Jika Kau Sebut Gus Dur, Mereka akan Menyahabatimu


GusdurFiles.com ~ Cita-cita tentang terwujudnya perdamaian dunia adalah tujuan kemanusiaan yang mulia. Di mana pun, konflik dan peperangan adalah kesedihan bagi yang menyaksikannya. Terlebih lagi bagi yang mengalaminya. Anak-anak, perempuan mengalami trauma. Juga kaum bapak dan semua yang kehilangan anggota keluarga, harta benda dan pekerjaan.

Begitu juga Konflik Israel-Palestina. Konflik di sana berawal dari adanya resolusi PBB yang membagi tanah Palestina menjadi dua bagian. Israel mendapatkan tanah lebih luas sementara Palestina mendapat bagian yang lebih kecil. Konflik semakin memuncak ketika Israel mendirikan negara pada tahun 1948 berdasarkan resolusi tersebut.

Konflik terus berlangsung. Tak sedikit masyarakat sipil baik dari Palestina maupun Israel yang menjadi korban. Dampak semakin terasa di pihak Palestina karena wilayahnya semakin mengecil, akibatnya masyarakat terusir dari wilayahnya sendiri dan harus mengungsi ke negara-negara Arab lainnya.

Jalan damai Israel-Palestina telah diupayakan sejak tahun 1948 baik oleh kedua belah pihak atau pihak lain sebagai mediator. Namun kata sepakat sulit ditemukan. Puncak kegagalan upaya damai ini terjadi ketika partai Hamas dari Palestina menolak berunding dengan Israel sehingga peperangan kembali terjadi dan entah sampai kapan akan berakhir. Bahkan Liga Arab sebagai organisasi negara-negara Arab tidak mampu memberikan jalan tengah bagi konflik tersebut. Banyak negara-negara Timur Tengah turut merasakan dampaknya. Pan-Arabisme yang menyatukan negara-negara Arab ini sempat mengalami kemunduran sehingga menimbulkan sikap apatis terhadap konflik Timur Tengah. Dengan demikian perdamaian di Israel Palestina dan Timur Tengah lainnya masih sulit untuk terwujud sampai saat ini.

Jerusalem

Saya berkesempatan melakukan kunjungan ke Israel (19-27 Jan 2015) sebagai salah seorang peserta Indonesian Moslem Leaders "Tribute to Gus Dur". Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Jerusalem. Nama ini diambil dari kata saleem (selamat), merupakan kota yang penting bagi umat Yahudi (Jewish), umat muslim dan umat Kristen. Di Jerusalem lah Nabi Ibrahim menerima wahyu untuk berkurban, Nabi Sulaiman membangun temple, juga Nabi Muhammad berangkat ke langit dari Jerussalem.

Bagi umat Yahudi, Jerusalem merupakan tempat beradanya tembok ratapan dan Bait Allah. Bagi umat Islam, adalah tempat dimana mesjid Al Aqsha berada, tempat nabi melaksanakan perjalanan spiritual nan suci dari Masjidil Haram di Makkah ke mesjid Al Aqsha di Jerussalem (Qs Al Isra:1). Lalu menuju ke langit untuk menerima wahyu kewajiban shalat lima waktu bagi umat muslim. Dan bagi umat Kristen, Jerusalem adalah tempat gereja Makam Kudus, dimana Jesus disalib dan dimakamkan. Serta situs-situs keagamaan yang penting lainnya seperti gereja Kelahiran dan kuburan Rahel di Betlehem.

Israel memiliki budaya yang beranekaragam karena para Yahudi imigran dari seluruh dunia membawa tradisi dan budayanya masing-masing. Hari raya nasional ditentukan berdasarkan kalender Yahudi. Saya menyaksikan hari Sabtu (Shabbat), candlelighting di rumah seorang yahudi taat, Peta Pelach. Lalu Shabbat Service di sinagoge terdekat dan Shabbat hospitality di kediaman seorang rabi (pendeta Yahudi).

Shabbat ditetapkan sebagai hari libur dimulai dari sunset Jumat sampai dengan sunset Sabtu. Tidak ada aktivitas apa pun saat Shabbat. Tidak ada jual beli, tidak bekerja, tidak menyalakan computer atau kamera. Hanya doa dan kumpul bersama keluarga menikmati dinner saat Shabbat. Israel juga dipengaruhi budaya Arab yang terlihat pada arsitektur-arsitektur bangunan, musik, dan kuliner Israel.

Kami berkunjung ke museum, salah satu institusi kebudayaan yang terpenting di Israel. Saya mengunjungi Museum Holocaust nasional Israel, Yad Vashem. Museum ini menyimpan sejumlah arsip-arsip informasi mengenai peristiwa pembantaian terhadap kaum Yahudi oleh Nazi Jerman. Juga berkunjung ke museum di Masada in memory of Yigeal Yadin, dan Museum of Islamic Art yang menyimpan sejarah perjalanan Islam Timur Tengah, periode Mongol, Iran, Turki dan tentunya Islam di Israel.

Silaturrahim dan kunjungan juga dilakukan ke pusat pusat kebudayaan Islam. Selain ke museum yang menyimpan banyak sejarah tokoh dan peristiwa, kunjungan juga ke Arabiyah Village dekat perbatasan Israel Lebanon Jordan, dan Syiria, dimana komunitas muslim Israel Palestina berada. Kunjungan juga dilakukan ke mesjid-mesjid, yaitu Masjid Ahmad Haji Qadirov (nama ayah dari presiden Cechnya), karena memang biaya pembangunan mesjid berasal dari donasi Presiden Cechnya. Menurut peraturan perundangan yang berlaku, pemerintah Israel tidak boleh memberikan dana untuk mendirikan tempat ibadah agama apa pun. Pendirian tempat ibadah menjadi tanggung jawab para pemeluknya masing-masing.

Kami disambut Walikota Abi Gosh, visit dan lunch at sufi center-Islamic cultural Syeikh Ghassan Manasra imam Thariqah Qadliriyah di Nazaret; putra Syeikh Abdussalam Husein Munashiroh muallif kitab “Mu’jam kalimatul Qur’anul karim maniy wa tashrif”. Nazareth adalah Kota terindah di Israel yang berada di puncak pegunungan, dengan mayoritas muslim keturunan Arab. Meski demikian, kota ini tetap disebut sebagai kota Jesus. Atas kesepakatan bersama, di sinilah toleransi dan kebesaran hati masing-masing pemeluk agama teruji.

Tak lupa kunjungan juga dilakukan untuk turut dapat berempati dan memberikan cinta kasih kepada korban perang Syiria yang dirawat Rumah Sakit Zip Hospital. Seluruh korban perang di sini tidak dipungut biaya, ditanggung pemerintah Israel. Setidaknya selama tahun 2014, sebanyak 77.000 pasien gawat darurat dan 220.000 pasien rawat jalan di sini. Selanjutnya kunjungan ke Save A Child’s Heart di Wolfson Hospital, Holon Tel Aviv. Di situ anak-anak dari seluruh dunia termasuk Afrika yang memiliki penyakit di bagian hati dirawat dan diupayakan sembuhkan. Love is powerfull!

Gus Dur dan Perdamaian dunia
Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid adalah nama seorang muslim Indonesia yang paling sering didengar di Israel karena selalu disebut para rabai (Pendeta Yahudi), tokoh Kristen, jurnalis, aktivis Interfaith di Israel. Juga tentunya di kalangan moslem community di Israel dan Palestina. Gus Dur menjadi nama yang begitu akrab dan dicintai baik kalangan yahudi maupun komunitas muslim di kedua negara itu. Menyebut nama Gus Dur adalah berkah bagi warga Indonesia karena dengan menyebutnya seperti menjadi semacam clue dan ada chemistry bahwa ada persahabatan antara kami dengan mereka.

Peran aktif Gus Dur dalam mewujudkan perdamaian antara Palestina dan Israel terlihat jelas semasa hidupnya. Setidaknya Gus Dur tercatat dalam dua organisasi besar yang memperjuangkan terwujudnya kerukunan antarumat beragama dan perdamaian dunia di Israel dan Palestina. Bahkan Gus Dur juga menjadi salah satu pendiri di dalam organisasi ini jauh sebelum ia menjadi Presiden Republik Indonesia, yaitu the Peres Center for Peace. Organisasi itu dimotori mantan Presiden Israel Simon Peres. Gus Dur juga tercatat sebagai member board The Elijah Interfaith Institute sharing wisdom, fostering peace dimana para tokoh agama dan tokoh perdamaian dunia menjadi member di dalam kedua organisasi ini. Gus Dur ada di dalamnya karena konsisten memperjuangkan perdamaian dunia.

Ketika Gus Dur menjadi presiden, beliau pernah mewacanakan membuka hubungan dagang dengan Israel. Wacana yang cukup kotroversial. Banyak yang mengkritik terhadap keinginannya, terutama dari kalangan umat Islam. Alasannya cukup ‘ideologis’ bahwa Israel sampai saat ini masih melakukan penjajahan terhadap Palestina. Konstitusi Indonesia UUD 1945 menganut ‘Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Penolakan muncul dari mana-mana, baik dari dalam parlemen maupun dari luar parlemen. Akibat penolakan ini, bisa ditebak hasilnya, pembukaan hubungan dagang batal dilakukan.

Selama di Israel, setidaknya saya mengikuti dua forum diskusi formal dalam bentuk seminar, beberapa seminar yang diperuntukkan khusus sebagai penghormatan kepada jasa Gus Dur dalam turut serta mewujudkan kerukunan antarumat beragama dan perdamaian dunia. Fakta eksistensi Gus Dur sangat berarti bagi umat beragama khususnya di wilayah konflik seperti Israel-Palestina yang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh agama yang berbeda-beda di sana.

Israel berpenduduk kurang lebih 7.5 juta jiwa dengan16 % persennya beragama Islam. Lebih dari tiga per empat, atau 75,5% populasi Israel adalah Yahudi yang berlatar belakang berbeda-beda. Sekitar 68% Yahudi Israel dilahirkan di negara tersebut, 22%-nya merupakan imigran dari Eropa dan Amerika, dan 10%-nya merupakan imigran dari Asia dan Afrika (termasuk pula dari Arab). Umat Muslim mencapai 16%, agama minoritas terbesar di Israel sebab yang lain sekitar 2% populasi beragama Kristen, dan 1,5%-nya beragama Druze.

Saat rasa curiga dan tidak percaya antarwarga bangsa, antarumat beragama terjadi, saat umat Yahudi tidak percaya lagi kepada umat Muslim, saat umat muslim tidak percaya umat Yahudi dan umat lainnya, Gus Dur datang memberikan pencerahan dan harapan perdamaian di tanah Israel-Palestina.

Seorang aktivis kerukunan umat beragama perempuan di Israel dari Elijah Institut Peta Jones Pellach menyampaikan testimoninya tentang Gus Dur. “Menyaksikan langkah dan usaha Gus Dur dalam kerukunan umat beragama dan perdamaian dunia, membuat kami semakin memahami bahwa Islam yang sebenarnya adalah Islam yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan oleh Gus Dur, yaitu Islam yang rahmatan lil alamin; Islam yang mengayomi semua orang yang menjadi berkah dan member kasih sayang tanpa pandang bulu kepada siapa pun di dunia.”

Ini sejalan dengan yang sering didengungkan Gus Dur “bahwa kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah”.

Masih menurut Pelach bahwa ia masih mengingat kata-kata Gus Dur terhadap saya "lakukan kebaikan yang selama ini telah kamu lakukan, maka engkau akan mendapatkan perdamaian di tanah suci tiga agama ini."

Menarik, bahwa para Yahudi dan Kristen di Israel sangat berharap akan terus berkembangnya Islam moderat sebagaimana Islam Indonesia yang telah ditunjukkan Gus Dur. Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia sangat diharapkan peran aktifnya dalam membantu proses perdamaian termasuk di Timur Tengah. Moderasi Islam yang dibawa oleh Gus Dur telah mengubah pandangan mereka tentang Islam di dunia. Mereka sangat berharap pemahaman Islam "model" Gus Dur ini akan terus berkembang agar dunia menjadi lebih damai.

Selain itu mereka juga menceritakan bagaimana mereka juga sangat terkesan dengan guyonan ala Gus Dur yang sering dilontarkannya di forum Israel, sebagaimana disampaikan Emanuel Shahaf, seorang Yahudi yang menjadi Vice Chairman Israel-Indonesia Chamber of Commerce.

Begitu juga Mr Chaim Chosen selaku Head of the Asia and the Pacific division of Ministry of Foreign Affairs of Israel. Dia mengaku sangat terkesan dan bahagia bisa bertemu dengan Gus Dur. Menurutnya bertemu Gus Dur adalah peristiwa penting dan istimewa. Pertama dia bertemu Gus Dur di Universitas Hebrow Israel. Kedua, Gus Dur hadir pada penandatanganan perdamaian antara Israel dengan Jordania. Menurut Chaim juga, bahwa meski tidak memiliki hubungan diplomatik antara Israel dengan Republik Indonesia, tetapi hubungan tidak formal seperti kunjungan ini menjadi penting mengingat Indonesia sebagai negara Muslim moderat di dunia. Katanya tidak ada conflict of interest antara Indonesia dan Israel.

The last but not the least bertemu dengan Simon Peres, mantan Presiden Israel di Bait Peres Lil Salam. Lagi-lagi Gus Dur menjadi objek utama perbincangan. Tentu tak lupa juga tentang Islam Indonesia. Bagi Simon Peres, Mr. Wahid (begitu dia menyebut KH Abdurrahman Wahid) adalah pribadi yg sangat merdeka, independen dan mengayomi. Saat semua orang membicarakan tentang perang dan menuding Israel sebagai penyerang, ia justru datang kepada kami, Israel, untuk bicara tentang perdamaian. Ia adalah figur yang inspiratif bagi para pencinta damai dan kerukunan.

“Wahid adalah salah satu board di Peres Peace Center. Kami merasa kehilangan seorang tokoh yg luar biasa dan sangat dicintai. Dia memimpin jutaan umat Islam di negara muslim terbesar di dunia, yaitu Indonesia. Islam yg menjadi harapan bagi kedamaian dunia,” kata Peres.

Dan tak lupa Peres pun meminta kepada tim delegasi Indonesia, jika tidak keberatan, ada yang membuat patung Wahid untuknya, untuk dipasang di salah satu bagian gedung kantornya “The Peres Center for Peace” berdampingan dengan tokoh besar dunia lainnya seperti yang sudah ada di situ, yaitu patung Dalailama, Mahatma Ghandi dan lain-lain.

Gus Dur anugrah bagi Indonesia dan perdamaian dunia.

“Jika kamu berbuat baik pada semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu.”
Gus Dur, 
lahul Fatihah.

Penulis : Miftahul Jannah, Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat NU Banten

Sumber : NU Online
1 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

1 Response to "Jika Kau Sebut Gus Dur, Mereka akan Menyahabatimu"

  1. Saya tertarik dengan artikel yang ada di website anda yang berjudul " Jika Kau Sebut Gus Dur, Mereka akan Menyahabatimu " .
    Saya juga mempunyai artikel yang sejenis dan mungkin anda minati. Anda dapat mengunjungi di Arsitektur by Universitas Gunadarma

    ReplyDelete

close
Banner iklan disini