Ini 7 Pesan Gus Dur yang Harus Terus Diingat dan Diamalkan

Ini 7 Pesan Gus Dur yang Harus Terus Diingat dan Diamalkan


Gusdurfiles.com ~ Di balik pemikiran-pemikiran ‘nyeleneh’ KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selalu ditemukan pesan-pesan bijak dan arif yang tak disangka-sangka dari seorang Gus Dur. Salah satunya 7 pesan Gus Dur berikut ini yang menyadarkan kita akan arti pentingnya amaliah yang sering lalai kita laksanakan dalam kehidupan sehari.


Pertama:
Solat Tahajjud, kerana kemuliaan seorang mukmin terletak pada solat tahajjudnya. Pastinya doa akan mudah termakbul dan menjadikan kita semakin hampir dengan Allah SWT.

Kedua:
Membaca Al-Qur’an sebelum terbit matahari, alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman. Paling tidak jika sesibuk manapun kita, bacalah ayat 3Qul, atau ayat qursi.

Ketiga:
Hadirkan diri ke masjid terutama di waktu subuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke masjid, kerana masjid merupakan pusat keberkatan, bukan kerana panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah SWT .

Keempat:
Jaga solat dhuha, kerana kunci rezeki terletak pada solat dhuha. Yakinlah, kesan solat dhuha sangat dasyat dalam mendatangkan rezeki.

Kelima:
Jaga sedekah setiap hari. Allah menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari. Percayalah, sedekah yang diberikan akan dibalas oleh Allah berlipat kali ganda.

Keenam:
Jaga wudhu terus menerus kerana Allah SWT menyayangi hamba yang berwudhu. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, “Orang yang selalu berwudhuk senantiasa ia akan merasa selalu dalam keadaan solat walaupun ia belum lagi solat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, Malaikat berdoa untuknya iaitu “ampuni dosanya dan sayangi dia ya Allah SWT ”.

Ketujuh:
Amalkan istighfar setiap saat. Dengan istighfar masalah yang terjadi kerana dosa kita akan dijauhkan oleh Allah.



Sumber :serambimata.com
“Gus Dur itu Mirip Ibnu Arabi, Sering Berkomunikasi dengan Ahli Kubur”

“Gus Dur itu Mirip Ibnu Arabi, Sering Berkomunikasi dengan Ahli Kubur”


Gusdurfiles.com ~ Upaya meneruskan nilai dan pemikiran presiden keempat RI,KH  Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, tidak pernah berakhir. Salah satu bentuknya meresmikan Griya Gus Dur di Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 8, Menteng, Jakarta Pusat yang dilakukan oleh keluarga inti Gus Dur, Minggu 24 Januari 2016.

Pada kesempatan tersebut dilakukan pula diskusi bedah buku “Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus” karya KH. Husain Muhammad. Dari diskusi itu terungkap bahwa apa yang dilakukan Gus Dur muncul dari pandangan sufistiknya.

“Gus Dur itu mirip dengan Muhyidin Ibnu Arabi, sering berkomunikasi dengan ahli kubur ketika ziarah” tutur Husain yang disambut tawa para hadirin.

Lebih Lanjut Husin mengatakan ada sisi kesamaan antara Gus Dur dengan Jalaludin Rumi. “Pemikiran Gus Dur merangkum agama-agama, sama seperti Rumi,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) ,Ulil Abshar Abdalla yang menjadi pembicara mewakili Gus Mus berharap agar Griya Gus Dur mampu menjadi rumah pergerakan yang menampung semua golongan.

“Saya berharap Griya Gus Dur bisa menjadi rumah pergerakan bagi semua golongan & mampu menjadi pengayom bagi kelompok minoritas yang tertindas seperti Syiah dan Ahmadiyah” ujarnya.

Diskusi sendiri dihadiri puluhan orang tersebut berlangsung penuh canda tawa. Gus Mus yang semula dikabarkan tidak hadir untuk mengisi diskusi itu, belakangan hadir.

Peresmian Griya Gus Dur dilaksanakan oleh keluarga almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terdiri dari empat putri Gus Dur, Alissa Wahid, Yenny Wahid, Anita Wahid, dan Inayah Wahid, akan menjadi tempat berkumpul bagi generasi pelanjut perjuangan Gus Dur, seperti The Wahid Institute atau Wahid Foundation, Yayasan Bani KH Abdurrahman Wahid, Yayasan Teman Bangkit, dan Positive Movement.





Source: www.satuislam.org
Apakah itu Gus Dur Award?

Apakah itu Gus Dur Award?


Gusdurfiles.com ~ Pemikiran dan perjuangan guru bangsa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terus berusaha diwujudkan oleh keluarga maupun para Gusdurian. Seperti yang dilakukan oleh keluarga inti Gus Dur dengan meresmikan Rumah Pergerakan Griya Gus Dur, Ahad (24/1/2016) di Jl Taman Amir Hamzah No 8 Menteng, Jakarta Pusat.

Pada kesempatan tersebut juga diselenggarakan pemberian “Gus Dur Award” kepada beberapa tokoh yang dianggap konsisten dengan pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Anugerah ini terdiri dari tiga kategori, yaitu tokoh sosial agama, sosial budaya, dan sosial politik serta pemerintahan.

“Peraih Gus Dur Award adalah orang-orang yang dirasa selaras dengan visi dan pemikiran Gus Dur,” jelas putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid, Ahad (24/1/2016).

Adapun tiga tokoh peraih Gus Dur Award 2016 yaitu KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) sebagai tokoh sosial agama, Sutanto atau Tanto Mendut sebagai tokoh sosial budaya, dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai tokoh sosial politik dan pemerintahan.

Terma ‘sosial’ dalam tiga kategori tersebut diyakini oleh para pakar bahwa perjuangan dalam ranah agama, budaya, maupun politik harus selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan inilah yang sering disebut Gus Dur sebagai Human Social Life atau kehidupan sosial manusiawi yang mewujud dalam kehidupan agama, budaya, dan politik maupun pemerintahan.

Adapun Rumah Pergerakan Griya Gus Dur nantinya akan menjadi rumah untuk beberapa organisasi atau perkumpulan sosial kemanusiaan. Beberapa organisasi yang bernaung di dalam Rumah Pergerakan Griya Gus Dur yaitu Yayasan Puan Amal Hayati, Yayasan Bani Abdurrahman Wahid, Yayasan Teman Bangkit, The Wahid Foundation, Jaringan Gusdurian Indonesia, dan Positive Movement.

Dalam acara peresmian tersebut, juga dilakukan peluncuran situs www.gusdur.net. Situs tersebut memberikan informasi tentang Gus Dur, baik pemikiran dan tulisan Gus Dur, tulisan tentang Gus Dur, berita, maupun video-video kenangan tentang Gus Dur.

Hadir dalam kegiatan peresmian ini yaitu Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid beserta keempat putrinya, KH A Mustofa Bisri, Tanto Mendut, Basuki T Purnama (Ahok), Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan, Bondan Gunawan, Jaya Suprana, Franz Magnis Suseno, Romo Mudji Sutrisno, Wasekjen PBNU Abdul Mun’im DZ, dan para Gusdurian seluruh Indonesia. (Fathoni)






Sumber :nu.or.id
Inilah Tiga Tokoh Terima “Gur Dur Award” Perdana

Inilah Tiga Tokoh Terima “Gur Dur Award” Perdana


Gusdurfiles.com ~ Peresmian Rumah Pergerakan Griya Gus Dur yang beralamat di Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 8 Pegangsaan, Jakarta Pusat berlangsung ramai dan santai. Teman sejawat, tokoh lintas iman, serta ratusan pengagum KH Abdurrahman Wahid memadati pelataran rumah sejak Ahad pagi (24/1). Selain peresmian rumah dan penampilan seni, juga ada penganugerahan Gus Dur Award 2016, untuk pertama kalinya.

Putri Gus Dur, Yenny Wahid mengatakan, dari keluarga telah memusyawarahkan dan memutuskan memeberikan Gus Dur award ke tiga tokoh atas sikap keselarasannya dengan pemikiran Gus Dur. "Ada tiga kategori yang kesemuanya itu sifat dasar Gus Dur, agama, sosial budaya, dan pemerintah," katanya.

Yang pertama, kata Yenny, kategorinya adalah tokoh agama. Kriteria tokoh yang mendapat penghargaan tersebut adalah orang yang selama ini konsisten mengampanyekan toleransi. Tak sekadar tokoh agama yang menyampaikan saja, tetapi juga mempraktikan kerendahan hati dan memikirkan umat.

"Dari kriteria itu, pantaslah diberikan kepada KH Musthofa Bisri atau yang akrab kita panggil Gus Mus. Beliau bahkan pernah menolak jabatan tertinggi dalam Nahdlatul Ulama pada muktamar kemarin (Jombang). Buat kami itu adalah sikap yang luar biasa," kata Yenny.

Kategori sosial budaya, tambah Yenny, diberikan kepada seniman yang berhasil menumbuhkan kebudayaan  rakyat. Dia mampu menyatukan seniman 5 gunung. Di tiap tahunnya berhasil menyelenggarakan festival kebudayaan yang ditonton tidak hanya orang dalam negeri tetapi juga luar negeri. "Orang itu adalah Sutanto, atau lebih dikenal Tanto Mendut," tambahnya.

Lebih lanjut, tokoh terakhir yang mendapatkan penghargaan adalah pemangku jabatan politik. Yaitu pejabat yang mengusung pemerintahan bersih, punya ketegasan dalam menegakkan peraturan, punya keberanian, serta taat konstitusi bukan konstituen. Gus Dur Award kategori ini diberikan kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

"Semoga tokoh-tokoh ini mampu meneruskan perjuangan Gus Dur" pungkas Yenny.

Turut hadir dalam kegiatan ini adalah Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia Luhut Binsar Panjaitan serta tokoh dan sahabat Gus Dur lainnya, seperti Bondan Gunawan, Frans Magnis Suseno, dan Jaya Suprana. (Faridur Rohman/Mahbib)







Sumber :nu.or.id
Griya Gus Dur: Meneruskan Spirit dan Perjuangan Gus Dur

Griya Gus Dur: Meneruskan Spirit dan Perjuangan Gus Dur

Gusdurfiles.com ~  Spirit dan perjuangan Gus Dur untuk kemanusiaan dan kemaslahatan umat terus dihidupkan.

Salah satu bentuknya, keluarga inti Gus Dur meresmikan Griya Gus Dur di Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 8, Menteng, Jakarta Pusat.


                    Peresmian Griya Gus Dur, di Taman Amir Hamzah, Matraman, Minggu (24/01)

Griya Gus Dur merupakan bekas kediaman Wahid Hasyim, ayah Gus Dur yang juga tokoh nasional. Peresmian Griya Gus Dur dilakukan hari ini, Minggu (24/1/2016).

Tokoh NU Mustafa Bisri, seniman Sutanto Mendut, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama hingga aktivis hak asasi manusia hadir dalam acara itu.

“Griya Gus Dur nantinya akan bermarkas para lembaga yang melanjutkan perjuangan Gus Dur,” ujar salah satu putri Gus Dur, Inayah Wahid, usai acara peresmian.

Adapun lembaga itu antara lain the Wahid Foundation, Bani KH Abdurrahman Wahid, Abdurrahman Wahid Center for Interfaith Dialogue and Peace at University of Indonesia, Yayasan Teman Bangkit dan lain-lain.

Inayah melanjutkan, kehadiran Griya Gus Dur merupakan wujud komitmen dan dedikasi keluarga inti dan aktivis kemanusiaan untuk mewujudkan kemaslahatan umat.

Laporkan Iklan Tidak Layak
Tempat itu, diharapkan menjadi tempat berkumpulnya orang-orang pergerakan untuk berdiskusi demi kebaikan bangsa.

Alissa Wahid, putri Gus Dur yang tertua, mengingat-ingat cerita ayahnya bagaimana rumah itu dahulu kerap didatangi orang dari berbagai macam suku, agama dan golongan.

Mereka datang meski hanya untuk berdiskusi bagaimana dapat membangun bangsa.

“Rumah ini menyimpan sejarah penting dalam dinamika perjuangan Indonesia. Sejak rumah itu diduduki Bapak yang dulu menteri agama pertama RI, rumah itu sudah menjadi rumah perjuangan dan pergerakan,” ujar Alissa.

“Rumah ini menjadi saksi bisu berbagai macam gagasan dan peristiwa penting dalam sejarang bangsa. Kita harus melanjutkannya dengan menjadikan rumah ini seperti dahulu,” lanjut dia.

Peresmian Griya Gus Dur juga ditandai dengan peluncuran gusdur.net dan Lumbung Amal Gusdurian.

Gusdur.net adalah situs yang akan memuat teks, video dan foto Gus Dur. Situs itu akan menjadi semacam ‘museum’ Gus Dur.

Adapun, Lumbung Amal Gusdurian adalah wadah bagi siapa saja yang hendak bersedekah untuk sesama yang membutuhkan.




Sumber: Kompas.com
Gus Durian Yogyakarta Luncurkan Majalah Santri Gus Dur

Gus Durian Yogyakarta Luncurkan Majalah Santri Gus Dur


Gusdurfiles.com ~ Komunitas Gus Durian Yogyakarta meluncurkan Majalah Santri Gus Dur di Pendopo Hijau Yayasan LKiS, Sorowajan, Yogyakarta, Jum'at (22/1) malam. Penerbitan majalah ini didorong oleh kehendak untuk memasyarakatkan pemikiran-pemikiran Gus Dur.

Pimpinan redaksi Agung Hidayat mengatakan, acara peluncuran ini adalah "sempalan" dari agenda rutinan Kajian Bulanan Gus Durian Jogja (KBGJ). "Karenanya, kami sebenarnya hanya numpang pada kegiatan rutinan malam ini" katanya.

Majalah ini, lanjutnya, berangkat dari motivasi sederhana, ikhtiar kami untuk turut menyebarluaskan pemikiran Gus Dur. Untuk majalah edisi pertama ini kami mengusung tema Pribumisasi Islam karena memang majalah ini memuat pemikiran Gus Dur.

"Jadi alangkah baiknya jika tema ini berangkat dari pemikirian Gus Dur pula. Selain itu majalah Santri Gus Dur juga sudah barang tentu memuat rubrik-rubrik lainnya yang menunjang pembaca dapat lebih menikmati dalam membaca pemikiran Gus Dur," ungkapnya.

Ditanya soal publikasi majalah Santri Gus Dur, Agung mengatakan, majalah yang notabene formatnya digital ini dapat diunduh secara gratis di situs santrigusdur.com. Majalah Santri Gus Dur ini juga hadir dalam bentuk dwi bahasa.

Ia berharap kehadiran majalah ini dapat melengkapi khazanah bagi semua kalangan yang ingin tahu tentang Gus Dur.

Majalah ini ke depannya akan hadir dengan tema-tema yang menarik. (Anwar Kurniawan/Alhafiz K)

Gus Durian Yogyakarta Luncurkan Majalah Santri Gus Dur
Yogyakarta, NU Online
Komunitas Gus Durian Yogyakarta meluncurkan Majalah Santri Gus Dur di Pendopo Hijau Yayasan LKiS, Sorowajan, Yogyakarta, Jum'at (22/1) malam. Penerbitan majalah ini didorong oleh kehendak untuk memasyarakatkan pemikiran-pemikiran Gus Dur.

Pimpinan redaksi Agung Hidayat mengatakan, acara peluncuran ini adalah "sempalan" dari agenda rutinan Kajian Bulanan Gus Durian Jogja (KBGJ). "Karenanya, kami sebenarnya hanya numpang pada kegiatan rutinan malam ini" katanya.

Majalah ini, lanjutnya, berangkat dari motivasi sederhana, ikhtiar kami untuk turut menyebarluaskan pemikiran Gus Dur. Untuk majalah edisi pertama ini kami mengusung tema Pribumisasi Islam karena memang majalah ini memuat pemikiran Gus Dur.

"Jadi alangkah baiknya jika tema ini berangkat dari pemikirian Gus Dur pula. Selain itu majalah Santri Gus Dur juga sudah barang tentu memuat rubrik-rubrik lainnya yang menunjang pembaca dapat lebih menikmati dalam membaca pemikiran Gus Dur," ungkapnya.

Ditanya soal publikasi majalah Santri Gus Dur, Agung mengatakan, majalah yang notabene formatnya digital ini dapat diunduh secara gratis di situs santrigusdur.com. Majalah Santri Gus Dur ini juga hadir dalam bentuk dwi bahasa.

Ia berharap kehadiran majalah ini dapat melengkapi khazanah bagi semua kalangan yang ingin tahu tentang Gus Dur.

Majalah ini ke depannya akan hadir dengan tema-tema yang menarik. (Anwar Kurniawan/Alhafiz K)






Sumber :nu.or.id
Hari Ini Rumah Pergerakan Griya Gus Dur Diluncurkan

Hari Ini Rumah Pergerakan Griya Gus Dur Diluncurkan


Gusdurfiles.com ~ Rumah Pergerakan Griya Gus Dur akan diluncurkan hari ini Ahad, 24 Januari 2016 di Rumah Pergerakan Griya Gus Dur, Jalan Taman Amir Hamzah 8 Menteng Jakarta Pusat.

Rumah di Jalan Taman Amir Hamzah 8 ini menyimpan sejarah penting perjuangan bangsa Indonesia. Sejak menjadi kediaman keluarga KH Abdul Wahid Hasyim, ayahanda KH Abdurrahman Wahid, rumah ini menjadi rumah perjuangan dan pergerakan. KH Wahid Hasyim dicatat sebagai salah satu pendiri bangsa. Ia menteri agama pertama Republik Indonesia. Rumah itu menjadi tempat bertemu dan berdiskusi tokoh-tokoh perjuangan.

Sepeningggal Kiai Wahid, Nyai Solichah Wahid Hasyim, ibunda Gus Dur, melanjutkan perjuangan ini dengan menjadikan rumah ini sebagai "pangkalan" para aktivis kebangsaan.

Peresmian Griya Gus Dur bakal menandai sejumlah tonggak penting mewujudkan rumah pergerakan: peluncuran gusdur.net dan peluncuran Lumbung Amal Gusdurian. Di Griya Gus Dur kelak akan bermarkas sejumlah lembaga pelanjut perjuangan Gus Dur: The Wahid Institute (kelak berubah nama menjadi Wahid Foundation), Yayasan Bani KH Abdurrahman Wahid (yang menaungi Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian Indonesia, Abdurrahman Wahid Center for  Interfaith Dialogue & Peace at University of Indonesia, Jaringan Kios Rakyat, dan Pojok Gus Dur), Yayasan Teman Bangkit, dan Positive Movement.

Pada perhelatan ini keluarga Almarhum KH Abdurrahman Wahid juga akan memberikan "Gus Dur Award 2016" kepada tiga orang tokoh sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan atas kiprah dan kontribusi mereka yang selaras serta sejalan dengan nilai-nilai, pemikiran, dan keteladan Gus Dur.

Peluncuran Griya Gus Dur akan dihadiri berbagai kalangan, dari tokoh bangsa, tokoh pemerintahan, tokoh lintasiman, aktivis masyarakat sipil, kelompok dampingan, dan kalangan umum. Beberapa tokoh yang direncanakan hadir di antaranya tokoh ulama sekaligus budayawan KH. Ahmad Mustofa Bisri, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama, tokoh lintasiman Frans Magnis Suseno, budayawan Jaya Suprana, dan mantan Sekretaris Negara era Gus Dur Bondan Gunawan. (Red: Abdullah Alawi)





Sumber :nu.or.id


Gus Dur : Pulisi Gantian atawa Maling Gantian

Gus Dur : Pulisi Gantian atawa Maling Gantian


Gusdurfiles.com ~ Tentu ada maksudnya bahwa Gus Dur dipondokkan di Tegalrejo, Magelang. Entah apakah itu gagasan Nyai Sholihah Wahid, ibundanya sendiri, atau ada sesepuh yang mengarahkan. Yang jelas, alih-alih mengajari pengetahuan dari kitab-kitab, Mbah Kyai Khudlori, pengasuh Tegalrejo, justru lebih banyak menuntun Gus Dur melakoni macam-macam laku tirakat. Mutih, ngrowot, beserta segala wirid, dibebankan sambung-menyambung, sampai-sampai Gus Dur kurang gizi. Gatal dan gudik jangan tanya lagi.

Tapi, bagi Gus Dur, Tegalrejo tidaklah seluruhnya tentang tirakat. Tengah malam, Gus Dur tak bisa tidur karena lapar. Seorang teman sesama lapar menemani ngobrol hingga kehabisan bahan. Tiba-tiba, bagaikan wahyu yang dibawa Jibril sendiri, sebuah gagasan membetik di benak Gus Dur. Gagasan itu berkaitan dengan kolam ikan milik Mbah Khudlori, di belakang pondok. Dan tak perlu membujuk-bujuk untuk membuat temannya setuju dengan gagasan itu. Perut mereka lebih bisa dipercaya ketimbang kata-kata.

Menangkap ikan soal enteng. Tantangan sesungguhnya adalah membawa ikan tangkapan balik ke pondok, karena harus melewati rumah Mbah Khudlori.

Maka terjadilah. Dengan ikan di tangan, mereka mengendap-endap di samping rumah Kyai.

“Ehhehhemm…”, deheman lembut tiba-tiba dari pintu dapur, laksana halilintar di telinga maling, “Dari mana, Cung?” suara Mbah Khudlori.

Dua santri terhenti. Kaki-kaki mereka terhujam ke tanah. Teman Gus Dur nyaris ngompol di celana. Tapi Jibril seolah datang lagi.

“Ini lho, Mbah”, Gus Dur menyahut, entah mendapat kekuatan dari mana, “Saya memergoki anak ini sedang ngambil ikan di kolam njenengan. Ini mau saya laporkan…”

Gelap malam menutupi raut muka Mbah Khudlori. Tak mungkin menebak suasana hatinya. Tapi suara beliau tak berubah irama lembutnya.

“Ya sudah. Makan sana”. Lalu menutup pintu.

Dua santri pesta ikan sambil tak henti-hentinya cengar-cengir.

“Lumayan ya”, kata Gus Dur, “besok bisa diulangi nih…”

Temannya menjembik,

“Iya…. Tapi gantian… Aku yang jadi pulisinya, kamu malingnya!”







By Yahya Cholil Staquf via teronggosong.com
Gus Dur , Diplomasi Ketawa: Promosi Ketawa dan Jengkel Ketawa

Gus Dur , Diplomasi Ketawa: Promosi Ketawa dan Jengkel Ketawa


Gusdurfiles.com ~ Sejak awal, Presiden Abdurrahman Wahid melihat Presiden Hugo Chavez amat potensial menjadi pemimpin kuat, bukan hanya untuk Venezuela, tapi juga bagi kawasan Amerika Latin. Setelah mengikat aliansi yang akrab dengan Perdana Menteri Mahathir Mohammad, Presiden Abdurrahman Wahid mengincar Hugo Chavez untuk diajak bergabung ke dalam “geng pendobrak dunia” yang ia impikan. Tidak sulit bagi Presiden untuk memenangkan hati Chavez. Tinggal memancing ketertarikannya kepada Mahathir agar ada keinginan untuk saling mendekat juga di antara mereka. Maka, di hadapan Chavez, Presiden membuat promosi tentang Mahathir,

“Mahathir, Lee Kuan Yeuw dan Soeharto sama-sama gemar memancing”, Presdien membuka jurusnya, “Mahathir cukup puas dengan hobinya itu. Walaupun tak terlalu sering, kadang-kadang ia mendapat ikan juga. Sebaliknya, Lee cenderung makin sebal. Sudah begitu banyak kali ia berlibur ke laut, tak seekor ikan pun pernah nyangkut ke mata pancingnya.

Ia pun mengeluhkan kesialannya itu kepada Mahathir, tapi yang diwaduli malah ketawa.

‘Mana mungkin kamu bisa dapat ikan!’ ia meledek

‘Memangnya kenapa?

‘Ikan-ikan di Singapura, semuanya kau tutup mulutnya!

Lee bersungut-sungut, tapi Mahathir segera menyeret perhatiannya pada kabar bahwa Soeharto jauh lebih beruntung daripada mereka berdua.

‘Tak sekali pun ia melempar bangi kecuali seekor ikan segera nyangkut ke mata pancingnya!’ kata Mahathir

Lee penasaran dan buru-buru menemui Soeharto

‘Apa rahasianya?’

Soeharto cuma angkat bahu.

‘Keberuntungan mana bisa dijelaskan?’ katanya.

Lee tak terima. Begitu penasarannya ia sampai mengirim satu tim intelejn spesial untuk menyelidiki. Tim itu kembali dengan laporan yang mengejutkan,

‘Setiap Soeharto melaut, TNI diam-diam meluncurkan satu regu orang katak (penyelam tempur). Tim itu dibekali sejaring ikan lalu menyelam di sekitar kapal Soeharto. Mereka bertugas mencantolkan ikan seekor demi seekor tiap Soeharto melempar pancingnya!'”

Lee Kuan Yeuw memang pantas jengkel kepada Presiden Abdurrahman Wahid. Laksamana Sukardi, “agen dagang” Singapura yang diidam-idam akan lebih mengikat ekonomi Indonesia kepada Singapura, hanya dikasih beberapa bulan jabatan Menteri BUMN untuk kemudian dipecat tanpa ampun! Presiden memerintahkan penghentian ekspor pasir Riau yang amat dibutuhkan Singapura untuk menambak laut demi memeperluas daratannya. Ketika habis ijin operasi Caltex (perusahaan minyak Amerika) di Riau, Gus Dur tak mau memperpanjang kecuali Caltex memindahkan kantornya dari Singapura ke Jakarta –ijin operasi itu tak diperpanjang sampai Presiden lengser, kemudian diperpanjang oleh Megawati hingga 40 tahun lagi. Ketika habis pula kontrak langganan ekspor air minum, Presiden tak mau memperpanjang kecuali Singapura mau memberi kenaikan harga empat kali lipat! (Dari Rp 15,- per galon jadi Rp 60,- –lagi-lagi Megawatilah yang kemudian memperpanjangnya dengan harga Rp 25,- per galon).

Wajar kalau Lee jadi sewot sekali. Begitu sewotnya sampai mengabaikan sopan-santun pergaulan diplomatik dan ikut-ikutan membuat pernyataan publik mendesak Presiden mengundurkan diri. Campur tangan tanpa malu macam itu sungguh menjengkelkan. Mungkin merupakan pelampiasan jengkel juga jika Presiden kemudian menciptakan lelucon olok-olok tentang Lee,


“Sejak menjabat PM Singapura, Lee Kuan Yeuw pakai tukang cukur pribadi yang rutin melayaninya tiga minggu sekali. Suatu hari, saat Lee mulai botak dan rambutnya menipis, tukang cukur bertanya,
‘Tuan PM, kapan Anda berhenti dari jabatan?’

Diam sejenak, Lee menjawab arif,

‘Terserah rakyat saja… pemilu masih tiga tahun lagi.’

Tukang cukur tak berkomentar. Hanya guntingnya bergerak sigap. Tapi beberapa jurus kemudian ia mengulangi pertanyaan yang sama,

‘Tuan PM, kapan Anda berhenti dari jabatan?’

Lee pun memberi jawaban standar yang diucapkan dengan sabar.

Lee baru naik darah ketika hanya beberapa menit kemudian tukang cukur lagi-lagi menanyakan hal yang sama seperti orang sinting yang nyinyir. Ia bangkit dan melotot,

‘Kamu ini kenapa sih? Mau jadi pembangkang ya?!’

‘Oh, tidak, Tuan’, tukang cukur –ajaibnya– tenang-tenang saja, ‘saya tak mau berurusan dengan politik’.

‘Habis? Ngapain kamu nanya-nanya gitu terus?’

Tukang cukur angkat bahu,

‘Itu cuma soal teknis’, katanya, ‘setiap saya lontarkan pertanyaan itu, rambut Anda berdiri… jadi lebih gampang dipotong’ “.







Sumber :teronggosong.com

Inilah 4 Pemimpin Negara di Dunia yang Dibuat 'Ngakak Abis' oleh Gus Dur

Inilah 4 Pemimpin Negara di Dunia yang Dibuat 'Ngakak Abis' oleh Gus Dur


Gusdurfiles.Com ~ Humor memang lekat dengan mantan Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur . Guyon-guyon cerdas kerap dia lontarkan, entah dalam acara resmi maupun tidak. Bahkan semasa menjabat sebagai presiden, Gus Dur juga kerap mengocok perut orang-orang di sekitarnya, mulai dari staf istana, pejabat negara, hingga para pemimpin dunia.
Gus Dur misalnya, mampu membuat Presiden Amerika Serikat Bill Clinton tertawa 'ngakak' saat bertemu presiden RI yang juga seorang kiai itu. Foto Bill Clinton tertawa bersama Gus Dur hingga kepalanya mendongak dimuat dalam foto-foto koran di Amerika.
Bukan hanya Bill Clinton, konon Gus Dur dalam sebuah acara juga membuat Raja Fahd Arab Saudi tertawa hingga giginya kelihatan. Padahal, Raja Fahd dikenal berwajah angker dan jarang terlihat tertawa. Selain Bill Clinton dan Raja Fahd, Gus Dur juga diceritakan pernah membuat 'ngakak' beberapa pemimpin di dunia.
Berikut ini 4 pemimpin negara di dunia yang dibikin 'ngakak' Gus Dur yang diolah dari berbagai sumber:

1. Presiden Amerika Bill Clinton
Kisah ini terjadi pada Januari 2000, ketika Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur bertemu Presiden Amerika Serikat Bill Clinton. Pertemuan ini tentu saja banyak diliput oleh wartawan di dunia.
Uniknya, koran-koran di Amerika memuat foto Gus Dur bersama Bill Clinton dalam pertemuan itu dengan gambar Clinton sedang tertawa terbahak sampai kepalanya mendongak. Lalu apa sih yang dikatakan Gus Dur sampai Clinton terpingkal-pingkal begitu?
Menurut Gus Dur, kepada Jaya Suprana, barangkali tentang joke yang disampaikan oleh Presiden John Kennedy. Gus Dur menceritakan, suatu hari Kennedy mengajak serombongan wartawan ke ruang kerja Presiden AS.
Di salah satu dindingnya ada sebuah lubang kecil tempat Presiden Dwight Eisenhower menaruh peralatan golfnya. "Ini lho, perpustakaannya Eisenhower," kata Kennedy mengejek pendahulunya itu. Clinton terpingkal mendengarkan cerita Gus Dur itu.
Dari mana Gus Dur mendapat cerita itu? "Saya baca di buku Ted Sorrensen," kata Gus Dur.
"Lho jadi Presiden Clinton sendiri tidak tahu cerita itu?" tanya Jaya Suprana.
"Ya mungkin nggak tahu, sebab dia nggak baca buku. Mana mungkin Presiden Amerika baca buku? Kalau dia baca buku berarti kelihatan dia nggak punya kerjaan.
Nah, kalau Presiden Indonesia, justru harus baca buku sebab nggak ada kerjaan," timpal Gus Dur.


2. Raja Fahd Arab Saudi Kalau kisah ini disampaikan adik kandung Gus Dur, Lily Wahid. Menurut Lily, Gus Dur adalah salah satu orang yang mampu membuat Raja Fahd ngakak. Pertemuan antara Raja Fahd dan Gus Dur diliput media-media Arab Saudi sambil memajang foto keduanya sedang tertawa. 
"Hanya Gus Dur yang bisa membuat Raja Fahd ketawa, Gus Dur telah membuat sejarah, selain berhasil membebaskan TKI yang dihukum pancung, Gus Dur juga bisa membuat raja Arab Saudi tertawa terbahak-bahak," kata Lily di Jakarta, Juni 2011. 
Hal tersebut tidak pernah terjadi ataupun dibayangkan oleh rakyat Arab Saudi. "Di media Arab Saudi Raja Fahd tertawa terbahak-bahak sampai langit mulut raja kelihatan. Itu tak pernah terjadi," katanya. 
Tentu saja, hal itu membuat orang heran. Ketika itu banyak yang bertanya, kok bisa membuat raja tertawa. "Gus Dur mengatakan, ya tentu saja bisa karena raja tetap manusia, Gus Dur bilang mungkin ada sesuatu tidak anda mengerti," kata Lily menirukan ucapan Gus Dur. 
Lalu apa yang dikatakan Gus Dur kepada Raja Fahd? Gus Dur ketika itu hanya berkata, "Raja Fahd adalah satu-satunya orang arab yang tidak beristri dua."



3. Presiden Kuba Fidel Castro Kisah ini terjadi pada 2000 lalu di Hotel Melia Havana, ketika Gus Dur bertemu dengan Presiden Kuba Fidel Castro. Selain menggunakan sendal jepit, Gus Dur juga mampu membuat Castro terpingkal-pingkal. 
Kisah ini diceritakan mantan Kepala Protokoler Istana Wahyu Muryadi dalam beberapa acara di televisi. Wahyu saat itu mendampingi Gus Dur bersama rombongan datang ke Havana untuk menghadiri acara KTT Non Blok. 
Castro mendadak datang ke hotel tempat Gus Dur menginap. Uniknya, Gus Dur waktu itu masih memakai sandal jepit. Kedatangan Castro jelas membuat Gus Dur panik. Dia bergegas mengenakan celana panjang. Namun, Gus Dur tak sempat memakai sepatu. 
Setelah membahas sesuatu yang serius terkait KTT Non Blok selama 30 menit, Gus Dur dan Castro pun beradu lelucon. Ketika bertemu Castro, Gus Dur menyampaikan lelucon tentang presiden-presiden Indonesia yang gila. 
Menurut Gus Dur, presiden RI pertama gila wanita, presiden RI kedua gila harta, dan presiden RI ketiga gila teknologi. "Terus presiden yang keempat, coba Pak Castro tebak," kata Gus Dur saat itu. "I don't know," jawab Castro. 
"Kalau saya ini yang memilih orang-orang gila," kata Gus Dur. Saat itu Castro yang selalu berpenampilan dengan janggut panjangnya itu langsung terpingkal-pingkal. 



4. Presiden Prancis Jacques Chirac Saat kunjungan keliling Eropa pada Februari 2000, Gus Dur bertemu para kepala negara di dunia, salah satunya Presiden Prancis Jacques Chirac. Untuk mencairkan suasana, Gus Dur membuat humor-humor segar. Guyonan yang dia pilih sedikit banyak ada sangkutannya dengan tuan rumah. 
Menurut Gus Dur, pada 1970-an di Indonesia mulai diupayakan dialog antaragama. Penggagasnya adalah Prof Mukti Ali, waktu itu menteri agama.
"Saya sangat setuju dengan prinsipnya, tapi tidak setuju dengan contoh yang diberikan Mukti Ali," ujar Gus Dur. 
"Mengapa?" tanya Presiden Chirac, mulai heran. 
"Menurut Mukti Ali, semua agama itu sama saja; sama bagusnya, sama luhurnya. Ini saya setuju. Tapi dia memberi contoh dengan menyebut anggur. Ini saya tidak setuju. Sebab, kata Mukti Ali, agama-agama itu seperti anggur. Bisa dimasukkan ke gelas yang pendek, yang lonjong, yang bulat dan sebagainya, tapi isinya sama saja; anggur." 
"Lho, mengapa Anda tidak setuju?" tanya Chirac, belum paham juga. 
"Sebab anggur itu macam-macam, wadahnya juga macam-macam. Tidak bisa sembarangan." 
"Ya, betul, betul," kata Chirac sambil tertawa. "Saya tahu benar tentang hal itu sebab saya orang Prancis." 
Lalu, tambah Gus Dur kepada Jaya Suprana dalam acara (Talk show TPI, Rabu malam, 26 April). "Pak Mukti Ali ga ngerti soal itu, wong dia ga pernah minum anggur." 
Gus Dur sendiri ngerti. Apakah itu artinya dia pernah atau malah sering minum anggur? Jaya Suprana tidak menanyakan hal ini.







Sumber : Mederka . com


Ketika Gus Dur Buka Praktik Perdukunan

Ketika Gus Dur Buka Praktik Perdukunan


Gusdurfiles.com ~ Sejak pagi Pak Tua berkopyah hitam itu berada di ruang utama Masjid al-Munawwaroh, menanti Gus Dur rampung mengisi pengajian bersama para santrinya.<>

Pak tua ingin suwuk dari Gus Dur. Suwuk atau semacam semburan doa seorang dukun itu diyakini sanggup memancarkan keberkahan. Air yang disuwuk dapat jadi obat, tak hanya untuk penyakit, tapi juga stress, pikun, bebal, hingga sulit cari jodoh.

Usai pengajian, seketika Pak Tua menghampiri Gus Dur. Hadirin hanya bisa melongo.

“Gus, saya minta suwuk,” ucapnya sembari menyodorkan sebotol air mineral ukuran besar.

Entah apa yang dibaca, Presiden RI ke-4 ini tampak khusuk berkomat-kamit melayani permintaan Pak Tua.

“Wuussssss,” semburan Gus Dur menembus mulut botol air mineral.

“Terimakasih banyak Gus. Terimakasih!” wajah Pak Tua berbinar-binar dan segera menjauh dari tempat duduk Gus Dur.

Gus Dur telah memenuhi keinginan Pak Tua itu. Dan Pak Tua yakin sekali dengan keampuhan ilmu perdukunan Gus Dur. Para santri tersenyum. (Mahbib Khoiron/Red:Anam)

Ketika Gus Dur Buka Praktik Perdukunan
Sejak pagi Pak Tua berkopyah hitam itu berada di ruang utama Masjid al-Munawwaroh, menanti Gus Dur rampung mengisi pengajian bersama para santrinya.<>

Pak tua ingin suwuk dari Gus Dur. Suwuk atau semacam semburan doa seorang dukun itu diyakini sanggup memancarkan keberkahan. Air yang disuwuk dapat jadi obat, tak hanya untuk penyakit, tapi juga stress, pikun, bebal, hingga sulit cari jodoh.

Usai pengajian, seketika Pak Tua menghampiri Gus Dur. Hadirin hanya bisa melongo.

“Gus, saya minta suwuk,” ucapnya sembari menyodorkan sebotol air mineral ukuran besar.

Entah apa yang dibaca, Presiden RI ke-4 ini tampak khusuk berkomat-kamit melayani permintaan Pak Tua.

“Wuussssss,” semburan Gus Dur menembus mulut botol air mineral.

“Terimakasih banyak Gus. Terimakasih!” wajah Pak Tua berbinar-binar dan segera menjauh dari tempat duduk Gus Dur.

Gus Dur telah memenuhi keinginan Pak Tua itu. Dan Pak Tua yakin sekali dengan keampuhan ilmu perdukunan Gus Dur. Para santri tersenyum. (Mahbib Khoiron/Red:Anam)








Sumber :nu.or.id

Haul Gus Dur Ke-6 di Tegal Hasilkan Deklarasi Silaturrahim Nasional

Haul Gus Dur Ke-6 di Tegal Hasilkan Deklarasi Silaturrahim Nasional


Gusdurfiles.com ~ Haul Gus Dur ke-6 pada Selasa malam Rabu (19/01) di Gedung KORPRI Jl. Dr. Soetomo No. 2 Slawi Tegal terbilang unik. Uniknya karena di haul tersebut seluruh elemen bangsa berkumpul jadi satu dalam satu gedung. Sesuai dengan tema yang diangkat yaitu "Kita Semua Bersaudara", merupakan ajang Silaturrahim Nusantara yang diprakarsai oleh PCNU dan Gusdurian Tegal dengan semua elemen masyarakat baik sipil, TNI, Polri dan tokoh-tokoh lintas agama. Hadir sebagai acara inti Mbak Alissa Wahid (putri Gus Dur), Romo Fran Magnis Suseno, dan Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

Dalam sambutannya Bupati Tegal, Ki Enthus Susmono, dengan antusias mengatakan, "Gedung KORPRI pada malam hari ini adalah miniatur Indonesia Raya." Ki Enthus  menekankan arti diktum Nabi Saw., "Khairunnas anfa'uhum linnas", menggunakan kata plural "an-nas" bukan saja untuk umat Islam tapi seluruh manusia. Sehingga maknanya selaras dengan cita-cita Gus Dur, "Berbuat manfaat kepada siapapun tanpa membeda-bedakan latarbelakang agamanya. Dan Gus Dur bukan hanya tokoh pluralis tapi juga humanis, seseorang yang memanusiakan manusia seutuhnya." Tutur Bapak Bupati.

Romo Magnis dalam menceritakan kedekatannya dengan Gus Dur, mengungkapkan, "Gus Dur adalah orang yang paling berarti dalam hidup saya. Diantara tokoh-tokoh yang pernah kenal dan dekat dengan saya maka Gus Dur adalah yang nomer satu."

Setelah itu dibacakan dan penandatanganan Deklarasi Silaturrahim Nusantara antar para tokoh lintas agama, yang kemudian giliran Mbak Alissa Wahid naik ke atas panggung untuk mengisi acara. Berikut adalah isi dari deklarasi tersebut:

DEKLARASI "SILATURRAHMI NUSANTARA" KABUPATEN TEGAL

1. Kami umat beragama dan kepercayaan di Kabupaten Tegal sadar bahwa hak beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah hak mendasar pemberian Tuhan Yang Maha Esa, sehingga wajib dihormati oleh semua elemen Bangsa Indonesia dan difasilitasi oleh penyelenggara negara.

2. Kami umat beragama dan kepercayaan di Kabupaten Tegal sepakat bekerjasama demi kemajuan Bangsa dan Negara Indonesia atas dasar prinsip persatuan, kebersamaan, hormat-menghormati, saling mengasihi dan menjaga kerukunan selaras dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

3. Kami umat beragama dan kepercayaan di Kabupaten Tegal sepakat membantu pemerintah dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Slawi,19 januari 2016
Perwakilan agama dan kepercayaan:
* Islam: KH. Hambali Usman
* Katolik: Romo Matheus Yatno Yuwono, MSC
* Kristen: Pdt. Sugeng Pribadi S.Th, M.Min, th
* Budha: Khemawati Sunarni, S.Ag
* Hindu: Ida Bagus Nyoman Laksana, SH
* Konghucu: Paulus Tanujaya, SE
* Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa: KRT. Rosa Mulya Aji ST.

(Sya'roni As-Samfuriy)





Sumber :muslimedianews.com
Inilah Yang Sangat Bernilai Dari Gus Dur Menurut Habib Luthfi Bin Yahya

Inilah Yang Sangat Bernilai Dari Gus Dur Menurut Habib Luthfi Bin Yahya


Gusdurfiles.com ~ "Saya modali!" jawab Habib Luthfi bin Yahya saat pertamakali disowani forum Gusdurian Tegal yang hendak mengadakan Haul Gus Dur yang ke-6. "Pihak yang diundang malah memberikan modal duluan bahkan dengan nominal yang cukup besar," ungkap panitia saat memberikan sambutannya di acara Haul Gus Dur ke-6 pada Selasa malam Rabu (19/01) di Gedung KORPRI Jl. Dr. Soetomo No. 2 Slawi Tegal.

Uniknya di Haul Gus Dur malam itu seluruh elemen bangsa berkumpul jadi satu dalam satu gedung. Sesuai dengan tema yang diangkat yaitu "Kita Semua Bersaudara", merupakan ajang Silaturrahim Nusantara yang diprakarsai oleh PCNU dan Gusdurian Tegal dengan semua elemen masyarakat baik sipil, TNI, Polri dan tokoh-tokoh lintas agama. Hadir sebagai acara inti Mbak Alissa Wahid (putri Gus Dur), Romo Fran Magnis Suseno, dan Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

"Mendiang adalah seseorang yang tak mengenal capek. Walaupun secara kondisi fisik, sulit untuk melihat. Tapi pola pikir, keintelektualan, wawasan kebangsaan dan keagamaan, dan kejeniusannya yang sulit untuk bisa ditemukan kembali." Ucap Habib Luthfi mengawali ceramah agamanya. Habib Luthfi sudah sering menemani Gus Dur semenjak sebelum menjadi Pengurus Besar NU, bersama Kiai Fuad Buntet Cirebon, berdakwah kesana-kemari satu mobil bersama. Pengalaman yang sangat bernilai dari Gus Dur adalah nilai sejarahnya yang selalu dipegang kuat. Karena mengenal sejarah maka beliau lebih jauh mengenal bangsanya. Karena mengenal sejarah maka sulit untuk bisa melupakan bangsanya. "Itulah diantara yang saya kenal dari Gus Dur," kenang Habib Luthfi.

Gus Dur kalau dicerna oleh orang yang belum faham atau tidak cerdas, maka pada dasarnya pemikiran Gus Dur yang melangkah lebih jauh ke depan sedang melatih kita berfikir cerdas. "Ibarat memetik mangga yang belum masak (pentil; bahasa Jawa), akan menjadikan sakit perut jika dimakan bukan pada waktunya. Namun menjadi kebutuhan bagi ibu hamil yang sedang ngidam," lanjut Habib Luthfi.

Pembicaraan Gus Dur itu tidak bisa dimakan hari ini. Tapi mungkin bisa dimakan satu bulan atau satu tahun kemudian. Orang akan baru menyadari, "Oh iya benar kata Gus Dur". Ada kritikan dari beberapa guru kita, diantaranya "Koe aja mung pinter ngalem kuburan bae" (Kamu jangan hanya suka memuji kuburan terus). "Lama-lama saya tanya maksudnya apa. Ternyata, ketika seorang tokoh atau pemimpin tersebut, dan memang resiko bagi dirinya, sewaktu masa hidupnya banyak dikatakan, "Orang itu terlalu keras", yang lain mengatakan, "Orang itu terlalu blak-blakan". Ada yang suka dan ada yang benci. Tetapi setelah tiadanya, yaitu sesudah di kuburan, mereka baru ramai-ramai memujinya."

Terkait tema Haul Gus Dur ke-6 "Kita Semua Saudara", menurut Habib Luthfi adalah tema yang sangat menyentuh dan luar biasa. Karena kita semua adalah saudara, bagian dari "Bela Bangsa". Yang namanya bela bangsa itu bukan hanya mengangkat senjata, latihan militer atau wajib militer. Meningkatkan rasa memiliki bangsa dan republik ini, itu juga bagian dari bela bangsa selain juga memajukan ekonomi dan pertanian. Menggalang persaudaraan, semua kita bersaudara, itu adalah benteng-benteng yang kokoh untuk melengkapi wujudnya ketahanan nasional.

Persaudaraan ada dua. Pertama, saudara seagama sebangsa setanah air. Kedua, saudara sebangsa setanah air, ini yang harus diperkuat. Tanpa memandang ras dan agamanya, tapi katakan "Saya Indonesia". Tidak ada sekat keturunan manapun, entah China ataupun Arab. Persaudaraan yang sejati adalah ketika saudara kita dicubit maka kita turut merasakan sakit, tanpa ada pengkotak-kotakkan. Jika terjadi pengkotak-kotakkan maka kita tidak akan tahu hakikat persaudaraan tersebut.

Menghargai hak sesama sudah jauh lebih dulu dilakukan oleh tokoh-tokoh kita terdahulu. Bahkan, lihatlah riwayat sejarah deklarasi Madinah terbentuk dari Yahudi, Nasrani dan Muslim untuk sama-sama saling menghormati dan menghargai hak sesamanya. Kita merupakan regenerasi dari sejarah, menjalin persaudaraan demi regenerasi masa yang akan datang. Dengan memahami itu bangsa akan menjadi kuat.

"Sebab yang saya khawatirkan adalah, seperti dalam ajaran kami Nabi Besar Muhammad Saw. dalam sabdanya: "Kadar bobot keimanan seseorang tergantung kecintaannya padaku." Kalau ditafsirkan, maka maknanya adalah ketika kadar bobot kecintaan (kepercayaan) seseorang pada tokohnya (dari agama manapun) memudar maka imannya pun semakin luntur. Kalau sudah luntur maka sangat mudah untuk dipecah-belah. Jangan coba-coba memecah-belah Bangsa Indonesia dan membenturkan antar umat beragama, karena "Kami Semua Bersaudara". Rapatkan barisan kita, jangan beri kesempatan seujung rambutpun kepada oknum-oknum manusia yang akan menghancurkan NKRI!" Tegas Habib Luthfi bin Yahya yang disambut dengan semangat antusias para pengunjung Haul Gus Dur malam itu. (Sya'roni As-Samfuriy).






Sumber :muslimedianews.com
Inilah Jenderal yang Paling Ditakuti Gus Dur

Inilah Jenderal yang Paling Ditakuti Gus Dur


Gusdurfiles.com ~ Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah seorang tokoh yang sangat pemberani. Gus Dur tidak pernah takut kepada siapa pun, termasuk kepada polisi. Bahkan kepada Jenderal-nya sekalipun. Hal ini pernah dibuktikan dengan permintaan Gus Dur agar Jenderal Surojo Bimantoro (Kapolri) mengundurkan diri.

Namun rupanya, seberani apa pun seorang Gus Dur, tetap saja ada satu Jenderal yang ditakutinya. Ketakutan pada Jenderal ini pernah diungkapkan Gus Dur seusai sebuah konferensi pers. Yakni Gus Dur dipapah memasuki mobil dan para wartawan tidak lagi mengerubutinya.<>

Sebelum Menutup pintu mobilnya, sambil setengah berbisik Gus Dur kembali memanggil para wartawan, "Hei, saya masih punya satu informasi lagi. Kalian mau tidak ?"

"Apa itu Gus ?" tanya para wartawan sembari serentak mengerubuiti Gusdur Kembali di pintu mobilnya yang masih setengah terbuka.

"Saya mau sebutkan nama seorang Jenderal yang paling berbahaya dan berpotensi mematikan siapa saja. Jenderal ini ditakuti oleh siapa saja, jadi kalian harus berhati-hati kepada jenderal yang satu ini," ujar Gus Dur dengan mimik serius.

"Wah, siapa itu Gus ?" sambut para wartawan sambil berebut menyorongkan alat perekamnya sedekat mungkin ke wajah Gus Dur. Mereka tampak sangat mendapatkan berita eksklusif itu.

"Ok, saya harus katakan," kata Gus Dur meyakinkan. "Jenderal itu adalah Jenderal..(General) Electric ..."

"Wooo kok itu sih Gus ?" protes para wartawan.

"Lha kalian ini, maunya bikin gosip melulu. Padahal kan saya kan bener. Bahwa General Electric itu paling berbahaya. Coba, mau nggak kamu kesetrum lampunya General Electric ? Berbahaya khan ?!, kamu bisa mati kan kalau kesetrum????"

"Huuuuuuuu," balas para wartawan serentak, sambil bersunggut-sunggut dan ngeloyor ke belakang. (min)








Sumber :nu.or.id


Gus Dur :"Apakah Pelaku Bom Bunuh Diri Masuk Surga"?

Gus Dur :"Apakah Pelaku Bom Bunuh Diri Masuk Surga"?


Gusdurfiles.com ~ Gus Dur ditanya, apakah seorang yang melakukan aksi bom bunuh diri dan merasa telah melakukan jihad itu akan masuk surga dan kelak bertemu bidadari-bidadari cantik di sana?<>

"Gus, betulkah para pengebom itu mati syahid dan bertemu bidadari di surga?" tanya seorang wartawan.

"Memangnya sudah ada yang membuktikan?" jawab Gus Dur.

“Belum Gus,” kata wartawan.

“Kalau pun masuk surga, dia akan menyesal bertemu bidadari.”

“Kenapa Gus?”

"Karena kepalanya masih tertinggal di dunia. Ada di pengadilan," jawab Gus Dur. (Ahmad Syaefudin/Anam)








Sumber :nu.or.id

KH Husein Ilyas Mojokerto, Kiai Penuh Karomah yang dekat Keluarga Gus Dur

KH Husein Ilyas Mojokerto, Kiai Penuh Karomah yang dekat Keluarga Gus Dur


Kali ini penulis postingan ini akan mengulas ulama Aswaja yang masih sugeng (hidup) di tengah-tengah masyarakat zaman ini. Beliau ini dikenal alim, wara’, zuhud dan insyaAllah termasuk waliyullah. Beliau adalah KH. Husein Ilyas (Mbah Yai Khusen Ilyas), pengasuh Pondok Pesantren Salafiyyah Al-Misbar Karangnongko, Mojokerto.

Gusdurfiles.Com ~ KH Husein Ilyas adalah kiai sepuh yang sangat disegani dan dihormati di Jawa Timur. Di pondoknya yang sederhana di Karangnongko, Mojokerto, hampir setiap hari banyak orang yang datang mulai silaturrahmi sampai meminta doa dan restu. Menurutnya, siapa saja boleh datang ke pondoknya. Biar itu orang biasa, pejabat, tokoh agama, dan lain sebagainya, ia akan menerimanya dengan tangan terbuka.

Menjelang pilkada, caleg, dan pilpres, biasanya pondoknya selalu ramai didatangi orang-orang yang ingin minta restu, petunjuk, atau sekedar silaturahim. Tetapi beliau menolak jika dimintai dukungan. Beliau menyadari, beliau adalah panutan masyarakat terutama warga NU, jika beliau mendukung ini itu, beliau kasihan masyarakat yang kebingungan nantinya.

Mbah Yai Khusein adalah Rais Syuriah NU Cabang Kab. Mojokerto sejak 2003 hingga sekarang. Ada cerita dibalik pemilihannya sebagai rais syuriah, sebetulnya KH Husein Ilyas enggan dicalonkan dan memilih pulang ke pondok pesantren Nurul Hikmah yang diasuhnya. Prinsip beliau, jangankan memegang jabatan tertinggi, jadi ranting saja tidak mau, ada tanggung jawab besar yang diemban pemangku jabatan tersebut.
Namun para pendukungnya berhasil meyakinkan KH Husein bila kehadirannya sangat dibutuhkan NU. Beliau menyadari, NU didirikan para ulama dan banyak yang menghendaki agar KH. Husein dicalonkan, akhirnya beliau pun menjadi rais syuriah NU cabang Kab. Mojokerto.

Silsilah
Menurut keterangan yang dihimpun, beliau adalah keturunan Ronggowarsito. Berikut silsilah beliau :
RONGGOWARSITO –> NUR FATAH –> NUR IBRAHIM –> SYEH YASIN SURAKARTA –> NUR NGALIMAN/ SENOPATI SUROYUDO –> MUSYIAH –> KH. ILYAS –> KH. HUSEIN ILYAS (MOJOKERTO)

Karomah
Mbah Yai Khusen pernah bercerita bagaimana sengsaranya dulu ketika zaman Jepang. Ketika itu, tentara Jepang memberlakukan jam malam, mereka melarang rakyat Indonesia untuk keluar rumah menjelang sore hari. Hukumannya dibunuh di depan umum bila kedapatan keluar rumah di sore dan malam hari, karena dianggap pemberontak.
Pernah suatu ketika ada yang mencari tahu, apa sebenarnya yang dilakukan tentara Jepang di sore dan malam hari itu. Ternyata tentara Jepang tersebut di waktu sore itu mengangkuti hasil tanam rakyat untuk dibawa ke negara mereka. Memang di waktu itu diberlakukan peraturan semacam tanam paksa untuk kebutuhan logistik Perang Asia Timur Raya. Hasil panen yang dihasilkan oleh rakyat, sebagian besar diangkut Jepang sedangkan rakyat diberi bagian sedikit sekali. Proses memanen juga harus dalam pengawasan tentara Jepang, jika ketahuan memanen sendiri, maka akan dihukum mati.

Pada suatu waktu, ada seorang petani yang nekat memanen hasil tanam sendiri tanpa pengawasan tentara Jepang. Sayang usaha nekat petani tersebut ketahuan oleh tentara Jepang, sehingga petani itu ditembak oleh tentara Jepang. Anak petani tersebut akhirnya melapor kejadian tersebut pada Mbah Yai Khusen yang waktu itu masih muda.
Mendapat laporan tersebut, Mbah Yai Khusen pun akhirnya mengajak teman-temannya ke sawah untuk memanen padi menjelang Maghrib. Ketika sedang memanen, Mbah Yai Khusen didatangi beberapa tentara Jepang yang sedang berjaga dengan membawa anjing. Melihat Mbah Yai Khusen, anjing tentara Jepang tersebut malah beringsut mundur, lari menjauhi Mbah Yai. Sehingga sebagian tentara Jepang itu malah kerepotan mengejar anjingnya yang lari. Sementara tentara Jepang yang lain, menodongkan senjata pada Mbah Yai Khusen dan teman-temannya. Tiba-tiba senjata yang ditodongkan ke arah Mbah Yai itu meleleh seperti dipanaskan. Tentara-tentara itu pun kaget dan ikut-ikutan lari terbirit-birit.

Mbah Yai Khusen selalu berprinsip bahwa menjadi manusia itu tidak boleh takut pada siapapun dan apapun, kecuali hanya takut pada Allah SWT. Karena manusia itu kholifatuLlah, sebagai kholifah Allah itu sudah seharusnya tidak boleh takut apapun selain takut pada Allah.

Lalu diceritakan pula, ketika Mbah Yai masih muda, kalau beliau sedang puasa selalu menyendiri di hutan atau di manapun pokoknya jauh dari keramaian agar tidak diketahui orang dan ditanyai macam-macam. Suatu ketika beliau dalam uzlahnya itu tertidur di suatu hutan, lalu tiba-tiba dibangunkan Gus Zuli (Romo Yai Djazuli Utsman). Mbah Yai Khusen terkejut ketika terbangun banyak teman-temannya dan Gus Zuli di sekelilingnya. Teman-teman beliau bilang kalau Mbah Yai Khusen sudah hilang berminggu-minggu, padahal beliau merasa hanya tidur beberapa menit. Anehnya, teman-teman Mbah Yai Khusen tidak melihat beliau tertidur di tempat tersebut, hanya Gus Zuli yang tahu, sebab itulah yang membangunkan Mbah yai Khusen adalah Gus Zuli. Lalu Mbah Yai Khusen bercerita pada Gus Zuli tentang tentang mimpi ketika tertidur tadi. Dalam mimpi Mbah Yai Khusen bermimpi bahwa suatu saat ada kiai besar yang akan lahir di tempat ini dan tempat ini akan ramai setelah kiai besar terbut wafat. Gus Zuli hanya menjawab, benar. Tempat tersebut sekarang adalah makam dari ulama muassis Dzikrul Ghofiliin, KH. Hamim Jazuli atau Gus Miek.

Selain itu, Mbah Yai Khusen hingga kini selalu dimintai doa dan gemblengan kekebalan bagi anggota Banser ketika akan melaksanakan tugas. Berbagai cabang Banser dari seluruh daerah selalu meminta gemblengan kebal senjata pada Mbah Yai Khusen. Gemblengan itu melalui ritual doa dan rajah menggunakan alat tulis yang dituliskan pada punggung masing-masing anggota Banser.
Kedekatan Dengan Gus Dur

Mbah Yai Khusen selalu bersemangat kalau bercerita tentang Gus Dur. Menurutnya, Gus Dur adalah pribadi yang luar biasa.
Beliau sering didatangi Gus Dur selama presiden RI ke-4 itu masih hidup, hingga ada kejadian lucu. Gus Dur kalau sowan menemui Mbah Yai, tanpa pengawalan dan tahu-tahu sudah ada di halaman rumah beliau. Begitu Gus Dur pulang, baru polisi-polisi datang menemui Mbah Yai, agar melapor jika akan ada pejabat atau tamu penting. Mbah yai hanya beralasan, Bagaimana mau lapor, wong pejabatnya datangnya tidak memberitahu. Dan itu kejadian berulang kali.

Hingga kini, anak-anak Gus Dur dan berbagai tokoh NU selalu mengikuti langkah Gus Dur untuk selalu meminta nasehat Mbah Yai Khusen dalam mengambil keputusan-keputusan penting. Hal ini menandakan kealiman dan bijaksananya seorang KH. Khusein Ilyas dalam ngemong masyarakat yang sangat patut menjadi perhatian kita, setiap tutur dan nasehatnya adalah oase yang dibutuhkan masyarakat yang hidup di zaman sekarang. Semoga beliau selalu diberi panjang umur yang barokah oleh Allah SWT, sehingga tetap menjadi obor ditengah zaman yang semakin gelap. Amin.

Lahu Al-Faatihah.





Oleh: Fahmi Ali NH


Gus Dur: Putusan Bulat, Putusan Lonjong, Putusan Gepeng

Gus Dur: Putusan Bulat, Putusan Lonjong, Putusan Gepeng


Gusdurfiles.com ~ Tradisi musyawarah, selain mementingkan proses, juga mengunggulkan hasil, putusan atau keputusan. Ada yang dinamakan putusan atau keputusan 'bulat'.

<>

Putusan bulat diambil dari musyawarah yang dihadiri oleh setiap utusan atau perwakilan, dan mereka sepakat, tanpa kecuali.

Selain itu, ada putusan 'lonjong'. Putusan lonjong adalah hasil kesepakatan yang diambil oleh kebanyakan peserta forum dalam perwakilan. Meskipun ada satu dua utusan yang mengambek, putusan tetap berlaku meski agak lonjong.

Sewaktu Muktamar NU 1994 di Cipasung, dua bibir Gus Dur kompak bilang ada putusan lonjong. "Putusannya lonjong, karena ada sejumlah orang dari tim formatur yang walkout," kata Gus Dur kalem.

“Tapi ndak masalah, jangankan lonjong, wong putusan 'gepeng' juga ada kok. Putusan gepeng ini sudah ada sepuluh tahun yang lalu," lanjut Gus Dur, tetap kalem. Wartawan yang mengelilingi tubuh tambun Gus Dur bingung.

Tapi tanpa diminta, Gus Dur menenangkan wartawan yang bingung, dengan menjelaskan pengertian putusan gepeng.

"Putusan gepeng itu 'karya' KHR. Asa‘d Syamsul Arifin, Mustasyar Aam PBNU, saat Muktamar NU 1984 di Situbondo. Beliau membentuk tim formatur dan dirinya sendiri yang duduk dalam ‘tim’ formatur lalu menunjuk siapa yang berhak menjadi ini dan itu. Gepeng bukan? Tapi kita patuh, segepeng apapun kan sudah jadi putusan?" (Alhafiz Kurniawan)






Sumber :nu.or.id



Apakah Gus Dur Seorang Sarjana?

Apakah Gus Dur Seorang Sarjana?


Gusdurfiles.com ~ Seorang bule berjalan-jalan di Jakarta. Karena merasa tersesat, dia kemudian bertanya kepada seorang penjual gorengan. "Apa betul ini Jalan Sudirman?" "Ho oh," jawabnya.<>

Karena bingung dengan jawaban tersebut, dia kemudian bertanya lagi kepada seorang Polisi yang sedang mengatur lalu lintas. "Apa ini Jalan Sudirman?" Polisi menjawab, "Betul."

Karena bingung mendapat jawaban yang berbeda, akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur yang waktu itu kebetulan melintas. "Apa ini Jalan Sudirman?" Gus Dur menjawab "Benar."

Bule itu semakin bingung saja karena mendapat tiga jawaban yang berbeda. Lalu akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur lagi, mengapa waktu ia bertanya kepada tukang gorengan dijawab "Ho oh," lalu tanya polisi dijawab "betul" dan yang terakhir dijawab Gus Dur dengan kata "benar."

Gus Dur diam sejenak, lalu menjawab, "Ooh begini, kalau Anda bertanya kepada tamatan SD maka jawabannya adalah ho oh, kalau bertanya kepada tamatan SMA maka jawabannya adalah betul. Sedangkan kalau bertanya kepada tamatan perguruan tinggi maka jawabannya benar."

Bule itu puas dengan jawaban Gus Dur, mengangguk dan akhirnya bertanya, "Jadi Anda ini seorang sarjana?". Dengan spontan Gus Dur menjawab, "Ho..oh!" (@nam)







Sumber :nu.or.id

KH Muadz Thohir: Bangsa Indonesia Wajib Peringati Haul Gus Dur

KH Muadz Thohir: Bangsa Indonesia Wajib Peringati Haul Gus Dur


Gusdurfiles.Com - KH Muadz Thohir yang merupakan sahabat karib almahrum Gus Dur didaulat untuk berbicara dalam Haul ke-6 Gus Dur yang berlangsung di Masjid Arrobbaniyyin Kampus Unisnu Jepara, Kamis (14/01) lalu. Dalam kegiatan bertajuk "Mengenang Gus Dur dan Pluralisme Agama" kiai yang kerap disapa Gus Muadz ini menerangkan bangsa Indonesia wajib memperingati Haul Gus Dur jika tidak ia menyebutnya "keterlaluan".

"Di Irak ada Haul Gus Dur. Di Brunei dan Malaysia juga ada peringatan Gus Dur. Sehingga jika kita tidak menghauli Gus Dur itu "keterlaluan"," jelasnya.

Kegiatan Haul yang dikemas ala pengajian A'wan PBNU ini menyatakan KH Abdurrahman Wahid merupakan sosok yang "kontroversial" baik secara keilmuwannya maupun ibadahnya. Kiai asal Pati Jawa Tengah ini menyontohkan shalat yang ditunaikan Gus Dur tidak sama yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Sebab mantan Presiden RI ini menurutnya pernah mempunyai riwayat ususnya pernah dipotong hingga 22 cm. Hingga, tambahnya, ia Gus Dur tidak mampu menunaikan shalat layaknya orang awam. Tetapi dirinya meyakini Gus Dur tetap menunaikan shalat.





Disarikan dari NU Online
Di Haul, KH Muadz Thohir Ceritakan Keistimewan Gus Dur

Di Haul, KH Muadz Thohir Ceritakan Keistimewan Gus Dur


Gusdurfiles ~ KH Muadz Thohir yang merupakan sahabat karib almahrum Gus Dur didaulat untuk berbicara dalam Haul ke-6 Gus Dur yang berlangsung di Masjid Arrobbaniyyin Kampus Unisnu Jepara, Kamis (14/01) lalu. Dalam kegiatan bertajuk "Mengenang Gus Dur dan Pluralisme Agama" kiai yang kerap disapa Gus Muadz ini menerangkan bangsa Indonesia wajib memperingati Haul Gus Dur jika tidak ia menyebutnya "keterlaluan".

"Di Irak ada Haul Gus Dur. Di Brunei dan Malaysia juga ada peringatan Gus Dur. Sehingga jika kita tidak menghauli Gus Dur itu "keterlaluan"," jelasnya.

Kegiatan Haul yang dikemas ala pengajian A'wan PBNU ini menyatakan KH Abdurrahman Wahid merupakan sosok yang "kontroversial" baik secara keilmuwannya maupun ibadahnya. Kiai asal Pati Jawa Tengah ini menyontohkan shalat yang ditunaikan Gus Dur tidak sama yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Sebab mantan Presiden RI ini menurutnya pernah mempunyai riwayat ususnya pernah dipotong hingga 22 cm. Hingga, tambahnya, ia Gus Dur tidak mampu menunaikan shalat layaknya orang awam. Tetapi dirinya meyakini Gus Dur tetap menunaikan shalat.

Membaca

Dalam hal intelektual, Gus Muadz menyebut Gus Dur merupakan sosok yang kutu buku. Setiap ada buku baru ia mesti membacanya. Bahkan ketika penglihatannya mulai terganggu banyak kerabat Gus Dur yang diminta untuk membacakan buku meski hanya judul dan pendahuluannya saja. "Ini tidak lepas dari kedalaman pemahaman beliau sewaktu masih muda banyak membaca literatur sehingga buku terbaru pun sudah bisa dipahami meski hanya judul dan pendahuluan saja," tuturnya.

Gus Dur muda, kenangnya, beda dengan kebanyakan pemuda yang lain. Dibeberkannya dalam semenit Gus Dur mampu mendaras seribu kata. Padahal sekelas orang jenius hanya mampu membaca 250-500 kata. "Saya hanya bisa membaca 150-200 kata per menit. Kalau Gus Dur membacanya cepat," tandasnya.

Ia pun ingat betul akan petuah Gus Dur bahwa perintah membaca yang termaktub dalam Al-Quran tidak menyebut spesifikasi buku yang dibaca. "Kita mesti membaca apa saja. Bisa buku, maupun lingkungan maupun membaca alam," urainya.

Ia menegaskan, sebelum membaca orang lain, kita dituntut untuk membaca diri kita masing-masing. Sebelum menyalahkan orang lain kita mesti menyalahkan diri sendiri. "Lihatlah orang lain dari sisi positifnya jangan melihat dari hal negatifnya," lanjutnya. Bagi dia, Gus Dur merupakan sosok yang sederhana, sosok yang menghargai perbedaan dan masih banyak titel yang disandang oleh guru bangsa ini. Mulai politisi, kiai dan ilmuwan. Ia menambahkan Gus Dur tidak pernah mempunyai beban meskipun dengan orang yang membencinya sekalipun. Gus Dur meyakini orang yang tidak cocok lama-lama kelamaan akan menjadi cocok.

Dengan banyaknya yang sudah dilakukan Gus Dur ketika ia dipanggil sang pencipta semuanya menangis baik muda dan tua semuanya menangis. Hal lain ditambahkan Lutfi Rahman, Pembina Jaringan Gusdurian Jepara menilai Gus Dur merupakan guru dan inspirator yang gagasannya layak dikembangkan dan dipraktikkan.

Gus Dur masih menurutnya adalah tokoh plural yang menyatukan seluruh elemen bangsa. Sehingga tak salah hingga kini yang berziarah ke makamnya dari berbagai elemen agama.

H Anas Arbaani, Wakil Ketua PCNU Jepara dalam sambutannya mewakili PCNU Jepara dengan haul Gus Dur merupakan upaya untuk nguri-nguri semangat yang pernah digelorakan Gus Dur. Gus Dur bagi Subchan Zuhri, Sekretaris IKA PMII Jepara tidak pernah mati dan "selalu hidup". Terbukti dengan pemikiran-pemikirannya terus dikaji hingga sekarang.

"Saat ini kita (generasi muda, red) mesti membaca literatur, mengkaji pemikiran dan mempraktikkan apa yang menjadi cita-cita Gus Dur di tengah-tengah masyarakat," pungkas komisioner KPU Jepara yang demen membaca intisari-intisari Gus Dur ini. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)





Sumber :nu.or.id

Gus Dur Tahu Tsunami Akan Melanda Aceh

Gus Dur Tahu Tsunami Akan Melanda Aceh


Gusdurfiles.Com ~ Pada saat H. Sulaiman berada di dalam Majid Agung Demak, ia mendapatkan telephon dari Gus Dur yang tiba-tiba menyuruhnya membuka Al-Qur’an. Gus Dur hanya menyuruhnya membuka Al-Qur’an dengan tanpa menyebutkan surat apa dan ayat berapa. Dan yang dibuka oleh H. sulaiman saat itu adalah surat Nuh yang berisi tentang kisah banjir besar yang menghabiskan umat nabi Nuh yang ingkar padanya.

 H. Sulaiman pun bertanya kepada Gus Dur tentang makna itu, Gus Dur menjawab, “akan ada bencana besar yang akan menimpa Indonesia”. Gus Dur tidak menyebutkan secara detail bencana apa, kapan, dan dimana peristiwa itu akan teradi. H. Sulaiman hanya diam.

 Kira-kira seminggu setelah itu -26 Desember 2004- bencana besar benar-benar terjadi. Tsunami yang dahsyat luar biasa menghancurkan pulau Aceh. Ratusan ribu orang meninggal dunia, sementara ratusan ribu lainnya yang selamat kehilangan keluarga dan harta benda. Indonesia dan beberapa negara yang terkena dampak tsunami diliputi duka yang mendalam. Bantuan pun datang dari segala penjuru dunia.

 Setelah kejadian itu, H. Sulaiman kembali mendiskusikannya dengan Gus Dur. Gus Dur mengatakan bahwa ini adalah peringatan besar bagi bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Aceh.

 Apabila kita renungkan, perkataan Gus Dur memang benar. Di Aceh, telah bertahun-tahun terjadi konflik antar saudara. Ada sekelompok orang yang membuat gerakan separatis, ingin memisahkan diri dari NKRI hingga menyebabkan ribuan korban berjatuhan.

 Upaya perdamaian telah berkali-kali ditempuh, namun kesepakatan belum juga tercapai. Dan setelah terjadinya tsunami, alhamdulillah perdamaian bisa terwujud hingga saat ini. Semoga perdamaian Bangsa Indonesia tetap terjalin selamanya. Amiin.







Reportase: Embunhati.com




Sepeninggal Gus Dur, Para Pembenci NU Mendapat Angin Untuk Menghantam NU

Sepeninggal Gus Dur, Para Pembenci NU Mendapat Angin Untuk Menghantam NU


Gusdurfiles.Com ~ Ternyata benar dawuh Gus Miek, klo Gus Dur itu paku buminya NU. Terbukti sewaktu Gus Dur masih hidup ga ada yg berani ngotak ngatik NU, bahkan FPI dan wahhabi tiarap bila berhadapan dgn Gus Dur.

Bila Gus Dur menunjuk batang hidung seseorang dgn sebutan pengacau maka orang itu ga bakal berani melanjutkan aksinya. Di masa beliau NU berhasil menempatkan dakwah islam yg murni Rahman Lil 'Alamin tanpa tindakan destruktif apalagi anarkhis.

Kembali ke belakang di tahun 1992 ketika Gus Dur melakukan Show of Power NU menghadapi tekanan rezim Orba ketika itu. Ya ketika itu NU dibawah kepemimpinan Gus Dur mengadakan Rapat Akbar Nasional NU di Parkir Timur Senayan. Rapat akbar NU itu diperkirakan dihadiri ratusan ribu bahkan jutaan warga Nahdliyyin dari seluruh tanah air.

Dalam barisan ulama yg hadir ketika itu terlihat KH. Kholil Bisri, KH. Ilyas Ruhiyat, KH. Muslim Rifa'I Imam Puro, KH. Abdullah Faqih, KH. Abdullah Abbas dll. Bahkan dari pesantren Buntet konon ikut mengirim ribuan jin ke acara itu, makanya di tengah-tengah lapangan terlihat dikosongkan, konon disitulah jama'ah jin dari Buntet itu bersimpuh.
 
Itulah unjuk kekuatan NU terbesar sepanjang massa. Ga ada satupun organisasi massa yg sanggup menghimpun jama'ah begitu banyak dlm satu acara selain NU.

Dan kini setelah kewafatan Gus Dur, para pembenci NU seakan mendapat angin utk menghantam NU. Begitulah setelah tokoh sentral dan tokoh kharismatis NU ini wafat, maka fitnah itu hadir dlm bentuk NU Garis Lurus. Mereka menghembuskan fitnah klo PBNU itu sdh melenceng dari khittah NU. Juga fitnah yg paling keji klo para punggawa PBNU itu dikuasai kaum syiah dan liberal. Fitnah itu dilempar tdk lain adalah demi melihat para petinggi NU itu ingin melanjutkan apa-apa yg telah dilakukan Gus Dur yaitu mendukung toleransi dan demokrasi.

Namun seperti yg sudah sudah, ide wahhabiyah dimasukkan ke dlm NU garis lurus. Ini bisa dilihat dgn mudahnya mereka menuduh sesat org NU yg ga sepaham dgn NU garis lurus. Ciri khas lainnya mereka ingin membuat NU garis lurus eksklusif yaitu dgn mematikan sama sekali toleransi antar umat beragama dan kaku dlm memahami islam.

Namun pengalaman mengajarkan, bila NU tetap istiqomah dgn perjuangannya berdakwah secara islam Rahmatan Lil 'Alamin maka fitnah ini bakal lewat. Ibarat kentut, NU garis lurus itu bau busuk tp bila tertiup angin maka bakal hilang juga.

Selama seluruh Kyai Khos dan warga NU berdiri dibelakang PBNU maka fitnah ini akan sirna, ibarat lagu Chrisye, "Badai Pasti Berlalu"
teringat Pertemuan Antara Gus Dur dan Gus Miek Gus Miek pernah berkata kpd Gus Dur saat berada di beranda langgar di makam auliya Tambak.

"Gus, sampean itu paku buminya NU. Kelak sepeninggal sampean NU bakal kena fitnah.." kata Gus Miek.

"Kenapa bisa begitu Gus, apakah sdh tdk ada lagi para masyayikh yg menjaga NU?" tanya Gus Dur.

"Bukan krn itu, tp itu disebabkan dunia sdh ada diatas kepala warga NU dan banyak org bodoh yg mencabik NU," jawab Gus Miek.

Kemudian kedua tokoh besar NU berdoa dgn khusyu sambil sesekali sesegukkan menahan tangis.

Selesai berdoa wajah Gus Miek sumringah sambil mengatakan fitnah itu hanya seumur jagung. Mendengar itu Gus Dur tertawa lepas.
  Lahumal-faatihah ...







Sumber: nerashuke.blogspot.com



Ini Rahasia di Balik Mufaraqah Kiai As’ad dari Gus Dur

Ini Rahasia di Balik Mufaraqah Kiai As’ad dari Gus Dur


Gusdurfiles.com ~ “Ibarat imam shalat, Gus Dur sudah batal kentut. Karena itu tak perlu lagi bermakmum kepadanya.” Beginilah salah satu ungkapan sikap KHR As’ad Syamsul Arifin, sebagaimana dikutip media nasional beberapa hari pasca Muktamar NU ke-28 di Krapyak, 26 tahun lalu.<> Konon, KHR As’ad kecewa besar pada lima tahun kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU. Gus Dur dianggap kebablasan. Pemikiran dan tindak-tanduk liberalnya diniliai sudah keluar dari rel Aswaja.

Dari berita yang dimuat di koran, pemikiran dan tindak-tanduk liberal yang dialamatkan pada Gus Dur antara lain terkait keikutsertaannya sebagai juri Festival Film Indonesia. KHR As’ad bahkan menyebut Gus Dur kiai ketoprak lantaran aksinya ini. Lalu terkait wacana Gus Dur mengubah salam “assalamu’alaikum” menjadi “selamat pagi”, dan beberapa kontroversi lain yang mengiringi perjalanan kepemimpinan Gus Dur.

Puncak ketidakcocokan Ketua Ahlul Halli wal Aqdi pada Muktamar NU ke-27 ini terjadi pada hari terakhir Muktamar Krapyak, Rabu siang, 29 Nopember 1989. Di hadapan media di arena Muktamar yang telah aklamasi memilih kembali Gus Dur sebagai Ketua Umum Tanfidziyah, pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo ini, lantang menyatakan diri mufaraqah (memisahkan diri).

Ketidakcocokan KHR As’ad dengan Gus Dur sebenarnya sudah lama. Keputusan mufaraqah bisa dibilang lebih merupakan kulminasi dari perselisihan panjang antarkeduanya. Perselisihan awal setidaknya sudah dimulai ketika pleno pertama PBNU hasil Muktamar Situbondo, di Pesantren Tebuireng, Jombang pada Januari 1985. Keputusan pleno menyatakan bahwa yang berhak mewakili NU keluar adalah Rais ‘Aam KH Ahmad Shiddiq, dan Ketua Umum Tanfidziyah KH Abdurrahman Wahid. Keputusan ini dinilai membatasi gerak dan langkah ulama sepuh lain, terutama KHR As'ad yang sebelumnya dikenal dekat dengan Presiden Soeharto dan menteri-menterinya.

Beberapa kontroversi Gus Dur lainnya sepanjang 1984-1989 semisal; keterlibatan Gus Dur menjadi ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), kesediaan membuka Malam Puisi Yesus Kristus, dan kecenderungan membela Syi'ah, juga turut menjadi pemicu kerenggangan komunikasi antara KHR As’ad beserta kiai-kiai sepuh lain dengan Gus Dur. Hal ini berujung peristiwa ‘gugatan’ pada Gus Dur di Pesantren Darut-Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, pada Maret 1989.

Sebuah fakta politik menarik, menyusul mufaraqah KHR As’ad, Gus Dur justru makin gencar melawan Orde Baru. Gus Dur makin aktif mendukung para aktivis melawan pemerintah. Menjelang pemilu 1992, di tengah kuatnya kekuasaan Soeharto, Gus Dur bahkan berani terang-terangan menolak penguasa negeri 32 tahun itu untuk dipilih kembali. Gus Dur terus menyerang Pak Harto hingga lengser ke prabon pada 1998.

Banyak literatur menyebut, KHR As’ad Syamsul Arifin adalah sosok wali quthub. Kesaksian KH Mujib Ridwan misalnya, menyebut jika KHR As’ad pernah menangis tersedu-sedu lantaran ‘kedoknya’ terbuka, usai dibacakan sebuah surat Al-Qur’an. KH Mujib Ridwan adalah putra KH Ridwan Abdullah, pencipta lambang NU, yang lebih 20 tahun mengabdi pada KH As’ad Syamsul Arifin. Di luar kharisma keulamaannya, KHR As’ad adalah seorang guru dan pengamal 17 jenis tarekat. Meskipun demikian beliau tidak pernah memaklumkan diri sebagai seorang mursyid tarekat di depan umum. KHR As’ad juga mendalami ilmu kanuragan yang membuat banyak bajingan bertekuk lutut kepadanya.

Konon, kewalian KHR As’ad inilah yang melatarbelakangi beberapa tindakannya sehingga tidak mudah dimengerti khalayak awam. Satu di antaranya menyangkut kerenggangan KHR As’ad dan Gus Dur. Kala itu tentu saja tak sedikit Nahdliyin di akar rumput yang kebingungan. Meski tak sampai menciptakan kubu-kubu yang saling berseberangan, konflik panjang dua tokoh beda generasi ini memunculkan pertanyaan di banyak pihak. Tak terkecuali rombongan Kepala Sekolah SLTP dan SLTA Ma’arif Kotamadya Surabaya. Suatu hari, pada 15 April 1987, mereka serombongan sowan ke ndalem KHR As’ad di kompleks Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

Sesampai di ndalem, rombongan diterima langsung oleh KHR As’ad yang kala itu didampingi KH Mudjib Ridwan. Rombongan pun mendapat penjelasan langsung bahwa beliau mufaraqah dengan Gus Dur karena Gus Dur kiai ketoprak. Dengan menjadi juri FFI di Bali, Gus Dur dinilai sudah tidak sesuai dengan kakeknya KH Hasyim Asy’ari, dan penjelasan lain-lain seterusnya sebagaimana yang sudah beredar di media massa.

Dari Situbondo, rombongan meneruskan silaturahim berikutnya ke Jember ke ndalem KH Ahmad Shiddiq. Di hadapan Rais ‘Aam PBNU ini, disampaikanlah panjang lebar kebingungan-kebingungan mereka mengenai hubungan KHR As’ad dengan Gus Dur.

Dan beginilah dawuh KH Ahmad Shiddiq. “Kulo, dan sampean-sampean semua—seraya menunjuk satu persatu rombongan yang hadir—bukan levelnya. Bukan kelasnya menilai Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin.” Demikianlah yang pada intinya, Nahdliyin yang belum masuk levelnya, tidak pantas menilai sikap mufaraqah KHR As’ad dengan Gus Dur. Keduanya memiliki maqom (tingkatan spiritual) yang tinggi di atas kebanyakan.

Menyikapi friksi di tingkatan elit NU yang kian membingungkan ini, suatu ketika beberapa anggota Dewan Khas IPSNU Pagar Nusa dipimpin H. Suharbillah memutuskan sowan ke KH Khotib Umar, Pengasuh Pesantren Raudhatul Ulum Sumberwiringin, Sukowono, Jember. IPSNU Pagar Nusa kebetulan saat itu baru saja dideklarasikan. KH Khotib Umar adalah salah seorang ulama pejuang yang wara’ yang sangat disegani di kalangan Nahdliyin.

Kepada para pendekar Pencak Silat NU ini, KH Khotib Umar bertutur bahwa suatu waktu beliau menghadap pada KHR As’ad Syamsul Arifin bermaksud meminta penjelasan mengenai masalah dengan Gus Dur. Dan KHR As’ad dawuh bahwa memusuhi Gus Dur merupakan strategi menghadapi rezim Orde Baru. Supaya Gus Dur tidak dihabisi maka beliau memusuhi Gus Dur. Untuk menyelamatkan beliau. “Saya dengan Gus Dur hanya berbeda dalam siyasi, politik! Mufaraqah bukan berarti benci Gus Dur. Malah saya sangat mengasihi Gus Dur. Saya khawatir kalau Gus Dur di penjara oleh penguasa—karena sikap kritisnya­—lalu siapa yang akan membela? Demikian dawuh sang wali quthub. (Didik Suyuthi)



* Sebagian data diperoleh dari catatan pribadi DR KH Suharbillah





Sumber :nu.or.id
Gus Dur : "Terorisme Harus Dilawan"

Gus Dur : "Terorisme Harus Dilawan"


Gusdurfiles ~ Tiga buah bom meledak dalam waktu yang hampir bersamaan di Denpasar, Bali lebih dari 180 orang menjadi korban termasuk sangat banyak orang yang mati seketika. Jelas ini adalah sebuah bagian mengerikan dari tindakan teror yang selama belasan bulan ini mengetarkan perasaan kita sebagai warga masyarakat. Penulis berkali-kali minta agar pihak keamanan mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna menghindarkan terjadinya hal itu. Termasuk mengambil langkah-langkah preventif, antara lain menahan orang-orang yang keluyuran di negeri kita membawa senjata tajam, membuat bom-bom rakitan, memproduksi senjata-senjata yang banyak ragamnya.<>

Namun pihak keamanan merasa tidak punya bukti-bukti legal yang cukup untuk mengambil tindakan hukum terhadap mereka. Mungkin di sinilah terletak pokok permasalahan yang kita hadapi. Kita masih menganut kebijakan-kebijakan "punitif" dan kurang memberikan perhatian pada tindakan-tindakan "preventif", kalau belum ada bukti legal yang cukup tidak di lakukan penangkapan, ini jelas keliru. Hal itu menyebabkan hilangnya rasa hormat pada aparat negara. Hal lainnya adalah, dalam kehidupan sehari-hari begitu banyak pelanggaran hukum dilakukan oleh aparat keamanan, sehingga mereka pun tidak dapat melakukan tindakan efektif untuk mencegah tindakan teror yang dilakukan orang.  Itupun tidak bisa dibenahi oleh sistem politik kita, karena banyak sekali pelanggaran politik dilakukan oleh oknum-oknum pemerintah.

Sikap menutup mata oleh aparat keamanan kita terhadap hal-hal yang tidak benar, juga terjadi dalam praktek kehidupan sehari-hari di masyarakat. Apabila tindakan hukum diambil oleh aparat, banyak pihak lalu melakukan sesuatu untuk "Menetralisir" tindakan itu. Kasus Batalyon Linud (Lintas Udara) angkatan Darat di Binjai, Sumatra Utara, dapat dijadikan contoh, mereka melakukan tindakan "netralisasi" terhadap langkah-langkah hukum, karena para anggota Batalyon itu menyaksikan sendiri bagaimana para perwira AD dan Polri melakukan dukungan (backing) bagi kelompok-kelompok pelaksana perjudian dan pengedar narkoba, tanpa ada tindakan hukum apapun terhadap orang-orang itu.

Masalah yang timbul kemudian, adalah bagaimana mencegah kelompok-kelompok lain untuk mempersiapkan tindakan teror terhadap masyarakat, termasuk warga Asing. Sikap tutup mata itu sudah menjadi demikian luas sehingga tidak ada pihak keamanan yang berani bertindak terhadap kelompok-kelompok seperti itu. Kalaupun ada aparat keamanan yang bersih, dapat dimengerti keengganan mereka melakukan tindakan preventif.  Karena itu akan berarti kemungkinan berhadapan dengan atasan atau teman sejawat sendiri. Dalam hal ini berlakulah pepatah "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari". Inilah apa yang terjadi di pulau Bali itu, jadi tidak usah heran jika hal itu terjadi, bahkan yang harus diherankan, mengapakah hal ini baru terjadi sekarang.

Salah satu tanda dari "paralyse" (kelumpuhan) tadi, adalah hubungan sangat baik antara aparat keamanan dengan pihak-pihak teroris dan preman sendiri. Seolah-olah mereka mendapatkan kedudukan terhormat dalam masyarakat, karena kemanapun menutupi ke-premanan mereka. Bahkan ada benggol preman yang berpidato di depan agamawan, seolah-olah dia lepas dari hukum-hukum sebab-akibat. Herankah kita jika orang tidak merasa ada gunanya melakukan tindakan preventif ? Padahal hakikat tindakan moral adalah mencegah dilakukannya langkah-langkah melanggar hukum,  dengan terciptanya rasa malu pada diri calon-calon pelanggar kedaulatan hukum.

Kalau orang merasa terjerumus menjadi preman atau teroris, herankah kita jika ada pihak keamanan yang justru takut melawan mereka? bukanya melawan mereka? Apalagi kalau Wakil Presidennya menerima para teroris di kantor dan memperlakukan seolah-olah pahlawan? Bukan kah ini berarti pelecehan yang sangat serius dalam kehidupan bermasyarakat kita, kesalahan sikap ini ditutup-tutupi pula oleh anggapan bahwa Amarika Serikat-lah yang bersekongkol dengan TNI untuk menimbulkan hal-hal di atas guna melaksanakan"rencana jahat dari CIA (Central Inteligence Agency)? "Teori" ini harus diselidiki secara mendalam, namun masing-masing pihak tidak perlu menunggu.  Inilah prinsip yang harus dilakukan, tidak perlu harus menunggu hasil penelitian.

Memang harus setelah bertahun-tahun, hal semacam ini baru dapat diketahui sebagai kebijakan baru dibidang keamanan, guna memungkinkan tercapainya ketenangan yang benar-benar tangguh?. Sudah tentu, sebuah kebijakan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan yang ada, dalam hal ini keperluan akan tindakan-tindakan untuk mencegah terulangnya kejadian seperti di Bali itu.  Karenanya tindakan preventif  harus diutamakan, guna menghindarkan vakum kekuasaan keamanan terlalu lama. Kebutuhan itu megharuskan kita segera mencapai kesepakatan,  mengatasi kekosongan kekuasaan keamanan yang terlalu lama dapat berakibat semakin beraninya pihak-pihak yang melakukan destabilisasi di negeri kita.

Untuk itu di perlukan beberapa tindakan di lakukan secara simultan (bersama-sama). Pertama, harus dilakukan upaya nyata untuk menghentikan KKN oleh birokrasi negara dengan adanya KKN, birokrasi pemerintah tidak akan dapat menjalankan tugas secara adil, jujur dan sesuai dengan undang-undang yang ada begitu juga, persamaan perlakuan bagi semua warga negara di muka undang-undang tidak akan dapat terlaksana jika KKN masih ada. Dengan demikian, menciptakan kebersihan di lingkungan sipil dan militer merupakan persyaratan utama bagi penegak demokrasi di negeri kita.

Syarat ketiga yang tidak kalah penting adalah kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan dan kenyataan yang ada. Kita tidak dapat membuat istana di awang-awang, melainkan atas kenyataan yang ada di bumi Indoesia karena itulah, dalam sebuah surat kepada mantan Presiden HM. Soeharto penulis mengatakan bahwa kita harus siap untuk memanfatkan para konglomerat yang tidak mengembalikan pinjaman mereka Bank-bank pemerintah, dalam masalah perdata asalkan uang hasil pinjaman itu di konfrensikan menjadi kredit murah bagi usaha kecil dan menengah (UKM). Soal-soal pidana menjadi tanggung jawab aparat hukum yang ada, dan tidak pantas dicampuri baik oleh pihak eksekutif maupun legeslatif, resep ini memang terasa terlalu sumir dan elitis, tetapi memberikan harapan cukup untuk tetap menciptakan keamanan dan dalam menopang kebangkitan kembali ekonomi nasional kita. Sebagai usulan, ia merupakan sesuatu yang menarik, bukan?


Sumber: gusdur.net

Terorisme Harus Dilawan
Oleh Abdurrahman Wahid
--Tiga buah bom meledak dalam waktu yang hampir bersamaan di Denpasar, Bali lebih dari 180 orang menjadi korban termasuk sangat banyak orang yang mati seketika. Jelas ini adalah sebuah bagian mengerikan dari tindakan teror yang selama belasan bulan ini mengetarkan perasaan kita sebagai warga masyarakat. Penulis berkali-kali minta agar pihak keamanan mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna menghindarkan terjadinya hal itu. Termasuk mengambil langkah-langkah preventif, antara lain menahan orang-orang yang keluyuran di negeri kita membawa senjata tajam, membuat bom-bom rakitan, memproduksi senjata-senjata yang banyak ragamnya.<>

Namun pihak keamanan merasa tidak punya bukti-bukti legal yang cukup untuk mengambil tindakan hukum terhadap mereka. Mungkin di sinilah terletak pokok permasalahan yang kita hadapi. Kita masih menganut kebijakan-kebijakan "punitif" dan kurang memberikan perhatian pada tindakan-tindakan "preventif", kalau belum ada bukti legal yang cukup tidak di lakukan penangkapan, ini jelas keliru. Hal itu menyebabkan hilangnya rasa hormat pada aparat negara. Hal lainnya adalah, dalam kehidupan sehari-hari begitu banyak pelanggaran hukum dilakukan oleh aparat keamanan, sehingga mereka pun tidak dapat melakukan tindakan efektif untuk mencegah tindakan teror yang dilakukan orang.  Itupun tidak bisa dibenahi oleh sistem politik kita, karena banyak sekali pelanggaran politik dilakukan oleh oknum-oknum pemerintah.

Sikap menutup mata oleh aparat keamanan kita terhadap hal-hal yang tidak benar, juga terjadi dalam praktek kehidupan sehari-hari di masyarakat. Apabila tindakan hukum diambil oleh aparat, banyak pihak lalu melakukan sesuatu untuk "Menetralisir" tindakan itu. Kasus Batalyon Linud (Lintas Udara) angkatan Darat di Binjai, Sumatra Utara, dapat dijadikan contoh, mereka melakukan tindakan "netralisasi" terhadap langkah-langkah hukum, karena para anggota Batalyon itu menyaksikan sendiri bagaimana para perwira AD dan Polri melakukan dukungan (backing) bagi kelompok-kelompok pelaksana perjudian dan pengedar narkoba, tanpa ada tindakan hukum apapun terhadap orang-orang itu.

Masalah yang timbul kemudian, adalah bagaimana mencegah kelompok-kelompok lain untuk mempersiapkan tindakan teror terhadap masyarakat, termasuk warga Asing. Sikap tutup mata itu sudah menjadi demikian luas sehingga tidak ada pihak keamanan yang berani bertindak terhadap kelompok-kelompok seperti itu. Kalaupun ada aparat keamanan yang bersih, dapat dimengerti keengganan mereka melakukan tindakan preventif.  Karena itu akan berarti kemungkinan berhadapan dengan atasan atau teman sejawat sendiri. Dalam hal ini berlakulah pepatah "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari". Inilah apa yang terjadi di pulau Bali itu, jadi tidak usah heran jika hal itu terjadi, bahkan yang harus diherankan, mengapakah hal ini baru terjadi sekarang.

Salah satu tanda dari "paralyse" (kelumpuhan) tadi, adalah hubungan sangat baik antara aparat keamanan dengan pihak-pihak teroris dan preman sendiri. Seolah-olah mereka mendapatkan kedudukan terhormat dalam masyarakat, karena kemanapun menutupi ke-premanan mereka. Bahkan ada benggol preman yang berpidato di depan agamawan, seolah-olah dia lepas dari hukum-hukum sebab-akibat. Herankah kita jika orang tidak merasa ada gunanya melakukan tindakan preventif ? Padahal hakikat tindakan moral adalah mencegah dilakukannya langkah-langkah melanggar hukum,  dengan terciptanya rasa malu pada diri calon-calon pelanggar kedaulatan hukum.

Kalau orang merasa terjerumus menjadi preman atau teroris, herankah kita jika ada pihak keamanan yang justru takut melawan mereka? bukanya melawan mereka? Apalagi kalau Wakil Presidennya menerima para teroris di kantor dan memperlakukan seolah-olah pahlawan? Bukan kah ini berarti pelecehan yang sangat serius dalam kehidupan bermasyarakat kita, kesalahan sikap ini ditutup-tutupi pula oleh anggapan bahwa Amarika Serikat-lah yang bersekongkol dengan TNI untuk menimbulkan hal-hal di atas guna melaksanakan"rencana jahat dari CIA (Central Inteligence Agency)? "Teori" ini harus diselidiki secara mendalam, namun masing-masing pihak tidak perlu menunggu.  Inilah prinsip yang harus dilakukan, tidak perlu harus menunggu hasil penelitian.

Memang harus setelah bertahun-tahun, hal semacam ini baru dapat diketahui sebagai kebijakan baru dibidang keamanan, guna memungkinkan tercapainya ketenangan yang benar-benar tangguh?. Sudah tentu, sebuah kebijakan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan yang ada, dalam hal ini keperluan akan tindakan-tindakan untuk mencegah terulangnya kejadian seperti di Bali itu.  Karenanya tindakan preventif  harus diutamakan, guna menghindarkan vakum kekuasaan keamanan terlalu lama. Kebutuhan itu megharuskan kita segera mencapai kesepakatan,  mengatasi kekosongan kekuasaan keamanan yang terlalu lama dapat berakibat semakin beraninya pihak-pihak yang melakukan destabilisasi di negeri kita.

Untuk itu di perlukan beberapa tindakan di lakukan secara simultan (bersama-sama). Pertama, harus dilakukan upaya nyata untuk menghentikan KKN oleh birokrasi negara dengan adanya KKN, birokrasi pemerintah tidak akan dapat menjalankan tugas secara adil, jujur dan sesuai dengan undang-undang yang ada begitu juga, persamaan perlakuan bagi semua warga negara di muka undang-undang tidak akan dapat terlaksana jika KKN masih ada. Dengan demikian, menciptakan kebersihan di lingkungan sipil dan militer merupakan persyaratan utama bagi penegak demokrasi di negeri kita.

Syarat ketiga yang tidak kalah penting adalah kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan dan kenyataan yang ada. Kita tidak dapat membuat istana di awang-awang, melainkan atas kenyataan yang ada di bumi Indoesia karena itulah, dalam sebuah surat kepada mantan Presiden HM. Soeharto penulis mengatakan bahwa kita harus siap untuk memanfatkan para konglomerat yang tidak mengembalikan pinjaman mereka Bank-bank pemerintah, dalam masalah perdata asalkan uang hasil pinjaman itu di konfrensikan menjadi kredit murah bagi usaha kecil dan menengah (UKM). Soal-soal pidana menjadi tanggung jawab aparat hukum yang ada, dan tidak pantas dicampuri baik oleh pihak eksekutif maupun legeslatif, resep ini memang terasa terlalu sumir dan elitis, tetapi memberikan harapan cukup untuk tetap menciptakan keamanan dan dalam menopang kebangkitan kembali ekonomi nasional kita. Sebagai usulan, ia merupakan sesuatu yang menarik, bukan?




Sumber: gusdur.net

Lebih Dari 2000 Orang Per Hari Berziarah Ke Makam Gus Dur

Lebih Dari 2000 Orang Per Hari Berziarah Ke Makam Gus Dur


Gusdurfiles.Com ~ Pondok Pesantren Tebuireng, adalah salah satu pondok yang terkenal di Indonesia. Pondok ini didirikan oleh KH Hasyim Asyari. Beliau adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya merupakan seorang kiai bernama Kiai Asyari, pemimpin sebuah pondok pesantren di Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri.

KH Hasyim dikenal sebagai sosok kiai yang sangat nasionalis. Beliau rela menyumbangkan tenaga, pikiran, demi mengembangkan bangsa ini. Dengan landasan logika yang dijadikan pijakan KH Hasyim, mendorong masyarakat untuk memanfaatkan bantuan Jepang. Dengan didikan dan gemblengan militer dari Jepang, masyarakat yang sudah beratus-ratus tahun dijajah Belanda, lambat laun mulai bangkit.

Kebangkitan tersebut juga ditunjukkan di bidang pendidikan. Dengan metode pengajaran, KH Hasyim mempunyai gagasan, memasukkan materi ilmu umum sampai metode seminari, dengan harapan bisa imbang antara ilmu umum dan agama. Hasilnya, para santri menjadi lebih kritis pada wacana ilmu pengetahuan. 'Bahts al-Masail' sebagai metode 'Istimbat al-Hukm' dalam tradisi Nahdlatul Ulama, sejatinya adalah buah manis dari metode pengajaran yang dipopulerkan KH Hasyim.

KH Hasyim juga berperan dalam tercetusnya ideologi negara, di mana saat terjadi perbedaan pandangan pada pada sidang BPUPKI 28 Mei-1 Juni 1945. Kubu Soekarno dan Soepomo saat itu menghendaki negara ini bercorak nasionalis sekuler, sementara kubu Muhammad Yamin menginginkan Islam sebagai landasan dasar negara Indonesia.

Kedua kubu ini masih terus saling menguatkan pandangan masing-masing, sehingga nasib Indonesia di ambang kesuraman, apakah kelak dijadikan sebagai negara sekuler atau negara Islam. Pertentangan tersebut baru reda setelah hadirnya Abdul Wahid Hasyim, putra KH Hasyim. Melalui gagasan yang disampaikan Abdul Wahid Hasyim, akhirnya disepakati Piagam Jakarta untuk merumuskan ideologi negara Indonesia. Piagam ini berlatar belakang Piagam Madinah saat zaman Rasulullah.

Seperti yang dikutip dari situs NU Online, perjuangan KH Hasyim tidak kenal usia. Walaupun usianya sudah tidak lagi muda, semangatnya untuk membela bangsa tidak pernah surut. KH Hasyim atas nama hati nurani rakyat bahkan sampai mengeluarkan fatwa 'jihad fi sabilillah' untuk melawan tentara sekutu yang berniat kembali menguasai Indonesia.

Saat itu, pemerintah menyepakati Perundingan Linggarjati yang dinilai mewakili seluruh suara rakyat. Hasil dari Perundingan Linggarjati, salah satu kesepakatannya adalah membentuk Negara Republik Indoneisa Serikat (RIS).

KH Hasyim, Bung Tomo, Jenderal Soedirman, Kiai Wahab Hasbullah, dan tokoh-tokoh lainnya mengadakan kesepakatan tandingan di Tebuireng. Bagi kubu KH Hasyim, kemerdekaan adalah harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Negara RIS (Republik Indonesia Serikat) dianggap sama halnya dengan menggadaikan kembali kemerdekaan. Namun sangat disayangkan, saat perjuangan tengah mencapai puncaknya, beliau terlebih dahulu dipangging Sang Pencipta, sehingga perjuangannya diteruskan generasi penerusnya.

Sosok KH Abdurrahman Wahid, pun tak kalah populer. Pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 ini merupakan seorang reformis, cendekiawan, pemikir, dan pemimpin politik. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil atau 'Sang Penakluk' dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. 'Gus' adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada anak kiai.
Semasa hidupnya, putra pasangan Wahid Hasyim dan Solichah ini bahkan pernah menggantikan BJ Habibie sebagai Presiden RI setelah dipilih MPR hasil Pemilu 1999. Dia menjabat Presiden RI dari 20 Oktober 1999 hingga Sidang Istimewa MPR 2001.

Berbagai prestasi dan penghargaan ia peroleh, di antaranya Pada 1993, penghargaan berupa 'Ramon Magsaysay Award', sebuah penghargaan prestisius untuk kategori kepemimpinan sosial.
Ia juga ditahbiskan sebagai 'Bapak Tionghoa' oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, pada 10 Maret 2004. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) juga memberikan penghargaan pada 11 Agustus 2006, dengan Gadis Arivia yaitu Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006. Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia, serta sejumlah penghargaan lainnya.

Gus Dur wafat pada Rabu (30/12/2009), di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pukul 18.45 WIB akibat komplikasi penyakit, di antaranya jantung dan gangguan ginjal yang sudah dideritanya sejak lama.

Gus Dur dimakamkan satu lokasi dengan KH Wahid Hasyim (mantan Menteri Agama yang juga ayahanda Gus Dur), kakeknya, KH Hasyim Asyari, serta sejumlah keluarga lainnya di makam kelurga, PP Tebuireng, Kabupaten Jombang. Lokasi ini selalu ramai dipadati pengunjung setiap harinya.
Tak kurang dari 2.000 pengunjung datang untuk berziarah. Jumlah ini biasanya meningkat saat akhir pekan sampai 5.000-8000 pengunjung. Mereka datang dari berbagai daerah bukan hanya Jawa, Madura, melainkan daerah di Indonesia.

Namun, saat Ramadan seperti sekarang ini, justru jumlah peziarah turun. Dari yang biasanya pengunjung banyak dari sejumlah daerah di Indonesia, saat ini pengunjung justru banyak dari lokal seperti Jombang, Mojokerto. Jumlah pengunjung hanya sekitar 500 saja setiap harinya.
Walaupun jumlah pengunjung sedikit, lokasi makam dibiarkan tetap terbuka sampai 24 jam, kecuali terdapat kegiatan resmi. Ada kegiatan itupun ditutup untuk pintu depan makam, dan para peziarah tetap bisa berkunjung dengan lewat pintu belakang pondok.









Sumber :muslimoderat.com
close
Banner iklan disini