Gus Dur , Diplomasi Ketawa: Promosi Ketawa dan Jengkel Ketawa


Gusdurfiles.com ~ Sejak awal, Presiden Abdurrahman Wahid melihat Presiden Hugo Chavez amat potensial menjadi pemimpin kuat, bukan hanya untuk Venezuela, tapi juga bagi kawasan Amerika Latin. Setelah mengikat aliansi yang akrab dengan Perdana Menteri Mahathir Mohammad, Presiden Abdurrahman Wahid mengincar Hugo Chavez untuk diajak bergabung ke dalam “geng pendobrak dunia” yang ia impikan. Tidak sulit bagi Presiden untuk memenangkan hati Chavez. Tinggal memancing ketertarikannya kepada Mahathir agar ada keinginan untuk saling mendekat juga di antara mereka. Maka, di hadapan Chavez, Presiden membuat promosi tentang Mahathir,

“Mahathir, Lee Kuan Yeuw dan Soeharto sama-sama gemar memancing”, Presdien membuka jurusnya, “Mahathir cukup puas dengan hobinya itu. Walaupun tak terlalu sering, kadang-kadang ia mendapat ikan juga. Sebaliknya, Lee cenderung makin sebal. Sudah begitu banyak kali ia berlibur ke laut, tak seekor ikan pun pernah nyangkut ke mata pancingnya.

Ia pun mengeluhkan kesialannya itu kepada Mahathir, tapi yang diwaduli malah ketawa.

‘Mana mungkin kamu bisa dapat ikan!’ ia meledek

‘Memangnya kenapa?

‘Ikan-ikan di Singapura, semuanya kau tutup mulutnya!

Lee bersungut-sungut, tapi Mahathir segera menyeret perhatiannya pada kabar bahwa Soeharto jauh lebih beruntung daripada mereka berdua.

‘Tak sekali pun ia melempar bangi kecuali seekor ikan segera nyangkut ke mata pancingnya!’ kata Mahathir

Lee penasaran dan buru-buru menemui Soeharto

‘Apa rahasianya?’

Soeharto cuma angkat bahu.

‘Keberuntungan mana bisa dijelaskan?’ katanya.

Lee tak terima. Begitu penasarannya ia sampai mengirim satu tim intelejn spesial untuk menyelidiki. Tim itu kembali dengan laporan yang mengejutkan,

‘Setiap Soeharto melaut, TNI diam-diam meluncurkan satu regu orang katak (penyelam tempur). Tim itu dibekali sejaring ikan lalu menyelam di sekitar kapal Soeharto. Mereka bertugas mencantolkan ikan seekor demi seekor tiap Soeharto melempar pancingnya!'”

Lee Kuan Yeuw memang pantas jengkel kepada Presiden Abdurrahman Wahid. Laksamana Sukardi, “agen dagang” Singapura yang diidam-idam akan lebih mengikat ekonomi Indonesia kepada Singapura, hanya dikasih beberapa bulan jabatan Menteri BUMN untuk kemudian dipecat tanpa ampun! Presiden memerintahkan penghentian ekspor pasir Riau yang amat dibutuhkan Singapura untuk menambak laut demi memeperluas daratannya. Ketika habis ijin operasi Caltex (perusahaan minyak Amerika) di Riau, Gus Dur tak mau memperpanjang kecuali Caltex memindahkan kantornya dari Singapura ke Jakarta –ijin operasi itu tak diperpanjang sampai Presiden lengser, kemudian diperpanjang oleh Megawati hingga 40 tahun lagi. Ketika habis pula kontrak langganan ekspor air minum, Presiden tak mau memperpanjang kecuali Singapura mau memberi kenaikan harga empat kali lipat! (Dari Rp 15,- per galon jadi Rp 60,- –lagi-lagi Megawatilah yang kemudian memperpanjangnya dengan harga Rp 25,- per galon).

Wajar kalau Lee jadi sewot sekali. Begitu sewotnya sampai mengabaikan sopan-santun pergaulan diplomatik dan ikut-ikutan membuat pernyataan publik mendesak Presiden mengundurkan diri. Campur tangan tanpa malu macam itu sungguh menjengkelkan. Mungkin merupakan pelampiasan jengkel juga jika Presiden kemudian menciptakan lelucon olok-olok tentang Lee,


“Sejak menjabat PM Singapura, Lee Kuan Yeuw pakai tukang cukur pribadi yang rutin melayaninya tiga minggu sekali. Suatu hari, saat Lee mulai botak dan rambutnya menipis, tukang cukur bertanya,
‘Tuan PM, kapan Anda berhenti dari jabatan?’

Diam sejenak, Lee menjawab arif,

‘Terserah rakyat saja… pemilu masih tiga tahun lagi.’

Tukang cukur tak berkomentar. Hanya guntingnya bergerak sigap. Tapi beberapa jurus kemudian ia mengulangi pertanyaan yang sama,

‘Tuan PM, kapan Anda berhenti dari jabatan?’

Lee pun memberi jawaban standar yang diucapkan dengan sabar.

Lee baru naik darah ketika hanya beberapa menit kemudian tukang cukur lagi-lagi menanyakan hal yang sama seperti orang sinting yang nyinyir. Ia bangkit dan melotot,

‘Kamu ini kenapa sih? Mau jadi pembangkang ya?!’

‘Oh, tidak, Tuan’, tukang cukur –ajaibnya– tenang-tenang saja, ‘saya tak mau berurusan dengan politik’.

‘Habis? Ngapain kamu nanya-nanya gitu terus?’

Tukang cukur angkat bahu,

‘Itu cuma soal teknis’, katanya, ‘setiap saya lontarkan pertanyaan itu, rambut Anda berdiri… jadi lebih gampang dipotong’ “.







Sumber :teronggosong.com

0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Gus Dur , Diplomasi Ketawa: Promosi Ketawa dan Jengkel Ketawa"

Post a Comment

close
Banner iklan disini