3 Humor Gus Dur yang jauh lebih lucu dari Mukidi

3 Humor Gus Dur yang jauh lebih lucu dari Mukidi


Gusdurfiles.com ~ Humor Mukidi kini sedang bikin heboh. Ramai-ramai orang membagikan cerita itu lewat whatsApp atau media sosial.

Nah ini ada humor lucu Gus Dur yang tak kalah dari Mukidi. Cocok untuk menemani awal pekan biar tetap semangat.

Ceritanya Gus Dur sedang nonton TV bersama kawannya. Dia melihat hingar bingar kampanye Pemilihan Presiden yang bikin pusing.

Gus Dur pun nyeletuk. "Ngapain repot-repot amat mau jadi presiden. Saya jadi presiden cuma modal dengkul. Itu pun dengkulnya Amien Rais."

Kontan semua di ruangan itu tertawa. Ini humor-humor Gus Dur lain yang bikin ngakak:

1.Dialog Gus Dur dengan Tuhan

Ceritanya para presiden dan pemimpin negara berdialog dengan Tuhan. Presiden AS Ronald Reagen: Tuhan, kapan negara kami makmur?, Tuhan jawab, "20 Tahun lagi". Presiden AS menangis.

Presiden Prancis Sarkozy: Tuhan, kapan negara Prancis makmur? Tuhan menjawab: "25 Tahun lagi." Mendengar jawaban Tuhan, Presiden Prancis menangis.

PM Inggris Tony Blair: "Tuhan, kapan negara Inggris bisa makmur?" Tuhan menjawab: "20 Tahun lagi." PM Tony Blair ikut juga menangis.

Presiden Gus Dur: "Tuhan, kapan negara Indonesia bisa makmur?" Tuhan tidak jawab, gantian Tuhan yang menangis.

2.Sudah di Tanah Abang

Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Presiden AS dan Prancis terbang bersama buat keliling dunia. Seperti biasa, setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya.

Tidak lama terbang, Presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: "Wah kita sedang berada di atas New York!"

Presiden Indonesia (Gus Dur): "Lho kok bisa tau sih?"

"Itu, patung Liberty kepegang!", jawab Clinton dengan bangganya.

Tidak mau kalah, Presiden Prancis Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. "Tahu nggak? Kita sedang berada di atas kota Paris!", katanya dengan sombongnya.

Presiden Indonesia: "Wah, kok bisa tau juga?"

"Itu... menara Eiffel kepegang!", sahut presiden Prancis tersebut.

Giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat. "Wah... kita sedang berada di atas Tanah Abang!" teriak Gus Dur.

"Lho kok bisa tau sih?" tanya Clinton dan Chirac heran.

"Ini, jam tangan saya ilang," jawab Gus Dur kalem.

3.Lebih mulia di mata malaikat

Ceritanya, di pintu akhirat seorang malaikat bertanya kepada seorang sopir Metromini.

"Apa kerjamu selama di dunia?" tanya malaikat itu.

"Saya sopir Metromini, Pak." Lalu malaikat itu memberikan kamar yang mewah untuk sopir Metromini tersebut dan peralatan yang terbuat dari emas.

Lalu datang Gus Dur dengan dituntun ajudannya yang setia. "Apa kerja kamu di dunia?" tanya malaikat kepada Gus Dur.

"Saya mantan presiden dan juga juru dakwah Pak" lalu malaikat itu memberikan kamar yang kecil dan peralatan dari kayu. Melihat itu Gus Dur protes.

"Pak, kenapa kok saya yang mantan presiden sekaligus juru dakwah mendapatkan yang lebih rendah dari seorang sopir Metromini..?" 

Dengan tenang malaikat itu menjawab: "Begini Pak, pada saat bapak ceramah, bapak membuat orang-orang semua ngantuk dan tertidur, sehingga melupakan Tuhan. Sedangkan pada saat sopir Metromini mengemudi dengan ngebut, ia membuat orang-orang berdoa."



Sumber : merdeka.com

Cerita Aktivis Walk Out dari Sidang Jumat karena Cinta Gus Dur

Cerita Aktivis Walk Out dari Sidang Jumat karena Cinta Gus Dur


Gusdurfiles.com ~ Dalam aktivitas berorganisasi, mahasiswa diajarkan manajemen organisasi hingga teknik sidang. Hal ini penting untuk kemajuan organisasi apalagi para aktivis sering melakukan berbagai jenis sidang. Di antaranya diajarkan cara menyampaikan interupsi.

Bahasa dan gestur interupsi seperti mengacungkan tangan dengan menyampaikan ucapan point of  order, point of information, point of clarrification, dan poin of personal privilege, serta walk out menjadi kode wajib dalam persidangan.

Suatu ketika ada seorang aktivis mahasiswa yang sedang mendengarkan khutbah Jumat. Mahsiswa tersebut sangat mencintai dan mengagumi Gus Dur sebagai seorang kiai, ulama, pemimpin, pemikir, penggerak, dan guru bangsa.

Namun, dia sedikit kaget ketika sang khotib shalat jumat menjelek-jelekkan Gus Dur dalam khutbahnya. Bagi dia, khutbah sidang jumat tidak boleh menjelek-jelekkan seseorang atau kelompok orang sehingga ia pun tak segan menyampaikan interupsi kepada khotib.

Aktivis yang memang paham betul tentang syarat khutbah itu tidak terima mendengar ceramah sang khotib yang terus-terusan menjelek-jelekkan nama Gus Dur, sang idola.

Dia pun lalu berdiri dan mengacungkan tangan, "Pak khotib, interupsi, point of order!" Khotib pun lalu tercengang melihat aksi seorang jamaah jumat yang terlihat masih muda itu.

"Pak Khotib, interupsi point of order!" ucapnya mengulangi. "Ada apa?" jawab khotib.

"Khutbah bapak menjelek-jelekan Gus Dur, itu tidak boleh pak, saya Walk Out!" Lalu dia pun pergi dan mencari masjid lain. (Bakti Alkasefi/Fathoni) via nu online
Gus Dur dan Kekuatan Membaca

Gus Dur dan Kekuatan Membaca


Oleh Anggi Afriansyah

Greg Barton penulis Gusdur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid dalam beberapa bagian bukunya menuliskan tentang kegandrungan Gus Dur membaca buku. Melalui catatan Barton kita dapat belajar betapa gemar dan cintanya Gus Dur terhadap buku. Kekuatan membaca Gus Dur seharusnya menginspirasi setiap santri di pesantren, para siswa secara umum yang sedang berjuang menggapai pengetahuan.

Gus Dur membaca buku jauh lebih banyak dibandingkan dengan sebayanya. Rumahnya penuh dengan buku. Apalagi Gus Dur berasal dari keluarga pencinta ilmu dan ahli ilmu. sebagai cucu dari KH Hasyim Asyari dan anak dari Kiai Wahid Hasyim tak mengherankan jika Gus Dur sudah sangat senang membaca di usianya yang sanga belia.

Ketika kuliah di Universitas Al Azhar salah satu tempat kegemarannya adalah perpustakaan. Ia terbiasa membaca di perpustakaan Universitas Amerika, Universitas Kairo, atau di perpustakaan Perancis.

Gus Dur terbiasa membaca di mana saja, apa saja, dan di mana saja, tanpa memilih tempat. Di rumah maupun di tempat menunggu bus ia membaca. Tak ada buku, potongan koranpun ia baca.

Bacaannya luas, tak sekedar kajian keagamaan. Ia membaca semua karya William Faulkner, novel-novel Ernest Hemingway, puisi Edgar Allan Poe dan John Done, Andre Gide, Kafka, Tolstoy, dan Pushkin. Ia juga membaca karya Marx dan Lenin.
Ia senang berdiskusi dengan mahasiswa dan kaum cendikiawan di kedai-kedai kopi Kota Kairo. Kedai-kedai kopi baginya merupakan sekolah untuk menyempurnakan pengetahuan Bahasa Arab juga debat-debat intelektualnya.

Ketika melanjutkan kuliahnya di Baghdad, kecintaannya terhadap buku semakin terakomodir. Apalagi di Universitas Baghdad mahasiswa diharapkan untuk berpikir kritis dan banyak membaca.

Semangat membaca Gus Dur memang luar biasa. Ia membaca bahkan sampai larut malam. Sehingga seringkali ia harus terkantuk-kantuk ketika kuliah. Di tengah padatnya aktivitas ia masih mengatur jadwal membacanya. Setiap sore ia sudah di perpustakaan universitas untuk membaca.

Selain pembaca yang tangguh, Gus Dur juga merupakan penulis yang sangat produktif. Sejak mahasiswa ia menulis esai untuk beragam majalah maupun surat kabar. Karya-karya tersebar luas dan dapat kita nikmati hingga saat ini.

Belajar dari Gus Dur  

Kita tentu saja dapat banyak belajar dari seorang Gus Dur. Keteguhannya mencintai bangsa ini, membela mereka yang terpinggirkan tentu tak usah diragukan lagi. Aspek yang sering dilupakan adalah bagaimana kemampuan Gus Dur dalam membaca dan mengkaji beragam perspektif keilmuan. Membaca sebanyak-banyaknya buku yang tentu saja akan membuka kekayaan perspektif dalam memandang persoalan.

Keluwesan berpikirnya didukung oleh tradisi kuatnya membaca beragam buku. Ketika mahasiswa ia tak pernah memikirkan berapa uang yang yang ia miliki. Ia selalu memiliki uang yang cukup. Apalagi ia sudah menjadi salah satu kolumnis yang karyanya tersebar di berbagi media. Ia juga sudah aktif bekerja untuk kedutaan ataupun lembaga lainnya yang memanfaatkan kemampuan berbahasa arabnya yang sangat bagus.

Seperti yang dikisahkan oleh Barton, yang ada di benak Gus Dur adalah bagaimana ia memiliki uang untuk membeli buku dan menonton film. Lucunya, untuk mengelola keuangan ia serahkan kepada sahabat karibnya, Mahfudz Ridwan, mahasiswa asal Salatiga. Bahkan uang tersebut kadang digunakan Mahfudz untuk membantu mahasiwa lain yang kekurangan dana. Ia tak pernah memperdulikan uang, baginya yang penting ketika hendak membeli buku uang tersebut harus ada.

Gus Dur juga menunjukan kepada kita betapa ia memiliki pikiran terbuka dan ide-ide besar karena gemarnya ia melahap segala jenis bacaan. Seperti tokoh pendiri bangsa, Gus Dur sangat haus terhadap bahan bacaan. Catatan menarik diungkap Najwa Shihab dalam tulisannya di Kompas (18/8), Menikam Kolonialisme dan Merdeka dengan Buku. Pada salah satu bagian ia menulis bahwa para tokoh bangsa merupakan orang-orang dengan pikiran terbuka dengan kepala penuh ide-ide besar yang membaca karya-karya besar dari berbagai belahan dunia.

Catatan ini patut direnungkan bersama. Apalagi saat ini kita cenderung malas untuk membaca. Sehingga mudah untuk menuduh dan menghakimi mereka yang berbeda ideologi, keyakinan keagamaan, madzhab, kelas sosial, bahkan beda jamaah pengajian. Malas membaca akut menjaringi beragam kalangan masyarakat.

Kita lebih gemar membaca status, cuitan, broadcast di media sosial dibanding membaca Al-Quran, kitab-kita karya ulama, maupun buku-buku karya penulis-penulis besar. Kita gemar menulis pesan-pesan penuh kebencian dibanding menuliskan kisah-kisah inspiratif penuh makna. Juga menyebarkan pesan-pesan penuh hasutan tanpa berpikir dan menakar serta mencari tahu kebenaraan akan pesan tersebut. Kita malas mendiskusikan dan mendialogkan buku-buku tebal karena dianggap tak praktis dan membuang waktu saja. Mendiskusikan beragam hal dengan basis keyakinan diri semata bukan pada kematangan berpikir hasil membaca. Padahal ayat Al-Quran pertama yang turun memerintahkan kita untuk iqra, baca!

Tak heran jika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kemudian mendeklarasikan Gerakan Literasi Sekolah untuk membudayakan tradisi membaca dan menulis.  Dari data UNESCO tahun 2012 misalnya menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 yang berarti dari setiap 1.000 penduduk hanya satu orang yang berminat membaca. Data tersebut sungguh memprihatinkan

Melalui Gus Dur kita belajar agar tak selalu puas membaca dan belajar. Gus Dur mengajarkan kepada kita betapa pentingnya seseorang harus aktif membaca. Membaca beragam genre buku, beragam perspektif, dan belajar dari kehidupan. Tidak hanya terpaku pada ruang-ruang kelas yang formil. Gus Dur, seorang otodidak yang memberikan banyak pembelajaran bagi kita agar terus memperbahrui pemahaman atas beragam hal, tanpa pernah berhenti.



Sumber : nu online
Humor lucu Gus Dur ingatkan teman berhenti merokok

Humor lucu Gus Dur ingatkan teman berhenti merokok


Gusdurfiles ~ Soal humor dan canda, Presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur jagonya. Nah ini ada cerita lucu bagaimana Gus Dur mengingatkan temannya yang perokok berat buat berhenti.

Alkisah, semasa belajar di Mesir, Gus Dur punya teman asal Aceh, namanya Yas. Kamar mereka bersebelahan. Yas ini betul-betul perokok berat. Ke mana pun dia pergi, pasti di kantongnya selalu terselip dua bungkus rokok. Satu sudah dibuka, satu lagi buat cadangan.

"Bagi dia merokok itu jangan sampai ketelatan. Makanya si Yas selalu bawa dua bungkus," kata Gus Dur di buku Ger-Geran bersama Gus Dur: Edisi Spesial Mengenang Gus Dur.

Saking sayangnya pada temannya ini, Gus Dur menasihatinya, "Yas, apa kamu enggak pernah baca tulisan di majalah bahwa tiap satu batang rokok itu bisa memendekkan umur 30 detik?"

Enteng saja Yas menggeleng. "Belum tuh..."

"Lho, kamu ini gimana. Sekarang coba kamu itung sudah berapa tahun umurmu diperpendek oleh rokok itu," kata Gus Dur sengit.

Sambil menyulut sebatang lagi, Bung Yas menimpali, "Ya, tapi kalau saya enggak merokok, besok saya bisa mati."

Susah memang menasihati perokok berat...



Sumber :merdeka.com
Sempat Laris pada Era Gus Dur, Kesenian Barongsai Kini Sepi Pesanan

Sempat Laris pada Era Gus Dur, Kesenian Barongsai Kini Sepi Pesanan


Gusdurfiles.com ~ Tarian tradisional China dengan menggunakan sarung menyerupai singa alias barongsai sempat mencapai masa kejayaannya di Indonesia setelah era reformasi. Saat itu, kesenian yang mulai populer pada zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi tersebut kerap terlihat tampil di berbagai acara yang digelar masyarakat.

Namun, saat ini, nasib barongsai berbalik 180 derajat lantaran para senimannya mengaku jarang mendapat undangan untuk tampil dan menghibur masyarakat.

“Kalau saat ini, satu bulan dapat satu kali undangan tampil saja rasanya sudah bersyukur, Mas. Sebab, sekarang enggak seperti pada saat zaman Gus Dur (Abdurrahman Wahid) jadi presiden, yang setiap kali acara keagamaan pasti mengundang barongsai,” tutur manajer barongsai dan liong Budi Luhur, Dwi Budi Santoso, Selasa (16/8/2016).

Barongsai yang sempat dilarang pada era Presiden Soeharto merasakan masa kejayaan pada masa Presiden Gus Dur. Namun, sekarang kondisinya terpuruk.

Kendati demikian, untuk saat ini, perkumpulan yang berdiri pada 1998 tersebut menyatakan tetap eksis dalam mempertahankan kesenian barongsai meski tak lagi mendapat banyak order seperti dulu karena mengaku sudah telanjur cinta.

“Paling-paling saat Imlek saja yang lumayan ramai undangan. Di luar itu ya tadi, sebulan dapat undangan tampil satu kali saja rasanya sudah bersyukur. Meski begitu, saya dan rekan-rekan tetap bertekad eksis, karena kami semua sudah telanjur cinta dan menyayangi kesenian ini,” terangnya.

Saat dikonfirmasi mengenai pandangannya tentang sepinya pihak yang mengundang kesenian barongsai saat ini, Budi memprediksi, hal itu bisa juga karena masyarakat sudah bosan melihat tontonan kesenian itu. Mungkin juga karena faktor biaya untuk mengundang barongsai yang dianggap mahal.

“Untuk sekali tampil, kami biasanya memasang tarif Rp 4 juta. Bagi banyak orang, angka ini mungkin terlihat besar dan mahal. Tetapi, bagi kami, tarif tersebut sudah murah, karena setiap kali selesai tampil kami juga sisihkan sebagian pendapatan untuk perawatan peralatan,” beber pria berusia 33 tahun tersebut.

Selain dibagi bersama 14 rekannya yang lain, anggaran yang didapat tersebut sebagian disisihkan untuk perawatan peralatan yang dikatakan Budi rentan rusak. Seperti baju singa, gong, dan juga alat tetabuhan yang lain.

“Memang tak rusak sekaligus, tapi kalau rusak dan sampai beli baru, biaya yang dibutuhkan juga mahal, sampai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Karena peralatan barongsai juga dijual terbatas, sehingga mahal karena susah carinya,” ucap Budi.

Oleh karena itu, Budi beserta rekan-rekannya di perkumpulan barongsai dan liong Budi Luhur berharap banyaknya tawaran manggung yang pernah mereka rasakan kejayaan sewaktu almarhum Gus Dur masih menjabat sebagai presiden.

“Sekarang ini kan momen Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Semoga saja akan banyak pihak yang kembali antusias dalam mengundang barongsai,” harapnya.

Sementara sambil menunggu order manggung yang didapat guna mencukupi kebutuhan sehari-hari, para seniman barongsai dan liong Budi Luhur juga menekuni pekerjaan lain. Ada yang membuka warung, menjadi sopir rental, ataupun tenaga kerja serabutan.


Sumber : kompas.com
Sultan Hadiwijaya dan Lahirnya LSM Menurut Gus Dur

Sultan Hadiwijaya dan Lahirnya LSM Menurut Gus Dur


Gusdurfiles.com ~ Membaca sejarah masa lalu bagi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tidak sekadar mengetahui dan memahami peristiwa dan kejadian yang telah lewat. Menariknya, di samping dapat memetik pelajaran atau hikmah dari sejarah masa lalu, tidak kalah pentingnya lagi adalah bahwa di tangan Gus Dur sejarah masa lalu juga mampu dihubungkan ke dalam  konteks masalah kehidupan kekinian.

Misalnya dalam tulisan Gus Dur yang termuat dalam bukunya yang berjudul Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur (terbitan LKiS: 2010). Dalam salah satu kolom dalam buku tersebut Gus Dur dengan cerdik mampu menghubungkan atau mengaitkan sejarah Sultan Hadiwijaya atau yang terkenal dengan nama Jaka Tingkir dengan fenomena munculnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Perkembangan LSM di Indonesia yang jumlahnya bahkan sudah meruyak sejak era Orde Baru tersebut menurut KH. Abdurrahman Wahid, bukanlah sebagai fenomena baru. Karena sejarah masa lampau bangsa ini kalau disimak dengan teliti sebenarnya telah memperlihatkan adanya asal-usul LSM itu.      

Dalam masyarakat Jawa, tradisi LSM tercermin dalam episode kelanjutan pertentangan antara Sultan Hadiwijaya melawan menantunya, Sutawijaya. Sutawijaya yang memenangkan pertarungan fisik akhirnya menggunakan gelar Panembahan Senopati ing Alogo Sayyidin Ponotogomo Khalifatullah ing Tanah Jawi, dan menjadikan dirinya sebagai pembangun dinasti Mataram awal.

Sebaliknya Sultan Hadiwijaya yang dikalahkan sang menantu itu lari ke ibunya yang berada di pulau Madura. Sultan yang bergelar Pangeran Karebet dan juga Jaka Tingkir ini memperoleh empat puluh buah kesaktian atau kanuragan dari ibunya yang kini dimakamkan di Astana Tinggi, di sebuah pulau yang kini masuk dalam daerah Kabupaten Sumenep.

Dalam perjalanan kembali dari pulau Madura ke Pajang, Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir singgah di Pulau Pringgoboyo (sekarang masuk Kabupaten Lamongan) dan malam harinya mendapat impian/vision dari gurunya yang melarang dirinya kembali ke Pajang untuk memperebutkan takhta kerajaan. Mimpi tersebut juga mengirim pesan kalau hal itu dilakukan Ia hanya akan menjadi korban nafsu kekuasaan belaka.

Setelah mempercayai pesan dalam mimpinya itu, dengan sendirinya Hadiwijaya kemudian menahan diri dan mengembangkan sesuatu yang baru, yang harus dilakukannya tidak dari pusat kekuasaan di Pajang, melainkan dari tempat ia berada, yaitu di Pringgobayan.

Dengan demikian lahirlah sebuah tradisi baru yaitu adanya LSM di luar pusat kekuasaan pajang. Posisi seperti itu meminjam istilahnya Taufik Abdullah disbut sebagai hubungan multi-kratonik. Dalam hubungan sperti ini, selama kraton kecil menyatakan kedudukan nominal kpada kraton besar sudah dianggap cukup. Bahwa pihak periperal mengembangkan diri dalam pola yang tidak dikehendaki oleh pusat kekuasaan adalah ssuatu yang baru dalam sejarah bangsa indonesia.  

Hubungan periperial-pusat yang tidak simetris ini justru dipergunakan untuk pengembangan Islam tanpa merugikan agama hindu dan budha yang sedang berkuasa saat itu. Sedikit demi sedikit agama baru yang datang kemudian mengambil alih kehidupan agama-agama terdahulu, tanpa menimbulkan perbenturan yang berarti. Dengan cara ini, sesuatu yang baru telah menggantikan hal lama tanpa ada perbenturan politik yang dahsyat.

Dengan menelusuri sejarah dan latar belakang munculnya LSM seperti di atas, Gus Dur akhirnya mengimbau terhadap keberadaan berbagai LSM saat ini yang pada umumnya bergerak di akar rumput supaya lebih mengembangkan jati dirinya sendiri, yaitu dengan langkah tidak harus selalu mengikuti pola LSM-LSM internasional. Dengan kata lain Gus Dur menekankan agar mereka menggunakan cara dan gaya hidup masing-masing yang benar-benar berasal dari rakyat. (M. Haromain) via nu online
Kejenakaan Gus Dur yang bikin ketawa 'hi hi hi' ini pasti dirindukan

Kejenakaan Gus Dur yang bikin ketawa 'hi hi hi' ini pasti dirindukan

Presiden yang menjalani masa jabatan 20 bulan ini juga dikenal pula sebagai orang yang punya humor-humor segar.

Gusdurfiles.com ~ Sosok Abdurrahman Wahid atau Gusdur bisa dikatakan salah satu presiden Indonesia yang nyeleneh karena keputusan-keputusannya, semisal menghapuskan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial.

Namun kejeniusannya pun diakui. Pria dengan nama lahir Abdurrahman Addakhil ini merupakan salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa. Kontribusinya pada Nahdlatul Ulama (NU) yaitu mendekatkan organisasi Islam terbesar itu dengan dasar negara Pancasila.

Presiden yang menjalani masa jabatan 20 bulan ini juga dikenal pula sebagai orang yang punya humor-humor segar. Omongannya seringkali 'nendang', dan membuat siapapun yang mendengar terpingkal dibuatnya.

Berikut ini beberapa cuplikan humor ala Gus Dur yang dirangkum dari merdeka.com pada Minggu (27/12). Humor-humor ini sekadar untuk mengenang kembali salah satu sosok anak bangsa terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, sekaligus bertepatan dengan haul keenam Gusdur yang jatuh pada Sabtu (26/12).


1. Ho oh
Suatu kali seorang ajudan Presiden Amerika Bill Clinton ketika sedang berada di Jakarta bertanya memastikan apakah dia tengah berada di Jalan Sudirman. Dari seorang penjual rokok dia mendapat jawaban 'ho oh'.

Merasa bingung dengan jawaban itu, dia bertanya lagi kepada seorang polisi lalu lintas dan dijawab 'betul'. Tambah bingung, dia bertanya langsung pada Gus Dur yang kebetulan ditemuinya. Jawaban 'benar' dari Gus Dur membuatnya bertambah bingung karena dari tiga orang yang ditanyainya semua jawaban berbeda.

Gus Dur menjelaskan, "Kalau Anda bertanya kepada tamatan SD maka jawabannya adalah 'ho oh'. Kalau bertanya kepada tamatan SMA maka jawabannya adalah 'betul'. Sedangkan kalau bertanya kepada tamatan universitas maka jawabannya 'benar'.

"Jadi Anda ini seorang sarjana?" tanya sang ajudan. Spontan Gus Dur menjawab, "Ho oh."

2. Tiang listriknya bengkok
Suatu kali Gus Dur satu bus dengan para kyai Nahdlatul Ulama (NU). Salah satunya suka menyandarkan tangan di dekat jendela. Khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan, semisal tangannya terserempet tiang listrik, Gus Dur mengingatkan sang kyai agar menjauhkan tangannya. Sang kyai tak menghiraukan.

Gus Dur lantas berujar, "Tolong Pak Kyai, tangannya jangan dikeluarkan, kalau kesenggol tiang listrik, tiangnya bisa bengkok,". Merasa kesaktiannya diakui, Pak Kyai langsung mendengarkan nasihat Gus Dur.

3. Tentara paling berani
Suatu hari di atas kapal perang US Army berkumpul tiga pemimpin negara yaitu Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Indonesia. Pembicaraan mereka mencari tentara paling berani dari tiga negara tersebut.

Mula-mula unjuk gigi adalah tentara AS. Salah seorang Mayor diminta berenang mengelilingi kapal yang di sekitarnya banyak hiu. Sang Mayor berhasil menjalankan perintah untuk mengitari kapal 10 kali. Berikutnya Jepang unjuk kekuatan. Sersan yang diperintah berenang keliling kapal 50 kali melaksanakannya dan berhasil kembali dengan selamat. Tiba giliran Indonesia, Gus Dur memanggil Kopral berenang keliling kapal 100 kali.

Yang diperintah lantas berseru, "Hah, Anda gila Pak! Presiden nggak punya otak, nyuruh berenang bersama hiu," sang kopral meninggalkan sang presiden begitu saja.

Gus Dur lantas berucap, "Anda lihat Pak Clinton dan Pak Koizumi. Kira-kira siapa yang punya prajurit yang paling berani?".

4. Tak bisa berenang
Suatu kali Gus Dur dilapori bahwa salah satu ajudannya yang berlatar belakang Angkatan Laut namun tidak bisa berenang. Hal ini membuat yang bersangkutan panas dingin ketika tahu hal sesensitif itu dikabarkan pada presiden. Namun gus Dur menjawab dengan seloroh.

"Lha itu, ada dari Angkatan Udara juga nggak bisa terbang kok!"

5. Tidak berpengalaman
Mahfud MD yang ditunjuk menggantikan Juwono Sudarsono menempati posisi Menteri Pertahanan menghadap Gus Dur menyampaikan pertimbangannya, mengingat dia merasa tak pernah punya latar belakang pertahanan atau militer. Mahfud menyatakan, "Saya kan tidak berpengalaman di bidang militer dan pertahanan, Gus," kata Mahfud.

Gus Dur memberi jawaban enteng namun logis, "Saya juga tidak punya pengalaman jadi presiden, bisa kok!"



Sumber : brilio.net
15 Foto lawas Gus Dur dalam berbagai momen, bikin kangen

15 Foto lawas Gus Dur dalam berbagai momen, bikin kangen


Gusdurfiles.com ~ Meski memimpin tak genap 5 tahun, banyak sekali peninggalan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur saat menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Sejak pemerintahan Gus Dur, Konghucu resmi diakui pemerintah sebagai agama ke-6 di Indonesia.

Gus Dur memberikan para penganut Kongucu untuk menjalankan keyakinannya setelah lama dilarang berbagai aktivitas keagamaannya di zaman Orde Baru. Maka tak heran jika para keturunan Tionghoa di Indonesia sangat menghormati Gus Dur.

Memimpin Indonesia sejaak 20 Oktober 1999, Gus Dur akhirnya harus menyerahkan tampuk kepemimpinannya kepada Wakil Presidennya, Megawati Soekarnoputri, pada 23 Juli 2001. Gus Dur meninggal dunia pada 30 Desember 2009 dalam usia 69 tahun dan dimakamkan di kompleks makam Tebuireng.

Berikut foto-foto lawas Gus Dur yang dikumpulkan brilio.net dari berbagai sumber, Kamis (11/8).

1. Foto Gus Dur saat menikah dengan Ibu Sinta Nuriyah.


2. Serasi ya?


3. Ibu Sinta saat mendampingi Gus Dur.


4. Tertawa karena apa ya?


5. Foto serius.


6. Dus Dur saat Open House Idul Fitri 1421 H.


7. Lawatan Presiden Gus Dur ke Jepang, bertemu Perdana Menteri Keizo Obuchi, Menlu Yohei Kono, Menteri Keuangan Kiichi Miyazawa serta berbagai pengusaha Jepang, pada 16 November 1999.


8. Gus Dur saat di KTT ASEAN, Philiphina 27-29 November 1999.


9. Saat melakukan kunjungan kenegaraan di Korea Selatan, 10 Februari 2000.


10. Peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 di Istana negara pada Era Pemerintahan KH Abdurrahman Wahid tahun 2000.


11. Gus Dur saat pelaksanaan aqiqah putrinya, Inayah Wulandari.


12. Jambore Nasional Pramuka di Batu Raden, Jawa Tengah, 4 Juli 2001.


13. Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand, pada tahun 2000.


14. Saat pelantikan menjadi presiden.


15. Momen saat Gus Dur lengser dari tampuk kepemimpinan.



Sumber :brilio.net
Gus Dur dan Peneguhan Islam Nusantara

Gus Dur dan Peneguhan Islam Nusantara


Rahmat El-Basqy
66 Tahun yang lalu, 4 Agustus adalah hari lahir KH Abdurrahman Wahid. Bagi kalangan anggota Nahdlatul Ulama khususnya dan aktifis kemanusiaan dunia, tanggal tersebut selalu diperingati sebagai hari besar bagi perjuangan nilai-nilai kemanusiaan dan pluralisme. Meski ada 2 tanggal lahirnya hari lahir, sebagian besar memilih tanggal 4 Agustus sebagai hari lahir. Menurut Greg Barton (2003), Sebenarnya tanggal 4 Sya’ban 1940 adalah tanggal 4 September. Meski demikian, sebagain besar orang tidak ingin berpolemik soal kapan Gus Dur dilahirkan. Mereka lebih senang mendapatkan cerita-cerita tentang Gus Dur dan cara mengisi kehidupannya.

Sebagai anak pesantren, lahir dan besar di pesantren sekaligus cucu pendiri NU, Gus Dur memiliki kelebihan yang berbeda dengan yang lain. Meski demikian, sebagaimana tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama, setiap ulama yang telah wafat, orang-orang biasa biasa merayakan hari wafatnya dengan haul dibandingkan merayakan hari lahirnya.

Greg Barton (2003: 25) dalam buku Biografi Abdurrahman Wahid menggambarkan, “Namun dia tidak selalu membaca hal-hal yang bersifat agama atau melakukan kegiatan budayayang berkaitan dengan agama. Ketika berdiam di Yogyakarta lah ia mulai menyukai film secara serius. Hampir sebagian besar dari satu tahun dihabiskan dengan menonton film”.

Gambaran tersebut membuat kita yang paham menjadi sangat lumrah kala Gus Dur memiliki referensi-referensi yang kaya tentang semua jenis keilmuan. Pengetahuannya yang luas karena buku dan pengalamannya yang banyak tergambar dari wacana-wacana pemikirannya yang dinamis dan kontemporer. Dia mampu mengekspor banyak pemikiran tentang Islam dan kenegaraan pada kancah dunia tanpa sedikitpun meninggalkan akar budaya lokal; Hidup di Pesantren dan aktif di Nahdlatul Ulama yang disebut kaum tradisional, mencintai negaranya melebihi apapun yang dimilikinya.

Pada prinsipnya, Gus Dur pada masa hidupnya telah selesai semua urusan lahir maupun bathin. Meski lahir dari keluarga besar dan tokoh nasional, Gus Dur memilih berjuang demi nilai-nilai kemanusiaan dan pluralitas yang diyakininya. Nilai-nilai keagamaan, kenegaraaan, Humanisme dan lain sebagainya. Beberapa orang memprotes pemikirannya tapi sebagian besar mengiyakan semua yang dilakukan Gus Dur, bahkan tak sedikit yang merapat dan berbaris dibelakang Gus Dur tanpa memandang latar belakang agama, profesi atau kebudayaannya.

Gus Dur dengan segala dialektikanya telah masuk ke dalam semua lini kehidupan masyarakat Indonesia. Apapun wacana pemikiran orang-orang baik dalam negeri bahkan luar negeri sudah menjadi pemikiran Gus Dur. Kumpulan tulisan beliau misal Tuhan Tidak Perlu di Bela, Islam Kosmopolitan,Pribumisasi Islam, Mengurai Hubungan Agama dan Negara (1999), Pergulatan Agama, Negara dan Kebudayaan (2001) dan lain-lainnya adalah gambaran bagaiman beliau memiliki wacana yang sangat dinamis dan luar biasa. Dari sekian banyak tulisan beliau, tak pernah lepas dari tentang nilai-nilai kemanusiaan, nasionalisme, kebudayaan, HAM dan isu-isu humanisme.

Hingga sekarang, Islam Nusantara menjadi gagasan menarik bahkan kontoversial bagi kritikus pemikiran keagamaan maupun pemerhati keagamaan di Indonesia. Istilah yang mulai ramai saat digelarnya Muktamar ke-33 NU di Jombang tahun 2015 lalu ini sesungguhnya tak bisa dipisahkan dari pemikiran-pemikiran Gus Dur. Jika kemudian beberapa orang mengganggap Islam Nusantara sebagai paham keagamaan baru sesungguhnya tidak benar dan justru menodai semangat lahirnya Islam Nusantara. Islam Nusantaralahir untuk melestarikan kebudayaan lokal yang dalam koridor nilai-nilai Islam.

Menteri Lukman Hakim Syaifudin dalam sambutan buku Zainul Milal (2016: 3) menjelaskan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, sub-kultur, dan agama yang beragam. Islam bukan hanya cocok diterima orang nusantara, tetapi juga pantas mewarnai budaya Nusantara untuk mewujudkan sifat akomodatifnya yakni rahmatan lil ‘alamin.

Pendapat tersebut tak bisa dilepaskan dari nilai-nilai kebudayaan yang perjuangkan Gus Dur. Gus Dur sesungguhnya spirit Islam Nusantara karena beliau mampu menjelaskan secara detail dan logis mengapa Islam di Indonesia memiliki karakter yang berbeda-berbeda tapi bisa terjalin harmonisasi. Dari sekian banyak budaya yang terpengaruh ajaran-ajaran Islam, tak satupun yang bertentangan dengan Islam.

Syaiful Arif (2013: 96) menjelaskan pendapat Gus Dur terkait persebaran Islam di Nusantara. “Pertama Pola Aceh yang menghadirkan Islam secara kultural da dengan kultural Islam yang kuat, didirikanlah kerajaan berbasis syariat. Kedua pola Minangkabau, yang mana sebelum datangnya Islam sudah ada hukum adat, hingga akhirnya terjadi perang Padri. Ketika pola Goa (Baca Sulawesi Selatan), yang mana meskipun sebelum Islam telah ada hukum adat, Islam bisa seiring sejalan dengan adat. Dan pola keempat, pola jawa. Di masyarakat Jawa telah ada aliran Kejawen sebelum kehadiran Islam. Maka kerajaan Mataram Islam mengakomodasi Kejawen dengan memberikan ruan bebas secara kultural.”

Pendapat tersebut sebagai contoh dari sekian banyak pemikiran-pemikiran Gus Dur yang menjadi referensi utama Islam Nusantara dalam isu-isu lokalitas dan kemanusiaan. Pemikiran-pemikiran Gus Dur tersebut akan selalu dilestarikan penggerak Islam Nusantara tanpa melepaskan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan atau memisahkan keduanya. Artinya, Islam Nusantara adalah cara berpikir tanpa harus membedakan antara Islam dan kebangsaan Indonesia apalagi mempertentangkan keduanya.*** via nu online
Santri Gus Dur Menjawab Tantangan Global

Santri Gus Dur Menjawab Tantangan Global


Oleh Moh. Abdul Aziz Nawawi
Pengembangan sumber daya manusia dalam Kajian Bulanan Gusdurian Jogjakarta (KBGJ) merupakan bagian dari salah satu kegiatan Jaringan Gusdurian Jogjakarta. KBGJ memiliki harapan terhadap peran lembaga pendidikan tinggi di Indonesia belakangan ini makin membesar ketika masyarakat makin tidak memiliki harapan terhadap berbagai lembaga pemerintah yang mampu menjadi lokomatif perubahan.

Alih-alih mampu menjadi lokomatif kemajuan, berbagai lembaga pemerintah yang memiliki mandat menjalankan agenda reformasi justru sibuk membersihkan dirinya dari hiruk-pikuk praktik korupsi, kolusi dan Nepotisme (KKN). Peran yang harus dimaninkan oleh Kajian Bulanan Gusdurian Jogjakarta (KBGJ) tentu sangat terkait dengan tantangan besar yang dihadapi bangsa Indonesia ke depan.

Eksistensi Indonesia dipertaruhkan ditengah-tengah sengitnya kompetisi merebut supremasi global. Urgensi untuk menjadi bangsa yang unggul tersebut makin terasa dengan diberlakukannya pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sejak tanggal 1 Januari 2016.

Tantangan Indonesia

Bagaimana tantangan besar bangsa Indonesia saat ini? Merefleksikan perkembangan kompleksitas persoalan Indonesia, beberapa masalah yang perlu diselesaikan, yakni membangun kembali kepercayaan (trust), menjaga pluralitas, dan membumikan berbagai teori global yang lebih relevan dengan tradisi lokal Nusantara. Indonesia mestinya dapat membanggakan diri. Sejak Indonesia mengadopsi sistem demokrasi, Indonesia telah dinobatkan sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia.

Sayangnya, realitas menunjukkan bahwa kualitas kita berdemokrasi masih pada tataran demokrasi prosedural. Sudah beberapa kali bangsa kita menyelenggarakan pemilihan umum. Namun, kualitas Pemilu masih terlihat belum membaik. Pemilu gagal menghasilkan wakil rakyat yang aspiratif. Pemilihan presiden dan kepala daerah secara langsung juga gagal melahirkan pemimpin yang mumpuni. Data kementerian dalam negeri menyebut, sampai hari ini, ada sekitar 311 kepala daerah terlibat korupsi.

Akar persoalannya adalah karena buruknya kinerja partai politik. Partai politik yang mestinya menjadi simbol demokrasi saat ini malah identik dengan korupsi. Suramnya praktik demokratisasi di Indonesia itu terkulminasi pada tumbuhnya rasa ketidakpercayaan (distrust) masyarakat terhadap semua lembaga publik. Tantangan lain, menjaga pluralisme dan melindungi kelompok minoritas.

Demokrasi yang cenderung liberal telah menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, demokrasi memberi ruang kebebasan kepada seluruh masyarakat. Namun, di sisi lain kebebasan tersebut sering disalahgunakan. Berbagai kasus penyerangan terhadap kelompok minoritas, menunjukkan bahwa demokrasi yang berbasis konstitusi sebagaimana dikatakan oleh Thomas Jefferson bahwa minoritas harus tetap dilindungi.

Persoalan lainnya, merespon kebijakan liberalisasi. Adopsi prinsip-prinsip liberal tersebut telah membuat berbagai ukuran keberhasilan kehidupan masyarakat saat ini lebih banyak di dasarkan pada pencapaian hal-hal yang bersifat material/kebendaan sehingga mendorong banyak orang menggunakan jalan pintas: korupsi. Kecenderungan liberalisme yang berlebihan telah membuat banyak anak muda Indonesia mudah terpengaruh produk teknologi dan budaya luar.

Peran KBGJ

Kajian Bulanan Gusdurian Jogjakarta (KBGJ), termasuk aktivis santri Gus Dur, memiliki tanggung jawab besar dalam menjawab tantangan tersebut. Oleh karena itu, kurikulum  dalam KBGJ  dirancang agar tidak hanya menghasilkan manusia cerdas, tetapi juag berbudaya dan memiliki wawasan global.

Para aktivis KBGJ di berbagai titik di Indonesia diharapkan menjadi pribadi yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, dan memiliki kepercayaan diri untuk bersaing di level global terutama Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Dan untuk mencapai tujuan tersebut, KBGJ harus  dilakukan dengan cara: pertama, mengintegrasi dan menginterkoneksikan kurikulum yang bersifat intra dan ekstra kurikuler. Dengan cara ini mahasiswa diberi kesempatan menyeimbangkan waktu nya untuk belajar di tempat dimana KBGJ berada dan mengembangkan diri untuk mengikuti kegiatan yang bersipat soft-skill.

Kedua, membekali mahasiswa baru dengan nilai-nilai kebangsaan dan ke-pluralisme-an agar para aktivis baru memiliki pemahaman terhadap jati diri bangsanya dan karakter plural bangsa Indonesia. Ketiga, mendorong mahasiswa untuk memiliki wawasan luas dengan melihat dunia luar (outward looking). Dengan cara ini mahasiswa akan memiliki rasa percaya diri sebagai bangsa besar dan mampu memposisikan dirinya sama tinggi ditengah-tengah  negara lain.*** via nu online
Sekali Lagi Tentang Gus Dur

Sekali Lagi Tentang Gus Dur


OLEH NADIRSYAH HOSEN

Gusdurfiles.com ~ Masih adakah yang tersisa yang belum ditulis tentang Gus Dur? Rasanya sudah dibahas semuanya baik yang fanatik mendukungnya maupun yang fanatik membencinya. Tapi tidak mengapalah saya tuliskan juga catatan ini –ini bukan bid’ah kan 🙂

Saya orang yang rasional, bukan gemar dunia mistik. Jadi, saya memahami Gus Dur juga lewat pendekatan yang rasional. Kalau memahami beliau lewat ‘dunia lain’ tentu bukan maqam saya bicara hal seperti itu.

Gus Dur itu sangat rasional. Banyak yang menganggap beliau memiliki ilmu laduni; entah benar atau tidak, ya saya tidak tahu. Tapi yang jelas semua orang tahu betapa Gus Dur sangat rajin membaca buku. Beliau sangat haus dengan info. Sewaktu pindah ke pesantren konon para santri terkaget-kaget karena Gus Dur membawa sekarung koleksi bukunya. Jadi terlepas laduni atau bukan, Gus Dur itu kutu buku. Bahkan saat mata beliau tidak bisa melihatpun beliau tetap ‘membaca’ lewat audio books.

Bacaan beliau juga sangat luas, tidak melulu soal fiqh. Dari mulai novel ringan sampai literatur kelas berat. Mungkin sama luasnya dengan pergaulan beliau ke semua pihak. Tidak ada kegamangan buat beliau untuk bertemu dan ngobrol dengan siapa saja –apapun profesi, status sosial maupun maqamnya.

Untuk Indonesia saat ini orang seperti Gus Dur ini langka. Beliau orang yang sangat menguasai ilmu keislaman bahkan sekolah di negeri Arab tapi tidak menjadi ke-arab-arab-an. Beliau menggagas ide pribumisasi Islam dengan mengakomodir budaya Indonesia dalam menjalankan dan mengekspresikan Syariat Islam. Itu artinya, orang Islam di Indonesia tidak kalah islaminya dengan orang Arab.

Gus Dur asli orang Jawa tapi beliau tidak memaksakan ke-jawaannya. Kita tahu di masa Soeharto budaya Jawa menjadi sangat dominan sehingga para pejabat non-Jawa harus bersikap njawani untuk bisa diterima di pusat kekuasaan. Gus Dur berbeda. Saat jadi Presiden, dari Aceh sampai Papua dirangkul. Begitu juga keturunan Cina, semuanya dianggap bagian dari bangsa Indonesia.

Anda tidak perlu bergaya arab hanya untuk menjadi muslim yang baik. Toh kitab suci sendiri mengatakan ketakwaanlah yang jadi ukuran, dan kanjeng Nabi sendiri mengingatkan bahwa orang yang terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Sholat pakai sorban dan jubah sama sahnya dengan sholat pakai peci dan sarung.

Begitu juga anda tidak perlu jadi orang Jawa hanya untuk diakui sebagai bagian dari Indonesia. Silahkan tetap menjadi orang Betawi, Sunda, Bugis, atau Minang. Anda tidak perlu mengikuti budaya mayoritas. Jadilah meng-Indonesia dengan keragaman etnik kita masing-masing. Keragaman tidak perlu diseragamkan. Keragaman mesti dirayakan.

Di tengah-tengah situasi saat ini dimana sejumlah pihak getol sekali meneriakkan ‘minoritas harus ikut mayoritas’, kita merindukan sosok Gus Dur yang dengan keilmuan, kebijaksanaan, keyakinan dan keberaniannya justru hendak menghapus kategori mayoritas-minoritas itu. Cukuplah kita ber-bhineka tunggal ika saja. Sesederhana itu.

#harlahgusdur #alfatihah


Sumber : islami.co
Kisah Nyai Wahid Hasyim Mendidik Gus Dur dan Kelima Adiknya

Kisah Nyai Wahid Hasyim Mendidik Gus Dur dan Kelima Adiknya


Gusdurfiles.com ~ Tidak ada yang berat di pundak Nyai Hj Sholehah, ibu Abdurrahman Addakhil yang saat ini dikenal sebagai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan kelima adik Gus Dur saat ditinggal untuk selama-lamanya oleh suami tercinta KH Abdul Wahid Hasyim. Wahid Hasyim wafat pada 19 April 1953 dengan meninggalkan 6 orang anak yang masih duduk di sekolah dasar.

Keenam anak tersebut yaitu Abdurrahaman Addakhil berusia 14 tahun dan baru lulus sekolah dasar saat itu. Konon nama ini berasal dari nama tokoh Bani Umayyah yang mendirikan Daulah Umayyah di Andalusia. Kedua, Aisyah berusia 12 tahun dan baru kelas 5 sekolah dasar, ketiga Salahuddin Al-Ayyubi yang kini dikenal Salahuddin Wahid berusia 10 tahun dan baru kelas 3 sekolah dasar.

Keempat, Umar Al-Faruq berusia 9 tahun dan baru duduk di kelas 2 sekolah dasar, kelima Lilik Khadijah yang baru berusia 5 tahun dan masih belajar di taman kanak-kanak, terakhir Muhammad Hasyim yang saat itu masih di dalam kandungan Nyai Sholehah yang baru berusia 3 bulan.

Ketika itu mereka menempati rumah di Jalan Matraman Barat atau di Taman Amir Hamzah. Perasaan sedih kala itu memang menggelayut dalam diri Nyai Sholehah ketika 6 orang putra-putrinya ditinggal KH Wahid Hasyim padahal mereka masih memerlukan kasih sayang seorang ayah. Wahid Hasyim meninggal dunia akibat kecelakaan mobil yang menimpanya saat perjalanan antara Jakarta dan Bandung.

Beban untuk mendidik hingga menyekolahkan keenam anaknya itu betul-betul sangat dirasakan oleh Nyai Sholehah karena tidak banyak peninggalan suaminya selain ilmu dan perjuangan yang tiada tara. Nyai Sholehah menuturkan, suaminya adalah seorang pejuang yang tentunya tidak banyak perhatiannya pada harta benda selain keikhlasan. Pada saat itu, kisahnya, kondisi dan keadaan negara tidak semaju sekarang ini.

“Jadi, walaupun jadi Menteri juga tidak banyak uang. Wal hasil tidak ada persiapan ekonomi apa-apa dan tidak meninggalkan warisan harta yang cukup untuk keperluan hidup dan pendidikan anak-anak,” tutur Nyai Sholehah (Risalah Islamyah, 1977: 28).

Namun demikian, bagi Nyai Sholehah yang terpenting suaminya telah meninggalkan ilmu pengetahuan dan pelajaran hidup yang sangat berharga untuk bekal anak-anaknya di masa yang akan datang. Hal ini menjadi keyakinan dirinya dalam setiap usaha yang dilakukannya agar keenam anaknya dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, termasuk ketika Nyai Sholehah membuka usaha jualan beras.

“Dalam usaha dagang beras itu, seingat saya bisa mendapat keuntungan Rp2,50 alias seringgit tiap kuintalnya,” ujar Nyai Sholehah (1977: 29).

Uang satu ringgit kala itu memang bukan uang yang sedikit sehingga usaha dagangnya itu mampu mencukupi bagi kehidupan dan pendidikan anak-anaknya. Usaha dagang beras terbilang sukses, Nyai Sholehah juga berusaha membuka usaha-usaha lainnya, seperti usaha leveransir (semacam jasa penyedia barang, red) bagi pembangunan Tanjung Priok kala itu.

Bagi Nyai Sholehah, meskipun suaminya seorang menteri, pejuang bangsa dan salah satu perumus dasar negara Indonesia, tidak lantas membuatnya bergantung pada sederet kiprah dan prestasi tersebut. Biarlah bangsa Indonesia yang menilai, mengingat, atau bahkan memberikan penghargaan setinggi-tingginya bagi KH Wahid Hasyim. Dalam hal inilah Nyai Sholehah berprinsip bahwa tidak ada usaha yang tidak pantas dalam mencari rezeki halal, tentu asal usahanya halal pula.

Atas kerja kerasnya tersebut, Nyai Sholehah berhasil mencukupi kebutuhan bagi pendidikan keenam anaknya. Apalagi 6 anaknya tersebut terbilang anak-anak yang cerdas dan sholeh. Semua anaknya itu dididik dan disekolahkan di Jakarta untuk pertama kali, kemudian ada yang melanjutkan ke Jawa Tengah (Pesantren Tegal Rejo), ITB, dan Mesir.

Dalam hal pendidikan agama, ketika suaminya masih hidup, anak-anak Nyai Sholehah sering mengaji kepada ayahnya  sendiri di tengah kesibukannya menjabat sebagai Menteri Agama. Tradisi shalat jamaah pun diterapkan betul oleh Nyai Sholehah untuk mewujudkan kedisiplinan anak-anaknya. Setiap maghrib harus berjamaah, lalu dilanjut dengan mengaji Al-Qur’an bersama-sama. Khusus malam Jumat, mereka juga diharuskan membaca tahlil secara berjamaah.

Dalam pandangan Nyai Sholehah, pendidikan agama sangat penting dalam membina moral anak-anak sehingga peran apapun yang dijalani anak-anaknya kelak, mereka tetap terjaga untuk taat kepada Tuhannya. Selain itu, pendidikan rohani juga mampu menjadikan anak tidak mudah minder (kecil hati) karena Islam mendidik manusia berhati besar tetapi tidak sombong.

Pendidikan berharga yang selalu ditekankan oleh Nyai Sholehah juga terkait dengan berusaha menjadi diri sendiri, beramal dengan karya sendiri, tidak menggantungkan dan membonceng orang lain, terutama membonceng kebesaran orang tua. Karena menurutnya, lebih baik menjadi orang besar karena karyanya sendiri daripada menjadi besar karena orang tuanya. Oleh sebab itu dalam pandangan Nyai Sholehah, bekal akhlak dan ilmu pengetahuan mempunyai peran yang sangat penting.

(Fathoni) via nu online
Gus Dur, Pak Harto dan Muktamar NU Paling Brutal

Gus Dur, Pak Harto dan Muktamar NU Paling Brutal


Gusdurfiles.com ~ Muktamar NU paling sadis ya di Cipasung, 1994. Saat itu Pak Harto ingin merobohkan kepemimpinan Gus Dur yang sejak 1984 menjadi Ketua Umum PBNU. Kiai Ali Maksum dan Kiai Achmad Siddiq, dua sosok pelindung Gus Dur, telah wafat beberapa tahun sebelumnya.

Pak Harto menggunakan anasir anti Gus Dur di dalam tubuh NU untuk mendongkelnya. Abu Hasan, orang dari antah berantah ini, dijadikan kuda penghela kelompok anti Gus Dur. Kiai Yusuf Hasyim, pamanda Gus Dur, justru berada di barisan yang ingin menyingkirkan keponakannya itu bersama beberapa tokoh lain.

Sebagai ketum PBNU, Gus Dur disetting agar tidak bisa bersalaman dengan Pak Harto saat pembukaan. Tak kurang nyali, KH. Munasir Ali, mantan anggota Hizbullah dan pensiunan tentara menyampaikan sambutan atas nama panitia, "Saya ini tak tahu diri, sudah tua kok masih berambisi jadi ketua panitia. Ngurusi ini-itu. Ya benar-benar tua tapi tak tahu diri dan tidak sadar diri."
Hadirin bertepuktangan, tahu jika sindiran ini ditujukan buat Pak Harto. Bagaimana reaksi penguasa Orba ini? Wah, semakin marah. Selama dua tahun, Pak Harto nggak mau mengakui dan menemui PBNU di Bina Graha, dimana lazimnya ketua ormas yang terpilih harus sowan penguasa sekadar memperkenalkan diri. Pak Harto baru bersalaman secara fisik dengan Gus Dur di Konferwil NU di PP. Zainul Hasan Genggong, 1996. Itupun setelah Gus Dur menjinakkan Pak Harto dengan cara mengajak Mbak Tutut keliling turba ke kantong-kantong massa NU. Benar, melembutkan hati ayah dengan memangku anaknya. Hahaha, cerdik juga.

Kembali ke soal muktamar 94. Di sini, militer bermain dengan "menjaga" arena muktamar NU. Sedikitnya 1500 tentara berseragam dan ratusan telik sandi hadir. Mereka juga aktif memantau persidangan demi persidangan. Sebelumnya, parade pidato dalam pembukaan muktamar didominasi menteri dan pejabat militer! Jenderal Feisal Tandjung, Pangab, memberikan sambutan bersama dengan 10 menteri! Sudah cukup? Belum. Para menteri dan pejabat datang-pergi menggunakan helikopter dan....sebelum memasuki arena menjelang pemilihan ketua, pos pemeriksaan peserta dijaga oleh militer. Di sekeliling arena, para tentara membawa panser (!) ikut "mengamankan" arena. Melihat pemandangan ini, dalam malam terakhir muktamar, Gus Dur secara berkelakar berterimakasih kepada tentara yang telah meminjamkan serdadu tambahan kepada Banser. Banyak dari orang-orang muda berbadan kekar yang berpatroli di tempat berpangsungnya acara menggunakan seragam Banser sebenarnya adalah personil militer.

Dalam putaran pertama, GD meraih 157 suara, Abu Hasan 136, Fahmi Saifuddin 17, dan Chalid Mawardi 6 suara. Suasana tegang. Karena gedung penghitungan suara dikelilingi panser dan tentara, akan sukar bagi pendukung Gus Dur meninggalkan tempat dan potensi chaos menjadi nyata. Melihat peta tak terduga ini, kaum muda NU kebingungan dan beberapa kiai sepuh menangis, mereka bahkan bermunajat agar Dia ikut campur dalam hal ini.

Ketika hasil perhitungan suara akhir menempatkan Gus Dur dengan perolehan 174 suara sedangkan Abu Hasan 142, keharuan menyeruak di ruang sidang. Di depan pintu, kaum muda NU membentuk barisan melingkar sambil menerikaakn yel-yel berbahasa Inggris: SOEHARTO HAS TO GO, SOEHARTO HAS TO GO! (Soeharto Turun! Soeharto Turun!).

Siapa di balik misi pendongkelan Gus Dur di NU, sebagaimana penyingkiran Megawati dari PDI benerapa bulan sebelumnya, ini? R. Hartono, jenderal penjilat Pak Harto, adalah di antara pihak penyokong dana pendongkelan Gus Dur. Abu Hasan yang bangkrut setelah gagal mendongkel Gus Dur, melalui pembentukan KPNU yang dijadikan PBNU tandingan hingga menggugatnya di meja hijau, kemudian mendatangi Letnam Jenderal R. Hartono untuk menagih kembali ongkos yang telah dia keluarkan. Apa jawab jenderal kelahiran Madura itu?

"Perjanjiannya kan kalau kamu berhasil mengalahkan Gus Dur. Faktanya, kamu justru yang kalah."
Tongpes sudah isi kantong Abu Hasan. Diplekoto tentara, ia kepalang tanggung mau mencari pelindung. Toh akhirnya dia mendatangi Gus Dur, meminta maaf, dan siap "aktif" kembali ke NU. Bagaimana sikap cucu pendiri NU itu? Dengan sikap ksatria dan mengayomi, Gus Dur malah mengajak Abu Hasan keliling turba ke Jawa dan luar Jawa. Ia menyeimbangkan kekuatan internal dengan menggunakan Abu Hasan dan konsolidasi eksternal melalui tangan Mbak Tutut. Cerdik sekali!

WAllahu A'lam


Penulis :Rijal Mumazziq
Belajar Keberagaman dari Seorang Gus Dur

Belajar Keberagaman dari Seorang Gus Dur


Oleh Guntur Pribadi

Ketika kita membincang atau membaca tentang Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan nama Gus Dur, apa yang ada dipikiran kita setelah mendengar atau membaca biografi sang pejuang kemanusiaan tersebut? Jawabannya, mungkin saja ada yang tidak terlalu minat. Mungkin ada yang biasa-biasa saja. Atau mungkin pula ada yang sangat menikmatinya tentang semua hal dari sosok Gus Dur.

Memang baiknya mengenal Gus Dur tidak sekadar ikut-ikutan. Apalagi pembacaannya tidak imbang. Karena akan sulit menemukan sisi lain dari Gus Dur yang menyimpan banyak karakter, baik itu sebagai bagian dari bangsa ini. Sebagai ulama. Sebagai kiai. Sebagai pemimpin. Maupun sebagai manusia yang memiliki selera humor.

Jika ingin mengenal Gus Dur, ada baiknya memang kita harus banyak referensi. Paling tidak menelusuri riwayatnya diperlukan ‘perjalanan’ yang tidak berkutat hanya pada tekstualitas mengenai segala hal tentang Gus Dur. Diperlukan pula kemampuan mengaktualisasikan pemikiran-pemikirannya melalui aktivitas-aktivitas sosial yang berpihak kepada kaum lemah.

Membuka riwayat sepak terjang Gus Dur, baik itu ketika ia menjadi aktivis santri, aktivis pemuda, aktivis sosial, hingga ketika dipercaya memimpin Nahdlatul Ulama (NU) dan juga sebagai seorang pemimpin negara, kita tentunya akan banyak menemukan dan belajar dari sikap atau cara berpikir Gus Dur yang penuh pengabdian terhadap umat dan bangsa.

Membaca pemikiran Gus Dur tidak cukup pula sekadar tekstual. Karena tentu tidak akan banyak didapatkan dari nilai-nilai yang ada dalam pemikirannya jika pembacaan terhadap Gus Dur dengan sekadarnya saja atau hanya sebagai pengagum Gus Dur tanpa dasar.

Gus Dur yang seringkali dinilai kontroversial akan sangat tepat bila dalam hal pembacaan teradap pemikirannya dilakukan secara kontekstual dan mendalam. Mengapa? Karena lompatan berpikir Gus Dur yang kerap melampaui batasnya tidaklah mudah dipahami tanpa model pembacaan yang kontekstual dan mendalam.

Artinya secara kontekstual dan mendalam pembacaan terhadap pemikiran Gus Dur sangat penting untuk kepentingan hari ini dan ke depan Indonesia, terlebih dalam menghadapi ancaman disintegrasi dan peminggiran kemanusiaan. Karena, sebagai bangsa dengan suku, etnis, budaya, dan bahkan agama yang pluralistik, bukanlah tidak mungkin potensi ancaman perpecahan itu ada.

Pentingnya melakukan pembacaan terhadap pemikiran Gus Dur secara kontekstual dan mendalam tersebut, tentu saja sebagai upaya menangkal potensi-potensi perpecahan dengan memahami nilai-nilai kebersamaan dan keberagaman yang ditanamkan oleh Gus Dur. Seperti kita tahu, Gus Dur sendiri seringkali menyerukan pentingnya persatuan bangsa, kebersamaan umat, toleransi, hingga menghormati nilai-nilai kemanusiaan.

Khusus perhatiannya terhadap soal-soal kemanusiaan di negeri ini, Gus Dur dalam sepak terjangnya tak dapat dipungkiri memiliki komitmen tinggi dalam hal itu. Upayanya menentang dan juga melakukan ‘pembongkaran’ tembok-tembok diskriminasi kemanusiaan setidaknya telah mengantarkan bangsa ini kemudian mampu melek terhadap ketidakadilan yang telah lama dilakukan oleh penguasa, terutama di masa rezim Orde Baru berkuasa.

Satu contoh upaya Gus Dur ‘membongkar’ tembok diskriminasi adalah mengenai soal kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan keyakinananya. Di era Gus Dur, jumlah agama yang diakui negara bertambah menjadi enam yakni dengan masuknya Kong Hu Cu. Sebelumnya hanya lima agama yang diakui oleh negara. Bukan hanya itu saja, Gus Dur juga membebaskan masyarakat Kong Hu Cu menjalankan ibadah agamanya dan merayakannya secara terbuka.

Kita tahu, di masa rezim Orde Baru diskriminasi terhadap etnis Tionghoa terjadi. Namun, di era Gus Dur ruang kemerdekaan dalam menjalankan agama dan keyakinannya bagi kaum Tionghoa itu dibuka.

Perjuangan Gus Dur mengenai kemanusiaan dan kebebasan menjalankan ibadah jika dilakukan pembacaan secara mendalam melebihi tekstualitas pemikirannya, tentu akan banyak kita temukan nilai-nilai kesadaran dalam beragama yang diajarkan dan diwariskan oleh seorang Gus Dur kepada kita.

Pemikiran dan sikap humanis Gus Dur dalam urusan kemanusian tentu bukan tanpa alasan. Gus Dur tidak buta dalam memahami ajaran-ajaran Islam. Justru berangkat dari keimanan yang dimilikinya itu, Gus Dur menyampaikan gagasan dan sikapnya dengan tidak melepaskan landasan-landasan agama yang menyertai.

Sebagai misal dalam hal keberagaman, Gus Dur memahaminya adalah sebagai keharusan. Bagi Gus Dur, keberagaman itu adalah rahmat yang telah digariskan Allah. Karena itu, menolak keberagaman atau kemajemukan adalah pengingkaran terhadap pemberian ilahi.

Dari sini, kita kemudian dapat kembali belajar dari Gus Dur yang ramah dan damai dalam mengaktualisasikan teks-teks agama. Cara-cara semacam ini pulalah yang sesungguhnya diperlukan pada bangsa yang memiliki keberagaman suku, etnis, budaya, bahasa, hingga agama.

Beragama dengan penuh kedamaian, menghormati perbedaan, menjunjung keadilan, dan menghargai kemanusiaan, adalah di antara cara beragama dari seorang Gus Dur dalam membumikan ajaran-ajaran Islam untuk kepentingan umat dan bangsa.

Untukmu, Gus. Al-Fatihah...

Penulis adalah pegiat LBH dan Alumni UIN (dulu IAIN) Sunan Ampel Surabaya. Saat ini tinggal di Kalimantan Timur.


Sumber : nu online
Nasihat Sukses Gus Dur kepada KH Fuad Affandi, Apa Itu?

Nasihat Sukses Gus Dur kepada KH Fuad Affandi, Apa Itu?


Gusdurfiles.com ~ Sosok KH. Abdurrahman Wahid banyak menginspirasi kehidupan orang-orang. Bukan hanya orang kecil. Sosok sekaliber KH. Fuad Affandi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ittfaq Kabupaten Bandung pun banyak terinspirasi oleh pemikiran tokoh bangsa yang akrab dipanggil Gus Dur itu. Pada peringatan #HarlahGusDur 4 Agustus 2016 ini, Mang Haji sapaan akrabnya tak ketinggalan ikut mengungkapkan kesan khususnya terhadap Gus Dur.

"Tadi pagi ramai-ramai anak-anak ngomongin Gus Dur. Ternyata ada keramaian di internet soal Hari Lahir Gus Dur. Alfatihah untuk beliau. Insya Allah Gusti Allah menerima amal-amal baiknya dan menghapus dosa-dosanya," terang murid ulama Legendaris Lasem Mbah Maksum itu kepada NU Online, Kamis (4/8) melalui telpon.

Inspirasi Gus Dur

Mang Haji, demikian panggilan akrab ulama yang dikenal sebagai ilmuwan bidang teknologi pertanian ini menyatakan punya kesan yang mendalam pada sosok Gus Dur. Secara khusus pada tahun 1980an saat bertemu Gus Dur di Surabaya ia diberikan motivasi.

"Hal yang membekas dalam diri saya saat beliau bilang, Kiai Fuad, kalau sudah punya keinginan baik, jangan terhalang oleh kenyataan yang ada. Saya camkam betul soal itu. Saya buktikan dengan kelemahan saya yang tidak sekolah nyatanya saya mampu bikin sekolah. Kenyataan pada saya bukan sarjana pertanian, saya bisa menjadikan pertanian berkah untuk hidup," terangnya.

Menurut Mang Haji, nasihat Gus Dur terhadap dirinya seperti itu tentu bukan asal-asalan dan mudah diterapkan. Pasalnya untuk benar-benar mampu melewati rintangan dalam setiap usaha itu selalu butuh prinsip-prinsip yang setiap orang harus membangun sendiri. Sebab menurutnya, jika Gus Dur berkeyakinan bahwa setiap keinginan baik pasti akan tercapai, maka Kiai Fuad Affandi merasa harus membangun etos hidup yang luar biasa berat dilakukan tetapi menjadi kewajiban.

"Untuk berhasil dengan cita-cita yang kita inginkan itu maka saya tetapkan sebuah pedoman khusus. Sebagai santri yang di sana-sini banyak kekurangan, maka untuk menutupi kekurangan itu saya berpikir, tak boleh ada sejengkal tanah yang menganggur. Tak boleh ada sehelai sampah yang ngawur (terberai)," jelasnya.

Dua prinsip ini menurut Mang Haji Fuad dalam praktiknya akan bisa menutupi kekurangan-kekurangan diri manusia. Misalnya, jika setiap waktu dimanfaatkan untuk belajar maka akan pintar sekalipun tidak sekolah tinggi. Belajar sendiri. Baca koran, baca buku, baca kitab tambahan, ikut kursus dan lain sebagainya. Kemudian jangan sampai ada sampah yang ngawur dimaksudkan untuk melihat setiap hal yang ada di hadapan kita harus dikelola sampai menjadi nilai lebih.

"Banyak potensi di sekitar kita yang dibiarkan seakan-akan sampah sehingga kita tidak mendapatkan apa-apa. Jangankan sampah, tai sapi pun bisa jadi rezeki kalau kita sanggup berdayakan otak," katanya. (Yus Makmun/Fathoni) via nu online
KH Mas Subadar dan Gerakan Massa Jelang Pelengseran Gus Dur

KH Mas Subadar dan Gerakan Massa Jelang Pelengseran Gus Dur


Almaghfurlah KH Mas Subadar yang baru dimakamkan Ahad (31/7) kemarin adalah seorang kiai yang sangat berwibawa dan heroik. Saat marak aksi demonstrasi menjelang penjatuhan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tahun 2001 beliau  didaulat menjadi pimpinan massa pendukung Gus Dur yang datang ke Jakarta dari seluruh tanah air, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka tdk rela saat itu Gus Dur secara inkonstitusional akan dilengserkan.

KH Mas Subadar memimpin ratusan ribu warga nahdiyyin datang ke DPR. Barisan sangat panjang. Massa di bagian depan baru sampai jembatan Semanggi tapi buntutnya masih di kawasan Sarinah.

Sesampainya di depan gedung, beliau meminta pintu DPR dibuka, namun pihak aparat tidak mengijinkan massa masuk. Atas komando beliau, pagar pintu DPR roboh dalam hitungan detik. Massa kemudian bisa masuk, namun kembali tertahan kawat duri baja.

Kembali KH Mas Subadar memohon dibukakan, namun juga tidak diijinkan. Atas komando beliau kawat baja pengaman juga putus dalam hitungan detik. Kini hanya tinggal satu pengaman yaitu tembok air. Sementara di balik tembok air itu tentara siaga dengan peralatan tempurnya.

Massa sudah siap berhadapan dengan aparat keamanan. Suasana makin memanas.

Siang itu, tiba-tiba ada instruksi Gus Dur agar massa nahdiyin membubarkan diri. Gus Dur tidak ingin ada satu tetes pun darah jatuh karena mempertahankan kekuasaan. Kiai Subadar pun menyerukan massa menarik diri dari gedung DPR. Meski beberapa kecewa. Semua akhirnya mematuhi perintah Sang Kiai. Perlahan massa meninggalkan DPR. Bentrok pun terhindarkan.

Allahu yaghfir wa yarham untuk Sang Kiai karismatik.

Jamil Wahab
Peneliti di Balitbang dan Diklat Kementerian Agama, saat peristiwa itu sebagai kader GP Ansor DKI Jakarta yang bertugas memandu massa pro Gus Dur ke kantor DPR RI


Sumber :nu online
close
Banner iklan disini