Kiai Ma’ruf Amin: Gus Dur Ajarkan Berpikir Kritis

Kiai Ma’ruf Amin: Gus Dur Ajarkan Berpikir Kritis


Gusdurfiles ~ Rais Aam Syuriyah PBNU KH Ma'ruf Amin mengatakan, Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur merupakan sosok yang mirip buku. Karena itu, mengenal Gus Dur tidak akan habis.
“Di NU, beliau itu yang melakukan dinamisasi berpikir kritis. Sehingga NU itu kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran kritis dan dinamis,” ujar Kiai Ma’ruf mengawali testimoninya di acara haul ke-6 Gus Dur di Ciganjur, Sabtu (26/12) malam.

Menurut Kiai Ma’ruf, Gus Dur memang dilengkapi dengan berbagai instrumen keilmuan sehingga paham banyak hal. Misalnya, Ushul Fiqh dan Qawaid Fiqhiyyah.

“Beliau bahkan sering menyebut kitab Asybah Wan Nadzair. Beliau sangat paham kitab tasawuf yang bernama al-Hikam karya Ibnu Athaillah. Bukan hanya paham, beliau malah mengajarkan kitab itu,” ungkap Rais Aam.

Padahal, lanjut Kiai Ma’ruf, kitab al-Hikam itu menurut para ulama disebut kaada al-hikam an yakuuna quranan. “Hikam itu hampir mirip Quran karena saking dalamnya paparan ilmu yang dikandungnya. Jadi, meski beliau kritis dan dinamis, tetapi instrumen-instrumen perlengkapannya itu sudah ada dan siap,” tukasnya.

Sayangnya, kata Kiai Ma’ruf, ada beberapa pihak yang kritis namun tidak paham Ushul Fiqh, Qawaid, apalagi al-Hikam. “Ibarat orang terjun, Gus Dur sudah bawa parasut. Ini (ada orang) terjun nggak punya parasut, nyungsep jadinya,” selorohnya disambut tawa hadirin.

Gus Dur yang ia kenal sebagai sosok  yang bisa bergaul dengan semua kalangan. “Beliau bisa bergaul dengan kiai khos, dengan kiai cash. Sekarang ini kan kiai khos kalah sama kiai cash itu. Ada juga kiai high cost,” ujar Kiai Ma’ruf lagi-lagi mengundang tawa.

Tak hanya dengan kiai, lanjutnya, Gus Dur juga bisa bergaul dengan para budayawan, seniman, orang berambut gondrong, dan bertato. “Enak saja. Saya pernah ikut Gus Dur. Beliau santai saja. Saya sendiri malah keki. Inilah kelebihan Gus Dur,” tandas Rais Aam.

Semua persoalan di mata Gus Dur tidak ada yang berat. Semuanya dianggap ringan dan biasa-biasa saja. “Makanya Gus Dur sering mengatakan Gitu aja Kok Repot,” ujarnya.

Kiai Ma’ruf bercerita, suatu ketika Gus Dur terpilih sebagai Ketua Forum Demokrasi (Fordem).  PBNU langsung ribut. “Gimana ini, NU akan berhadapan dengan Pak Harto ini. Karena itu, kami putuskan bahwa Gus Dur mengundurkan diri atau berhenti dari Fordem. Kalau tidak mau, PBNU akan meminta beliau mundur dari Fordem,” tuturnya.

Begitu disampaikan kepada Gus Dur, lanjut Kiai Ma’ruf, Gus Dur lebih memilih Fordem. “Kalau saya disuruh mundur dari Fordem, lebih baik saya mundur dari Ketua Umum PBNU. Wah ini, jawabannya. Mati kutu semua udah. Akhirnya, ya sudah lah, tetap sebagai Ketua Umum PBNU, dan tetap sebagai Ketua Fordem,” kata Kiai Ma’ruf sembari tertawa. (Musthofa Asrori/Mahbib)


Sumber : nu.or.id


Tiga Jasa Penting Gus Dur Menurut Menag Lukman Saifuddin

Tiga Jasa Penting Gus Dur Menurut Menag Lukman Saifuddin


Gusdurfiles ~ Peringatan haul ke-6 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di kediamannya di Jalan Warung Sila 10, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan berlangsung meriah, Sabtu (26/12). Malam itu sejumlah tokoh memberikan testimoni di atas panggung, mengungkap ingatan mereka tentang sosok presiden ke-4 RI ini.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang hadir dalam kesempatan itu mengatakan, Gus Dur semasa hidup telah menorehkan banyak prestasi yang masih bisa dirasakan masyarakat hingga kini. Menurutnya, setidaknya ada tiga jasa yang paling menonjol di antara sekian banyak manfaat dari kiprah Gus Dur.

Pertama, Gus Dur termasuk orang yang berhasil mengangkat citra positif pesantren tak hanya sebagai institusi pendidikan melainkan pula sebagai komunitas yang memiliki nilai-nilai dan kultur khas yang membedakannya dari komunitas di luarnya. Hal itu, imbuh Lukman, Gus Dur lakukan di antaranya lewat tulisan pada tahun 70-an saat tak banyak orang tahu tentang pesantren.

Sekarang, kata Menag, ketika santri sudah begitu dikenal bahkan Hari Santri telah dideklarasikan oleh pemerintah, menjadi kewajiban khususnya bagi kalangan santri untuk semakin bertanggung jawab dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Kedua, Beliau (Gus Dur) tentu bersama ulama-ulama yang lain terdepan dalam menyelesaikan hubungan Islam dan Pancasila," lanjutnya di hadapan ribuan jamaah yang memadati kompleks Yayasan Wahid Hasyim, lokasi rumah Gus Dur berada.

Bagi Lukman, Gus Dur sukses meyakinkan umat Islam secara luas bahwa Islam lah yang menjadi roh Pancasila sehingga reaksi keduanya tidak mesti dipertentangkan. Alhasil, Pancasila bisa diterima dengan tidak meminggirkan Islam dan tanpa menumpahkan darah setetes pun.

Jasa penting Gus Dur yang ketiga, menurut Lukman, adalah perjuangan Ketua PBNU tiga periode itu dalam menciptakan keharmonisan bangsa Indonesia yang sangat plural. Bagi Gus Dur, kemajemukan merupakan realitas yang harus diterima dengan lapang dada.

"Gus Dur di banyak kesempatan mengatakan bahwa perbedaan bukanlah kelemahan tapi justru anugerah dari Allah agar kita yang berbeda-beda ini bisa saling menghormati satu sama lain," terangnya.

Lukman menilai, Gus Dur dengan pandangan keislamannya yang sangat inklusif telah berhasil membumikan wawasan Islam rahmatan lil alamin yang menjunjung tinggi toleransi (tasamuh), moderasi (tawassuth), dan keseimbangan (tawazun).

Dalam peringatan haul Gus Dur kali ini tampak hadir pula Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Moh Mahfud MD, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahya Purnama (Ahok), serta beberapa tokoh dan kiai lainnya. (Mahbib/Alhafiz K)


Sumber: nu.or.id



Ahok Dipuji Karena Menghadiri Haul Gus Dur

Ahok Dipuji Karena Menghadiri Haul Gus Dur


GusDurFiles.com ~ Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mendapatkan pujian ketika menghadiri Haul Keenam Gus Dur di Jalan Warung Silah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (26/12/2015).

Meskipun non-Islam, Basuki bersedia hadir dalam acara pengajian yang memperingati wafatnya Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut.

"Ahok ini satu-satunya yang enggak sesuai syariah di sini, tetapi bagus dong, Beliau tanggal 26 Desember tetapi datang ke pengajian. Itulah kekuatan almarhum Gus Dur ya," ujar komedian Soleh Solihun yang menjadi pembawa acara tersebut.

"Ahok akhirnya dapat hidayah, sebentar lagi Ahok baca sahadat, ini bagus loh ya," ujar Soleh lagi.

Haul Keenam Gus Dur yang mengangkat tema “Merawat Tradisi, Merajut Hati” ini dihadiri sejumlah tokoh.

Hingga pukul 19.30 WIB, terlihat mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Dewan Pembina DPP Partai Golkar Akbar Tanjung, serta Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli di lokasi acara.

Acara ini juga dihadiri ratusan santri dan pemuka agama. Haul Gus Dur akan diisi dengan pembacaan Al Quran, tausiah, tahlilan, hingga pertunjukan seni.

Sumber : Kompas.com
Inilah Pesan Gus Dur yang Disampaikan Ahok di Depan Jamaah Gereja

Inilah Pesan Gus Dur yang Disampaikan Ahok di Depan Jamaah Gereja

 

GusDurFiles.com ~ Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berpesan agar jemaat gereja melaksanakan 5 tertib Jakarta. Selain itu ia juga mengimbau jemaat gereja mengikuti pesan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

"Saya sampaikan kepada mereka untuk mendukung 5 tertib kita (tertib hunian, tertib lalu lintas, tertib PKL, tertib demo dan tertib buang sampah)," ungkap Ahok usai peresmian GBI Fatmawati, di Jl RS Fatmawati, Cilandak, Jakarta Selatan.

Ahok berpesan pada jemaat untuk tidak melanggar aturan misalnya melanggar lalu lintas. Hal itu menurut Ahok perilaku orang setelah beribadah akan mengubah orang menjadi lebih humanis sehingga bila ada orang yang melakukan pelanggaran justru ada yang salah dalam ibadahnya.

"Jangan sampai orang sudah beribadah di gereja ini keluar dari sini orang ada yang melawan lalu lintas. Jadi kalau kata Gus Dur orang yang beribadah itu harusnya makin humanis, enggak mungkin bisa nyakitin orang gitu loh. Itu sesuatu yang penting tentang rumah ibadah," papar Ahok.

Sementara itu pada malam Natal, tanggal 24 dan 25 Desember 2015 malam Ahok akan berkeliling ke beberapa Gereja bersama Kapolda Irjen Tito Karnavian dan Panglima Komando Daerah Militer Jaya Mayjen Jenderal TNI Teddy Lhaksmana untuk meninjau pengamanannya.

Seperti diketahui, pengamanan pada malam perayaan Natal dilakukan dari berbagai elemen seperti Polri, Polda, TNI di tempat ibadah seperti gereja hingga tempat umum seperti di stasiun kereta api. Para tokoh agama juga diimbau untuk mengimbau terciptanya kondisi yang baik.

Untuk mengamankan Natal dan tahun baru ini, Polda Metro Jaya menggelar operasi khusus bersandikan 'Operasi Lilin' yang akan segera digelar. Kekuatan yang dikerahkan untuk mengamankan kalender kamtibmas tahunan ini sebanyak 8 ribu lebih dari aparat gabungan Polda Metro Jaya, Kodam Jaya dan Pemda DKI Jakarta.


Sumber: detik.com
Ini Kisah Luhut Coba Gagalkan Gus Dur Jadi Ketua PBNU

Ini Kisah Luhut Coba Gagalkan Gus Dur Jadi Ketua PBNU


GusDurFiles.com ~ Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pernah diperintahkan atasannya untuk menggagalkan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Upaya itu gagal karena Gus Dur tetap dipilih menjadi Ketua PBNU oleh para kiai.

"Perintahnya waktu itu, semua komandan korem harus menggagalkan itu (Gus Dur jadi Ketua PBNU)," katanya saat menghadiri acara haul keenam Gus Dur di kantor Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Selasa, 22 Desember 2015.

Waktu itu, Luhut mengaku masih menjadi komandan korem di Komando Resor Militer 081/Dhirotsaha Jaya Madiun, Jawa Timur. Luhut sudah berusaha keras menjalankan perintah atasannya itu tapi gagal karena solidnya kiai-kiai NU yang dikumpulkannya.

Ulama yang dikumpulkan, kata Luhut, sulit dipengaruhi bahwa Gus Dur tidak benar. "Kata para ulama, Gus Dur memang nyeleneh, tapi apa yang diomongin dua tahun lagi baru kejadian."

Luhut juga bercerita bagaimana saat meminta bantuan Gus Dur mengajak warga negara Indonesia yang berada di Singapura pulang pasca-kerusuhan 1998. Ketika itu, Luhut menjadi Duta Besar Indonesia untuk Singapura.

Luhut lantas meminta Gus Dur berbicara dalam bahasa Indonesia. Tiba-tiba ada orang yang menyela dengan mengatakan sebaiknya Gus Dur menggunakan bahasa Inggris. "Gus Dur kemudian ngomong bahasa Inggris, saya bilang, ‘Wah, paten juga ini ulama ngomong bahasa Inggris’."

Luhut juga selalu ingat perkataan Gus Dur yang sempat melontarkan sinyalemen bahwa ia bakal menjadi presiden dalam waktu dekat. Ucapan itu dilontarkan Gus Dur di hadapan para pengusaha Indonesia. "Setelah itu (menjadi presiden), Pak Luhut ini akan saya panggil pulang ke Indonesia," ucap Luhut, menirukan ucapan Gus Dur ketika itu. Dalam Kabinet Persatuan Nasional, Luhut memang dipercaya menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan.

Sumber : Tempo.co
Maulid dan Ucapan Natal Diributkan? inilah Kata Gus Dur

Maulid dan Ucapan Natal Diributkan? inilah Kata Gus Dur


Gusdurfiles.com ~ Hampir setiap tahun, selalu ada pro kontra terkait boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal buat penganut Kristiani, termasuk tahun ini. Alasan pelarangan, perayaan Natal merupakan ritual keagamaan non-Muslim yang tidak dibenarkan bagi umat Islam untuk mengikutinya.

Sejak dulu sebenarnya masalah seperti ini sudah menjadi polemik di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Ada sebagian yang menilai haram, ada juga yang tidak. Nah, untuk memperkaya referensi, ada baiknya anda tahu bagaimana pendapat Gus Dur soal masalah ini.

Gus Dur pernah menulis artikel di Koran Suara Pembaruan pada 20 Desember 2003 berjudul: Harlah, Natal dan Maulid. Menurut Gus Dur, kata Natal yang menurut arti bahasa sama dengan kata harlah (hari kelahiran), hanya dipakai untuk Nabi Isa al-Masih belaka.

Jadi ia mempunyai arti khusus, lain dari yang digunakan secara umum seperti dalam bidang kedokteran ada istilah perawatan pre-natal yang berarti “perawatan sebelum kelahiran”.

Dengan demikian, maksud istilah ‘Natal’ adalah saat Isa Al-Masih dilahirkan ke dunia oleh ‘perawan suci’ Maryam. Karena itulah ia memiliki arti tersendiri, yaitu saat kelahiran anak manusia bernama Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia.

Sedangkan Maulid, Gus Dur menjelaskan, adalah saat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pertama kali dirayakan kaum Muslimin atas perintah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi atau dalam dunia barat dikenal sebagai Saladin, dari Dinasti Mamalik yang berkebangsaan Kurdi. Tujuannya untuk mengobarkan semangat kaum Muslimin, agar menang dalam perang Salib (crusade).

Dia memerintahkan membuat peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad, enam abad setelah Rasulullah wafat. Peristiwa Maulid itu hingga kini masih dirayakan dalam berbagai bentuk, walaupun Dinasti Sa’ud melarangnya di Saudi Arabia. Karya-karya tertulis berbahasa Arab banyak ditulis dalam puisi dan prosa untuk menyambut kelahiran Nabi Muhammad itu.

Dengan demikian, Gus Dur melanjutkan, dua kata (Natal dan Maulid) mempunyai makna khusus, dan tidak bisa disamakan. Dalam bahasa teori Hukum Islam (fiqh) kata Maulid dan Natal adalah “kata yang lebih sempit maksudnya, dari apa yang diucapkan” (yuqlaqu al’am wa yuradu bihi al-khash). Penyebabnya adalah asal-usul istilah tersebut dalam sejarah perkembangan manusia yang beragam. Artinya jelas, Natal dipakai orang-orang Kristiani, sedangkan maulid dipakai orang-orang Islam.



Menurut Gus Dur, Natal dalam kitab suci Alquran disebut sebagai “yauma wulida” (hari kelahiran, yang secara historis oleh para ahli tafsir dijelaskan sebagai hari kelahiran Nabi Isa, seperti terkutip: “kedamaian atas orang yang dilahirkan (hari ini)” (salamun yauma wulid) yang dapat dipakaikan pada beliau atau kepada Nabi Daud. Sebaliknya, firman Allah dalam surat al-Maryam: “Kedamaian atas diriku pada hari kelahiranku” (al-salamu ‘alaiyya yauma wulidtu), jelas-jelas menunjuk kepada ucapan Nabi Isa.

Bahwa kemudian Nabi Isa ‘dijadikan’ Anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah masalah lain lagi. Artinya, secara tidak langsung Natal memang diakui oleh kitab suci al-Qur’an, juga sebagai kata penunjuk hari kelahiran beliau, yang harus dihormati oleh umat Islam juga. Bahwa, hari kelahiran itu memang harus dirayakan dalam bentuk berbeda, atau dalam bentuk yang sama tetapi dengan maksud berbeda, adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan.

“Jika penulis (Gus Dur) merayakan Natal adalah penghormatan untuk beliau (Isa) dalam pengertian yang penulis yakini, sebagai Nabi Allah SWT.”

Dengan demikian, Gus Dur melanjutkan, “menjadi kemerdekaan bagi kaum Muslimin untuk turut menghormati hari kelahiran Nabi Isa, yang sekarang disebut hari Natal. Mereka bebas merayakannya atau tidak, karena itu sesuatu yang dibolehkan oleh agama. Penulis ( Gus Dur) menghormatinya, kalau perlu dengan turut bersama kaum Kristiani merayakannya bersama-sama.”

Dalam litelatur fiqih, Gus Dur mengimbuhkan, jika seorang muslim duduk bersama-sama dengan orang lain yang sedang melaksanakan peribadatan mereka, seorang Muslim diperkenankan turut serta duduk dengan mereka asalkan ia tidak turut dalam ritual kebaktian. Namun hal ini masih merupakan ganjalan bagi kaum muslimin pada umumnya, karena kekhawatiran mereka akan dianggap turut berkebaktian yang sama.

“Karena itulah, kaum Muslimin biasanya menunggu di sebuah ruangan, sedangkan ritual kebaktian dilaksanakan di ruang lain. Jika telah selesai, baru kaum Muslimin duduk bercampur.”

Ada pengakuan dari Romo Antonius Benny Susetyo. Di tengah sakit yang mendera pada 25 Desember 2009, seperti biasanya Gus Dur masih menyempatkan diri menelepon untuk mengucapkan “selamat Natal dan Tahun Baru”, sekaligus menyampaikan salam kepada Romo Kardinal dan teman-teman sejawat lainnya. Demikian tulisan pembuka Romo Antonius Benny Susetyo, Pastor dan Aktivis dalam buku berjudul: Damai Bersama Gus Dur.

“Saya menanyakan kondisi beliau yang oleh beberapa media sudah dikabarkan sakit. Beliau menjawab bahwa dirinya sehat-sehat saja dan saat itu berposisi di kantor PBNU (juga sudah menanyakan sudah makan bubur),” kata Romo Benny yang juga pendiri Setara Institute, itu.

Cerita Romo Benny itu cukup menggambarkan betapa Gus Dur masih teguh memegang prinsip toleransi antar umat beragama di negeri yang majemuk ini. Sikap Gus Dur itu ada baiknya diingat kembali ketika sekarang sedang ribut-ribut komentar ulama di Aceh yang mengharamkan umat Islam mengucapkan selamat Natal dan memperingati Tahun Baru Masehi.

Sampai kini perayaan Tahun Baru Masehi memang masih menuai pro dan kontra di kalangan ulama Islam. Ada yang berkukuh melarang, ada pula yang membolehkan. Bagi sebagian ulama yang membolehkan bisa dilihat dari berbagai kegiatan malam Tahun Baru Masehi yang digelar di Indonesia, misalnya kegiatan zikir nasional.

Contohnya zikir nasional untuk menyambut Tahun Baru Masehi yang diadakan pada malam hari setelah salat Isya. Acara itu dipandu oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham bertempat di Masjid At-Tin Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Acara zikir berjamaah itu menjadi salah satu warna tersendiri dalam menggambarkan kiprah kaum Muslim di Indonesia dari masa ke masa.

Jadi, apakah anda sepakat dengan sebagian ulama yang mengharamkan perayaan Tahun Baru atau justru sepakat dengan yang membolehkan? Hal itu merupakan kemerdekaan anda sebagai muslim dalam memilih sikap. “Gitu aja kok repot..!!!”

Sumber: Merdeka.com
Inilah 3 (tiga) Gagasan Hebat Gus Dur yang Dipandang Sebelah Mata

Inilah 3 (tiga) Gagasan Hebat Gus Dur yang Dipandang Sebelah Mata


gusdurfiles.com ~ Sedikitnya ada tiga isu yang dilemparkan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) baik sewaktu masih sebagai pemimpin informal maupun ketika sudah terpilih sebagai Presiden RI.

Yang pertama bagaimana cara menghadapi Amerika Serikat.

Saat itu, di tahun 1980-an, Gus Dur nampaknya sudah merasakan, cepat atau lambat Amerika Serikat akan mendikte Indonesia. Nah dalam rangka mencegah hal tersebut terjadi, intelektual Islam itu menyuarakan sebuah gagasan yang kontroversial. Gus Dur memberi masukan kepada pemerintah Indonesia yang saat itu dipimpin Jenderal Soeharto. Bahwa untuk membuat negara adidaya Amerika Serikat tidak semaunya mendikte, maka Indonesia perlu menutup beberapa jalur laut internasional yang berada di wilayah Indonesia. Sebab jalur-jalur itu sangat penting dan strategis bagi segi keamanan dan pertahanan global Amerika Serikat. Kalaupun tidak menutup, setidaknya kapal-kapal perang Amerika Serikat tidak lewat secara gratis atau sembunyi-sembunyi seperti pelintas batas sebuah negara atau ilegal traficking.

Cukup Selamat Lombok saja yang ditutup, kata Gus Dur ketika itu. Dengan menutupnya, armada perang Amerika Serikat yang lalu lalang dari pangkalan militernya di Filiipina ke Samudera India, akan mengalami kesulitan. Mau tidak mau harus memutar puluhan ribu kilometer laut, yang otomatis akan berdampak pada biaya operasi dan kecepatan.

Amerika Serikat, tak ada pilihan harus berunding dan di situlah kesempatan Indonesia meminta konsesi. Atau dengan tawaran tersebut otomatis akan terjadi perundingan. Dan sebuah perundingan yang sehat, mau tidak mau akan saling memberi dan saling meminta. Jadi Indonesia tidak perlu takut menghadapi kebesaran Amerika Serikat.

Ketika Gus Dur menyuarakan gagasan itu, tidak ada yang memberi komentar. Terutama dari kalangan militer apalagi para kaum cendekia dan pengamat. Entah karena saa itu kebebasan berbicara tidak begitu terjamin atau ada alasan lainnya.

Saat itu Perang Dingin masih sedang hangat-hangatnya. Perang yang bersumbu pada persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Sovyet.

Armada perang laut Amerika Serikat diketahui sering masuk keluar wilayah Indonesia. Yang sudah umum diketahui, lewat Selat Malaka. Tetapi yang tidak banyak diketahui publik yaitu yang lewat Selat Lombok dan satu lagi yang berada di sekitar Pulau Flores dan Timor.

Selat Lombok dan yang di Pulau Flores, menjadi jalur yang efisien bagi Armada Amerika Serikat. Jalur yang menghubungkan pangkalan militernya di Subic (Filipina) dan Diego Garcia, pangkalan militer lainnya di tengah Samdera Hindia.

Pernyataan yang tersiar sekitar 30 tahun lalu itu, sejatinya masih tetap relevan hingga sekarang. Persoalannya, apakah dalam rezim pemerintahan sekarang, ada pihak yang punya keberanian dan integritas?

Isu atau gagasan kedua yang disampaikan Gus Dur yaitu soal pembubaran Golkar sebagai sebuah partai politik. Gagasan ini diwacanakan oleh Gus Dur tak lama setelah terjadi reformasi di tahun 1998. Sepanjang yang diraba dari pernyataan tokoh NU itu, Gus Dur cukup muak dengan prilaku para petinggi Golkar. Bahkan ada kesan, Golkar yang membangun Indonesia, tetapi Golkar pula yang mengancurkan Indonesia.

Gerakan anti-Golkar sudah mulai di Jawa Timur, tak lama setelah gagasan Gus Dur itu disiarkan oleh media. Beruntung kader Golkar pada saat itu – yang juga menjabat Ketua Umum DPP, Ir. Akbar Tanjung cepat bertindak. Dalam arti cepat mengambil langkah-langkah pencegahan, jangan sampai pemikiran Gus Dur menjadi sebuah kenyataan.

Selain itu parpol-parpol lainnya yang bisa disebut sebagai parpol “main-stream”, juga kurang peka. Sehingga gagasan Gus Dur itu seperti gayung tak bersambut. Seandainya Partai Golkar dibubarkan – sebutlah 15 tahun lalu, sejarah Indonesia mungkin berubah dari yang dicatat sekarang. Demikian pula jika Golkar dibubarkan pada era Gus Dur, mungkin tak akan terjadi kasus yang sekarang sangat populer “Papa Minta Saham”.

Bila saja Golkar sudah tidak ada dalam sistem kepartaian Indonesia, sidang Mahkamah Kehormatan Dewan, DPR-RI tak akan tertutup bagi publik. Soal benar atau salah yang dilakukan Mahkamah Kehormatan Dewan yang pasti timbulnya kegaduhan politik akibat “Papa Minta Saham” tak lepas dari cara Golkar berpolitik.

Terakhir dan cukup populer bahkan memakan korban yaitu penilaian Gus Dur tentang para anggota DPR-RI. Menurut Gus Dur yang waktu itu baru saja dilantik sebagai Presiden RI ke–4 (1999 – 2001), para anggota DPR sama saja dengan murid sekolah Taman Kanak-Kanak. Dan atas alasan itu pula, Gus Dur ingin membubarkan DPR-RI melalui Dekrit Presiden.

Tidak sempat mengeluarkan Dekrit, sebaliknya para anggota DPR berkonspirasi dengan anggota MPR-RI lalu melengserkan Presiden Gus Dur. Ia pun digantikan oleh Megawati Soekarnoputri, Wapresnya dari PD-P. Mungkin kalau Gus Dur sempat membubarkan parlemen, saat ini kita tidak punya parlemen yang sering di-bully, di-meme atau dilecehkan.

Kini Gus Dur sudah terbaring dengan tenang di tempat persitirahatannya yang terakhir, di kawasan Pondok Pesantren, Tebu Ireng. Selain tiga gagasan itu, masih banyak sebetulnya cerita-cerita politik yang ringan tapi berbobot yang ditinggalkannya.

Orang yang baik selalu dikenang. Itulah Gus Dur, Presiden RI yang hanya memerintah selama 1,5 tahun, tapi meninggalkan kenangan manis yang cukup banyak. Seakan Gus Dur pernah memerintah Indonesia selama 15 tahun atau tiga periode dengan berbagi cerita yang bisa membuat orang terkekeh-kekeh.

Gitu aja koq repot, sebuah celetukan populer dari almarhum.

Oleh: Derek Manangka./muslimedianews.com


close
Banner iklan disini