Gus Dur dalam Sebait Puisi

Gus Dur dalam Sebait Puisi


Oleh Widodo

Yā man tabḥatsu ‘an marqadinā
Qabrunā hādzā fī shudūr al-‘ārifīn
Wa qulūb al-majrūḥīn

Duhai kalian yang mencari tempat tidurku
O, lihatlah… aku ada di dalam palung jiwa para bijak bestari
Dan mereka yang hatinya terluka

Itulah jawaban Gus Dur atas puisi rindu yang dibacakan sahabatnya, Kiai Husein Muhammad, pada peringatan lima tahun kematiannya. Kiai Husein mencatat jawaban tersebut dalam Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus (Noura Books, 2016), sebuah buku yang membicarakan Gus Dur dari sudut pandang Gus Mus.

Bahwa manusia yang telah meninggal berkomunikasi dengan manusia yang masih hidup, hal itu wajar-wajar saja dalam jagad spiritual. Kita tentu ingat dengan adagium ini: betapa miskinnya penempuh jalan spiritual yang hanya berguru kepada yang hidup. Dan Kiai Husein dan Gus Dur adalah penempuh jalan spiritual yang berdialog dengan puisi.

Berangkat dari bait yang pendek, ringkas, dan padat di atas, kita bisa mengenang Gus Dur dengan perspektif yang bening dan dalam. Selain membayangkan gerakan sosial Gus Dur yang sifatnya lahiriah, bait tersebut juga menggoda kita untuk menapaktilasi jejak gerakan spiritual Gus Dur yang sifatnya batiniah dan amat personal.

Setelah Gus Dur meninggal, lebih kurang tujuh tahun lalu, kita merasa kehilangan, merasa ditinggalkan. Tiba-tiba kehadiran Gus Dur jadi sangat berharga. Kita jadi seperti sekumpulan anak ayam yang sekonyong-konyong ditinggal pergi sang induk untuk selamanya.

Maka, tanpa komando dari siapa pun, anak-anak ayam yang bingung itu mencari-cari induknya. Ada kerinduan yang semakin lama semakin meluap kepada Gus Dur. Ada keinginan untuk berjumpa dengannya. Orang-orang pun, dari berbagai latar belakang sosial, berduyun-duyun membicarakan Gus Dur, membolak-balik lembaran tulisannya, dan menziarahi kuburannya. Tapi, apakah yang mereka temukan? Apakah kerinduan kita terjawab?

Nyatanya, sepeninggalan Gus Dur, barangkali kita tidak (mau) maju selangkah pun dalam kebudayaan, apalagi dalam agama, politik, dan ekonomi. Sebaliknya, kita malah berjalan mundur. Hingga sekarang, belum juga reda puspa ragam bencana: bencana alam, bencana ekonomi, bencana politik, bencana hukum, bencana pendidikan, bencana kebudayaan, bahkan bencana agama.

Di mana-mana orang berebut menang, berebut benar, berebut tinggi. Ketika keakuan menyesaki kehidupan, tanpa sadar kita pun menjauh dari tritunggal kudus: cinta, damai, dan persatuan. “Aku” tidak menyapa “engkau” dan “engkau” pun tidak menyapa “aku”. “Kami” tidak menghampiri “mereka” dan “mereka” pun tidak menghampiri “kami”. Akibatnya, “kita” jadi sesuatu yang jauh.

Hikmah perbedaan, yaitu ta’āruf, yaitu jihad untuk saling mengenal, mulai dilupakan. Ketakwaan dilucuti dimensi sosialnya. Aku memang kenal engkau, kami memang kenal mereka, tapi sebatas nama, sekadar paras. Tidak ingin, juga tidak perlu, lebih. Maka, wajar kalau kita serasa hidup di gurun yang gersang. Wajar pula kalau sumbu konflik gampang terbakar. Benci balas benci. Marah balas marah. Tampar balas tampar. Kehidupan ini rupanya telah sepanas neraka. Bahkan air pun jadi panas, jadi api, jadi azab, jadi bencana.

Di mana sikap ihsan, yang merupakan hulu dan hilir sungai keadilan, bersembunyi kini? Di mana murid-murid Isa yang rela memberikan pipi kanannya setelah pipi kirinya ditampar? Di mana penerus Sokrates yang pada bekas tamparan di wajahnya menulis kalimat jenaka: “seseorang telah menamparku dan inilah balasan dariku”? Di mana anak-anak ideologis Gus Dur yang berani menertawakan keakuan pribadi, yang siap mengalah demi persatuan?

Di mana pengikut Baginda Muhammad yang membesuk orang yang meludahinya, yang dengan sabar menyambung tali cinta (silaturahmi) yang terputus? Masihkah kita percaya bahwa hari kiamat pasti datang? Masihkah kita beriman kepada Tuhan Yang Maha Cinta dan Maha Adil? Masihkah kita menyaksikan-Nya dengan mata hati, atau paling tidak merasa diawasi oleh-Nya?

Barangkali, jumlah kaum muhsin, orang-orang pemaaf yang dicintai Tuhan itu, semakin sedikit saja. Yang semakin banyak justru orang-orang yang merasa lebih, yang merasa bisa, dan tidak bisa berempati dengan orang lain. Yang juga semakin banyak adalah barisan korban mereka: kaum dhuafa, subaltern, marjinal, terdiskriminasi, tertindas, terpinggir, tersingkir, tersisih, terlupakan. Siapa kini yang memperhatikan mereka, menemani mereka, membela mereka?

Kata ‘maaf’ pastilah sukar keluar dari mulut para korban yang tinggal dalam goa gelap kebencian, dendam, dan keputusasaan tersebut, kecuali jika mereka ditemani, dianggap ada, dibantu dengan tulus, dimanusiakan, dicintai. Gus Dur, dalam bait di atas, menyebut mereka sebagai orang-orang yang hatinya terluka. Yang dilukai adalah kemanusiaan mereka. Dan luka itu akan semakin menganga dan semakin perih jika tak segera diobati.

Demokrasi, sebagai prinsip sekaligus mekanisme keadilan, sebenarnya adalah obat untuk menyembuhkan luka tersebut. Tapi, bagaimanakah demokrasi kita sekarang? Betapa sulitnya membedakan pemimpin dan pencuri. Betapa payahnya memilah manusia dan binatang.

Kita merindukan kemanusiaan. Kita merindukan politik yang bersendikan kemanusiaan. Kita merindukan pemimpin yang arif, yang mengenal Tuhannya, juga mengenal hakikatnya sebagai manusia, sebagai hamba sekaligus mandataris Ilahi. Dalam bait di atas, Gus Dur menyebut pemimpin dengan derajat spiritual tinggi seperti ini sebagai kaum bijak bestari, kaum ‘ārifīn. Mereka adalah induk bagi anak-anak ayam, adalah ibu bagi umat, adalah pa(mo)mong, adalah bocah angon.

Seperti Sunan Kalijaga, bocah angon menyeru umat menuju balai paseban, tempat yang membahagiakan, terasa lapang, dan terang oleh cahaya rembulan. Seperti Sunan Gunung Jati, bocah angon mendayagunakan potensi demokratis tajug dan memberdayakan fakir miskin. Seperti Sunan Drajat, bocah angon memberi makan yang lapar, memberi pakaian yang telanjang, memberi payung yang kehujanan, menuntun yang buta. Seperti Semar dan anak-anaknya, pa(mo)mong menemani rakyat, juga pemimpin, bahkan hidup bersama rakyat dan sebagai rakyat.

Mereka, kaum arifin itu, berpihak kepada golongan yang lemah dan kalah secara struktural. Kaum arifin melantunkan tembang cinta untuk mengobati luka kemanusiaan, untuk meruwat libido raksasa yang mendekam dalam dada, untuk meredakan berbagai bencana, untuk meninggalkan malam kalabendu demi menyongsong fajar kalasuba. Optimisme kolektif mesti dibangun dari bawah dengan keberpihakan sosial yang tulus. Tanpa cinta, mungkinkah sistem yang korup dan struktur yang zalim direformasi? Cinta itulah yang tersimpan sebagai rahasia dalam palung jiwa para bijak bestari, dalam lubuk dada kaum arifin.

Karena itu, pada bait di atas, Gus Dur berpesan: jangan hanya mencariku di tempat tidurku. Jangan berpuas hati dengan hanya menziarahi kuburanku. Tapi ziarahi pulalah lubuk dada kaum arifin dan hati manusia yang terluka. Aku sejatinya masih hidup di sana. Di dalam liang kuburku hanya terpendam jasad yang tak bisa menjawab.

Ya, Gus Dur sesungguhnya masih hidup, selama kemanusiaan masih terluka dan selama kaum arifin masih bergerak untuk menyembuhkan luka itu. Sejatinya Gus Dur tak pernah meninggalkan kita. Dia senantiasa hadir bersama kita.

Sumber : nu.or.id
Dear Gus Dur: Pesan Kerinduan untuk Anak Bangsa

Dear Gus Dur: Pesan Kerinduan untuk Anak Bangsa


Gus, maaf saya lancang menulis surat untuk Anda, saya tahu anda pasti geli membaca surat saya ini, tapi biarlah. Gus, saya tulis surat ini karena sudah gerah dengan hiruk pikuk orang-orang saat ini. Gus, hari-hari ini rakyatmu sedang gundah gulana. Saking galaunya, semua hampir bicara tetang topik yang sama, dan entah kenapa kok saya sudah merasa fokus bahasannya semakin melebar.

Gus, sebenarnya semua berawal dari dialog seorang, saya enggan membahas apakah ada yang sesuai atau tidak sesuai dengan ucapan beliau, tapi yang pasti, sebagian umat merasa tersinggung, dan mulailah cerita ini berkembang.

Gus, kalau saja anda masih hidup, tolong ajarkan kami secara langsung bagaimana cara hidup rukun berdampingan, ajarkan kami bagaimana minoritas menghargai mayoritas, dan bagaimana pula mayoritas menghargai minortas. Gus, Anda memang bukan tanpa kekurangan, tapi gaya nyeleneh anda yang kadang membuat suasana lebih cair.

Saya yakin anda pasti bilang, “Kalau ada yang menistakan agama, hukumlah dia, berilah sanksi yang setimpal dan menjadi pelajaran agar bisa lebih baik, tapi yang bikin kita tergeleng-geleng, mereka yang melakukan korupsi, mereka yang mengambil uang rakyat, menebar bom, menyakiti sesama, dan yang memakan bukan hak-nya adalah yang benar-benar menistakan agama”.

Saya setuju Gus, kemarin sore saya melihat orang-orang marginal, duduk diantaranya seorang ibu dan anaknya yang sedang berbagi sepotong roti. Lalu apa kabar dengan para koruptor itu Gus, mereka yang membuat kemiskinan di negeri ini semakin mengakar, mereka yang mungkin taat sembahyang, berangkat ke gereja, mendekatkan dahi ke tanah, bersujud di mesjid, dan berangkat ke tempat ibadah, tapi mereka membiarkan korupsi merajalela, dan berbuat seolah tak ada apa-apa.

Gus, semua orang menurut saya sekarang terlalu berani menghujat penguasa, saya tahu kritik itu perlu, tapi bukan kemudian menghina, menjelek-jelekan, atau pun menghujat. Ke mana mereka pada saat zaman Orba. Hanya Anda dan segelintir orang yang berani berhadapan dengan penguasa.

Saya dengar cerita pedih Anda saat di depak oleh Pasukan Penguasa dan harus duduk di kursi belakang, padahal itu jelas-jelas acara anda dan NU. Tapi itulah anda Gus, ditakuti penguasa saat banyak orang takut dengan penguasa dan memilih tidak berhadapan dengan penguasa.

Gus, coba ceritakan bagaimana situasi saat anda dilengserkan. Apa jadinya jika anda juga melawan orang yang melengserkan anda. Saat itu anda dipaksa turun tahta, tapi anda tidak kemudian membalasnya dengan parlemen jalanan, atau bahkan pasukan berani mati anda yang sudah siap untuk berangkat ke Jakarta. Bukankah itu yang kita sebut Negarawan, lebih merendah untuk kemenangan bangsa dan negara. Tanpa ingin membuat semuanya menjadi gaduh dan berkembang pada hal-hal negatif yang justru berpotensi memecah belah bangsa.

Gus, saya dengar sekarang hampir tiap hari, ratusan bahkan ribuan orang datang ke tempat peristirahatan Anda, untuk sekedar ziarah dan memanjatkan doa. Tapi saya yakin di hati kecil anda bukan itu saja yang anda ingin. Anda ingin mereka semua bisa hidup damai, mereka semua bisa saling menghargai, saling menghormati, saling membantu selayaknya anak bangsa yang telah ditakdirkan menjadi Seorang Indonesia.

Mereka tetap berpegang teguh pada akidah dan tuntunan agama, tapi juga menjaga adab, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena pada dasarnya kita semua telah sepakat dengan dasar negara Pancasila dan tata aturan kebangsaan yang lain.

Gus, Anda mungkin tak akan membalas surat ini, tapi izinkan saya agar seluruh Rakyat Indonesia bisa membaca surat ini. Surat yang dibuat tanpa ada tendensi pada pihak manapun. Surat yang ditulis sebagai bentuk perhatian dan kecintaan dari warga negara terhadap bangsanya. Surat yang ingin menggugah bahwa, berjalan berdampingan, tepo seliro, tenggang rasa adalah bukan sekadar retorika, tapi sungguh sebuah falsafah hidup dan identitas bahwa kita adalah INDONESIA.


Sumber : nu.or.id
Ini Alasan Soeharto dan Gus Dur Layak Diberi Gelar Pahlawan

Ini Alasan Soeharto dan Gus Dur Layak Diberi Gelar Pahlawan


Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sodik Mudjahid menilai Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan Soeharto layak diberi gelar pahlawan.

Meskipun terdapat kelemahan dalam sosok keduanya.

"Tidak ada manusia yang sempurna selalu saja ada sisi kecil, kelemahannya yang manusiawi," kata Sodik ketika dikonfirmasi, Kamis (10/11/2016).

Sodik mengingatkan Soeharto dan Gus Dur merupakan bapak bangsa.

Soeharto dinilai berjasa menumpas komunisme serta melakukan pondasi awal pembangunan.

"Dari titik nadir ekonomi peninggalan Bung Karno sampai menjadi salah satu macan Asia," kata Politikus Gerindra itu.

Sementara Gus Dur merupakan sosok pembaharu perlindungan minoritas, desakralisasi istana dan pencabutan dwi fungsi ABRI.

"Jasa keduanya jauh lebih besar daripada kelemahannya," kata Sodik.

Sodik melihat hal tersebut dapat menjadi ajaran bagi generasi berikutnya untuk kritis serta tidak mengikuti kesalahan dan kelemahan pemimpin.

"Tapi tetap objektif dan hormat kepada jasa-jasanya," kata Sodik.

Hal yang sama dikatakan Sekretaris Fraksi Hanura Dadang Rusdiana.

Dadang mengatakan Soeharto memiliki jasa besar terhadap negara terlepas dari kekurangannya
"Jadi wajar kalau mendapat anugrah kepahlawanan, demikian juga Gus Dur," kata Dadang.


Sumber : tribunnews.com
Gelar pahlawan Nasional Gus Dur bertepatan 10 November

Gelar pahlawan Nasional Gus Dur bertepatan 10 November


Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akan mendapatkan gelar pahlawan nasional di saat yang tepat. Sebab, Gus Dur memiliki kontribusi besar bagi keutuhan NKRI.

“Gelar kepahlawanan bagi Gus Dur adalah untuk memberikan pengetahuan kepada seantero anak negeri tentang pentingnya melestarikan hidup damai dalam keberagaman,” kata H Ahmad Tamim, Sekretaris PW GP Ansor Jatim di Surabaya (7/11).

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa memastikan Pemerintah belum akan memberikan gelar pahlawan nasional kepada Gus Dur pada tahun 2016 ini, termasuk juga kepada Presiden ketiga RI, Soeharto.

Khofifah mengakui bahwa Presiden RI memang sudah menandatangani keputusan penganugerahan seorang tokoh sebagai pahlawan nasional. “Yang terkonfirmasi ke Kemensos itu satu yang ditandatangani Keppresnya oleh presiden,” ujarnya saat acara jalan sehat dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 2016 di Jakarta, Ahad, 6 November 2016.

Keppres bernomor 90 tahun 2016 sudah ditandangani Presiden Jokowi pada Jumat, 4 November 2016 lalu. Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kemungkinan dilaksanakan sebelum puncak Hari Pahlawan pada 10 November.

Menuru Gus Tamim – panggilan akrab Ahmad Tamim, pikiran-pikiran dan sikap Gus Dur selama hidupnya menjadi perekat bagi keberagaman bangsa Indonesia. “Gus Dur boleh meninggalkan kita, tetapi ajaran pluralisme Gus Dur tidak boleh kita tinggalkan, tetap kita lanjutkan,” tegasnya.

Dengan pikiran dan sikapnya itu, Gus Dur menjadi sosok pemimpin yang diterima oleh masyarakat lintas agama dan suku. “Indonesia adalah negara beragam budaya, maka gelar kepahlawanan bagi Gus Dur bukan untuk Gus Dur dan keluarganya, tetapi untuk mengabadikan pikiran kebhinekaan Gus Dur,” pungkasnya.

Sejak Ahad malam, 5 November 2016, dunia maya ramai perbincangan tentang gelar pahlawan nasional bagi Gus Dur. Sejumlah aktivis media sosial, terutama dari kaum muda NU, membuat tagar, diantaranya, #GusDurPahlawanNasional #RinduGusDur, dan #HariPahlawan.

Gelar pahlawan nasional bagi Gus Dur tentu tidak penting. “Namun ditengah situasi hari ini dimana perpecahan atas nama agama nampak di pelupuk mata, kehadiran Gus Dur sungguh kami rindukan. Gus Dur wajah keberagaman kita,” kata salah sorang pegiat media sosial dari kaum muda NU, Syukron Dosi.


Sumber : nu.or,id
Inilah Keajaiban Alam pada Gus Dur ketika di Makkah

Inilah Keajaiban Alam pada Gus Dur ketika di Makkah


Jazirah Arab merupakan daerah yang tandus dan panas sehingga melakukan perjalanan yang melewati padang pasir merupakan sesuatu yang menyiksa yang menjadi perjuangan berat dan butuh persiapan fisik dan mental yang prima.

Salah satu tanda kenabian Muhammad adalah ketika ia mengikuti misi dagang dari Makkah ke Syam, sekarang daerah Damaskus, bersama pamannya Abu Thalib. Sepanjang perjalanan tersebut Muhammad selalu dinaungi oleh awan sehingga tidak kepanasan.<>

Gus Dur, tentu saja jangan dibandingkan dengan Nabi Muhammad, pernah mengalami fenomena keajaiban alam yang juga luar biasa ketika ia berada di Makkah untuk menjalankan ibadah haji tahun 1994 lalu.

Kiai Said Aqil Siroj yang mendampingi Gus Dur mengisahkan, waktu itu rombongan haji sudah ada di Arafah. Kemudian Gus Dur bertiga, dengan Kang Said dan Sulaiman, asisten pribadi Gus Dur, memisahkan diri menjauhi perkemahan untuk berdoa di suatu tempat.

Mereka bertiga berdzikir panjang ditengah udara gurun pasir yang panas sehingga keluar keringat yang banyak. Untungnya ada awan yang berada diatas mereka yang melindungi pancaran sinar matahari langsung.

Ditengah-tengah dzikir tersebut, tiba-tiba awan tersebut menyibak dan satu cahaya kecil menerobos langsung mengenai tubuh Gus Dur sementara dua orang yang mengiringinya tidak terkena sinar tersebut. Gus Dur yang memimpin dzikir meneruskan dzikirnya sementara mereka berdua hanya bisa saling berpandang mata sambil terdiam dan ternganga.

“Kelihatan sekali ada mego (awan) membuka, ada cahaya yang ke Gus Dur, ini saya tahu sendiri. Kalau diceritakan sulit, karena orang pasti tidak percaya,” kata Kang Said.

Tapi setelah kejadian tersebut, Kang Said tidak menanyakan masalah itu. Menurutnya, jika pun ditanya, Gus Dur pasti jawabnya ringan-ringan saja. (mkf)

Sumber : nu.or.id
close
Banner iklan disini