Kiai Bisri dan Gus Dur Soal Kebiasaan Telat di NU

Kiai Bisri dan Gus Dur Soal Kebiasaan Telat di NU


Waktu itu, Rais Aam PBNU KH Bisri Syansuri menginap di rumah putrinya, Nyai Sholihah, atau ibunda Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terletak di kawasan Matraman Jakarta Pusat. Ada Gus Dur juga di rumah itu. Sekitar pukul 08.00 WIB, KH Bisri memanggil sang cucu.

“Dur antarkan saya ke kantor PBNU sekarang!” kata sang kakek.

“Kenapa pagi-pagi sudah ke PBNU Mbah?,” jawab Gus Dur.

“Mau ada rapat gabungan.”

“Lho kan masih pagi Mbah?”

“Rapatnya jam sembilan.”

“Ah paling juga pada telat datangnya Mbah.”

“Biar saja. Biar ada bedanya antara yang tepat waktu dan yang telat.”

Jarak antara rumah Nyai Sholihah dengan kantor PBNU dl Kramat Raya tidak begitu jauh, sekitar 2,5 km saja. Tahun 1970-an Jakarta juga belum macet.

KH Bisri Syansuri sampai di kantor PBNU sebelum pukul 09.00 WIB. Kira-kira 10 menit sebelum jam rapat, mereka berdua bergegas masuk ke ruangan rapat. Benar saja, belum ada satu pun pengurus NU yang datang.

”Belum ada yang datang Mbah,” kata Gus Dur.

“Biar saja. Kita tunggu di sini saja,” kata Kiai Bisri. Kemudian beliau duduk di kursi Rais Aam. Sebentar kemudian bibir sang kiai terlihat komat-kamit, seperti sedang membaca wirid atau dzikir, sambil menunggu pengurus PBNU yang lain. Gus Dur bergegas ke ruang samping menyiapkan minuman untuk kakeknya. (A. Khoirul Anam)


* Cerita ini disampaikan oleh KH Muhammad Musthofa, pengasuh pondok pesantren Al-Qur’an di Parung Bogor, yang pernah mendampingi Gus Dur di kediaman Jl Warung Sila, Ciganjur, Jakarta Selatan. via nu online
Soal Kudeta, Dunia Harus Belajar Kepada Gus Dur , Ini Alasannya

Soal Kudeta, Dunia Harus Belajar Kepada Gus Dur , Ini Alasannya


OLEH 

Gusdurfiles ~ Saat terjadi kudeta Mesir, aktivis Ikhwanul Muslimin turun jalan. Muhammad Mursi, presiden dari kubu mereka, didongkel jenderalnya sendiri, Assisi. Mereka melawan. Tentara memberangus gerakan politik islamis ini. Para pemimpin IM tak mau menyerah, mereka menyuarakan perlawanan. Banyak aktivis menjadi martir.

Di Turki, Erdogan nyaris didongkel. Pelakunya? Faksi kecil militer. Dari tempat liburannya, sang presiden menyuarakan perlawanan. Pendukungnya bergerak. Arus bawah menguat. Kudeta akhirnya gagal.

Di Indonesia, 2001, Gus Dur versus parlemen. Dengan halus dan piawai, para politisi mempreteli kekuasaan Gus Dur. Mega dan Amien Rais melakukan manuver politik yang bsia disebut sebagai kudeta halus. Sebagian politisi NU menyuarakan perlawanan, sebagian kecil bahkan membentuk front “perjuangan”. Mereka siap mempertahankan Gus Dur di kursi kekuasaan dengan taruhan nyawanya. Pamswakarsa, milisi sipil tak bersenjata api yang disokong militer dan (kabarnya) didanai politisi, mulai terlibat bentrok dengan pendukung GD, setelah dua tahun sebelumnya baku hantam dengan mahasiswa.

Suara perlawanan terus dikumandangkan. Basis-basis nahdliyyin menggelegak, dibangkitkan dengan narasi terdzolimi. Di tengah kondisi yang memanas ini, bagaimana reaksi Gus Dur sebagai RI-1 yang didukung jutaan massanya? Apakah dia menggelorakan perlawanan dengan menggerakkan pendukungnya? Tidak.

Dengan berkaos dan bercelana pendek, di teras istana negara, ia menyapa para pendukungnya yang sudah siap mati untuknya. Ini penampilannya yang paling eksentrik. Presiden yang menanggalkan simbol kebesarannya dengan hanya mengenakan baju rakyat: kaos dan celana pendek. Bisa saja Gus Dur menggunakan pakaian kebesarannya dan simbol-simbol tertentu untuk menyentuh aspek sentimentil-emosional pendukungnya. Tapi tidak, dia tidak melakukannya. Dengan tertatih-tatih, Gus Dur mengangkat tangan, melambaikan telapak, dan meminta pendukungnya pulang. Pulang? Ya, pulang. Tak ada orasi perlawanan, tak ada narasi sebagai pihak yang dizalimi, juga tak ada glorifikasi jabatan melalui penggunaan jargon-jargon agama.

Para pendukungnya, yang datang dari berbagai daerah, menangis. Bukan karena melihat Gus Dur sebagai pihak yang dizalimi, tapi tangis haru melihat upaya sang tokoh menghindari bentrok sesama anak negeri. Bukankah ini cara Gus Dur mengimplementasikan Ukhuwah Wathaniyah alias persaudaraan tanah air? Elegan, bukan?

“Tak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian,” kata Gus Dur suatu ketika. Karena sejak awal sudah memandang sebuah jabatan sebagai sesuatu yang tidak istimewa, maka Gus Dur pun tak lantas melakukan glorifikasi dan mistifikasi atas sebuah jabatan.

Tak percaya? Silahkan cermati komentar Gus Dur di sebuah perbincangan ini, “Saya jadi presiden itu cuma MODAL DENGKUL. Itupun dengkulnya Amien Rais.” Wallahu A’lam

Sumber :islami.co
Gusdur Memberi Segenggam Pasir, Terbangun Rumah Mewah

Gusdur Memberi Segenggam Pasir, Terbangun Rumah Mewah


Gusdurfiles ~ Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, KH Maman Imanulhaq bercerita mengenai “karomah” Gus Dur yang dirasakan olehnya. Diceritakan bahwa suatu hari Kiai Maman ditanya oleh Gus Dur.

“Kang Maman udah punya rumah belum?” tanya Gus Dur

“Belum Gus, ada juga garasi punya mertua, saya bikin rumah,” jawab Kiai Maman.

“Oh kalau begitu tidak apa-apa,” tukas Gus Dur enteng.

“Nanya kok gak apa-apa Gus?” kata Maman dalam hatinya penuh dengan pertanyaan.

Setahun kemudian, Kiai Maman berkesempatan ziarah dengan Gus Dur ke makam Sunan Gunung Jati Cirebon, tiba-tiba disana Gus Dur pegang tangan Kiai Maman sambil memberi pasir.

“Kiai Maman mulai besok bangun rumah ya, ini pasirnya,” ujar Gus Dur.

Dalam hati Kiai Maman berpikir dan bertanya-tanya, kok nyumbang pasir hanya segenggam?

Tapi anehnya Gus Dur mengulangi ucapannya itu agar Kiai Maman segera membangun rumah.

“Pokoknya besok mulai saja bangun rumah, berapa pun anda punya uang,” kata Gus Dur kepada Kiai Maman.

Esoknya, dengan modal 60 juta rupiah Kiai Maman memberanikan diri untuk mulai membangun rumah.

“Pada saat membangun rumah itu betul-betul Allah memudahkan, salah satunya ketika belanja bahan bangunan ke seorang China,  dia ngasih pinjaman, kita ngambil seluruh kebutuhan bahan bangunan, hanya karena satu hal, dia tahu bahwa saya dekat dengan Gus Dur. Kemudahan itu yang membuat rumah saya selesai dibangun,” paparnya.

Malahan, lanjut Kiai Maman, “ada beberapa bahan bangunan yang diikhlashkan. Kenapa?  Karena orang China itu merasa bahwa Gus Dur telah memberikan ‘ruh’ bagi kehidupan mereka waktu Gus Dur jadi Presiden. Ada semacam keterkaitan antara perjuangan Gus Dur terhadap kaum minoritas, dalam hal ini kaum Tionghoa,” tambahnya.

Alhamdulillah, rumah Kiai Maman sudah terbangun cukup megah, berlantai dua dan sering dikunjungi oleh banyak orang dari berbagai kalangan mulai dari rakyat biasa, sampai para tokoh nasional seperti menteri dan jenderal.

“Gus Dur waktu itu bilang, ini bukan hanya sekedar rumah untuk dirimu, tetapi ini adalah rumah kemanusiaan, karena semua bisa masuk” pungkasnya

(NU.or.id/arifan)
Inilah Pluralisme Yang Diamalkan Gus Dur

Inilah Pluralisme Yang Diamalkan Gus Dur


Gusdurfiles ~ Semasa hidup, Gus Dur terkenal sebagai sosok penuh kontroversi. Gaya komunikasinya luwes dan bias menyesuaikan dengan bahasa audiensi. Ketika bicara di hadapan khalayak akademik, bahasa yang digunakan adalah bahasa akademik, dan jika berceramah di hadapan masyarakat pedesaan, bicaranya dengan bahasa mereka. Begitu juga ketika bicara dipesantren.

Selaku pengajar di Pesantren Ciganjur, tidak jarang saya mendengar ceramahnya yang berbeda dengan kesan di luar. Salah satu halyang menarik perhatian saya adalah ketika dia mengatakan, ”Sebagai seorang muslim, saya harus yakin bahwa Islam adalah yangpaling benar. Saya tidak mungkin menganggap agama orang lain sama-sama benarnya seperti agama saya. Bagaimana mungkin saya menganggap mereka bisa masuk surga seperti saya, la wong mereka menganggap kita-kita ini adalah kaum sesat yang harusdiselamatkan.”.

Ungkapan tersebut memang tampak janggal jika disampaikan oleh Gus Dur, sosok yang dikenal sebagai Bapak Pluralisme. Namun begitulah kenyataannya. Ungkapan tersebut tampak begitu polos dan jujur. Merujuk pada pernyataan tersebut, pertanyaan yangmuncul adalah konsep pluralisme seperti apa yang dijalani Gus Dur semasa hidupnya?
Bagaimanapun Gus Dur adalah anak biologis dan ideologis kaum santri tulen. Ayah, Ibu, dan kakeknya adalah pemimpin organisasiIslam tradisional terbesar diIndonesia. Mereka lahir dan dewasa dalam lingkungan pesantren, yang sangat kental dengan ajaran agama yang ketat. Meski begitu, Gus Dur dan ayahnya, KH. Wahid Hasyim adalah sosok pembaharu dalam tradisi pesantren dan menguasai khazanah pemikiran Islam klasik dan modern, serta memahami pemikiran Barat. Hingga wafat, Gus Dur juga selalu mengikuti perkembangan dunia kontemporer.

Pluralisme ala Gus Dur

Setidaknya ada tiga ayat Alquran yangselalu dikutip Gus Dur dalam ceramah diPesantren Ciganjur, yaitu: “Tidak ada paksaan dalam agama”; “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”; dan “Agama (yang diridai) di sisi Allah adalah Islam”. Dari ketiga ayat yangsering disampaikan tersebut menunjukkan bahwa Gus Dur memegang teguh dan bersikap konsistens terhadap agamanya, bahkan bisadibilang, Gus Dur bersikap “intoleransi” dalam berteologi. Namun demikian dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Gus Dur menunjukkan sikap yang berbeda. Dia menunjukkan sikap menghormati terhadap pilihan agama dan keyakinan orang lain sebagai realisasi prinsip kebebasan dalam beragama dan berkeyakinan.

Oleh karena itu, Gus Dur cenderung menunjukkan sikap reaktif terhadap siapa saja, baik individu atau lembaga yang berusaha menghalangi orang lain untuk mencari kebenaran yang diyakininya. Terkait kasus Ahmadiyah, misalnya, Gus Dur menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah keliru. Akan tetapi mereka adalah warganegara sah yang harus dilindungi oleh undang-undang. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembelaan dia terhadap kelompok Ahmadiyah lebih pada upaya melindungi kelompok-kelompok dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan membenarkan ajarannya.

Gus Dur juga pernah berpendapat bahwa dirinya tidak setuju terhadap seorang muslim yang menyatakan agama orang lain adalah benar sebagaimana kebenaran agamanya. Beliau lebih suka mengatakan,“Semua agama mengajarkan kebaikan dan kebenaran sesuai keyakinannya".

Dari kedua pendapat tersebut,dia menunjukkan terdapat perbedaan substansial dalam beragama. Dia tidak mau terlibat terlalu jauh ke dalam urusan kebenaran yang diyakinani oleh orang lain tersebut. Sebab, menurut dia, setiap orang akan mempertanggungjawabkan keyakinannya sendiri-sendiri di hadapan Tuhan. Di sini Gus Dur memberi contoh kepada para tokoh muslim maupun non muslim, bagaimana harus bersikap dengan pemeluk agama lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan tanpa kehilangan identitas dirinya. Dia membedakan secara jelas mana wilayah privat dan mana wilayah publik.

Melalui pandangan dan sikap tersebut,konsep pluralisme yang dijalani oleh GusDur tampak berbeda dengan konsep pluralisme yangdigunakan sebagai dasar MUI dalam menetapkan fatwa tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme. Konsep pluralisme yangdijalani Gus Dur bukan pluralisme dalam pengertian suatu paham yang mengakui semua agama benar.

Akan tetapi, konsep pluralisme yang dijalani Gus Dur lebih dekat pada konsep yang menyatakan bahwa dalam masyarakat terdapat kelompok-kelompok sosial yang mengatur diri sendiri dan saling berhubungan serta berdampingan, namun masing-masing kelompok tersebut mempunyai eksistensi yang berbeda, sebagaimana konsep yang diusulkan oleh J.S. Furnivall (1948) dan dikembangkan oleh L. Kuper dan M. G. Smith (1969). Konsep tersebut lebih terkait dalam pola kehidupan berbangsa dan bernegara secara umum, bukan spesifik dengan urusan agama.

Dengan demikian, konsep pluralisme yang terkait secara khusus dengan masalah agama, sebagaimana yang digunakan MUI beberapa tahun lalu, perlu dibatasi dalam konsep yang spesifik, yaitu konsep ”pluralisme agama”, sehingga konsep pluralisme tidak mengalami kerancuan makna. Dengan memahami konsep pluralisme yang dijalani Gus Dur tersebut tampak bahwa Gus Dur tidak terjebak dalam konsep pluralisme sempit yang banyak disalahpahami masyarakat, khususnya masyarakat muslim di Indonesia.

Dengan pemahaman pluralisme yang demikian, Gus Dur tampak lebih mengutamakan keutuhan dan kedamaian bangsa dengan tanpa kehilangan identitas dan keyakinannya. Meski dia menganggap agama yang dianutnya paling benar, bukan berarti secara psikologis pergaulannya dengan semua pihak yang beragam latar belakang, baik sosial, budaya, ras, golongan,termasuk agama terhambat demi kemajuan peradaban bangsa. Justru dengan sikap demikian, kita dapat melihat kebesaran Gus Dur. Dia adalah sosok yangmemang layak disemati sebagai Bapak Bangsa, Bapak Pluralisme, dan menerima gelar Pahlawan Nasional.

Sumber: Abu Asadillah, Santri Ciganjur

(muslimoderat/arifan)
Belajar Berbeda dari Gus Dur dan Gus Sholah

Belajar Berbeda dari Gus Dur dan Gus Sholah


Satu Bapak, satu Ibu, satu guru, namun berbeda. Itulah Gus Dur dan Gus Sholah. Mereka adalah putra dari KH. A Wahid Hasyim, juru kunci piagam Jakarta sekaligus cucu pendiri Nahdhatul Ulama (NU), yakni Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Dua sosok ulama, negarawan, juga guru bangsa yang pernah dimiliki Republik ini. Apa yang menarik dari keduanya?

Saya tergelak menemukan catatan bahwa kedua panutan umat tersebut pernah berbantah-bantahan dengan cukup seru di Koran Media Indonesia, tepatnya sepanjang tahun 1998. Keduanya berpolemik soal-soal kebangsaan, utamanya tentang relasi pancasila, Islam dan Negara, untuk menyambut Pemilihan Umum pada Bulan April 1999.

Polemik itu berawal dari tulisan Gus Dur tertanggal 8 Oktober 1998 berjudul “A. Wahid Hasyim, Islam dan NU”. Jamak kita tahu, beliau KH A Wahid Hasyim wafat pada usia yang cukup muda, yakni 39 tahun. Hal tersebut membuat generasi selanjutnya, bahkan termasuk Gus Dur dan Gus Sholah, mengalami kesulitan untuk menafsir dengan tepat pandangan-pandangan politik Islam ayahandanya. Namun, justru di sanalah letak penting yang akan kita pelajari.

Dalam artikelnya itu, Gus Dur menulis tentang Soewarno, seseorang yang pernah menjadi ajudan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Kesempatan itu membuat Soewarno berkesempatan untuk menyimak beberapa situasi, termasuk interaksi antara Pak Dirman, Dr. Soekiman (pimpinan Masyumi) dan Mbah Wahid Hasyim. Soewarno menuturkan bahwa Mbah Wahid Hasyim pernah berujar tentang hukum Islam yang harus bersandar kepada Pancasila sebagai dasar Negara, atau dengan kata lain, Hukum syariat Islam tidak lebih tinggi kekuatannya dari Pancasila.

Gus Dur juga mengulas, ketika Mbah Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama, beliau membuat kebijakan yang memperbolehkan perempuan mendaftar pada Sekolah Guru Hakim Agama Negeri (SGHAN). Kebijakan ini membuat Gus Dur meyakini bahwa pandangan politik Mbah Wahid Hasyim merupakan pandangan politik sekuler.

Alasan Gusdur adalah sebagaimana syariah telah menetapkan empat syarat bagi kedudukan hakim Islam, termasuk seorang wanita yang tidak boleh menjadi hakim agama. Jika Mbah Wahid Hasyim menjadikan syariat sebagai landasan hukum positif Negara, seharusnya perempuan tidak boleh belajar di SGHAN sebab lulusan dari sekolah itu kelak akan menjadi guru hakim atau hakim agama.

Syahdan, gagasan Gus Dur tersebut ditanggapi oleh Gus Sholah di Koran yang sama pada 17 Oktober 1998 dengan judul “KH A Wahid Hasyim, Pancasila dan Islam”.

Gus Sholah mengajukan bantahan tegas terhadap pandangan politik sekuler yang diajukan Gus Dur. Gus Sholah mengulang fakta sejarah bahwa persetujuan Mbah Wahid Hasyim atas dihapuskannya tujuh kata kunci dalam piagam Jakarta hingga terangkum dalam sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” adalah simbol keteguhan tauhid dalam kehidupan berbangsa dan negara.  Artinya, negara tidak boleh sekuler. Gus Sholah juga mengingatkan keberpihakan Mbah Wahid Hasyim pada siding konstituante tahun 1967 bersama Masyumi memperjuangkan syariat Islam sebagai jiwa Pancasila dan hukum-hukum positif di Indonesia.

Dialektika ilmiah tersebut terus berlanjut. Pada 23 Oktober 1998. Media Indonesia menerbitkan gagasan Gus Dur berjudul “Terserah Suara Rakyat”. Gus Sholah menjawab bantahan kembali dengan artikel berjudul “Pancasila, Jalan Tengah Kita”. Gus Dur, kemudian menjawab artikel tersebut dengan gagasan berjudul “Menghindari Negara Berasumsi Agama”. Dan, kembali dijawab oleh Gus Sholah dengan gagasan “Biarkan Sejarah yang Menilai”.

Dari penafsiran awal tentang ucapan Mbah Wahid Hasyim, Gus Dur kemudian mendongengkan relasi Islam dengan Aceh, Minang, Goa hingga Jawa, untuk mendukung tesis beliau tentang pemisahan Pancasila dan Islam. Gus Dur juga konsisten berpandangan bahwa kemajuan dalam tubuh Pemuda NU ditandai semacam modernisme dalam berpikir yang dalam hal ini lebih progresif dari pemuda Muhammadiyah.

Sedangkan Gus Sholah juga konsisten menjaga pesan Rais Aam NU dari masa ke masa, tentang Indonesia yang bukan Negara agama namun juga bukan Negara sekuler, untuk membuktikan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, dan oleh karenanya dapat berjalan beriringan, saling menghormati dan saling melengkapi asal tetap pada kaidah fiqih siyasah yang memperjuangkan keadilan.

Saya membaca artikel-artikel yang secara ide sangat jelas terlihat jurang perbedaannya, namun tetap santun dan sesuai kaidah-kaidah diskusi dalam Islam, yakni bil hikmah, mauidzatil hasanah, dan mujadalah bil ahsan. Gus Sholah sebagai adik sangat santun dalam berbahasa kepada kakaknya. Sebaliknya, Gus Dur juga tidak anti-kritik, dengan terus berdialektika dalam posisi yang demokratis dan setara pada mimbar yang dapat dipertanggungjawabkan, yakni media massa.

Di masa sebelumnya, pada kurun 1930-an, kita pernah menyimak “Islam Sontoloyo” ala Soekarno yang berbantah pada kutub yang sama-sama radikal dengan teks-teks Mohamad Natsir. Namun, sejarah berbantah ideologi ala Gus Dur dan Gus Sholah di atas tentu tak kalah penting untuk disimak. Bahwa, sepasang kakak beradik yang derajat intelektual, “keislaman”, serta lahir dari rahim yang identik, yakni Nahdhatul Ulama, ternyata sama-sama teguh dalam memperjuangkan keyakinan atas pandangan politik masing-masing.

Baik Gus Dur dan Gus Sholah, dibalik pertentangan pendapatnya tentang nilai-nilai macam apa yang mesti menjadi ruh Pancasila, tetaplah dua tokoh yang memposisikan negara sebagai prioritas utama yang harus dijaga, sehingga polemik yang ada merupakan pertarungan intelektual terhormat yang tetap menjaga kepentingan Jam’iyat dan seluruh bangsa. Pola-pola sejenis juga muncul pada tokoh-tokoh lain seperti Nurcholish Madjid, Endang Saifuddin Anshari, hingga Amien Rais. Mereka semua menafsir serta memperjuangkan progresifitas bangsa dan Negara, tanpa kehendak untuk berbuat makar, terror, atau mengganti dasar Negara.

Akhirnya, kita semua sebagai generasi muda wajib berkaca akan sejauh mana ikhtiar kita untuk mencari sebuah keyakinan pandangan kedirian tertentu? Semumpuni apa pengetahuan dan pengabdian kita kepada masyarakat hingga kita mampu tegas menentukan sebuah keberpihakan? Dan, sanggupkah kita tetap rendah hati dalam memperjuangkan pandangan agama dan politik kebangsaan yang kita yakini agar ia tetap anggun membingkai segala perbedaan yang ia temui? []

Kalis Mardiasih adalah penerjemah dan penulis lepas. Bisa ditemui di @mardiasih

Sumber : islami.co
Kisah Gus Dur dan Abah Afandi saat Usir Maling di Pondok

Kisah Gus Dur dan Abah Afandi saat Usir Maling di Pondok


Gusdurfiles ~ Salah satu kiai sepuh NU Jawa Barat KH Afandi Abdul Muin Syafi’i yang akrab disapa Abah Afandi, berpulang ke rahmatullah, Rabu (13/7/2016) dalam usia 78. Abah Afandi pernah menuntut ilmu di sejumlah pesantren salah satunya di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang mulai tahun 1953 sampai tahun 1962.

Di antara teman yang akrab dengan Abah Afandi sewaktu mondok di Tambakberas adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saat itu Gus Dur ikut pamannya yang bernama Mbah KH Fattah Hasyim Idris (Kiyai sepuh pesantren Tambakberas waktu itu).

Di tengah malam, sekitar pukul 23.00, Abah Afandi sering diajak oleh Gus Dur ngopi di tempat (warung) yang cukup jauh dan berada di luar area pondok pesantren. Pulang kembali ke Pondok sekitar pukul 01.00 dini hari.

Suatu saat, sepulang dari ngopi dan sudah sampai di area pondok, Abah Afandi melihat ada sesuatu yang mencurigakan. Dia berkata kepada Gus Dur: “Gus, ada dua orang lebih di sana. Sepertinya pencuri mau memanjat pagar pondok, sampean kejar Gus”.

Gus Dur menjawab dengan santai: “Sampean saja yang mengejar”. Saling menyuruh atau meminta siapa yang di depan ini berlangsung berulang-ulang, suara pun semakin keras diantara keduanya, sampai pada akhirnya sang pencuri tahu ada orang, dan melarikan diri.

Gus Dur pun tertawa terkekeh-kekeh, sambil bilang:” Nah praktis khan, cara ngusir malingnya?” Daripada kita berdua mendekat, jadi babak belur, mendingan kita bisik-bisik yang kencang, maling dengar, jadi kabur, kita pun tidak perlu di tengah malam teriak kencang “maling-maling” yang ganggu orang banyak,” ujar Gus Dur dengan tawa khasnya.

Sepulang Gus Dur berkelana dari di Timur Tengah, persahabatan antara Abah Afandi dan Gus Dur kembali terjalin akrab, Gus Dur sering mengunjungi Abah Afandi di Indramayu. Begitu juga sebaliknya, Abah Afandi sering ke Jakarta menemui Gus Dur. Hal itu berlangsung hingga Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU.

Waktu Gus Dur berangkat di Muktamar Ke-28 NU di Krapyak, Yogyakarta, Gus Dur sempat menginap di rumah Abah Afandi selama dua hari. Gus Dur pun mengajak Abah Afandi untuk turut menghadiri Muktamar di Yogya itu, tapi Abah Afandi menolak dengan bahasa: ”Gus, kulo mboten pantes, kulo namung kiai kampung”(Gus, saya tidak pantas, saya hanya kiai kampung),” tutur Abah Afandi.

Bahkan, ketika Gus Dur tiga periode menjadi Ketua Umum PBNU, Abah Afandi pernah beberapa kali diminta oleh Gus Dur untuk dimasukkan ke jajaran kepengurusan di NU pusat itu, tapi lagi-lagi Abah Afandi menolak: ”Saya tidak pantas masuk jadi pengurus PBNU Gus, saya ini bukan orang pandai,” tuturnya.

Termasuk ketika Gus Dur mendirikan partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Tahun 1999, Abah Afandi diminta oleh Gus Dur untuk masuk jajaran pengurus pusat PKB, namun Abah Afandi lagi-lagi menolak dengan bahasa halus dan rendah hati.

Setengah abad kemudian, pada tahun 2000, Gus Dur sudah berada di Istana Negara. Gus Dur menerima Amanat menjadi Presiden Ke-4 RI. Sebagai Presiden, namun Gus Dur tidak lupa atau melupakan teman-temannya sewaktu muda dulu.

Beberapa teman di undang untuk berkenan datang di Istana Negara. Diantara mereka adalah Abah Afandi. Awalnya Abah Afandi menolak, ketika diundang Gus Dur ke istana. Beliau merasa hanya “orang cilik”, demikian tawaddunya. Padahal banyak orang (kalangan pesantren) Yang sebelumnya tidak kenal dengan Gus Dur, namun mendadak sering ke Istana saat Gus Dur menjabat Presiden.

Karena diundang berulang-ulang, akhirnya pada suatu saat, Abah Afandi mau juga diundang ke istana presiden oleh Gus Dur.  Ketika Abah Afandi tiba di Istana Negara, di hadapan banyak tamu penting, Gus Dur memperkenalkan kepada mereka.

“Ini, Kiai Afandi Indramayu, teman saya nggudak (ngejar) maling ketika mondok di Tambakberas,” Gus Dur.

Bahkan oleh Gus Dur, Abah Afandi pernah diminta menjadi imam solat berjamaah Maghrib di masjid Istana presiden dengan para mentri. Saksi yang masih hidup perihal kedekatan Abah Afandi dan Gus Dur adalah KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) dan KH Said Aqil Siroj. Demikian persahabatan Abah Afandi dan Gus Dur yang saling menghormati, saling rendah hati, hingga keduanya menghadap Allah SWT.

Ditulis oleh KH Abdul Nashir Fattah, Rais PCNU Jombang, Pengasuh Pesantren Al-Fathimiyah Tambakberas.

(Red: Fathoni) via nu online
Dialog Lintas Agama Merindukan Gus Dur

Dialog Lintas Agama Merindukan Gus Dur


Oleh Ubaidillah Achmad
Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) merupakan sosok yang istimewa dan telah menandai keutamaan teks wahyu dan teks tentang arti kemanusiaan. Ungkapan ini sekilas berlebihan, namun siapa yang menolak sejumlah deret peristiwa yang berkaitan dengan Gus Dur ternyata bisa dikaitkan dengan prinsip keutamaan dan hikmah kehidupan yang bersumber dari jejak kenabian.

Dalam konteks yang paling ekstrim, ada beberapa umat Islam yang mencaci langkah keberagamaan Gus Dur yang dekat dengan agama dunia dan "lawan" umat Islam, namun tetap saja Gus Dur lebih terlihat sebagai sosok yang sangat mencintai agamanya dan tradisi pesantren yang membentuknya.

Beberapa tesis yang mengkategorikan Gus Dur sebagai ancaman umat Islam, telah terpatahkan dengan kondisi real pandangan dan gerakan Gus Dur yang lebih kuat merefleksikan makna dan pesan wahyu Al-Qur’an. Artinya, banyak tulisan Gus Dur yang tidak memcantumkan sumber wahyu dan hadis Nabi serta hanya mencantumkan pesan Kiai Cebolek dan Ulama pesantren, namun setelah dipahami justru tulisan Gus Dur memuat inti kewahyuan dan pesan risalah kenabian. Selain itu, tidak ada pesan kemanusiaan, keadilan, persamaan, yang lepas dari refleksi pemikiran dan gerakan Gus Dur.

Meskipun demikian, tidak sedikit umat Islam yang membenci Gus Dur. Hal yang sama, berupa kebencian dari lawan lawan politik Gus Dur, namun mereka para pembenci banyak yang merindukan kehadiran Gus Dur kembali. Baik kawan maupun lawan politik yang secara terus terang dapat memetik hikmah perjalanan Gus Dur sebagai Presiden yang Kiai, yang budayawan, yang humoris, yang meningkatkan oplah terbesar seluruh media.

Selain itu, Gus Dur juga dapat dikategorikan sebagai Presiden RI yang mampu membuat lawan dan kawan supaya terdorong untuk tidak tenang menjadi orang yang diam, dan juga telah mendorong agar kita semua berpikir, berdialog, dan tidak diam dengan kondisi dan perkembangan yang terjadi di lingkungan kita. Misalnya, dengan upaya melakukan model pendampingan dan pemberdayaan yang mencerahkan masyarakat. Model pendampingan bagi Gus Dur berlaku universal, yaitu untuk semua umat manusia yang memerlukan dampingan. Model inilah yang penulis sebut dengan model konseling lintas budaya.

Dialog Lintas Agama

Sehuhungan dengan fenomena model Gus Dur, justru yang sering menolak dari mereka yang berorientasi Islam Formalis. Alasan penolakan ini disebabkan adanya kedekatan Gus Dur dengan para pengikut agama yang lain dan adanya anggapan kedekatan Gus Dur dengan aktivis kemanusiaan yang dianggap sebagai musuh agama. Kemunculan para penolak Gus Dur semakin diperkuat oleh sikap Gus Dur yang tidak pernah merespon para penentangnya.

Dalam pernyataan tertentu, Gus Dur menegaskan kenyamanannya terhadap komentar komentar yang dialamtkan kepada Gus Dur. Selain itu, Gus Dur, juga bisa memetik hikmah dan memperkuat keberadaannya melalui kawan dan lawan yang memojokkan pergerakannya. Sekali lagi, Gus Dur tetap sebagai Gus Dur, ia ditolak maupun diterima tetap semakin memperkuat peran dan gerakannya.

Femonena Gus Dur dapat dilihat dari berbagai kasus, yang di antaranya berupa kasus pergerakan dialog lintas agama. Dalam kasus ini, Gus Dur terus mendorong dialog antara umat beragama tidak hanya dari perspektif komunikasi simbolik namun juga harus dibuktikan dengan menunjukkan keberpihakan kepada prinsip kebenaran yang disuarakan oleh semua pengikut agama agama di dunia dan semua umat manusia ljntas budaya. Dalam konteks ini, Gus Dur menolak pembatasan prinsip kebenaran secara komunal yang dibatasi oleh simbol komunalisme.

Karenanya, dalam banyak tulisan Gus Dur, telah memaparkan tema tema dialog lintas agama dan budaya yang dia refleksikan dengan tanpa mencantumkan sumber sumber yang dirujuk dari teks Al-Qur’an dan Al Hadis. Meskipun demikian, argumentasi yang dibangun oleh Gus Dur tentang prinsip kebenaran lintas budaya, telah melampaui pemahaman zamannya. Pada zaman Gus Dur, banyak tulisan dan pandangan para sarjana dan Ulama yang merujuk sumbe kewahyuan dan hadis. Hal ini berbalik dari model Gus Dur, yang merefleksikan pandangannya tanpa teks kewahyuan, namun sangat simetris dan reflektif, yang benar benar mencerminkan makna atau pesan inti Al-Qur’an.

Bukti sikap kewahyuan Gus Dur

Kerangka dasar yang mendasari bangunan berfikir Gus Dur, adalah kemampuannya memahami kawasan tanda yang ditandai oleh teks kewahyuan. Dalam konteks ini, Gus Dur mampu menandai kawasan tanda yang ditunjuk oleh teks wahyu atau menangkap inti kewahyuan pada kawasan tanda. Antara teks dan kawasan yang ditandai tidak boleh terpisah dari perspektif subyek penanda.

Secara riil, dapat dipahami ketidakberartiannya tanda, apabila tidak dipahami dari kawasan tanda. Sebaliknya, kawasan tanda sangat memerlukan teks penguat yang menjelaskan unsur-unsur yang terdapat pada kawasan tanda. Kemampuan membentuk fungsi kebermaknaan secara relasional, sangat memerlukan ketajaman berpikir rasional dan merangkai pengalaman empiris subyek penanda.

Kemampuan ini sudah membentuk bangunan pemikiran dan gerakan Gus Dur. Karenanya, beberapa hasil penelitian telah membuktikan komitmen Gus Dur pada hal hal yang dianggap memiliki kebenaran universal dan relevan dengan pesan teks kewahyuan. Misalnya, pada kasus kerukunan antra umat beragama. Dalam kasus ini, antara refleksi Gus Dur dengan sirah dan syariah kenabian memiliki garis simetrisitas dan sinergisitas yang sama, yang sama sama tidak dapat dipisahkan.

Mengapa pandangan dan sikap Gus Dur menjadi representasi sikap kewahyuan? Karena antara Gus Dur dan Al Quran dalam kehendak yang sama, yaity kehensak Allah untuk kemanusiaan dan peradaban umat manusia. Keberadaan Gus Dur ini dibuktikan dengan adanya pandangan dan perilaku para pendahulunya, seperti Walisongo hingga Nabi Muhammad.

Sebagai contoh, sudah sejak zaman Nabi Muhammad, umat kristiani telah memiliki kedekatan khusus dengan umat Islam (aqrabahum mawaddatan). Ummat Kristiani ini digambarkan dalam Al Quran yang paling dekat kecintaannya. Berbeda dengan Yahudi dan Kafir Quraisy yang digambarkan sangat keras terhadap umat Islam. Pandangan Yahudi dan Kafir Quraisy yang selalu menganggap kebenaran komunal dan menolak kebenaran yang bersumber dari pihak yang lain (Al Maidah: 82).

Sejak awal, umat kristiani telah menunjukkan kejujurannya tentang ciri kenabian Muhammad Dalam Injil (Al-Baqarah: 146), seperti yang ditunjukkan olehn Pendeta Buhaira seorang rahib Kristen Nestorian kepada Abu Thalib. Buhaira menetap di kota Bushra, Selatan Syam (sekarang Syria). Dalam pertemuan yang istimewa Sang Pendeta meminta Ahu Thalib, paman Nabi Muhammad, agar berhati-hati menjaga Nabi Muhammad. Hal ini, karena ada rencana jahat orang Yahudi. Orang-orang Yahudi menginginkan status kenabian selamanya milik bani Israel. Karena ambisi ini, orang yahudi selalu berusaha untuk membunuh Nabi Muhammad.

Dalam peristiwa perang antara Romawi dan Persia, Nabi Muhammad dan para shahabat, telah mendukung kemenangan bangsa Romawi yang beragama nasrani. Hal ini diabadikan dalam QS. Ar Ruum: 04, "Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman." Bangsa Romawi, adalah bangsa kristen yang pernah menjadi pusat agama kristen di dunia, beribu kota di Al-Quds Paletina, zaman keemasan Kaisar Heraclius. Selain itu, Raja Kristen Najasyi di Habasyah (100 persen beragama kristen), telah memberikan perlindungan kepada sahabat yang hijrah ke Negerinya. Pada saat ini sudah terancam di Mekkah, Thaif dan negara negeri yang lain (QS. Al-Maidah : 83).

Sehubungan kisah Nabi dan para sahabat tersebut menunjukkan adanya bukti, bahwa dialog lintas agama yang dibangun oleh Gus Dur bukan merupakan kegiatan bid’ah dan sesaat. Tentu saja, umat Islam banyak yang memahaminya, namun membutuhkan komitmen dan ketulusan seperti Gus Dur untuk merefleksikan kisah Nabi dan teks kewahyuan ini.

Jika membaca realitas keberagamaan yang ramah lingkungan ini, maka kita kembali diingatkan kepada sosok Gus Dur. Di tengah isu terorisme dan radikalisme global seperti sekarang ini, kita semua merindukan Gus Dur. Kumandang sajak-sajak kami kepadamu, Gus Dur.***

Penulis adalah Khadim Pesantren As-Syuffah Njumput-Sidorejo Pamotan Rembang, penulis buku Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng. via nu online
Ini Ikhbar PBNU Perihal Satu Syawal 1437 H

Ini Ikhbar PBNU Perihal Satu Syawal 1437 H


Ketua Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) KH Ahmad Ghazali Masroeri mengikhbarkan bahwa satu Syawal 1437 H jatuh pada hari Rabu, 6 Juli 2016. Kiai Ghazali mengatakan bahwa takbiran sudah bisa dimulai pada Selasa malam, 5 Juli 2016.

“Atas dasar pelaksanaan rukyah Senin petang ini di seluruh Indonesia, hilal tidak dapat dilihat. Jadi Selasa besok kita masih berpuasa,” kata Kiai Ghazali di Jakarta, Senin (4/7) sore.

Ia berterima kasih atas partisipasi dan kontribusi nahdliyin.

“Seluruh pengurus harian Lembaga Falakiyah PBNU mengucapkan minal 'aidin wal faizin. Selamat hari raya Idul Fithri satu Syawal 1437 H. Mohon maaf lahir dan batin.” (Alhafiz K) via nu online

Sopir Yang Bergelar SH, SE, ST

Sopir Yang Bergelar SH, SE, ST


Pada suatu kesempatan di awal tahun 2000, Kang Kusnin diminta membantu panitia untuk distribusi surat undangan. Tepatnya pada acara Haul Pesantren Mambaul Hikam, Mantenan, Udanawu, Blitar.

Kebetulan saat itu Kang Kusnin masuk divisi kehumasan, sehingga pendistribusian undangan menjadi salah satu tugasnya.

Awalnya tidak ada yang nganjel. Hampir 2000 surat undangan tertata dengan baik plus by name and by addres.

Setelah surat dibagi per zona, Kang Kusnin merasa aneh dan sedikit bingung lantaran ada tiga undangan dengan nama sama; NUR. Cuma bagian akhir ada tambahan SH, SE dan ST.

Kang Kusnin bersama teman-temannya berpikir itu singkatan gelar sarjana seperti kebanyakan undangan lain. Misal SH singkatan (Sarjana Hukum), SE (Sarjana Ekonomi) dan ST (Sarjana Teknik). Namun ternyata singkatan yang dimaksud tidak demikian.

Hal itu terungkap ketika Kang Kusnin menanyakan langsung kepada ketua panitia Gus Had. “Gus, nama Nur Sarjana Teknik dari Desa Bakung itu yang mana?’’

Dengan sedikit senyum, Gus Had mengatakan, “Nur ST itu tetangga sampean sendiri, Kang Nuryani. Rumahnya sebelah barat rumah sampean,” jawab Gus Had.

“Lo..Kang Nuryani kok di tulis Nur ST?” protes Kang Kusnin.

Dengan gayanya yang humoris, Gus Had menjelaskan, “Kang Nuryani itu kan setiap hari kerjanya sebagai sopir truk. Jadi untuk memudahkan data dan distribusi undangan Nuryani disingkat ST”.

Gus Had pun melanjutkan, “Yang ditulis Nur SH itu namanya Kang Nur Iman. Nama dia disebut Nur SH karena dia sopir Haiece. Sementara Nur SE itu Nur Ihsan karena dia punya mobil Elep yang biasa nganter jamaah ta’lim ke mana-mana. Maka namanya ditambah Nur SE, singkatan sopir Elep”.

Mendapat penjelasan itu, Kang Kusnin bersama grembolannya langsung ketawa ngakak.”Sampean Gus, bisa aja,’’ sahut Kang Kusnin.

”Lho, Ini dilakukan untuk memudahkan pengiriman undangan agar tidak tertukar. Karena kalau ketiganya ditulis Nur sopir saja. Bisa tertukar tidak sesuai dengan yang dimaksud,’’ jelas Gus Had.

Ternyata, penyebutan Nur SE, Nur SH dan Nur ST sampai sekarang ini masih berlaku. Manakala pesantren yang menjadi pusat Terekat Naqsabandiyah Qolidiyah Blitar Raya itu mengadakan kegiatan dan mengundang masyarakat sekitar, para santri dan panitia yang bertugas kirim surat pasti paham, siapa yang disebut ST, SH dan SE.

(Nu.or.id/arifan)
Kisah Gus Dur Berziarah ke Makam Syekh Tosora “Buyut” dari Wali Songo

Kisah Gus Dur Berziarah ke Makam Syekh Tosora “Buyut” dari Wali Songo


Gusdurfiles.com ~ Selama menjadi Ketua Umum PBNU selama 15 tahun, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) banyak mengunjungi daerah, termasuk di wilayah Sulawesi Selatan. Pada akhir tahun 1985, Gus Dur diundang berceramah oleh Rektor IKIP Makassar, Gubernur Prof. Dr. H. A. Amiruddin.

Waktu itu, Gus Dur berangkat ke IKIP dan dijamu sarapan pagi. Di meja makan, sambil menunggu penjemput dari IKIP, terjadi diskusi antara Gus Dur dengan Gubernur H. A. Amiruddin terkait berbagai hal yang dihadapi bangsa Indonesia. Setelah penjemput dari IKIP datang, Gubernur mengantar Gus Dur ke bawah dijemput oleh Wagub HZB Palaguna. Gubernur A. Ahmad Amiruddin meminta HZB Palaguna mendampingi Gus Dur di IKIP, sambil berkata “Dampingi, dia orang pintar”.

Di atas mobil dalam perjalanan menuju IKIP, Gus Dur bertanya, “Tema apa yang akan saya bawakan dalam ceramaah nanti ?”.“Transformasi sosial menuju masa depan Indonesia”, jawab saya. Sampai di IKIP, Gus Dur dijemput oleh Rektor IKIP Prof. Dr. HP. Parawangsah dirumah jabatan. Setelah minum teh, Gus Dur diantar ke gedung Serba Guna IKIP, disambut oleh Civitas Akademika IKIP dan ratusan mahasiswa yang memenuhi aula gedung Serba Guna.

Setelah pidato penyambutan Rektor IKIP, Gus Dur dipersilakan ke mimbar. Pada awal ceramahnya, mahasiswa menyambut dengan suara “Uuuuuuh”, tetapi pada pertengahan ceramahnya, hadirin mulai diam dan tenang. Menjelang akhir ceramahnya, hampir setiap kalimatnya disambut dengan tepuk tangan yang meriah, dan menutup ceramahnya disambut dengan tepuk tangan yang panjang sambil hadirin berdiri mengantarkan Gus Dur meninggalkan tempat upacara.

Gus Dur Ziarah Makam di Wajo

Akhir Januari 1989 pukul 08.00 pagi, menaiki mobil mini bus DPRD Sulsel, kami berangkat ke Wajo untuk berziarah ke makam Sayyid Jamaluddin al Akbari al Husaini yang wafat pada tahun 1310 dimakamkan berdampingan dengan Raja Tosora Lamaddusila di Tosora (situs purbakala),  Sayyid Jamaluddin adalah nenek para wali songo di Jawa. Menurut Gus Dur, ia mendapat pesan dari neneknya Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, supaya menziarahi 27 makam  Wali  di Indonesia.

Sekitar pukul 11.00 kami tiba disuatu desa sekitar 4 Km sebelum sampai ke lokasi makam, jembatan desa terputus yang tidak bisa dilalui kendaraan. Gus Dur mengatakan, “Rupanya Almarhum belum berkenan diziarahi.” Gus Dur berceritera bahwa juga pernah ada makam seorang Wali di Semarang, 5 kali baru bisa tembus mencapai makam wali tersebut. Akhirnya, Gus Dur meminta kepada yang hadir untuk mendoakan di sini saja sambil menunjuk jembatan yang putus.

Kami yang mengantar Gus Dur, antara lain Sayyid Abu Bakar Alatas, Idris Nashir, Muhamad Abduh, Pengurus Cabang NU Wajo berkumpul ditengah persawaahan duduk melingkar sambil berdoa dan mengirimkan bacaan Al Fatihah. Doa dipimpin oleh Sayyid Abu Bakar Alatas. Gus Dur berjanji akan datang lagi secara incognito (tidak resmi). Belakangan saya ketahui telah datang  secara diam-diam dan berdua dengan Habib Abubakar Alatas, Gus Dur telah menziarahi beberapa makam wali di Sulsel seperti makam Syech Yusuf al Khalawatiyah al Makassari di Gowa, Makam Syekh Jamaluddin al Akbari al Husaini di Tosora Kabupaten Wajo, makam Syekh Datok Ri Bandang dan Makam Pangerang Diponegoro di Makassar, makam Tuan Bojodi Kajuara Bone, makam Kareng Lolo Bayo Sanrabone Takalar.

Pada suatu waktu saya menemui Gus Dur di kantor PBNU Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, menyampaikan niat saya untuk menyelenggarakan Haul dan tahlilan untuk almarhum Sayyid Jamaluddin Al Akbari al Huseini dan Syech Yusuf Al Halwati di Gowa. Gus Dur mendukung dan bersedia mencarikan sponsor. Niat untuk mengadakan Haul dan tahlilan ini kemudian saya konsultasikan pada M. Parawansyah, Sekretaris Provinsi Sulsel di Kantor Gubernur.

Dari almarhum KHS Jamaluddin Puang Ramma, saya mendapat informasi bahwa 42 orang ulama dan kiai dari Jawa Timur setelah memperoleh informasi dari Gus Dur, dengan mencharter pesawat terbang Fokker 28 mereka ke Makassar menginap di Syahid Hotel datang memui beliau di jalan Baji Bicara 7 Makassar. Mereka semua mengaku sebagai keturunan Sayyid Jamaluddin al Akbari al Huseini nenek para Wali Songo di Jawa. Mereka bermaksud menziarahi makam beliau di Tosora.

Drs. KH. Abdurrahman adalah Ketua PWNU Sulsel 1986 – 1990 dan 1990 – 1995. Ia dikenal dengan nama Abdurrahman ‘Bola Dunia”, karena memiliki rumah dengan pagar Bola Dunia sebagaimana Lambang Nahdlatul Ulama.



Sumber : nu online
close
Banner iklan disini