Cerita kocak paspampres ketika terpisah dari rombongan RI-1( Gus Dur )

GusDurFiles.com ~ Kisah kocak tentang Gus Dur memang tidak ada akhirnya. Sebenarnya, saya sudah banyak mendengar cerita keunikan almaruhum Abdurrahman Wahid semasa hidup. Selain dari buku, tentu saja hal unik itu didapatkan dari orang dekatnya ketika mengikuti acara haul, seperti Mahfud MD, Luhut Panjaitan, dan Said Aqil Siradj.

Namun, saya benar-benar terkejut ketika mendapat penuturan dari mantan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspamres), Mayjen (Purn) I Putu Sastra Wingarta. Meski menyandang jabatan prestisius, Putu memelesetkannya menjadi Komandan Pasukan Penuntun Presiden (Danpastunpres).

Dia tidak asal sebut. Pasalnya, dalam kesehari-hariannya, ia bertugas untuk menuntun Gus Dur. Dia juga menjadi orang pertama yang selalu menggandeng Universitas Baghdad ini ketika turun dari mobil. Pun ketika naik tangga maupun turun tangga, harus dilakukan secara hati-hati.

“Ada teknik khusus saat saya menjulurkan tangan untuk menuntun Gus Dur. Di lingkungan Istana, inilah mengapa saya dijuluki sebagai Danpastunpres,” katanya pada akhir Januari lalu.

Putu bertutur tentang pengalamannya paling menegangkan selama mengawal Presiden yang memiliki usia pemerintahan setahun sembilan bulan ini. Kisah itu sangat sedikit yang mengetahuinya lantaran pada masanya bersifat top secret. Hanya segelintir orang dekat dan lingkaran Istana Negara saja yang mengetahuinya.

Kejadiannya bermula ketika Gus Dur baru melakukan kunjungan ke Timur Tengah. Ketika sampai bandara di Dubai, Uni Emirat Arab, rombongan Presiden keempat RI dijadwalkan meluncur ke Hotel Horizontal. Namun, dalam perjalanan terjadi hal yang tidak pernah terduga.

Iring-iringan RI-1 yang terdiri lima mobil terpisah menjadi dua. Mobil pertama (pengawal depan) dan kedua yang dihuni Gus Dur terus meluncur. Adapun, mobil ketiga yang ditumpangi Putu dan keempat dihuni sekretaris militer Presiden, serta mobil terakhir yang berisi pengawal belakang mengambil arah satunya. Kagetlah Putu.

Pengajar Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) ini langsung berdebat panjang lebar dengan sang sopir. Sialnya, usahanya sia-sia. Itu karena ia tidak bisa berbahasa Arab. Pun sebaliknya, sang sopir tidak mengerti bahasa Inggris.

Putu dengan nada tinggi menyuruh pengemudi untuk berbalik arah mengikuti rangkaian di depannya. Sayangnya, perdebatan yang menguras emosi itu tidak menemukan solusi. Yang Putu tangkap, pengemudi merasa benar lantaran mobil sedang menuju ke Hotel Horizontal.

Putu hampir lepas kendali mau memukul orang Arab itu. Di tengah kepanikan lantaran tidak bisa menghubungi Gus Dur, Putu seketika mengontak Panglima TNI Laksamana (Purn) Widodo AS. Danpaspampres pertama dari Bali ini harus melaporkan kejadian genting itu ke atasannya untuk meminta arahan.

“Mengapa bisa terjadi seperti itu?” kata Putu menirukan ucapan Panglima TNI yang merasa janggal bagaimana Paspampres dapat terpisah dengan RI-1. Singkat cerita, setelah menjelaskan kronologis dan melakukan koordinasi dengan atasan militernya itu, Putu tetap melanjutkan perjalanan sesuai jadwal semula.

Hati Putu terus berdebar-debar selama menunggu di lobi hotel. Ternyata, baru diketahui bahwa Gus Dur secara mendadak di tengah perjalanan meminta diantar ke Hotel InterContinental. Pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini terbersit ingin menemui Menteri Luar Negeri Alwi Shihab yang tengah berada di situ untuk bercengkerama.

Sejam berpisah, rombongan Gus Dur tiba di Hotel Horizontal. Putu membuka pintu mobil dan meraih tangan Gus Dur sambil meminta maaf. Dia mengaku lalai dalam bertugas dan siap hukum. Putu menjelaskan detail kronologis kepada bosnya hingga rombongan terpisah di tengah jalan.

Menurut dia, nama hotel yang memiliki akhiran yang sama, yakni ‘Tal’ membuat antarsopir salah koordinasi. Meski sang sopir yang membawa rombongan Putu sudah dijelaskan dan diperintahkan untuk menyusul Gus Dur, pengemudi masih keukeuh bahwa ia sudah benar. Bagaimana respon Bapak Tionghoa Indonesia ini?

“Beliau hanya tertawa saja, haaaa,” kata Putu menirukan Gus Dur. “Yaa, begitulah memang orang Arab,” imbuhnya. Putu menjadi lega tidak terkena damprat atas kesalahan yang sangat fatal itu. Mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini malah menerangkan kepada Putu tentang kharakter orang Arab hingga membuatnya mafhum.

Dalam hati, alumnus doktor Universitas Gadjah Mada tersebut berjanji tidak akan mengulangi keteledorannya lagi. Jikapun lain kali harus berurusan dengan orang Arab, ia tak mau berdebat dan akan menghantamnya, tidak sekadar berdebat. Dia menyesal dan tidak ingin membiarkan keamanan RI-1 di luar jangkauan Paspampres lagi.

Putu membandingkan, tugas Paspampres terasa lebih ringan ketika mendampingi Gus Dur ke Amerika Serikat (AS) daripada ke negara-negara Arab. Pasalnya, di negeri Paman Sam, setiap prosedur tetap (protap) berlaku secara ketat. Sehingga, seumpama Gus Dur di tengah jalan ingin bertemu seseorang di luar jadwal resmi, pasti tidak akan dituruti Secret Service.

Berbeda dengan aturan di Timur Tengah, berdasarkan pengalamannya, tidak ada aturan baku terkait pengamanan Presiden. Sehingga, kalau Gus Dur tiba-tiba berkehendak ingin membuat agenda, pasukan pengamanan negara setempat bisa menurutinya. “Saya merasa lebih aman mengawal Gus Dur ketika berkunjung ke Amerika,” kata Putu.

Satu kelakar yang bisa didapat Putu dari Doktor Kehormatan Universitas Sun Moon, Seoul ini. Kegemaran Gus Dur dalam berkunjung ke berbagai belahan dunia membuat Putu hormat dan memiliki bermacam-macam pengalaman dalam memberi jaminan keamanan di berbagai negara di lima benua. Alhasil, ia memiliki julukan khusus untuk Gus Dur.

“Jika Presiden pertama Bung Karno dijuluki sebagai negarawan, Presiden kedua Pak Harto dijuluki hartawan, dan Presiden ketiga Pak BJ Habibie dijuluki sebagai ilmuwan, maka semasa Gus Dur menjadi Presiden dijuluki sebagai wisatawan,” kata Putu.

Penulis : Erik Purnama Putra Pemilik Blog elangkesepian.wordpress.com
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Cerita kocak paspampres ketika terpisah dari rombongan RI-1( Gus Dur )"

Post a Comment

close
Banner iklan disini