Alissa Wahid Ungkap Sumbu Spiritual Kehidupan Gus Dur

Alissa Wahid Ungkap Sumbu Spiritual Kehidupan Gus Dur


Mahasiswa Ciputat lintas organisasi menyelenggarakan Haul ke-7 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bertempat di Hall Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (29/12). Acara tersebut menghadirkan Alissa Wahid, Romo Sandyawan Sumardi, dan Priyo Sambadha.

Putri sulung Gus Dur Alissa Wahid menyampaikan satu di antara sembilan nilai utama Gus Dur yang dirumuskan oleh 100 orang sahabat dan muridnya. Di antaranya KH Ahmad Mustofa Bisri, Mohamad Sobary, dan Pendeta Phil Erari dari Papua.

Mengutip hasil diskusi itu, Alissa mengatakan bahwa nilai paling utama seorang KH Abdurrahman Wahid adalah keyakinan spiritualnya, yakni menegakkan Islam rahmatan lil alamin. Delapan nilai lainnya adalah turunan dari nilai utama tersebut.

“Menurut beliau-beliau itu, bukan menurut Alissa ini ya, sumbu kehidupannya adalah keyakinan spiritual beliau, bahwa tugasnya di dunia ini sebagai seorang muslim adalah menegakkan Islam rahmatan lil alamin,” katanya.

Sementara itu, Priyo Sambadha menyatakan, saat putra pertama KH Abdul Wahid Hasyim itu menjabat sebagai presiden, istana benar-benar milik rakyat.

Salah satu buktinya adalah saat Gus Dur mengadakan open house Idul Fitri untuk pertama kalinya sepanjang sejarah istana. Masyarakat dengan berbagai latar belakang dan berbagai macam penampilan dipersilakan bersalaman dengan presiden dan keluarganya tanpa terkecuali.

“Semua orang boleh masuk pokoknya. Tidak ada terkecuali. Pakaian seperti apa silakan masuk,” kata staf Presiden Abdurrahman Wahid itu.

Adapun Romo Sandyawan menyampaikan satu pesan Gus Dur untuknya pada saat dia bertemu dengan Gus Dur guna membicarakan peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli). Pesannya adalah tentang tujuan manusia itu diciptakan.

“Tujuan manusia diciptakan, yaitu untuk meluhur-muliakan Allah dan kemanusiaan, beserta alam semestanya,” ujarnya. Terakhir, Alissa Wahid berpesan kepada seluruh hadirin, “Gus Dur yang meneladankan, kita yang melanjutkan.”

Acara ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor III UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Yusron Rozak. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa hampir tidak ada satu kata yang dapat menggambarkan seorang Gus Dur. “Jika kita sebut beliau Bapak Humanisme, dia lebih luas dari itu,” ujarnya.

Saking luasnya pandangan dan gagasannya, Yusron Rozak menyatakan kata cukup terbatas untuk mendeskripsikan Gus Dur.

Acara dengan tagline “Om Toleran Om” itu juga menggalang 1000 tanda tangan sebagai bentuk kepedulian dan toleransi. Selain itu, acara tersebut juga menggalang dana untuk Gempa Aceh. Panitia menjual kaos dengan berbagai tulisan nasihat Sang Guru Bangsa itu. Panitia juga melelang lukisan Gus Dur yang akhirnya terjual dengan harga dua juta rupiah. (Syakir NF/Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Kisah Tukang Nasi Peroleh Berkah Gus Dur

Kisah Tukang Nasi Peroleh Berkah Gus Dur


Saat masih hidup mungkin bagi sebagian banyak orang belum bisa merasakan berkah Gus Dur, tapi ketika Gus Dur telah meninggal dunia tidak sedikit yang merasakan berkahnya, diantara orang tersebut adalah seorang penjual nasi yang ada di sekitar makam Gus Dur di Tebuireng.

Kisah ini disampaikan oleh KH Musyfiq Amrullah saat mengisi taushiyah Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan oleh Jamaah Jimat Subang di Desa Rancabango, Patokbeusi, Subang, Jawa Barat, Rabu (28/12) malam.

"Saya sama anak-anak santri sering ziarah Wali Songo, tahun kemarin saat di maqbaroh Gus Dur saya makan dulu sambil menunggu barangkali sebentar lagi jamaah yang ziarah bisa berkurang," ungkap Pengasuh Pesantren Attawazun Kalijati Subang itu.

Selesai makan, Kiai Musyfiq bertanya kepada penjual nasi yang tidak disebutkan namanya tersebut, mulanya ia hanya menanyakan waktu atau jam yang sepi dari para peziarah agar bisa disesuaikan dengan waktu yang tepat untuk menziarahi makam Gus Dur di tahun berikutnya.

"Penjual nasi itu bilang makam Gus Dur tidak pernah sepi, setiap hari kurang lebih ada 50 bus jamaah yang menziarahi ke makam Gus Dur," tambahnya.

Dikatakan Kiai Musyfiq, penjual nasi itu kemudian mengungkapkan bahwa sebelum berjualan nasi ia berprofesi sebagai petani, setelah Gus Dur wafat pada tahun 2009 yang lalu ia memutuskan untuk beralih profesi menjadi penjual nasi karena melihat setiap hari banyak sekali jamaah yang berziarah.

"Alhamdulillah penjual nasi itu kebagian berkahnya Gus Dur karena setiap hari warungnya tidak pernah sepi," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Sumber : nu.or.id
1000 Jalan Mencintai Gus Dur

1000 Jalan Mencintai Gus Dur


Oleh Nasukha

Suatu hari di awal tahun 2010, penulis pulang kampung di daerah Banyumas, Jawa tengah. Sesaat setelah sampai di rumah, penulis bertemu dengan tetangga yang kebetulan seorang yang aktif dalam jamaah pengajian ibu-ibu. Dengan agak serius, ibu itu berkata, ”Mas, kiamat sudah dekat ya, ko banyak orang alim yang meninggal?” Saya-pun berujar, ”Siapa yang meninggal”? Ibu itu menyebutkan salah seorang kyai lokal yang baru meninggal dan dengan tegas menyebut: Gus Dur.

Sementara itu, pada hari meninggalnya Gus Dur, penulis menyaksikan sendiri seorang pengasuh pesantren di Yogyakarta mengibarkan bendera setengah tiang di halaman masjid selama 7 hari. Entah karena pengaruh instruksi presiden atau tidak yang jelas ini memberikan kesan mendalam tentang penghormatan kiai tersebut kepada sosok Gus-Dur.

Dua peristiwa diatas tiba-tiba muncul dalam memori peringatan 7 tahun meninggalnya Sang Guru Bangsa itu. Ingatan itu beriringan dengan banyaknya orang, organisasi atau lembaga yang mencoba meneruskan cita-cita Gus Dur. Gagasan Gus Dur layaknya gagasan orang hebat lainnya terus dikaji, didiskusikan dan disebarluaskan di berbagai tempat. Namun seperti halnya Gus Dur yang multitalenta, beragam pula cara orang untuk mengenal dan meneruskan pemikirannya.  

Barangkali Gus Dur merupakan salah satu manusia di negeri ini yang dikenal memiliki banyak sisi. Selain sebagai Presiden Indonesia ke-4, Gus Dur adalah seorang ulama, kolumnis, politisi, aktivis dan pemikir Islam. Maka spektrum kehidupan kehidupannya dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Seseorang dapat menilainya sebagai cucu ulama besar yang menjadi ketua organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Ia juga bisa dilihat sebagai aktivis yang getol memperjuangkan HAM, pluralisme dan demokrasi. Selain itu, ia juga seorang tokoh politik dengan manuver dan komentar yang banyak dinantikan. Dalam hal ini, Gus Dur menjadi manusia super komplet yang membedakannya dengan banyak tokoh lain di negeri ini. Entah butuh puluhan atau ratusan tahun lagi, manusia seperti Gus Dur dapat lahir kembali.

Salah satu sisi Gus Dur yang sangat menonjol adalah kepemimpinannya di Nahdlatul Ulama. Hampir 14 tahun ia menjadi ketua di organisasi islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Selama itu, ia memiliki peran yang tak sedikit dalam lintas sejarah NU. Setidaknya ada 4 peran utama Gus Dur pada saat memimpin Nahdlatul Ulama. Pertama, Gus Dur bersama tokoh-tokoh muda NU pada tahun 1983 merumuskan formulasi kembali ke khitah.

Dengan gagasan NU, NU kembali menjadi kekuatan civil society yang disegani. Kedua, Gus Dur menjadi simbol perlawanan NU terhadap rezim orde baru yang otoriter. Hal ini pula yang membawa Gus Dur menjadi salah satu tokoh demokrasi. Ketiga, pemikiran dan gagasan Gus Dur yang mampu menginspirasi anak muda NU untuk tampil progresif  dan tranformatif. Keempat, memperkenalkan dunia NU dan pesantren ke khalayak umum.

Sekompleks apapun peran pribadi seorang Gus Dur, ia tetaplah orang pesantren yang memimpin NU. Sehingga mayoritas masyarakat NU pasti akan menempatkan Gus Dur pada posisi yang sangat dihormati, yaitu seorang kiai, ulama. Sebagai kiai, Gus Dur adalah seorang alim yang ditunggu wejangan dan nasihatnya.

Maka Gus Dur-pun banyak berkeliling ke pelosok-pelosok untuk memberikan ceramah. Pengajiannya di daerah-daerah selalu dihadiri banyak orang. Sebagai contoh, pada pertengahan tahun 2002, Gus Dur pernah berceramah di dekat rumah penulis. Saat itu ribuan orang hadir bahkan banyak anak-anak yang bolos sekolah demi bisa ikut pengajian.

Apalagi dalam diri Gus Dur mengalir darah biru kiai, sehingga posisi ini menempatkannya semakin dihormati oleh masyarakat NU. Tak mengherankan tak sedikit orang yang megakui Gus Dur sebagai wali, orang yang dikasihi Allah SWT. Tentu kita sudah sering mendengar tentang sebutan ‘Wali Gus Dur’ yang dipopulerkan banyak orang juga tentang makamnya yang terus diziarahi orang setiap waktu.

Hal ini menegaskan posisi Gus Dur yang berada dalam hati banyak masyarakat apalagi warga NU. Kedekatan ini dengan jelas dapat dilihat saat Gus Dur dipaksa turun sebagai Presiden  oleh MPR, maka banyak masyarakat yang “berani mati” untuk membela Gus Dur. Meskipun pada akhirnya Gus Dur sendiri yang menolak pembelaan terhadap dirinya tersebut. Ekspresi orang-orang ini tentu tak berlebihan mengingat kecintaan dan pernghormatan yang sedemikian tinggi kepadanya.

Dalam peringatan 1000 Hari wafatnya Gus Dur, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menyampaikan bahwa para penerus Gus Dur dapat meniru Gus Dur dari sudut yang dipahaminya. Gus  Dur bisa diteladani dari sikap kesederhanaanya, kecintaan terhadap ilmu atau tingkat kepercayaan dirinya yang sangat tinggi dalam menegakan kebenaran. Masing-masing berhak meneladani Gus Dur semampunya.

Demikian halnya cara orang mencintai Gus Dur. Sudah mafhum bagi kita banyak politikus yang membawa platform nilai-nilai Gus Dur dalam berpolitik. Terlepas dari idealisme, tentu ini bagian dari cara mencintai Gus Dur. Ada yang rajin mengkaji, menulis dan menyebarkan gagasan Gus Dur dalam berbagai isu. Tentu tujuannya merawat gagasan  tersebut agar tetap relevan sepanjang waktu.

Sejumlah seniman menunjukkan cinta kepada Gus Dur, dengan mengabadikannya dalam bentuk patung dan lukisan. Bahkan ada pula yang mengisahkannya dalam bentuk komik atau ada juga yang mengumpulkan kisah-kisah humor yang terkait dengan Gus Dur. Sementara itu, ribuan orang rajin meziarahi makamnya seraya berharap berkah dari kealimannya. Semua cara-cara tersebut adalah bentuk ekspresi kecintaan kepada Sang Guru Bangsa.

Sebagaimana ibu jamaah pengajian tadi yang mengaitkan meninggalnya Gus Dur dengan semakin dekatnya hari kiamat, maka banyak orang memiliki pandangan yang hampir sama, mengimaginasikan Gus Dur sebagai manusia ‘alim, khoriqul ‘adah dan luar biasa. Informasi yang penulis dapatkan,  beberapa pesantren di Cilacap-mungkin juga ditempat lain- memasukan nama Gus Dur dalam susunan tawassul saat acara tahlilan.

Hal-hal demikian juga merupakan contoh ekspresi kecintaan terhadap Gus Dur. Mereka barangkali tidak mengenal tentang ‘Pribumisasi Islam’. ‘Pesantren sebagai Subkultur’ dan elemen pemikiran Gus Dur lainnya, akan tetapi mereka mengaktualisasikan kecintaan kepada Gus Dur dengan caranya sendiri sesuai dengan pemahaman masing-masing.

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa kecintaan terhadap Gus Dur tidak hanya milik kelompok tertentu. Cinta kepadanya adalah cinta berbagai manusia dengan beragam warna yang merasa kehilangan setelah kepergiannya. Cinta itu diekspresikan dalam berbagai cara, dengan 1000 jalan. Lahul fatihah...

Sumber : nu.or.id
Putri Gus Dur Ingat Pesan Ayahnya Lihat Situasi Masyarakat Saat Ini

Putri Gus Dur Ingat Pesan Ayahnya Lihat Situasi Masyarakat Saat Ini


Putri bungsu Gus Dur, Inayah Wahid mengenang pesan yang disampaikan ayahnya saat melihat situasi sosial saat ini.

Menurut Inayah, banyak pesan Gus Dur yang masih relevan sampai saat ini.

"Gus Dur sudah jelas yang selalu bilang adalah menyedihkan kalau yang menjadi perpecahan karena perbedaan, karena perbedaan tidak untuk dipertentangkan," kata Inayah kepada Tribunnews.com, Jumat (23/12/2016).

"Sudah jelas Gus dur selalu bilang, ketika beda kita semakin bisa lihat titik persatuan kita dimana, perbedaan itu penting dan membuat Indonesia muncul bisa negara," tambah Inayah.

Inayah mengatakan peringatan 7 tahun wafatnya Gus Dur ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat untuk menebar perdamain.

Ia mengakui situasi sosial masyarakat saat ini sedang memanas.

"Kita sih berusaha kembali ke fungsi utama agama sebenarnya untuk kemanusiaaan, seperti dibawa Gus Dur, bagaimana pun, negara tak bertentangan dengan agama makanya jangan dipertentangkan dan jangan dipakai kepentingan sesaat dan sepihak," kata Inayah.

Inayah mengatakan seluruh agama memperhatikan kepentingan masyarakat banyak serta keadilan.

Selain itu, Inayah melihat adanya suasana panas di media sosial bukan hanya terjadi di Indonesia.

"Iya, kayak kurang piknik. Ini bukan terjadi di Indonesia saja , naiknya kelompok sektarian, membenci kelompok lain, muncul semua. Penyelesaian harus menyeluruh, balik mengembalikan ke poin kemanusiaan," kata Inayah.

Sumber : tribunnews.com
Alissa Wahid: Nilai Keislaman Gus Dur Sangat Relevan Mengatasi Kebencian

Alissa Wahid: Nilai Keislaman Gus Dur Sangat Relevan Mengatasi Kebencian


Peringatan ke-7 Tahun Wafatnya KH Abdurrahman Wahid, Jumat 23 Desember 2016 mengambil tema ‘Mengaji Gus Dur: Menebar Damai Menuai Rahmat’. Dari tema ini, nilai keislaman Gus Dur yang tidak lepas dari sisi kemanusiaan penting untuk diterapkan.

“Menghadapi tantangan meningkatnya kebencian antarsesama muslim maupun terhadap kelompok lain akhir-akhir ini, kami merasa nilai keislaman yang diperjuangkan Gus Dur semakin relevan untuk digemakan kembali,” ujar Alissa Wahid, Ketua Panitia Peringatan yang juga puteri sulung Gus Dur, Selasa (20/12).

Menurut Alissa, ketegangan yang tak jarang berakhir dengan konflik kekerasan biasanya dipicu sikap merasa benar sendiri dan mudah menyalahkan yang lain. Sikap ini makin mengeras dan berdampak negatif jika dipengaruhi faktor politik, ekonomi, dan sosial.

Situasi ini, menurutnya, sangat mudah dijumpai di media-media sosial akhir-akhir ini. Padahal nilai-nilai keislaman jelas sekali mewajibkan pada perdamaian dan tak mudah berburuk sangka.

“Situasi ini dapat menganggu citra Islam, terutama bagi Indonesia yang menjadi model keislaman yang damai dan ramah di mata dunia. Apalagi masyarakat di negara-negara Barat saat ini mengalami Islamphobia, ketakutan daan kecurigaan terhadap Islam yang meningkat akibat maraknya kekerasan dan terorisme,” jelas Alissa.

Sepanjang hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang malnjutkan tradisi para ulama pendahulunya menghadirkan Islam yang ramah dan damai, membela kepentingan kaum yang lemah, dan dapat beradaptasi dan menerima budaya lokal.

Nilai keislaman yang Gus Dur perjuangkan berusaha untuk menyapa dan merangkul semua kelompok. Beliau meyakinkan bahwa keislaman dapat bersanding dengan nilai-nilai kebangsaan dan demokrasi, menjunjung tinggi penghormatan hak asasi, menghargai perbedaan, serta mengutamakan persatuan dan persaudaraan. Nilai dan prinsip itu pula yang terus diperjuangkan saat beliau menjadi Presiden RI keempat.

Pada saat bersamaan, orang juga makin merindukan Gus Dur di saat tak sedikit para pejabat publik bertindak melawan rakyat atas nama pembangunan. “Di sejumlah daerah kita masih menyaksikan rakyat kecil ditinggalkan bahkan dirampas haknya dan kelompok minoritas ditekan. Di saat itu orang-orang rindu Gus Dur,” ucap Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian ini.

Peringatan Ke-7 Tahun ini diisi kegiatan tahlil, Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, Taushiyah, Doa Bersama, Deklarasi Damai, dan Pembacaan Puisi.

Sejumlah tokoh agama, tokoh pemerintah, tokoh masyarakat, dan budayawan yang hadir antara lain sahabat dan budayawan KH. Achmad Mustofa Bisri, ulama asal Kudus Habib Ja’far Alkaff, ulama asal Semarang Habib Umar Muthohar, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH. Said Aqil Siradj, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Budayawan Joko Pinurbo, Putu Wijaya, Acep Zamzam Noor, dan Cici Paramida. Acara ini akan dimeriahkan pula oleh penampilan band musik tradisi Kunokini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini akan diikuti ribuan orang yang datang dari wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Mereka terdiri dari anggota majelis taklim, komunitas, hingga kalangan umum. Di pagi hari, mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB, diisi Khotmil Qur’an (membaca tuntas 30 juz al-Qur’an). (Red: Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Cara Gus Dur Memberi Kegembiraan kepada Setiap Orang

Cara Gus Dur Memberi Kegembiraan kepada Setiap Orang


Jika ada orang meminta bantuan, Gus Dur tak pernah menolak sepanjang ia memilikinya. Ia ingin selalu memberi. Jika tak ada lagi yang bisa diberikan Gus Dur, karena memang benar-benar sedang tak punya, ia akan menyampaikan kepadanya kata-kata yang menggembirakan hati dan memberinya ketenangan.

Hal itu diungkapkan oleh Pendiri Fahmina Institute, KH Husein Muhammad, Ahad (18/12) saat memberikan gambaran perilaku Gus Dur yang terlihat begitu penyayang kepada setiap orang meskipun dirinya tak punya sesuatu yang harus diberikan dalam rangka membantu.

“Gus Dur, tak ingin membuat orang yang memintanya kecewa atau pulang ke rumahnya dengan wajah murung, tangan yang kosong dan hati yang berduka,” ujar penulis buku Sang Zahid: Mengarungi Sufisme Gus Dur ini.

Kiai Husein menjelaskan, Gus Dur tentu membayangkan jika orang yang mengharap pertolongannya itu pulang lalu menemui anak-anak dan isterinya yang tengah menantinya dalam keadaan menangis.

“Hati Gus Dur amat peka dan pilu mendengar orang lain yang sering susah, yang miskin dan yang menderita,” tuturnya.

Dia juga menerangkan, dalam keadaan tak bisa memberikan uang atau apa yang dibutuhkan orang itu, Gus Dur akan berpesan optimisme kepada mereka seperti nasihat Ibnu Athaillah al-Sakandari ini:

لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدُ الْعَطَاءِ مَعَ الْاِلْحَاحِ فِى الدُّعَاءِ مُوْجِبًا لِيَأْسِكَ فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْاِجَابَةَ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيْمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ وَفِى اْلوَقْتِ الَّذِى يُرِيْدُ لَا فِى اْلوَقْتِ الَّذِى تُرِيْدُ

“Seyogyanya, tertundanya pemberian Allah sesudah engkau mengulang-ulang permintaan kepada-Nya, tidak membuatmu patah hati atau putus asa. Dia menjamin pemenuhan permintaanmu sesuai dengan apa yang Dia pilih bukan yang engkau pilih, dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada saat yang engkau kehendaki.”

(Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Gus Dur Rela Menanggung Luka

Gus Dur Rela Menanggung Luka


KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur bukan hanya dikagumi dan dirindukan banyak orang. Ia juga dibenci, dicaci-maki dan disumpahserapahi sebagian orang. Tetapi caci maki, sumpah serapah dan kutukan-kutukan para pembenci Gus Dur, tak membuatnya menjadi rendah, tak menjadi kecil dan tak pula membuatnya terkucil. Itu tak menggentarkan hatinya.

Malahan gempuran-gempuran terhadapnya seperti itu justru semakin mengukuhkan kebesarannya, meneguhkan perjuangannya dan semakin mengalirkan simpati kepadanya. Gus Dur menanggung semuanya dengan diam.

Ia tetap terus menapaki jalan yang ditempuhnya menuju cita-citanya: Keadilan bagi semua dan persaudaraan atas dasar kemanusiaan. Ia adalah orang besar yang namanya akan dicatat sejarah peradaban sebagai pejuang kemanusiaan.

Kita sudah membaca sejarah umat manusia dan sejarah orang-orang besar. Orang-orang besar selalu mengandung dualitas yang paradoks: dikagumi dan dicemooh dalam waktu yang sama. Ka’ab al-Ahbar, seorang ahli tafsir berbagai kitab suci, bilang:

مَاكَانَ رَجُلٌ حَكِيْمٌ فِى قَوْمِهِ قَطُّ اِلَّا بَغَوْا عَلَيْهِ وَحَسَدُوهُ

“Tak ada tokoh bijak-bestari di sebuah komunitas kecuali selalu saja ada orang-orang/kelompok yang mencaci-maki dan mendengki dia.”

Jalal al-Din al-Suyuthi, ulama besar, seorang ensiklopedis dengan ratusan karya tulisnya, mengatakan hal yang sama, tetapi dengan redaksi bahasa yang sedikit berbeda:

مَاكَانَ كَبِيْرٌ فِى عَصْرٍ قَطُّ اِلَّا كَانَ لَهُ عَدُوٌّ مِنْ السَّفَلَةِ. إِذِ الْاَشْرَافُ لَمْ تَزَلْ تُبْتَلَى بِا لْاَطْرَافِ فَكَانَ لِآدَمَ إِبْلِيس , وَكَانَ لِنُوحٍ حَام وَغَيْرُه وَكَانَ لِدَاوُدَ جَالُوت وَاَضْرَابُه وَكَانَ لِسُلَيْمَان صَخَر وَكَانَ لِعِيْسَى بُخْتَنْصِر وَكَانَ لِاِبْرَاهِيم النَمْرُود وَكَانَ لِمُوسَى فِرْعَون وَهَكَذَا اِلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لَهُ ابو جَهَل

“Tidak ada tokoh besar pada setiap zaman kecuali dicacimaki orang-orang bodoh. Orang-orang terhormat selalu diuji oleh orang-orang pinggiran. Dulu Nabi Adam dilawan Iblis, Nabi Nuh lawan Ham dan lainnya, Nabi Daud musuh Jalut dan pasukannya, Nabi Sulaiman lawan Sakhr, Nabi Isa lawan Bukhtanshir, Nabi Ibrahim lawan Namrud, Nabi Musa lawan Firaun, dan seterusnya sampai Nabi Muhammad SAW. Beliau dilawan Abu Jahal.”

Para tokoh bijak-bestari (Hukama) dalam sejarahnya, memang, bukan hanya disumpah-serapah dan dibenci, tetapi juga dikafirkan, dibid’ahkan, dizindiq-kan (dituduh atheis). Dan ingin dilenyapkan oleh mereka yang tak matang secara intelektual dan spiritual, atau oleh mereka yang pikirannya tergantung pada bentuk-bentuk kredo formal dan teks-teks literal keagamaan atau oleh fanatisme pada kebenaran diri sendiri dan buta pada kebenaran yang lain.

Imam Al-Ghazali, sang sufi besar menyebut mereka, “orang-orang yang memiliki pengetahuan terbatas. Seyogyanya keterbatasan pengetahuan itu hanya bagi dirinya sendiri dan tak boleh dipaksakan kepada yang lain. Mereka memang tak mengerti bahwa setiap kata-kata suci mengandung beribu makna.”

Boleh jadi mereka yang mengaku atau mengklaim paling benar sendiri sambil membodoh-bodohkan orang lain atau, melukai dan menyerang orang lain itu, sesungguhnya tak lebih dari orang-orang yang gelisah atas kondisi ketakberdayaan diri dan ketakutan yang berlebih. Fanatisme, radikalisme, atau ekstremisme, kata seorang psikolog, adalah gaya berpikir untuk lari dari rasa ketidakpastian, dari kebingungan yang akut, dari kecemasan yang menghantui dadanya dan rasa ketidakmampuan mengatasinya.

Sumber : nu.or.id
Kisah Kiai Hasyim 20 Tahun Mendampingi Gus Dur

Kisah Kiai Hasyim 20 Tahun Mendampingi Gus Dur


Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Depok, Jawa Barat KH Hasyim Muzadi memberikan pernyataan terkait riwayatnya dalam meneladani sikap dan pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Hal itu ia kemukakan ketika menghadiri sebuah acara di Monash University Australia, 11 Desember 2016 lalu.

“Pertama kali saya ketemu Gus Dur tahun 1979 di Muktamar NU Semarang (Muktamar NU ke-26) dan ketika itu Gus Dur belum masuk di kepengurusan NU sedangkan saya sudah mewakili utusan NU Cabang Malang,” ujar Kiai Hasyim mengawali ceritanya.

Di dalam Muktamar ke-26 NU itu, lanjutnya, Gus Dur diangkat menjadi Wakil Katib PBNU. Setelah pertemuan di Semarang sangat sering Gus Dur ke Jawa Timur. Karena memang Jawa Timur adalah pusat potensi NU.

Sering juga menginap di Malang karena Gus Dur mengajar Islamologi di Yayasan Kristen GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) yang berlokasi di Sukun Kota Malang.

“Saya mendampingi dan mengikuti Gus Dur selama 20 tahun penuh mulai tahun 1979-1999. Di tahun 1999 itu, Gus Dur menjadi Presiden Republik Indonesia,” jelas Kiai Hasyim.

Setelah menjadi Presiden RI, tambahnya, Gus Dur fokus memimpin PKB dan Kiai Hasyim menjadi Ketua Umum PBNU di Muktamar Lirboyo (Muktamar ke-30 NU).

“Dalam waktu 20 tahun, saya mengikuti betul jalan pikiran Gus Dur baik masalah ke-NU-an, keislaman Indonesia, keislaman global, dan situasi politik Internasional,” ungkapnya.

Menurut pandangan Kiai hasyim, di dalam membawakan Islam, baik di Indonesia maupun di dunia, Gus Dur lebih mengetengahkan pendekatan filosofi religius, etika religi, kemanusiaan (humanity), dan budaya.

Menurutnya, tak banyak Gus Dur menggunakan ilmu fiqih sebagai bagian dari syariat, karena yang diketengahkan bukan legal syariatnya tetapi hikmatut tasyri’-nya dan maqoshidut tasyri’-nya.

Dalam pendekatan etika religi, imbuh Kiai Hasyim, Gus Dur sangat egaliter menempatkan manusia dalam posisi yang setara, terlepas dari agama yang dipeluknya. Sehingga hubungan etis ini menjadi sangat cair antara Gus Dur yang muslim dan non-muslim bahkan yang atheis sekalipun.

“Dalam hal pendekatan kemanusiaan, Gus Dur sangat mementingkan martabat dan kebutuhan asasi dari manusia itu sendiri, sebagai bentuk dari kasih sayang Allah kepada seluruh makhluknya. Dalam hal ini kemanusiaan diletakkan pada rahmaniah Allah sedangkan rahimiah Allah dikhususkan untuk kaum muslim,” urai Kiai Hasyim. (Red: Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Jalinan Persahabatan Gus Dur dan PB XII (2)

Jalinan Persahabatan Gus Dur dan PB XII (2)


Empat belas tahun silam, atau tepatnya pada tanggal 9 Oktober 2002, Presiden Republik Indonesia ke-4, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mendapat gelar Kanjeng Pangeran Arya (KPA) dari Keraton Kasunanan Surakarta.

Gelar ini, menurut H. Ronggojati Sugiyatno, setara dengan Kanjeng Patih. “Gelar KPA yang diterima Gus Dur dari pemberian Sinuhun itu, setara dengan Kanjeng Patih. Lebih tinggi dari gelar-gelar keluarga Keraton Solo yang ada,” ungkapnya.

H. Ronggojati Sugiyatno atau yang akrab dipanggil dengan nama Pak Dhe Tino ini, merupakan salah satu orang Solo yang dekat dengan Gus Dur. Ia pula yang menjadi salah satu saksi, kedekatan antara Gus Dur dengan Raja Keraton Surakarta waktu itu, Sinuhun Paku Buwono (PB) XII.

Kedekatan antara keduanya masih terekam dalam ingatan Pak Dhe Tino. Pernah, pada suatu ketika di saat peringatan malam Satu Sura, ia menyaksikan Sinuhun sampai tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Gus Dur.

Padahal lumrahnya dan juga secara etika, pada peringatan malam Satu Sura tersebut, tak ada orang-orang Keraton yang berani tertawa.

Saking penasarannya, ia pun bertanya kepada Gus Dur. “Gus, tadi panjenengan cerita apa ke Sinuhun, kok sampai beliau tertawa terpingkal-pingkal,”

Gus Dur kemudian menjawab dengan cerita. “Ini yang di samping saya, ini dan itu, sekarang sudah jadi mantan (mantan pejabat dan sebagainya,-red). Lha Sinuhun ini, kapan jadi mantannya?”

Karena mendengar humor tersebut, Sinuhun pun tertawa. Sebab, ketika ia menjadi mantan Sinuhun, berarti ia telah meninggal.

Soal wafatnya Sinuhun PB XII ini pun, Gus Dur pernah meramalkan apa yang terjadi setelahnya. Ketika itu Gus Dur bertanya kepada Sinuhun, kalau nanti Sinuhun sampun seda (meninggal), nanti siapa yang akan menggantikan.

“Loh, Gus Dur itu mendoakan saya mati ya?,” tanya Sinuhun.

“Anak saya itu dua, yang satu ..., satunya ....,” lanjut dia.

“Jam itu kan cuma sampai jam 12,” jawab Gus Dur.

Di kemudian hari, perkataan Gus Dur ini terbukti. Pascawafatnya PB XII, terjadi konflik berkepanjangan, yang kemudian melahirkan “dualisme kepemimpinan” di Keraton Surakarta.

Melestarikan Budaya
Kembali kepada gelar yang diterima Gus Dur. Meski, sebelumnya ia tidak pernah berharap untuk mendapat gelar, namun baginya, pemberian gelar ini sebagai salah satu tindakan untuk melestarikan budaya daerah.

“Bagi saya ini adalah sebuah penghormatan bagi jalan hidup yang saya pilih, yakni supaya selalu menyerasikan Islam dengan budaya daerah,” kata Gus Dur kepada pers, ketika itu.

Gus Dur juga berharap Keraton Surakarta dapat menjadi pemelihara dan pelestari budaya. “Selama ini, Keraton telah menjadi pemelihara dan pelestari budaya. Kalau ada yang hilang maka kebudayaan di daerah kita ini akan terganggu,” paparnya.

Yang menarik tidak hanya itu, konon setelah mendapat gelar KPA, Gus Dur justru takut dengan panggilan baru yang bakal melekat pada namanya.

“Tapi nanti saya tidak mau dipanggil dengan panggilan Gusti seperti orang keraton itu, lho,” kata Gus Dur kepada Sinuhun, sesaat setelah menerima gelar KPA.

“Lha kok bisa, Gus? Apa takut dianggap syirik?” tanya Sinuhun.

“Bukan apa-apa. Cuma nggak enak aja kalau ditambahi tambahan Gusti. Nanti, malah bisa keliru panggilannya jadi Gus Tidur,” jawab Gus Dur.

Sumber : nu.or.id
Belajar dari Jiwa Besar Gus Dur

Belajar dari Jiwa Besar Gus Dur


Tidak pernah narsis dalam spiritualitas keagamaan, Gus Dur sunyi dalam ramai dan ramai dalam sunyi. Harta dan fasilitas bukan sarana suksesnya perjuangan Islam. Dalam sejarah tidak ada cerita perjuanagn sukses karena uang.

Demikian disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH Luqman Hakim, Jumat (9/12) dalam akun twitter miliknya @KHMLuqman menerangkan jiwa besar KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam kehidupan.

“Gus Dur tidak pernah mencaci maki orang yang berbeda pandangan dengannya bahkan kepada yang dinilai jahat sekali pun,” kata Pakar Sufi ini.

Menurutnya, Gus Dur selalu menghormati Ulama dengan tulus, walaupun berbeda pandangan. Sekalipun itu kiai kampung, Gus Dur tetap tawadhu'. Guru Bangsa itu juga rela dicacimaki, yang penting umat dan bangsa selamat.

Gus Dur, tuturnya, memandang bangsa ini sebagai keluarga besar. Apa artinya membangun keluarga bangsa jika saling melukai dan berdarah?

“Dia mampu memilah dengan mudah mana yang besar dan mana yang kecil, mana yang umum mana yang khusus, mana yang Allah dan mana yang makhluk,” ungkap Kiai Luqman.

Menurutnya, Gus Dur memandang dunia ini hanya sebesar biji buah pala bahkan lebih kecil lagi. Begitu saja kok repot! Gus Dur juga sering memberikan pelajaran bahwa keshalehan seseorang tidak pernah diukur dengan tampilan.

“Kesahajaan Gus Dur tidak dibuat-buat untuk citra. Kesahajaan orisinal. Lautan tak bertepi, silakan diarungi sendiri. Jika tak bisa berenang anda akan tenggelam sia-sia,” ucap Pengasuh Majalah Cahaya Sufi ini. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Resep Meneladani Gus Dur

Resep Meneladani Gus Dur


Sosok guru bangsa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur telah banyak ditulis orang, baik itu pemikiran maupun gesturnya. Berbagai atribusi pun melekat pada diri Presiden ke-4 RI ini.

Selain sebagai seorang kiai, Gus Dur juga sering disebut sebagai budayawan, politikus, sastrawan, kolumnis, pengasuh pesantren, negarawan, sufi, waliyullah, dan lain-lain. Pemikirannya yang humanis mampu menginspirasi banyak orang di berbagai belahan dunia.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Caringin Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim memberikan semacam resep untuk memahami dan meneladani berbagai atribusi yang melekat pada diri Gus Dur.

Kiai Luqman menuturkan, jika seseorang ingin merdeka seperti Gus Dur, maka jangan campur aduk antara dunia dan akhirat, agama dan politik, agama dan ekonomi, idealisme dan realisme, serta perjuangan dan ambisi.

Kiai yang juga Sufiolog ini menjelaskan hal itu dalam akun twitter miliknya @KHMLuqman, Jumat (9/12). Ia juga memaparkan resep serupa dengan melontarkan beberapa pertanyaan tentang Gus Dur yang dapat diteladani oleh masyarakat. Di antara resep teladan Gus Dur yang dituturkannya ialah sebagai berikut:

“Ingin semangat berjuang seperti Gus Dur? Bangkitkan hatimu di hati umat menuju kepada Allah, seperti gairah konser Beethoven dan Bach yang digemari.”

“Ingin ikhlas dan tawakkal seperti Gus Dur? Belajarlah ‘jagongan’ dengan Allah dalam Majelis-Nya sembari menata kemanusiaan.”

“Ingin terapkan Begitu saja kok repot-nya Gus Dur? Pisahkan dulu mana minyak dan mana air dalam satu gelas.”

“Ingin kontroversial yang benar seperti Gus Dur? Ikhlaslah dalam bicara dan mengambil keputusan, asal Allah mengiyakan hatimu. Bukan ‘ya’ dari dirimu.”

“Ingin melawak seperti Gus Dur? Belajarlah sastra politik, kearifan lokal, psikologi binatang dan hakikat cobaan.”

Kiai Luqman menerangkan, dalam setengah abad terakhir ini belum dijumpai seorang ahli Ushul Fiqih dan Pakar Sastra Arab, kritikus film sehebat Gus Dur.

Bahkan menurutnya, Universitas terkenal di USA membuat jurusan di fakultasnya:Jurusan Pemikiran Abdurrahman Wahid. Satu-satunya tokoh pengubah dunia yang memukau.

“Gus Dur mensinergikan agama dan negara, agama dan budaya, bukan mencampuradukkan. Karena campur aduk lebih gila dibanding sekulerisme,” kata Pengasuh Majalah Cahaya Sufi ini. (Fathoni)

Sumber : nu.or.id
Kaktus dari Presiden Gus Dur

Kaktus dari Presiden Gus Dur


Aneh. Begitulah hal pertama yang ada di benak Mohammad Mustahdi, putra KH Abdullah Abbas saat kedatangan paket dari istana. Saat itu, KH Abdurrahman Wahid belum lama terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia keempat.

Kiai Dulah, panggilan masyarakat kepada KH Abdullah Abbas, adalah orang yang menolak keras pencalonan Gus Dur sebagai presiden. Sampai putusan akhir musyawarah para kiai meridai pencalonan putra pertama KH Abdul Wahid Hasyim, Kiai Dulah tetap dalam pendiriannya menolak dengan tetap menghargai keputusan forum.

Penolakan Kiai Dulah tentu saja bukan tanpa alasan. Sesepuh Buntet itu, menurut penuturan putranya, enggan melihat Gus Dur menjadi tumbal reformasi. Bahkan, saat pemilihan presiden berlangsung, Kiai Dulah menangis.

“Saya ingat betul, saat pemilihan itu, bapak nangis,” ujar Mohammad Mustahdi, putra Kiai Dulah.

Paket dari Presiden Gus Dur itu hanyalah sebuah pot bertanamkan kaktus. Tidak lebih.

“Hanya kaktus?” tanya Mustahdi pada staf presiden.

Tentu staf presiden itu mengiyakan karena memang tidak ada lagi. Hal tersebut membuat Mustahdi bertanya-tanya. Namun ketika ia menanyakan apa maksud kiriman itu pada ayahnya, ia hanya mendapat senyum ayahnya. Tidak lebih.

“Bapak tuh cuma senyum aja,” ujar wakil ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama itu.

Dia akhirnya berpikir sendiri, mencoba menafsiri maksud kiriman itu. Ia akhirnya beroleh kesimpulan, bahwa Gus Dur ingin mengabarkan pada Kiai Dulah untuk tidak perlu mengkhawatirkannya. Kaktus mampu hidup sendiri di tengah padang pasir yang gersang. (Muhammad Syakir Niamillah Fiza)

Sumber : nu.or.id
Gus Dur dalam Sebait Puisi

Gus Dur dalam Sebait Puisi


Oleh Widodo

Yā man tabḥatsu ‘an marqadinā
Qabrunā hādzā fī shudūr al-‘ārifīn
Wa qulūb al-majrūḥīn

Duhai kalian yang mencari tempat tidurku
O, lihatlah… aku ada di dalam palung jiwa para bijak bestari
Dan mereka yang hatinya terluka

Itulah jawaban Gus Dur atas puisi rindu yang dibacakan sahabatnya, Kiai Husein Muhammad, pada peringatan lima tahun kematiannya. Kiai Husein mencatat jawaban tersebut dalam Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus (Noura Books, 2016), sebuah buku yang membicarakan Gus Dur dari sudut pandang Gus Mus.

Bahwa manusia yang telah meninggal berkomunikasi dengan manusia yang masih hidup, hal itu wajar-wajar saja dalam jagad spiritual. Kita tentu ingat dengan adagium ini: betapa miskinnya penempuh jalan spiritual yang hanya berguru kepada yang hidup. Dan Kiai Husein dan Gus Dur adalah penempuh jalan spiritual yang berdialog dengan puisi.

Berangkat dari bait yang pendek, ringkas, dan padat di atas, kita bisa mengenang Gus Dur dengan perspektif yang bening dan dalam. Selain membayangkan gerakan sosial Gus Dur yang sifatnya lahiriah, bait tersebut juga menggoda kita untuk menapaktilasi jejak gerakan spiritual Gus Dur yang sifatnya batiniah dan amat personal.

Setelah Gus Dur meninggal, lebih kurang tujuh tahun lalu, kita merasa kehilangan, merasa ditinggalkan. Tiba-tiba kehadiran Gus Dur jadi sangat berharga. Kita jadi seperti sekumpulan anak ayam yang sekonyong-konyong ditinggal pergi sang induk untuk selamanya.

Maka, tanpa komando dari siapa pun, anak-anak ayam yang bingung itu mencari-cari induknya. Ada kerinduan yang semakin lama semakin meluap kepada Gus Dur. Ada keinginan untuk berjumpa dengannya. Orang-orang pun, dari berbagai latar belakang sosial, berduyun-duyun membicarakan Gus Dur, membolak-balik lembaran tulisannya, dan menziarahi kuburannya. Tapi, apakah yang mereka temukan? Apakah kerinduan kita terjawab?

Nyatanya, sepeninggalan Gus Dur, barangkali kita tidak (mau) maju selangkah pun dalam kebudayaan, apalagi dalam agama, politik, dan ekonomi. Sebaliknya, kita malah berjalan mundur. Hingga sekarang, belum juga reda puspa ragam bencana: bencana alam, bencana ekonomi, bencana politik, bencana hukum, bencana pendidikan, bencana kebudayaan, bahkan bencana agama.

Di mana-mana orang berebut menang, berebut benar, berebut tinggi. Ketika keakuan menyesaki kehidupan, tanpa sadar kita pun menjauh dari tritunggal kudus: cinta, damai, dan persatuan. “Aku” tidak menyapa “engkau” dan “engkau” pun tidak menyapa “aku”. “Kami” tidak menghampiri “mereka” dan “mereka” pun tidak menghampiri “kami”. Akibatnya, “kita” jadi sesuatu yang jauh.

Hikmah perbedaan, yaitu ta’āruf, yaitu jihad untuk saling mengenal, mulai dilupakan. Ketakwaan dilucuti dimensi sosialnya. Aku memang kenal engkau, kami memang kenal mereka, tapi sebatas nama, sekadar paras. Tidak ingin, juga tidak perlu, lebih. Maka, wajar kalau kita serasa hidup di gurun yang gersang. Wajar pula kalau sumbu konflik gampang terbakar. Benci balas benci. Marah balas marah. Tampar balas tampar. Kehidupan ini rupanya telah sepanas neraka. Bahkan air pun jadi panas, jadi api, jadi azab, jadi bencana.

Di mana sikap ihsan, yang merupakan hulu dan hilir sungai keadilan, bersembunyi kini? Di mana murid-murid Isa yang rela memberikan pipi kanannya setelah pipi kirinya ditampar? Di mana penerus Sokrates yang pada bekas tamparan di wajahnya menulis kalimat jenaka: “seseorang telah menamparku dan inilah balasan dariku”? Di mana anak-anak ideologis Gus Dur yang berani menertawakan keakuan pribadi, yang siap mengalah demi persatuan?

Di mana pengikut Baginda Muhammad yang membesuk orang yang meludahinya, yang dengan sabar menyambung tali cinta (silaturahmi) yang terputus? Masihkah kita percaya bahwa hari kiamat pasti datang? Masihkah kita beriman kepada Tuhan Yang Maha Cinta dan Maha Adil? Masihkah kita menyaksikan-Nya dengan mata hati, atau paling tidak merasa diawasi oleh-Nya?

Barangkali, jumlah kaum muhsin, orang-orang pemaaf yang dicintai Tuhan itu, semakin sedikit saja. Yang semakin banyak justru orang-orang yang merasa lebih, yang merasa bisa, dan tidak bisa berempati dengan orang lain. Yang juga semakin banyak adalah barisan korban mereka: kaum dhuafa, subaltern, marjinal, terdiskriminasi, tertindas, terpinggir, tersingkir, tersisih, terlupakan. Siapa kini yang memperhatikan mereka, menemani mereka, membela mereka?

Kata ‘maaf’ pastilah sukar keluar dari mulut para korban yang tinggal dalam goa gelap kebencian, dendam, dan keputusasaan tersebut, kecuali jika mereka ditemani, dianggap ada, dibantu dengan tulus, dimanusiakan, dicintai. Gus Dur, dalam bait di atas, menyebut mereka sebagai orang-orang yang hatinya terluka. Yang dilukai adalah kemanusiaan mereka. Dan luka itu akan semakin menganga dan semakin perih jika tak segera diobati.

Demokrasi, sebagai prinsip sekaligus mekanisme keadilan, sebenarnya adalah obat untuk menyembuhkan luka tersebut. Tapi, bagaimanakah demokrasi kita sekarang? Betapa sulitnya membedakan pemimpin dan pencuri. Betapa payahnya memilah manusia dan binatang.

Kita merindukan kemanusiaan. Kita merindukan politik yang bersendikan kemanusiaan. Kita merindukan pemimpin yang arif, yang mengenal Tuhannya, juga mengenal hakikatnya sebagai manusia, sebagai hamba sekaligus mandataris Ilahi. Dalam bait di atas, Gus Dur menyebut pemimpin dengan derajat spiritual tinggi seperti ini sebagai kaum bijak bestari, kaum ‘ārifīn. Mereka adalah induk bagi anak-anak ayam, adalah ibu bagi umat, adalah pa(mo)mong, adalah bocah angon.

Seperti Sunan Kalijaga, bocah angon menyeru umat menuju balai paseban, tempat yang membahagiakan, terasa lapang, dan terang oleh cahaya rembulan. Seperti Sunan Gunung Jati, bocah angon mendayagunakan potensi demokratis tajug dan memberdayakan fakir miskin. Seperti Sunan Drajat, bocah angon memberi makan yang lapar, memberi pakaian yang telanjang, memberi payung yang kehujanan, menuntun yang buta. Seperti Semar dan anak-anaknya, pa(mo)mong menemani rakyat, juga pemimpin, bahkan hidup bersama rakyat dan sebagai rakyat.

Mereka, kaum arifin itu, berpihak kepada golongan yang lemah dan kalah secara struktural. Kaum arifin melantunkan tembang cinta untuk mengobati luka kemanusiaan, untuk meruwat libido raksasa yang mendekam dalam dada, untuk meredakan berbagai bencana, untuk meninggalkan malam kalabendu demi menyongsong fajar kalasuba. Optimisme kolektif mesti dibangun dari bawah dengan keberpihakan sosial yang tulus. Tanpa cinta, mungkinkah sistem yang korup dan struktur yang zalim direformasi? Cinta itulah yang tersimpan sebagai rahasia dalam palung jiwa para bijak bestari, dalam lubuk dada kaum arifin.

Karena itu, pada bait di atas, Gus Dur berpesan: jangan hanya mencariku di tempat tidurku. Jangan berpuas hati dengan hanya menziarahi kuburanku. Tapi ziarahi pulalah lubuk dada kaum arifin dan hati manusia yang terluka. Aku sejatinya masih hidup di sana. Di dalam liang kuburku hanya terpendam jasad yang tak bisa menjawab.

Ya, Gus Dur sesungguhnya masih hidup, selama kemanusiaan masih terluka dan selama kaum arifin masih bergerak untuk menyembuhkan luka itu. Sejatinya Gus Dur tak pernah meninggalkan kita. Dia senantiasa hadir bersama kita.

Sumber : nu.or.id
Dear Gus Dur: Pesan Kerinduan untuk Anak Bangsa

Dear Gus Dur: Pesan Kerinduan untuk Anak Bangsa


Gus, maaf saya lancang menulis surat untuk Anda, saya tahu anda pasti geli membaca surat saya ini, tapi biarlah. Gus, saya tulis surat ini karena sudah gerah dengan hiruk pikuk orang-orang saat ini. Gus, hari-hari ini rakyatmu sedang gundah gulana. Saking galaunya, semua hampir bicara tetang topik yang sama, dan entah kenapa kok saya sudah merasa fokus bahasannya semakin melebar.

Gus, sebenarnya semua berawal dari dialog seorang, saya enggan membahas apakah ada yang sesuai atau tidak sesuai dengan ucapan beliau, tapi yang pasti, sebagian umat merasa tersinggung, dan mulailah cerita ini berkembang.

Gus, kalau saja anda masih hidup, tolong ajarkan kami secara langsung bagaimana cara hidup rukun berdampingan, ajarkan kami bagaimana minoritas menghargai mayoritas, dan bagaimana pula mayoritas menghargai minortas. Gus, Anda memang bukan tanpa kekurangan, tapi gaya nyeleneh anda yang kadang membuat suasana lebih cair.

Saya yakin anda pasti bilang, “Kalau ada yang menistakan agama, hukumlah dia, berilah sanksi yang setimpal dan menjadi pelajaran agar bisa lebih baik, tapi yang bikin kita tergeleng-geleng, mereka yang melakukan korupsi, mereka yang mengambil uang rakyat, menebar bom, menyakiti sesama, dan yang memakan bukan hak-nya adalah yang benar-benar menistakan agama”.

Saya setuju Gus, kemarin sore saya melihat orang-orang marginal, duduk diantaranya seorang ibu dan anaknya yang sedang berbagi sepotong roti. Lalu apa kabar dengan para koruptor itu Gus, mereka yang membuat kemiskinan di negeri ini semakin mengakar, mereka yang mungkin taat sembahyang, berangkat ke gereja, mendekatkan dahi ke tanah, bersujud di mesjid, dan berangkat ke tempat ibadah, tapi mereka membiarkan korupsi merajalela, dan berbuat seolah tak ada apa-apa.

Gus, semua orang menurut saya sekarang terlalu berani menghujat penguasa, saya tahu kritik itu perlu, tapi bukan kemudian menghina, menjelek-jelekan, atau pun menghujat. Ke mana mereka pada saat zaman Orba. Hanya Anda dan segelintir orang yang berani berhadapan dengan penguasa.

Saya dengar cerita pedih Anda saat di depak oleh Pasukan Penguasa dan harus duduk di kursi belakang, padahal itu jelas-jelas acara anda dan NU. Tapi itulah anda Gus, ditakuti penguasa saat banyak orang takut dengan penguasa dan memilih tidak berhadapan dengan penguasa.

Gus, coba ceritakan bagaimana situasi saat anda dilengserkan. Apa jadinya jika anda juga melawan orang yang melengserkan anda. Saat itu anda dipaksa turun tahta, tapi anda tidak kemudian membalasnya dengan parlemen jalanan, atau bahkan pasukan berani mati anda yang sudah siap untuk berangkat ke Jakarta. Bukankah itu yang kita sebut Negarawan, lebih merendah untuk kemenangan bangsa dan negara. Tanpa ingin membuat semuanya menjadi gaduh dan berkembang pada hal-hal negatif yang justru berpotensi memecah belah bangsa.

Gus, saya dengar sekarang hampir tiap hari, ratusan bahkan ribuan orang datang ke tempat peristirahatan Anda, untuk sekedar ziarah dan memanjatkan doa. Tapi saya yakin di hati kecil anda bukan itu saja yang anda ingin. Anda ingin mereka semua bisa hidup damai, mereka semua bisa saling menghargai, saling menghormati, saling membantu selayaknya anak bangsa yang telah ditakdirkan menjadi Seorang Indonesia.

Mereka tetap berpegang teguh pada akidah dan tuntunan agama, tapi juga menjaga adab, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena pada dasarnya kita semua telah sepakat dengan dasar negara Pancasila dan tata aturan kebangsaan yang lain.

Gus, Anda mungkin tak akan membalas surat ini, tapi izinkan saya agar seluruh Rakyat Indonesia bisa membaca surat ini. Surat yang dibuat tanpa ada tendensi pada pihak manapun. Surat yang ditulis sebagai bentuk perhatian dan kecintaan dari warga negara terhadap bangsanya. Surat yang ingin menggugah bahwa, berjalan berdampingan, tepo seliro, tenggang rasa adalah bukan sekadar retorika, tapi sungguh sebuah falsafah hidup dan identitas bahwa kita adalah INDONESIA.


Sumber : nu.or.id
Ini Alasan Soeharto dan Gus Dur Layak Diberi Gelar Pahlawan

Ini Alasan Soeharto dan Gus Dur Layak Diberi Gelar Pahlawan


Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sodik Mudjahid menilai Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan Soeharto layak diberi gelar pahlawan.

Meskipun terdapat kelemahan dalam sosok keduanya.

"Tidak ada manusia yang sempurna selalu saja ada sisi kecil, kelemahannya yang manusiawi," kata Sodik ketika dikonfirmasi, Kamis (10/11/2016).

Sodik mengingatkan Soeharto dan Gus Dur merupakan bapak bangsa.

Soeharto dinilai berjasa menumpas komunisme serta melakukan pondasi awal pembangunan.

"Dari titik nadir ekonomi peninggalan Bung Karno sampai menjadi salah satu macan Asia," kata Politikus Gerindra itu.

Sementara Gus Dur merupakan sosok pembaharu perlindungan minoritas, desakralisasi istana dan pencabutan dwi fungsi ABRI.

"Jasa keduanya jauh lebih besar daripada kelemahannya," kata Sodik.

Sodik melihat hal tersebut dapat menjadi ajaran bagi generasi berikutnya untuk kritis serta tidak mengikuti kesalahan dan kelemahan pemimpin.

"Tapi tetap objektif dan hormat kepada jasa-jasanya," kata Sodik.

Hal yang sama dikatakan Sekretaris Fraksi Hanura Dadang Rusdiana.

Dadang mengatakan Soeharto memiliki jasa besar terhadap negara terlepas dari kekurangannya
"Jadi wajar kalau mendapat anugrah kepahlawanan, demikian juga Gus Dur," kata Dadang.


Sumber : tribunnews.com
Gelar pahlawan Nasional Gus Dur bertepatan 10 November

Gelar pahlawan Nasional Gus Dur bertepatan 10 November


Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akan mendapatkan gelar pahlawan nasional di saat yang tepat. Sebab, Gus Dur memiliki kontribusi besar bagi keutuhan NKRI.

“Gelar kepahlawanan bagi Gus Dur adalah untuk memberikan pengetahuan kepada seantero anak negeri tentang pentingnya melestarikan hidup damai dalam keberagaman,” kata H Ahmad Tamim, Sekretaris PW GP Ansor Jatim di Surabaya (7/11).

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa memastikan Pemerintah belum akan memberikan gelar pahlawan nasional kepada Gus Dur pada tahun 2016 ini, termasuk juga kepada Presiden ketiga RI, Soeharto.

Khofifah mengakui bahwa Presiden RI memang sudah menandatangani keputusan penganugerahan seorang tokoh sebagai pahlawan nasional. “Yang terkonfirmasi ke Kemensos itu satu yang ditandatangani Keppresnya oleh presiden,” ujarnya saat acara jalan sehat dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 2016 di Jakarta, Ahad, 6 November 2016.

Keppres bernomor 90 tahun 2016 sudah ditandangani Presiden Jokowi pada Jumat, 4 November 2016 lalu. Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kemungkinan dilaksanakan sebelum puncak Hari Pahlawan pada 10 November.

Menuru Gus Tamim – panggilan akrab Ahmad Tamim, pikiran-pikiran dan sikap Gus Dur selama hidupnya menjadi perekat bagi keberagaman bangsa Indonesia. “Gus Dur boleh meninggalkan kita, tetapi ajaran pluralisme Gus Dur tidak boleh kita tinggalkan, tetap kita lanjutkan,” tegasnya.

Dengan pikiran dan sikapnya itu, Gus Dur menjadi sosok pemimpin yang diterima oleh masyarakat lintas agama dan suku. “Indonesia adalah negara beragam budaya, maka gelar kepahlawanan bagi Gus Dur bukan untuk Gus Dur dan keluarganya, tetapi untuk mengabadikan pikiran kebhinekaan Gus Dur,” pungkasnya.

Sejak Ahad malam, 5 November 2016, dunia maya ramai perbincangan tentang gelar pahlawan nasional bagi Gus Dur. Sejumlah aktivis media sosial, terutama dari kaum muda NU, membuat tagar, diantaranya, #GusDurPahlawanNasional #RinduGusDur, dan #HariPahlawan.

Gelar pahlawan nasional bagi Gus Dur tentu tidak penting. “Namun ditengah situasi hari ini dimana perpecahan atas nama agama nampak di pelupuk mata, kehadiran Gus Dur sungguh kami rindukan. Gus Dur wajah keberagaman kita,” kata salah sorang pegiat media sosial dari kaum muda NU, Syukron Dosi.


Sumber : nu.or,id
Inilah Keajaiban Alam pada Gus Dur ketika di Makkah

Inilah Keajaiban Alam pada Gus Dur ketika di Makkah


Jazirah Arab merupakan daerah yang tandus dan panas sehingga melakukan perjalanan yang melewati padang pasir merupakan sesuatu yang menyiksa yang menjadi perjuangan berat dan butuh persiapan fisik dan mental yang prima.

Salah satu tanda kenabian Muhammad adalah ketika ia mengikuti misi dagang dari Makkah ke Syam, sekarang daerah Damaskus, bersama pamannya Abu Thalib. Sepanjang perjalanan tersebut Muhammad selalu dinaungi oleh awan sehingga tidak kepanasan.<>

Gus Dur, tentu saja jangan dibandingkan dengan Nabi Muhammad, pernah mengalami fenomena keajaiban alam yang juga luar biasa ketika ia berada di Makkah untuk menjalankan ibadah haji tahun 1994 lalu.

Kiai Said Aqil Siroj yang mendampingi Gus Dur mengisahkan, waktu itu rombongan haji sudah ada di Arafah. Kemudian Gus Dur bertiga, dengan Kang Said dan Sulaiman, asisten pribadi Gus Dur, memisahkan diri menjauhi perkemahan untuk berdoa di suatu tempat.

Mereka bertiga berdzikir panjang ditengah udara gurun pasir yang panas sehingga keluar keringat yang banyak. Untungnya ada awan yang berada diatas mereka yang melindungi pancaran sinar matahari langsung.

Ditengah-tengah dzikir tersebut, tiba-tiba awan tersebut menyibak dan satu cahaya kecil menerobos langsung mengenai tubuh Gus Dur sementara dua orang yang mengiringinya tidak terkena sinar tersebut. Gus Dur yang memimpin dzikir meneruskan dzikirnya sementara mereka berdua hanya bisa saling berpandang mata sambil terdiam dan ternganga.

“Kelihatan sekali ada mego (awan) membuka, ada cahaya yang ke Gus Dur, ini saya tahu sendiri. Kalau diceritakan sulit, karena orang pasti tidak percaya,” kata Kang Said.

Tapi setelah kejadian tersebut, Kang Said tidak menanyakan masalah itu. Menurutnya, jika pun ditanya, Gus Dur pasti jawabnya ringan-ringan saja. (mkf)

Sumber : nu.or.id
Ibu Sinta Wahid Kisahkan Guyonan Gus Dur dan Sabam Sirait soal Lomba Masuk Surga

Ibu Sinta Wahid Kisahkan Guyonan Gus Dur dan Sabam Sirait soal Lomba Masuk Surga


Gusdurfiles.com ~ Politisi senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Sabam Sirait, Sabtu (15/10/2016) ini, merayakan ulang tahun ke-80 di Balai Kartini, Jakarta. Dalam perayaan tersebut, istri dari mendiang Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid, menceritakan kenangannya bersama sang suami dan Sabam.

Sinta bercerita, dulu Gus Dur dan Sabam pernah berkompetisi untuk masuk surga. Gus Dur pernah bercanda bahwa yang bisa masuk ke surga hanya orang gemuk.

"Pernah lomba dengan Gus Dur, lomba untuk masuk surga. Yang bisa masuk surga hanya yang gemuk," kata Sinta pada acara perayaan ulang tahun Sabam itu.

Rupanya, kata Sinta, Gus Dur justru masuk surga mendahului Sabam. Namun Sinta berharap agar Sabam nantinya bisa ikut masuk surga bersama suaminya.

"Tapi suami saya mendahului Pak Sabam. Semoga Bapak (Sabam) dan Gus Dur bisa bertemu di surga," kata Sinta.

Sinta juga mendoakan agar Sabam diberikan kesehatan serta umur panjang. Sinta mengatakan, bimbingan Sabam masih diperlukan agar bisa merawat bangsa sebaik mungkin, terlebih dalam membimbing dan mengarahkan generasi muda.

"Mudah-mudahan Tuhan memberkati kesehatan dan umur panjang agar Bapak Sabam bisa membimbing dan mengarahkan generasi muda yang kayaknya suka ke kiri, ke kanan," kata Sinta.

Sabam menggelar perayaan ulang tahun ke-80 di Balai Kartini, Jakarta sembari meluncurkan buku berjudul Sabam Sirait: Berpolitik Bersama Tujuh Presiden di Indonesia yang ditulis Sitor Situmorang.

Beberapa tokoh nasional menghadiri acara tersebut. Tampak hadir antara lain Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Wakil Ketua MPR EE Mangindaan, Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi, Wakapolri Komjen Pol Syafruddin, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Mochamad Iriawan.

Sejumlah politisi, seperti mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung, Sekretaris Jenderal DPP PDI-P Hasto Kristiyanto, dan kader Partai Demokrat Ruhut Sitompul juga hadir.


Sumber :kompas.com
Jimat-Jimat Gus Dur

Jimat-Jimat Gus Dur


Seorang tokoh sekelas Gus Dur memiliki banyak pengikut dan pengagum. Mereka juga ingin berkontribusi sesuatu dalam perjuangan yang dilakukan oleh cucu KH Hasyim Asy’ari ini.<>

Bagi kalangan tertentu, mereka seringkali memberi jimat dengan berbagai bentuknya, sebagai upaya untuk membantu melindungi Gus Dur dari santet, sihir dan serangan jahat lainnya. Salah satu pemberiannya adalah sebuah keris yang gagangnya seperti tanduk. Yang memberi mengaku jika jatuh pada orang yang tepat, bisa jadi presiden.


Entah percaya atau tidak terhadap jimat, Gus Dur tidak pernah menolak pemberian tersebut, tetapi diterima sebagai niat baik dari masyarakat. Ketika kantor PBNU dipindah karena gedung lama yang hanya dua lantai dibangun kembali menjadi sembilan lantai, jimat-jimat Gus Dur ikut dirapikan dan terkumpullah sebanyak 2 karung.

H Marsudi Syuhud, sekjen PBNU saat ini, ketika itu yang diminta merapikan dan membawanya ke rumah Gus Dur di Ciganjur. Lalu barang-barang tersebut ditaruh dibawah tempat tidur.

Suatu ketika, ia menanyakan soal keberadaan jimat-jimat tersebut kepada Yenny dan Aries Junaidi, tetapi mereka tak ada yang tahu karena sudah tidak ada lagi di tempat semula, tetapi ketika ia bertanya kepada pengawal Gus Dur, Pak Latief dan seorang santri yang menemani tidur, mereka seringkali melihat jimat-jimat tersebut bergerak sendiri.



Sumber : nu online
Inilah Tiga Tokoh yang Dihormati Gus Dur

Inilah Tiga Tokoh yang Dihormati Gus Dur


KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menyebut nama-nama tokoh di Indonesia yang ia kagumi, saat menghadiri acara “Tribute to Prof. Dr. M. Quraish Shihab” di Kampus UIN Jakarta, November 2009 silam.

Dalam acara pelepasan Quraish Shihab sebagai Guru Besar Fakultas Ushuludin itu hadir Presiden ke-3 RI BJ Habibie, Din Samsyuddin (saat itu Ketua PP Muhammadiyah), kolega dan kerabat Quraish Shihab, serta ribuan civitas akademika UIN Jakarta.

“Ada tiga orang yang sangat saya hormati di Indonesia,” papar Gus Dur.

“Pertama, Pak Quraish Shihab.”

Seluruh hadirin serius menyimak.

“Yang kedua, almarhum Nurcholis Madjid.”

Gus Dur melanjutkan, “Yang ketiga…”

Suasana auditorium utama kian hening. Seluruh hadirin pasang telinga lebar-lebar. Siap menerima informasi baru.

“Yang ketiga… Saya enggak mau kasih tahu.”

“Gerrrrr…” Keheningan pun pecah. Gus Dur ternyata memberi kejutan terakhir dengan informasi kosong.

Source: www.khazanahalquran.com
Gus Dur dan Panasnya Muktamar NU Cipasung

Gus Dur dan Panasnya Muktamar NU Cipasung


Tidak terasa Muktamar ke-33 NU di Jombang sudah berakhir setahun yang lalu dengan terpilihnya KH Said Aqil Siroj sebagai ketua tanfidziah dan KH Ma’ruf Amin sebagai Rais Aam. Dengan terpilihnya kembali calon incumbent ini menunjukkan keberhasilannya memimpin NU selama lima tahun terakhir. Meskipun pro-kontra pasca-muktamar pada saat itu masih sangat panas hingga muncul menjadi pemberitaan di berbagai media nasional.

Membincang soal Muktamar, persoalan di Muktamar NU ke-33 adalah hal biasa sebagai bagian dari dinamika organisasi. Justru, Muktamar NU ke-29 yang digelar 1-5 Desember 1994 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat lah sebagai Muktamar yang paling menegangkan dan terpanas dalam sejarah NU. Mengapa? Pasalnya, pada Muktamar ini merupakan puncak terjadinya kedholiman rezim orde baru terhadap NU. Pada saat itu, NU dan sosok Gus Dur dengan segala keberaniannya ‘melawan’ pemerintah, dipandang oleh Soeharto sebagai ancaman yang paling membahayakan.

Tak pelak, hal ini membuat Soeharto dengan kekuasaannya, ingin ‘memutus’ kewenangan Gus Dur di PBNU yang sejak tahun 1984 dipimpinnya. Salah satu cara yang ditempuh Soeharto adalah menumbangkan Gus Dur di Muktamar NU Cipasung. Presiden Soeharto melakukan berbagai intervensi dengan mendukung secara penuh salah satu calon Ketua Umum PBNU untuk melawan KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) sebagai incumbent. Apa skenario yang dijalankan pada saat itu?

Ya, Soeharto memunculkan penantang dari internal NU sendiri yang pastinya anti-Gus Dur yakni Abu Hasan. Bahkan sang paman Gus Dur, KH Yusuf Hasyim, juga ikut terbawa menentang keponakannya itu. Oposisi Gus Dur inilah yang melakukan sejumlah agitasi dengan slogan ABG (Asal Bukan Gus Dur). Mereka mengemukakan kritik ‘pedas’ terhadap Gus Dur, yakni manajemen NU di bawah kepemimpinan Gus Dur dinilai lemah dan otokratik. Bahkan, menurut mereka, langkah Gus Dur yang kerap kali ‘berseberangan’ dengan pemerintah di anggap bukan hanya menyimpang dari khittah NU, tetapi juga bertentangan dengan kepentingan NU sendiri. Itulah berbagai isu yang mereka buat untuk mengambil hati seluruh muktamirin.

Gelaran muktamar itu juga terkungkung penjagaan militer, terlebih Presiden Soeharto sendiri, Panglima TNI Jenderal Faisal Tandjung, serta para menteri rezim orde baru turut hadir di forum tersebut. Tidak hanya personel militer dan sejumlah intel yang menyebar di seantero lokasi muktamar, kendaraan lapis baja juga ikut mengelilingi arena Muktamar Cipasung.

Beberapa dari mereka bahkan diketahui menyamar dengan seragam Banser. Dari berbagai sumber, sedikitnya, diketahui tentara yang berjaga di sekitar Cipasung berjumlah sampai 1500 personil dan 100 intel. Sebagian dari mereka diberi tugas untuk memonitor delegasi-delegasi daerah dan membantu memberikan pertimbangan-pertimbangan.

Pada proses pemilihan, sempat menghadirkan empat calon. Selain Gus Dur dan Abu Hasan, ada juga nama Chalid Mawardi dan Fahmi Saifuddin yang ikut maju mencalonkan diri. Pada tahap awal, Gus Dur memperoleh suara 157 suara, Abu Hasan 136 suara, Fahmi Saifuddin 17 suara, dan Chalid Mawardi 6 suara. Situasi tersebut benar-benar diluar dugaan kubu Gus Dur yang semula diperkirakan akan memperoleh dukungan sekitar 65 persen. Akan tetapi, kenyataannya hanya memperoleh dibawah 50 persen.

Dengan enam suara Chalid Mawardi (juga kubu Soeharto) yang kemungkinan jatuh ke tangan Abu Hasan, maka pemilihan ketua umum ditentukan oleh 17 delegasi yang memberikan suara mereka kepada Fahmi Safudin. Kemungkinan kekalahan di putaran berikutnya dengan segala konsekuensinya jika NU jatuh ke tangan Abu Hasan sudah terbayangkan oleh kebu Gus Dur sehingga membuat mereka panik.

Beberapa kiai yang duduk dekat dengan Gus Dur bahkan banyak yang meneteskan air mata seraya berdoa dengan khusyu. Singkat cerita, berdasarkan perhitungan suara yang dilaksanakan hingga pukul 03.00, Gus Dur ternyata memeperoleh 174 suara, sementara Abu Hasan hanya mendapatkan 142 suara. Kekhawatiran itu ternyata tidak berbuah kenyataan. Pendukung Gus Dur pun merayakan kemenangan dengan penuh sukacita dan rasa syukur.

Tentu kemenangan ini tidak diperoleh dengan cara yang instan, kehebatan, intelektualitas, dan kemampuan berpikir kritis yang berani melawan pemerintahan yang dholim pada saat itu, ditunjang dengan kebijakan-kebijakannya di internal  NU yang dirasa sangat strategis untuk kemaslahatan masyarakat. Social capital inilah yang menjadi modal penting kepercayaan warga NU sekaligus menjadi investasi yang mengantarkannya menjadi ketua PBNU tiga periode berturut-turut.



Sumber : nu online
Gus Dur Bergaul Lepas dari Sekat Sosial

Gus Dur Bergaul Lepas dari Sekat Sosial


Sebagai cucu KH Hasyim Asy’ari dan anak KH Wahid Hasyim, Gus Dur memiliki status sosial yang tinggi di lingkungan NU. Ia sangat dihormati karena keturunan dari guru para ulama NU. Karena itulah ia mendapat sebutan “Gus”.
<>
Bukan hanya di lingkungan NU, kedudukan bapaknya yang merupakan salah seorang menteri dan pejuang kemerdekaan membuatnya memiliki tempat tersendiri. Singkat kata, Gus Dur adalah Anak Menteng, sebutan untuk anak-anak orang kaya dan terhormat yang tinggal di kawasan elit Menteng Jakarta Pusat.

Tetapi, status sosial tersebut tidak membuatnya merasa bagian dari kelompok elit yang membatasi diri dalam bergaul dengan kelompok tertentu yang dianggap satu kelas. Ia bergaul dengan siapa saja. Ia mengunjungi kiai di kampung-kampung, dan menginap di rumahnya jika ada kesempatan. Inilah yang menjadi kenangan tersendiri bagi banyak orang, seorang tokoh yang mau turun menyapa umatnya.

Mantan sekjen PBNU H Arubusman juga memiliki banyak kenangan akan sikap Gus Dur ini. Suatu hari, Gus Dur berniat pergi ke Bandung dan memintanya untuk menemani. Tetapi karena suatu kendala teknis, akhirnya orang lain yang menjemput. Kemudian, Gus Dur meneleponnya langsung, meminta maaf karena tidak jadi mengajaknya ke Bandung. Kalau bukan Gus Dur, mungkin orang lain yang dimintanya menelepon dirinya, yang waktu itu masih yunior.

“Penghargaanya kepada anak buahnya, kepada orang yang lebih muda, membuat saya sangat takdzim kepada Beliau. Ia sangat santun pada semua orang,“ katanya.

Sisi kontraversial

Satu hal yang menarik dari Gus Dur adalah sisi kontraversialnya. Jika banyak orang pergi ke kanan, ia malah ke kiri. Tetapi, selalu ada hal yang mendasar pada setiap pendapat Gus Dur dan ia berani melawan arus, jika memang hal ini dirasa benar.

“Gus Dur tidak bisa dipaksa jika pendapatnya dirasa benar, tetapi ia terbuka terhadap masukan dan dialog dari pihak lain,” paparnya.


Sumber : nu online
Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir

Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir


Tahun 2001 silam, angin kencang berhembus kepada Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sampai-sampai berbagai cara dilakukan oleh lawan politiknya untuk melengserkannya dari jabatan orang nomor satu di Indonesia, termasuk kriminalisasi.

Namun hingga sekarang, hukum tidak pernah bisa membuktikan bahwa Presiden Gus Dur bersalah dalam kasus yang dilemparkan oleh lawan politiknya di Parlemen. Sehingga kasus Gus Dur murni politisasi.

Baik secara hukum pidana maupun tata negara, Gus Dur tidak jatuh pada kasus Bulog dan Brunei seperti yang dituduhkan parlemen. Penjatuhan Gus Dur adalah persoalan pertarungan politik dimana yang satu kalah yang satu menang. Bukan soal hukum yang satu benar, yang satu kalah. Dan Gus Dur kalah dalam pertarungan politik itu, karena dikeroyok ramai-ramai.

Gus Dur saat itu berpikir daripada perang saudara hanya gara-gara mempertahankan jabatan duniawi, lebih baik ia mundur dari jabatan Presiden RI. Mundur bukan karena mengalah, tetapi Gus Dur lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan keutuhan negara. Sebab, jutaan rakyat Indonesia kala itu akan membela mati-matian agar Gus Dur tetap pada tampuk pimpinan tertinggi negara.

Gus Dur sekuat tenaga menahan amarah rakyat yang mendukung penuh dirinya. Namun, Gus Dur masih belum menemukan alasan yang tepat untuk keluar dari Istana Negara kala itu. Karena yang dituduhkan parlemen jelas tidak bisa diterima, sebab inkonstitusional dan tidak rasional (irrasional).

Yang menarik dalam persitiwa itu adalah cara Gus Dur yang menolak untuk menjadikan pelengseran itu sebagai tragedi personal. Ia tak merengek atau curhat di depan publik terkait dengan serangan politik terhadapnya. Sikap Gus Dur masih nampak sama, dengan logika komunikasi publik yang gitu saja kok repot.

Dalam sebuah acara, Gus Dur pernah bercerita tentang perbincangannya dengan Luhut Pandjaitan. Saat itu Gus Dur bercerita pada Luhut tentang hukum Islam yang mengatur bahwa kalau orang diusir dari rumahnya dia harus melawan, kalau perlu dengan menggunakan kekerasan. Namun karena Gus Dur tak ingin mengambil jalan kekerasan, dia lalu meminta bantuan Luhut untuk menguruskan surat perintah pengosongan Istana Negara dari kantor Kelurahan Gambir karena Istana Negara berdomisili di Kelurahan Gambir, Jakarta Pusat.

Karena pengosongan Istana adalah kehendak pemerintah setempat yang sah, maka Gus Dur tak perlu melawan sama sekali. Kewajiban mempertahankan “rumah” pun gugur. Urusan selesai, dan Gus Dur keluar dari Istana tanpa gejolak. Gus Dur tak menjadikan pelengseran dirinya sebagai beban personal.

Dalam perbincangan lain dengan KH Maman Imanulhaq, Gus Dur ditanya kenapa harus membuat surat perintah dari Lurah Gambir? "Supaya nanti ketika di hadapan Allah ditanya, kenapa kamu meninggalkan Istana Negara? Tinggal saya jawab: monggo (silakan) ditanya saja ke Lurah Gambir,” ujar Gus Dur.

Itulah Gus Dur, sang Guru Bangsa. Bukannya susah payah mengumpulkan energi politik untuk melawan kekuatan para pengeroyok, Gus Dur justru menegaskan pada orang di sekitarnya bahwa “tak ada kekuasaan yang begitu berharga hingga harus dipertahankan dengan darah.” Bangsa Indonesia patut mencatat bahwa berbeda dengan kejatuhan Bung Karno dan Pak Harto yang diawali dan/atau disusul dengan konflik sosial yang berdarah-darah, pelengseran Gus Dur di tahun 2001 justru berjalan aman karena langkah brilian kemanusiaan (humanisme) yang ada pada diri Gus Dur.

Inilah refleksi paling konkret dari visi kemanusiaan yang secara ajeg ditunjukkan oleh Gus Dur. Bagi putra sulung KH Abdul Wahid Hasyim da cucu Hadlratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari ini, kemanusiaan bersumber dari pandangan ketauhidan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan paling mulia yang dipercaya untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Kemanusiaan merupakan cerminan sifat-sifat ketuhanan. Dalam hal ini, Gus Dur membela kemanusiaan tanpa syarat dan sama sekali tak berkehendak mengorbankan kemanusiaan itu demi kepentingan kekuasaan.

(Fathoni Ahmad) via nu online
Kisah Gus Dur dan Shinta Nuriyah Tunda Malam Pertama hingga 3 Tahun

Kisah Gus Dur dan Shinta Nuriyah Tunda Malam Pertama hingga 3 Tahun


Bercerita tentang sosok Gus Dur memang tidak ada habisnya. Mulai dari saat masih aktif di Nahdlatul Ulama, tatkala menjadi presiden, memimpin partai politik dengan segala sisi-sisi kontoversialnya, konsistensinya dalam memperjuangkan kemanusiaan, hingga kisah cintanya pun rasanya tidak pernah bosan untuk dinikmati. Mungkin rasa candu itu bisa diibaratkan layaknya segelas kopi hitam yang harus tersedia di pagi hari bagi para penikmatnya.

Membincang kisah romantisme Gus Dur dengan Shinta Nurya Dewi ternyata tidak semudah seperti anak muda di zaman ini yang bisa dibeli hanya dengan sekuntum bunga mawar. Bagaimana tidak sulit? Lah wong Gus Dur sering ditolak kok sama Bu Sinta. Ah, masa seorang cucu pendiri NU, anak dari Mantan Menteri Agama bisa ditolak cewek? Begini ceritanya, romantisme jalinan cinta ini berawal dari sebuah pesantren di Jombang tempat Shinta Nuriya Dewi menuntut ilmu. Gus Dur muda yang saat itu menjadi guru sudah berani melamar Sinta yang masih berumur 13 tahun. Merasa masih sangat belia, kontan rasa cinta Gus Dur  ditolak oleh Shinta.

Gus Dur segera meminang Shinta sebab dia akan pergi lama ke Mesir untuk melanjutkan studinya. Gus Dur melakukan pendekatan intensif, berbagai strategi pun dia coba. Mulai dari main catur dengan ayah Shinta, kemudian berlanjut melakukan ‘PDKT’ ke ibunya, ke nenek, baru setelah itu ke Shinta langsung. Jadi, ibarat bus, kisah cinta Gus Dur ini harus melewati beberapa terminal pemberhentian. Namun berbagai usaha keras ini ternyata tidak juga menaklukan hati Shinta.

Sering mendapat penolakan, tidak juga membuat Gus Dur putus asa. Sebelum berangkat ke Mesir, Gus Dur melakukan strategi selanjutnya, seorang teman ia suruhlah mengantar surat yang isinya kurang lebih apakah Shinta bersedia menjadi istrinya. Si pengantar surat ini menunggu lama untuk mendapatkan jawaban dari Shinta yang kala itu sudah berumur 14 tahun. Shinta muda bimbang, mau menolak secara terang-terangan tapi dia juga sadar bahwa Gus Dur adalah gurunya.

Alasan inilah yang membuat Shinta sedikit sungkan. Namun karena kejeniusannya, Shinta membalas surat tersebut dengan jawaban yang diplomatis. Dia menulis bahwa jodoh, hidup, dan mati seseorang itu ada di tangan Tuhan, kalau kita berjodoh, meski berjauhan pun nanti suatu saat juga akan dipertemukan, namun tatkala tidak berjodoh, meski dekat juga tidak akan bertemu. Dengan jawaban ngambang itulah akhirnya Gus Dur pergi ke Mesir tentu dengan perasaan sedih.

Singkat cerita, di Mesir Gus Dur terlampau sibuk berorganisasi hingga kulianya pun tak semulus yang dikira. Selain itu, mata kuliah di sana kurang begitu greget bagi Gus Dur, pasalnya, materi yang di ajarkan sudah ia pelajari sebelumnya di Indonesia tatkala ia masih menjadi seorang santri. Akhirnya 2 tahun itu Gus Dur tak selesai kuliah, lalu pindah ke Irak. Selama di Mesir itulah Gus Dur dan Sinta saling mengirim surat. Kegiatan ini berlangsung hingga Gus Dur pindah ke Irak.

Lambat laun, surat-surat yang dikirim Gus Dur itu akhirnya mampu mengetuk hati Shinta. Dalam surat balasannya, Shinta menulis Anda sudah berhasil menumbuhkan benih cinta di hati saya. Kontan hal ini membuat Gus Dur kembali sumringah. Begitu dapat surat itu tidak berapa lama keluarganya melamar. Akhirnya, 11 Juli 1968 pernikahan keduanya dilangsungkan. Gus Dur yang saat itu masih di Irak meminta agar diwakilkan  oleh kakeknya Kiai Bisri Syansuri yang berusia 68 tahun. Kontan meskipun sudah resmi menikah Gus Dur dan Shinta harus menunggu 3 tahun untuk melaksanakan bulan madu, ya nunggu Gus Dur pulang baru bisa merasakan indahnya malam pertama.***


Sumber : nu online
Gusdur : Sosok Pemimpin Intelektual, Pemberi Makna

Gusdur : Sosok Pemimpin Intelektual, Pemberi Makna


*Oleh Mh Nurul Huda
Akhir tahun ini Haul Gus Dur diperingati kembali. Pesantren Ciganjur, komunitas Gus Durian tak pernah absen pasti. Tak ketinggalan pula PKB, partai yang didirikan almarhum. Tidak lupa ada jutaan orang yang merindukannya, mungkin hanya dalam kalbu mereka, di pinggir pusaranya tanpa upacara.
<>
Dalam jutaan orang itu, yang berjalan melewati lorong-lorong kehidupan yang ramai, kita menjumpai anak-anak belia mendongakkan kepala kepada ibu-bapaknya. Siapa Gus Dur? Mengapa kita menziarahinya, dan seterusnya? Sedemikian rupa ia sehingga keingintahuan kanak-kanak itu melahirkan sebuah cerita.

Penulis kolom ini sendiri tak mengetahui jelas, bagaimana dampak cerita di riuhnya kehidupan. Hanya dugaan kasar belaka sifatnya bila cerita-cerita macam itu (storytelling) penulis anggap sebagai proses pembelajaran jangka panjang yang berlangsung massal. Sebagian orang tua itu dalam ziarahnya mungkin adalah para penganut tarekat, atau orang-orang biasa yang, kepada putra-putri mereka, mengenalkan keteladanan dan ideal-ideal moral (exemplar). Biar saja bila ada orang menilai dengan ukurannya sendiri seberapa “progresif” mereka ini menularkan pengalaman atau seberapa bermanfaat pembelajaran itu bagi kehidupan nyata.

Ketika akhir bulan lalu Saudara Hamzah Sahal mengajak berkunjung ke Pesantren Edi Mancoro Semarang, Penulis mengiyakan undangan itu. Pertama, karena pengasuh pesantrennya Kiai Mahfudz Ridwan yang sudah sangat sepuh itu adalah teladan bagi para santri dan masyarakat sekitar khususnya bagi penulis sendiri yang sepuluh tahun lalu mengikuti pertemuan dengan sesama kaum muda NU. Kedua, karena para santri ingin berbagi cerita mengenai keteladanan yang mereka saksikan, alami dan rasakan, dalam bahasa tulisan. Terkait yang kedua ini, tampaknya mereka berharap keteladanan sang kiai dapat ditiru para pembaca umum atau generasi berikutnya.

Dari sini, yaitu dari harapan para santri saja, sudah cukup diketahui bahwa cerita (storytelling) rupanya dianggap penting oleh mereka untuk lalu dihidangkan kepada khalayak. Setidaknya memang dianggap penting bagi kehidupan para santri sendiri (mungkin semacam yang berjasa membimbing hidupnya) berdasarkan pengalaman mereka pribadi. Pengalaman itu terang sangat spesifik sifatnya. Efeknya pun sangat eksistensial dan mendalam sehingga belum tentu orang lain dapat merasakan pengalaman yang sama tanpa adanya kesetaraan kualitas interaksi dengan sang ideal moral.

Berdasarkan pengalaman pribadi pula Saudara Hamzah, Saudara Fauzi dan Saudara Hengky (dua nama terakhir berturut-turut adalah putra asli Aceh dan Padang, murid imam besar masjid Istiqlal sekaligus pengasuh pesantren Darus Sunnah Kiai Mustofa Ya’qub) hampir untung bertemu Kiai Mustofa Bisri yang pada hari itu secara kebetulan mengunjungi Kiai Mahfudz Ridwan (meski akhirnya kecele karena ia keburu pulang). Namun masih terpancar kebahagiaan yang tak dapat disembunyikan dari wajah tiga saudara kita ini karena Gus Mus sempat menitipkan doa istiqomah untuk mereka.

Adapun bagi Penulis sendiri khususnya serasa mustahil menulis kolom tentang Gus Dur dalam rangka Haul Ke-6 di situs resmi PBNU yang terbit hari ini tanpa menyinggung Kiai Mahfudz Ridwan dan Kiai Mustofa Bisri. Ketiganya adalah para kiai (dua biasa dipanggil “gus”, dan satu dipanggil kiai) yang sebetulnya saling terkoneksi satu sama lain. Koneksi ketiganya setidaknya berkaitan dengan 3 hal.

Pertama, ketiganya sosok “intellectual leader”. Mereka pemimpin intelektual bagi komunitasnya atau masyarakat secara luas sesuai bidangnya. Mereka mencintai kebenaran yang dengan kebenaran itu mereka bersikap dan bertindak benar serta berupaya mengubah masyarakat menjadi lebih baik.

Kedua, mereka adalah “meaning maker”, yakni memunyai kemampuan memaknai nilai-nilai agama dan tradisinya dalam konteks sosio kultural masyarakatnya. Mereka memunyai “keawasan spiritual” (spiritual literacy) sehingga dapat memberi makna pada eksistensinya baik pada level lokal, global, maupun universal. Mereka mengenali siapa dirinya, dari mana mereka berasal dan ke mana mereka akan pergi. Dengan wawasan yang mendalam dan pengalaman yang luas, ketiganya mampu mendialogkan tradisi dan modernitas, menganalisis ide dan realitas, dan melakukan sintesis-sintesis yang dibutuhkan dalam praktik kehidupan nyata.

Ketiga, kiai kita ini mendidik generasi muda dan khalayak umum. Pikiran mereka dinyatakan dalam bahasa yang sederhana dan menunjuk sesuatu yang nyata sehingga mudah dipahami masyarakat banyak. Bahasa/kata yang telah mengalami “over technologized” yang kaku, asing, dan ekstrem dibumikan lagi dalam kehidupan dan dalam relasi-relasi hidup yang nyata, luwes, tenang, arif, dan manusiawi, seolah tanpa sandraan dogma, fundamentalisme, atau kemarahan bersayap ideologis. Mereka juga memproduksi karya-karya sosial (membangun pesantren, sekolah, aktif dalam kegiatan dialog antarumat beragama atau lain-lain gerakan-gerakan perbaikan, ishlah) atau karya-karya intelektual (dalam bentuk pemikiran yang tertuang dalam artikel, esai, atau buku, dan lain-lain).

Keempat, mereka sosok “sarjana-aktivis”. Gus Mus karib Gus Dur semasa kuliah di Mesir, lalu Gus Dur karib Kiai Mahfudz di Baghdad. Sepulang ke tanah air, ketiganya berusaha melakukan perubahan-perubahan ke arah perbaikan kehidupan masyarakat. Lewat pemikiran, tulisan, sikap, dan tindakannya (Gus Mus belakangan memanfaatkan twiter), mereka memperlihatkan kepada masyarakat, komunitas dan bangsanya tentang bagaimana nilai-nilai Islam dan tradisi masyarakat, khususnya tradisi pesantren dan masyarakat setempat, dapat menjadi kekuatan pengubah lingkungan sosialnya (masyarakat, bangsa, negara, dunia) menjadi lebih baik. Mereka juga berpikiran terbuka, mengembangkan budaya dialog, serta membangun wawasan masa depan yang lebih baik bagi semua orang.

Terakhir, tanpa bermaksud melebih-lebihkan salah satu di atas yang lain, Gus Dur mengajarkan pengalaman untuk dirinya secara “keras” sebagai pembelajaran kepada murid-muridnya. Ketika dijatuhkan secara politik dari kursi presiden, seperti Sokrates yang memegangi kebenaran Gus Dur menerima vonis itu dikelilingi murid-murid dan koleganya. Guru bangsa ini lalu keluar dari istana menemui rakyatnya dan melambaikan tangan seolah berpesan:

“Saksikan, murid-muridku. Aku sendiri pun berpegang erat pada kebenaran meski sepanas bara api di telapak tangan. Berbekal pengetahuan yang benar itu, aku dapat bersikap dan bertindak benar dalam kehidupan tanpa setetes pun darah anak manusia yang pantas dikorbankan”.

Seperti halnya Sokrates, Gus Dur adalah seorang filsuf, par excellent!



Sumber : nu online
Ketika Gus Dur Dikibulin

Ketika Gus Dur Dikibulin


Gus Dur rutin tidur malam pukul 01.00 WIB. Ketika bertanya kepada keluarga atau pengawalnya, “Jam berapa sekarang?” dan jawabannya belum sampai waktu yang ditentukan itu, ia tidak akan tidur.<>

Nah untuk menjaga kesehatan Gus Dur agar tidak tidur terlalu malam, pihak keluarga pun berkomplot. “Kalau Gus Dur tanya jam berapa, bilang sudah jam satu.” Dan Gus Dur pun beranjak tidur.

Hal itu berlangsung beberapa kali. Gus Dur pun akhirnya sadar. “Wah selama ini saya dikibulin.”

Tanpa sepengetahuan keluarga, Gus Dur membeli jam tangan yang ketika dipencet bisa berbunyi.

Suatu malam, pukul 11 malam Gus Dur bertanya, “Sudah jam berapa sekarang?” Kompak semua bilang. “Jam satu Gus!”

Sambil tersenyum, Gus Dur langsung memencet jam tangan dan bisa didengar semua: “Sekarang jam 11 malam,” kata jam tangan itu dalam bahasa Inggris. (Mukafi Niam)  via nu online
3 Humor Gus Dur yang jauh lebih lucu dari Mukidi

3 Humor Gus Dur yang jauh lebih lucu dari Mukidi


Gusdurfiles.com ~ Humor Mukidi kini sedang bikin heboh. Ramai-ramai orang membagikan cerita itu lewat whatsApp atau media sosial.

Nah ini ada humor lucu Gus Dur yang tak kalah dari Mukidi. Cocok untuk menemani awal pekan biar tetap semangat.

Ceritanya Gus Dur sedang nonton TV bersama kawannya. Dia melihat hingar bingar kampanye Pemilihan Presiden yang bikin pusing.

Gus Dur pun nyeletuk. "Ngapain repot-repot amat mau jadi presiden. Saya jadi presiden cuma modal dengkul. Itu pun dengkulnya Amien Rais."

Kontan semua di ruangan itu tertawa. Ini humor-humor Gus Dur lain yang bikin ngakak:

1.Dialog Gus Dur dengan Tuhan

Ceritanya para presiden dan pemimpin negara berdialog dengan Tuhan. Presiden AS Ronald Reagen: Tuhan, kapan negara kami makmur?, Tuhan jawab, "20 Tahun lagi". Presiden AS menangis.

Presiden Prancis Sarkozy: Tuhan, kapan negara Prancis makmur? Tuhan menjawab: "25 Tahun lagi." Mendengar jawaban Tuhan, Presiden Prancis menangis.

PM Inggris Tony Blair: "Tuhan, kapan negara Inggris bisa makmur?" Tuhan menjawab: "20 Tahun lagi." PM Tony Blair ikut juga menangis.

Presiden Gus Dur: "Tuhan, kapan negara Indonesia bisa makmur?" Tuhan tidak jawab, gantian Tuhan yang menangis.

2.Sudah di Tanah Abang

Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Presiden AS dan Prancis terbang bersama buat keliling dunia. Seperti biasa, setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya.

Tidak lama terbang, Presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: "Wah kita sedang berada di atas New York!"

Presiden Indonesia (Gus Dur): "Lho kok bisa tau sih?"

"Itu, patung Liberty kepegang!", jawab Clinton dengan bangganya.

Tidak mau kalah, Presiden Prancis Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. "Tahu nggak? Kita sedang berada di atas kota Paris!", katanya dengan sombongnya.

Presiden Indonesia: "Wah, kok bisa tau juga?"

"Itu... menara Eiffel kepegang!", sahut presiden Prancis tersebut.

Giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat. "Wah... kita sedang berada di atas Tanah Abang!" teriak Gus Dur.

"Lho kok bisa tau sih?" tanya Clinton dan Chirac heran.

"Ini, jam tangan saya ilang," jawab Gus Dur kalem.

3.Lebih mulia di mata malaikat

Ceritanya, di pintu akhirat seorang malaikat bertanya kepada seorang sopir Metromini.

"Apa kerjamu selama di dunia?" tanya malaikat itu.

"Saya sopir Metromini, Pak." Lalu malaikat itu memberikan kamar yang mewah untuk sopir Metromini tersebut dan peralatan yang terbuat dari emas.

Lalu datang Gus Dur dengan dituntun ajudannya yang setia. "Apa kerja kamu di dunia?" tanya malaikat kepada Gus Dur.

"Saya mantan presiden dan juga juru dakwah Pak" lalu malaikat itu memberikan kamar yang kecil dan peralatan dari kayu. Melihat itu Gus Dur protes.

"Pak, kenapa kok saya yang mantan presiden sekaligus juru dakwah mendapatkan yang lebih rendah dari seorang sopir Metromini..?" 

Dengan tenang malaikat itu menjawab: "Begini Pak, pada saat bapak ceramah, bapak membuat orang-orang semua ngantuk dan tertidur, sehingga melupakan Tuhan. Sedangkan pada saat sopir Metromini mengemudi dengan ngebut, ia membuat orang-orang berdoa."



Sumber : merdeka.com

Cerita Aktivis Walk Out dari Sidang Jumat karena Cinta Gus Dur

Cerita Aktivis Walk Out dari Sidang Jumat karena Cinta Gus Dur


Gusdurfiles.com ~ Dalam aktivitas berorganisasi, mahasiswa diajarkan manajemen organisasi hingga teknik sidang. Hal ini penting untuk kemajuan organisasi apalagi para aktivis sering melakukan berbagai jenis sidang. Di antaranya diajarkan cara menyampaikan interupsi.

Bahasa dan gestur interupsi seperti mengacungkan tangan dengan menyampaikan ucapan point of  order, point of information, point of clarrification, dan poin of personal privilege, serta walk out menjadi kode wajib dalam persidangan.

Suatu ketika ada seorang aktivis mahasiswa yang sedang mendengarkan khutbah Jumat. Mahsiswa tersebut sangat mencintai dan mengagumi Gus Dur sebagai seorang kiai, ulama, pemimpin, pemikir, penggerak, dan guru bangsa.

Namun, dia sedikit kaget ketika sang khotib shalat jumat menjelek-jelekkan Gus Dur dalam khutbahnya. Bagi dia, khutbah sidang jumat tidak boleh menjelek-jelekkan seseorang atau kelompok orang sehingga ia pun tak segan menyampaikan interupsi kepada khotib.

Aktivis yang memang paham betul tentang syarat khutbah itu tidak terima mendengar ceramah sang khotib yang terus-terusan menjelek-jelekkan nama Gus Dur, sang idola.

Dia pun lalu berdiri dan mengacungkan tangan, "Pak khotib, interupsi, point of order!" Khotib pun lalu tercengang melihat aksi seorang jamaah jumat yang terlihat masih muda itu.

"Pak Khotib, interupsi point of order!" ucapnya mengulangi. "Ada apa?" jawab khotib.

"Khutbah bapak menjelek-jelekan Gus Dur, itu tidak boleh pak, saya Walk Out!" Lalu dia pun pergi dan mencari masjid lain. (Bakti Alkasefi/Fathoni) via nu online
Gus Dur dan Kekuatan Membaca

Gus Dur dan Kekuatan Membaca


Oleh Anggi Afriansyah

Greg Barton penulis Gusdur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid dalam beberapa bagian bukunya menuliskan tentang kegandrungan Gus Dur membaca buku. Melalui catatan Barton kita dapat belajar betapa gemar dan cintanya Gus Dur terhadap buku. Kekuatan membaca Gus Dur seharusnya menginspirasi setiap santri di pesantren, para siswa secara umum yang sedang berjuang menggapai pengetahuan.

Gus Dur membaca buku jauh lebih banyak dibandingkan dengan sebayanya. Rumahnya penuh dengan buku. Apalagi Gus Dur berasal dari keluarga pencinta ilmu dan ahli ilmu. sebagai cucu dari KH Hasyim Asyari dan anak dari Kiai Wahid Hasyim tak mengherankan jika Gus Dur sudah sangat senang membaca di usianya yang sanga belia.

Ketika kuliah di Universitas Al Azhar salah satu tempat kegemarannya adalah perpustakaan. Ia terbiasa membaca di perpustakaan Universitas Amerika, Universitas Kairo, atau di perpustakaan Perancis.

Gus Dur terbiasa membaca di mana saja, apa saja, dan di mana saja, tanpa memilih tempat. Di rumah maupun di tempat menunggu bus ia membaca. Tak ada buku, potongan koranpun ia baca.

Bacaannya luas, tak sekedar kajian keagamaan. Ia membaca semua karya William Faulkner, novel-novel Ernest Hemingway, puisi Edgar Allan Poe dan John Done, Andre Gide, Kafka, Tolstoy, dan Pushkin. Ia juga membaca karya Marx dan Lenin.
Ia senang berdiskusi dengan mahasiswa dan kaum cendikiawan di kedai-kedai kopi Kota Kairo. Kedai-kedai kopi baginya merupakan sekolah untuk menyempurnakan pengetahuan Bahasa Arab juga debat-debat intelektualnya.

Ketika melanjutkan kuliahnya di Baghdad, kecintaannya terhadap buku semakin terakomodir. Apalagi di Universitas Baghdad mahasiswa diharapkan untuk berpikir kritis dan banyak membaca.

Semangat membaca Gus Dur memang luar biasa. Ia membaca bahkan sampai larut malam. Sehingga seringkali ia harus terkantuk-kantuk ketika kuliah. Di tengah padatnya aktivitas ia masih mengatur jadwal membacanya. Setiap sore ia sudah di perpustakaan universitas untuk membaca.

Selain pembaca yang tangguh, Gus Dur juga merupakan penulis yang sangat produktif. Sejak mahasiswa ia menulis esai untuk beragam majalah maupun surat kabar. Karya-karya tersebar luas dan dapat kita nikmati hingga saat ini.

Belajar dari Gus Dur  

Kita tentu saja dapat banyak belajar dari seorang Gus Dur. Keteguhannya mencintai bangsa ini, membela mereka yang terpinggirkan tentu tak usah diragukan lagi. Aspek yang sering dilupakan adalah bagaimana kemampuan Gus Dur dalam membaca dan mengkaji beragam perspektif keilmuan. Membaca sebanyak-banyaknya buku yang tentu saja akan membuka kekayaan perspektif dalam memandang persoalan.

Keluwesan berpikirnya didukung oleh tradisi kuatnya membaca beragam buku. Ketika mahasiswa ia tak pernah memikirkan berapa uang yang yang ia miliki. Ia selalu memiliki uang yang cukup. Apalagi ia sudah menjadi salah satu kolumnis yang karyanya tersebar di berbagi media. Ia juga sudah aktif bekerja untuk kedutaan ataupun lembaga lainnya yang memanfaatkan kemampuan berbahasa arabnya yang sangat bagus.

Seperti yang dikisahkan oleh Barton, yang ada di benak Gus Dur adalah bagaimana ia memiliki uang untuk membeli buku dan menonton film. Lucunya, untuk mengelola keuangan ia serahkan kepada sahabat karibnya, Mahfudz Ridwan, mahasiswa asal Salatiga. Bahkan uang tersebut kadang digunakan Mahfudz untuk membantu mahasiwa lain yang kekurangan dana. Ia tak pernah memperdulikan uang, baginya yang penting ketika hendak membeli buku uang tersebut harus ada.

Gus Dur juga menunjukan kepada kita betapa ia memiliki pikiran terbuka dan ide-ide besar karena gemarnya ia melahap segala jenis bacaan. Seperti tokoh pendiri bangsa, Gus Dur sangat haus terhadap bahan bacaan. Catatan menarik diungkap Najwa Shihab dalam tulisannya di Kompas (18/8), Menikam Kolonialisme dan Merdeka dengan Buku. Pada salah satu bagian ia menulis bahwa para tokoh bangsa merupakan orang-orang dengan pikiran terbuka dengan kepala penuh ide-ide besar yang membaca karya-karya besar dari berbagai belahan dunia.

Catatan ini patut direnungkan bersama. Apalagi saat ini kita cenderung malas untuk membaca. Sehingga mudah untuk menuduh dan menghakimi mereka yang berbeda ideologi, keyakinan keagamaan, madzhab, kelas sosial, bahkan beda jamaah pengajian. Malas membaca akut menjaringi beragam kalangan masyarakat.

Kita lebih gemar membaca status, cuitan, broadcast di media sosial dibanding membaca Al-Quran, kitab-kita karya ulama, maupun buku-buku karya penulis-penulis besar. Kita gemar menulis pesan-pesan penuh kebencian dibanding menuliskan kisah-kisah inspiratif penuh makna. Juga menyebarkan pesan-pesan penuh hasutan tanpa berpikir dan menakar serta mencari tahu kebenaraan akan pesan tersebut. Kita malas mendiskusikan dan mendialogkan buku-buku tebal karena dianggap tak praktis dan membuang waktu saja. Mendiskusikan beragam hal dengan basis keyakinan diri semata bukan pada kematangan berpikir hasil membaca. Padahal ayat Al-Quran pertama yang turun memerintahkan kita untuk iqra, baca!

Tak heran jika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kemudian mendeklarasikan Gerakan Literasi Sekolah untuk membudayakan tradisi membaca dan menulis.  Dari data UNESCO tahun 2012 misalnya menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 yang berarti dari setiap 1.000 penduduk hanya satu orang yang berminat membaca. Data tersebut sungguh memprihatinkan

Melalui Gus Dur kita belajar agar tak selalu puas membaca dan belajar. Gus Dur mengajarkan kepada kita betapa pentingnya seseorang harus aktif membaca. Membaca beragam genre buku, beragam perspektif, dan belajar dari kehidupan. Tidak hanya terpaku pada ruang-ruang kelas yang formil. Gus Dur, seorang otodidak yang memberikan banyak pembelajaran bagi kita agar terus memperbahrui pemahaman atas beragam hal, tanpa pernah berhenti.



Sumber : nu online
close
Banner iklan disini