Mari Kita belajar Dari Kasus Pengusiran Gus Dur

Mari Kita belajar Dari Kasus Pengusiran Gus Dur

Kasus pengusiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) oleh sekelompok orang dalam acara forum dialog antarumat beragama di Purwakarta, beberapa waktu lalu, ternyata berbuntut panjang. Sejumlah tokoh mengecam peristiwa itu. Sementara pendukung Gus Dur di berbagai daerah pun berunjuk rasa dan mengecam kejadian tersebut. Mengapa kasus itu menjadi demikian serius? Tentu karena orang yang diusir itu adalah Gus Dur, mantan presiden, mantan Ketua Umum PBNU, dan tokoh pemikir Islam yang memiliki banyak pengikut.

Namun, Gus Dur tentu bukanlah satu-satunya faktor pemicu utama. Ada hal lain yang lebih serius lagi, di samping ‘kelakarnya’ tentang Al-Qur’an yang dianggapnya sebagai kitab suci paling porno. Yakni, soal pertarungan pemahaman keagamaan yang belakangan ini relatif marak. Terutama terkait dengan pro-kontra terhadap RUU Antipornografi dan Pornoaksi di mana Gus Dur berseberangan dengan MUI dan ormas Islam seperti FPI, MMI, HTI yang mendukung RUU tersebut.

Persoalannya, mengapa kita seperti tak memahami dan cenderung memusuhi yang tak sependapat dengan cara kekerasan? Bukankah Islam mengajarkan bahwa perbedaan pendapat merupakan sebuah rahmat?
Religious extremism

Kasus pengusiran Gus Dur kian membuktikan bahwa di negeri ini agama masih muncul sebagai obyek kekuasaan dan politisasi, faktor disintegratif, alat provokasi kerusuhan, dan pemicu kekerasan. Ini artinya, masih ada something wrong pada paradigma keberagamaan kita selama ini.

Tidak sedikit elite dan masyarakat awam bersikap ekstrim dan eksesif dalam beragama. Menurut Yusuf Qardhawi (1981), ada beberapa indikator religious extremism. Pertama, fanatisisme dan intoleransi, sebagai akibat prasangka, kekakuan, dan kepicikan pandangan. Ini lalu menggiring mereka memaksa orang lain, baik dalam bentuk terorisme intelektual seperti fitnah dan tuduhan penganut bid’ah (mengada-ada), kafir, fasik, murtad, yang lebih terrifying daripada terorisme fisik.

Kedua, berlebih-lebihan atau melampaui batas. Misalnya, ada saja kelompok agama yang cenderung mengambil garis keras yang hobi berdemonstrasi dengan makian, hasutan, bahkan ancaman bom. Para penganjur agama kelompok ini mendoktrinasi suasana batin orang awam dengan cara memanipulisasi solidaritas kelompok.

Ketiga, membebani orang lain tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi. Keempat, keras dalam memperlakukan diri sendiri dan orang lain sehingga, misalnya, asas praduga tak bersalah tidak pernah dihiraukan.

Semua ciri ekstremisme agama yang tiranik dan tidak egaliter ini jelas membahayakan hak-hak orang lain. Ekstremisme juga melahirkan bahaya dan ketidakamanan, serta mencabut rasa aman dan perlindungan.

Karena itu, harus ada paradigm shift dari sikap beragama yang inhumane kepada yang humane. Paradigma humanis ini adalah paradigma nilai, sikap, norma, dan praktik keberagamaan yang mendukung kehidupan damai dan nir kekerasan, menghargai perbedaan dan pluralisme, menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berekspresi, serta memajukan harmoni antarbudaya.

Ujian pluralitas

Satu hal lain yang patut dicatat dari kasus pengusiran Gus Dur adalah ujian pluralitas. Kita sangat menyayangkan bila perbedaan pemahaman antara Gus Dur yang pluralis dan moderat dengan FPI, MMI, HTI, dan FUI, yang dikenal konservatif-fundamentalis, itu akhirnya bermetamorfosis menjadi tindak menafikan perbedaan, bahkan sudah menjurus pada tindak kekerasan. Seharusnya, semua pihak bisa menyikapi perbedaan itu dengan penuh kesopanan dan kesantunan.

Harus diingat, bahwa pluralitas dan atau pluralisme adalah sebuah keniscayaan atau sunatullah yang tidak bisa ditolak dan dilawan. Apalagi dalam negara yang terdiri dari multietnis, multiras, dan multiagama seperti bangsa Indonesia.

Karena itu, di tengah kehidupan yang plural, seseorang atau sekelompok orang harus menyadari bahwa kebenaran yang mereka pegang adalah kebenaran relatif. Bisa saja kebenaran yang diyakini dan dipegang itu ditarik dari ajaran agama. Namun, yakinkah bahwa proses penarikan dari ajaran agama yang merupakan hasil penafsiran itu merupakan kebenaran yang sesungguhnya ?

Padahal, ketika memahami dan mengamalkan agama, pada hakikatnya masing-masing orang atau kelompok melakukan pendekatan yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Artinya, ada kemungkinan orang lain dan kelompok lain yang berada di ruang dan waktu yang berbeda juga memiliki penafsiran keagamaan yang berbeda.

Bahwa ajaran agama memang satu, itu benar adanya. Namun, keterbatasan ruang dan waktu akan memungkinkan satu dan lainnya memiliki penafsiran yang berbeda. Menyebut sekadar contoh, Imam Syafi’i memiliki dua penafsiran yang berbeda soal fiqh (hukum Islam). Yakni qaul qadim (penafsiran lama) dan qaul jaded (penafsiran baru). Ini terjadi, karena Imam Syafi’i kebetulan pernah tinggal di dua wilayah dan habitat yang berbeda setting sosio-kulturnya, yaitu Mesir dan Irak.

Nah, seorang ulama besar Imam Syafi’i saja, ketika berada di ruang dan waktu yang berbeda, bisa menghasilkan dua penafsiran yang beda. Bagaimana bila hal itu melibatkan banyak orang? Ada Gus Dur, NU, Muhammadiyah, FPI, MMI, FUI, HTI, dan MUI. Tentu variannya akan lebih banyak lagi. Sebab, yang memengaruhi bukan semata-mata ruang dan waktu. Tapi, sudah menyangkut perbedaan karakter, tingkat kecerdasan, tingkat kepekaan, tingkat toleransi, dan model pendekatan.

Kini saatnya seluruh komponen bangsa ini untuk lebih mengedepankan aspek saling menghargai perbedaan pendapat. Sangatlah tidak patut bila memperjuangkan kebenaran ditempuh dengan cara-cara yang tidak benar.

Nabi Muhammad SAW berhasil membawa misi ke-Islaman di bumi ini jelas karena beliau memiliki hati yang lembut, sejuk, dan senantiasa menebarkan kedamaian, bukan teror dan kekerasan. Nabi selalu mengajarkan agama melalui proses yang mempertimbangkan ruang dan waktu. Contoh mulia dari orang mulia inilah yang harus diteladani oleh siapa pun yang mengklaim dirinya Muslim, di mana pun dan kapan pun.

Lebih dari itu, hendaknya para pemeluk agama jangan lagi mau diperalat sekadar sebagai ‘kuda lumping’ yang disuruh mengamuk, seruduk kanan-kiri, yang berujung pada jatuhnya martabat agama dan pemeluk agama di satu sisi, dan tumbuhnya benih konflik di sisi lain. Kalau umat beragama selalu ribut, lantas kapan agama akan tampil sebagai pembawa rahmat dan penyebar damai?

Betapa malang nasib bangsa kita kalau umat sesama agama saja tidak rukun. Semua itu tidak produktif melainkan justru kontraproduktif.


Dikutip sepenuhnya dari http://www.unisosdem.org/ekopol_detail.php?aid=6317&coid=3&caid=31 yang dimuat cetak pada Bisnis Indonesia 3 Juni 2006 dan dapat dilihat versi digitalnya padahttp://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL

Sumber : Santrigusdur.com
Inilah Doa Gus Dur Untuk Wisudawan Sekolah Teologi Katolik

Inilah Doa Gus Dur Untuk Wisudawan Sekolah Teologi Katolik


Masih ingat dengan fitnah keji terhadap Gus Dur jika ia dibaptis? 

Ndilalah kok banyak yang langsung menelan bulat-bulat propaganda tersebut...

Saat beredar video di youtube tersebut saya langsung klarifikasi ke sahabat saya yang katolik. "Benarkah prosesi pembaptisan seperti itu?"
Ia langsung ngakak, sambil berkata, "Prosedur pembaptisan itu rumit dan sakral, nggak segampang itu. Bagi saya sih mustahil bagi orang sekaliber Gus Dur gampang menukar keyakinan! Hanya orang sok tahu yang bilang itu pembaptisan!"
---
Di lain kesempatan Gus Dur diundang menghadiri prosesi wisuda dalam sekolah teologi katolik (seminari?). Ia datang bersama seorang kiai. Nah, setiap wisudawan (calon pastur?), diminta bersalaman dengan Gus Dur yang duduk di kursi. Ketika para wisudawan bersalaman dengan Gus Dur, ia tampak komat kamit sambil--kalau tidak salah-- mengelus kepala wisudawan satu persatu. Sahabat Gus Dur ini mendekat, mencoba mendengar kalimat yang diucapkan Gus Dur secara lirih tersebut. Sahabat dekatnya ini terperanjat tatkala mendengar apa yang dilontarkan Bagaimana kalimat tersebut?
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
"Selamat ya dik, SEMOGA MENDAPATKAN HIDAYAH!"

Penulis : Rijal Mumazziq (Direktur Penerbit Imtiyaz)
Negara Islam, Apakah Ada Konsepnya?

Negara Islam, Apakah Ada Konsepnya?


Adalah pertanyaan sangat menarik untuk diketahui jawabannya, apakah sebenarnya konsep Islam tentang negara? Sampai seberapa   jauhkah hal ini dirasakan oleh kalangan pemikir Islam sendiri? Dan,  apakah konskwensi dari konsep ini jika memang ada? Lalu, apakah konskwensi dari konsep itu sendiri? Rangkaian pertanyaan di atas perlu diajukan di sini, karena dalam beberapa tahun terakhir ini banyak diajukan pemikiran tentang Negara Islam, yang berimplikasi pada  orang yang tidak menggunakan pemikiran itu, telah meninggalkan Islam.

Jawaban-jawaban atas rangkaian pertanyaan itu dapat disederhanakan dalam pandangan penulis dengan kata-kata: tidak ada. Penulis beranggapan, Islam sebagai jalan hidup (syari’ah) tidak memiliki konsep yang jelas tentang negara. Mengapakah penulis beranggapan demikian? Karena sepanjang hidupnya , penulis telah mencari  dengan sia-sia makhluk yang dinamakan Negara Islam itu. Sampai hari inipun ia belum menemukannya, jadi tidak salahlah jika disimpulkan memang Islam tidak memiliki konsep bagaimana negara harus dibuat dan dipertahankan.

Dasar dari jawaban itu adalah tiadanya pendapat yang baku dalam dunia Islam tentang dua hal. Pertama, Islam tidak mengenal pandangan yang  jelas dan pasti tentang pergantian pemimpin. Rasulullah saw digantikan Sayyidina Abu Bakar –tiga hari setelah beliau wafat. Selama masa itu masyarakat kaum muslimin, minimal di Madinah, menunggu dengan sabar bagaimana kelangkaan petunjuk tentang hal itu dipecahkan. Setelah tiga hari, semua bersepakat bahwa Sayyidina Abu Bakar-lah yang menggantikan  Rasulullah saw melalui bai’at/prasetia. Janji itu disampaikan oleh para kepala  suku/wakil-wakil mereka, dan dengan demikian terhindarlah kaum muslimin dari malapetaka.

Sayyidina Abu Bakar sebelum meninggal dunia, menyatakan kepada komunitas kaum muslimin, hendaknya Umar Bin Khattab yang diangkat menggantikan beliau, yang berarti telah ditempuh cara penunjukkan pengganti, sebelum yang digantikan wafat. Ini tentu sama dengan penunjukkan seorang Wakil Presiden di masa modern ini, yang harus mempersiapkan diri untuk mengisi jabatan itu jika berpindah  ke tangannya. 

Ketika Umar ditikam Abdurrahman bin Muljam dan berada di akhir masa hidupnya, ia meminta agar ditunjuk sebuah dewan pemilih/electoral college (ahl halli wa al-aqdhi), yang terdiri dari tujuh orang, termasuk anaknya, Abdullah, yang tidak boleh dipilih  menjadi pengganti beliau. Lalu,  bersepakatlah mereka untuk mengangkat Ustman bin Affan sebagai kepala negara/kepala pemerintahan.  Untuk selanjutnya, Ustman digantikan  oleh Ali bin Abi Thalib.  Pada saat itu, Abu Sufyan tengah mempersiapkan anak cucunya untuk mengisi jabatan  di atas, sebagai penganti Ali bin Abi Thalib. Lahirlah dengan demikian, sistem kerajaan dengan sebuah marga yang   menurunkan calon-calon raja/sultan dalam Islam.

******
Demikian pula, besarnya negara yang dikonsepkan menurut Islam, juga tidak jelas  ukurannya. Nabi meninggalkan Madinah  tanpa ada kejelasan mengenai bentuk pemerintahan bagi kaum muslimin. Di masa Umar bin Khattab,  Islam adalah Imperium Dunia dari pantai timur Atlantik hingga Asia Tenggara. Sudah tentu di dalamnya  juga ada pandangan tentang ukuran negara. Ternyata tidak ada kejelasan juga apakah sebuah negara Islam berukuran mendunia, sebuah bangsa saja (wawasan etnis) dengan demikian tidak jelas;   negara-bangsa (nation-state), ataukah negara-kota (city state) yang menjadi bentuk konseptualnya.

Dalam hal ini, Islam menjadi seperti komunisme: manakah  yang didahulukan, antara sosialisasi sebuah negara-bangsa yang beridiologi satu sebagai   negara induk, ataukah menunggu sampai seluruh dunia di-Islam-kan, baru dipikirkan bentuk negara dan idiologinya?  Menyikapi analogi negara Komunis, manakah yang didahulukan antara pendapat Joseph Stalin ataukah Leon Trotsky? Sudah tentu tidak sampai membunuh Trotsky di Meksiko, seperti yang dilakukan Stalin.

Hal ini menjadi sangat penting, karena mengemukan gagasan  Negara Islam tanpa ada kejelasan konseptualnya, berarti membiarkan gagasan tersebut tercabik-tercabik karena perbedaan pandangan  para pemimpin Islam sendiri. Misalnya, kemelut di Iran, antara para “pemimpin moderat” seperti Presiden Khatami dan para “Mullah Konservatif” seperti Rafsanjani saat ini. Satu-satunya hal yang mereka sepakati bersama adalah nama “Islam” itu sendiri. Mungkin, mereka juga berselisih paham tentang “jenis” Islam yang akan diterapkan dalam negara tersebut, haruskah Islam Syi’ah atau sesuatu yang lebih “Universal”? Kalau harus mengikuti paham Syi’ah itu, bukankah gagasan Negara Islam lalu menjadi milik kelompok minoritas belaka? Bukankah syi’isme hanya menjadi pandangan satu dari delapan orang muslim di dunia  saja?

*****
Jelaslah dengan demikian, gagasan Negara Islam adalah sesuatu yang tidak konseptual, dan tidak diikuti oleh mayoritas kaum muslimin. Iapun hanya dipikirkan oleh sejumlah orang pemimpin saja, yang terlalu memandang Islam dari sudut institusionalnya belaka. Belum lagi kalau dibicarakan lebih lanjut, dalam arti bagaimana halnya dengan mereka yang menolak gagasan tersebut, adakah mereka masih  layak disebut   kaum  muslimin atau bukan? Padahal mereka adalah mayoritas penganut agama tersebut?

Kalau diteruskan dengan sebuah pertanyaan lain, akan menjadi berantakanlah gagasan tersebut: dengan cara apa dia akan diwujudkan? Dengan cara terror atau dengan “menghukum” kaum non-muslim? Bagaimana halnya  dengan para pemikir muslimin yang mempertahankan hak mereka, seperti yang dijalani penulis? Layakkah ia disebut   kaum  teroris, padahal ia sangat menentang penggunaan  kekerasan untuk mencapai sebuah tujuan. Lalu, mengapakah ia harus bertanggungjawab atas perbuatan kelompok minoritas yang menjadi  para teroris itu?

KH. Abdurrahman Wahid, Jakarta, 18/4/2002

Sumber : islami.co
Sastra Islam Versus Penyempitan Islam, Hasil Wawancara Dengan Gus Dur

Sastra Islam Versus Penyempitan Islam, Hasil Wawancara Dengan Gus Dur

Wawancara Eksklusif Hardi dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dimuat Majalah Horison, September 1984

Ia lahir di Denanyar Jombang pada tahun 1941, merasa nggak pernah lama kumpul dengan ayahnya, karena sang ayah jadi menteri agama di Jakarta. Lucunya, bapaknya tak pernah mau sekolahkan di madrasah tetapi di sekolah rakyat, sekolah umum. Dari sekolah dasar ia ke SMEP, baru setelah itu ke pesantren.

Dia kuliah di al-Azhar Mesir. Menurut pengakuannya ia bosan dengan formalisme (sementara itu seorang temannya dengan mudah mengejek dan mengomentari...bosan atau tidak mampu mengikuti kuliah?...) di universitas tersebut dan lari ke Irak di Universitas Baghdad. Di situ ia merasa bahwa agama benar-benar sebagai objek studi, waktu itu ia berumur 26 tahun dan 4 tahun ngendon di sana. Lantas pulang ke tanah air, dan sekarang merintis pesantren Ciganjur. Muridnya datang pergi, belum bisa dikatakan. Sebab bikin pesantren dalam sepuluh tahun pertama jangan mengharap muridnya lebih dari belasan, katanya.

Abdurrahman Wahid orangnya ceria, gemuk tapi kesan lambannya hilang begitu berbicara dengan Jawa medoknya, fasih, lancar, dan tidak formal, tapi bagi yang formal pikirannya, bisa memerahkan telinga.

Tolong deh, pak kiai jelaskan tentang sastra Islam? Misalkan tentang adanya keharusan bersumberkan Al-Qur'an atau Hadis. Tentu saja lebih afdol kalau digambari latar belakang kesejarahan. 

Sebelum saya menjelaskan pendirian saya, kita harus melihatnya dari dua jurusan perkembangan studi, sebagai pengertian itu sendiri dan kedua adalah pemahaman kita dari perkembangan selama ini.

Kalau kita lihat perkembangan historis, sebenarnya sastra Islam bagian dari peradaban Islam. Jadi, sastra bagian dari peradaban. Dan peradaban itu adalah benteng yang agung dari kebudayaan. Kalau diikuti ini lantas sebenarnya kita bisa melihat bahwasanya peradaban Islam itu suatu gabungan yang mempunyai dua sikap yang utama, di satu pihak watak eklektik dari peradaban Islam itu, yaitu watak yang mampu menyerap, menyerap dari mana saja! Umpamanya kalau kita baca fabel-fabel dari al-Zais, maka banyak unsur-unsur yang diambilkan dan Yunani, Romawi, India itu dalam karangannya yang berjudul Kitabulhayawan yang terdiri dari empat jilid yang tebal. Itu merupakan kisah binatang yang terlengkap, dan di dalamnya kita bisa melihat dari sudut pengetahuan umum, sastra, juga pengetahuan kejiwaan orang dan sebagainya. Nah....di sinilah al-Zais meramu kebudayaan yang berbagai lalu menjadikannya bagian-bagian dari peradaban Islam.

Lain kita lihat yang namanya Abu Hanifah seorang ahli fikih. Dalam bayangan kita seorang ahli fikih itu mesti seorang yang sarungan, memakai jubah yang tak pernah keluar rumah hanya menekuni soal-soal akhirat dan dunia ini. Tetapi, kenyataannya ia seorang arsitek, yang kebetulan ia memborong pembuatan pagar kota Baghdad. Nah! Di situlah ia ketika membuat lengkung gapura (Arcade) ia mengambil dari daerah Asia Tengah. Bukan dari Arab, mudahnya dari Afganistan, Samarkand Rusia atau daerah yang disebut beyond the river, daerah Iran paling timur. Abu Hanifah mengambil itu dan dia dipuji-puji dalam suatu kronikel sejarah. Ternyata lengkungan gapura Hanifah itu daya tampungnya, bobotnya jauh lebih baik daripada lengkungan Arab. Padahal waktu itu daerah tersebut bukan daerah muslim. Jadi mudahnya ia mengambil arsitektur non-Muslim dan memasukannya menjadi arsitektur Islam.

Satu contoh lagi seorang yang bernama Abu Amrin Ibnu Alla' adalah seorang ulama yang terkenal asketik sekali. Dia salah seorang dari sepuluh pembaca Al-Qur`an yang sah (cara membaca Al-Qur'an itu ada sepuluh gaya, jadi ada majroha ada majrehe...jadi intonasi dan diksinya). Di antara sepuluh itu ada Abu Amrin itu. Lha, Abu Amrin itu salah seorang musikolog yang mengambil musik India. ... Kita semua tahu musik India bersumberkan pada agama Hindu yang panteistik nafasnya.

Al Khalil ibnu Ahmad adalah seorang peletak dasar bahasa Arab, karena dia penyusun kamus yang pertama dalam bahasa Arab, kamus Ain dalam dua jilid. Menarik sekali di dalam kamus tersebut ia membagi ilmu dalam sepuluh bagian. Mengikuti pembagian para ilmuwan Yunani, jadi ada fisika, metafisika, estetika, politika...... pokoknya yang bejumlah sepuluh itulah. Padahal al-Khalil itu seorang yang amat streng di dalam masalah Al-Qur`an. Ia streng dalam gramatika, sehingga jangan sampai ada penyelewengan dalam pengertian. Lho, tapi anehnya, kok ia tidak segan-segan mengambil ilmu orang Yunani? Nah, pada waktu yang belakangan pembagian ilmu al-Khalil itu mengalami satu di antara sepuluh tadi hanya menjadi ilmu agama! Kayak fikih misalnya. Tadinya tidak?

Lantas yang bernama al-Farabi seorang Filosof Islam (semua orang Islam yang belajar filsafat Islam pasti tahu itu), juga Ibnu Sina itu 'kan jagonya filsuf Islam? Lantas kalau ditanya... apa pikiran al-Farabi tentang negara? Maka negara menurut dia adalah "negara Tuhan" jadi negara agama. Dan dia bikin buku, namanya Negara Utama. Apa yang dimaksud dia sebagai negara utama? Ternyata seluruhnya dibangun atas dasar asas-asas pemerintahan Plato. Al-Qur'an sebagai sumber, tapi kerangkanya 'kan dari Plato?

Berarti tidak harus selalu plek dengan Al-Qur'an atau Hadis? 

Na... persis itu... materi boleh dari situ, tapi kerangka, bebas saja kita ambil. Tadi, ini yang saya katakan peradaban Islam itu yang agung, yang sudah diakui sebagai salah satu di antara peradaban dunia (Oikumene) itu mempunyai watak eklektik, mampu menyerap dan tidak takut-takut. Dengan sendirinya sastra Islam juga demikian. Sastra Islam harus mampu menyerap dan dikembangkan, dimatangkan. Dan kalau perkembangan peradaban Islam seperti itu, tidak bisa dikatakan hanya milik orang Islam saja, tetapi juga milik orang lain yang hidup dalam masyarakat Islam.

Karena itu ketika masa jaya-jayanya peradaban Islam, pendukungnya juga ada yang orang Kristen serta orang Yahudi.

Pada abad berapa itu? 

Ya... mulai abad ketujuh hingga abad kedua belas, dan justru ketika Islam itu diartikan sebagai sesuatu yang sempit. Maka menjadi menurun peradaban Islam.

Tapi yang menyempitkan antara lain dari kalangan Islam sendiri? 

Lha... itu masalahnya. Tetapi kalau kita lihat dari sejarah, di mana sastra Islam merupakan bagian dari peradaban Islam, maka dengan sendirinya sastra Islam menjadi bagian dari humanisme universal.....

Lho, kok begitu? 

Ya...  sebab dengan begitu tak bisa di sekat-sekat lagi sebagai ini miliknya orang Islam dan itu miliknya orang yang bukan Islam. Peradaban Islam yang benar-benar Islam adalah suatu peradaban yang mampu mengayomi semua orang dan boleh digunakan oleh semua orang.
Dalam hal ini saya mau ambil contoh kasus HB. Yassin.....

Langit makin mendung? 

Bukan ... itu lho..... Al-Qur'an Bacaan Mulia, terjemahannya HB. Yassin. Nah, di situ ada yang menganggap bahwa Yassin tidak memenuhi persyaratan menerjemahkan, karena dia tidak bisa berbahasa Arab. Kok berani-beraninya dia menerjemahkan Al-Qur'an?.... Di sini saya tidak memihak ke mana-mana, tetapi kalau saya ditanya bagaimana pendapat saya maka saya jawabnya begitu.
Lho, apa benar bahwa sebagai ukuran harus bisa berbahasa Arab, 'kan Yassin cukup dewasa untuk bisa membaca bermacam-macam terjemahan, mengambil dari sini dan situ. Lagi pula itu juga bukan terjemahan resmi (standard translation). Dia 'kan sudah bilang bahwa itu 'bacaan" reading...Noble reading... ya artinya sesuatu bisa dibaca semua orang.

Maka sebagai konsekuensi bahwa sastra Islam bagian dari humanisme universal, pertama dia tidak boleh dibatasi penggunaannya, hanya oleh dan untuk orang Islam saja, atau hanya oleh orang yang telah diberi predikat "memenuhi syarat". Kedua, dari proyeksi sejarah ini lain kelihatan bahwa yang mengislamkan bukan orangnya dan bukan juga rangkanya, dan bukan pula materinya yaitu Al-Qur'an dan Hadis, sebagai sumber ada dan tentu boleh digunakan. Tetapi, karena ini sastra bukan sesuatu yang sifatnya formal legalistik gitu... sumber lain juga masuk... apa salahnya? Dan tidak selalu bersumber pada Al-Qur'an juga tidak apa-apa. Sebab pengalaman beragama itu tidak mesti berqur'an dan berhadis atau berkitab-kitab. Contohnya, orang kampung agamanya dalam skala nol sampai seratus, dia menjalankan Lima saja sudah bagus. Nol dalam arti praktek keagamaan, tetapi ia merasa sebagai orang Islam, 'kan dia sudah beragama. Sama punya hak! Begitu. Haknya sama dengan yang seratus. Kalau skalanya memang kecil dan dia dipaksa harus menggunakan sumber resmi sebagai referensi... ya nggak akan jadi.

Menurut saya pengalaman beragama, sebagai orang Islam itu mempunyai keabsahan sendiri yang tidak bersumber dari sumber resmi. Tadi referensinya dengan hidup itu sendiri.

Ini lalu membuka ke masalah yang peka, yang sekarang di Malaysia diperdebatkan lama antara Cikgu Shanon Ahmad dan Cikgu Kasim Ahmad. Menurut Kasim Ahmad definisi sastra Islam adalah, sastra yang mampu melancarkan inti atau nilai Islam, tidak usah formal. Kalau di sini bisa kita contohkan apakah yang dibikin di TVRI setiap malam Jumat itu disebut drama Islam? Di mana masyarakat Islam pemirsa di berondong dengan ayat-ayat Al-Qur'an? Ataukah setiap drama yang di dalamnya memancarkan nilai-nilai Islam itu sudah bisa dikatakan drama Islam! Itu pikiran saya.

Di Malaysia pernah ada suatu simposium tentang itu, dan di sini terjadi perdebatan antara saya dan Shiddiq Baba seorang Sekjen Hakim kuliah Islam di Malaysia. Di situ dia mengatakan bahwa ukuran dari sastra Islam itu adalah aplikasinya, apakah aplikasinya itu Islami menurut dia. Jadi umpama saja, kalau beribadat apakah sastra Islam itu lalu menunjukkan jalan kepada peribadatan yang menuju salatnya. Jadi kalau tidak menunjukkan itu ya tidak Islam. Sehingga dalam sastra Islam, tidak mungkin membicarakan tokoh seorang pelacur.

Saya tidak setuju dengan pandangannya, lantas saya kemukakan bahwa perasaan keagamaan seorang pelacur belum tentu kalah dengan seorang yang bersembahyang di masjid. Sebab, begini, intensitas pengalaman beragama itu ada dua ekspresinya. Ada ekspresi implisit ada ekspresi eksplisit. Yang implisit lebih ke dalam sedangkan yang eksplisit mengikuti ajaran agama secara tuntas. Dua-duanya ini menurut saya punya hak yang sama untuk diekspresikan, dan sama-sama Islam.

Tentu saja dengan catatan bahwa asal ia menggambarkan secara tepat bahwa inilah visi Islam. Sebab begini, Nabi sendiri dalam hadis mengatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dan di dalam Al-Qur'an itu disebutkan bahwa ilmu itu ada dua macam. Yaitu ilmu yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat. Yang tidak bermanfaat harus dijauhi dan dibuang, sedangkan yang bermanfaat yang dipakai. Jadi, dengan ini watak eklektisisme ini tidak terlalu liberal sepenuhnya sehingga menjadi sekular, melainkan ada tolok ukurannya yaitu pada watak normatifnya agama Islam. Tapi tidak berarti harus membelenggu atau tradisionalisme legalistik, bukan begitu.... tapi lebih merupakan tolok ukur yang moral. Dan tolok ukur moral ini antaranya adalah manfaat dan keseimbangan. Sebab sebaik-baiknya perkara, kata Nabi itu, yang berada ditengah.

Moderat......

Yaa... Jadi keseimbangan ini menyangkut pada kehidupan kita dalam pola konsumtif dan produktif. Yang komsumtif saja tidak benar, yang produktif saja juga tidak benar. Idealnya adalah adanya keseimbangan keduanya. Ini menurut saya adalah ukurannya. Pengalaman-pengalaman agama dalam norma-normanya yang luas yang membentuk pribadi manusia, yang menurut saya memberi watak Islami kepada penerapan yang dilakukan Islam.

Tolong deh dicontohin pengarang Islam baik yang dalam negeri atau yang luar negeri? 

Kita harus bagi dua yaitu yang mementingkan penampilan impuls-impuls Islam, dan kedua yang formal legalistik. Contohnya misalnya karya Jamil Suherman, yang menampilkan kehidupan para santri di pesantren, di mana di situ ada unsur formal legalistiknya, jadi di situ digambarkan kehidupan yang baik menurut pesantren itu begini, tapi yang begini tidak kalah indahnya dengan sastra biasa asal mampu menggarap.

Tetapi religiositas bisa dicari pada hal-hal yang kelihatan bukan agama, misalnya jalan tak ada ujung karya Mochtar Lubis itu. Itu jelas bukan novel agama, itu novel psikologis. Kisah guru Isa yang impoten, dan menemukan kejantanannya lagi setelah hilang ketakutannya. Ini menurut saya tidak kurang religiusitasnya dengan karya Hamka yang bejudul Di bawah Lindungan Ka'bah.

Taufiq al-Hakim seoarang sastrawan besar Arab yang berkali-kali dicalonkan orang Arab untuk menerima Hadiah Nobel, itu menceritakan problem kejiwaan orang muslim pada masa transisi dari tradisional ke masa modernisme.

Sastrawan yang bagus lagi bernama Majid Mahkos, yang mengisahkan orang-orang miskin, di samping itu novelnya ada juga yang sejenis dengan Somerset Maugham itu jadi ada suspense-nya begitu. Novelnya yang mengharukan bagi saya adalah yang berjudul Lorong-lorong Sempit. Nah.... dari judulnya saja sudah tergambar, apa maunya pengarang. Ada erotisme versi orang miskin, mereka tiada pilihan lain menjalani hidup seperti itu. Kesadaran beragama itu muncul... tergambar... dan mengambil bentuknya yang tidak legal formalistik. Tapi, yang formal dan indah ada juga, seperti pengarang yang bemama Mahmod Atas al-Akhad, yang mengisahkan sahabat-sahabat Nabi itu, berserial .... Jelas sekali di situ yang digambarkan perang-perang Islam yang termasyhur, tatanan pemerintahan zaman dulu.

Kalau sastrawan Indonesia yang karyanya bernafaskan Islam baik yang formal atau yang tidak .. 
Saya ambil contoh Navis.... Amir Hamzah...

Khairil Anwar 

Semacam Khairil Anwar itu, untuk orang Islam Indonesia yang santri sulit untuk menerima Khairil sebagai sastrawan Islam, tetapi saya sendiri menerimanya ketika ia berbicara tentang Tuhan dan ia beragama Islam ya... itulah ekspresi dari sastra Islam.

Kalau Taufiq Ismail, bukankah ada tanda formalistik dalam karyanya yang muncul akhir ini ..... 
Ya... memang

Tolong deh, diuraikan tentang sufisme ............ 

Ya sufisme merupakan jembatan, tidak sepenuhnya legal formalistik, justru legal formalistik yang selalu harus-harus... jangan...jangan dicounter dengan pendekatan dengan Tuhan, familiarity, keakraban dengan Tuhan yang bisa menembus benteng harus... jangan-jangan... tadi dengan suatu lompatan. Artinya begini, oleh orang sufi itu inhern dalam pemikiran, bahwa penyelamatan itu letaknya di tangan Tuhan semata. Kita harus mampu memetik rasa cinta kepada Tuhan untuk memahami kapasitas Tuhan SANG PENYELAMAT itu. Nah, itu sebenamya ciri-ciri agama yang lahir di Timur Tengah, misalnya Yesus Sang Penyelamat, Abraham penyelamat, Yasep penyelamat, bahkan David yang bisa membunuh Goliat saja dianggap penyelamat. Itu pola Tunur Tengah.

Lain dengan agama Asia timur penyelamat dilakukan oleh subjek itu sendiri bukan Tuhan, misalnya Buddhisme, jadi pada dasarnya agama Asia timur itu tidak butuh Tuhan. Misalnya, Taoisme dan lain-lain. Di Asia Barat itu, Tuhan sebagai penyelamat, karena manusia itu ya objek ya subjek dari kehidupan ini. Nah, sufisme mewarisi tradisi Timur Tengah, dan itu berarti bahwa apa pun yang Anda perbuat, apakah Anda pengikut seratus persen legal formalistik atau pengikut syariah yang paling top, apakah Anda itu orang suci yang paling memelihara kehidupan dan semua kewajiban dalam Islam Anda penuhi dan semua larangan Anda jauhi, belum tentu Anda di terima oleh Tuhan. Sebab penerimaan itu ditentukan oleh Tuhan, bukan oleh Anda. Ini inti dari sufisme..... yang bisa menjembatani manusia dengan Tuhan, hingga Tuhan itu gampangnya mau tergerak untuk menyelamatkan manusia. Itu adalah CINTA ANDA KEPADA TUHAN, karena itu akan membuat Tuhan cinta kepada Anda. Karena itu cinta dan kasih merupakan elemen terpenting dari sufisme, maka di sini saya tekankan tentang kesalehan orang-orang sufi. Kasalehan yang bukan karena legal formalistiknya.

Saya melihat ada kecenderungan bersufi-sufi pads sastrawan kita yang agamanya Islam, akhir-akhir ini. 

Kecendrungan tersebut saya pikir suatu kedewasaan, dan ini sesuai dengan kebutuhan hidup modern, bagaimanapun juga dunia modern itu 'kan menyembunyikan ketegangan antara rasio dengan wahyu. Sebab, ada aspek-aspek kehidupan yang harus diikuti secara rasional sampai tuntas. Umpamanya saja soal biologi, di mana biologi harus mampu sampai ke bioengineering, di mana manusia di kotak-katik padahal itu hak Tuhan, lho..... Nah, dalam hal ini bagaimana tuntutan rasio yang tuntas, kalau perlu arepe reko-reko motret Gusti Allah.... ha haa pada hal itu 'kan kekurangajaran, kalau ditinjau dari sudut agama.... lha ini bagaimana? Pada hemat saya jembatannya ya sufisme itu.

Dengan sufisme orang kembali kepada kebesaran Tuhan, dan dengan tidak mengingkari kehadiran dunia yang ada sekarang. Orang sufi berkata bahwa ayat Al-Qur'an itu begini "akhirat itu lebih baik dan lebih langsung, bukan berarti dunia tidak baik? Ha ha ha...., mereka selalu begitu. Ukurannya 'kan jadi jelas..."

Konon penduduk Indonesia 90% beragama Islam, dan hampir setiap kecamatan kalau tak silap pasti ada pesantrennya. Lantas, kenapa kok tidak banyak penyair Islam yang muncul. Lagi pula Al-Qur'an sendiri dalam bentuk syair bukan prosa. 

Begini ya.., sebabnya sangat kompleks, di samping menyangkut soal bahasa juga kondisi sosiologis berperanan pula. Tapi, saya melihat dalam perspektif jangka panjang. Kalau kita teliti, ternyata ada penyempitan ilmu. Dimensi ilmu dalam Islam disempitkan. Itu sudah saya jelaskan dengan contoh seorang al-Khalil yang dengan keterbukaannya dengan tanpa kehilangan asas Islamnya menerima ilmu para filsuf Yunani. Semenjak lima atau enam abad yang lalu ilmu Islam itu dipreteli. Sehingga macam musik dan sastra itu tak termasuk. Padahal kalau mau peradaban Islam menjadi bagus, kuat, seharusnya ya ada. Dan pesantren hanya mengajarkan yang itu. Ada contoh sastrawan Islam terkemuka yang bernama al-Ma'ari

yang bergelar penyair pahit, dia jenius, pintar dalam membangun sastranya..... peka begitu. Tapi, beliau ini buta sejak kecil karena suatu penyakit. Nah, dalam syairnya ia memaki-maki Allah, dan maki-makian al-Ma'ari tadi tak kalah indahnya dengan syair beliau yang memuji Tuhan.

Dan yang begini ini, kalau masuk pesantren 'kan kena sensor, tinggal yang ngalem atau memuji-memuji saja yang bebas, seperti syairnya Abu Nuas seorang penyair yang sarkastik, tetapi dipakai di pesantren syairnya yang ini... Aduh Allah, aku sebenarnya bukan orang yang patut jadi ahli surga, tapi aku juga tidak kuat di neraka...

naaa jenis yang gitu yang selamat, lainnya dikena sensor.... haha haha. Sebetulnya sih tidak dilarang atau disensor, cuma tidak diajarkan, dan bahasa bakunya 'kan bahasa Arab. Jadi, perlahan-lahan ada penurunan kualitas dan penciutan cakrawala.

Bagaimana pendapat saudara dengan puisi Emha Ainun Nadjib? 

Kalau Emha 'kan jelas Islam dalam arti membicarakan Asmaul Husna, sembilan puluh sembilan. Doa, otomatis itu formal. Padahal yang diperlukan yang tidak formal itu, Sutarji misalnya itu tidak pernah formal, tapi dan dalam syairnya ia menyebut-nyebut Allah, Tuhan, tapi tidak membikin definisi resmi yang mapan. Sebagai ilustrasi, pernah ia bilang kepada saya bahwa ia begitu penuh "Is-
lam" nya sehingga ia melihat sungai pun, ia beranggapan bahwa sungai itu Islam, karena itu ia tidak berani berak di sungai.... ha ha ha. Yaitu, menurut saya, itu ekspresi keagamaan dia, kalau benar, ia memang merasa itu. Dan yang begini ini sebetulnya yang akan bisa berkembang.

Sebab, bagaimanapun juga sastra model Taufiq Ismail atau Emha Ainun Nadjib itu membutuhkan perbendaharaan yang cukup. Tetapi, nanti dengan matangnya kita menyerap informasi dari negara Arab, yang tidak lagi menggunakan bahasa Arab pesantren (..Kan Arab pesantren itu bahasa klasik.... bukan Arab sehari-hari, bukan bahasa Arab pasaran.... sekarang ya Timur Tengah ini merupakan sumber pengiriman mahasiswa kita yang belajar agama itu 'kan banyak sekali...) baik dari lingkungan pesantren atau tidak dengan sendirinya kalau mereka nanti pulang, akan membawa sesuatu yang baru yang berbeda dengan mbah-mbah nya yang dulu.

Ini saya rasakan sendiri dengan angkatan-angkatan sekarang. Bedanya begini.... angkatan sekarang ini berangkat ke Arab belum "siap" dalam pandangan ilmu agama. Sebab begini... anak-anak ini ada yang nakal, daripada menjadi korban ganja oleh bapaknya dikirimkan ke Mesir, dengan sendirinya masalah bahasa masih belum baik, sehingga belum siap menerima ilmu agama. Saya lain, ketika berangkat saya umur 23 tahun, saya sudah menyelesaikan gramatika bahasa Arab 1000 baris yang saya sudah hafal. Sehingga sampai di sana langsung nggandeng dengan ilmu-ilmu Islam yang ada di sana.

Lha anak sekarang! Karena ilmu agama belum siap, mereka menerima ilmu yang lain, termasuk sastra...baik. sehingga ada keragaman yang besar yang mereka dapat di sana. Angkatan saya yang jelas begitu itu, Kiai Mustafa Bisri yang ikut baca puisi Palestina dulu itu (maksudnya pembacaan puisi Palestina di TIM. red) dia ini yang mengikuti sastra Arab dengan rajin, sedangkan saya sambilan saja. Nah, yang begitu itu nanti akan banyak.

Tapi, jangan lupa nanti suara militan Islam juga akan keluar dengan tolok ukur yang sempit dan akan berhadapan dengan kelompok yang tidak terlalu formal dalam mengembangkan ekspresi Islam. Nanti akan tembak-menembak.

Dan ini kalau tidak dimanage yang baik oleh pemimpin umat, maka ini bisa berakibat fatal bagi kelompok yang mau mencoba mengekspresikan agama secara bebas.

Pasti kalah 

Ya pasti kalah dan dia akan lari dari agama. Dan oleh karena itu, ini merupakan tugas pemimpin agama Islam itu sendiri, harus mampu ngemong mereka.

Termasuk saudara yang aktif di DKJ ini.... 

Mudah-mudahan bisa berfungsi begitu, selama ini sebagai orang yang berkecimpung dalam ilmu agama dan kebetulan menyinggung bidang lain, bidang pemikiran budaya secara umum, maka tugas saya itu mempertahankan kembelingan dan kebandelan terhadap interogasi dan penghakiman dari establisment agama.

Sumber : islami.co
Langkah Cerdik Gus Dur Mempreteli Kekuatan Pak Harto, Dengan Strategi Sun Tzu

Langkah Cerdik Gus Dur Mempreteli Kekuatan Pak Harto, Dengan Strategi Sun Tzu

 

GusdurFiles.com ~ Pak Harto itu cerdik, pandai memanfaatkan momentum untuk mengamankan kekuasaannya. Saat butuh pasukan gerak cepat yang taktis menumpas PKI, ia merangkul RPKAD (Kopassus) dan mengelus-elus Sarwo Edhie Wibowo. Lagipula, Sarwo Edhie ini kader tulen Jenderal Ahmad Yani, selain masih satu daerah dengan jenderal itu. Tepatnya, Pak Harto memanfaatkan singa yang dipenuhi amarah untuk memburu gerombolan serigala. Hanya saja popularitas mertua SBY yang melejit di mata mahasiswa dan rakyat yang membuat Pak Harto cemburu, lalu menyingkirkan Sarwo dengan menempatkannya sebagai Pangdam Bukit Barisan kemudian Pangdam Cenderawasih. Tak ada matahari kembar, demikian taktik Pak Harto.

Kodam V Brawijaya, Kodam Diponegoro, Kodam Jaya, RPKAD dan Kostrad sudah ada di bawah kendali totalnya. Hanya saja masih ada Kodam Siliwangi yang dianggap masih "Soekarnois" karena Jenderal Ibrahim Adjie masih di sana. Ibrahim Adjie, yang berhasil mencegah pembantaian besar-besaran terhadap PKI di Jawa Barat, diganti dengan Mayjend HR Dharsono. Dharsono yang ternyata loyal dan hormat terhadap Jenderal Nasution ini kemudian disingkirkan dengan cara dijadikan duta besar di Thailand.

Penyingkiran juga menimpa Pangkostrad Kemal Idris. Idris yang menjadi suksesor Umar Wirahadikusumah ini didutabesarkan di Yugoslavia. Maklum, otak Idris yang idealis ditambah dengan lidahnya yang ceplas-ceplos membuat Pak Harto risih. Idris pula yang kemudian bergabung di Petisi 50 bersama purnawirawan lain yang gerah terhadap polah tingkah Pak Harto saat mulai melenceng.

Sukses menyingkirkan Sarwo Edhie, Adji, Dharsono, dan Kemal Idris (ada pula Hario Kecik, jenderal Sukarnois yang memilih menjadi eksil), Pak Harto merangkul kader kesayangannya yang lain, LB Moerdani. Ini anggota parakomando yang brilian saat Operasi Mandala dan tugas tempur saat konfrontasi di Malaysia. Benny direkut bersamaan dengan Ali Moertopo dan Sudomo. Pendelegasian tugas dilaksanakan ketiganya dengan senang hati. Ini three musketeers penyangga kekuasaan Pak Harto sejak 1970-an hingga (pertengahan) 1980-an. Adapula Sujono Humardani (mertua Fauzi Bowo) yang lebih lihai bermain di balik layar.

Setelah Ali Moertopo meninggal (jelang pertengahan 1980-an), pijakan kaki kekuasan Orba mulai rapuh. Apalagi setelah peristiwa Tanjung Priok, Gus Dur bermanuver mengacaukan konfigurasi kekuatan Orba dengan mengajak LB Moerdani, jenderal Katolik itu, keluar masuk pesantren. Ini langkah edan! LB Moedani, yang dianggap bertanggungjawab atas peristiwa Tanjung Priok, oleh Gus Dur, malah diperkenalkan kepada para kiai. Gus Dur, Ketua Umum PBNU, berusaha menunjukkan bahwa santri bisa dilibatkan dalam proses kenegaraan. Lagipula, militer yang masih kokoh perlu dilunakkan dengan pendekatan ala santri. Gus Dur dan Benny Moerdani, saya kira, saling memanfaatkan posisi masing-masing di era pertengahan 1980-an. "Bila belum bisa mengalahkan musuh, rangkul dia!" Ini tampaknya doktrin strategi Sun Tzu yang diterapkan Gus Dur sejak menjadi Ketua PBNU, 1984 hingga 1999, khususnya manakala bermain-main dengan militer.

Lagipula, akhir 1984 itu, NU juga baru menyetujui asas tunggal Pancasila. Pro kontra kedatangan LB Moerdani tak hanya terjadi di kalangan umat Islam sendiri yang masih panas pasca peristiwa Tanjung Priok, melainkan di internal NU juga heboh.

Melihat manuver kasat mata ini, Pak Harto khawatir akan adanya matahari selain dirinya. Lihatlah, Panglima ABRI yang terlihat rukun dengan Ketua PBNU. Apa jadinya bila kekuatan ini bersatu saling kait merobohkan kekuasaan? Puncaknya, Jenderal LB Moerdani, kader kesayangannya itu, diberhentikan sebagai Pangab ABRI. Pijakan kaki Pak Harto semakin rapuh. Gus Dur (ikut) mempreteli kekuasaan Pak Harto dengan halus. Akhirnya, Pak Harto merangkul elemen jenderal "hijau" (tak lagi jenderal 'merah putih'), dalam struktur ABRI demi mengamankan kekuasaannya.

Gus Dur lihai karena ia berani bermain di tempat paling berbahaya, sebagaimana doktrin Sun Tzu, "Tempat bersembunyi yang paling aman adalah di tempat yang berbahaya". Para kiai, yang masih trauma dengan militer semenjak Pemilu 1971, mulai diakrabkan kembali dengan tentara oleh Gus Dur. Melalui gaya yang khas dan penuh humor, beberapa kiai menyindir dan mengkritik kebijakan Pak Harto. KH. Mahrus Ali, Lirboyo, misalnya, saat menemui Jenderal LB Moerdani yang berkunjung di ndalemnya, beliau dengan nada berkelakar menyindir kebijakan KB.
"Jenderal, para kiai jangan disuruh ikut KB, karena keturunan kiai itu, InsyaAllah, baik-baik. Nah, maling-maling itu saja yang disuruh KB!"

***

WAllahu A'lam Bisshowab

Penulis : Rijal Mumazziq (Direktur Penerbit Imtiyaz)
Gus Dur Memiiliki Ilmu Melipat Bumi

Gus Dur Memiiliki Ilmu Melipat Bumi


GusdurFiles.com ~ Dalam khazanah pesantren atau tradisi nusantara, ilmu melipat bumi merupakan sesuatu yang wajah dibicarakan. Pada dasarnya, ilmu ini adalah kemampuan untuk memperkecil dunia, baik dalam pandangan mata atau dalam jarak tempuh yang harus dijalani sehingga lebih cepat.

Pada masa lalu, ketika alat transportasi belum begitu maju dan banyak perjalanan masih dilakukan dengan jalan kaki, ilmu jenis ini cukup populer dikalangan orang-orang sakti. Saat ini, meskipun nilai manfaatnya sudah digantikan dengan teknologi modern dengan kendaraan mobil atau lainnya, ilmu ini masih bermanfaat di saat-saat mendesak untuk melakukan akselerasi kecepatan sehingga memperpendek waktu.
Gus Dur, diyakini juga memiliki kemampuan seperti ini. Kesaksian ini diceritakan oleh Nuruddin Hidayat, santri Gus Dur di pesantren Ciganjur. 
Ia menuturkan, suatu ketika Gus Dur melakukan perjalanan dari Garut ke Jakarta, seusai menghadiri sebuah acara PKB. Jalur yang ditempuh adalah jalur Puncak yang medannya berliku-liku, naik turun dan jalan yang sempit. Namun, perjalanan yang seharusnya ditempuh selama lima jam ini, ternyata hanya perlu waktu sekitar tiga jam.

Cerita tentang adanya ilmu melipat bumi juga dituturkan oleh Ketua PBNU KH Abas Muin, tetapi pada sosok KH Asykari atau lebih populer dengan sebutan Mbah Mangli, mursyid tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah di Magelang, yang juga pendiri Asrama Pendidikan Islam di Magelang, yang santrinya berasal dari seluruh Indonesia. Banyak orang meyakininya sebagai seorang wali karena berbagai karomah yang dimiliki.

Kiai Abas menuturkan, beredar cerita luas tentang perilaku kiai ini, ketika menghadiri rapat di suatu tempat, orang-orang pada berangkat naik mobil terlebih dahulu, sementara Mbah Mangli berangkat belakangan, tetapi ia lebih cepat sampai di tempat tujuan daripada yang naik mobil.

Boleh percaya, boleh tidak, mitos tentang ilmu melipat bumi ini juga terdapat dalam kisah Walisongo. Saat mengundang rapat, Sunan Bonang menggunakan bedug untuk memanggil para wali yang tersebar di berbagai lokasi di tanah Jawa, Ketika mendengar suara bedug itu, para wali lainnya menggunakan ilmu melipat bumi agar cepat sampai di tujuan. (mkf, NU Online)

Disaat Gus Dur Minta Doa Ke Seorang Pemulung

Disaat Gus Dur Minta Doa Ke Seorang Pemulung


GusdurFiles.com ~ Gus Dur menghormati siapa saja, tak peduli pangkat dan jabatannya, asal orang tersebut dekat dengan Allah, Gus Dur memintakan doa kepada orang tersebut.

Nuruddin Hidayat, santri Gus Dur di Ciganjur menuturkan pengalamannya yang sangat berkesan ketika ia diminta oleh Gus Dur untuk mencari pemulung yang menyampaikan salam kepadanya.
Udin, panggilan akrabnya, menuturkan, kisah ini bermula ketika ia berada di sebuah warung dekat Mall Cilandak sekitar tarhun 2003. Ketika hendak pergi, di depan warung tersebut, ia bertemu dengan seorang pemulung, seorang bapak-bapak yang sudah berusia tua dengan keranjang di pundaknya sementara kepalanya memakai caping.

Dengan tiba-tiba, orang tersebut memberi salam “Assalamu’alaikum”
Saya menjawab “Wa'alaikum salam”
Ia bertanya lagi “Mas dari pesantren Ciganjur ya?”
Saya menjawab “ Iya. Dalam hati saya agak heran, kok tahu saya dari Ciganjur tempatnya Gus Dur”.

Selanjutnya orang itu hanya bilang, "Sampaikan salam saya kepada Gus Dur," dan "Saya mengiyakan". Ia kemudian memperkenalkan namanya, sebut saja HMZ. (nama sebenarnya sengaja dirahasiakan karena orang tersebut masih hidup).

Karena terburu-buru, dan mengingat hanya seorang pengemis saja yang ingin menyampaikan salam kepada Gus Dur sehingga Udik ngak begitu memperhatikan dan langsung pergi.

Baru seminggu kemudian, pagi-pagi ketika berolahraga, salam tersebut disampaikan.

Udin “Gus dapat salam dari HMZ”
Gus Dur “HMZ yang mana?” (karena banyak orang dengan nama HMZ)
Udin “HMZ yang pemulung”
Gus Dur “Kon rene, lho kuwi sing tak golei” (Suruh ke sini, orang itu yang saya cari-cari)

Ia mengaku kebingungan untuk mencari pemulung tersebut karena ketemunya saja di jalan. Ia terus berusaha mencari HMZ, berkeliling dari lapak ke lapak pemulung. Setelah berusaha keras, akhirnya sebulan kemudian, baru ketemu di daerah Ragunan, tepatnya di Kampung Kandang. Esok harinya orang tersebut diajak untuk ketemu dengan Gus Dur.

Pagi harinya, ketika sudah sampai di Ciganjur, Gus Dur bilang kepada pemulung tersebut agar mendoakan bangsa Indonesia. “Orang tersebut yang membaca doa dan Gus Dur yang mengamini,” terangnya.

Pertemuan dengan Gus Dur berakhir disitu dan kemudian HMZ diantar pulang, tetapi Udin mengaku terus menjalin komunikasi.

Saat Idul Qurban, Udin mengaku mengirimkan daging kepada orang tersebut malam-malam. “Entah bagaimana, saya belum datang, ia sudah mempersiapkan diri seolah-olah tahu akan ada tamu yang datang dan meskipun dagingnya belum saya serangkan, ia bahkan sudah bilang terima kasih,” ujarnya. (mkf, NU Online)
Ini tanggapan Gus Nuril Setelah mengalami pengusiran di Masjid Assuada

Ini tanggapan Gus Nuril Setelah mengalami pengusiran di Masjid Assuada


GusdurFiles.com ~ KH. Nuril Arifin Husein atau Gus Nuril sempat kabarkan diusir ketika berceramah di Masjid Assuada Jatinegara, Jakarta, Jumat (20/2) lalu. Pengusiran dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI).

Gus Nuril menilai kasus yang menimpa dirinya bukan kategori pengusiran. Tindakan FPI menghentikan ceramahnya di tengah jalan adalah bentuk kesalahpahaman saja.

"Sebenarnya bukan pengusiran tapi salah paham saja. Menurut panitia sound sistem dan macem-macemnya meminjam di Habib Ali (bin Hussein Assegaf). Saya lagi menjelaskan datangnya Islam dari 4 negara, saat datangnya Islam dari China tiba-tiba dimatiin (sound system) karena tidak ada suaranya lalu panitia mengajak saya turun," kata Gus Nuril saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (25/2).

Menurutnya, panitia meminta dirinya turun selain pengeras suara yang mati juga akibat suasana pengajian sudah tidak kondusif. Saat itu, massa FPI berteriak-teriak meminta ceramahnya berhenti.

"Kondisinya karena ada FPI teriak-teriak. Saya turun, mereka (FPI) langsung nyerobot ceramah ke panggung," terang dia.

Lanjut dia, persoalan tersebut tidak akan di bawa ke ranah hukum. Dia sebagai orangtua memaklumi tindakan anak-anak muda FPI yang masih meledak-ledak.

"Gus Dur juga pernah di turunkan, enggak perlulah (lapor polisi). Itu persoalan sepele, saya orang tua FPI-nya orang muda," pungkas dia.

Sumber : Merdeka.com
Inilah Isi Surat Mbah Liem kepada Gus Dur

Inilah Isi Surat Mbah Liem kepada Gus Dur

GusdurFiles.com ~ KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Muslim Rifa'i Imampuro (Mbah Liem) dikenal sebagai teman yang sangat akrab. Banyak orang mengatakan beliau berdua adalah waliyullah (kekasihnya Allah).

Sekitar tahun 2007 akhir Mbah Liem mengutus langsung putri menantunya, Yayuk Madayani (yang dipersunting Gus Muh) untuk menyampaikan pesan penting kepada Gus Dur. Pesan tersebut ditulis tangan langsung oleh Mbah Liem dan dimasukan ke sebuah map.

Pesan tersebut tampaknya sangat sangat penting karena yang diutus putri beliau sendiri. Dawuh Mbah Liem, “Iki kudu langsung kowe kekno neng Gus Dur! (ini harus kamu berikan sendiri kepada Gus Du, tidak boleh lewat perantara). Saat itu Ning Yayuk posisinya di Pekalongan karena masih menjadi anggota DPRD Kabupaten Pekalongan.

Pesan tersebut sudah sampai di tangan Ning Yayuk saat Gus Dur punya program penghijauan di Pekalongan. Ning Yayuk pun menemui Pak Fuadi (korlap kegiatan). Yayuk diajak menemui Gus Dur di bandara Semarang karena waktu yang paling tepat, ya saat itu.

“Gus ini ada utusan Mbah Liem bade (hendak) menyampaikan pesan untuk Panjenengan,” kata Pak Fuadi kepada Gus Dur.

“Oh yo, ono opo (Ada apa)?” Sahut Gus Dur.

Ning Yayuk langsung duduk membuka isi map dan membacakan pesan Mbah Liem. Isi pesan tersebut demikian, “KAMANDIKO KAMANDIKO LUWEH APEK! REGENERASI REGENERASI!” Sesaat Gus Dur terdiam mendengar isi pesan tersebut kemudian berkata, “Nggih, Nggih, Insya Allah, amiin.”

Gus Dur mengucapkannya seolah berhadapan langsung dengan Mbah Liem. Dalam isi pesan itu Mbah Liem mengingatkan dan meminta Gus Dur untuk merelakan PKB, biar PKB diurus yang muda–muda karena waktu itu PKB sedang dilanda konflik berat. Lahumal Faatihah...


Ali Mahbub, Wakil Ketua PW GP Ansor Jateng 2014-2018, asal Wonogiri
* Kisah ini ditulis berdasarkan cerita Ning Yayuk Madayani kepada penulis pada 24 maret 2014, pukul 09.40 pagi.

Sumber : NU Online
Inilah Transkip Ceramah Gus Nuril 'Diusir' di Jatinegara + Video dan Pernyataan Panitia

Inilah Transkip Ceramah Gus Nuril 'Diusir' di Jatinegara + Video dan Pernyataan Panitia


GusdurFiles.com ~ Ceramah Gus Nuril menghina Habaib dan Ulama ? Itu fitnah. Beliau sebaliknya memuji, bahkan terhadap Habib Ali bin Husein Assegaf. Beliu menganjurkan kepada panitia agar jangan melarang jama'ah yang mau salaman dengan Habib. "Itu jalan surga", kata Gus Nuril.

Gus Nuril memuji China? Iya, memuji China yang muslim yang telah menulis al-Qur'an di 10000 lempeng batu.


Berikut transkip ceramah Gus Nuril di Masjid Assu'ada' Jatinegara, 20 Februari 2015 :

***
(setelah muqaddimah)
.... ibu-ibu bapak-bapak wa bil khusus Habib Ali bin Husein Assegaf, para alim ulama, perkenankan saya tidak berdiri karena dibawah banyak orang tua, saya duduk ya gih... alhamdulillah...  yang pertama mari kita bersyukur kepada Allah, bawha kita bisa ketemu, dalam pengajian yang mubarak, yang luar biasa ini.

bagi saya, baru pertama kali ini menghadiri pengajian yang diadakan di tengah jalan, karena saya keliling sampai ke Yordan, kemaren ceramah di Jeddah di undang oleh ulama-ulama Jeddah, tidak dijalan begini. mudah-mudahan nanti gubernurnya menyediakan lapangan yang bisa untuk pengajian, (jamah bilang aamiin..) nggak usah diamini... sampeyan minta saja disediakan satu lapangan yang bisa digunakan mengaji..

dan aneh, Jakarta ini kan hebat-hebat, habibnya paling banyak se-Indonesia, kok milih Gubernur Chino, .. mudah-mudahan lah, malam ini kita berdo'a karena tsawab-nya syafa'atnya nabi semuanya dilimpahi

shalawat dan salam kita haturkan pada junjungan kito Nabiyullah Agung Akhirizzaman Sayyidina Muhammad Shallallahu 'alahi  wa sallam.. Allahumma Shalli ala Muhamamd .. (disahut jama'ah) Allahumma Shalli ala Muhamamd .. (disahut jama'ah) Shalluu 'ala Muhamamd .. (disahut jama'ah)..

saya ini kyai deso, jadi disorot lampu kayak gini malah kepringen, kipas anginnya soalnya kesana ... (arahnya ke belakang).. jadi saya lepas sajalah (Gur Nuril melepas jubahnya)... tetap ganteng ... Alhamdulillah.. belum istirahat saya setahun penuh, nanti tanggal 6 harus umroh, tanggal 1 ada haul cucunya Sunan Giri urutan ke 5 yaitu Sultan Abdul Hamid didaerah Ujung Pandang Gresik, setelah itu saya umroh lagi , karena apa? doakan Indonesia supaya tentram, karena apa? karena Indonesia ini kayak guyolan ..... menentukan KPK, polisi, Kapolri ra barbar gak selesai-selesai... debat... gak rampung-rampung . karena apa? karena beliau menyadari, belum mengenal bagaimana style of leadeship, gaya kepemimpinan Nabiyullah Agung Muhammad Saw. Kalau dia tahu, selesai sudah. Indonesia ini paling gampang, tapi karena nggak paham, saya jadi mumet ngliat presiden sampeyan, presiden blusuk-an, (jama'ah tertawa), lah jangan ditertawai wong sampeyan pilih sendiri kok, iya apa iya?!! dipilih presidennya karena blusuk-an, padahal tukang golek beling itu juga blusuk-an. ..

(mix bermasalah ... )

... Alhamdulillah...

(Gus Nuril mulai menolah ke panitia karena mix-nya mengeluarkan nois)

... Alhamdulillah...

Indonesia ini memang dipimpin, sebelum ngaji ini ya, ini ini sebelum ngaji saya ta' cerita-cerita dulu, dan saya mohon maaf pada pemimpin masjid Assuada', saya tidak memberikan tausiyah karena tausiyah itu bahasa PKS, saya NU jadi nggak pake' tausiyah, tausiyah itu berasal dari akar kata wasiat, wasiat itu biasanya disampaikan ulama yang hebat kepada santrinya, (sedangkan) saya bukan ulama, kyai juga bukan, setengah kyai setengah bukan; atau wasiat itu disampaikan pada orang yang mau mati, orang mau mati berwasiat, atau orang yang mau mati lah, makanya umroh haji itu orang-orang yang siap-siap mati makanya dia memberikan wasiat. saya ini kesehatan dijaga, masih sakit. disuruh memberi wasiat, podo koyok panitiane mendo'akan saya mati (canda Gus Nuril).

Allahumma Shalli ala Muhamamd ... (jama'ah kembali menyahut)

jadi (yg tepat) mauidloh hasanah, kata bahasanya Habib Husein tadi "Mutiara-Mutiara Hikmah" yang dipetik dari al-Qur'an dan Hadits, itu bebas, daripada tausiyah, itu PKS. saya nggak PKS. terus terang saja supaya nanti sampeyan tahu bahwa saya  bukan PKS, jadi jangan ngundang saya kalo sampeyan PKS. digaris harus tegas iki. karena yang senang shalawatan biasanya bukan PKS, kalau disini Al-Habib Ali bin Husein bagai menjadi magnet pak RW sing polisi saja, bisa melok ngaji, di Makkah sendiri tempat maulid (kelahiran Nabi), tempat kelahiran Nabi, sekarang dijadikan WC umum, supaya sampeyan tahu, maka bergembiralah sampeyan masih ada penjaga-penjaga Rasul di tanah jawa iki.

Ada 4 wanita dijamin masuk surga dan menjadi empunya Surga, yang pertama adalah Sayyidatina Khadijah, tempat lahirnya Sayyidah Khadijah jadi WC umum. Wanita yang kedua adalah Sayyidatina Fathimah Az-Zahra', tempat kelahirannya jadi WC umum, ini harus paham, harus paham sampeyan, karena apa? karena setelah / pasca kekhalifahan Turki Ottoman, lalu muncullah inggris dan prancis menggunakan orang-orang yang ada di Makkah Riyadl untuk mengakuisisi / mencaplok tanah Hijaz yang sekarang bernama Makkah, itu dulu namanya Hijaz.

Makkah itu berasal dari kata Bakkah, karena dulu tidak ada pepohonan apapun, baru mencari kota setelah putranya Nabi Ibrahim yang bernama Ismail bersama ibunya tinggal di kota Bakkah, kemudian berkembang bersama dengan suku Jurhum keturunan Nabi Sholeh, kemudian menjadi Bani Hasyim, kemudian melahirkan Rasulullah Muhammad Saw.

Setelah (Wahabi) menguasai Madinah dan Makkah, dibantailah orang-orang yang suka shalawatan begini ini (seperti acara Maulid Nabi), karena di Makkah sana tidak ada Habib, disembelih semua. Ini perlu tahu sampeyan.

Kalau ketemu Habib ganteng, sampeyan cintai, sampeyan ajak salaman, panitia jangan melarang salaman dengan Habib, jalan suargo ... jangan dihalang-halangi bila masyarakat mau salaman dengan Habib.

Di Makkah yang semula itu..., ini supaya sampeyan paham. Kenapa disini, di Indonesia ini diadakan mauliiiid terus, kalau tidak ada Islam yang di utus /  dikembangkan oleh Wali Songo, tidak akan ada maulid di muka bumi ini (Indonesia). Wali Songo itu siapa? nanti saya jelaskan, supaya sampeyan tahu dulu, bahwa setelah (Wahabi) mencaplok Madinah dan Makkah yang semula dia berkuasa di Riyadl, bekerja sama dengan Prancis dan Inggris. Inggris mboh agamane ra ngerti, Prancis mboh agamane ra ngerti, tetapi yang jelas Prancis dan Inggris ini pula yang menghancurkan kekhalifahan Turki Ottoman.

Orang-orang (Wahabi) yang ada di Makkah Arab itu kerjasama dengan Inggris dan Prancis membantai orang-orang yang menjadi keturunan Nabi, baik yang bermadzhab Maliki, dari Imam Malik itu keturunan Nabi yang ke-16 kalau nggak salah, kemudian pengikutnya Asy-Syafi'i, pengikutnya Imam Hanbali, itu juga keturunan Nabi yang tinggal di Bashrah, dan pengikutnya Imam Abu Hanifah yang berasal dari Samarkand Uzbekistan sana.

Uzbekistan itu nanti ada sekian ribu santri ngaji ke China, ngaji kepada keturunan Sa'ad bin Abi Waqqash (sahabat Nabi) yang tugaskan Nabi Muhammad Saw ketika selesai Hijrah dan membangun masjid Qubah. Jadi di (negeri) China itu ada masjid tertua di dunia setelah masjid Quba. Dan juga diterima dengan baik orang-orang China, orang-orang Konghuchu, orang-orang Tao, bahkan al-Qur'an itu dipahat di sepuluh ribu lempeng batu. Ini kalau nggak ada orang China nanti dibakari semua Qur'an-nya nggak ada bekasnya. Tapi oleh orang-orang China (yaitu), orang-orang yang beriman dari kelompok China ini menulis disepuluh ribu lempeng batu. Dari sana jugalah yang sekarang ini membuktikan sabda Nabi "Uthlubul 'Ilma wa Lau bish-Shiin",  carilah ilmu meski ke negeri china. Sekarang ini di China, mulai dari Beijing dibikin kereta api menembus jalur gurun Gobi, sudah masuk ke Makkah dan Madinah. Kereta Api. Menembus jalur Sutera. Luar biasa. Tetapi justru kita sekarang ini dibingungkan oleh keadaan. karena apa? karena kelompok yang saya ceritakan ini. Allahumma Shalli ala Muhammad.

Setelah (Wahabi) menguasai Hijaz dan Madinah, semua orang Sunni dibantai di Makkah. Yang semula di Ka'bah itu tempatnya halaqah-halaqah (pengajian) madzhab Syafi'i, Maliki, Hanbali dan Hanafi, sekarang tidak boleh, apalagi kalau sampeyan duduk dan baca "Shallallahu 'ala Muhammad... (dst)", nggak dibolehkan. Saya lewat di depan makam Nabi, karena saking rindunya saya menangis, nggak ngerti saya.. kalau di Indonesia itu biasa di ucapkan, tetapi disana (makam Nabi) langsung di pegang (oleh askar/polisi/penjaga) haram haram . Ash-Shalatu was Salamu 'Alaika ya Sayyidii Ya Rasulallah Khudz Biyadi Qallat Khillati Adrikni Ya Rasulullah. Nggak boleh (mengucapkan itu dan langsung dibilang) haram haram..!! Padahal bagi orang jawa itu sudah biasa... Ini sampeyan harus paham.

Maka berbahagialan gubernurnya Chino tapi sampeyan bisa shalawatan, muludan gini (daripada Wahabi melarang Maulid Nabi, penj). Di Makkah sampayen,. bisa saja di sembelih, lah benar. Ada teman saya, karena kebiasaan di Indonesia, nek orang tua iku di mintai air do'a, dibacakan shalawat gitu, diserahkan, untuk diminum supaya sehat badannya, langsung ditangkap dibantai, tidak pake' lewat hukum...

Gerakan ini kemudian menamakan diri sebagai WAHABI. Wahabi ini ulamanya bernama Abdul Wahhab, sebenarnya bukan Abdul Wahhab tetapi Muhammad bin Abdul Wahhab, menguasai di Makkah dan tanah Arab. Sementara IKHWANUL MUSLIMIN... supaya sampeyan paham, ini kan kita ini bingung (ada) Ikhwanul Muslimi, Wahabi, dll. Ini agak berbeda gerakannya. Sementara di Mesir itu muncul namanya Ikhwanul Muslimin (IM) yang menerapkan mono tafsir atas al-Qur'an dan mono tafsir atas hadits. Jadi kalau sampeyan tidak mengikuti tafsirnya dia, disembelih. Ini yang sudah bahaya, bahkan melanggar sabdanya Nabi. Nabi itu sudah berpesan kepada seluruh sahabatnya, di Mesir itu ada namanya Kristen Koptik, oleh Nabi dilarang untuk diganggu, karena apa? karena Kristen Koptik ini adalah keturunan Isa al-Masih atau Yesus. Yesus itu dari kata Esau, bergeser ke bahasa Arab jadi Isa, lalu dipengaruhi oleh bahasa Yunani jadi Yesus. Tidak ada kaitannya dengan Tuhan, Yesus itu bahasa Romawi. Keturunannya itu kan namanya kardinal Yaqobus, disesat-sesatkan oleh penguasa Kristen karena agamanya sudah menjadi agama kekuasaan pada saat itu.

(Habib Ali mulai terlihat berbicara pada seseorang.. sementara Gur Nuril tetapi meneruskan ceramahnya)

lalu minta tolonglah kardinan Yaqobus ini minta tolong kepada Baginda Rasulullah Muhammad Saw.

(Habib Ali berbisik bisik degan orang disebelahnya.., Gus Nuril masih lanjut)

dan menjadi "tawasul" bagi kebesaran Islam. karena apa? keluarga Nabi Isa sendiri disesat-sesatkan oleh penguasa yang beragama kristen. Di utuslah Sayyidina Umar, maka menjadi sebab Islam berkembang luar biasa, karena apa? dari permohonan kardinal Yaqobus inilah Byzantium barat yang menguasai sampai ke Inggris, Prancis.. sampei ke Maroko, perbatasan Eropa, semua dikuasa oleh Islam. Lalu Rasulullah mendapatkan hadiah, agar terjalin hubungan yang luar biasa, menyambung kembali darah Abraham (Ibrahim), diberi istri bernama Maria al-Qibtiyah. kenapa Qibtiyah? karena dari Kristen Koptik. Jadi ada salah satu istri Nabi yang dari Kristen (Koptik) dan memiliki anak yang bernama Ibrahim. Yang dimakamkan di kuburan Baqi'.

Ini (Kristen Koptik) tidak boleh diganggu. Tetapi munculnya Ikhwanul Muslimin, dibantai semuanya, maka muncullah pergerakan (Mesir) yang akhirnya sampeyan melihat di setiap tv, (dimana) kelompok Morsi / ikhwanul muslimin itu akhirnya dibabat habis (di Mesir). Karena ada kesadaran orang mesir. (Sedangkan) di Indonesia, orang-orang Wahabi, orang-orang Ikhwanul Muslimin, buanyak semakin banyak, dan kita belajar disana. Kita masih membiarkan mereka mengkafir-kafirkan kita, bahkan yang namanya maulid nabi ini, dinamakan Bid'ah.

Bahkan kalau sampeyan lihat itu, TV Insani, Rodja TV, Radio MTA, semuanya, begitu Assalamu'alaikum, Kullu Bid'atin Dlolalah Kullu Dolalatin Finnar, semuanya begitu. Dan ini, mauludan begini ini dianggap bid'ah. Nah sekarang mulai kita ngaji ini...

Mauludan dianggap bid'ah (oleh Wahabi), baca Barzanji dianggap bid'ah, Budah bid'ah, Tahlilan bid'ah, apalagi lagi? baca manaqib bid'ah, Yasinan bid'ah. Itu caranya untuk menghancurkan umat Islam, maka jangan bingung kalau ada Kapolri dan KPK geger itu, nggak usah bingung, terus bolo (ikut) siapa Gus?, nggak usah bolo Kapolri, nggak usah bolo KPK, tonton saja itu dagelannya Jokowi. (jama'ah tertawa) Loh wong Jokowi itu memiliki hak prerogratif, kalau sudah diusulkan dia sendiri dan disetujui DPR, dilantik atau tidak dilantik, sudah jadi undang-undang. Maka kalau Jokowi tidka melantik, maka Jokowi melanggar undang-undang. Ini kenapa kok dibikin ruwet begini, karena sesungguhnya untuk mengalihkan isu bahwa ada kelompok Ikhwanul Muslimin, kelompok Wahabi, dan ada kelompok HTI (Hizbut Tahrir). Hizbut Tahrir itu adalah perkawinan antara Ikhwanul Muslimin dan Wahabi, maka melahirkan suatu bentuk gerakan yang sangat berbahaya, saya sudah keliling Indonesia, kebetulan saya sebagai Ketua Pendekar Pagar Nusa se-Indonesia dan dulu Banser saya siapkan. Kalau sampeyan disini domainan, ada habib-habib banyak, nggak ada yang berani karena dominan, tetapi di daerah-daerah? wah ... !! HT itu perkawinan antara Wahabi dan Ikhwanul Muslimin. ...

....
(Habib Ali mulai bicara pegang Mix)...

Habib Ali : "Bapak Kyai",
Gus Nuril : "Nggih.." (sambil menoleh ke belakang, melihat Habib Ali)

Habib Ali : "Mohon maaf, kita minta kepada guru kita untuk menyampaikan sejarah tentang Nabi Muhammad. Kita minta sekali lagi, dengan hormat buat guru kita.."

(Ada terikan "Allahu Akbar" dari arah kiri panggung)

Habib Ali : "Tenang-tenang ... duduk.. duduk.."

(Massa masih teriak.... Gus Nuril duduk diam!!)

Habib Ali : "Duduk .. ". (memberikan intruksi kepada yg berteriak)

Seseorang menghampiri Gus Nuril untuk menemani.

Habib Ali : "Duduk.. nggak ada yang nyuruh!."

Habib Ali : "Kita minta kepada bapak Kyai kita, untuk menyampaikan sejarah tentang Baginda Nabi Muhammad. Kita minta jangan kritik sana, jangan kritik sini, lebih baik apa yang lebih manfaat buat umat Nabi dan anak-anak muda sehingga tidak terusik. Jiwa-jiwa kaum muslimin dan otak-otak umat muslimin yang tidak terubah, kami berkumpul karena cinta kepada Sayyiduna Muhammad !!" (jama'ah sebelah kiri berterik "Allahu Akbar").

Habib Ali berdiri menghampiri segelintir jama'ah yang disebelah panggung (sebelah kiri) yang teriak-teriak terus.

Habib Ali : "Mau diwakilin kan?!" (Habib Ali berkata kepada yang berteriak-teriak).

Perkataan Habib yg tiba-tiba mengatakan 'Mau Diwakilin" penuh tanda tanya!. Sementara Gus Nuril duduk tenang-tenang saja sambil melihat.

Habib Ali : "Mau diwakilin kan?!.."
Habib Ali : "kalau emang! Dengerin buat para pemuda!. Dengerin! buat FPI! Jama'ah FPI! Jama'ah FPI, dengerin! Jama'ah FPI, boleh nggak minta ngomong?! Mau diwakilin Habib apa tidak?! Mau diwakilin Habib apa tidak?! Ini majelis mulya! Oke!! Duduk rapi biar Habib yang ngomong!"  (ke Gur Nuril)

Habib Ali lalu membalikkan badan, dan menghadap jama'ah depan panggung yang banyak. Yang ribut adlah segelintir orang disebelah kiri panggung. Habib Ali sambil menghampiri Gus Nuril.

Gus Nuril tetap duduk pegang mix, sementara Habib Ali berdiri.

Habib Ali : "Hadirin.. !! jadi mudah-mudahan apa yang disampaikan oleh..., duduk yang manis!"

(Jama'ah bagian depan nampaknya mulai bereaksi atas apa yang terjadi diatas panggung dan disebelah kiri panggung).

Habib Ali : "(sambil berteriak) INI MAJELIS RASULULLAH...! DUDUK... !!! DUDUK UNTUK RASULULLAH!! Duduk!"

Habib Ali membelokkan badan menghadap ke kiri lagi / menghadap ke jama'ah yang berteriak seraya melambaikan tangan dan memberikan instruksi.

Habib Ali : "Buat anak FPI, duduk!! duduk!! Shallu alan Nabi!!!"

Habib Ali lalu menghampiri Gus Nuril. Gus Nuril tetap duduk tenang pegang mix.

Habib Ali : "Buat pak Ustadz kita. Terima kasih atas ceramahnya! Mudah-mudahan bermanfaat!

Gus Nuril hanya mengangguk saja sementara mix masih ditangan.

Habib Ali : "Kita do'akan, mudah-mudahan selamat dan panjang umur"

Gus Nuril : "Hadirin mari kita shalawatan bersama.. "Ya Nabi.. Salam alaika..."

Habib Ali : "Coba istirahat!" (mengusir Gus Nuril)

Sementara Gus Nuril tetap baca shalawat. Dan JAMA'AH IKUT BERSHAWALAT BERSAMA GUS NURIL. Sedangkan Habib Ali malah mencegah Gus Nuril bershalawat bersama jama'ah. Habib Ali terlihat melambai tangan nggak karuan.

JAMA'AH TERUS BERSHALAWAT, bahkan orang yang disamping Gus Nuril ikut bershalawat.

Habib Ali : "Salamu 'alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh" (jama'ah ada yang menyahut)


*****
BERIKUT VIDEONYA :




BERIKUT SURAT PERNYATAAN :

Assalamu'alaykum

Saya yang bertanda tangan dbawah ini Muhammad Atiq Murtadlo sekalu ketua panitia pelaksana Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 H / 2015 M yang di adakan di Masjid Jami' Assuada' pada hari Jum'at 20 Februari 2015 menyataan bahwa "Saya yang mengundang Dr. KH. Nuril Arifin Husein MBA, atau Gus Nuril untuk mengisi acara sebagai penceramah di Masjid Jami' Assu'ada".

Dengan membuat pernyataan ini saya ingin meluruskan dan menepis rumor serta berita-berita fiktif yang beredar didunia maya atau dunia nyata bahwa:

- Gus Nuril saya yang mengundang ceramah bukan dari pihak RW 07

- Gus Nuril tidak lari ketika turun panggung dan tidak langsung pergi, melainkan masih duduk tenang di teras masjid sambil bershalawat.

- Gus Nuril diam bukan karena tidak bisa memberi alasan, tetapi microphone yang dipegang Gus Nuril dimatikan oleh operator sound.

- Isi ceramah Gus Nuril hanya baru diawal belum sampai selesai ketitik inti dari Maulid Nabi sudah dihentikan oleh Habib Ali bin Husein Assegaf sekalu pimpinan Majelis Nurul Habib, dan sekaligus MC/pembaca acara pada acara maulid malam itu, sehingga menimbulkan polemik atas isi ceramah tersebut.

- Yang menghentikan dan menurunkan Gus Nuril bukan dari pihak panitia, melainkan dari Habib Ali bin Husein Assegaf sekali pimpinan Majelis Nurul Habib dan sekaligus MC/Pembaca acara pada maulid malam itu.

Dan itulah klarifikasi atas berita berita yang tidak pada faktanya yang beredar di dunia maya atau pun juga didunia nyata. Demi Allah dan Rasulullah saya tulis surat ini benar apa adanya dan saya akan lampirkan materai untuk lebih memperkuat secara hukum.

Saya berharap beredarnya surat ini, umat Islam yang membawa berita fiktif tersebut lebih memahami mana yang benar mana yang tidak, mana yang memfitnah mana yang tidak, dan agar tidak terprovokasi. Wallahu a'lam bish shawab.

Wassalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Jakarta, 22 Februari 2015


Muhammad Atiq Murtadlo



oleh : Ibnu L' Rabassa /Muslimedianews.com

Spiritualitas Gus Dur

Spiritualitas Gus Dur


GusdurFiles.com ~ Sebagaimana banyak di ketahui, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tdk bisa dilepaskan dari dunia spiritual. Banyak kejadian yg tdk terjangkau pikiran manusia kebanyakan ternyata dilakukan Gus Dur, mantan Presiden RI ke-4 itu.

Alkisah pada suatu ketika Prof. Dr. Mahfudh MD, SH mantan ketua MK, bertanya kpd Marsilam Simanjuntak seorang yg dikenal cukup dekat dgn Gus Dur, sekalipun ia seorang non muslim.

"Sebagai kawan lama Gus Dur, apakah Pak Marsilam mempercayai kegaiban?" tanya Pak Mahfudh.

Jawaban Marsilam cukup mengejutkan Pak Mahfudh. Marsilam mengatakan bahwa sebenarnya dia tdk pernah percaya pada hal-hal seperti itu.

"Tetapi, saya memang punya pengalaman agak aneh dgn Gus Dur," ungkap Marsilam dgn mimik wajah serius yg kemudian bercerita tentang kejadian pada 1999. Pada pertengahan 1999, kelompok Forum Demokrasi (Fordem) mengadakan rapat utk menggeser Gus Dur dari jabatan ketua. Menurut Marsilam, teman-temannya di Fordem banyak mengeluh krn Gus Dur telah lupa pada Fordem dan lebih banyak mengurus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Utk itu, Gus Dur akan diminta mundur dari jabatannya itu, sebelum diminta forum, Gus Dur langsung menyatakan akan berhenti krn merasa dirinya memang tdk tepat lagi memimpin Fordem.

Gus Dur mengaku sangat sibuk dan tdk punya waktu utk trs memimpin Fordem. Gus Dur juga mengatakan bahwa dia tdk terampil dan teliti seperti Marsilam. "Lagi pula, kemarin saya didatangi oleh Mbah Hasyim yg memberitahu bahwa bulan Oktober ini saya akan jadi Presiden. Jadi, saya tdk bisa trs di Fordemn" demikian Gus Dur menceritakan adanya berita ghaib dari kakeknya, KH. Hasyim Asy'ari. Padahal, pada saat itu nama Gus Dur blm muncul sebagai calon Presiden yg signifikan. Poros tengah yg kemudian mengusung nama Gus Dur saja ketika itu blm lahir.

Tdk aneh, kata Marsilam, banyak di antara org Fordem yg mendengar pidato Gus Dur itu menanggapinya dgn sikap berbeda-beda. Ada yg tertawa krn menganggap Gus Dur melakukan improvisasi atas pengunduran dirinya, ada yg seperti sedih krn menganggap Gus Dur sdh tdk normal, tetapi ada juga yg heran krn ekspresi Gus Dur cukup serius ketika mengatakan itu. Dan ternyata, pada Oktober 1999 Gus Dur benar-benar menjadi Presiden sesuai dgn pesan ghaib yg kata Gus Dur sendiri diterima dari KH. Hasyim Asy'ari.

Irwan David Hadinata, seorang mantan tentara dan alumnus ITB yg bergerak dlm dunia bisnis, pernah menyampaikan cerita yg sama dgn cerita Marsilam kpd Pak Mahfudh MD. Menjelang Pemilu thn 1999, kira-kira delapan bulan sebelum menjadi presiden, Gus Dur memberitahu Irwan bahwa dia akan menjadi presiden. Dua bulan sebelum terpilih menjadi presiden, Gus Dur kembali memberitahunya bahwa pada bulan Oktober nanti dia akan menjadi presiden. Semula, Irwan tdk terlalu serius menanggapi pemberitahuan itu. Utk sekadar berbasa-basi, saat itu dia menjawab, "Mudah-mudahan Pak Abdurrahman Wahid benar-benar menjadi presiden."

Tp kemudian Irwan menjadi sangat kaget ketika pada bulan Oktober 1999, Gus Dur benar-benar menjadi presiden. Bahkan, ketua PP Muhammdiyah, Syafi'I Ma'arif menceritakan bahwa pada awal Juni 1999, Gus Dur sdh pernah mengatakan kpd nya bahwa dia akan menjadi presiden dan menjanjikan akan memberi sejumlah kursi menteri di kabinetnya kpd org-org Muhammadiyah. Waktu itu, Syafi'I Ma'arif menjawab sambil bercanda, "Jika Gus Dur menjadi Presiden, Muhammadiyah tdk akan minta jatah kursi menteri di kabinet."
Syafi'I Ma'arif menceritakan percakapannya dgn Gus Dur itu beberapa waktu setelah Gus Dur benar-benar menjadi Presiden.

Bkn hanya soal dirinya akan menjadi presiden yg dikemukakan oleh Gus Dur kpd org-org terytentu. Setahun sebelum lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan, Gus Dur jg sdh mengatakan dgn yakin bahwa sang presiden akan segera jatuh.

Prof. A. Mukthie Fadjar, guru besar hukum tata negara universitas Brawijaya, Malang, pernah bercerita bahwa ketika bertemu dgn Gus Dur di Kediri pada 1997, dia dititipi pesan oleh Gus Dur utk disampaikan kpd Malik Fadjar, kakanya, yg ketika itu menjadi salah seorang Dirjen di Departemen Agama.

"Sampaikan kpd Pak Malik Fadjar agar tdk usah dekat-dekat dgn Pak Harto. Sebentar lagi Pak Harto akan jatuh," demikian pesan Gus Dur seperti ditirukan oleh Mukthie Fadjar kpd Pak Mahfudh MD.

Kemudian memang terbukti bahwa pada Mei 1998, Pak Harto benar-benar jatuh dari kursi kepresidenan yg telah didudukinya selama tdk kurang 32 thn. Dan yg paling terbaru ramalan Gus Dur yg menjadi kenyataan adalah tentang jabatan Kapolri yg nanti akan disandang mantan ajudannya sewaktu menjadi presiden yaitu Jendral Pol Sutarman dan yg paling gress adalah ramalan tentang DKI Jakarta yg kelak akan dipimpin oleh seorang gubernur dari etnis China.

Gus Dur memang sering menyampaikan informasi-informasi ghaib yg sering kali terbukti. Terlepas dari siapa informasi itu didapat, yg jelas informasi ghaib yg disampaikan beliau kemudian terbukti kebenarannya. Terlepas dari pendapat yg pro ataupun yg kontra, memang itulah karomah mantan Presiden RI ke-4 yg juga cucu Hadhrotusy Syaikh KH. Hasyim Asy'ari. ( Hamim Jazuli )
Ketika Habib Luthfi kedatangan rombongan Pendeta dan Biarawati

Ketika Habib Luthfi kedatangan rombongan Pendeta dan Biarawati

GusdurFiles.com ~ Rais 'Amm Jam'iyyah Ahli Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya kedatangan tamu rombongan pendeta dan biarawati yang hendak bersilaturahim ke kediamannya.

Hal itu sebagaimana di post di fanpage pada  23 Februari 2015. Dalam fanpagenya itu, Habib Luthfi juga menerangkan mengenai Allah SWT sebagai tuhan semua pemeluk agama.

Sebagian orang awam mungkin akan salah paham dengan maksud tulisan tersebut, tetapi ketika mereka benar-benar mencerna dengan baik maka tidak akan menimbulkan salah paham. Sebab seharusnya mereka menyakini bahwa Allah Pencipta alam semesta beserta isinya, termasuk Pencipta manusia. Berikut tulisan beliau :

***

Rombongan pendeta dan biarawati (tampak di foto hanya dua) silaturahim ke kediaman. Biasanya mereka datang pada idul fitri dan momentum lainnya. 

Kami bersama Dandim, Kapolres dan pemerintah daerah memastikan saudara-saudara non muslim dapat melaksanakan ibadah dengan tenang. Jika tidak ada halangan biasanya mengisi ceramah di klenteng bertepatan dengan Imlek/ Cap Go Meh. 

Kita meyakini Tuhan semua pemeluk agama-agama [1] lainpun adalah Allah Swt. Meskipun mereka ada yang mempertuhan Yesus, dewa-dewa dll, kita tidak boleh meyakini itu Tuhan mereka. Kita wajib meyakini Tuhan mereka adalah Allah Swt. Urusan menyembah 'siapa' itu urusan pribadi masing-masing yang tidak bisa dipaksakan. 

Dahulu, wali 9 berhasil dalam dakwahnya bukan dengan ceramah secara lisan melainkan sopan-santun, etika, sikap dan keteladanan yang baik. Non muslim terpikat dengan ajaran Islam yang dibawa wali 9 karena terpesona dengan keindahan sikap dan budi pekerti para wali itu.

Jika kita berperangai garang, sangar, kasar, apalagi saling menghujat, padahal sama-sama menyembah Allah Swt, kita saling mengkufurkan, menyesatkan satu sama lain, maka kita telah luput dalam merepresentasikan Islam dan pribadi Nabi yang mulia kepada mereka yang belum mengenal Islam dan Nabi saw. Hanya melalui kepribadian kita mereka dapat mengetahui sosok Nabi itu baik atau buruk. 

Kalau demikian, apakah kita semua tega mempermalukan Nabi Saw dihadapan Allah Swt ? Hanya bisa dijawab oleh sikap dan perbuatan.

***
red. Ibnu L' Rabassa
( Keterangan )
[1] Semua pemeluk agama berarti orang-orang / manusia. Manusia itu diciptakan oleh Allah, dengan kata kalain Allah adalah Tuhan nya seluruh umat manusia sesuasi dengan surah al-Naas, dan lainnya.

Sumber : Muslimedianews.com
Infaq Sedekah Peziarah Gus Dur Sebulan Lebih 2 Milyar untuk Umat Islam

Infaq Sedekah Peziarah Gus Dur Sebulan Lebih 2 Milyar untuk Umat Islam


HASIL SEDEKAH PEZIARAH MAKAM GUS DUR DALAM SEBULAN LEBIH DUA MILYAR RUPIAH

GusdurFiles.com ~ Pada saat mengisi acara Haul ke-5 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), teman-teman yang menjaga dan merawat makam memberitahu saya bahwa semenjak wafat 5 tahun silam, setiap bulan kotak sedekah di makam Gus Dur selalu berisi Rp 2 milyar lebih. Untuk bulan Desember 2014 sekitar Rp 2,3 milyar.

Teman-2 mengungkapkan bahwa KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) mewanti-wanti agar uang itu tidak ada yang masuk ke pesantren Tebuireng. semua hasil sedekah umat itu, menurut Gus Sholah, harus dibagikan kepada umat Islam sekitar yang membutuhkan sebagai amaliyah Gus Dur.

Sungguh mengejutkan penjelasan jujur teman-2 santri yang merawat dan menjaga makam Gus Dur yang dengan amanah membagi-bagikan uang sedekah dari peziarah itu kepada janda-2 tua, anak-anak yatim piatu, guru-2 mengaji, kaum dluafa', pembangunan masjid dan mushola, dll. Saya berharap Indonesia bisa dipimpin oleh anak-anak muda yang jujur, amanah dan terpercaya seperti mereka.

Yang justru penting ditanyakan adalah: "Berapa milyar hasil kotak sedekah di makam para Wali Songo yang tiap hari tidak henti diziarahi umat? Siapa yang mengawasi sirkulasi uang sedekah itu? Siapa yang bertanggung-jawab atas uang sedekah itu? Kepada siapa pengelola makam bertanggung-jawab? Adakah masyarakat kalangan bawah di sekitar makam Walisongo memperoleh manfaat seperti masyarakat di sekitar makam Gus Dur?.

Oleh     : Agus Sunyoto 
Penulis : Atlas Walisongo

Sumber : Muslimedianews.com
Agenda Gusdurian Jogja 25 Februari 2015

Agenda Gusdurian Jogja 25 Februari 2015


JOGJA,

Sahabat GUSDURian, Kami mengundang untuk bergabung dalam Majlis Shalawat GUSDURian Jogja yang akan diselenggarakan pada:

RABU, 25 Feb pkl 19.00 di Pendopo LKIS (Jl. Pura no 203, Sorowajan, Banguntapan, Bantul)
Acara ini terbuka untuk UMUM. Silakan ajak sahabat lainnya ikut serta dalam majlis ini. Untuk informasi selengkapnya sila hubungi CP: 085733 323883 (Mukhibullah)
Banser Paling Hebat

Banser Paling Hebat


GusdurFiles.com ~ Saat berada di sebuah kapal pesiar, presiden Indonesia (Gus Dur pastinya), presiden AS dan perdana menteri Jepang saling memamerkan kebolehan tentara masing-masing.

Presiden AS bilang tentaranya bisa mengelilingi kapal 10 kali tanpa berhenti, dan langsung dibuktikan, ternyata benar. Perdana Menteri Jepang malah bilang tentaranya bisa menglilingi kapal selama 25 kali.

Ia panggil salah seorang prajurit untuk terjun ke laut berenang mengelilingi kapal 25 kali dan... luar biasa, ternyata ia bisa.

Gus Dur hampir-hampir dipermalukan dalam perdebatan itu. Prajurit AS dan Jepang benar-benar pemberani. Untung Gus Dur segera punya ide. Dipangilnya seorang angota Banser NU yang kebetulan ikut.

"Ini bapak-bapak, dia seorang anggota Banser NU. Dia bukan tentara, dan tidak pernah mengikuti latihan militer resmi. Dia akan saya suruh berenang 100 kali," kata Gus Dur sambil menepuk-nepuk pundak anggota Banser. Presiden AS dan perdana menteri Jepang melongo.

"Ayo sekarang kamu nyebur ke laut dan berenang keliling kapal sampai 100 kali," kata Gus Dur kepada anggota Benser tadi dengan penuh percaya diri.

"Mana mungkin Gus, saya masak disuruh berenang mengelilingi kapal sebesar ini, saya tidak mau Gus," kata anggota Banser. "Gila apa..!" tambahnya menggerutu sambil lalu.

"Ya sudah kalau begitu kamu balik ke tempat," kata Gus Dur dan angota Banser tadi balik ke tempatnya semula.

Gus Dur lalu mendekati dua pimpinan negara adidaya itu. "Tuh kan bapak-bapak, sekarang tentara siapa yang lebih berani coba? Pasti lebih berani tentara saya. Lha wong perintah presidennya aja tidak dipatuhi??" kata Gus Dur sambil duduk dan menepuk-nepukkan tangan kanan ke pahanya. (anam, NU Online)
Gus Dur dan Anjing-Anjingnya

Gus Dur dan Anjing-Anjingnya


GusdurFiles.com ~ Waktu belajar di Irak, Gus Dur bersepuluh temannya yang berasal dari Indonesia menyewa sebuah rumah besar. Untuk menghemat waktu, mereka juga bergiliran memasak dan ketika tiba giliran Gus Dur untuk memasak, menu yang disajikan selalu istimewa berupa berupa jerohan yang terdiri dari ati ampela, paru dan lainnya yang memang biasa dimakan di Indonesia, tapi ternyata tidak biasa dimakan oleh orang Irak.

Teman-temannya menikmati saja apa yang disajikan Gus Dur, dan tidak menanyakan bagaimana strategi mendapatkan makanan enak dan murah itu.

Suatu ketika akan ada rombongan tamu dari Indonesia dan untuk menyambutnya, para mahasiswa itu berencana membuat masakan istimewa dengan makanan seperti yang dibuat oleh Gus Dur.

Maka pergilah salah seorang mahasiswa ke penjual daging untuk membeli jerohan-jerohan itu

Mahasiswa: Pak minta jerohan 10 biji

Pedagang: Oh, ya, mana temanmu itu, ia yang biasanya minta daging-daging jerohan ini untuk makanan 10 ekor anjingnya.

Mahasiswa: Hah…(dalam hati ia terkejut bagai disambar geledek tak mengira Gus Dur akan memberlakukan teman-temannya sama dengan anjing untuk mendapatkan makanan itu secara cuma-cuma)

Ia pun langsung buru-buru pulang dengan hati penuh amarah karena tak terima diperlakukan sama dengan anjing dan langsung memarahi Gus Dur.

Kisah ini termasuk humor Gus Dur yang cukup popular, ada yang menyebut yang dibeli kepala ikan, bukan jerohan, tetapi KH Mahfudz Ridwan dari Salatiga yang merupakan karib terdekat Gus Dur di Irak kepada NU Online menegaskan, yang dibeli Gus Dur memang jerohan, yang oleh para pedagang diberikan secara gratis saja, tetapi sebagai tanda sudah dibeli, Gus Dur tetap memberi sedikit uang. (mkf, NU Online)
Gus Nuril, Kiai Pagar Nusa Alami Pengusiran Saat Ceramah Maulid Nabi

Gus Nuril, Kiai Pagar Nusa Alami Pengusiran Saat Ceramah Maulid Nabi


GusdurFiles.com ~ KH Nuril Arifin yang biasa disapa Gus Nuril Pengasuh Pondok Pesantren Soko Tunggal Jakarta yang juga anggota Dewan Khos PSNU Pagar Nusa mengalami "pengusiran" yang dilakukan Habib Ali bin Husein Assegaf Pimpinan Majlis Ta'lim Nurul Habib pada Jum'at malam (20/2) saat sedang menyampaikan ceramah Maulid Nabi Muhammad saw di masjid Assu'ada Jatinegara Kaum, Jakarta Timur.

Menurut ketua panitia Muhammad Atthiq Murthado, terjadinya "pengusiran" yang dilakukan Habib Ali ini diakibatkan ketidakterimaannya atas ceramah Gus Nuril yang baru beberapa menit berjalan dalam mengupas sejarah Islam tentang wahabi dan penyebaran Islam di Indonesia dari Cina.

“Belum sampai pada inti ceramah, Habib Ali memotong ceramah Gus Nuril lalu mempersilakannya untuk turun dari panggung” ujar Murtadho.

Murtadho mengungkapkan, sabotase ditengarai sengaja dilakukan oleh kru Nurul Habib, terlihat saat Gus Nuril ceramah, mikrofon yang digunakan volume suaranya disetting kecil, sedangkan mikrofon yang digunakan Habib Ali suaranya keras, namun saat mikrofon yang dipegang Habib Ali diminta panitia, tidak diberikan.

Murtadho menjelaskan, bahwa "sabotase" ceramah dari Gus Nuril bermula dari mengundang Habib Ali bin Husein Assegaf yang harus sepaket dengan sound systemnya yang berbiaya 5 juta.

Diduga ada massa FPI yang memprovokasi acara, itu terdengar ketika Habib Ali berteriak pada massa disebelah panggung. "Massa FPI harap tenang,” teriak Habib. Padahal Murtadho melihat tidak ada yang menggunakan atribut FPI.

Selesai acara, Murtadho dipanggil Habib Ali dan didamprat. "Ente kalau manggil kiai yang cerdas dikit," seloroh Habib Ali.

Karena merasa kiainya diremehkan, Murtadho malah mempertanyakan. “Habib ini habib FPI apa NU,” tanyanya. Ditanya seperti itu, Habib Ali malah tidak mau menjawab dan pergi begitu saja.

Di tingkat nasional, Gus Nuril dikenal sebagai kiai pancasilais karena ceramahnya selalu menekankan pentingnya persaudaraan antar umat beragama dan memberi pengetahuan tentang paham wahabi dan organisasi HTI yang ingin merubah dasar negara Indonesia.

Dia sering berceramah digereja, pura, vihara, dan tempat ibadah umat agama lain demi memberikan pemahaman Islam rahmatan lil 'alamin. Hal inilah yang tidak disukai oleh kalangan kelompok radikal yang memusuhi dakwah Gus Nuril. (Sukma Adi/Fathoni, NU Online)
close
Banner iklan disini