Gus Dur Selalu Tanamkan Islam sebagai Agama Kedamaian


Wartaislami.com ~ Pengasuh Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengha KH Yusuf Chudlori mengatakan, KH Abdurrahmana Wahid (Gus Dur) pada masa hidupnya selalu menanamkan kepada masyarakat bahwa Islam adalah agama kedamaian di bumi.

Gus Dur, kata kiai muda yang biasa disapa Gus Yusuf ini, dalam menunjukkan Islam mengutamakan kedamaian, memberi contoh kisah KH Chudlori yang didatangi dua kelompok masyarakat desa Tepus, Magelang yang meminta fatwa penggunaan bondo desa .

Kedua kelompok tersebut, lanjut  Gus Yusuf, saling berebut antara digunakan membeli gamelan ataukah merehab masjid. “Tanpa diduga, KH Chudlori tidak menjawab untuk rehab masjid, melainkan mendahulukan membeli gamelan dengan alasan demi kerukunan,” jelasnya pada puncak acara “Gebyar seni budaya dan peringatan haul ke-6 Gus Dur” yang diselenggarakan Pengurus Cabang Lesbumi Kudus di  Komplek Kampung Festival Bambu Wulung, Desa Ngembalrejo, Kudus, Ahad Malam (31/1).

Gus Yusuf menambahkan, kisah tersebut ditafsirkan Gus Dur bahwa KH Chudlori lebih mementingkan masyarakat guyub rukun. Ketika masyarakatnya rukun, masjid akan tumbuh dengan sendirinya. “Dari sinilah Gus Dur menanamkan Islam hadir tidak untuk memecah-belah, tetapi untuk memberi kedamaian," ujar kiai putra KH Chudlori ini.

Kemudian Gus Yusuf merasa prihatin kondisi masyarakat Indonesia belakangan yang mengalami krisis kepercayaan. Masyarakat, katanya, banyak yang bangga menjadi orang (bangsa) lain daripada menjadi orang Indonesia. Hal ini banyaknya orang berpenampilan atau gaya pakaiannya berubah sehingga tidak mencerminkan warga Indonesia.

"Gus Dur itu apa adanya, tidak jaim, tidak usah gaya. Selama berkualitas seperti beliau dimana pun orang akan menghormati. Tetaplah menjadi Indonesia , menjadi warga NU. Itu cara Gus Dur memberi keteladanan," terangnya.

Gus Dur juga mengajarkan kelembutan, kasih sayang serta menyanyangi semua komponen masyarakat lintas suku ras dan agama. Gus Dur dicintai banyak orang karena mencintai banyak orang. "Sudah 6 tahun beliau wafat, tetapi warisan kasih sayang, ajaran keteguhan sikapnya, belajar mencintai NKRI harus tetap tumbuh dalam jiwa kita. Cita-cita besar Gus Dur perihal kemanusiaan, kedamaian dan NKRI harus kita perjuangkan bersama," harap Gus Yusuf.

Turut hadir dalam acara ini putri bungsu Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid, tokoh NU, budayawan, politisi dan kaum nahdliyin Kudus. Bintang Aksi Yunior Bintha Athivata beserta ibunya, Hj Nuzumul Laily. Serta dan sastrawan Kudus ikut menyemarakkan suasana dengan pentas membaca puisi. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Gus Dur Selalu Tanamkan Islam sebagai Agama Kedamaian
Kudus, NU Online
Pengasuh Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengha KH Yusuf Chudlori mengatakan, KH Abdurrahmana Wahid (Gus Dur) pada masa hidupnya selalu menanamkan kepada masyarakat bahwa Islam adalah agama kedamaian di bumi.

Gus Dur, kata kiai muda yang biasa disapa Gus Yusuf ini, dalam menunjukkan Islam mengutamakan kedamaian, memberi contoh kisah KH Chudlori yang didatangi dua kelompok masyarakat desa Tepus, Magelang yang meminta fatwa penggunaan bondo desa .

Kedua kelompok tersebut, lanjut  Gus Yusuf, saling berebut antara digunakan membeli gamelan ataukah merehab masjid. “Tanpa diduga, KH Chudlori tidak menjawab untuk rehab masjid, melainkan mendahulukan membeli gamelan dengan alasan demi kerukunan,” jelasnya pada puncak acara “Gebyar seni budaya dan peringatan haul ke-6 Gus Dur” yang diselenggarakan Pengurus Cabang Lesbumi Kudus di  Komplek Kampung Festival Bambu Wulung, Desa Ngembalrejo, Kudus, Ahad Malam (31/1).

Gus Yusuf menambahkan, kisah tersebut ditafsirkan Gus Dur bahwa KH Chudlori lebih mementingkan masyarakat guyub rukun. Ketika masyarakatnya rukun, masjid akan tumbuh dengan sendirinya. “Dari sinilah Gus Dur menanamkan Islam hadir tidak untuk memecah-belah, tetapi untuk memberi kedamaian," ujar kiai putra KH Chudlori ini.

Kemudian Gus Yusuf merasa prihatin kondisi masyarakat Indonesia belakangan yang mengalami krisis kepercayaan. Masyarakat, katanya, banyak yang bangga menjadi orang (bangsa) lain daripada menjadi orang Indonesia. Hal ini banyaknya orang berpenampilan atau gaya pakaiannya berubah sehingga tidak mencerminkan warga Indonesia.

"Gus Dur itu apa adanya, tidak jaim, tidak usah gaya. Selama berkualitas seperti beliau dimana pun orang akan menghormati. Tetaplah menjadi Indonesia , menjadi warga NU. Itu cara Gus Dur memberi keteladanan," terangnya.

Gus Dur juga mengajarkan kelembutan, kasih sayang serta menyanyangi semua komponen masyarakat lintas suku ras dan agama. Gus Dur dicintai banyak orang karena mencintai banyak orang. "Sudah 6 tahun beliau wafat, tetapi warisan kasih sayang, ajaran keteguhan sikapnya, belajar mencintai NKRI harus tetap tumbuh dalam jiwa kita. Cita-cita besar Gus Dur perihal kemanusiaan, kedamaian dan NKRI harus kita perjuangkan bersama," harap Gus Yusuf.

Turut hadir dalam acara ini putri bungsu Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid, tokoh NU, budayawan, politisi dan kaum nahdliyin Kudus. Bintang Aksi Yunior Bintha Athivata beserta ibunya, Hj Nuzumul Laily. Serta dan sastrawan Kudus ikut menyemarakkan suasana dengan pentas membaca puisi. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)





Sumber :nu.or.id
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Gus Dur Selalu Tanamkan Islam sebagai Agama Kedamaian"

Post a Comment

close
Banner iklan disini