Gus Dur Milik Kita Semua


GusdurFiles.com ~ "Tidak penting apa Agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. Orang tidak akan pernah tanya apa Agamamu," (Gus Dur) Dalam sebuah obrolan ringan di angkringan bersama kawan-kawan Gusdurian Solo, ada salah seorang teman yang menyeletuk melontarkan pertanyaan kepada kami : Kenapa haul Alm. KH Abdurrahman Wahid atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Gus Dur, diperingati pada Bulan Desember?

Bukankah, lazimnya seorang ulama yang lain dan yang mentradisi dalam lingkup jam’iyyahNahdlatul Ulama (NU), yang haulnya diperingati berdasar pada bulan kalender Hijriah, mestinya wafatnya Gus Dur yang oleh sebagian orang bahkan dianggap sebagai wali diperingati setiap bulan Muharram. Begitu kata teman saya berpendapat.

Salah satu dari ‘peserta forum’, kemudian mencoba untuk memberikan jawaban. Menurutnya, ada dua jawaban sederhana dari pertanyaan tersebut. Pertama, generasi ketiga dan keempat dari para tokoh pendiri NU, termasuk keluarga Gus Dur lebih akrab dengan sistem pendidikan yang dalam istilah kurang tepatnya disebut “sekolah umum”, yang lebih identik dengan kalender Masehi.

Kedua, figur Gus Dur juga dianggap milik publik dan lagi-lagi masyarakat Indonesia lebih akrab dengan penanggalan Masehi. Apalagi Gus Dur meninggal di penghujung tahun, akhir bulan Desember, sehingga mudah diingat karena pada saat itu banyak orang melakukan refleksi dan perenungan. (Khoirul Anam, 2013)

Barangkali, ada benarnya pula kedua jawaban dari teman saya itu. Namun, saya lebih tertarik dengan jawaban yang kedua. Ya. Gus Dur tidak hanya milik warga Nahdliyyin semata, akan tetapi ia telah dianggap menjadi milik banyak orang.

Bukan, hanya karena ia pernah memimpin NU selama dua periode ataupun amanah presiden yang pernah ia sandang. Namun, lebih dari itu, Gus Dur dicintai banyak orang karena perhatiannya yang begitu besar kepada rakyat jelata, terlebih kepada kaum minoritas yang sering mendapatkan perlakuan yang menyakitkan dari penguasa.

Warga Boyolali dan sekitarnya, tentu masih ingat ketika Gus Dur bersama tokoh lain ikut memperjuangkan warga yang menjadi korban kasus Kedungombo pada tahun 1984. Perjuangannya terus berlanjut hingga ia menjadi Presiden, dengan memerintahkan Mardiyanto (Gubernur Jateng kala itu) untuk menjalankan putusan MA tahun 1993, terkait sengketa ganti rugi tanah di Kedungpring, Kedungombo.

Gus Dur juga memberikan jaminan kepada warga, tidak ada lagi intimidasi, pelanggaran HAM, maupun diskriminasi dan bahkan cap ET pada KTP sebagaimana yang dilakukan orde represif di masa lampau. Kenangan tersebut begitu membekas bagi warga, sehingga ketika Gus Dur wafat pada tahun 2009 lalu, salah satu dari mereka ada yang berujar :Hanya Gus Dur yang mampu memberikan ketenangan, sekaligus semangat! (Solopos, 2010)

Bagi warga Tionghoa di Indonesia, peranan dan jasa Gus Dur kepada mereka begitu dikenang, Bahkan, sebuah komunitas Tionghoa di Semarang memberi gelar kepada Gus Dur, Bapak Tionghoa Indonesia. Tidak berlebihan apabila gelar tersebut disematkan kepada Gus Dur, mengingat Gus Dur-lah, orang yang pertama mencabut Intruksi Presiden (Inpres) No 14/1967 yang mengakibatkan larangan bagi kaum Tionghoa untuk merayakan pesta agama dan adat istiadat di depan umum dan hanya boleh dilakukan di lingkungan keluarga.

Sejatinya, apa yang dilakukan oleh Gus Dur ini, dengan memperjuangkan kebenaran tanpa memandang apapun latar belakang seseorang atau masyarakat yang ia bela, sejalan dengan konsep pada agama Islam yang mengajarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alaminatau menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Tidak peduli apapun agama dan suku seseorang. Bahkan Gus Dur pernah berujar : "Tidak penting apa Agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. Orang tidak akan pernah tanya apa Agamamu,"

Warisan

Karakter muslim yang ramah, konsisten menghargai pluralitas, serta mampu bekerjasama dengan komponen bangsa lain dibutuhkan dalam membangun bangsa menuju terwujudnya Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera. Karakter muslim seperti ini disebut dengan karakter muslim marhamah yang menghidupkan kembali ajaran Islam sebagai agama yangrahmatan lil alamin (penebar kasih sayang bagi seluruh alam).

Islam rahmat ini jelas menolak dan melarang pemakaian kekerasan demi untuk mencapai tujuan-tujuan (al-ghayat), termasuk tujuan yang baik sekalipun. Sebuah kaidah ushul dalam Islam menegaskan al-ghayah la tubarrir al-wasilah, tujuan tidak bisa menghalalkan segala cara.  (Alfiyah Ashmad dkk., 2011)

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, Gus Dur mati meninggalkan banyak warisan gagasan pemikiran dan perjuangan. Itulah kiranya peribahasa yang  tepat untuk menggambarkan pasca-wafatnya Gus Dur lima tahun silam hingga sekarang. Gus Dur adalah seorang tokoh yang memiliki banyak sekali warisan gagasan pemikiran, baik tentang keagamaan, kebangsaan, kemanusiaan, maupun yang lainnya.

Hal ini menginspirasi banyak pihak yang bahkan beberapa di antaranya menyematkan nama Gus Dur sebagai nama wadahnya, sebut saja Forum Kerukunan Pemuda Lintas Agama Surakarta (Forplas), Komunitas Gusdurian, Kongkow Bareng Gus Dur (KGB), Anak Buah Gus Dur (ABG) dan lain sebagainya. Komunitas tersebut mencoba menggali dan menghidupkan kembali keteladanan dan perjuangan Gus Dur dengan mengadakan sejumlah diskusi, seminar, dan kegiatan sosial.

Namun, dari berbagai hal yang dilakukan untuk nguri-nguri pemikiran dan perjuangan dari Gus Dur selama ini, ada beberapa hal perlu dikritisi, sebagaimana dipaparkan Syaiful Arif dalam tulisannya berjudul Melampaui Gusdurian (2014).

Pertama, menurutnya Gus Dur memang banyak dikenal orang sebagai pejuang pluralisme, tetapi sejatinya pergerakan Gus Dur, tidaklah melulu pada persoalan lintas agama semata. Dengan demikian yang dibela beliau bukan hanya minoritas agama, tetapi korban peminggiran struktural, di mana mayoritas rakyat termiskinkan menjadi objek perjuangannya. Ketika menempatkan Gus Dur hanya dalam isu pluralisme agama, kita melupakan perjuangannya di ranah ekonomi dan demokrasi politik.

Kedua, perawatan warisan pemikiran dan perjuangan tidak bias melalui perayaan melankolis dalam gerakan massa yang hampa konsepsi, tapi juga mesti dihadirkan dalam konteks kesejarahan yang memuat selaksa (perlawanan) ketidakadilan di negeri ini.

Lahu Al-Fatihah!

Penulis : Ajie Najmuddin/gusdurian.net
0 Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 Response to "Gus Dur Milik Kita Semua"

Post a Comment

close
Banner iklan disini