Ini Cara Masyarakat Maluku Tenggara Hormati Gus Dur

Ini Cara Masyarakat Maluku Tenggara Hormati Gus Dur


Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU) KH Said Aqil Siroj yang biasa disapa Kang Said hadir dalam peresmian Jalan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Kabupaten Maluku Tenggara, Kamis, (28/4) pagi. Kang Said mengucapkan selamat kepada masyarakat Maluku Tenggara yang telah mengabadikan nama Gus Dur menjadi salah satu jalan di sana.

“Terima kasih kepada Bupati (Maluku Tenggara) yang sudah sangat tepat menambahkan jalan utama bandara ini dengan Jalan KH Abdurrahman Wahid,” ujar Kang Said saat memberikan sambutan dalam acara peresmian jalan ini di hadapan ratusan masyarakat Maluku Tenggara.

Kang Said menilai Gus Dur sebagai sosok yang tidak sombong saat dipuji. “Dan saat dicaci serta dilengserkan dari kursi presiden, ia tidak takut dan tidak minder. Itulah Gus Dur,” kata Kang Said.

Senada Kang Said, salah satu putri Gus Dur Inayah Wahid mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Maluku Tenggara.

“Ini jalan yang kedua bernama KH Abdurrahman Wahid setelah yang pertama terletak di Jombang, tanah kelahiran dan berpulangnya bapak,” kata Inayah yang turut hadir dalam peresmian jalan ini.

Ia berharap agar ini bisa menjadi jalan kebersamaan bagi keberagamaan yang ada di sana untuk menuju Indonesia yang damai, santun, dan toleran.

Bupati Maluku Tenggara Andreas Rentanubun mengatakan bahwa pemberian nama jalan ini dengan nama Gus Dur adalah bentuk penghargaan kepadanya. “Sebagai bapak keragaman yang telah banyak jasanya, dan itu kami rasakan di sini,” jelas Andreas.

Ia menceritakan, proses pembangunan jalan ini sangat cepat. Hanya dua tahun. “Inilah mungkin berkahnya Gus Dur, karena biasanya pembangunan jalan (seperti ini) bisa sampai empat sampai lima tahun,” ungkap laki-laki yang beragama Katolik.

Acara ini diprakarsai oleh Pemkab Maluku Tenggara. Turut hadir dalam acara ini Kang Said, Inayah Wahid, pejabat di Pemkab Maluku Tenggara, pengurus wilayah dan cabang NU Maluku Tenggara. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K) via nu.or.id
Kiai Mustafa Ya'qub dan Kenangannya Baca Kitab di Hadapan Gus Dur

Kiai Mustafa Ya'qub dan Kenangannya Baca Kitab di Hadapan Gus Dur


KH Ali Mustafa Ya’qub merupakan intelektual muslim di bidang hadits. Sebagai pakar hadits tidak mengherankan bila ia selalu merujukkan pendapatnya dari kisi-kisi kehidupan, perilaku dan tindakan Rasulullah Saw. Sehingga banyak pihak yang menilai jika pemikiran beliau cenderung pakem dan kaku dalam berislam.

Kiai Ali Mustafa Ya’qub adalah alumni pascasarjana King Saud Riyadh Saudi Arabia. Beliau termasuk salah seorang murid ulama terkenal yang juga pakar di bidang hadits asal Saudi Abia, Prof Dr Syeikh MM Azami.

Meskipun keilmuannya sudah tidak diragunakan, namun di usianya yang relatif tidak muda ia tetap merasa haus untuk menambah pundi-pundi pengetahuan, khususnya dalam khazanah keislaman.

Pada bulan Ramadhan tahun 2005, KH Mustafa Ya’qub ikut pengajian kitab bersama para santri Pesantren Ciganjur di Masjid Al Munawwaroh, Ciganjur Jakarta Selatan. Saat itu kitab yang dibaca dihadapan KH Abdurramah Wahid (Gus Dur) adalah Bughyah Al-Mustarsidin karya Al-Habib `Abdur Rahman bin Muhammad bin Husain bin `Umar al-Masyhur, ulama yang diberi julukan sebagai `Allaamah Hadhramaut, Faqih Hadhramaut, Rais Hadhramaut, Abu Tarim dan beragam gelar kemuliaan dan penghormatan.

Dalam video yang diunggah Mustiko Dwipoyono di youtube dengan judul “Ngaji Gus Dur, KH Ali Musthafa Ya'qub baca Kitab (https://www.youtube.com/watch?v=yVhRi2toYmY) tampak Beliau duduk di samping Gus Dur. Membaca setiap kalimat dan melengkapinya dengan makna yang terkandung di dalamnya. Usai baca beliau dengan khusuk dan seksama mendengarkan setiap penjelasan dari Gus Dur.

"Gus Dur itu adalah guru kami. Kami menjadi murid beliau sejak tahun 1971. Kami belajar Bahasa Arab dan mengaji kitab Qatr al-Nada dari beliau," kata Kiai Mustafa Ya'qub saat memberi kesan terhadap Gus Dur.

"Itulah hubungan kami dengan Gus Dur yang beliau sebut sebagai adik dalam pemikiran, yaitu pemikiran ilmu hadits, bukan pemikiran yang lain,” lanjutnya.

KH Ali Mustafa Yaq'ub, sosok ahli hadits telah kembali ke Haribaan Ilahi pada Kamis (28/4) pagi. Semoga segala amal dan sumbangsih pemikirannya untuk peradaban Islam mendapat balasan dari Allah Swt. (Zunus)    via nu.or.id


Hubungan Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki Degan Gus Dur

Hubungan Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki Degan Gus Dur


 Sayyid Abbas Al Maliki : Merupakan Mufti dan Qadhi Makkah dan khatib di Masjidil Haram. Beliau memegang jawatan ini ketika pemerintahan Usmaniah serta Hashimiah, dan seterusnya terus memegang jabatan tersebut setelah Kerajaan Saudi diasaskan. Raja Abdul Aziz bin Sa'ud sangat menghormati beliau.

Riwayat Hidup beliau boleh dirujuk pada kitab Nur An-Nibras fi Asanid Al-Jadd As-Sayyid Abbas oleh cucunya As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Keluarga Maliki merupakan salah satu keluarga yang paling dihormati di Makkah dan telah melahirkan alim ulama besar di Makkah, yang telah mengajar di Makkah sejak lama. Lima orang dari keturunan Sayyid Muhammad, telah menjadi Imam Mazhab Maliki di Haram Makkah.

Keluarga Keturunan Sayyid merupakan keturunan mulia yang bersambung secara langsung dengan Junjungan kita Muhammad Sallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri. Beliau merupakan waris keluarga Al-Maliki Al-Hasani di Makkah yang masyhur yang merupakan keturunan Rasulullah Sallahu 'Alaihi Wasallam, melalui cucu Baginda, Imam Al-Hasan bin Ali, Radhiyallahu ‘Anhum. Keturunan beliau adalah :
1. Sayyid Alawi Bin Abbas Al-Maliki (anak)
2. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki (cucu)
Sedangkan salah satu murid Sayyid Abbas Al Maliki yang di Indonesia adalah Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari (Pendiri NU dan PP Tebuireng) yang merupakan kakek dari KH Abdurrahman Wachid (Gus Dur).

Kisah Nyata dari Pembenci Maulid
Suatu hari Asy Syaikh Abbas Al-Maliki berada di Baitul Muqaddas Palestina untuk menghadiri peringatan Maulid Nabi SAW. Di mana saat itu bershalawat dengan berjamaah. Saat itulah beliau melihat seorang pria tua beruban yang berdiri dengan khidmat mulai dari awal sampai acara selesai. Kemudian beliau bertanya kepadanya akan sikapnya itu.
Lelaki tua itu bercerita bahwa dulu ia tidak pernah mau mengakui acara Maulid Nabi dan ia memiliki keyakinan bahwa perbuatan itu adalah Bid’ah Sayyi’ah (bid’ah yang jelek). Suatu malam ia mimpi duduk di acara Maulid Nabi bersama sekelompok orang yang bersiap-siap menunggu kedatangan Nabi SAW ke mesjid, maka saat Rasulullah SAW tiba, sekelompok orang itu bangkit dengan berdiri untuk menyambut kehadiran Rasulullah SAW. Namun hanya ia saja seorang diri yang tidak mampu bangkit untuk berdiri. Lalu Rasullullah SAW berkata kepadanya: “Kamu tidak akan bisa bangkit!”

Saat ia bangun dari tidurnya ternyata ia dalam keadaan duduk dan tidak bisa berdiri. Hal ini ia alami selama 1 tahun. Kemudian ia pun bernadzar jika sembuh dari sakitnya ia akan menghadiri acara Maulid Nabi di mesjid dengan bershalawat. Kemudian Allah menyembuhkan nya. Ia pun selalu hadir untuk memenuhi nadzarnya dan bershalawat dalam acara Maulid Nabi SAW..
(Sumber: Kitab Al-Hady At-Tam fi Mawarid al-Maulid an-Nabawi, hal 50-51, karya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki)

                                                                   ====ooOoo====

Kebersamaan antara cucu dari Sayyid Abbas Al Maliki dengan cucu dari KHM. Hasyim Asy’ari



Keterangan foto: Kunjungan Gus Dur ke kediaman Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki


 KH. Abdurrahman Wahid : Mungkin bagi sebagian orang menyangsikan ada hubungan akrab antara as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dengan Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid). Padahal kalau kita mau menengok sejarah, kakeknya, as-Sayyid Abbas bin Abdul Aziz al-Maliki adalah guru dari kakeknya Gus Dur, Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari sang pendiri NU. Jadi sangat wajar jika hubungan antara Abuya al-Maliki dengan Gus Dur terbilang mesra, sebagaimana hubungan kedua kakeknya dulu.

Suatu hari, Gus Dur yang waktu itu masih menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, berkunjung ke kediaman as-Sayyid Muhammad al-Maliki di Mekkah. Gus Dur ditemani oleh KH. Said Aqil Siroj dan Ghofar Rahman. Sebagai ulama terkemuka, as-Sayyid Muhammad al-Maliki selalu dikunjungi oleh tamu dari berbagai negara.

Sewaktu Gus Dur datang ke kediamannya, di ruang tamu sudah banyak sekali orang yang mengantri. Begitu Gus Dur datang, ia langsung dipersilakan masuk. Bahkan diajak berbincang di kamar tidur pribadi as-Sayyid Muhammad, bukan di ruang tamu (ini merupakan suatu adat/kebiasaan yang biasanya di lakukan untuk menghormati seorang tamu yang di istimewakan). Oleh beliau Gus Dur dikasih uang, arloji mewah dan barang berharga lainnya sebagai tanda penghormatan.

Dalam pertemuan tersebut, Prof. DR. KH. Said Aqil Siroj mengggambarkan:“Begitu hormatnya mereka berdua. Dan mereka bukan orang sembarangan.”

Tepat di malam Jum’at waktu sahur, as-Sayyid Muhammad al-Maliki menghembuskan nafas terakhirnya. Pada malamnya beliau tidak mengajar kitab-kitab, namun banyak menceritakan perihal surga dan menyatakan hasratnya untuk bertemu dengan ayahandanya, as-Sayyid Alawi al-Maliki.

Beliau wafat hari Jum’at tanggal 15 Ramadhan 1425 H, bertepatan dengan tanggal 29 Oktober 2004 M. Jenazahnya lalu dimakamkan di pemakaman al-Ma’la di samping makam istri Rasulullah Saw, Sayyidah Khadijah al-Kubra Ra.

Berikut DOA ISMUL 'ADHOM
Oleh : Sayyid Muhammad Alwy Al-Maliki Al-Hasani
اَللَّهُمَّ يَاحَيُّ يَاقَيُّوْمُ، يَاإِلَهَنَا وَإِلَهَ كُلِّ شَىْءٍ، إِلَهاً وَاحِداً، لَاإِلَهَ إِلَّاأَنْتَ، يَاذَاالْجَلَالِ وَاْلإِكْرَامِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدُ لَاإِلَهَ إِلَّاأَنْتَ الْحَنَّانُ الْمَنَّانُ بَدِيْعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَاذَاالْجَلَالِ وَاْلإِكْرَامِ يَاحَيُّ يَاقَيُّوْمُ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّكَ أَنْتَ اللهُ الَّذِي لَاإِلَهَ إِلَّاأَنْتَ الأَحَدُ اَلصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًّا اَحَدٌ، وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَاإِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّكَ أَحَدٌ صَمَدٌ لَمْ يَتَّخِذْ صَاحِبَةً وَلَا وَلَداً، اَللَّهُمَّ لَكَ اْلحَمْدُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ يَامَنَّانُ يَابَدِيْعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَاذَاالْجَلَالِ وَاْلإِكْرَامِ، لَاإِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ، وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَاإِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يَاظَاهِرُ يَاقَيُّوْمُ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّكَ أَحَدٌ صَمَدٌ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًّا اَحَدٌ،َللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ اللهُ الَّذِي لَاإِلَهَ إِلَّاأَنْتَ الْحَنَّانُ الْمَنَّانُ بَدِيْعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَاذَاالْجَلَالِ وَاْلإِكْرَامِ يَاحَيُّ يَاقَيُّوْمُ، أَحْرَزْتُ نَفْسِي بِالْحَيِّ الَّذِي لاَ يَمُوْتَ، وأَلْجَأْتُ ظَهْرِي لِلْحَىِّ الْقَيُّوْمِ، لَاإِلَهَ إِلَّاأَنْتَ نِعْمَ الْقاَدِرُ، لاَإِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ، وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى الله، إِنَّ اللهَ بَصِيْرٌ بِالْعِباَدِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ ۞

Sumber : Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki al-Hasani. Dalam Kitab Abwabul faraj : Jawami' al-Kalim, Cairo: 2000.

Faktor Gus Dur Bertindak dengan Pendekatan Kebudayaan

Faktor Gus Dur Bertindak dengan Pendekatan Kebudayaan


Nia Sjarifudin dari Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) menilai KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sangat kuat dalam integritas kebudayaan. Dia menyampaikan hal itu pada diskusi bulanan Forum Jumat Pertama (FJP) Jaringan Gusdurian, Jl. Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat Jumat (04/03) di Griya Gus Dur, dengan “Gus Dur dan Kearifan Lokal”.

Nia berpendapat, kuatnya integritas Gus Dur dipengaruhi pendidikan keluarga yang berada dalam lingkup Nahdlatul Ulama (NU). Keluarga Gus Dur menghargai kearifan lokal dan tradisi Nusantara yang dalam kajian-kajian dewasa ini dikenal dengan Islam Nusantara.

Gus Dur, masih menurut Nia, tidak hanya mendewa-dewakan ilmu pengetahuan agama Islam yang dimilikinya. Sebagai orang Jawa yang merupakan bagian dari Nusantara, menyebabkan karakter Gus Dur semakin lengkap.

Karakter kebudayaan Gus Dur semacam itulah yang memengaruhi sikap, pandangan, dan tindakan politik Gus Dur sebelum, ketika, dan saat menjadi Presiden. “Saya menyaksikan proses dialog antara Gus Dur dengan teman-teman dari Papua di Istana Negara,” kenang Nia.

Gus Dur dengan pendekatan persuasif menggunakan identiatas kebudayaan. Gus Dur memperbolehkan nama Papua (sebagai nama untuk wilayah yang sebelumnya Irian Jaya).

Saat warga Papua meminta diakui lagu daerahnya, Gus Dur menyilakan mereka. Gus Dur menganggap semua suku mempunyai lagu kedaerahan, demikian juga warga Papua.

Itu sebabnya sampai sekarang pun bagi warga Papua, Presiden Indonesia adalah Gus Dur. Di rumah-rumah di Jayapura, foto Gus Dur masih dipasang.

Pada bagian lain, Nia menceritakan pendapat Gus Dur terhadap Undang-undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi. Gus Dur melihat UU tersebut berbahaya. Soal pornoaksi dan pornografi, sudah jelas Gus Dur dan siapa pun tidak setuju dan menolak kalau ditunjukkan di depan umum.

Namun, yang Gus Dur tidak sukai adalah apabila UU tersebut akan menyebabkan terjadinya diskriminasi dan pemberangusan budaya dengan penyeragaman. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi) via nu.or.id
Tidurnya Orang Alim lebih utama dari Ibadahnya Orang Bodoh

Tidurnya Orang Alim lebih utama dari Ibadahnya Orang Bodoh


Gusdurfiles.Com ~ Dalam sebuah Hadist dikisahkan bahwa suatu tempo Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam mendatangi pintu masjid, di situ beliau melihat setan berada di sisi pintu masjid. Kemudian Nabi SAW bertanya, "Wahai Iblis apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Maka Setan itu menjawab, "Saya hendak masuk masjid dan akan merusak shalat orang yang sedang shalat ini, tetapi saya takut pada seorang lelaki yang tengah tidur ini."

Lalu Nabi SAW berkata, "Wahai Iblis, kenapa kamu bukannya takut pada orang yang sedang shalat, padahal dia dalam keadaan ibadah dan bermunajat pada Tuhannya, dan justru takut pada orang yang sedang tidur, padahal ia dalam posisi tidak sadar?" Iblis pun menjawab, "Orang yang sedang shalat ini bodoh, mengganggu shalatnya begitu mudah. Akan tetapi orang yang sedang tidur ini orang alim (pandai)."

Dari Ibnu Abbas radliyallâhu ‘anh, Nabi SAW bersabda, "Nabi Sulaiman pernah diberi pilihan antara memilih ilmu dan kekuasaan, lalu beliau memilih ilmu. Selanjutnya, Nabi Sulaiman diberi ilmu sekaligus kekuasaan.

Bersumber dari Abi Hurairoh radliyallâhu ‘anh, Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa pergi menuntut ilmu maka Allah akan menunjukkannya jalan menuju surga. Sesungguhnya orang alim senantiasa dimintakan ampunan untuknya oleh makhluk yang berada di langit maupun di bumi, hingga dimintakan ampun oleh ikan-ikan di laut. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi."

Hadits di atas menyiratkan betapa agama Islam begitu memuliakan, mengutamakan, dan menghargai orang yang berilmu pengetahuan. Bahkan melebihi keutamaanya orang yang ahli ibadah tapi bodoh. Menjadi jelas pula bahwa dalam agama Islam, menuntut ilmu dan mengembangkan budaya ilmiah itu termasuk bagian dari ibadah, juga merupakan tuntutan agama. Jadi tidak semata desakan kebutuhan zaman atau tuntutan dari institusi negara an sich. Itulah kunci mengapa dahulu pada masa kegemilangan peradaban Islam, banyak lahir ilmuan-ilmuan besar Muslim yang sumbangsihnya telah diakui dunia dalam banyak cabang keilmuan. Mereka menekuni disiplin keilmuan atas motif ajaran Islam, bukan tuntutan negara (daulah) waktu itu.

Begitu peduli dan perhatiannya agama Islam akan pentingnya ilmu pengetahuan, banyak pula ayat Al-Qur'an memberi dorongan dan motivasi agar seseorang mencintai ilmu, di antaranya ayat itu, "Samakah antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Al-zumar: 9). Tak hanya itu, Al-Qur'an sendiri mengajarkan umat manusia berdoa kepada Tuhannya agar senantiasa ditambahkan ilmu pengetahuan, "Dan katakanlah, Ya Tuhanku, tambahkanlah pengetahuan kepadaku".

Di ayat lain Allah juga berfirman, "Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat" (Al-Mujaadalah: 11).

Berjibunnya apresiasi, penghargaan dan dorongan yang bersumber baik dari al-Qur'an ataupun Sunnah Nabi sebagaimana di atas seyogianya membuat kaum muslim pada saat ini khususnya yang masih berstatus mahasiswa, pelajar dan santri bisa lebih giat dan tekun lagi dalam mempelajari suatu ilmu dan mengembangkan tradisi ilmiah. Pun menyadarkan bahwa menurut pandangan Islam kegiatan dan aktivitas belajar dan menuntut ilmu baik di lembaga pendidikan formal atau nonformal yang ditempuh oleh seorang Muslim orientasinya tidak melulu mengejar ijazah, gelar dan jabatan tertentu, melainkan perlu diinsyafi pula bahwa belajar itu merupakan kewajiban tiap muslim dalam upaya mentaati perintah agama. Wallahu a'lam

M Haromain, pengajar di Pondok Pesantren Nurun ala Nur Wonosobo; penulis lepas, bergiat di Forum Intlektual Santri Temanggung.

Oleh NU Online

 Mbah Kiai Shonhaji dan Sambal

Mbah Kiai Shonhaji dan Sambal

Gusdurfiles.com ~ Saya pernah sowan ke Mbah Kiai Shonhaji, Jimbun Sruweng Kebumen. Beliau adalah guru mursyid Gus Dur. Kalau Gus Dur ada acara di Kebumen, pasti singgah ke ndalem Mbah Kiai Shonhaji. Setelah dipersilakan masuk oleh khadimnya, saya duduk di lantai ruang tamu. Sekitar 15 menit kemudian Mbah Kiai keluar dari kamarnya. Setelah jabat tangan dan sungkem cium tangannya, Mbah Kiai tanya pada saya, "Gus, nopo sampean saget nyambel (Gus, apa kamu bisa membuat sambal)?"

Saya kaget dapat pertanyaan seperti itu, langsung saja saya jawab: "Insya Allah saget Mbah Kiai."

Terus Mbah Kiai dhawuh, "Cobi nyambel mriko teng pawon (coba sana membuat sambel di dapur)."

Saya terus ke dapur dikawal oleh khadim beliau, dan di dapur sudah ada cobek dan uleknya juga sudah ada cabe 5 biji, bawang 1 biji dan kencur 1 biji. Yang belum ada hanya garam, saya terus ambil garam dan mulai ngulek sambel. Setelah selesai, saya dan khadimnya disuruh bawa sambel itu ke ruang tamu.

Setelah dekat dengan Mbah Kiai, beliau dhawuh, "Cobi Gus kulo ta nyicipi sambele (coba saya mau nyicipi sambalnya)."

Betul, Mbah Kiai nyicipi sambal buatan saya pakai jari telunjuk kanan. Sambil bergegas ke belakang, Mbah Kiai dhawuh, "Wah sambele enak tapi kok asin banget."

Rupanya Mbah Kiai ke belakang ambil nasi satu piring penuh. Lalu beliau meminta saya memakannya sama sambal dan harus habis, ya nasinya ya sambalnya. Sedikit saya paksakan, luar biasa pedasnya dan langsung terasa panas di perut, mata pun berkaca-kaca. Menetes air mata saking pedasnya.

Setelah habis, Mbah Kiai dhawuh, "Pedes nggeh?"

Saya jawab, "Nggeh..." sambil sedot-sedot ambil napas.

Singkat cerita, saya pulang dan rasa panas di perut hilang, saya juga tidak mencret. Subhanallah, yang luar biasa setelah kejadian itu saya tidak lagi berselera menjadi aktivis. Tidak ada semangat aktif di partai politik dan juga tidak ada nafsu untuk bisnis, waktu itu saya ada sambilan bisnis. Dan sekitar 2 minggu kemudian ada banyak tamu yang menitipkan anaknya untuk mengaji di tempat kami. Ini pengalaman saya, semoga ada hikmahnya. (Oleh: KH. Wahid Hakimnur via santrijagad.org). via muslimedianews


Penyesalan Gus Dur

Penyesalan Gus Dur


Presiden ke empat Republik Indonesia Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pernah bikin berang DPR. Gus Dur pernah menyebut para anggota dewan yang gemar ribut itu seperti di taman kanak-kanak saja.

Nah ternyata Gus Dur mengaku pernah menyesal menyebut kelakuan para anggota DPR seperti taman kanak-kanak.

Kisah ini disampaikan KH Maman Imanulhaq Faqieh dalam buku Fatwa dan Canda Gus Dur yang diterbitkan Kompas.

Saat itu KH Maman dan Gus Dur berbincang santai di Masjid samping rumah Gus Dur di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan.

Saat itulah Gus Dur berucap dengan lirih. “Saya menyesal menyamakan DPR dengan taman kanak-kanak,”

Kiai Maman spontan bertanya. “Kenapa? Karena itu lembaga negara ya?”

“Bukan itu, saya merasa berdosa telah meremehkan anak-anak yang suci, cerdas dan kreatif dengan anggota DPR yang kotor dan kreatif mencari celah mencari uang,” jawab Gus Dur.

Jawaban Gus Dur mengejutkan Kiai Maman. Gus Dur lantas memberikan tausiyah panjang lebar tentang bagaimana peranan anak anak dalam membentuk peradaban suatu bangsa.

Menurut Gus Dur, anak-anak adalah masa depan dan harapan. Karena itu dalam khazanah keilmuan Islam, anak anak sangat dimuliakan.

Itulah alasan Gus Dur menyesal menyamakan anggota DPR dengan anak anak.

Sumber : Santrionline.net
Gus Dur Mendapat Ijazah Langsung dari Sunan Kalijogo

Gus Dur Mendapat Ijazah Langsung dari Sunan Kalijogo


Gusdurfiles.Com ~  KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengaku punya pengalaman spritual yaitu melakukan dialog dengan Sunan Kalijogo. Pengalaman itu diungkapkannya dalam sambutan di rumah KH Romli Damanhuri ketika presiden dan Ibu Negara melakukan ziarah kubur ke makam Batu Ampar, Kecamatan Propo, Pamekasan, Minggu (23/7) malam.
Gus Dur mengaku, selama hidupnya baru kali ini bisa berdialog dengan orang yang telah meninggal. Orang yang diajak bicara pun bukan orang sembarangan, yaitu Sunan Kalijogo.
Diminta Cari Surban Hadiah Walisongo

Sunan Kalijogo merupakan salah seorang wali yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Selain mendapat amalan doa, Gus Dur menerima nasihat dari Sunan Kalijogo. Apa nasihat itu? Selaku presiden, Gus Dur diminta tak perlu khawatir menghadapi apapun.
Berawal dari perintah salah seorang Wali Allah (kekasih Allah) yang diterima Gus Dur agar menghadap Sunan Kalijogo. Ia diminta mengajak KH Abdullah Sidiq --kiai yang dikenal linuwih (punya kelebihan spiritual) dari Kandat, Kediri -- masuk ke makam Sunan Kalijogo.
Karena itu Kamis (20/7) malam lalu, Gus Dur masuk ke makam Sunan Kalijogo, di Demak -- berdua dengan KH Abdullah Sidiq. Pintu makam kemudian ditutup. Sesaat kemudian, dari dalam makam terdengar suara, selanjutnya terjadi dialog antara Gus Dur dengan Sunan Kalijogo.
"Cucuku Abdurrahman, kamu percaya tidak kepada Abdullah Sidiq," tanya suara dari dalam kuburan tersebut sebagaimana ditirukan kembali Gus Dur.
"Ya, Embah, saya percaya," jawab Gus Dur singkat.
"Itu, minal Aulia, kata beliau (maksudnya Sunan Kalijogo) jangan khawatir menghadapi apapun," ujar Gus Dur menirukan suara tersebut. Selanjutnya Gus Dur diberi amalan doa: Yaa ayuhallazdiina aamanuu kunuu qawwamuuna bil qisthi syuhadaa`a alannasi walau alaa anfusikum (Tegakkan keadilan dan kesaksian yang benar). "Pegangan kamu, harus dibaca tiap hari," lanjut suara itu menggema.
"Alhamdulillah," jawab Gus Dur. Kemudian Sunan Kalijogo melanjutkan pesan agar Gus Dur malam itu juga berangkat ke Tebu Ireng, Jombang. Gus Dur diminta mengambil surban pemberian Walisongo yang dibawa ibunya. Surban itu didapat ibu kandung Gus Dur saat NU baru didirikan.
"Jadi NU ini didirikan bukan untuk mencari apa-apa. Tetapi untuk menjaga kesatuan dan persatuan," jelas Gus Dur. Ditambahkan, dalam dialog itu, Sunan Kalijogo mengatakan jika Gus Dur memperoleh sesuatu yang sifatnya fisik -- berupa surban -- harus diterima. Tapi kalau tidak mendapat apa-apa berarti ia diberi simbolik, hanya saja harus diambil di Kediri.

Hadiah Keris
Mendapat pesan seperti itu, Gus Dur menuju ke Tebu Ireng. "Ternyata surbannya tak ada di Tebu Ireng. Saya dibisiki Kiai Abdullah Sidiq, surban diambil di Kediri, tempat Kiai Abdullah Sidiq," katanya.

Gus Dur mengatakan, kedatangan bersama istri ke makam Batu Ampar, tempat yang selama ini menjadi wisata ziarah, karena beberapa waktu lalu mendapat perintah dari salah seorang auliaillah di Aceh agar mengunjungi K Damanhuri (maksudnya ziarah kubur ke makam almarhum KH Damanhuri-- ayah kandung KH Romli Damanhuri).
Begitu tiba Batu Ampar, Gus Dur diterima kelima putra (alm) K Damanhuri, diantaranya KH Romli Damanhuri, KH Muchalli DM, KH Fauzi DM, KH Cholil DM dan KH Abd Qodir.
Selanjutnya, KH Zidqie Muthar, pengasuh Ponpes Nurul Huda, Sumber Nangka Larangan, Pamekasan, yang ikut menyambut kedatangan Gus Dur, memberitahu bahwa makam yang ada di depannya adalah makam Kiai Damanhuri dan Kiai Abu Syamsudin (orang tua KH Damanhuri).

Kemudian Gus Dur duduk bersila di dekat makam Abu Syamsudin, diteruskan pembacaan doa dipimpin KH Zidqie Muthar. Sementara di belakang, Ibu Negara Hj Sinta Nuriah juga ikut membacakan tahlil.
Setelah beramah tamah di rumah KH Romli Damanhuri, Gus Dur mendapat kenang-kenangan benda pusaka Batu Ampar, berupa keris. "Mudah-mudahan Pak Kiai (Gus Dur) sudi menerimanya. Semoga dengan lantaran keris ini, negara jadi makmur," kata KH Romli Damanhuri.

Oleh: Mistikus Sufi via muslimoderat

Terungkap! Ini Penyebab Gus Dur Tinggalkan Istana Negara

Terungkap! Ini Penyebab Gus Dur Tinggalkan Istana Negara


Saat menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, parlemen mencoba menggulingkan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dari kursi Presiden RI dengan dalih kasus hukum yang sampai hari ini tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Melihat kejanggalan tersebut, tentu saja Gus Dur menolak untuk diturunkan.

Hal ini disampaikan oleh KH Maman Imanulhaq saat mengisi kegiatan peringatan Isra Mi'raj di Pondok Pesantren Raudlatul Hasanah, Subang, Jawa Barat, Rabu (13/4).

"Gus Dur tahu bahwa ini adalah masalah politik, bukan masalah hukum. Beliau tidak pernah bersalah secara hukum, tapi dikalahkan secara politik,” tegas Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, Jawa Barat itu.

Kiai muda yang akrab disapa Kang Maman itu melanjutkan, masyarakat pun tahu soal kejanggalan masalah ini sehingga dukungan dari daerah terus mengalir kepada Gus Dur. Namun Gus Dur berpikir kalau situasi ini dibiarkan begitu saja dikhawatirkan akan terjadi perang saudara antara kelompok pro Gus Dur dan pro parlemen.

"Gus Dur saat itu berpikir daripada perang saudara hanya gara-gara mempertahankan jabatan duniawi, lebih baik ia mundur saja dari jabatan presiden," tambah Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU itu.

Namun, lanjut Kang Maman, Gus Dur masih belum menemukan alasan yang tepat untuk keluar dari Istana Negara. Karena yang dituduhkan parlemen jelas tidak bisa diterima sebab inkonstitusional dan tidak rasional.

"Sampai suatu ketika Gus Dur meminta kepada salah satu menterinya, Luhut Binsar Panjaitan untuk menemui Lurah Gambir, Jakarta Pusat karena Istana Negara berdomisili di Kelurahan Gambir," ungkap anggota DPR RI itu.

Waktu itu, imbuh Maman, Luhut diinstruksikan untuk meminta agar Lurah Gambir segera membuat surat sakti yang isinya menyatakan bahwa situasi sedang genting sehingga Gus Dur harus meninggalkan Istana Negara.

Saat Gus Dur ditanya kenapa harus membuat surat ini. "Supaya nanti ketika di hadapan Allah ditanya kenapa kamu meninggalkan istana? Saya menjawab: coba tanya saja ke Lurah Gambir,” pungkas Maman. (Aiz Luthfi/Fathoni) via nu.or.id
Gus Dur Sakit Gigi

Gus Dur Sakit Gigi


Sudah beberapa hari ini Gus Dur sakit gigi, cenat cenut. Dibuat duduk sakit, berbicara sakit, mendengarkan musik Beethoven juga masih sakit.<>

“Siapa bilang sakit hati lebih berat dari pada sakit gigi,” kata Gus Dur kepada seorang stafnya, mengutip lirik lagu dangdut.

“Lha kan iya lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati Gus?”

“Lebih baik sakit hati saja,” kata Gus Dur.

“Lha kenapa Gus?”

“Saya ini lagi sakit gigi…!” kata Gus Dur agak berteriak.

Staf Gus Dur tak berani bertanya lagi. (Anam) via nu.or.id
[Karomah] Gus Dur Bisa Me Raga Sukma Dirinya

[Karomah] Gus Dur Bisa Me Raga Sukma Dirinya


Gusdurfiles.Com ~ Dunia kewalian adalah dunia yang memiliki banyak dimensi. Dunia kewalian seringkali tidak dapat diterima nalar sehat manusia normal. Karenanya dunia kewalian seringkali pula diidentikkan dengan dunia mistis.

Biasanya para santri (penganut agama yang taat), sejak zaman Hindu, Budha hingga zaman Islam di Indonesia membedakan kepemilikan dan perilaku keilmuan mistik ke dalam dua kategori, yakni kategori ilmu putih dan ilmu hitam. Sejak dahulu kala, ilmu hitam biasa disebut untuk mensifati (mengidentifikasi) keunggulan-keunggulan para tokoh penjahat. Sedangkan kemampuan dan keistimewaan-keistimewaan para tokoh kebaikan, para pahlawan dan para manusia suci.
gt;
Kelebihan-kelebihan (maziyyah) ini ibarat “piranti lunak” yang wajib dimiliki oleh bukan hanya tokoh spiritual, namun juga para pemimpin di dalam masyarakat. Begitulah keyakinan masyarakat terpatri dengan kuat, dari yang masih berpola tradisional hingga mereka yang telah menjadi manusia modern.

Mantan Ketua Umum PBNU tiga kali berturut-turut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai salah seorang tokoh dan pemimpin bangsa, diyakini oleh banyak kalangan memiliki berbagai “piranti lunak” yang dapat dijadikan salah satu alasan untuk mengkategorikannya ke dalam lingkungan para wali. Salah satunya adalah kemampuannya untuk meraga sukma, yakni sebuah kemampuan berada di banyak tempat dalam waktu bersamaan.

Beberapa orang mengaku pernah membuktikan ilmu Raga Sukma Gus Dur ini. Berbagai cerita menyebutkan bahwa pada waktu yang sama, banyak orang mengaku bertemu dan bercengkrama dengan Gus Dur pada waktu yang sama. Salah satunya adalah cerita para Banser yang sedang menjaga Gus Dur ketika terbaring sakit di Rumah Sakit Koja Jakarta Utara.

Pada sekitar tahun 1994-an, kala itu Gus Dur Sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta Utara yang pada masa itu dipimpin oleh adik kandungnya, Umar Wahid. Gus Dur sedang terbaring di kamar dengan dijaga oleh dua orang Banser, seorang banser tampaknya bertindak sebagai komandan. Bila malam hari, kedua Banser ini berjaga bergiliran, salah satu tidur dan seorang lainnya terjaga.

Hingga pada suatu ketika, seorang yang bertindak sebagai komandan berkata pada temannya, “Saya keluar sebentar, tolong jaga Pak Kyai dengan baik. Tidak lama, saya segera kembali.” Dia pun segera berlalu.
“Siap!” Jawab sang Banser dengan bersemangat. Sepeninggal temannya, dia pun segera masuk ke kamar perawatan dan duduk di sebelah Gus Dur yang sedang terbaring di atas tempat tidur.
Tidak berapa lama, Gus Dur terbangun dari tidurnya dan mengajaknya keluar mencari udara segar. Dengan tertatih Gus Dur mengajaknya berziarah ke Makam Habib Husein al-Haddad di dekat pintu Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Letak makam tersebut hanya berjarak sekitar 400 meter di seberang Jalan Raya Pelabuhan di depan Rumah Sakit Koja.

Sang Banser pun dengan setia mengikuti Gus Dur yang berjalan tertatih-tatih. Seusai berziarah dan memanjatkan doa, sang Banser pun mengiringkan Gus Dur untuk kembali ke kamarnya. Setelah Gus Dur kembali beristirahat dan tidur, dia pun keluar ruangan.
Namun alangkah kagetnya ketika dia keluar ruangan. Dia mendapati temannya yang tadi keluar sedang menunggunya dengan muka masam, laksana komandan yang menunggu laporan kekalahan dari bawahannya. Dengan menghardik, sang banser yang berlaku sebagai komandan ini berkata, “Dari mana saja kamu, disuruh jaga kok malah keluyuran seenaknya.”

Dengan gelagapan sang banser menjawab, “Siap Dan. Dari Mengantar Pak Kyai berziarah.”
“Jangan buat alasan yang aneh-aneh. Saya hanya pergi sebentar, lalu kembali. Dari tadi saya lihat Pak Kyai tidur di dalam. Sementara kamu tidak ada.” Mereka pun kemudian saling berdebat dan bersitegang tentang penglihatan dan pengalamannya masing-masing.
“Cerita ini adalah ceritanya nyata yang dialami oleh temen-temen Banser di Jakarta Utara,” tutur KH Mistakhul Falah salah seorang tokoh NU Jakarta Utara kepada NU Online. (min)

Mbah Maiomen Zubair takut kuwalat dengan Gus Dur

Mbah Maiomen Zubair takut kuwalat dengan Gus Dur


Gusdurfiles.Com ~ Mbah Maimoen Dawuh:
“Aku ini tidak pernah setuju dengan Gus Dur”, kata Kyai Maimun Zubair. “Yah... namanya manusia. Tapi aku tidak berani membenci, apalagi memusuhinya. Takut kuwalat!”
Kenyataannya, tidak seratus persen Mbah Maimun berseberangan dengan Gus Dur.

Ketika suatu kali seorang tokoh intelektual datang jauh-jauh dari Jakarta untuk mengajak beliau masuk ICMI, Mbah Maimun menolak.
“Pak Kiyai ini intelektual yang mumpuni lho”, kata si tokoh, “cocok sekali kalau masuk ICMI !.”
“Ah, saya cukup Nahdlatul Ulama saja, gabung rombongannya pewaris nabi.” kata mbah Mun
“Memangnya di ICMI nggak bisa?”
“Kan nggak ada hadits Al-ICMI warotsatul anbiyaa’? Kalau Al-Ulamaa' ada!” kata mbah Mun.



Sumber :muslimoderat
Gus Dur Tahu sebelum Kejadian "Weruh Sakdurunge Winarah"

Gus Dur Tahu sebelum Kejadian "Weruh Sakdurunge Winarah"


Gusdurfiles.Com ~ Para Waliyullah memiliki berbagai karomah yang menunjukkan kedekatannya dengan Sang Pencipta. Selain kejadian-kejadian aneh, karomah (keutamaan) ini seringkali berupa pengetahuan tentang hal-hal yang akan terjadi pada masa-masa yang akan datang.
Salah satu alasan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sering disebut-sebut sebagai waliyullah adalah pengetahuan Gus Dur mengenai peristiwa-peristiwa yang belum terjadi. Masyarakat Jawa biasa menyebut kemampuan ini dengan istilah "weruh sak durunge winarah." r />
Beberapa ulama dan Kiai banyak menceritakan tentang kemampuan Gus Dur yang satu ini. Selain cerita kebiasaan tidur di kala seminar yang kemudian terbangun dan bicara dengan sempurna mengenai isi pembicaraan sebelumnya, Gus Dur juga memiliki cerita kemampuan "weruh sak durunge winarah" ini di dunia nyata.
Kisah berikut ini diceritakan oleh Katib Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Utara, KH Miftakhul Falah tatkala Beliau turut menunggui Gus Dur yang dirawat di Rumah Sakit Umum Koja Jakarta Utara, sekitar tahun 1994-an.
Dalam ceritanya, KH Miftakhul Falah menceritakan, sewaktu Gus Dur sedang dirawat di RS Koja, beliau menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Habib Hasan di Pemakaman Koja. Dalam berziarah ini, Gus Dur selalu ditemani oleh beberapa orang sambil mendengarkan ceritanya.
"Kalau di kemudian hari makam ini dibongkar, maka akan terjadi kerusuhan," kata Miftakhul Falah menirukan kata-kata Gus Dur kala itu.
Menurut Miftah, tidak seorang pun yang mengerti dan akan membayangkan kalimat Gus Dur tersebut akan menjadi kenyataan pada suatu ketika. Namun rupanya, zamanlah yang kelak membuktikan kata-kata Gus Dur tersebut.
"Terbukti. Ketika makam tersebut akan dibongkar, benar-benar terjadi kerusuhan pada bulan April 2010 lalu," tutur Miftakhul Falah.
Menurutnya, banyak kini di antara temen-temannya yang menjadikan kalimat tersebut sebagai bukti kewalian Gus Dur. Ketika orang-orang lain bahkan belum bisa membayangkan, Gus Dur telah mengungkapkannya. (min/NU Online)


Penduduk Papua: Jangan Hina Gus Dur, Nanti Kamu Saya Kasih Mati

Penduduk Papua: Jangan Hina Gus Dur, Nanti Kamu Saya Kasih Mati


Gusdurfiles.Com ~ Bagi masyarakat Papua, peran Gus Dur sangat besar dalam membangun perdamaian dan semangat nasionalisme di bumi cenderawasih. Sampai saat ini, peran tersebut terus membekas di dalam hati masyarakat setempat.

Hal ini diungkapkan oleh salah seorang Pengurus Lembaga Kajian Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU, Eman Hermawan saat mengisi kegiatan Kaderisasi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Kuningan, Jawa Barat. Senin (5/4)

"Bagi orang Papua, jasa-jasa Gus Dur itu tidak terlupakan, mereka bahkan menganggap bahwa Bapak orang Papua itu adalah Gus Dur, jangan lupa dalam konstruksi Bapak kami di sana itu sangat serius, begitu mendalam"ungkapnya

Gus Dur, tambah Eman, dianggap sebagai Bapak Papua karena saat menjadi Presiden, Gus Dur mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua. Saat masih bernama Irian Jaya, warga disana bisa dikatakan sebagai masyarakat 'kelas dua'.

"Ketika menyebut nama Papua secara konstitusi, harga diri masyarakat di sana dikembalikan, kesadaran kolektif dalam berbangsa itu menjadi utuh, bahwa masyarakat Papua itu setara dengan warga negara yang lain"tandasnya

Masyarakat Papua, kata Eman, sampai saat ini masih ingat betul kata-kata Gus Dur saat mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua, saat itu Gus Dur menyampaikannya ketika matahari berganti pada tanggal 1 Januari 2001.

"Orang Papua sangat ingat betul perkataan Gus Dur kata demi kata; Mata saya memang tidak bisa melihat, tapi hati saya bisa merasakan air mata dan penderitaan orang Papua, maka dari itu wahai orang Papua, hari ini ku kembalikan harga dirimu sebagai bagian utuh dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kata-kata itu membuat mereka bisa menangis," tambah Eman yang beberapa hari yang lalu berkunjung ke Papua.

Ditambahkan, sebelum menjadi Papua ada banyak suku dengan etnik dan bahasa yang berbeda, dalam satu kecamatan saja bahasanya bisa berbeda, namun saat Gus Dur jadi Presiden, orang Papua bisa berbahasa Indonesia dan hal itu mampu menyatukan perbedaan di sana. Sehingga membuat mereka semakin mencintai Gus Dur, saking cintanya kepada Gus Dur orang Papua tidak rela jika Gus Dur dihina.

"Itu Gus Dur Bapak kami, kamu jangan hina bapak kami, nanti kamu saya kasih mati," tegas Eman sambil mengungkapkannya dengan dialek Papua.

Saat ini, kata dia, masyarakat Papua mengajukan kepada DPP PKB untuk membangun Monumen Gus Dur. Keinginan tersebut oleh PKB akan diteruskan kepada Presiden Jokowi agar segera membangun monumen Gus Dur di Papua. (Aiz Luthfi/Zunus/NU Online)

Martin van Bruinessen: Gus Dur orang Indonesia paling beken

Martin van Bruinessen: Gus Dur orang Indonesia paling beken


Gusdurfiles.com ~ Peneliti dan Penulis Belanda Martin van Bruinessen mengatakan Kiai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur memiliki peran sentral dalam NU pada zamannya. Dia merupakan orang NU (Nahdlatul Ulama) yang mampu membuat warga Nahdliyin bangga terhadap organisasinya.

Gus Dur, kata dia, dikenal dekat dengan siapa saja dan kelompok mana saja. "Dengan tidak adanya Gus Dur, orang NU seperti tidak pede (percaya diri) lagi," kata Martin, peneliti dari Universitas Utrecht Belanda itu dalam dialog Islam Nusantara di Universitas Hasyim Asyari, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (01/08).

Peran Gus Dur paling penting bagi kemajuan NU adalah bisa membuat warga NU bangga dengan organisasinya.

"Gus Dur itu orang Indonesia paling beken di dunia. Dia kharismatik, dekat dengan siapa saja, kelompok mana saja, tidak hanya di Indonesia, bahkan sampai dunia," ujar Martin menegaskan.

Oleh sebab itu, menjelang Muktamar ke-33 NU di Jombang kali ini, dia berharap NU kedepan memiliki pemimpin yang kharismatik, toleran, dan dekat dengan siapa saja seperti Gus Dur.



Sumber :merdeka.com
Sindiran lucu Gus Dur untuk para wakil rakyat di DPR

Sindiran lucu Gus Dur untuk para wakil rakyat di DPR


Gusdurfiles.com ~ Kelakuan anggota DPR dari dulu ada-ada saja. Mulai korupsi, ribut sendiri sampai lobi-lobi demi kantong pribadi.

Dulu Presiden Gus Dur tak pernah akur dengan DPR. Sampai-sampai Gus Dur membuat dekrit untuk membubarkan DPR/MPR. Langkah itu dijawab anggota dewan dengan membentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk mengorek kasus Bulog dan Brunei.

Di hadapan DPR, Gus Dur melontarkan komentar bahwa DPR tak ubahnya taman kanak-kanak.

"Beda DPR dengan taman kanak-kanak memang tidak jelas," kata Gus Dur ketika itu.

Jelas itu mematik perang dengan DPR. Suasana politik pun makin gaduh.

"DPR sekarang, biarkan saja seperti ini. Termasuk adanya komisi tandingan dari Koalisi Kerakyatan. Karena DPR bukan taman kanak-kanak lagi tetapi sudah melorot menjadi playgroup," kata Gus Dur.

Tak cuma itu, Gus Dur menyebut menyebut DPR isinya orang-orang yang sombong sekali.

"DPR kita isinya orang yang nggak karu-karuan, sombongnya bukan main," demikian kata Gus Dur menyinggung perilaku DPR berkaitan dengan profesionalismenya, saat ramai isu memorandum II yang akan dijatuhkan DPR kepada Gus Dur saat menjabat presiden ke-4 RI.

Namun akhirnya Gus Dur kalah juga. Dia dilengserkan MPR dan digantikan oleh Presiden Megawati.


Sumber :merdeka.com
Rizal Ramli: Saya suka era Gus Dur, sering diberi misi khusus

Rizal Ramli: Saya suka era Gus Dur, sering diberi misi khusus


Gusdurfiles.com ~ Sejak dilantik menjadi menteri koordinator kemaritiman Agustus lalu, Rizal Ramli kerapkali mengurusi pekerjaan di luar kewenangannya. Semisal, Rizal pernah meminta Garuda Indonesia membatalkan pembelian 30 pesawat Airbus A350.

Padahal, itu merupakan urusan Kementerian Keuangan selaku pemegang saham perusahaan pelat merah. Dan, Kementerian BUMN selaku perwakilan pemegang saham.

Barangkali watak Rizal Ramli ingin terlibat dalam pekerjaan bukan urusannya terbentuk sejak dia menjabat Kepala Badan Urusan Logistik era Presiden Abdurrahman Wahid. Kala itu, dirinya pernah ditugasi membenahi Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN).

"Jadi saya suka seperti zaman Gus Dur, dikasih misi spesial. Misalnya waktu saya jadi Kabulog, Gus Dur telepon 'kamu benahi itu proyek IPTN, rugi ratusan miliar, IMF minta tutup'," ujar Rizal di kantornya, Jakarta (18/2).

Diperintahkan seperti itu, Rizal menjawab itu bukan tugas Kepala Bulog. Dia menyarankan Gus Dur untuk menugasi Menteri BUMN atau Menteri Perindustrian.

Namun, Gus Dur tetap berkeras memintanya membenahi IPTN.

"Saya masih ngeles, 'apa kata orang nanti, Kepala Bulog ikut beresin penerbangan'."

Gus Dur ternyata punya alasan untuk meminta Rizal menjalankan pekerjaan itu. Rizal sering mengkritik Habibie lantaran boros dalam mengelola perusahaan penerbangan.

"Gus Dur bilang 'kamu kena karma. Ngapain waktu muda kamu kritik dia. Sekarang kamu harus beresin'."

Alhasil, Rizal mengaku tetap melaksanakan mandat tersebut. Dirinya kemudian membentuk Satuan Tugas untuk membenahi IPTN.

"Saya bikin rencana supaya rugi ratusan miliar itu bisa untung paling enggak puluhan miliar," katanya.

"Bisnisnya bukan hanya bikin pesawat, tapi outsource sama Boeing dan Airbus. Saya ganti nama IPTN jadi Dirgantara Indonesia, saya ubah dari sekadar aircraft industry menjadi competitive industry. Jadi bukan industri yang asal-asalan, tapi yang competitive."

Selain itu, dia juga merombak jajaran petinggi IPTN.

"Direksinya saya ganti dengan yang muda-muda, penerusnya Habibie. Ternyata hanya dalam waktu lima tahun tadinya rugi ratusan miliar menjadi untung USD 16 miliar."


Sumber :merdeka.com
 Anak-anak Ruhani Gus Dur

Anak-anak Ruhani Gus Dur


Gusdurfiles.com ~ Dalai Lama, pemimpin spiritual dari Tibet, pernah bertemu dengan Gus Dur, dan ia "menitipkan" umat Budha di Indonesia pada cucu Kiai Hasyim Asy'ari itu. Seorang transmigran Hindu Bali, seorang lelaki yang senantiasa menitikkan air mata bila nama Tuhan disebut dalam bahasa apa pun, jauh-jauh dari Sulawesi Tengah, menemui Gus Dur di Ciganjur, juga menyatakan "menitipkan" umat Hindu di Indonesia pada pemimpin organisasi Islam terbesar sedunia itu.

Saat terjadi demo besar-besaran menolak Syiah di Bangil tahun 2007, serombongan ulama Syiah menemui Gus Dur mengadukan keadaan mereka. Gus Dur langsung menelpon ulama NU di Bangil dan memerintahkan untuk menjaga pemeluk Syiah dan mencegah segala bentuk kekerasan. Karena keberpihakannya terhadap "kelompok-kelompok ini", bermacam tuduhan dialamatkan kepada Gus Dur: Liberal, Syiah, Antek Israel, hingga... Murtad! Dan Gus Dur menanggapinya dengan guyonannya yang tak habis-habisnya.

Delapan tahun setelah tokoh besar ini meninggal, dunia berubah. Arab Spring pecah dan menyebar sejauh 2000 km sejak Libya hingga Suriah. Konflik-konflik sektarian terus meletus: Libya, Mesir, Iraq, Suriah dan Yaman. Dan boleh jadi sebentar lagi ke sini, ke Indonesia, dengan pola yang sama: Sunni vs Syiah, Muslim vs Kristen, Muslim vs Budha dll.

Gus Dur telah kembali ke alam tenang. Takdirnya selesai ditulis. Tapi kisahnya tetap mengabadi. Semangatnya tetap tumbuh. Cita-citanya tetap hidup diteruskan oleh anak-anak ruhaninya. Ya, anak-anak ruhani Gus Dur. Anak Ruhani dari seorang Kiai yang kalau berjalan harus dituntun karena saraf kranialis nomer 7 nya mengalami paralisis akibat stroke beberapa kali, tetapi ayunan jari telunjuknya bisa menggerakan ratusan ribu Banser dan puluhan juta Nahdliyin di seantero Indonesia. Anak-anak ruhani Gus Dur akan terus lahir.. lahir... lahir.. berjalan... berjalan.. hingga berlari... memesrai semua manusia, apa pun agamanya... menebar kedamaian di persada Nusantara. (Sumber: Fp mikirositik.com).

close
Banner iklan disini