9 (Sembilan) Nilai Utama Gus Dur

9 (Sembilan) Nilai Utama Gus Dur



1. Ketauhidan

Ketauhidan bersumber dari keimanan kepada Allah sebagai yang Maha Ada, satu-satunya Dzat hakiki yang Maha Cinta Kasih, yang disebut dengan berbagai nama. Ketauhidan didapatkan lebih dari sekadar diucapkan dan dihafalkan, tetapi juga disaksikan dan disingkapkan. Ketauhidan menghujamkan kesadaran terdalam bahwa Dia adalah sumber dari segala sumber dan rahmat kehidupan di jagad raya. Pandangan ketauhidan menjadi poros nilai-nilai ideal yang diperjuangkan Gus Dur melampaui kelembagaan dan birokrasi agama. Ketauhidan yang bersifat ilahi itu diwujudkan dalam perilaku dan perjuangan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.

2. Kemanusiaan

Kemanusiaan bersumber dari pandangan ketauhidan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan paling mulia yang dipercaya untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Kemanusiaan merupakan cerminan sifat-sifat ketuhanan. Kemuliaan yang ada dalam diri manusia mengharuskan sikap untuk saling menghargai dan menghormati. Memuliakan manusia berarti memuliakan Penciptanya, demikian juga merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan Tuhan Sang Pencipta. Dengan pandangan inilah, Gus Dur membela kemanusiaan tanpa syarat.

3. Keadilan

Keadilan bersumber dari pandangan bahwa martabat kemanusiaan hanya bisa dipenuhi dengan adanya keseimbangan, kelayakan, dan kepantasan dalam kehidupan masyarakat. Keadilan tidak sendirinya hadir di dalam realitas kemanusiaan dan karenanya harus diperjuangkan. Perlindungan dan pembelaan pada kelompok masyarakat yang diperlakukan tidak adil, merupakan tanggungjawab moral kemanusiaan. Sepanjang hidupnya, Gus Dur rela dan mengambil tanggungjawab itu, ia berpikir dan berjuang untuk menciptakan keadilan di tengah-tengah masyarakat.

4. Kesetaraan

Kesetaraan bersumber dari pandangan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan. Kesetaraan meniscayakan adanya perlakuan yang adil, hubungan yang sederajat, ketiadaan diskriminasi dan subordinasi, serta marjinalisasi dalam masyarakat. Nilai kesetaraan ini, sepanjang kehidupan Gus Dur, tampak jelas ketika melakukan pembelaan dan pemihakan terhadap kaum tertindas dan dilemahkan, termasuk di dalamnya adalah kelompok minoritas dan kaum marjinal.

5. Pembebasan

Pembebasan bersumber dari pandangan bahwa setiap manusia memiliki tanggungjawab untuk menegakkan kesetaraan dan keadilan, untuk melepaskan diri dari berbagai bentuk belenggu. Semangat pembebasan hanya dimiliki oleh jiwa yang merdeka, bebas dari rasa takut, dan otentik. Dengan nilai pembebasan ini, Gus Dur selalu mendorong dan memfasilitasi tumbuhnya jiwa-jiwa merdeka yang mampu membebaskan dirinya dan manusia lain.

6. Kesederhanaan

Kesederhanaan bersumber dari jalan pikiran substansial, sikap dan perilaku hidup yang wajar dan patut. Kesederhanaan menjadi konsep kehidupan yang dihayati dan dilakoni sehingga menjadi jati diri. Kesederhanaan menjadi budaya perlawanan atas sikap berlebihan, materialistis, dan koruptif. Kesederhanaan Gus Dur dalam segala aspek kehidupannya menjadi pembelajaran dan keteladanan.

7. Persaudaraan

Persaudaraan bersumber dari prinsip-prinsip penghargaan atas kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan semangat menggerakkan kebaikan. Persaudaraan menjadi dasar untuk memajukan peradaban. Sepanjang hidupnya, Gus Dur memberi teladan dan menekankan pentingnya menjunjung tinggi persaudaraan dalam masyarakat, bahkan terhadap yang berbeda keyakinan dan pemikiran.

8. Keksatriaan

Keksatriaan bersumber dari keberanian untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai yang diyakini dalam mencapai keutuhan tujuan yang ingin diraih. Proses perjuangan dilakukan dengan mencerminkan integritas pribadi: penuh rasa tanggung jawab atas proses yang harus dijalani dan konsekuensi yang dihadapi, komitmen yang tinggi serta istiqomah. Keksatriaan yang dimiliki Gus Dur mengedepankan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani proses, seberat apapun, serta dalam menyikapi hasil yang dicapainya.

9. Kearifan Lokal

Kearifan lokal bersumber dari nilai-nilai sosial-budaya yang berpijak pada tradisi dan praktik terbaik kehidupan masyarakat setempat. Kearifan lokal Indonesia di antaranya berwujud dasar negara Pancasila, Konstitusi UUD 1945, prinsip Bhineka Tunggal Ika, dan seluruh tata nilai kebudayaan Nusantara yang beradab. Gus Dur menggerakkan kearifan lokal dan menjadikannya sebagai sumber gagasan dan pijakan sosial-budaya-politik dalam membumikan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan, tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap perkembangan peradaban.

Sumber : gusdurian.net
Ahok Mengaku Akan Menjadi Muallaf Jika Orang Ini Yang Memintanya...

Ahok Mengaku Akan Menjadi Muallaf Jika Orang Ini Yang Memintanya...

Ahok resmikan patung masa kecil. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman
GusdurFiles.com ~ Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengaku selalu dinasehati oleh mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk menjadi pribadi yang optimis.

"Man jada wa jada. Kalau kita bicara kan jangan putus asa," kata Ahok usai meresmikan Patung Gus Dur Kecil, di Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4/2015).

Karena dekatnya dengan Gus Dur, Ahok mengaku bisa masuk Islam jika mantan Ketua Dewan Syuro PKB itu memintanya.

"Kalau saya dimualafin Gus Dur bisa 80 persen berhasil. Tapi saya bilang enggak ada hidayah, dan enggak mau munafik, mending begitu daripada beragama tapi munafik, mending saya kafir," tutup Ahok.

sumber: okezone.com
Kisah Telepon Gus Dur yang Pernah Menyelamatkan Siti Zaenab dari Hukuman Mati

Kisah Telepon Gus Dur yang Pernah Menyelamatkan Siti Zaenab dari Hukuman Mati

GusDurFiles.com ~ Jakarta - Perjuangan Siti Zaenab terbebas dari hukuman mati dari tahun 1999 akhirnya terhenti pada Selasa (14/4/2014) kemarin. Wanita asal Bangkalan, Madura itu dihukum pancung di Arab Saudi karena membunuh istri majikannya.

Siti Zaenab merupakan seorang buruh migran Indonesia (BMI) di Arab Saudi yang dipidana atas kasus pembunuhan terhadap istri pengguna jasanya bernama Nourah binti Abdullah Duhem Al Maruba pada tahun 1999. Siti Zainab kemudian ditahan di Penjara Umum Madinah sejak 5 Oktober 1999. Setelah melalui rangkaian proses hukum, pada 8 Januari 2001,

Pengadilan Madinah menjatuhkan vonis hukuman mati qishash kepada Siti Zaenab. Namun sebenarnya nyawa Zaenab pernah 'diselamatkan' Presiden Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Kala itu, hukuman pancung sempat tertunda lantaran Gus Dur menelepon langsung Raja Arab Saudi.

Hal itu dikisahkan oleh putri Gus Dur, Yenny Wahid pada Senin (20/6/2011) silam. Yenny menyebut Gus Dur melakukan diplomasi yang tinggi agar dapat membebaskan Siti dari hukuman pancung.

"Dulu saat Gus Dur jadi Presiden, beliau melakukan high diplomacy. Bisa menyelamatkan Siti Zaenab (dari eksekusi)," kata Yenny Wahid usai menghadiri tahlilan Ruyati di depan Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (20/6/2011) silam.

Sayangnya, hukuman yang diterima Siti Zaenab yaitu keputusan qishash yang artinya pemaafan hanya bisa diberikan oleh ahli waris korban. Saat itu, ahli waris yang tak lain adalah putra bungsu korban, Walid bin Abdullah bin Muhsin Al Ahmadi belum mencapai usia akil baligh.

Kemudian pada tahun 2013, setelah dinyatakan akil baligh, Walid bin Abdullah bin Muhsin Al Ahmadi telah menyampaikan kepada pengadilan perihal penolakannya untuk memberikan pemaafan kepada Siti Zaenab dan tetap menuntut pelaksanaan hukuman mati. Hal ini kemudian dicatat dalam keputusan pengadilan pada tahun 2013.

Siti Zaenab pun menghembuskan nafas terakhirnya, Selasa (14/4) kemarin. Pemerintah Indonesia langsung melayangkan protes lantaran tidak ada pemberitahuan sebelumnya mengenai waktu dan tempat pelaksanaan eksekusi mati Siti Zaenab.

Sumber : detik.com

close
Banner iklan disini