Dukungan dan Penolakan Din Syamsuddin/Muhammadiyah Terhadap Hari Santri Nasional

Dukungan dan Penolakan Din Syamsuddin/Muhammadiyah Terhadap Hari Santri Nasional


GusDurFiles.com ~ Surat Penolakan Prof Din Syamsuddin Terhadap Hari Santri Nasional

Prof. Dr. KH. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA, atau yang dikenal dengan nama Din Syamsuddin pada 16 Oktober 2015 melayangkan sebuah surat kepada Presiden RI Joko Widodo yang intinya menolak adanya penetapan Hari Santri Nasional. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menyatakan Hari Santri Nasional dapat mengganggu persatuan bangsa dan memecah belah umat Islam karena dapat mendorong menguatnya kaum abangan. Dikhawatirkan ini akan memunculkan lagi dikotomi Islamisme-Nasionalisme yang sudah mulai mencair.

Terkait Hari Santri yang ditetapkan pada tanggal 22 Oktober, Din Syamsuddin juga berpandangan itu akan menyempitkan makna jihad yang dilakukan para pahlawan baik sebelum maupun sesudah era kemerdekaan. Bahkan dikatakan jika Hari Santri dikaitkan dengan Resolusi Jihad 22 Oktober dapat menjadi pemghambat upaya jihad selama ini ke arah yang lebih luas.

Kalaupun terpaksa diadakan Hari Santri, Din Syamsuddin meminta agar dicarikan tanggal yang lain dan Hari Santri dengan inti kesantrian dapat dikaitkan denagn Pancasila, khususnya Sila Pertama. Dalam hal ini, kesantrian adalah buah pengamalam Ketuhanan Yang Maha Esa.

Berikut adalah isi surat Din Syamsuddin yang dikutip dari situs resmi PP Muhammadiyah yang dipublikasikan pada 17 Oktober 2015:

Yth: Bapak Presiden Jokowi

Sehubungan berita bahwa pada 22 Okt 2015 Pemerintah akan nyatakan sebagai Hari Santri Nasional,
izinkan saya menyampaikan hal-hal berikut:


  1. Adalah tidak tepat, taktis dan strategis adanya Hari Santri Nasional, karena hal itu dapat mengganggu persatuan bangsa. Dikotomi Santri-Abangan adalah upaya intelektual orang luar untuk memecahbelah umat Islam dengan mengukuhkan gejala budaya yang sesungguhnya bisa berubah (process of becoming) tersebut.
  2. Sejak beberapa waktu lalu Alm. Bapak Taufik Kiemas, yang kami dukung, berupaya untuk mencairkan dikotomi tersebut, termasuk mencairkan dikotomi Islamisme-Nasionalisme. Salah satu pengejawantahannya adalah didirikannya Bamusi di lingkungan PDIP. Adanya Hari Santri Nasional berpotensi mengganggu upaya luhur tadi. Menguatnya “Kaum Santri” bisa mendorong menguatnya “Kaum Abangan”. Tentu Pemerintah akan kerepotan jika ada desakan utk adanya Hari Abangan Nasional.
  3. Apalagi Hari Santri Nasional dikaitkan dengan tanggal dan peristiwa tertentu (Resolusi Jihad 22 Okt), adalah penyempitan/reduksi jihad para pahlawan yang sudah dimulai ber-abad2 sebelumnya termasuk sebelum kemerdekaan yang lebih bersifat luas, bukan dikaitkan dengan kelompok tertentu. Juga, penekanan pada resolusi jihad yang lebih berona fisikal/harbi menjadi pemghambat upaya jihad selama ini ke arah lebih luas (jihad iqtishadi/ekonomi, jihad ‘ilmi/iptek, jihad i’lami/informasi).
  4. Hari Nasional (kecuali hari-hari besar keagamaan), haruslah menjadi hari bagi semua elemen bangsa. Maka kalau terpaksa harus ada Hari Santri (karena fait-a-compli politik pada saat Pilpres), mungkin bisa dicari tanggal lain, dan Hari Santri dengan inti kesantrian bisa dikaitkan dengan Pancasila, khususnya Sila Pertama. Dalam hal ini, kesantrian adalah buah pengamalam Ketuhanan Yang Maha Esa.

Terima kasih. Salam takzim,
Din Syamsuddin.

Kabar bahwa PP Muhammadiyah menolak #HariSantri22Oktober membuat masyarakat khususnya umat Islam bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Apalagi aksi penolakan ini terjadi sehari setelah dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan Hari Santri Nasional 22 Oktober, yang ditandatangani oleh Presiden Jokowi pada Kamis, 15 Oktober 2015.

“Secara khusus saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan bahwa Presiden melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 telah menetapkan Hari Santri yaitu pada tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri, dan Hari Santri bukan merupakan hari libur. Sehingga sekali lagi kami sampaikan dengan keputusan maka tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri dan hari santri bukan merupakan hari libur,” kata Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung dalam keterangan pers seusai rapat terbatas yang membahas masalah pariwisata, di kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis (15/10) sore sebagaimna dilansir dari situs Sekretaris Kabinet RI.

Pertanyaannya, kenapa baru sekarang menolak, tidak sejak dari awal dicanangkan?

Sejarah Awal Pencanangan Hari Santri Nasional

Pencanangan Hari Santri Nasional merupakan salah satu janji Jokowi yang saat itu menjadi calon presiden (capres) pada pemilihan presiden (pilpres) 2014. Sejarah penetapan Hari Santri Nasional diawali atas permintaan Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Babussalam Banjarejo, Malang, Jawa Timur, KH Thoriq Darwis kepada capres Jokowi yang sedang berkunjung ke ponpes tersebut pada Jum’at, 27 Juni 2014. Jokowi pun berjanji untuk memperjuangkannya. Kunjungan Jokowi saat itu diakhiri dengan penandatanganan surat perjanjian penyanggupan penetapan Hari Santri Nasional pada 1 Muharram yang disaksikan oleh Tim Kampanye Jokowi dan segenap jajaran kyai dan ulama Ponpes Babussalam.

“Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirahim, dengan ini saya mendukung 1 Muharram ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional,” janji Jokowi pada Jumat (27/6/2015).

Dalam ajaran Islam dan mungkin semua agama di dunia, seseorang yang telah berjanji maka ia harus berusaha dan bekerja keras untuk bisa menepatinya. Begitu pun dengan Presiden Jokowi saat ini yang ingin menepati janjinya yang dulu pernah diucapkannya dulu terkait Hari Santri. Kita pun masih ingat dengan jelas sekitar setahun yang lalu (2014) setelah terpilihnya Jokowi sebagai Presiden RI ke-7, bagaimana masyarakat Indonesia khususnya umat Islam menagih janji Hari Santri. Hanya saja penetapan Hari Santri yang rencananya dilakukan pada 1 Muharram diminta untuk diganti menjadi 22 Oktober karena 1 Muharram merupakan Tahun Baru Hijriah yang mempunyai makna lebih luas ketimbang Hari Santri.

Salah satu tokoh nasional dan panutan ummat yang bersuara lantang meminta Jokowi untuk merealisasikan janjinya menetapkan Hari Santri adalah Prof. Din Syamsuddin sendiri. Beliau yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah seklaigus Ketua Umum MUI Pusat mendukung dengan tegas adanya Hari Santri Nasional yang dinilai sebagai langkah yang bagus.

“Saya mendukung saja rencana pencanangan Hari Santri, itu adalah langkah yang bagus…. Hari Santri Nasional adalah komitmen pemerintah, oleh karena itu kami berharap janji yang dulu pernah ditawarkan pada kampanye pilpres,” kata Din Syamsuddin di Jakarta, Sabtu (25/10/2014).

Sehari setelah menyatakan dukungan dan menagih janji Hari Santri, Din Syamsuddin juga menyatakan bahwa Hari Santri adalah baik dan mempersilahkan untuk diadakan. Hal ini diungkapkan Din Syamsuddin di sela-sela acara Peringatan Akbar Tahun Baru Islam 1436 H di Gelora Bung Karno Jakarta pada 26 Oktober 2014. Beliau pun menyerahkan keputusan terkait Hari Santri ini sepenuhnya kepada Presiden Jokowi dan saat itu beliau juga memaklumi Presiden yang belum bisa memutuskan adanya penetapan Hari Santri karena memang pemerintahannya saja belum terbentuk. Menurut Din Syamsuddin harus ada Keppres Hari Santri terlebih dahulu.

“Hari santri itu baik, tapi jangan dikaitkan dengan 1 Muharram… Hari santri silakan diadakan, cari hari-hari lain, saya tidak tahu mana yang tepat, biarlah nanti pemerintah memutuskan. 1 Muharram ini hari kita semua, umat Islam sedunia, jangan dipersempit jadi hari kelompok tertentu atau hari santri saja, tapi hari santri karena sudah menjadi janji kampanye, silakan dilaksanakan. Hari santri itu adalah usul aspirasi pada saat kampanye Pilpres, maka kita serahkan pada presiden. Cuma tidak harus sekarang, enggak mungkin presiden pemerintahannya belum terbentuk, kemudian harus ada Kepres Hari Santri,” ungkap Din Syamsuddin di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (26/10/2014).

Tentu menimbulkan tanda tanya ketika dulu mendukung dan meminta Presiden Jokowi untuk menetapkan Hari Santri, tiba-tiba setelah Jokowi memenuhi janjinya dan telah menetapkan Hari Santri kok menjadi yang terdepan menolaknya?. Apalagi ini terkait janji yang mana sebisa mungkin harus ditepati. Aneh saja ketika seseorang sudah menepati janjinya justru “disuruh mengingkari” janji itu. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu sampai-sampai apa yang diucapkannya setahun yang lalu dan sekarang berbeda dan sangat bertolak belakang? Mungkinkah ia lupa atau ada motif-motif tertentu yang melatarbelakanginya? Kita ketahui bersama bahwa tokoh-tokoh dan para pemimpin Muhammadiyah adalah panutan ummat yang menjadi teladan bagi masyarakat Indonesia. Jika ada persetujuan atau pun penolakan Hari Santri tentu akan mempengaruhi masyarakat khususnya umat Islam Indonesia.

Ponpes dan Ormas Islam Termasuk Muhammadiyah Sepakat Hari Santri Nasional pada 22 Oktober

Ketahuilah Hari Santri adalah milik kita bersama, milik masyarakat Indonesia, milik umat Islam Indonesia termasuk Muhamamdiyah dan Nahdlatul Ulama dan ormas-ormas Islam lainnya. Kita hargai keputusan PP Muhammadiyah yang baru-baru ini menolak penetapan Hari Santri Nasional. Yang jelas penetapan ini bukan dimaksudkan untuk menimbulkan polarisasi santri dan non-santri, bukan untuk menguatkan perbedaan antara kaum santri dan abangan, dan bukan pula untuk memecah belah persatuan bangsa dan ukhuwah umat Islam. Tapi Hari Santri Nasional ditetapkan salah satunya bertujuan agar pemerintah lebih memberikan perhatian lebih kepada para santri dan pondok pesantren, mengingatkan negara untuk peduli terhadap pengembangan pendidikan pesantren dan santri, meneguhkan kontribusi santri dan pesantren di Indonesia yang memang layak mendapatkan apresiasi monumental dari bangsa, sehingga diharapkan nantinya masyarakat dan pemerintah bisa bersama-sama saling mendukung dan membangun Indonesia yang lebih baik melalui santri dan pesantren yang telah banyak berjasa terhadap agama, bangsa, dan negara.

Dan perlu diketahui juga sejak awal proses penetapan hari santri, berbagai ormas Islam termasuk Muhammadiyah selalu diikutsertakan. Bahkan pada saat Focus Group Discussion (FGD) pada April 2015 di Bogor yang dihadiri Sekretaris Umum PP Muhammadiyah era kepemimpinan Din Syamsuddin, Muhammadiyah mengaku sangat menghargai soal penetapan hari santri dan tidak mempermaslahkannya. Hanya saja, Muhammadiyah mengusulkan agar tidak ada kepentingan politik dalam proses penetapan hari santri. Dan meminta agar definisi terminologi santri diperluas. Dan usulan Muhammadiyah ini sudah dipenuhi dan diakomodir.

Acara pertemuan FGD ini sendiri diikuti oleh 90 orang perwakilan yang terdiri dari berbagai unsur Pimpinan Lembaga Keagamaan dan Pesantren, dan Ormas Islam seperti PBNU, PP Muhammadiyah, MUI, Al Washliyah, PUI, Mathlaul Anwar, Forum Komunikasi Dai Muda Indonesia, dan lain sebagainya serta para akademisi. Dalam FGD itu, semuanya sepakat menetapkan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober. Kesepakatan ini kemudian diperkuat lagi dalam pertemuan FGD berikutnya pada Agustus 2015 di Bogor. Dan kini pemerintah melalui Keppres juga telah menetapkan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober. Jadi, penetapan Hari Santri Nasional ini telah melalui beberapa proses yang cukup panjang dan telah disepakati bersama sehingga tidak ada keraguan lagi untuk menolak dan tidak mendukungnya. Mari bersama-sama kita dukung #HariSantriNasional #HariSantri22Oktober dan #AyoMondok.

SELAMAT DAN SUKSES ATAS PENETAPAN HARI SANTRI NASIONAL PADA 22 OKTOBER WWW.HARISANTRI.ID

Sumber : elhooda.net
Berikut Pernyataan Jaringan Gusdurian terhadap aksi kekerasan di aceh singkil

Berikut Pernyataan Jaringan Gusdurian terhadap aksi kekerasan di aceh singkil


GusDurFIles.com ~ Tanggal 13 Oktober 2015 kembali terjadi peristiwa berdarah yang menodai persatuan, perdamaian, dan toleransi yang selama ini telah dengan keras diperjuangkan. Peristiwa kekerasan ini terjadi di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh. Ratusan orang bersenjata tajam mengamuk dan menyerang sejumlah gereja.

Terjadi bentrokan dan setidaknya dua buah gereja dibakar oleh massa. Sebelumnya, beredar seruan gelap melalui teks pesan pendek yang menyerukan permusuhan kepada gereja di Aceh Singkil. Selain rusaknya tempat ibadah, korban dari kedua belah pihak yang bertikai pun berjatuhan. Sejumlah orang mengalami luka-luka, dan terdapat korban jiwa akibat terkena tembakan. Salah seorang yang menjadi korban tewas adalah seorang warga muslim.

Kekerasan ini, sekali lagi, menambah catatan aksi intoleransi, pelanggaran hak warga negara yang dijamin konstitusi yakni hak untuk menjalankan ibadah, termasuk hak untuk mendirikan tempat ibadah, di negeri ini. Aksi kekerasan yang melibatkan banyak orang ini juga menandai bahwa dalam isu-isu kegamaan, kekerasan masih menjadi bahasa utama. Kekerasan ini juga menunjukkan masih terlalu banyak kebencian dan ketidakmampuan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Berkaitan dengan peristiwa menyedihkan tersebut, Jaringan GUSDURian Indonesia menyatakan:


  1. Mengutuk dan mengecam keras tindakan kekerasan yang dilakukan sekolompok orang yang mengancam, merusak, dan membakar gereja di Aceh Singkil, Aceh.
  2. Meminta aparat untuk melindungi hak beribadah semua warga negara, termasuk kelompok lemah dan minoritas, sesuai dengan amanat konstitusi, sekaligus mencegah terjadinya konflik horisontal.
  3. Meminta kepada aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas, mengadili pelaku,  dan mengungkap dan menangkap para aktor yang merencanakan aksi kekerasan ini.
  4. Menghimbau kepada semua pihak untuk menjaga diri, menjaga toleransi, dan tidak terpancing untuk melakukan kekerasan dan bentrokan selanjutnya yang akan mengakibatkan perpecahan, kekacauan, kerusuhan, dan konflik horisontal yang merugikan masyarakat. Semua pihak perlu untuk selalu mendorong perdamaian dan  mengedepankan dialog agar setiap konflik tidak berujung pada kekerasan.
  5. Meminta kepada semua pihak untuk mengedepankan nilai keadilan dan kedamaian, agar bisa bersikap adil kepada orang lain dan tidak mementingkan kepetingan diri atau kelompoknya saja.
  6. Meminta agar semua peraturan tentang pendirian tempat ibadah yang diskriminatif di seluruh Indonesia untuk ditinjau ulang.

Alissa Wahid

 

Seknas Jaringan Gusdurian

Sumber : Gusdurian.net
Cerita kocak paspampres ketika terpisah dari rombongan RI-1( Gus Dur )

Cerita kocak paspampres ketika terpisah dari rombongan RI-1( Gus Dur )

GusDurFiles.com ~ Kisah kocak tentang Gus Dur memang tidak ada akhirnya. Sebenarnya, saya sudah banyak mendengar cerita keunikan almaruhum Abdurrahman Wahid semasa hidup. Selain dari buku, tentu saja hal unik itu didapatkan dari orang dekatnya ketika mengikuti acara haul, seperti Mahfud MD, Luhut Panjaitan, dan Said Aqil Siradj.

Namun, saya benar-benar terkejut ketika mendapat penuturan dari mantan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspamres), Mayjen (Purn) I Putu Sastra Wingarta. Meski menyandang jabatan prestisius, Putu memelesetkannya menjadi Komandan Pasukan Penuntun Presiden (Danpastunpres).

Dia tidak asal sebut. Pasalnya, dalam kesehari-hariannya, ia bertugas untuk menuntun Gus Dur. Dia juga menjadi orang pertama yang selalu menggandeng Universitas Baghdad ini ketika turun dari mobil. Pun ketika naik tangga maupun turun tangga, harus dilakukan secara hati-hati.

“Ada teknik khusus saat saya menjulurkan tangan untuk menuntun Gus Dur. Di lingkungan Istana, inilah mengapa saya dijuluki sebagai Danpastunpres,” katanya pada akhir Januari lalu.

Putu bertutur tentang pengalamannya paling menegangkan selama mengawal Presiden yang memiliki usia pemerintahan setahun sembilan bulan ini. Kisah itu sangat sedikit yang mengetahuinya lantaran pada masanya bersifat top secret. Hanya segelintir orang dekat dan lingkaran Istana Negara saja yang mengetahuinya.

Kejadiannya bermula ketika Gus Dur baru melakukan kunjungan ke Timur Tengah. Ketika sampai bandara di Dubai, Uni Emirat Arab, rombongan Presiden keempat RI dijadwalkan meluncur ke Hotel Horizontal. Namun, dalam perjalanan terjadi hal yang tidak pernah terduga.

Iring-iringan RI-1 yang terdiri lima mobil terpisah menjadi dua. Mobil pertama (pengawal depan) dan kedua yang dihuni Gus Dur terus meluncur. Adapun, mobil ketiga yang ditumpangi Putu dan keempat dihuni sekretaris militer Presiden, serta mobil terakhir yang berisi pengawal belakang mengambil arah satunya. Kagetlah Putu.

Pengajar Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) ini langsung berdebat panjang lebar dengan sang sopir. Sialnya, usahanya sia-sia. Itu karena ia tidak bisa berbahasa Arab. Pun sebaliknya, sang sopir tidak mengerti bahasa Inggris.

Putu dengan nada tinggi menyuruh pengemudi untuk berbalik arah mengikuti rangkaian di depannya. Sayangnya, perdebatan yang menguras emosi itu tidak menemukan solusi. Yang Putu tangkap, pengemudi merasa benar lantaran mobil sedang menuju ke Hotel Horizontal.

Putu hampir lepas kendali mau memukul orang Arab itu. Di tengah kepanikan lantaran tidak bisa menghubungi Gus Dur, Putu seketika mengontak Panglima TNI Laksamana (Purn) Widodo AS. Danpaspampres pertama dari Bali ini harus melaporkan kejadian genting itu ke atasannya untuk meminta arahan.

“Mengapa bisa terjadi seperti itu?” kata Putu menirukan ucapan Panglima TNI yang merasa janggal bagaimana Paspampres dapat terpisah dengan RI-1. Singkat cerita, setelah menjelaskan kronologis dan melakukan koordinasi dengan atasan militernya itu, Putu tetap melanjutkan perjalanan sesuai jadwal semula.

Hati Putu terus berdebar-debar selama menunggu di lobi hotel. Ternyata, baru diketahui bahwa Gus Dur secara mendadak di tengah perjalanan meminta diantar ke Hotel InterContinental. Pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini terbersit ingin menemui Menteri Luar Negeri Alwi Shihab yang tengah berada di situ untuk bercengkerama.

Sejam berpisah, rombongan Gus Dur tiba di Hotel Horizontal. Putu membuka pintu mobil dan meraih tangan Gus Dur sambil meminta maaf. Dia mengaku lalai dalam bertugas dan siap hukum. Putu menjelaskan detail kronologis kepada bosnya hingga rombongan terpisah di tengah jalan.

Menurut dia, nama hotel yang memiliki akhiran yang sama, yakni ‘Tal’ membuat antarsopir salah koordinasi. Meski sang sopir yang membawa rombongan Putu sudah dijelaskan dan diperintahkan untuk menyusul Gus Dur, pengemudi masih keukeuh bahwa ia sudah benar. Bagaimana respon Bapak Tionghoa Indonesia ini?

“Beliau hanya tertawa saja, haaaa,” kata Putu menirukan Gus Dur. “Yaa, begitulah memang orang Arab,” imbuhnya. Putu menjadi lega tidak terkena damprat atas kesalahan yang sangat fatal itu. Mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini malah menerangkan kepada Putu tentang kharakter orang Arab hingga membuatnya mafhum.

Dalam hati, alumnus doktor Universitas Gadjah Mada tersebut berjanji tidak akan mengulangi keteledorannya lagi. Jikapun lain kali harus berurusan dengan orang Arab, ia tak mau berdebat dan akan menghantamnya, tidak sekadar berdebat. Dia menyesal dan tidak ingin membiarkan keamanan RI-1 di luar jangkauan Paspampres lagi.

Putu membandingkan, tugas Paspampres terasa lebih ringan ketika mendampingi Gus Dur ke Amerika Serikat (AS) daripada ke negara-negara Arab. Pasalnya, di negeri Paman Sam, setiap prosedur tetap (protap) berlaku secara ketat. Sehingga, seumpama Gus Dur di tengah jalan ingin bertemu seseorang di luar jadwal resmi, pasti tidak akan dituruti Secret Service.

Berbeda dengan aturan di Timur Tengah, berdasarkan pengalamannya, tidak ada aturan baku terkait pengamanan Presiden. Sehingga, kalau Gus Dur tiba-tiba berkehendak ingin membuat agenda, pasukan pengamanan negara setempat bisa menurutinya. “Saya merasa lebih aman mengawal Gus Dur ketika berkunjung ke Amerika,” kata Putu.

Satu kelakar yang bisa didapat Putu dari Doktor Kehormatan Universitas Sun Moon, Seoul ini. Kegemaran Gus Dur dalam berkunjung ke berbagai belahan dunia membuat Putu hormat dan memiliki bermacam-macam pengalaman dalam memberi jaminan keamanan di berbagai negara di lima benua. Alhasil, ia memiliki julukan khusus untuk Gus Dur.

“Jika Presiden pertama Bung Karno dijuluki sebagai negarawan, Presiden kedua Pak Harto dijuluki hartawan, dan Presiden ketiga Pak BJ Habibie dijuluki sebagai ilmuwan, maka semasa Gus Dur menjadi Presiden dijuluki sebagai wisatawan,” kata Putu.

Penulis : Erik Purnama Putra Pemilik Blog elangkesepian.wordpress.com
Dengan mata "Tertutup" Gus Dur masih bisa melihat

Dengan mata "Tertutup" Gus Dur masih bisa melihat


GusDurFiles.com ~ Diantara tempat yang sering dikunjungi oleh Alm KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)  adalah Pesantren Asy-Syafi’iiyah Kedungwungu, Kec. Krangkeng Indramayu Jawa Barat, minimal dalam setahun dua kali Gus Dur berkunjung di pesantren yang terletak di pinggiran sungai/irigasi desa itu.

Tepat beberapa hari Gus Dur lengser dari kursi kepresidenan Gus Dur berkenan mengunjungi pesantren asuhan KH Afandi Abdul Muin Syafi’i itu.

Dalam kondisi –baru lengser itu- tentunya  Gus Dur sedang menjadi perhatian publik, panitia berinisiatif membuat panggung pengajian yang diletakkan di tepi sungai di depan pesantren itu, -karena halaman pesantren kurang luas-, dengan posisi panggung menghadap sungai, sehingga hadirin diposisikan di sepanjang jalan yang berdampingan dengan sungai. Saat itu Nasrulloh Afandi, salah satu santri di pesantren tersebut ikut jadi panitia.

Di hari H, sebelum Gus Dur tiba di lokasi, puluhan ribu hadirin berdatangan,dari berbagai pelosok Kabupaten Indramayu,Cirebon dan sekitarnya, dengan aneka latar belakangnya. Termasuk saat itu Wakil Bupati Indramayu yang terlambat datang pun harus rela masuk lokasi melalui pematang sawah, lewat pintu belakang dapur pesantren karena jalan depan jadi lautan manusia.

Saat berbicara di atas panggung, tiba-tiba Gus Dur bilang ”Ini baru pertama kali saya ceramah di tepi sungai, jadi terasa sejuk, melebihi AC, ya maklum desa tempat membuang jin, jauh dari kota he he.. he…” sambil tertawa terkekeh-kekeh khas Gus Dur.

Tentu saja orang yang mendengar terheran-heran, darimana Gus Dur tahu kalau panggung itu di tepi kali. Padahal tidak ada yang ngasih tahu sebelumnya.

Ditengah-tengah orasinya, Gus Dur bilang ”Indramayu ini punya PT Pertamina dengan sumber daya besar, itu tidak jauh dari sini, tetapi masyaraktnya belum makmur, ini sebagai bahan evalusai pemerintah daerah,” tandas Gus Dur, dengan jari telunjuk tangan kiri ke arah lokasi dimana PT Pertamina Balongan berada, identiknya orang yang melihat dengan normal dan memahami lokasi daerah tersebut.

Setelah cukup lama berorasi tiba-tiba Gus Dur pun melihat jam tangan yang berada di pergelangan tangannnya (lihatlah foto-foto Gus Dur, ke mana-mana Ia selalu memakai jam tangan,red)

Sambil melihat jam tangan, tanpa ada yang mengasih tau, kemudian Ia bilang: “Ini sudah pukul empat sore, saya harus ke tempat Kiai Fuad Hasyim Buntet (Cirebon, red). Padahal jadwal semula saya mau ke Buntet dulu, terus ke Kedungwungu, tetapi berubah, ke Kedungwungu duluan, nah itu kiai Fuad-nya sudah jemput saya, sambil menunjuk ke arah alm KH Fuad Hasyim yang berada di bawah di samping panggung,” tandas Gus Dur, waktu yang dikatakannya pun betul, identiknya orang yang melihat jam secara normal saat itu.

Alhasil, Gus Dur matanya“tertutup” sebagaimana disaksikan oleh orang banyak, tetapi sejatinya Ia bisa melihat. wallahu a’lam. (mukafi niam, NU Online)
Ketika mobil Gus Dur dibuntuti dan dihentikan polisi

Ketika mobil Gus Dur dibuntuti dan dihentikan polisi

GusDurFiles.com ~ Suatu hari, Gus Dur mendapat undangan menjadi pembicara di luar kota. Dari rumah Ciganjur, Gus Dur menaiki mobil pribadinya yang dikemudikan Nurudin Hidayat. 

Tidak seperti biasanya, kali ini Gus Dur tanpa pengawalan mobil pratoli. Agar cepat sampai lokasi acara, Nuruddin pun menyetir dengan kecepatan tinggi. Tak peduli jalanan ramai, banyak lalu lalang kendaraan lainnya.

Baru berjalan puluhan kilo meter di tengah kota, mobil Gus Dur dibuntuti mobil polisi. Lewat microfon, polisi berteriak meminta mobil Gus Dur menepi di pinggir jalan.

"Selamat siang Pak," kata seorang polisi yang turun dari mobilnya.

"Siang juga," jawab Nuruddin seraya membuka kaca pintu mobilnya.

"Bapak mengemudi dengan kecepatan tinggi, sangat membahayakan," sahut polisi yang dibalas anggukan Nuruddin.

 Setelah beberapa pertanyaan diajukan, tiba-tiba polisi tadi bengong.

"Itu Pak Gus Dur, ya?” Tanya polisi sambil melihat Gus Dur tengah duduk tertidur di sebelah Nuruddin.

"Iya pak."

Tanpa menanyai kesalahan Nuruddin yang mengemudi dengan kecepatan tinggi tadi, polisi mempersilahkan Nuruddin melanjutkan perjalanan lagi. Sudah lolos, polisi malah meminta izin untuk mengawal perjalanan Gus Dur sampai ke lokasi.

Saat Gus Dur bangun, ia bertanya perihal kejadian tersebut.  Nuruddin pun menjelaskan kepada Gus Dur panjang lebar hingga polisi mengawalnya. "Oooo. Belum tahu dia (polisi)," kata Gus Dur sambil tertawa ngakak. (Qomarul Adib, NU Online)


Gus Dur "Berikan Uangmu Pada Pengemis Itu, Allah Segera Mengganti"

Gus Dur "Berikan Uangmu Pada Pengemis Itu, Allah Segera Mengganti"

Ilustrasi.
GusDurFiles.com ~ Pada suatu pagi, Gus Dur -masih menjabat sebagai ketua PBNU- berziarah ke makam Sunan Ampel bersama dengan Asmanu -wartawan yang telah akrab-. Ketika memasuki kawasan makam, tiba-tiba datang seorang pengemis yang meminta-minta. Gus Dur mengecek kantong bajunya, tetapi ia tidak menemukan selembar uang -sebelumnya Gus Dur telah memasukkan uangnya ke dalam salah satu kotak amal yang tersedia-.

Gus Dur pun menyuruh Asmanu untuk memberikan uangnya pada pengemis itu, “As, kasih pengemis itu”, perintah Gus Dur, Asmanu berkata, “Cuma tinggal 5 ribu Gus, nanti kalo perlu apa-apa”, Gus Dur menimpali, “masih untung kamu punya 5 ribu, pengemis itu tidak punya apa-apa”. Walhasil, karena perintah Gus Dur dengan agak berat hati ia memberikan uang 5 ribunya kepada si pengemis.

Setelah selesai menemani Gus Dur Asmanu pun pulang dengan kantong kosong. Sore harinya, ia bertemu dengan kawan lamanya -pegurus persatuan Tionghoa Indonesia- yang telah bertahun-tahun tidak pernah bertemu. Mereka pun asyik berbincang tentang kisah-kisah pertemanan masa lalunya.

Tanpa diduga ketika berpisah, teman lamanya memberinya uang 500 ribu. Ia pun menerimanya dengan senang hati, tetapi ia berfikir kenapa ia memberinya uang, kebaikan apa yang pernah dilakukannya kepada temannya itu.

Namun, pikirannya malah tertuju pada uang 5 ribu yang diberikannya pada pengemis pagi tadi di makam Sunan Ampel. Belum genap sehari, Allah telah membalas sedekahnya, Alhamdulillah.

Sumber : embunhati.com
Ketika Akan Tsunami, Gus Dur Sudah Tahu

Ketika Akan Tsunami, Gus Dur Sudah Tahu


GusDurFiles.com ~ Pada saat H. Sulaiman berada di dalam Majid Agung Demak, ia mendapatkan telephon dari Gus Dur yang tiba-tiba menyuruhnya membuka Al-Qur’an. Gus Dur hanya menyuruhnya membuka Al-Qur’an dengan tanpa menyebutkan surat apa dan ayat berapa. Dan yang dibuka oleh H. sulaiman saat itu adalah surat Nuh yang berisi tentang kisah banjir besar yang menghabiskan umat nabi Nuh yang ingkar padanya.

H. Sulaiman pun bertanya kepada Gus Dur tentang makna itu, Gus Dur menjawab, “akan ada bencana besar yang akan menimpa Indonesia”. Gus Dur tidak menyebutkan secara detail bencana apa, kapan, dan dimana peristiwa itu akan teradi. H. Sulaiman hanya diam.

Kira-kira seminggu setelah itu -26 Desember 2004- bencana besar benar-benar terjadi. Tsunami yang dahsyat luar biasa menghancurkan pulau Aceh. Ratusan ribu orang meninggal dunia, sementara ratusan ribu lainnya yang selamat kehilangan keluarga dan harta benda. Indonesia dan beberapa negara yang terkena dampak tsunami diliputi duka yang mendalam. Bantuan pun datang dari segala penjuru dunia.

Setelah kejadian itu, H. Sulaiman kembali mendiskusikannya dengan Gus Dur. Gus Dur mengatakan bahwa ini adalah peringatan besar bagi bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Aceh.

Apabila kita renungkan, perkataan Gus Dur memang benar. Di Aceh, telah bertahun-tahun terjadi konflik antar saudara. Ada sekelompok orang yang membuat gerakan separatis, ingin memisahkan diri dari NKRI hingga menyebabkan ribuan korban berjatuhan.

Upaya perdamaian telah berkali-kali ditempuh, namun kesepakatan belum juga tercapai. Dan setelah terjadinya tsunami, alhamdulillah perdamaian bisa terwujud hingga saat ini. Semoga perdamaian Bangsa Indonesia tetap terjalin selamanya. Amiin.

Sumber : Embunhati.com
Ketika ustadz disuruh menyembuhkan anjing sakit di papua

Ketika ustadz disuruh menyembuhkan anjing sakit di papua

Gambar hanya ilustrasi belaka >> Sumber : Google.com

GusDurFiles.com ~ Jacobus, anak papua berusia 10 tahun suatu hari berlari2 menemui ust. Abdu L Wahab , orang Jawa yg lama berdakwah dipapua .

Jacobus meminta ust. Abdu L wahab untuk mengobati anjingnya yang sekarat. Kang Abdu tersenyum dan  mengiyakan. Mereka berdua menuju rumah Jacobus.

Melihat anjing tsb sekarat, kang Ust. Abdu yang asli Tegal itu menempelkan telapak tangannya ke jidat anjing dan berkata dlm bahasa Tegal :

"Su, Asu (jing, anjing), angger kowen arep mati ya mati (kalau kamu mau mati ya mati aja), angger arep urip ya waras (Kalau mau hidup, sembuhlah)".

Jacobus yang tidak bisa bahasa Jawa berpikir ust. Abdu menggunakan bahasa Arab. Diam2 Jacobus menghafalkan kata2 yg dia kira mantra/do'a itu. Setelah itu Ust Abdu langsung pulang.

Beberapa hari kemudian, Jacobus lari2 ke Pesantren Ust. Abdu bermaksud melaporkan kalau anjingnya sudah sembuh. Namun ternyata Ust. Abdu sedang sakit. Jacobus terkejut, dan menuju ke kamar ust. Abdu lalu menempelkan telapak tangannya ke jidatnya. Ambil membaca mantra:

"Su, asu, angger kowen arep mati ya mati, angger arep urip ya waras".

Ust. Abdu kaget dan tertawa langsung sembuh.

Sumber : FP Kongkow Bareng Gus Dur
Inilah Ijazah Dari Penyusun Simthudduror, Agar Hati Lapang serta Urusan Lancar

Inilah Ijazah Dari Penyusun Simthudduror, Agar Hati Lapang serta Urusan Lancar


GusdurFiles.com ~ Dalam Rohah Sore di kediaman Al-Qutb Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf Gresik Jatim kemarin lusa, dijelaskan bahwa guru beliau, Al-Imam Al-Qutb Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsy (Shohib Simthudduror) berpesan kepada Shohibul Haul Al-Qutb Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf Gresik Jawa Timur,

“Hendaknya engkau membaca,

(رب اشرح لي صدري و يسر لي امري )

“ROBBISYROH LII SHODRII WA YASSIRLII AMRII

setiap hari sebanyak 100x,

InsyaaAllah hatimu dan urusan duniamu dilapangkan dan dimudahkan oleh Allah SWT.”

قبــــول ياللّه …..

بحق الامام القطب الحبيب ابوبكر بن محمد السقاف..امين

Qobuul berkat wali qutub alhabib abubakar bin muhammad aseggaf..

Aamiin……

يالله بالتوفيق حتى نفيق ونلحق الفريق…

Mudah mudahan kita mendapat taufiq sehingga kita bisa di golongkan dengan orang-orang sholeh…

Aamiin…

(Na’am Qalby Ma’ak)

“Wali itu tidak membuka jalan popularitas dan juga tidak melakukan pengakuan akan kewaliannya. Bahkan kalau bisa ia akan menyembunyikannnya. Karena itu orang yang ingin terkenal dalam hal tersebut, bukanlah ia seorang ahli tariqah”
(Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah, hal. 9).

Sumber : suara-nu.com
close
Banner iklan disini