Belajar dari "Baharudin Lopa" Sosok Jaksa Agung yang jujur dan sederhana


Sosok Baharuddin Lopa (lahir di Pambusuang, Balanipa, Polewali Mandar pada tanggal 27 Agustus 1935) menjadi teladan penting tentang arti kesederhanan dan kejujuran. Sebagai abdi negara, Lopa telah menunjukan sikap hidup yang berbeda dengan pejabat pada umumnya, beliau menjadikan kejujuran sebagai panglima dalam menjalani tugas-tugas keseharian negara.

Sementara itu, kesederhanaannya ditunjukkannya dalam hal-hal yang bersifat materi. Salah satu bukti, rumahnya sederhana, terletak di di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Selain itu juga, mantan Jaksa Agung dan Menkumham ini hanya memiliki mobil Toyota Kijang yang sangat sederhana untuk ukuran seorang pejabat sekelas menteri. Bahkan, beliausangat tegas kepada keluarganya agar tidak menggunakan fasilitas-fasilitas negara untuk urusan pribadi. Lopa lantas dikenal sebagai sosok yang tegas memisahkan urusan dinas dan pribadi. Bahkan suatu saat, beliau pernah melarang istrinya menggunakan mobil dinas untuk pergi ke pasar dan melarang salah seorang pegawai Pusdiklat menggunakan sepeda motor inventaris Pusdiklat, meski kendaraan itu dimaksudkan untuk menolong temannya.

"Ini motor dinas bukan untuk urusan pribadi," kata Lopa dikutip dari Merdeka.com, (5/12/2013).

Selain itu, bagi Baharuddin Lopa, kesederhanaan dan kejujuran adalah prinsip hidup yang mutlak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kisah kesedehanaan lain dari sosok Lopa ialah saat ini membelikan mainan anak-anak yang akan diberikan kepada cucunya, yang hanya seharga Rp. 7.500 di sebuah mal. Peristiwa ini sontak membuat heran seorang kasir dan berpikir hanya sosok menteri Lopa yang membelikan mainan sebagai hadiah dengan harga semurah itu. Bukan soal murah atau mahalnya mainan yang dibelikannya itu, tetapi perhatian dan ketulusan lah yang paling penting di saat-saat kesibukan dan kelelahannya, beliau justru menyempatkan diri memberikan sisa-sisa tenaganya demi cucunya tersebut.

Dalam pada itu, kisah kejujuran Baharuddin Lopa juga tidak luput dari perhatian. Beliau dikenal sebagai sosok yang tidak gemar menerima hadiah dari orang lain dalam bentuk apapun, termasuk parsel lebaran. Bahkan di suatu ketika, Lopa pernah diberi uang berjumlah 10.000 Dollar AS dari teman seperjuangannya saat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi yang telah menjadi seorang pengusaha, namun beliau mengembalikan uang itu. Lopa membeli mobil Toyota Kijang secara kredit, dan beliau sendiri mengantar uang cicil per bulannya, bahkan lunas jauh hari sebelum jatuh tempo. Terhadap sikap Lopa, distributor mobil yang notabene temannya sendiri itu merasa kikuk, dan menghormati Lopa.

Catatan penting dari kisah kejujuran mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan ini yang patut dijadikan teladan bahwa segala sesuatu kehendak atau cita-cita apabila ingin dicapai lebih utama mengandalkan usaha sendiri.

Kisah Baharuddin Lopa kemudian menjadi teladan di panggung para pejabat nasional sebagai sosok yang sederhana, jujur, serta memiliki nyali bak harimau. Beliau tegas, dalam hal apapun, termasuk menentukan salah-benar suatu perkara hukum, serta tidak pandang bulu. Inilah kisah teladan seorang pejabat negara yang patut dicontoh serta dijadikan inspirasi bagi setiap orang, termasuk para pejabat negeri ini.

Baharuddin Lopa wafat di Rumah Sakit Al Hamadi, Riyadh pada tanggal 3 Juli 2001 pukul 18.14 waktu setempat atau pukul 22.14 WIB. Pada tanggal 5 Juli 2001 pukul 14.25 pesawat Garuda Indonesia membawa jenazahnya dari Arab Saudi ke tanah air. Keesokan harinya jenazahnya di makamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan diiringi upacara militer yang dipimpin oleh Menkopolhukam, Agum Gumelar.

Ada hal menarik seputar kewafatan beliau. Pada waktu malam kewafatan Baharuddin Lopa cuaca di Riyadh dan sebagian wilayah Indonesia khususnya hampir seluruh pulau Jawa secara bersamaan di landa hujan deras dengan disertai angin dan guntur, seolah langit meraung dan menangis atas kewafatan Baharuddin Lopa.

Sementara itu di istana negara, Gus Dur beberapa saat sebelum Baharuddin Lopa wafat terhenyak sesaat kemudian masuk kamar dan mengurung diri selama beberapa saat kemudian keluar sambil matanya bersimbah air mata. "Malam ini, salah satu tiang langit bumi Indonesia telah runtuh," kata Gus Dur. Tidak ada yang paham ucapan Gus Dur, bahkan Yenni Wahid yang selalu mendampingi ayahnya saja tidak paham. Baru sekitar pukul 11 malam, akhirnya semua paham bahwa yang dimaksud Gus Dur "tiang langit" itu adalah Baharuddin Lopa. Ini menunjukkan kejernihan hati Gus Dur bisa menangkap sebuah kejadiaan luar biasa yang belum terjadi. Kabar kewafatan Baharuddin Lopa 3 jam lebih awal diterima Gus Dur daripada berita duka yang dikirimkan dari Riyadh Arab Saudi.

Kendati kapal akan karam, tegakkan hukum dan keadilan!
"Baharuddin Lopa (1935-2001), mantan Jaksa Agung RI"
Sumber FB Hamim Jazuli
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Belajar dari "Baharudin Lopa" Sosok Jaksa Agung yang jujur dan sederhana"

Post a Comment

close
Banner iklan disini