Jika Belum Kuat Dicaci, Berarti Hamba Amatiran

Jika Belum Kuat Dicaci, Berarti Hamba Amatiran


Di pondok pesantren Stand Up Comedy adalah hal yang biasa berlaku. Disamping mereka Muthola'ah juga wirid yang begitu banyak, mereka selingi dengan canda tawa atau guyon yang sangat heboh. Mulai dari mengerjai anak-anak baru sampai anak yang biasanya terlihat ganteng amat.

Berbagai hal unik dipesantren mengajarkan kepada kita, bahwa hidup jangan lemah hanya dicaci. Dipuji tidak tinggi hati, dicaci tidak menaruh dengki. Karena pada hakikatnya cacian itu adalah sebuah cambuk untuk menampar kita agar jauh lebih maju, dan menjadi lebih hebat. Dari berbagai dunia yang saya geluti, dunia pesantren adalah dunia paling unik, dunia paling greget, dan dunia paling baik untuk menimba ilmu dan menempa diri.

Didunia pesantren, biasanya yang gak kuat gojlokan akan mudah keluar atau biasa disebut dengan boyong. Memang kadang gojlokan yang terlalu malah membawa mudhorot, semisal berantem saling tidak sapa hingga berujung balas dendam di luar pondok. Dunia pesantren memang dunia yang beragam, karena umumnya dipesantren santri-santri dari berbagai macam wilayah dari sabang sampai merauke dan sangat lengkap dari yang berwatak lemah lembut sampai yang berwatak kasar.

Dipesantren kami, An Nur 2 Bululawang Malang, jumlah santrinya 6000 dengan berbagai macam warna maka santri dituntut pinter-pinteran nggowo awak  begitu kata Kiai-kiai sepuh. Guru kami Qutbu Hadza Zaman As Syekh Habib Umar bin Hafidz memberikan wejangan;

فيمن يسبكم فيمن يتكلم عليكم ، كيف تتعامل معهم كيف ترحمونهم وهم احق برحمة

Bagaimana engkau menyikapai orang yang mencacimu, orang yang merendahkanmu, padahal mereka adalah orang yang paling berhak engkau kasih dan sayangi. SubhanaAllah......

Maka tidak jarang anak-anak pesantren yang bisa membawa diri, mereka justru menjadi orang-orang besar dimasyarakatnya.  Baginya adalah; dipuji tidak tinggi hati, dicaci tidak menaruh dengki. Oleh Karenanya jangan pernah kapok Mondok tandanya kapok Mondok adalah tidak memondok-kan anaknya di pesantren. Begitu dawuh Allohu Yarham Romo Kiai Faqih Langitan.

Semoga anak-anak kita diberikan ilmu yang manfaat. Dan terlebih kita bisa menyikapi hidup dengan sewajarnya.  Ora Usah Nggumunan dawuh Kiai Mustofa Bisri Rembang Jawa Tengah. [dutaislam.com/gg]

Ahmad Zain Bad, An Nur II Bululawang Malang.

Sumber : dutaislam.com
Nabi Nuh Terus Menyesal setelah Mengatakan "Anjing ini Jelek"

Nabi Nuh Terus Menyesal setelah Mengatakan "Anjing ini Jelek"


ratapilah dirimu wahai orang melarat # kelak kau pun mati meski selama Nuh kau hidup

 Itulah sepenggal syair tentang terbatasnya umur, sepanjang umur Nabi Nuh pun.
Siapa yang tak kenal Nabi Nuh? Hal yang banyak dikisahkan tentang beliau adalah perihal usianya yang panjang, 950 tahun, dan dakwahnya yang tak kenal lelah. Siapa pula yang tak tahu tentang banjir bandang yang merata di berbagai daratan di muka bumi sehingga memusnahkan lebih dari separuh populasi makhluk hidup pada saat itu. Beliau mendapat mandat suci sebagai rasul pada saat beliau berusia 250 tahun, dan hidup selama 200 tahun setelah surutnya air bah.

Namun tidak banyak yang tahu bahwa, konon, nama asli beliau bukanlah ‘Nuh’, melainkan Abdul Ghoffar, ada pula yang menyebutkan bahwa nama beliau Yasykur. Sedangkan ‘Nuh’ hanyalah julukan bagi beliau, artinya orang yang meratap.

Nah, di sini kita akan mencoba memetik satu atau dua tangkai hikmah dari sebab mengapa beliau dijuluki dengan nama ‘Nuh’. Sehingga kita bisa melahap buah kebijaksanaan ini, kemudian menanam biji-bijinya, agar kebun hati kita rimbun dengan kerindangan hikmah yang menyejukkan.

~

Suatu ketika, dalam satu perjalanan, Abdul Ghoffar berpapasan dengan seekor anjing lusuh bermata empat dan begitu mengerikan. Melihat hal aneh dan jarang beliau temui ini, beliau bergumam;

“Wah, anjing ini begitu jelek.”

Sepertinya si anjing mendengar gumaman beliau, dia terus memandangi manusia di hadapannya itu dengan tatapan sinis. Sejurus kemudian, saat beliau hendak berlalu, tanpa diduga, si anjing menyeru;

“Hai Abdul Ghoffar! Siapa yang kau cela tadi? Ukirannya ataukah Pengukirnya??!”

Sang Nabi terkejut mendengar hardikan itu. Tanpa menunggu jawaban, si anjing melanjutkan;

“Jika yang kau cela adalah ukirannya, yakni aku, maka ketahuilah bahwa aku tak pernah meminta untuk diciptakan menjadi anjing seperti ini! Dan jika yang kau cela adalah Sang Pengukir, maka ketahuilah bahwa Dia melakukan apa yang Ia kehendaki dan tidak satu cela pun Ia punyai, ingat itu!”

Belum sempat Abdul Ghoffar berkata-kata, si anjing berlalu begitu saja, meninggalkan beliau yang masih terbelalak dan merenungkan setiap butir kata-katanya.

Beliau terus menerus memikirkan kata-kata si anjing, semakin lama semakin beliau pahami maknanya. Tetes demi tetes air mata membasahi pipinya, beliau menyesal dan meratapi kekeliruan ucapan dan anggapannya. Sejak itu, karena banyaknya meratapi kesalahan (Naaha – Yanuuhu), beliau dijuluki orang-orang sekitarnya dengan sebutan ‘Nuh’, sang peratap.

~

Jika direnungkan, memang benar teguran si anjing. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita pahami dari dialog menakjubkan ini.

Pertama, tidak ada yang jelek hakikidalam setiap ciptaan-Nya, semua mengandung hikmah, semua memiliki peran di dalam kewujudannya masing-masing di alam raya ini. Anggapan jelek atau buruk hanyalah hasil penangkapan indera dan penilaian akal yang berdasarkan pada pengalaman serta sudut pandang kita yang sempit. Sehingga bisa menggelincirkan kita untuk menjelek-jelekkan ciptaan-Nya. Adakah ciptaan Sang Pencipta yang benar-benar jelek pada hakikatnya? Ataukah kita yang belum mampu memahami makna di balik semua yang kita pandang dan dengar?

Jika yang kita hina adalah Penciptanya, yakni Allah Ta’ala, maka sesakti apa kita sehingga berani mencela Dia yang seratus persen berkuasa terhadap lahir batin kita? Mau kemana kita mengungsi jika Dia usir dari alam-Nya ini? Tidak ada ruang maupun waktu yang tidak bernaung di bawah kekuasaan dan pengaturan-Nya.

Jika yang kita jelek-jelekkan ciptaannya, misalnya anjing tadi, bukankah ia tercipta sedemikian itu bukan karena kehendak maupun permintaannya sendiri? Begitu pula dengan ciptaan-ciptaan-Nya yang sering kita anggap buruk yang lain. Toh tidak ada gunanya menghina suatu hal atau keadaan, sejelek apapun hal itu, semenyebalkan bagaimanapun suatu keadaan.

Bahkan Syaithan sekalipun, kita diwanti-wanti untuk waspada dan berlindung dari makarnya, bukan untuk dihina dan dijelek-jelekkan. Itupun yang kita hindari bukanlah zat Syaithan atau berbagai macam zat keburukan lain, melainkan tingkah laku dan pengaruh sifat buruklah yang kita hindari, bukan zatnya.

Jika kita tidak berhati-hati, justru bisa tumbuh bibit-bibit takabbur di dalam diri kita, padahal hal ini pulalah yang dahulu menggelincirkan Iblis dari posisi para malaikat yang mulia. Memang benar manusia disebutkan sebagai ‘Ahsanu Taqwim’, bentuk ciptaan yang terbaik, namun ingatkah kita bahwa ada berjuta kemungkinan pula bahwa sesosok manusia bisa terlena menjadi ‘Asfalu Saafiliin’, serendah-rendahnya para pecundang?

Dan bukankah gelar ‘Ahsanu Taqwim’ ini lebih cenderung mengesankan tanggung jawab yang kita emban selaku pemangku bentuk ciptaan yang terbaik, baik dari segi fisik maupun psikis? Bukan untuk diumbar secara ‘gumede’ sehingga memperlakukan makhluk lain secara sewenang-wenang.

~

Kedua, setiap manusia memiliki tingkatan spiritual yang berbeda-beda, tergantung kualitas jiwanya. Pengalaman batin orang semacam kita tentu berbeda dengan ketajaman jiwa para wali, apalagi para nabi dan rasul. Sama sekali tidak sama.

Suatu hal yang kita anggap sepele, kesalahan kecil, atau bahkan sama sekali bukan kesalahan di dalam pandangan kita, bisa jadi justru menimbulkan penyesalan yang dalam bagipara ‘arifin. Sebagaimana penyesalan dan taubat Nabi Adam setelah menikmati Buah Khuldi yang menyebabkan beliau turun ke bumi, padahal beliau memang sudah direncanakanakan menjadi khalifah di muka bumi jauh-jauh hari sebelum beliau diciptakan.

Atau taubat serta pengakuan dzalim Nabi Yunus ketika terperangkap dalam kelamnya perut ikan di kedalaman samudera, beliau beranggapan bahwa kepergian beliau meninggalkan kaumnya merupakan suatu bentuk keputusasaan yang perlu disesali dan ditaubati, padahal kita semua tahu bahwa beliau sudah berdakwah dengan gigih dan kaumnya memang keras kepala. Begitu pula dengan ratapan Nabi Nuh terhadap hinaan remeh beliau terhadap si anjing dalam kisah di atas.

Sebaliknya, masalah dan kesempitan hidup yang menurut kita begitu berat dan tak bisa ditanggung, sehingga menggelincirkan kita kepada kedurhakaan-kedurhakaan individual maupun sosial, justru men jadi batu asah bagi jiwa-jiwa para wali. Menjadi medan uji bagi spiritualitas manusia-manusia unggul yang mengantarkan mereka menuju derajat yang begitu tinggi dan begitu dekat di hadirat-Nya. Sehingga kita banyak mengenal para rasul dan nabi melalui kisah-kisah ketabahan dan kegigihan perjuangan hidupnya dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda.

Problem yang dihadapi pun beraneka rupa, mulai dari masalah kesehatan, penghidupan, skandal, fitnah, pembunuhan, pemerintahan, peperangan, keluarga, dan sebagainya. Mereka inilah yang akan menjadi hujjah bagi Allah di akhirat, ketika kita menjadikan segala masalah-masalah hidup kita sebagai alasan yang menghalangi pengabdian kita kepada-Nya.

Juga sebagai ibarat bagi kita bahwa perjalanan hidup ini tak lepas dari perjuangan dan keprihatinan, sehingga kita selangkah dua langkah berupaya meneladani sensitivitas jiwa para teladan ini. Karena sepandai apapun akal menganalisa, memprediksi dan merancang langkah hidup, tetap saja kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi esok, sehingga teladan dari para utusan adalah referensi terbaik bagi hidup kita.

Di akhir hayatnya, ketika disapa dengan salam oleh Malaikat Maut, Nabi Nuh menyahut,

“Siapa Engkau? Mengapa salammu begitu menggetarkan hatiku?”

“Aku Malaikat Maut. Mengapa kau mengeluh begitu saat kujemput? Tidakkah kau sudah kenyang hidup di dunia wahai manusia yang terpanjang umurnya?” jawab Sang Pencabut Nyawa.

 “Sesungguhnya aku mengenal kehidupan ini sebagai suatu tempat dengan dua pintu, aku masuk melalui satu pintu dan keluar dari pintu lain yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.” ujar Sang Nabi.

~

Betapa indah ibarat yang Allah tunjukkan kepada kita. Betapa sejuk tetes-tetes pemahaman yang Ia ajarkan kepada kita melalui para utusan dan kekasih-Nya, serta melalui lembaran-lembaran buku yang terhampar luas ini; segenap kejadian di semesta raya.

Setidaknya dahan-dahan hikmah ini bisa menaungi kita dari teriknya kegelisahan-kegelisahan hidup dan menyegarkan kembali hati yang hampir membusuk. Dengan tidak mencaci atau menghina apapun, dalam kondisi bagaimanapun.

“Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah; 269)

Syaikh Ihsan Al-Jampesi, Sirojut Tholibin, 2/409
Tuwel, 10/02/2013/AkhirMulud/1434

Sumber :muslimoderat.net
Ketika Driver Taksi Online Bertanya: Mbah Maimun Zubair Alirannya Apa?

Ketika Driver Taksi Online Bertanya: Mbah Maimun Zubair Alirannya Apa?


Pagi tadi saya menggunakan jasa Grabcar dari Hotel untuk mengantar ke Stasiun Tawang. Kaget juga karena pengemudinya ternyata seorang perempuan. 15 menit menunggu, mobil pun datang. Isteri saya mengambil posisi duduk di depan mengingat drivernya adalah perempuan.
Sebelum ke stasiun, atas permintaan istri, saya dan keluarga pun berputar haluan ke tempat oleh-oleh. Tiba di Pandanaran, isteri saya pun turun dan saya beserta anak-anak menunggu di dalam mobil.

Tiba-tiba, ibu driver Grab ini membuka obrolan.
Ibu Driver: " bapak dan keluarga dari mana?"
Saya pun menjawab, " oh dari Rembang bu."
Dia pun menimpali lagi: " asli dari Rembang ya pak?"
Saya: " oh bukan bu, saya dari Jakarta."

Serasa ingin tahu, Ibu driver ini bertanya lagi: " oh wisata ya pak di sana."
Saya: " ouh, ndak, saya ziarah ke guru saya, Mbah Kiai Maimun Zubair."
Mendengar nama Mbah Kiai, Ibu driver ini seperti kaget.

Dia : " bapak bisa bertemu Mbah Maimun?"
Saya pun heran mendengar nada bertanya ibu itu: " iya bu, memangnya kenapa?"
Dia: " kata orang, beliau susah ditemui."
Saya: " masak iya bu?"
Dia: " iya pak. Katanya kalau orang yang niatnya gak baik, susah menjumpai Mbah Maimun."
Saya: " wah kalau itu saya gak tahu ya bu. Tapi alhamdu lillah, dua kali saya silaturahim ke tempat beliau selalu diterima."

Dia: " oh, iya pak. Ngomong-ngomong Mbah Maimun itu Islamnya aliran apa ya?"
Saya: " Lho, memangnya di Islam itu ada aliran?"
Dia: " iya pak, kayak NU, Muhammadiyyah, Persis, Syiah. Nah, Mbah Maimun itu apa ya alirannya."
Saya: " Mbah Maimun itu ngikuti Rasulullah bu."

Memperhatikan gaya dia bertanya, saya pun langsung tebak beliau, " ibu ngaji salafi ya?" Dia pun tampak kaget dengan pertanyaan saya. Lalu dia jawab:
"iya pak. Kok bapak tahu?"
Saya: " kelihatan bu". Jawab saya sambil tertawa kecil.

Dia : " iya pak, meskipun saya ngaji salafi tapi ada beberapa aturan salafi yang saya terjang."
Saya: " Lho, memangnya ada aturan di pengajian salafi?"
Dia: " iya pak. Salah satunya larangan bawa mobil ini. Para ustadz salafi sudah peringatkan kalau perempuan haram membawa kendaraan."
Saya: " Lha, terus kenapa ibu terjang?"
Dia: " yah, habis kalau saya gak bawa grab begini, saya mau makan apa pak? Wong sekarang cari kerja itu susah."

Dia pun akhirnya menceritakan statusnya yang janda dan pengalaman bisnisnya yang selalu rugi. Sampai pada satu point, dia mengatakan:

"Para ustadz itu terkadang ngomongnya menggampangkan. 'Minta saja sama Allah pasti dikasih rejeki' padahal uang kan gak turun dari langit. Minta rejeki juga ada usahanya."

Saya pun menimpali : " iya bu. Para ulama salaf dulu juga gak kaku-kaku amat. Mereka itu orang yang moderat cara berpikirnya walaupun juga berhati-hati."

Ibu Driver: " saya itu ngaji salafi juga belum total banget pak."

Saya: " maksudnya belum total bagaimana bu?"

Dia: " itu pak, masih nonton tv dan bawa mobil ini. Kan ada itu pak ustad yang haramkan nonton TV bahkan mengharamkan nonton Rodja TV sekalipun."

Saya; " oh gitu ya bu?"

Tiba-tiba, dia mengalihkan pembicaraan tentang Prof. Quraish Shihab. Tuduhan Syiah dan sesat kepada orang alim itu meluncur tanpa kendali dari mulutnya. Sambil memperlihatkan video Prof. Quraish yang berbicara tentang Rasulullah tidak masuk surga, dia pun meminta opini saya. Ia juga bertanya kepada saya tentang Prof. Quraish dan puterinya yang tidak berjilbab.

Mendengar celotehan seperti itu, saya katakan:

"Maaf bu, saya tidak kenal Prof. Quraish Shihab dan beliau pun tidak kenal saya. Kalau saya berkomentar tentang beliau itu artinya saya sok tahu. Kalau saya ikut menceritakan kehidupan pribadi beliau dan keluarganya, itu namanya ghibah. Bukankah ghibah diharamkan di dalam Al-Qur'an?"
Dia pun terdiam tidak melanjutkan obrolan. Sementara itu anak sulung dan anak kedua saya terlihat menahan tawa menyaksikan obrolan tidak seimbang di dalam Grabcar itu.

Sebelum mengakhiri obrolan, saya katakan kepadanya, "semoga Allah memasukkan suami ibu ke dalam surga karena keshalehan yang ibu tunjukkan."

Dari mulutnya terdengar suara amin yang diiringi tangis kecil, sambil berucap, "terima kasih ya pak". [dutaislam.com/gg].

Sumber :dutaislam.com
close
Banner iklan disini