Pandangan KH. Abdurrahman Wahid tentang manusia dan moralitas


GusdurFiles.com ~ Tulisan ini akan mengemukakan kembali secara sistematik pokok-pokok pandangan Kiai Abdurrahman Wahid, atau yang kerap disapa Gus Dur, Allahu yarham (selanjutnya disebut Gus Dur saja) tentang “manusia” dan “moralitas”. Bagaimana kedua pokok ini dapat dijelaskan dan apa konsekuensi praktis dari hubungan antar keduanya dalam tata kehidupan nyata di dunia, akan dijawab secara kurang-lebih memadai dalam uraian ini.

Gus Dur berkeyakinan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kedudukan yang mulia dan tinggi berkat anugerah Tuhan berupa kapasitas-kapasitas yang mereka miliki. Keyakinan primordial ini lalu diterjemahkan oleh Gus Dur, dengan cara menempatkan secara cermat keyakinan itu ke dalam problematika hubungan antara takdir Tuhan dan kehendak bebas manusia. Kecermatan itu terutama dapat dijumpai pada saat mana ia menempatkan hubungan kehendak manusia dan takdir Tuhan dalam kerangka ilmu pengetahuan alam/sosial dan filsafat moral. Dengan cara demikian, Gus Dur berhasil menampilkan konsepsi manusia dan moralitas menurut kosmologi Islam dalam wajahnya yang lebih fungsional dan universal. Sedemikian rupa sehingga “moralitas-agama Islam” bersama dengan “moralitas agama-agama” pada umumnya dan “moralitas-sekuler” dapat turut serta memberi sumbangan tak ternilai harganya bagi penyelenggaraan kehidupan masyarakat di dunia yang puspa-ragam dan bagi masa depan kebangunan peradaban (IIAIK, 54-58; 66).

Secara berturut-turut uraian dalam tulisan ini akan mengikuti alur sebagai berikut: (1) dimulai dari pembahasan tentang manusia dalam kosmologi Islam; dan (2) tempat manusia dalam kehidupan semesta dalam hubungannya dengan kehendak bebas dan takdir Tuhan; lalu (3) akan disajikan imperatif moral dalam pandangan Gus Dur yang harus dijalankan oleh manusia, supaya dirinya (4) mencapai kualitas kebajikan moral tertentu yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan kehidupan di dunia. Perlu dinyatakan sejak awal di sini agar tidak menimbulkan prasangka, bahwa implikasi-implikasi praktis yang sifatnya “menggebu-gebu” tidak bakal ditemukan dalam tulisan ini, kecuali secara implisit memperlihatkan bahwa suatu tindakan sejarah tidak lahir dari kehampaan moral(moral/spiritual emptiness).

Manusia dalam Kosmologis Islam

Gagasan Gus Dur tentang manusia dan moralitas pada hakikatnya dibangun dari wawasan kosmologi Islam, khususnya dunia pesantren. Paling tidak ada tiga konsep mendasar tentang “manusia”, yakni:(1) kedudukannya yang tinggi dihadapan makhluk lain; (2) statusnya yang mulia sebagai khalifah di bumi; dan (3) kemampuan inteleknya dalam merumuskan masalah dasar kemanusiaan. Ketiga-tiganya adalah fitrah manusia yang diyakini sebagai anugerah Tuhan sang Pencipta, sehingga manusia berhak atas kedudukan mulia baik di hadapan Tuhan maupun ciptaan lain di alam semesta.

Pertama-tama, kedudukan tinggi manusia itu diperoleh lantaran anugerah akal, budi, dan perasaan. Ketiga properti asali yang diberikan Tuhan Sang Pencipta itu memungkinkan manusia sanggup memupuk diri serta mengembangkan daya dan potensi kebaikannya di dunia. Kendatipun Gus Dur tidak menyediakan definisi pembeda yang jelas dan terpilah antar ketiganya, namun secara bersama-sama properti dasar itu mencirikan keadaan manusia yang berbeda dengan makhluk-makhluk yang lain sekaligus status yang mulia kepadanya. Memang benar, kata Gus Dur, manusia juga berpotensi jatuh dalam kesalahan dan bahkan kehinaan atau menyalahgunakan fitrah mulia itu, namun “pada dasarnya ia adalah tetap makhluk yang mulia yang dilengkapi dengan budi, akal, perasaan dan ketrampilan untuk mengembangkan diri yang seolah-olah tanpa batas” (IKNITK, 30). Mafhum muwafaqah-nya, berkat fitrah atau kapasitas-kapasitas yang dimilikinya dasar manusia adalah makhluk merdeka yang selalu terbuka terhadap aneka kemungkinan, yang di dalamnya mencakup kemungkinan untuk mengembangkan potensi kebaikan dalam dirinya dan potensi-potensi lain yang membawa manfaat bagi kehidupan semesta.

Dalam arti itu maka sifat “keterbukaan” sendiri hakikatnya telah ada di dalam diri manusia dan melekat di dalam kapasitas pengembangan dirinya. Selama ia masih hidup, manusia berpotensi memajukan diri, menyerap aneka wawasan kehidupan, mengembangkan kebaikan-kebaikanserta ikut menyumbang pada kemaslahatan dan kemanfaatan. Keterbukaan memungkinkan manusia bereksistensi secara dinamis.

Wawasan terakhir ini mengingatkan kita kembali kepada falsafah manusia sebagai makhluk mengada (human being) dan selalu dalam proses menjadi (human becoming) yang sifatnya ad infinitum. Manusia memang dapat berkembang menjadi buruk, tapi penilaian tersebut tidak serta merta dapat dijatuhkan kepada potensi “baik” manusia itu sendiri yang merupakan anugerah Ilahi, hingga akhir hayatnya yang final. Cukuplah dinyatakan dalam bahasa yang ‘rendah hati’ bahwa manusia pada dasarnya berpotensi baik. Dengan demikian,pikiran, kebijakandan tindakan yang mau “mematikan” proses manusia dalam “menjadi” (becoming), maka serentak kiranya merupakan gangguan bagi kemerdekaan dan keterbukaan diri manusia dalam merealisasikan aneka daya potensi baik itu yang dalam jangka panjang merupakan syarat kemungkinan bagi kebudayaan dan lahirnya peradaban umat manusia.

Postulat dasar ini lebih lanjut digambarkan Gus Dur dalam wujudnya yang  nyata lewat tafsir alegorisnya mengenai keagungan rohani dan ke-“supranatural”-an sosok Gus Miek. Manusia terakhir ini bernama lengkap Hamim Tohari DjazuliAllahu yarham, seorang kiai kharismatik putra ulama sufi dan ahli tarikat pendiri Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, KH. Jazuli UtsmanAllahu yarham. Selain mendirikan Sema’an Al-Quran dan memimpin jamaah pengajian Dzikrul Ghofilin (artinya: pengingat orang-orang yang lupa), Gus Miek jugakerap mendatangi diskotek, night club, coffee shop dan menyapa para penghuni tempat-tempat pelacuran. Dan karena perilakunya yang dianggap nyleneh macam itu, maka predikat “supranatural” lantas dilekatkan kepada dirinya.

Ketika Gus Miek wafat 5 Juni 1993,Gus Dur langsung menulis sosok ini melalui kolom obituari yang baru dimuat Harian Kompas seminggu kemudian, yang berjudul “Gus Miek: Wajah Sebuah Kerinduan” (13Juni 1993). Diliputi rasa kehilangan yang mendalam, Gus Dur mengatakan: “Yang selalu saya kenang (dari Gus Miek—tambahan penulis) adalah kerinduannya kepada upaya perbaikan dalam diri manusia. Karena itu, ulama idolanya pun adalah yang membunyikan lonceng harapan dan genta kebaikan, bukan hardikan dan kemarahan kepada hal-hal yang buruk… Kerinduannya kepada realisasi potensi kebaikan pada diri manusia inilah yang menurut saya menjadikan Gus Miek supernatural” (GDMPZ, 93).

Di mata Gus Dur, sosok Gus Miek mewakili satu kesadaran akan hakikat manusia yang secara esensial bersifat sama dan setara: yakni punya potensi memperbaiki keadaannya sendiri. Berkat akal, budi dan perasaannya, manusia memiliki kemuliaan yang super, yang dengan itu ia secara natural berpeluang merealisasikan potensi-potensi kebaikannya. Hal itulah mengapa Gus Miek yang karena menyadari hakikat manusia dan sekaligus mampu membuka diri terhadap kenyataan hakikat manusia itu lalu dipandang Gus Dur pantas pula menyandang predikat supernatural. “Gus Miek inilah yang melalui transendensi keimanannya tidak lagi melihat ‘kesalahan’ keyakinan orang beragama atau berkepercayaan lain… karena ia yakin kebaikan sama pada dua orang penyanyi (Ayu Wedayanti yang Hindu dan Neno Warisman yang Muslimah –penulis) tersebut” (GDMPZ, 93).

Kiranya sudah terang di sini bahwa lewat medium naratif sosok Gus Miek, Gus Dur bermaksud menghadirkan premis-premis yang disusunnya diawal dalam wujudnya yang lebih nyata. Bahwa akal, budi dan perasaan adalah sarana pengembangan potensi kebaikan; bahwa tanpa kehadirannya potensi itu mustahil mewujudkan diri; dan oleh karena itu hardikan, kemarahan atau penghilangan terhadap kemuliaan sarananya berarti juga penghilangan terhadap kemungkinan-kemungkinan pengembangan potensi kebaikan dalam diri manusia. Walhasilatas dasar premis-premis tersebut maka manusia sudah selayaknya diperlakukan sesuai dengan kemuliaan derajatnya itu.

Selanjutnya berdasarkan asumsi (postulat spekulatif yang terbukti) itu dapatlah ditarik sebuah kesimpulan yang sifatnya prinsipil. Manusia harus dilindungi martabatnya dan dibiarkan bertumbuh untuk menjamin kapasitas fungsionalnya bekerja.Hal ini mencakup tuntutan untuk menghormati hak-hak yang bersifat asasi/dasar yang merupakan syarat keharusan bagi jalannya kapasitas pengembangan diri dan kapasitas-kapasitas fungsional yang lain. Yakni penghargaan kepada nilai-nilai dasar kehidupan manusia yang sesuai dengan martabatnya, pelestarian hak-hak asasinya secara individual maupun secara kolektif, pelestarian hak mengembangkan sendiri tanpa rasa takut terhadap ancaman pengekangan, hak mengemukakan pendapat secara terbuka, dan pengokohan hak untuk mengembangkan kepribadian tanpa campur tangan dari orang lain (IKNITK, 30).

Selain fungsi pengembangan diri diatas, kosmologi Islam memberi kedudukan khusus kepada manusia sebagai khalifahfil ardh. Pengertian “khalifah” sendiri adalah wakil Allah atau vicegerent yang bertugas menjalankan kekuasaan Allah di bumi manusia. Secara umum khalifah juga bermakna pemimpin, pengatur, pemelihara, pelindung dan seterusnya. Dalam kapasitas itu, keberadaan manusia adalah menjalankan fungsi sosial-kemasyarakatan yang dibedakan dari kapasitas fungsi pengembangan diri yang hakikatnya bersifat individual. Mengenai fungsi sosial ini, Gus Dur mendasarkan diri pada firman Allah: “Laqad kaana lakum fi rasulillahi uswatun hasanah” (telah ada bagi kalian keteladanan sempurna dalam diri Rasulullah). Keteladanan yang dimaksud terutama peranan Nabi Muhammad SAW dalam mengusahakan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia (rahmatan lil alamin).Fungsi ini mencakup keharusan untuk memperjuangkan kesejahteraan secara menyeluruh dan tuntas, sekaligus melawan pola hidup sosial yang eksploitatif, tidak manusiawi dan tidak berasaskan keadilan (IKNITK, 30; PNAK, 153).

Dalam kapasitas itu juga maka manusia berhak menyandang kedudukan mulia sebagai aktor sejarah. Manusia, dalam pandangan Gus Dur, adalah “pelaku yang bermartabat dan berderajat penuh” yang diharapkan “ikut ambil bagian dalam kebangunan peradaban manusia” (IKNITK, 13). Dan justeru pada tahap sebagai aktor sejarah inilah, menurut Gus Dur, saat yang paling menentukan bagi status kemuliaan manusia di hadapan Allah SWT sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran: “laqad karramna bani adam”(sungguh telah Kumuliakan anak Adam).

Kapasitas fakulatif ketiga yang dimiliki manusia adalah karunia akal dan pikiran. Gus Dur menyebut daya ini sebagai “kemampuan fitri, akli dan persepsi kejiwaan manusia untuk hanya mementingkan masalah-masalah dasar kemanusiaan belaka” (IKNITK, 30). Pengertian ini kiranya terkait erat dengan fungsi intelekmanusia berupa kapasitas konsepsional untuk mengenali, mengidentifikasi, membeda-bedakan, menggolongkan, dan memahami gejala-gejala alam/sosial, serta menangkap masalah-masalah kehidupan secara esensial. Termasuk di dalam fungsi itu adalah kapasitas untuk menimbang-nimbang yang terbaik bagi dirinya maupun masyarakat secara umum dari aneka pilihan yang tersedia dalam realitas kehidupan. Adapun produk kegiatan intelek adalah filsafat dan ilmu pengetahuan beserta teknologi sebagai turunannya.

Perlu dinyatakan langsung di sini bahwa Gus Dur memiliki pandangan yang istimewa mengenai fungsi intelek ini. Dikatakan bahwa kerja intelek perlu diarahkan untuk “menumbuhkan pandangan dunia yang mementingkan keseimbangan antara hak-hak perorangan dan kebutuhan masyarakat manusia dalam penyelenggaraan hidup kolektif yang berwatak universal” (IKNITK, 30). Apa istimewanya?

Keistimewaan pertama berkenaan dengan penyaluran kerja intelek yang mesti diarahkan ke jalur “mementingkan keseimbangan”. Dalam pandangan Gus Dur, intelek seolah memperoleh tugas baru atau suatu tuntutan kerja baru yang, selain fungsinya memikirkan “yang konsepsional”, juga perlu mementingkan “keseimbangan” antara hak individu dan kebutuhan masyarakat. Kiranya hak individu yang dimaksud adalah berkaitan dengan fungsi pengembangan diri manusia yang sifatnya individual yang, oleh kerja intelek, perlu diseimbangkan dengan kebutuhan masyarakat yang bersifat sosial. Fungsi kerja intelek, dengan demikian, mengharmoniskan antara fitrah manusia yang pertama dan fitrah manusia yang kedua; dengan kata lain, menyerasikan antara kepentingan individual dan tuntutan kebutuhan kolektif.

Keistimewaan kedua terletak pada penekanan atau tempat khusus yang diberikan Gus Dur bagi eksplorasi filsafat dan ilmu pengetahuan termasuk penguasaan teknologi sebagai produknya. Filsafat, bagi Gus Dur, bertujuan mengembangkan pandangan dunia, “world-view”, atau “weltanschauung”; sementara ilmu pengetahuan bertujuan untuk “yang lebih melayani kepentingan dan kehendak manusia” (IKNITK, 37). Filsafat menyediakan cara pandang terhadap dunia secara lebih mendalam atau cakrawala dunia yang lebih luas bagi kehidupan; sementara ilmu pengetahuan dan teknologi menyediakan aspek teknis operasional bagi penyelenggaraannya. Kerja “iptek” haruslah memperoleh cahaya wawasan kehidupan yang luas nan mendalam yang hanya disediakan oleh kerja filsafati. Dengan begitu diharapkan keduanya mampu memberi isi/muatan bagi terwujudnya “keseimbangan”hidup manusia di alam semesta.

Barangkali akan timbul pertanyaan: dari mana asal-usul perhitungan “mementingkan keseimbangan” itu dalam pemikiran Gus Dur sehingga asas itu kok mesti menjadi pembimbing (guidance) bagi kerja-kerja intelek? Bukankah dengan demikian tuntutan akan keseimbangan telah mereduksi segala potensi pengembangan diri manusia yang hampir-hampir tak terbatas itu? Jawaban atas pertanyaan ini diuraikan pada bagian yang berikut.

Manusia dalam Kehidupan

Seperti disinggung dimuka, tiga kualitas manusia di atas (kualitas pengembangan individual, sosial, dan intelek) adalah postulasi yang dirumuskan Gus Dur mengenai kondisi asali manusia menurut kosmologi Islam. Postulasi itu sekaligus mencerminkan hubungan yang tak terelakkan antara manusia dan Tuhannya, Sang Penciptanya. Kualitas-kualitas tersebut dipandang berwatak universal: yakni bersifat inheren dalam diri makhluk manusia (homo sapiens, hayawan natiq) dan sekaligus berlaku bagi manusia secara keseluruhan. Dalam pengertian ini pula semua manusia pada dasarnya adalah makhluk yang setara dan sederajat antar sesamanya.

Memang benar bahwa manusia dicirikan juga oleh kebertubuhannya yang dalam kosmologi Islam dinyatakan dalam istilah “basyar” (manusia dalam aspek tubuh biologisnya semata). Namun sejauh yang dapat dibaca dari karya-karyanya, Gus Dur tidak menaruh perhatian pada aspek yang sempit itu, melainkan tercurah kepada eksistensi manusia sebagai “insan” yang tercipta dalam sebaik-baiknya keadaan, “ahsanit takwim”(IKNITK, 30).Menurut penuturan Prof. Quraish Shihab, berbeda pengertian dengan “basyar”, kata “insan” bermakna manusia dalam totalitas jiwa-raganya yang sedemikian rupa sehingga memenuhi standar dan syarat untuk bisa menjalani kehidupannya di dunia (Shihab, Wawasan al-Qur’an, 1996: 280).Insan-manusia dibekali piranti-piranti yang bersifat asali yang merupakan ciri hakikinya, sehingga eksistensi seturut esensinya amat berbeda dengan makhluk-makhluk bertubuh lainnya seperti monyet, kerbau, babi, dan lain sebagainya. Berbekal kapasitas-kapasitas fakultatif yang dimilikinya itu, manusia dapat bereksistensi dalam artian merealisasikan aneka kemungkinan hidupnya di dunia“secara tak terbatas”.

Hanya saja, menurut Gus Dur, potensi pengembangan diri manusia yang “tak terbatas” itudalam kenyataannya hanyalah“seolah-olah” belaka sifatnya. Sebab, manusia dengan seluruh kapasitas yang dimilikinya terikat juga oleh postulat lain yang berdimensi teologis, yakni “sebagai penerima karunia Allah yang masih harus tunduk kepada takdir-Nya”. Bagi Gus Dur, “Takdir” adalah postulat teologis yang harus diyakini kebenarannya dan diterima sebagaimana adanya.

Dalam sejarah pemikiran Islam, postulat terakhir ini sebenarnya pernah menjadi objek perdebatan klasik yang sengit di kalangan teolog Islam (ahli ilmu kalam), terutama berkaitan dengan problematika kehendak bebas manusia (free-will)di hadapan Takdir Allah (predestination).Bagaimana mungkin manusia berkehendak bebas, bila pada saat yang sama ia dibatasi oleh Takdir Tuhan? Rumusan pertanyaan macam ini sebetulnya mengikuti alur logika formal non-kontradiksi Aristotelian: bila A, maka bukan B; atau bila B maka bukan A. Padahal ada jenis logika yang lain, misalnya dialektika atau logika “non-individualitas” yang berlaku dalam kenyataan yang melibatkan partikel-partikelkompleks (misalnya pergantian proton dan neutron) seperti dalam mekanika kuantum: partikel A sekaligus juga partikel B; pada saat yang sama A adalah A dan sekaligus B. Dengan kata lain, dihadapkan pada gejala-gejala yang lebih kompleks, kontradiktif dan non-linear, hukum-hukum logika formal Aristotelian itu runtuh.

Bagi Gus Dur sendiri, perdebatan sengit mengenai “kehendak bebas manusia” vs “Takdir Tuhan” di masa silam tersebut dianggap bagian dari dialektika sejarah yang harus diterima dan harus diberi arti bagi kebutuhan manusia di masa depan. Terhadap perdebatan itu, Gus Dur menyatakan (klaim) bahwa masalah pertentangan kehendak bebas manusia (free will) dan takdir Allah (predestination) telah berakhir dengan pendirian final “Aswaja (yang) secara nyata telah memberikan tempat yang sangat tinggi kepada manusiadalam tata kehidupan semesta. Ia diperkenankan menghendaki apa saja yang dimauinya, walaupun kehendak itu sendiri harus tunduk kepada kenyataan akan kekuasaan Allah yang tidak dapat dilawan lagi” (IKNITK, 35). Dengan kata lain, Gus Dur tidak menggunakan logika non-kontradiksi Aristotelian dalam menyikapi problematika diatas. Sebaliknya, kehendak bebas manusia dan takdir Tuhan eksis, hadir secara bersamaan: manusia memiliki kehendak bebas, tapi sekaligus kehendak itu pada akhirnya harus tunduk kepada kenyataan kekuasaan Allah bagi tata kehidupan semesta. Lewat cara pandang ini, kiranya Gus Dur berhasil menghadirkan konsep takdir Tuhan terutama dalam dimensinya yang duniawi dan sifatnya yang lebih fungsional dalam kehidupan. Maksudnya: manusia berhubungan dengan takdir Tuhan berupa kenyataan hidup akan berfungsinya ketentuan-ketentuan alam/sosial yang empiris sifatnya di satu pihak, dan keterbatasan eksistensi manusia sendiri sebagai “insan” di pihak lain.

Kiranya hal ini jelas tergambar dalam tajuk pembahasan mengenai hubungan manusia dan takdir Allah, dimana Gus Dur memberi judul “Pandangan tentang Manusia dan Tempatnya dalam Kehidupan” (IKNITK, 35) yang umumnya oleh pengarang lain secara konvensional diberi tajuk “hubungan manusia dan Tuhan” atau “Kehendak Bebas Manusia vs Takdir Tuhan” yang watak pembahasannya terlalu spekulatif dan kurang fungsional. Maka dapatlahdipahami dalam dimensinya yang duniawi dan fungsional itu, manusia dalam bereksistensi (dan berekstensi) tunduk kepada “takdir sosial” (hukum-hukum sosial) dan “takdir alam” (hukum-hukum alam) yang keberadaan keduanya sendiri merupakan buah kehendak-Nya. Dengan demikian, manusia dan dunia alam/sosial saling terkoneksi, sebagaimana kapasitas-kapasitas diri manusia terkoneksi dengan Tuhan. Dalam kontradiksi sehari-hari, terdapat non-kontradiksi.

Umpamanya dalam hubungannya dengan alam untuk pemenuhan kebutuhan manusia, Gus Dur menyarankan agar perencanaan pembangunan ekonomi harus tunduk kepada tujuan pelestarian dan pemanfaatan sumber-sumber daya (tenaga dan bahan mentah) secara bijaksana sehingga tidak mengancam kehidupan manusia itu sendiri. Adapun dalam hubungan antar individu dan masyarakat, Gus Dur juga mengatakan bahwa hak individu harus dipenuhi, namun untuk mewujudkannya harus mampu melihat keterbatasan masyarakat dimana keberadaan masyarakat sendiri hidup untuk menyediakan dan memenuhi kebutuhan semua individu. “Dunia itu berkembang menurut pertimbangan ‘dunia’-nya sendiri,” kata Gus Dur tentang perubahan sosial (IKNITK, 65), yang dengan itu manusia kiranya harus memikirkan jalan sendiri dan mencari hukum-hukum dimana dunia kehidupan bekerja apa adanya. Disinilah filsafat dan ilmu pengetahuan menjalankan fungsinya dalam menjawab persoalan-persoalan kehidupan.

Dengan wawasan tersebut, dapat ditegaskan kembali inti pandangan Gus Dur bahwa manusia pada dasarnya memang memiliki ketakterbatasan kapasitas untuk bereksistensi (mengembangkan diri, “mengada”); namun ia sendiri pada akhirnya harus menyadari batas-batas dimana proses bereksistensi itu juga berpeluang menghancurkan eksistensi itu sendiri. Dan bagi Gus Dur, menghindari potensi ancaman terhadap eksistensi diri (mafsadah) inilah kiranya arti manusia berhadapan dengan takdir Tuhan dalam kehidupan semesta. Adapun bila timbul pertanyaan dari mana dapat diketahui batas-batas ancaman eksistensi itu (yang berarti juga arah batas takdirnya) dalam kehidupan? Maka hal itu terpulang kembali pada capaian kerja kapasitas-kapasitas diri manusia sendiri, terutama hasil yang diperoleh dari kegiatan berfilsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Hal itulah mengapa dalam berbagai kolom dan makalahnya, terlihat jelas bahwa Gus Dur memberi perhatian besar atau “endorsement” bagi pengembangan filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi (apalagi di era globalisasi sekarang) terutama dalam rangka dinamisasi tradisi dan kebudayaan sebagai bagian dari agenda membangun peradaban manusia di masa depan. Bahkan, menurutnya, hakikat teknologi sebagai produk ilmu pengetahuan adalah suatu “proses manusia mempelajari dirinya… untuk bisa mengerti hingga dimana batas-batas kemampuannya mengatur diri dalam kehidupan bersama (baik antar mereka sendiri maupun dengan makhluk-makhluk lain) yang memelihara asas keseimbangan hidup” (IKNITK, 37).

Prinsip menghindari ancaman terhadap eksistensi diri manusia di atas (yang diperoleh lewat filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi) menjawab pertanyaan mengapa perhitungan “mementingkan keseimbangan” menjadi guidance (pembimbing) bagi kerja intelek. Dengan kapasitas fungsi konsepsional yang dimilikinya, intelek mampu memilah, memilih, dan menimbang-nimbang agar usaha pengembangan diri pribadi tidak mengabaikan atau menghancurkan eksistensinya sendiri melalui pengabaian terhadap tuntutan kehidupan bersama. Asas “keseimbangan” memberi ruang pada usaha memaksimalisasi  pengembangan diri manusia yang secara serentak mengharuskan upaya minimalisasi ancaman terhadap eksistensi manusia sendiri. Eksistensi dalam pengertian ini adalah kehadiran totalitas jiwa-raga (insan) dalam kehidupan, baik kehadiran hidup ragawi maupun kehadiran hidup akal, budi, perasaan dan intelek sendiri.

Asas “keseimbangan” kiranya merupakan ide yang sangat sentral dalam keseluruhan pemikiran Gus Dur, yang menjadikan kosa-kata ini mudah dijumpai di tiap halaman kolom-kolomnya. Asas ini bahkan selalu menempati bagian kunci dalam titik-titik penyelesaian aneka masalah (sosial, ekonomi, politik, budaya, pengetahuan dan teknologi, dan topik-topik lain) yang ia ajukan. Umpamanya berkaitan dengan hubungan antar manusia dan masyarakat, Gus Dur menekankan keseimbangan antar pemenuhan kebutuhan diri individu dan kebutuhan masyarakat atau pemenuhan hak individu dan tuntutan/ketentuan masyarakat. Berkaitan dengan hubungan manusia dan alam dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, ia juga menekankan keseimbangan antara pengolahan sumber daya dan sekaligus pelestariannya; dan terkait kebangunan peradaban, ia menyarankan satu ramuan yang seimbang antara kebesaran peradaban material dan kebudayaan/spiritual manusia. Dan masih banyak lagi penekanan pada keseimbangan dalam pembahasan topik masalah yang lain.

Lalu, ada masalah mendasar mengenai hubungan keseimbangan dengan tindakan praktis manusia. Orang dapat saja mengklaim bahwa ia bertindak seturut asas keseimbangan, padahal sebenarnya egoistis dan mementingkan kehidupan pribadi. Kenyataan ini kiranya jelas dapat menyulitkan upaya penilaian. Maka timbul pertanyaan: bila keseimbangan merupakan asas penyelenggaraan hidup kolektif yang bersifat universal, lalu dalam batas-batas mana asas itu secara moral dapat diukur dan dilaksanakan? Apa dasar-dasar pengambilan keputusan moral dalam tindakan praktis manusia? Pertanyaan ini mengantarkan kita pada pandangan Gus Dur tentang moralitas dan kewajiban-kewajiban moral.

Kewajiban-Kewajiban Moral

Sebagaimana diutarakan di awal tulisan ini, pandangan Gus Dur mengenai manusia berlandaskan ajaran-ajaran Islam. Postulat utamanya adalah bahwa hakikat dasar manusia mengandung suatu relasi tak terbantahkan dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta, Causa Prima, sang Pemberi Karunia. Keberadaan Tuhan dan relasi manusia dengan-Nya (melalui keseluruhan kapasitas akal, budi dan perasaan, serta kapasitas sosial dan intelek yang dimiliki) pada gilirannya mengandaikan keharusan adanya moralitas. Bagi Gus Dur, kesadaran akan relasi itu adalah dasar bagi moralitas.

Pendasaran moral yang sangat esensial tersebut memang jarang dinyatakan oleh Gus Dur secara verbal yang meskipun demikian dapat dijumpai pada bagian-bagian lain kolom dan eseinya. Dapat dinyatakan bahwa suatu tindakan bernilai moral, bila pelaku tindakan tersebut mematuhi kewajiban-kewajiban. Gus Dur mengajukan empat kewajiban moral yang mengikat manusia secara universal.

(1)  Kewajiban untuk senantiasa taat asas (konsisten) dalam berpikir dan mencari pemecahan persoalan-persoalan yang dihadapi.

(2)  Kewajiban menjunjung tinggi tujuan utama kehidupan, yakni (a) mencari kemaslahatan sejauh mungkin; (b) menjauhkan kerusakan/mafsadah sekuat mungkin; dan (c) menerapkan asas kerahmatan dalam kehidupan secara keseluruhan.

(3)  Kewajiban menyediakan sarana yang diperlukan untuk pencapaian tujuan utama kehidupan di atas; dan

(4)  Kewajiban memikul tanggung jawab penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat secara tuntas dan jujur (IKNITK, 30-31).

Kewajiban-kewajiban tersebut, ditegaskan oleh Gus Dur, harus dilaksanakan secara simultan dan serentak, yang salah satunya tak dapat ditanggalkan. Pelaksanaan imperatifnya pun harus diupayakan dalam kerangka yang sifatnya integral, secara menyeluruh. Itu berarti kewajiban moral harus dipatuhi baik dalam kerangka pengembangan potensi diri pribadi, bekerjanya fungsi-fungsi sosial kemasyarakatan, maupun dalam kerja-kerja intelek melalui filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Baru jika kewajiban-kewajiban moral itu dilaksanakan dalam artian menjadi kesadaran, sikap dan tindakan praktis hidup manusia, maka asas keseimbangan dalam menghadapi tantangan di dunia dan penyelenggaraan hidup kolektif yang berwatak universal itu dapat dipenuhi.

Namun, bagi Gus Dur, moral/etisnya suatu tindakan tidak semata diukur dari pelaksanaan kewajiban belaka, tetapi juga atas kesadaran demi mencapai “arah hidup yang benar” (IKNITK, 35-36). Yang dimaksud “arah hidup yang benar” adalah hidup untuk memperoleh “kesempurnaan diri di sisi Allah” dan sekaligus mengabdi kepada sebesar-besarnya kepentingan hidup kolektif umat manusia. Di bagian yang lain, Gus Dur juga menegaskan bahwa moralitas tersebut dilandasi oleh “kedalaman rasatunduknya kepada kebesaran Allah, sekaligus tidak menutup mata dari tugas utama agamauntuk mengangkat derajat manusia dari kemiskinan dan kehinaan, terlibat dalam perjuangan si miskin untuk memperoleh kehidupan yang layak dan penghargaan yang wajar atas hak-hak asasi mereka” (“Moralitas: Keutuhan dan Keterlibatannya”, Tempo, 17 Juni 1978).

Hasilnya bila diformulasikan dalam satu kalimat, maka maksim moral menurut Gus Dur akan berbunyi sebagai berikut: “Bertindaklah seturut kewajiban-kewajiban sedemikian rupa sehingga arah hidup yang benar menjadi satu-satunya tujuan”. Inilah kiranya pendasaran moral bagi suatu etika sosial yang bersifat universal, khususnya bagi agama-agama dan aliran kepercayaan. Gus Dur kiranya berkeyakinan bahwa formulasi itu dapat menjadi pijakan pengambilan keputusan moral yang memandu beraneka agama dan keyakinan serta beragam etnis dan kebudayaan yang dianut masyarakat untuk dapat hidup bersama, saling berdampingan dan saling memiliki dalam kehidupan.

Kiranya maksim moral yang diajukan Gus Dur tersebut bukanlah semata postulat abstrak. Manifestasinya dalam kehidupan nyata ditunjukkan melalui sosok-sosok konkrit, seperti Kiai Achmad Shiddiq, Gus Miek dan Romo Mangun (GDMPZ, 83-101). Ketiga orang ini dianggap mewakili suatu corak manusia yang sama dalam dua hal yang paling mendasar. Pertama, mereka memaksimalkan karunia Allah akan potensi-potensi diri manusia dalam bereksistensi yang terwujud dalam kekhasan mereka masing-masing. Kedua, dalam relasi mereka dengan Tuhan, keimanan dan keyakinan mereka yang meskipun berbeda agama telah memancarkan suatu bobot keagungan moral yang tinggi.

Baik Kiai Achmad Shiddiq dan Gus Miek yang muslim maupun Romo Mangun yang Kristen, semuanya menghayati sikap bela-rasa sejati (spiritual compassion), berupa kepedulian terhadap penderitaan manusia dan masa depan bangsanya. Mereka hadir sebagai gambaran tak terbantahkan dari sosok-sosok manusia yang memiliki kebajikan moral yang dapat dijadikan model ideal dalam kehidupan bermasyarakat. Kesadaran mengenai dua pokok tersebut kiranya mengandung implikasi yang tak kurang mendasarnya. Yakni pengakuan dalam tata pengorganisasian social (masyarakat) dan pengorganisasian politik (negara) akan kesederajatan agama dan perlakuan yang sama terhadap para penganutnya.

Kebajikan-Kebajikan Moral

Kebajikan moral (moral virtues) yang dianjurkan oleh Gus Dur sebenarnya tidak berbeda dengan tuntutan-tuntutan yang ada di dalam ajaran Islam. Bahkan tak ada yang baru mengenai hal itu, kecuali penekanannya pada beberapa aspek yang memberinya unsur baru. Dalam rumusan Gus Dur, dapat dinyatakan bahwa manusia yang berakhlak sejati adalah ia yang “memiliki arah hidup yang benar” atau “berwatak hidup yang memiliki arah yang benar”. Seperti telah disinggung, ia berarti hidup untuk mencapai kesempurnaan diri di sisi Allah dan sekaligus mengabdi kepada sebesar-besarnya kepentingan hidup umat manusia.

Terus terang, Gus Dur membahas tidak secara khusus dan sistematis kebajikan-kebajikan moral atau akhlak yang seharusnya dijalankan manusia. Pada satu kesempatan ia memaparkan kebajikan itu dalam satu atau dua paragraf terpisah, dan pada kesempatan lain ia melukiskannya lewat narasi tentang sosok-sosok manusia yang dihormatinya secara personal, atau melalui pernyataan sepintas lalu saat mengajukan penilaian kritis terhadap pokok-pokok masalah yang ditanggapinya. Dalam keseluruhan bagian-bagian itu aneka wawasan kebajikan moral dapat dicerap dan ditelaah, yang di antaranya meliputi: cinta kehidupan, jujur (truthful), adil, konsistendalam mencari kebenaran dan memecahkan masalah, tulus-ikhlas, peka-peduli, persaudaraan disertai rasa hormat dan saling menghargai, keyakinan teguh pada cita-cita masa depan yang baik, sikap sabar, pengekangan diri, dan lain-lain.

Sayang sekali, penulis tidak sanggup menguraikan semuanya di sini. Pasalnya, uraian kebajikan-kebajikan moral itu sudah ada di dalam bilik-bilik kalbu para Gus Durian sendiri. []

Penulis : M.H Nurul Huda

kritik dan masukan dialamatkan ke email: mhnurul_huda@yahoo.com

Bahan Bacaan

GDMPZ = Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman. (Abdurrahman Wahid. Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman: Warisan Pemikiran Abdurrahman Wahid. Dipengantari oleh JakobOetama dan diepilogi oleh A.S. Hikam. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010)

GDMKR = Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat (Abdurrahman Wahid. Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat. Dipengantari oleh JakobOetama. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2008)

IIAIK = Islamku, Islam Anda, Islam Kita (Abdurrahman Wahid. Islamku, Islam Anda, Islam Kita:Agama Masyarakat Negara Demokrasi. Dipengantari oleh M Syafi’i Anwar. Jakarta: The Wahid Institute, 2006)

IKNITK = Islam Kosmopolitan, Nilai-nilai Indonesia & Transformasi Kebudayaan.  (Abdurrahman Wahid. Islam Kosmopolitan, Nilai-nilai Indonesia & Transformasi Kebudayaan. Dipengantari oleh Agus MaftuhAbegebriel. Jakarta: The Wahid Institute, 2007)

ILN = Ilusi Negara Islam. (Abdurrahman Wahid (ed.). Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia. Jakarta: The Wahid Institute, 2009)

KKAAW = Kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahman Wahid. (Abdurrahman Wahid. Kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahman Wahid Selama Era Lengser. Dipengantari oleh KH. A. Mustofa Bisri. Yogyakarta: LKiS, 2002)

KKBS = Khazanah Kiai BisriSyansuri. (Abdurrahman Wahid. Khazanah Kiai Bisri Syansuri: Pecinta Fiqih Sepanjang Hayat. Jakarta: Pensil-324, 2010)

KNMP = Kiai Nyentrik Membela Pemerintah. (Abdurrahman Wahid. Kiai Nyentrik Membela Pemerintah. Dipengantari oleh Mohamad Sobary. Yogyakarta: LKiS, 2010)

MKK = Misteri Kata-Kata. (Abdurrahman Wahid. Misteri Kata-Kata. Jakarta: Pensil-324, 2010)

MSN = Membaca Sejarah Nusantara. (Abdurrahman Wahid. Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur. Dipengantari oleh KH. Mustofa Bisri. Yogyakarta: LKiS, 2010)

MT = Menggerakkan Tradisi. (Abdurrahman Wahid. Menggerakkan Tradisi. Dipengantari oleh Hairus Salim HS. Yogyakarta: LKiS, 2010)

SM = Sekadar Mendahului. (Abdurrahman Wahid. Sekadar Mendahului: Bunga Rampai Kata Pengantar. Dipengantari oleh Y.B. Mangunwijaya. Bandung: Penerbit Nuansa, 2011)

TTPD = Tuhan Tidak Perlu Dibela. (Abdurrahman Wahid. Tuhan Tidak Perlu Dibela. Dipengantari oleh Bisri Effendy. Yogyakarta: LKiS, 2011)

PNAK = Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan. (Abdurrahman Wahid, Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan. Depok: Desantara, 2001)

PPGD = Prisma Pemikiran Gus Dur. (Abdurrahwan Wahid. Prisma Pemikiran Gus Dur. Dipengantari oleh GregBarton dan Hairus Salim HS. Yogyakarta: LKiS, 2010)

Sumber : Gusdurian.net
1 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

1 Response to "Pandangan KH. Abdurrahman Wahid tentang manusia dan moralitas"

close
Banner iklan disini