Kiai Ma’ruf Amin: Gus Dur Ajarkan Berpikir Kritis

Kiai Ma’ruf Amin: Gus Dur Ajarkan Berpikir Kritis


Gusdurfiles ~ Rais Aam Syuriyah PBNU KH Ma'ruf Amin mengatakan, Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur merupakan sosok yang mirip buku. Karena itu, mengenal Gus Dur tidak akan habis.
“Di NU, beliau itu yang melakukan dinamisasi berpikir kritis. Sehingga NU itu kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran kritis dan dinamis,” ujar Kiai Ma’ruf mengawali testimoninya di acara haul ke-6 Gus Dur di Ciganjur, Sabtu (26/12) malam.

Menurut Kiai Ma’ruf, Gus Dur memang dilengkapi dengan berbagai instrumen keilmuan sehingga paham banyak hal. Misalnya, Ushul Fiqh dan Qawaid Fiqhiyyah.

“Beliau bahkan sering menyebut kitab Asybah Wan Nadzair. Beliau sangat paham kitab tasawuf yang bernama al-Hikam karya Ibnu Athaillah. Bukan hanya paham, beliau malah mengajarkan kitab itu,” ungkap Rais Aam.

Padahal, lanjut Kiai Ma’ruf, kitab al-Hikam itu menurut para ulama disebut kaada al-hikam an yakuuna quranan. “Hikam itu hampir mirip Quran karena saking dalamnya paparan ilmu yang dikandungnya. Jadi, meski beliau kritis dan dinamis, tetapi instrumen-instrumen perlengkapannya itu sudah ada dan siap,” tukasnya.

Sayangnya, kata Kiai Ma’ruf, ada beberapa pihak yang kritis namun tidak paham Ushul Fiqh, Qawaid, apalagi al-Hikam. “Ibarat orang terjun, Gus Dur sudah bawa parasut. Ini (ada orang) terjun nggak punya parasut, nyungsep jadinya,” selorohnya disambut tawa hadirin.

Gus Dur yang ia kenal sebagai sosok  yang bisa bergaul dengan semua kalangan. “Beliau bisa bergaul dengan kiai khos, dengan kiai cash. Sekarang ini kan kiai khos kalah sama kiai cash itu. Ada juga kiai high cost,” ujar Kiai Ma’ruf lagi-lagi mengundang tawa.

Tak hanya dengan kiai, lanjutnya, Gus Dur juga bisa bergaul dengan para budayawan, seniman, orang berambut gondrong, dan bertato. “Enak saja. Saya pernah ikut Gus Dur. Beliau santai saja. Saya sendiri malah keki. Inilah kelebihan Gus Dur,” tandas Rais Aam.

Semua persoalan di mata Gus Dur tidak ada yang berat. Semuanya dianggap ringan dan biasa-biasa saja. “Makanya Gus Dur sering mengatakan Gitu aja Kok Repot,” ujarnya.

Kiai Ma’ruf bercerita, suatu ketika Gus Dur terpilih sebagai Ketua Forum Demokrasi (Fordem).  PBNU langsung ribut. “Gimana ini, NU akan berhadapan dengan Pak Harto ini. Karena itu, kami putuskan bahwa Gus Dur mengundurkan diri atau berhenti dari Fordem. Kalau tidak mau, PBNU akan meminta beliau mundur dari Fordem,” tuturnya.

Begitu disampaikan kepada Gus Dur, lanjut Kiai Ma’ruf, Gus Dur lebih memilih Fordem. “Kalau saya disuruh mundur dari Fordem, lebih baik saya mundur dari Ketua Umum PBNU. Wah ini, jawabannya. Mati kutu semua udah. Akhirnya, ya sudah lah, tetap sebagai Ketua Umum PBNU, dan tetap sebagai Ketua Fordem,” kata Kiai Ma’ruf sembari tertawa. (Musthofa Asrori/Mahbib)


Sumber : nu.or.id


Tiga Jasa Penting Gus Dur Menurut Menag Lukman Saifuddin

Tiga Jasa Penting Gus Dur Menurut Menag Lukman Saifuddin


Gusdurfiles ~ Peringatan haul ke-6 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di kediamannya di Jalan Warung Sila 10, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan berlangsung meriah, Sabtu (26/12). Malam itu sejumlah tokoh memberikan testimoni di atas panggung, mengungkap ingatan mereka tentang sosok presiden ke-4 RI ini.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang hadir dalam kesempatan itu mengatakan, Gus Dur semasa hidup telah menorehkan banyak prestasi yang masih bisa dirasakan masyarakat hingga kini. Menurutnya, setidaknya ada tiga jasa yang paling menonjol di antara sekian banyak manfaat dari kiprah Gus Dur.

Pertama, Gus Dur termasuk orang yang berhasil mengangkat citra positif pesantren tak hanya sebagai institusi pendidikan melainkan pula sebagai komunitas yang memiliki nilai-nilai dan kultur khas yang membedakannya dari komunitas di luarnya. Hal itu, imbuh Lukman, Gus Dur lakukan di antaranya lewat tulisan pada tahun 70-an saat tak banyak orang tahu tentang pesantren.

Sekarang, kata Menag, ketika santri sudah begitu dikenal bahkan Hari Santri telah dideklarasikan oleh pemerintah, menjadi kewajiban khususnya bagi kalangan santri untuk semakin bertanggung jawab dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Kedua, Beliau (Gus Dur) tentu bersama ulama-ulama yang lain terdepan dalam menyelesaikan hubungan Islam dan Pancasila," lanjutnya di hadapan ribuan jamaah yang memadati kompleks Yayasan Wahid Hasyim, lokasi rumah Gus Dur berada.

Bagi Lukman, Gus Dur sukses meyakinkan umat Islam secara luas bahwa Islam lah yang menjadi roh Pancasila sehingga reaksi keduanya tidak mesti dipertentangkan. Alhasil, Pancasila bisa diterima dengan tidak meminggirkan Islam dan tanpa menumpahkan darah setetes pun.

Jasa penting Gus Dur yang ketiga, menurut Lukman, adalah perjuangan Ketua PBNU tiga periode itu dalam menciptakan keharmonisan bangsa Indonesia yang sangat plural. Bagi Gus Dur, kemajemukan merupakan realitas yang harus diterima dengan lapang dada.

"Gus Dur di banyak kesempatan mengatakan bahwa perbedaan bukanlah kelemahan tapi justru anugerah dari Allah agar kita yang berbeda-beda ini bisa saling menghormati satu sama lain," terangnya.

Lukman menilai, Gus Dur dengan pandangan keislamannya yang sangat inklusif telah berhasil membumikan wawasan Islam rahmatan lil alamin yang menjunjung tinggi toleransi (tasamuh), moderasi (tawassuth), dan keseimbangan (tawazun).

Dalam peringatan haul Gus Dur kali ini tampak hadir pula Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Moh Mahfud MD, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahya Purnama (Ahok), serta beberapa tokoh dan kiai lainnya. (Mahbib/Alhafiz K)


Sumber: nu.or.id



Ahok Dipuji Karena Menghadiri Haul Gus Dur

Ahok Dipuji Karena Menghadiri Haul Gus Dur


GusDurFiles.com ~ Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mendapatkan pujian ketika menghadiri Haul Keenam Gus Dur di Jalan Warung Silah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (26/12/2015).

Meskipun non-Islam, Basuki bersedia hadir dalam acara pengajian yang memperingati wafatnya Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut.

"Ahok ini satu-satunya yang enggak sesuai syariah di sini, tetapi bagus dong, Beliau tanggal 26 Desember tetapi datang ke pengajian. Itulah kekuatan almarhum Gus Dur ya," ujar komedian Soleh Solihun yang menjadi pembawa acara tersebut.

"Ahok akhirnya dapat hidayah, sebentar lagi Ahok baca sahadat, ini bagus loh ya," ujar Soleh lagi.

Haul Keenam Gus Dur yang mengangkat tema “Merawat Tradisi, Merajut Hati” ini dihadiri sejumlah tokoh.

Hingga pukul 19.30 WIB, terlihat mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Dewan Pembina DPP Partai Golkar Akbar Tanjung, serta Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli di lokasi acara.

Acara ini juga dihadiri ratusan santri dan pemuka agama. Haul Gus Dur akan diisi dengan pembacaan Al Quran, tausiah, tahlilan, hingga pertunjukan seni.

Sumber : Kompas.com
Inilah Pesan Gus Dur yang Disampaikan Ahok di Depan Jamaah Gereja

Inilah Pesan Gus Dur yang Disampaikan Ahok di Depan Jamaah Gereja

 

GusDurFiles.com ~ Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berpesan agar jemaat gereja melaksanakan 5 tertib Jakarta. Selain itu ia juga mengimbau jemaat gereja mengikuti pesan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

"Saya sampaikan kepada mereka untuk mendukung 5 tertib kita (tertib hunian, tertib lalu lintas, tertib PKL, tertib demo dan tertib buang sampah)," ungkap Ahok usai peresmian GBI Fatmawati, di Jl RS Fatmawati, Cilandak, Jakarta Selatan.

Ahok berpesan pada jemaat untuk tidak melanggar aturan misalnya melanggar lalu lintas. Hal itu menurut Ahok perilaku orang setelah beribadah akan mengubah orang menjadi lebih humanis sehingga bila ada orang yang melakukan pelanggaran justru ada yang salah dalam ibadahnya.

"Jangan sampai orang sudah beribadah di gereja ini keluar dari sini orang ada yang melawan lalu lintas. Jadi kalau kata Gus Dur orang yang beribadah itu harusnya makin humanis, enggak mungkin bisa nyakitin orang gitu loh. Itu sesuatu yang penting tentang rumah ibadah," papar Ahok.

Sementara itu pada malam Natal, tanggal 24 dan 25 Desember 2015 malam Ahok akan berkeliling ke beberapa Gereja bersama Kapolda Irjen Tito Karnavian dan Panglima Komando Daerah Militer Jaya Mayjen Jenderal TNI Teddy Lhaksmana untuk meninjau pengamanannya.

Seperti diketahui, pengamanan pada malam perayaan Natal dilakukan dari berbagai elemen seperti Polri, Polda, TNI di tempat ibadah seperti gereja hingga tempat umum seperti di stasiun kereta api. Para tokoh agama juga diimbau untuk mengimbau terciptanya kondisi yang baik.

Untuk mengamankan Natal dan tahun baru ini, Polda Metro Jaya menggelar operasi khusus bersandikan 'Operasi Lilin' yang akan segera digelar. Kekuatan yang dikerahkan untuk mengamankan kalender kamtibmas tahunan ini sebanyak 8 ribu lebih dari aparat gabungan Polda Metro Jaya, Kodam Jaya dan Pemda DKI Jakarta.


Sumber: detik.com
Ini Kisah Luhut Coba Gagalkan Gus Dur Jadi Ketua PBNU

Ini Kisah Luhut Coba Gagalkan Gus Dur Jadi Ketua PBNU


GusDurFiles.com ~ Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pernah diperintahkan atasannya untuk menggagalkan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Upaya itu gagal karena Gus Dur tetap dipilih menjadi Ketua PBNU oleh para kiai.

"Perintahnya waktu itu, semua komandan korem harus menggagalkan itu (Gus Dur jadi Ketua PBNU)," katanya saat menghadiri acara haul keenam Gus Dur di kantor Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Selasa, 22 Desember 2015.

Waktu itu, Luhut mengaku masih menjadi komandan korem di Komando Resor Militer 081/Dhirotsaha Jaya Madiun, Jawa Timur. Luhut sudah berusaha keras menjalankan perintah atasannya itu tapi gagal karena solidnya kiai-kiai NU yang dikumpulkannya.

Ulama yang dikumpulkan, kata Luhut, sulit dipengaruhi bahwa Gus Dur tidak benar. "Kata para ulama, Gus Dur memang nyeleneh, tapi apa yang diomongin dua tahun lagi baru kejadian."

Luhut juga bercerita bagaimana saat meminta bantuan Gus Dur mengajak warga negara Indonesia yang berada di Singapura pulang pasca-kerusuhan 1998. Ketika itu, Luhut menjadi Duta Besar Indonesia untuk Singapura.

Luhut lantas meminta Gus Dur berbicara dalam bahasa Indonesia. Tiba-tiba ada orang yang menyela dengan mengatakan sebaiknya Gus Dur menggunakan bahasa Inggris. "Gus Dur kemudian ngomong bahasa Inggris, saya bilang, ‘Wah, paten juga ini ulama ngomong bahasa Inggris’."

Luhut juga selalu ingat perkataan Gus Dur yang sempat melontarkan sinyalemen bahwa ia bakal menjadi presiden dalam waktu dekat. Ucapan itu dilontarkan Gus Dur di hadapan para pengusaha Indonesia. "Setelah itu (menjadi presiden), Pak Luhut ini akan saya panggil pulang ke Indonesia," ucap Luhut, menirukan ucapan Gus Dur ketika itu. Dalam Kabinet Persatuan Nasional, Luhut memang dipercaya menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan.

Sumber : Tempo.co
Maulid dan Ucapan Natal Diributkan? inilah Kata Gus Dur

Maulid dan Ucapan Natal Diributkan? inilah Kata Gus Dur


Gusdurfiles.com ~ Hampir setiap tahun, selalu ada pro kontra terkait boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal buat penganut Kristiani, termasuk tahun ini. Alasan pelarangan, perayaan Natal merupakan ritual keagamaan non-Muslim yang tidak dibenarkan bagi umat Islam untuk mengikutinya.

Sejak dulu sebenarnya masalah seperti ini sudah menjadi polemik di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Ada sebagian yang menilai haram, ada juga yang tidak. Nah, untuk memperkaya referensi, ada baiknya anda tahu bagaimana pendapat Gus Dur soal masalah ini.

Gus Dur pernah menulis artikel di Koran Suara Pembaruan pada 20 Desember 2003 berjudul: Harlah, Natal dan Maulid. Menurut Gus Dur, kata Natal yang menurut arti bahasa sama dengan kata harlah (hari kelahiran), hanya dipakai untuk Nabi Isa al-Masih belaka.

Jadi ia mempunyai arti khusus, lain dari yang digunakan secara umum seperti dalam bidang kedokteran ada istilah perawatan pre-natal yang berarti “perawatan sebelum kelahiran”.

Dengan demikian, maksud istilah ‘Natal’ adalah saat Isa Al-Masih dilahirkan ke dunia oleh ‘perawan suci’ Maryam. Karena itulah ia memiliki arti tersendiri, yaitu saat kelahiran anak manusia bernama Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia.

Sedangkan Maulid, Gus Dur menjelaskan, adalah saat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pertama kali dirayakan kaum Muslimin atas perintah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi atau dalam dunia barat dikenal sebagai Saladin, dari Dinasti Mamalik yang berkebangsaan Kurdi. Tujuannya untuk mengobarkan semangat kaum Muslimin, agar menang dalam perang Salib (crusade).

Dia memerintahkan membuat peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad, enam abad setelah Rasulullah wafat. Peristiwa Maulid itu hingga kini masih dirayakan dalam berbagai bentuk, walaupun Dinasti Sa’ud melarangnya di Saudi Arabia. Karya-karya tertulis berbahasa Arab banyak ditulis dalam puisi dan prosa untuk menyambut kelahiran Nabi Muhammad itu.

Dengan demikian, Gus Dur melanjutkan, dua kata (Natal dan Maulid) mempunyai makna khusus, dan tidak bisa disamakan. Dalam bahasa teori Hukum Islam (fiqh) kata Maulid dan Natal adalah “kata yang lebih sempit maksudnya, dari apa yang diucapkan” (yuqlaqu al’am wa yuradu bihi al-khash). Penyebabnya adalah asal-usul istilah tersebut dalam sejarah perkembangan manusia yang beragam. Artinya jelas, Natal dipakai orang-orang Kristiani, sedangkan maulid dipakai orang-orang Islam.



Menurut Gus Dur, Natal dalam kitab suci Alquran disebut sebagai “yauma wulida” (hari kelahiran, yang secara historis oleh para ahli tafsir dijelaskan sebagai hari kelahiran Nabi Isa, seperti terkutip: “kedamaian atas orang yang dilahirkan (hari ini)” (salamun yauma wulid) yang dapat dipakaikan pada beliau atau kepada Nabi Daud. Sebaliknya, firman Allah dalam surat al-Maryam: “Kedamaian atas diriku pada hari kelahiranku” (al-salamu ‘alaiyya yauma wulidtu), jelas-jelas menunjuk kepada ucapan Nabi Isa.

Bahwa kemudian Nabi Isa ‘dijadikan’ Anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah masalah lain lagi. Artinya, secara tidak langsung Natal memang diakui oleh kitab suci al-Qur’an, juga sebagai kata penunjuk hari kelahiran beliau, yang harus dihormati oleh umat Islam juga. Bahwa, hari kelahiran itu memang harus dirayakan dalam bentuk berbeda, atau dalam bentuk yang sama tetapi dengan maksud berbeda, adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan.

“Jika penulis (Gus Dur) merayakan Natal adalah penghormatan untuk beliau (Isa) dalam pengertian yang penulis yakini, sebagai Nabi Allah SWT.”

Dengan demikian, Gus Dur melanjutkan, “menjadi kemerdekaan bagi kaum Muslimin untuk turut menghormati hari kelahiran Nabi Isa, yang sekarang disebut hari Natal. Mereka bebas merayakannya atau tidak, karena itu sesuatu yang dibolehkan oleh agama. Penulis ( Gus Dur) menghormatinya, kalau perlu dengan turut bersama kaum Kristiani merayakannya bersama-sama.”

Dalam litelatur fiqih, Gus Dur mengimbuhkan, jika seorang muslim duduk bersama-sama dengan orang lain yang sedang melaksanakan peribadatan mereka, seorang Muslim diperkenankan turut serta duduk dengan mereka asalkan ia tidak turut dalam ritual kebaktian. Namun hal ini masih merupakan ganjalan bagi kaum muslimin pada umumnya, karena kekhawatiran mereka akan dianggap turut berkebaktian yang sama.

“Karena itulah, kaum Muslimin biasanya menunggu di sebuah ruangan, sedangkan ritual kebaktian dilaksanakan di ruang lain. Jika telah selesai, baru kaum Muslimin duduk bercampur.”

Ada pengakuan dari Romo Antonius Benny Susetyo. Di tengah sakit yang mendera pada 25 Desember 2009, seperti biasanya Gus Dur masih menyempatkan diri menelepon untuk mengucapkan “selamat Natal dan Tahun Baru”, sekaligus menyampaikan salam kepada Romo Kardinal dan teman-teman sejawat lainnya. Demikian tulisan pembuka Romo Antonius Benny Susetyo, Pastor dan Aktivis dalam buku berjudul: Damai Bersama Gus Dur.

“Saya menanyakan kondisi beliau yang oleh beberapa media sudah dikabarkan sakit. Beliau menjawab bahwa dirinya sehat-sehat saja dan saat itu berposisi di kantor PBNU (juga sudah menanyakan sudah makan bubur),” kata Romo Benny yang juga pendiri Setara Institute, itu.

Cerita Romo Benny itu cukup menggambarkan betapa Gus Dur masih teguh memegang prinsip toleransi antar umat beragama di negeri yang majemuk ini. Sikap Gus Dur itu ada baiknya diingat kembali ketika sekarang sedang ribut-ribut komentar ulama di Aceh yang mengharamkan umat Islam mengucapkan selamat Natal dan memperingati Tahun Baru Masehi.

Sampai kini perayaan Tahun Baru Masehi memang masih menuai pro dan kontra di kalangan ulama Islam. Ada yang berkukuh melarang, ada pula yang membolehkan. Bagi sebagian ulama yang membolehkan bisa dilihat dari berbagai kegiatan malam Tahun Baru Masehi yang digelar di Indonesia, misalnya kegiatan zikir nasional.

Contohnya zikir nasional untuk menyambut Tahun Baru Masehi yang diadakan pada malam hari setelah salat Isya. Acara itu dipandu oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham bertempat di Masjid At-Tin Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Acara zikir berjamaah itu menjadi salah satu warna tersendiri dalam menggambarkan kiprah kaum Muslim di Indonesia dari masa ke masa.

Jadi, apakah anda sepakat dengan sebagian ulama yang mengharamkan perayaan Tahun Baru atau justru sepakat dengan yang membolehkan? Hal itu merupakan kemerdekaan anda sebagai muslim dalam memilih sikap. “Gitu aja kok repot..!!!”

Sumber: Merdeka.com
Inilah 3 (tiga) Gagasan Hebat Gus Dur yang Dipandang Sebelah Mata

Inilah 3 (tiga) Gagasan Hebat Gus Dur yang Dipandang Sebelah Mata


gusdurfiles.com ~ Sedikitnya ada tiga isu yang dilemparkan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) baik sewaktu masih sebagai pemimpin informal maupun ketika sudah terpilih sebagai Presiden RI.

Yang pertama bagaimana cara menghadapi Amerika Serikat.

Saat itu, di tahun 1980-an, Gus Dur nampaknya sudah merasakan, cepat atau lambat Amerika Serikat akan mendikte Indonesia. Nah dalam rangka mencegah hal tersebut terjadi, intelektual Islam itu menyuarakan sebuah gagasan yang kontroversial. Gus Dur memberi masukan kepada pemerintah Indonesia yang saat itu dipimpin Jenderal Soeharto. Bahwa untuk membuat negara adidaya Amerika Serikat tidak semaunya mendikte, maka Indonesia perlu menutup beberapa jalur laut internasional yang berada di wilayah Indonesia. Sebab jalur-jalur itu sangat penting dan strategis bagi segi keamanan dan pertahanan global Amerika Serikat. Kalaupun tidak menutup, setidaknya kapal-kapal perang Amerika Serikat tidak lewat secara gratis atau sembunyi-sembunyi seperti pelintas batas sebuah negara atau ilegal traficking.

Cukup Selamat Lombok saja yang ditutup, kata Gus Dur ketika itu. Dengan menutupnya, armada perang Amerika Serikat yang lalu lalang dari pangkalan militernya di Filiipina ke Samudera India, akan mengalami kesulitan. Mau tidak mau harus memutar puluhan ribu kilometer laut, yang otomatis akan berdampak pada biaya operasi dan kecepatan.

Amerika Serikat, tak ada pilihan harus berunding dan di situlah kesempatan Indonesia meminta konsesi. Atau dengan tawaran tersebut otomatis akan terjadi perundingan. Dan sebuah perundingan yang sehat, mau tidak mau akan saling memberi dan saling meminta. Jadi Indonesia tidak perlu takut menghadapi kebesaran Amerika Serikat.

Ketika Gus Dur menyuarakan gagasan itu, tidak ada yang memberi komentar. Terutama dari kalangan militer apalagi para kaum cendekia dan pengamat. Entah karena saa itu kebebasan berbicara tidak begitu terjamin atau ada alasan lainnya.

Saat itu Perang Dingin masih sedang hangat-hangatnya. Perang yang bersumbu pada persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Sovyet.

Armada perang laut Amerika Serikat diketahui sering masuk keluar wilayah Indonesia. Yang sudah umum diketahui, lewat Selat Malaka. Tetapi yang tidak banyak diketahui publik yaitu yang lewat Selat Lombok dan satu lagi yang berada di sekitar Pulau Flores dan Timor.

Selat Lombok dan yang di Pulau Flores, menjadi jalur yang efisien bagi Armada Amerika Serikat. Jalur yang menghubungkan pangkalan militernya di Subic (Filipina) dan Diego Garcia, pangkalan militer lainnya di tengah Samdera Hindia.

Pernyataan yang tersiar sekitar 30 tahun lalu itu, sejatinya masih tetap relevan hingga sekarang. Persoalannya, apakah dalam rezim pemerintahan sekarang, ada pihak yang punya keberanian dan integritas?

Isu atau gagasan kedua yang disampaikan Gus Dur yaitu soal pembubaran Golkar sebagai sebuah partai politik. Gagasan ini diwacanakan oleh Gus Dur tak lama setelah terjadi reformasi di tahun 1998. Sepanjang yang diraba dari pernyataan tokoh NU itu, Gus Dur cukup muak dengan prilaku para petinggi Golkar. Bahkan ada kesan, Golkar yang membangun Indonesia, tetapi Golkar pula yang mengancurkan Indonesia.

Gerakan anti-Golkar sudah mulai di Jawa Timur, tak lama setelah gagasan Gus Dur itu disiarkan oleh media. Beruntung kader Golkar pada saat itu – yang juga menjabat Ketua Umum DPP, Ir. Akbar Tanjung cepat bertindak. Dalam arti cepat mengambil langkah-langkah pencegahan, jangan sampai pemikiran Gus Dur menjadi sebuah kenyataan.

Selain itu parpol-parpol lainnya yang bisa disebut sebagai parpol “main-stream”, juga kurang peka. Sehingga gagasan Gus Dur itu seperti gayung tak bersambut. Seandainya Partai Golkar dibubarkan – sebutlah 15 tahun lalu, sejarah Indonesia mungkin berubah dari yang dicatat sekarang. Demikian pula jika Golkar dibubarkan pada era Gus Dur, mungkin tak akan terjadi kasus yang sekarang sangat populer “Papa Minta Saham”.

Bila saja Golkar sudah tidak ada dalam sistem kepartaian Indonesia, sidang Mahkamah Kehormatan Dewan, DPR-RI tak akan tertutup bagi publik. Soal benar atau salah yang dilakukan Mahkamah Kehormatan Dewan yang pasti timbulnya kegaduhan politik akibat “Papa Minta Saham” tak lepas dari cara Golkar berpolitik.

Terakhir dan cukup populer bahkan memakan korban yaitu penilaian Gus Dur tentang para anggota DPR-RI. Menurut Gus Dur yang waktu itu baru saja dilantik sebagai Presiden RI ke–4 (1999 – 2001), para anggota DPR sama saja dengan murid sekolah Taman Kanak-Kanak. Dan atas alasan itu pula, Gus Dur ingin membubarkan DPR-RI melalui Dekrit Presiden.

Tidak sempat mengeluarkan Dekrit, sebaliknya para anggota DPR berkonspirasi dengan anggota MPR-RI lalu melengserkan Presiden Gus Dur. Ia pun digantikan oleh Megawati Soekarnoputri, Wapresnya dari PD-P. Mungkin kalau Gus Dur sempat membubarkan parlemen, saat ini kita tidak punya parlemen yang sering di-bully, di-meme atau dilecehkan.

Kini Gus Dur sudah terbaring dengan tenang di tempat persitirahatannya yang terakhir, di kawasan Pondok Pesantren, Tebu Ireng. Selain tiga gagasan itu, masih banyak sebetulnya cerita-cerita politik yang ringan tapi berbobot yang ditinggalkannya.

Orang yang baik selalu dikenang. Itulah Gus Dur, Presiden RI yang hanya memerintah selama 1,5 tahun, tapi meninggalkan kenangan manis yang cukup banyak. Seakan Gus Dur pernah memerintah Indonesia selama 15 tahun atau tiga periode dengan berbagi cerita yang bisa membuat orang terkekeh-kekeh.

Gitu aja koq repot, sebuah celetukan populer dari almarhum.

Oleh: Derek Manangka./muslimedianews.com


Dukungan dan Penolakan Din Syamsuddin/Muhammadiyah Terhadap Hari Santri Nasional

Dukungan dan Penolakan Din Syamsuddin/Muhammadiyah Terhadap Hari Santri Nasional


GusDurFiles.com ~ Surat Penolakan Prof Din Syamsuddin Terhadap Hari Santri Nasional

Prof. Dr. KH. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA, atau yang dikenal dengan nama Din Syamsuddin pada 16 Oktober 2015 melayangkan sebuah surat kepada Presiden RI Joko Widodo yang intinya menolak adanya penetapan Hari Santri Nasional. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menyatakan Hari Santri Nasional dapat mengganggu persatuan bangsa dan memecah belah umat Islam karena dapat mendorong menguatnya kaum abangan. Dikhawatirkan ini akan memunculkan lagi dikotomi Islamisme-Nasionalisme yang sudah mulai mencair.

Terkait Hari Santri yang ditetapkan pada tanggal 22 Oktober, Din Syamsuddin juga berpandangan itu akan menyempitkan makna jihad yang dilakukan para pahlawan baik sebelum maupun sesudah era kemerdekaan. Bahkan dikatakan jika Hari Santri dikaitkan dengan Resolusi Jihad 22 Oktober dapat menjadi pemghambat upaya jihad selama ini ke arah yang lebih luas.

Kalaupun terpaksa diadakan Hari Santri, Din Syamsuddin meminta agar dicarikan tanggal yang lain dan Hari Santri dengan inti kesantrian dapat dikaitkan denagn Pancasila, khususnya Sila Pertama. Dalam hal ini, kesantrian adalah buah pengamalam Ketuhanan Yang Maha Esa.

Berikut adalah isi surat Din Syamsuddin yang dikutip dari situs resmi PP Muhammadiyah yang dipublikasikan pada 17 Oktober 2015:

Yth: Bapak Presiden Jokowi

Sehubungan berita bahwa pada 22 Okt 2015 Pemerintah akan nyatakan sebagai Hari Santri Nasional,
izinkan saya menyampaikan hal-hal berikut:


  1. Adalah tidak tepat, taktis dan strategis adanya Hari Santri Nasional, karena hal itu dapat mengganggu persatuan bangsa. Dikotomi Santri-Abangan adalah upaya intelektual orang luar untuk memecahbelah umat Islam dengan mengukuhkan gejala budaya yang sesungguhnya bisa berubah (process of becoming) tersebut.
  2. Sejak beberapa waktu lalu Alm. Bapak Taufik Kiemas, yang kami dukung, berupaya untuk mencairkan dikotomi tersebut, termasuk mencairkan dikotomi Islamisme-Nasionalisme. Salah satu pengejawantahannya adalah didirikannya Bamusi di lingkungan PDIP. Adanya Hari Santri Nasional berpotensi mengganggu upaya luhur tadi. Menguatnya “Kaum Santri” bisa mendorong menguatnya “Kaum Abangan”. Tentu Pemerintah akan kerepotan jika ada desakan utk adanya Hari Abangan Nasional.
  3. Apalagi Hari Santri Nasional dikaitkan dengan tanggal dan peristiwa tertentu (Resolusi Jihad 22 Okt), adalah penyempitan/reduksi jihad para pahlawan yang sudah dimulai ber-abad2 sebelumnya termasuk sebelum kemerdekaan yang lebih bersifat luas, bukan dikaitkan dengan kelompok tertentu. Juga, penekanan pada resolusi jihad yang lebih berona fisikal/harbi menjadi pemghambat upaya jihad selama ini ke arah lebih luas (jihad iqtishadi/ekonomi, jihad ‘ilmi/iptek, jihad i’lami/informasi).
  4. Hari Nasional (kecuali hari-hari besar keagamaan), haruslah menjadi hari bagi semua elemen bangsa. Maka kalau terpaksa harus ada Hari Santri (karena fait-a-compli politik pada saat Pilpres), mungkin bisa dicari tanggal lain, dan Hari Santri dengan inti kesantrian bisa dikaitkan dengan Pancasila, khususnya Sila Pertama. Dalam hal ini, kesantrian adalah buah pengamalam Ketuhanan Yang Maha Esa.

Terima kasih. Salam takzim,
Din Syamsuddin.

Kabar bahwa PP Muhammadiyah menolak #HariSantri22Oktober membuat masyarakat khususnya umat Islam bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Apalagi aksi penolakan ini terjadi sehari setelah dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan Hari Santri Nasional 22 Oktober, yang ditandatangani oleh Presiden Jokowi pada Kamis, 15 Oktober 2015.

“Secara khusus saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan bahwa Presiden melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 telah menetapkan Hari Santri yaitu pada tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri, dan Hari Santri bukan merupakan hari libur. Sehingga sekali lagi kami sampaikan dengan keputusan maka tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri dan hari santri bukan merupakan hari libur,” kata Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung dalam keterangan pers seusai rapat terbatas yang membahas masalah pariwisata, di kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis (15/10) sore sebagaimna dilansir dari situs Sekretaris Kabinet RI.

Pertanyaannya, kenapa baru sekarang menolak, tidak sejak dari awal dicanangkan?

Sejarah Awal Pencanangan Hari Santri Nasional

Pencanangan Hari Santri Nasional merupakan salah satu janji Jokowi yang saat itu menjadi calon presiden (capres) pada pemilihan presiden (pilpres) 2014. Sejarah penetapan Hari Santri Nasional diawali atas permintaan Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Babussalam Banjarejo, Malang, Jawa Timur, KH Thoriq Darwis kepada capres Jokowi yang sedang berkunjung ke ponpes tersebut pada Jum’at, 27 Juni 2014. Jokowi pun berjanji untuk memperjuangkannya. Kunjungan Jokowi saat itu diakhiri dengan penandatanganan surat perjanjian penyanggupan penetapan Hari Santri Nasional pada 1 Muharram yang disaksikan oleh Tim Kampanye Jokowi dan segenap jajaran kyai dan ulama Ponpes Babussalam.

“Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirahim, dengan ini saya mendukung 1 Muharram ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional,” janji Jokowi pada Jumat (27/6/2015).

Dalam ajaran Islam dan mungkin semua agama di dunia, seseorang yang telah berjanji maka ia harus berusaha dan bekerja keras untuk bisa menepatinya. Begitu pun dengan Presiden Jokowi saat ini yang ingin menepati janjinya yang dulu pernah diucapkannya dulu terkait Hari Santri. Kita pun masih ingat dengan jelas sekitar setahun yang lalu (2014) setelah terpilihnya Jokowi sebagai Presiden RI ke-7, bagaimana masyarakat Indonesia khususnya umat Islam menagih janji Hari Santri. Hanya saja penetapan Hari Santri yang rencananya dilakukan pada 1 Muharram diminta untuk diganti menjadi 22 Oktober karena 1 Muharram merupakan Tahun Baru Hijriah yang mempunyai makna lebih luas ketimbang Hari Santri.

Salah satu tokoh nasional dan panutan ummat yang bersuara lantang meminta Jokowi untuk merealisasikan janjinya menetapkan Hari Santri adalah Prof. Din Syamsuddin sendiri. Beliau yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah seklaigus Ketua Umum MUI Pusat mendukung dengan tegas adanya Hari Santri Nasional yang dinilai sebagai langkah yang bagus.

“Saya mendukung saja rencana pencanangan Hari Santri, itu adalah langkah yang bagus…. Hari Santri Nasional adalah komitmen pemerintah, oleh karena itu kami berharap janji yang dulu pernah ditawarkan pada kampanye pilpres,” kata Din Syamsuddin di Jakarta, Sabtu (25/10/2014).

Sehari setelah menyatakan dukungan dan menagih janji Hari Santri, Din Syamsuddin juga menyatakan bahwa Hari Santri adalah baik dan mempersilahkan untuk diadakan. Hal ini diungkapkan Din Syamsuddin di sela-sela acara Peringatan Akbar Tahun Baru Islam 1436 H di Gelora Bung Karno Jakarta pada 26 Oktober 2014. Beliau pun menyerahkan keputusan terkait Hari Santri ini sepenuhnya kepada Presiden Jokowi dan saat itu beliau juga memaklumi Presiden yang belum bisa memutuskan adanya penetapan Hari Santri karena memang pemerintahannya saja belum terbentuk. Menurut Din Syamsuddin harus ada Keppres Hari Santri terlebih dahulu.

“Hari santri itu baik, tapi jangan dikaitkan dengan 1 Muharram… Hari santri silakan diadakan, cari hari-hari lain, saya tidak tahu mana yang tepat, biarlah nanti pemerintah memutuskan. 1 Muharram ini hari kita semua, umat Islam sedunia, jangan dipersempit jadi hari kelompok tertentu atau hari santri saja, tapi hari santri karena sudah menjadi janji kampanye, silakan dilaksanakan. Hari santri itu adalah usul aspirasi pada saat kampanye Pilpres, maka kita serahkan pada presiden. Cuma tidak harus sekarang, enggak mungkin presiden pemerintahannya belum terbentuk, kemudian harus ada Kepres Hari Santri,” ungkap Din Syamsuddin di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (26/10/2014).

Tentu menimbulkan tanda tanya ketika dulu mendukung dan meminta Presiden Jokowi untuk menetapkan Hari Santri, tiba-tiba setelah Jokowi memenuhi janjinya dan telah menetapkan Hari Santri kok menjadi yang terdepan menolaknya?. Apalagi ini terkait janji yang mana sebisa mungkin harus ditepati. Aneh saja ketika seseorang sudah menepati janjinya justru “disuruh mengingkari” janji itu. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu sampai-sampai apa yang diucapkannya setahun yang lalu dan sekarang berbeda dan sangat bertolak belakang? Mungkinkah ia lupa atau ada motif-motif tertentu yang melatarbelakanginya? Kita ketahui bersama bahwa tokoh-tokoh dan para pemimpin Muhammadiyah adalah panutan ummat yang menjadi teladan bagi masyarakat Indonesia. Jika ada persetujuan atau pun penolakan Hari Santri tentu akan mempengaruhi masyarakat khususnya umat Islam Indonesia.

Ponpes dan Ormas Islam Termasuk Muhammadiyah Sepakat Hari Santri Nasional pada 22 Oktober

Ketahuilah Hari Santri adalah milik kita bersama, milik masyarakat Indonesia, milik umat Islam Indonesia termasuk Muhamamdiyah dan Nahdlatul Ulama dan ormas-ormas Islam lainnya. Kita hargai keputusan PP Muhammadiyah yang baru-baru ini menolak penetapan Hari Santri Nasional. Yang jelas penetapan ini bukan dimaksudkan untuk menimbulkan polarisasi santri dan non-santri, bukan untuk menguatkan perbedaan antara kaum santri dan abangan, dan bukan pula untuk memecah belah persatuan bangsa dan ukhuwah umat Islam. Tapi Hari Santri Nasional ditetapkan salah satunya bertujuan agar pemerintah lebih memberikan perhatian lebih kepada para santri dan pondok pesantren, mengingatkan negara untuk peduli terhadap pengembangan pendidikan pesantren dan santri, meneguhkan kontribusi santri dan pesantren di Indonesia yang memang layak mendapatkan apresiasi monumental dari bangsa, sehingga diharapkan nantinya masyarakat dan pemerintah bisa bersama-sama saling mendukung dan membangun Indonesia yang lebih baik melalui santri dan pesantren yang telah banyak berjasa terhadap agama, bangsa, dan negara.

Dan perlu diketahui juga sejak awal proses penetapan hari santri, berbagai ormas Islam termasuk Muhammadiyah selalu diikutsertakan. Bahkan pada saat Focus Group Discussion (FGD) pada April 2015 di Bogor yang dihadiri Sekretaris Umum PP Muhammadiyah era kepemimpinan Din Syamsuddin, Muhammadiyah mengaku sangat menghargai soal penetapan hari santri dan tidak mempermaslahkannya. Hanya saja, Muhammadiyah mengusulkan agar tidak ada kepentingan politik dalam proses penetapan hari santri. Dan meminta agar definisi terminologi santri diperluas. Dan usulan Muhammadiyah ini sudah dipenuhi dan diakomodir.

Acara pertemuan FGD ini sendiri diikuti oleh 90 orang perwakilan yang terdiri dari berbagai unsur Pimpinan Lembaga Keagamaan dan Pesantren, dan Ormas Islam seperti PBNU, PP Muhammadiyah, MUI, Al Washliyah, PUI, Mathlaul Anwar, Forum Komunikasi Dai Muda Indonesia, dan lain sebagainya serta para akademisi. Dalam FGD itu, semuanya sepakat menetapkan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober. Kesepakatan ini kemudian diperkuat lagi dalam pertemuan FGD berikutnya pada Agustus 2015 di Bogor. Dan kini pemerintah melalui Keppres juga telah menetapkan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober. Jadi, penetapan Hari Santri Nasional ini telah melalui beberapa proses yang cukup panjang dan telah disepakati bersama sehingga tidak ada keraguan lagi untuk menolak dan tidak mendukungnya. Mari bersama-sama kita dukung #HariSantriNasional #HariSantri22Oktober dan #AyoMondok.

SELAMAT DAN SUKSES ATAS PENETAPAN HARI SANTRI NASIONAL PADA 22 OKTOBER WWW.HARISANTRI.ID

Sumber : elhooda.net
Berikut Pernyataan Jaringan Gusdurian terhadap aksi kekerasan di aceh singkil

Berikut Pernyataan Jaringan Gusdurian terhadap aksi kekerasan di aceh singkil


GusDurFIles.com ~ Tanggal 13 Oktober 2015 kembali terjadi peristiwa berdarah yang menodai persatuan, perdamaian, dan toleransi yang selama ini telah dengan keras diperjuangkan. Peristiwa kekerasan ini terjadi di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh. Ratusan orang bersenjata tajam mengamuk dan menyerang sejumlah gereja.

Terjadi bentrokan dan setidaknya dua buah gereja dibakar oleh massa. Sebelumnya, beredar seruan gelap melalui teks pesan pendek yang menyerukan permusuhan kepada gereja di Aceh Singkil. Selain rusaknya tempat ibadah, korban dari kedua belah pihak yang bertikai pun berjatuhan. Sejumlah orang mengalami luka-luka, dan terdapat korban jiwa akibat terkena tembakan. Salah seorang yang menjadi korban tewas adalah seorang warga muslim.

Kekerasan ini, sekali lagi, menambah catatan aksi intoleransi, pelanggaran hak warga negara yang dijamin konstitusi yakni hak untuk menjalankan ibadah, termasuk hak untuk mendirikan tempat ibadah, di negeri ini. Aksi kekerasan yang melibatkan banyak orang ini juga menandai bahwa dalam isu-isu kegamaan, kekerasan masih menjadi bahasa utama. Kekerasan ini juga menunjukkan masih terlalu banyak kebencian dan ketidakmampuan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Berkaitan dengan peristiwa menyedihkan tersebut, Jaringan GUSDURian Indonesia menyatakan:


  1. Mengutuk dan mengecam keras tindakan kekerasan yang dilakukan sekolompok orang yang mengancam, merusak, dan membakar gereja di Aceh Singkil, Aceh.
  2. Meminta aparat untuk melindungi hak beribadah semua warga negara, termasuk kelompok lemah dan minoritas, sesuai dengan amanat konstitusi, sekaligus mencegah terjadinya konflik horisontal.
  3. Meminta kepada aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas, mengadili pelaku,  dan mengungkap dan menangkap para aktor yang merencanakan aksi kekerasan ini.
  4. Menghimbau kepada semua pihak untuk menjaga diri, menjaga toleransi, dan tidak terpancing untuk melakukan kekerasan dan bentrokan selanjutnya yang akan mengakibatkan perpecahan, kekacauan, kerusuhan, dan konflik horisontal yang merugikan masyarakat. Semua pihak perlu untuk selalu mendorong perdamaian dan  mengedepankan dialog agar setiap konflik tidak berujung pada kekerasan.
  5. Meminta kepada semua pihak untuk mengedepankan nilai keadilan dan kedamaian, agar bisa bersikap adil kepada orang lain dan tidak mementingkan kepetingan diri atau kelompoknya saja.
  6. Meminta agar semua peraturan tentang pendirian tempat ibadah yang diskriminatif di seluruh Indonesia untuk ditinjau ulang.

Alissa Wahid

 

Seknas Jaringan Gusdurian

Sumber : Gusdurian.net
Cerita kocak paspampres ketika terpisah dari rombongan RI-1( Gus Dur )

Cerita kocak paspampres ketika terpisah dari rombongan RI-1( Gus Dur )

GusDurFiles.com ~ Kisah kocak tentang Gus Dur memang tidak ada akhirnya. Sebenarnya, saya sudah banyak mendengar cerita keunikan almaruhum Abdurrahman Wahid semasa hidup. Selain dari buku, tentu saja hal unik itu didapatkan dari orang dekatnya ketika mengikuti acara haul, seperti Mahfud MD, Luhut Panjaitan, dan Said Aqil Siradj.

Namun, saya benar-benar terkejut ketika mendapat penuturan dari mantan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspamres), Mayjen (Purn) I Putu Sastra Wingarta. Meski menyandang jabatan prestisius, Putu memelesetkannya menjadi Komandan Pasukan Penuntun Presiden (Danpastunpres).

Dia tidak asal sebut. Pasalnya, dalam kesehari-hariannya, ia bertugas untuk menuntun Gus Dur. Dia juga menjadi orang pertama yang selalu menggandeng Universitas Baghdad ini ketika turun dari mobil. Pun ketika naik tangga maupun turun tangga, harus dilakukan secara hati-hati.

“Ada teknik khusus saat saya menjulurkan tangan untuk menuntun Gus Dur. Di lingkungan Istana, inilah mengapa saya dijuluki sebagai Danpastunpres,” katanya pada akhir Januari lalu.

Putu bertutur tentang pengalamannya paling menegangkan selama mengawal Presiden yang memiliki usia pemerintahan setahun sembilan bulan ini. Kisah itu sangat sedikit yang mengetahuinya lantaran pada masanya bersifat top secret. Hanya segelintir orang dekat dan lingkaran Istana Negara saja yang mengetahuinya.

Kejadiannya bermula ketika Gus Dur baru melakukan kunjungan ke Timur Tengah. Ketika sampai bandara di Dubai, Uni Emirat Arab, rombongan Presiden keempat RI dijadwalkan meluncur ke Hotel Horizontal. Namun, dalam perjalanan terjadi hal yang tidak pernah terduga.

Iring-iringan RI-1 yang terdiri lima mobil terpisah menjadi dua. Mobil pertama (pengawal depan) dan kedua yang dihuni Gus Dur terus meluncur. Adapun, mobil ketiga yang ditumpangi Putu dan keempat dihuni sekretaris militer Presiden, serta mobil terakhir yang berisi pengawal belakang mengambil arah satunya. Kagetlah Putu.

Pengajar Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) ini langsung berdebat panjang lebar dengan sang sopir. Sialnya, usahanya sia-sia. Itu karena ia tidak bisa berbahasa Arab. Pun sebaliknya, sang sopir tidak mengerti bahasa Inggris.

Putu dengan nada tinggi menyuruh pengemudi untuk berbalik arah mengikuti rangkaian di depannya. Sayangnya, perdebatan yang menguras emosi itu tidak menemukan solusi. Yang Putu tangkap, pengemudi merasa benar lantaran mobil sedang menuju ke Hotel Horizontal.

Putu hampir lepas kendali mau memukul orang Arab itu. Di tengah kepanikan lantaran tidak bisa menghubungi Gus Dur, Putu seketika mengontak Panglima TNI Laksamana (Purn) Widodo AS. Danpaspampres pertama dari Bali ini harus melaporkan kejadian genting itu ke atasannya untuk meminta arahan.

“Mengapa bisa terjadi seperti itu?” kata Putu menirukan ucapan Panglima TNI yang merasa janggal bagaimana Paspampres dapat terpisah dengan RI-1. Singkat cerita, setelah menjelaskan kronologis dan melakukan koordinasi dengan atasan militernya itu, Putu tetap melanjutkan perjalanan sesuai jadwal semula.

Hati Putu terus berdebar-debar selama menunggu di lobi hotel. Ternyata, baru diketahui bahwa Gus Dur secara mendadak di tengah perjalanan meminta diantar ke Hotel InterContinental. Pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini terbersit ingin menemui Menteri Luar Negeri Alwi Shihab yang tengah berada di situ untuk bercengkerama.

Sejam berpisah, rombongan Gus Dur tiba di Hotel Horizontal. Putu membuka pintu mobil dan meraih tangan Gus Dur sambil meminta maaf. Dia mengaku lalai dalam bertugas dan siap hukum. Putu menjelaskan detail kronologis kepada bosnya hingga rombongan terpisah di tengah jalan.

Menurut dia, nama hotel yang memiliki akhiran yang sama, yakni ‘Tal’ membuat antarsopir salah koordinasi. Meski sang sopir yang membawa rombongan Putu sudah dijelaskan dan diperintahkan untuk menyusul Gus Dur, pengemudi masih keukeuh bahwa ia sudah benar. Bagaimana respon Bapak Tionghoa Indonesia ini?

“Beliau hanya tertawa saja, haaaa,” kata Putu menirukan Gus Dur. “Yaa, begitulah memang orang Arab,” imbuhnya. Putu menjadi lega tidak terkena damprat atas kesalahan yang sangat fatal itu. Mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini malah menerangkan kepada Putu tentang kharakter orang Arab hingga membuatnya mafhum.

Dalam hati, alumnus doktor Universitas Gadjah Mada tersebut berjanji tidak akan mengulangi keteledorannya lagi. Jikapun lain kali harus berurusan dengan orang Arab, ia tak mau berdebat dan akan menghantamnya, tidak sekadar berdebat. Dia menyesal dan tidak ingin membiarkan keamanan RI-1 di luar jangkauan Paspampres lagi.

Putu membandingkan, tugas Paspampres terasa lebih ringan ketika mendampingi Gus Dur ke Amerika Serikat (AS) daripada ke negara-negara Arab. Pasalnya, di negeri Paman Sam, setiap prosedur tetap (protap) berlaku secara ketat. Sehingga, seumpama Gus Dur di tengah jalan ingin bertemu seseorang di luar jadwal resmi, pasti tidak akan dituruti Secret Service.

Berbeda dengan aturan di Timur Tengah, berdasarkan pengalamannya, tidak ada aturan baku terkait pengamanan Presiden. Sehingga, kalau Gus Dur tiba-tiba berkehendak ingin membuat agenda, pasukan pengamanan negara setempat bisa menurutinya. “Saya merasa lebih aman mengawal Gus Dur ketika berkunjung ke Amerika,” kata Putu.

Satu kelakar yang bisa didapat Putu dari Doktor Kehormatan Universitas Sun Moon, Seoul ini. Kegemaran Gus Dur dalam berkunjung ke berbagai belahan dunia membuat Putu hormat dan memiliki bermacam-macam pengalaman dalam memberi jaminan keamanan di berbagai negara di lima benua. Alhasil, ia memiliki julukan khusus untuk Gus Dur.

“Jika Presiden pertama Bung Karno dijuluki sebagai negarawan, Presiden kedua Pak Harto dijuluki hartawan, dan Presiden ketiga Pak BJ Habibie dijuluki sebagai ilmuwan, maka semasa Gus Dur menjadi Presiden dijuluki sebagai wisatawan,” kata Putu.

Penulis : Erik Purnama Putra Pemilik Blog elangkesepian.wordpress.com
Dengan mata "Tertutup" Gus Dur masih bisa melihat

Dengan mata "Tertutup" Gus Dur masih bisa melihat


GusDurFiles.com ~ Diantara tempat yang sering dikunjungi oleh Alm KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)  adalah Pesantren Asy-Syafi’iiyah Kedungwungu, Kec. Krangkeng Indramayu Jawa Barat, minimal dalam setahun dua kali Gus Dur berkunjung di pesantren yang terletak di pinggiran sungai/irigasi desa itu.

Tepat beberapa hari Gus Dur lengser dari kursi kepresidenan Gus Dur berkenan mengunjungi pesantren asuhan KH Afandi Abdul Muin Syafi’i itu.

Dalam kondisi –baru lengser itu- tentunya  Gus Dur sedang menjadi perhatian publik, panitia berinisiatif membuat panggung pengajian yang diletakkan di tepi sungai di depan pesantren itu, -karena halaman pesantren kurang luas-, dengan posisi panggung menghadap sungai, sehingga hadirin diposisikan di sepanjang jalan yang berdampingan dengan sungai. Saat itu Nasrulloh Afandi, salah satu santri di pesantren tersebut ikut jadi panitia.

Di hari H, sebelum Gus Dur tiba di lokasi, puluhan ribu hadirin berdatangan,dari berbagai pelosok Kabupaten Indramayu,Cirebon dan sekitarnya, dengan aneka latar belakangnya. Termasuk saat itu Wakil Bupati Indramayu yang terlambat datang pun harus rela masuk lokasi melalui pematang sawah, lewat pintu belakang dapur pesantren karena jalan depan jadi lautan manusia.

Saat berbicara di atas panggung, tiba-tiba Gus Dur bilang ”Ini baru pertama kali saya ceramah di tepi sungai, jadi terasa sejuk, melebihi AC, ya maklum desa tempat membuang jin, jauh dari kota he he.. he…” sambil tertawa terkekeh-kekeh khas Gus Dur.

Tentu saja orang yang mendengar terheran-heran, darimana Gus Dur tahu kalau panggung itu di tepi kali. Padahal tidak ada yang ngasih tahu sebelumnya.

Ditengah-tengah orasinya, Gus Dur bilang ”Indramayu ini punya PT Pertamina dengan sumber daya besar, itu tidak jauh dari sini, tetapi masyaraktnya belum makmur, ini sebagai bahan evalusai pemerintah daerah,” tandas Gus Dur, dengan jari telunjuk tangan kiri ke arah lokasi dimana PT Pertamina Balongan berada, identiknya orang yang melihat dengan normal dan memahami lokasi daerah tersebut.

Setelah cukup lama berorasi tiba-tiba Gus Dur pun melihat jam tangan yang berada di pergelangan tangannnya (lihatlah foto-foto Gus Dur, ke mana-mana Ia selalu memakai jam tangan,red)

Sambil melihat jam tangan, tanpa ada yang mengasih tau, kemudian Ia bilang: “Ini sudah pukul empat sore, saya harus ke tempat Kiai Fuad Hasyim Buntet (Cirebon, red). Padahal jadwal semula saya mau ke Buntet dulu, terus ke Kedungwungu, tetapi berubah, ke Kedungwungu duluan, nah itu kiai Fuad-nya sudah jemput saya, sambil menunjuk ke arah alm KH Fuad Hasyim yang berada di bawah di samping panggung,” tandas Gus Dur, waktu yang dikatakannya pun betul, identiknya orang yang melihat jam secara normal saat itu.

Alhasil, Gus Dur matanya“tertutup” sebagaimana disaksikan oleh orang banyak, tetapi sejatinya Ia bisa melihat. wallahu a’lam. (mukafi niam, NU Online)
Ketika mobil Gus Dur dibuntuti dan dihentikan polisi

Ketika mobil Gus Dur dibuntuti dan dihentikan polisi

GusDurFiles.com ~ Suatu hari, Gus Dur mendapat undangan menjadi pembicara di luar kota. Dari rumah Ciganjur, Gus Dur menaiki mobil pribadinya yang dikemudikan Nurudin Hidayat. 

Tidak seperti biasanya, kali ini Gus Dur tanpa pengawalan mobil pratoli. Agar cepat sampai lokasi acara, Nuruddin pun menyetir dengan kecepatan tinggi. Tak peduli jalanan ramai, banyak lalu lalang kendaraan lainnya.

Baru berjalan puluhan kilo meter di tengah kota, mobil Gus Dur dibuntuti mobil polisi. Lewat microfon, polisi berteriak meminta mobil Gus Dur menepi di pinggir jalan.

"Selamat siang Pak," kata seorang polisi yang turun dari mobilnya.

"Siang juga," jawab Nuruddin seraya membuka kaca pintu mobilnya.

"Bapak mengemudi dengan kecepatan tinggi, sangat membahayakan," sahut polisi yang dibalas anggukan Nuruddin.

 Setelah beberapa pertanyaan diajukan, tiba-tiba polisi tadi bengong.

"Itu Pak Gus Dur, ya?” Tanya polisi sambil melihat Gus Dur tengah duduk tertidur di sebelah Nuruddin.

"Iya pak."

Tanpa menanyai kesalahan Nuruddin yang mengemudi dengan kecepatan tinggi tadi, polisi mempersilahkan Nuruddin melanjutkan perjalanan lagi. Sudah lolos, polisi malah meminta izin untuk mengawal perjalanan Gus Dur sampai ke lokasi.

Saat Gus Dur bangun, ia bertanya perihal kejadian tersebut.  Nuruddin pun menjelaskan kepada Gus Dur panjang lebar hingga polisi mengawalnya. "Oooo. Belum tahu dia (polisi)," kata Gus Dur sambil tertawa ngakak. (Qomarul Adib, NU Online)


Gus Dur "Berikan Uangmu Pada Pengemis Itu, Allah Segera Mengganti"

Gus Dur "Berikan Uangmu Pada Pengemis Itu, Allah Segera Mengganti"

Ilustrasi.
GusDurFiles.com ~ Pada suatu pagi, Gus Dur -masih menjabat sebagai ketua PBNU- berziarah ke makam Sunan Ampel bersama dengan Asmanu -wartawan yang telah akrab-. Ketika memasuki kawasan makam, tiba-tiba datang seorang pengemis yang meminta-minta. Gus Dur mengecek kantong bajunya, tetapi ia tidak menemukan selembar uang -sebelumnya Gus Dur telah memasukkan uangnya ke dalam salah satu kotak amal yang tersedia-.

Gus Dur pun menyuruh Asmanu untuk memberikan uangnya pada pengemis itu, “As, kasih pengemis itu”, perintah Gus Dur, Asmanu berkata, “Cuma tinggal 5 ribu Gus, nanti kalo perlu apa-apa”, Gus Dur menimpali, “masih untung kamu punya 5 ribu, pengemis itu tidak punya apa-apa”. Walhasil, karena perintah Gus Dur dengan agak berat hati ia memberikan uang 5 ribunya kepada si pengemis.

Setelah selesai menemani Gus Dur Asmanu pun pulang dengan kantong kosong. Sore harinya, ia bertemu dengan kawan lamanya -pegurus persatuan Tionghoa Indonesia- yang telah bertahun-tahun tidak pernah bertemu. Mereka pun asyik berbincang tentang kisah-kisah pertemanan masa lalunya.

Tanpa diduga ketika berpisah, teman lamanya memberinya uang 500 ribu. Ia pun menerimanya dengan senang hati, tetapi ia berfikir kenapa ia memberinya uang, kebaikan apa yang pernah dilakukannya kepada temannya itu.

Namun, pikirannya malah tertuju pada uang 5 ribu yang diberikannya pada pengemis pagi tadi di makam Sunan Ampel. Belum genap sehari, Allah telah membalas sedekahnya, Alhamdulillah.

Sumber : embunhati.com
Ketika Akan Tsunami, Gus Dur Sudah Tahu

Ketika Akan Tsunami, Gus Dur Sudah Tahu


GusDurFiles.com ~ Pada saat H. Sulaiman berada di dalam Majid Agung Demak, ia mendapatkan telephon dari Gus Dur yang tiba-tiba menyuruhnya membuka Al-Qur’an. Gus Dur hanya menyuruhnya membuka Al-Qur’an dengan tanpa menyebutkan surat apa dan ayat berapa. Dan yang dibuka oleh H. sulaiman saat itu adalah surat Nuh yang berisi tentang kisah banjir besar yang menghabiskan umat nabi Nuh yang ingkar padanya.

H. Sulaiman pun bertanya kepada Gus Dur tentang makna itu, Gus Dur menjawab, “akan ada bencana besar yang akan menimpa Indonesia”. Gus Dur tidak menyebutkan secara detail bencana apa, kapan, dan dimana peristiwa itu akan teradi. H. Sulaiman hanya diam.

Kira-kira seminggu setelah itu -26 Desember 2004- bencana besar benar-benar terjadi. Tsunami yang dahsyat luar biasa menghancurkan pulau Aceh. Ratusan ribu orang meninggal dunia, sementara ratusan ribu lainnya yang selamat kehilangan keluarga dan harta benda. Indonesia dan beberapa negara yang terkena dampak tsunami diliputi duka yang mendalam. Bantuan pun datang dari segala penjuru dunia.

Setelah kejadian itu, H. Sulaiman kembali mendiskusikannya dengan Gus Dur. Gus Dur mengatakan bahwa ini adalah peringatan besar bagi bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Aceh.

Apabila kita renungkan, perkataan Gus Dur memang benar. Di Aceh, telah bertahun-tahun terjadi konflik antar saudara. Ada sekelompok orang yang membuat gerakan separatis, ingin memisahkan diri dari NKRI hingga menyebabkan ribuan korban berjatuhan.

Upaya perdamaian telah berkali-kali ditempuh, namun kesepakatan belum juga tercapai. Dan setelah terjadinya tsunami, alhamdulillah perdamaian bisa terwujud hingga saat ini. Semoga perdamaian Bangsa Indonesia tetap terjalin selamanya. Amiin.

Sumber : Embunhati.com
Ketika ustadz disuruh menyembuhkan anjing sakit di papua

Ketika ustadz disuruh menyembuhkan anjing sakit di papua

Gambar hanya ilustrasi belaka >> Sumber : Google.com

GusDurFiles.com ~ Jacobus, anak papua berusia 10 tahun suatu hari berlari2 menemui ust. Abdu L Wahab , orang Jawa yg lama berdakwah dipapua .

Jacobus meminta ust. Abdu L wahab untuk mengobati anjingnya yang sekarat. Kang Abdu tersenyum dan  mengiyakan. Mereka berdua menuju rumah Jacobus.

Melihat anjing tsb sekarat, kang Ust. Abdu yang asli Tegal itu menempelkan telapak tangannya ke jidat anjing dan berkata dlm bahasa Tegal :

"Su, Asu (jing, anjing), angger kowen arep mati ya mati (kalau kamu mau mati ya mati aja), angger arep urip ya waras (Kalau mau hidup, sembuhlah)".

Jacobus yang tidak bisa bahasa Jawa berpikir ust. Abdu menggunakan bahasa Arab. Diam2 Jacobus menghafalkan kata2 yg dia kira mantra/do'a itu. Setelah itu Ust Abdu langsung pulang.

Beberapa hari kemudian, Jacobus lari2 ke Pesantren Ust. Abdu bermaksud melaporkan kalau anjingnya sudah sembuh. Namun ternyata Ust. Abdu sedang sakit. Jacobus terkejut, dan menuju ke kamar ust. Abdu lalu menempelkan telapak tangannya ke jidatnya. Ambil membaca mantra:

"Su, asu, angger kowen arep mati ya mati, angger arep urip ya waras".

Ust. Abdu kaget dan tertawa langsung sembuh.

Sumber : FP Kongkow Bareng Gus Dur
Inilah Ijazah Dari Penyusun Simthudduror, Agar Hati Lapang serta Urusan Lancar

Inilah Ijazah Dari Penyusun Simthudduror, Agar Hati Lapang serta Urusan Lancar


GusdurFiles.com ~ Dalam Rohah Sore di kediaman Al-Qutb Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf Gresik Jatim kemarin lusa, dijelaskan bahwa guru beliau, Al-Imam Al-Qutb Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsy (Shohib Simthudduror) berpesan kepada Shohibul Haul Al-Qutb Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf Gresik Jawa Timur,

“Hendaknya engkau membaca,

(رب اشرح لي صدري و يسر لي امري )

“ROBBISYROH LII SHODRII WA YASSIRLII AMRII

setiap hari sebanyak 100x,

InsyaaAllah hatimu dan urusan duniamu dilapangkan dan dimudahkan oleh Allah SWT.”

قبــــول ياللّه …..

بحق الامام القطب الحبيب ابوبكر بن محمد السقاف..امين

Qobuul berkat wali qutub alhabib abubakar bin muhammad aseggaf..

Aamiin……

يالله بالتوفيق حتى نفيق ونلحق الفريق…

Mudah mudahan kita mendapat taufiq sehingga kita bisa di golongkan dengan orang-orang sholeh…

Aamiin…

(Na’am Qalby Ma’ak)

“Wali itu tidak membuka jalan popularitas dan juga tidak melakukan pengakuan akan kewaliannya. Bahkan kalau bisa ia akan menyembunyikannnya. Karena itu orang yang ingin terkenal dalam hal tersebut, bukanlah ia seorang ahli tariqah”
(Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah, hal. 9).

Sumber : suara-nu.com
Inilah Penjelasan KH. Said Aqil Siraj, Terkait Jenggot yang Dipelintir Media Ekstrimis

Inilah Penjelasan KH. Said Aqil Siraj, Terkait Jenggot yang Dipelintir Media Ekstrimis



JAKARTA – Menanggapi reaksi sejumlah netizen yang memelintir pidato Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA seputar jenggot, Ketua Umum PBNU ini akhirnya memberikan klarifikasi dan penjelasan melalui sebuah video yang diunggah di Youtube.

Tagline Berita di sebuah Media
Berikut keterangan dan penjelasan lengkap pendapat Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh…

Memilihara jenggot adalah termasuk salah satu sunnah Rasullah SAW. Konsekuensinya orang yang memanjangkan jenggot harus mengikuti perilaku dan akhlak rasulullah. Karena misi yang paling subtansi dari rasulullah adalah membangun akhlakul karimah, bukan sekedar aksesoris yang menghiasi dirinya, tapi akhlaknya jauh dari perilaku akhlak mulia dan akhlak rasullah.

Masalah jenggot, menurut saya, orang yang memiliki jenggot itu mengurangi kecerdasanya. Karena syaraf yang sebenarnya mendukung untuk kecerdasan otak sehingga menjadi cerdas, (karena tumbuh jenggot) akan tertarik sampai habis. Sehingga jenggotnya menjadi panjang.

Nah, orang yang berjenggot panjang, walaupun kecerdasannya berkurang, dia akan turun ke hati. Artinya orang yang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya bersih, tidak lagi mencintai harta, mencintai dunia, apalagi jabatan. Kemudian menjadi orang yang ikhlas lillahita’ala.

Oleh karena itu, apabila kita melihat ulama-ulama sufi atau para wali, itu semuanya berjenggot. Artinya kecerdasannya sudah pindah dari otak menuju hati. Orang yang berjenggot seharusnya mengikuti beliau-beliau ini. Perpanjang jenggot itu silahkan, tapi hatinya harus mulia. Tidak ada rasa takabur, tidak ada hubbu al dunya (mencintai dunia), cinta kedudukan maupun jabatan. Karena jenggot menunjukan simbol kebersihan hatinya dan simbol karifan jiwanya.

Bagi yang belum mencapai maqom tersebut, menurut saya, seyogyanya tidak memenghiasi dirinya penampilan jenggot panjang, bergamis, dan malah menjadikannya sombong akhirnya dengan penampinnya tersebut. Dia merasa paling benar, paling mengikuti sunnah rasul. Silahkan berjenggot panjang, tapi hatinya harus mulia, harus bersih dengan berakhlakul karimah.

Sumber : arrahmah.co.id
Berikut Klarifikasi Lengkap atas Fitnah Media Wahabi Terhadap Humor Kiai Said Soal Merapatkan Shof

Berikut Klarifikasi Lengkap atas Fitnah Media Wahabi Terhadap Humor Kiai Said Soal Merapatkan Shof


GusDurFiles.com ~ Mengapa media islam radikal wahabi harus ditutup? Salah satu alasannya yaitu baru-baru ini fitnah dilancarkan oleh media-media wahabi terhadap Kiai Said Aqil Siraj. Fitnah tersebut bermuara pada dua hal : Pertama, mensalah pahami perkataan Kiai Said. Kedua, kegagalan (kebodohan) memahami hadits Nabi Saw.

Rekaman ceramah Kiai Said dipotong kemudian diupload ulang di Youtube dengan judul yang mengandung fitnah. Akun pengload adalah https://www.youtube.com/user/imam1238 . Potongan ceramah Kiai Said diberi judul “Tidak Mau Merapatkan Shalat Seperti Wahabi, Said Aqil Lebih Memilih Shalat Bersama Iblis “.

Dari judul tersebut seolah-olah Kiai Said enggan merapatkan shaf, padahal yang dikritik Kiai Said adalah kaki yang ditempel-tempelkan oleh pengikut Wahhabi sebagaimana banyak didapati kalau kita shalat bersama Wahhabi, bahkan kadang kaki di injak.

“terus kakinya harus ketemu satu sama lain, gak boleh ada ruang antara kaki, kenapa? nanti iblis disitu tempatnya, kalau saya Alhamdulillah iblis bisa ikut shalat… jadi kaki harus ketemu, antara satu dengan yang lain kakinya harus rapat, jangan sampai ada ruangan sedikit (antara kaki), kenapa? iblis nanti situ (cela antara kaki). ..”, jelas Kiai Said dalam ceramahnya yang disertai guyonan itu.

Berikut Transkip Lengkap Ceramah Kiai Said Terkait dengan Kritikan Disertai Guyonan Tersebut:

Qur’an berulang kali perintah shalat, aqimush shalah, aqimush shalah, tapi Qur’an tidak menjelaskan berapa kali shalat yang wajib sehari-semalam, tidak ada di Qur’an. Namanya shalat itu, apa namanya, tidak ada di Qur’an.

Jadi, kalau ada orang pidato, ceramah khutbah, mari kita kembal ke Qur’an, semua ada di Qur’an, … goblok (Wahhabi), semua ada di Qur’a gimana?! nah, dihadits ada.. hadits wonten, furidlot alaikum khomsu maktuban, kata Rasulullah “diwajibkan kepadamu sekalian shalat sehari semalam 5 kali”. (ini dalam) hadits, bukan (dalam) Qur’an, namanya Ad-Dhuhr, wal Ashr wal maghrib wal isya’ wal fajr, (ini dalam) hadits bukan (dalam) Qur’an. 

Nah, hadits pun, Rasulullah pun tidak menjelaskan syarat-syarat sahnya shalat, harus Islam baligh aqil suci dari hadats shaghir hadast kabir suci dari najis, gak ada didalam hadits se-urut itu. Rukunnya shalat 14: takbiratul Ihram niat berdiri bagi yang mampu, baca Fatihah.., gak ada didalam hadits (se-urut) itu. 

Terus darimana kita tahu, syaratnya shalat ada 6, rukunnya shalat (ada) 14, darimana itu? dari Ijm’ul Ulama. darimana Bu..?!! itu baru shalat, baru satu itu contohnya. 

Kalau ada orang belum pernah shalat, ada orang belum bisa shalat, belajar shalat, hanya baca Qur’an dan hadits, potong leher saya kalau (orang itu) bisa shalat, sembelehi aku le’ iso nek ono wong dari Qur’an dan Hadits, potong leher saya kalau bisa, itu baru contoh shalat, belum haji, belum masalah lain-lain, tidak bisa kalau tanpa mengikuti ijmaul ulama. Hanya beda-beda dikit, kalau Imam Hanafi takbir santai, “Allahu Akbar.. (posisi tangan santai)”, kalau Imam Malik malah tidak sedekap (membiarkan tangannya kebawah), kalau Imam Syafi’i tengah-tengah, kalau Imam Hanbali rodo nyekek, kayak wahabi-wahabi itu.. yang kalau shalat takbire ngene (mempraktekkan) terus kakinya harus ketemu satu sama lain, gak boleh ada ruang antara kaki, kenapa? nanti iblis disitu tempatnya, kalau saya Alhamdulillah iblis bisa ikut shalat… jadi kaki harus ketemu, antara satu dengan yang lain kakinya harus rapat, jangan sampai ada ruangan sedikit (antara kaki), kenapa? iblis nanti situ (cela antara kaki). Saya Alhamdulillah kalau iblis mau jama’ah…..”

Berikut video yang lengkap :

Potongan video yang disabotase oleh pengikut wahhabi (kumpulan munafiqin) aslinya adalah video berdurasi lebih dari 2 jam. Video tersebut merupakan ceramah Kiai Said pada Harlah NU ke 92. Berikut lengkapnya :



Website Wahhabi Penebar Fitnah :
Diantara situs wahhabi yang menebarkan fitnah adalah situs jurnalmuslim alias jurnal Wahhabi.

http://www.jurnalmuslim.com/2015/09/tidak-mau-merapatkan-shalat-seperti-wahabi-said-aqil-lebih-memilih-shalat-bersama-iblis-video.html


Fitnah tersebut dikutip dari situs Wahhabi yang menggunakan nama Syi’ah yaitu syiahindonesia.com. Situs ini dikelola oleh wahhabi tetapi menggunakan nama Syi’ah. Dalam hal ini, pengelola situs Wahhabi tersebut bertaqiyyah.

Facebooker Penebar Fitnah yang Perlu Diwaspadai :
Fitnah dalam situs wahhabi (syiahindonesia dot com) dan jurnal muslim disebarkna di jejaring sosial faceboo oleh pengikut-pengikut fitnah, diantaranya :

https://www.facebook.com/azzam.asadulloh


https://www.facebook.com/alisamanlc

Wahhabi seperti dua orang diatas cukup banyak bertebaran difacebook sehingga umat Islam perlu mewaspadai hal tersebut. Fenomena tersebut disebabakan adanya umat Islam yang terjangkiti virus Wahhabi sehingga dilanda kebodohan beragama tetapi hebat dan bersemangat menebarkan fitnah.

HARUSKAH BERADU KAKI ?

Berangkat dari pertanyaan awal, apakah mata kaki ”harus” menempel dalam shaf shalat?

Ada dua pendapat; pertama yang mengatakan harus menempel. Ini adalah pendapat Nashiruddin al-Albani (w. 1420 H). Bahkan beliau mengatakan bahwa yang mengatakan tidak menempel secara hakiki itu lebih jelek dari faham ta’thil sifat Allah.

Pendapat kedua, yang mengatakan bahwa menempelkan mata kaki itu bukan tujuan utama dan tidak harus. Tujuan intinya adalah meluruskan shaf. Jikapun menempelkan mata kaki, hal itu dilakukan sebelum shalat, tidak terus menerus dalam shalat. Ini adalah pendapat Utsaimin. Dikuatkan dengan pendapat Bakr Abu Zaid.

Sampai saat ini, penulis belum menemukan pendapat ulama madzhab empat yang mengharuskan menempelkan mata kaki dalam shaf shalat.

Merapatkan dan meluruskan shaf tentu anjuran Nabi. Tapi jika dengan menempelkan mata kaki, malah shalat tidak khusyu’ dan mengganggu tetangga shaf juga tidak baik.

http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1420891824&=haruskah-mata-kaki-jamaah-saling-menempel-sepanjang-shalat.htm

Kesimpulannya adalah Kiai Said tidak pernah mengatakan tidak mau merapatkan shaf. Pernyataan fitnah bahwa kiai Said tidak mau merapat shaf berasal dari Wahhabi, bahkan pengikut Wahhabi salah paham terhadap hadits merapatkan shaf. Sebab dalam hadits yang dibawakan oleh wahhabi dalam situs syiahindonesia dan jurnal muslim tidak ada menyebut tentang menempelkan kaki, tetapi perintah merapatkan shaf.

red. Ibnu Manshur, muslim media news
Alhamdulillah KH. Said Aqil Siroj Kembali Terpilih sebagai Ketum PBNU

Alhamdulillah KH. Said Aqil Siroj Kembali Terpilih sebagai Ketum PBNU


GusDurFiles.com ~ Jombang, Para muktamirin kembali mempercayai KH Said Aqil Siroj sebagai Ketua Umum PBNU periode 2015-2020. Ia mendapat suara terbanyak pada pemilihan langsung di sidang utama Alun-alun Jombang, pada Kamis (6/8) dini hari.

Berikut perolehan suara dari dari beberapa calon. KH Said Aqil Siroj dipilih 207 muktamirin. Sedangkan H As’ad Said Ali dipilih 107 muktamirin. Disusul KH Salahuddin Wahid 10 suara.

Sebelumnya, di tempat yang sama, pada Rabu malam (5/8), KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU oleh 9 kiai Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa). Sementara KH Makruf Amin ditetapkan sebagai Wakil Rais Aam PBNU. (Abdullah Alawi, NU.or.id)

Semoga NU Yang cantik tidak berubah menjadi genit

Semoga NU Yang cantik tidak berubah menjadi genit


GusDurFiles,com ~ Gegeran (silang pendapat) dan ger-geran (gelak tawa) yang mewarnai Muktamar di Jombang telah berakhir. Perempuan cantik yang bernama NU sebentar lagi akan kembali keperadauannya. Membimbing, mendidik, dan mengarahkan umat di seluruh plosok nusantara dengan sejumlah program dan keputusan yang telah buatnya.

Muktamar NU ke-33 ini telah mempercayakan kepada KH. Mustofa Bisri, sebagai Rois Amm Syuriah dan KH. Said Aqil Siraj sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU periode 2015-2020 untuk memimpin NU lima tahun ke depan. Kami tim FT edu mengucapkan selamat kepada beliau berdua, dan mohon maaf kepada semua tamu yang singgah diblog kami bila ada tulisan atau bahasa yang kurang berkenan di hati.

Pada pemilihan langsung Ketum PBNU yang diselenggarakan di Alun-alun Jombang hingga dini hari, KH Said Aqil Siraj mendapat suara terbanyak, yaitu 207 suara. Pada urutan kedua KH. As’ad Said Ali memperoleh 107 suara. Sedang urutan ketiga KH Salahuddin Wahid yang meraih 10 suara.

Dalam pidato kemenangannya, KH. Sa’id Aqil Siraj di samping mengucapkan rasa terima kasih kepada semua pihak, beliau juga berjanji kepada NU kedepan. Berikut janji KH. Sai’d Aqil Siraj:

  1. Mengawal Aswaja NU yang moderat, toleran, balance, agar NU bermanfaat untuk semua, bukan hanya warga NU, tapi bangsa Indonesia, dan dunia.
  2. Fokus untuk menggarap pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Kita sebagai warga NU hanya berharap semoga janji itu terwujud. NU yang cantik tidak dibuat menjadi genit, melainkan NU yang cantik yang mencerdaskan dan memperjuangkan hak-hak rakyat kecil ketika mereka tidak diperdayakan oleh penguasa. (Diulas dari nu.co.di oleh FT edu)
Strategi Kontra Intelijen Para Kiai sangat cerdas

Strategi Kontra Intelijen Para Kiai sangat cerdas


GusDurFiles.com ~ Menjelang peristiwa pertempuran 10 Nopember 1945, Kiai Abbas, Buntet, Cirebon, membentuk jaringan telik sandi santri yang membentang dari Cirebon ke arah timur hingga Surabaya. Anggotanya adalah para santri dengan usia yang beragam. Dalam bentangan jaringan telik sandi inilah, koordinasi antar lini barisan Mujahidin (mustasyar-nya Hizbullah dan Sabilillah) yang dikomando oleh KH. A. Wahab Chasbullah bisa terjalin sempurna. Demikian keterangan yang termuat dalam “Perlawanan dari Tanah Pengasingan: Kiai Abbbas, Pesantren Buntet, dan Bela Negara” karya H. Achmad Zaini Hasan.

Hasil-hasil pengintaian intelijen ini yang kemudian juga diteruskan ke Markas Besar Oelama Djawa Timur yang berada di tangan KH. Bisri Syansuri. Koordinasi antar lini ini yang memberikan efek dahsyat seputar persiapan pertempuran yang kelak dikenang sebagai Hari Pahlawan. Demikian pentingnya posisi Kiai Abbas, KH. M. Hasyim Asy’ari dalam fase genting menjelang meletusnya pertempuran ini belum mengeluarkan keputusan, kecuali setelah kedatangan Kiai Abbas. Apa yang dilakukan oleh Kiai Abbas dengan membentangkan jaringan telik sandinya adalah sebuah langkah taktis nan cerdik dalam momentum kemerdekaan tersebut.

Selain Kiai Abbas, KH. Wahid Hasyim juga tak kalah canggih dalam kinerja spionase ini. Kiai Wahid memiliki santri andalan bernama Yusuf yang bertindak sebagai penghubung dan kurir rahasia. Kinerja Yusuf diakui oleh KH. Saifuddin Zuhri. Dalam masa perang kemerdekaan itu, Kiai Saifuddin bergerilya dan sempat singgah di rumah kiai sepuh di daerah pedalaman. Herannya, Yusuf si kurir Kiai Wahid Hasyim itu berhasil mengendus jejaknya. Yusuf inilah yang menjadi kunci penghubung jaringan kader yang dibina Kiai Wahid Hasyim bin Hasyim Asyari. Benar, dalam sistem intelijen, Yusuf pantas digelari Laison Officer.

Kiai Wahid Hasyim, ayah Gus Dur, pada era perang kemerdekaan belum menyentuh usia 35 tahun, tapi ia menunjukkan potensi di atas rata-rata. Husein alias Tan Malaka, sosok yang paling diburu dinas intelijen Hindia Belanda (SAD-PID) dan intelijen militer Jepang, beberapa kali malah berkunjung ke kediaman Kiai Wahid.

Mengenai ilmu intelijen ini, Kiai Wahid menuturkan kepada Kiai Saifuddin Zuhri: “Meski saya bukan pemimpin besar, tetapi saya mempunyai mata ‘seribu kurang seratus’ dan telinga ‘seribu kurang seratus’”. Maksudnya, menurut Kiai Saifuddin, pemimpin harus mempunyai seribu mata dan seribu telinga. Artinya, pemimpin mesti banyak melihat dan mendengar melalui berbagai saluran yang tidak dimiliki oleh sembarang orang.

Lalu, bukankah dalam dunia spionase ada istilah ‘Safe House’? Tentu saja Kiai Wahid dan jaringannya punya ‘Safe House’, di antaranya: rumah Kiai Abdurrazaq di Mampang, rumah Kiai Muhammad Naim di Cipete, rumah Kiai Hasbiallah di Mender, rumah Kiai Baqir di Rawabangke, dan beberapa nama lain.

Kenapa Safe House-nya di Jakarta? Bukankah ini sama halnya bunuh diri karena Jakarta dikuasai Belanda? Tidak, Kiai Wahid dengan cerdik menggunakan Teori Komunis Stalinis, “Jika kita pencuri yang sedang diburu polisi, tempat yang paling aman untuk bersembunyi adalah kantor polisi!” . Demikian kenang Kiai Safuddin Zuhri, ayah Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin dalam memoarnya “Guruku Orang-Orang dari Pesantren”.

Lalu bagaimana dengan kinerja intelijen usai kemerdekaan. Di antara yang memiliki jaringan luas di bidang ini adalah KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Di zaman Orde Baru, Pak Harto memang betul-betul menerapkan “seribu mata, seribu telinga” untuk memata-matai setiap organisasi, termasuk NU.

Pada Muktamar NU di Situbondo, di mana NU memutuskan kembali ke khittahnya, para intel berkeliaran di arena muktamar, bahkan para agen pemerintah menyusup masuk ke ruang-ruang sidang, memata-matai setiap pembicaraan para kiai. Dalam sebuah rapat penting yang dihadiri oleh para kiai yang membahas tentang Pancasila, tiba-tiba Gus Dur meminta KH. Prof. Tolchah Mansoer dan KH. Achmad Siddiq agar memimpin sidang dan berpidato menggunakan bahas Arab. Kiai Tolchah dan Kiai Achmad yang belum paham sepenuhnya maksud Gus Dur segera memimpin rapat menggunakan bahasa Arab. Rapat berjalan mulus karena, tentu saja, para kiai yang hadir memahami bahasa Arab sepenuhnya.

Usai rapat, Kiai Tolchah Mansoer bertanya kepada Gus Dur mengenai hal tadi. “Mas, rapat kita di dalam tadi itu diawasi oleh intelnya pemerintah, makanya sampeyan saya suruh berbahasa Arab. Mengapa? Karena intelnya pemerintah itu intel kepet (abangan) yang nggak bisa bahasa Arab..hehehe.”

Dalam peristiwa lain, jangan heran jika ketika menjadi presiden, Gus Dur langsung merombak Badan Intelijen Strategis (BAIS) dengan struktur baru dan pelan-pelan memutus jaringan Orde Baru di struktur BAIS dengan mengangkat Wakil Kepala BAIS, Letjen Arie J. Kumaat untuk memimpin lembaga baru intelijen: Lembaga Intelijen Negara (LIN). Gus Dur sepakat dengan konsep re-organisasi seluruh organisasi intelijen di Indonesia. Anggaran LIN ditambah. Struktur organisasinya berubah. Ada lima deputi yang menangani intelijen asing, intelijen dalam negeri dan analisis. Mulai Januari 2001, LIN pun diubah namanya menjadi Badan Intelijen Nasional (BIN). Gus Dur tercatat sebagai presiden sipil yang dengan berani mengotak-atik tatanan intelijen negara dan menempatkan lembaga telik sandi ini sesuai dengan kinerja asalnya.

Di zaman Orde Baru, seringkali Gus Dur dikuntit intel pemerintah. Maklum, ia tergolong tokoh yang kritis terhadap pemerintah. Yang ia lakukan hanyalah berdoa semoga tidak benar-benar di”habisi” oleh rezim represif saat itu.

“….Sayidina Amar bin Yasir, dan saya sudah lima kali mimpi ketemu beliau. Tidak pernah lepas fatihah saya kepada beliau selama belasan tahun. Menurut saya beliau adalah tokoh politik yang paling dahsyat dalam sejarah awal Islam. Beliau adalah raja intelijen Islam. Orang intel(ijen) harus begitu. Lawla rajulun mukhabarat seperti beliau, Islam tidak akan mampu melawan Bizantium, tidak akan mampu melawan Kerajaan Persia. Di sana ada raja-raja intel(ijen) semua. Tapi dari pihak Islam ada intel-intel seperti Amar bin Yasir. Sayidina Amar kan seorang tokoh politik. Seorang tokoh pejabat yang memiliki kemampuan intelijensia yang luar biasa. Dan saya terus terang saja, kalau sudah perang dengan orang-orang intel(ijen), diganggu dan diacak-acak oleh intel, saya selalu TAWASSUL kepada Sayidina Amar bin Yasir, dan selalu diberi petunjuk berupa ayat-ayat dan selalu cocok. Menghadapi intel minta tolong kepada Sayidina Amar bin Yasir, itu saya sudah kenyang.”

Demikian pandangan Gus Dur tentang Sayidina Amar bin Yasir yang tersisip saat berdiskusi tentang Aswaja bersama beberapa orang tokoh NU, pada suatu waktu. Notulensi polemik Aswaja ini termuat, sayang sekali tanpa keterangan waktu dan lokasi acara, di buku “Kiai Menggugat: Mengadili Pemikiran Kang Said” (1999).

Bagaimana dengan KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh. Dalam buku “Belajar dari Kiai Sahal”, termuat kisah bagaimana dengan cara yang khas Kiai Sahal menghadapi jaringan telik sandi pemerintah. Pernah, dalam suatu acara besar yang digelar selama beberapa hari, Kiai Sahal selalu rutin diantar jemput oleh seseorang bertubuh tegap memakai sepeda motor.

“Wah, njenengan enak ya kiai. Ke sana-kemari ada yang ngantar pakai sepeda motor!” kata beberapa sahabat Kiai Sahal yang melihatnya diantar naik motor.

“Lha, enak gimana, wong itu intel-nya Kodim,” jawab Kiai Sahal terkekeh.

Masih belum cukup, dalam beberapa kali bahtsul masail di MWCNU Margoyoso Pati, selalu saja ada pihak intel yang mengawasi dengan menyaru sebagai kiai maupun santri. Menyikapi model pengawasan seperti ini, apa yang dilakukan oleh Kiai Sahal? Membuka acara, mempersilahkan sambutan beberapa pihak, memulai diskusi fiqh sebagai pengantar, sampai menunggu intelnya menyingkir pulang.

Setelah si intel pulang, barulah bahtsul masail sebenarnya dimulai dan dijalankan dengan serius.

Demikianlah, berbagai ilmu dan kebijaksanaan para kiai membuatnya mampu mengatasi halangan para intelijen –sejak era perang kemerdekaan hingga Orde Baru– yang berkeliaran mengawasi dan membuntutinya. Strategi kontra-intelijen yang khas kaum bersarung!

Wallahu A’lam Bisshawab

Penulis : Rijal Mumazziq Zionis (Direktur Penerbit Imtuyas)

Sumber : muktamarnu.com
Kiai Hasyim Menolak Muktamar & NU Tandingan

Kiai Hasyim Menolak Muktamar & NU Tandingan


GusDurFiles.com ~ JOMBANG —  Sejumlah kiai dan utusan resmi Muktamar ke-33 NU berkumpul di Pesantren Tebuireng. Mereka mendengar arahan dari KH Hasyim Muzadi terkait perkembangan muktamar.

Di hadapan pendukungnya, Kiai Hasyim menyarankan agar para kiai  tidak menggelar muktamar tandingan, terlebih lagi membentuk NU tandingan karena akan membelah NU dan sulit untuk diperbaiki.

“Jangan buat muktamar tandingan, NU tandingan. Itu akan merusak NU sehingga sulit dibenahi,” kata Kiai Hasyim kepada ratusan PWNU dan PCNU yang menggelar rapat di Pesantren Tebuireng, Rabu, (5/8/2015) malam.

Mengutip kaidah ushul fiqh yang mengiigatkan bahwa menghindari kerusakan harus lebih didahulukan daripada mengejar kebaikan, maka Kiai Hasyim mempersilakan kepada muktamirin untuk berfikir yang terbaik untuk NU.

Pada kesempatan tersebut Kiai Hasyim menolak keinginan PWNU dan PCNU untuk mencalonkannya sebagai rais aam melalui forum tersebut. Ia juga menegaskan agar forum itu tidak memilih rais aam.

“Sebaiknya jangan ada pemilihan rais aam. Kalau anda lakukan, itu membentur ulama lain. Saya tak mau berbenturan dengan ulama. Penyakitnya bukan ulama, tetapi kelompok yang merekayasa,” katanya yang didampingi KH Abdullah Syamsul Arifin, Ketua PCNU Jember Jawa Timur.

Hasyim mempersilakan jika forum itu mengkritisi atau mengoreksi Muktamar NU ke-33, namun tidak boleh menjadi muktamar tandingan.

“Silakan unek-unek diungkap dan dibahas di sini, tapi jangan bikin muktamar apalagi NU tandingan,” kata Hasyim sebelum meninggalkan ruangan rapat.

Pada pertemuan tersebut tampak mantan Katib Aam PBNU KH Malik Madani.

Dan dalam pantauan media ini, sejumlah kiai tidak beranjak dari Pesantren Tebuireng. Mereka seharusnya mengikuti sidang pleno pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU untuk lima tahun mendatang. (s@if)

Sumber : muktamarnu.com
Pertemuan di Tebuireng Bukanlah Muktamar Tandingan

Pertemuan di Tebuireng Bukanlah Muktamar Tandingan


GusDurFIles.com ~ JOMBANG — Di aula Pesantren Tebuireng berlangsung sidang yang hampir sama dengan di arena utama Muktamar ke-33 NU di Alun-alun. Beredar kabar bahwa pertemuan tersebut sebagai muktamar tandingan. Namun pandangan tersebut dibantah pimpinan sidang.

Hal ini sebagaimana disampaikan pimpinan sidang, KH Dr Abdullah Syamsul Arifin. Gus Aab, sapaan akrabnya menandaskan bahwa pertemuan yang dilakukan bukanlah sebagai muktamar tandingan, namun sebagai kelanjutan dari proses muktamar yang diselenggarakan di Alun-alun Jombang.

“Ini bukan muktamar tandingan. Karena semua yang hadir di sini sama dengan yang di Alun-alun Jombang,” kata Gus Aab. Baginya, pelaksanaan muktamar yang berlangsung di Alun-alun terdapat sejumlah catatan, “Karenanya kita lanjut di sini (Tebuireng),” ujar Ketua PCNU Jember ini, Rabu (5/8/2015) malam.

Sementara itu di tengah acara, KH Hasyim Muzadi hadir. Para peserta yang jumlahnya sekitar 400 orang langsung berdiri. Selanjutnya, Kiai Hasyim memberikan sambutan di panggung utama. (BJ/s@if)

Sumber : muktamarnu.com
Posisi Rais Aam PBNU : Gus Mus Enggan, KH Makruf Amin Emban

Posisi Rais Aam PBNU : Gus Mus Enggan, KH Makruf Amin Emban



GusDurFiles.com ~ Jombang, Setelah Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj terpilih dan ditetapkan, pimpinan sidang Ahmad Muzaki mengabarkan pesan dari KH A Mustofa Bisri (Gus Mus). Pesan tersebut berisi ketidaksediaan Gus Mus sebagai Rais Aam. Dengan demikian, KH Makruf Amin ditetapkan sebagai pengembannya.

Seperti dekatahui, Gus Mus telah menyampaikan surat tidak bersedia menduduki jabatan sebagai Rais Aam PBNU. Meskipun demikian, sembilan kiai Ahlul Halli wal Aqdi menganggap hal ini sebagai bentuk ketawadhuan seorang kiai yang tidak suka merebut jabatan.

Atas alasan tersebut, 9 kiai Ahlul Halli wal Aqdi menetapkan Gus Mus sebagai Rais Aam dan KH Makruf Amin sebagai Wakil Rais Aam. Tapi tetap Gus Mus bersikukuh enggan menerima posisi itu. Maka otomatis Rais Aam PBNU diemban KH Makruf Amin. (Abdullah Alawi, nu.or.id)
KH. Mustofa Bisri(Gus Mus) Ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU

KH. Mustofa Bisri(Gus Mus) Ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU


GusDurFiles.com ~ Jombang, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU periode 2015-2020 pada rapat yang berlangsung di ruang sidang Alun-alun Jombang, Rabu malam (5/8). Penetapan yang dibacakan H Syaifullah Yusuf itu merupakan hasil musyawarah 9 kiai Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa).

Penetapan ditandatangani anggota Ahwa yaitu KH Ma’ruf Amin, KH Nawawi Abdul Jalil, TGH Turmudzi Badruddin, KH Khalilurahman, KH Dimyati Rais, KH Ali Akbar Marbun, KH Makhtum Hannan, KH Maimoen Zubair, dan KH Mas Subadar.

Pada pentepan itu, disebutkan bahwa Gus Mus sebagai Rais Aam PBNU didampingi KH Makruf Amin sebagai Wakil Rais Aam. Kemudian pemimpin sidang meminta forum untuk membacakan surat Alfatihah atas penetapan itu.

Pada saat berita ini ditulis, di ruang sidang, muktamirin bersiap melakukan pemilihan Ketua Umum PBNU 2015-2020. (Abdullah Alawi, nu.or.id)
Inilah Sembilan Anggota Ahwa Yang Telah Terpilih

Inilah Sembilan Anggota Ahwa Yang Telah Terpilih

Sumber Foto : tedu.blogspot.com

GusDurFiles.com ~ Jombang, Setelah dilakukan tabulasi, telah terpilih anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) melalui proses pemilihan yang dilakukan oleh Muktamirin. Pjs Rais Aam KH Musthofa Bisri dan KH Hasyim Muzadi ternyata tidak termasuk dalam Sembilan nama tersebut.

Berikut daftar anggota Ahwa pilihan para Muktamirin, Rabu (5/8) di ruang sidang komplek alun-alun Jombang, Jawa Timur beserta perolehan suaranya.


  1. KH Makruf Amin Jakarta, (313 suara)
  2. KH Nawawi Abdul Jalil Pasuruan Jatim (302)
  3. TGH Turmudzi Badruddin NTB (298)
  4. KH Kholilul Rahman Martapura, Kalsel (273)
  5. KH Dimyati Rais Jateng (236)
  6. KH Ali Akbar Marbun Sumatra Utara (246)
  7. KH Maemun Zubeir Jateng  (156)
  8. KH Makhtum Hannan Jabar (142)
  9. KH Mas Subadar Pasuruan Jatim (135)

Begitu ditetapkan nama-nama tersebut, mereka akan bersidang untuk memilih Rais Aam PBNU yang akan memimpin NU periode 2015-2020. Mereka mengadakan pemilihan rencananya pada pukul 08.00 WIB malam. (Mukafi Niam, nu.or.id)
Inilah Nama-Nama Kiai Usulan Calon Ahwa PWNU Jawa Timur

Inilah Nama-Nama Kiai Usulan Calon Ahwa PWNU Jawa Timur

GusDurFiles.com ~ Jombang, Meski menjadi pengawal sistem Ahlul halli Wal Aqdi (Ahwa) Rais Syuriyah PWNU Jatim menolak untuk dimasukkan dalam usulan nama-nama calon Ahwa.

"Jawa Timur merupakan penggagas sistem Ahwa ini, karenanya saya sendiri tidak etis jika dimasukkan dalam usulan yang kita sodorkan ke panitia," tutur KH Miftahul Akhyar di Media Center Muktamar ke 33 NU, Rabu (5/8).

Kiai Mif biasa dipanggil mengaku PWNU Jatim sudah menyetor nama nama calon untuk masuk sebagai Ahwa. Para kiai yang diusulkan diantaranya adalah, KH Makruf Amin, KH Nawawi Abdul Jalil, KH Anwar Mansur Kediri, KH Subadar dan KH Ali Mashuri (Gus Ali).

"Saya tidak hafal, karena sejak awal untuk Ahwa ini kita tidak menyebut nama. Dan baru kemarin kita sodorkan," imbuhnya mengatakan.

Nama nama kiai yang diusulkan ini, lanjutnya dinilai memiliki kriteria sebagai calon Ahwa, yakni  faqih atau alim, muaddin atau mengerti agama, muharrik atau mampu mendinamisasi organisasi atau sebagai penggerak organisasi, kemudian memiliki kharisma dan mutawarrik atau wira'i.

"Wirai ini adalah bukan hanya soal haram yang  tidak mau, subhab saja tidak mau beliau ini. Dan juga tidak wira-wiri atau menjadi calo politik," tandasnya.

Mengapa KH Muchit Muzadi tidak masuk? Rais PWNU ini mengatakan, sudah meminta ijin akan mengusulkan kakak kandung KH hasyim Muzadi ini. Namun yang bersangkutan menolak.

"Beliau tidak diusulkan, karenan beliau tidak mau," jawabnya.

Terkait beberapa pengurus Cabang NU Jawa Timur yang tidak mendukung sistem Ahwa ini KH Miftahul Ahyar meminta maaf kepada seluruh pengurus NU yang sama-sama mendorong dan memperjuangkan Ahwa.

”Mohon maaf, semuanya. Sebagai penggagas dan pendorong sistem Ahwa ternyata Jawa Timur sendiri ada yang lolos," ujarnya seraya meminta PCNU patuh terhadap keputusan dan kesepatan bersama.

"Di NU itu kan yang diutamakan adalah ketaatan, karenanya kita minta cabang cabang sepaham lah," tandasnya.

KH Miftahul Akhyar juga meminta kepada panitia untuk benar-benar transparan terkait tabulasi nama nama calon Ahwa yang diusulkan PWNU dan PCNU.

"Janjinya panitia akan transparan soal tabulasi nama-nama calon Ahwa, kita harapkan mereka betul betul transparan," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Mukafi Niam, nu.or.id)
close
Banner iklan disini