Cerita Gus Dur dikejar-kejar polisi diera Orde Baru

Cerita Gus Dur dikejar-kejar polisi diera Orde Baru


Tak akan ada habisnya jika bercerita soal Gus Dur . Presiden RI keempat ini punya segudang cerita yang tak habis dibicarakan oleh para pengagumnya.

Salah satunya ketika Gus Dur dikejar-kejar oleh polisi di Era Orde Baru. Kisah Gus Dur dikejar-kejar polisi itu diceritakan kembali oleh Muhammad AS Hikam dalam bukunya berjudul 'Gus Dur Ku, Gus Dur Anda dan Gus Dur Kita'. Hikam tidak ingat persis kapan hal itu terjadi tetapi kejadian itu terjadi di akhir rezim Orde Baru.

Saat itu Gus Dur diundang untuk menjadi pembicara oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di Jombang. Saat itu aparat keamanan sudah ditugasi untuk membuat gagal acara atau minimal membuat jalannya ceramah menjadi kurang baik.

"Toh acara tetap berjalan dan ceramah Gus Dur didengar banyak aktivis GMNI dan lainnya. Begitu selesai acara, Gus Dur diminta panitia untuk segera pergi meninggalkan lokasi acara," tulis Hikam dalam bukunya tersebut yang dikutip merdeka.com, Senin (2/12).

Setelah Gus Dur meninggalkan lokasi, polisi pun langsung membubarkan acara diskusi tersebut. Para aktivis pun diminta bubar, namun Gus Dur sudah langsung meluncur ke arah Surabaya.

Namun ketika di dalam Kota Jombang, mobil Gus Dur dibuntuti dua motor gede yang ditunggangi anggota polisi. Meski demikian kedua motor gede itu tidak membunyikan sirinenya.

"Gus Dur dilapori sopirnya dan beliau minta supaya jalan saja kalau perlu ngebut," tulis Hikam di halaman 5 buku tersebut.

Namun ternyata kedua polisi yang membuntuti Gus Dur juga tidak kalah. Mereka berdua memacu kuda besinya untuk mengejar mobil yang ditumpangi Gus Dur .

Setelah berada di luar kota, kedua motor gede itu berhasil menyalip mobil Gus Dur . Motor itu berhenti setelah agak jauh menyalip lalu berhenti di tengah jalan dan menghentikan mobil Gus Dur .

Hal itu sontak membuat sopir Gus Dur mengerem mendadak untuk menghindari kecelakaan. Gus Dur pun marah besar dan membuka kaca mobil sembari menunggu kedua polisi itu mendatangi beliau.

"Ada apa?," tanya Gus Dur dengan nada tinggi.

"Assalamualaikum Kyai," ujar salah seorang polisi tersebut menyapa Gus Dur yang sudah dalam kondisi marah.

"Ya, saya kan sudah pergi. Sana pergi kalian...," ujar Gus Dur mencoba mencegah kedua polisi itu mendekat.

"Begini Kyai..." kata anggota polisi tersebut begitu sampai di kaca jendela. Saat itu sopir dan dua penumpang mobil lainnya sudah sangat khawatir.

"Begini Kyai, mohon maaf saya tadi belum sempat salaman sama njenengan, jadi terpaksa saya mengikuti Kyai. Tolong Kyai, saya ingin salaman," kata anggota polisi tersebut.

Kedua polisi itu pun lalu bersalaman dan mencium tangan Gus Dur . Setelah itu kedua polisi itu langsung tersenyum cengengesan karena berhasil salaman dengan Gus Dur .

"Dan tentu saja Gus Dur langsung ketawa ngakak segitu mobil kembali kembali jalan termasuk As Hikam yang berada di mobil tersebut.

"Ngono kuwi lo, Kang wong NU. Sudah repot-repot disuruh menjaga supaya ceramah tidak sukses, eee... ujung-ujungnya pengen salaman," ujar Gus Dur .

http://www.merdeka.com/peristiwa/cerita-gus-dur-dikejar-kejar-polisi-di-era-orde-baru.html
Syeikh Yasin Padang Melayani Sendiri Gus Dur

Syeikh Yasin Padang Melayani Sendiri Gus Dur


Syeikh Yasin Padang, salah satu ulama keturunan Indonesia yang yang menjadi benteng ajaran ahlusunnah wal jamaah merupakan ulama yang sangat dihormati di dunia. Ulama ini juga sangat dihormati oleh warga NU.

Bernama lengkap Syeikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani lahir di kota Makkah pada tahun 1915 dan wafat pada tahun 1990. Ia adalah Muhaddits, Faqih, ahli tasawwuf dan kepala Madrasah Darul-Ulum, yang siswanya banyak berasal dari Indonesia.

Jumlah karya beliau mencapai 97 Kitab, di antaranya 9 kitab tentang Ilmu Hadits, 25 kitab tentang Ilmu dan Ushul Fiqih, 36 buku tentang ilmu Falak, dan sisanya tentang ilmu-ilmu yang lain.

Ia memiliki gaya hidup yang sangat sederhana, hanya menggunakan kaos dan sarung dan sering nongkrong di "Gahwaji" untuk Nyisyah (menghisap rokok arab)… tak seorangpun yang berani mencelanya karena kekayaan ilmu yang dimiliki

Pada muktamar NU tahun 1979, ia datang ke Indonesia dan selanjutnya melakukan kunjungan ke sejumlah pesantren, yang dihadiri oleh ribuan warga NU yang ingin bertemu langsung dengannya.

Ia juga dikenal memiliki banyak kekeramatan. Diantara cerita yang beredar soal kekeramatannya adalah Zakariyya Thalib asal Syiria pernah mendatangi rumah Syeikh Yasin Pada hari Jumat. Ketika Azan Jumat dikumandangkan, Syeikh Yasin masih saja di rumah, akhirnya Zakariyya keluar dan sholat di masjid terdekat. Seusai sholat Jum’at, ia menemui seorang kawan, Zakariyyapun bercerita pada temannya bahwa Syeikh Yasin ra. tidak sholat Jum’at. Namun dibantah oleh temannya karena kata temannya, “kami sama-sama Syekh solat di Nuzhah, yaitu di Masjid Syekh Hasan Massyat ra. yang jaraknya jauh sekali dari rumah beliau”…

HM Abrar Dahlan bercerita, suatu hari Syeikh Yasin pernah menyuruh saya membikin Syai (teh) dan Syesah (yang biasa diisap dengan tembakau dari buah-buahan/rokok tradisi bangsa Arab). Setalah dibikinkan dan Syeikh mulai meminum teh, ia keluar menuju Masjidil-Haram. Ketika kembali, saya melihat Syeikh Yasin baru pulang mengajar dari Masjid Al-Haram dengan membawa beberapa kitab… saya menjadi heran, anehnya tadi di rumah menyuruh saya bikin teh, sekarang beliau baru pulang dari masjid.

Dikisahkan ketika KH Abdul Hamid di Jakarta sedang mengajar dalam ilmu fiqih “bab diyat”, ia menemukan kesulitan dalam suatu hal sehingga pengajian terhenti karenanya… malam hari itu juga, ia menerima sepucuk surat dari Syeikh Yasin, ternyata isi surat itu adalah jawaban kesulitan yang dihadapinya. Iapun merasa heran, dari mana Syekh Yasin tahu…? Sedangkan KH Abdul Hamid sendiri tidak pernah menanyakan kepada siapapun tentang kesulitan ini..!

Kisah hubungan antara Syeikh Yasin Padang dan Gus Dur juga diungkapkan oleh KH Said Aqil Siroj. Dalam satu kunjungan ke Arab Saudi, Gus Dur menyempatkan diri singgah ke rumah Syeikh Yasin.

Dalam pertemuan tersebut, Gus Dur mendapat penghormatan yang luar biasa, meskipun usianya lebih muda, Syeikh Yasin melayani sendiri Gus Dur, mengambilkan air, kurma dan lainnya, tidak boleh dilayani oleh para pembantunya.

Kiai Said juga mendapat sejumlah cerita soal karomah Syeikh Yasin. Ketika sedang makan siang, ada ustadz anak buahnya, namanya Abdurrahim dari Kupang, keluar ruangan, tiba-tiba Syeikh Yasin bilang, Abdurrahim diiringin malaikat, "E.. jam enam sore mati," katanya.

Waktu Irak mau nyerang Kuwait, Syeikh Yasin tiba-tiba kemringet, ditanya sama Tantowi Musaddad, “Darimana?”, “Dari Kuwait, lihat bangkai dan darah,”

“Ini tanda kewaliannya Syeikh Yasin, orang kayak gitu dengan Gus Dur hormat dan memberi perlakukan istimewa, padahal juga sudah sepuh banget,” tandasnya. (mkf, NU Online)
Toleransi Adalah Kunci Kemajuan Umat ISLAM

Toleransi Adalah Kunci Kemajuan Umat ISLAM


Di sebuah forum, saya pernah ditanya, kapan orang Islam bisa menjadi ilmuwan hebat dan mendunia? Si fulan bertanya sembari menyebutkan banyak temuan-temuan berharga di dunia, yang kini justru diprakarsai oleh orang-orang yang kebetulan tidak memeluk agama Islam, sebut saja facebook, yang dibuat Mark Zuckerberg. Padahal, andaikan saja yang menciptakan jejaring sosial itu orang Islam, pasti bisa menjadi amal jariyah dan bisa dimanfaatkan sebagai media dakwah. Apalagi penemuan besar seperti listrik. Listrik sangat membawa manfaat besar bagi umat manusia. Jelas amal jariyahnya gede. Begitu ujar teman saya.

Dari perbincangan tersebut saya teringat era kejayaan Islam. Sebenarnya dunia Islam pernah menjadi mercusuar dunia, tatkala pada masa kekhalifahan Bani Abbasiyah. Berbagai penemuan penting dan berguna bagi kemanusiaan di berbagai bidang ditemukan oleh ilmuwan muslim saat itu. Di era tersebut pula muncul seorang dokter (tabib) terbaik di dunia, Ibnu Sina (Avicenna). Karya-karyanya menjadi rujukan ilmu kedokteran, hingga sekarang.

Saat itu dunia Islam tengah hebat-hebatnya berkembang, dan dunia Barat masih dalam kejumudan. Amerika? Negara asal Mark Zuckerberg itu bahkan belum ditemukan oleh pelaut Spanyol, Christopher Colombus. Maka cukup ironi apabila statusnya kini berbalik 180 derajat. Di tengah kemajuan bangsa Barat, orang Islam justru jauh tertinggal, baik dari sisi ekonomi, ilmu pengetahuan dan lainnya. Limadza taakharal muslimun, wa taqaddama ghairuhum (mengapa umat Islam mundur dan yang lainnya maju), begitu kegalauan para khotib yang sering saya dengar di tiap khutbah Jum’at.

Lalu apa yang menjadikannya tertinggal? Banyak faktor tentunya, mulai dari faktor yang paling sederhana hingga yang paling rumit. Namun ada ungkapan menarik dari teman diskusi saya tadi, bahwa ia mengaku geram dengan kondisi umat Islam saat ini. Di timur tengah misalnya, negara yang menjadi garda awal dari gerakan Islam, justru berkecamuk dengan berbagai perang saudara. “Saat Barat sudah memikirkan hidup di planet lain, orang Islam masih saja ribut si A sesat!”

Penyakit umat manusia akhir-akhir ini memang merasa dirinya paling benar. Sayangnya, perasaan paling benar itu tidak dilengkapi dengan sikap toleransi dan tenggang rasa. Walhasil, intimidasi atas nama kebenaran seringkali terjadi. Apalagi ketika para ulama’ atau habaibnya ikut memperkeruh suasana. Hal inilah yang perlu menjadi koreksi bersama. Terlebih di Indonesia yang merupakan negara majemuk yang masyarakatnya terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama.

Lalu, masihkah ada harapan umat Islam bisa menjadi unggulan? Jawabannya tentu bisa, asalkan umat Islam mau dan mampu. Mau artinya punya iktikad yang baik untuk mencapai tujuan yang mulia tersebut. Dan mampu membekali diri dengan berbagai macam ilmu pengetahuan dan sikap yang arif dalam menggunakan ilmu tersebut. Indonesia yang dihuni oleh komunitas umat muslim terbesar di dunia harus tampil di depan untuk menjadi bangsa yang maju.

Kemajuan Bani Abbasiyah di masa lampau tidak terlepas dari dua hal. Pertama, menghargai ilmu. Kedua, menghargai orang lain. Ilmu sebagai pemberian dari Allah Swt hendaknya dipelajari, dikaji, dan dikembangkan. Sementara manusia, apapun suku dan agamanya, dia tetaplah ciptaan-Nya yang harus dilindungi dan dijamin keselamatannya. Inilah yang terjadi di era kejayaan Bani Abbasiyah. Banyak sekali diskusi-diskusi mengenai hukum fikih (bahtsul masa’il) dan perkembangan mazhab yang sangat cepat waktu itu. Perbedaan pemikiran dengan yang lain tidak lantas menjadikan seseorang itu memusuhi atau melakukan pengafiran (takfiri). Para ulama saat itu menghargai setiap perbedaan yang ada.

Perbedaan yang terjadi, terutama dalam segi penentuan hukum, negara ikut andil dalam memfasilitasi perbedaan-perbedaan pendapat di tengah umat. Misalnya, negara menyediakan hakim yang sesuai dengan mazhab yang dianut oleh warganya dalam memutuskan suatu perkara. Negara tidak mengintervensi warganya untuk memilih mazhab A atau lainnya. Hubungan yang harmonis antara warga, ulama, dan negara menjadikan kekhalifahan pada saat itu menjadi jaya.

***
Lalu, bagaimana dengan umat Islam di Indonesia saat ini? Walaupun kenyataannya masih banyak kekerasan atas nama agama di Indonesia, namun teman diskusi saya tadi tetap optimis kalau umat Islam di negara tercinta ini bisa menjadi percontohan umat Islam di seluruh dunia. Karena sampai saat ini, toleransi beragama di Indonesia telah diakui oleh dunia internasional. Dengan jiwa toleransinya itu, Indonesia diyakini bisa menjaga dua kunci kemajuan peradaban: menghargai ilmu dan menghargai orang lain. “Bahkan suatu saat nanti, ada orang Islam yang akan menginjakkan kaki di planet mars!” Begitu pendapat teman saya berapi-api.

Akhirnya, di ujung forum diskusi tersebut saya berpendapat, umat Islam di Indonesia itu sebenarnya mampu untuk memimpin peradaban, apalagi ‘hanya’ tinggal di planet mars. Namun masalahnya untuk saat ini sepertinya belum mau. Buktinya umat Islam masih meributkan “ente syiah”, “ente sunni”, “ente komunis”, dll. Wong permasalahan sejarah yang terjadi 1400-an tahun yang lalu saja masih diperdebatkan, bagaimana mau memikirkan masa depan yang masih mengawang-awang?
Wallahhua’lam.

Penulis : Ibnu Faiz Al-Kabumaniy

*) Penulis adalah santri di PP Nailul Ula Plosokuning Sleman

Tulisan ini dimuat di buletin Santri Jaringan Gusdurian Yogyakarta, edisi 4.

http://santrigusdur.com/2015/03/toleransi-kunci-kemajuan-umat-islam/
Jasad Gus Dur Sungguh Manusiawi

Jasad Gus Dur Sungguh Manusiawi


Setelah empat kali mengalami pengurukan akibat longsor dalam setahun, makam Gus Dur semakin ramai di kunjungi para peziarah. Hiruk pikuk dan kehebohan masyarakat menyikapi fenomena longsornya makam mantan Presiden Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid terus berlanjut.

Setalah berbagai kalangan mengutarakan pendapatnya mengenai pertanda kewalian Gus Dur, kini giliran para santrinya di Pesantren Ciganjur yang angkat bicara. Para santri di Pesantren Ciganjur inilah yang dahulu memandikan jenazahnya, kala Gus Dur sang pengasuh para santri ini dipanggil menghadap Sang Khaliq.

"Waktu para santri memandikan jenazahnya, jasad Gus Dur kelihatan sangat manusiawi. Kulitnya cerah, seperti biasa waktu beliau kami sering mengajar santri-santrinya," tutur Mahbib salah seorang santri yang dulu turut memandikan.

Sementara para santri lain menceritakan kepada NU Online, Selasa (21/2), sewaktu memandikan Gus Dur para santri melihat jasad Gus Dur dalam ekspresi yang wajar. Tidak tampak pucat tidak pula seperti orang mati.

Menurut Mahbib, para santri bergiliran memandikan di samping rumah sebelum jenazah disemayamkan di ruang tengah untuk disholatkan secara bergiliran pula. Sholat Jenazah untuk Gus dur di kediaman Ciganjur sendiri, berlangsung berkali-kali sejak dimandikan hingga sebelum diberangkatkan menuju Bandara Halim Perdana Kusuma. Dari Bandara Halim Perdana Kusuma ini jenazah kemudian diterbangkan ke peristirahatan terakhirnya di Tebuireng Jombang.

"Tidak terhitung berapa kali sholat dilakukan bergantian. Para jamaa terus berduyun-duyun sholat di hadapan jenazah. Sementara mereka yang tidak bisa masuk, lalu melaksanakan sholat jenazah di Masjid al-Munawwaroh," tutur Ahsin, imam Masjid al-Munawwaroh Ciganjur. (min, NU Online)

nu.or.id
Tentang Marxisme - Leninisme Dalam Pandangan ISLAM

Tentang Marxisme - Leninisme Dalam Pandangan ISLAM


Selama ini orang menganggap bahwa Marxisme-Leninisme atau lebih mudahnya komunisme, berada dalam hubungan diametral dengan Islam. Banyak faktor pendorong kepada tumbuhnya anggapan seperti itu. Secara politis, umpamanya dalam sejarah yang belum sampai satu abad. Marxisme-Leninisme telah terlibat dalam pertentangan tak kunjung selesai dengan negara-negara (dalam artian pemerintahan negara bangsa atau nation state), bangsa-bangsa, dan kelompok-kelompok muslim di seluruh dunia.

Dalam Peristiwa Madiun, 1948, umpamanya, kaum muslimin Indonesia berdiri berhadapan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) karena dua alasan. Pertama, karena PKI di bawah pimpinan Muso berusaha menggulingkan pemerintahan Republik Indonesia yang didirikan oleh bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Kedua, karena banyak pemuka agama Islam dan ulama yang terbunuh, seperti kalangan pengasuh Pesantren Takeran yang hanya terletak beberapa kilometer di luar kota Madiun sendiri. Kiai Mursyid dan sesama kiai pesantren tersebut hingga saat ini belum diketahui di mana dikuburkan.

Percaturan geo-politik saat ini pun menghadapkan Uni Soviet, kubu pertama paham Marxisme-Leninisme kepada Dunia Islam, karena pendudukannya atas bangsa muslim Afghanistan semenjak beberapa tahun lalu. Selain itu, secvara ideologis, Marxisme-Leninisme juga tidak mungkin dipertemukan dengan Islam. Marxisme-Leninisme adalah doktrin politik yang dilandaskan pada filsafat materialisme. Sedangkan Islam betapa pun adalah sebuah agama yang betapa praktisnya, sekalipun dalam urusan keduniaan, masih harus mendasarkan dirinya pada spiritualisme dan kepercayaan akan sesuatu yang secara empiris sudah tentu tidak dapat dibuktikan.

Apalagi Marxisme-Leninisme adalah pengembangan ekstrem dari filsafat Karl Marx yang justru menganggap agama sebagai opium (candu) yang akan melupakan rakyat dari perjuangan strukturalnya untuk merebut alat-alat produksi dari tangan kaum kapitalis. Demikian pula dari skema penataan Marxisme-Leninisme atas masyarakat, Islam sebagai agama harus diperlakukan sebagai super struktur yang dibasmi, karena “merupakan bagian dari jaringan kekuasaan reaksioner yang menunjang kapitalisme”, walaupun dalam dirinya ia mengandung unsur-unsur antikapitalisme.

Atau dengan kata lain, yang menjadi bagian inti dari doktrin Marxisme-Leninisme, Islam adalah “bagian dari kontradiksi internal kapitalisme”. Dialektika paham tersebut memandang pertentangan antara Islam dan kapitalisme hanya sebagai pertentangan subsider dalam pola umum pertentangan antara kaum proletar melawan struktur kapitalisme yang didirikan oleh kaum feodal.

Sebuah aspek lain dari pertentangan ideologis antara Islam dan Marxisme-Leninisme dapat dilihat pada fungsi kemasyarakatan masing-masing. Dalam kerangka ini, Marxisme-Leninisme berusaha mengatur kehidupan bermasyarakat secara menyeluruh atas wawasan-wawasan rasional belaka, sedangkan Islam justru menolak sekulerisme seperti itu.

Menurut ajaran formal Islam, pengaturan kehidupan bermasyarakat harus diselaraskan dengan semua ketentuan-ketentuan wahyu yang datang dari Allah. Pengaturan hidup secara revelational (walaupun memiliki wawasan pragmatis dan rasionalnya sendiri untuk dapat menampung aspirasi kehidupan nyata), bagaimanapun juga tidak mungkin akan berdamai sepenuhnya dengan gagasan pengaturan masyarakat secara rasional sepenuhnya.

Tidak heranlah jika pengelompokan politik dan sosial budaya yang memunculkan apa yang dinamai “golongan Islam” juga menggunakan pola penghadapan dalam meletakkan Marxisme-Leninisme dalam hubungannya dengan Islam. Seperti dalam forum yang melawan dan menentangnya.

Forum-forum formal Islam sendiri juga demikian, senantiasa meletakkan Marxisme-Leninisme dalam hubungannya dengan Islam. Seperti dalam forum yang melawan dan menentangnya.

Forum-forum formal Islam sendiri juga demikian, senantiasa meletakkan Marxisme-Leninisme dalam kategori “ideologi lawan”. Atau dalam jargon Rabithah al-Alam al-Islami/Islamic Word Association) yang berkedudukan di Makkah, “ideologi yang menentang Islam (al-fahm al-mudhadli al-islami).” Dalam forum-forum resmi internasional di kalangan kaum muslimin, Marxisme-Leninisme dalam “baju” komunisme secara rutin dimasukkan ke dalam paham-paham yang harus ditolak secara tuntas.

Sikap demikian dapat juga dilihat pada karya-karya tulis para pemikir, ideolog, dan budayawan yang menjadikan Islam sebagai kerangka acuan dasar untuk menata kehidupan (dalam arti tidak harus dalam bentuk negara theokratis atau secara ideologis formal dalam kehidupan negara, tetapi sebagai semangat pengatur kehidupan). Para penulis “pandangan Islam” itu memberikan porsi panjang lebar kepada penolakan atas ideolgi dan paham Marxisme-Leninisme dalam karya-karya mereka.

Penolakan ini antara lain berupa sikap mengambil bentuk peletakan “pandangan Islam” sebagai jalan tengah antara kapitalisme dan komunisme atau menurut istilah Mustofa al-Siba’I, antara kapitalisem dan sosialisme.menurut pandangan mereka, kapitaisme akan membawa bencana karena terlalu mementingkan kepentingan perorangan warga masyarakat, karena sandarannya kepada inividualisme. Sedangkan kolektivisme yang menjadi ajaran Marxisme, diserap oleh Marxisme-Leninisme, justru akan menghilangkan hak-hak sah dari individu yang menjadi warga masyarakat. Islam menurut mereka memberikan pemecahan dengan jalan menyeimbangkan antara “hak-hak masyarakat” dan “hak-hak individu”.

Melihat pola hubungan diametral seperti itu memang mengherankan. Bahwa masih saja ada kelompok-kelompok Marxis-Leninis dalam masing-masing lingkungan bangsa muslim mana pun di seluruh dunia. Bahkan di kalangan minoritas muslim di negara yang mayoritas penduduknya beragama bukan Islam, seperti Sri-Lanka, Filipina. Bukan karena adanya orang-orang yang berpaham Marxis-Leninis. Karena memang mereka ada di mana-mana.

Tambahan pula, keadaan masyarakat bangsa-bangsa yang memiliki penduduk beragama Islam dalam jumlah besar memang membuat subur pertumbuhan paham itu. Secara teoritis, karena besarnya kesenjangan antara teori kemasyarakatan yang terlalu meuluk-muluk yang ditawarkan dan kenyataan menyedihkan akan meluaskan kemiskinan dan kebodohan. Yang menarik justru kenyataan bahwa oleh pemerintah negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, (kecuali sudah tentu di Indonesia. Kalaupun dilarang, maka bukan karena paham itu sendiri tidak dibarkan secara hukum neagara, melainkan karena di lingkunagn bangsa itu tidak diperkenankan adanya gerakan politik dari rakyat sama sekali, seperti Arab Saudi saat ini.

Yang lebih menarik lagi justru adalah terus-menerus adanya upaya untuk meramu ajaran Islam kepada atau dengan paham-paham lain, termasuk Marxisem. Seperti yang saat ini dilakukan dengan giatnya oleh Muammar Khadafi, pemimpin Lybia yang berperilaku eksentrik itu. Ternyata upaya tersebut tidak terbatas pada “penggalian” konsep konsep Marx yang nonkomunistis saja, tetapi juga mencapai “pengambilan” dari Marxisme-leninisme.

Secara formal, paham tersebut di larang di Lybia. Tetapi secara faktual banyak unsur-unsur Marxisme-Leninisme ke dalam doktrin politik Khadafi. Umpanya saja, pengertian “kelompok yang memelopori revolusi,’ yang jelas berasal dari konsep Lenin tentang pengalihan pemerintah dari kekuasaan kapitalisme (tidak harus yang berwatak finansial-industri, tetapi cukup yang masih berwatak agraris belaka). Demikian juga konsep “pimpinan revolusi”, yang dicanangkan sebagai “dewan-dewan rakyat” (al-jamariyah) sebagai satu-satunya kekuatan “pengawan revolusi” dari kemunkginan direbut kembali oleh kapitalisme internasional.

Fenomena upaya meramu unsur Marxisme-Leninisme ke dalam teori politik yang ditawarkan sebagai “ideolgoi Islam” sangat menarik untuk dikaji, karena bagaimanapun ia mengandung dua aspek. Pertama, ia tidak terbatas pada kalangan eksentrik seperti Khadafi, tetapi juga di kalangan sujumlah pemikir muslim serius, semisal Abdel Malek dan Ali Syari’ati. Saat ini pun, gerakan Mojaheddin eKhalq yang bergerak di bawah tanah di Iran dan dipimpin oleh Masoud Rajavi dari Paris, menggunakan analisis perjuangan kelas yang mengikuti acuan Marxisme-Leninisme. Kedua, kenyataan bahwa upaya “meramu” tersebut sampai hari ini masih mampu mempertahankan warna agamanya yang kuat. Bukan proses akulturasi yang muncul, di mana Islam dilemahkan, melainkan sebaliknya, terjadi penguatan ajaran-ajarannya melalui “penyerapan sebagai alat analisis”.

Keseluruhan yang dibentangkan di atas menghendaki adanya kajian lebih mendalam tentang hubungan Islam dan Marxisme-Leninisme, yang akan membawa kepada pemahaman yang lebih terinci dan pengertian lebih konkret akan adanya titik-titik persamaan yang dapat digali antara Islam sebnagai ajaran kemasyarakat dan Marxisme-Leninisme sebagai ideologi politik.

Pemahaman dan pengertian seperti itu akan memungkinkan antisipasi terhadap peluang bagi terjadinya “titik sambung” keduanya dinegeri ini. Antisipasi mana dapat saja digunakan, baik untuk mencegahnya maupun mendorong kehadirannya.

Salah satu cara untuk melihat titik-titik persamaan antara Islam dan Marxisme Leninisme, keduanya sebagai semacam “ajarab kemasyarakatan” (untuk meminjam istilah yang populer saat ini di kalangan sejumlah theolog Katolik yang menghendaki perubahan struktural secara mendasar) adalah menggunakan pendekatan yang disebut sebagai vocabularies of motive (keragaman motif) oleh Bryan Turner dalam bukunya yang terkenal, Weber and Islam (hlm. 142).

Menurut pendekatan in, tidak ada satu pun motif tunggal dapat diaplikasikan secara memuaskan bagi keseluruhan perilaku kaum muslimin sepanjang sejarah mereka. Kecenderungan “agama” seperti tasawuf (mistisisme), syariat (legal-formalisme), dan akhlak (etika sosial), dalam hubungannya dengan kecenderungan “ekonomis”, seperti semangat dengan etos kerja agraris, pola kemiliteran dan asketisme politis, ternyata menampilkan banyak kemungkinan motivatif bagi perilaku kaum muslimin itu. Walaupun pendekatan itu oleh Turner dipakai justru untuk mencoba melakukan pembuktian atas kaitan antara Islam dan kapitalisme, bagimanapun juga penggunaannya sebagai alat untuk meneliti kaitan antara Islam Marxisme-Leninisme akan membuahkan hasil kajian yang diharapkan.

Umpamanya saja, pendekatan ini dapat mengungkapkan adanya kesamaan orientasi antara pandangan kemasyarakatan Marxisme-Leninisme yang bersumber pada kolektivisme dan tradisi kesederhanaan hierarki dalam masyarakat suku yang membentuk masyarakat Islam yang pertama di Madinah di zaman Nabi Muhammad.

Kesamaan orientasi tersebut dapat dilihat pada besarnya semangat egalitarianisme dan populisme dalam kedua sistem kehidupan itu. Orientasi kehidupan seperti itu mau tidak mau akan membawa sikap untuk cenderung menyusun pola kehidupan serba senang kepada tindakan (action-oriented), dan menjauhi kecenderungan kontemplatif dan meditatif.

Orientasi kepada tindakan ini demikian kuat terlihat dalam kehidupan masyarakat Islam, sehingga keimanan dan tuntasnya keterlibatan kepada ajaran agama (dikenal dengan nama Rukun Islam) sepenuhnya diidentifisir dengan “tindakan”. Dari syahadat (pengakuan akan keesaan Allah dan kerasulan Muhammad), salat, zakat, puasa, hingga kewajiban menjalankan peribadatan haji.

Walaupun Marxisme bersandar pada ajaran determinisme-materialistik (dalam jargon sosialisme dikenal dengan nama historis-materialisme), dan dengan demikian Marxisme-Leninisme mendasarkan idiologinya sampai titik tertentu pada acuan tersebut, tetapi orientasinya kepada “sikap aksional” tetap tampak sangat nyata. Justru acuan deterministik yang mendorong kaum Marxis termasuk Marxis-Leninis, untuk mempersoalkan struktur kekuasaan dan tindakan terprogram dalam memperjuangkan dan kemudian melestarikan struktur masyarakat yang mereka anggap sebagai bangunan kehidupan yang adil.

Orientasi inilah yang “menhubungkan” antara Islam dan Marxisme-Leninisme, menurut versi pikiran orang-orang seperti Khadafi dan Masoud Rajavi. Walaupun secara prinsipil mereka menentang komunisme sebgai ideologi dan memenjarakan pemimpin-pemimpin komunis serta melawan mereka dalam bentrokan-bentrokan fisik.

Berbeda dengan mendiang Gamal Abdul Nasser dari Mesir, yang berideologi sosialistik dan sedikit banyak dapat mentolerir kehadiran pemimpin-pemimpin komunis, seperti Mustafa Agha di negerinya, walupun sering juga ditahan kalau ternyata masih melakukan aktivitas yang dinilainya subversif. Sikap Nasser ini juga diikuti oleh kedua rezim sosialis Ba’ath (kebangunan) yang berkuasa di Irak dan Syiria sekarang ini.

Sebuah perkecualian menarik dalam hal ini, karena perbedaan ideologis yang ada dapat “dijembatani” oleh kesamaan orientasi di atas adalah kasus Parta Tudeh di Iran. Pertai yang nyata-nyata berideologi Marxis-Leninis itu ternyata hingga saat ini masih dibirakan hidup oleh rezim revolusi Islam di Iran, walaupun gerakan gerilya Fedayen E-Khalq yang juga Marxis-Leninis justru ditumpas dan dikejar-kejar.

Ternyata kesamaan orientasi populistik dan egalitarian anatara ideologi Islam dan Marxis-Leninisme dihadapan lawan bersama imperialisme Amerika Serikat menurut jargon mereka, mengandung juga benih-benih kontradiksi interen antara kaum mula dan kaum Marxis-Leninis Iran, selama yang terakhir ini tidak mengusik-usik kekuasaan Partai Republik Islam, selam itu pula mereka ditolerir.

Dari sudut pandangan ini, sikap kaum muslimin Indonesia yang menolak kehadiran Marxisme-Leninisme melalui ketetapan MPR adalah sebuah anomali, yang hanya dapat diterangkan dari kenyataan bahwa telah dua kali mereka dikhianati oleh kaum komunis di tahun 1948 dan 1965. Penolakan dengan demikian berwatak politis, bukannya ideologis.

Hal ini menjadi lebih jelas, jika diingat bahwa kaum muslimin Indonesia sudah tidak lagi memiliki aspirasi mereka sendiri di bidang ideologi, tetapi meleburkannya ke dalam ideologi “umum” bangsa, Pancasila.

Kenyataan seperi ini memang jarang dimengerti, karena tinjauan yang dilakukan selama ini atas hubungan Islam dan Marxisme-Leninisme sering sekali bersifat dangkal, melihat persoalannya dari satu sisi pandangan saja, itu pn yang bersifat sangat formal. Wajar sekali kalau kaitan dengan Marxisme-Leninisme tidak diakui secara formal di kalangan gerakan-gerakan Islam, tetapi diterima dalam praktek. Seperti wajarnya ”garis partai” yang menolak kehadiran agama di negara-negara komunis, tetapi dalam praktek diberikan hak melakukan kegiatan serba terbatas.

Melihat kenyataan di atas, menjadi nyata bagi mereka yang ingin melakukan tinjauan mendalam atas Maexisme-Leninisme dari sudut pandangan Islam. Bahwa harus dilakukan pemisahan antara sikap Islam yang dirumuskan dalam ajaran resmi keagamaannya dan “sikap Islam” yang tampil dalam kenyataan yang hidup dalam bidang politik dan pemahaman secara umum.

Banyak pertimbangan lain yang mempengaruhi hubungan antara Islam dan Marxisme-Leninisme dalam praktek, sehingga tidak dapat begitu saja digeneralisasi tanpa mengakibatkan penarikan kesimpulan yang salah. Demikian juga, dalam melihat kaitan dalam praktek kehidupan pemerintahan, tidaklah cukup kaitan itu sendiri diidentifikasikan sebagai sesuatu yang sumir dan berdasarkan kebutuhan taktis belaka, seperi yang disangkakan pihak Amerika Serikat atas hubungan Khadafy dan Uni Soviet. Karena sebenarnya yang terjadi adalah proses saling mengambil antara dua ideologi besar, tanpa salah satu harus mengalah terhadap yang lain. Betapa tidak permanennya hubungan itu sekalian, karena keharusan tidak boleh mangalah kepada ideologi lain, kaitan antara Islam dan Marxisme-Leninisme memiliki dimensi ideologinya sendiri. Yaitu kesamaan sangat besar dalam orientasi perjuangan masing-masing.

Kalau diproyeksikan terlebih jauh ke masa depan, bahkan akan muncul varian lain dari pola hubungan yang telah ada itu. Yaitu dalam hasil akhir ideologis dari upaya yang sedang dilakukan sejumlah intelektual muslim untuk mendalami sumber-sumber ajaran Islam melalui analisis pertentangan kelas yang menjadi “merek dagang” Maxisme-Leninisme.

Ayat-ayat Al-Qur’an, ucapan nabi dalam hadits dan penjelasan ulama dalam karya-karya mereka diperiksa kembali “wawasan kelas”-nya, digunakan sudut pandangan sosial-historis untuk melakukan penfsiran kembali atas “pemahaman salah” akan sumber-sumber ajaran agama itu.

Zakat sebagai salah satu Rukun Islam, umpamanya, dilihat secara kritis sebagai alat populistik untuk menata orientasi kemasyarakat kaum muslimin dalam pengertian struktural. Lembaga tersebut diwahyukan dengan beban terbesar atas penyelenggaraan hidup bermasyarakat pada pundak lapangan pertanian sebagai profesi kaum elite Madinah waktu itu (karena membutuhkan masukan modal sangat besar, tidak seperti usaha dagang kecil-kecilan di pasar yang menjadi kerja utama kebanyakan penduduk Madinah). Pendekatan struktural dalam menafsirkan kembali ajaran agama itu bagaiamanapun akan membawa kepada kesadaran akan pentingnya analisis perjuangan kelas untuk menegakkan struktur masyarakat yang benar-benar adil dalam pandangan Islam.

Di pihak lain, semakin berkembangnya pemahaman “humanis” atas Marxisme-Leninisme, seperti dilakukan Partai Komunis Itali dewasa ini akan membawa apresiasi lebih dalam lagi tentang pentingnya wawasan keagamaan ditampung dalam perjuangan kaum Marxis-Leninis untuk menumbangkan struktur kapitalis secara global.

Hal ini sebenarnya sudah disadari oleh sejumlah teoritisi Marxis-Leninis sejak dasawarsa tigapuluhan dari abad ini, semisal Gramsci. Sudah tentu akan muncul aspek kesamaan orientasi kemasyarakatan antara Islam dan Marxisme-Leninisme dengan dilakukan kajian-kajian di atas yang antara lain sedang dilakukan oleh Mohammad Arkoun dan Ali Merad, yang dua-duanya kini tinggal di Perancis.

Penulis : KH. Abdurrahman Wahid

* Tulisan ini pernah dimuat di Persepsi, No.1, 1982

Sumber : NU Online
Dialog Imajiner Antara Gus Dur VS Santri

Dialog Imajiner Antara Gus Dur VS Santri


Santri : "Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!"
Gus Dur : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."
Santri : "Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?"

Gus Dur : "Ya tidak tahulah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."
Santri : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"

Gus Dur : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."
Santri : "Anti-aging gitu, Gus?"
Gus Dur : "Iya. Pokoknya kekal."
Santri : "Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya."

Gus Dur : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."
Santri : "Maksudnya senior apa, Gus?"
Gusdur : "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."

Santri : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?"
Gus Dur : "Iblis itu dulunya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."

Santri : "Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara–garanya, aku jadi miskin kayak gini."
Gus Dur : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."

Santri : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"
Gus Dur : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
Santri : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?"

Gus Dur : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."
Santri : "Aneh."
Gus Dur : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"
Santri : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan."

Gus Dur : "Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."

Santri : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."
Santri : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?"

Gus Dur : "Dua-duanya."
Santri : "Kok dua-duanya?"
Gus Dur : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."

Santri : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus."
Gus Dur : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."

Santri : "Ooh…"
Gus Dur : "Jadi intinya begitulah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."
Santri : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?"

Gus Dur : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."
Santri : "Masa sih, Gus?"
Gus Dur : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."
Santri : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"
Gus Dur : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."

Santri : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."
Gus Dur : "Siapa? Ente?"
Santri : "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid'ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh."

Gus Dur : "Wah, persis Iblis tuh."
Santri : "Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."
Gus Dur : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."
Santri : "Bedanya apa, Gus?"
Gus Dur : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."
Santri : "Lho, kok begitu?"

Gus Dur : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."
Santri : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"
Gus Dur : "Pinter kamu, Kang!"
Santri : "Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur."

Sumber : https://www.facebook.com/gusdurhumor
Siapa Paling Dekat dengan Tuhan ?

Siapa Paling Dekat dengan Tuhan ?


Tokoh agama Islam, Kristen, dan Budha sedang berdebat. Gus Dur tentu sebagai wakil dari agama Islam. Kala itu diperdebatkan mengenai agama mana yang paling dekat dengan Tuhan ?
Seorang biksu Budha menjawab duluan. “Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan, karena setiap kita beribadah ketika memanggil Tuhan kita mengucapkan ‘Om’. Nah kalian tahu sendiri kan seberapa dekat antara paman dengan keponakannya?”

Seorang pendeta dari agama Kristen menyangkal.“Ya tidak bisa, pasti agama saya yang lebih dekat dengan Tuhan.” ujar pendeta

“Lah kok bisa ?” sahut biksu penasaran.

“Kenapa tidak,agama anda kalau memanggil Tuhan hanya om, kalau di agama saya memanggil tuhan itu ‘Bapa’ Nah kalian tahu sendiri kan lebih dekat mana anak sama bapaknya daripada keponakan dengan pamannya,” jawab pendeta.

Gus Dur yang belum mengeluarkan argumen masih tetap tertawa malah terbahak-bahak setelah mendengar argumen dari pendeta.

“Loh kenapa anda kok tertawa terus?” tanya pendeta penasaran.

“Apa anda merasa bahwa agama anda lebih dekat dengan tuhan?” sahut biksu bertanya pada Gus Dur.

Gus Dur masih saja tertawa sambil mengatakan “Ndak kok, saya ndak bilang gitu, boro-boro dekat  justru agama saya malah paling jauh sendiri dengan Tuhan.” jawab Gus Dur dengan masih tertawa.

“Lah kok bisa ?” tanya pendeta dan biksu makin penasaran.
“ Lah gimana tidak, lah wong kalau di agama saya itu kalau memanggil Tuhan saja harus memakai Toa (pengeras suara),” jawab Gus Dur.

 Ahmad Lailatus Sibyan, santri asal Jawa Tengah, tinggal di Yogyakarta

Sumber : NU.or.id
Pengelihatan Mata Bathin Gus Dur Terhadap KH. Tengku Zulkarnain

Pengelihatan Mata Bathin Gus Dur Terhadap KH. Tengku Zulkarnain


Kiayi Haji Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI yang ke-4 sudah lama saya kenal melalui siaran televisi, koran-koran dan buku-buku yang memuat pemikiran beliau. Namun yang paling berkesan bagi saya adalah saat kami berdua pernah duduk bersama seharian penuh dari pukul 07.00 pagi hari sampai 19.00 malam hari. Kebersamaan kami berlangsung di Riau, tepatnya di kediaman Gubernur Riau, H. M. Rusli Zainal. Ketika itu Gubernur Riau sendiri yang meminta saya untuk menemani Gusdur sebagai 'pengganti'  tuan rumah, karena Gubernur Riau tidak dapat terus menerus menemani Gusdur.

Jadilah pertemuan kami itu berlangsung aman, tanpa ada gangguan sedikitpun. Saya masih ingat rombongan Gusdur saat itu lumayan ramai juga, di antaranya adalah Muhaimin Iskandar (sekarang menjadi Menteri Tenaga Kerja RI), dan saudara Lukman Edi (seorang anggota DPR RI). Sepanjang hari itu, kami duduk bersebelahan dan berbicara panjang lebar mulai dari masalah agama, masalah negara, masalah pemimpin-pemimpin Indonesia.

Ketika membicarakan masalah agama kami terlibat dalam pembicaraan sangat serius. Saat itu kami berkesempatan untuk membuktikan secara langsung kata-kata orang yang banyak saya dengar, yang menyatakan bahwa Gusdur menguasai banyak kitab-kitab klasik. Maka kami membuka dialog dengan mencuplik kitab-kitab klasik yang pernah kami baca mulai dari karangan Imam As Syafi'i, Imam Harmaini, Imam Al Ghazali, Imam Ibnu Katsir, dan lain-lain. Apa yang terjadi...? Gusdur ternyata bukan hanya mahir mengimbangi pembicaraan mengenai berbagai permasalahan yang kami kemukakan, namun dengan mahir beliau malah membacakan matan-matan semua persoalan tersebut dalam bahasa Arab yang asli, tepat seperti isi kitab yang asli. Tidak dapat kami pungkiri bahwa saat itu hati kami bergetar, kagum, heran, juga bahagia. Yakinlah kami bahwa Allah benar-benar Maha Kuasa dan telah menciptakan hamba-hambaNya dengan berbagai kelebihan. Subhanallah...

Ketika membahas kepemimpinan nasional, Gusdur dengan disertai humor-humor kocak sana sini menjelaskan dan berdiskusi dengan kami tentang banyak hal. Satu yang sangat kami catat kuat dalam ingatan kami bahwa tidak pernah sekalipun terucap kata-kata jelek yang bersifat mempersalahkan seorangpun dari pemimpin nasional kita. Ketika membahas Pak Harto, nada ucapan beliau berubah menjadi sangat lembut dan serius. Saat itu Gusdur berkata dan kami masih ingat benar, beliau berucap begini: "Pak Harto sebagai seorang pemimpin nasional telah memberikan contoh sebuah pekerjaan yang terencana dan terukur. Program beliau direncanakan rapi dan diukur setelah waktu pelaksanaan berakhir." Kemudian beliau berdiam berapa saat. Kemudian beliau tertawa kecil seraya berkata sambil tertawa: "laahha kalo saya, kerja kapan inget, terus saya buat saja.."

Kesan saya saat itu muncul, sebagai orang Jawa asli, Gusdur terbiasa dengan sikap dan adab orang Jawa, mikul nduwur yaitu menghormati orang yang lebih tua. Beliau jujur dan humoris. Jujur dalam arti tidak menyembunyikan kelemahan dirinya.

Pertemuan kami berjalan manis. Kami hanya berpisah beberapa menit saat waktu sholat Dzuhur dan Ashar tiba, untuk kemudian duduk kembali di meja yang sama. Ada beberapa keistimewaan Gusdur yang saya yakin muncul dari indera keenam beliau. Ketika beliau bertanya kepada kami: "Sampeyan itu kan orang Medan, kok kata Gubernur tadi, sampeyan orang Riau?" Kemudian kami menjelaskan bahwa ibu kami adalah orang Riau dari Rokan Hilir, Bagan Siapi-api. Namun kemudian beliau berkata: "Rumah sampeyan di Klender, sampeyan buat pengajian malam senin di Klender, terus sampeyan begini...sampeyan begitu.." yang kesemuanya tepat dan benar. Paling aneh adalah saat kami katakan bahwa kami akan pulang pukul 17.00 dengan pesawat Mandala, saat itu beliau berkata kepada saya dengan tegas: "Ndak, sampeyan pulang dengan saya naek Garuda jam 7 (malam)." Menanggapi ucapan itu kami diam saja sebab di tangan kami sudah ada tiket Mandala pukul 5 sore rute Pekanbaru-Jakarta.

Ternyata pesawat Mandala delay sampai pukul 21.00, maka jadilah kami bertukar pesawat naik Garuda Indonesia bersama dengan Gusdur. Ada satu nasehat beliau kepada kami yang akan tetap kami ingat. "Negeri Riau adalah negerinya orang-orang Naqsyabandi. Dan dari sini telah muncul seorang wali besar Syaikh Abdul Wahab Rokan. Sampeyan musti jaga negeri ini, jangan dibiarkan begitu saja apalagi ibunya sampeyan orang asli negeri ini." Saat itu beliau pegang tangan saya dan saya pun menjawab dengan rasa haru: "Iya Gus, saya pasti akan menjaga negeri saya ini."

Sekarang Gusdur telah berpulang bertemu dengan Sang Pencipta Yang Maha Tinggi. Setelah sebelumnya memandang dengan bashirah beliau kedatangan sang kakek tercinta, Ulama Besar pendiri NU untuk mendampingi beliau di alam barzakh. Kami berdoa semoga beliau nyaman berdekatan dengan Kakek dan Bapak beliau di tanah Jombang, Pesantren keluarga besar Syaikh Asy'ari.

Selamat jalan Gusdur...Nasehat panjenengan senantiasa akan kami ingat sebagai kenangan manis antara orangtua kepada anaknya. Assalamu'alaika...

Sumber : tengkuzulkarnain.net
Menggaris NU Dengan Penggaris Tidak Lurus

Menggaris NU Dengan Penggaris Tidak Lurus

Sudah lama saya mencoba menahan diri, namun saya harus meluruskan tulisan NU Garis Lurus yang justru tidak lurus. Bagaimana tidak, sebab kiai-kiai di PWNU Jatim dianggap kiai liberal karena menerapkan AHWA, ahlul halli wal aqdi, sebuah majlis ulama yang mengangkat Rais Am dan Ketua Umum PBNU.

Pertama, AHWA ini sudah diperjuangkan oleh PWNU Jatim sejak Munas Alim Ulama di Cirebon 2012 lalu, saya hadir disana mulai pembukaan hingga pleno. Jadi tidak benar kalau AHWA bertujuan menjegal KH Hasyim Muzadi. Lalu dari sisi mana para kiai NU jatim disebut liberal? Sebab justru pemilihan langsung di PBNU adalah gagasan Gus Dur, yang biasanya NU Garis Lurus ini sangat membenci pemikiran Gus Dur. Rupanya mereka menggaris NU dengan penggaris yang tidak lurus, yaitu tidak pernah tabayyun, dan hanya didasari rasa hasud yang justru dilarang oleh Rasulullah Shalla Allahu alaihi wa sallama

Kedua, para Kiai Jatim difitnah menjegal KH Hasyim Muzadi. Lagi lagi ini tuduhan tanpa tabayyun. Sebulan yang lalu saya menyertai Rais Syuriyah PCNU Sby menghadiri pertemuan para Syuriah di PP al Falah Kediri, untuk merumuskan kriteria AHWA. Di akhir sesi ada penyebutan sosok yang layak menjadi Rais Am. 

Ada salah satu Cabang yang menyebut KH Hasyim Muzadi. Namun aturan Khittah di NU tidak memperbolehkan NU dibawa ke ranah politis, sementara KH Hasyim Muzadi saat ini menjadi Wantimpres Joko Widodo. Lalu dari sisi mana jika menjalankan aturan organisasi di NU kemudian secara serampangan disebut liberal?

Digambar ini dituduh PBNU Liberal, padahal foto foto Kiai PWNU Jatim. Apa yang diterapkan PBNU saat ini bermula dari usulan PWNU Jatim dan disetujui 2 kali Munas Alim Ulama.

Penulis : Ustadz Ma'ruf Khozin
Jendral Takut Kepada Istri

Jendral Takut Kepada Istri


Para jenderal di jaman Orde Baru terbagi dalam dua kelompok, kata Gus Dur. Pertama jenderal yang takut istri. Kedua jendral yang tidak takut istri.

Dalam setiap pertemuan mereka selalu memisahkan diri. Jenderal yang takut istri berada di sebelah sisi ruangan. Sementara jenderal yang tidak takut istri berada di sisi lain.

Suatu ketika dalam suatu pertemuan ada seorang jenderal yang mestinya tergabung dalam kelompok jenderal takut istri duduk bersama kelompok jenderal yang tidak takut istri.
Teman-temannya, para jenderal yang takut istri protes. “Eh kenapa kamu duduknya di situ bareng jenderal yang tidak takut istri? Memangnya sekarang kamu sudah berani sama istrimu?”
Kata si jenderal, “Wah nggak tahu deh. Saya disuruh istri saya duduk di sini! ya saya duduk saja.” (Anam, NU Online)
Kesaksian Salah Satu Petinggi "Muhammadiyah" tentang Kewalian Gus Dur

Kesaksian Salah Satu Petinggi "Muhammadiyah" tentang Kewalian Gus Dur


Meskipun di depan publik NU dan Muhammadiyah sering dianggap berseberangan, tapi faktanya diantara tokoh dan petingginya sendiri terjalin keakraban dengan tetap menghormati perbedaan pandangan masing-masing.

Diantara tokoh Muhammadiyah yang pernah menyaksikan sisi “linuwih” Gus Dur adalah Syafii Maarif, mantan ketua umum PP Muhammadiyah dan Mukthie Fadjar seperti disampaikan oleh Mahfud MD dalam bukunya “Setahun Bersama Gus Dur: Kenangan Menjadi Menteri di saat Sulit”.

Dalam bukunya tersebut Mahfud Menuturkan, Syafii Maarif pernah menulis di harian Kedaulatan Rakyat, menceritakan bahwa pada awal Juni 1999 Gus Dur sudah pernah mengatakan kepadanya bahwa dia akan menjadi presiden dan menjanjikan akan memberi sejumlah kursi di kabinet kepada orang-orang Muhammadiyah.

Waktu itu, Syafii Maarif menjawab sambil bercanda, bahwa, jika Gus Dur menjadi presiden, Muhammadiyah tidak akan minta jatah kursi di kabinet. Syafii Maarif menceritakan percakapannya dengan Gus Dur itu beberapa waktu setelah Gus Dur benar-benar menjadi presiden.

Informasi Jatuhnya Soeharto

Bukan hanya soal dirinya akan menjadi presiden yang dikemukakan oleh Gus Dur kepada orang-orang tertentu. Setahun sebelum jatuhnya Soeharto dari kursi kepresidenan, Gus Dur juga sudah mengatakan dengan yakin bahwa sang Presiden akan jatuh. Prof A Mukthie Fadjar, guru besar Hukum Tata Negera dari Universitas Brawijaya Malang pernah bercerita juga bawah ketika bertemu dengan Gus Dur di Kediri pada tahun 1997, ia dititipi pesan oleh Gus Dur untuk disampaikan kepada Malik Fadjar, kakkanya, yang ketika itu menjadi salah seorang direktur jenderal di Departemen Agama.

“Sampaikan pada Pak Malik Fadjar agar tidak usah dekat-dekat dengan Pak Harto. Sebenar lagi Pak Harto itu akan jatuh,” 

Demikian pesan Gus Dur seperti ditirukan oleh Mukthie Fadjar kepada Mahfud MD ketika sama-sama menguji kandidat doktor di Universitas Padjdjaran Bandung. Dan terbukti penguasa Orde Baru ini jatuh oleh gelombang protes mahasiswa yang membawa angin perubahan lewat reformasi. ( Mukafi Niam, NU Online )

Quote Gus Dur :
Humor tidak bisa menjatuhkan suatu pemerintahan. Tetapi humor bisa membantu membusukkan suatu rezim. 
Politik Humor "Gus Dur"

Politik Humor "Gus Dur"


Seorang pejabat tinggi, sebut saja si Fulan, merasa deg-degan dicap sebagai koruptor oleh Gus Dur. Sebab, Gus Dur mengatakan bahwa perbuatan tertentu yang dilakukan si Fulan tak bisa lain kecuali diartikan korupsi. “Dibolak-balik bagaimanapun, itu adalah korupsi. Titik,” kata Gus Dur.

Mungkin atas permintaan si Fulan atau diimbau orang lain, salah seorang yang dekat dengan Gus Dur meminta agar Gus Dur tak lagi menyerang si Fulan, apalagi dengan tuduhan korupsi. Si Fulan dalam kasus itu sama sekali tak melakukan korupsi, melainkan sekadar meneruskan secara resmi sebuah permohonan. Apalagi, ada yang memalsukan susbtansi persoalannya.

Gus Dur pun setuju untuk tak lagi mengatakan si Fulan korupsi Tetapi besoknya, Gus Dur bilang si Fulan itu tergolong teroris karena ikut mendalangi beberapa kerusuhan. Ketika ditanya mengapa masih menyerang si Fulan, padahal sudah menyatakan tak akan menyerangnya lagi, Gus Dur pun menjawab bahwa dirinya sudah memenuhi janji untuk tidak lagi mengatakan si Fulan korupsi.

“Saya tadi kan tak bilang dia korupsi, saya hanya bilang teroris,” jawabnya enteng.

***

Cerita tersebut menunjukkan kelihaian Gus Dur melakukan serangan politik sambil berkelit dengan mengundang senyum geli. Serangan atau kelitan poitik Gus Dur kerap mengundang tawa geli karena selain sangat keras juga lucu. Dia memang dikenal sebagai penyaji humor politik tingkat tinggi.

Kita masih ingat humor politik Gus Dur yang dilempar kepada Presiden Kuba Fidel Castro. Ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke Kuba, Gus Dur memancing tawa saat menyelingi pembicaraannya dengan Castro bahwa semua presiden Indonesia punya penyakit gila. Presiden pertama Bung Karno gila wanita, presiden kedua

Soeharto gila harta, presiden ketiga Habibie benar-benar gila alias gila beneran, sedangkan Gus Dur sendiri sebagai presiden keempat sering membuat orang gila karena yang memilihnya juga orang-orang gila.

Sebelum tawa Castro reda, Gus Dur langsung bertanya. “Yang Mulia Presiden Castro termasuk yang mana?” Castro menjawab sambil tetap tertawa, “Saya termasuk yang ketiga dan keempat.”

Apa selesai sampai di situ ? Tidak. Ketika mengunjungi Habibie di Jerman, oleh orang dekat Habibie Gus Dur diminta mengulangi cerita lucunya dengan Castro itu. Merasa tak enak untuk menyebut Habibie benar-benar gila atau gila beneran, Gus Dur memodifikasi cerita tersebut. Kepada Habibie, dia mengatakan, dirinya bercerita kepada Castro bahwa presiden Indonesia hebat-hebat.

Kata Gus Dur, Presiden Soekarno negarawan, Presiden Soeharto seorang hartawan, Presiden Habibie ilmuwan, sedangkan Gus Dur wisatawan. Selain menghindari menyebut Habibie benar-benar gila, jawaban itu sekaligus merupakan jawaban Gus Dur yang bersahabat atas kritik bahwa dirinya sebagai presiden banyak pergi ke luar negeri seperti berwisata saja.

Gus Dur memang sangat humoris. Bahkan, pelawak-pelawak Srimulat jadi kelabakan jika beradu lucu dengan Gus Dur. Suatu saat, Tarzan Srimulat dan kawan-kawan mengaku kehabisan bahan untuk melucu karena acaranya didahului dengan sambutan Gus Dur yang sangat lucu. Dalam melucu, Gus Dur tak jarang memulai dengan menertawai dirinya sendiri sehingga orang lain tak tersinggung.

Ketika berceramah di depan kerumunan massa, misalnya, Gus Dur mengajak massa untuk membaca salawat bersama-sama dengan suara keras. Setelah itu, dia mengatakan, selain mencari pahala, ajakan membaca salawat tersebut adalah untuk mengetahui berapa banyak orang yang hadir.

“Dengan lantunan salawat tadi, saya jadi tahu berapa banyak yang hadir di sini. Habis, saya tak bisa melihat. Jadi, untuk tahu besarnya yang hadir, ya dari suara salawat saja,” jelasnya.

Tapi, humor dan kelitan Gus Dur bukan sekadar lucu-lucuan. Ketika pada 1998/1999 terjadi kontroversi panas mengenai wacana negara kesatuan dan negara federal, Gus Dur menawarkan solusi agak lucu tetapi mengena. Ketika itu, Amien Rais dengan bendera PAN mengajak kita berwacana atau memikirkan kemungkinan Indonesia menjadi negara federal. Menurut Amien, negara federal bisa lebih demokratis diterapkan di negara sebesar Indonesia.

Ajakan itu kontan mendapat tanggapan panas, misalnya, dari Akbar Tandjung (Golkar) dan Megawati (PDIP). Amien diserang habis karena dianggap mau merusak keutuhan dan persatuan bangsa dan negara.

Ketika ditanya soal kontroversi itu, Gus Dur mengatakan, negara federal baik karena menjamin lebih demokratis, sedangkan negara kesatuan baik karena lebih menjamin keutuhan bangsa.

“Kalau saya begini saja, namanya tetap negara kesatuan, tapi isinya pakai negara federal. Gitu saja kok repot,” kata Gus Dur dalam wawancara eksklusif dengan RCTI.

Oleh : Moh. Mahfud M.D.

Beberapa Quote Gus Dur


Humor tidak bisa menjatuhkan suatu pemerintahan. Tetapi humor bisa membantu membusukkan suatu rezim. (Gus Dur)
Parodi Politik yang merupakan humor politik itu relatif tidak ada batasnya. ( Gus Dur )
Dengan lelucon, Kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan Humor, Pikiran kita jadi sehat. ( Gus Dur )
Ayat-Ayat Cinta Gus Dur Dan Ibu Shinta Nuriyah

Ayat-Ayat Cinta Gus Dur Dan Ibu Shinta Nuriyah

Cerita lain soal Gus Dur kali ini tentang lika-liku serius dan lucu jalan pernikahannya dengan Shinta Nuriyah, perempuan yang setia mendampingi Gus Dur hingga meninggal. Kisah ini bermula ketika Gus Dur hendak menimba ilmu di Kairo, Mesir. Dia diwanti-wanti oleh pamannya, Kiai Fatah, agar menikah lebih dahulu.

“Soalnya kalau kamu menunggu menikah pulang dari luar negeri, kamu hanya akan mendapat wanitua tua yang cerewet,” kata pamannya. Si Paman pun mau membantu mencarikan jodoh.

Lalu, disodorkan lah nama Shinta yang pernah menjadi murid Gus Dur ketika di Muallimat, Jombang. Gus Dur segera mengiyakan tawaran itu. Namun Shinta belum bersedia lantaran trauma dengan salah seorang guru yang pernah meminangnya ketika dia masih berusia 13 tahun. Celakanya, nama guru itu juga Abdurrahman.

Maka, komentar Shinta ketika menerima surat dari Gus Dur adalah, “Ah, Abdurrahman lagi, Abdurrahman lagi.” Kisah ini seperti ditulis Guntur Wiguna dalam buku: Koleksi Humor Gus Dur .

Namun pada akhirnya Shinta mulai bersimpati kepada Gus Dur ketika dia menerima surat dari Gus Dur yang mengeluhkan bahwa dia tidak naik tingkat karena terlalu aktif di PPI (Persatuan Pemuda Indonesia). Lewat surat balasannya Shinta berusaha menghibur. “Masak manusia harus gagal dalam segala-galanya. Gagal dalam setudi, paling tidak berhasil dalam jodoh,” kata Shinta dalam suratnya.

Selama tahun-tahun yang dihabiskan Gus Dur di Kairo, dia memang terus berkorespondensi dengan Shinta. Datangnya surat secara teratur dari gadis itu ditafsirkan sebagai tanda ia tidak ditolak. Setelah sekian lama berhubungan lewat surat, Gus Dur akhirnya melamar Shinta Nuriyah. Namun Shinta sepertinya belum yakin betul dengan Gus Dur .

Seperti ditulis Greg Barton di buku: Biografi Gus Dur . Dalam satu tahap kegamangan, kenang Shinta, bahkan dia mengaku pernah pergi bertanya ke tukang ramal, apakah Gus Dur benar-benar pemuda yang tepat baginya. Atau, apakah dia harus mencari pemuda lain?

Namun jawaban tukang ramal itu jelas. “Jangan mencari-cari lagi, yang sekarang ini ( Gus Dur ) akan menjadi teman hidup anda.” Tapi jawaban ini malah mengganggu pikiran Shinta karena dia belum yakin benar dengan Gus Dur .

Gus Dur bukanlah pemuda paling tampan yang pernah dikenalnya. Namun dibanding pria lain yang pernah mengejarnya, Gus Dur adalah pria dengan kepribadian lembut dan tajam pikirannya, seperti dalam surat-surat yang dia terima. Surat-surat itu belakangan diakui Shinta telah mengubah pandangannya terhadap Gus Dur .

Apalagi, walaupun keluarga di desa sering mengatur pernikahan anaknya, tapi dalam hal ini Shinta diberi kebebasan. Dia akhirnya memutuskan menerima Gus Dur sebagai teman hidupnya. Pada pertengahan 1966, Gus Dur meminangnya, dan keduanya lalu bertunangan.

Dua tahun kemudian, September 1968, Gus Dur akhirnya menikahi Shinta. Tapi pernikahan keduanya bisa dibilang unik. Sebab Gus Dur berada jauh di Kairo, sekitar 12.000 kilo meter dari Jombang, Indonesia, tempat Shinta Nuriyah berada. Karena Gus Dur tidak bisa datang saat pernikahan, akhirnya dia diwakili kakeknya, Kiai Bisri Syansuri yang berusia 81 tahun.

Para tamu yang hadir menjadi heboh ketika melihat kiai berusia 81 tahun bersanding dengan seorang wanita muda usia. Walaupun Gus Dur dan Shinta telah menikah dengan cara yang menghebohkan itu, tapi mereka menganggap pernikahan itu tak lebih dari sekadar pertunangan.

Maka, keduanya sepakat bakal menikah lagi setelah sama-sama lulus kuliah. Dan benar saja, sepulang dari Mesir, yang pertama dilakukan oleh Gus Dur adalah kawin lagi, dengan gadis yang dicintainya, Shinta Nuriyah.

Sumber : merdeka.com
Surat Untuk Bapak, Dibacakan Mbak Yenny Wahid dalam acara belajar Dari Gus Dur di "Mata Najwa Metro TV"

Surat Untuk Bapak, Dibacakan Mbak Yenny Wahid dalam acara belajar Dari Gus Dur di "Mata Najwa Metro TV"


“Bapakku tercinta, tak terasa 5 thn lebih Bapak telah meninggalkan kami.”

“Begitu banyak hal yang terus kukenang tentangmu.”

“Aku ingat, dulu ketika Bapak mencalonkan diri menjadi Presiden, aku ragu.”

“Ragu Karena Bapak tidak bisa melihat, bgm mungkin Bapak bisa memimpin tanpa penglihatan?”

“Namun, seperti Abdullah bin Umar, kebutaanmu adalah anugrah bagi negeri ini.”

“Karena dengannya mata batinmu jadi bercahaya, dan lisanmu menjadi tajam menyuarakan kebenaran.” Yenny Wahid

“Justru kami yang sempurna penglihatannya, Pak, kadang tak mampu bedakan mana yg benar dan salah.”

“Bapak, minggu lalu adalah tahun baru Imlek.”

“Aku ingat ketika Bapak mengeluarkan aturan membolehkan perayaan imlek, ada sedikit kalangan yg mencibir.”

“Sama seperti ketika Bapak perintahkan banser jaga gereja. Orang2 itu berkata Bapak hanya lindungi kelompok minoritas.”

“Mereka lupa, ketika zaman Orde Baru, Bpk brjuang bg kelompok mayoritas yg ditekan, sampai Bapak sendiri harus jd korban.”

“Bpk tercinta, terimakasih telah ajari kami, kaidah agama yg kita anut adlh agama yg cinta damai & mengasihi seluruh alam.”

“Makin bnyk masyarakat yg hafal Qur’an & Hadist, namun sayang masih ada yg senang mengkafirkan org lain.”

“Bapak, justru setelah kau pergi, aku masih melihatmu di mana-mana. Di kaos dan kalender yang banyak dijual orang,”

“Di spanduk dan iklan di layar kaca ketika musim kampanye tiba. Bersanding dengan logo-logo partai dan foto calon Presiden”

“Padahal sebagian dari mereka justru adalah orang2 yg nilai politiknya berbeda dari dirimu.”

“Pak, sungguh kami rindu leluconmu. Tak ada lagi yang bisa marahi DPR & politisi. Bahkan anak TK pun tidak mau lagi disamakan dengan mereka.”

“Kalau Bpk masih ada, mungkin Bpk berkata : polisi kok dibilang bukan penegak hukum ? Pantas sekarang maling2 makin berani.”

“Merampok harta rakyat di siang hari lalu lakukan kriminalisasi agar kejahatannya terlindungi.”

“Bpk mungkin akan senang krn teman Bpk. Buya Syafii Maarif memberi nasehat kpd Presiden Jokowi agar jadi Rajawali.”

“Bapak mungkin akan menambahkan : Dik Jokowi, tangkap saja semua maling itu, gitu aja kok repot.”

“Kasihan Pak Jokowi, Pak. Begitu banyak bebannya dalam memimpin negeri. Sepertinya Beliau perlu teman untuk bicara.”

“Tolong datangi Pak Jokowi dalam mimpi agar terilhami untuk jd lebih berani, karena rakyat negeri ini butuh diayomi.”

Itulah Surat untuk Bapak dari putri kedua Gus Dur, Mbak Yenny Wahid dalam acara belajar Dari Gus Dur di Mata Najwa Metro TV.
Belajar dari "Baharudin Lopa" Sosok Jaksa Agung yang jujur dan sederhana

Belajar dari "Baharudin Lopa" Sosok Jaksa Agung yang jujur dan sederhana


Sosok Baharuddin Lopa (lahir di Pambusuang, Balanipa, Polewali Mandar pada tanggal 27 Agustus 1935) menjadi teladan penting tentang arti kesederhanan dan kejujuran. Sebagai abdi negara, Lopa telah menunjukan sikap hidup yang berbeda dengan pejabat pada umumnya, beliau menjadikan kejujuran sebagai panglima dalam menjalani tugas-tugas keseharian negara.

Sementara itu, kesederhanaannya ditunjukkannya dalam hal-hal yang bersifat materi. Salah satu bukti, rumahnya sederhana, terletak di di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Selain itu juga, mantan Jaksa Agung dan Menkumham ini hanya memiliki mobil Toyota Kijang yang sangat sederhana untuk ukuran seorang pejabat sekelas menteri. Bahkan, beliausangat tegas kepada keluarganya agar tidak menggunakan fasilitas-fasilitas negara untuk urusan pribadi. Lopa lantas dikenal sebagai sosok yang tegas memisahkan urusan dinas dan pribadi. Bahkan suatu saat, beliau pernah melarang istrinya menggunakan mobil dinas untuk pergi ke pasar dan melarang salah seorang pegawai Pusdiklat menggunakan sepeda motor inventaris Pusdiklat, meski kendaraan itu dimaksudkan untuk menolong temannya.

"Ini motor dinas bukan untuk urusan pribadi," kata Lopa dikutip dari Merdeka.com, (5/12/2013).

Selain itu, bagi Baharuddin Lopa, kesederhanaan dan kejujuran adalah prinsip hidup yang mutlak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kisah kesedehanaan lain dari sosok Lopa ialah saat ini membelikan mainan anak-anak yang akan diberikan kepada cucunya, yang hanya seharga Rp. 7.500 di sebuah mal. Peristiwa ini sontak membuat heran seorang kasir dan berpikir hanya sosok menteri Lopa yang membelikan mainan sebagai hadiah dengan harga semurah itu. Bukan soal murah atau mahalnya mainan yang dibelikannya itu, tetapi perhatian dan ketulusan lah yang paling penting di saat-saat kesibukan dan kelelahannya, beliau justru menyempatkan diri memberikan sisa-sisa tenaganya demi cucunya tersebut.

Dalam pada itu, kisah kejujuran Baharuddin Lopa juga tidak luput dari perhatian. Beliau dikenal sebagai sosok yang tidak gemar menerima hadiah dari orang lain dalam bentuk apapun, termasuk parsel lebaran. Bahkan di suatu ketika, Lopa pernah diberi uang berjumlah 10.000 Dollar AS dari teman seperjuangannya saat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi yang telah menjadi seorang pengusaha, namun beliau mengembalikan uang itu. Lopa membeli mobil Toyota Kijang secara kredit, dan beliau sendiri mengantar uang cicil per bulannya, bahkan lunas jauh hari sebelum jatuh tempo. Terhadap sikap Lopa, distributor mobil yang notabene temannya sendiri itu merasa kikuk, dan menghormati Lopa.

Catatan penting dari kisah kejujuran mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan ini yang patut dijadikan teladan bahwa segala sesuatu kehendak atau cita-cita apabila ingin dicapai lebih utama mengandalkan usaha sendiri.

Kisah Baharuddin Lopa kemudian menjadi teladan di panggung para pejabat nasional sebagai sosok yang sederhana, jujur, serta memiliki nyali bak harimau. Beliau tegas, dalam hal apapun, termasuk menentukan salah-benar suatu perkara hukum, serta tidak pandang bulu. Inilah kisah teladan seorang pejabat negara yang patut dicontoh serta dijadikan inspirasi bagi setiap orang, termasuk para pejabat negeri ini.

Baharuddin Lopa wafat di Rumah Sakit Al Hamadi, Riyadh pada tanggal 3 Juli 2001 pukul 18.14 waktu setempat atau pukul 22.14 WIB. Pada tanggal 5 Juli 2001 pukul 14.25 pesawat Garuda Indonesia membawa jenazahnya dari Arab Saudi ke tanah air. Keesokan harinya jenazahnya di makamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan diiringi upacara militer yang dipimpin oleh Menkopolhukam, Agum Gumelar.

Ada hal menarik seputar kewafatan beliau. Pada waktu malam kewafatan Baharuddin Lopa cuaca di Riyadh dan sebagian wilayah Indonesia khususnya hampir seluruh pulau Jawa secara bersamaan di landa hujan deras dengan disertai angin dan guntur, seolah langit meraung dan menangis atas kewafatan Baharuddin Lopa.

Sementara itu di istana negara, Gus Dur beberapa saat sebelum Baharuddin Lopa wafat terhenyak sesaat kemudian masuk kamar dan mengurung diri selama beberapa saat kemudian keluar sambil matanya bersimbah air mata. "Malam ini, salah satu tiang langit bumi Indonesia telah runtuh," kata Gus Dur. Tidak ada yang paham ucapan Gus Dur, bahkan Yenni Wahid yang selalu mendampingi ayahnya saja tidak paham. Baru sekitar pukul 11 malam, akhirnya semua paham bahwa yang dimaksud Gus Dur "tiang langit" itu adalah Baharuddin Lopa. Ini menunjukkan kejernihan hati Gus Dur bisa menangkap sebuah kejadiaan luar biasa yang belum terjadi. Kabar kewafatan Baharuddin Lopa 3 jam lebih awal diterima Gus Dur daripada berita duka yang dikirimkan dari Riyadh Arab Saudi.

Kendati kapal akan karam, tegakkan hukum dan keadilan!
"Baharuddin Lopa (1935-2001), mantan Jaksa Agung RI"
Sumber FB Hamim Jazuli
Gus Dur Dan Cerita Poros Asia Yang Menakutkan Dunia

Gus Dur Dan Cerita Poros Asia Yang Menakutkan Dunia


Mei 2001, Indonesia menjadi tuan rumah KTT G-15. Walau politik nasional saat itu memanas, namun sejumlah negara tetap hadir di acara yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC).

Tapi, bukan kisah KTT yang menarik. Namun, Presiden KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, yang membuat kisah itu menarik.

Presiden Gus Dur, saat itu memang sedang tidak harmonis dengan Wapres Megawati Soekarnoputri, yang memilih ikut Amien Rais di Poros Tengah.

Walau begitu, kenegarawanan Gus Dur terlihat di sini. Cucu pendiri NU KH Hasyim Ashari itu, tetap meminta Mega hadir untuk lebih akrab dengan para pemimpin dunia yang lainnya.

Di sela-sela KTT G-15 yang ke-6 itu, juga turut digelar Indonesian International Telecommunication and Information Technology (IITELMIT). Waktu itu, Luhut B Pandjaitan, yang menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan, didaulat membuka acara.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Presiden Gus Dur. Di Istana Negara, Presiden Gus Dur mengundang menteri IT Tiongkok dan India. Gus Dur punya alasan yang kuat untuk meminta kedua menteri ini ke Istana Negara.

Cerita ini dikisahkan oleh Jubir Presiden Gus Dur, Adhie M Massardi, Senin 22 Desember 2014.

Dalam pertemuan itu, bukan Gus Dur namanya, kalau tidak membuat tamunya tertawa hingga terpingkal-pingkal dengan joke-joke khasnya. Tapi joke ala Gus Dur itu juga, sukses membuat keakraban antara dirinya dan kedua menteri dari Tiongkok dan India tadi.

Setelah keakraban tercipta, Gus Dur mulai melontarkan ide besarnya. Harus diakui, kedua menteri itu sampai terperangah.

"Sesungguhnya, kita bertiga ini mewakili tiga negara yang kalau ditotal penduduknya, hampir setengah penghuni dunia," tutur Gus Dur mulai melontarkan idenya.

"Jadi kalau kita kompak, kita bisa menguasai paling tidak setengah pasar dunia atas produk IT kita. Jadi kalau RRC yang kuat di sektor hardware dan India yang canggih di bidang software serta Indonesia bisa membantu di kedua sektor itu bersatu, kita bisa melahirkan produk IT yang berkualitas dan mampu menguasai pasar dunia...!" jelas Gus Dur.

Ya, Gus Dur punya obsesi dan mimpi yang tinggi dan besar, membentuk poros Jakarta-Beijing-New Delhi. Poros yang kuat dari Asia, yang diyakini akan mengalahkan Eropa dan Amerika Serikat.

Gus Dur sangat yakin, poros ini bisa menghentikan dominasi Eropa dan AS, yang sudah masuk dalam segala bidang di Asia.

Kata Adhie, impian poros baru Asia itu kini sudah terkubur. Hanya joke-joke yang menyakitkan saja yang tersedia hingga kini.

"Bila China unggul di bidang hardware, India software, dan Indonesia: no where...!"

Tapi itu mimpi seorang Gus Dur, yang kini sudah tiada lagi. Tanggal 27 Desember 2014, adalah peringatan Haul ke-5 Gus Dur di Ciganjur Jakarta Selatan.

"Makanya, saya kasihan sama Megawati dan teman-teman Poros Tengah yang tidak paham tentang apa yang dipikirkan dan dijalankan Gus Dur bagi republik ini," kata Adhie, yang kini aktif di Gerakan Indonesia Bersih (GIB). [gus]

Sumber : Inilah.com Tanggal 22 Desember 2014
Gus Dur dan Seorang Pencari Puntung Rokok

Gus Dur dan Seorang Pencari Puntung Rokok


GusdurFiles.com ~ Jenis pekerjaan yang dilakoni oleh seseorang umumnya menunjukkan identitas dan kapabilitas yang dimilikinya. Semakin tinggi jabatan yang dimiliki, orang akan semakin hormat.

Tetapi ada orang tertentu yang menjalani sebuah pekerjaan demi sebuah tugas besar, meskipun dalam pandangan manusia, pekerjaan yang dijalani ini pekerjaan remeh, bahkan terkesan dihinakan.

Kisah Gus Dur dengan pencari puntung rokok, yang dalam bahasa Jawa biasa disebut ngolei tegesan, masih menjadi bagian dari pengalaman pribadi yang dituturkan oleh santri Gus Dur, Nuruddin Hidayat. Kisah penuh nilai-nilai moral ini bercerita tentang sebuah komitmen besar mencari sosok pemimpin bangsa yang tegas.

Nuruddin, yang biasa dipanggil Udin ini bercerita, kisah pertemuanya dengan sosok pencari puntung rokok yang dihormati Gus Dur ini bermula ketika ia pulang kampung di Demak, beberapa tahun lalu pada momentum lebaran.

Saat di rumah, ia menyempatkan diri untuk silaturrahmi kepada Kiai Hambali di Lasem, salah satu kiai disana yang cukup disegani masyarakat. Saat pulang dari rumah kiai tersebut, ada satu orang yang ingin menumpang kendaraan karena ingin pergi ke masjid Menara Kudus.

Bersama orang itulah, dalam perjalanan pulang, ia diajak ke rumah pencari puntung rokok yang posisi rumahnya di perbatasan Kudus dan Jepara. Sayangnya, pertemuan tersebut gagal karena tuan rumah sedang melawat ke cucunya yang meninggal akibat kecelakaan. 

Esoknya, ia sendirian kembali mengunjungi orang tersebut, sebut saja Mbah SN, yang dikampungnya dikenal sebagai dukun Jawa, yang bisa mengobati sakit ringan, seperti sakit anak-anak yang rewel karena diganggu makhluk halus.

Karena pekerjaannya hanya sebagai pencari puntung rokok, kondisi rumahnya juga sangat memprihatinkan. Rumah yang dihuni layaknya gubuk, terdapat sebuah kandang kambing di sebelah rumah, sebuah sumur kuno dan langgar yang sudah mau roboh.

Dalam pertemuan tersebut, ia mengaku dari pesantren Ciganjur, santrinya Gus Dur dan bercerita panjang lebar soal pesantren dan Gus Dur. Ketika pamit pulang, orang tersebut titip salam buat Gus Dur.

Pasca Lebaran, ketika kembali ke pesantren Ciganjur, Udin menceritakan pertemuannya dengan pencari puntung rokok Mbah SN ini dengan Gus Dur, tentang rumahnya yang sederhana dan langgar yang mau roboh.

Langsung saja Gus Dur motong, “Oh ya, ada orang seperti itu di perbatasan Kudus dan Jepara. Yo wis kapan-kapan kita ke sana” 
Gus Dur selanjutnya menjelaskan perilaku orang yang mendedikasikan diri untuk mencari puntung rokok. “Niku pendamelane pados tegesan, itu artinya, dia mencari pemimpin yang tegas,nek wis ketemu yo mari (kalau sudah ketemu orangnya, ia berhenti mencari puntung.” 

Sayangnya, sampai akhir hayat, Gus Dur belum sempat untuk bersilaturrahmi dengan mengunjungi rumah Mbah SN.

Di lain waktu, Udin kembali menyempatkan diri berkunjung ke rumah Mbah SN dan disela-sela obrolannya, ia menanyakan, apa pernah bertemu dengan Gus Dur, Mbah SN pun menjawab “Yo tau (ya pernah)

Tetapi ketika ditanya bagaimana bisa bertemu dengan Gus Dur dalam kondisinya yang seperti itu, ia tak menjawab, hanya tertawa saja.

Ketika Pilgub Jawa Tengah, Udin juga menanyakan kemungkinan menang-kalahnya satu kandidat yang akan maju, yang kebetulan berkultur NU. Orang tersebut juga mampu menjawab dengan tepat. (mkf, NU Online)
Quote Gus Dur : Islam, Toleransi, Sikap Inklusif, Dan Humanitarianisme Universal (1)

Quote Gus Dur : Islam, Toleransi, Sikap Inklusif, Dan Humanitarianisme Universal (1)


1. Sikap Lunak Dan Moderat Tidak Bertentangan Dengan Ajaran ISLAM. Sikap Terlalu Keras Itulah Yang Keluar Dari Batasan-Batasan Ajaran AGAMA.
2. Kita butuh Islam Ramah, Bukan Islam Marah
3. Kalau anda tidak tidak ingin dibatasi, Maka janganlah Anda Membatasi. Kita Sendirilah yang Harusnya tahu batas kita Masing-masing.
4. Saya mencita-citakan umat Islam Indonesia menjadi Umat Beragama Yang Berpandangan Luas, Mampu memahami orang lain, menummpahkan kebersamaan yang utuh dengan segala pihak, menjunjung tinggi kebebasan sebagai sarana demokrasi.
5. Pencarian Solusi tidak akan mudah bila berangkat dari main mutlak dalam pemikiran yang sifatnya tertutup.
6. Bahwa dialog yang dapat menciptakan wajah manusia yang tidak memandang perbedaan Suku, Budaya dan Latar Belakang sejarah serta membuka jalan untuk meningkatkan nilai-nilai universal dan komitmen budaya perdamaian dan kerukunan umat manusia.
7. Minoritas melakukan kesalahan bukan berarti yang mayoritas menjadi benar kalau berbuat hal yang sama, Janganlah mendorong minoritas untuk semakin memiliki Complex-Inferiority. Berilah mereka kesempatan untuk berkembang serta perlakukanlah secara Adil.
8. Tidak penting apa latar belakangmu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang lebih baik untuk semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu, Apa Sukumu, Apa Latarbelakangmu.
9. Saya tidak khawatir dengan dominasi minoritas. Itu lahir karena kita yang sering merasa minder.Umat islam--Mungkin karena faktor masa lalu--sering dihantui rasa kekalahan dan kelemahan.
10. Gerakan pembebasan yang sebenar-benarnya adalah pembebasan tanpa landasan kecuali manusia itu sendiri 

Sumber : Buku "The Wisdom Of Gus Dur"
Catatan Mata Najwa "Belajar Dari Gus Dur"

Catatan Mata Najwa "Belajar Dari Gus Dur"

 
Gus Dur seorang pelintas batas, berbagai sekat ia terabas.

Ia tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori, sebab kiprahnya melintasi berbagai teritori.

Seorang kyai, sekaligus politisi.

Ia penulis, sekaligus aktivis.

Jadi Presiden tak membuatnya terkekang, kekuasaan tak membuat komitmennya berkurang.

Yang minoritas diangkatnya secara terhormat, dilumerkannya berbagai prasangka yang melekat.

Akibatnya Gus Dur sering dihinggapi praduga, padahal dia yang cairkan banyak prasangka.

Tapi dia bisa santai menghadapi tekanan, sebab jabatan baginya bukanlah tujuan.

Sebelum lawan mencemooh dan mengejeknya, Gus Dur lebih dulu menertawakan dirinya.

Humor menjadi jalan pembebasan, dari bujuk rayu kuasa yang menjerumuskan.

Toh hidup hanya menunda kekalahan, santai sajalah dengan kekuasaan.

Dengan itulah Gus Dur jadi amat berbobot, begitu saja kok repot.
Mata Najwa 4 Maret 2015 : Belajar Dari Gus Dur

Mata Najwa 4 Maret 2015 : Belajar Dari Gus Dur


KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur meninggalkan warisan yang masih sangat terasa hingga hari ini. Banyak pelajaran yang bisa digali dari Presiden RI ke-4 ini, mulai dari demokrasi, toleransi, juga nilai-nilai kemanusiaan.

Mata Najwa 4 Maret 2015 Part 5 menghadirkan episode BELAJAR DARI GUS DUR, dan mengundang sang istri, Ibu Sinta Nuriyah dan keempat putrinya, Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.

Jadi Presiden tak membuatnya terkekang, kekuasaan tak membuat komitmennya berkurang. Mari BELAJAR DARI GUS DUR.

Silahkan Tonton Videonya :

Bhineka Tunggal Ika, Kita Beda, Tapi Kita Kompak

Bhineka Tunggal Ika, Kita Beda, Tapi Kita Kompak


KH. Abdurrahman Wahid atau yang sering disapa Gus Dur pernah bilang: “Nggak boleh lagi ada pembeda bagi setiap warga Negara Indonesia karena alasan agama, bahasa ibu, kebudayaan atau ideologi”. Setuju nggak tuh? Of course, jawabannya pasti berbeda-beda. Tapi yang jelas, untuk yang sudah paham pentingnya toleransi pasti akan bilang: “Toleransi itu gue banget!”

Ya, dalam kehidupan di dunia yang penuh keragaman ini, sikap toleransi atau sikap saling menghormati, menghargai, dan menerima semua hal yang berbeda itu sangat kita butuhkan, karena tidak mungkin segala hal itu sama. Yang namanya perbedaan, pasti akan selalu ada. Dan hal inilah yang membuat kehidupan ini penuh warna. Tinggal bagaimana kita bisa mengambil hikmah dan menjadi seseorang yang bisa hidup rukun dengan yang lainnya. Whoever and wherever it.

Negara Indonesia tercinta ini juga punya semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu jua. Beda agama, suku, budaya, bahasa, tapi tetap satu tujuan. Tujuan itu adalah persatuan bangsa. Seandainya saja semua warga Indonesia memegang kuat dan menjalankan maksud dari semboyan itu, rasanya hidup ini sangat indah. Tidak ada lagi perpecahan antar yang berbeda. Tapi, kalau kita lihat nyatanya, masih banyak banget kerenggangan di antara masyarakat Indonesia, terutama antar umat beragama, baik yang Islam dengan Kristen maupun lainnya. Dan, akhirnya sering timbul fitnah, kesalahfahaman dan ketakutan.

Sebenarnya semua itu terjadi karena tidak adanya sikap saling toleransi, saling terbuka, dan mencoba bisa hadir di tengah-tengah mereka. Padahal ajaran toleransi juga nggak cuma diajarkan dalam Islam. Agama yang lainpun pasti ngajarin umatnya untuk hidup berdampingan dengan yang berbeda, tolong-menolong, hidup rukun, dan sebagainya. Seharusnya kita sadar, walaupun agama kita berbeda, tapi perlu kompak. Lalu, apalagi alasan kita tidak bertoleran? Masalah kepercayaan, itu adalah hubungan pribadi masing-masing dengan pencipta. Kita tidak boleh mengusiknya. Tapi, tentu saja, hubungan antar sesama harus kita jalin dan kita perkuat.

Biarkan agama beda, tapi persahabatan harus jalan terus. Bisa nggak? Ya, harus bisa dong! Itu gampang kok. Asalkan kita mau menerima perbedaan dan positive thinking.

Kebanyakan orang yang tidak mau berdampingan dengan orang yang “berbeda”, salah satu sebabnya itu adalah rasa kekhawatiran dan pikiran negatif yang belum tentu benar. Padahal, kalau kita mau membuka pintu untuk mereka, dengan sikap yang baik, mereka juga akanwelcome.

Saya termasuk orang yang sudah membuktikan. Ternyata, berteman dengan orang yang beda agama atau yang tidak punya agama sekalipun, tidak ada bedanya dengan berteman sama sesama muslim. Masih bisa curhat, tertawa bareng, nge-gosip bareng, saling berbagi kabar dan pengetahuan. Semuanya terasa hangat. Yang paling penting, jangan pernah kita mempermasalahin urusan keyakinan, karena kita tidak boleh memaksa atas hak orang lain. Ingat, Allah SWT berfirman dalam Surah al-Baqarah ayat 256: “Laa ikraaha fi al-diin (tidak ada paksaan dalam beragama).

Dengan kita bertoleran, kita jadi bisa lebih banyak wawasan. Bahkan kitapun bisa kerja sama dengan mereka yang berbeda. Baik itu dalam berkarya dan lain sebagainya. Sama atau beda, tetap bisa bergandengan. Dan kita harus saling tolong-menolong dan bergotong-royong. Kalau mau berbuat baik, tentu tidak mesti dengan sesama terus. Dengan saudara kita yang berbeda pun kita harus berbuat baik dan bersikap baik. Seperti yang dibilang Gus Dur: “Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan kebaikan untuk semua orang, orang tidak pernah bertanya apa agamamu”.

Berbuat baik itu tidak mesti milih-milih orang. Mau yang berkulit putih atau hitam, agamanya Islam atau Kristen, atau dengan yang tidak punya agama sekalipun, sama saja.

Dengan kita mau bertoleransi, secara tidak langsung, kita sudah membuka pintu kedamaian buat dunia ini. Satu sama lain bisa saling menghargai, menghormati, dan saling melindungi. Sekarang sudah bukan trend-nya rusuh-rusuhan. Lagi pula, rusuh itu ribet. Damai itu baru seru.

Semoga kita bisa hidup rukun dan saling menyayangi antar sesama, maupun yang berbeda. Karena rukun beragama adalah gaya hidup yang hebat. Dan harus kita tau, dalam damai itu ada masa depan. Dengan damai kita bisa melakukan segala progres dengan baik. And the last, beda is not bad. Wa Allahu a’lam.

Cikulur, 23 Januari 2015

Penulis : Cahyati adalah Santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak, Banten, Ketua Santri Puteri Qothrotul Falah 2014-2015, Aktivis Peace Leader Qothrotul Falah, Penyiar Radio Qi FM 107.07, dan Anggota Halqah Triping Community. Karyanya bersama santri-santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah diterbitkan Pustaka Qi Falah dengan judul Renungan Santri: Esai-esai Seputar Problematika Remaja (2014).

Sumber : Wahid institut
close
Banner iklan disini