Mari Kita belajar Dari Kasus Pengusiran Gus Dur

Kasus pengusiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) oleh sekelompok orang dalam acara forum dialog antarumat beragama di Purwakarta, beberapa waktu lalu, ternyata berbuntut panjang. Sejumlah tokoh mengecam peristiwa itu. Sementara pendukung Gus Dur di berbagai daerah pun berunjuk rasa dan mengecam kejadian tersebut. Mengapa kasus itu menjadi demikian serius? Tentu karena orang yang diusir itu adalah Gus Dur, mantan presiden, mantan Ketua Umum PBNU, dan tokoh pemikir Islam yang memiliki banyak pengikut.

Namun, Gus Dur tentu bukanlah satu-satunya faktor pemicu utama. Ada hal lain yang lebih serius lagi, di samping ‘kelakarnya’ tentang Al-Qur’an yang dianggapnya sebagai kitab suci paling porno. Yakni, soal pertarungan pemahaman keagamaan yang belakangan ini relatif marak. Terutama terkait dengan pro-kontra terhadap RUU Antipornografi dan Pornoaksi di mana Gus Dur berseberangan dengan MUI dan ormas Islam seperti FPI, MMI, HTI yang mendukung RUU tersebut.

Persoalannya, mengapa kita seperti tak memahami dan cenderung memusuhi yang tak sependapat dengan cara kekerasan? Bukankah Islam mengajarkan bahwa perbedaan pendapat merupakan sebuah rahmat?
Religious extremism

Kasus pengusiran Gus Dur kian membuktikan bahwa di negeri ini agama masih muncul sebagai obyek kekuasaan dan politisasi, faktor disintegratif, alat provokasi kerusuhan, dan pemicu kekerasan. Ini artinya, masih ada something wrong pada paradigma keberagamaan kita selama ini.

Tidak sedikit elite dan masyarakat awam bersikap ekstrim dan eksesif dalam beragama. Menurut Yusuf Qardhawi (1981), ada beberapa indikator religious extremism. Pertama, fanatisisme dan intoleransi, sebagai akibat prasangka, kekakuan, dan kepicikan pandangan. Ini lalu menggiring mereka memaksa orang lain, baik dalam bentuk terorisme intelektual seperti fitnah dan tuduhan penganut bid’ah (mengada-ada), kafir, fasik, murtad, yang lebih terrifying daripada terorisme fisik.

Kedua, berlebih-lebihan atau melampaui batas. Misalnya, ada saja kelompok agama yang cenderung mengambil garis keras yang hobi berdemonstrasi dengan makian, hasutan, bahkan ancaman bom. Para penganjur agama kelompok ini mendoktrinasi suasana batin orang awam dengan cara memanipulisasi solidaritas kelompok.

Ketiga, membebani orang lain tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi. Keempat, keras dalam memperlakukan diri sendiri dan orang lain sehingga, misalnya, asas praduga tak bersalah tidak pernah dihiraukan.

Semua ciri ekstremisme agama yang tiranik dan tidak egaliter ini jelas membahayakan hak-hak orang lain. Ekstremisme juga melahirkan bahaya dan ketidakamanan, serta mencabut rasa aman dan perlindungan.

Karena itu, harus ada paradigm shift dari sikap beragama yang inhumane kepada yang humane. Paradigma humanis ini adalah paradigma nilai, sikap, norma, dan praktik keberagamaan yang mendukung kehidupan damai dan nir kekerasan, menghargai perbedaan dan pluralisme, menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berekspresi, serta memajukan harmoni antarbudaya.

Ujian pluralitas

Satu hal lain yang patut dicatat dari kasus pengusiran Gus Dur adalah ujian pluralitas. Kita sangat menyayangkan bila perbedaan pemahaman antara Gus Dur yang pluralis dan moderat dengan FPI, MMI, HTI, dan FUI, yang dikenal konservatif-fundamentalis, itu akhirnya bermetamorfosis menjadi tindak menafikan perbedaan, bahkan sudah menjurus pada tindak kekerasan. Seharusnya, semua pihak bisa menyikapi perbedaan itu dengan penuh kesopanan dan kesantunan.

Harus diingat, bahwa pluralitas dan atau pluralisme adalah sebuah keniscayaan atau sunatullah yang tidak bisa ditolak dan dilawan. Apalagi dalam negara yang terdiri dari multietnis, multiras, dan multiagama seperti bangsa Indonesia.

Karena itu, di tengah kehidupan yang plural, seseorang atau sekelompok orang harus menyadari bahwa kebenaran yang mereka pegang adalah kebenaran relatif. Bisa saja kebenaran yang diyakini dan dipegang itu ditarik dari ajaran agama. Namun, yakinkah bahwa proses penarikan dari ajaran agama yang merupakan hasil penafsiran itu merupakan kebenaran yang sesungguhnya ?

Padahal, ketika memahami dan mengamalkan agama, pada hakikatnya masing-masing orang atau kelompok melakukan pendekatan yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Artinya, ada kemungkinan orang lain dan kelompok lain yang berada di ruang dan waktu yang berbeda juga memiliki penafsiran keagamaan yang berbeda.

Bahwa ajaran agama memang satu, itu benar adanya. Namun, keterbatasan ruang dan waktu akan memungkinkan satu dan lainnya memiliki penafsiran yang berbeda. Menyebut sekadar contoh, Imam Syafi’i memiliki dua penafsiran yang berbeda soal fiqh (hukum Islam). Yakni qaul qadim (penafsiran lama) dan qaul jaded (penafsiran baru). Ini terjadi, karena Imam Syafi’i kebetulan pernah tinggal di dua wilayah dan habitat yang berbeda setting sosio-kulturnya, yaitu Mesir dan Irak.

Nah, seorang ulama besar Imam Syafi’i saja, ketika berada di ruang dan waktu yang berbeda, bisa menghasilkan dua penafsiran yang beda. Bagaimana bila hal itu melibatkan banyak orang? Ada Gus Dur, NU, Muhammadiyah, FPI, MMI, FUI, HTI, dan MUI. Tentu variannya akan lebih banyak lagi. Sebab, yang memengaruhi bukan semata-mata ruang dan waktu. Tapi, sudah menyangkut perbedaan karakter, tingkat kecerdasan, tingkat kepekaan, tingkat toleransi, dan model pendekatan.

Kini saatnya seluruh komponen bangsa ini untuk lebih mengedepankan aspek saling menghargai perbedaan pendapat. Sangatlah tidak patut bila memperjuangkan kebenaran ditempuh dengan cara-cara yang tidak benar.

Nabi Muhammad SAW berhasil membawa misi ke-Islaman di bumi ini jelas karena beliau memiliki hati yang lembut, sejuk, dan senantiasa menebarkan kedamaian, bukan teror dan kekerasan. Nabi selalu mengajarkan agama melalui proses yang mempertimbangkan ruang dan waktu. Contoh mulia dari orang mulia inilah yang harus diteladani oleh siapa pun yang mengklaim dirinya Muslim, di mana pun dan kapan pun.

Lebih dari itu, hendaknya para pemeluk agama jangan lagi mau diperalat sekadar sebagai ‘kuda lumping’ yang disuruh mengamuk, seruduk kanan-kiri, yang berujung pada jatuhnya martabat agama dan pemeluk agama di satu sisi, dan tumbuhnya benih konflik di sisi lain. Kalau umat beragama selalu ribut, lantas kapan agama akan tampil sebagai pembawa rahmat dan penyebar damai?

Betapa malang nasib bangsa kita kalau umat sesama agama saja tidak rukun. Semua itu tidak produktif melainkan justru kontraproduktif.


Dikutip sepenuhnya dari http://www.unisosdem.org/ekopol_detail.php?aid=6317&coid=3&caid=31 yang dimuat cetak pada Bisnis Indonesia 3 Juni 2006 dan dapat dilihat versi digitalnya padahttp://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL

Sumber : Santrigusdur.com
1 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

1 Response to "Mari Kita belajar Dari Kasus Pengusiran Gus Dur"

  1. Damai indonesia .dengan adanya pemikiran tentang perlindungan hak-hak kaum minoritas dan menempatkan persatuan dan kedamaian sebagai hal yang dikedepankan.bisa meneladani pemikiran2 Beliau.

    ReplyDelete

close
Banner iklan disini