsu Gus Dur, Inayah Wahid mengenang pesan yang disampaikan ayahnya saat melihat situasi sosial saat ini.

Menurut Inayah, banyak pesan Gus Dur yang masih relevan sampai saat ini.

"Gus Dur sudah jelas yang selalu bilang adalah menyedihkan kalau yang menjadi perpecahan karena perbedaan, karena perbedaan tidak untuk dipertentangkan," kata Inayah kepada Tribunnews.com, Jumat (23/12/2016).

"Sudah jelas Gus dur selalu bilang, ketika beda kita semakin bisa lihat titik persatuan kita dimana, perbedaan itu penting dan membuat Indonesia muncul bisa negara," tambah Inayah.

Inayah mengatakan peringatan 7 tahun wafatnya Gus Dur ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat untuk menebar perdamain.

Ia mengakui situasi sosial masyarakat saat ini sedang memanas.

"Kita sih berusaha kembali ke fungsi utama agama sebenarnya untuk kemanusiaaan, seperti dibawa Gus Dur, bagaimana pun, negara tak bertentangan dengan agama makanya jangan dipertentangkan dan jangan dipakai kepentingan sesaat dan sepihak," kata Inayah.

Inayah mengatakan seluruh agama memperhatikan kepentingan masyarakat banyak serta keadilan.

Selain itu, Inayah melihat adanya suasana panas di media sosial bukan hanya terjadi di Indonesia.

"Iya, kayak kurang piknik. Ini bukan terjadi di Indonesia saja , naiknya kelompok sektarian, membenci kelompok lain, muncul semua. Penyelesaian harus menyeluruh, balik mengembalikan ke poin kemanusiaan," kata Inayah.

Sumber : tribunnews.com
Alissa Wahid: Nilai Keislaman Gus Dur Sangat Relevan Mengatasi Kebencian

Alissa Wahid: Nilai Keislaman Gus Dur Sangat Relevan Mengatasi Kebencian


Peringatan ke-7 Tahun Wafatnya KH Abdurrahman Wahid, Jumat 23 Desember 2016 mengambil tema ‘Mengaji Gus Dur: Menebar Damai Menuai Rahmat’. Dari tema ini, nilai keislaman Gus Dur yang tidak lepas dari sisi kemanusiaan penting untuk diterapkan.

“Menghadapi tantangan meningkatnya kebencian antarsesama muslim maupun terhadap kelompok lain akhir-akhir ini, kami merasa nilai keislaman yang diperjuangkan Gus Dur semakin relevan untuk digemakan kembali,” ujar Alissa Wahid, Ketua Panitia Peringatan yang juga puteri sulung Gus Dur, Selasa (20/12).

Menurut Alissa, ketegangan yang tak jarang berakhir dengan konflik kekerasan biasanya dipicu sikap merasa benar sendiri dan mudah menyalahkan yang lain. Sikap ini makin mengeras dan berdampak negatif jika dipengaruhi faktor politik, ekonomi, dan sosial.

Situasi ini, menurutnya, sangat mudah dijumpai di media-media sosial akhir-akhir ini. Padahal nilai-nilai keislaman jelas sekali mewajibkan pada perdamaian dan tak mudah berburuk sangka.

“Situasi ini dapat menganggu citra Islam, terutama bagi Indonesia yang menjadi model keislaman yang damai dan ramah di mata dunia. Apalagi masyarakat di negara-negara Barat saat ini mengalami Islamphobia, ketakutan daan kecurigaan terhadap Islam yang meningkat akibat maraknya kekerasan dan terorisme,” jelas Alissa.

Sepanjang hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang malnjutkan tradisi para ulama pendahulunya menghadirkan Islam yang ramah dan damai, membela kepentingan kaum yang lemah, dan dapat beradaptasi dan menerima budaya lokal.

Nilai keislaman yang Gus Dur perjuangkan berusaha untuk menyapa dan merangkul semua kelompok. Beliau meyakinkan bahwa keislaman dapat bersanding dengan nilai-nilai kebangsaan dan demokrasi, menjunjung tinggi penghormatan hak asasi, menghargai perbedaan, serta mengutamakan persatuan dan persaudaraan. Nilai dan prinsip itu pula yang terus diperjuangkan saat beliau menjadi Presiden RI keempat.

Pada saat bersamaan, orang juga makin merindukan Gus Dur di saat tak sedikit para pejabat publik bertindak melawan rakyat atas nama pembangunan. “Di sejumlah daerah kita masih menyaksikan rakyat kecil ditinggalkan bahkan dirampas haknya dan kelompok minoritas ditekan. Di saat itu orang-orang rindu Gus Dur,” ucap Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian ini.

Peringatan Ke-7 Tahun ini diisi kegiatan tahlil, Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, Taushiyah, Doa Bersama, Deklarasi Damai, dan Pembacaan Puisi.

Sejumlah tokoh agama, tokoh pemerintah, tokoh masyarakat, dan budayawan yang hadir antara lain sahabat dan budayawan KH. Achmad Mustofa Bisri, ulama asal Kudus Habib Ja’far Alkaff, ulama asal Semarang Habib Umar Muthohar, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH. Said Aqil Siradj, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Budayawan Joko Pinurbo, Putu Wijaya, Acep Zamzam Noor, dan Cici Paramida. Acara ini akan dimeriahkan pula oleh penampilan band musik tradisi Kunokini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini akan diikuti ribuan orang yang datang dari wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Mereka terdiri dari anggota majelis taklim, komunitas, hingga kalangan umum. Di pagi hari, mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB, diisi Khotmil Qur’an (membaca tuntas 30 juz al-Qur’an). (Red: Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Cara Gus Dur Memberi Kegembiraan kepada Setiap Orang

Cara Gus Dur Memberi Kegembiraan kepada Setiap Orang


Jika ada orang meminta bantuan, Gus Dur tak pernah menolak sepanjang ia memilikinya. Ia ingin selalu memberi. Jika tak ada lagi yang bisa diberikan Gus Dur, karena memang benar-benar sedang tak punya, ia akan menyampaikan kepadanya kata-kata yang menggembirakan hati dan memberinya ketenangan.

Hal itu diungkapkan oleh Pendiri Fahmina Institute, KH Husein Muhammad, Ahad (18/12) saat memberikan gambaran perilaku Gus Dur yang terlihat begitu penyayang kepada setiap orang meskipun dirinya tak punya sesuatu yang harus diberikan dalam rangka membantu.

“Gus Dur, tak ingin membuat orang yang memintanya kecewa atau pulang ke rumahnya dengan wajah murung, tangan yang kosong dan hati yang berduka,” ujar penulis buku Sang Zahid: Mengarungi Sufisme Gus Dur ini.

Kiai Husein menjelaskan, Gus Dur tentu membayangkan jika orang yang mengharap pertolongannya itu pulang lalu menemui anak-anak dan isterinya yang tengah menantinya dalam keadaan menangis.

“Hati Gus Dur amat peka dan pilu mendengar orang lain yang sering susah, yang miskin dan yang menderita,” tuturnya.

Dia juga menerangkan, dalam keadaan tak bisa memberikan uang atau apa yang dibutuhkan orang itu, Gus Dur akan berpesan optimisme kepada mereka seperti nasihat Ibnu Athaillah al-Sakandari ini:

لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدُ الْعَطَاءِ مَعَ الْاِلْحَاحِ فِى الدُّعَاءِ مُوْجِبًا لِيَأْسِكَ فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْاِجَابَةَ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيْمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ وَفِى اْلوَقْتِ الَّذِى يُرِيْدُ لَا فِى اْلوَقْتِ الَّذِى تُرِيْدُ

“Seyogyanya, tertundanya pemberian Allah sesudah engkau mengulang-ulang permintaan kepada-Nya, tidak membuatmu patah hati atau putus asa. Dia menjamin pemenuhan permintaanmu sesuai dengan apa yang Dia pilih bukan yang engkau pilih, dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada saat yang engkau kehendaki.”

(Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Gus Dur Rela Menanggung Luka

Gus Dur Rela Menanggung Luka


KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur bukan hanya dikagumi dan dirindukan banyak orang. Ia juga dibenci, dicaci-maki dan disumpahserapahi sebagian orang. Tetapi caci maki, sumpah serapah dan kutukan-kutukan para pembenci Gus Dur, tak membuatnya menjadi rendah, tak menjadi kecil dan tak pula membuatnya terkucil. Itu tak menggentarkan hatinya.

Malahan gempuran-gempuran terhadapnya seperti itu justru semakin mengukuhkan kebesarannya, meneguhkan perjuangannya dan semakin mengalirkan simpati kepadanya. Gus Dur menanggung semuanya dengan diam.

Ia tetap terus menapaki jalan yang ditempuhnya menuju cita-citanya: Keadilan bagi semua dan persaudaraan atas dasar kemanusiaan. Ia adalah orang besar yang namanya akan dicatat sejarah peradaban sebagai pejuang kemanusiaan.

Kita sudah membaca sejarah umat manusia dan sejarah orang-orang besar. Orang-orang besar selalu mengandung dualitas yang paradoks: dikagumi dan dicemooh dalam waktu yang sama. Ka’ab al-Ahbar, seorang ahli tafsir berbagai kitab suci, bilang:

مَاكَانَ رَجُلٌ حَكِيْمٌ فِى قَوْمِهِ قَطُّ اِلَّا بَغَوْا عَلَيْهِ وَحَسَدُوهُ

“Tak ada tokoh bijak-bestari di sebuah komunitas kecuali selalu saja ada orang-orang/kelompok yang mencaci-maki dan mendengki dia.”

Jalal al-Din al-Suyuthi, ulama besar, seorang ensiklopedis dengan ratusan karya tulisnya, mengatakan hal yang sama, tetapi dengan redaksi bahasa yang sedikit berbeda:

مَاكَانَ كَبِيْرٌ فِى عَصْرٍ قَطُّ اِلَّا كَانَ لَهُ عَدُوٌّ مِنْ السَّفَلَةِ. إِذِ الْاَشْرَافُ لَمْ تَزَلْ تُبْتَلَى بِا لْاَطْرَافِ فَكَانَ لِآدَمَ إِبْلِيس , وَكَانَ لِنُوحٍ حَام وَغَيْرُه وَكَانَ لِدَاوُدَ جَالُوت وَاَضْرَابُه وَكَانَ لِسُلَيْمَان صَخَر وَكَانَ لِعِيْسَى بُخْتَنْصِر وَكَانَ لِاِبْرَاهِيم النَمْرُود وَكَانَ لِمُوسَى فِرْعَون وَهَكَذَا اِلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لَهُ ابو جَهَل

“Tidak ada tokoh besar pada setiap zaman kecuali dicacimaki orang-orang bodoh. Orang-orang terhormat selalu diuji oleh orang-orang pinggiran. Dulu Nabi Adam dilawan Iblis, Nabi Nuh lawan Ham dan lainnya, Nabi Daud musuh Jalut dan pasukannya, Nabi Sulaiman lawan Sakhr, Nabi Isa lawan Bukhtanshir, Nabi Ibrahim lawan Namrud, Nabi Musa lawan Firaun, dan seterusnya sampai Nabi Muhammad SAW. Beliau dilawan Abu Jahal.”

Para tokoh bijak-bestari (Hukama) dalam sejarahnya, memang, bukan hanya disumpah-serapah dan dibenci, tetapi juga dikafirkan, dibid’ahkan, dizindiq-kan (dituduh atheis). Dan ingin dilenyapkan oleh mereka yang tak matang secara intelektual dan spiritual, atau oleh mereka yang pikirannya tergantung pada bentuk-bentuk kredo formal dan teks-teks literal keagamaan atau oleh fanatisme pada kebenaran diri sendiri dan buta pada kebenaran yang lain.

Imam Al-Ghazali, sang sufi besar menyebut mereka, “orang-orang yang memiliki pengetahuan terbatas. Seyogyanya keterbatasan pengetahuan itu hanya bagi dirinya sendiri dan tak boleh dipaksakan kepada yang lain. Mereka memang tak mengerti bahwa setiap kata-kata suci mengandung beribu makna.”

Boleh jadi mereka yang mengaku atau mengklaim paling benar sendiri sambil membodoh-bodohkan orang lain atau, melukai dan menyerang orang lain itu, sesungguhnya tak lebih dari orang-orang yang gelisah atas kondisi ketakberdayaan diri dan ketakutan yang berlebih. Fanatisme, radikalisme, atau ekstremisme, kata seorang psikolog, adalah gaya berpikir untuk lari dari rasa ketidakpastian, dari kebingungan yang akut, dari kecemasan yang menghantui dadanya dan rasa ketidakmampuan mengatasinya.

Sumber : nu.or.id
Kisah Kiai Hasyim 20 Tahun Mendampingi Gus Dur

Kisah Kiai Hasyim 20 Tahun Mendampingi Gus Dur


Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Depok, Jawa Barat KH Hasyim Muzadi memberikan pernyataan terkait riwayatnya dalam meneladani sikap dan pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Hal itu ia kemukakan ketika menghadiri sebuah acara di Monash University Australia, 11 Desember 2016 lalu.

“Pertama kali saya ketemu Gus Dur tahun 1979 di Muktamar NU Semarang (Muktamar NU ke-26) dan ketika itu Gus Dur belum masuk di kepengurusan NU sedangkan saya sudah mewakili utusan NU Cabang Malang,” ujar Kiai Hasyim mengawali ceritanya.

Di dalam Muktamar ke-26 NU itu, lanjutnya, Gus Dur diangkat menjadi Wakil Katib PBNU. Setelah pertemuan di Semarang sangat sering Gus Dur ke Jawa Timur. Karena memang Jawa Timur adalah pusat potensi NU.

Sering juga menginap di Malang karena Gus Dur mengajar Islamologi di Yayasan Kristen GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) yang berlokasi di Sukun Kota Malang.

“Saya mendampingi dan mengikuti Gus Dur selama 20 tahun penuh mulai tahun 1979-1999. Di tahun 1999 itu, Gus Dur menjadi Presiden Republik Indonesia,” jelas Kiai Hasyim.

Setelah menjadi Presiden RI, tambahnya, Gus Dur fokus memimpin PKB dan Kiai Hasyim menjadi Ketua Umum PBNU di Muktamar Lirboyo (Muktamar ke-30 NU).

“Dalam waktu 20 tahun, saya mengikuti betul jalan pikiran Gus Dur baik masalah ke-NU-an, keislaman Indonesia, keislaman global, dan situasi politik Internasional,” ungkapnya.

Menurut pandangan Kiai hasyim, di dalam membawakan Islam, baik di Indonesia maupun di dunia, Gus Dur lebih mengetengahkan pendekatan filosofi religius, etika religi, kemanusiaan (humanity), dan budaya.

Menurutnya, tak banyak Gus Dur menggunakan ilmu fiqih sebagai bagian dari syariat, karena yang diketengahkan bukan legal syariatnya tetapi hikmatut tasyri’-nya dan maqoshidut tasyri’-nya.

Dalam pendekatan etika religi, imbuh Kiai Hasyim, Gus Dur sangat egaliter menempatkan manusia dalam posisi yang setara, terlepas dari agama yang dipeluknya. Sehingga hubungan etis ini menjadi sangat cair antara Gus Dur yang muslim dan non-muslim bahkan yang atheis sekalipun.

“Dalam hal pendekatan kemanusiaan, Gus Dur sangat mementingkan martabat dan kebutuhan asasi dari manusia itu sendiri, sebagai bentuk dari kasih sayang Allah kepada seluruh makhluknya. Dalam hal ini kemanusiaan diletakkan pada rahmaniah Allah sedangkan rahimiah Allah dikhususkan untuk kaum muslim,” urai Kiai Hasyim. (Red: Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Jalinan Persahabatan Gus Dur dan PB XII (2)

Jalinan Persahabatan Gus Dur dan PB XII (2)


Empat belas tahun silam, atau tepatnya pada tanggal 9 Oktober 2002, Presiden Republik Indonesia ke-4, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mendapat gelar Kanjeng Pangeran Arya (KPA) dari Keraton Kasunanan Surakarta.

Gelar ini, menurut H. Ronggojati Sugiyatno, setara dengan Kanjeng Patih. “Gelar KPA yang diterima Gus Dur dari pemberian Sinuhun itu, setara dengan Kanjeng Patih. Lebih tinggi dari gelar-gelar keluarga Keraton Solo yang ada,” ungkapnya.

H. Ronggojati Sugiyatno atau yang akrab dipanggil dengan nama Pak Dhe Tino ini, merupakan salah satu orang Solo yang dekat dengan Gus Dur. Ia pula yang menjadi salah satu saksi, kedekatan antara Gus Dur dengan Raja Keraton Surakarta waktu itu, Sinuhun Paku Buwono (PB) XII.

Kedekatan antara keduanya masih terekam dalam ingatan Pak Dhe Tino. Pernah, pada suatu ketika di saat peringatan malam Satu Sura, ia menyaksikan Sinuhun sampai tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Gus Dur.

Padahal lumrahnya dan juga secara etika, pada peringatan malam Satu Sura tersebut, tak ada orang-orang Keraton yang berani tertawa.

Saking penasarannya, ia pun bertanya kepada Gus Dur. “Gus, tadi panjenengan cerita apa ke Sinuhun, kok sampai beliau tertawa terpingkal-pingkal,”

Gus Dur kemudian menjawab dengan cerita. “Ini yang di samping saya, ini dan itu, sekarang sudah jadi mantan (mantan pejabat dan sebagainya,-red). Lha Sinuhun ini, kapan jadi mantannya?”

Karena mendengar humor tersebut, Sinuhun pun tertawa. Sebab, ketika ia menjadi mantan Sinuhun, berarti ia telah meninggal.

Soal wafatnya Sinuhun PB XII ini pun, Gus Dur pernah meramalkan apa yang terjadi setelahnya. Ketika itu Gus Dur bertanya kepada Sinuhun, kalau nanti Sinuhun sampun seda (meninggal), nanti siapa yang akan menggantikan.

“Loh, Gus Dur itu mendoakan saya mati ya?,” tanya Sinuhun.

“Anak saya itu dua, yang satu ..., satunya ....,” lanjut dia.

“Jam itu kan cuma sampai jam 12,” jawab Gus Dur.

Di kemudian hari, perkataan Gus Dur ini terbukti. Pascawafatnya PB XII, terjadi konflik berkepanjangan, yang kemudian melahirkan “dualisme kepemimpinan” di Keraton Surakarta.

Melestarikan Budaya
Kembali kepada gelar yang diterima Gus Dur. Meski, sebelumnya ia tidak pernah berharap untuk mendapat gelar, namun baginya, pemberian gelar ini sebagai salah satu tindakan untuk melestarikan budaya daerah.

“Bagi saya ini adalah sebuah penghormatan bagi jalan hidup yang saya pilih, yakni supaya selalu menyerasikan Islam dengan budaya daerah,” kata Gus Dur kepada pers, ketika itu.

Gus Dur juga berharap Keraton Surakarta dapat menjadi pemelihara dan pelestari budaya. “Selama ini, Keraton telah menjadi pemelihara dan pelestari budaya. Kalau ada yang hilang maka kebudayaan di daerah kita ini akan terganggu,” paparnya.

Yang menarik tidak hanya itu, konon setelah mendapat gelar KPA, Gus Dur justru takut dengan panggilan baru yang bakal melekat pada namanya.

“Tapi nanti saya tidak mau dipanggil dengan panggilan Gusti seperti orang keraton itu, lho,” kata Gus Dur kepada Sinuhun, sesaat setelah menerima gelar KPA.

“Lha kok bisa, Gus? Apa takut dianggap syirik?” tanya Sinuhun.

“Bukan apa-apa. Cuma nggak enak aja kalau ditambahi tambahan Gusti. Nanti, malah bisa keliru panggilannya jadi Gus Tidur,” jawab Gus Dur.

Sumber : nu.or.id
Belajar dari Jiwa Besar Gus Dur

Belajar dari Jiwa Besar Gus Dur


Tidak pernah narsis dalam spiritualitas keagamaan, Gus Dur sunyi dalam ramai dan ramai dalam sunyi. Harta dan fasilitas bukan sarana suksesnya perjuangan Islam. Dalam sejarah tidak ada cerita perjuanagn sukses karena uang.

Demikian disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH Luqman Hakim, Jumat (9/12) dalam akun twitter miliknya @KHMLuqman menerangkan jiwa besar KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam kehidupan.

“Gus Dur tidak pernah mencaci maki orang yang berbeda pandangan dengannya bahkan kepada yang dinilai jahat sekali pun,” kata Pakar Sufi ini.

Menurutnya, Gus Dur selalu menghormati Ulama dengan tulus, walaupun berbeda pandangan. Sekalipun itu kiai kampung, Gus Dur tetap tawadhu'. Guru Bangsa itu juga rela dicacimaki, yang penting umat dan bangsa selamat.

Gus Dur, tuturnya, memandang bangsa ini sebagai keluarga besar. Apa artinya membangun keluarga bangsa jika saling melukai dan berdarah?

“Dia mampu memilah dengan mudah mana yang besar dan mana yang kecil, mana yang umum mana yang khusus, mana yang Allah dan mana yang makhluk,” ungkap Kiai Luqman.

Menurutnya, Gus Dur memandang dunia ini hanya sebesar biji buah pala bahkan lebih kecil lagi. Begitu saja kok repot! Gus Dur juga sering memberikan pelajaran bahwa keshalehan seseorang tidak pernah diukur dengan tampilan.

“Kesahajaan Gus Dur tidak dibuat-buat untuk citra. Kesahajaan orisinal. Lautan tak bertepi, silakan diarungi sendiri. Jika tak bisa berenang anda akan tenggelam sia-sia,” ucap Pengasuh Majalah Cahaya Sufi ini. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Resep Meneladani Gus Dur

Resep Meneladani Gus Dur


Sosok guru bangsa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur telah banyak ditulis orang, baik itu pemikiran maupun gesturnya. Berbagai atribusi pun melekat pada diri Presiden ke-4 RI ini.

Selain sebagai seorang kiai, Gus Dur juga sering disebut sebagai budayawan, politikus, sastrawan, kolumnis, pengasuh pesantren, negarawan, sufi, waliyullah, dan lain-lain. Pemikirannya yang humanis mampu menginspirasi banyak orang di berbagai belahan dunia.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Caringin Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim memberikan semacam resep untuk memahami dan meneladani berbagai atribusi yang melekat pada diri Gus Dur.

Kiai Luqman menuturkan, jika seseorang ingin merdeka seperti Gus Dur, maka jangan campur aduk antara dunia dan akhirat, agama dan politik, agama dan ekonomi, idealisme dan realisme, serta perjuangan dan ambisi.

Kiai yang juga Sufiolog ini menjelaskan hal itu dalam akun twitter miliknya @KHMLuqman, Jumat (9/12). Ia juga memaparkan resep serupa dengan melontarkan beberapa pertanyaan tentang Gus Dur yang dapat diteladani oleh masyarakat. Di antara resep teladan Gus Dur yang dituturkannya ialah sebagai berikut:

“Ingin semangat berjuang seperti Gus Dur? Bangkitkan hatimu di hati umat menuju kepada Allah, seperti gairah konser Beethoven dan Bach yang digemari.”

“Ingin ikhlas dan tawakkal seperti Gus Dur? Belajarlah ‘jagongan’ dengan Allah dalam Majelis-Nya sembari menata kemanusiaan.”

“Ingin terapkan Begitu saja kok repot-nya Gus Dur? Pisahkan dulu mana minyak dan mana air dalam satu gelas.”

“Ingin kontroversial yang benar seperti Gus Dur? Ikhlaslah dalam bicara dan mengambil keputusan, asal Allah mengiyakan hatimu. Bukan ‘ya’ dari dirimu.”

“Ingin melawak seperti Gus Dur? Belajarlah sastra politik, kearifan lokal, psikologi binatang dan hakikat cobaan.”

Kiai Luqman menerangkan, dalam setengah abad terakhir ini belum dijumpai seorang ahli Ushul Fiqih dan Pakar Sastra Arab, kritikus film sehebat Gus Dur.

Bahkan menurutnya, Universitas terkenal di USA membuat jurusan di fakultasnya:Jurusan Pemikiran Abdurrahman Wahid. Satu-satunya tokoh pengubah dunia yang memukau.

“Gus Dur mensinergikan agama dan negara, agama dan budaya, bukan mencampuradukkan. Karena campur aduk lebih gila dibanding sekulerisme,” kata Pengasuh Majalah Cahaya Sufi ini. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Kaktus dari Presiden Gus Dur

Kaktus dari Presiden Gus Dur


Aneh. Begitulah hal pertama yang ada di benak Mohammad Mustahdi, putra KH Abdullah Abbas saat kedatangan paket dari istana. Saat itu, KH Abdurrahman Wahid belum lama terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia keempat.

Kiai Dulah, panggilan masyarakat kepada KH Abdullah Abbas, adalah orang yang menolak keras pencalonan Gus Dur sebagai presiden. Sampai putusan akhir musyawarah para kiai meridai pencalonan putra pertama KH Abdul Wahid Hasyim, Kiai Dulah tetap dalam pendiriannya menolak dengan tetap menghargai keputusan forum.

Penolakan Kiai Dulah tentu saja bukan tanpa alasan. Sesepuh Buntet itu, menurut penuturan putranya, enggan melihat Gus Dur menjadi tumbal reformasi. Bahkan, saat pemilihan presiden berlangsung, Kiai Dulah menangis.

“Saya ingat betul, saat pemilihan itu, bapak nangis,” ujar Mohammad Mustahdi, putra Kiai Dulah.

Paket dari Presiden Gus Dur itu hanyalah sebuah pot bertanamkan kaktus. Tidak lebih.

“Hanya kaktus?” tanya Mustahdi pada staf presiden.

Tentu staf presiden itu mengiyakan karena memang tidak ada lagi. Hal tersebut membuat Mustahdi bertanya-tanya. Namun ketika ia menanyakan apa maksud kiriman itu pada ayahnya, ia hanya mendapat senyum ayahnya. Tidak lebih.

“Bapak tuh cuma senyum aja,” ujar wakil ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama itu.

Dia akhirnya berpikir sendiri, mencoba menafsiri maksud kiriman itu. Ia akhirnya beroleh kesimpulan, bahwa Gus Dur ingin mengabarkan pada Kiai Dulah untuk tidak perlu mengkhawatirkannya. Kaktus mampu hidup sendiri di tengah padang pasir yang gersang. (Muhammad Syakir Niamillah Fiza)

Sumber : nu.or.id
close
Banner iklan disini