Alhamdulillah KH. Said Aqil Siroj Kembali Terpilih sebagai Ketum PBNU

Alhamdulillah KH. Said Aqil Siroj Kembali Terpilih sebagai Ketum PBNU


GusDurFiles.com ~ Jombang, Para muktamirin kembali mempercayai KH Said Aqil Siroj sebagai Ketua Umum PBNU periode 2015-2020. Ia mendapat suara terbanyak pada pemilihan langsung di sidang utama Alun-alun Jombang, pada Kamis (6/8) dini hari.

Berikut perolehan suara dari dari beberapa calon. KH Said Aqil Siroj dipilih 207 muktamirin. Sedangkan H As’ad Said Ali dipilih 107 muktamirin. Disusul KH Salahuddin Wahid 10 suara.

Sebelumnya, di tempat yang sama, pada Rabu malam (5/8), KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU oleh 9 kiai Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa). Sementara KH Makruf Amin ditetapkan sebagai Wakil Rais Aam PBNU. (Abdullah Alawi, NU.or.id)

Semoga NU Yang cantik tidak berubah menjadi genit

Semoga NU Yang cantik tidak berubah menjadi genit


GusDurFiles,com ~ Gegeran (silang pendapat) dan ger-geran (gelak tawa) yang mewarnai Muktamar di Jombang telah berakhir. Perempuan cantik yang bernama NU sebentar lagi akan kembali keperadauannya. Membimbing, mendidik, dan mengarahkan umat di seluruh plosok nusantara dengan sejumlah program dan keputusan yang telah buatnya.

Muktamar NU ke-33 ini telah mempercayakan kepada KH. Mustofa Bisri, sebagai Rois Amm Syuriah dan KH. Said Aqil Siraj sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU periode 2015-2020 untuk memimpin NU lima tahun ke depan. Kami tim FT edu mengucapkan selamat kepada beliau berdua, dan mohon maaf kepada semua tamu yang singgah diblog kami bila ada tulisan atau bahasa yang kurang berkenan di hati.

Pada pemilihan langsung Ketum PBNU yang diselenggarakan di Alun-alun Jombang hingga dini hari, KH Said Aqil Siraj mendapat suara terbanyak, yaitu 207 suara. Pada urutan kedua KH. As’ad Said Ali memperoleh 107 suara. Sedang urutan ketiga KH Salahuddin Wahid yang meraih 10 suara.

Dalam pidato kemenangannya, KH. Sa’id Aqil Siraj di samping mengucapkan rasa terima kasih kepada semua pihak, beliau juga berjanji kepada NU kedepan. Berikut janji KH. Sai’d Aqil Siraj:

  1. Mengawal Aswaja NU yang moderat, toleran, balance, agar NU bermanfaat untuk semua, bukan hanya warga NU, tapi bangsa Indonesia, dan dunia.
  2. Fokus untuk menggarap pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Kita sebagai warga NU hanya berharap semoga janji itu terwujud. NU yang cantik tidak dibuat menjadi genit, melainkan NU yang cantik yang mencerdaskan dan memperjuangkan hak-hak rakyat kecil ketika mereka tidak diperdayakan oleh penguasa. (Diulas dari nu.co.di oleh FT edu)
Strategi Kontra Intelijen Para Kiai sangat cerdas

Strategi Kontra Intelijen Para Kiai sangat cerdas


GusDurFiles.com ~ Menjelang peristiwa pertempuran 10 Nopember 1945, Kiai Abbas, Buntet, Cirebon, membentuk jaringan telik sandi santri yang membentang dari Cirebon ke arah timur hingga Surabaya. Anggotanya adalah para santri dengan usia yang beragam. Dalam bentangan jaringan telik sandi inilah, koordinasi antar lini barisan Mujahidin (mustasyar-nya Hizbullah dan Sabilillah) yang dikomando oleh KH. A. Wahab Chasbullah bisa terjalin sempurna. Demikian keterangan yang termuat dalam “Perlawanan dari Tanah Pengasingan: Kiai Abbbas, Pesantren Buntet, dan Bela Negara” karya H. Achmad Zaini Hasan.

Hasil-hasil pengintaian intelijen ini yang kemudian juga diteruskan ke Markas Besar Oelama Djawa Timur yang berada di tangan KH. Bisri Syansuri. Koordinasi antar lini ini yang memberikan efek dahsyat seputar persiapan pertempuran yang kelak dikenang sebagai Hari Pahlawan. Demikian pentingnya posisi Kiai Abbas, KH. M. Hasyim Asy’ari dalam fase genting menjelang meletusnya pertempuran ini belum mengeluarkan keputusan, kecuali setelah kedatangan Kiai Abbas. Apa yang dilakukan oleh Kiai Abbas dengan membentangkan jaringan telik sandinya adalah sebuah langkah taktis nan cerdik dalam momentum kemerdekaan tersebut.

Selain Kiai Abbas, KH. Wahid Hasyim juga tak kalah canggih dalam kinerja spionase ini. Kiai Wahid memiliki santri andalan bernama Yusuf yang bertindak sebagai penghubung dan kurir rahasia. Kinerja Yusuf diakui oleh KH. Saifuddin Zuhri. Dalam masa perang kemerdekaan itu, Kiai Saifuddin bergerilya dan sempat singgah di rumah kiai sepuh di daerah pedalaman. Herannya, Yusuf si kurir Kiai Wahid Hasyim itu berhasil mengendus jejaknya. Yusuf inilah yang menjadi kunci penghubung jaringan kader yang dibina Kiai Wahid Hasyim bin Hasyim Asyari. Benar, dalam sistem intelijen, Yusuf pantas digelari Laison Officer.

Kiai Wahid Hasyim, ayah Gus Dur, pada era perang kemerdekaan belum menyentuh usia 35 tahun, tapi ia menunjukkan potensi di atas rata-rata. Husein alias Tan Malaka, sosok yang paling diburu dinas intelijen Hindia Belanda (SAD-PID) dan intelijen militer Jepang, beberapa kali malah berkunjung ke kediaman Kiai Wahid.

Mengenai ilmu intelijen ini, Kiai Wahid menuturkan kepada Kiai Saifuddin Zuhri: “Meski saya bukan pemimpin besar, tetapi saya mempunyai mata ‘seribu kurang seratus’ dan telinga ‘seribu kurang seratus’”. Maksudnya, menurut Kiai Saifuddin, pemimpin harus mempunyai seribu mata dan seribu telinga. Artinya, pemimpin mesti banyak melihat dan mendengar melalui berbagai saluran yang tidak dimiliki oleh sembarang orang.

Lalu, bukankah dalam dunia spionase ada istilah ‘Safe House’? Tentu saja Kiai Wahid dan jaringannya punya ‘Safe House’, di antaranya: rumah Kiai Abdurrazaq di Mampang, rumah Kiai Muhammad Naim di Cipete, rumah Kiai Hasbiallah di Mender, rumah Kiai Baqir di Rawabangke, dan beberapa nama lain.

Kenapa Safe House-nya di Jakarta? Bukankah ini sama halnya bunuh diri karena Jakarta dikuasai Belanda? Tidak, Kiai Wahid dengan cerdik menggunakan Teori Komunis Stalinis, “Jika kita pencuri yang sedang diburu polisi, tempat yang paling aman untuk bersembunyi adalah kantor polisi!” . Demikian kenang Kiai Safuddin Zuhri, ayah Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin dalam memoarnya “Guruku Orang-Orang dari Pesantren”.

Lalu bagaimana dengan kinerja intelijen usai kemerdekaan. Di antara yang memiliki jaringan luas di bidang ini adalah KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Di zaman Orde Baru, Pak Harto memang betul-betul menerapkan “seribu mata, seribu telinga” untuk memata-matai setiap organisasi, termasuk NU.

Pada Muktamar NU di Situbondo, di mana NU memutuskan kembali ke khittahnya, para intel berkeliaran di arena muktamar, bahkan para agen pemerintah menyusup masuk ke ruang-ruang sidang, memata-matai setiap pembicaraan para kiai. Dalam sebuah rapat penting yang dihadiri oleh para kiai yang membahas tentang Pancasila, tiba-tiba Gus Dur meminta KH. Prof. Tolchah Mansoer dan KH. Achmad Siddiq agar memimpin sidang dan berpidato menggunakan bahas Arab. Kiai Tolchah dan Kiai Achmad yang belum paham sepenuhnya maksud Gus Dur segera memimpin rapat menggunakan bahasa Arab. Rapat berjalan mulus karena, tentu saja, para kiai yang hadir memahami bahasa Arab sepenuhnya.

Usai rapat, Kiai Tolchah Mansoer bertanya kepada Gus Dur mengenai hal tadi. “Mas, rapat kita di dalam tadi itu diawasi oleh intelnya pemerintah, makanya sampeyan saya suruh berbahasa Arab. Mengapa? Karena intelnya pemerintah itu intel kepet (abangan) yang nggak bisa bahasa Arab..hehehe.”

Dalam peristiwa lain, jangan heran jika ketika menjadi presiden, Gus Dur langsung merombak Badan Intelijen Strategis (BAIS) dengan struktur baru dan pelan-pelan memutus jaringan Orde Baru di struktur BAIS dengan mengangkat Wakil Kepala BAIS, Letjen Arie J. Kumaat untuk memimpin lembaga baru intelijen: Lembaga Intelijen Negara (LIN). Gus Dur sepakat dengan konsep re-organisasi seluruh organisasi intelijen di Indonesia. Anggaran LIN ditambah. Struktur organisasinya berubah. Ada lima deputi yang menangani intelijen asing, intelijen dalam negeri dan analisis. Mulai Januari 2001, LIN pun diubah namanya menjadi Badan Intelijen Nasional (BIN). Gus Dur tercatat sebagai presiden sipil yang dengan berani mengotak-atik tatanan intelijen negara dan menempatkan lembaga telik sandi ini sesuai dengan kinerja asalnya.

Di zaman Orde Baru, seringkali Gus Dur dikuntit intel pemerintah. Maklum, ia tergolong tokoh yang kritis terhadap pemerintah. Yang ia lakukan hanyalah berdoa semoga tidak benar-benar di”habisi” oleh rezim represif saat itu.

“….Sayidina Amar bin Yasir, dan saya sudah lima kali mimpi ketemu beliau. Tidak pernah lepas fatihah saya kepada beliau selama belasan tahun. Menurut saya beliau adalah tokoh politik yang paling dahsyat dalam sejarah awal Islam. Beliau adalah raja intelijen Islam. Orang intel(ijen) harus begitu. Lawla rajulun mukhabarat seperti beliau, Islam tidak akan mampu melawan Bizantium, tidak akan mampu melawan Kerajaan Persia. Di sana ada raja-raja intel(ijen) semua. Tapi dari pihak Islam ada intel-intel seperti Amar bin Yasir. Sayidina Amar kan seorang tokoh politik. Seorang tokoh pejabat yang memiliki kemampuan intelijensia yang luar biasa. Dan saya terus terang saja, kalau sudah perang dengan orang-orang intel(ijen), diganggu dan diacak-acak oleh intel, saya selalu TAWASSUL kepada Sayidina Amar bin Yasir, dan selalu diberi petunjuk berupa ayat-ayat dan selalu cocok. Menghadapi intel minta tolong kepada Sayidina Amar bin Yasir, itu saya sudah kenyang.”

Demikian pandangan Gus Dur tentang Sayidina Amar bin Yasir yang tersisip saat berdiskusi tentang Aswaja bersama beberapa orang tokoh NU, pada suatu waktu. Notulensi polemik Aswaja ini termuat, sayang sekali tanpa keterangan waktu dan lokasi acara, di buku “Kiai Menggugat: Mengadili Pemikiran Kang Said” (1999).

Bagaimana dengan KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh. Dalam buku “Belajar dari Kiai Sahal”, termuat kisah bagaimana dengan cara yang khas Kiai Sahal menghadapi jaringan telik sandi pemerintah. Pernah, dalam suatu acara besar yang digelar selama beberapa hari, Kiai Sahal selalu rutin diantar jemput oleh seseorang bertubuh tegap memakai sepeda motor.

“Wah, njenengan enak ya kiai. Ke sana-kemari ada yang ngantar pakai sepeda motor!” kata beberapa sahabat Kiai Sahal yang melihatnya diantar naik motor.

“Lha, enak gimana, wong itu intel-nya Kodim,” jawab Kiai Sahal terkekeh.

Masih belum cukup, dalam beberapa kali bahtsul masail di MWCNU Margoyoso Pati, selalu saja ada pihak intel yang mengawasi dengan menyaru sebagai kiai maupun santri. Menyikapi model pengawasan seperti ini, apa yang dilakukan oleh Kiai Sahal? Membuka acara, mempersilahkan sambutan beberapa pihak, memulai diskusi fiqh sebagai pengantar, sampai menunggu intelnya menyingkir pulang.

Setelah si intel pulang, barulah bahtsul masail sebenarnya dimulai dan dijalankan dengan serius.

Demikianlah, berbagai ilmu dan kebijaksanaan para kiai membuatnya mampu mengatasi halangan para intelijen –sejak era perang kemerdekaan hingga Orde Baru– yang berkeliaran mengawasi dan membuntutinya. Strategi kontra-intelijen yang khas kaum bersarung!

Wallahu A’lam Bisshawab

Penulis : Rijal Mumazziq Zionis (Direktur Penerbit Imtuyas)

Sumber : muktamarnu.com
Kiai Hasyim Menolak Muktamar & NU Tandingan

Kiai Hasyim Menolak Muktamar & NU Tandingan


GusDurFiles.com ~ JOMBANG —  Sejumlah kiai dan utusan resmi Muktamar ke-33 NU berkumpul di Pesantren Tebuireng. Mereka mendengar arahan dari KH Hasyim Muzadi terkait perkembangan muktamar.

Di hadapan pendukungnya, Kiai Hasyim menyarankan agar para kiai  tidak menggelar muktamar tandingan, terlebih lagi membentuk NU tandingan karena akan membelah NU dan sulit untuk diperbaiki.

“Jangan buat muktamar tandingan, NU tandingan. Itu akan merusak NU sehingga sulit dibenahi,” kata Kiai Hasyim kepada ratusan PWNU dan PCNU yang menggelar rapat di Pesantren Tebuireng, Rabu, (5/8/2015) malam.

Mengutip kaidah ushul fiqh yang mengiigatkan bahwa menghindari kerusakan harus lebih didahulukan daripada mengejar kebaikan, maka Kiai Hasyim mempersilakan kepada muktamirin untuk berfikir yang terbaik untuk NU.

Pada kesempatan tersebut Kiai Hasyim menolak keinginan PWNU dan PCNU untuk mencalonkannya sebagai rais aam melalui forum tersebut. Ia juga menegaskan agar forum itu tidak memilih rais aam.

“Sebaiknya jangan ada pemilihan rais aam. Kalau anda lakukan, itu membentur ulama lain. Saya tak mau berbenturan dengan ulama. Penyakitnya bukan ulama, tetapi kelompok yang merekayasa,” katanya yang didampingi KH Abdullah Syamsul Arifin, Ketua PCNU Jember Jawa Timur.

Hasyim mempersilakan jika forum itu mengkritisi atau mengoreksi Muktamar NU ke-33, namun tidak boleh menjadi muktamar tandingan.

“Silakan unek-unek diungkap dan dibahas di sini, tapi jangan bikin muktamar apalagi NU tandingan,” kata Hasyim sebelum meninggalkan ruangan rapat.

Pada pertemuan tersebut tampak mantan Katib Aam PBNU KH Malik Madani.

Dan dalam pantauan media ini, sejumlah kiai tidak beranjak dari Pesantren Tebuireng. Mereka seharusnya mengikuti sidang pleno pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU untuk lima tahun mendatang. (s@if)

Sumber : muktamarnu.com
Pertemuan di Tebuireng Bukanlah Muktamar Tandingan

Pertemuan di Tebuireng Bukanlah Muktamar Tandingan


GusDurFIles.com ~ JOMBANG — Di aula Pesantren Tebuireng berlangsung sidang yang hampir sama dengan di arena utama Muktamar ke-33 NU di Alun-alun. Beredar kabar bahwa pertemuan tersebut sebagai muktamar tandingan. Namun pandangan tersebut dibantah pimpinan sidang.

Hal ini sebagaimana disampaikan pimpinan sidang, KH Dr Abdullah Syamsul Arifin. Gus Aab, sapaan akrabnya menandaskan bahwa pertemuan yang dilakukan bukanlah sebagai muktamar tandingan, namun sebagai kelanjutan dari proses muktamar yang diselenggarakan di Alun-alun Jombang.

“Ini bukan muktamar tandingan. Karena semua yang hadir di sini sama dengan yang di Alun-alun Jombang,” kata Gus Aab. Baginya, pelaksanaan muktamar yang berlangsung di Alun-alun terdapat sejumlah catatan, “Karenanya kita lanjut di sini (Tebuireng),” ujar Ketua PCNU Jember ini, Rabu (5/8/2015) malam.

Sementara itu di tengah acara, KH Hasyim Muzadi hadir. Para peserta yang jumlahnya sekitar 400 orang langsung berdiri. Selanjutnya, Kiai Hasyim memberikan sambutan di panggung utama. (BJ/s@if)

Sumber : muktamarnu.com
Posisi Rais Aam PBNU : Gus Mus Enggan, KH Makruf Amin Emban

Posisi Rais Aam PBNU : Gus Mus Enggan, KH Makruf Amin Emban



GusDurFiles.com ~ Jombang, Setelah Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj terpilih dan ditetapkan, pimpinan sidang Ahmad Muzaki mengabarkan pesan dari KH A Mustofa Bisri (Gus Mus). Pesan tersebut berisi ketidaksediaan Gus Mus sebagai Rais Aam. Dengan demikian, KH Makruf Amin ditetapkan sebagai pengembannya.

Seperti dekatahui, Gus Mus telah menyampaikan surat tidak bersedia menduduki jabatan sebagai Rais Aam PBNU. Meskipun demikian, sembilan kiai Ahlul Halli wal Aqdi menganggap hal ini sebagai bentuk ketawadhuan seorang kiai yang tidak suka merebut jabatan.

Atas alasan tersebut, 9 kiai Ahlul Halli wal Aqdi menetapkan Gus Mus sebagai Rais Aam dan KH Makruf Amin sebagai Wakil Rais Aam. Tapi tetap Gus Mus bersikukuh enggan menerima posisi itu. Maka otomatis Rais Aam PBNU diemban KH Makruf Amin. (Abdullah Alawi, nu.or.id)
KH. Mustofa Bisri(Gus Mus) Ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU

KH. Mustofa Bisri(Gus Mus) Ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU


GusDurFiles.com ~ Jombang, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU periode 2015-2020 pada rapat yang berlangsung di ruang sidang Alun-alun Jombang, Rabu malam (5/8). Penetapan yang dibacakan H Syaifullah Yusuf itu merupakan hasil musyawarah 9 kiai Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa).

Penetapan ditandatangani anggota Ahwa yaitu KH Ma’ruf Amin, KH Nawawi Abdul Jalil, TGH Turmudzi Badruddin, KH Khalilurahman, KH Dimyati Rais, KH Ali Akbar Marbun, KH Makhtum Hannan, KH Maimoen Zubair, dan KH Mas Subadar.

Pada pentepan itu, disebutkan bahwa Gus Mus sebagai Rais Aam PBNU didampingi KH Makruf Amin sebagai Wakil Rais Aam. Kemudian pemimpin sidang meminta forum untuk membacakan surat Alfatihah atas penetapan itu.

Pada saat berita ini ditulis, di ruang sidang, muktamirin bersiap melakukan pemilihan Ketua Umum PBNU 2015-2020. (Abdullah Alawi, nu.or.id)
Inilah Sembilan Anggota Ahwa Yang Telah Terpilih

Inilah Sembilan Anggota Ahwa Yang Telah Terpilih

Sumber Foto : tedu.blogspot.com

GusDurFiles.com ~ Jombang, Setelah dilakukan tabulasi, telah terpilih anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) melalui proses pemilihan yang dilakukan oleh Muktamirin. Pjs Rais Aam KH Musthofa Bisri dan KH Hasyim Muzadi ternyata tidak termasuk dalam Sembilan nama tersebut.

Berikut daftar anggota Ahwa pilihan para Muktamirin, Rabu (5/8) di ruang sidang komplek alun-alun Jombang, Jawa Timur beserta perolehan suaranya.


  1. KH Makruf Amin Jakarta, (313 suara)
  2. KH Nawawi Abdul Jalil Pasuruan Jatim (302)
  3. TGH Turmudzi Badruddin NTB (298)
  4. KH Kholilul Rahman Martapura, Kalsel (273)
  5. KH Dimyati Rais Jateng (236)
  6. KH Ali Akbar Marbun Sumatra Utara (246)
  7. KH Maemun Zubeir Jateng  (156)
  8. KH Makhtum Hannan Jabar (142)
  9. KH Mas Subadar Pasuruan Jatim (135)

Begitu ditetapkan nama-nama tersebut, mereka akan bersidang untuk memilih Rais Aam PBNU yang akan memimpin NU periode 2015-2020. Mereka mengadakan pemilihan rencananya pada pukul 08.00 WIB malam. (Mukafi Niam, nu.or.id)
Inilah Nama-Nama Kiai Usulan Calon Ahwa PWNU Jawa Timur

Inilah Nama-Nama Kiai Usulan Calon Ahwa PWNU Jawa Timur

GusDurFiles.com ~ Jombang, Meski menjadi pengawal sistem Ahlul halli Wal Aqdi (Ahwa) Rais Syuriyah PWNU Jatim menolak untuk dimasukkan dalam usulan nama-nama calon Ahwa.

"Jawa Timur merupakan penggagas sistem Ahwa ini, karenanya saya sendiri tidak etis jika dimasukkan dalam usulan yang kita sodorkan ke panitia," tutur KH Miftahul Akhyar di Media Center Muktamar ke 33 NU, Rabu (5/8).

Kiai Mif biasa dipanggil mengaku PWNU Jatim sudah menyetor nama nama calon untuk masuk sebagai Ahwa. Para kiai yang diusulkan diantaranya adalah, KH Makruf Amin, KH Nawawi Abdul Jalil, KH Anwar Mansur Kediri, KH Subadar dan KH Ali Mashuri (Gus Ali).

"Saya tidak hafal, karena sejak awal untuk Ahwa ini kita tidak menyebut nama. Dan baru kemarin kita sodorkan," imbuhnya mengatakan.

Nama nama kiai yang diusulkan ini, lanjutnya dinilai memiliki kriteria sebagai calon Ahwa, yakni  faqih atau alim, muaddin atau mengerti agama, muharrik atau mampu mendinamisasi organisasi atau sebagai penggerak organisasi, kemudian memiliki kharisma dan mutawarrik atau wira'i.

"Wirai ini adalah bukan hanya soal haram yang  tidak mau, subhab saja tidak mau beliau ini. Dan juga tidak wira-wiri atau menjadi calo politik," tandasnya.

Mengapa KH Muchit Muzadi tidak masuk? Rais PWNU ini mengatakan, sudah meminta ijin akan mengusulkan kakak kandung KH hasyim Muzadi ini. Namun yang bersangkutan menolak.

"Beliau tidak diusulkan, karenan beliau tidak mau," jawabnya.

Terkait beberapa pengurus Cabang NU Jawa Timur yang tidak mendukung sistem Ahwa ini KH Miftahul Ahyar meminta maaf kepada seluruh pengurus NU yang sama-sama mendorong dan memperjuangkan Ahwa.

”Mohon maaf, semuanya. Sebagai penggagas dan pendorong sistem Ahwa ternyata Jawa Timur sendiri ada yang lolos," ujarnya seraya meminta PCNU patuh terhadap keputusan dan kesepatan bersama.

"Di NU itu kan yang diutamakan adalah ketaatan, karenanya kita minta cabang cabang sepaham lah," tandasnya.

KH Miftahul Akhyar juga meminta kepada panitia untuk benar-benar transparan terkait tabulasi nama nama calon Ahwa yang diusulkan PWNU dan PCNU.

"Janjinya panitia akan transparan soal tabulasi nama-nama calon Ahwa, kita harapkan mereka betul betul transparan," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Mukafi Niam, nu.or.id)
Inilah muktamar NU Paling sadis

Inilah muktamar NU Paling sadis


GusDurFiles.com ~ Muktamar NU paling sadis ya di Cipasung, 1994. Saat itu Pak Harto ingin merobohkan kepemimpinan Gus Dur yang sejak 1994 menjadi Ketua Umum PBNU. Kiai Ali Maksum dan Kiai Achmad Siddiq, dua sosok pelindung Gus Dur, telah wafat beberapa tahun sebelumnya.

Pak Harto menggunakan anasir anti Gus Dur di dalam tubuh NU untuk mendongkelnya. Abu Hasan, orang dari antah berantah ini, dijadikan kuda penghela kelompok anti Gus Dur. Kiai Yusuf Hasyim, pamanda Gus Dur, justru berada di barisan yang ingin menyingkirkan keponakannya itu bersama beberapa tokoh lain.

Sebagai ketum PBNU, Gus Dur disetting agar tidak bisa bersalaman dengan Pak Harto saat pembukaan. Tak kurang nyali, KH. Munasir Ali, mantan anggota Hizbullah dan pensiunan tentara menyampaikan sambutan atas nama panitia, "Saya ini tak tahu diri, sudah tua kok masih berambisi jadi ketua panitia. Ngurusi ini-itu. Ya benar-benar tua tapi tak tahu diri dan tidak sadar diri."

Hadirin bertepuktangan, tahu jika sindiran ini ditujukan buat Pak Harto. Bagaimana reaksi penguasa Orba ini? Wah, semakin marah. Selama dua tahun, Pak Harto nggak mau mengakui dan menemui PBNU di Bina Graha, dimana lazimnya ketua ormas yang terpilih harus sowan penguasa sekadar memperkenalkan diri. Pak Harto baru bersalaman secara fisik dengan Gus Dur di Konferwil NU di PP. Zainul Hasan Genggong, 1997. Itupun setelah Gus Dur menjinakkan Pak Harto dengan cara mengajak Mbak Tutut keliling turba ke kantong-kantong massa NU. Benar, melembutkan hati ayah dengan memangku anaknya. Hahaha, cerdik juga.

Kembali ke soal muktamar 94. Di sini, militer bermain dengan "menjaga" arena muktamar NU. Sedikitnya 1500 tentara berseragam dan ratusan telik sandi hadir. Mereka juga aktif memantau persidangan demi persidangan. Sebelumnya, parade pidato dalam pembukaan muktamar didominasi menteri dan pejabat militer! Jenderal Feisal Tandjung, Pangab, memberikan sambutan bersama dengan 10 menteri! Sudah cukup? Belum. Para menteri dan pejabat datang-pergi menggunakan helikopter dan....sebelum memasuki arena menjelang pemilihan ketua, pos pemeriksaan peserta dijaga oleh militer. Di sekeliling arena, para tentara membawa panser (!) ikut "mengamankan" arena. Melihat pemandangan ini, dalam malam terakhir muktamar, Gus Dur secara berkelakar berterimakasih kepada tentara yang telah meminjamkan serdadu tambahan kepada Banser. Banyak dari orang-orang muda berbadan kekar yang berpatroli di tempat berpangsungnya acara menggunakan seragam Banser sebenarnya adalah personil militer.

Dalam putaran pertama, GD meraih 157 suara, Abu Hasan 136, Fahmi Saifuddin 17, dan Chalid Mawardi 6 suara. Suasana tegang. Karena gedung penghitungan suara dikelilingi panser dan tentara, akan sukar bagi pendukung Gus Dur meninggalkan tempat dan potensi chaos menjadi nyata. Melihat peta tak terduga ini, kaum muda NU kebingungan dan beberapa kiai sepuh menangis, mereka bahkan bermunajat agar Dia ikut campur dalam hal ini.

Ketika hasil perhitungan suara akhir menempatkan Gus Dur dengan perolehan 174 suara sedangkan Abu Hasan 142, keharuan menyeruak di ruang sidang. Di depan pintu, kaum muda NU membentuk barisan melingkar sambil menerikaakn yel-yel berbahasa Inggris: SOEHARTO HAS TO GO, SOEHARTO HAS TO GO! (Soeharto Turun! Soeharto Turun!).

Siapa di balik misi pendongkelan Gus Dur di NU, sebagaimana penyingkiran Megawati dari PDI benerapa bulan sebelumnya, ini? R. Hartono, jenderal penjilat Pak Harto, adalah di antara pihak penyokong dana pendongkelan Gus Dur. Abu Hasan yang bangkrut setelah gagal mendongkel Gus Dur, melalui pembentukan KPNU yang dijadikan PBNU tandingan hingga menggugatnya di meja hijau, kemudian mendatangi Letnam Jenderal R. Hartono untuk menagih kembali ongkos yang telah dia keluarkan. Apa jawab jenderal kelahiran Madura itu?

"Perjanjiannya kan kalau kamu berhasil mengalahkan Gus Dur. Faktanya, kamu justru yang kalah."
Tongpes sudah isi kantong Abu Hasan. Diplekoto tentara, ia kepalang tanggung mau mencari pelindung. Toh akhirnya dia mendatangi Gus Dur, meminta maaf, dan siap "aktif" kembali ke NU. Bagaimana sikap cucu pendiri NU itu? Dengan sikap ksatria dan mengayomi, Gus Dur malah mengajak Abu Hasan keliling turba ke Jawa dan luar Jawa. Ia menyeimbangkan kekuatan internal dengan menggunakan Abu Hasan dan konsolidasi eksternal melalui tangan Mbak Tutut. Cerdik sekali!

WAllahu A'lam

Penulis : Rijal Mumazziq Z (Direktur Penerbit Imtiyas) FB : https://www.facebook.com/penerbit.imtiyaz
Kaos Gus Dur dan Kiai Hasyim Laris Manis di muktamar

Kaos Gus Dur dan Kiai Hasyim Laris Manis di muktamar

GusDurFiles.com ~ Jombang, Muktamar NU, di Jombang tidak saja menjadi ajang berkumpulnya Nahdliyin di seluruh Indonesia dan luar negeri, namun juga menjadi medan bisnis bagi masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Ama Siswanto (25), mengaku bersyukur dengan adanya hajatan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.

"Jika biasanya per hari saya hanya bisa menjual enam hingga tujuh kaos, sekarang bisa mencapai 50 hingga 100 kaos," kata Ama yang berjualan di areal GOR Jombang, Senin (2/8) malam.

Kaos berlogo Muktamar NU ke 33, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asari, dan Gus Dur bersaing menjadi permintaan peserta, persentasenya menurut Ama seimbang.

"Orang Jujur Kenal Gus Dur" merupakan salah satu kaos dijual Ama. "Untuk kaos oblong, Rp30 ribu, kalau berkerah Rp40 ribu," kata Ama menjelaskan nilai dagangannya.

Perihal ia memilih salah satu kaos bertuliskan "Orang Jujur Kenal Gus Dur" dilengkapi gambar KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur, Ama yang awalnya minder berjualan kaos dengan bermodal sablon digital menyatakan sosok Presiden ke-4 RI yang sebelumnya menjabat Ketua PBNU selama tiga periode merupakan sosok ceplas-ceplos, apa adanya.

"Itu alasannya kaos tersebut berbunyi demikian," kata Ama yang memiliki industri kecil "Jombang Banget. Oleh-Oleh Khas Jombang" itu menjelaskan. (Gatot Arifinto/Mukafi Niam, nu.or.id)
Aku mencintaimu Gus Mus

Aku mencintaimu Gus Mus


"Uhibbuka Ya Syaikh Mustafa Bisyri"

Dulu, dan saya sangat menyesali itu, bahwa apa yang saya baca di salah satu buku yang menyebutkan diantara Tokoh NU yang berpaham Liberal adalah Gus Mus, juga Mbah Kyai Sahal Mahfudz Almaghfurlah.

Penyesalan saya dimulai ketika pertamakali saya sowan ke ndalem beliau dengan diantar Gus Yahya Cholil Staquf. Sopan, ramah, bersahaja, energik dan satu tingkah yang membuat saya takluk tak berdaya adalah bagaimana beliau menuangkan teh Arab dengan tangan beliau sendiri untuk saya dan tamu yang lain. Dan gerak tubuhnya sama sekali tidak memaknakan action atau pura-pura.

Akal saya mulai buntu, tiba-tiba kecurigaan hati saya tak menemukan ruangnya, apalagi ketika kami pamit pulang dan sebelumnya memohon doa. Doanya diawali dengan Sholawat Munjiyat, biasa-biasa saja. Sampailah pada sesen foto bersama, si tua itu nurut saja digarap fotografer kampungan, diminta berdiri, senyum, merangkul dan lain sebagainya. "Orang tua yang saya hadapi ini siapa sesungguhnya? Kyaikah? Kok gak menjaga wibawa sama sekali? Budayawankah? Kok gak jual mahal? Senimankah? Atau orang bisa saja?"

Saya tiba-tiba melihat 'Samudera' terbentang di hadapan, dan sebagaimana lautan yang siap menampung segala macam benda dan sifatnya, ada bangkai, tahi, mutiara, pasir, ikan, comberan dan karang, semuanya dibuat tidak berbau karenanya.

Saya mulai mengikuti pengajiannya, biasa-biasa saja, adem dan gak ada pemikiran yang aneh-aneh semisal mengganti waktu haji atau shalat pakai celana pendek, terus yang liberal itu apanya? Pikir saya. Lagian apa yang menjadi ukuran seseorang itu liberal atau bukan, sampai kini juga definisinya belum ada yang mampu merumuskan.

Jika ukurannya adalah menantunya (Gus Ulil) misalnya yang telah terang-terangan berdeklarasi tentang ke-JIL-annya, lalu bagaimana dengan menantunya yang lain seperti Gus Achmad Shampton Masduqie yang menurut saya kolot, tradisionalis, kaku dalam berfiqih, setengah Wahabi dan sombong (karena tidak pernah mampir ke rumah saya ketika di Rembang), kok menantu yang jaim ini tidak dijadikan ukuran kekolotan Gus Mus?

Lalu, tiba-tiba dalam Muktamar NU ke-33, issu basi tentang keliberalan Gus Mus dicuatkan kembali? Gus Mus yang tidak pernah punya ambisi menjadi pemimpin kok diserang sedemikian hebatnya? Pasti ada potensi besar pada diri beliau.

Gus Mus bukan orang kaya dan memang bukan ingin memperkaya diri (cerita ini akan terlalu panjang jika saya tulis), maka wajar jika Diqi kemaren cuma mendapat sangu dua ribu rupiah ketika lebaran di ndalemnya, saya apalagi, malah gak dapat apa-apa kecuali persahabatannya.

NU itu menjadi rebutan, dan dalam kepemimpinan Gus Mus, tidak banyak yang bisa direbut, maka ketakutan akan kembali memimpin NU adalah sangat wajar. Bagi saya, siapapun tak masalah memimpin NU, tapi jangan hina Gus Musku, jangan rendahkan Gus Mus kita, NU itu barang baru, mungkin sudah saatnya jika NU rusak, karena setiap yang baru pasti rusak.

Oh ya, jika dengan alasan Islam Nusantara telah dapat memastikan beliau berfaham liberal, bagaimana dengan Mbah Maimoen yang dengan jelas dan terang setuju dan mendukungnya? Mbah Maimoen Liberal juga? (Oleh: Kyai Zainal Ma'arif M.Kub, Rembang, Facebook).
Kanjeng Nabi Muhammad keturunan Jombang ?

Kanjeng Nabi Muhammad keturunan Jombang ?


GusDurFiles.com ~ Sebagaimana Gus Dur, para kiai NU pada umumnya juga dikenal tipikal selera guyonannya sangat tinggi. Hal ini terekam di sela istirahat dalam momentum Muktamar ke-33 NU di Jombang.

Seorang kiai ketua PCNU di wilayah Banten memandang tradisi masyarakat Jawa yang selalu mengedepankan sopan santun, terutama kepada orang yang lebih tua.

Itulah kenapa dia heran sekali karena selama menginap di pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, dirinya dilayani dengan sangat sopan oleh panitia lokal dari santri pesantren setempat.

Misalkan saat dia duduk di dalam ruangan penginapan meminta tolong kepada santri, lalu santri yang dipanggil duduk dahulu baru bilang kepada kiai tadi, "Apa yang bisa dibantu pak yai?"

"Kalau saya duduk, santri tadi duduk duhulu sebelum bicara, bayangkan jika saya tiduran, mungkin juga mereka tiduran dahulu," ungkapnya sambil tertawa lepas.

"Baru santri-santri aja sopan santunnya seperti itu. Apa Nabi Muhammad keturunan Jombang ya? Sopan santunnya itu lho.. Hormat sama yang tua, cinta sama yang muda."
Kalimat ini merupakan sindiran, lantaran yang ia tahu kebanyakan orang Arab berwatak keras dan sopan santunnya kurang. (M. Zidni Nafi' , nu.or.id)

Inilah tausiah Gus Mus yang bikin warga NU menangis dan berhenti ribut

Inilah tausiah Gus Mus yang bikin warga NU menangis dan berhenti ribut


GusdurFiles.com ~ Registrasi peserta Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33 yang digelar di GOR Merdeka Jalan Gus Dur, Jombang berujung ricuh, Jumat (31/7) kemarin. Ribuan peserta muktamar saling desak dan saling dorong ketika hendak mendaftar.

Aksi saling dorong situasi itu memantik emosi para peserta. Puncaknya, Rais Syuriah PWNU Nusa Tenggara Timur (NTT), KH Abdul Karim Makarim, didorong minggir oleh petugas keamanan dari anggota Banser.

Didorongnya KH Abdul Karim memicu emosi peserta asal NTT lainnya. Mereka langsung marah dan menerobos masuk. Suasana langsung gaduh. Hal itu semakin tegang ketika rombongan NTT berteriak-teriak menghujat petugas keamanan.

Tak hanya itu, sidang Pleno Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33 di alun-alun Jombang, Jawa Timur, kembali diskors, Senin (3/8) dini hari. Penghentian sidang dilakukan karena insiden saling dorong antarpeserta Muktamar yang rata-rata kiai itu

Hal itu membuat Kiai Mustofa Bisri atau Gus Mus menangis melihat proses Muktamar NU yang berjalan buruk. Gus Mus pun merasa malu terhadap para sesepuh yang mendirikan organisasi NU.

Pernyataan malu itu beliau sampaikan saat memberikan tausiah di hadapan kader NU. Berikut tausiah yang membuat kader NU berhenti ribut:

"Ketika saya ikuti persidangan-persidangan yang sudah lalu, saya menangis karena NU yang selama ini dicitrakan sebagai organisasi keagamaan, panutan penuh dengan akhlakul karimah, yang sering mengkritik praktik-praktik tak terpuji dari pihak lain ternyata digambarkan di media massa begitu buruknya. Saya malu kepada Allah, malu pada KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri dan para pendahulu kita. Lebih-lebih ketika saya disodori koran yang headlinenya 'Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh'.

Saya mohon sekali lagi, kita membaca surat Al-Fatihah dengan ikhlas, mohon syafaatnya (Nabi Muhammad SAW).

Rais Aam yang membikin saya menjadi punya posisi seperti ini, KH Sahal Mahfud, mengapa beliau wafat sehingga saya memikul beban ini, saya pinjam telinga anda, doakan saya, ini terakhir saya menjabat jabatan yang tidak pantas bagi saya.
Dengarkanlah saya sebagai pemimpin tertinggi anda.

Mohon dengarkan saya, dengan hormat kalau perlu saya mencium kaki-kaki anda semua agar mengikuti akhlakuk karimah, Akhlak KH Haysim Asy'ari dan pendahulu kita.

Saya panggil kiai sepuh, rata-rata mereka prihatin semua, prihatin yang sangat mendalam. Di tanah ini terbujur kiai-kiai kita, di sini NU didirikan apa kita mau meruntuhkan di sini juga, Naudzubillah, saya mohon dengan kerendahan hati Anda melepasksan semuanya, dan memikirkan Allah dan pendiri kita.

Jadi, telah mempelajari situasi, maka para kiai yang berkumpul sampai tadi siang, di samping keprihatinan juga beberapa poin yang perlu dijadikan pedoman pembahasan selanjutnya.

Cuma sedikit yang kita sepekati untuk solusi agar tidak sama dengan di Senayan.

Pertama, apabila ada pasal yang belum disepakati dalam muktamar tentang pemilihan Rais Aam, tak bisa melalui musyawarah mufakat, maka akan dilakukan pemungutan suara oleh para Rois Syuriah

Kalau nanti Anda-Anda tidak bisa disatukan lagi, maka saya dengan para kiai memberikan solusi, kalau bisa musyawarah kalau tak bisa pemungutan suara. Itu AD/ART kita. Karena ini urusan pemilihan Rais Aam, maka kiai-kiai akan memilih pemimpin kiai.

Dan tatib yang sudah disepakati perlu segara dilakukan. Kalau ini Anda tetap tidak terima, maka saya yang terima, karena saya hanya Mustafa Bisri, saya hanya orang yang ditimpa kecelakaan menjadi pengganti Kiai Sahal. Kalau tidak, lepaskan saya saja.

Doakan mudah-mudahan saya hanya sekian saja untuk jadi Rais Aam.

Saya sejak belum tidur, bukan apa-apa, karena memikirkan anda-anda sekalian. Saya mohon maaf kepada semua muktamirin terutama yang dari jauh dan tua-tua, teknis panitia yang mengecewakan anda, maafkan lah mereka, maafkan saya. Itu kesalahan saya, mudah-mudahan anda sudi memaafkan saya."

Sumber : merdeka.com

 
Salahkah jika  dipribumikan ??

Salahkah jika dipribumikan ??


Islam mengalami perubahan-perubahan besar dalam sejarahnya. Bukan ajarannya, melainkan penampilan kesejarahan itu sendiri, meliputi kelembagaannya. Mula-mula seorang nabi membawa risalah (pesan agama, bertumpu pada tauhid) bernama Muhammad, memimpin masyarakat muslim pertama. Lalu empat pengganti khalifah meneruskan kepemimpinannya berturut-turut. Pergolakan hebat akhirnya berujung pada sistem pemerintahan monarki.

Begitu banyak perkembangan terjadi. Sekarang ada sekian republik dan sekian kerajaan mengajukan klaim sebagai ‘negara Islam’.Ironisnya dengan ideologi politik yang bukan saja saling berbeda melainkan saling bertentangan dan masing-masing menyatakan diri sebagai ‘ideologi Islam’. Kalau di bidang politik terjadi ‘pemekaran’ serba beragam, walau sangat sporadis, seperti itu, apalagi di bidang-bidang lain.

Hukum agama masa awal Islam kemudian berkembang menjadi fiqh, yurisprudensi karya korps ulama pejabat pemerintah (qadi, multi, dan hakim) dan ulama ‘non-korpri’. Kekayaan sangat beragam itu lalu disistematisasikan ke dalam beberapa buah mazhab fiqh, masing-masing dengan metodologi dan pemikiran hukum (legal theory) tersendiri.

Terkemudian lagi muncul pula deretan pembaharuan yang radikal, setengah radikal, dan sama sekali tidak radikal. Pembaharuan demi pembaharuan dilancarkan, semuanya mengajukan klaim memperbaiki fiqh dan menegakkan ‘hukum agama yang sebenarnya’, dinamakan Syari’ah. Padahal kaum pengikut fiqh dari berbagai mazhab itu juga menamai anutan mereka sebagai syari’ah.

Kalau di bidang politik - termasuk doktrin kenegaraan - dan hukum saja sudah begitu balau keadaannya, apalagi dibidang-bidang lain, pendidikan, budaya kemasyarakatan, dan seterusnya. Tampak sepintas lalu bahwa kaum muslimin terlibat dalam sengketa di semua aspek kehidupan, tanpa terputus-putus. Dan ini lalu dijadikan kambing hitam atas melemahnya posisi dan kekuatan masyarakat Islam.

Dengan sendirinya lalu muncul kedambaan akan pemulihan posisi dan kekuatan melalui pencarian paham yang menyatu dalam Islam, mengenai seluruh aspek kehidupan. Dibantu oleh komunikasi semakin lancar antara bangsa-bangsa muslim semenjak abad yang lalu, dan kekuatan petrodollar negara-negara Arab kaya minyak, kebutuhan akan ‘penyatuan’ pandangan itu akhirnya menampilkan diri dalam kecenderungan sangat kuat untuk menyeragamkan pandangan. Tampillah dengan demikian sosok tubuh baru: formalisme Islam. Masjid beratap genteng, yang sarat dengan simbolisasi lokalnya sendiri negeri kita, dituntut untuk ‘dikubahkan’. Budaya wali songo yang serba ‘Jawa’, Saudati Aceh,Tabut Pariaman, didesak ke pinggiran oleh kasidah berbahasa Arab dan juga MTQ yang berbahasa Arab: bahkan ikat kepala lokal (udeng atau iket di Jawa ) harus mengalah kepada sorban ‘merah putih’ model Yasser Arafat.

Begitu juga hukum agama, harus diseragamkan dan diformalkan: harus ada sumber pengambilan formalnya, Alqur’an dan Hadist, padahal dahulu cukup dengan apa kata kiai. Pandangan kenegaraan dan Ideologi politik tidak kalah dituntut harus ‘universal’; yang benar hanyalah paham Sayyid Qutb, Abul A’l Al Maududi atau Khomeini. Pendapat lain, yang sarat dengan latar belakang lokal masing-masing, mutlak dinyatakn salah.

Lalu, dalam keadaan demikian, tidakkah kehidupan kaum muslimin tercabut dari akar-akar budaya lokalnya? Tidakkah ia terlepas dari kerangka kesejarahan masing-masing tempat? Di Mesir, Suriah, Irak, dan Aljazair, Islam ‘dibuat’ menentang nasionalisme Arab - yang juga masing-masing bersimpang siur warna ideologinya.
Di India ia menolak wewenang mayoritas penduduk yang beragama Hindu, Untuk menentukan bentuk kenegaraan yang diambil. Di Arab Saudi bahkan menumpas keinginan membaca buku-buku filsafat dan melarang penyimakan literatur tentang sosialisme. Di negeri kita sayup-sayup suara terdengar untuk menghadapkan Islam dengan Pancasila secara konfrontatif - yang sama bodohnya dengan upaya sementara pihak untuk menghadapkan Pancasila dengan Islam.

Anehkah kalau terbetik di hati adanya keinginan sederhana: bagaimana melestarikan akar budaya-budaya lokal yang telah memiliki Islam di negeri ini? Ketika orang-orang Kristen meninggalkan pola Gereja kota kecil katedral ‘serba Gothik’ di kota-kota besar dan gereja kota kecil model Eropa, dan mencoba menggali Aritektur asli kita sebagai pola baru bangunan gereja, layakkah kaum muslimin lalu ‘berkubah’ model Timur Tengah dan India? Ketika Ekspresi kerohanian umat Hindu menemukan vitalitasnya pada gending tradisional Bali, dapatkah kaum muslimin ‘berkasidahan Arab’ dan melupakan ‘pujian’ berbahasa lokal tiap akan melakukan sembahyang?

Juga mengapa harus menggunakan kata ‘shalat’, kalau kata ‘sembahyang’ juga tidak kalah benarnya? Mengapakah harus ‘dimushalakan’, padahal dahulu toh cukup langgar atau surau? Belum lagi ulang tahun, yang baru terasa ‘sreg’ kalau dijadikan ‘milad’. Dahulu tuan guru atau kiai sekarang harus ustadz dan syekh, baru terasa berwibawa.

Bukankah ini pertanda Islam tercabut dari lokalitas yang yang semula mendukung kehadirannya di belahan bumi ini?

Kesemua kenyataan di atas membawakan tuntutan untuk membalik arus perjalanan Islam di negeri kita, dari formalisme berbentuk ‘Arabisasi total’ menjadi kesadaran akan perlunya dipupuk kembali akar-akar budaya lokal dan kerangka kesejarahan kita sendiri, dalam mengembangkan kehidupan beragama Islam di negeri ini. Penulis menggunakan istilah ‘pribumisasi Islam’, karena kesulian mencari kata lain. ‘Domestikasi Islam terasa berbau politik, yaitu penjinakan sikap dan pengebirian pendirian.

Yang ‘dipribumikan’ adalah manifestasi kehidupan Islam belaka. Bukan ajaran yang menyangkut inti keimanan dan peribadatan formalnya. Tidak diperlukan ‘Qur’an Batak’ dan Hadis Jawa’. Islam tetap Islam, dimana saja berada. Namun tidak berarti semua harus disamakan ‘bentuk-luar’nya. Salahkah kalau Islam ‘dipribumikan’ sebagai manifestasi kehidupan?

Penulis : KH. Abdurrahman Wahid
(Sumber: TEMPO, 16 Juli 1983 Via FP File gus dur)
Mbak Yenny wahid sampaikan pesan Gus Dur untuk NU

Mbak Yenny wahid sampaikan pesan Gus Dur untuk NU


GusDurFiles.com ~ JOMBANG — Putri almarhum Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yaitu Yenny Zannuba Wahid menyebutkan tiga pesan utama untuk kepengurusan Nahdlatul Ulama (NU) di masa mendatang.

“Kami senang sekali sebagai murid Gus Dur meneruskan apa yang telah diperjuangan beliau,” katanya setelah meninjau persiapan Muktamar ke-33 NU di Alun-alun Kabupaten Jombang, Jumat (31/7/2015) petang.

Ia mengatakan ketiga pesan itu adalah, NU harus mampu menjadi jangkar bagi Indonesia. Selain itu, NU harus menjadi payung yang bisa menanungi seluruh elemen Nusantara. “NU bisa melindungi, sehingga tercipta kehidupan berbangsa yang adil,” jelas Mbak Yeni, sapaan akrabnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan pesan yang ketiga untuk NU ke depan adalah harus bisa menjadi penerang bagi semua kelompok termasuk partai politik. NU diharapkan bisa berdiri di semua golongan.

“Yang terpenting, NU itu harus menjadi pembimbing pemerintah agar berjalan di jalan yang lurus,” ujarnya.

Ia mengatakan banyak tantangan bagi NU di masa mendatang. Berbagai masalah terjadi baik di dalam ataupun di dalam negeri. Untuk itu, NU harus bisa berperan aktif mengawal peradaban di dunia.

Ia mengaku prihatin dengan kondisi Islam saat ini, dimana terdapat sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam tapi justru berbuat kekerasan. Mereka menggunakan nama Islam untuk menyakiti orang lain.

Karenanya ia sangat berharap, NU mempunyai berbagai macam gagasan yang bisa menjadi jawaban bagi semua persoalan, salah satunya kekerasan yang terjadi di dunia.

Yenny mendukung dengan konsep Islam Nusantara yang juga menjadi tema besar pada Muktamar NU kali ini. Konsep Islam Nusantara dinilai mempunyai prinsip toleransi dan mengayomi. Ia berharap, konsep ini menjadi jawaban bagi berbagai persoalan yang terjadi saat ini.

Muktamar akan berlangsung mulai 1 hingga 5 Agustus. Kegiatan dihadiri seluruh pengurus cabang maupun wilayah se-Indonesia, termasuk dari pimpinan cabang internasional. Presiden Joko Widodo rencananya akan membuka secara resmi permusyawaratan tertinggi di NU ini, Sabtu malam. (David/s@if)

Sumber : muktamarnu.com
Bung Karno : Saya Sangat Cinta kepada NU!

Bung Karno : Saya Sangat Cinta kepada NU!

GusDurFiles.com ~ Kehadiran Presiden RI pada acara Muktamar NU tentu mendapat perhatian tertentu dari para muktmarin dan khalayak umum. Berbagai momen dan peristiwa juga mengiringi kehadiran sang pemimpin tertinggi tersebut.

Salah satu yang masih terngiang dalam catatan sejarah, yakni ketika Presiden Soekarno menghadiri Muktamar NU ke-23 di Kota Surakarta, 28 Desember tahun 1962.

Kala itu, karut-marut suasana politik di Tanah Air tengah memanas, seiring berbagai keputusan yang diambil Soekarno, baik di kancah domestik maupun dalam hubungan Indonesia dengan negara lain.

Ketika itu beberapa elemen kelompok terlibat dalam pemberontakan DI-TII dan kemudian PRRI Permesta. Meski demikian, hubungan antara Soekarno dan NU justru semakin erat. Ini dibuktikan dengan pidato Soekarno pada Muktamat NU ke-23 tersebut.

“Saya sangat cinta sekali kepada NU. Saya sangat gelisah jika ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak cinta kepada NU. Meski harus merayap, saya akan tetap datang ke mukamar ini, agar orang idak meragukan kecintaan saya kepada NU!” tegas Soekarno.

Dalam kesempatan tersebut, Bung Karno juga memberikan apresiasi kepada NU dan Rais Aam KH Wahab Hasbullah, atas gagasannya dalam usaha merebut Irian Barat.

“Baik ditinjau dari sudut agama, nasionalisme, maupun sosialisme. NU memberi bantuan yang sebesar-besarnya. Malahan, ya memang benar, ini lho pak Wahab ini bilang sama saya waktu di DPA dibicarakan berunding apa tidak dengan Belanda mengenai Irian Barat, beliau mengatakan: jangan politik keling. Atas advis anggota DPA yang bernama Kiai Wahab Hasbullah itu, maka kita menjalankan Trikora dan berhasil saudara-saudara,” lanjut Soekarno. (Ajie Najmuddin/NU Online)


Sumber pendukung : Arsip pidato kepresidenan

Disinilah, Presiden Jokowi dan Megawati kenang persahabatan dengan Gus Dur

Disinilah, Presiden Jokowi dan Megawati kenang persahabatan dengan Gus Dur


GusDurFiles.com ~ JOMBANG — Setelah membuka Muktamar ke-33 NU semalam di Jombang Jawa Timur, Presiden Jokowi menyempatkan diri mengunjungi stand Wahid Institute, yayasan yang dipimpin oleh Yenny Wahid, putri Gus Dur.

Dalam stand kecil berukuran 3 x 3 meter tersebut, rombongan Presiden Jokowi yang didampingi ibu Negara Iriana dan Megawati Soekarnoputri atau mbak Mega serta putrinya Puan Maharani menyaksikan foto dan kutipan Gus Dur yang dipajang di dalam stand tersebut.

Bahkan saat itu Mbak Mega sempat bertanya dan menunjuk foto Gus Dur sewaktu muda. “Umur berapa itu, mas Dur?” “Itu waktu lagi sering rendeng-rendeng (jalan bareng) dengan Mbak Mega,” jawab Yenny, sapaan akrabnya, Sabtu (1/8/2015) malam.

Mbak Mega pun tersenyum simpul mendengarnya. Presiden Jokowi pun ikut tersenyum atas penjelasan tersebut.

Presiden Jokowi lalu menanyakan soal prangko Gus Dur yang juga dipajang di stand tersebut. Yenny menjelaskan bahwa dalam rangka muktamar, PT POS telah meluncurkan prangko khusus bergambar Presiden RI ke 4 sekaligus mantan Ketua Umum PBNU selama 3 periode tersebut.

Dalam kesempatan berbeda, Yenny menandaskan bahwa dibukanya stand tersebut selama muktamar sebagai sarana mengobat rindu kepada Gus Dur.

Yenny juga mengemukakan bahwa kehadiran stand Wahid Institute di arena muktamar sebagai bagian dari upaya memeriahkan gawe besar lima tahunan di NU tersebut. “Ini juga sebagai kesempatan untuk mengenalkan agenda yang telah dilakukan kami selama ini,” terangnya.

The Wahid Institute, sebagaimana disampaikan Yenny, telah melakukan pemberdayaan di akar rumput. “Utamanya dalam mengembangkan ekonomi bagi komunitas masyarakat bawah,” ungkapnya. Namun sementara yang bisa dilakukan adalah di sekitar Jakarta, yakni DKI, Depok dan Bogor, lanjutnya.

Karenanya, untuk jangka panjang, pemberdayaan ekonomi serupa akan dilakukan di Jawa Timur. “Karena kami sadar bahwa basis jamaah di propinsi ini (Jatim, red) sangat besar,” ungkapnya.

Lewat stan yang ada, Wahid Instutue membuka kesempatan kepada banyak kalangan untuk bisa bekerjasama dalam mengembangkan agenda dari lembaga yang dipimpinnya.

Di stand ini juga disediakan permainan bagi anak-anak berupa monopoli dan ular tangga yang membawa pesan bagi tersebarnya nilai Pancasila. “Karena lewat permainan, maka nilai luhur itu bisa lebih mudah diserap anak-anak,” pungkasnya. (s@if)

Sumber : muktamarnu.com
Cerita Gus Dur Dapat Saweran 5 Ribu Rupiah

Cerita Gus Dur Dapat Saweran 5 Ribu Rupiah


GusDurFiles.com ~ KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah menjabat sebagai Ketua Umum PBNU mulai dari 1984 hingga 1999. Sebagai pucuk pimpinan NU, Gus Dur kerap kali bertemu dengan sejumlah tokoh-tokoh nasional seperti Megawati Soekarno Putri, Akbar Tanjung, Amin Rais dan beberapa tokoh lainnya. Terutama yang kontra dengan pemerintahan Orde Baru kala itu.

Ada cerita menarik ketika Gus Dur bersama Megawati melakukan konsolidasi pergerakan di Masjid Sunan Ampel, Surabaya pada 1994. Pada waktu itu, Gus Dur mendapatkankan 'salam tempel' berupa amplop berisi uang Rp5 Ribu.

Momentum ini direkam jelas melalui jepretan kamera Wahyudi Hari Widodo yang dipajang dalam Pameran foto di Rumah Beca MEP, Jombang. Menurut pria yang akrab disapa Dodo Hawe ini, jepretan tersebut adalah momentum langka karena tidak semua wartawan foto dapat momen itu.

"Waktu itu saya dapat momentum Gus Dur membuka amplop seraya berkata kepada Megawati. Mbak.. saya dapat amplop dari umat berapa isinya.. ehh ternyata Rp5 ribu. Gus Dur dan Mega sembari tertawa," cerita Dodo menirukan perkataan Gus Dur, Sabtu (1/8/2015).

Dodo mengaku, foto tersebut diambi sekira pukul 00.30 WIB. Saat itu, memang sejumlah wartawan banyak yang datang namun tidak kuat menunggu pertemuan tersebut. Pertemuan ini digelar secara tertutup di makam Sunan Ampel. Dodo mengaku tidak tahu apa yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Bahkan, setelah mengambil foto itu, Dodo mengaku terpereset hingga memancing perhatian Gus Dur.

"Usai mengambil foto saya terpereset. Gus Dur berkata lho lapo iku wartawan (Kenapa itu wartawan)," ujarnya.

Sumber : okezone.com
close
Banner iklan disini