Waqila: Soekarno adalah Salah satu dari 5 Kiai Khos Gus Dur

Waqila: Soekarno adalah Salah satu dari 5 Kiai Khos Gus Dur


Gusdurfiles.Com ~ Jika Anda pernah mendengar Gus Dur maju sebagai presiden karena perintah 5 kyai khos, maka, salah satunya adalah Soekarno.

Berita yang didapatkan admin Komunitas Islam Nusantara menyebutkan, 5 kyai paling khusus tersebut adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Mbah Hasyim As'ary, Habib Hasyim bin Yahya (kakek Habib Luthfi Pekalongan) dan Ir. Soekarno.

Mereka inilah yang walau sudah tiada, tetap masih memikirkan NKRI. Mimin percaya, para wali di Nusantara masih berkomunikasi dengan para wali yang masih hidup. Hanya dua presiden di Indonesia yang mendapat ma'rifat dari Allah, Gus Dur dan Soekarno.

Ketersambungan antara yang hidup dengan yang mati inilah yang ditakuti Yahudi. Hingga akhirnya, Anda lihat, Yahudi membentuk wahabi lewat tangan Inggris dulu. Dan apa yang dilakukan? Penghancuran amaliyah Aswaja yang sudah berjalan berabad-abad, tapi selalu yang berhubungan dengan kuburan, praktik ziarah, keyakinan orang mati tidak sirna, dll, atas nama rasionalitas.

Alfatihah ila ruhi Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Mbah Hasyim As'ary, Habib Hasyim bin Yahya, Gus Dur dan Soekarno.

Komunitas Islam Nusantara via muslimoderat

Humor Gus Dur: Khonghucu NU?

Humor Gus Dur: Khonghucu NU?



Gusdurfiles.com ~ Kisah ini kembali diceritakan Bunshu Bingky Irawan, anggota presidium Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN). Bingky, yang pada massa Orde Baru sering keluar masuk tahanan Kodam dan Polda akibat aktivitasnya itu, selalu mengikuti Gus Dur.

Dia bercerita, dalam suatu kesempatan, Bingky diajak Gus Dur ke Pesantren. Karena merasa tidak aman dikuntit Intel, Bingky akhirnya ikut Gus Dur. "Saya bilang, apa tidak bahaya gus saya ikut pesantren? Beliau jawab, tidak apa-apa kalau salau sama saya (Gus Dur)."

Sesampai di pesantren, benar saja, banyak yang bertanya. "Kok ada orang China ikut-ikut masuk pesantren? Lainnya menatap tidak mengenakkan."

" Gus Dur lalu memperkenalkan ke masyarakat. 'Ini orang Tiongkok yang tidak bisa salat tapi sudah NU," ujar Bingky menirukan Gus Dur. "Saya trus nanya, sampean bagaimana to gus, masak saya dianggap NU?"





Gus Dur jawab," Lha bener kan, biar selamat yang minoritas nderek (ikut) yang mayoritas." Mendengar jawaban Gus Dur, Bingky hanya jawab, "iya..,iya.., bener juga."

Menurut Bunshu, apa yang dimaksud oleh Gus Dur dengan guyonan tersebut adalah bahwa kaum Tiongkok di masa orde baru adalah kelompok minoritas dan tertindas.

Pesan yang dimaksud Gus Dur, orang NU sebagai golongan mayoritas diminta menjadi pelindung kelompok-kelompok minoritas.


Sumber :merdeka.com
Nyi Roro Kidul marah karena dipaksa Pakai Jilbab

Nyi Roro Kidul marah karena dipaksa Pakai Jilbab


Gusdurfiles.Com ~ Gus Dur ditanya serius tentang penyebab terjadinya gempa dan tsunami di Yogyakarta. Nah karena Gus Dur bukan ahli geologi maka dia menjawab sekenanya saja.
"Itu karena Nyi Roro Kidul marah karena dipaksa pakai jilbab," kata Gus Dur. Ceritanya, Gus Dur sedang menyindir kelompok umat Islam di Indonesia yang memaksakan peraturan daerah (Perda) syariat Islam.<> (Anam/NU Online)

Gus Dur dan Banyolannya Sehari setelah Lengser

Gus Dur dan Banyolannya Sehari setelah Lengser


Di antara sikap dan karakter Gus Dur yang mengagumkan adalah kesabaran dan ketabahannya saat ditimpa musibah dan menghadapi suatu cobaan. Tentu bukan sabar dan tabah dalam arti negatif berupa pasrah absolut atau lemahnya kemauan untuk bangkit, melainkan sabar dan pasrah (nrimo) dalam konotasi yang positif. Selain itu yang tak kalah mengagumkannya lagi dari tabiat Gus Dur ialah kemampuannya dalam mempertahankan sikap humorisnya dalam berbagai situasi dan keadaan, tak kecuali  dalam situasi genting sekalipun Gus Dur senantiasa bisa mengeluarkan joke segar yang menghibur khalayak.

Hal itu salah satunya terungkap dan tampak terutama ketika detik-detik dan hari-hari pasca beliau dilengserkan dari jabatan Presiden RI oleh MPR dalam Sidang Istimewa (SI) akhir bulan Juli 2001. Beberapa kesaksian dari para tokoh maupun pemberitaan media masa menyatakan bahwa meski mandatnya sebagai presiden telah dicabut MPR dalam SI MPR Juli 2001, namun hal itu tidak membuat Gus Dur bersedih. Apalagi meratapi atas hilangnya jabatan itu. Gus Dur masih tetap seperti dulu, baik sebelum atau pun waktu menjadi presiden, yaitu suka guyon dan mbanyol.

Dan itu pula yang dia tunjukkan ketika para kiai khos NU dari berbagai daerah dan pengurus DPP PKB (kala itu) menemui Gus Dur di istana negara, sehari setelah dia dilengserkan. Para Kiai itu, antara lain, Rais Syuriah PBNU, KH Muchit Muzadi, Mustasyar PBNU KH Ahmad Idris Marzuki (alm) dan KH Cholil Bisri (alm),  Ketua FKB MPR KH Yusuf Muhammad dan beberapa kiai dan tokoh lainnya.

Dalam pertemuan tersebut para Kiai maupun Gus Dur sama-sama menghindari membicarakan masalah politik. Melainkan Gus Dur justru bercerita yang membuat ger-geran semua yang hadir. 

Dalam kesempatan kunjungannya, para kiai dan tokoh-tokoh yang dekat dengan Gus Dur tersebut, dia bercerita, "Bahwa dulu ada seorang kiai di Denanyar Jombang yang pandai mengobati orang sakit. Tapi cara dan doa yang digunakan cukup unik."

"Suatu hari", kata Gus Dur, "Kiai itu mengobati orang sakit gigi. Dia mengambil paku, kemudian dimasukkan ke dalam mulut, persis di tempat gigi yang sakit. Setelah itu sang kiai membaca surat an-Nas. Ketika sampai ayat terakhir bunyinya bukan minal jinnati wan naas, tapi minal jinnati waras (sehat)."

Sudah barang tentu sikap yang ditunjukkan Gus Dur yang tetap sabar dan tidak kehilangan sence of humor-nya ini di luar dugaan semua yang hadir termasuk para kiai. Pasalnya, pada waktu yang sama umumnya tokoh NU maupun PKB sedang dalam puncang emosi lantaran tidak terima Gus Dur dilengserkan MPR melalui SI. Begitu pula warga nahdliyyin yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia waktu itu sedang dirundung kesedihan yang cukup mendalam menyaksikan pemimpin dan panutannya dilengserkan di tengah-tengah periode masa khidmahnya sebagai Presiden RI keempat.

Maksud kehadiran para kiai yang datang menemui Gus Dur pun sebenarnya dalam rangka menunjukkan solidaritas dan rasa simpati kalangan Kiai serta upaya untuk membesarkan hati (menghibur) Gus Dur setelah sebelumnya berbagai usaha telah ditempuh para kiai agar MPR tidak sampai menggelar SI yang berujung dengan dicabutnya mandat Gus Dur sebagai presiden. Diantara upaya itu adalah pada 19 Juli 2001 para kiai Jawa Timur yang di prakarsai PWNU Jawa Timur mennggelar pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Pertemuan tersebut di hadiri pula oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid. Kemudian pada 22 Juli 2001 juga diselenggarakan pertemuan yang sama dengan skala yang lebih besar di Pesantren As Sidiqiyyah Jakarta asuhan KH Nur Muhammad Iskandar. Kali ini melibatkan seluruh Kiai NU se Indonesia.

Pertemuan-pertemuan para kiai di atas dimaksudkan menghasilkan keputusan yang bisa menyejukkan bagi kondisi negeri tempo itu dan tidak sebaliknya membuat negeri ini kian memanas.

KH Ali Maschan Musa, Ketua PWNU Jawa Timur waktu itu, menyatakan bahwa dengan adanya forum pertemuan para kiai tersebut pada intinya para kiai menginginkan persatuan bangsa Indonesia tidak pecah. Dan salah satu syarat agar Indonesia tidak pecah adalah Gus Dur tidak dijatuhkan. Pertemuan semacam ini, menurut Kiai Ali, pernah dilakukan ketika presiden Soekarno mendapat banyak masalah. Ketika itu para kiai membahas apakah Soekarno presiden yang sah apa tidak. Ketika diputuskan bahwa Soekarno presiden yang sah, para kiai meminta jabatan itu diteruskan dan rakyat Indonesia diserukan untuk mendukungnya.  

M Haromain, Pengajar di pesantren Nurun Ala Nur, Bogangan Wonosobo.

Disarikan dari berbagai sumber, di antaranya:  
1. Harian Surya, Senin (30/7/2001)
2. Jawa Pos, Senin (16/7/2001)
3. M Rofiq Madji, Jurus Dewa Mabuk ala Gus Dur, Pustaka Tebu Ireng, 2012.


Humor Gus Dur: Para jenderal Orde Baru takut istri

Humor Gus Dur: Para jenderal Orde Baru takut istri


Gusdurfiles.com ~ Gus Dur selalu punya kisah humor lucu. Menurutnya, para jenderal di Orde Baru terbagi dalam dua kelompok. Pertama jenderal yang takut istri, kedua jenderal yang tidak takut istri.

Nah, dalam setiap pertemuan mereka selalu memisahkan diri. Jenderal yang takut istri berada di sebelah kiri ruangan. Sementara jenderal yang tidak takut istri berada di kanan.

Suatu ketika dalam suatu pertemuan ada seorang jenderal yang mestinya tergabung dalam kelompok jenderal takut istri duduk bersama kelompok jenderal yang tidak takut istri.

Teman-temannya, para jenderal yang takut istri protes. "Eh kenapa kamu duduknya di situ bareng jenderal yang tidak takut istri? Memangnya sekarang kamu sudah berani sama istrimu?"

Kata si jenderal, "Wah nggak tahu deh. Saya disuruh istri saya duduk di sini! Ya saya duduk saja."


Sumber :merdeka.com
Humor Gus Dur tentang perpaduan Albert Einstein & Marilyn Monroe

Humor Gus Dur tentang perpaduan Albert Einstein & Marilyn Monroe


Gusdurfiles.com ~ Abdurrahman Wahid alias Gus Dur memang tokoh yang dekat dengan para aktivis perempuan. Namun dalam pergaulan sehari-hari dengan mereka Gus Dur juga sering bikin lelucon yang membikin para aktivis perempuan tidak berkenan. Bahkan sampai marah besar, seperti kisah berikut ini.

Dalam suatu forum yang membahas isu kesetaraan perempuan dengan laki-laki, Gus Dur didaulat menjadi pembicara. Tepatnya sebagai penanggap dari presentasi aktivis perempuan yang menggambarkan masalah kesetaraan gender di Indonesia, zaman Orde Baru, waktu itu.

"Kita sering mendengar cerita perpaduan laki-laki ideal dengan perempuan ideal," kata Gus Dur setelah dipersilakan bicara oleh moderator.

Lalu Gus Dur membayangkan, Albert Einstein kawin dengan Marilyn Monroe. "Mereka akan melahirkan anak yang otaknya cerdas seperti Eisntein, wajahnya cantik seperti Monroe," tutur Gus Dur yang membuat hadirin manggut-manggut.

"Tapi kemungkinan lain juga bisa terjadi," sergahnya. "Mereka bisa melahirkan anak yang otaknya seperti Monroe, wajahnya seperti Einstein," tutur Gus Dur lirih yang diikuti gemuruh tawa hadirin.

Kontan saja, lelucon Gus Dur itu disambut tidak baik oleh aktivis perempuan yang jadi pembicara. Tak tahan dengan ketawa hadirin berkepanjangan, dia angkat bicara.

"Inilah bentuk pelecehan terhadap perempuan. Anda semua ketawa dengan lelucon Gus Dur yang melecehkan perempuan. Perempuan direndahkan, dianggap bodoh." Pernyataan itu langsung menghentikan tawa hadirin, dan bikin hening.

Moderator pun mempersilakan Gus Dur bicara kembali. "Ya, biasanya lelucon itu bikin ketawa. Tapi kali ini juga bikin marah," kata Gus Dur yang mengundang tawa lagi.

Rupanya pernyataan Gus Dur ini membuat aktivis perempuan tersebut tidak tahan. Dia pun bangkit dan meninggalkan tempat duduknya.


Sumber :merdeka.com
Humor Gus Dur: Bermimpi ketemu Bung Karno saat penataran P4

Humor Gus Dur: Bermimpi ketemu Bung Karno saat penataran P4


Gusdurfiles.com ~ Ketika Orde Baru masih berjaya, Gus Dur diikutkan dalam penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Sampai runtuhnya Orde Baru, Gus Dur memang masih tercatat sebagai salah seorang manggala BP-7. Seperti biasa, saat memasuki ruang penataran, Gus Dur lebih banyak tidur ketimbang mendengar ceramah para menggala, termasuk pada saat diskusi-diskusinya.

Hal itu membuat para peserta penataran emosi. Pada acara sesi diskusi, Gus Dur dibangunkan untuk ikut berbicara.

"Ayo, jangan tidur saja. Ini kita sedang membicarakan demokrasi," kata sang penatar P4, seperti dikutip dari tulisan Mahfud MD dalam buku berjudul, Gus Dur: Islam, Politik, dan Kebangsaan.

Karena dibangunkan, terpaksa lah Gus Dur berbicara. "Ini diskusi demokrasi ya? Kebetulan, ketika tidur tadi saya bermimpi bertemu dengan Bung Karno, Beliau menjelaskan kepada saya tentang demokrasi yang dipidatokan tanggal 1 Juni," kata Gus Dur memulai pembicaraannya.

Namun belum selesai Gus Dur bicara, para peserta yang lain sudah nyeletuk tidak puas. "Yang serius dong. Ini kan penataran tingkat nasional," kata seorang peserta. "Ya, masak kita mau membahas mimpi," celetuk yang lain. "Ya, yang benar saja, topik serius jangan dibawa ke soal mimpilah," kata yang lain menyahut.

Dari sinilah dengan cerdik dan cerdas Gus Dur kemudian masuk ke soal substansial. "Bagaimana anda-anda ini mau berbicara dan membangun demokrasi, kalau orang bermimpi saja dilarang? Di dalam demokrasi itu ada kebebasan, termasuk bebas bermimpi. Kalau anda berani melarang orang bermimpi pasti anda akan berani melarang orang menggunakan haknya yang lebih penting. Itu bertentangan dengan demokrasi," Kata Gus Dur dengan suara keras dan serius.


Sumber :merdeka.com
Saat Wafat, Wajah Gus Dur bercahaya

Saat Wafat, Wajah Gus Dur bercahaya

Gusdurfiles.Com ~ Jenazah Gus Dur disemayamkan di ruang tengah, di bawah lampu kristal. Pukul 00.28, Kamis (31/12) sholat jenazah dilakukan secara bergantian.
Terlihat Ali Mochtar Ngabalin, mantan anggota DPR RI ikut mensholatkan Gus Dur di barisan depan. Di belakangnya, terdapat puluhan orang yang ikut sholat.

Ruangan seluas 50m2, terlihat sesak penuh oleh pengunjung. Para pengunjung bergantian masuk. Kawasan Warung Sila, Ciganjur penuh dengan ribuan orang,
Jenazah Gus Dur diletakkan di atas tempat tidur dengan ditutupi kain putih. Bagian wajah ditutupi dengan kain transparan.
Para tamu yang bergantian men-sholatkan jenazah, menyaksikan betapa wajah Gus Dur terlihat bersih dan bercahaya.

Dari kain kerudung transparan, wajah Gus Dur tampak berbeda dari biasanya. Lebih putih dan bersih.
Meski, suasana di rumah itu begitu terasa sedih. Beberapa orang meneteskan airmata.
Di depan pintu, ada mantan asisten pribadi Gus Dur, Al Zastrow. Dia memandu orang-orang untuk sholat jenazah.

Terlihat juga putri pertama Gus Dur, Alissa yang terus menerus didatangi tamu dan bersalaman. Semuanya terlihat memberi dukungan agar keluarga Gus Dur tabah.[im



Sumber :muslimoderat
Gus Dur dan 7 'orang gila' dari Jombang

Gus Dur dan 7 'orang gila' dari Jombang


Gusdurfiles.com ~ Semua orang pasti cinta dan bangga dengan kota kelahirannya, termasuk mantan Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur . Banyak cara orang menunjukkan kebanggaan itu. Gus Dur misalnya, dengan cara humor dia pun bangga dengan tokoh-tokoh asal kota kelahirannya, Jombang.

Seperti dikutip dari Koran TEMPO edisi Senin, 23 Desember 2002, bagi Gus Dur , kota kecil di provinsi Jawa Timur itu telah melahirkan 'tokoh-tokoh gila' untuk negeri ini.

Paling tidak, kata dia, kota Jombang telah melahirkan tujuh 'orang gila' Indonesia. Urutan pertama, kata Gus Dur , adalah Dr. Nurcholis Madjid. Berada di urutan kedua, dia sendiri (Abdurrahman Wahid). Ketiga adalah budayawan Emha Ainun Najib.

Sementara urutan keempat, Gus Dur menyebut Wardah Hafizd. "Dia itu pejuang kaum miskin, membela para tukang becak di Jakarta," kata Gus Dur waktu itu.

Keempat, Sono Hafizd, kakak kandung Wardah Hafid. Menurut Wahid, Sono Hafid ini pernah menyerbu markas kepolisian di Cicendo, Jawa Barat. Keenam, Asmuni Srimulat. "Barangkali Asmuni inilah orang yang paling gila di antara kami," ujarnya sembari tergelak saat bicara di kantor Dian Interfidei, Jalan Banteng Utama 59 Yogyakarta, Jumat (20/12).

Orang ketujuh yang masuk daftar 'orang gila' kelahiran Jombang, menurut Gus Dur , adalah Abubakar Baasyir, Amir Majelis Mujahidin. Baasyir banyak dikait-kaitkan dengan kasus terorisme. Sayangnya, Gus Dur tak memerinci bagaimana 'kadar kegilaan' tujuh orang tokoh kelahiran Jombang ini.

Jombang memang unik. Di kota kecil itu banyak bercokol tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh besar di republik ini. Kiai, budayawan, komedian, politisi, pejabat publik, penyanyi, hingga dukun lahir dari kota itu.

Seperti termuat dalam buku berjudul: "Orang-orang Jombang" yang ditulis pemerintah kabupaten. Dari kota kelahiran Gus Dur itu bercokol nama-nama hebat. Selain 7 orang yang disebut Gus Dur , masih ada nama lain di antaranya; Hasyim Asy'ari, A Wahid Hasyim, Wahab Hasbullah, Bisri Syansuri, dan Musta'in Romli.

Belum lagi nama penyanyi Gombloh yang popular dengan lagunya "Kebyar-kebyar", kemudian budayawan Cak Durasim yang namanya diabadikan sebagai nama tempat pusat kebudayaan di Surabaya, lalu nama tokoh ludruk Markeso dan Bolet. Generasi sekarang ada nama Muhaimin Iskandar, menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Selain melahirkan tokoh, Jombang juga melahirkan orang-orang unik, bahkan cenderung berperilaku ganjil. Sebut saja nama Choirun si haji nunut asal Sumobito yang namanya menggemparkan Indonesia pada pertengahan 1990 silam.

Nama lain? Anda tentu ingat dengan dukun cilik Ponari dan Very Idham Henyansyah alias Ryan si jagal dari Jombang. Jangan lupakan pula nama Eyang Subur yang sempat berseteru dengan artis Adi Bing Slamet.

Jombang diambil dari kata Ijo dan Abang. Kota kecil dengan luas wilayah sekitar 1.159,50 kilo meter persegi, itu merupakan titik temu perpaduan dua budaya. Konon, kata Jombang merupakan akronim dari kata Ijo dan Abang. Ijo mewakili kaum santri (agamis), dan abang mewakili kaum abangan (nasionalis/kejawen yang lekat dengan budaya Matraman).

Kedua kelompok tersebut hidup berdampingan dan harmonis di Jombang sejak lama. Bahkan ada yang menyebut sejak zaman Majapahit silam. Di kota itu masyarakat lintas agama dan budaya hidup rukun berdampingan, dan nyaris tak pernah muncul gesekan.

Lepas dari semua itu, seperti daerah-daerah lain, Jombang juga turut melahirkan tokoh-tokoh penting di negeri ini, termasuk Gus Dur .

Anda tentu sepakat, Gus Dur sekarang tak bisa hanya diklaim milik orang Jombang. Sebab dia telah menjadi milik orang Indonesia bersama tokoh-tokoh penting lain dari daerah itu, yang tak sedikit memberi kontribusi untuk keutuhan republik ini.


Sumber :merdeka.com
Ini cara Gus Dur ubah keangkeran Istana Merdeka

Ini cara Gus Dur ubah keangkeran Istana Merdeka



Gusdurfiles.com ~ Segera setelah dilantik menjadi Presiden RI keempat pada 20 Oktober 1999, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur segera menggagas strategi pemerintahannya. Dia misalnya, akan pulang ke Ciganjur sebulan sekali untuk melakukan salat Jumat di masjid setempat, dan kemungkinan bertanya jawab dengan rakyat.

Untuk urusan pribadi, Gus Dur akan menerima tamu di rumah Ciganjur, sementara urusan negara di Istana Merdeka. Seperti ditulis Greg Barton dalam buku Biografi Abdurrahman Wahid, Gus Dur sekeluarga juga berniat tinggal di Istana Merdeka, yang dulunya kediaman gubernur jenderal Belanda.

Soekarno menggunakan Istana Merdeka sebagai tempat kediaman resmi, sementara Soeharto hanya datang setahun sekali dan tidak pernah tidur di sana. Kata Barton, Soeharto biasanya menghabiskan setengah dari malam 17 Agustus di sana. Penguasa Orde Baru itu jelas tidak betah dan takut karena hantu-hantunya. Artinya, Istana Merdeka sudah lama tidak digunakan.

Ada cerita unik, ketika Gus Dur sekeluarga pindah ke Istana, mereka dihentikan di pintu masuk dan diberitahu bahwa mereka harus bernegosiasi dengan roh halus penjaga Istana. Mereka yang percaya segera yakin Istana ini ada hantunya, terutama sebuah kamar di ujung ruang utama. Ruang itu dibuka setahun sekali sebagai tempat penyimpanan bendera pusaka.

Hal itu dibenarkan Munib Huda Muhammad, ajudan Gus Dur yang paling setia. Dia mengatakan, orang-orang di Istana Merdeka benar-benar yakin ada hantu menghuni Istana itu. Bahkan dia memercayainya. "Kalau saya sendiri memang merasakan banyak hantu di situ. Wong sudah berpuluh-puluh tahun tidak digunakan. Serem memang," ujarnya kepada merdeka.com, Kamis (12/12).

Karena takut hantu, kata dia, tidak ada yang berani membersihkan tempat yang akan didiami Gus Dur. Dia mencontohkan, untuk membersihkan lantai empat dan lima di Wisma Negara saja tidak ada yang berani, takut dengan hantu yang menunggu di sana. "Ga ada yang berani, ikan Arwana sampai mati di aquarium ga diberi makan karena takut."

Begitu Gus Dur datang, mendadak semua orang menjadi berani. Para penjaga istana juga menjadi tidak takut dengan hantu-hantu di Istana. Pertanyaannya, cara apa yang dipakai Gus Dur sehingga keangkeran Istana menjadi hilang? Apakah memakai cara mistis, dukun, atau ritual-ritual?

Menurut Munib, bukan cara-cara mistis seperti itu dipakai Gus Dur untuk mengusir keangkeran Istana. Meski dia yakin Gus Dur sebenarnya merasakan soal hantu-hantu itu, yang kemudian berkembang cerita bermacam-macam di kalangan masyarakat. Namun terlepas dari semua itu, dia melanjutkan Gus Dur punya cara logis untuk mengusir keangkeran Istana.

"Begitu Gus Dur datang, Istana dibuka seluas-luasnya bagi masyarakat. Istana ini kan punya negara, jadi masyarakat berhak memiliki. Jadi orang-orang dibolehkan ke sana, sehingga Istana menjadi ramai."

Terbukti, hanya di era Gus Dur Istana Merdeka ramai dan tidak angker lagi. Semua orang bisa masuk ke sana bertemu dengan Gus Dur, mulai dari pejabat, politisi, masyarakat umum, hingga kiai.


Sumber :merdeka.com
Gus Dur jadi presiden ketika NKRI nyaris pecah

Gus Dur jadi presiden ketika NKRI nyaris pecah


Gusdurfiles.com ~ Pada 20 Oktober 1999, Abdurrahman Wahid dilantik menjadi presiden RI keempat, menggantikan Bacharuddin Jusuf Habibie. Gus Dur, demikian Abdurrahman Wahid disapa, menjabat sebagai presiden di negeri yang sedang terpuruk akibat krisis ekonomi hingga berujung pada reformasi 1998 untuk menggulingkan Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun.

Belum lagi ancaman perpecahan (disintegrasi) wilayah-wilayah kepulauan NKRI. Pada pemerintahan Habibie sebelumnya, Timor Timur lebih dulu memilih merdeka melalui jajak pendapat pada 1999. Kondisi negara diperparah dengan masalah pemberontakan di Aceh dan Papua, kerusuhan Ambon dan Poso, serta reformasi birokrasi warisan Soeharto.

Namun kebijakan-kebijakan yang diambil Gus Dur ternyata tidak selalu dianggap benar. Untuk menyelesaikan masalah ancaman disintegrasi misalnya. Seperti dikatakan Gus Dur dalam acara Kick Andy pada 2010. Dia mengunjungi 50 negara di lima benua tujuannya untuk melobi dan meyakinkan negara lain bahwa kondisi Indonesia kondusif.

Kunjungan ala Gus Dur ini dikritik berbagai pihak dan dianggap pemborosan anggaran karena ongkosnya mencapai sekitar Rp 105 miliar. Perinciannya, Rp 40 miliar untuk biaya perjalanan dan Rp 65 miliar untuk membayar tagihan sewa pesawat Garuda Indonesia. Tapi apa jawaban Gus Dur. "Tapi eksistensi Indonesia di mata Dunia harganya lebih mahal dari itu," ujarnya.

Dia menjelaskan, tugasnya sebagai presiden ketika itu adalah menjaga NKRI agar tidak terpecah belah pasca-reformasi 1998. Sebab perpecahan telah mengancam negeri ini. Oleh sebab itu, untuk menjaga negeri ini agar tetap utuh, dibutuhkan lobi-lobi dan pengakuan dari negara-negara lain di dunia. "Dan berhasil to..!!," kata Gus Dur.

Gus Dur pula yang menggagas bahwa Soeharto harus diadili, hartanya disita, lalu Soeharto dimaafkan. Hingga akhirnya, untuk pertama kalinya, pada 30 Agustus 2000 dilaksanakan pengadilan terhadap Soeharto. Dia juga membubarkan Kementerian Sosial karena dianggap sarang koruptor, serta membubarkan Kementerian Penerangan.

Namun demikian, perjalanan roda pemerintahan Gus Dur memang sulit. Seperti ditulis Greg Barton dalam buku Biografi Abdurrahman Wahid. Selain harus menyelesaikan masalah ancaman disintegrasi, masalah krisis moneter, masalah KKN yang akut, Gus Dur juga harus berhadapan dengan lawan-lawan politik, terutama dari orang-orang Soeharto yang masih tersisa.

Kurang lebih selama 21 bulan menjabat sebagai presiden, Gus Dur harus merombak kabinet di tengah jalan. Dia juga berulang kali memecat menteri, misalnya Wiranto, Jusuf Kalla, Laksamana Sukardi, Yusril Ihza Mahendra, dan beberapa menteri lain. Bahkan dalam guyonannya, Jusuf Kalla menyebut, "Gus Dur setiap dua bulan sekali memecat menteri."

Kebijakan Gus Dur yang progresif ini tentu menjadi sasaran kritik. Apalagi, Gus Dur juga beberapa kali terlibat perseteruan dengan DPR. Bahkan hubungan Gus Dur dan DPR ini mencapai titik nadir yang berujung pada pemakzulan pada 23 Juli 2001, digantikan wakilnya Megawati Soekarnoputri.

Sebagai presiden arah pikiran Gus Dur memang dikenal sulit ditebak. Pada kurun waktu tersebut, menurut Barton, hubungan antara Gus Dur dengan banyak pihak menjadi tidak baik, misalnya dengan DPR, media, dan TNI (terutama setelah memecat Wiranto). Berbagai media di dalam maupun luar negeri ramai-ramai mengkritik Gus Dur.

Media luar negeri misalnya majalah Asiaweek dan Time. Asiaweek, pada 17 Juli memuat gambar kulit muka Gus Dur dengan keadaan sedih dan kehilangan arah. Di bawah kulit muka ada tulisan, "Terombang-ambing: Melihat ke dalam pemerintahan Indonesia yang tengah tenggelam di tangan Gus Dur."

Sedangkan majalah Time, terbitan 3 Juli memuat gambar wajah Gus Dur dengan judul tegas: "Kesulitan-Kesulitan Wahid". Sedangkan sub-judulnya berbunyi: "Visioner pada suatu saat, samar-samar pada saat yang lain, Presiden Indonesia mungkin kehilangan kendali atas negaranya yang terburuk."

Hingga bulan-bulan terakhir menjelang pelengseran, Gus Dur diterpa banyak masalah dan isu kasus korupsi. Mulai dari masalah politik, perseteruan dengan DPR, hingga dugaan kasus korupsi Buloggate dan Bruneigate (yang tidak pernah terbukti sampai kini). Puncaknya ketika Gus Dur mengeluarkan dekrit pembubaran DPR.

Hingga akhirnya pada 23 Juli 2001, Gus Dur dituntun ke depan Istana memakai celana kolor dan kaos sambil melambaikan tangan. Gus Dur dilengserkan.



Sumber :merdeka.com
Guyonan Gus Dur: Antara kampus dan bioskop

Guyonan Gus Dur: Antara kampus dan bioskop



Gusdurfiles.com ~ Rupanya hobi nonton Gus Dur tak mengenal tempat dan waktu. Ia paling tak berdaya melihat gedung bioskop. Kalau sudah melihat gedung bioskop, bisa dipastikan ia akan kebelet nonton.

Ini cerita Kyai Mustofa Bisri, sewaktu mereka sama-sama belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Suatu ketika, kata Gus Mus, dia dan Gus Dur akan ke kampus. Karena jarak tempat tinggal mereka dengan kampus lumayan jauh, mereka pun naik bus kota yang penuh sesak.

Selang beberapa halte menjelang kampus, mereka baru mendapat tempat duduk. Tak lama kemudian, tibalah bus itu ke kampus yang dituju.

Saat diajak turun, Gus Dur menolak. "Tanggung, baru duduk kok sudah disuruh turun," kilah Gus Dur. Gus Mus pun manut saja, tetap dalam bus, sampai bus itu tiba di dekat pasar.

Di dekat pasar itu, ada sebuah gedung bioskop, kebetulan sedang memutar sebuah film Prancis. Hari itu hari terakhir film tadi diputar. Lalu Gus Dur merogoh kantong, seperti mau mengeluarkan uang. Eh, yang muncul malah karcis bioskop!

Ternyata Gus Dur pergi tak hendak ke kampus, tapi memang sudah berniat nonton bioskop.


Sumber :merdeka.com
Kisah Vespa hijau dan es lilin Gus Dur di Jombang

Kisah Vespa hijau dan es lilin Gus Dur di Jombang


Gusdurfiles.com ~ Ada nasihat dari orang bijak, "jangan lihat enaknya saja, tapi lihat juga bagaimana prosesnya". Begitu juga ketika anda melihat sosok Gus Dur. Riwayat hidup mantan presiden RI keempat itu-- sebelum menjadi tokoh hebat--sebenarnya juga tidak enak-enak amat. Bahkan putra mantan Menteri Agama pertama RI Abdul Wahid Hasyim, tersebut juga pernah hidup kekurangan.

Kisah itu terjadi ketika Gus Dur berada di Jombang, Jawa Timur. Pada 14 Mei 1971, Gus Dur pulang ke Jawa setelah menempuh studinya di Kairo, Mesir, dan Universitas Baghdad, Irak. Sepulangnya, Gus Dur tidak tinggal di Jakarta, melainkan di Jombang bersama istrinya, Shinta Nuriyah. Gus Dur, ketika itu pada 1972, mencukupi kehidupan keluarganya dengan berceramah dan mengisi seminar-seminar keliling Jawa.

"Selain itu Gus Dur juga menulis kolom untuk majalah dan koran berita nasional. Kolom-kolom Gus Dur rupanya mendapat sambutan baik dan cepat Gus Dur dianggap sebagai pengamat sosial yang sedang naik daun," kata Greg Barton, penulis Biografi Gus Dur.

Hingga pada 1973, kehidupan Gus Dur dan Nuriyah serba baik-baik saja. Rumah baru mereka di Kompleks Pesantren Kiai Bisri Sansuri, telah rampung. Anak pertama mereka, Alissa Wahid, baru saja lahir. Selain berceramah dan menulis kolom, Gus Dur juga bekerja di LP3ES. Namun demikian, pada akhirnya masalah keuangan tetap membelit juga. Gus Dur dan Nuriyah harus kerja keras untuk menghidupi keluarganya.

Karena kekurangan, Nuriyah akhirya membuka usaha berjualan makanan kecil di rumahnya, yakni menjual 'kacang Tayamum' (kacang yang digoreng dengan pasir). Setiap malam Gus Dur dan Shinta menyiapkan kacang Tayamum ini untuk di jual esoknya kepada ribuan santri. Gus Dur memasukkan sekitar 25 kacang ke kantong plastik, kemudian Shinta menutup plastik memakai lilin.

Ibu Gus Dur juga membelikan sebuah sepeda motor Vespa warna hijau. Vespa itu dipakai Gus Dur untuk melakukan segala aktivitasnya: mengajar, ceramah, belanja, dan berjualan. Setiap pagi, Gus Dur memakai Vespa tersebut untuk mengantar 15 tremos es lilin keliling ke tempat-temat strategis di wilayah Kota Jombang.

Dengan cepat es lilin itu menjadi populer dan dikenal sebagai "es lilin Gus Dur". Walhasil, usaha kacang Tayamum dan es lilin itu tidak besar, tapi, kata Shinta Nuriyah cukup berhasil. Usaha itu terus dilakoni Gus Dur hingga beberapa tahun berikutnya.

Kisah Vespa hijau dan segala aktivitas Gus Dur ini dibenarkan Abah Fathonah, salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Putra di Tambakberas. Dia hanya sempat menyaksikan sepenggal kisah hidup Gus Dur di Tamakberas. Menurut dia, dulu Gus Dur biasa-biasa saja, sederhana dan tidak bermewah-mewahan.

"Bajunya biasa, tidak terlalu rapi. Ke mana-mana, misalnya mengajar, naik seped motor Vespa. Saya ingat, kalau bensin habis, motornya di gulingkan juga. Orangnya ramah, senang humor. Sekarang saksi-saksi orang seumuran Gus Dur sudah meninggal semuanya," ujarnya. Sekarang di mana Vespa Gus Dur itu? Abah Fathonah menjawab sambil tertawa, "hehehe..,tidak tahu".


Sumber :merdeka.com
'Jug ijag ijug', humor Gus Dur naik kereta

'Jug ijag ijug', humor Gus Dur naik kereta

Gusdurfiles.com ~ Setelah mendapat larangan dari dokternya untuk tidak melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan pesawat terbang, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada suatu ketika pernah meminta untuk bepergian jauh menggunakan kereta api.

Namun dokter merasa tidak yakin dengan keinginan Gus Dur tersebut. "Anda mau pergi naik kerata api Gus? Memangnya Anda pikir bisa sampai tepat waktu dengan naik kereta api?" canda si dokter.

"Anda jangan meremehkan, kereta itu cepet banget loh!" jawab Gus Dur dengan mantap.

Sang dokter tak mau kalah, lalu berkata, "Kereta api mana yang bisa menandingi kecepatan pesawat terbang?" tanya dokter.

"Wooo.. Anda jangan salah. Semua kereta api bisa lebih cepat dari pesawat," Gus Dur tetap tak mau kalah.

"Anda mimpi kali. Semua orang juga tahu kalau pesawat itu jelas lebih cepat dibandingkan kereta api," cecar sang dokter.

"Wah, Anda salah. Memang sekarang ini pesawat lebih cepat. Tapi itu karena kereta api baru bisa merangkak. Coba kalau kereta api nanti sudah bisa berdiri dan bisa lari. Wuiih.. pasti bakalan jauh lebih cepat dari pesawat," jawab Gus Dur, disambut wajah kecut sang dokter.


Sumber :merdeka.com
Inilah asal-usul ungkapan Gus Dur, "Gitu aja kok repot?"

Inilah asal-usul ungkapan Gus Dur, "Gitu aja kok repot?"


Gusdurfiles.com ~ Ungkapan "gitu aja kok repot" memang lekat dengan sosok mantan Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur . Ungkapan itu kerap mengalir spontan dan lancar dari Gus Dur, terutama setiap kali berhadapan dengan masalah. Istilah kian popular ketika cucu pendiri NU Hasyim Asyari itu menjabat presiden, dan kerap mengulang-ulang ungkapan secara spontan di depan wartawan.

Media tentu akan memilih kutipan yang memenuhi kriteria layak berita. Sesuatu yang biasa-biasa saja tak akan dimuat di ruang edit. "Gitu aja kok repot" adalah favorit media ketika mengutip almarhum Gus Dur pada saat menjadi presiden selama 21 bulan pada 1999 hingga 2001.

Meskipun banyak kalimat lain yang lebih bernas. Pilihan istilah itu memenuhi unsur "kontroversial" dalam kriteria layak berita. Buktinya, ungkapan tersebut awet sampai kini, dan seperti sudah melekat pada sosok Gus Dur . Semua orang pasti tahu siapa pemilik ungkapan tersebut.

Menurut Bambang Susanto, orang kepercayaan Gus Dur menjelang akhir-akhir sebelum wafat, pernah suatu ketika Gus Dur diwawancarai reporter salah satu televisi swasta nasional. Dalam sebuah sesi tanya jawab, Gus Dur diminta mengulang ungkapan 'gitu aja kok repot', tapi ditolak.

"Saya tidak tahu mulai kapan ungkapan muncul, kalau tidak salah kan media yang pertama kali menulis. Tapi biasanya ungkapan itu keluar spontan, Gus Dur tidak mau mengulang. Biasanya ada yang menyeting, tapi beliau tidak mau," ujar Bambang yang kini menjabat sebagai Wakil Bendahara Umum PKB itu.

Lalu sebenarnya sejak kapan Gus Dur menggunakan istilah itu? Sampai kini memang tidak ada catatan resmi dan pasti. Sebagai sebuah ungkapan, dulu mungkin istilah itu dianggap biasa.

Seperti dikatakan salah satu ajudan Gus Dur , Munib Huda Muhammad. Munib nyantri di Ciganjur sejak awal 1998. Sebagai santri, dia terus mendampingi Gus Dur hingga meninggal pada akhir 2010. Dia pula yang menjadi orang kepercayaan Gus Dur saat menjabat sebagai presiden selama 21 bulan.

Menurut Munib, ungkapan "gitu aja kok repot" sebenarnya sudah sering dilontarkan Gus Dur jauh sebelum menjabat presiden. Sepengetahuannya, Gus Dur kerap memakai istilah itu dalam pidato-pidatonya, ketika bertemu seseorang, atau dalam forum-forum diskusi.

"Sejak awal 1998 sudah ada (ungkapan itu). Dalam pidato-pidato sering, pas ketemu orang juga. Terus kan berkembang, dan ramai ketika dikutip media massa yang perhatian pada istilah itu. Tidak disetting, itu keluar spontan dari beliau," ujarnya.

Lalu apa arti ungkapan "gitu aja kok repot"? Munib menjelaskan, ungkapan itu merupakan bentuk kepasrahan tingkat tinggi kepada Allah SWT. "Artinya, emang semua ini yang ngatur kita apa? yang ngatur kan Alloh. Jadi ini ungkapan tasawuf yang diyakini betul, makanya enak betul Gus Dur hidupnya, melihat semuanya serba ringan."

Sementara itu, putri Gus Dur , Zanuba Arifah Chafsoh alias Yenny Wahid , menyebut ungkapan itu berasal dari ilmu fikih, yakni dari kosakata arab "Yasir Wa La Tuasir" yang artinya permudah dan jangan dipersulit.

Oleh karena itu, sambung Yenny, ayahnya tidak pernah mempersulit segala urusan. Semua orang yang mengalami kesulitan dan datang ke Gus Dur akan selalu dibantu. Gus Dur tidak pernah memandang latar belakang, suku, ras, agama, dan golongan.


Sumber :merdeka.com
Cerita Jaya Suprana bikin jengkel pendeta karena Gus Dur

Cerita Jaya Suprana bikin jengkel pendeta karena Gus Dur


Gusdurfiles.com ~ Jaya Suprana mengaku sangat mengagumi KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur meski berbeda keyakinan. Ibaratnya, Jaya rela masuk neraka jika ada Gus Dur di neraka.

"Betapa saya kagum pada Gus Dur, betapa saya penuh harapan pada Gus Dur," katanya saat menjadi pembicara Muktamar PKB 2014 di Surabaya, Minggu malam (31/8).

Jaya menceritakan, ketika Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009 lalu, dia sangat berharap, suami Sinta Nuriyah Wahid itu mendapat tempat laik di sisi Tuhan.

"Di agama saya (Kristen) ada kepercayaan, kalau ingin masuk surga, harus percaya pada nabi kita, Yesus Kristus, itu ajaran agama kami. Saya kan bingung, sahabat saya (Gus Dur) kan bukan pemeluk agama saya," jelas Jaya.

Dia sempat bertanya dalam hati, apakah Gus Dur masuk surga? Karena ragu, Jaya mendatangi pendeta untuk berkonsultasi.

"Saya tanya ke pendeta saya: Apakah Gus Dur bisa masuk surga? Lah kalau Gus Dur masuk surga ya gimana wong ajarannya begitu (beda agama), kalau gak masuk surga ya gimana? Saya kejar jawaban itu, akhirnya dia (pendeta) jengkel," cerita Jaya.

Tak mendapat jawaban pasti, akhirnya Jaya menyimpulkan sendiri. Katanya, dia memberi dua kesimpulan berdasarkan versi dia sendiri.

"Akhirnya saya ambil kesimpulan, ada dua kemungkinan, kalau gak masuk surga ya jadi setan gentayangan. Masuk neraka kan, waduh saya bingung. Kemudian saya bilang ke pendeta, kalau saya mau masuk neraka saja. Loh kok, kata si pendeta bingung," tutur Jaya.

Karena kerap dibuat Bos Jamu Jago itu bingung, terlebih dengan pertanyaan soal kematian Gus Dur itu, si pendeta memaki Jaya. "Dia (pendeta) bilang, kalau saya gila. Banyak orang ingin masuk sorga saya kok malah mau masuk neraka. Ya saya bilang ke pendeta, kalau saya masuk surga, saya bersama orang-orang seperti Anda, sama-sama bingung," jelas dia.

"Sedangkan kalau masuk neraka saya bersama orang-orang baik seperti Gus Dur," tambah Jaya.


Sumber :merdeka.com
Untuk Gus Dur, Alfaatihah ...

Untuk Gus Dur, Alfaatihah ...



Gusdurfiles.Com ~ Sebuah truk bergambar GUS DUR Nopol AG 5492 GG bertuliskan Mina Expedition baru saja (jam 22.15 WIB) melintas pelan dijalan Tol dari Surabaya arah Gresik.
Aku sempat menyalipnya karena truk tersebut beriringan dengan truk-truk besar lainnya, namun karena aku juga melintas dengan kecepatan sedang jadi sekilas mata sempat melihatnya. Untuk memastikan penglihatanku maka mobilku berhenti sejenak dibahu jalan tol, hingga akhirnya posisiku berhasil tepat dibelakangnya.

Persis dipintu tol Tandes arah Gresik, aku berhasil mengabadikan gambar dengan jelas karena sama-sama jalan pelan untuk ambil kartu tol.

Dalam hati aku berdecak kagum, begitu bangga si pemilik truck yang menempel gambar Gus Dur sang Bapak Bangsa dengan ukuran jumbo. Beliaulah yang konsisten membawa pesan-pesan perjuangan, pesan kesetaraan, pesan anti diskriminasi. Beliaulah yang membimbing kita untuk memahami & memberikan penghargaan ditengah-tengah multikultur bangsa, Beliaulah Sang Multikultural.

Aku sempatkan menulis pesan ini usai melintas dipintu tol Kebomas Gresik, agar pesan ini segera tersampaikan. Al Fatihah....

Posting Facebook Hasan Bisri via muslimoderat

Humor Gus Dur: Karena saya Che Guevara

Humor Gus Dur: Karena saya Che Guevara


Gusdurfiles.com ~ Ini guyonan Gus Dur sewaktu masih menjadi Presiden RI, saat berkunjung ke Kuba dan bertemu dengan Fidel Castro. Saat itu Fidel Castro mendatangi hotel tempat Gus Dur dan rombongannya menginap selama di Kuba. Dan mereka pun terlibat pembicaraan hangat, menjurus serius.

Agar pembicaraan tidak terlalu membosankan, Gus Dur pun mengeluarkan jurus andalannya, yaitu guyonan. Gus Dur bercerita pada pemimpin Kuba, Fidel Castro, bahwa ada 3 orang tahanan yang berada dalam satu sel. Para tahanan itu saling memberitahu bagaimana mereka bisa sampai ditahan di situ.

Tahanan pertama bercerita, "Saya dipenjara karena saya anti dengan Che Guevara." Seperti diketahui Che Guevara memimpin perjuangan kaum sosialis di Kuba.

Tahanan kedua berkata geram, "Oh kalau saya dipenjara karena saya pengikut Che Guevara!" Lalu mereka berdua terlibat perang mulut. Tapi mendadak mereka teringat tahanan ketiga yang belum ditanya.

"Kalau kamu kenapa sampai dipenjara di sini?" tanya mereka berdua kepada tahanan ketiga. Lalu tahanan ketiga itu menjawab dengan berat hati, "Karena saya Che Guevara."

Fidel Castro pun tertawa tergelak-gelak mendengar guyonan Gus Dur tersebut.


Sumber :merdeka.com
Setelah Wafat pun Kewalian Gus Dur dapat di Uji

Setelah Wafat pun Kewalian Gus Dur dapat di Uji


Gusdurfiles.Com ~ Ulama terkemuka dari Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Turmudzi Badruddin merupakan sahabat Gus Dur, dan orang yang sangat mempercayai kewalian Gus Dur, bahkan, ia sempat menguji, apakah Gus Dur termasuk wali atau bukan.

Bagaimana ia menguji kewalian Gus Dur? Kisahnya bermula ketika Gus Dur meninggal dunia. Berita meninggalnya Gus Dur sekitar pukul 7 malam 30 Desember 2011 itu dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru dunia dan seluruh masyarakat pun terkejut akan kejadian tersebut.
/>
Ia bersama dengan rombongan malam itu pun langsung mencari tiket untuk penerbangan esok hari ke Surabaya untuk mengikuti pemakaman Gus Dur di Jombang. Kebetulan sekali, tibanya pesawat jenazah Gus Dur dari Jakarta dan penerbangan dari NTB hampir berbarengan.

Dengan pengawalan, jenazah Gus Dur bisa melaju cepat dari Surabaya ke Jombang, sementara ia mengikuti dari belakang rombongan tersebut.

Sayangnya, begitu memasuki Jombang mobil rombongan yang ditumpangi ketinggalan jauh dari mobil jenazah Gus Dur karena tumpah ruahnya para peziarah yang memasuki Jombang.
Kemacetan pun sangat parah, mobil-mobil semuanya menuju pesantren Tebuireng, untuk mengikuti prosesi pemakaman. Karena sudah tidak bisa berbuat apa-apa, ia pun mengajak teman-temannya berdoa.
“Mari kita baca surat Alfatihah, jika Gus Dur benar-benar wali, maka kita akan diberi kemudahan,” katanya ketika berbincang dengan NU Online disela-sela rapat pleno PBNU di kompleks pesantren Krapyak Yogyakarta.

Tiba-tiba saja, terdapat motor pengawalan (forider), yang memintanya untuk cepat-cepat bergerak sehingga ia dengan lancar dapat memasuki kompleks pesantren dengan gampang dan setelah itu, motor pengawal tersebut pun menghilang. (mkf/NU Online)

Mereka Berupaya Menjatuhkan Kang Said dan Gus Dur dengan Tuduhan Syiah

Mereka Berupaya Menjatuhkan Kang Said dan Gus Dur dengan Tuduhan Syiah



Gusdurfiles.Com ~ Ketika Al Makmun memerintah, khalifah terkemuka Abbasiyyah ini memberlakukan doktrin Mu'tazilah sebagai paham resmi negara. Bagi pengikut Mu'tazilah, seorang hakim haruslah betul-betul seorang Mukmin, dan kemukminannya harus sejalan dengan doktrin mereka. Sebab, dia harus memberikan fatwa dan keputusan bagi orang banyak. Karenanya, untuk memastikan para Qadhi-nya betul-betul mukmin, Al Makmun melakukan semacam interogasi akidah yang kemudian dikenal dalam sejarah Islam dengan mihnah (inkuisisi).

Tak jarang inkuisisi ini memakan korban. Dalam inkuisisi yang dilaksanakan Mu'tazilah, misalnya, Imam Ahmad bin Hanbal menjadi pahlawan legendaris. Beliau demikian gigih mempertahankan pandangannya, sekalipun harus dipenjara dan menghadapi siksaan berat.

Tuduhan yang sama juga dialami oleh Imam Hanafi. Pendiri Madzhab Hanafi ini pernah dipenjarakan oleh Khalifah Al Manshur, gara-gara beliau dituduh memberikan baiat kepada Muhammad bin Abdullah ibn al-Hasan bin Abi Thalib, salah seorang Imam Syiah. Imam Hanafi menjalani hukuman seumur hidup, hingga wafat di dalam penjara.

Imam Syafii juga tak luput dari tuduhan seperti itu. Beliau pernah dituduh sebagai seorang Rafidhah gara-gara memperlihatkan cintanya kepada Ahlul Bait. "Gosip" tersebut tersirat dalam salah satu puisi indah yang beliau tulis yang berbunyi sebagai berikut:

"In kana rafdhan hubbu Ali Muhammadin Falyasyhad anni Rafidhi (Jika yang disebut Rafidhah adalah mencintai Keluarga Muhammad. Maka hendaknya jin dan manusia mempersaksikan bahwa aku adalah seorang Rafidhi)".

Saat ini menjelang muktamar NU, ada yang melancarkan tuduhan bahwa Prof. KH. Said Aqil adalah penyebar Syiah dalam NU. Tuduhan semacam itu juga pernah dialami oleh Gus Dur, ketika pada masa Orba NU mengalami kemelut, kubu Abu Hasan berusaha menjatuhkan kredibilitas Gus Dur dengan melancarkan tuduhan bahwa Gus Dur membawa faham Syiah ke dalam tubuh NU.

Indikator yang digunakan, karena Gus Dur pernah berkunjung ke Iran, Gus Dur dekat dengan Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal), Gus Dur mengakui sumbangan besar Syiah dalam bidang ilmu pengetahuan, Gus Dur menilai Ayatullah Khomeini adalah seorang Wali.

Tuduhan-tuduhan seperti ini sangat memprihatinkan, sekaligus menunjukkan sempitnya wawasan orang terhadap ilmu-ilmu keislaman. Sekedar berkunjung ke Iran sama sekali tidak dapat dijadikan indikator bagi kesyi'ahan seseorang, lalu jika tuduhan itu didasarkan atas kecintaan seseorang terhadap keluarga Nabi Muhammad SAW, seperti yang terjadi kepada imam Syafi'i, justru cinta kepada keluarga Nabi merupakan keharusan yang diajarkan Islam kepada seluruh umatnya, tak peduli mereka Sunny, Salafi atau Syi'i.

Adapun tentang tuduhan bahwa KH. Said Aqil adalah Syiah yang dihembuskan jelang Muktamar ini adalah suatu yang hal basi. KH. Said Aqil, 5 tahun yang lalu sudah pernah hadir dalam diskusi terbuka yang diadakan oleh FKM (Forum Kyai Muda) Jatim. Dalam forum tabayyun tersebut (dipublikasikan di Youtube), gosip tersebut sudah dijelaskan dengan gamblang oleh KH. Said Aqil.
Maka aneh jika saat ini ada pihak yang mencoba mengungkitnya kembali, kecuali memang motifnya bermaksud menjatuhkan kredibilitas KH. Said Aqil Siradj selaku Ketua Umum PBNU atau mengusik kerukunan Sunny Syiah di Nusantara secara umum.

    Penulis : Iqbal Kholidi Muslimedianews.com


Referensi Buku:
1. Islam Madzhab Masa Depan Menuju Islam Non-Sektarian (Dr. Afif Muhammad, MA).
2. Tarikh Khulafa (Imam As Suyuthi).

Guyonan Gus Dur: Cara Pak Dandim menebak umur Mumi

Guyonan Gus Dur: Cara Pak Dandim menebak umur Mumi



Gusdurfiles.com ~ Guyonan ini dilontarkan Gus Dur untuk menyindir pemerintah Orde Baru. Kisah ini tentang sayembara menebak usia mumi di Giza, mesir. Puluhan negara diundang oleh pemerintah Mesir, dan sebagian besar mengirimkan jagonya.

Amerika Serikat, misalnya, mengirimkan tim ahli paleo-antropologi-nya yang terbaik. Begitu pula Jerman, Prancis, Jepang, RRC, Inggris, dan lain-lain. Pemerintah Indonesia lain dari yang lain, hanya mengirim seorang Komandan Kodim (Dandim).

Tim Prancis tampil pertama kali, membawa peralatan mutakhir, ukur sana ukur sini, catat ini dan itu, lalu dua jam kemudian menyerah tanpa hasil. Pakar Amerika perlu waktu lebih lama, tapi taksirannya keliru. Tim Jerman menyatakan usia mumi itu tiga ribu dua ratus tahun lebih sedikit, tapi salah. Ahli dari Jepang menyebut angka yang hampir sama, setelah meneliti selama tiga jam.

Giliran peserta dari Indonesia maju. Pak Dandim kita ini bertanya pada panitia, bolehkah dia memeriksa mumi itu di ruang tertutup.

"Oh, tentu saja boleh, silakan," jawab panitia.

Lima belas menit kemudian, dengan tubuh berkeringat Pak Dandim keluar dan mengumumkan temuannya kepada tim juri.

"Usia mumi ini lima ribu seratus dua puluh empat tahun tiga bulan dan tujuh hari," katanya dengan lancar, tanpa keraguan sedikit pun.

Ketua dan seluruh anggota tim juri terbelalak dan saling berpandangan, heran dan kagum. Jawaban itu tepat sekali. "Bagaimana mungkin pakar dari Indonesia ini mampu menebak dengan tepat dalam waktu sesingkat itu?," ucap salah seorang tim juri, heran.

Hadiah pun diberikan. Ucapan selamat mengalir dari para peserta, pemerintah Mesir, perwakilan negara-negara asing dan sebagainya. Pak Dubes dan seluruh staf KBRI bangga bukan kepalang.

Menjelang kembali ke Indonesia, Pak Dandim dikerumuni wartawan dalam dan luar negeri di lobi hotel.

"Anda luar biasa," kata mereka. "Bagaimana cara Anda mengetahui dengan persis usia mumi itu?"
Pak Dandim menjawab dengan ekspresif dan singkat, "saya gebuki, eh ngaku dia."

Itulah Gus Dur , terkadang untuk mengkritik pemerintah tidak melulu pakai diplomasi yang serius, tapi cukup dengan guyonan-guyonan menohok. Humor menjadi salah satu ciri khas mantan presiden RI keempat ini, yang sekarang mulai dirindukan pengagumnya.


Sumber :merdeka.com

Guyonan Gus Dur: Agama 'Khong Guan'

Guyonan Gus Dur: Agama 'Khong Guan'


Gusdurfiles.com ~ Humor ini diceritakan Bunshu Bingky Irawan, anggota presidium Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN). Ditemui merdeka.com di Jombang, dia tersenyum ketika berkisah tentang pengalamannya saat bersama-sama dengan Gus Dur di Jakarta.

Pada Orde Baru dulu Bingky kerap menginap di rumah Gus Dur. Dia sering bersembunyi di sana dari kejaran intel pemerintahan Soeharto. Menurut dia, banyak sekali cerita humor dilontarkan Gus Dur kepada dirinya.

Bingky lalu teringat dengan kisah ini. "Ceritanya dulu Gus Dur pergi ke Madura, dapat undangan acara, dan ceramah di depan masyarakat. Saya waktu itu ditinggal sendirian di rumah beliau di Jakarta."

Sepulang dari Madura, Gus Dur bercerita. "Kata beliau, masyarakat Madura sekarang sudah mengakui ada enam agama di Indonesia. Pertama, kata Gus Dur kepada orang Madura, adalah agama, Is? orang-orang yang hadir menjawab serempak, lam..!"

"Kemudian agama kedua, kata Gus Dur, 'agama Kris? orang-orang jawab lagi dengan serempak, tennn..! Ini ada Katolik dan Protestan. Agama keempat agama Bu? dijawab Dhaa..! Kelima Hin? dijawab serempak, Duu..!'"

Nah, giliran agama keenam ini Gus Dur cerita serius. "Kata beliau, orang-orang Madura juga sudah mengakui agama keenam. Agama keenam agama Kong? Dijawab serempak, Guann..!" Mendengar cerita Gus Dur itu Bingky terpingkal-pingkal.

Dia lalu berceletuk kepada Gus Dur. "Ho alah, Gus, sampean iku ya ada-ada saja. Masak Kong Guan dibawa-bawa," ujarnya sambil terkekeh.


Sumber :merdeka.com
Gus Dur, Satu satunya Presiden yang Menerapkan Hukum Fiqih Untuk Indonesia

Gus Dur, Satu satunya Presiden yang Menerapkan Hukum Fiqih Untuk Indonesia


Gusdurfiles.Com ~ Pernah mendengar kata abenomics? sebuah neologisme yang merujuk kepada Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe yang mengambil kebijakan saat mengatasi krisis ekonomi di negerinya. Begitu juga reaganomic yang merujuk kepada Amerika Serikat, Presiden Ronald Reagan yang berangkat dari teori supply side economics berupaya menekan inflasi dan angka pengangguran di Amerika Serikat. Di Indonesia, media juga sempat mengutip istilah SBYnomic untuk menggambarkan istilah lainnya, keep buying strategy yang diucapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sewaktu mengantarkan RAPBN 2014 pada 16 Agustus 2013 lalu.

Setiap orang berkecenderungan terhadap hal tertentu meskipun pikirannya diselimuti berjuta persoalan. Kecenderungan tersebut tak lepas dari karakter orang-orang sekelilingnya saat ia tumbuh, lingkungan, kognitif dan latar budaya. Lalu kecenderungan apa yang bisa diperhatikan dari sosok Abdurrahman Wahid, satu-satunya “gus” di dunia yang ditakdirkan menjadi Presiden? Tak terhitung “gelar” yang disematkan kepada Gus Dur, dari yang serius seperti Guru Bangsa, Tokoh Pluralisme, Bapak Tionghoa; hingga yang bernada guyonan, seperti Presiden Republik Akhirat, Presiden Dunia Akhirat, dan lainnya. Gelar mengalir begitu deras dari kelompok-kelompok masyarakat yang merasa mendapatkan sentuhan dari Gus Dur, begitu beliau akrab disapa. Saya pun menggelari Gus Dur sebagai Presiden Fiqh Indonesia. Tentu gelar ini saya sematkan dengan beberapa alasan dan bukti.

Pertama, Gus Dur termasuk satu-satunya Presiden Indonesia yang rajin bicara tentang keislaman dan keindonesiaan. Banyak peristiwa yang Gus Dur kaitkan dengan keislaman, baik Islam dalam bentuk nilai maupun norma yang mentradisi. Catatan saya, sejak Oktober 1999 hingga Juli 2001 hampir seluruh babak-babak pernyataan Presiden Gus Dur bermuatan nilai-nilai keislaman. Bicara tentang Pemerintahan, penegakan hukum, sosial, politik, ekonomi, pertahanan-keamanan dan lainnya hampir selalu Gus Dur kaitkan dengan keislaman. Seperti pemerintahan yang jujur, teknologi berbasis moral, berdoa untuk Indonesia, Pemimpin negara harus sabar, konflik karena tidak adil, Sidang MPR tidak sah, TNI-Polri wajib membela Konstitusi, Pemerintahan bersih, Deklarasi HAM PBB Beda dengan fiqh, salat ghaib untuk Baharuddin Lopa, Pak Harto Taubat Nasuha, dan masih banyak yang lainnya.

Kedua, Gus Dur termasuk satu-satunya Presiden Indonesia yang rajin melontarkan gagasan keislaman dan keindonesiaan. Pemikiran kontroversi Gus Dur ternyata tidak berhenti meskipun beliau menjadi Presiden. Beberapa kasus saya sampaikan di sini. Misalnya, saat Perayaan Natal tanggal 27 Desember 1999, dalam sambutannya Presiden Gus Dur mengkritik umat Islam Indonesia yang tidak konsisten dengan agamanya. Menurut Gus Dur, ketika umat Islam konsekuen dengan refleksi atas Maulid (kelahiran) Nabi Muhammad saw. maka umat Islam juga harus konsekuen dengan realitas perayaan Natal (kelahiran) Jesus Kristus di kalangan umat Kristiani.

Pada tanggal 4 Juli 2001 dalam sebuah acara, Presiden Gus Dur juga menggagas perlunya perubahan terhadap susunan hukum Islam. Presiden Gus Dur merujuk pada kasus perbedaan pandangan antara Deklarasi HAM PBB dan fiqh tentang perpindahan agama, terutama perpindahan orang Islam ke agama lain (murtad). Presiden Gus Dur saat itu mengatakan:

Kita harus renungkan kembali apakah kita tak perlu melakukan perubahan pada susunan hukum kita? Apalagi dalam ushul fiqh dikenal kaidah الحكم يدور مع علته وجودا وعدما , bahwa hukum bisa berubah sesuai dengan sebabnya ada atau tidak adanya hukum itu sendiri. Prinsip hukum Islam itu tidak mengenal stratifikasi. Artinya, hukum secara praksis harus dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan manusia, bukan dengan keadaan zaman.

Di kesempatan yang lain, tepatnya pada 17 Mei 2001 juga di hadapan publik Presiden Gus Dur mendorong umat Islam agar cerdas mengaitkan syariat Islam dengan hukum nasional. Presiden Gus Dur menggulirkan ide konfederasi agar tidak terjadi benturan antara syariat Islam dengan konstitusi Indonesia. Presiden Gus Dur mengatakan:
"Gagasan konfederasi dalam konteks ini penting sekali, yaitu boleh berbeda bentuk dan beragam namun isinya satu. Salah satu terpenting sebagai bangsa kita tidak boleh melanggar konstitusi. Kewajiban kita menegakkan konstitusi karena ini pegangan kita bersama dalam hidup di kawasan ini."
Ketiga, Gus Dur satu-satunya Presiden yang memberikan arahan kepada umat Islam untuk mengikuti pendapat-pendapat ulama fiqh. Dari Istana Presiden, Gus Dur sering melontarkan pandangan ulama fiqh untuk mengingatkan masyarakat atas kasus-kasus tertentu yang perlu mendapatkan perhatian. Contoh, pada pada tanggal 24 Oktoober 1999 Presiden Gus Dur mengatakan bahwa semua umat beragama diharamkan konflik di antara mereka. Presiden Gus Dur berpendapat:
Kita tidak layak berperang karena agama. Sampai sekarang masih sering terjadi kesalahpahaman tentang umat Islam. Terutama tentang kelompok yang menyebut dirinya fundamentalis. Mereka memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. Kita menggunakan secara salah istilah fundamentalis.

Kasus lain yang menarik dari Presiden Gus Dur adalah saat menghadapi mantan Presiden Soeharto. Menurut Gus Dur, Soeharto harus diadili dan jika pengadilan memutuskan salah, Pemerintah bisa memberikan pengampunan. Keunikan fiqh Gus Dur tampak dari alur penanganannya. Gus Dur mengatakan:
Sekarang sudah tampak bahwa hukum itu tegak. Bukti paling kuat adalah terjadi pemeriksaan intensif terhadap keluarga mantan Presiden Soeharto. Kalau nggak sanggup diadili di Pengadilan karena tim kedokteran menyatakan sakit, oke diadili saja di Cendana. Kalau tidak bisa juga, ya diadili di Pengadilan tanpa kehadiran dia. Kalau nggak bisa ya dengan cara lain lagi. Kita nggak boleh putus asa dalam hal ini.
Kasus penanganan mantan Presiden Soeharto ini cukup menarik. Nalar fiqh Presiden Gus Dur sangat kuat dengan model penyelesaian yang optional. Mungkin praktisi hukum belum familiar dengan langkah optional Gus Dur di atas. Namun bagi masyarakat pesantren yang mengenal fiqh iftiradhi (hipotetis/teoritis), langkah Gus Dur yang optional itu tidak mengejutkan. Bahkan Gus mempraktikkan nalar fiqh iftiradhi hingga pada tahapan yang hampir mustahil terjadi, yang tercermin dalam kalimat terakhir dari pernyataannya, “kalau nggak bisa ya dengan cara lain lagi. Kita nggak boleh putus asa dalam hal ini.”

Keempat, Gus Dur satu-satu Presiden Indonesia yang paling rajin mengajak umat Islam untuk beribadah. Beberapa momentum penting yang terjadi di tengah masyarakat direspons Gus Dur dengan mengajak masyarakat mempraktikkan fiqh, meskipun dalam bentuk yang paling sederhana. Misalnya, pada tanggal 4 Juli 2001 saat Jaksa Agung RI Baharuddin Lopa meninggal dunia, Presiden Gus Dur berseru, “secara khusus saya menghimbau umat Islam untuk menunaikan salat gaib.”Kasus lain saat MPR mulai kencang mempersoalkan, pada tanggal 29 Oktober 2000 Presiden merespons dari Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, “saya terkesan nasehat Kiai Abdul Ghofur agar sebagai pemimpin negara senantiasa bersabar dalam menghadapi cobaan.”

Sejak Indonesia merdeka, Islam di negara ini diposisikan sebagai sebuah agama yang terlepas dari negara. Islam diterima sebagai nilai, tidak lebih dari itu. Namun di era Presiden Gus Dur, umat Islam didorong untuk melakukan langkah cerdas agar berkontribusi dalam proses pembangunan hukum positif. Gus Dur mematahkan tesis sebelumnya bahwa negara hanya mengakomodasi hukum perdata Islam. Ide konfederasi yang digulirkan Presiden Gus Dur adalah langkah progresif untuk melakukan penguatan hukum Islam di Indonesia tanpa menimbulkan resistensi.

Oleh: Muhammad Sulton Fatoni via muslimoderat.com

Guyonan Gus Dur soal topi orang Yahudi

Guyonan Gus Dur soal topi orang Yahudi


Gusdurfiles.com ~ Pada tahun 80-an, tokoh Ahlulbait Indonesia, Jalaluddin Rahmat bercerita, Gus Dur penah bikin Presiden Iran Rafsanjani tertawa terbahak-bahak. Pada tahun 80-an juga, Gus Dur pernah bikin Kanselir Jerman Barat Helmut Schmidt tertawa ngakak, kali ini yang cerita almarhum Nurcholis Madjid.

Gus Dur juga pernah bikin Presiden Clinton terbahak-bahak hingga kepalanya mendongak ke atas. Presiden Prancis Jacques Chirac pernah tertawa juga mendengar Gus Dur bercerita tentang Anggur Mukti Ali. Ratu Beatrix juga pernah dibikin ketawa oleh Gus Dur.

Bahkan, kata Gus Mus, Gus Dur berhasil membuat Raja Saudi yang terkenal serius dan pelit senyum, tertawa hingga kelihatan giginya. Melemper guyon pada Presiden Soeharto dan penggantinya, Habibie, juga Megawati, sudah biasa dilakukan Gus Dur.

Dan Shimon Peres, tak luput diberi guyonan oleh Gus Dur. "Sebenarnya Gus Dur menyindir Israel, tapi Peres tertawa hingga terbatuk-batuk, cerita sastrawan Ahmad Tohari.

"Pak Peres, negeri Anda akan kaya raya jika mau mengimpor kutang dari Prancis," usul Gus Dur pada Shimon Peres.

"Kenapa, Pak Gus?" tanya Peres penasaran.

"Imporlah kutang dari Prancis. Sesampai di Israel, kutang itu dipotong jadi dua," Gus Dur menjelaskan. Peres makin penasaran.

"Nah, setelah dipotong jadi dua, baru dijual. Kutang yang aslinya hanya bisa dipakai satu orang, di Israel bisa dipakai dua orang, asal dipotong dulu. Dan itu artinya bisa mendatangkan untung lipat dua. Jangan lupa, tali-tali pengikatnya dibuang dulu," jelas Gus Dur tambah panjang.

"Mana bisa kutang dipotong jadi dua dan mendatangkan untung berlipat???" tanya Peres. Rasa penasarannya makin menjadi-jadi.

"Ya kan kalau sudah jadi dua, namanya bukan kutang lagi. Kalian bisa memakai kutang sebagai topi untuk pergi ke tembok ratapan," terang Gus Dur enteng.

"Hahahahahahahahaha.hahahaha" kali ini Peres paham, dan langsung tertawa terpingkal-pingkal.

Topi Yahudi bernama Kipah. Bentuknya bulat. Dipakai di atas ubun-ubun, agak ke bawah sedikit. (Dari berbagai sumber) via merdeka.com
Ketika Gus Dur guyon dan serius soal poligami

Ketika Gus Dur guyon dan serius soal poligami


Gusdurfiles.com ~ Selama hidupnya, Gus Dur sebenarnya punya banyak alasan dan kesempatan untuk melakukan poligami. Namun, dia tidak melakukan itu. Sampai matinya, Presiden ke-4 RI tersebut memilih setia kepada Sinta Nuriyah, kendati tidak dikaruniai seorang pun anak laki-laki.

Bukan rahasia umum, banyak pihak di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) yang 'tidak rela' jika seorang kiai 'hanya' memiliki anak perempuan, yang dianggap punya posisi lebih rendah ketimbang anak laki-laki.

Gus Dur yang memiliki empat anak perempuan sempat disarankan untuk menikah lagi, bahkan sering diperkenalkan dengan perempuan-perempuan lain untuk 'nikah siri' demi mempunyai keturunan laki-laki. Namun, dia menentang dan memilih 'kabur' dari perempuan-perempuan itu.

Dalam sebuah kesempatan di peringatan Hari Kartini 2002, Gus Dur pernah menyampaikan bahwa yang melakukan poligami adalah orang yang tidak mengerti kitab suci.

"Karena kalau disebutkan poligami boleh dilakukan asal adil, dan yang menentukan adil tidaknya itu seharusnya adalah sang objek yaitu si perempuan," ujar Gus Dur pada acara peringatan Hari Kartini di Yogyakarta, kala itu.

Dalam acara tersebut Gus Dur didampingi istrinya Shinta Nuriyah yang membacakan tulisan bertajuk Kartini dan poligami. Barangkali itulah alasan Gus Dur tidak memilih poligami, meski tidak punya anak laki-laki.

Namanya Gus Dur, kurang lengkap rasanya tanpa humor yang dia lontarkan. Nah, soal poligami ini Gus Dur juga melemparkan humor renyahnya dalam sebuah kesempatan lain.

Gus Dur mengatakan dia punya analisis tersendiri kenapa kiai NU banyak yang poligami. "Ya gimana lagi, lha kiai itu datang ke diskotek aja nggak boleh, ke tempat prostitusi apalagi. Ya sudah satu-satunya jalan ya poligami itu!"

Siapa yang mendengarkan pasti ngakak, Anda juga kan? Gus..Gus.



Sumber :merdeka.com
 Belajar Berbeda dari Gus Dur dan Gus Sholah

Belajar Berbeda dari Gus Dur dan Gus Sholah

Gusdurfiles.com  ~ Satu Bapak, satu Ibu, satu guru, namun berbeda. Itulah Gus Dur dan Gus Sholah. Mereka adalah putra dari KH. A Wahid Hasyim, juru kunci piagam Jakarta sekaligus cucu pendiri Nahdhatul Ulama (NU), yakni Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Dua sosok ulama, negarawan, juga guru bangsa yang pernah dimiliki Republik. Apa yang menarik dari dua sosok cendekiawan muslim dengan kapasitas kepemimpinan yang mumpuni itu?

Saya tergelak menemukan catatan bahwa kedua panutan umat tersebut pernah berbantah-bantahan dengan cukup seru di Koran Media Indonesia, tepatnya sepanjang tahun 1998. Keduanya berpolemik soal-soal kebangsaan, utamanya tentang relasi pancasila, Islam dan Negara, untuk menyambut Pemilihan Umum pada Bulan April 1999.


Polemik itu berawal dari tulisan Gus Dur tertanggal 8 Oktober 1998 berjudul “A. Wahid Hasyim, Islam dan NU”. Jamak kita tahu, beliau KH A Wahid Hasyim wafat pada usia yang cukup muda, yakni 39 tahun. Hal tersebut membuat generasi selanjutnya, bahkan termasuk Gus Dur dan Gus Sholah, mengalami kesulitan untuk menafsir dengan tepat pandangan-pandangan politik Islam ayahandanya. Namun, justru di sanalah letak penting yang akan kita pelajari.

Dalam artikelnya itu, Gus Dur menulis tentang Soewarno, seseorang yang pernah menjadi ajudan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Kesempatan itu membuat Soewarno berkesempatan untuk menyimak beberapa situasi, termasuk interaksi antara Pak Dirman, Dr. Soekiman (pimpinan Masyumi) dan Mbah Wahid Hasyim. Soewarno menuturkan bahwa Mbah Wahid Hasyim pernah berujar tentang hukum Islam yang harus bersandar kepada Pancasila sebagai dasar Negara, atau dengan kata lain, Hukum syariat Islam tidak lebih tinggi kekuatannya dari Pancasila.

Gus Dur juga mengulas, ketika Mbah Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama, beliau membuat kebijakan yang memperbolehkan perempuan mendaftar pada Sekolah Guru Hakim Agama Negeri (SGHAN). Kebijakan ini membuat Gus Dur meyakini bahwa pandangan politik Mbah Wahid Hasyim merupakan pandangan politik sekuler.

Alasan Gusdur adalah sebagaimana syariah telah menetapkan empat syarat bagi kedudukan hakim Islam, termasuk seorang wanita yang tidak boleh menjadi hakim agama. Jika Mbah Wahid Hasyim menjadikan syariat sebagai landasan hukum positif Negara, seharusnya perempuan tidak boleh belajar di SGHAN sebab lulusan dari sekolah itu kelak akan menjadi guru hakim atau hakim agama.

Syahdan, gagasan Gus Dur tersebut ditanggapi oleh Gus Sholah di Koran yang sama pada 17 Oktober 1998 dengan judul “KH A Wahid Hasyim, Pancasila dan Islam”.

Gus Sholah mengajukan bantahan tegas terhadap pandangan politik sekuler yang diajukan Gus Dur. Gus Sholah mengulang fakta sejarah bahwa persetujuan Mbah Wahid Hasyim atas dihapuskannya tujuh kata kunci dalam piagam Jakarta hingga terangkum dalam sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” adalah simbol keteguhan tauhid dalam kehidupan berbangsa dan negara.  Artinya, negara tidak boleh sekuler. Gus Sholah juga mengingatkan keberpihakan Mbah Wahid Hasyim pada siding konstituante tahun 1967 bersama Masyumi memperjuangkan syariat Islam sebagai jiwa Pancasila dan hukum-hukum positif di Indonesia.

Dialektika ilmiah tersebut terus berlanjut. Pada 23 Oktober 1998. Media Indonesia menerbitkan gagasan Gus Dur berjudul “Terserah Suara Rakyat”. Gus Sholah menjawab bantahan kembali dengan artikel berjudul “Pancasila, Jalan Tengah Kita”. Gus Dur, kemudian menjawab artikel tersebut dengan gagasan berjudul “Menghindari Negara Berasumsi Agama”. Dan, kembali dijawab oleh Gus Sholah dengan gagasan “Biarkan Sejarah yang Menilai”.

Dari penafsiran awal tentang ucapan Mbah Wahid Hasyim, Gus Dur kemudian mendongengkan relasi Islam dengan Aceh, Minang, Goa hingga Jawa, untuk mendukung tesis beliau tentang pemisahan Pancasila dan Islam. Gus Dur juga konsisten berpandangan bahwa kemajuan dalam tubuh Pemuda NU ditandai semacam modernisme dalam berpikir yang dalam hal ini lebih progresif dari pemuda Muhammadiyah.

Sedangkan Gus Sholah juga konsisten menjaga pesan Rais Aam NU dari masa ke masa, tentang Indonesia yang bukan Negara agama namun juga bukan Negara sekuler, untuk membuktikan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, dan oleh karenanya dapat berjalan beriringan, saling menghormati dan saling melengkapi asal tetap pada kaidah fiqih siyasah yang memperjuangkan keadilan.

Saya membaca artikel-artikel yang secara ide sangat jelas terlihat jurang perbedaannya, namun tetap santun dan sesuai kaidah-kaidah diskusi dalam Islam, yakni bil hikmah, mauidzatil hasanah, dan mujadalah bil ahsan. Gus Sholah sebagai adik sangat santun dalam berbahasa kepada kakaknya. Sebaliknya, Gus Dur juga tidak anti-kritik, dengan terus berdialektika dalam posisi yang demokratis dan setara pada mimbar yang dapat dipertanggungjawabkan, yakni media massa.

Di masa sebelumnya, pada kurun 1930-an, kita pernah menyimak “Islam Sontoloyo” ala Soekarno yang berbantah pada kutub yang sama-sama radikal dengan teks-teks Mohamad Natsir. Namun, sejarah berbantah ideologi ala Gus Dur dan Gus Sholah di atas tentu tak kalah penting untuk disimak. Bahwa, sepasang kakak beradik yang derajat intelektual, “keislaman”, serta lahir dari rahim yang identik, yakni Nahdhatul Ulama, ternyata sama-sama teguh dalam memperjuangkan keyakinan atas pandangan politik masing-masing.

Baik Gus Dur dan Gus Sholah, dibalik pertentangan pendapatnya tentang nilai-nilai macam apa yang mesti menjadi ruh Pancasila, tetaplah dua tokoh yang memposisikan negara sebagai prioritas utama yang harus dijaga, sehingga polemik yang ada merupakan pertarungan intelektual terhormat yang tetap menjaga kepentingan Jam’iyat dan seluruh bangsa. Pola-pola sejenis juga muncul pada tokoh-tokoh lain seperti Nurcholish Madjid, Endang Saifuddin Anshari, hingga Amien Rais. Mereka semua menafsir serta memperjuangkan progresifitas bangsa dan Negara, tanpa kehendak untuk berbuat makar, terror, atau mengganti dasar Negara.

Akhirnya, kita semua sebagai generasi muda wajib berkaca akan sejauh mana ikhtiar kita untuk mencari sebuah keyakinan pandangan kedirian tertentu? Semumpuni apa pengetahuan dan pengabdian kita kepada masyarakat hingga kita mampu tegas menentukan sebuah keberpihakan? Dan, sanggupkah kita tetap rendah hati dalam memperjuangkan pandangan agama dan politik kebangsaan yang kita yakini agar ia tetap anggun membingkai segala perbedaan yang ia temui?

    Oleh: Kalis Mardiasih, penerjemah dan penulis lepas. Bisa ditemui di @mardiasi


Sumber :muslimedianews.com
Gus Dur lahir sebagai Abdurrahman 'sang penakluk'

Gus Dur lahir sebagai Abdurrahman 'sang penakluk'



Gusdurfiles.com ~ Anda boleh sepakat atau tidak dengan sosok Gus Dur yang fenomenal. Tapi yang jelas, sebagai bapak bangsa, dia memang dikenal langka, unik, dan dikagumi oleh banyak kalangan, baik dari dalam maupun luar negeri. Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang kontroversial lantaran pemikiran-pemikirannya. Oleh sebab itu, banyak yang bilang membicarakan Gus Dur , itu seperti tidak ada habisnya.

Membicarakan Gus Dur kurang enak kalau tidak mengawalinya dengan kisah masa kecilnya. Gus Dur adalah anak pertama pasangan Abdul Wahid Hasyim dan Solichah. Ayahnya merupakan Menteri Agama yang pertama pada kabinet Mohammad Natsir yang dibentuk pertama kali setelah lima tahun Indonesia merdeka.

Wahid Hasyim wafat di usia muda, 38 tahun, akibat kecelakaan mobil dalam perjalanan ke Cimahi pada 19 April 1953. Wahid Hasyim kini dikenang sebagai pahlawan nasional. Dia adalah anak dari Kiai Hasyim Asyari, kiai tersohor, salah satu pendiri organisasi Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (NU). Dengan demikian, Gus Dur adalah cucu dari Mbah Hasyim--demikian orang-orang nahdliyin memanggilnya.

Wahid Hasyim menikahi Solichah ketika berumur 29 tahun. Sementara istrinya, Solichah, waktu itu belum genap enam belas tahun. Seperti kebanyakan kisah pernikahan putra-putri kiai, Wahid Hasyim dan Solichah menikah karena perjodohan. Solichah kemudian melahirkan Gus Dur pada tahun pertama pernikahannya, pada Sabtu, 7 September 1940, tepat di ujung masa penjajahan Belanda.

Menurut Barton, penulis buku Biografi Abdurrahman Wahid, Gus Dur menggunakan nama Abdurrahman Wahid, dengan meletakkan nama ayahnya 'Wahid', setelah namanya sendiri. Sebagaimana banyak dilakukan kaum santri Jawa atau kaum muslim ortodoks di Indonesia (muslim abangan), nama ayah itu mempertegas bahwa Abdurrahman adalah putra Wahid. Padahal, sebenarnya nama kecil Gus Dur bukanlah itu.

Konon, karena Wahid Hasyim sangat girang, dipenuhi optimisme dengan kelahiran anak pertamanya. Atau barang kali karena kemampuan melihat masa depan, dia memberi nama yang berat untuk anak pertamanya itu, yakni Abdurrahman Ad-Dakhil. Nama Ad-Dakhil diambil dari nama seorang pahlawan dari dinasti Ummayyah, yang secara harfiah berarti "Sang Penakluk".

Setelah lahir, Abdurrahman Ad-Dakhil atau Gus Dur , kemudian tinggal bersama keluarganya di Jombang. Sebagai putra kiai, dia 'nyantri' atau belajar pendidikan agama di pondok pesantren Tebuireng, hingga usia 4 tahun. Pada umur lima tahun dia sudah lancar membaca Al-quran. Gurunya adalah kakeknya sendiri, Hasyim Asyari.

Gus Dur kecil tidak seperti kebanyakan anak-anak seusianya. Dia tidak tinggal bersama ayahnya, akan tetapi ikut bersama kakeknya. Semasa di rumah kakeknya itu Gus Dur kecil mulai mengenal dunia politik, dari orang-orang yang tiap hari sowan. Pada 1944, Gus Dur diajak ayahnya hijrah ke Jakarta. Dia tinggal berdua dengan ayahnya di Daerah Menteng, Jakarta Pusat.

Waktu itu, dengan berdiam di daerah Menteng, Wahid Hasyim dan anak pertamanya itu berada di pusat kegiatan. Misalnya ketika keduanya melaksanakan salat di masjid Matraman yang letaknya tak begitu jauh, keduanya secara teratur bisa bertemu dengan pemimpin nasional, Mohammad Hatta. Di masjid itu, semua orang juga bisa mudah bertemu dengan Wahid Hasyim.

Menurut ingatan Gus Dur , setiap jam setengah delapan malam, dia sering membukakan pintu untuk seorang laki-laki asing berpakaian petani warna hitam yang berkunjung ingin bertemu ayahnya. Atas permintaan tamunya itu, Gus Dur memanggilnya Paman Hussein. Baru beberapa tahun kemudian dia tahu, bahwa orang itu adalah Tan Malaka, pemimpin komunis terkenal.

Setelah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda berkecamuk. Pada akhir perang 1949, Gus Dur pindah ke Jakarta dan ayahnya ditunjuk sebagai menteri agama. Dia belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari.

Gus Dur juga diajarkan membaca buku non-Muslim, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya. Dia terus tinggal di Jakarta dengan keluarganya meskipun ayahnya sudah tidak menjadi menteri agama pada 1952.

Pendidikan Gus Dur berlanjut, pada 1954 dia masuk ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) yakni Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Jakarta. Pada tahun itu, ia tidak naik kelas.

Ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya dengan mengaji kepada Kiai Ali Maksum di Pondok Pesantren Krapyak, sambil belajar di sekolah umum SMP. Pada 1957, setelah lulus dari SMP, dia pindah ke Magelang untuk memulai pendidikan muslim di Pesantren Tegalrejo.

Gus Dur mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun). Pada 1959, dia pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang. Di sana, sambil belajar, dia juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai guru dan nantinya sebagai kepala sekolah madrasah.

NB: Berbagai sumber via merdeka.com
Kisah masa kecil Gus Dur, nakal tapi pintar

Kisah masa kecil Gus Dur, nakal tapi pintar


Gusdurfiles.com ~ Meski terlahir sebagai anak Wahid Hasyim, Gus Dur tumbuh seperti anak-anak seusianya. Dia juga nakal, bahkan bisa dibilang berperilaku nyeleneh karena sikap nakalnya tidak bisa ditekan oleh ayahnya. Gus Dur kerap diikat dengan tambang di tiang bendera di depan rumah sebagai hukuman untuk sikap nakalnya.

Ketika belum genap berumur 12 tahun, Gus Dur sudah dua kali patah lengan akibat kegemarannya memanjat pohon. Pertama kali lengannya patah karena terjatuh dari pohon akibat dahan yang dia injak patah.

Kemudian, dia juga hampir kehilangan tangannya. Kisahnya, waktu itu dia mengambil makanan dari dapur lalu memakannya di atas pohon besar. Karena keenakan di atas pohon dia sampai tertidur lalu menggelinding dan terjatuh ke bawah.

Dalam ingatan Gus Dur , seperti diceritakan Greg Barton, penulis buku Biografi Gus Dur , waktu itu dia mengalami patah tulang serius sehingga tulang lengannya menonjol keluar. Dokter pertama yang merawatnya khawatir kemungkinan dia akan kehilangan tangannya. Beruntung, karena kecekatan dokter, tangannya bisa disambung kembali.

"Akan tetapi pengalaman ini hampir tak berpengaruh terhadap dirinya karena Gus Dur muda tetap kurang berhati-hati dan selalu bertindak impulsif."

Namun demikian, di balik tingkah nakalnya itu, Gus Dur kecil juga dikenal sebagai pecandu buku bacaan. M Hamid, dalam bukunya berjudul: Gus Gerr: bapak pluralisme & guru bangsa, mengisahkan soal hobi membaca Gus Dur . Hamid mengutip buku Beyond the Symbols: Jejak Antropologis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur .

Dalam buku itu dikisahkan, beberapa kali Gus Dur ditegur oleh ibunya soal kebiasaannya membaca. "Jangan terlalu banyak membaca, nanti matamu rusak," begitu kata sang bunda sambil membolak-balik halaman novel sastra putranya yang baru berusia 10 tahun.

Gus Dur memang maniak membaca. Dia benar-benar memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Dia juga kerap berkunjung ke perpustakaan umum di Jakarta. Pada usia itu, dia sudah akrab dengan buku-buku serius, dari filsafat, cerita silat, sejarah, hingga sastra.

Sejak duduk di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP), Gus Dur sudah menguasai bahasa Inggris. Dalam waktu dua tahun, saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), dia sudah melahap beberapa buku bahasa Inggris, di antaranya; Das Kapital karya Karl Marx, buku filsafat Plato, Thalles, Novel karya William Bochner.

Adapun karya sastra yang dia baca di antaranya karya Ernest Hemingway, John Steinbeck, dan William Faulkner. Dia juga tuntas membaca beberapa karya Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y Gasset, dan beberapa karya penulis Rusia, seperti; Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky, dan Mikhail Sholokov.

Namun saat di SMEP itu, Gus Dur pernah tidak naik kelas. Konon, dia mengaku kehilangan gairah sekolah karena tidak mendapat teman yang mengerti pikirannya. Akibatnya, Gus Dur sering membolos dan memilih pergi ke perpustakaan serta menonton film di bioskop. Bahkan sering kali dia lebih memilih sepak bola ketimbang sekolah. Walhasil, Gus Dur tidak naik kelas.

Ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya dengan mengaji kepada Kiai Ali Maksum di Pondok Pesantren Krapyak dan belajar di SMP. Lagi-lagi, Gus Dur memberontak. Dia merasa aturan di pondok pesantren terlalu ketat, sehingga dia meminta izin ke ibunya untuk kos di luar pondok.

Pada akhirnya, dia kos di daerah Kauman, di lingkungan sekitar Keraton Yogyakarta. Dia tinggal di rumah Haji Djunaid, seorang tokoh organisasi Islam Muhammadiyah. Haji Djunaid merupakan sahabat dekat Wahid Hasyim, ayah Gus Dur . Selain nyantri di pondok pesantren, dia juga melanjutkan pendidikan di SMP. Benar saja, sejak kos itu Gus Dur semakin giat belajar.

Di sekolah, kemampuan Dur meningkat, terutama pengetahuan bahasa Inggrisnya. Akhirnya pada 1957 dia lulus SMP, lalu pindah ke Magelang untuk memulai pendidikan muslim di Pesantren Tegalrejo. Di Magelang Gus Dur mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun).



Sumber :merdeka.com
Humor Gus Dur: Dicium artis cantik

Humor Gus Dur: Dicium artis cantik


Gusdurfiles.com ~ Magnet sense of humor Gus Dur yang tinggi membuat kesengsem salah satu artis cantik saat hadir dalam suatu acara di rumah salah seorang pengasuh Pondok Kajen. Saking gemesnya, artis itu dengan santai langsung ngesun (mencium) pipi Gus Dur tanpa pakai kulo nuwun alias permisi.

Kisah ini diceritakan Gus Mus, kiai kharismatik asal Rembang, Jawa Tengah. Menurut Gus Mus, aksi artis cantik itu jelas membuat beberapa di antara mereka yang hadir langsung kaget dan bingung. Siapa yang kuat ngeliat kiat nyentrik cuma diem aja disun (dicium) artis cantik.

Tak lama kemudian begitu sudah agak sepi, Gus Mus yang sedang di antara mereka, langsung numpahin sederet kalimat yang sudah dari tadi cuma bisa disimpan dalam hati.

"Loh Gus, kok Gus Dur diam saja sih disun sama perempuan?" ujar Gus Mus.

Dengan santai dan silakan bayangin sendiri gayanya, Gus Dur malah ngasih jawaban sepele. "Lha wong saya kan nggak bisa lihat. Ya mbok sampeyan jangan kepingin," ujar Gus Dur.



Sumber :merdeka.com
Gus Dur: "Kamu musuh Allah, Wahabi"

Gus Dur: "Kamu musuh Allah, Wahabi"


Gusdurfiles.Com ~ Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj mengatakan, Gus Dur sempat marah kepada seorang polisi Wahabi karena dilarang berziarah ke makam Syekh Ali al-Uraidhi di suatu daerah yang bernama `Uraidh sekitar 4 mil dari Madinah.
Ceritanya, Gus Dur bersama Said Aqil ingin membacakan surat Al-Fatihah untuk Syekh Ali sebanyak seribu kali. Namun ketika mereka baru membacakan al-Fatihah sebanyak 30 kali tiba-tiba seorang polisi datang mengusir mereka dan mengatakan, “Musyrik, haram!”

Untung saja mereka bukan penduduk setempat, sehingga tidak dihukum berat, karena bagi mereka ziarah kubur adalah larangan berat. Namun Gus Dur sempat marah kepada polisi itu, “Kamu musuh Allah, Wahabi,” kata Gus Dur seperti dikutip Said Aqil saat memberikan testimoninya usai memimpin tahlilal 7 hari di Ciganjur, Selasa (5/1) malam.

Said Aqil bercerita, Gus Dur berziarah ke makam Syekh Ali al-Uraidhi karena Syekh ini konon sempat mengalahkan seorang yang hebat bernama Surya Mesesa. Ia merasa tak terkalahkan. Bahkan untuk mendapatkan musuh, Surya Memesa sampai ke Madinah, dan bertemu Syekh Ali al-Uraidhi.
“Sama Syeikh Ali, Surya Mesesa disuruh mengangkat sebuah tongkat, dan tidak bisa. Karena itu, dia masuk Islam,” ujar Said Aqil. Cerita ini diperolehnya dari Gus Dur saat ia diajak berziarah ke pedalaman Tasikmalaya, Panjulan.

Said Aqil bertanya, “Makam siapa Gus?” Gus Dur menjawab, “Dia orang sakti. Dia mencari musuh agar dia bisa dikalahkan.” Karena itulah Gus Dur berziarah ke makam tersebut dan kemudian ke makam Syekh Ali al-Uraidhi.

Menurut Kang Said, panggilan akrab KH Said Aqil Siradj, Gus Dur memang gemar berziarah ke makam para ulama dan sesepuh. Selain mendoakan mereka, dengan cara itu Gus Dur merangkai sejarah peristiwa yang terjadi beberapa ratus tahun yang lalu, yang bahkan tidak tertulis dalam buku-buku sejarah.

Namun ada yang yang menarik ketika Gus Dur berziarah kesuatu makam, kata Kang Said. ”Kalau ada makam yang diziarahi Gus Dur, pasti kemudian makam itu ramai diziarahi orang. Gus Dur memang tidak hanya memberkahi orang yang hidup, tapi juga orang yang sudah mati,” katanya disambut tawa hadirin. (nam) via muslimoderat.com

Humor Gus Dur: Nama orang Korea paling banter cuma tiga

Humor Gus Dur: Nama orang Korea paling banter cuma tiga


Gusdurfiles.com ~ Kisah ini terjadi ketika Gus Dur menjabat sebagai presiden, sementara Menteri Perdagangannya adalah Luhut Panjaitan (seorang purnawirawan TNI). Keduanya ada kunjungan kenegaraan di Korea Selatan dalam rangka mencari investor.

Sewaktu akan memberi ceramah tentang iklim investasi di Indonesia, Luhut Panjaitan meminta ajudannya membuat poin-poin penting yang akan diberikan kepada Gus Dur . Karena dia tau Gus Dur tidak mungkin membaca, maka hanya perlu dibuatkan poin-poin penting saja.

"Nanti poin-poin ini pak presiden, yang akan bapak baca," kata Luhut kepada Gus Dur . Gus Dur mendengarkan dengan seksama, lalu menjawab, "iya pa Luhut."

"Nanti pimpinan ini bernama ini pak (menyebut nama tapi Luhut agak-agak lupa, sembari menegaskan nama tersebut).

Dalam hati Luhut khawatir Gus Dur akan lupa poin-poin pendek yang disebutkan dan nama orang-orang tersebut. Tapi pas giliran waktu ceramah, ternyata Gus Dur berbicara panjang lebar tentang ekonomi dan segala macamnya dan menyebut nama pimpinan orang korea itu benar.

Luhut kecele, ternyata Gus Dur lebih fasih ngomong soal ekonomi. Tapi satu hal yang mengganjal dan membuat Luhut penasaran, yakni soal nama pimpinan Korea yang bagi Luhut saja lupa (agak susah mengingatnya).

Dia lalu bertanya kepada Gus Dur . "Kok hafal pak namanya?" Gus Dur lalu menjawab, "ah itu gampang Pak Luhut, orang Korea itu namanya paling banter cuma tiga, kalo ga Park, ya Kim, kalo ga ya Lee."


Sumber :merdeka.com
Humor Gus Dur: Awas, tiang listriknya bengkok

Humor Gus Dur: Awas, tiang listriknya bengkok



Gusdurfiles.com ~ Suatu kali, Gus Dur bepergian bersama kiai NU dengan naik bus. Ada seorang kiai dikenal gemar menyandarkan tangannya di jendela mobil. Kadang sampai tangannya keluar jendela.

Dan betul saja, tangan kiai itu keluar dari jendela. Kebetulan Gus Dur melihatnya. Lalu dia pun mengingatkan kiai itu agar memasukkan tangannya, supaya tidak cidera kalau-kalau tangannya itu tidak menyenggol tiang listrik. Tapi kiai itu menolak.

Merasa jengkel peringatannya tak dihiraukan, akhirnya Gus Dur bilang, "tolong Pak Kiai, tangannya jangan dikeluarkan, kalau kesenggol tiang listrik, tiangnya bisa bengkok."

Sang kiai segera memasukkan tangannya. Tampaknya dia puas setelah "kesaktiannya diakui."

Itulah Gus Dur. Dengan kondisi fisiknya yang terbatas, dia masih mampu memberikan kontribusi terbaiknya kepada bangsa baik dari segi pemikiran ataupun guyonannya yang segar.
[mtf] via merdeka.com
Humor Gus Dur: Tentara Indonesia paling pemberani

Humor Gus Dur: Tentara Indonesia paling pemberani


Gusdurfiles.com ~ Di atas geladak kapal perang US Army tiga pemimpin negara sedang "berdiskusi" tentang prajurit siapa yang paling berani. Kebetulan juga, di sekitar kapal ada hiu-hiu yang sedang kelaparan lagi berenang mencari makan.

Bill Clinton: Kalau Anda tahu, prajurit kami adalah yang paling berani di seluruh dunia. Mayor (memanggil prajurit Amerika) sini deh, coba kamu berenang keliling ini kapal sepuluh kali.

Mayor: (walau tahu ada hiu) Siap pak, demi "The Star Spangled Banner" saya siap (akhirnya dia terjun dan mengelilingi kapal 10 kali sambil dikejar hiu).

Mayor: (naik kapal dan menghadap) Selesai pak!!! Long Live America!!

Clinton: Hebat kamu, kembali ke pasukan!

Koizumi: (tak mau ketinggal, dia panggil sang sersan) Sersan! Menghadap sebentar (sang Sersan datang). Coba kamu keliling kapal ini sebanyak 50 kali!

Sersan: (melihat ada hiu ... glek ... tapi) for the queen I'am ready to serve!!! (pekik sang sersan, kemudian membuka-buka baju lalu terjun ke laut dan berenang keliling 50 kali dan dikejar hiu juga).

Sersan: (menghadap sang perdana menteri) GOD save the queen!!!

Koizumi: Hebat kamu. Kembali ke tempat. Anda lihat Pak Clinton, prajurit saya lebih berani dari prajurit Anda (tersenyum dengan bangga)

Gus Dur: Kopral ke sini kamu (setelah datang) saya perintahkan kamu untuk terjun ke laut lalu berenang mengelilingi kapal perang ini sebanyak 100 kali, ok?

Kopral: Hah..? Anda gila yah! Presiden nggak punya otak, nyuruh berenang bersama hiu, kurang ajar!!! (sang kopral pun pergi meninggalkan sang presiden)

Gus Dur: (Dengan sangat bangga) Anda lihat Pak Clinton dan Pak ... Koizumi ... kira-kira siapa yang punya prajurit yang paling BERANI!!! Hidup Indonesia ... !!!

Itulah Gus Dur . Presiden RI dengan masa pemerintahan yang pendek, tapi sudah memberi kontribusi bagi negeri ini, terutama guyonan-guyonan khasnya yang tak lekang zaman.



Sumber :merdeka.com
close
Banner iklan disini