Inilah 3 Generasi terbaik Bangsa yang Menginspirasi Sepanjang Zaman

Inilah 3 Generasi terbaik Bangsa yang Menginspirasi Sepanjang Zaman


Gusdurfiles.Com ~ Para tokoh pesantren terus memberikan sumbangsih terhadap bangsa dan rakyat Indonesia. Lewat institusi pendidikan yang dimilikinya banyak menyumbangkan generasi-generasi yang melek huruf. Karakter tokoh pesantren yang anti kemapanan menjadikan mereka tidak gila jabatan, harta, dan popularitas. Mereka memberikan kemampuan terbaik semata-mata karena Allah. Pesantren Tebuireng merupakan salah satu pesantren dari yang ada di Indonesia menyumbangkan sumbangsih tidak sedikit. Setidaknya ada tiga tokoh (Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. A. Wahid Hasyim, dan KH. Abdurahman Wahid) yang berperan penting terhadap perjuangan bangsa Indonesia di setiap zamannya. Gelar pahlawan yang diberikan kepada ketiganya yang masih satu darah menjadikan satu-satunya rekor dunia. Betapa tidak! Satu darah menjadi orang hebat semua di setiap zamannya. Seakan mereka yang mengisi, dan menjadi pendobrak zaman. Terlahir dari bibit yang unggul tentunya.

Sosok Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari itu seorang ulama besar yang mampu mencatatkan namanya dalam tinta emas sejarah Indonesia. Amal sosialnya dalam perjuangan menegakan agama dan membangun negara tak mampu dilukiskan dalam sekelumit kata dan gambar. Dalam tubuh NU dan masyarakat pesantren sudah pasti mendapatkan tempat yang tertinggi.

Pasalnya banyak ulama yang berguru kepadanya di pesantren Tebuireng, yang dikemudian hari menjadi pemimpin ulama dan tokoh masyarakat di berbagai penjuru Nusantara. Makamnya terus didatangi jamaahnya. Mereka datang dari segenap penjuru daerah untuk memberikan doa untuknya. Berapa banyak bacaan fatihah yang diberikan kepadanya setelah shalat dan malam jum’at oleh santri dan pengikutnya? Nampaknya, ungkapan tatkala kamu menangis dan menjerit saat lahir didunia, dan orang di sekelilingmu menangis saat kamu meninggalkan dunia sangatlah tepat.

Kebesaran seseorang terlihat tidak hanya saat masih hidup, namun juga bisa dilihat saat engkau telah tiada. Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari merupakan seorang ulama besar Indonesia yang juga mewariskan banyak karya tulis. Salah satunya untuk pedoman berakhlussunah wal jamaah dan buku pedoman menjadi santri yang ideal. Sebagai ulama pejuang kemerdekaan beliau mampu memberikan pencerahan dan spirit kepada para pemimpin bangsa untuk tidak kendor menghadapi kaum penjajah. Semangat berjuang yang dilandaskan ajaran agama menjadi jihad suci membela NKRI.

Baca Juga : Gus Dur: Hingga Malaikatpun Tak Sanggup Menghitung Pahala Bacaan Sholawat 
http://www.gusdurfiles.com/2016/02/gus-dur-hingga-malaikatpun-tak-sanggup.html
Semangat berjuang dalam membela agama dan bangsa tertancap lebih dalam jiwa dan raga dikalangan para santri Tebuireng. Semangat itulah yang menular lintas generasi. Ilmunya yang dalam, akhlaknya yang terpuji, dan perjuangannya yang tak mengenal menyerah menjadikan banyak orang dalam berbagai kalangan menaruh simpatik kepada Hadratussyaikh. Selain itu, beliau juga melahirkan keturunan yang tak kalah hebat. Selanjutnya institusi yang besar seperti namanya.

 KH. A. Wahid Hasyim merupakan putera Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang memiliki reputasi sangat baik. Baik dikalangan masyarakat pesantren maupun luar pesantren. Intelektual asli pesantren yang sangat diperhitungkan. Kemandiriannya dalam hal belajar di masa mudanya, pengalamannya berorganisasi, dan berjuang merintis negara menjadikannya seseorang yang patut di jadikan inspirasi. Kontribusinya amat besar, sehingga negara memberinya gelar pahlawan nasional.

Ide dan pemikirannya melampui zamannya. Wajar, jika pertama kali mengusulkan sistem pelajaran di pesantren harus lebih dinamis dan kreatif untuk menopang kemajuan masyarakat pesantren di masadepan. Sempat
mendapatkan respon kontroversi yang ramai dimuka umum. Ayahnya yang sudah mengetahui karakter putera lelakinya itu mendukung dibelakang. Jika santri belajar di pesantren hanya memiliki tujuan untuk menjadi ulama semata tentu banyak sektor di masyarakat tidak terisi dari kalangan santri. Santri harus cakap dalam banyak hal. Sehingga ketika terjun, mampu menempatkan diri dengan baik. Dengan berbekal keilmuan dan kematangan diri. Santri pesantren siap bersaing pula.

Ulama intelek dari Tebuireng ini, mampu membaca tanda-tanda zaman. Beliau juga memberikan nasehat kepada kita semua, “Belajar berorganisasi dan belajarlah menambah pengetahuan dan meluaskan pengalaman sendiri. Membacalah! itulah pokok kemajuan Islam. Bukankah, wahyu yang pertama turun kepada Nabi Muhammad Saw. menyuruh membaca, menyuruh menggunakan pena, karena dengan membaca dan menggunakan pena itu, Tuhan mengajarkan kepada umat baru ilmu pengetahuan yang belum dipelajari. Ya membaca! Menulis dan membaca sebanyak-banyaknya. Itulah pokok kemajuan yang tak ada batasnya.”Untuk menjadi kaum intelek, menurut beliau seseorang harus menyediakan waktu 5 jam perhari untuk membaca. Baca apa saja 5 jam perhari maka engkau menjadi intelektual.

Bapak pendiri bangsa ini, amat di segani baik oleh kawan maupun lawannya. Sayang, Tuhan mengambil nyawanya dalam usia muda. Dalam tinta sejarah Indonesia segala bentuk perjuangan tercatatkan, misalnya pendirian perguruan tinggi Islam kini (UIN) merupakan salah satu contohnya. Pengabdiannya kepada agama dan negara dilakukan secara totalitas. Beliaupun dianugerahi gelar pahlawan nasional.

 KH. Abdurahman Wahid akrab dengan panggilan Gus Dur merupakan generasi dari Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari putera dari KH. A. Wahid Hasyim merupakan mantan Presiden RI ke 4. Yang berasal dari kalangan santri. Sejak kecil sudah suka membaca buku apa saja seperti ayahnya. Jihad ilmiahnya dari pesantren ke pesantren. Bahkan juga melintasi benua Afrika dan Eropa. Pergaulannya sangat luas, tidak hanya dari kelompoknya namun juga dengan beragam kalangan.

Perjuangan dengan kakek dan ayahnya sama di dalam negeri. Hanya saja berbeda zaman. Semasa hidupnya Gus Dur banyak mendobrak kejumudan berpikir. Beliau juga melawan penguasa yang berbuat dholim. Wacana pengetahuan yang dilontarkan selalu menjadi inspirasi anak-ANAK muda dari berbagai kalangan utamanya kaum muda NU. Kemampuannya menyatukan seluruh elemen bangsa menjadikannya amat dicintai dari berbagai kelompok.

Baik dari kelompok minortitas maupun mayoritas yang berbeda agama, politik, budaya dan lainnya. Sederet gelar diberikan kepadanya walaupun toh beliau tidak mengharapkannya. Sebagai orang yang tidak gila jabatan, harta, dan lainnya membuatnya dihormati. Semenjak kepergiannya ke alam barzah peziarah yang mendatangi pusaranya ramai saban hari. Dan mampu menggerakan perekonomian masyarakat sekitar. Dari mulai jasa poto, parkir, jajanan, aksesoris dan lainnya mengambil berkah dari aktivitas ziarah.

Amal sosialnya yang tak terhitung membuat pemerintah akan menghadiahinya Gelar pahlawan bagi mantan presiden ke-4, Abdurahman Wahid atau Gus Dur sudah selesai di Dewan Gelar, tapi dengan catatan diendapkan menunggu waktu yang tepat, ” ujar Khofifah melalui siaran pers, Sabtu (7/11/2015). Meski gelar itu tak penting bagi Gus Dur namun membuat pengikutnya dari segenap lapisan masyarakat merasa bangga dan bahagia.

Sosok tiga tokoh dari satu darah menjadikan kita semua merasa perlu untukmenjadikannya teladan. Semangat berjuangnya patut ditiru. Keilmuannya yang mendalam juga. Akhlaknya yang terpuji.Artinya tokoh-tokoh pesantren memiliki kontribusi nyata terhadap bangsa dan rakyat Indonesia. Dalam hal ini, kita para santri dan kaum terpelajar dimanapun dan kapanpun tidak bisa sekedar hanya menjadi penggembira semata melihat tokohnya. Masih banyak ide-ide perjuangan para beliau yang belum usai diselesaikan. Patut untuk dilanjutkan. Ahmad Fao via muslimoderat.com




Gus Dur: Hingga Malaikatpun Tak Sanggup Menghitung Pahala Bacaan Sholawat

Gus Dur: Hingga Malaikatpun Tak Sanggup Menghitung Pahala Bacaan Sholawat


Gusdurfiles.com  ~ Selagi masih ada sisa-sisa aroma Maulid. Yuk kita bongkar kembali khazanah keilmuan Islam tentang keistimewaan membaca sholawat atas Nabi Muhammad SAW, agar tetap tumbuh kecintaan kita kepadanya. Kali ini sebuah wejangan dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang patut kita renungkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bahwa Rosululloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam bersabda:
“Disaat aku tiba di langit di malam Isro’ Mi’roj, aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan. Di setiap tangan ada 1000 jari, aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu.
Aku bertanya kepada Jibril Alaihis Salam, pendampingku,
‘Siapa gerangan malaikat itu, dan apa tugasnya?.’
Jibril Alaihis Salam berkata,
Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi.
Rosululloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya kepada malaikat tadi,
‘Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak diciptakan Adam Alaihis Salam ?’.
Malaikat itupun berkata, ‘Wahai Rosulalloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam, demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi dari mulai diciptakan Adam Alaihis Salam sampai sekarang ini, begitu pula aku mengetahui jumlah tetetas yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia”.
Baca Juga : Nasihat Gus Dur tentang Pentingnya Do’a Orang Tua, Guru, Keluarga dan Sahabat 
Mendengar uraian malaikat tadi,
Rosululloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan.
Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau :
“Wahai Rosulalloh, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan”.
Rosulalloh Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun bertanya,
“Apa kekurangan dan kelemahan kamu?.
Malaikat itupun menjawab, “kekurangan dan kelemahanku, wahai Rosulalloh,
Jika umatmu berkumpul di satu tempat,
mereka menyebut namamu lalu BERSHOLAWAT atasmu,
pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Alloh Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka atas sholawat yang mereka ucapkan atas dirimu”.
مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ
“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali
maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali,
dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya,
serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)”’
[HR an-Nasa’i (no. 1297), Ahmad (3/102 dan 261), Ibnu Hibban (no. 904) dan al-Hakim (no. 2018), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, juga oleh Ibnu hajar dalam “Fathul Baari” (11/167)] via serambimata.com
Guyonan Gus Dur tentang Sunni – Wahabi

Guyonan Gus Dur tentang Sunni – Wahabi


Gusdurfiles.com ~ Meskipun seringkali disampaikan dengan guyonan, pesan-pesan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, selalu mengandung pesan yang dalam dan ilmiah. Kecerdasan cucu KH. Hasyim Asy’ari itu memang tak terbantahkan, sehingga apa yang disampaikan beliau selalu menjadi rujukan tidak hanya kaum Nahdhiyian. Sampai-sampai beliau disebut-sebut bagaikan perpustakaan berjalan.


Dan berikut salah satu guyonan Gus Dur tentang dialog antar Sunni dan Wahabi. Seperti diketahui, dua kelompok ini selalu berselisih dalam hal aqidah dan pemahaman tentang Islam :

WAHABI: “Apa dalil yang Anda gunakan dalam Tahlilan, sehingga komposisi bacaannya beragam atau campuran, ada dzikir, ayat-ayat al-Qur’an, sholawat dan lain-lain?”

SUNNI: “Mengapa Anda menanyakan dalil? Apa pentingnya dalil bagi Anda, sedang Anda tidak mau Tahlilan?”

WAHABI: “Kalau Tahlilan tidak ada dalilnya berarti bid’ah donk. Jangan Anda lakukan!”

SUNNI: “Sekarang saya balik tanya, adakah dalil yang melarang bacaan campuran seperti Tahlilan?”

WAHABI: “Ya tidak ada.”

SUNNI: “Kalau tidak ada dalil yang melarang, berarti pendapat Anda yang membid’ahkan Tahlilan jelas bid’ah. Melarang amal shaleh yang tidak dilarang dalam agama.
Kalau Anda tidak setuju dengan komposisi bacaan dalam Tahlilan, sekarang saya tanya kepada Anda, bacaan dalam sholat itu satu macam atau campuran?”

WAHABI: “Ya, campuran dan lengkap.”

SUNNI: “Berarti bacaan campuran itu ada contohnya dalam agama, yaitu sholat. Kalau begitu mengapa Anda masih tidak mau Tahlilan?”

WAHABI: “Kalau sholat kan memang ada tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalau campuran dalam Tahlilan kan tidak ada tuntunan?”

SUNNI: “Itu artinya, agama tidak menafikan dan tidak melarang dzikir dengan komposisi campuran seperti Tahlilan, dan dicontohkan dengan sholat. Sedangkan pernyataan Anda, bahwa dzikir campuran di luar sholat seperti Tahlilan, tidak ada dalilnya, itu karena Anda baru belajar ilmu agama. Coba perhatikan hadits ini:

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ للهِ سَيَّارَةً مِنَ الْمَلاَئِكَةِ يَطْلُبُوْنَ حِلَقَ الذِّكْرِ فَإِذَا أَتَوْا عَلَيْهِمْ وَحَفُّوْا بِهِمْ ثُمَّ بَعَثُوْا رَائِدَهُمْ إِلىَ السَّمَاءِ إِلَى رَبِّ الْعِزَّةِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَيَقُوْلُوْنَ : رَبَّنَا أَتَيْنَا عَلىَ عِبَادٍ مِنْ عِبَادِكَ يُعَظِّمُوْنَ آَلاَءَكَ وَيَتْلُوْنَ كِتَابَكَ وَيُصَلُّوْنَ عَلىَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَيَسْأَلُوْنَكَ لآَخِرَتِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ فَيَقُوْلُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : غَشُّوْهُمْ رَحْمَتِيْ فَيَقُوْلُوْنَ : يَا رَبِّ إِنَّ فِيْهِمْ فُلاَناً الْخَطَّاءَ إِنَّمَا اعْتَنَقَهُمْ اِعْتِنَاقًا فَيَقُوْلُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : غَشُّوْهُمْ رَحْمَتِيْ فَهُمُ الْجُلَسَاءُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيْسُهُمْ . (رواه البزار قال الحافظ الهيثمي في مجمع الزوائد: إسناده حسن، والحديث صحيح أو حسن عند الحافظ ابن حجر، كما ذكره في فتح الباري 11/212)

“Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang selalu mengadakan perjalanan mencari majelis-majelis dzikir. Apabila para malaikat itu mendatangi orang-orang yang sedang berdzikir dan mengelilingi mereka, maka mereka mengutus pemimpin mereka ke langit menuju Tuhan Maha Agung – Yang Maha Suci dan Maha Luhur. Para malaikat itu berkata: “Wahai Tuhan kami, kami telah mendatangi hamba-hamba-Mu yang mengagungkan nikmat-nikmat-Mu, menbaca kitab-Mu, bershalawat kepada nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan memohon kepada-Mu akhirat dan dunia mereka.” Lalu Allah menjawab: “Naungi mereka dengan rahmat-Ku.” Lalu para malaikat itu berkata: “Di antara mereka terdapat si fulan yang banyak dosanya, ia hanya kebetulan lewat lalu mendatangi mereka.” Lalu Allah – Yang Maha Suci dan Maha Luhur – menjawab: “Naungi mereka dengan rahmat-Ku, mereka adalah kaum yang tidak akan sengsara orang yang ikut duduk bersama mereka.” (HR. al-Bazzar. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid [16769, juz 10, hal. 77]: “Sanad hadits ini hasan.” Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, hadits ini shahih atau hasan).

Hadits di atas menjadi dalil keutamaan dzikir berjamaah, dan isi bacaannya juga campuran, ada dzikir, ayat-ayat al-Qur’an dan sholawat.”

WAHABI: “Owh, iya ya.”

SUNNI: “Makanya, jangan suka usil. Belajar dulu yang rajin kepada para Kiai dan ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Jangan belajar kepada kaum Wahabi yang sedikit-sedikitbilang bid’ah dan syirik.”

WAHABI: “Terima kasih”.

SUNNI: “Menurut Anda, Syaikh Ibnu Taimiyah itu bagaimana?”

WAHABI: “Beliau Syaikhul-Islam di kalangan kami yang Anda sebut Wahabi. Pendapat beliau pasti kami ikuti.”

SUNNI: “Syaikh Ibnu Taimiyah justru menganjurkan Tahlilan dalam fatwanya. Beliau berkata:

وَسُئِلَ: عَنْ رَجُلٍ يُنْكِرُ عَلَى أَهْلِ الذِّكْرِ يَقُولُ لَهُمْ : هَذَا الذِّكْرُ بِدْعَةٌ وَجَهْرُكُمْ فِي الذِّكْرِ بِدْعَةٌ وَهُمْ يَفْتَتِحُونَ بِالْقُرْآنِ وَيَخْتَتِمُونَ ثُمَّ يَدْعُونَ لِلْمُسْلِمِينَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ وَيَجْمَعُونَ التَّسْبِيحَ وَالتَّحْمِيدَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّكْبِيرَ وَالْحَوْقَلَةَ وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم؟” فَأَجَابَ : الِاجْتِمَاعُ لِذِكْرِ اللهِ وَاسْتِمَاعِ كِتَابِهِ وَالدُّعَاءِ عَمَلٌ صَالِحٌ وَهُوَ مِنْ أَفْضَلِ الْقُرُبَاتِ وَالْعِبَادَاتِفِي الْأَوْقَاتِ فَفِي الصَّحِيحِ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ : ( إنَّ للهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ فَإِذَا مَرُّوا بِقَوْمِ يَذْكُرُونَ اللهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إلَى حَاجَتِكُمْ ) وَذَكَرَ الْحَدِيثَ وَفِيهِ ( وَجَدْنَاهُمْ يُسَبِّحُونَك وَيَحْمَدُونَك )… وَأَمَّا مُحَافَظَةُ الْإِنْسَانِ عَلَى أَوْرَادٍ لَهُ مِنْ الصَّلَاةِ أَوْ الْقِرَاءَةِ أَوْ الذِّكْرِ أَوْ الدُّعَاءِ طَرَفَيْ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنْ اللَّيْلِ وَغَيْرُ ذَلِكَ : فَهَذَا سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللهِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا. (مجموع فتاوى ابن تيمية، ٢٢/٥٢٠).

“Ibnu Taimiyah ditanya, tentang seseorang yang memprotes ahli dzikir (berjamaah) dengan berkata kepada mereka, “Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah”. Mereka memulai dan menutup dzikirnya dengan al-Qur’an, lalu mendoakan kaum Muslimin yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka mengumpulkan antara tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (laa haula wa laa quwwata illaa billaah) dan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.?” Lalu Ibn Taimiyah menjawab: “Berjamaah dalam berdzikir, mendengarkan al-Qur’an dan berdoa adalah amal shaleh, termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu. Dalam Shahih al-Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki banyak Malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka memanggil, “Silahkan sampaikan hajat kalian”, lanjutan hadits tersebut terdapat redaksi, “Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu”… Adapun memelihara rutinitas aurad (bacaan-bacaan wirid) seperti shalat, membaca al-Qur’an, berdzikir atau berdoa, setiap pagi dan sore serta pada sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan tradisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan hamba-hamba Allah yang saleh, zaman dulu dan sekarang.” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, juz 22, hal. 520).

 Baca Juga :Inilah Jenderal yang Paling Ditakuti Gus Dur

Pernyataan Syaikh Ibnu Taimiyah di atas memberikan kesimpulan bahwa dzikir berjamaah dengan komposisi bacaan yang beragam antara ayat al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, shalawat dan lain-lain seperti yang terdapat dalam tradisi tahlilan adalah amal shaleh dan termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu.

WAHABI: “Lho, ternyata beliau juga menganjurkan Tahlilan ya. Owh terima kasih kalau begitu. Sejak saat ini, saya akan ikut jamaah Yasinan dan Tahlilan. Ternyata ajaran Wahabi tidak punya dalil, kecuali hawa nafsu yang selalu mereka ikuti.”



Sumber :serambimata.com



Nasihat Gus Dur tentang Pentingnya Do’a Orang Tua, Guru, Keluarga dan Sahabat

Nasihat Gus Dur tentang Pentingnya Do’a Orang Tua, Guru, Keluarga dan Sahabat


Gusdurfiles.com ~ Orang yang sering mustajab do’anya, sementara ia masih sering kesiangan Sholat subuhnya, ketahuilah bahwa kemustajaban do’anya itu adalah bagian dari Istidroj, demikian dawuh Simbah Yai Mishbah Zain Al Mushthofa Bangilan Tuban dalam kitabnya Syarah Hizb al Nashor.


Kalau teringat dawuh ini, rasanya terkelupas wajah saya, betapa banyak kemudahan kemudahan yang saya terima dalam hidup ini yang jika diukur dengan ketaqwaan saya sungguh tidak sebanding, bahkan sangat tidak pantas.

Begitu saja masih terjejal di otak, bermacam keinginan dan program hidup di masa depan yang maunya terlaksana dengan mudah.

ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب

“Siapa yang BERTAQWA Alloh akan membuat untuknya SOLUSI dan memberi Rizqi baginya dari arah yang tiada diperhitungkan”

Jelas sudah bahwa Mahrojan atau solusi itu datang dari sebab ketaqwaan, mafhum mukholifnya tentu jika ada solusi yang tidak disertai ketaqwaan, maka itu bukanlah Anugrah.

Baca Juga :Inilah 5 Kiai Khos yang Menentukan Kebijakan Gus Dur

Untung saja saya masih dapat menghibur diri, bahwa kemudahan kemudahan yang saya terima sangatlah mungkin itu datang dengan sebab doa kedua orang tua, kakek nenek, para guru dan para sahabat yang terus mengalir kepada saya.

أللهم اغفرلي ولوالدي ولمشايخنا ولجميع الحقوق الواجبة من المؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات

“Wahai Tuhan kami, ampuni untuk kami, kedua orang tua kami, guru guru kami, dan semua yang punya hak kuwajiban (dari kami) teridri dari orang orang beriman dan orang orang islam, baik yang masih hidup atau yang sudah mati”

Dan doa di ataspun sering saya lupakan, padahal itu adalah cara termudah sebagai balas kasih dari mereka.

Dikutip dari akun facebook Waroeng Kloentoeng via serambimata.com
Wali Kota Jakpus: Kiai Said dan Gus Dur Sebelas Dua Belas

Wali Kota Jakpus: Kiai Said dan Gus Dur Sebelas Dua Belas


Gusdurfiles.com ~ Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede mengaku sebagai seorang Gusdurian, bagian dari komunitas pecinta Ketua Umum PBNU 1984-1999 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Pengakuan itu disampaikan pada pelantikan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se-Jakarta Pusat di di Gedung Serba Guna Kantor Walikota Jakarta Pusat pada Jumat siang (19/2).

Ia menilai bahwa Gus Dur merupakan tokoh yang bisa mengayomi dan membuat tentram kaum minoritas.

Selain Gus Dur, ia juga mengaku mengidolkan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Baca Juga: Komentar Kiai Ali Maksum saat Gus Dur Dakwahi Pendeta

Ia menganggap bahwa antara Kiai Said dan Gus Dur itu sebelas dua belas karena menurutnya kiai Said itu duplikasi Gus Dur dan pernyataan-pernyataan Kiai Said itu menentramkan, bukan menyudutkan kaum minoritas.

Mangara mengaku sudah lama mengamati pemikiran-pemikiran Kiai Said. Bahkan sebelum Kiai Said menjadi Ketua Umum PBNU.

Dulu ia berangan-angan bahwa suatu saat Kiai Said akan memimpin NU. Sekarang angannya tersebut menjadi kenyataan.

Indonesia, kata dia, butuh tokoh-tokoh yang bisa mengayomi kaum minoritas. (Ahmad Muchlishon/Abdullah Alawi) via nu.or.id





Kedekatan Gus Dur dengan Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi Kwitang

Kedekatan Gus Dur dengan Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi Kwitang


Gusdurfiles.Com ~ Perlu di ketahui bahwa tatkala organisasi NU akan masuk ke Batavia/Jakarta,para Ulama NU terlebih dulu meminta restu AlHabib Ali bin Abdurrahman AlHabsyi Kwitang,lalu Habib Ali meminta kepada KH Ahmad Marzuki bin Mirshod muara untuk melihat perkembangan NU bilkhusus didaerah Jombang,untuk melihat NU secara lebih dekat.

Setelah sekembalinya KH Ahmad Marzuki bin Mirshod beliau khabarakan kepada Habib Ali tentang Organisasi NU yang dudirikan oleh Para Ulama Ahlussunah Waljamaah,lalu Habib Ali memerintahkan segenab murid muridnya untuk membantu Perjuangan NU dan terjun langsung dalam organisasi tersebut

Diantara para Ulama Betawi yang merupakan Murid dari Unwanul Falah yang terjun didalamnya adalah
● KH Naim ( ayah KH Abdul Hay Naim )
● KH Thohir Rohili
● KH Ahmad Mursidi
● KH Ali Sibro Malisi

Dan para Ulama lainnya serta seluruh Murid dan Putra dari KH Ahmad Marzuki pun turut serta.
KH Hasyim Asyari bila datang ke Betawi menyempatkan diri untuk datang dan hadir di Pengajian Hari Minggu paginya Habib Ali di Kwitang,dan KH Hasyim Asyari mengingatkan kepada para putranya bila ke Betawi untuk menemui dan meminta Nasehat serta Doa Dari Habib Ali dimana sama kita ketahui dikala KH Wahid Hasyim ditunjuk sebagai mentri oleh Bung Karno hubungan KH Hasyim dilanjutkan oleh Sang Putra dengan seringnya bersilaturrahmi ke pada Habib Ali,bahkan sang Cucu Abdurrahman Wahid/Gus Dur mengaji dan membaca Kitab didepan Habib Ali,sebagaimana langsung dikatakan oleh GusDur sendiri bahwa beliau mengkhatamkan beberapa kitab kecil dihadapan Habib Ali,

" saya ini waktu kecil dibawa ayah saya menemui Habib Ali Kwitang,saya tanya kepada ayah saya ....... siapa Beliau,apa sama dengan Mbah yang ada dikampung
Lalu ayah saya bilang ....... beliau adalah Habib Ali AlHabsyi cucunya Kanjeng Nabi SAW,yang merupakan Ulama Besarnya Tanah Betawi dan menjadi Guru Besar Ulama untuk orang Betawi,ndengar begitu ya saya bilang sama ayah saya dan meminta idzin untuk ngambil Barakah dari beliau dan ingin membaca Kitab ........ Ya Walaupun itu kitabnya kitab kecil ( maksudnya tidak tebal ) yang penting mbaca depan Habib
Ya Alhamdulillah biar begini saya ini sudah Khatam buanyak Kitab walau kitabnya itu ndak besar dihadapan seorang Ulama besar dari keluarganya Rosululloh SAW "

( di sampaikan di acara Maulid Nabi SAW Th 1990an di daerah Comal )

Baca Juga: Jika Saat itu Presidennya Bukan Gus Dur, Indonesia Hancur,Ini alasannya !!

Belum lagi tatkala PBNU dibawah kepemimpinan KH Idcham khalid,terasa makin erat Hubungan Para Habaib dan Ulama NU di Betawi ini,sampai sampai Habib Ali menganggab KH Idham Khalid adalah anaknya sendiri,beberapa kali Habi Ali mengahdiri acara acara NU baik rapat Akbar dan Musyawarah Nasional yang diadakan di Betawi,bahkan rombongan para Kiai dari Jawa bila NU mengadakan acara di Betawi selalu akan menyempatkan Hadir di Majlisnya Habib Ali di Kwitang,sebagaimana pernah di pimpin oleh KH Wahab Hasbulloh didampingi oleh KH Bagir Marzuqi

Begitu indahnya Hubungan NU dan Habaib dijakarta sudah ada sejak dulu dan KH Abdurrahman Wahid dikala beliau menjadi Presiden beliau menyempatkan untuk mengambil keberkaha dan berziarah ke Makam Habib Ali AlHabsyi di Kwitang yang merupakan Guru beliau juga karna dimasa kecilnya pernah membaca Kitab dihadapan Langsung Habib Ali

Ke indahan yang sudah ada jangan di rusak oleh orang orang yang tidak mengerti akan Sejarah
Dan Presiden Suekarno di acara Hut Kemerdekaan RI tahun 1966 di Gelora BungKarno di Senayan menyatakan
" Bangsa yang baik adalah Bangsa yang tidak melupakan Sejarah,Jangan Sekali kali melupakan Sejarah "

Sumber : Ust. Anto Djibril via muslimoderat.com

Komentar Kiai Ali Maksum saat Gus Dur Dakwahi Pendeta

Komentar Kiai Ali Maksum saat Gus Dur Dakwahi Pendeta


Gusdurfiles.com ~ KH Bukhori Masruri, salah satu santri mantan Rais ‘Aam PBNU Almarhum KH Ali Maksum, memiliki kesan tersendiri tentang gurunya ini. Ia menilai Kiai Ali termasuk sosok yang terbuka dan berpandangan luas.

Ia bercerita, suatu ketika KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berdakwah di depan para pendeta Kristen. Peristiwa tersebut menghebohkan masyarakat. Kiai Bukhori langsung menanyakan kepada Kiai Ali tentang peristiwa itu.

“Kiai Ali malah menjawab, ‘Kalau nggak Dur Rahman (Gus Dur) yang berdakwah di sana, lalu kapan para pendeta mendengarkan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an?’” paparnya yang sontak disambut tawa hadirin.

Kiai Bukhori Masruri menyampaikan hal itu ketika memberikan taushiyah pada peringatan Haul Ke-27 al-Magfurllah KH Ali Maksum, di Krapyak, Yogyakarta, Rabu malam (17/2). Ia juga mengatakan bahwa saking luasnya wawasan, Kiai Ali tidak hanya mengajarkan kitab-kitab salaf kepada para santrinya.

“Kitab-kitab umum seperti kitab karya Hasan al-Banna yang bagi kalangan pesantren kurang familiar, diajarkan juga. Beliau juga hafal macam-macam kitab di luar kepala sampai dikatakan sebagai ‘Munjid’ (kamus) berjalan,” ujarnya Kiai Bukhori.

Baca Juga: Abah Anom:" Gus Dur Ditalqin Langsung Oleh Syekh Abdul Qadir Jilany",Ini Ceritanya !!

Kiai yang kini berdomisili di Semarang tersebut juga bercerita bahwa pada suatu ketika dirinya dan satu temannya diminta Kiai Ali untuk mencari status hukum alkohol, bukan miras, dari kitab yang berbeda. Setelah seharian mencari, akhirnya mereka menemukan juga. Menghadaplah kepada Kiai Ali Maksum.

“Teman saya menemukan bahwa hukum alkohol itu haram. Lha, saya malah menemukan hukumnya tidak haram. Tahu hasilnya seperti itu, Kiai Ali malah tertawa,” kata Kiai Bukhori yang disambut gelak tawa para jamaah yang hadir.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Bukhori juga mengungkapkan kalau Kiai Ali itu sangat dekat dengan para santri-santrinya.

“Kiai Ali itu sangat akrab sekali dengan santri-santrinya dan hafal nama semua santri. Saking dekatnya, para santri kalau memanggil kiai Ali itu bapak. Tidak ada kiai yang seperti itu, selain Kiai Ali,” tandasnya.

Hadir dalam acara haul tersebut KH Maimoen Zubair, Habib Husein Assegaf, KH Malik Madani, KH Idris, Dubes LBBP RI untuk Kerajaan Arab Saudi H Agus Maftuh Abegebriel, Dubes LBBP RI untuk Republik Demokratik Aljazair Hj Safira Machrusah, dan beberapa tokoh-tokoh lainnya. (Nur Rokhim/Mahbib) via nu.or.id
Gus Dur : Belajar Mengaji

Gus Dur : Belajar Mengaji


Gusdurfiles.com ~ Saat mengaji kitab nahwu "Qathrunnada wa Ballusshoda" di Masjid Al-Munawwarah Pesantren Ciganjur, Gus Dur bercerita tentang seorang santri yang sedang belajar mengaji Al-Qur'an. Kali ini ia sedang belajar surat Al-Qurais.<>

Pak Ustadz menyuruhnya membaca. "Ayo dimulai nak...!"

Santri mulai membaca. "Bismillahirrahmanirrahim. Liilafiquraisyin iila fihim rihlatas syitaa'i wasshoifi."

Pak Ustadz spontan menyuruh santri menghentikan bacaannya. "Wasshoifffff," katanya.

"Wasshoifi," kata satri.

"Wasshoifff, kalau waqof dimatikan. Wasshoifff," kata ustadz.

Santri tetap tidak paham. "Wasshoifi". Masih ada ada bunyi "fi" di belakang.

Akhirnya pak ustadz tidak sabar. Saat santri membaca "Wasshoif," ia langsung menutup mulut santri dengan tangan kananannya. "Nah begitu, wasshoiff," katanya.

Tapi, kata Gus Dur, ketika mulut santri itu dilepaskan, tetap saja masih ada bunyi "fi". (Anam) via nu or.id

Peluru Juga Habis

Peluru Juga Habis


Gusdurfiles.com ~ Gus Dur bercerita tentang situasi Rusia, tidak lama setelah Uni Soviet bubar. Sosialisme hancur, dan para birokrat belum punya pengalaman mengelola sistem ekonomi baru, pasar bebas. Di masa sosialisme, memang rakyat sering antre untuk mendapatkan macam-macam kebutuhan pokok, tapi semua orang kebagian jatah. Para birokratnya sudah berpengalaman dalam hal bagi-membagi. <>

Sekarang, masyarakat tetap harus antre, tapi  antrean sangat panjang, dan banyak orang yang tidak kebagian jatah.

Begitulah, seorang penulis berkeliling kota Moskow untuk mengamati bagaimana sistem baru itu bekerja. Di sebuah antrean roti, setelah melihat banyaknya orang yang tidak kebagian, penulis itu menulis di buku catatannya, “Roti habis.”

Lalu dia pergi ke antrean bahan bakar. Lebih banyak lagi yang tak kebagian. Dan dia mencatat “Bahan bakar habis!”

Kemudian dia menuju ke antrean sabun. Dia menyimpulkan, pemerintah kapitalis baru ini tidak becus. Dia menulis besar-besar “SABUN HABIS!”.

Tanpa dia sadari, dia diikuti oleh seorang intel KGB. Ketika dia akan meninggalkan antrean sabun itu, si intel menegur “Hey bung! dari tadi kamu sibuk mencatat. Apa yang kamu catat?”

Sang penulis bercerita, dia sedang melakukan penelitian tentang kemampuan pemerintah baru dalam mendistribusikan barang untuk rakyatnya.


“Untung kamu ya, sekarang sudah jaman reformasi,” ujar sang intel. “Kalau dulu, kamu sudah ditembak,” kata intel itu.


Sambil melangkah pergi, penulis itu mencatat lagi, “Peluru juga habis!” (Red: Anam) via nu.or.id

Ketika Pelari Suriah Mendadak Juara

Ketika Pelari Suriah Mendadak Juara



Gusdurfiles.com ~ Suatu ketika pelari asal Suriah berhasil merebut medali emas Olimpiade. Dunia terkejut. Mengapa Suriah bisa juara? Gus Dur punya jawabannya.<>

“Apa Gus?” para wartawan dari berbagai negara penasaran. Soalnya torehan sang pelari Suriah itu bahkan mampu memecahkan rekor tercepat dari pemenang sebelumnya, bahkan selisih waktunya pun terpaut jauh.

“Saya sudah tanya ke pelarinya, ‘Apa sih rahasia kemenangan anda?”’

“Lalu jawabnya apa Gus?”

“Ya mudah saja. Tiap kali pelari itu bersiap-siap akan start, ia membayangkan sedang dikejar-kejar serdadu Israel.” (Anam) via nu.or.id


NU Semakin Luar Biasa saat di Pimpin Gus Dur

NU Semakin Luar Biasa saat di Pimpin Gus Dur


Gusdurfiles.Com ~ Dalam hubungan patronase kiai-santri, Ponpes Tebuireng merupakan ”kiblat”, khususnya semasa KH Hasyim Asy’ari. Banyak kiai besar yang belajar di Tebuireng. Dalam tradisi keulamaan NU, penghormatan seorang santri kepada putra kiainya sama dengan kepada kiainya. Bahkan, sampai kepada cucu kiainya. Karena itu, putra atau cucu kiai dipanggil “Gus”.

Wajar jika Gus Dur memiliki superioritas tinggi di mata nahdliyin. Apalagi, ia juga memiliki kemampuan keilmuan yang dipandang sangat tinggi di antara para tokoh NU. Meskipun tidak dikenal sebagai spesialis dalam salah satu atau bebrapa cabang ilmu keislaman, ia sangat menguasai kitab kuning, juga kitab-kitab kontemporer yang disusun para ulama di masa belakangan. Selain mumpuni dalam ilmu-ilmu agama, ia pun menguasai berbagai ilmu lain dengan wawasan yang sangat luas.

Di masa Gus Dur pamor NU terus menaik. Ia berhasil membawa NU menjadi kekuatan yang berskala nasional sebagai pengimbang kekuasaan, yang waktu itu tak terimbangi oleh siapa pun. Setelah sebelumnya kurang diperhitungkan, kecuali di saat-saat pemilu, NU kemudian berubah menjadi betul-betul dikenal dan dihormati banyak pihak, baik dari dalam maupun luar negeri. Jika sebelumnya jarang dibicarakan orang, dalam waktu singkat NU berubah menjadi obyek studi dari banyak sarjana di mana-mana. Semua itu tak dapat dilepaskan dari peran Gus Dur, baik sebagai ketua umum PBNU maupun sebagai pribadi dalam berbagai kapasitasnya.

Ya, Gus Dur memang punya kharisma yang besar di mata para kiai, apalagi di depan umatnya. Umat NU ketika itu sedang mencari tokoh yang menjadi jendela menuju dunia modern. Ada kebanggaan di kalangan NU terhadap Gus Dur, karena ia membawa pesantren dan NU ke dunia luar yang luas. Ia membuka masyarakat NU untuk sadar bahwa kita hidup dalam dunia global.

Sejak di bawah kepemimpinan Gus Dur, peran NU sebagai jam’iyyah maupun peran tokoh-tokohnya sebagai individu dari waktu ke waktu semakin kuat dan terus meluas, termasuk dalam politik. Meskipun secara resmi NU telah menyatakan diri kembali ke khiththah dan tidak lagi berpolitik praktis, pengaruh politiknya tak pernah surut, bahkan semakin menguat. Tokoh-tokoh NU yang terlibat di pentas politik, meskipun tidak mengatasnamakan NU, semakin banyak.

Munculnya PKB dan partai-partai baru lainnya sangat mengandalkan dukungan warga NU.
Dinamika politik kemudian terus bergulir. Hanya berselang setahun tiga bulan setelah pendirian PKB, akhirnya pada bulan Oktober 1999 Gus Dur terpilih sebagai presiden RI yang keempat melalui pemilihan langsung yang dramatis di MPR. Itulah puncak karier NU di pentas politik.(hm/muslimoderat)




Gus Dur Lebih Memilih Menjadi Kiai Ketoprak Daripada Menjadi Ketum PBNU

Gus Dur Lebih Memilih Menjadi Kiai Ketoprak Daripada Menjadi Ketum PBNU


Gusdurfiles.Com ~ Saat Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Situbondo  Jawa Timur tahun 1984, sempat terjadi suasana yang panas. Bukan hanya karena konflik kubu Situbondo dan kubu Cipete, melainkan juga karena kubu Situbondo terancam pecah akibat KH Machrus Ali, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, menolak KH  Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjadi ketua umum Tanfidziyah Pengurus Besar NU apabila tidak mau melepaskan jabatannya sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Menurut  para kiyai, seorang ulama dan sekaligus ketua umum PBNU tidak pantas ngurusi “kethoprak”. Namun ternyata Gus Dur bersikeras  tidak mau mundur  menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dengan tegas Gus Dur mengatakan “Lebih baik saya tidak menjadi ketua umum PBNU daripada saya harus melepas jabatan sebagai ketua DKJ”. Sikap keras Gus Dur memang sangat aneh, sangat kontroversial dan kontradiktif, sekilas tampak  menyimpang dari tradisi ulama-ulama di kalangan NU.


Masalahnya kemudian terselesaikan saat KH Achmad Sidiq dari Jember bercerita kepada para Kiyai dan juga kepada KH Machrus Ali, bahwasanya KH Achmad Siddiq bermimpi : “Melihat Al-marhum KH Wahid Hasyim, ayahanda Gus Dur, berdiri di atas mimbar”. Spontan para Kiyai dan KH Machrus Ali berubah, sikap mendukung Gus Dur tanpa syarat. Ia menakwilkan mimpi itu, KH Wahid Hasyim merestui Gus Dur.

Meskipun KH Machrus Ali lebih tua dari KH Wahid Hasyim tetapi beliau hormat ta’dzim kepada KH Wahid Hasyim (Sosok ulama muda yang sulit mencari penggantinya, sosok kharismatis, brilian dan fenomenal. Di usianya yang belum genap 40 tahun, sudah menjadi  tokoh nasional, pejuang dan ulama yang di hormati dan di segani, beliau meninggal dalam kecelakaan di usianya yang masih muda 39 tahun, semoga Allah menerima segala perjuangan dan amal baiknya dan mengampuni segala dosanya Amieen..). KH Machrus Ali menghormati  KH Wahid Hasyim juga karena beliau sendiri merupakan putra dari gurunya Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari  yang merupakan seorang Wali Qutub yang mashur dengan perjuangan dan resolusi  jihadnya untuk mempertahankan agama dan bangsa Indonesia ini dari kaum penjajajah. Dan beliu juga pendiri organisasi NU.

Menurut sebuah cerita yang bersumber dari  KH Said Agil Siradj, bahwasanya pada waktu para ulama dan kyai berkumpul diantaranya ada Kiai As’an, KHR As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), KH Mahrus Ali (Lirboyo), dan KH Ali Maksum (Krapyak ). Tiba-tiba Kiyai As’an mengatakan kepada para kiai “Para kiai tadi malam, saya bertemu dengan Nabi Khidir as, dan Nabi Khidir merestui NU dipimpin oleh Gus Dur’’. Kyai As’asn mengatakan bahwa beliau bertemu Nabi Khidir as bertemu pukul 03.00.

Ada sebuah peristiwa pada saat Gus Dur berkunjung ke pondok ploso Kediri, Gus Dur bertemu dengan Gus Miek yang merupakan seorang waliyullah yang mashur dan sangat di hormati di Jawa timur, Gus Miek mengatakan kepada para hadirin “INILAH PEMIMPIN DUNIA AKHIRAT”. Entah apa yang melatarbelakangi Gus Miek mengatakan demikian akan tetapi memang hal tersebut sengaja diucapkan Gus Miek.


Bahkan pada saat ziarah ke makam Tambak Gus Miek menawarkan kepada Gus Dur “GUS GIMANA KALAU ANDA WAFAT ANDA DIMAKAMKAN DI SINI SAJA SAMA SAYA”. Maksud dari Gus Miek tersebut dimakamkan di makam arba’in auliya’ (makam 40 wali Allah) yang berjarak kurang lebih km dari pondok Ploso Kediri yang sekarang juga menjadi makam almarhum Gus Miek dan sahabatnya KH Ahmad Shiddiq (Jember).

Gus Dur terpilih sebagai ketua umum PBNU, dan pada dua muktamar berikutnya ia kembali terpilih sebagai ketua umum. Maka selama lima belas tahun (1984-1999) NU berada dalam kendali Gus Dur. Kejadian di tahun 1984 itu menunjukkan kuatnya tradisi keulamaan di tubuh NU. Dua pilar dalam tradisi itu adalah nasab, yaitu atas dasar hubungan darah, dan hubungan patronase kiai-santri atau guru-murid.

Gus Dur memiliki nasab yang sangat kuat, baik dari jalur ayah maupun ibu. Selain cucu KH Hasyim Asy-ari dari jalur ayah, ia pun cucu KH Bisri Syansuri dari jalur ibu. KH Bisri Syansuri, rais am ketiga NU dan pengasuh Ponpes Denanyar, Jombang, adalah ayahanda Hj. Solichah Wahid Hasyim, ibunda Gus Dur.

Dalam hubungan patronase kiai-santri, Ponpes Tebuireng merupakan ”kiblat”, khususnya semasa KH Hasyim Asy’ari. Banyak kiai besar yang belajar di Tebuireng. Dalam tradisi keulamaan NU, penghormatan seorang santri kepada putra kiainya sama dengan kepada kiainya. Bahkan, sampai kepada cucu kiainya. Karena itu, putra atau cucu kiai dipanggil “Gus”.

Wajar jika Gus Dur memiliki superioritas tinggi di mata nahdliyin. Apalagi, ia juga memiliki kemampuan keilmuan yang dipandang sangat tinggi di antara para tokoh NU. Meskipun tidak dikenal sebagai spesialis dalam salah satu atau bebrapa cabang ilmu keislaman, ia sangat menguasai kitab kuning, juga kitab-kitab kontemporer yang disusun para ulama di masa belakangan. Selain mumpuni dalam ilmu-ilmu agama, ia pun menguasai berbagai ilmu lain dengan wawasan yang sangat luas.

Di masa Gus Dur pamor NU terus menaik. Ia berhasil membawa NU menjadi kekuatan yang berskala nasional sebagai pengimbang kekuasaan, yang waktu itu tak terimbangi oleh siapa pun. Setelah sebelumnya kurang diperhitungkan, kecuali di saat-saat pemilu, NU kemudian berubah menjadi betul-betul dikenal dan dihormati banyak pihak, baik dari dalam maupun luar negeri. Jika sebelumnya jarang dibicarakan orang, dalam waktu singkat NU berubah menjadi obyek studi dari banyak sarjana di mana-mana. Semua itu tak dapat dilepaskan dari peran Gus Dur, baik sebagai ketua umum PBNU maupun sebagai pribadi dalam berbagai kapasitasnya.

Ya, Gus Dur memang punya kharisma yang besar di mata para kiai, apalagi di depan umatnya. Umat NU ketika itu sedang mencari tokoh yang menjadi jendela menuju dunia modern. Ada kebanggaan di kalangan NU terhadap Gus Dur, karena ia membawa pesantren dan NU ke dunia luar yang luas. Ia membuka masyarakat NU untuk sadar bahwa kita hidup dalam dunia global.

Sejak di bawah kepemimpinan Gus Dur, peran NU sebagai jam’iyyah maupun peran tokoh-tokohnya sebagai individu dari waktu ke waktu semakin kuat dan terus meluas, termasuk dalam politik. Meskipun secara resmi NU telah menyatakan diri kembali ke khiththah dan tidak lagi berpolitik praktis, pengaruh politiknya tak pernah surut, bahkan semakin menguat. Tokoh-tokoh NU yang terlibat di pentas politik, meskipun tidak mengatasnamakan NU, semakin banyak.

Munculnya PKB dan partai-partai baru lainnya sangat mengandalkan dukungan warga NU.
Dinamika politik kemudian terus bergulir. Hanya berselang setahun tiga bulan setelah pendirian PKB, akhirnya pada bulan Oktober 1999 Gus Dur terpilih sebagai presiden RI yang keempat melalui pemilihan langsung yang dramatis di MPR. Itulah puncak karier NU di pentas politik.
Menurut Gus Dur ada lima macam Kiai (Ulama’ atau Ustad) Yaitu :

1- Kiai tandur yaitu seorang Ulama, kyai atau Ustad yang berjuang yang memiliki pondok pesantren, yayasan, lembaga, pendidikan, organisasi, majelis taklim termasuk juga Majlis dzikir dan Ilmu.
2- Kiai sembur yaitu seorang Ulama, kyai atau Ustad yang tidak punya pondok pesantren maupun majelis taklim, kiai sembur sendiri biasanya seorang tokoh atau panutan di masyarakat yang di hormati karena alim dan memiliki suri tauladan yang baik. Banyak di jadikan rujukan masyarakat  untuk  datang kepadanya.
3- Kiai wuwur  yaitu seorang Ulama, kyai atau Ustad  yang tidak mengerti  politik tapi terjun ke dunia politik, biasanya kiai seperti ini akan menjadi alat politik dan kekuasaan dan akan menjadi korban politik.
4- Kiai catur yaitu seorang Ulama, kyai atau Ustad  yang tahu politik
5- Dan Kiai nutur yaitu seorang Ulama, kyai atau Ustad  yang komersial dan matrealistis, doyan makan bantuan atau sumbangan dan kemana mana suka bawa proposal.

“Yang harus dijaga oleh NU adalah kiai tandur dan kyai sembur. Karena kedua kiai tersebut yang akan memelihara NU,” pesan Gus Dur.


Tetapi sekarang ini banyak sekali tokoh agama (kiai) yang terjun kedunia politik, apabila kiai ini terjun kedunia politik ini karena  memang sudah tahu dan paham ilmu politik, dan dia berjuang demi bangsa, rakyat dan agama, mari kita dukung. Tetapi apabila kiai ini berjuang demi mencari kekuasaan, kekayaan dan untuk kepentingan pribadinya sendiri, hukumnya wajib untuk anda tidak mendukungnya.

Sedangkan alasan Gus Dur merevisi Tap MPRS Nomor 25/1966 tentang pembubaran PKI yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, sebab dalam Islam tidak ada dosa warisan.

“Gara-gara Tap MPRS itu seseorang yang belum tentu mengenal kakeknya harus menanggung kesalahan kakeknya. Dia tidak boleh menjadi PNS dan sebagainya”.




Sumber :muslimoderat.com

Pemilik Naga Atoin Meto Kupang Terima Kasih untuk Gus Dur

Pemilik Naga Atoin Meto Kupang Terima Kasih untuk Gus Dur


Gusdurfiles.com ~ Pemilik Naga Atoin Meto (NAM) Kupang Leonard Antonio menyampaikan terima kasih kepada Presiden Ke-4 RI KH Abdurahman Wahid yang sering disapa Gus Dur. Leonard menyampaikan terima kasihnya usai perayaan misa syukur Tahun Baru China yang ke-2567 di Gareja Katedral Kupang, Senin (8/2).

"Saya dan seluruh warga Tionghoa mengucapkan terima kasih kepada bapak Gus Dur, Presiden Republik Indonesia yang Keempat karena beliau memberikan kesempatan kepada kami untuk bisa merayakan Imlek di Indonesia," ungkap Leonard.

Pemilik Naga Atoin Meto Kupang ini mengatakan, perayaan dan tradisi yang kita laksanakan adalah bentuk syukur kepada Tuhan dan menghormati semua leluhur atas rejeki yang diberikan selama setahun.

Menurutnya, tahun Monyet Api akan memberikan keberuntungan dan kesejahteraan bagi mereka. Monyet dianggap sebagai hewan yang lincah dalam bergerak ke mana-mana, jelasnya.

Dalam perayaan itu, Leornad Antonio menyampaikan pertunjukan Barongsai di sepanjang jalan Siliwangi Kota Kupang. Barongsai atau tarian naga sebagai tradisi China ini menjadi tontonan ribuan warga Kota Kupang.

Para pemain tarian pertunjukan barongsai adalah karyawan NAM. Sementara pelatih barongsai didatangkan dari Malang. Ia berharap tarian barongsai dapat menghibur warga Kota Kupang yang menyaksikan pertunjukan tarian naga itu. (Ajhar Jowe/Alhafiz K) via nu.or.id



Imlek diantara Perjuangan Gus Dur Melawan Korporatokrasi

Imlek diantara Perjuangan Gus Dur Melawan Korporatokrasi


Gusdurfiles.Com ~ Era-era tahun 45-60an adalah era di mana negara-negara lepas dari penjajahan, baik diberikan sebagai hadiah maupun hasil perjuangan mengusir penjajah.

Deretan itu mulai dari Indonesia sampai negara-negara di jazirah Arab dan Amerika Latin, mereka tumbuh dalam negara-negara yang baru merdeka. Hingga semangat kemerdekaan para founding fathers negara-negara itu tidak dapat ditaklukkan oleh neo-kolonialisme, yaitu bersekongkolnya kapitalis besar dengan rencana politik negara-negara besar atau biasa disebut Korporatokrasi, seperti Amerika Serikat yang memiliki rencana Tatanan Dunia Baru.

Hingga di seputar tahun 60-70an, negara-negara itu digantikan oleh pemerintah baru yang condong kepada pemegang kekuasaan korporatokrasi, Indonesia berganti ke pak Harto, Irak, Libya, Mesir, Tunisia, Yaman, Columbia, Chili, Suriah, Maroko, dan masih banyak negara lainnya.

Pergantian penguasa ini dibarengi dengan penandatanganan kontrak yang menjadi awal pengelolaan atau pengerukan kekayaan negara-negara yang dikalahkan tersebut, kontrak jangka panjang berdurasi 30-an tahun pada sumber daya alam ataupun kebijakan finansial negara-negara tersebut.

Indonesia dengan hasil buminya seperti tambang, Jazirah arab dengan minyak dan gas alamnya, Amerika Latin dengan gas alamnya. Hingga pada akhir pergantian abad menjelang kontrak habis, para negara korporatokrasi tersebut memaksakan kembali kontrak-kontraknya untuk diperpanjang tanpa alasan atau keberatan.

Maka pada akhir abad dan awal abad itu banyak terjadi huru-hara di negara-negara yang dikendalikan oleh korporatokrasi dengan timbangan kekuasaan atau penandatangan perpanjangan kontrak.

Proses huru-hara pergantian kekuasaan adalah ujian keberhasilan para pemimpin rezim tersebut dan masyarakat negara-negara tersebut untuk memiliki kemandirian berdikari mampu memiliki kebersatuan bangsanya.

Ujian baru bagi para tokoh pemimpin-pemimpin bangsa itu dari huru-hara seputar negosiasi dengan kelompok korporatokrasi tersebut, akankah mementingkan kekuasaannya atau menjadikan dirinya tumbal bagi pembangunan bangsanya yang lebih kokoh.

Indonesia dalam masa huru-hara tersebut sangat beruntung memiliki presiden Abdurrahman Wahid, presiden dari kalangan kyai yang sudah tidak peduli dengan embel-embel dan kenikmatan pribadi maupun keluarganya.

Maka, memberikan porsi yang sama bagi kalangan Tionghoa terhadap warga negara Indonesia lainnya adalah sumbangan yang sangat besar bagi keutuhan dan kerukunan bangsa pada waktu itu.

Sudah sangat pantas dan layak, bila di hari-hari menjelang Imlek ini, kalangan Tionghoa Indonesia berterima kasih kepada kyai Abdurrahman Wahid atau yang sering disebut dengan Gus Dur, sejenak doakan beliau menurut keyakinan masing-masing.

Matur nuwun.





Sumber :muslimoderat.com
Imlek Datang, Gus Dur Dikenang

Imlek Datang, Gus Dur Dikenang


Gusdurfiles.com ~ Bangsa Indonesia tidak akan pernah lupa terhadap jasa-jasa kemanusiaan yang telah banyak dirintis dan diwujudkan oleh Presiden Ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Khusus di hati orang Indonesia beretnis Tionghoa, Gus Dur merupakan manusia istimewa karena telah menempatkan mereka sejajar dengan etnis lain di Indonesia setelah puluhan tahun dimarjinalkan oleh Orde Baru, baik dalam beribadah maupun merayakan Imlek.

Memperjuangkan kemanusiaan seseorang atau kelompok orang yang tertindas memang sudah menjadi ruh perjuangan Gus Dur. Bahkan, Gus Dur telah meletakkan dasar bahwa orang Tionghoa secara terbuka boleh merayakan Hari Raya Imlek. Selain itu, Gus Dur juga ikut berjasa dalam menempatkan Konghucu sebagai salah satu agama resmi negara selain Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha.

Tidak berbeda dengan tahun-tahun terdahulu, dalam perayaan Imlek kali ini, warga Indonesia khususnya warga Tionghoa begitu mengapresiasi perjuangan dan jasa Gus Dur. Apresiasi tersebut banyak diungkapkan mereka di klenteng-klenteng hingga di media sosial. Sehingga “Gus Dur” pun naik menjadi trending topic di twitter hari ini. Bahkan di salah satu Klenteng tertua di Surabaya, Boen Bio hanya ada satu foto yang terpampang, yaitu foto Gus Dur.

Tribute untuk Gus Dur diantaranya datang dari komedian Ernest Prakasa dalam akun twitternya @ernestprakasa. Salah satu komedian berketurunan Tionghoa ini mengucapkan terima kasih kepada Gus Dur yang dulu telah mencabut peraturan yang melarang aktivitas warga Tionghoa di Indonesia.

“Terima kasih Gus Dur yang tahun 2000 lalu mencabut Inpres Nomor 14/1967 Suharto tentang larangan perayaan Imlek. Hidup kami kini lebih menyenangkan,” ungkap Ernest Prakasa yang tadi pagi pukul 08.30 WIB bincang Live di Metro TV bareng salah satu Putri Gus Dur, Inayah Wahid.

“Selamat hari raya imlek bagi yang merayakannya. Terima kasih Gus Dur. Semoga kita semua diberi kesehatan dan rezeki yang mengalir deras, amin,” tulis akun bernama @sidewii.

“Mengenang Gus Dur, dan mereka yang terampas kebebasannya. Happy Imlek, kawan,” kicau akun @johanesjonaz.

“Imlek begini saya jadi ingat Gus Dur tahun 1999. Cuma Gus Dur yang akui hak masyarakat Hoakiau dengan bolehkan imlek diadakan lagi. Respek,” cuit Damar Juniarto dalam akunnya @DamarJuniarto.

Selain akun-akun twitter di atas, ribuan akun lain juga turut mengenang dan memberikan apresiasinya kepada Gus Dur. Hal ini tidak hanya berlangsung di twitter, tetapi juga ramai di Facebook. Adapun Imlek tahun 2016 ini memasuki angka 2567 yang menurut perhitungan astrologi China adalah tahun Monyet dengan unsur api. (Fathoni) via nu.or.id

Pembangunan Prasasti Gus Dur di Jombang Belum Dapat Terealisasi

Pembangunan Prasasti Gus Dur di Jombang Belum Dapat Terealisasi


Gusdurfiles.com ~ Sudah cukup lama masyarakat Kabupaten Jombang dan pecinta KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menginginkan adanya pembangunan prasasti Gus Dur di Jombang, bahkan pemerintah kabupaten (Pemkab) setempat sempat membincangkan soal pembangunan tersebut terhitung sejak tahun 2012 lalu.

Disinyalir, persiapan pembangunan, termasuk pesanan prasasti seberat 8 ton sudah jadi, dan tinggal pemasangan. Namun hingga sekarang masih belum ada tanda-tanda realisasinya.

Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, Ahmad Syamsul Rijal saat dimintai tanggapannya menyatakan bahwa pihaknya sangat mendukung adanya prasasti Gus Dur di Jombang. “Bahkan pada saat itu kita juga hadir dalam rapat dengan Pemkab soal rencana tersebut. Kalau sampai sekarang masih belum terealisasi, wah saya tidak tahu di mana problemnya,” ujarnya kepada NU Online, Senin (8/2/2016).

Rijal, sapaan akrabnya mengungkapkan, semangat yang melatari saat itu adalah menguatkan karakter Jombang sebagai kota santri, kota pesantren, dan kota para pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

“Keberadaan prasasti itu juga akan menjadi catatan sejarah bagi anak cucu kita tentang sosok Gus Dur yang membanggakan,” terang pria pegiat masyarakat sipil ini.

Sementara itu Wakil Ketua DPRD Jombang, M Subaidi Muchtar mengakui dalam APBD tahun ini belum ada alokasi dana untuk pembangunan prasati Gus Dur tersebut. Namun ia berjanji akan memperjuangkan aspirasi masyarakat yang berkembang.

“Kalau memang problem pemerintah adalah biaya, pada APBD perubahan tahun ini Insyaallah akan kita masukkan,” kata Ketua DPC PKB Jombang ini. (Syamsul Arifin/Fathoni) via nu.or.id




Gus Dur dan Imlek di Indonesia

Gus Dur dan Imlek di Indonesia


Gusdurfiles.com ~ Di Indonesia, setiap kali perayaan Imlek di samping identik dengan barongsai, kue keranjang dan angpau tentunya juga akan identik dengan sosok Gus Dur alias Abdurrahman Wahid.

Apa sebab sosok Gus Dur yang juga tokoh NU sekaligus Presiden RI ke IV ini begitu identik dengan perayaan Imlek di Indonesia?

Umumnya orang dan komunitas tionghoa mengenal keterkaitan sosok Gus Dur dalam perayaan Imlek hanya sebatas upayanya menghapus aturan Orde Baru dalam Inpres Nomor 14/1967 yang melarang warga China dan keturunan yang tinggal di Indonesia merayakan peringatan Imlek serta kegiatan agama dan adat istiadat Tionghoa secara terbuka.

Hingga pada saat menjabat Presiden RI ke IV, Gus Dur membuka keran kebebasan beragama bagi masyarakat Tionghoa dengan menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya).

Dimulai dari Peristiwa Pernikahan

Seyogyanya menarik untuk disimak, perjalanan Gus Dur dalam pembelaannya terhadap kaum Tionghoa tidak hanya sebatas peristiwa politik penerbitan Inpres Nomor 19/2001. Jauh sebelum itu, pada 1996 sebuah peristiwa penting luput dari pengamatan publik luas, namun tidak bagi Gus Dur. Saat itu pasangan Tionghoa yang menikah secara Konghucu ditolak oleh kantor catatan sipil yang merupakan instutusi legal negara dalam pengesahan pernikahan.

Peristiwa yang melanda pasangan Budi Wijaya dan Lanny Guito di Surabaya itu, sampai ketelinga Gus Dur, setelah sebelumnya kasus tersebut mencuat sampai ke Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) di Jakarta. Gus Dur yang saat itu sudah menjadi ketua PBNU secara lantang membela pasangan Budy-Lanny di pengadilan dengan menjadi saksi. Hingga akhirnya peristiwa lokal tersebut, mencuat dan menjadi isu ‘perlawanan’ nasional secara terbuka dimasa Orde Baru.

Seiring berjalannya waktu, Gus Dur terus menyuarakan keberpihakan dan pembelaanya kepada kaum minoritas, terutama para etnis keturunan China terkekang yang selama masa Orde Baru. Bahkan sewaktu-waktu Gus Dur secara terang-terangan membuka jati dirinya yang memiliki darah Tionghoa. Gus Dur alias Abdurrahman Wahid mengaku bahwa ia adalah keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.

Gus Dur Keturunan Tionghoa

Dikutip dari laman Wikipedia yang disalin dari buku Zhiwang, Huang, berjudul “Gus Dur Dan Silsilah Tionghoa”, Tan Kim Han sendiri berdasarkan penelitian seorang peneliti Perancis, Louis-Charles Damais diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang diketemukan makamnya di Trowulan. Tan A Lok dan Tan Eng Hwa ini merupakan anak dari puteri Campa, seorang puteri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V.

Di samping alasan pembelaan yang banyak dilakukan Gus Dur terhadap kaum Tionghoa, mungkin alasan silsilah keturunan China itu pulalah yang melatar belakangi komunitas Tionghoa Indonesia menyematkan gelar Bapak Tionghoa Indonesia pada sosok Gus Dur.

Pengangkatan dilakukan 10 Maret 2004 dalam sebuah upacara di Klenteng Tay Kek Sie Semarang. Beragam gelar ‘pluaralisme’ disematkan pada tokoh peraih 10 Doktor Honoris causa ini, termasuk Lifetime Achievement Award dalam Liputan 6 Awards 2010. Penghargaan ini diserahkan langsung kepada Sinta Nuriyah, istri Gus Dur.

Jadi sangat wajar, jika perayaan Imlek bagi warga Tionghoa di Indonesia akan senantiasa melekat pada sosok Gus Dur. Apalagi perayaan Imlek tahun 2014 kali ini, yang jatuh pada 31 Januari 2013 juga bertepatan dengan hari lahir ke-88 Nahdlatul Ulama (NU) 31 Januari 1926- 2014. (mar)

Penulis
Abdul Rahman Sutara



Source: www.liputan6.com
Ini Pesan KH. Fuad Affandi Atas Pendirian Griya Gus Dur

Ini Pesan KH. Fuad Affandi Atas Pendirian Griya Gus Dur


Gusdurfiles.com ~ Pendirian Griya Gus Dur yang berlangsung hari ini di Jakarta mendapat respon khusus dari Ulama terkemuka, K.H Fuad Affandi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ittifaq Rancabali Kabupaten Bandung. Mang Haji, demikian panggilan akrab KH. Fuad Affandi, menyambut hangat inisiatif tersebut dan mengucapkan selamat kepada keluarga Alm KH. Abdurrahman Wahid.

“Saya mendengar informasi dan membaca berita sore ini. Yang mengawali niat pendirian itu patut dihargai. Yang menyukseskan acara tersebut juga patut mendapatkan kehormatan. Insya Allah Gusti Allah meridloi karena saya membaca kabar tersebut punya semangat yang baik,” ujarnya melalui sambungan telepon kepada Katakini.com, Ahad, 24/1/2016.

Kiai yang dikenal sebagai pejuang kaum tani itu berharap agar semangat kebangsaan Alm Gus Dur benar-benar mengalir dari Griya tersebut.

“Saya harap semangatnya. Dulu Gus Dur dalam urusan kenegaraan punya tantangan tersendiri yang berbeda dengan situasi sekarang ini. Karena itu pelajaran yang harus diambil adalah semangat dari Gus Dur. Anak-anak muda ambil semangatnya dan jangan mengekor karena persoalan sekarang dan berbeda. Jangan ambil ikannya, tapi pakai kailnya,” terangnya mewanti-wanti.

Murid Kiai NU legendaris Mbah Maksum Lasem ini memberikan masukan kepada Griya Gus Dur agar dalam mendorong kegiatan-kegiatan kebangsaan harus selalu mengacu pada semangat Islam yang bisa berbuat untuk mengatasi masalah.

“Setiap masalah ada jalan keluar. Adanya Islam juga karena untuk menjawab persoalan hidup umat manusia. Situasi zaman Nabi Muhammad Saw dengan situasi para ulama pelanjutnya berbeda karena itu muncul perbedaan pengetahuan dan pengalamannya pun berbeda. Islam di zaman Mbah Hasyim Asyari dengan zamannya Pak Menteri Wahid Hasyim juga sudah memiliki perbedaan. Begitu juga di zaman Gus Dur. Nah, sekarang kita pun harus menggunakan akal untuk menjadikan agama ini sebagai rahmat, sebagai solusi. Jangan sampai Islam-nya NU ini hanya jadi beban negara, melainkan kita harus mampu memberikan manfaat kepada umat. Itulah Gus Dur,” jelasnya.

BERPERAN DI JABAR

KH Fuad Affandi berpesan secara khusus agar Griya Gus Dur punya fokus garapan di tanah Pasundan. Sebab menurutnya, di Jawa Barat kelompok Nahdlatul Ulama masih sebatas bergerak dalam ranah kultural ubudiyah dan ada kelemahan dalam hal pergerakan.

“Sisi muamalah, lebih khususnya harakah NU di Jawa Barat ini masih lemah. Karena itu kalau keluarga Gus Dur tidak keberatan, harus ada fokus tersendiri untuk membantu perbaikan politik kebangsaan di Jawa Barat. Apalagi di sini warisan Islam ekstrem juga masih menjadi persoalan. Sebagai rasa takdzim kami kepada keluarga Gus Dur, saya terbuka, silahkan pondok Al-Ittifaq ini dijadikan kegiatan para Gus Dur muda. Silahkan gunakan tempat ini untuk kegiatan kebangsaan, lintas agama, lintas sektoral, lintas mazhab. Saya akan bantu semampunya,” pungkasnya.-Hasif.





Sumber: KataKini.com.
Imlek Diantara Perjuangan Gus Dur Melawan Hegemoni Korporasi

Imlek Diantara Perjuangan Gus Dur Melawan Hegemoni Korporasi

Oleh: Cak Usma

Era-era tahun 45-60an adalah era di mana negara-negara lepas dari penjajahan, baik diberikan sebagai hadiah maupun hasil perjuangan mengusir penjajah.

Deretan itu mulai dari Indonesia sampai negara-negara di jazirah Arab dan Amerika Latin, mereka tumbuh dalam negara-negara yang baru merdeka. Hingga semangat kemerdekaan para founding fathers negara-negara itu tidak dapat ditaklukkan oleh neo-kolonialisme, yaitu bersekongkolnya kapitalis besar dengan rencana politik negara-negara besar atau biasa disebut Korporatokrasi, seperti Amerika Serikat yang memiliki rencana Tatanan Dunia Baru.





Hingga di seputar tahun 60-70an, negara-negara itu digantikan oleh pemerintah baru yang condong kepada pemegang kekuasaan korporatokrasi, Indonesia berganti ke pak Harto, Irak, Libya, Mesir, Tunisia, Yaman, Columbia, Chili, Suriah, Maroko, dan masih banyak negara lainnya.

Pergantian penguasa ini dibarengi dengan penandatanganan kontrak yang menjadi awal pengelolaan atau pengerukan kekayaan negara-negara yang dikalahkan tersebut, kontrak jangka panjang berdurasi 30-an tahun pada sumber daya alam ataupun kebijakan finansial negara-negara tersebut.

Indonesia dengan hasil buminya seperti tambang, Jazirah arab dengan minyak dan gas alamnya, Amerika Latin dengan gas alamnya. Hingga pada akhir pergantian abad menjelang kontrak habis, para negara korporatokrasi tersebut memaksakan kembali kontrak-kontraknya untuk diperpanjang tanpa alasan atau keberatan.

Maka pada akhir abad dan awal abad itu banyak terjadi huru-hara di negara-negara yang dikendalikan oleh korporatokrasi dengan timbangan kekuasaan atau penandatangan perpanjangan kontrak.

Proses huru-hara pergantian kekuasaan adalah ujian keberhasilan para pemimpin rezim tersebut dan masyarakat negara-negara tersebut untuk memiliki kemandirian berdikari mampu memiliki kebersatuan bangsanya.

Ujian baru bagi para tokoh pemimpin-pemimpin bangsa itu dari huru-hara seputar negosiasi dengan kelompok korporatokrasi tersebut, akankah mementingkan kekuasaannya atau menjadikan dirinya tumbal bagi pembangunan bangsanya yang lebih kokoh.

Indonesia dalam masa huru-hara tersebut sangat beruntung memiliki presiden Abdurrahman Wahid, presiden dari kalangan kyai yang sudah tidak peduli dengan embel-embel dan kenikmatan pribadi maupun keluarganya.

Maka, memberikan porsi yang sama bagi kalangan Tionghoa terhadap warga negara Indonesia lainnya adalah sumbangan yang sangat besar bagi keutuhan dan kerukunan bangsa pada waktu itu.

Sudah sangat pantas dan layak, bila di hari-hari menjelang Imlek ini, kalangan Tionghoa Indonesia berterima kasih kepada kyai Abdurrahman Wahid atau yang sering disebut dengan Gus Dur, sejenak doakan beliau menurut keyakinan masing-masing.




Sumber :arrahmah.co.id
Inilah 5 jejak perjuangan Gus Dur untuk Indonesia

Inilah 5 jejak perjuangan Gus Dur untuk Indonesia


Gusdurfiles.com ~  Hari ini, Senin, 7 September 2015, merupakan versi kedua tanggal kelahiran mendiang mantan Presiden Abdurrahman “Gus Dur” Wahid.

Pada umumnya, Gus Dur memperingati hari lahirnya berdasarkan perhitungan kalendar Hijriyah. Gus Dur wafat di Jakarta pada 30 Desember 2009.

Perjuangan Gus Dur sebagai seorang aktivis, cendekiawan, lalu ketua organisasi massa Islam terbesar di tanah air —Nadhlatul Ulama— hingga Presiden Republik Indonesia, meninggalkan jejak-jejak yang masih bisa kita lihat dan rasakan hingga hari.

Untuk mengenangnya, berikut Rappler sajikan kembali beberapa di antaranya.

1. Jadikan tahun baru Imlek hari libur

Merayakan tahun baru Imlek sempat dilarang pada masa kolonial Belanda. Baru pada masa pendudukan Jepang, Imlek dijadikan hari libur resmi berdasarkan keputusan Osamu Seiri No. 26 tanggal 1 Agustus 1942. Pada masa pendudukan “saudara tua” kita ini pula, warga Tionghoa dapat dengan leluasa merayakan imlek.

Berlanjut ke masa kemerdekaan. Imlek tetap dapat dirayakan secara bebas di tanah air selama masa pemerintahan Presiden Sukarno. Pada masa Orde Baru, perayaan Imlek mulai dibatasi meskipun tidak sama sekali dilarang. Alasannya berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 14 Tahun 1967 adalah:

“Manifestasinya dapat menimbulkan pengaruh psikologis, mentalm dan moril yang kurang wajar terhadap warga negara Indonesia sehingga merupakan hambatan terhadap proses asimilasi.”

Adalah Gus Dur yang semasa menjadi presiden memutuskan untuk mencabut Inpres nomer 14/1967.

Beliau melakukan hal itu tersebut dengan mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 6 Tahun 2000. Bersamaan dengan itu, Gus Dur juga kemudian menjadikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (berlaku bagi mereka yang merayakannya).

Penerus Gus Dur, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, kemudian meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional pada 2002, yang mulai berlaku 2003.

2. Jadikan Kong Hu Cu agama yang diakui

Di era Gus Dur, jumlah agama yang diakui di Indonesia berubah dari lima menjadi 6, bertambah agama Kong Hu Cu.

Sebelumnya selama puluhan tahun, penganut Kong Hu Cu tak bisa sepenuhnya mengklaim hak-hak mereka sebagai warga negara Indonesia, karena agamanya tak diakui.

Sebagaimana perayaan Imlek, diskriminasi terhadap agama Kong Hu Cu juga diawali di masa Orde Baru dengan terbitnya Inpres No. 14 Tahun 1967.

Ini merupakan representasi betapa Gus Dur tidak menyetujui diskriminasi terhadap kaum Tionghoa di Indonesia.

3. Berusaha menghapus diskriminasi terhadap PKI

Setelah mengalami diskriminasi sosial, politik, hingga ekonomi di bawah rezim Orde Baru, mereka yang terkait dengan gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di masa lalu, akhirnya memperoleh angin segar saat Gus Dur menjadi presiden.

Meski menghadapi tentangan yang tak sedikit, Gus Dur dengan berani mengusulkan pencabutan Ketetapan MPRS No. 25 tahun 1966, salah satu landasan legal proses diskriminasi tersebut. Ketetapan MPRS tersebut berisikan larangan penyebaran paham komunisme di Indonesia.

Namun, bukan berarti Gus Dur menutup mata bahwa sikap dan tindakan PKI juga tak selalu benar.

Intelektual muslim Akhmad Sahal pernah menjelaskan tentang sikap Gus Dur ini secara lebih mendalam dan mengapa sikap tersebut mendapatkan banyak tentangan dalam tulisannya pada 2012.

Gus Dur memang tak berhasil mewujudkan usulnya ini. Namun demikian, apa yang dilakukannya telah menjadi inspirasi bagi para aktivis generasi selanjutnya untuk memperjuangkan penghapusan diskriminasi bagi PKI dan kelompok marginal lain.

4. Merawat paham kebangsaan di tubuh NU

Sebagai organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), memiliki peran besar dalam proses pembangunan Indonesia dari masa ke masa.

Dalam proses tersebut, NU berhasil menjadi jembatan antara umat Islam dan elemen lain bangsa Indonesia dengan keyakinan bahwa persoalan keumatan adalah persoalan kebangsaan, begitupun sebaliknya.

Saat menjabat sebagai Ketua Umum NU, Gus Dur secara konsisten terus memperjuangkan paham kebangsaan NU ini.

5. Sejahterakan PNS

Gus Dur turut berjasa dalam meningkatkan kesejahteraan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan mendorong naiknya gaji mereka secara signifikan saat menjabat sebagai presiden.

“Di masa pemerintahan Gus Dur, gaji PNS naik sekitar 100 persen, itu sangat luar biasa bagi kesejahteraan PNS, ditambah pangkat dan golongan para PNS juga lebih baik,” kata Bupati Mamuju Suhardi Duka pada 2010 kepada Antara.

Source: www.rappler.com
Ini Nasihat Gus Dur kepada Inayah tentang Kebudayaan

Ini Nasihat Gus Dur kepada Inayah tentang Kebudayaan


Gusdurfiles.com ~ Satu dari banyak yang diingat oleh Inayah Wulandari mengenai KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah soal musik. Putri bungsu Gus Dur itu ingat betul ketika ayahnya yang seorang kiai tiba-tiba menasihatinya dengan kalimat mengejutkan. Kala itu anak dan bapak tersebut tengah membahas ihwal kebudayaan.

"Kamu harus mendengarkan lagu-lagu dangdut! Begitu kata Gus Dur," katanya menirukan nasihat bapaknya, usai acara Haul Gus Dur sekaligus pengukuhan Lesbumi NU di rumah makan Bambu Wulung, Kudus, Jawa Tengah, Ahad (31/1) malam .

Musik sebagai salah satu produk dari kebudayaan, menjadi satu kunci meraih pemahaman akan identitas sebuah bangsa. "Karena sungguh lagu-lagu itulah yang menjelaskan mengenai apa terjadi di tengah masyarakat kita," lanjutnya.

Pegiat teater yang belakangan mengambil peran di sebuah film pendek ini mengatakan bahwa nyanyian dangdut telah sedemikian menjelaskan identitas bangsa Indonesia. "Kalau ingin mengenal identitas bangsa kita, ya, lewat lagu-lagu dangdut itu," terangnya.

Mengenali bangsa sendiri adalah keniscayaan bagi generasi muda. Dengan mengenal identitas bangsa, orang akan mengenal budayanya. Sayangnya, menurut Inayah, generasi muda kita masih menganggap perbedaan kebudayaan antar satu bangsa dan yang lain dengan paradigma vertikal.

"Tidak usah melihat budaya kita ini lebih baik atau lebih buruk dari budaya bangsa lain. Itu adalah mental orang yang tidak pede. Itu mental minder. Kita semua setara," kata Inayah meyakinkan.

Baca Juga : Ini 7 Pesan Gus Dur yang Harus Terus Diingat dan Diamalkan

Bagi pemeran buruh cuci asal Tegal bernama Wagiyem dalam pementasan teater monolog #3Perempuanku ini, tidak perlu menganggap budaya bangsa lain lebih tinggi atau lebih rendah. Sebab jika menganggap bangsa lain lebih rendah, artinya kita bisa bangga kalau bisa meremehkan orang lain. Sebaliknya, kalau menganggap budaya bangsa lain lebih tinggi, berarti minder.

"Kita sering mempersempit pengertian budaya terbatas hanya pada kesenian semata. Padahal tidak, sebenarnya kebudayaan ada dua, yakni proses dan produk. Nah, kesenian itu merupakan salah satu dari produk kebudayaan. Sedangkan kebudayaan yang berupa proses, ya, meliputi keseharian kita ini," paparnya menjelaskan.

Meski lahir dari keluarga pesantren, ia positif memutuskan berteater sebab memahami bahwa pribadi Gus Dur yang ia banggakan, diyakini terbangun dari kesenian. Menurutnya, jalan kesenian yang ia ambil adalah jalan efektif membangun generasi berbudaya. "Pribadi Gus Dur itu justru terbangun dari pelbagai kumpulan film yang ditontonnya dan buku-buku sastra yang dibacanya. Coba, kalau begitu jalan kesenian itu efektif, tidak?" tuturnya. (Istahiyyah/Mahbib)
Ini Nasihat Gus Dur kepada Inayah tentang Kebudayaan
Kudus, NU Online
Satu dari banyak yang diingat oleh Inayah Wulandari mengenai KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah soal musik. Putri bungsu Gus Dur itu ingat betul ketika ayahnya yang seorang kiai tiba-tiba menasihatinya dengan kalimat mengejutkan. Kala itu anak dan bapak tersebut tengah membahas ihwal kebudayaan.

"Kamu harus mendengarkan lagu-lagu dangdut! Begitu kata Gus Dur," katanya menirukan nasihat bapaknya, usai acara Haul Gus Dur sekaligus pengukuhan Lesbumi NU di rumah makan Bambu Wulung, Kudus, Jawa Tengah, Ahad (31/1) malam .

Musik sebagai salah satu produk dari kebudayaan, menjadi satu kunci meraih pemahaman akan identitas sebuah bangsa. "Karena sungguh lagu-lagu itulah yang menjelaskan mengenai apa terjadi di tengah masyarakat kita," lanjutnya.

Pegiat teater yang belakangan mengambil peran di sebuah film pendek ini mengatakan bahwa nyanyian dangdut telah sedemikian menjelaskan identitas bangsa Indonesia. "Kalau ingin mengenal identitas bangsa kita, ya, lewat lagu-lagu dangdut itu," terangnya.

Mengenali bangsa sendiri adalah keniscayaan bagi generasi muda. Dengan mengenal identitas bangsa, orang akan mengenal budayanya. Sayangnya, menurut Inayah, generasi muda kita masih menganggap perbedaan kebudayaan antar satu bangsa dan yang lain dengan paradigma vertikal.

"Tidak usah melihat budaya kita ini lebih baik atau lebih buruk dari budaya bangsa lain. Itu adalah mental orang yang tidak pede. Itu mental minder. Kita semua setara," kata Inayah meyakinkan.

Bagi pemeran buruh cuci asal Tegal bernama Wagiyem dalam pementasan teater monolog #3Perempuanku ini, tidak perlu menganggap budaya bangsa lain lebih tinggi atau lebih rendah. Sebab jika menganggap bangsa lain lebih rendah, artinya kita bisa bangga kalau bisa meremehkan orang lain. Sebaliknya, kalau menganggap budaya bangsa lain lebih tinggi, berarti minder.

"Kita sering mempersempit pengertian budaya terbatas hanya pada kesenian semata. Padahal tidak, sebenarnya kebudayaan ada dua, yakni proses dan produk. Nah, kesenian itu merupakan salah satu dari produk kebudayaan. Sedangkan kebudayaan yang berupa proses, ya, meliputi keseharian kita ini," paparnya menjelaskan.

Meski lahir dari keluarga pesantren, ia positif memutuskan berteater sebab memahami bahwa pribadi Gus Dur yang ia banggakan, diyakini terbangun dari kesenian. Menurutnya, jalan kesenian yang ia ambil adalah jalan efektif membangun generasi berbudaya. "Pribadi Gus Dur itu justru terbangun dari pelbagai kumpulan film yang ditontonnya dan buku-buku sastra yang dibacanya. Coba, kalau begitu jalan kesenian itu efektif, tidak?" tuturnya. (Istahiyyah/Mahbib) via nu.or.id



Gus Dur Selalu Tanamkan Islam sebagai Agama Kedamaian

Gus Dur Selalu Tanamkan Islam sebagai Agama Kedamaian


Wartaislami.com ~ Pengasuh Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengha KH Yusuf Chudlori mengatakan, KH Abdurrahmana Wahid (Gus Dur) pada masa hidupnya selalu menanamkan kepada masyarakat bahwa Islam adalah agama kedamaian di bumi.

Gus Dur, kata kiai muda yang biasa disapa Gus Yusuf ini, dalam menunjukkan Islam mengutamakan kedamaian, memberi contoh kisah KH Chudlori yang didatangi dua kelompok masyarakat desa Tepus, Magelang yang meminta fatwa penggunaan bondo desa .

Kedua kelompok tersebut, lanjut  Gus Yusuf, saling berebut antara digunakan membeli gamelan ataukah merehab masjid. “Tanpa diduga, KH Chudlori tidak menjawab untuk rehab masjid, melainkan mendahulukan membeli gamelan dengan alasan demi kerukunan,” jelasnya pada puncak acara “Gebyar seni budaya dan peringatan haul ke-6 Gus Dur” yang diselenggarakan Pengurus Cabang Lesbumi Kudus di  Komplek Kampung Festival Bambu Wulung, Desa Ngembalrejo, Kudus, Ahad Malam (31/1).

Gus Yusuf menambahkan, kisah tersebut ditafsirkan Gus Dur bahwa KH Chudlori lebih mementingkan masyarakat guyub rukun. Ketika masyarakatnya rukun, masjid akan tumbuh dengan sendirinya. “Dari sinilah Gus Dur menanamkan Islam hadir tidak untuk memecah-belah, tetapi untuk memberi kedamaian," ujar kiai putra KH Chudlori ini.

Kemudian Gus Yusuf merasa prihatin kondisi masyarakat Indonesia belakangan yang mengalami krisis kepercayaan. Masyarakat, katanya, banyak yang bangga menjadi orang (bangsa) lain daripada menjadi orang Indonesia. Hal ini banyaknya orang berpenampilan atau gaya pakaiannya berubah sehingga tidak mencerminkan warga Indonesia.

"Gus Dur itu apa adanya, tidak jaim, tidak usah gaya. Selama berkualitas seperti beliau dimana pun orang akan menghormati. Tetaplah menjadi Indonesia , menjadi warga NU. Itu cara Gus Dur memberi keteladanan," terangnya.

Gus Dur juga mengajarkan kelembutan, kasih sayang serta menyanyangi semua komponen masyarakat lintas suku ras dan agama. Gus Dur dicintai banyak orang karena mencintai banyak orang. "Sudah 6 tahun beliau wafat, tetapi warisan kasih sayang, ajaran keteguhan sikapnya, belajar mencintai NKRI harus tetap tumbuh dalam jiwa kita. Cita-cita besar Gus Dur perihal kemanusiaan, kedamaian dan NKRI harus kita perjuangkan bersama," harap Gus Yusuf.

Turut hadir dalam acara ini putri bungsu Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid, tokoh NU, budayawan, politisi dan kaum nahdliyin Kudus. Bintang Aksi Yunior Bintha Athivata beserta ibunya, Hj Nuzumul Laily. Serta dan sastrawan Kudus ikut menyemarakkan suasana dengan pentas membaca puisi. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Gus Dur Selalu Tanamkan Islam sebagai Agama Kedamaian
Kudus, NU Online
Pengasuh Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengha KH Yusuf Chudlori mengatakan, KH Abdurrahmana Wahid (Gus Dur) pada masa hidupnya selalu menanamkan kepada masyarakat bahwa Islam adalah agama kedamaian di bumi.

Gus Dur, kata kiai muda yang biasa disapa Gus Yusuf ini, dalam menunjukkan Islam mengutamakan kedamaian, memberi contoh kisah KH Chudlori yang didatangi dua kelompok masyarakat desa Tepus, Magelang yang meminta fatwa penggunaan bondo desa .

Kedua kelompok tersebut, lanjut  Gus Yusuf, saling berebut antara digunakan membeli gamelan ataukah merehab masjid. “Tanpa diduga, KH Chudlori tidak menjawab untuk rehab masjid, melainkan mendahulukan membeli gamelan dengan alasan demi kerukunan,” jelasnya pada puncak acara “Gebyar seni budaya dan peringatan haul ke-6 Gus Dur” yang diselenggarakan Pengurus Cabang Lesbumi Kudus di  Komplek Kampung Festival Bambu Wulung, Desa Ngembalrejo, Kudus, Ahad Malam (31/1).

Gus Yusuf menambahkan, kisah tersebut ditafsirkan Gus Dur bahwa KH Chudlori lebih mementingkan masyarakat guyub rukun. Ketika masyarakatnya rukun, masjid akan tumbuh dengan sendirinya. “Dari sinilah Gus Dur menanamkan Islam hadir tidak untuk memecah-belah, tetapi untuk memberi kedamaian," ujar kiai putra KH Chudlori ini.

Kemudian Gus Yusuf merasa prihatin kondisi masyarakat Indonesia belakangan yang mengalami krisis kepercayaan. Masyarakat, katanya, banyak yang bangga menjadi orang (bangsa) lain daripada menjadi orang Indonesia. Hal ini banyaknya orang berpenampilan atau gaya pakaiannya berubah sehingga tidak mencerminkan warga Indonesia.

"Gus Dur itu apa adanya, tidak jaim, tidak usah gaya. Selama berkualitas seperti beliau dimana pun orang akan menghormati. Tetaplah menjadi Indonesia , menjadi warga NU. Itu cara Gus Dur memberi keteladanan," terangnya.

Gus Dur juga mengajarkan kelembutan, kasih sayang serta menyanyangi semua komponen masyarakat lintas suku ras dan agama. Gus Dur dicintai banyak orang karena mencintai banyak orang. "Sudah 6 tahun beliau wafat, tetapi warisan kasih sayang, ajaran keteguhan sikapnya, belajar mencintai NKRI harus tetap tumbuh dalam jiwa kita. Cita-cita besar Gus Dur perihal kemanusiaan, kedamaian dan NKRI harus kita perjuangkan bersama," harap Gus Yusuf.

Turut hadir dalam acara ini putri bungsu Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid, tokoh NU, budayawan, politisi dan kaum nahdliyin Kudus. Bintang Aksi Yunior Bintha Athivata beserta ibunya, Hj Nuzumul Laily. Serta dan sastrawan Kudus ikut menyemarakkan suasana dengan pentas membaca puisi. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)





Sumber :nu.or.id
close
Banner iklan disini