Betulkah Gus Dur Disebut "Bapaknya" Orang Papua?

Betulkah Gus Dur Disebut "Bapaknya" Orang Papua?


Presiden ke 4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memiliki sembilan nilai utama diwariskan, yakni ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, keksatriaan dan kearifan lokal. Bagi sejumlah warga Papua, implementasi nilai itu mempunyai kesan tersendiri.

Ketua PC GP Ansor Jayawijaya, Papua H Abu Hanifah Assho, di Kantor PP GP Ansor, Jakarta, Selasa (17/1), menyatakan, masyarakat Papua dengan beragam organisasi, profesi hingga iman sangat menyukai Gus Dur.

“Umumnya bagi kami, kalau bilang Gus Dur ya bapaknya orang Papua,” ujar dia.

Alasannya, kata Hanifah, Gus Dur bisa masuk dan berada di tengah warga Papua tanpa memandang suku dan iman.

“Gus Dur masuk dan mendekati kami melalui kearifan lokal. Maka kami warga Papua banyak yang menyebutnya sebagai bapak. Gus Dur mempersatukan kami melalui kearifan lokal,” kata dia lagi.

Hanifah menambahkan, Papua biasa dilihat dari sudut pandang religi, tapi Gus Dur tidak melakukan itu.

“KH Abdurrahman Wahid tidak melihat kami dengan sudut pandang itu. Nasrani, Islam, Hindu atau Budha di Papua semua dirangkul. Penghargaan dan penegasan nasionalisme, kemanusiaan dan kearifan lokal itu yang membuat masyarakat Papua nyaman dan menghormati Gus Dur hingga tak ragu menyebutnya sebagai bapak bagi kami,” ujar dia menjelaskan.

Gus Dur menggerakkan kearifan lokal dan menjadikannya sebagai sumber gagasan dan pijakan sosial-budaya-politik dalam membumikan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan, tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap perkembangan peradaban.

Kearifan lokal yang merupakan satu dari sembilan nilai utama Gus Dur bersumber dari nilai-nilai sosial-budaya yang berpijak pada tradisi dan praktik terbaik kehidupan masyarakat setempat. Kearifan lokal Indonesia di antaranya berwujud dasar negara Pancasila, Konstitusi UUD 1945, prinsip Bhineka Tunggal Ika, dan seluruh tata nilai kebudayaan Nusantara yang beradab. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Sumber : nu.or.id
Gus Dur dan Wawasan Bahasa Masa Lalu

Gus Dur dan Wawasan Bahasa Masa Lalu


Muchus Budi Rahayu masih mengingat percakapannya dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada Oktober 2001 silam. Muchus yang berprofesi sebagai wartawan, ketika itu meliput Gus Dur yang sering bersilaturahmi ke daerah-daerah pasca-pelengseran dirinya sebagai presiden.

“Waktu itu saya liputan di daerah Dagangan Madiun, sekitar setengah jam, tidak ada yang menemani. Padahal acara masih mulai setelah dhuhur. Kemudian saya mendekat kepada Gus Dur. Saya kalau nyebut Gus Dur, tidak nyebut sebagai Gus. Tapi, yi (kiai,-red),” ungkapnya.

Singkat cerita, lanjut Muchus, percakapannya dengan Gus Dur mengarah pada soal pemberian nama yang hendak diberikan kepada anaknya.

“Saya matur (bilang), bahwa kata dokter, anak pertama kami nanti, kemungkinan adalah laki-laki. Sejak lama, saya punya bayangan jika punya anak laki-laki akan saya beri nama 'banyak' yang artinya angsa, hewan cerdas yang menjadi simbol ilmu pengetahuan,” ungkap Muchus

Gus Dur lalu menanggapi. "Ya kuwi apik (itu bagus). Tapi kamu perlu tahu juga sejarah kata. Dalam bahasa Sansekerta disebut 'hansa' lalu di masa bahasa Jawa kuno disebut 'hangsa'. Lalu ketika bahasa Jawa tengahan ada yang menuliskan 'hangsa', ada pula yang menuliskan 'hamsa',” tutur Muchus, menirukan penjelasan Gus Dur.

“Lha kok di bahasa Jawa baru bisa menjadi 'banyak'," tanya Muchus.

Ini kan kepedhotan obor (terputus mata rantai). Padahal dalam bahasa Melayu yang terpengaruh Jawa kuno dan Jawa tengahan ketika masa Majapahit, sampai sekarang malah lestari disebut 'angsa',” lanjut Gus Dur.

Sebagai informasi, Jawa tengahan ini bukan berarti nama lokasi mengacu kepada Provinsi Jawa Tengah, tetapi era bahasa Jawa masa transisi dari Jawa kuno ke Jawa baru. Fasenya tidak lama, yakni hanya pada masa Majapahit akhir hingga masa menjelang Kerajaan Demak. Bahasa yang pernah digunakan di Jawa antara lain : Sansekerta lalu Jawa kuno, Jawa-tengahan hingga sekarang Jawa baru.

Perhatian Gus Dur
"Kemudian Gus Dur berkata, 'Kita ini sering terputus seperti itu. Ini yang menyebabkan kita enggak maju-maju. Seumpama kita ini lestari dalam hal, sambung-sinambung peradaban, kita akan jauh lebih maju dari sekarang. Anakmu diberi nama 'hamsa' saja ya. Biar dia nanti melacak asal namanya itu. Tugas dia nanti menyambungkan ilmu-ilmu bangsanya dari zaman leluhur sampai sekarang, biar kita ini menjadi bangsa maju'," kenang Muchus.

Menurut Muchus, percakapannya dengan Gus Dur tersebut tidak hanya sebatas nama yang mereka singgung. Bagi dia, Gus Dur merupakan sosok yang memiliki wawasan luas terhadap bahasa.

“Saya kagetnya saat itu, Gus Dur kok ya punya perhatian sebegitu dalam dan luasnya terhadap bahasa Jawa. Ini menunjukkan bahwa beliau memang orang yang sangat peduli dengan bangsanya. Orang yang peduli dan perhatian pasti akan mempelajari semua seluk-beluknya, termasuk soal bahasa yang digunakannya,” kata dia.

“Perhatiannya juga luas. Tidak hanya bahasa Jawa, Arab, Indonesia, Eropa, tetapi juga bahasa 'masa lampau' dan sejarahnya, serta kaitannya dengan bahasa sekarang,” pungkasnya.

Sumber : nu.or.id
Alissa Wahid Ungkap Sumbu Spiritual Kehidupan Gus Dur

Alissa Wahid Ungkap Sumbu Spiritual Kehidupan Gus Dur


Mahasiswa Ciputat lintas organisasi menyelenggarakan Haul ke-7 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bertempat di Hall Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (29/12). Acara tersebut menghadirkan Alissa Wahid, Romo Sandyawan Sumardi, dan Priyo Sambadha.

Putri sulung Gus Dur Alissa Wahid menyampaikan satu di antara sembilan nilai utama Gus Dur yang dirumuskan oleh 100 orang sahabat dan muridnya. Di antaranya KH Ahmad Mustofa Bisri, Mohamad Sobary, dan Pendeta Phil Erari dari Papua.

Mengutip hasil diskusi itu, Alissa mengatakan bahwa nilai paling utama seorang KH Abdurrahman Wahid adalah keyakinan spiritualnya, yakni menegakkan Islam rahmatan lil alamin. Delapan nilai lainnya adalah turunan dari nilai utama tersebut.

“Menurut beliau-beliau itu, bukan menurut Alissa ini ya, sumbu kehidupannya adalah keyakinan spiritual beliau, bahwa tugasnya di dunia ini sebagai seorang muslim adalah menegakkan Islam rahmatan lil alamin,” katanya.

Sementara itu, Priyo Sambadha menyatakan, saat putra pertama KH Abdul Wahid Hasyim itu menjabat sebagai presiden, istana benar-benar milik rakyat.

Salah satu buktinya adalah saat Gus Dur mengadakan open house Idul Fitri untuk pertama kalinya sepanjang sejarah istana. Masyarakat dengan berbagai latar belakang dan berbagai macam penampilan dipersilakan bersalaman dengan presiden dan keluarganya tanpa terkecuali.

“Semua orang boleh masuk pokoknya. Tidak ada terkecuali. Pakaian seperti apa silakan masuk,” kata staf Presiden Abdurrahman Wahid itu.

Adapun Romo Sandyawan menyampaikan satu pesan Gus Dur untuknya pada saat dia bertemu dengan Gus Dur guna membicarakan peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli). Pesannya adalah tentang tujuan manusia itu diciptakan.

“Tujuan manusia diciptakan, yaitu untuk meluhur-muliakan Allah dan kemanusiaan, beserta alam semestanya,” ujarnya. Terakhir, Alissa Wahid berpesan kepada seluruh hadirin, “Gus Dur yang meneladankan, kita yang melanjutkan.”

Acara ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor III UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Yusron Rozak. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa hampir tidak ada satu kata yang dapat menggambarkan seorang Gus Dur. “Jika kita sebut beliau Bapak Humanisme, dia lebih luas dari itu,” ujarnya.

Saking luasnya pandangan dan gagasannya, Yusron Rozak menyatakan kata cukup terbatas untuk mendeskripsikan Gus Dur.

Acara dengan tagline “Om Toleran Om” itu juga menggalang 1000 tanda tangan sebagai bentuk kepedulian dan toleransi. Selain itu, acara tersebut juga menggalang dana untuk Gempa Aceh. Panitia menjual kaos dengan berbagai tulisan nasihat Sang Guru Bangsa itu. Panitia juga melelang lukisan Gus Dur yang akhirnya terjual dengan harga dua juta rupiah. (Syakir NF/Fathoni)

Sumber : nu.or.id