Inilah Tiga Tokoh yang Dihormati Gus Dur

Inilah Tiga Tokoh yang Dihormati Gus Dur


KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menyebut nama-nama tokoh di Indonesia yang ia kagumi, saat menghadiri acara “Tribute to Prof. Dr. M. Quraish Shihab” di Kampus UIN Jakarta, November 2009 silam.

Dalam acara pelepasan Quraish Shihab sebagai Guru Besar Fakultas Ushuludin itu hadir Presiden ke-3 RI BJ Habibie, Din Samsyuddin (saat itu Ketua PP Muhammadiyah), kolega dan kerabat Quraish Shihab, serta ribuan civitas akademika UIN Jakarta.

“Ada tiga orang yang sangat saya hormati di Indonesia,” papar Gus Dur.

“Pertama, Pak Quraish Shihab.”

Seluruh hadirin serius menyimak.

“Yang kedua, almarhum Nurcholis Madjid.”

Gus Dur melanjutkan, “Yang ketiga…”

Suasana auditorium utama kian hening. Seluruh hadirin pasang telinga lebar-lebar. Siap menerima informasi baru.

“Yang ketiga… Saya enggak mau kasih tahu.”

“Gerrrrr…” Keheningan pun pecah. Gus Dur ternyata memberi kejutan terakhir dengan informasi kosong.

Source: www.khazanahalquran.com
Gus Dur dan Panasnya Muktamar NU Cipasung

Gus Dur dan Panasnya Muktamar NU Cipasung


Tidak terasa Muktamar ke-33 NU di Jombang sudah berakhir setahun yang lalu dengan terpilihnya KH Said Aqil Siroj sebagai ketua tanfidziah dan KH Ma’ruf Amin sebagai Rais Aam. Dengan terpilihnya kembali calon incumbent ini menunjukkan keberhasilannya memimpin NU selama lima tahun terakhir. Meskipun pro-kontra pasca-muktamar pada saat itu masih sangat panas hingga muncul menjadi pemberitaan di berbagai media nasional.

Membincang soal Muktamar, persoalan di Muktamar NU ke-33 adalah hal biasa sebagai bagian dari dinamika organisasi. Justru, Muktamar NU ke-29 yang digelar 1-5 Desember 1994 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat lah sebagai Muktamar yang paling menegangkan dan terpanas dalam sejarah NU. Mengapa? Pasalnya, pada Muktamar ini merupakan puncak terjadinya kedholiman rezim orde baru terhadap NU. Pada saat itu, NU dan sosok Gus Dur dengan segala keberaniannya ‘melawan’ pemerintah, dipandang oleh Soeharto sebagai ancaman yang paling membahayakan.

Tak pelak, hal ini membuat Soeharto dengan kekuasaannya, ingin ‘memutus’ kewenangan Gus Dur di PBNU yang sejak tahun 1984 dipimpinnya. Salah satu cara yang ditempuh Soeharto adalah menumbangkan Gus Dur di Muktamar NU Cipasung. Presiden Soeharto melakukan berbagai intervensi dengan mendukung secara penuh salah satu calon Ketua Umum PBNU untuk melawan KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) sebagai incumbent. Apa skenario yang dijalankan pada saat itu?

Ya, Soeharto memunculkan penantang dari internal NU sendiri yang pastinya anti-Gus Dur yakni Abu Hasan. Bahkan sang paman Gus Dur, KH Yusuf Hasyim, juga ikut terbawa menentang keponakannya itu. Oposisi Gus Dur inilah yang melakukan sejumlah agitasi dengan slogan ABG (Asal Bukan Gus Dur). Mereka mengemukakan kritik ‘pedas’ terhadap Gus Dur, yakni manajemen NU di bawah kepemimpinan Gus Dur dinilai lemah dan otokratik. Bahkan, menurut mereka, langkah Gus Dur yang kerap kali ‘berseberangan’ dengan pemerintah di anggap bukan hanya menyimpang dari khittah NU, tetapi juga bertentangan dengan kepentingan NU sendiri. Itulah berbagai isu yang mereka buat untuk mengambil hati seluruh muktamirin.

Gelaran muktamar itu juga terkungkung penjagaan militer, terlebih Presiden Soeharto sendiri, Panglima TNI Jenderal Faisal Tandjung, serta para menteri rezim orde baru turut hadir di forum tersebut. Tidak hanya personel militer dan sejumlah intel yang menyebar di seantero lokasi muktamar, kendaraan lapis baja juga ikut mengelilingi arena Muktamar Cipasung.

Beberapa dari mereka bahkan diketahui menyamar dengan seragam Banser. Dari berbagai sumber, sedikitnya, diketahui tentara yang berjaga di sekitar Cipasung berjumlah sampai 1500 personil dan 100 intel. Sebagian dari mereka diberi tugas untuk memonitor delegasi-delegasi daerah dan membantu memberikan pertimbangan-pertimbangan.

Pada proses pemilihan, sempat menghadirkan empat calon. Selain Gus Dur dan Abu Hasan, ada juga nama Chalid Mawardi dan Fahmi Saifuddin yang ikut maju mencalonkan diri. Pada tahap awal, Gus Dur memperoleh suara 157 suara, Abu Hasan 136 suara, Fahmi Saifuddin 17 suara, dan Chalid Mawardi 6 suara. Situasi tersebut benar-benar diluar dugaan kubu Gus Dur yang semula diperkirakan akan memperoleh dukungan sekitar 65 persen. Akan tetapi, kenyataannya hanya memperoleh dibawah 50 persen.

Dengan enam suara Chalid Mawardi (juga kubu Soeharto) yang kemungkinan jatuh ke tangan Abu Hasan, maka pemilihan ketua umum ditentukan oleh 17 delegasi yang memberikan suara mereka kepada Fahmi Safudin. Kemungkinan kekalahan di putaran berikutnya dengan segala konsekuensinya jika NU jatuh ke tangan Abu Hasan sudah terbayangkan oleh kebu Gus Dur sehingga membuat mereka panik.

Beberapa kiai yang duduk dekat dengan Gus Dur bahkan banyak yang meneteskan air mata seraya berdoa dengan khusyu. Singkat cerita, berdasarkan perhitungan suara yang dilaksanakan hingga pukul 03.00, Gus Dur ternyata memeperoleh 174 suara, sementara Abu Hasan hanya mendapatkan 142 suara. Kekhawatiran itu ternyata tidak berbuah kenyataan. Pendukung Gus Dur pun merayakan kemenangan dengan penuh sukacita dan rasa syukur.

Tentu kemenangan ini tidak diperoleh dengan cara yang instan, kehebatan, intelektualitas, dan kemampuan berpikir kritis yang berani melawan pemerintahan yang dholim pada saat itu, ditunjang dengan kebijakan-kebijakannya di internal  NU yang dirasa sangat strategis untuk kemaslahatan masyarakat. Social capital inilah yang menjadi modal penting kepercayaan warga NU sekaligus menjadi investasi yang mengantarkannya menjadi ketua PBNU tiga periode berturut-turut.



Sumber : nu online
Gus Dur Bergaul Lepas dari Sekat Sosial

Gus Dur Bergaul Lepas dari Sekat Sosial


Sebagai cucu KH Hasyim Asy’ari dan anak KH Wahid Hasyim, Gus Dur memiliki status sosial yang tinggi di lingkungan NU. Ia sangat dihormati karena keturunan dari guru para ulama NU. Karena itulah ia mendapat sebutan “Gus”.
<>
Bukan hanya di lingkungan NU, kedudukan bapaknya yang merupakan salah seorang menteri dan pejuang kemerdekaan membuatnya memiliki tempat tersendiri. Singkat kata, Gus Dur adalah Anak Menteng, sebutan untuk anak-anak orang kaya dan terhormat yang tinggal di kawasan elit Menteng Jakarta Pusat.

Tetapi, status sosial tersebut tidak membuatnya merasa bagian dari kelompok elit yang membatasi diri dalam bergaul dengan kelompok tertentu yang dianggap satu kelas. Ia bergaul dengan siapa saja. Ia mengunjungi kiai di kampung-kampung, dan menginap di rumahnya jika ada kesempatan. Inilah yang menjadi kenangan tersendiri bagi banyak orang, seorang tokoh yang mau turun menyapa umatnya.

Mantan sekjen PBNU H Arubusman juga memiliki banyak kenangan akan sikap Gus Dur ini. Suatu hari, Gus Dur berniat pergi ke Bandung dan memintanya untuk menemani. Tetapi karena suatu kendala teknis, akhirnya orang lain yang menjemput. Kemudian, Gus Dur meneleponnya langsung, meminta maaf karena tidak jadi mengajaknya ke Bandung. Kalau bukan Gus Dur, mungkin orang lain yang dimintanya menelepon dirinya, yang waktu itu masih yunior.

“Penghargaanya kepada anak buahnya, kepada orang yang lebih muda, membuat saya sangat takdzim kepada Beliau. Ia sangat santun pada semua orang,“ katanya.

Sisi kontraversial

Satu hal yang menarik dari Gus Dur adalah sisi kontraversialnya. Jika banyak orang pergi ke kanan, ia malah ke kiri. Tetapi, selalu ada hal yang mendasar pada setiap pendapat Gus Dur dan ia berani melawan arus, jika memang hal ini dirasa benar.

“Gus Dur tidak bisa dipaksa jika pendapatnya dirasa benar, tetapi ia terbuka terhadap masukan dan dialog dari pihak lain,” paparnya.


Sumber : nu online
Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir

Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir


Tahun 2001 silam, angin kencang berhembus kepada Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sampai-sampai berbagai cara dilakukan oleh lawan politiknya untuk melengserkannya dari jabatan orang nomor satu di Indonesia, termasuk kriminalisasi.

Namun hingga sekarang, hukum tidak pernah bisa membuktikan bahwa Presiden Gus Dur bersalah dalam kasus yang dilemparkan oleh lawan politiknya di Parlemen. Sehingga kasus Gus Dur murni politisasi.

Baik secara hukum pidana maupun tata negara, Gus Dur tidak jatuh pada kasus Bulog dan Brunei seperti yang dituduhkan parlemen. Penjatuhan Gus Dur adalah persoalan pertarungan politik dimana yang satu kalah yang satu menang. Bukan soal hukum yang satu benar, yang satu kalah. Dan Gus Dur kalah dalam pertarungan politik itu, karena dikeroyok ramai-ramai.

Gus Dur saat itu berpikir daripada perang saudara hanya gara-gara mempertahankan jabatan duniawi, lebih baik ia mundur dari jabatan Presiden RI. Mundur bukan karena mengalah, tetapi Gus Dur lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan keutuhan negara. Sebab, jutaan rakyat Indonesia kala itu akan membela mati-matian agar Gus Dur tetap pada tampuk pimpinan tertinggi negara.

Gus Dur sekuat tenaga menahan amarah rakyat yang mendukung penuh dirinya. Namun, Gus Dur masih belum menemukan alasan yang tepat untuk keluar dari Istana Negara kala itu. Karena yang dituduhkan parlemen jelas tidak bisa diterima, sebab inkonstitusional dan tidak rasional (irrasional).

Yang menarik dalam persitiwa itu adalah cara Gus Dur yang menolak untuk menjadikan pelengseran itu sebagai tragedi personal. Ia tak merengek atau curhat di depan publik terkait dengan serangan politik terhadapnya. Sikap Gus Dur masih nampak sama, dengan logika komunikasi publik yang gitu saja kok repot.

Dalam sebuah acara, Gus Dur pernah bercerita tentang perbincangannya dengan Luhut Pandjaitan. Saat itu Gus Dur bercerita pada Luhut tentang hukum Islam yang mengatur bahwa kalau orang diusir dari rumahnya dia harus melawan, kalau perlu dengan menggunakan kekerasan. Namun karena Gus Dur tak ingin mengambil jalan kekerasan, dia lalu meminta bantuan Luhut untuk menguruskan surat perintah pengosongan Istana Negara dari kantor Kelurahan Gambir karena Istana Negara berdomisili di Kelurahan Gambir, Jakarta Pusat.

Karena pengosongan Istana adalah kehendak pemerintah setempat yang sah, maka Gus Dur tak perlu melawan sama sekali. Kewajiban mempertahankan “rumah” pun gugur. Urusan selesai, dan Gus Dur keluar dari Istana tanpa gejolak. Gus Dur tak menjadikan pelengseran dirinya sebagai beban personal.

Dalam perbincangan lain dengan KH Maman Imanulhaq, Gus Dur ditanya kenapa harus membuat surat perintah dari Lurah Gambir? "Supaya nanti ketika di hadapan Allah ditanya, kenapa kamu meninggalkan Istana Negara? Tinggal saya jawab: monggo (silakan) ditanya saja ke Lurah Gambir,” ujar Gus Dur.

Itulah Gus Dur, sang Guru Bangsa. Bukannya susah payah mengumpulkan energi politik untuk melawan kekuatan para pengeroyok, Gus Dur justru menegaskan pada orang di sekitarnya bahwa “tak ada kekuasaan yang begitu berharga hingga harus dipertahankan dengan darah.” Bangsa Indonesia patut mencatat bahwa berbeda dengan kejatuhan Bung Karno dan Pak Harto yang diawali dan/atau disusul dengan konflik sosial yang berdarah-darah, pelengseran Gus Dur di tahun 2001 justru berjalan aman karena langkah brilian kemanusiaan (humanisme) yang ada pada diri Gus Dur.

Inilah refleksi paling konkret dari visi kemanusiaan yang secara ajeg ditunjukkan oleh Gus Dur. Bagi putra sulung KH Abdul Wahid Hasyim da cucu Hadlratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari ini, kemanusiaan bersumber dari pandangan ketauhidan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan paling mulia yang dipercaya untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Kemanusiaan merupakan cerminan sifat-sifat ketuhanan. Dalam hal ini, Gus Dur membela kemanusiaan tanpa syarat dan sama sekali tak berkehendak mengorbankan kemanusiaan itu demi kepentingan kekuasaan.

(Fathoni Ahmad) via nu online
Kisah Gus Dur dan Shinta Nuriyah Tunda Malam Pertama hingga 3 Tahun

Kisah Gus Dur dan Shinta Nuriyah Tunda Malam Pertama hingga 3 Tahun


Bercerita tentang sosok Gus Dur memang tidak ada habisnya. Mulai dari saat masih aktif di Nahdlatul Ulama, tatkala menjadi presiden, memimpin partai politik dengan segala sisi-sisi kontoversialnya, konsistensinya dalam memperjuangkan kemanusiaan, hingga kisah cintanya pun rasanya tidak pernah bosan untuk dinikmati. Mungkin rasa candu itu bisa diibaratkan layaknya segelas kopi hitam yang harus tersedia di pagi hari bagi para penikmatnya.

Membincang kisah romantisme Gus Dur dengan Shinta Nurya Dewi ternyata tidak semudah seperti anak muda di zaman ini yang bisa dibeli hanya dengan sekuntum bunga mawar. Bagaimana tidak sulit? Lah wong Gus Dur sering ditolak kok sama Bu Sinta. Ah, masa seorang cucu pendiri NU, anak dari Mantan Menteri Agama bisa ditolak cewek? Begini ceritanya, romantisme jalinan cinta ini berawal dari sebuah pesantren di Jombang tempat Shinta Nuriya Dewi menuntut ilmu. Gus Dur muda yang saat itu menjadi guru sudah berani melamar Sinta yang masih berumur 13 tahun. Merasa masih sangat belia, kontan rasa cinta Gus Dur  ditolak oleh Shinta.

Gus Dur segera meminang Shinta sebab dia akan pergi lama ke Mesir untuk melanjutkan studinya. Gus Dur melakukan pendekatan intensif, berbagai strategi pun dia coba. Mulai dari main catur dengan ayah Shinta, kemudian berlanjut melakukan ‘PDKT’ ke ibunya, ke nenek, baru setelah itu ke Shinta langsung. Jadi, ibarat bus, kisah cinta Gus Dur ini harus melewati beberapa terminal pemberhentian. Namun berbagai usaha keras ini ternyata tidak juga menaklukan hati Shinta.

Sering mendapat penolakan, tidak juga membuat Gus Dur putus asa. Sebelum berangkat ke Mesir, Gus Dur melakukan strategi selanjutnya, seorang teman ia suruhlah mengantar surat yang isinya kurang lebih apakah Shinta bersedia menjadi istrinya. Si pengantar surat ini menunggu lama untuk mendapatkan jawaban dari Shinta yang kala itu sudah berumur 14 tahun. Shinta muda bimbang, mau menolak secara terang-terangan tapi dia juga sadar bahwa Gus Dur adalah gurunya.

Alasan inilah yang membuat Shinta sedikit sungkan. Namun karena kejeniusannya, Shinta membalas surat tersebut dengan jawaban yang diplomatis. Dia menulis bahwa jodoh, hidup, dan mati seseorang itu ada di tangan Tuhan, kalau kita berjodoh, meski berjauhan pun nanti suatu saat juga akan dipertemukan, namun tatkala tidak berjodoh, meski dekat juga tidak akan bertemu. Dengan jawaban ngambang itulah akhirnya Gus Dur pergi ke Mesir tentu dengan perasaan sedih.

Singkat cerita, di Mesir Gus Dur terlampau sibuk berorganisasi hingga kulianya pun tak semulus yang dikira. Selain itu, mata kuliah di sana kurang begitu greget bagi Gus Dur, pasalnya, materi yang di ajarkan sudah ia pelajari sebelumnya di Indonesia tatkala ia masih menjadi seorang santri. Akhirnya 2 tahun itu Gus Dur tak selesai kuliah, lalu pindah ke Irak. Selama di Mesir itulah Gus Dur dan Sinta saling mengirim surat. Kegiatan ini berlangsung hingga Gus Dur pindah ke Irak.

Lambat laun, surat-surat yang dikirim Gus Dur itu akhirnya mampu mengetuk hati Shinta. Dalam surat balasannya, Shinta menulis Anda sudah berhasil menumbuhkan benih cinta di hati saya. Kontan hal ini membuat Gus Dur kembali sumringah. Begitu dapat surat itu tidak berapa lama keluarganya melamar. Akhirnya, 11 Juli 1968 pernikahan keduanya dilangsungkan. Gus Dur yang saat itu masih di Irak meminta agar diwakilkan  oleh kakeknya Kiai Bisri Syansuri yang berusia 68 tahun. Kontan meskipun sudah resmi menikah Gus Dur dan Shinta harus menunggu 3 tahun untuk melaksanakan bulan madu, ya nunggu Gus Dur pulang baru bisa merasakan indahnya malam pertama.***


Sumber : nu online
Gusdur : Sosok Pemimpin Intelektual, Pemberi Makna

Gusdur : Sosok Pemimpin Intelektual, Pemberi Makna


*Oleh Mh Nurul Huda
Akhir tahun ini Haul Gus Dur diperingati kembali. Pesantren Ciganjur, komunitas Gus Durian tak pernah absen pasti. Tak ketinggalan pula PKB, partai yang didirikan almarhum. Tidak lupa ada jutaan orang yang merindukannya, mungkin hanya dalam kalbu mereka, di pinggir pusaranya tanpa upacara.
<>
Dalam jutaan orang itu, yang berjalan melewati lorong-lorong kehidupan yang ramai, kita menjumpai anak-anak belia mendongakkan kepala kepada ibu-bapaknya. Siapa Gus Dur? Mengapa kita menziarahinya, dan seterusnya? Sedemikian rupa ia sehingga keingintahuan kanak-kanak itu melahirkan sebuah cerita.

Penulis kolom ini sendiri tak mengetahui jelas, bagaimana dampak cerita di riuhnya kehidupan. Hanya dugaan kasar belaka sifatnya bila cerita-cerita macam itu (storytelling) penulis anggap sebagai proses pembelajaran jangka panjang yang berlangsung massal. Sebagian orang tua itu dalam ziarahnya mungkin adalah para penganut tarekat, atau orang-orang biasa yang, kepada putra-putri mereka, mengenalkan keteladanan dan ideal-ideal moral (exemplar). Biar saja bila ada orang menilai dengan ukurannya sendiri seberapa “progresif” mereka ini menularkan pengalaman atau seberapa bermanfaat pembelajaran itu bagi kehidupan nyata.

Ketika akhir bulan lalu Saudara Hamzah Sahal mengajak berkunjung ke Pesantren Edi Mancoro Semarang, Penulis mengiyakan undangan itu. Pertama, karena pengasuh pesantrennya Kiai Mahfudz Ridwan yang sudah sangat sepuh itu adalah teladan bagi para santri dan masyarakat sekitar khususnya bagi penulis sendiri yang sepuluh tahun lalu mengikuti pertemuan dengan sesama kaum muda NU. Kedua, karena para santri ingin berbagi cerita mengenai keteladanan yang mereka saksikan, alami dan rasakan, dalam bahasa tulisan. Terkait yang kedua ini, tampaknya mereka berharap keteladanan sang kiai dapat ditiru para pembaca umum atau generasi berikutnya.

Dari sini, yaitu dari harapan para santri saja, sudah cukup diketahui bahwa cerita (storytelling) rupanya dianggap penting oleh mereka untuk lalu dihidangkan kepada khalayak. Setidaknya memang dianggap penting bagi kehidupan para santri sendiri (mungkin semacam yang berjasa membimbing hidupnya) berdasarkan pengalaman mereka pribadi. Pengalaman itu terang sangat spesifik sifatnya. Efeknya pun sangat eksistensial dan mendalam sehingga belum tentu orang lain dapat merasakan pengalaman yang sama tanpa adanya kesetaraan kualitas interaksi dengan sang ideal moral.

Berdasarkan pengalaman pribadi pula Saudara Hamzah, Saudara Fauzi dan Saudara Hengky (dua nama terakhir berturut-turut adalah putra asli Aceh dan Padang, murid imam besar masjid Istiqlal sekaligus pengasuh pesantren Darus Sunnah Kiai Mustofa Ya’qub) hampir untung bertemu Kiai Mustofa Bisri yang pada hari itu secara kebetulan mengunjungi Kiai Mahfudz Ridwan (meski akhirnya kecele karena ia keburu pulang). Namun masih terpancar kebahagiaan yang tak dapat disembunyikan dari wajah tiga saudara kita ini karena Gus Mus sempat menitipkan doa istiqomah untuk mereka.

Adapun bagi Penulis sendiri khususnya serasa mustahil menulis kolom tentang Gus Dur dalam rangka Haul Ke-6 di situs resmi PBNU yang terbit hari ini tanpa menyinggung Kiai Mahfudz Ridwan dan Kiai Mustofa Bisri. Ketiganya adalah para kiai (dua biasa dipanggil “gus”, dan satu dipanggil kiai) yang sebetulnya saling terkoneksi satu sama lain. Koneksi ketiganya setidaknya berkaitan dengan 3 hal.

Pertama, ketiganya sosok “intellectual leader”. Mereka pemimpin intelektual bagi komunitasnya atau masyarakat secara luas sesuai bidangnya. Mereka mencintai kebenaran yang dengan kebenaran itu mereka bersikap dan bertindak benar serta berupaya mengubah masyarakat menjadi lebih baik.

Kedua, mereka adalah “meaning maker”, yakni memunyai kemampuan memaknai nilai-nilai agama dan tradisinya dalam konteks sosio kultural masyarakatnya. Mereka memunyai “keawasan spiritual” (spiritual literacy) sehingga dapat memberi makna pada eksistensinya baik pada level lokal, global, maupun universal. Mereka mengenali siapa dirinya, dari mana mereka berasal dan ke mana mereka akan pergi. Dengan wawasan yang mendalam dan pengalaman yang luas, ketiganya mampu mendialogkan tradisi dan modernitas, menganalisis ide dan realitas, dan melakukan sintesis-sintesis yang dibutuhkan dalam praktik kehidupan nyata.

Ketiga, kiai kita ini mendidik generasi muda dan khalayak umum. Pikiran mereka dinyatakan dalam bahasa yang sederhana dan menunjuk sesuatu yang nyata sehingga mudah dipahami masyarakat banyak. Bahasa/kata yang telah mengalami “over technologized” yang kaku, asing, dan ekstrem dibumikan lagi dalam kehidupan dan dalam relasi-relasi hidup yang nyata, luwes, tenang, arif, dan manusiawi, seolah tanpa sandraan dogma, fundamentalisme, atau kemarahan bersayap ideologis. Mereka juga memproduksi karya-karya sosial (membangun pesantren, sekolah, aktif dalam kegiatan dialog antarumat beragama atau lain-lain gerakan-gerakan perbaikan, ishlah) atau karya-karya intelektual (dalam bentuk pemikiran yang tertuang dalam artikel, esai, atau buku, dan lain-lain).

Keempat, mereka sosok “sarjana-aktivis”. Gus Mus karib Gus Dur semasa kuliah di Mesir, lalu Gus Dur karib Kiai Mahfudz di Baghdad. Sepulang ke tanah air, ketiganya berusaha melakukan perubahan-perubahan ke arah perbaikan kehidupan masyarakat. Lewat pemikiran, tulisan, sikap, dan tindakannya (Gus Mus belakangan memanfaatkan twiter), mereka memperlihatkan kepada masyarakat, komunitas dan bangsanya tentang bagaimana nilai-nilai Islam dan tradisi masyarakat, khususnya tradisi pesantren dan masyarakat setempat, dapat menjadi kekuatan pengubah lingkungan sosialnya (masyarakat, bangsa, negara, dunia) menjadi lebih baik. Mereka juga berpikiran terbuka, mengembangkan budaya dialog, serta membangun wawasan masa depan yang lebih baik bagi semua orang.

Terakhir, tanpa bermaksud melebih-lebihkan salah satu di atas yang lain, Gus Dur mengajarkan pengalaman untuk dirinya secara “keras” sebagai pembelajaran kepada murid-muridnya. Ketika dijatuhkan secara politik dari kursi presiden, seperti Sokrates yang memegangi kebenaran Gus Dur menerima vonis itu dikelilingi murid-murid dan koleganya. Guru bangsa ini lalu keluar dari istana menemui rakyatnya dan melambaikan tangan seolah berpesan:

“Saksikan, murid-muridku. Aku sendiri pun berpegang erat pada kebenaran meski sepanas bara api di telapak tangan. Berbekal pengetahuan yang benar itu, aku dapat bersikap dan bertindak benar dalam kehidupan tanpa setetes pun darah anak manusia yang pantas dikorbankan”.

Seperti halnya Sokrates, Gus Dur adalah seorang filsuf, par excellent!



Sumber : nu online
Ketika Gus Dur Dikibulin

Ketika Gus Dur Dikibulin


Gus Dur rutin tidur malam pukul 01.00 WIB. Ketika bertanya kepada keluarga atau pengawalnya, “Jam berapa sekarang?” dan jawabannya belum sampai waktu yang ditentukan itu, ia tidak akan tidur.<>

Nah untuk menjaga kesehatan Gus Dur agar tidak tidur terlalu malam, pihak keluarga pun berkomplot. “Kalau Gus Dur tanya jam berapa, bilang sudah jam satu.” Dan Gus Dur pun beranjak tidur.

Hal itu berlangsung beberapa kali. Gus Dur pun akhirnya sadar. “Wah selama ini saya dikibulin.”

Tanpa sepengetahuan keluarga, Gus Dur membeli jam tangan yang ketika dipencet bisa berbunyi.

Suatu malam, pukul 11 malam Gus Dur bertanya, “Sudah jam berapa sekarang?” Kompak semua bilang. “Jam satu Gus!”

Sambil tersenyum, Gus Dur langsung memencet jam tangan dan bisa didengar semua: “Sekarang jam 11 malam,” kata jam tangan itu dalam bahasa Inggris. (Mukafi Niam)  via nu online
close
Banner iklan disini