Setelah Penembakan Kantor Charlie Hebdo

GusdurFiles.com ~ Tragedi penyerangan dan penembakan di Kantor Charlie Hebdo adalah preseden buruk bagi kehidupan toleransi masyarakat Perancis. Aksi itu ialah sebuah pembunuhan sadis yang mengorbankan 12 nyawa. Sejarah akan mencatat betapa demokrasi dan kebebasan berpendapat dibayar dengan cara yang biadab. Namun, apa hanya aksi pembunuhan ini saja yang berbahaya? Tidak, kondisi masyarakat Perancis setelah tragedi itu lebih parah lagi. Setelah ini Perancis akan mendapat tantangan untuk menjaga kehidupan toleransi dan keberagaman penduduknya. Hal ini akan menuntut kedewasaan dari negara yang menjunjung Liberté, égalité, fraternité (Kebebasan, keadilan, persaudaraan) mencegah terjadinya konflik SARA di tubuh masyarakat Perancis.

Tantangan ini tidak boleh diabaikan, harus dihadapi. Karena isu agama serta etnis paling gampang menyulut api dalam sekam. Akan sangat berbahaya bila tidak ditangani dengan baik dan hati-hati. Sebuah harian di Perancis, Le Journal du Dimanche, baru-baru ini saja melakukan survei. Beberapa hasil diantaranya menunjukkan, 42 persen masyarakat Perancis menolak kartun yang diterbitkan mingguan Charlie Hebdo. Sementara itu, mereka yang mendukung pembatasan kebebasan menyampaikan pendapat di daring dan media sosial tercatat sebanyak 50 persen. Jajak pendapat itu juga mengatakan, sebanyak 81 persen responden mendukung pencopotan kewarganegaraan ganda terhadap mereka yang melakukan aksi terorisme di Perancis. Sedangkan bagi mereka yang pergi belajar di negara-negara yang dicurigai berkaitan dengan kelompok teroris, masyarakat Perancis lebih senang mereka dilarang kembali ke Perancis (68 persen).

Perancis saat ini ialah negara yang memiliki tingkat laju kaum imigran yang cukup tinggi di Eropa. Sebagian besar imigran itu ialah umat muslim yang berasal dari negara bekas koloni Perancis sendiri. Orang-orang dari Aljazair, Tunisia dan Maroko menjadi tiga bangsa besar yang membangun komunitas muslim. Jumlah umat islam pada 2011 saja populasinya sudah mencapai 11% dari total warga Perancis. Meskipun negara ini terkenal sekuler pada 2002, Mantan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, yang kala itu menjabat sebagai menteri dalam negeri menginisiasi pembuatan "French Council of the Muslim Faith" (Conseil Français du Culte Musulman – CFCM). Dewan ini diperuntukkan guna mengatur suara dan representasi Muslim Perancis.

Namun demikian, kondisi Muslim Perancis terkadang mendapat diskriminasi yang tinggi. Seperti keinginan mengekspresikan agama lewat busana yang dikenakan yakni, pemakaian jilbab. Belum lagi persoalan streotip pada kaum imigran. Yang menjurus generalisasi dan simplifikasi, seluruh muslim digambarkan sama saja dengan pelaku terorisme global yang banyak didalangi kaum muslim radikal. Hal ini menyebabkan Muslim Perancis harus berada pada bayang-bayang tersebut.

Belum lama ini pula, seorang reporter televisi bermuka arab kena makian dari pejalan kaki di Paris dengan nada-nada rasis. Paranoia seperti itu janganlah berlarut-larut terjadi. Pasca tragedi Charlie Hebdo ini, Perancis ditantang untuk menghilangkan bentuk simplifikasi dan ketidakramahan pada keberagaman etnis di negaranya. Jangan sampai Islamophobia melekat di negara yang menjunjung kebebasan berekspresi ini.

Kebebasan berpendapat memang sudah dijamin. Namun, bagaimana dengan prinsip égalité (keadilan)? Setiap warga Perancis harus dipandang sama dan tidak ada tindak diskriminasi di mata hukum. Terlepas ia imigran atau bukan serta beragama maupun tidak beragama. Kali ini semboyan itu akan diuji dalam penyelenggaraan negara yang iklim demokrasinya dinilai baik ini. Juga bagaimana pula dengan fraternité (Persaudaraan)? Bahwa saat ini lonjakan imigran akan memunculkan jenis warga baru. Bahwa generasi muda yang lahir dari para imigran ternyata membawa budaya khas akibat latar belakangnya masing-masing. Maka bersediakah Perancis menunjukkan semangat persaudaraannya? Dan menyebut mereka bagian dari bangsa Perancis saat ini?  Kaum imigran ini mungkin tergolong muda. Mereka tentu tidak mengalami kesamaan nasib saat revolusi besar, yang membentuk Negara-Bangsa Perancis. Lalu apakah mereka dan warga perancis lainnya harus menyesuaikan kondisi keberagaman ini secara mendadak? Hal itu patut didiskusikan lebih lanjut. Bagaimana bentuk konsolidasi antar kebudayaan bisa terjadi. Harapannya akan mengarah pada transformasi masyarakat modern yang berwawasan global.

Tidak semua imigran datang dengan kemampuan ekonomi dan pendidikan mumpuni. Beberapa berusaha menjajal keberuntungan dan mewujudkan harapan lewat lapangan pekerjaan yang ada. Jika perselisihan ini tidak dibenahi dengan baik, maka pertentangan kelas bisa saja terjadi. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan. Kita tidak ingin teror berlanjut pada perpecahan dan konflik di tubuh masyarakat sendiri. Ongkos yang dibayar tentu akan sangat mahal. Sedangkan pihak-pihak yang memancing di air keruh mengambil keuntungan ekonomi-politik dari situasi yang tercipta saat ini.

Kasus charlie hebdo yang menghebohkan ini bukan hanya tragedi pembunuhan saja. Ia menyimpan bom waktu yang bisa meledak kapanpun jika tidak ditangani dengan baik. Belum lama ini pula, tiga mahasiswa muslim University of North Carolina tewas ditembak di kota Chapel Hill, Orange Country, North Carolina, USA (11/02). Peristiwa ini menghebohkan media massa walaupun media mainstream tidak banyak mempublikasikannya. Hal ini terjadi di Amerika, negara yang memperbolehkan kepemilikan senjata bagi sipil secara terbatas, dan korbannya ialah warga negaranya yang muslim. Tragedi ini bisa saja terjadi dimanapun. Stereotip, phobia, dan kegamangan melihat lingkungan sekitar dapat terjadi kapanpun dan dimana saja. Apalagi jika sudah menjumpai trigger (pemantik) besar yang membangkitkan amarah dunia pada aksi sepihak yang radikal dan membawa panji jihad agama.

Oleh karena itu apresiasi yang baik patut diacungi jempol bagi siapapun yang tidak memandang dari satu perspektif terhadap preseden yang menciderai demokrasi ini. Pada akhirnya ini bukan soal siapa memihak siapa lantaran paham kebenaran miliknya sendiri. Namun, mampukah kita bersikap dewasa dan menjaga keberagaman ini sebagai potensi. kalau kata Gus Dur, “"Yang sama jangan dibeda-bedakan. Yang beda jangan disamakan". Gitu Aja Kok Repot! ( Agung Hidayat / Gusdurian.net )
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Setelah Penembakan Kantor Charlie Hebdo"

Post a Comment

close
Banner iklan disini