Mantan Presiden Gus Dur Tetap yang Terbaik, Untuk Masalah Hutang dan Negara

Mantan Presiden Gus Dur Tetap yang Terbaik, Untuk Masalah Hutang dan Negara


GusdurFiles.com ~ Sungguh Indonesia hampir saja menjadi bangsa dan negara besar yang benar-benar bisa “bercahaya” dan berdikari di bidang ekonomi. Yakni ketika KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden ke-4 di negeri ini. Ketika itu, Gus Dur mampu mengurangi beban Utang Luar Negeri (ULN) sebesar 9 Miliar US Dolar.

Gus Dur sungguh luar biasa. Sebab, sepanjang sejarah Indonesia, hanya Gus Dur yang mampu menurunkan jumlah utang luar negeri secara signifikan dalam waktu singkat, yakni hanya dengan waktu 1,9 tahun sebagai presiden. Sebelumnya, Presiden BJ. Habibie juga berhasil menurunkan ULN sebesar 3 Miliar US Dolar dengan masa jabatan 1,5 tahun.

Sayangnya, seberkas cahaya yang mulai terang (berdikari di bidang ekonomi mulai nampak) yang dimunculkan oleh Gus Dur itu, tiba-tiba dipadamkan secara paksa oleh “nafsu politik” dari sejumlah elit politik yang bejat dan rakus kekuasaan. Dengan berbagai upaya “membolak-balikkan” situasi dari para politisi busuk ketika itu, Gus Dur pun berhasil mereka lengserkan dengan alasan yang hingga saat ini tak bisa dibuktikan di muka hukum.

Meski begitu, setelah Tuhan yang hanya memberinya waktu 1,9 tahun sebagai presiden RI, Gus Dur pun ikhlas melangkahkan kakinya keluar dari Istana Negara dengan meninggalkan dan “menitipkan” warisan Utang Luar Negeri yang berhasil ia turunkan sebesar 9 Miliar US Dolar.

Dari catatan yang ada, Presiden Soekarno meninggalkan Utang Luar Negeri sebesar 6,3 Miliar US Dolar. Pada pemerintahan Orde Baru, Presiden Soeharto menambah utang tersebut sebesar 144,7 Miliar US Dolar menjadi 151 Miliar US Dolar. Lalu utang Orde Baru itu berhasil diturunkan oleh Presiden BJ. Habibie sebesar 3 Miliar US Dolar menjadi 148 Miliar US Dolar dalam waktu 17 bulan kepemimpinannya.

Dari situ, Presiden Gus Dur juga kemudian berhasil mengurangi beban negara atas Utang Luar Negeri tersebut sebesar 9 Miliar US Dolar menjadi 139 Miliar US Dolar dalam waktu dan masa kepemimpinan yang juga sangat singkat, yakni 21 bulan.

Sayangnya, Gus Dur yang bekerja jujur dan mengabdi secara tulus itu tak disukai oleh para “mafia politik/kekuasaan” di negeri ini. Coba kalau Gus Dur bisa diberi kesempatan yang sama seperti SBY (dua periode atau 10 tahun), maka bisa diperkirakan utang luar negeri kita paling banyak hanya tersisa 50 Miliar US Dolar.

Setelah Gus Dur lengser, “budaya” mengurangi utang luar negeri ini tak bisa dipertahankan. Presiden Megawati dalam 3,3 tahun masa kepemimpinannya menambah utang sebesar 2 Miliar US Dolar menjadi 141 Miliar US Dolar.

Dan sejak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkuasa selama 10 tahun, ULN malah semakin parah, bagai bisul-bisul yang terus membengkak. Di akhir masa jabatannya, Presiden SBY mewariskan utang sebesar 291 Miliar US Dolar.

Artinya, SBY selama 10 tahun hanya bisa memnambah beban negara dengan menambah utang sebesar 150 Miliar US Dolar. Bandingkan dengan masa Presiden Soeharto yang meski berkuasa selama 32 tahun tetapi hanya menambah utang sebesar 144,7 Miliar US Dolar. Atau dengan Presiden Gus Dur yang meski dalam masa pemerintahannya cukup dan serba sulit serta sangat singkat tetapi masih sempat berhasil menurunkan utang sebesar 9 Miliar US Dolar.

Lalu apa rahasia dan kiat Presiden Gus Dur yang mampu menurunkan ULN dalam tempo 21 bulan sebesar 9 Miliar US Dolar tersebut?

Adalah model kepemimpinan Gus Dur sangat patut diteladani oleh para pemimpin saat ini. Kkarakter bawaan yang menonjol pada diri Gus Dur cukup santai dan ringan. Ia memimpin negeri ini seakan tanpa beban yang berarti, karena kerangka berpikirnya selalu mengedepankan nilai-nilai demokratis, kejujuran, kesejukan dan perlindungan yang nyata terhadap semua golongan tanpa membeda-bedakan SARA. Sampai itu legacy Gus Dur juga adalah dikenal sebagai tokoh yang berhasil meletakkan nilai-nilai pluralisme dan demokrasi.

Dalam memimpin dan mengambil kebijakan, sepanjang diyakininya sebagai sebuah kebenaran dan kebaikan untuk semua umat dengan tidak menabrak konstitusi, maka Gus Dur takkan menyerah sedikit pun atau sama sekali tak ingin mengikuti selera dan kepentingan dari pihak-pihak tertentu. “Saya lebih baik tak jadi presiden daripada harus mengkhianati konstitusi,” kata Mahfud menirukan ucapan Gus Dur.

Artinya, ketika menjadi presiden, Gus Dur sedikit pun tak ingin didikte, apalagi diintimidasi. Gus Dur benar-benar menunjukkan, bahwa dirinya bukan pemimpin boneka yang harus seenaknya tunduk pada kepentingan satu pihak atau kelompok tertentu saja. Termasuk ketika ia pernah “didesak” oleh beberapa parpol agar dapat membangun deal-deal politik dalam kekuasaan.

Boleh jadi ketika itu karena banyak pihak (elit politik) yang sudah merasa “terganggu” dengan kinerja Gus Dur sebagai presiden sudah dinilai cukup memuaskan dan sangat berpihak kepada kepentingan seluruh rakyat, membuat hal ini pun dipandang sebagai sebuah “ancaman” tersendiri bagi parpol-parpol lainnya.

Artinya, boleh jadi ada pandangan “kecemasan” dari elit-elit parpol ketika itu, bahwa di saat Gus Dur dianggap berhasil dan sukses menjalankan tugasnya sebagai presiden dengan hasil yang memuaskan, maka jangan-jangan hal itu akan bisa membuat “lahan kekuasaan” parpol lainnya menjadi “kering”.

“Waktu itu sudah ada kesepakatan, mari Gus Dur diselamatkan, tapi kabinet harus dirombak dan menteri yang dari partai biar partai saja yang menentukan,” kisah Mahfud yang juga pernah jadi kader PKB ini.

Mahfud merasa lega dua partai besar tersebut akan membela Gus Dur di parlemen. jika Golkar dan PPP ditambah PKB kompak, Gus Dur tidak akan bisa dijatuhkan lewat parlemen.

Namun, lanjut Mahfud, ketika kesepakatan pertemuan itu disampaikan, lagi-lagi Gus Dur menolak. “Kata Gus Dur, itu berarti melanggar konstitusi. Menentukan menteri itu kewenangan penuh presiden. Kalau begitu saya menolak,” kata Mahfud menirukan tanggapan Gus Dur waktu itu.

Jadi, kata Mahfud, dalam pandangan Gus Dur, konstitusi menjadi suatu hal yang harus tetap dipertahankan. “Demokrasi bukan pasar, bukan seperti jual beli. kalau mau reshuffle kabinet, OK. Tapi mereka jangan ikut campur, saya yang menentukan orangnya,” ujar Mahfud mengutip ucapan Gus Dur lagi.

Sekali lagi, karena Gus Dur bukan presiden boneka, maka ia sangat menolak jika ada pihak yang coba-coba ingin intervensi dan ikut campur dalam hal menentukan orang-orang yang akan diposisikan sebagai menteri dalam “Kabinet Persatuan Nasional” yang dipimpinya.

Sebab, Presiden Gus Dur sangat tahu persis siapa-siapa yang patut diangkat dan siapa-siapa yang layak diberhentikan (dipecat) sebagai menteri. Dan semua itu bisa dengan tegas dilakukan oleh Presiden Gus Dur tanpa ada muatan dan desakan politik yang mempengaruhi atau yang menungganginya.

Terbukti Gus Dur mampu membangun sebuah kabinet yang benar-benar kuat secara “alami” yang dibentuk sesuai kebutuhan bangsa dan negara (bukan dari hasil rekayasa atau lobi-lobi secara politik). Dan dari kabinet inilah Gus Dur pun boleh dikata berhasil membenahi berbagai permasalahan negara, terutama mampu membenahi sebagian besar masalah ekonomi bangsa, salah satunya mengurangi utang luar negeri tersebut.

Berbagai keberhasilan Gus Dur sebagai presiden, yang meski hanya dijabat dalam waktu singkat itu, tentu saja tidak terlepas dari peran dan daya dobrak dari para menteri dalam menghasilkan kualitas kinerja yang tinggi. Misalnya, di sana ada Rizal Ramli yang sangat dipercaya oleh Gus Dur karena dinilai sangat ahli serta berkompeten sebagai tulang punggung dan ujung tombak di bidang ekonomi, yakni sebagai Menteri Koordinator Perekonomian, lalu terakhir menjabat Menteri Keuangan.

Juga ada Mahfud MD yang diposisikan sebagai Menteri Pertahanan, kemudian terakhir dipercaya sebagai Menteri Hukum dan Perundang-undangan. Dan ada pula (Alm) Baharuddin Lopa sebagai Jaksa Agung, serta para menteri-menteri lainnya yang dianggap sangat loyal serta satu visi-misi serta se-ideologi dengan Gus Dur adalah mereka-mereka yang tentu memiliki kapasitas dan integritas yang cukup tinggi di bidangnya.

Dan diakui atau tidak, kenyataan menunjukkan, bahwa dari para menteri-menteri yang sejalan dengan Presiden Gus Dur ketika itulah yang mampu membuktikan bahwa Abdurrahman Wahid adalah Presiden Indonesia yang terbaik, khususnya dalam mengurangi utang luar negeri dalam waktu singkat.

Dan Presiden Gus Dur (serta menteri terkait) seharusnya mendapat pengakuan dari Rekor MURI sebagai Presiden/Pemerintah yang mampu mengurangi ULN sebesar 9 Miliar US Dolar.

Oleh: Abdul Muis Syam, Aktivis Penegak Kedaulatan, dan Pengamat Independen. Pernah di Harian Fajar Makassar (Jawa Pos Grup) tahun 90-an, pernah di IKIP Makassar Mahasiswa Jurusan Fisika, Ketua Presidium MKRI-Prov.Gorontalo.

Sumber ; Muslimedianews
"Kelas Pemikiran Gus Dur" di Makassar dihadiri Alissa Wahid

"Kelas Pemikiran Gus Dur" di Makassar dihadiri Alissa Wahid


GusdurFiles.com ~ Makassar, Siang itu, cuaca cukup teduh. Tentu saja, sebab musim kemarau segera berlalu dan musim hujan menjelang. Keteduhan itu pula terlihat dari puluhan pasang mata peserta sekolah pemikiran Gusdur di Lembaga Pelatihan Tilawatil Quran (LPTQ) Tala'salapang, Makassar. Mereka sedang melihat dan mendengarkan sosok putri dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Alissa Wahid.
Alissa mengisahkan kiprah, dedikasi, perjuangan Gus Dur. Kadang di tengah cerita, puteri sulung Presiden RI ke-4 ini sedikit terbata, mungkin ada kisah yang sulit terungkap, ada masa yang mungkin sangat menyiratkan perjuangan yang tak kenal lelah sosok guru bangsa ini. Menyampikan prihal Gus Gur, terlihat Alisa sangat menjiwai.

Air tak akan lari kemana, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Rupaya Alisa tak berbeda dari orangtuanya, bergelut di gerakan sosial dimana ayahnya bergiat. "Jadilah yang terbaik bagi dirimu sendiri dan ujung dari sebuah perjuangan adalah kemanusiaan," pesannya di Makassar, Selasa (11/11/2014).

Kelas pemikiran Gus Dur sendiri sengaja dihelat untuk tetap merawat pemikiran, gerak dan keteladanan cucu pendiri NU KH Hasyim Asy'ary ini. Peserta pun dikhususkan bagi kalangan mahasiswa dengan latar belakang santri.

Mereka terlihat antusias saat mengikuti seluruh sesi kelas pemikiran ini. baik di gedung LPTQ, maupun saat berdiskusi di Kopi-NU, Jalan landak Makassar.
Bagaimana Gus Dur menghadapi budaya yang bertentangan dengan Islam? tanya Iqbal, salah satu peserta. Dengan lugas alumnus Univeritas Gadjah Mada (UGM) Jurusan Psikologi ini menjelaskan, meskipun diyakininya sesat tetapi tidak lantas ditindas karena mereka punya hak sebagai manusia.
Pemilik nama lengkap Alissa Qotrunnada Munawarah Wahid memaparkan lebih jauh soal peran ayahnya sebagai penjahit keragaman bangsa, getol pada pemberdayaan masyarakat, advokasi dan isu kebhinekaan.

Koordinator Jaringan Gusdurian Indonesia ini juga menyampaikan, pergerakan Gus Dur terkait teologi, kepesantrenan, kultur, negara, dan keadilan sosial. (Ahmad Arfah/Anam, NU Online)
Mencegat Lompatan-lompatan Gus Dur : Tinjauan Sufisme Al-Hikam

Mencegat Lompatan-lompatan Gus Dur : Tinjauan Sufisme Al-Hikam


Gusdurfiles.com ~ Banyak pihak dan banyak cara untuk memahami pola pikir dan spirit KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sejak ia terlibat dalam Jamiyah Nahdhatul Ulama (NU). Satu-dua pendekatan saja, terutama pendekatan sosiologis empirik, akan “terperangah” oleh hasil final dari realitas gerakan. Gus Dur dalam memimpin NU, atau Gus Dur sebagai pribadi. Kalau toh menggunakan pendekatan komprehensif, maka Gus Dur adalah totalitas ekspresi dari keseluruhan akumulasi NU itu sendiri, baik dari khazanah intelektual, kultural, politik dan harakah organisatoriknya.

Tidak banyak yang meninjau Gus Dur dari dimensi esoterik, sufistik, bahkan perenialistik. Padahal untuk memandang Gus Dur, ucapan tindakan dan manuvernya, harus pula melihat sisi fundamental yang menjadi pijakan spiritualistis Gus Dur, dan tentunya sangat mempengaruhi strategi-panjang pendek, universal-parsial, sakral-sekuler, ideal-real, nasionalisme-internasionalisme, dan sebagainya, bagi kepentingan NU, kebangsaan dan kemanusiaan dunia.

Dengan mengenal lebih dekat “hati” Gus Dur, akan mudah memahami lompatan-lompatan kultural ke depan, sehingga pasca Gus Dur kelak bisa lebih bisa melakukan antisipasi secara visional, tanpa harus membubarkan tatanan yang bertahun-tahun telah distrukturkan dalam piramida besar NU, sehingga para penerus Gus Dur tidak canggung bahkan menemukan spirit optimisme yang “suci” pasca Gus Dur.

a.    Hati Gusdur

Hati Gus Dur adalah “Rumah Ilahi” atau “‘Arasy Allah”. Rumah yang dipenuhi dengan jutaan dzikir dan gemuruh musik surgawi, setiap detik, setiap saat, setiap berdiri, bergerak (qiyaman) dan duduk diam (qu’udan) serta ketika tidur dalam kefanaan (‘ala junubihim). Rumah Ilahi selalu terjaga (mahfudz) dari segala godaan duniawi, prestisius, dan segala hal selain Allah, peringatan-peringatan Ilahi dan teguran-teguranNya, senantiasa “turun” ketika Gus Dur akan berbuat kesalahan, ketika Gus Dur “frustasi”, ketika Gus Dur terbuai oleh “iming-iming”, atau ketika Gus Dur terlalu bermimpi.

Itulah untungnya jadi Gus Dur, tapi juga demikianlah resiko besar yang harus diterima, manakala Gus Dur menyimpang dan dimensinya, melesat dari Rumah Ilahi, Berat sekali beban Gus Dur menjaga Rumah Ilahi, lebih berat ketimbang menjaga “rumah besar” NU, yang konon sebagai “rumah tua yang berwibawa” ini. Sukses Gus Dur menjaga Rumah Ilahi dalam kalbunya, adalah sukses besar NU. Karena itu di mata Gus Dur sendiri, menurut hati nuraninya -memimpin NU atau tidak, nilainya sebanding. Gus Dur bukanlah tipikal seorang yang berambisi menaiki tahapan derajat duniawi maupun berambisi mendapatkan megamat ruhani-ukhrawi, yang dalam dunia tasawuf disebut dengan al-Murid. Tetapi Gus Dur adalah sosok  yang diburu, dikejar dan dikehendaki oleh tahapan-tahapan tersebut, dicari oleh massa dan organisasi, bahkan secara radikal dalam sufisme ia adalah tokoh yang “dicari Tuhan” (al-Murad).

Gus Dur “dicari” Tuhan, dan ditemukan di lorong-lorong kebudayaan, di ketiak orang-orang miskin, dalam aliran derasnya keringat para buruh. Allah menemukan Gus Dur dalam alunan musik klasik, di gedung-gedung bioskop dan di tengah-tengah supporter sepak bola. Gus Dur diburu Tuhan, ketika berada di sela-sela kolom surat kabar dan majalah, bahkan diburu sampai ke Israel dan Bosnia. Dan Gus Dur “ditangkap” Allah, ketika pandangan matanya sudah setengah buta, ketika merunduk tersenguk-senguk di makam para Auliya. Sayang, Allah memeluk Gus Dur ketika Gus Dur sudah “gila”, dan memimpin arisan orang-orang yang “gila” kepadanya.

Benar kata Khalil Gibran, “Di tengah masyarakat yang terdiri dari orang-orang gila, orang yang paling waras disebut sebagai orang yang paling gila. Dan di tengah masyarakat yang terdiri orang-orang yang waras, orang yang paling gila disebut orang waras.”

Gus Dur dikatakan “gila” oleh masyarakat gila yang merasa waras. Dan ia disebut sebagai paling waras di tengah-tengah orang-orang “gila” yang tidak ingin waras. Kebudayaan “gila” dewasa ini harus diatur oleh orang paling waras, walaupun orang paling waras itu harus mendapatkan sebutan sebagai orang paling gila.

“Kegilaan” Gus Dur adalah tipikal paling relevan untuk memimpin masyarakat yang tergila-gila oleh kegilaan. Sebab Gus Dur adalah terali, tembok, pilar, atap, dan ornamen-ornamen bagi rumah Ilahi, yang terus mengalami “keterasingan” di tengah-tengah rumah besarnya sendiri, di tengah-tengah bangsanya sendiri, juga di sudut-sudut lapuk warga Nahdliyinnya.

Dia Sendiri Adalah Al-Hikam

NU sebenarnya adalah organisasi paling banyak jumlah kaum ‘arifin-nya dibanding organisasi keagamaan yang lainnya. Karena itu NU memiliki derajat sebagai satu-satunya organisasi “Yang Diridhai”, atau mungkin yang lain sekedar diakui, disamakan, atau “terdaftar” saja dalam catatan lembaran langit.

Kehadiran Gus Dur untuk mereformasi secara puritan melalui “Khittah 1926” adalah bentuk perenialisme NU dalam matra zaman yang lebih luas. Bukannya upaya memutar gerak jarum jam sejarah ke masa Ialu. Tetapi, mundur untuk melompat ke depan lebih jauh. Lompatan-lompatan dalam visi Gus Dur ketika menerjemahkan Khittah 1926, merupakan lompatan “spiritual NU” yang kemudian berakses kepada lompatan moral, politik, kebudayaan dan tradisi intelektual serta sosial-ekonomi. Lompatan-lompatan ini bisa dilihat dari dimensi paling sederhana, namun merupakan dimensi paling dalam. Yakni dimensi sufisme yang menjadi “akhlak” ulama salaf dan ulama-ulama generasi pendiri NU.

Hal yang tidak bisa dipungkiri, adalah kesatuan para ulama pendiri NU dan Gus Dur sendiri, dengan wacana-wacana Corpus Tassawuf yang ditulis oleh Taajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Atha’illah as-Sakandari, yakni kitab al-Hikam. Hampir seluruh pesantren salaf di Indonesia, mengkaji kitab tersebut, dan sekaligus menjadi pijakan moralitasnya.

Kitab al-Hikam, merupakan magnum corpus kaum sufi, yang mengandung misteri-misteri spiritual dan sekaligus bisa digunakan untuk memprediksi gelombang pasang surut spriritual keagamaan semacam yang terjadi dalam tubuh NU, Gus Dur sendiri yang hafal di luar kepala setiap wacana (matan) kitab al-Hikam ini, tentu memahami secara lebih massif dan universal bagi kepentingan historis NU. Dalam bahasa yang paling “tradisional” kembali ke Khittah 1926, berarti kembali ke dalam dimensi “al-Hikam” tersebut. Karena itu sebelum memimpin NU, Gus Dur telah menyatu dengan “al-Hikam”, yang kelak ketika memimpin NU, al-Hikam menjadi instrumen “penggugat” dalam intern NU. Sayangnya, ribuan pesantren di Indonesia dewasa ini, telah merasa asing dengan kitab ini. Sebab, kitab ini merupakan kitab instrospektif, kitab yang bisa menusuk diri sendiri, kitab yang “ditakuti” oleh para kiai. Akhirnya, dari 6.000 pesantren yang ada, hanya beberapa gelintir saja yang masih mengkaji kitab ini. Fakta ini pula yang membuat gerakan moral ulama yang dilakukan Gus Dur banyak terhambat.

b.    Matan Al-Hikam, Khittah 1926 dan Pasca Gus Dur

Coba kita renungkan sukses besar para pendiri NU ketika mendirikan NU tahun 1926. Kesuksesan ini erat dengan matan pertama dari al-Hikam:  “Diantara tanda bersiteguh terhadap amal, adalah berkurangnya harapan (kepada Allah) ketika terjadi tindakan dosa.”

Para ulama pendiri NU dan Gus Dur tidak pernah mengajak warganya untuk bersikap menggantungkan diri pada upaya dan amalnya, dengan asumsi bahwa amal itu bisa menyelamatkannya. Kerja organisasi, perjuangan, aktivitas Nadliyin, harus terjauhkan dari sikap I’timad terhadap amal. Sebab, sikap I’timad seperti itu, hanya melahirkan ketamakan dalam organisasi dan ambisi historis. I’timad terhadap amal, ikhtiar, dan upaya-upaya manusiawi hanyalah bentuk “penghalang” antara hamba dengan Sang Khalik. Amal hanyalah makhluk, bukan Khalik. Membanggakan makhluk adalah bentuk immoral yang jauh dari harapan spiritual yang menghantar sukses besar.

Para mujahid di kalangan ulama NU yang turut menghantar kemerdekaan bangsa ini, sama sekali menepiskan ketergantungannya terhadap amal dan sejarah. Satu-satunya tempat I’timad hanyalah Allah. Karena itu Khittah 1926 dulu jauh dari rekayasa-rekayasa ambisi politik, kalau toh pun ada akan tersingkir oleh sejarah. Ibnu Atha’ilah mengaitkan kebergantungan terhadap amal tersebut dengan tindakan dosa. Dalam konteks Khittah 1926, kembali ke Khittah 1926, tidak harus disertai “rasa bersalah” yang terus menerus,  sehingga mengurangi optimisme masa depan (raja’) itu sendiri. Sebab siapapun yang merasa “miris” dan pesimis terhadap rahmat Allah ketika ia berbuat dosa, berarti ia belum bergantung kepada Allah, masih bergantung kepada amalnya. Begitu juga, warga NU yang masih merasa bersalah atas “dosa sejarah” yang mengakibatkan dirinya ekslusif, tersingkir, pesimis, dan bahkan cenderung “membangkang” berarti masih I’timad terhadap upaya amal, bukan I’timad kepada Allah. Sikap demikian inilah yang ingin “diberantas” Gus Dur.

Fakta demikian sesuai dengan wacana al-Hikam berikutnya: “Keinginanmu untuk tajrid, sementara Allah masih memposisikan dirimu pada dimensi sebab akibat (duniawi) merupakan bagian dari nafsu tersembunyi. Dan keinginanmu kembali pada sebab akibat (duniawi), sementara Allah sudah memposisikan dirimu dalam dimensi tajrid, merupakan penurunan (degradasi) dari cita-cita yang luhur.”

Tajrid merupakan bentuk eskapisme kepada Allah tanpa menghiraukan dimensi selain Allah. Dalam konteks ke-Gus Dur-an, adalah “tidak mau tahu” urusan organisasi, urusan kemasyarakatan, urusan kemiskinan dan kebudayaan, bahkan urusan demokratisasi. Sikap demikian merupakan bentuk eskapisme nafsu yang tersembunyi, bukan eskapisme kesucian Ilahi. Padahal mayoritas warga NU belum sampai ke tahap tajrid ini. Lebih ekstrim lagi banyak tokoh-tokoh NU menggunakan baju tajrid untuk kepentingan pribadinya, kepentingan nama dan perutnya, ya kepentingan nafsunya. Lebih jauh lagi untuk kepentingan politik kelompok tertentu.

Sebaliknya, mereka yang sudah sampai pada maqam tajrid dalam konteks ke-NU-an- tiba-tiba masih berambisi terjun ke dunia kausalitas NU. Tentu, tindakan demikian merupakan degradasi moral bagi ketokohannya. Para tokoh yang seharusnya “pensiun” dari NU, untuk lebih mendekatkan diri dalam “wilayah muraqabah dan taqarrub Ilahi”, ternyata banyak yang “cawe-cawe” ke dunia empirik, yang membuat keruwetan di tubuh NU. Padahal Allah sudah memberikan “kursi empuk spiritual”, malah memilih kursi empuk duniawi. Inilah agenda Gus Dur sampai saat ini. Bahwa transformasi dari tahap kausalitas menuju tahap tajrid dalam NU, adalah tahap perjuangan dari unsur kepentingan menuju unsur “kepentingan Ilahi”, dari hal-hal yang bersifat empirik ke esoterik. Sukses besar NU manakala NU mampu melakukan transformasi menuju “tajrid” peradaban yang luhur.

Matan al-Hikam selanjutnya adalah: “Tercapainya cita-cita tidak bisa mengubah dinding takdir.”

Gagalkah Gus Dur? Gagal dan tidak, harus ditinjau dari prespektif yang luas. Ditinjau dari segi al-Hikam, keberhasilan Gus Dur dengan Khittah 1926, bukan karena Gus Dur atau para pendukungnya. Hakikat keberhasilan Gus Dur yang ada, sama sekali tidak takdir Ilahi terhadap NU.

Ikhtiar, upaya, semangat, jihad, adalah “tanda-tanda” sukses NU, bukannya faktor penentunya. Dalam dimensi tasawuf al-Hikam, apabila NU ditakdirkan berhasil dan sukses, akan banyak Gus Dur lain yang memiliki visi dan ruh yang sama. Bukan sebaliknya. Namun kenyataannya, justru sebaliknya. Banyak tokoh-tokoh NU yang merasa mampu mengubah takdir Allah, dan ketika berhasil menganggap sebagai upayanya sendiri tanpa campur tangan Ilahi. Kecuali kalau gagal, baru mengatakan, “Demikianlah takdir Allah…!”

Karena itulah, al-Hikam menyarankan pada matan selanjutnya: “Abaikanlah dirimu untuk ikut campur (urusan Allah), sebab apa yang sudah diurus oleh selain dirimu berkaitan dengan dirimu, Anda jangan ikut campur di dalamnya untuk kepentinganmu.”

Selanjutnya Gus Dur pun sering menghimbau kepada para kiai dan ulama, khususnya kalangan NU, agar tidak ikut mencampuri urusan yang bukan bidangnya. Misalnya urusan pencalonan presiden maupun gubernur, ataupun bupati. Urusan tersebut ada yang berwenang menangani. Ikut campur di luar bidangnya adalah bentuk salah kaprah yang fatal, dan menjadi kerumitan dinamika NU.

Dan matan al-Hikam berikutnya berbunyi: “Ijtihad Anda pada hal-hal yang sudah dijamin untuk diri Anda, dan sikap teledor Anda terhadap kewajiban yang harus Anda penuhi, merupakan bukti atas kekaburan mata hati Anda.”

Bayangkan, berapa ribuan tokoh-tokoh NU yang mata hatinya kabur, karena etika dan sikap moralnya yang teledor, hanya karena mementingkan tuntutannya dibandingkan mementingkan tugasnya?

Gus Dur tidak pernah putus asa. Walaupun ia dituntut terus menerus, khususnya pada setiap even dan momen tertentu. Gus Dur hariya bisa kembali sebagaimana wacana al-Hikam dari matan ke matan berikutnya.

Dan sungguh, matan-matan al-Hikam, tertib dan strukturnya, mulai awal hingga akhir, yang memenuhi lembaran-lembaran kitab, merupakan kesimpulan dari perjalanan spriritual penempuh jalan sufi, sekaligus juga peristiwa-peristiwa dalam konteks NU yang bakal maujud dalam sejarah NU dan umat Islam. Karena itu membaca NU pasca Gus Dur akan sangat mudah dengan membaca al-Hikam dengan penafsiran dinamika NU, karena di sana penuh dengan solusi-solusi langsung dan aktual.

Dalam prediksi matan al-Hikam, NU pasca Gus Dur adalah pertama-tama NU akan melewati perebutan-perebutan ambisi yang saling menyodorkan alternatif. Sedangkan alternatif yang disodorkan oleh Khittah 1926, sebagai visi Gus Dur, dianggap belum tuntas. Padahal Gus Dur, sebagaimana al-Hikam, menyandarkan titik akhir sejarah NU hanya kepada “alternative yang terbaik menurut Allah”, alternatif konsepsionalisasi yang direkayasa atau dipaksakan menurut penilaian tarbaik manusia. Kapan dan bagaimana allternatif Ilahi NU teraktualisasi dalam sejarah. Menurut Gus Dur dan al-Hikam, hanya Allah saja yang tahu kapan aktualisasi historis idealisme itu maujud secara proporsional.

Paling tidak, Gus Dur walaupun belum maksimal telah melampaui tiga matan al-Hikam di atas, dalam konstelasi ke-NU-annya. Tugas pelanjut Gus Dur adalah menerjemahkan matan-matan berikutnya dan konteks spirit NU masa depan, melalui solusi yang ditawarkan oleh al-Hikam. Dalam hal ini, sangat dibutuhkan suatu Syarah al-Hikam yang konstektual dengan NU modern. Suatu tantangan bagi kaum spiritulis NU yang memiliki “kearifan” dalam sejarah.

Sebagaimana para pembaharu atau mujtahid dalam dunia Islam, pasca mujtahid adalah para komentator, interpretator, dan kreator yang lebih spesialis dan detil. Maka, pasca Gus Dur, adalah Gus Dur-Gus Dur “kecil” yang “cantik” dan “indah” yang mampu mengepakkan sayap-sayapnya menjadi tarian yang rampak. Tarian “Gusduriyah”.

(Diedit ulang dari tulisan KH. Muhammad Luqman Hakim (PETA Tulungagung).

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 31 Januari 2014

Sumber : MMN
Jaya Suprana : Yang Nggak Mengagumi Gus Dur , Berarti “Something Wrong”

Jaya Suprana : Yang Nggak Mengagumi Gus Dur , Berarti “Something Wrong”


GusdurFiles.com ~ Bos Museum Rekor Indonesia (Muri) Jaya Suprana merupakan salah satu pengagum setia Gus Dur. Tak ada aspek khusus yang menonjol yang dikaguminya, semua yang ada pada diri Gus Dur sifatnya holistik.

“Memang beliau layak dikagumi. Orang yang tidak mengagumi Gus Dur, berarti something wrong, ngak waras,” paparnya seusai diskusi di Gedung PBNU, Kamis (23/1).

Baginya, Gus Dur adalah orang yang holistik, bahkan ketunanetraanya merupakan salah satu keistemewaan, karena hal ini meningkatkan kepekaan batin.

“Jadi setiap kelompok bisa menjadikan Gus Dur sebagai tokohnya, orang China, Perempuan atau lainnya karena dia tokoh yang kompleks sekali.”

Bos Jamu Jago ini pertama kali bertemu secara fisik dengan Gus Dur pada pernikahan putri Arif Budiman, aktifis angkatan 66 yang kemudian mengajar di UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana) di Salatiga dan kini di Universitas Melbourne. Buru-buru ia menegaskan, sebelum pertemuan tersebut, ia sudah mengagumi dari jauh.

“Kelompok China, kalau ngak ada Gus Dur, posisinya habis itu,” tegasnya.

Baginya, Gus Dur diturunkan ke dunia bukan hanya untuk umat Islam, tetapi untuk memberi kedamaian bagi semua orang. Istilah pejuang kemanusiaan baginya belum cukup, “Beliau mengajarkan kasih sayang.”

Ia sendiri mengaku tidak memperhatikan aspek spiritual Gus Dur, baginya, aspek riil dari Gus Dur sudah luar biasa. "Silahkan saja kalau warga NU menganggap beliau sebagai wali," tandasnya.(mukafi niam, NU Online)
Tokoh Vatikan Ini Nilai Gus Dur Setara dengan Santo

Tokoh Vatikan Ini Nilai Gus Dur Setara dengan Santo

Foto : Dari kiri Gus Dur, Paus Yohanes Paulus II dan Ibu Shinta

GusdurFiles.com ~ Gus Dur memiliki hubungan antar agama yang sangat baik, termasuk diantaranya dengan para tokoh Katolik di Vatikan. Sudah berulang kali ia datang ke Roma untuk berdialog dengan mereka tentang masalah-masalah keagamaan dan kemanusiaan.

Setelah wafatnya Gus Dur, tradisi hubungan baik tersebut terus dilanjutkan oleh para pemimpin NU. Pada 2013 lalu, Sekretaris Jenderal PBNU H Marsudi Syuhud berkunjung ke Vatikan untuk berdialog dan bertemu dengan Paus.

Sebelum bertemu dengan Paus, ia diberi kesempatan menyampaikan pikiran dan pandangannya dihadapan 10 tokoh Vatikan lainnya. Lalu dilanjutkan dengan bincang-bincang ringan.

Dalam kesempatan tersebut, para tokoh Katolik tersebut lalu bercerita soal kunjungan Gus Dur beberapa tahun sebelumnya. Mereka menuturkan, setahun sebelum Gus Dur jadi presiden, ia datang, dan salah satu janjinya adalah, ia akan datang lagi tahun depan akan datang lagi ke Vatikan, tetapi sebagai presiden. Para tokoh tersebut curiga Gus Dur dalam keadaan sakit saat menyampaikan pernyataannya, sehingga tidak ditanggapi serius.

Apa yang dijanjikan Gus Dur tersebut ditepati, setahun kemudian, ia datang lagi ke Vatikan dengan posisi sebagai presiden. Tentu saja hal ini membuat tokoh Vatikan tersebut menjadi gempar.

“Mereka menganggap Gus Dur seperti santo, orang-orang suci yang memiliki kelebihan spiritual,” kata Marsudi.

Seorang pendamping Marsudi selama di Vatikan, juga menyampaikan testimoninya dengan haru bahwa ia merasa kehilangan semenjak meninggalnya Gus Dur. “Kini tugas anda dan para tokoh NU lainnya untuk melanjutkan perjuangan Gus Dur,” kata Marsudi menirukan ucapan pendamping tersebut.

Marsudi juga menyampaikan pengakuan akan ketinggian spiritual Gus Dur juga disampaikan oleh para petinggi Gereja Mormon karena selama interaksi mereka dengan Gus Dur, para tokoh Mormon menyaksikan kemampuan spiritual Gus Dur, seperti yang dimiliki oleh para pemimpin spiritual gereja tersebut. (mukafi niam, NU Online)
close
Banner iklan disini