“RAZóN VITAL“ DALAM SEPAKBOLA : GUS DUR DAN FALSAFAH SEPAK BOLA KEHIDUPAN


GusdurFiles.com ~ Tulisan ini adalah “review essay” dari sebuah buku kumpulan kolom Kiai Abdurrahman Wahid berjudul Gus Dur dan Sepak Bola, yang terbit September 2014 lalu. Tekanan besar yang diberikan oleh esai ini adalah mengkaji sisi filsafat (hidup) penulisnya yang dilukiskan melalui metafora olahraga pertandingan sepakbola. Metafora, seperti kita ketahui bersama, adalah ekspresi bahasa puitis, roman atau bahasa sehari-hari yang disusun sedemikiran rupa untuk mengundang atau mengajarkan kepada para penyimaknya agar mengambil konsep-konsep atau mentransfer pemikiran secara lintas bidang. Si pengguna biasanya sengaja memanfaatkan bahasa metafor sebagai alat diskursif untuk konseptualisasi kehidupan nyata yang butuh suatu argumenyang kompleks. Dengan itu, ia sebetulnya ingin membangun satu pijakan bersama (a common ground) yang dapat disepakati dengan publik masyarakat luas. Ulasan Gus Dur mengenai pertandingan sepak bola, misalnya, dimaksudkan untuk tujuan itu. Publik diharapkan membandingkannya dengan kehidupan politik nyata, dan mengambil kesimpulan yang relevan berdasarkan persamaan atau perbandingannya. “Sepakbola merupakan bagian kehidupan atau sebaliknya, kehidupan manusia merupakan sebuah unsur penunjang sepakbola” (GDS, 104)


Sudah umum dalam tradisi berfilsafat, khususnya filsafat hingga Socrates di Yunani Kuno pada abad ke-4 Sebelum Masehi, metafora kehidupan yang berkembang pada jamannya menjadi bagian penting dan tak terpisahkan dari retorika filsafat. Bahasa metafor mengungkapkan filsafat sebagai “jalan hidup” (way of life) pembimbing masyarakat setempat dan sejaman, atau suatu “jalan kebenaran” (way of truth) yang lebih dari sekadar semburan opini-opini olahan belaka. Setelah itu filsafat berkembang sedemikian rupa menjadi aktivitas penyelidikan ketat, rigor, yang bertumpu sepenuhnya pada rasio,yanglalu ikut melahirkan sains, dan terus mengalami profesionalisasi akademik. Komentar-komentar Gus Dur mengenai sepakbola dalam buku ini, menurut pendapat esai ini, kiranya merupakan suatu ulasan filsafat hidup, in term ofpre-Socratic style.

Untuk membuat jelas pernyataan hipotetik di atas, bangunan esai ini akan mengikuti alur sebagai berikut. Pertama, meraba horizon pemikiran Gus Dur dalam wawasan pemikiran José Ortega y Gasset, seorang anggota geng filosof School of Madrid di Spanyol dan Jan Romein yang sejarawan berkebangsaan Belanda. Bagaimana pun juga kita tak dapat mengabaikan dua orang tersebut karena sedikit banyak mempengaruhi wawasan penulis buku ini. Selanjutnya pada bagian kedua, akan diuraikan nilai-nilai falsafat hidup yang dilukiskan oleh Gus Dur dalam ulasan sepakbolanya.

“Razón vital”-nya Ortega dan “Rechenhaft”-nya Romein

Gus Dur dan Sepakbola memuat ulasan sepak bola penulisnya pada pertandingan Piala Dunia 1982 di Spanyol, Piala Dunia 1986 di Meksiko, Piala Eropa 1992 di Swedia dan Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Buku ini dikumpulkan kembali dan diedit oleh Kang Mustiko Dwipoyono yang juga Pemimpin Redaksi “Radio NU” (radio.nu.or.id). Pada suatu malam, sang editor kita ini diam-diam dipuji sebagai “manusia paling ikhlas di lantai 7 (gedung PBNU)” oleh Mas Suwadi D. Pranoto yang juga Ketua Pimpinan Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa (pagarnusa.or.id). Apapun latar belakang pujian itu, sebuah penghargaan yang sudah lazim diberikan masyarakat kita kepada sikap tulus-ikhlas dan pengorbanan diri demi sesuatu yang luhur itu menggambarkan kuat dan unggulnya apa yang diistilahkan dengan kata “razón vital” (atau “rasio vital”) bagi eksistensi dan gerak hidup masyarakat beserta inisiatif-inisiatifnya.

Dengan kata lain dapat dipahami secara luas, rupa-rupanya dalam kenyataan ini, perbuatan manusia tidak melulu “dipaksakan” oleh kewajiban-kewajiban atau peraturan-peraturan yang bersifat objektif, eksternal. Melainkan juga oleh sikap kesukarelaan, rasa tulus-ikhlas, dan kesediaan pengorbanan diri yang lahir dari dalam diri-batiniahnya, entah itu namanya spiritualitas ataukah nama-nama yang lain.Untuk berbuat baik, manusia tidak perlu menunggu apakah itu diwajibkan ataukah tidak, menguntungkan dirinya ataukah tidak.

Meskipun sikap seperti itu sulit dilakukan, bahkan kadang dinilai secara sinikal dan dianggap naif oleh pihak lain (yang kadang disertai mengagung-agungkan pendapatnya sendiri), tapi kenyataannya ada bahkan boleh dibilang banyak dan semakin membesar dan akan terus membesar yang dengan percaya diri diyakini oleh masyarakat sebagai “jalan hidup” tanpa sedikit pun perlu bersikap narsistik dan memuja diri sendiri. Sebagaimana hal ini dijalankan oleh sodara-sodara kita di majalah SurahSastra(surahsastra.com) dan para gusdurian serta inisiatif komunitas-komunitas lain di berbagai tempat. Inilah diantara manifestasi “razón vital”. Dapat kita bayangkan berapa jumlah orang yang menerima manfaat dari sikap-sikap semacam itu dalam kehidupan. Katakanlah bila buku Gus Dur dan Sepak Bola itu dicetak 1000 eksemplar, maka ada 1000 orang penerima manfaat, itu belum para peminjamnya.

Syukur-syukur juga, bila penerbitan buku itu diperhitungkan memberikan penghasilan besar bagi editor atau penerbitnya.Kalaupun tidak untung secara finansial dalam jangka pendek, tidak rugi saja, mereka juga tak merasa nggrundel, karenamasih dapat berbangga berdasarkan perhitungan-perhitungan yang lain. Misalnya, memperkaya curriculum vitae diri editor dan penerbitnya, memperkenalkan perusahaan penerbitan kepada khalayak, dan selanjutnya memperoleh kepercayaan dari konsumen, atau berdasarkan motif-motif sosial untuk memberi manfaat pengetahuan kepada seluas mungkin masyarakat sehingga serentak dapat pula menjaring sebanyak mungkin pelanggan. Sikap perhitungan yang luas ini dalam bahasa Jerman disebut “rechenhaft”. Diperkenalkan oleh Jan Romein dalam buku Aera Eropa, “rechenhaft” atau “sikap berperhitungan”adalah salah satu unsur yang khas bagi Eropa, selain rasionalisme, birokrasi, kesucian dan kemuliaan bekerja dan watak kreatif yang dimiliki para penemu, penakluk dan organisatoris, yang semuanya menandai sistem produksi kapitalis awal.

Istilah “razón vital” yang pertama kali diperkenalkan José Ortega y Gassetberarti suatu rasio atau sikap rasional yang menyejarah, yang membumi, dan yang memberi daya hidup bagi gerak masyarakat.  Dengan kata lain, ia sejenis rasio yang disarangkan dalam realitas pancaroba kehidupan, yang memberi daya hidup bagi masyarakat. Suatu rasio, sikap perhitungan yang non-matematis, yang mengajarkan kita untuk mengaspresiasi kehidupan dan nilai-nilai khasnyayang luhur sekaligus yang menjadi menyangga kehidupan. Kehidupan dan nilai-nilainya itu dapat berasal dari agama, filsafat, dan kepercayaan-kepercayaan  umum dimana rasionalitas (berperhitungan) dan kehidupan beserta nilai-nilai luhurnya berdampingan secara harmonis.

Pengertian “razón vital” ini dapat dibedakan dari, dan namun juga mencakup, “rasio matematis” atau “rasio murni”. Jenis rasio yang terakhir ini (lahir dari pernyataan Descartes “cogito ergo sum”, saya berpikir maka saya ada, dalam buku Discourse on the Method yang terbit tahun 1637) manifestasi puncaknya pada kejayaan ilmu-ilmu pengetahuan alam dan mendominasi obsesi ilmu-ilmu tentang kehidupan manusia. Kehidupan yang dinamis, fluid, direduksi pada konsep-konsep abstrak dan ideologi-ideologi yang preskriptif- statis, yang tidak memberi ruang pada kehidupan nyata yang historis, beserta nilai-nilai dan kepercayaan-kepercayaan setempat. Menurut Ortega, “rasio matematis” itu harus disarangkan kembali dalam realitas kehidupan, dan rasio bersarang itulah yang disebut “razón vital”. Rasio matematis yang keberadaannya seperti burung perkutut dalam sangkar itu mesti dilepaskan dalam jagad raya kehidupan yang kongkrit.

Dalam telaah penulis, Gus Dur secara kreatif meramu wawasan-wawasan kedua orang ini, Ortega dan Romain, dalam suatu gugus besar pemikirannya sendiri berikut muatan-muatannya. Rasio atau ego manusia tidak boleh menjadi “makhluk alien” yang terdistansi dari kehidupan. “Rechenhaft” musti disarangkan dalam jagad raya kehidupan kongkrit, sejarah, budaya, spiritualitas, masyarakat beserta keyakinan dan kepercayaan-kepercayaannya. Kehidupan itu adalah “I and my circumstance”-nya sendiri, mencakup problematika dan potensimasyarakat dan bangsanya.Dalam wawasan pemikiran Ortega, “I and my circumstance” (saya dan lingkungan saya) adalah proposisi dasar yang melahirkan “razón vital” sebagai pengganti dari proposisi “cogito ergo sum”. Secara lengkap propoposi itu berbunyi: “Saya dan lingkungan saya; bila saya tidak menyelamatkan lingkungan saya, maka saya tidak menyelamatkan diri saya”. Proposisi ini berimplikasi tanggung jawab etik, tanggung jawab semua “I” (saya), dengan kata lain kita semua, bagi lingkungan kehidupan masyarakatnya yang luas, sekarang dan masa depan.

Gus Dur dalam sebuah kolom berjudul “Bersatu dalam Penderitaan” (Proaksi, 25 Januari 2005) merumuskan suatu pola dan bentuk tanggung jawab etik yang diperlukan bagi problematika bangsanya (bukan problem kelompoksendiri, ideologinya sendiri, ego politiknya sendiri) ini sebagaimana berikut, yang ditujukan kepada para pembacanya:

“Sikap berperhitungan alias sikap rasional, yang tidak membuang spiritualitas dan menggunakannya di samping rasio. Sudah tentu, aspek-aspek tidak rasional perlu kita buang (maksudnya: “aspek serupa paranormal yang tidak berpijak kepada bumi nyata”—sebagaimana dinyatakan pada kalimat sebelumnya),melainkan hanya sekedar ‘pengarah hidup’ dalam menjalani kehidupan yang serba sulit ini. Kita harus bersatu dalam spiritual seperti ini.”

Keadaan, “circumstance” dari penulis kolom ini adalah apa yang disebutnya sebagai “kelumpuhan moral”. Yakni absennya orang-orang atau kelompok-kelompok masyarakat yang “mempunyai keberanian moral dan sadar akan kewajiban mereka untuk keluar dari kemelut”. Masing-masing orang memiliki ego-nya sendiri-sendiri, “manusia seolah-olah sudah merdeka segala-galanya”. Tidak ada kejujuran dan sikap menghormati orang lain, tidak juga hormat kepada hukum. Para pemimpin dalam pemerintahan maupun di luarnya hanya mengejar kedudukan dan kepentingan pribadi. Mereka tidak ingat akan kepentingan bersama, hanya mengingat kepentingan diri sendiri dan golongan saja.

Kepemimpinan itu pun diperoleh dengan cara-cara yang secara moral tidak dapat dibenarkan. Perebutan jabatan dengan menggunakan uang dan kekuasaan sudah menjadi begitu umum, melalui sogokan dan lain-lain. Situasi ini diikuti oleh berkembangnya KKN tanpa ada tindakandan beberapa koruptor dan pelanggar hukum menjadi pejabat-pejabat penting. Bahkan dalam situasi kemelut itu, Gus Dur sendiri juga mengaku “dikorbankan” oleh teman-teman sendiri, seperti “sementara kawan-kawan yang menjadi korban pemerintahan Orde Baru, yaitu mereka yang dianggap para anggota dan pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Penulis justru dituntut karena dinilai mereka telah melanggar ketentuan-ketentuan Undang-Undang Dasar”.

Itulah kehidupan kongkrit, “bumi nyata”, “I am myself and my circumstance”-nya sang penulis kolom. Di tengah-tengah kemelut macam itu, Gus Dur mengajukan pertanyaan retorik: “Mungkinkah diharapkan dari keadaan suatu bangsa seperti itu, perbaikan yang diperlukan untuk menciptakan cara hidup yang akan membuat kita kuat dan besar?” Lalu, “bagaimana kita harus menghadapi kenyataan bahwa kita terpecah belah begitu rupa dalam kehidupan?”

Untuk menjawabnya dan mencari solusi atas kemelut itu, dalam pandangan Gus Dur,  “rasionalitas” saja tidak cukup. Ia penting tapi bukan satu-satunya, sikap “berperhitungan” saja tidak memecahkan masalah. Ego pribadi dan kelompok disertai mengagung-agungkan pandangan sendiri tanpa berpijak pada bumi nyata mustahil dapat menyelesaikan kemelut. Seorang jenius dan spesialis pun mustahil mengatasinya sendirian.Gus Durmengajak kita semua untuk bersatu, guna memulai upaya perbaikan yang diperlukan. Kombinasi apik dan indah antara “sikap berperhitungan” dan “pengarah hidup”, atau perpaduan antara sikap rasional dan vitalitas yang terkandung dalam kehidupan: sejarahnya, kebudayaannya, masyarakat dan kepercayaan-kepercayaannyayang luhur, adalah “razón vital” bangsa itu sendiri yangmemungkinkan kehidupan tetap survive dan terus melaju menggapai mimpi-mimpinya, mimpi kita semua, mimpi anak semua bangsa.

Jika uraian Gus Dur ini terlalu abstrak, mari sekarang kita ikuti “simulasinya” lewat metafor keapikan dan keindahan pertandingan sepakbola.

Sepakbola sebagai Metafor Filosofi Hidup

Seperti telah disinggung di awal esai ini,bahasa metafor adalah alat diskursif yang memiliki tujuan dalam penyampaiannya. Bila Ortega y Gasset melihat kehidupan dalam metafora panggung drama, maka Gus Dur memandang dan menjalani kehidupan politik seperti pertandingan sepakbola.

Ia menggunakan metaphor sepakbola untuk memahami kehidupan politik yang kompleks. Melalui sepak bola, dirinya baik dalam kapasitas sebagai penulis maupun aktor politik memperkenalkan dan ingin mempersuasi sebanyak mungkin pembaca (ingat mayoritas masyarakat Indonesia doyan sepakbola) ke arah keyakinan-keyakinan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan kreasi kepemimpinan yang harus dijalankan dalam kehidupan nyata politik.Mengingat antara sepak bola dan kehidupan (politik) memiliki kesamaan-kesamaan.

Sebagaimana sepakbola, politik memerlukan tim kerja dan kerjasama, perlu rekan tim dan saling berinteraksi satu sama lain. Dalam politik juga ada tim-tim yang berbeda, yakni partai-partai politik yang saling bertanding dan saling memperebutkan kemenangan, juga ada wasit (penegak hukum, KPU dalam pemilu) yang menengahi atau mengadili pelanggaran. Demikian juga seperti halnya sepak bola, permainan politik dibatasi oleh peraturan-peraturan dan konstitusi, dan semua pemain, wasit, official dan lainnya harus mematuhi aturan permainan tersebut. “Pokoknya semua teori sepakbola itu akan saya gunakan untuk situasi politik kita, dan Insya Allah cocok,” ujar Gus Dur. Dengan kata lain, kehidupan politik yang kongkrit “sama” dengan kehidupan sepakbola. Bila politik adalah sebuah permainan, maka permainan politik adalah juga permainan sepakbola. Teori politik berarti juga teori sepakbola.

Metafor sepakbola memiliki sejumlah kata kunci metafor, yang biasanya dianggap menggambarkan ciri-ciri pemain-pemain yang baik, atau suatu level pertandingan yang bagus. Misalnya:  sikap atau nilai-nilai sportivitas, kompetitif, ketrampilan (skill), kekompakan, strategi pelatih, inovasi dan kreativitas, tim, semangat (passion), kerja keras, keuletan, keyakinan, daya tahan, daya juang, atau keunggulan menghadapi tantangan strategi lawan. Pendek kata, kehidupan sepak bola memiliki  “razón vital” yang mendorong setiap tim memperagakan kemampuan terbaiknya untuk meraih kemenangan. Lalu bagaimana politik itu harus dimainkan?

Berikut gambaran “razón vital”dalam sepak bola, yang seharusnya dijalankan dalam kehidupan politik. Di sini kata-kata kunci akan ditulis dalam bentuk huruf miring.

1.             Permainan/pertandingan sepakbola, yakni kehidupan politik sebagai seni yang memperlihatkan permainan yang aktif dan tidak pasif, gayanya indah, elok, etis, kegembiraan, antusias, hormat kepada lawan, terus menerus berkembang dan membuat  perbaikan baik dalam ketrampilan, wawasan, maupun aturan-aturan permainan itu sendiri. Selain kemenangan, sepakbola juga soal kehormatan dan jiwa besar.

·         “Demikianlah, siapapun yang jadi juara… tidak akan mampu mengangkat keharuman sepak bola sebagai seni (4)… Hal ini yang mungkin diinginkan oleh penonton AS agar pertandingan sepak bola makin menarik, bergairah dan lebih merangsang...” (GDS, 40).

·         Nigeria menikmati sendiri permainan yang disajikan (enjoying its own game). Ini adalah sifat dari sebuah kesebelasan besar, karena dari rasa menikmati permainan itu sendiri muncul daya kekuatan yang tidak pernah surut. Kalau ada kata-kata kalah terhormat, itulah yang dialami Nigeria. Dalam kekalahannya ia tetap dikagumi, bahkan oleh lawannya sendiri. Ini tentu bukanlah pelipur lara, tetapi merupakan modal untuk berprestasi dalam piala dunia yang akan datang (GDS, 39-41).

·         Sejak semula sepakbola sudah dimasuki unsur keberuntungan dan kesialan melalui cara mengundi dalam sebuah kompetisi… Belum lagi faktor lain, seperti cederanya pemain atau konyolnya wasit…Namun hal-hal yang secara kebetulan seperti itu tidak terasa sebagai ketidakadilan bila terjadi, berbeda dari kemenangan lewat adu pinalti. Namun untuk menunjang tuntutan Munos agar sistem itu digantikan dengan cara pertandingan ulang, perlu ditilik masalahnya dengan teliti. (GDS, 10)

·         Tipe bola menyerang yang sekarang demikian canggih dikembangkan, termasuk “akal-akalan” pura-pura jatuh oleh pemain kelas dunia….menghasilkan penalti… bisa memunculkan pola pertahanan total yang berwatak pasif di masa depan, kalau tidak ditemukan perpaduan dengan serangan tajam. (GDS, 91)

·         Ketika Belgia dikalahkan dalam pertandingan semi-final, rakyat Bergia justeru menyambut kepulangan mereka dengan penuh antusiasme. Mereka bersyukur atas kemampuan tim kesayangan mereka untuk sampai ke putaran tersebut…Kekalahan pada level tak terduga adalah sebuah kehormatan. (GDS, 101)

·         Mutu permainan dikembangkan melalui dua jalur utama. Di satu pihak, peraturan-peraturan pertandingan diubah untuk mendorong permainan yang lebih menyerang. Diharapkan dinamika permainan menjadi lebih hidup lagi dan memunculkan kemungkinan-kemungkinan baru. Di pihak lain, penekanan diberikan kepada penggunaan ketrampilan para pemain secara optimal. Tanpa inovasi mendasar dalam strategi pertandingan, tim-tim nasional hanya akan sampai pada titik keseimbangan baru yang memacetkan pertandingan (124)

2.             Karakter pemain sepak bolayang baik atau satu tim yang baik, yakni berdaya jelajah tinggi, punya daya juang, keyakinan yang kuat, semangat pantang menyerah, punya insting, daya dobrak yang kuat disertai daya tahan tangguh, punya kecepatan, mobilitas yang tinggi, dewasa, realistik, tidak emosional, lincah, kreatif, kerja keras dan bertekad menang, tunduk pada pelatih, dan lain-lain.

·         Pola permainan kedua belah pihak justeru menjanjikan kekuatan menyerang yang tinggi. Bukan hanya daya tahan dobrak dua penyerang di depan, melainkan juga lini tengah yang haus gol. Sistem… mengandalkan kecepatan memulai serangan begitu bola lawan direbut. (GDS, 9)

·         Gelandang penyerang dengan daya jelajah tinggi…merupakan kerepotan tersendiri bagi pertahanan lawan. Dengan kontrol bola yang prima, mobilitas yang sangat tinggi dan kecepatan yang mengagumkan…dan perpindahan tempat yang tidak terputusmampumengacaukan pertahanan lawan…(GDS, 18)

·         Keyakinan akan masih efektifnya pola permainan Inggris, jika dilakukan dengan benar, telah mampu memberi kemenangan… Sebaliknya keuletan Jerman yang mampu membalikkan kekalahan menjadi minimal hasil seri…menunjukkan daya tahan kesebelasan Jerman yang sudah termasyhur sejak lama.. Antara keyakinan dan keuletan itulah akan kita lihat mana yang dapat memenangkan pertandingan (18-19)

·         Keduanya…berlandaskan penguasaan teknis yang sempurna, kecepatan yang tinggi dan disiplin yang ketat bagi para pemain.. (GDS, 47)

·         Kematangan bertanding di klub masing-masing justeru membuat parapemain sulit dijaga kekompakan mereka sebagai tim. Kalaupun mereka bisa bermain serasi satu sama lain biasanya diiringi dengan permainan yang tidak sepenuh hati. (GDS,66).

·         Kekuatan berimbang antara Swedia dan Rumania itu juga tampak dalam daya tahan dan kelincahan barisan tengah kedua kesebelasan…. Karenanya, kemungkinan besar nilai dari ketangguhan dan keampuhan kedua kesebelasan akan ditentukan oleh hal-hal yang bersifat taktis. (GDS,73)

·         Pertandingan putaran perempatan final antara Italia dan Spanyol mengundang kekaguman orang pada daya juang Italia kali ini… tidak lepas dari rasa kagum akan stamina dan semangat juangItalia yang tidak mau melihat pertandingan dianggap usai sebelum benar-benar habis waktu….Keyakinan bahwa upaya yang dilakukan terus menerus tentu akan memberikan hasil…. (GDS, 75-76)

·         Sedang Belanda, dengan pemainnya yang memiliki kualitas merata yang begitu tinggi harus menyelesaikan masalah utama debat kronis dan kelangkaan rasa tunduk kepada pelatih nasional, seperti dialami Advocaat dari Ruud Gullit. Perdebatan mengenai strategi harus dimenangkan oleh pelatih, kalau diinginkan sukses dalam kompetisi akbar seperti piala dunia.

·         Swedia tampil dengan keyakinan penuh akan apa yang dicarinya. Pembuktian bahwa strategi bertahan plus serangan balik secara kreatif adalah sebuah cara bermain bola yang efektif.(GDS, 105)

3.             Karakter pelatih sebagai pemimpin dan pengatur strategi, yakni yang meliputi ketegaran, keberanian bereksperimen, kemampuan mengorganisasikan permainan, membagi peranan, menghilangkan sikap egois pada diri pemain, pengorbanan, konsekuen, taktis, kemampuan membaca situasi  dan permainan lawan, memiliki kematangan, tidak punya rasa takut, meraih kemenangan, ataupun kalah secara terhormat.

·         Sangat menarik mengamati ketegaran strategi yang diterapkan Sacchi, meski pemainnya tinggal 10 orang… Kematangan perhitungannya untuk mempertahankan strategi awalnya dan menerapkannya pada kondisi yang berbeda, ternyata mampu menghasilkan kemenangan (GDS, 29).

·         Pertandingan Belanda-Belgia adalah contoh klasik dari sebuah keberanian melakukan eksperimentasi. Pelatih Dick Advocaat tetap menolak keinginan untuk menggantungkan pada salah seorang atau beberapa maha bintang seperti Marco van Basten dan Ruud Gullit. Permainan yang ingin dikembangkan adalah pembagian peranan secara lebih merata dan kemampuan berpindah posisi di lapangan sesuai kebutuhan. Tim yang seperti itu, ia bangun dengan mengorbankan kelebihan skill luar biasa dan insting membangun serangan yang dimiliki Gullit sebagai playmaker (pembagi bola). Seorang Gullit dengan modal kedua hal itu akan menjadi sangat berguna bagi tim, tetapi itupun harus dikorbankan kalau, kemudian sebagai akibat para pemain lainnya tidak dapat mengikuti rencana-bangunan yang lebih mementingkan meratanya peranan itu… tampaknya betapa konsekuen Advocaat dengan keinginannya itu… Konsep Advocaat ini justeru menghindari penempatan pemain secara kaku. Para pemain itu lalu menjadi bebas untuk mengembangkan peluang-peluang, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi kawan-kawannya. Sehingga permainan menjadi “sepak bola kosong (zero football) yang ternyata… dengan “kekacauannya” itu, Advocaat mampu menyuguhkan serangan bergelombang yang mengurung pertahanan Belgia terus menerus… Acungan jempol harus diberikan kepada Advocaat atas kemampuan menerawang jauh kepada masa ketika lahir bintang-bintang yang tidak mementingkan posisinya sendiri, melainkan berbagi peranan dan berganti tempat tanpa ragu-ragu…(GDS,33-35)

·         Keberhasilan Nigeria membangun tim…disamping karena banyaknya pemain-pemain alami dengan insting bermain bola yang luar biasa bagusnya, juga karena kerja pelatih…yang berhasil memberikan bentuk permainan dan pengorganisasian rapi bagi tim Nigeria, disamping kecepatan stamina dan insting yang mereka miliki selama ini. Arah permainan permainan tim Nigeria menjadi lebih mengacu pada bagaimana mereka memenangkan pertandingan, bukannya sekadar bermain cantik belaka. Efisiensi pengorganisasian kesebelasan menjadi sesuatu yang dianggap paling diutamakan. (GDS,44)

·         Kematangan membaca perkembangan taktis pertandingan inilah yang merupakan keistimewaan Sacchi….Tilikan Sacchi yang dinamis atas strategi Clemente yang statis ternyata membuahkan sebuah kasus klasik tercurinya Spanyol oleh keberhasilan Italia untuk bertahan dengan prinsip yang langgeng: penyerangan adalah pertahanan yang baik. (GDS,79)

·         Kematangan penanganan tim oleh Ariggo Sacchi dapat diharapkan akan membuahkan cara-cara bertahan yang fleksibel dan kreatif.(GDS,91)

·         Reaksi sangat berhati-hati dari Parreira adalah contoh klasik dari psikologi ketakutan (psychology of fear) yang menghinggapi pengambil keputusan di bidang apapun, di saat-saat menghadapi situasi kritis. Berarti Sacchi mampu mengendalikan cara berpikir Parreira, disamping tim asuhannya mampu menerapkan pola “penjenuhan lapangan tengah” atas Brazil. (GDS, 93)

4.             Strategi permainan, yakni strategi permainan kehidupan sepakbola politik yang menggabungkan antara cara bertahan yang tangguh dan menyerangsecara efektif dan kreatif, variasi strategi dan taktik, pengorganisasian tim yang rapi disertaiketrampilan, kecepatan dandaya tahan individu secara optimal, realistis dalam membaca perkembangan situasi, merespon keadaan secara sehat dan tidak emosional, serta ditujukan untuk meraih kemenangan.

·         Keseimbangan antara cara bertahan dan meyerang sudah menjadi kebutuhan… Kombinasi bertahan dan menyerang yang indah ini diakui yang paling berbahaya saat ini, bukannya yang paling tangguh (GDS, 11-12)

·         Cara mementingkan pertahanan…adalah konsekuensi logis dari perkembangan keadaan. Juga adu penalti lalu menjadi “kebiasaan”…akibat logis saja… Menyadari hal itu sebagai perkembangan yang wajar, yang nantinya juga akan berkembang menjadi tahap lain di kemudian hari dalam persepakbolaan dunia, adalah sikap yang realistis dan sehat. Tidak perlu emosional, seperti Munos diatas (GDS, 12).

·         Sebuah pelajaran penting…bagi upaya demokratisasi kehidupan bangsa. Perkembangan keadaan senantiasa dihadapi dengan sikap yang dewasa, bukannya secara emosional. Dahulu dapat dilakukan sikap “menyerang” melalui pernyataan yang bernada garang dan analisis keadaan secara apa adanya saja. Ini memelihara kehadiran perjuangan sendiri saja rasanya sudah cukup beruntung… “Sikap bertahan” untuk mengadakan perubahan social melalui strategi sosio kultural yang berwatak gradual lalu menjadi kebutuhan yang wajar. Asal saja tidak bergeser dari upaya menumbuhkan demokrasi, menegakkan kedaulatan hokum dan mengusahakan keadilan social. Untuk tujuan tersebut, cara “adu penalti” sekalipun harus dapat dimainkan oleh mereka yang menginginkan Indonesia baik di masa depan. (GDS,12-13)

·         Kukuhnya pertahan dikeluhkan… Akan tetapi, justeru dari kukuhnya pertahanan itu sebenarnya muncul serangan-serangan bermutu, yang pada gilirannya akan melahirkan gol-gol indah lebih banyak di masa depan (GDS,22)

·         Pola penyerangan sekarang juga sudah memperlihatkan variasi gaya dan strategi yang sangat beraneka warna… Jelas bahwa antara barisan pertahanan dan penyerangan harus digalang keserasian melalui barisan gelandang yang tangguh (GDS,22-23)

·         Kelebihan komparatif dari tim-tim yang bertahan masuk babak semi final…(adalah) kemampuan mengembangan pola paling efektif bagi tim masing-masing.

·         Pelatih Berti Vigts dari Jerman terus menerus mengubah irama permainan, sambil tetap menekankan semangat memelihara daya tahan (staying power) Jerman yang termasyhur. Efektivitas permainan. Ya itulah kata kunci kejuaraan Piala Eropa 1992.

·         Hal itu juga menunjukkan penguasaan yang sangat baik dari Charlton atas pola permainan anak-anak asuhannya. Kemampuan teknis yang sangat tinggi dan kematangan strategi yang menyatu dalam bentuk fleksibilitas permainan yang bisa dijaga pada tempo yang tinggi, tetapi pada saat yang sama memperlihatkan variasi strategi yang sangat tinggi pula… Keyakinan akan perpaduan antara penguasan teknis atas bola, daya dobrak yang tinggi dari taktik hit and rush dan serangan bergelombang atas pertahanan lawan membuat Charlton masih optimis pada akhir babak kedua (GDS, 49)

·         Kedua pelatih…hanya memiliki sedikit pilihan strategi. Pertama, sudah tentu kecepatan harus diutamakan dalam mengembangkan permainan…Siapa yang mampu bermain cepat, pihaknyalah yang akan menguasai pertarungan. Kedua, ketajaman serangan harus dijamin melalui penempatan para penyerang baru kedua (second striker) yang ampuh. Ketiga, pertahanan tanpa kompromi harus diberlakukan sepanjang masa pertandingan. (GDS, 56).

·         Dengan mantabnya strategi yang digunakan, keunggulan masing-masing tim atas lawannya lalu menjadi sangat tergantung oleh keberhasilan menerapkan taktik yang jitu dalam melaksanakan strategi yang dipilih. Kegagalan mengubah taktik penyerangan menjadikan serangan tim Belanda sangat mandul. Jikalau dilakukan perubahan lebih dini, kemungkinan Belanda sudah dapat melakukan gebrakan-gebrakan. Kelambatan menerapkan perubahan taktik itu membuat Belanda kehilangan inisiatif untuk masa cukup lama… (GDS, 59)

Ulasan Gus Dur mengenai sepak bola diatas, dengan demikian, kiranya adalah strategi multi-retorik untuk menggambar manusia sebagai pemain dan terkadang juga sebagai wasit bagi dirinya. Tim lawan dalam sepakbola adalah metafor bagi partai-partai politik atau kelompok-kelompok yang berbeda dalam masyarakat yang saling bertanding dan bersaing, yang semuanya harus diperlakukan secara hormat meskipun berbeda pendapat. Mereka bukanlah musuh(enemies) yang bertanding dengan cara saling menegasikan bahkan mematikan. “Hal pertama yangharus dilakukan adalah begitu banyaknya bagian kita dalam perkumpulan bermacam-macam, tidakdengan menganggap semuanya itu sebagai lawan. Semuanya adalah bagian dari kehidupan kita bersama,hanya saja dalam begitu banyak wadah yang bermacam-macam.Selanjutnya, mereka yang sudah sadar akan hal ini, haruslah menjadi contoh dari sesuatu yang ingin kita tegakkan bersama dalam kehidupansebagai bangsa: kejujuran, kesetiaan dan kerja keras. Selebihnya adalah hal-hal yang harus dibuat oleh ia yang berada diatas, alias Tuhan yang kita tunduki bersama.” (BDS)

Kompetisi politik diungkapkan Gus Dur lewat metafor pertandingan sendiri yang berarti upaya demokratisasi dan pencapaian kesejahteraan rakyat yang harus dimenangkan (oleh penyerang yang haus gol). Sementara itu kemenangan dalam meraih piala dunia adalah metafor bagi usaha pencapaian demokrasi dan kesejahteraan rakyat. Aturan sepak bola menuntut kemungkinan untuk diperbaiki, sebagaimana aturan-aturan dalam kehidupan politik agar demokrasi dan kesejahteraan rakyat dapat diraih.

Dengan demikian pertandingan sepak bola adalah kompetisi antar partai-partai politik dan kelompok-kelompok masyarakat (civil society, LSM, kelompok agama, akademisi, dan lain-lain) yang berjuang untuk meraih piala kemenangan, yakni “demokrasi dan kesejahteraan rakyat”. Dan seorang pemimpin harus mencerminkan karakter pelatih nasional.Dalam kompetisi semacam itu, mereka harus menunjukkan kemampuan terbaik, mental yang kuat, kreativitas, inovasi dan strategi yang jitu, sekaligus memperagakan keindahan dan keelokan politik sendiri sehingga enak ditonton, menggairahkan dan dapat dinikmati oleh rakyat. Untuk itu, politik harus dimainkan secara fair-play, berpegang pada hukum dan peraturan permainan itu sendiri, sekaligus dibimbing oleh suatu “pengarah hidup”, suatu keyakinan akan kemuliaan dan keluhuran tindakan yang memberi keuletan, kesabaran, kejujuran, kesetiaan, daya tahan dan ketangguhan bahkan pengorbanan diri bagi cita-cita perjuangan demokrasi dan kesejahteraan dalam jangka panjang. Sebagaimana dinyatakan oleh Gus Dur:

“Sebuah proses demokratisasi itu haruslah diwujudkan dalam hal ia dapat dilaksanakan. Dengan demikian, disadari bahwa tidak seluruh aspek harus didemokrasikan dapat diwujudkan pada saat yang bersamaan. Daya tahan kita sangat diperlukan untuk itu. Anggapan bahwa demokratisasi dapat dilakukan dengan cepat adalah “penyakit kiri kanak-kanakan”(infantile leftism), yang kalau ini dilakukan sama dengan bunuh diri. Demokrasi memerlukan napas yang panjang dan hanya dapat diwujudkan dalam kurun waktu yang panjang pula…dan membutuhkan stamina tinggi” (GDS, 153-154)

Dengan kata lain, bila perjuangan demokratisasi diinginkan sukses, maka ia harus diusahakan dengan “perhitungan” yang disertai dengan “pengarah hidup” agar tidak layu dan mati di tengah atau trotoar jalan. []



Bahan Bacaan

BDP = Bersatu Dalam Penderitaan (Abdurrahman Wahid, “Bersatu Dalam Penderitaan”, Proaksi, 25 Januari 2005)

GDS = Gus Dur dan Sepak Bola (Abdurrahman Wahid.Gus Dur dan Sepak Bola: Kumpulan Kolom-Kolom Gus Dur Tentang Sepak Bola. Surabaya: Penerbit Imtiyaz, 2014)

KNMP = Kiai Nyentrik Membela Pemerintah. (Abdurrahman Wahid. Kiai Nyentrik Membela Pemerintah. Dipengantari oleh Mohamad Sobary. Yogyakarta: LKiS, 2010)

TTPD = Tuhan Tidak Perlu Dibela. (Abdurrahman Wahid. Tuhan Tidak Perlu Dibela. Dipengantari oleh Bisri Effendy. Yogyakarta: LKiS, 2011)



Bacaan lain:

Elena Semino and Michela Masci. “Politics is Football: Metaphor in the Discourse of Silvio Berlusconi in Italy”. Discourse &Society,1996; Vol. 7 (2), pp. 243-269

J.M. Romein. Aera Eropa: Peradaban Eropa sebagai Penjimpangan dari Pola Umum. Diterjemahkan oleh Noer Toegiman. Djakarta: Penerbit Ganaca. N.V., 1969

José Ortega y Gasset. The Origin of Philosophy. Authorized translation from Spanish by Toby Talbot. New York: W.W. Norton & Company Inc., 1967.

José Ortega y Gasset.Toward a Philosophy of History. New York: W.W. Norton & Company Inc, 1941

Julián Marías. History Philosophy. Translated from the Spanish by Stanley Appelbaum and Clarence C. Strowbridge. New York: Dover Publications, Inc., 1967

María José Hellín-García. “Politics at Play: Game Metaphors in Spanish Political Discourse”. Hipertexto, 2014, Vol. 19, pp. 132-151

Penulis : M.H Nurul Huda / Gusdurian.net
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "“RAZóN VITAL“ DALAM SEPAKBOLA : GUS DUR DAN FALSAFAH SEPAK BOLA KEHIDUPAN"

Post a Comment

close
Banner iklan disini